Anda di halaman 1dari 57

Kualitas Batubara

The reference of best services on

Kualitas Batubara

Kesepakatan antara penguna Batubara dengan


harga jual Batubara, ditentukan oleh Kualitas
Batubara.

Pengetahuan yang akurat dari kualitas


batubara adalah yang sangat essential pada
setiap tahapan produksi dan pengiriman
Batubara ke pembeli / end user.

Daur Kualitas
SELLER
MINING

PRODUCTION

PLANNING
MODEL

Witnessing

delivery

BUYER

LOAD PORT

DISCHARGE PORT

DISPATCH

RECEIPT

WEIGHING

WEIGHING

SAMPLING

SAMPLING

PREPARATION

PREPARATION

ANALYSIS

ANALYSIS

COMMERCIAL
VALUE

COMMERCIAL
VALUE

END USE QA

Kualitas Batubara

Supply Contract 100,000 tons @ 40.00 USD per ton


Coal Quality & Quantity Menentukan Harga Jual

Nilai Transaksi 4 jt $

BUYER
SELLER

PENGOTORAN ( IMPURITIES )
Batubara yang diambil dari hasil penambangan selalu
mengandung bahan-bahan pengotoran ( impurities ).

Ada 2 macam pengotor :


Pengotor Bawaan ( Inherent impurities )
merupakan pengotor bawaan yg terdapat dalam
batubara.
Pengotor Luar ( External impurities )
merupakan pengotor dari luar timbul pd saat
proses penambangan antara lain terbawanya tanah
yg berasal dari lapisan penutup (overburden)

Kualitas Batubara
Sebagai Contoh:

Harga jual batubara steaming adalah energy / nilai kalori,


dengan berdasarkan pada batasan penalti dan reject terhadap:

ash,
sulphur,
moisture,
HGI,
size
distribution,

nitrogen
ash analysis,
ash fusibility,
trace elements
dan yang
lainnya.

Kualitas Batubara

Harga jual final selalu diadjustment berdasarkan penentuan


kualitas dan kuantitas final.

Bila si penjual / shipper atau si pembeli/buyer tidak


mempunyai kepastian dari suatu kualitas dan kuantitas
batubara (dengan target-target presisi), sementara harga jual
sudah ditetapkan pada suatu estimasi harga yang terbaik,
maka dapat dipastikan ada salah satu pihak yang dirugikan.

Kualitas Batubara
Kualitas batubara ditentukan melalui suatu
rangkaian kegiatan melalui sampling, sample
preparation dan testing.

Bagaimana, kapan, dimana, dan untuk apa contoh


diambil?

Bagaimana melakukan sample preparation yang


benar?

Bagaimana melakukan pengujian batubara yang


akurat?

Metallurgical Coals

Batubara yang
bersifat coking
Temperature diatas
ren tang 300 s/d 500
C menunjukkan
sifat plastis
Digunakan dalam
proses pembuatan
baja
~ 25% dari produksi
batubara dunia

Moisture
Ash
CSN
Fluidity
Dilatation
Maceral Analysis
Mean Maximum
Reflectance
Phosphorus
Size Distribution
Coke Strength

Steaming Coals

Batubara ini digunakan


untuk menaikan uap
untuk tenaga listrik
Dapat juga digunakan
untuk pembakar dalam
industri semen
~ 70% dari produksi
batubara dunia
Yang dijual adalah
energi CV merupakan
parameter penting.

Moisture
Ash
Volatile Matter
Total Sulphur
Calorific Value
Carbon & Hydrogen
Nitrogen
Ash Analysis
Ash Fusibility
Trace Elements
Size Distribution
HGI

Batubara Konversi

Batubara yang
digunakan sebagai
bahan proses
gasifaction atau
liquifaction

Digunakan untuk
pengunaan khusus,
spt elektroda carbon
aktif

~ 5%dari produksi
batubara dunia

Fischer Assay
Petrographic
Analysis
Steaming Coal
Parameters

Air Dried Basis

Kondisi humidity dan


temperatur berbeda pada
masing-masing
laboratorium. Tidak akan
pernah sama. Sehingga
hasil pengujian akan
berbeda pada masingmasing laboratorium untuk
sample yang sama,
tergantung hasil moisture in
the analysis sample.
Perbedaan sangat
signifikan. Tabel disamping
adalah analisa satu sampel
yang sama pada dua
laboratorium berbeda.
Perhatikan

perbedaan pada GAD, GDB, GAD pada basis 10 %

Parameter

Lab A

Lab B

Difference

M %ad

10.0

12.0

2.0

Ash %ad

5.0

4.8

0.2

Ash %db

5.6

5.5

0.1

VM %ad

40.0

38.7

1.3

VM %db

44.4

44.0

0.4

TS %ad

0.80

0.79

0.01

TS %db

0.89

0.90

0.01

GCV kcal/kg ad

6500

6380

120

GCV kcal/kg db

7222

7250

28

GCV kcal/kg at 10.0


% adb

6500

6525

25

0.3
1.0
010
72

Air Dried Basis = adb atau db

Toleransi untuk calorific value adalah 72 kcal/kg


(ISO1928)
Toleransi diapplikasikan untuk membandingkan hasil
pada moisture basis yang sama (umumnya dilaporkan
dalam adb atau db)
Bila hasil dikomparasi pada as determined maka diluar
batas toleransi, 120 kcal/kg
Jika hasil dikomparasi dengan moisture basis sama
sama 10 % adb atau di komparasi pada db, maka
masih dalam batas toleransi.
Hal ini berlaku untuk parameter analisa lainnya.

Beberapa Hal yg
menentukan mutu batubara
A.
B.
C.

D.

Kandungan total air (Total Moisture )


Kandungan abu ( ASH Content )
Kandungan Zat terbang (Volatile
Matter )
Kandungan karbon ( Fixed Karbon )

A. Moisture dalam
Batubara
Pada dasarnya moisture adalah kandungan jumlah air baik yg terikat maupun
tidak pada batubara.

Kandungan lengas (air) akan mempengaruhi dalam penggunaan batubara.


Bagaimana cara mengatasinya ?
Dengan cara memperkecil ukuran butir batubara, meski tidak dapat hilang
sama sekali.
Makin halus butir batubara makin luas jumlah permukaan butir secara
keseluruhan sehingga makin banyak pula air yg menempel
Batubara mempunyai sifat hirdophobic (apabila batubara telah dikeringkan
maka batubara tersebut akan sulit menyerap air sehingga tidak akan
menambah air internal).

Ada beberapa istilah yang digunakan untuk


mengambarkan bentuk bentuk moisture
dalam batubara.
1. Free Moisture
Moisture yang ada dalam permukaan partikel batubara dan luasan
kapileritas dengan tekanan uap normal, dikenal juga sebagai surface
moisture. Ini merupakan kelimpahan dari pada natural (inherent)
moisture.
Free Moisture tercampur secara mekanikal dengan batubara pada
permukaan, luasan cracking dan kapileritas
Jumlah Free Moisture pada dasarnya tergantung pada proses
pembasahan dan pengeringan yang terjadi selama penambangan,
prosesing, transportasi, handling dan penyimpanan serta size distribusi
batubara.

Moisture dalam Batubara


2. Inherent Moisture - Moisture yang keberadaannya dalam batubara
merupakan bagian yang terintegrasi secara alamiah, yang mengisi
struktur pori-pori batubara dengan tekanan uap normal yang sangat
rendah.
Disebut juga Bed Moisture atau moisture dalam batubara sebelum
dikeluarkan ke atmosfere (ASTM D121)
Moisture dalam senyawa kimia moisture yang keberadaannya sebagai
air hidrat dan bersenyawa secara kimiawi dalam kandungan batubara,
merupakan bagian dari Inherent Moisture.
Inherent moisture tidak sama dengan Moisture in the analysis sample.
3. Residual Moisture berarti moisture yang tertahan dalam batubara
setelah mencapai equilibrium dengan udara ambient. Secara sederhana
moisture yang tertahan setelah pengeringan udara (AS2418 dan ASTM
D121)

Moisture dalam Batubara


4. Moisture in the analysis sample = Air dry moisture
Merupakan moisture dalam sample batubara yang dikeluarkan
dengan kondisi standar.(AS2418)
Moisture in the analysis sample ditentukan melalui pengeringan 1 g
sample dibawah kondisi standar pada 107 oC. Perbedaan berat
sebelum dan sesudah pemanasan merupakan moisture in the
analysis sample.
5. Moisture Holding Capacity = Equilibrium Moisture (ASTM D 121
dan D1412).
Sejumlah moisture yang terkandung dalam contoh analisa batubara
yang diequilibrium dengan udara pada relatif humidity 96 % dan
temperature 30 oC. (AS 2418, BS 1038.17). Hasil uji ini digunakan
untuk estimasi inherent moisture.

6. Total Moisture

Total Moisture merupakan gambaran kandungan air total


dalam batubara pada saat pengambilan contoh. Total
moisture dipengaruhi oleh cuaca, metoda penambangan,
processing, stock pilling dan transportasi. Penting
meyiapkan batas aman pada spesifikasi TM untuk
pengapalan batubara di musim hujan.
Moisture juga dapat menyebabkan masalah pada handling
dan transportasi batubara, dimana dapat menyebabkan
batubara menempel pada chute, conveyor, dan menambah
biaya milling dan grinding.

B. Kandungan abu ( ASH Content )

Komposisi batubara bersifat heterogen, terdiri dari senyawa


organik (berasal dari tumbuhan-tumbuhan) dan senyawa
anorganik.
Apabila batubara dibakar maka senyawa anorganik yg ada
akan diubah menjadi senyawa oksida yg berukuran butiran
halus yg disebut dengan abu (ash).
Ash merupakan kumpulan dari non combustible material atau
Ash merupakan residue pembakaran batubara.
Untuk penggunaan batubara PLTU maka ada 2 macam ash :
abu dasar (terkumpul di dasar tungku, 20 %)
abu terbang (akan keluar melalui cerobong asap, 80 %).

Ash content lanjutan ..

Ash Content dianalisa dengan membakar 1 g sample GA dibawah


kondisi standard pada 815 oC (ISO) and 750 oC (ASTM).
Dalam kontrak penjualan biasanya ash content mempunyai batasan
maksimum. Konsistensi Ash dalam produk batubara penting. Produk
batubara dengan ash bervariasi, menyebabkan masalah pada proses
pengunaannya.

Apa kerugian dari adanya ash ?

Ash merupakan material yang abrasive dan untuk berkadar tinggi


dapat menyebabkan kerusakan pada pulverisers dan boiler.

Juga Ash content yg tinggi, akan menurunkan nilai kalori.

Ash yg bercampur dgn klinker akan menurunkan kualitas klinker

Ash dapat mengandung SO2 sehingga jika terlepas di udara maka


dapat menimbulkan reaksi dan akhirnya menciptakan hujan asam

Cara mengatasinya dengan penggunaan filter/electrostatic


presipitatator

Formula Ash Content

Unsur Mineral dihitung berdasarkan teoritis

Formula :
Mineral Matter = 1.08 Ash + 0.55 Sulphur

Klasifikasi ASTM
Mineral Matter = 1.06 Ash +0.53 Sulphur
+0.74 CO2-0.32

Perbedaan Mineral dengan Ash

Unsur Mineral (mineral matter) merupakan bagian


anorganik yang dikandung oleh batubara.
Penting dicatat, bahwa ash dan mineral matter tidak
sama. Merupakan parameter yang berbeda.Unsur Mineral
terdapat dalam batubara dengan jumlah yang berbeda
tergantung pada tingkatan dan formasinya.
Perbedaan antara unsur mineral dengan ash adalah dari
pembakarannya. Selama pembakaran berbagai
perubahan terjadi pada mineral, seperti hilangnya air
hidrat dari mineral silikat, perubahan pyrite menjadi ferri
oxide dengan membuang sulphur oxide, hilangnya carbon
dioksida dari bahan carbonat, oksidasi iron pyrite ke iron
oksida.

Formula untuk Mineral

Sulit mengekstraksi unsur Mineral dari batubara. Mineral


matter content dikalkulasi mengunakan formula yang sudah
mengakomodir perubahan kimia sewaktu pembakaran.
Formula
MM = 1.08 Ash + 0.55 Sulphur. (original formula)
MM = 1.13 Ash + 0.47 S. Pyritic + Cl.
ASTM
MM = 1.06 Ash + 0.53 Sulphur + 0.74 CO2 0.32

Australian Standar
MM =1.1 Ash

Volatile Matter

Volatile Matter merupakan bagian dari kandungan


batubara yang menguap pada temperatur tertentu
dalam kondisi standar. Terdiri dari gas gas yang mudah
terbakar, seperti H, CO dan Metan, juga gas yang tidak
mudah terbakar seperti CO2.

Volatile Matter
Kenapa Volatile Matter penting
dianalisa ?
Volatile Matter mempengaruhi
penyalaan (ignition),pembakaran dan
stabilitas nyala dalam boiler.
Sehingga volatile Matter terpenting
dalam mendesain boiler.
2. Volatile matter dibawah 20%
bermasalah dalam penyalaan
stabilitas nyala pada kebanyakan
boiler.
3. Merupakan salah satu parameter
untuk penentuan coal rank.
1.

Fixed carbon
Material yg tersisa, setelah
berkurangnya moisture, volatile
matter, dan ash.
Makin berkurang kandungan air
berarti moisture content makin kecil,
nilai fixed carbon makin tinggi.
Nilai FC tinggi maka CV juga makin
tinggi

Proximate Analysis (M, Ash, VM & FC)

Fixed Carbon

Fixed Carbon is by difference

FC = 100 (M + Ash + VM)

Fuel Ratio = FC / VM (in the same basis)

Carbon & Hydrogen, C & H

Carbon dan Hydrogen ditentukan dengan


pembakaran sample batubara dialiri oxygen dan
gas gas yang dihasilkan ditangkap dengan
metode gravimetri ataupun mengunakan metode
instrumental.
Carbon dan Hydrogen digunakan untuk kalkulasi
pembakaran.
Nitrogen adalah sumber gas yang menyebabkan
polusi. Gas Nitrogen Oxide (NOx) ada dalam
emisi gas buang.
Tipikal yang diinginkan Nitrogen dafb kurang dari
2 %, Tipikal batubara indonesia mempunyai kadar
Nitrogen rendah.

Total Sulphur
Analisa Penetapan Total Sulphur dengan pembakaran sample
batubara dengan dialiri oxygen dan gas yang dihasilkan
ditangkap dan dihitung total gas tersebut dengan titrasi. Gas
yang dihasilkan adalah gas sulfur oksida, dikenal juga sebagai
SOx, yang dapat juga diukur dengan deteksi infra red melalui
suatu instrumen laboratorium dalam kondisi standar.
Kenapa Total Sulphur mesti diukur ?
1.
Sulphur merupakan sumber polusi yang serius dari gas-gas
yang dihasilkan dalam pembakaran batubara.
2.
Tingkat emisi Sulphur Oxide diatur dan dimonitor oleh regulasi
pemerintah.
3.
Produk batubara dengan sulphur yang konsisten, penting bagi
proses penggunaan batubara.
4.
Dapat membentuk senyawa sulfat sehingga timbul korosi pada
peralatan maupun pada saat pengangkutan.

Total Sulphur

Sulphur dalam batubara dapat berbentuk anorganic pyritic


sulphur (iron), sulphate sulphur dan organik sulphur (berasal
dari aktifitas bakteri) .

Bagaimana cara mengatasinya ?


1.
Pyritic Sulfur dapat dipisahkan dengan proses crushing dan
washing plant.
2.
SOx dapat dihilangkan dari gas hasil pembakaran dengan
proses scrubbing sebelum dilepas ke atmosphere.
3.
Total Sulphur tinggi dapat diturunkan melalui blending dengan
batubara rendah sulphur.
4.
Untuk batubara dengan Sulphur tinggi, pengetahuan tentang
bentuk-bentuk sulphur penting, dalam mengontrol sulphur.

Calorific Value = Nilai Kalor Batubara

Calorific value yang dalam laboratorium mengunakan


instrument yang terkontrol dengan microprocessor otomatis.
Caranya : Batubara dibakar dalam tabung berisi oksigen
dengan tekanan tertentu dan kenaikan panas yang dihasilkan
tabung dicatat dan dibandingkan dengan material standard.
Normalnya dijual pada salah satu dari tiga moisture basis
dibawah :

Gross Air Dried

Gross As Received

Net As Received

Calorific Value basis GAD

Ada yg menyebut dengan High heating Value


GAD basis tergantung pada pelaporan air dried moisture
(atau mouisture in the analysis sampale) basis.
Masalah yg sering muncul adalah hasil GAD ketika
dikomparasi antar laboratorium berbeda sehingga akan
mengakibatkan kerugian pada penjual.

Cara mengatasinya
Basis ditentukan melalui analisa di laboratorium berkali-kali
sampai mendapatkan nilai dimana moisture tidak berubah
lagi secara signifikan
Humiditi dan temperatur laboratorium harus dikontrol dalam
batasan pada rentang 50 60% RH dan 25 oC dengan
menggunakan de- humidifier dan air conditioning.

Calorific Value basis GAR

GAR adalah gross as received basis


Calorific Value yang dilaporkan pada basis Total
Moisture
Tingginya Total Moisture dapat menyebabkan
turunnya hasil GAR.
Adanya hujan (musim hujan) harus menjadi
perhatian dimana Total Moisture dapat dengan
luar biasa lebih tinggi dari normalnya.

Calorific Value basis NAR

Ada yg menyembut dengan low heating value,


Net Calorific Value umumnya dilaporkan sebagai as
received basis- Net As Received (NAR)
Net Calorific Value adalah kandungan energi
batubara dikurangi energi untuk untuk
menghilangkan air yang dihasilkan dari Total
Moisture dan sebagai hasil pembakaran.
Net Calorific Value dapat juga menyatakan aktual energi
panas yang tersedia pada pembakaran batubara dalam
kondisi normal di boiler.

Calorific Value NAR

Net Calorific Value at Constant Pressure


ISO 1928:
{GCVdb (j/g)-212 x Hdb-0.8x[Odb+Ndb]}x(1-0.01TM)(24.4XTM)

ASTM D5865:
GCVar(j/g)-(215.5xHar)
where Har=Hadb x [(100-TM/(100-Madb)]-0.1119 x TM

Contoh Kalkulasi Net Calorific Value at Contstan Pressure

GCV ar = 5150 kcal/kg = 21562 J/g


TM % ar = 25.0, M % adb = 15.0
GCV db = 6867 kcal/kg = 28751 J/g
H % adb = 3.65, H % db = 4.29, H % ar (ASTM) = 6.02
O % db + N % db = 17.50
ISO1928
NCV ar = 20261 J/g = 4839 kcal/kg
ASTM D5865 NCV ar = 20265 J/g = 4840 kcal/kg

Ash Analysis

Ash analysis adalah analisa kimia dari abu


batubara untuk menentukan kandungan
mayor dan minor elemennya. Biasanya
dilaporkan SiO2, Al2O3, Fe2O3, CaO, MgO,
Na2O, K2O,MnO2, P2O5, TiO2 and SO3.
Hasil digunakan untuk mengklasifikasi abu
batubara dalam kaitan menentukan potensi
slagging dan fouling serta menentukan
dampak evaluasi dampak terhadap
lingkungan.

Ash Analysis_Slaging Index

Slagging indek merupakan estimasi empiris potensial


batubara membuat slag.
Slagging index memprediksi potensial campuran
deposit pada dinding furnace dalam bagian radiant di
boiler.

Kenapa slagging index perlu diukur. ?


Ini dapat menyebabkan kerusakan pada pipa,
perubahan dalam pemindahan panas, dan korosi pada
boiler.
Slagging dan fouling menyebabkan masalah
operasional dan efisiensi pada boiler

Formula Slagging index

Slagging indek merupakan kalkukasi oksida basa dibagi


dengan oksida asam dikalikan Total Sulphur
(Fe + Ca + Mg + Na + K)
Slagging Indek = --------------------------------- X Total Sulphur
(Si, Al and Ti)

Ash Analysis_Fouling Index

Fouling index mengambarkan tendensi abu batubara


membentuk ikatan deposit pada superheater atau
preheater. Secara dasar ini disebabkan oleh interaksi dari
uap alkali (sodium atau potasium) dengan oksida sulphur.
Fouling = oksida basa / oksida asam x sodium oxide
Tipikal Fouling Index, Low = < 0.2 ; Medium = 0.2 0.5
Penting diperhatikan Ash Tipe, apakah bituminous atau
lignit
Lignitic Ash type = CaO + MgO > Fe2O3 and CaO +
MgO + Fe2O3 > 20 %

Ash Analysis

Ash Fusion Temperature

Ash Fusion Temperature memberikan suatu hasil dalam skala


laboratorium terhadap karakteristik profil leleh dari abu batubara.
Keterkaitan AFT dalam kaitan terhadap kontrak penjualan adalah
untuk memenuhi spesifikasi tipe dan disain boiler, temperatur
pengoperatian and profil abu.
Perlu dicatat bahwa AFT merupakan sifat fisik dan tidak dapat
dikalkulasi secara matematis untuk tujuan blending.
AFT merupakan data yang sangat berguna untuk mengevaluasi halhal yang berhubungan dengan slagging dan penumpukan abu.
Apabila temperatur gas yang mengandung abu lebih rendah dari ash
softening temperature maka abu akan mengendap sebagai debu dan
mudah untuk dibuang. Dan apabila temperatur gas lebih tinggi dari
ash softening temp. maka akan terjadi pembentukan terak.

Ash Fusion Temperature

Untuk Oksidising :
Gas CO2 400 ml/menit

Untuk Reducing:
Gas CO2 200 ml/menit +
Gas H2 200 ml/menit

Hardgrove Grindability Index

HGI adalah suatu tolok ukur secara laboratorium dari


mudah atau sulitnya batubara digerus atau di pulverising.
HGI adalah nilai mudah atau sukarnya batubara
digrinding/digerus menjadi bahan bakar bubuk.
Operator menginginkan yang mudah untuk digerus tetapi
batubara begitu getas, menimbulkan debu dan masalah
dalam proses handlingnya.
Formula HGI : 13,6 + 6,93 W
Dimana W = berat (dalam gram) batubara halus dengan
ukuran 200 mesh.

Hardgrove Grindability Index

Dalam pengujiannya HGI


dipengaruhi moisture dalam
sample uji, makanya
penetapan HGI harus
dengan hasil pengujian
residual moisture.
Perlu dicatat bahwa HGI
merupakan sifat fisik dan
tidak dapat di blending
secara kalkulasi matematis.
Dalam prakteknya, selain
dipengaruhi moisture, juga
dipengaruhi oleh unsurunsur mineral dalam
batubara.

Trace Element

Trace Element adalah Arsenic (As), Barium (Ba),


Beryllium (Be), Boron (B), Chromium (Cr), Copper
(Cu), Fluorine (F), Lead (Pb), Manganese (Mn),
Mercury (Hg), Molibdenum (Mo), Nickel (Ni),
Selenium (Se), Strontium (Sr), Vanadium (V), dan
Zinc (Zn).
Merupakan sumber polusi serius dalam stack
emission dan abu yang dihasilkan.
Merupakan tambahan parameter khusus dalam
kontrak penjualan.
Dilaporkan dalam parts per million ppm air dried
dalam batubara.

Size Distribution / Distribusi Ukuran

Distribusi ukuran dari produk batubara dilaporkan pada banyak


ukuran butir yang berbeda-beda. Tipekal distribusi ukuran yang
lazim digunakan adalah 50, 40, 31.5, 22.4, 11.2, 6.7, 4.75, 2, 1
dan 0.5mm.

Kontrak penjualan mempunyai tipikal spesifikasi untuk persen


oversize, + 50 mm untuk kebanyakan batubara dan untuk jumlah
yang lebih kecil -2 atau 1mm.

Banyaknya yang oversize dapat menyebabkan masalah dalam


handling. Lebih banyak yang halus juga menyebabkan masalah
dalam penanganannya, debut dan bersifat penyimpan moisture
(sehingga Total moisture jadi tinggi) serta masalah kehilangan
quantitas. Lazimnya, maximum 5% untuk ukuran + 50mm dan 25
to 30% untuk ukuran-2mm.

Size distribution dapat dikontrol dari metode penambangan,


processing, handling and ergonomis stockpile.

Pengujian Untuk Batubara Coking

Batubara Coking hanya batubara yang memiliki sifat -sifat


coking, yang digunakan dalam proses pembuatan baja.

Total moisture, proximate, ultimate, ash analysis, calorie,


trace element, ash fusion, hgi dan size distribusi, merupakan
pengujian yang normal untuk batubara koking.

Untuk mengevaluasi sifat-sifat koking, diperlukan parameter


uji sebagai berikut :
Crusible

Swelling Number
Gieseler Plastometer
Dilatometer
Gray-King Caking Test
Petrografic Analysis

Crusible Swelling Number

Beberapa gram sample GA, dipanaskan dalam kondisi standar


didalam suatu crusible standar. Batubara yang mempunyai sifat
koking akan mengembang membentuk kancing koking. Ukuran
kancing koking ini dibandingkan dengan seri profil standar untuk
mendapatkan hasil index (rentang nilai dari 0 9).

Nilai CSN diatas 4 biasanya mengindikasikan mempunyai


kualitas koking yang bagus. Nilai CSN kurang dari 4 lemah atau
tidak berkualitas koking.

Gieseler Plastometer

Merupakan pengukuran empiris dari fluiditas batubara dalam


rentang plastis. Ketika batubara koking dipanaskan, komponen
bereaksi menjadi cair, biasanya kisaran temperatur 300 C dan
kembali memadat pada kisaran 500 C

Derajat fluiditas diukur dengan alat yang disebut plastometer.


Yang diukur adalah rentang temperatur mencair.

Hasil fluiditas digunakan untuk mencampur batubara guna


pembuatan koking dengan kualitas bagus. Rentang fluiditas
batubara dapat dipadukan

Dilatometer

Perubahan dalam volume atau panjangselama batubara


mencair diukur mengunakan alat yang dinamakan Dilatometer.

Menyatakan indikasi dari sifat expansi atau contraksi batubara.

Contoh batubara dikompres membentuk pensil dipanaskan


pada tingkatan standar tertentu. Batubara Coking akan
mengalami fase kontraksi awal kemudian fase expansi. Jumlah
expansi dan kontraksi diukur seperti mengukur temperatur.

Gray-King Caking Test

Sample batubara halus dipanaskan dengan pipa horisontal


dengan panas perlahan sampai temperatur 300 C.

Profil dari sisa pembakaran dikomparasi pada suatu seri profil


standard dengan rentang dari A G dan G1 G14.

Dimana A menunjukan tidak bersifat caking dan G merupakan


batubara yang mengembang.

Type G diklasifikasi lebih lanjut lagi dari G1 G14.

Semakin tinggi angka G, semakin bagus nilai cakingnya.

Petrographic Analysis

Blok batubara yang dipress padat, sekitar 25 mm persegi disiapkan


dan dipotong tengahnya. Satu sisi dari potongan ini dilapisi minyak
immersi dan dipelajari dibawah mikroskop menggunakan pantulan
cahaya polarisasi.

Dua bentuk analisa secara umum dilaporkan


Maceral

dan microlithotype Analysis


Reflectan analysis

Maceral dan Microlithotype Analysis

Maceral adalah partikel organik batubara. Istilah ini digunakan untuk


mengindikasi analogi dengan mineral (yang mana perbedaan tipe an
organik ditemukan dalam batubara dan batuan lainnya).

Analisa maceral mengklasifikasi maceral kedalam berbagai tipe:


Vitrinite turunan dari struktur sel tumbuhan
Exinite turunan dari buangan dan pelapisan wax dari tumbuhan.
Inertinite dengan atau tanpa struktur tumbuhan yang dikenal.

Analisa Maceral memberikan informasi tentang sifat batubara selama


pembentukan batubara, coal rank dan formasi batubara.

Batubara dikelompokkan menjadi dua kategori besar:


Batubara Humus Hasil dari pembusukan tumbuhan dalam kondisi
aerob, kebanyakan tipe lapisan banded coal batubara bitumen.
Batubara Sapropelic Hasil dari pembusukan tumbuhan dalam
kondisi anaerob, penampakan non banded .

Maceral dan Microlithotype Analysis

Sistem eropa memberikan penamaan menjadi 4 tipe


banded coal :
Vitrain
Clarain
Yang dikenal sebagai lithotype
Durain
Fusain

Lithotype kedepan sebagai pengklasifikasi dalam


microlithotype. Analisa microlithotype digunakan sebagai
tambahan informasi dalam studi pembentukan batubara.

Perbedaan microlithotype umumnya diasosiasikan


dengan kepastian grup maseral.