Anda di halaman 1dari 22

Praktikum Kimia Organik/1/S.

Genap/2015
1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ikan patin (Pangasiaus Sp) adalah salah satu ikan perairan Indonesia yang telah
berhasil dibudidayakan. Sebagai ikan unggul dan ekonomis, pengembangan budidaya
ikan ini cukup prospektif. Ikan patin memiliki karakteristik rasa yang sangat khas,
mempunyai rasa yang enak dan gurih yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat umum,
sehingga tergolong ikan unggul, serta memiliki nilai gizi yang tinggi terutama kandungan
protein dan lemak.
Ikan patin merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan panjang berwarna
putih perak dengan punggung berwarna kebiru-biruan. Ikan patin dikenal sebagai
komoditi yang berprospek cerah, karena memiliki harga jual yang tinggi. Ikan patin
berbadan panjang untuk ukuran ikan tawar lokal, warna putih seperti perak, punggung
berwarna kebiru-biruan. Kepala ikan patin relatif kecil, mulut terletak di ujung kepala
agak di sebelah bawa. Pada sudut mulutnya terdapat dua pasang kumis pendek yang
berfungsi sebagai peraba.
Minyak ikan termasuk senyawa lipida yang bersifat tidak larut dalam air. Minyak
ikan dapat mencegah beberapa penyakit antara lain jantung koroner, kelebihan kolesterol
darah, penyakit kanker, mengobati kerontokan rambut danuntuk kekebalan tubuh. Minyak
ikan ini dibagi dalam dua golongan, yaitu minyak hati ikan( fish liver oil) yang terutama
dimanfaatkan sebagai sumber vitamin A dan D , dan golongan lainnya adalah minyak
tubuh ikan (body oil) (Panagan, 2011).
Pada pertengahan abad ke 19 kualitas dan ras minyak ikan di tingkatkan melalui
penggunaan uap. Tahun 1800-an proses uap di tingkatkan sehinnga menghasilkan minyak
ikan dengan kualitas yang lebih tinggi, baik dalam warna maupun rasa. Pada tahun 1930
produksi minyak melonjak untuk produksi minyak ikan ketika dokter mengakui manfaat
dan minyak ikan. Beberapa perusahaan perikanan mengumpulkan sumber daya mereka
dan mulai memproduksi minyak ikan untuk pakan ternak dan akhirnya menghasilkan
minyak obat yang sangat halus yang sesuai dengan standard farmasi. Tahun 1936 minyak
obat pada umumya tersedia dan sedang di pasarkan.

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/1/S.Genap/2015


2
Minyak ikan terbuat dari hasil ekstrak hati ikan dan dijual dalam bentuk sirup atau
kapsul. Minyak ikan menjadi suplemen favorit karena kandungan Omega 3 yang tinggi di
dalamnya. Selain itu, minyak ikan juga mengandung vitamin A dan D yang juga
dibutuhkan oleh tubuh. Karena termasuk salah satu zat yang rendah kolesterol, banyak
para ahli gizi yang menyarankan minyak ikan dikonsumsi sebagai suplemen tambahan
untuk kesehatan tubuh, karena dapat menmperkecil resiko serangan jantung koroner
(Mochtar. 1990).

1.2 Tujuan Praktikum


1. Mengisolasi minyak ikan dari limbah ikan patin
2. Menghitung rendemen
3. Menghitung kadar asam lemak bebas pada minyak ikan dari limbah ikan patin

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/1/S.Genap/2015


3
4.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Ikan Patin
Ikan patin merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan panjang berwarna

putih perak dengan punggung berwarna kebiru-biruan.Ikan patin dikenal sebagai


komoditi yang berprospek cerah, karena memiliki harga jual yang tinggi. Hal inilah yang
menyebabkan ikan patin mendapat perhatian dan diminati oleh para pengusaha untuk
membudidayakannya. Ikan ini cukup responsif terhadap pemberian makanan tambahan.
Pada pembudidayaan, dalam usia enam bulan ikan patin bisa mencapai panjang 35-40
cm. Sebagai keluarga Pangasidae, ikan ini tidak membutuhkan perairan yang mengalir
untuk membongsorkan tubuhnya. Pada perairan yang tidak mengalir dengan kandungan
oksigen rendahpun sudah memenuhi syarat untuk membesarkan ikan ini. Kepala ikan
patin relatif kecil, mulut terletak di ujung kepala agak di sebelah bawah (merupakan ciri
khas golongan catfish). Pada sudut mulutnya terdapat dua pasang kumis pendek yang
berfungsi sebagai peraba.
2.1.1

Klasifikasi Ilmiah
Kingdom

Animalia

Phylum

Chordata

Class

Actinopterygii

Ordo

Siluriformes

Famili

Pangasidae

Genus

Pangasius (partim)

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/1/S.Genap/2015


4
Gambar 2.1 Ikan Patin (Kusuma, 2003)

2.1.2

Minyak Ikan
Minyak ikan termasuk senyawa lipida yang bersifat tidak larut dalam air. Minyak

ikan dibagi dalam dua golongan, yaitu minyak hati ikan (fish liver oil) yang terutama
dimanfaatkan sebagai sumber vitamin A dan D, dan minyak tubuh ikan ( body oil ).
Sifat minyak ikan yang telah dimurnikan atau diuji secara organoleptik, yaitu
cairan yang berwarna kuning muda, jernih dan berbau khas minyak ikan. Sifat fisiknya
berbentuk cair dengan berat jenis sekitar 0,92 gr/ml dengan angka ion lebih dari 65
gr/100 gr, angka penyabunan 185-195 mg/gr, asam lemak bebas 0,1-13 %, dan angka
tidak tersabunkan 0,5-2,0 mg/gr.
Ikatan tak jenuh berantai panjang, yang lebih banyak dibandingkan ikan air tawar.
Uji indera atau uji sensori ini merupakan cara pengujian dengan menggunakan indera
manusia sebagai alat utama untuk pengukuran daya penerimaan terhadap produk.
Pengujian indera mempunyai peranan penting dalam penerapan mutu. Pengujian indera
dapat memberikan indikasi kebusukan, kemunduran mutu dan kerusakan lainnya dari
produk.
Dalam minyak ikan terdapat Omega 3, vitamin A, dan vitamin D. Selain itu,
minyak ikan juga merupakan sumber lemak rendah kolestrol yang aman dikonsumsi oleh
segala tingkat usia. Namun jika berlebihan pun tidak baik, karena dapat menyebabkan
keracunan vitamin A dan D. Selain itu juga mengakibatkan adanya penurunan kadar
vitamin E dalam tubuh. Oleh karena itu, hendaknya dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan
atau dosisi yang tepat. Misalnya untuk anak yang memiliki berat badan 10 kg, cukup
mengkonsumsi minyak itu satu sendok teh saja per harinya.
Minyak ikan diperoleh dengan cara ekstraki. Ekstraksi minyak adalah suatu cara
untuk mendapatkan minyak atau lemak dari bahan. Cara ekstraksi yang biasa dilakukan,
yaitu metode ekstraksi dengan aseton, metode ekstraksi dengan hidrolisa, metode dry
rendering, metode wet rendering dan ekstraksi dengan silase. Prosedur yang dilakukan
meliputi preparasi sampel, pemanasan, penyaringan, pengepressan, degumming, dan
pemisahan minyak.
Kotoran pada minyak ikan dapat dikelompokan menjadi tiga, yaitu pertama
adalah kotoran yang tidak larut dalam minyak (kotoran fisik, air dan protein), kedua

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/1/S.Genap/2015


5
adalah kotoran yang berbentuk susupensi koloid dalam minyak (fosfatida dan
karbohidrat) dan ketiga adalah kotoran yang terlarut dalam (asam lemak bebas, pigmen,
mono dan digliserida, senyawa hasil oksidasi, logam dan bahan-bahan yang tak
tersabunkan.
Kadar minyak dalam ikan sangat bervariasi, dipengaruhi oleh banyak faktor,
yaitu: spesies (jenis) ikan, jenis kelamin, tingkat kematangan (umur), musim, siklus
bertelur, dan lokasi geografis. Komposisi minyak ikan laut lebih kompleks, mengandung
asam lemak.

2.2 Ekstraksi
Ekstraksi adalah pemisahan suatu zat dari campurannya dengan pembagian sebuah
zat terlarut antara dua pelarut yang tidak dapat tercampur untuk mengambil zat terlarut
tersebut dari satu pelarut ke pelarut yang lain. Seringkali campuran bahan padat dan cair
(misalnyabahan alami)tidak dapat atau sukar sekali dipisahkan dengan metode pemisahan
mekanis atau termis yang telah dibicarakan. Misalnya saja karena komponennya saling
bercampur secara sangat erat, peka terhadap panas,beda sifat-sifat fisiknya terlalu kecil,
atau tersedia dalam konsentrasi yang terlalu rendah.
Ekstraksi adalah satu-satunya proses yang dapat digunakan atau yang mungkin
paling ekonomis. Sebagai contoh pembuatan ester (essence) untuk bau-bauan dalam
pembuatan sirup atau minyak wangi, pengambilan kafein dari daun teh, biji kopi atau biji
coklat dan yang dapat dilihat sehari-hari ialah pelarutan komponen-komponen kopi
dengan menggunakan air panas dari biji kopi yang telah dibakar atau digiling.
Ekstraksi minyak atau lemak adalah suatu cara untuk mendapatkan minyak atau
lemak dari bahan yang diduga mengandung minyak atau lemak. Adapun ekstraksi minyak
atau lemak itu bermacam-macam, yaitu rendering (dry rendering dan wet rendering),
mechanical expression dan solvent extraction (Isnani, 2013).

2.2.1 Rendering
Rendering merupakan suatu cara ekstraksi minyak atau lemak dari bahan yang
diduga mengandung minyak atau lemak dengan kadar air yang tinggi. Pada semua cara
rendering, penggunaan panas adalah sesuatu yang spesifik, yang bertujuan untuk
menggumpalkan protein pada dinding sel bahan dan untuk memecahkan dinding sel

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/1/S.Genap/2015


6
tersebut sehingga mudah ditembus oleh minyak atau lemak yang terkandung didalamnya.
Menurut pengerjaannya rendering dibagi dengan dua cara, yaitu :

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/1/S.Genap/2015


7

1)

Wet Rendering
Wet rendering adalah proses rendering dengan penambahan sejumlah air selama

berlangsungnya proses tersebut. Cara ini dikerjakan pada ketel yang terbuka atau tertutup
dengan menggunakan temperatur yang tinggi serta tekanan 40 sampai 60 pound tekanan
uap (40-60psi). Penggunaan temperature rendah pada wet rendering dilakukan jika
diinginkan flavor netral dari minyak atau lemak. Bahan yang akan diekstraksi
ditempatkan pada ketel yang diperlengkapi dengan alat pangaduk, kemudian air
ditambahkan dan campuran dipanaskan perlahan-lahan sampai suhu 50C sambil diaduk.
Minyak yang terekstraksi akan naik keatas akan naik keatas dan kemudian dipisahkan.
2)

Dry Rendering
Dry rendering adalah proses rendering tanpa penambahan air selama proses

berlangsung. Dry rendering dilakukan dalam ketel yang terbuka dan dilengkapi dengan
steam jacket serta alat pengaduk (agitator). Bahan yang diperkirakan mengandung
minyak atau lemak dimasukkan kedalam ketel tanpa penambahan air. Bahan tadi
dipanaskan sambil diaduk. Pemanasan dilakukan pada suhu 220F sampai 230F (105C110C). Ampas bahan yang telah diambil minyaknya akan diendapkan pada dasar ketel.
Minyak atau lemak yang dihasilkan dipisahkan dari ampas yang telah mengendap dan
pengambilan minyak dilakukan dari bagian atas ketel (Mochtar, 2011).

2.2.2

Pengepresan Mekanik (mechanical expression)


Pengepresan mekanis merupakan suatu cara ekstraksi minyak atau lemak,

terutama untuk bahan bahan yang berasal dari biji-bijian. Cara ini dilakukan untuk
memisahkan minyak dari bahan yang berkadar minyak tinggi(30-70%). Pada pengepresan
mekanis ini diperlukan perlakuan pendahuluan sebelum minyak atau lemak dipisahkan
dari bijinya. Perlakuan pendahuluan tersebut mencakup pembuatan serpih, perajangan
dan penggilingan serta tempering atau pemasakan (Isnani, 2013).

2.2.3 Ekstraksi Dengan Pelarut (Solvent extraction)


Prinsip dari proses ini adalah ekstraksi dengan melarutkan minyak dalam pelarut
minyak dan lemak. Pada cara ini dihasilkan bungkil dengan kadar minyak yang rendah
yaitu sekitar 1 persen atau lebih rendah,dan mutu minyak kasar yang dihasilkan
cenderung menyerupai hasil dari expeller pressing, karena sebagian fraksi bukan minyak
akan ikut terekstraksi. Pelarut minyak atau lemak yang biasa digunakan dalam proses

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/1/S.Genap/2015


8
ekstraksi dengan pelarut menguap adalah petroleum eter, gasoline carbon disulfide,
karbon tetraklorida, benzene dan n-heksan. Perlu perhatikan bahwa jumlah pelarut
menguap atau hilang tidak boleh lebih dari 5 persen. Bila lebih, seluruh system solvent
extraction perlu diteliti lagi.
Salah satu contoh solvent extraction ini adalah metode sokletasi. Ekstraksi yang
dilakukan menggunakan metoda sokletasi, yakni sejenis ekstraksi dengan pelarut organik
yang dilakukan secara berulang ulang dan menjaga jumlah pelarut relatif konstan dengan
menggunakan alat soklet. Minyak nabati merupakan suatu senyawa trigliserida dengan
rantai karbon jenuh maupun tidak jenuh. Minyak nabati umumnya larut dalam pelarut
organik, seperti heksan dan benzen. Untuk mendapatkan minyak nabati dari bahagian
tumbuhannya, dapat dilakukan dengan metoda sokletasi menggunakan pelarut yang
sesuai (Isnani, 2013).

2.3

Minyak dan Lemak


Lemak dan minyak adalah salah satu kelompok yang termasuk pada golongan

lipid, yaitu senyawa organik yang terdapat di alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut
dalam pelarut organik non-polar, misalnya dietil eter (C 2H5OC2H5), Kloroform (CHCl3),
benzena dan hidrokarbon lainnya, lemak dan minyak dapat larut dalam pelarut yang
disebutkan di atas karena lemak dan minyak mempunyai polaritas yang sama dengan
pelaut tersebut.
Bahan-bahan dan senyawa kimia akan mudah larut dalam pelarut yang sama
polaritasnya dengan zat terlarut. Tetapi polaritas bahan dapat berubah karena adanya
proses kimiawi. Misalnya asam lemak dalam larutan KOH berada dalam keadaan
terionisasi dan menjadi lebih polar dari aslinya sehingga mudah larut serta dapat
diekstraksi dengan air. Ekstraksi asam lemak yang terionisasi ini dapat dinetralkan
kembali dengan menambahkan asam sulfat encer (1 N) sehingga kembali menjadi tidak
terionisasi dan kembali mudah diekstraksi dengan pelarut non-polar.
Lemak dan minyak merupakan senyawaan trigliserida atau triasgliserol, yang
berarti triester dari gliserol.Jadi lemak dan minyak juga merupakan senyawaan ester.
Hasil hidrolisis lemak dan minyak adalah asam karboksilat dan gliserol. Asam karboksilat
ini juga disebut asam lemak yang mempunyai rantai hidrokarbon yang panjang dan tidak
bercabang (Ketaren, 1986).

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/1/S.Genap/2015


9

2.3.1 Pembentukan Lemak dan Minyak


Lemak dan minyak merupakan senyawaan trigliserida dari gliserol. Dalam
pembentukannya, trigliserida merupakan hasil proses kondensasi satu molekul gliserol
dan tiga molekul asam lemak (umumnya ketiga asam lemak tersebut berbeda -beda), yang
membentuk satu molekul trigliserida dan satu molekul air.
Bila R1=R2=R3, maka trigliserida yang terbentuk disebut trigliserida sederhana
(simple triglyceride), sedangkan bila R1, R2, dan R3 berbeda, maka disebut trigliserida
campuran (mixed triglyceride) (Mochtar. 1990).

2.3.2 Klasifikasi Lemak dan Minyak


Lemak dan minyak dapat dibedakan berdasarkan beberapa penggolongan, yaitu:

1.
a.

Berdasarkan kejenuhannya (ikatan rangkap)


Asam Lemak Jenuh
Asam lemak jenuh merupakan asam lemak yang mengandung ikatan tunggal

pada rantai hidrokarbonnya. Asam lemak jenuh mempunyai rantai berliku-liku


yang dapat cocok satu sama lain, sehingga gaya tarik van der walls tinggi, sehingga
biasanya berwujud padat (Panagan, 2011).

Tabel 2.1 Contoh-contoh dari asam lemak jenuh


Nama asam
Butirat
Palmirat
Stereat
(Sumber: Panagan, 2011)

b.

Struktur
CH3(CH2)2CO2H
CH3(CH2)14CO2H
CH3(CH2)16CO2H

Sumber
Lemak susu
Lemak hewani dan nabati
Lemak hewani dan nabati

Asam lemak tak jenuh


Sedangkan asam lemak tak jenuh merupakan asam lemak yang

mengandung satu ikatan rangkap pada rantai hidrokarbonnya. asam lemak


dengan lebih dari satu ikatan dua tidak lazim, terutama terdapat pada
minyak nabati,minyak ini disebut poliunsaturat. Trigliserida tak jenuh
ganda (poliunsaturat) cenderung berbentuk minyak.
Tabel 2.2 Contoh-contoh dari asam lemak tak jenuh
Nama asam

Struktur

Palmitoleat

CH3(CH2)5CH=CH(CH2)7CO2H

Oleat

CH3(CH2)7CH=CH(CH2) 7CO2H

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Sumber
Lemak hewani dan
nabati
Lemak hewani dan
nabati

Praktikum Kimia Organik/1/S.Genap/2015


10
CH3(CH2)4CH=CHCH2CH=CH
(CH2)7CO2H
CH3CH2CH=CHCH2CH=CHCH2=CH
Linolenat
(CH2) 7CO2H
(Sumber: Panagan, 2011)
Linoleat

Minyak nabati
Minyak biji rami

2. Berdasarkan sifat mengering


Tabel 2.3 Pengklasifiksian lemak dan minyak berdasarkan sifat mengering
Sumber
Minyak tidak
mengering (nondrying oil)
Minyak Setengah
mengering (semidrying oil)
Minyak nabati
mengering
(drying oil)

Keterangan
Tipe minyak zaitun, contoh: minak zaitun,minyak buah
persik,minyak kacang
Tipe minyak rape,contoh: minyak biji rape, minyak
mustard
Tipe minyak hewani contoh, minyak sapi
Minyak yang mempunyai daya mengering yang lebih
lambat.Contohnya: minyak biji kapas,minyak bunga
matahari
Minyak yang mempunyai sifat dapat mengering jika kena
oksidasi, dan akan berubah menjadi lapisan tebal, bersifat
kental dan membentuk sejenis selaput jika dibiarkan di
udara terbuka. Contoh: minyak kacang kedelai,
minyakbiji karet.

(Sumber: Panagan, 2011)


3.

Berdasarkan sumbernya

Tabel 2.4 Pengklasifikasian lemak dan minyak berdasarkan sumbernya


Sumber
Keterangan
Berasal dari tanaman
(minyak Nabati)
Berasal dari
hewan(lemak hewani)

Biji-biji palawija. Contoh: minyak jagung, biji kapas


kulit buah tanaman tahunan. Contoh: minyak
zaitun,minyak kelapa sawit
biji-biji tanaman tahunan. Contoh: kelapa, coklat, inti
sawit
susu hewan peliharaan, contoh: lemak susu
daging hewan peliharaan, contoh: lemak sapi, oleosterin
hasil laut, contoh: minyak ikan sardin, minyak paus

(Sumber: Panagan, 2011)

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/1/S.Genap/2015


11

4.

Berdasarkan kegunaannya

Tabel 2.5 Pengklasifikasian lemak dan minyak berdasarkan kegunaanya


Nama
Minyak mineral(minyak
bumi)
Minyak nabati/hewani
(minyak/lemak)
Minyak atsiri(essential oil)

Kegunaan
Sebagai bahan bakar
Bahan makan bagi manusia
Untuk obata-obatan. Minyak ini mudah menguap
pada temperatur kamar,sehingga disebut juga
minyak terbang.

(Sumber: Panagan, 2011)


2.3.3

Sifat-sifat Lemak dan Minyak


a. Sifat-sifat fisika Lemak dan Minyak
1. Bau amis (fish flavor) yang disebabkan oleh terbentuknya trimetil-amin
dari lecitin
Bobot jenis dari lemak dan minyak biasanya ditentukan pada temperatu

2.

kamar

3. Indeks bias dari lemak dan minyak dipakai pada pengenalan unsur kimia
dan untuk pengujian kemurnian minyak.
4. Minyak/lemak tidak larut dalam air kecuali minyak jarak (sedikit larut
dalam alkohol dan larut sempurna dalam dietil eter, karbon disulfida dan
pelarut halogen.
5. Titik didih asam lemak semakin meningkat dengan bertambahnya
panjang rantai karbon.
6. Rasa pada lemak dan minyak selain terdapat secara alami, juga terjadi
karena asam-asam yang berantai sangat pendek sebaggai hasil penguraian
pada kerusakan minyak atau lemak.
7. Titik kekeruhan ditetapkan dengan cara mendinginkan campuran lemak
atau minyak dengan pelarut lemak.
8. Titik lunak dari lemak/minyak ditetapkan untuk mengidentifikasikan
minyak/lemak.
Shot melting point adalah temperatur pada saat terjadi tetesan pertama

9.

dari minyak/lemak.

10. Slipping point digunakan untuk pengenalan minyak atau lemak alam
serta pengaruh kehadiran komponen-komponennya (Mochtar. 1990).

b. Sifat-sifat kimia Minyak dan Lemak


1. Esterifikasi

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/1/S.Genap/2015


12
Esterifikasi merupakan salah satu reaksi mensintesis suatu bahan alam
yang berupa senyawa organic, ester dapat dibuat dengan menggunakan
esterifikasi langsung, asam karboksilat dan alkohol. Ester dihasilkan apabila
asam karboksilat dipanaskan bersama alkohol dengan bantuan katalis yaitu
asam sulfat pekat, terkadang juga digunakan gas hidrogen klorida kering
sebagai katalis, tetapi katalis-katalis ini cenderung melibatkan ester-ester
aromatic (ester yang mengandung gugus benzene). Proses esterifikasi
bertujuan untuk asam-asam lemak bebas dari trigliserida menjadi bentuk
ester.

2. Hidrolisa
Dalam reaksi hidrolisis, lemak dan minyak akan diubah menjadi asamasam lemak bebas dan gliserol. Reaksi hidrolisis mengakibatkan kerusakan
lemak dan minyak. Ini terjadi karena terdapat terdapat sejumlah air dalam
lemak dan minyak tersebut.

3. Penyabunan
Reaksi ini dilakukan dengan penambahan sejumlah larutan basa kepada
trigliserida. Bila penyabunan telah lengkap, lapisan air yang mengandung
gliserol dipisahkan dan gliserol dipulihkan dengan penyulingan .

4. Hidrogenasi
Proses hidrogenasi bertujuan untuk menjernihkan ikatan dari rantai
karbon asam lemak pada lemak atau minyak. setelah proses hidrogenasi
selesai, minyak didinginkan dan katalisator dipisahkan dengan disaring.
Hasilnya adalah minyak yang bersifat plastis atau keras, tergantung pada
derajat kejenuhan.

5. Pembentukan keton
Keton adalah golongan senyawa organik yang memiliki rumus umum RCOR1. Reaksi yang dapat terjadi pada keton adalah reduksi. Keton
merupakan yang lebih lemah daripada aldehida. Zat-zat pengoksidasi lemah
seperti pereaksi Tollens dan pereaksi Fehling tidak dapat mengoksidasi keton.
Oleh karena itu, aldehida dan keton dapat dibedakan dengan menggunakan
pereaksi-pereaksi tersebut. Keton dihasilkan melalui penguraian dengan cara
hidrolisa ester.

6. Oksidasi
Oksidasi dapat berlangsung bila terjadi kontak antara sejumlah oksigen
dengan lemak

atau minyak.

Terjadinya

reaksi

oksidasi

ini

mengakibatkan bau tengik pada lemak atau minyak (Mochtar. 1990).

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

akan

Praktikum Kimia Organik/1/S.Genap/2015


13
2.3.4 Perbedaan Antara Lemak dan Minyak
Perbedaan antara lemak dan minyak antara lain, yaitu:
1.
2.

Pada temperatur kamar lemak berwujud padat dan minyak berwujud cair
Gliserrida pada hewan berupa lemak (lemak hewani) dan gliserida pada

3.

tumbuhan berupa miyak (minyak nabati).


Komponen minyak terdiri dari gliserida yang memiliki banyak asam lemak tak
jenuh sedangkan komponen lemak memiliki asam lemak jenuh.

2.3.5 Kegunaan Lemak dan Minyak


Lemak dan minyak merupakan senyawaan organik yang penting bagi kehidupan
makhluk hidup.adapun lemak dan minyak ini antara lain:

1.
2.

Memberikan rasa gurih dan aroma yang spesifik


Sebagai salah satu penyusun dinding sel dan penyusun bahan-bahan

3.

biomolekul
Sumber energi yang efektif dibandingkan dengan protein dan karbohidrat,
karena lemak dan minyak jika dioksidasi secara sempurna akan menghasilkan
9 kalori/liter gram lemak atau minyak. Sedangkan protein dan karbohidrat

4.

hanya menghasilkan 4 kalori tiap 1 gram protein atau karbohidrat.


Karena titik didih minyak yang tinggi, maka minyak biasanya digunakan
untuk menggoreng makanan di mana bahan yang digoreng akan kehilangan

5.

sebagian besar air yang dikandungnya atau menjadi kering.


Memberikan konsistensi empuk,halus dan berlapis-lapis dalam pembuatan

6.
7.
8.
9.

roti.
Memberikan tektur yang lembut dan lunak dalam pembuatan es krim.
Minyak nabati adalah bahan utama pembuatan margarine
Lemak hewani adalah bahan utama pembuatan susu dan mentega
Mencegah timbulnya penyumbatan pembuluh darah yaitu pada asam lemak
esensial (Isnani, 2013).

2.3.6 Asam Lemak


Asam lemak adalah senyawa alifatik dengan gugus karboksil berderajat tinggi
(memiliki rantai karbon lebih dari 6). Bersama-sama dengan gliserol, merupakan
penyusun utama minyak nabati atau lemak dan merupakan bahan baku untuk semua
lipida pada makhluk hidup. Asam ini mudah dijumpai dalam minyak masak (goreng),
margarin, atau lemak hewan dan menentukan nilai gizinya. Secara alami, asam lemak
bisa berbentuk bebas (karena lemak yang terhidrolisis) maupun terikat sebagai gliserida.

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/1/S.Genap/2015


14
Asam lemak dibedakan menjadi asam lemak jenuh dan asam lemak tak
jenuh.Asam lemak jenuh hanya memiliki ikatan tunggal di antara atom-atom karbon
penyusunnya, sementara asam lemak tak jenuh memiliki paling sedikit satu ikatan
rangkap diantara atom-atom karbon penyusunnya. Kedua jenis ikatan dalam asam lemak
inilah yang menyebabkan perbedaan sifat fisik antara asam lemak satu dengan lainnya
(Ketaren, 1986)

a. Karakteristik Asam Lemak


Asam lemak tidak lain adalah asam alkanoat atau asam karboksilat dengan
rumus kimia R-COOH atau R-CO2H. Contoh yang cukup sederhana misalnya
adalah H-COOH yang adalah asam format, H3C-COOH yang adalah asam asetat,
H5C2-COOH yang adalah asam propionat, H7C3-COOH yang adalah asam butirat
dan seterusnya mengikuti gugus alkil yang mempunyai ikatan valensi tunggal,
sehingga membentuk rumus bangun alkana.
Karena berguna dalam mengenal ciri-cirinya, asam lemak dibedakan menjadi
asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh. Asam lemak jenuh hanya memiliki
ikatan tunggal di antara atom-atom karbon penyusunnya, sementara asam lemak
tak jenuh memiliki paling sedikit satu ikatan ganda di antara atom-atom karbon
penyusunnya (Isnani, 2013).
Asam lemak merupakan asam lemah, dan dalam air terdisosiasi sebagian.
Umumnya berfase cair atau padat pada suhu ruang. Semakin panjang rantai C
penyusunnya, semakin mudah membeku dan juga semakin sukar larut.
Asam lemak jenuh bersifat lebih stabil (tidak mudah bereaksi) daripada asam
lemak tak jenuh. Ikatan ganda pada asam lemak tak jenuh mudah bereaksi dengan
oksigen (mudah teroksidasi). Karena itu, dikenal istilah bilangan oksidasi bagi
asam lemak (Ketaren, 1986).

b. Asam Lemak Bebas


Asam lemak bebas adalah asam lemak yang berada sebagai asam bebas tidak
terikat sebagai trigliserida. Asam lemak bebas dihasilkan oleh proses hidrolisis dan
oksidasi biasanya bergabung dengan lemak netral.

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/1/S.Genap/2015


15
Asam lemak bebas dalam kosentrasi tinggi yang terikut dalam minyak ikan
sangat merugikan. Tingginya asam lemak bebas ini mengakibatkan rendemen
minyak turun. Dan juga mengakibatkan bau tengik pada minyak (Isnani, 2013).

c. Bahaya Asam Lemak Bebas


Jaringan lemak melepaskan asam lemak bebas dan gliserol ke dalam darah, di
mana asam lemak tersebut diangkut dengan albumian ke hampir semua organ.
Dilain pihak, gliserol berjalan terutama ke dalam hati dan sedikit ke dalam ginjal,
hanya jaringan-jaringan ini tempatnya dapat digunakan. Proporsi asam lemak bebas
yang lebih besar dalam sirkulasi dikonversi menjadi badan-badan keton, yang
merupakan prinsip dalam hati. Badan-badan keton adalah bentuk energi yang lebih
larut dalam air dari pada asam lemak (Isnani, 2013).
Asam lemak bebas terbentuk karena proses oksidasi, dan hidrolisa enzim
selama pengolahan dan penyimpanan. Dalam bahan pangan, asam lemak dengan
kadar lebih besar dari berat lemak akan mengakibatkan rasa yang tidak diinginkan
dan kadang-kadang dapat meracuni tubuh. Timbulnya racun dalam minyak yang
dipanaskan telah banyak dipelajari. Bila lemak tersebut diberikan pada ternak atau
diinjeksikan kedalam darah, akan timbul gejala diare, kelambatan pertumbuhan,
pembesaran organ, kanker, kontrol tak sempurna pada pusat saraf dan
mempersingkat umur.
Kadar kolesterol darah yang meningkat berpengaruh tidak baik untuk jantung
dan pembuluh darah telah diketahui luas oleh masyarakat. Namun ada salah
pengertian, seolah-olah yang paling berpengaruh terhadap kenaikan kolesterol
darah ini adalah kadar kolesterol makanan. Sehingga banyak produk makanan,
bahkan minyak goreng diiklankan sebagai non kolesterol. Konsumsi lemak akhirakhir ini dikaitkan dengan penyakit kanker. Hal ini berpengaruh adalah jumlah
lemak dan mungkin asam lemak tidak jenuh ganda tertentu yang terdapat dalam
minyak sayuran (Ketaren, 1986).

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/1/S.Genap/2015


16

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Bahan-bahan yang Digunakan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.

Alat pengepres
Baskom
Botol kaca
Buret
Corong pisah
Erlenmeyer
Gelas piala
Gelas ukur
Oven
Piknometer
Pipet tetes
Statif
Timbangan analitik
Water Batch

3.2 Alat-alat yang Digunakan


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Air
Alkohol (etanol)
Lemak ikan patin
NaOH yang telah distandarisasi
Natrium sulfat anhidrat
Phenolphthalein
Vaseline

3.3 Prosedur Praktikum


3.3.1 Dry Rendering
1. Daging ikan patin dicuci hingga bersih diambil bagian lemak dari limbah ikan
2. Daging ikan patin yang telah diambil, dikeringkan dan ditimbang
3. Daging ikan patin dimasukkan kedalam oven, dan dibiarkan selama 7 jam
4. Setelah 7 jam, dikeluarkan minyak dari daging ikan patin dengan cara
5.
6.
7.
8.

memerasnya atau press


Minyak yang dihasilkan, dimasukkan kedalam corong pisah
Ditambahkan natrium sulfat anhidrat, dan tunggu selama 15 menit
Dilakukan pemisahan antara minyak dengan air
Minyak yang didapatkan, ditimbang dan dihitung rendemen dengan
menggunakan persamaan :

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/1/S.Genap/2015


17
...................... (1)

3.3.2 Menentukan Densitas Minyak


1. Ditimbang berat piknometer kosong
2. Diambil minyak ikan yang didapatkan, dan dimasukkan kedalam piknometer
hingga penuh
3. Ditimbang kembali piknometer yang telah berisi minyak
4. Hitung densitas minyak dengan menggunakan persamaan :
............................ (2)
3.3.3 Menentukan Kadar Asam Lemak Bebas
1. Disiapkan larutan NaOH 0,09 N didalam buret
2. Diambil sampel minyak sebanyak 20 ml dan dimasukkan kedalam erlenmeyer
3. Dimasukkan sebanyak 20 ml alkohol kedalam erlenmeyer sebagai pelarut
4. Kemudian dipanaskan kedalam water batch 5 menit sambil diaduk
5. Ditambahkan 3 tetes phenolptalein sebagai indikator warna
6. Dilakukan titrasi hingga tampak warna pink pada minyak
7. Dicatat titik akhir titrasi dan ditentukan persentase asam lemak bebas dalam
minyak dengna persamaan :
......................... (3)

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/1/S.Genap/2015


18

3.4 Rangkaian Alat

3.4.1 Oven

Gambar 3.1. Oven

3.4.2 Corong Pisah

Gambar 3.2 Corong Pisah


3.4.3

Buret

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/1/S.Genap/2015


19

Gambar 3.3 Buret

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Praktikum
Tabel 4.1 Data Pengamatan
Percobaan
Berat sampel
Berat minyak yang didapatkan
Rendemen

Pengamatan
647,96 gram
448,412 gram
69,2 %

Densitas minyak yang didapatkan

0.8766 gr cm-3

Berat sampel pada % ALB

17.532 gram

% ALB

0,1592 %

4.2 Pembahasan
Lemak dan minyak adalah salah satu kelompok yang termasuk pada golongan lipid,
yaitu senyawa organik yang terdapat di alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam
pelarut organik non-polar, misalnya dietil eter (C 2H5OC2H5), Kloroform (CHCl3), benzena
dan hidrokarbon lainnya, lemak dan minyak dapat larut dalam pelarut yang disebutkan di
atas karena lemak dan minyak mempunyai polaritas yang sama dengan pelaut tersebut.
Lemak dan minyak merupakan senyawaan trigliserida atau trigliserol, yang berarti
triester dari gliserol. Jadi lemak dan minyak juga merupakan senyawaan ester. Hasil
hidrolisis lemak dan minyak adalah asam karboksilat dan gliserol. Asam karboksilat ini
juga disebut asam lemak yang mempunyai rantai hidrokarbon yang panjang dan tidak
bercabang.
Dari data di atas, dipatJenis ekstraksi minyak ikan dari limbah ikan patin ini adalah
jenis ekstraksi dry rendering karena ekstraksi minyak ini menggunakan pengovenan.
Lemak ikan patin dioven selama 7 jam pada suhu.Suhu pada pengovenan ini akan
mempengaruhi penguapan air yang terkandung pada lemak ikan patin. Jika air menguap
maka air tidak akan bereaksi lagi dengan trigliserida dengan mencegah pembentukan
asam lemak bebas. Selain itu pada suhu ini energi panas akan menggumpalkan protein

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/1/S.Genap/2015


20
pada dinding sel sehingga di dinding sel akan pecah dan minyak dapat menembus
didnding sel tersebut dengan mudah. Untuk mengukur rendemen, minyak yang didapat
dipisahkan dulu dari air dengan menggunakan corong pisah. Prinsip pemisahan dengan
corong pisah adalah berdasarkan perbedaan densitas. Air berada di bawah minyak karena
densitas air lebih besar dari pada minyak yaitu 1000 g/cm 3 dan densitas minyak yaitu 900
g/cm3. Air yang ada didalam corong pisah. Minyak yang didapat dititrasi dengan NaOH
0,1 N. Titrasi ini bertujuan untuk menentukan kadar asam lemak bebas dalam minyak
tersebut. Indikator titrasi yang digunakan adalah phenolftalein jika dalam keadaan asam
warna larutan menjadi bening jika dalam keadaan basa warna larutan menjadi ungu.
Sebelum dititrasi minyak direaksikan terlebih dahulu dengan etanol supaya pada waktu
titrasi NaOH dapat bereaksi dengan minyak. Campuran minyak dan etanol dipanaskan
sambil diaduk didalam water batch supaya alkohol dapat melarutkan asam lemak didalam
minyak dengan sempurna. Pada saat titrasi yang dihitung hanya volume NaOH yang
dapat merubah warna minyak dari kuning menjadi pink, jika sudah menjadi pink maka
titrasi sudah mencapai titik ekivalen.
Dari data diatas, % ALB yang didapat sebesar 0,1592% sedangkan secara teoritis
sebesar 0,1-13%. Dimana persen asam lemak bebas yang kami dapat sesuai dengan
teoritisnya sehingga minyak yang didapat memiliki kualitas yang baik. Jadi, yang
mempengaruhi perbedaan tinggi kadar asam lemak bebas pada percobaan ini adalah
waktu pengovenan yang lama, karena disaat pengovenan terjadi pemecahan lemak
sehingga berubah menjadi minyak.
Densitas yang didapat dari percobaan adalah 0,8766 gram/ml sedangkan densitas
minyak teoritis adalah 0,92 gram\ml. Densitas yang kami dapat lebih rendah dari densitas
teoritis karena kesalahan dalam pengukuran berat minyak dengan piknometer. Selain
itu,pemanasan akan berpengaruh terhadap densitas yang di dapat dimana jika suhu terlalu
tinggi maka densitas minyak akan semakin berkurang.

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/1/S.Genap/2015


21

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Hasil minyak yang didapat adalah 448,412 gram
2. Rendemen yang didapatkan adalah 69,2%
3. %ALB yang didapatkan 0,1592 %. Dengan begitu kualitas minyak yang
dihasilkan termasuk bagus.

5.2 Saran
1. Untuk menghasilkan minyak yang banyak, sebaiknya pada saat pengambilan
limbah, pilih lemaknya saja.
2. Pilih limbah yang masih baru / segar, agar baunya tidak terlalu menyengat.
3. Jangan terlalu lama mencuci limbah ikan patin tersebut, karena akan
menyebabkan minyaknya akan terbuang bersama air.

4. Diharapkan untuk berkonsentrasi penuh pada saat melakukan titrasi, agar titik
akhir titrasi dapat diketahui dengan tepat.

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin

Praktikum Kimia Organik/1/S.Genap/2015


22

DAFTAR PUSTAKA
Isnani, Alviona Nor. 2013. Ekstraksi dan Karakterisasi Minyak Ikan Patinyang Diberi
Pakan Pelet dicampur probiotik. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
alam, Universitas Jember, Jember.
Ketaren. 1986. Minyak dan Lemak Pangan. Jakarta: UI-Press.
Mochtar. 1990. Fisika Farmasi. Jogjakarta : UGM Press
Panagan, Almunadi T. Dan Y. Heni, 2011, Analisis Kualitatif dan Kuantitatif Asam
Lemak Tak Jenuh Omega-3 dari Minyak Ikan Patin (Pangasius pangasius)
dengan Metoda Kromatografi Gas, 14, 14409, 38-39.
Tim Penyusun. 2015. Modul Praktikum Kimia Organik. Pekanbaru: Laboratorium
Teknologi Bahan Alam dan Mineral Fakultas Teknik Universitas Riau.

Ekstraksi Minyak Ikan dari Limbah Ikan Patin