Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

Presbiopia merupakan masalah penglihatan yang pasti akan dialami semua orang
yang berusia diatas 40 tahun. Presbiopia akan bertambah berat seiring dengan
pertambahan usia. Sulit untuk melakukan perkiraan insiden presbiopia karena
onsetnya yang lambat, tetapi dapat dilihat bahwa insiden tertinggi presbiopia terjadi
pada usia 42-44 tahun. Studi di Amerika pada tahun 2006 menunjukkan 112 juta
orang di Amerika mempunyai kelainan presbiopia.1,2 Orang yang mengalami
presbiopia akan mengalami kesulitan dalam membaca huruf-huruf kecil dan untuk
melihat benda-benda kecil yang berdekatan. Presbiopia dapat disebabkan oleh
kelemahan otot-otot akomodasi mata maupun proses sklerosis pada lensa.3
Ada beberapa faktor risiko yang meningkatkan risiko terjadinya presbiopia,
antara lain usia, semakin bertambahnya usia maka risiko seseorang terkena presbiopia
akan bertambah besar, begitu juga dengan derajat keparahan presbiopia. Selain itu
presbiopia juga dipengaruhi oleh jenis kelamin, penyakit sistemik seperti diabetes
melitus, penyakit kardiovaskular, konsumsi obat-obatan tertentu dan adanya riwayat
trauma pada mata sebelumnya. Presbiopia terjadi secara bertahap. Penglihatan yang
kabur, dan ketidak mampuan melihat benda benda yang biasanya dapat dilihat pada
jarak dekat merupakan gejala dari presbiopi. Gejala lain yang umumnya terjadi pada
presbiopia adalah keterlambatan saat memfokuskan pada jarak dekat, mata terasa
tidak nyaman, berair, dan sering terasa perih, dan sakit kepala.
Terdapat beberapa cara untuk penatalaksanaan presbiopia, ada yang tidak
melibatkan tindakan pembedahan maupun yang memerlukan tindakan pembedahan.
Tindakan non bedah adalah dengan pemberian kacamata, sedangkan untuk tindakan
pembedahan salah satu caranya adalah melalui pemasangan cornea inlay. Pada referat
ini penulis ingin membahas lebih lanjut mengenai penggunaan cornea inlay sebagai
tatalaksana presbiopia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2. PRESBIOPIA
2.1.1 Definisi Presbiopia
Presbiopia merupakan gangguan hilangnya daya penglihatan yang berkaitan
dengan seiring meningkatnya usia seseorang.1,2 Seseorang dengan mata emetrop
(tanpa kesalahan refraksi) akan mulai merasakan ketidakmampuan membaca huruf
kecil atau membedakan benda-benda kecil yang terletak berdekatan pada usia sekitar
44-46 tahun.2
2.1.2 Epidemiologi Presbiopia
Sulit untuk melakukan perkiraan insiden presbiopia karena onsetnya

yang

lambat, tetapi dapat dilihat bahwa insiden tertinggi presbiopia terjadi pada usia 42-44
tahun. Studi di Amerika pada tahun 2006 menunjukkan 112 juta orang di Amerika
mempunyai kelainan presbiopia.1
2.1.3 Etiologi Presbiopia
1. Kelemahan otot akomodasi
2. Berkurang elastisitasnya lensa akibat sklerosis lensa.3
2.1.4

Patofisiologi Presbiopia

Cahaya masuk ke mata dan dibelokkan (refraksi) ketika melalui kornea dan
struktur-struktur lain dari mata (kornea, humor aqueus, lensa, humor vitreus) yang
mempunyai kepadatan berbeda-beda untuk difokuskan di retina.
Mata mengatur dengan berakomodasi sedemikian rupa ketika melihat objek yang
jaraknya bervariasi dengan menipiskan dan menebalkan lensa. Penglihatan dekat
memerlukan kontraksi dari cilliary body, yang bisa memendekkan jarak antara kedua
sisi cilliary body yang diikuti relaksasi ligament pada lensa. Lensa menjadi lebih
cembung agar cahaya dapat terfokuskan pada retina.
Pada mata presbiopia yang dapat disebabkan karena kelemahan otot akomodasi
atau lensa mata berkurang elastisitasnya, menyebabkan lensa kurang mampu
menyesuaikan bentuknya untuk memfokuskan pada saat melihat. Akibat gangguan
tersebut bayangan jatuh di belakang retina. Kurangnya daya akomodasi menyebabkan
titik dekat mata makin menjauh.
2

Akomodasi merupakan suatu proses aktif yang memerlukan usaha otot, sehingga
dapat membuat mata menjadi lelah. Titik terdekat dengan mata merupakan tempat
suatu objek dapat dibawa ke fokus sampai jelas terlihat dengan akomodasi dinamai
titik dekat penglihatan. Titik dekat berkurang selama hidup, mula-mula menurun
secara perlahan kemudian secara penurunan terjadi semakin cepat seiring
pertambahan usia. Pengurangan ini terjadi karena peningkatan kekerasan lensa, yang
mengakibatkan hilangnya kemampuan akomodasi. Seiring dengan berjalannya waktu,
individu normal akan kehilangan akomodasinya pada usia 40-45 tahun sehingga
menyulitkan individu membaca dan pekerjaan dekat.4
2.1.5 Faktor Resiko Presbiopia
Usia merupakan faktor resiko utama penyebab presbiopia. Namun pada kondisi
tertentu dapat terjadi presbiopia prematur sebagai hasil dari faktor-faktor seperti : 2
- Usia, terjadi pada atau setelah usia 40 tahun
- Hipeporia (hipermetropia), kerusakan akomodasi tambahan jika tidak di
koreksi
- Jenis kelamin, onset lebih awal terjadi pada wanita
- Penyakit atau trauma pada mata, kerusakan pada lensa, zonula, atau otot
-

siliar
Penyakit sistemik seperti diabetes melitus, multiple sklerosis, kejadian

kardiovaskular, anemia, influenza, campak.


Penggunaan obat-obatan dan zat tertentu (contoh : alkohol, klorprozamin,

hidroklorotiazid, antidepresan, antipsikotik, antihistamin, diuretik).


Lain-lain : kurang gizi, penyakit dekompresi.2

Klasifikasi Presbiopia2
1. Presbiopia insipient
Presbiopia insipient merupakan tahap awal di mana gejala atau temuan klinis

2.1.6

menunjukkan beberapa kondisi efek penglihatan dekat. Pada presbiopia


insipient dibutuhkan usaha ekstra untuk membaca huruf berukuan kecil.
Biasanya, pasien membutuhkan tambahan kacamata atau adisi, tetapi tidak
tampak kelainan bila dilakukan tes dan pasien lebih memilih untuk menolak
diberikan kacamata baca.
2. Presbiopia fungsional
Ketika dihadapkan dengan amplitudo akomodasi yang berangsur angsur
menurun, pasien akhirnya melaporkan adanya kesulitan melihat dan akan
didapatkan kelainan ketika diperiksa.
3. Presbiopia absolut
3

Sebagai akibat dari penurunan akomodasi yang bertahap dan terus menerus,
dimana presbiopi fungsional berkembang menjadi presbiopia absolut.
Presbiopia absolut adalah kondisi di mana sesungguhnya tidak ada sisa
kemampuan akomodatif.
4. Presbiopia prematur
Pada presbiopia prematur, kemampuan

akomodasi penglihatan dekat

menjadi berkurang lebih cepat dari yang diharapkan. Presbiopia ini terjadi
dini pada usia sebelum 40 tahun. Berhubungan dengan lingkungan, gizi,
penyakit atau obat obatan, hipermetropia yang tidak terkoreksi, prematur
sklerosis dari kristaline lensa, glaukoma simple kronik.
5. Presbiopia nocturnal
Presbiopia nokturnal adalah kondisi dimana terjadi kesulitan untuk melihat
dekat disebabkan oleh penurunan amplitudo akomodasi di cahaya redup.
Peningkatan ukuran pupil, dan penurunan kedalaman

menjadi penyebab

berkurangnya jarak penglihatan dekat dalam cahaya redup.

2.1.7 Gejala Presbiopia


Presbiopia terjadi secara bertahap. Penglihatan yang kabur, dan ketidak mampuan
melihat benda benda yang biasanya dapat dilihat pada jarak dekat merupakan gejala
dari presbiopi. Gejala lain yang umumnya terjadi pada presbiopia adalah : 2,3
2.1.8

keterlambatan saat memfokuskan pada jarak dekat


mata terasa tidak nyaman, berair, dan sering terasa perih
sakit kepala
astenopia karena kelelahan pada otot siliar
menyipitkan mata saat membaca
kelelahan atau mengantuk saat membaca dekat
membutuhkan cahaya yang lebih terang untuk membaca.

Diagnosa Presbiopia
1. Anamnesa
Anamnesa gejala gejala dan tanda presbiopi. Keluhan pasien terkait
presbiopi dapat bermacam-macam, misalnya pasien merasa hanya mampu
membaca dalam waktu singkat, merasa cetakan huruf yang dibaca kabur atau
ganda, kesulitan membaca tulisan huruf dengan cetakan kualitas rendah,
saat membaca membutuhkan cahaya yang lebih terang atau jarak yang lebih
jauh, saat membaca merasa sakit kepala dan mengantuk.
4

2. Pemeriksaan oftalmologi lengkap termasuk pemeriksaan visus.

2.1.9

Penatalaksanaan Presbiopia
1. Kacamata
Presbiopia dikoreksi dengan ,menggunakan lensa plus untuk mengatasi
daya akomodasi otomatis lensa yang hilang.

Pada pasien presbiopia

kacamata atau adisi diperlukan untuk membaca dekat yang berkekuaan


tertentu :
+ 1.0 D untuk usia 40 tahun
+ 1.5 D untuk usia 45 tahun
+ 2.0 D untuk usia 50 tahun
+ 2.5 D untuk usia 55 tahun
+ 3.0 D untuk usia 60 tahun
Karena jarak baca biasanya 33 cm, maka adisi + 3.0 dioptri adalah
lensa positif terkuat yang dapat diberikan pada seseorang. Pemeriksaan adisi
untuk membaca perlu disesuaikan dengan kebutuhan jarak kerja pasien pada
waktu membaca. Pemeriksaan sangat subjektif sehingga angka angka di
atas tidak merupakan angka yang tetap.
Kacamata baca memiliki koreksi-dekat di seluruh aperture kacamata
sehingga kacamata tersebut baik untuk membaca, tetapi membuat bendabenda jauh menjadi kabur. Untuk mengatasi gangguan ini, dapat digunakan
kacamata yang bagian atasnya terbuka dan tidak terkoreksi untuk penglihatan
jauh. Kacamata bifokus melakukan hal serupa tetapi memungkinkan untuk
mengoreksi kalainan refraksi yang lain. Kacamata trifokus mengoreksi
penglihatan jauh di segmen atas, penglihatan sedang di segmen tengah, dan
penglihatan dekat di segmen bawah. Lensa progresif juga mengoreksi
penglihatan dekat, sedang, dan jauh tetapi dengan perubahan daya lensa yang
progresif dan bukan bertingkat.1
2. Pembedahan
Terdapat beberapa teknik bedah untuk mengoreksi presbiopi, namun
keselamatan, keberhasilan dan kepuasan pasien masih belum bisa
ditetapkan:2
5

a.
b.
c.
d.
e.
f.

Multifocal intraocular lens implants


Accommodating intraocular lens implants
Small-diameter cornea inlay
Modified corneal surface techniques to create multifocal corneas
Conductive keratoplasty (CK)
Moldable intraocular lens implants (IOLs) to develop pseudophakic
accommodation .

Salah satu teknik pembedahan untuk koreksi presbiopia adalah dengan


melakukan prosedur cornea inlay. Pada referat ini penulis ingin membahas lebih
lanjut mengenai cornea inlay termasuk prosedur pemasangan, serta keuntungan dan
kerugiannya.
2.2 Cornea Inlays
2.2.1 Perbandingan Cornea Onlay dan Cornea Inlay
Cornea inlay terbuat dari PFPE (synthetic polymer of perfluoropolyether) yang
biokompatibel dengan jaringan kornea dalam jangka panjang dan merupakan
alternatif yang aman secara biologis sehingga dapat diterima sebagai bentuk lain dari

bedah refraktif. Cornea inlays ini diajukan pertama kali oleh Barraquer in pada
pertengahan abad 20. Selanjutnya, dilakukan penelitian pada kelinci pada tahun 19912007 dan ditemukan bahwa implan kornea memiliki biokompabilitas dan biostabilitas
yang baik. Berikut adalah data material yang diteliti sebagai bahan untuk implan
kornea.
Gambar 1. Material sintetis yang dapat digunakan untuk pembuatan
cornea inlays

Di seluruh dunia, ada lebih dari tiga miliar orang membutuhkan berbagai
bentuk koreksi visi untuk bisa melihat normal dan jumlah ini berkembang pesat, di
mana salah satu kelompok di antaranya adalah kelompok usia lanjut yang menderita
presbiopia. Sebelum ditemukannya metode ini sudah ada beberapa metode yang
dikembangkan seperti prosedur

yang berbasiskan laser seperti photorefractive

keratectomy (PRK), laser in situ keratomileusis (LASIK) dan laser assisted


subepithelia keratomileusis (LASEK). Namun, prosedur berbasis laser ini terkait
dengan berbagai kemungkinan komplikasi paska operasi seperti kabut kornea,
masalah flap, kelainan epitel termasuk ingrowth epitel, ectasia kornea dan
mengurangi sensasi kornea.
Prosedur implantasi kornea ini ada dua, prosedur inlay kornea yaitu
penempatan lensa sintetis dalam stroma kornea sedangkan onlay kornea melibatkan
penempatan lensa sintetis di atas kornea, di dalam lapisan epitel untuk memperbaiki
kelainan refraksi yang terjadi (gambar 2).

Gambar 2. Perbandingan antara cornea onlay dan cornea inlay

Prinsip dasar dalam prosedur ini adalah kekuatan refraksi mata berubah
dengan mengubah kelengkungan kornea pada permukaan kornea anterior atau
mengubah indeks bias materi atau kombinasi dari kedua pendekatan ini.
2.2.2

Indikasi dan Prosedur Pemasangan Cornea Inlay


Indikasi
Presbiopia yang merupakan perubahan lensa pada kornea mata sebagai akibat dari
bertambahnya usia, umumnya mulai terjadi pada usia 40 tahun. Perubahan tersebut
menyebabkan kemunduran daya akomodasi sehingga sulit untuk melihat fokus
terhadap objek di jarak dekat.
Prosedur
Corneal inlay bertujuan untuk memperbaiki ketajaman penglihatan jarak dekat
dan meningkatkan kedalaman dari focus. Prosedur ini dapat menjadi keuntungan bagi
individu yang sulit menggunakan kacamata atau lensa kontak, misalnya pada orang
dengan keterampilan yang terbatas.
Prosedur ini biasanya dilakukan pada mata yang non-dominan, menggunakan
anestesi topical. Pasien diminta untuk memfiksasikan mata mereka ke arah sumber
cahaya yang terdapat pada mikroskop bedah sehingga operator dapat mengidentifikasi
posisi target pada pusat aksis visual. Teknik mikrokeratom atau laser digunakan untuk
membentuk salah satu dari lamellar corneal flap atau sebuah kantung dalam stroma
kornea. Flap atau kantung tersebut dipisahkan dengan spatula dan sebuah alat khusus
digunakan untuk memposisikan inlay didalamnya, pada pusat aksis yang telah
ditandakan.5 Posisi pemusatan yang tepat sangat penting untuk mendapatkan hasil
yang baik. Titik tengah yang diinginkan ditentukan dengan menandai refleks Purkinje
yang pertama, atau reflex kornea yang terlihat secara co-aksial, atau untuk keakuratan
yang lebih baik digunakan peralatan khusus.6 Kedalaman dari penempatan inlay
sendiri terfantung dari desain inlay yang digunakan. Raindrop Inlay, yang mengubaj
kurvatura kornea ditempatkan superfisial, dengan kedalaman 120-150 mikron,
sementara inlay lain yang dengan celah sentral dan yang dapat mengubah indeks
refraksi, ditempatkan lebih dalam pada kornea, pada 200-300 mikron. 7 Flap atau
kantung yang dapat tersegel sendiri tersebut, akan menyangga inlay tetap di
tempatnya. Pasien kemudian akan diberikan kortikosteroid dan tetes mata antibiotik
8

untuk jangka pendek, serta air mata buatan selama jangka waktu yang dibutuhkan.
Inlay ini dapat dikeluarkan atau dipindahkan bila dibutuhkan.5
Gambar 3. Prosedur Pemasangan Cornea Inlays

Gambar

4.

Hubungan Anatomi
Inlay

Lenses

terhadap Kornea. a)
Sklera b) Kornea c)
inlay lens d) Letak
insisi pada kornea8
Post
Management

Operative
of

cornea

inlay :

1. Tetes mata antibiotik selama 1 minggu.


2. Steroid tetes diberikan dengan dosis yang semakin mengecil dalam jangka waktu
sebulan.
Hal ini dilakukan untuk meminimalisir penglihatan buram, opasifikasi dan mencegah
perubahan refraksi.9
9

2.2.3

Kelebihan dan Kekurangan Pemasangan Cornea Inlay


Kelebihan:
1. Memberikan visus yang baik pada penglihatan, dekat, sedang dan jauh. Studi
membuktikan bahwa penglihatan jarak dekat dan jauh membaik pada mata yang
diperbaiki.
2. Operasi ini terbatas pada kornea sehingga lebih aman dibandingkan dengan
operasi intraokuler untuk memperbaiki presibiopia seperti implantasi lensa dan
lasik karena sama sekali tidak ada membuang jaringan kornea. Hal ini
menurunkan risiko terjadinya ektasia.
3. Cornea inlay dapat dikeluarkan jika pasien tidak puas dengan hasilnya.
4. Cornea inlay dapat dilakukan bersamaan dengan LASIK dan PRK untuk
memperbaiki ametropia dan presbiopia. Dapat juga dilakukan kepada pasien yang
telah melakukan operasi katarak dengan lensa monofokal atau implantasi IOL.
5. Penggunaan inlay tidak mengganggu dalam pemeriksaan dan pengambilan foto
untuk menilai struktur okuler.9,10
Kekurangan:
1. Dapat terlihat perbedaan jika dilakukan pada orang dengan warna iris yang biru
atau berwarna terang.
2. Dapat terjadi penurunan pada penglihatan di malam hari.9,10

2.2.4

Efek Samping dari Pemasangan Cornea Inlay


Berikut ini adalah beberapa efek samping yang dapat terjadi setelah dilakukan
pemasangan cornea inlay :
1. Terciptanya halo dan gangguan penglihatan pada malam hari.
2. Kehilangan sensitivitas kontras. Hal ini disebabkan karena berkurangnya
cahaya yang masuk ke mata.
3. Kesulitan untuk membaca pada suasana yang remang. Design dari inlay
mengurangi jumlah cahaya yang masuk kedalam mata. Efek ini lebih terasa
pada pencahayaan yang kurang baik sehingga membuat membaca lebih sulit.
4. Efek dari ukuran pupil dapat mempengaruhi penglihatan dalam kasus inlay
refraktif. Pada pupil yang kecil, sebagian besar pupil terokupasi oleh inlay
sehingga membuat penglihatan jauh sulit. Pada pupil besar, hanya sebagian
kecil dari inlay yang menempati pupil sehingga menyebabkan kabur pada
pandangan dekat.

10

5. Pengaburan kornea dapat terjadi setelah pemasangan Raindrop inlay. Hal ini
biasanya hilang dengan sendirinya atau hilang setelah penggunaan steroid
topikal.9,10
2.2.5

Komplikasi Pemasangan Cornea Inlay


Komplikasi yang mungkin terjadi dari pemasangan cornea inlay antara lain :
1. Desentrasi lensa. Hal ini dapat terjadi pada awal periode post operasi
dikarenakan adhesi flap yang inadekuat. Desentrasi menyebabkan penurunan
kualitas penglihayan terutama berefek kepada penglihatan jarak jauh.
2. Mata kering dapat disebabkan karena kerusakan pada nervus kornea saat
pembentukan flap seperti pada operasi LASIK.
3. Keratolisis, vaskularisasi dan opasifikasi. Komplikasi ini lebih umum pada
design inlay lama yang lebih tebal dan kurang kompatibel dan memiliki kadar
air yang rendah. Pemasangan anterior atau implan non-porous berefek pada
pergerakan dan difusi akuos, oksigen, glukosa dan nutrisi lain pada bagian
anterior kornea menyebabkan nekrosis dan hancurnya jaringan. Namun,
sekarang komplikasi ini sudah jarang karena penggunaan inlay yang lebih
tipis, berdiameter kecil, memiliki permeabilitas yang kebih tingi dan memiliki
biokompabilitas yang lebih tinggi.
4. Pertumbuhan epitel. Sel epitel dapat tanpa sengaja terimplantasi dan tumbuh
disekeliling implan. Pertumbuhan ini menyebabkan jaringan menjadi opak dan
menyebabkan penglihatan kabur, fotofonia dan star burst. 9,10

Gambar 5. Pertumbuhan sel


epitel (tanda panah hitam)

11

12

BAB III
KESIMPULAN

Presbiopia merupakan gangguan hilangnya daya penglihatan yang berkaitan


dengan seiring meningkatnya usia seseorang. Seseorang dengan mata emetrop (tanpa
kesalahan refraksi) akan mulai merasakan ketidakmampuan membaca huruf kecil atau
membedakan benda-benda kecil yang terletak berdekatan pada usia sekitar 44-46
tahun. Presbiopia bersifat progresif dan akan bertambah berat seiring dengan
pertambahan usia.
Penatalaksanaan presbiopia dapat dibagi menjadi 2 yaitu tatalaksana nonbedah dan tatalaksana yang menggunakan pembedahan. Tatalaksana non-bedah dapat
dilakukan dengan pemberian kacamatam sedangkan untuk tatalaksana dengan
pembedahan salah satunya adalah dengan pemasangan implant cornea inlay. Prosedur
inlay kornea yaitu penempatan lensa sintetis dalam stroma kornea. Sebelum
ditemukannya metode ini sudah ada beberapa metode yang dikembangkan seperti
prosedur yang berbasiskan laser seperti photorefractive keratectomy (PRK), laser in
situ keratomileusis (LASIK) dan laser assisted subepithelia keratomileusis (LASEK).
Namun, prosedur berbasis laser ini terkait dengan berbagai kemungkinan komplikasi
paska operasi seperti kabut kornea, masalah flap, kelainan epitel termasuk ingrowth
epitel, ectasia kornea dan mengurangi sensasi kornea.
Prosedur cornea inlay memiliki beberapa keuntungan dibandingkan teknik
yang lain, seperti relatif lebih aman, memberikan hasil yang memuaskan dan dapat
dilakukan pada pasien yang sudah menjalani operasi katarak dan telah dipasang IOL,
namun ada juga kerugiannya antara lain dapat terlihat perbedaan jika dilakukan pada
orang dengan warna iris yang biru atau berwarna terang dan dapat terjadi penurunan
pada penglihatan di malam hari. Selain keuntungan dan kerugian, terdapat juga
komplikasi dan efek samping yang mungkin terjadi setelah dilakukan pemasangan
cornea inlay, oleh karena itu tatalaksana yang tepat harus disesuaikan dengan kondisi
dan kemampuan masing-masing pasien.

13

DAFTAR PUSTAKA
1. American Academy of Opthalmology. Presbyopia. USA. 2010. Diunduh pada: Mei
23, 2013. Www. Aao.org
2. Whitcher JP, Paul RE. Vaughan & Asbury Oftalmologi Umum. Jakarta: EGC. 2009;
20:392-393
3. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
2010. 1: 3-74
4. Ganong WF. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC. 1995: 14: 45
5. National Institute for Health and Care Excellence. Corneal inlay implantation for
correction of presbyopia. April 2013. Scotland.
6. Gatinel D, El Danasoury A, Rajchles S, Saad A. Recentration of a small aperture
corneal inlay. J Cataract Refract Surg 2012; 38 : 2186-91.
7. Waring GO IV, Klyce SD. Corneal inlays for the treatment of prebyopia. Int
Ophthalmol Clin 2011; 51 (2) : 51-62
8. Barrett GD, Link WJ, Reich CJ. Corneal inlay lenses [Internet]. US5336261 A, 1994
[cited 2015 May 14]. Available from: http://www.google.com/patents/US5336261
9. Sane, Mona. Corneal Inlays.[cited 2015 May 14]. Available from : URL :
eyewiki.aao.org/corneal_inlays
10.

Limnopoulou AN, Bouzoukis DI, Kymionis GD, et al. Visual

outcomes and safety of a refractive corneal inlay for presbyopia


using femtosecond laser. J Refract Surg (2013) ; 29 (1) : 12-8.

14