Anda di halaman 1dari 3

Model Pertumbuhan Populasi (Population Growth)

Populasi berasal dari bahasa latin yaitu populous yang dalam pelajaran ekologi
berarti sekelompok individu sejenis. Populasi adalah sehimpunan individu atau kelompok
individu suatu jenis makhluk hidup yang tergolong dalam satu spesies (atau kelompok
lain yang dapat melangsungkan interaksi genetik dengan jenis yang bersangkutan), dan
pada suatu waktu tertentu menghuni suatu wilayah atau tata ruang tertentu. Jumlah dari
suatu populasi tergantung pada pengaruh dua kekuatan dasar. Pertama adalah jumlah
yang sesuai bagi populasi untuk hidup dengan kondisi yang ideal. Kedua adalah
gabungan berbagai efek kondisi faktor lingkungan yang kurang ideal yang membatasi
pertumbuhan. Faktor-faktor yang membatasi diantaranya ketersediaan jumlah makanan
yang rendah, pemangsa, persaingan dengan mahkluk hidup sesama spesies atau spesies
lainnya, iklim dan penyakit.
1. Model Continous Time
Dengan menggunakan model ini kita dapat menentukan jumlah tumbuhan yang ada
dalam beberapa waktu mendatang (Nt), jumlah yang terbentuk dari biji yang dihasilkan
oleh tumbuhan yang ada (B), dan yang tersebar pada situs (I), kemudian dikurangi oleh
jumlah yang sudah mati (D), dan jumlah biji yang tersebar keluar area (E) selama periode
waktu t sampai t+1.
Model Kontinu dapat diakumulasikan menggunakan persamaan :
Nt+1= Nt + B+I-D-E
Nt

: jumlah populasi tumbuhan yang ada dalam waktu t.

: jumlah kelahiran per satuan waktu

: jumlah kedatangan per satuan waktu

: jumlah kematian persatuan waktu

: jumlah populasi yang keluar per satuan waktu.

2. Model Matriks
Model matriks adalah model yang mengijinkan penentuan pertumbuhan populasi dalam
tumbuhan dengan perhitungan periode waktu tepat, dan fase dapat ditentukan dari searah
hidup tumbuhan. Model matriks sangat menguntungkan bila unit populasi bergerak dari
suatu stadia pertumbuhan yang dapat ditentukan ke lainnya.

a. Matriks yang Terdiri Atas Kolom Tunggal Diacu sebagai Matriks Kolom . Matriks
kolom dapat memperlihatkan jumlah individu dan tiap stadia perkembangan.
Misalnya, jumlah biji (N_ ), jumlah tumbuhan dalam bentuk roset (N_ ) dan jumlah
tumbuhan dalam fase berbunga (N+)
b. Matriks Transisi, Suatu matriks transisi untuk tiga stadia pertumbuhan adalah bentuk
segi empat dan terdiri atas grup nilai probabilitas yang menyajikan perubahan dimana
tumbuhan dalam stadia perkembangan tertentu akan sampai stadia perkembangan
berbeda (atau tetap tinggal sama) selama waktu antara tanggal sensus populasi.
3. Daya Dukung ( carrying Capacity )
Carrying Capacity atau Daya dukung lingkungan mengandung pengertian
kemampuan suatu tempat dalam menunjang kehidupan mahluk hidup secara optimum dalam
periode waktu yang panjang. Daya dukung lingkungan dapat pula diartikan kemampuan
lingkungan memberikan kehidupan organisme secara sejahtera dan lestari bagi penduduk
yang mendiami suatu kawasan. Daya dukung itu menunjukkan besarnya kemampuan
lingkungan untuk mendukung kehidupan tumbuhan.
Namun populasi tumbuhan biasa menhgasilkan hanya dalam periode singkat selama
setahun, dan tidak semua tumbuhan mencapai dewasa yang reproduktif. Pertumbuhan
intermediate dalam tumbuhan membuat jumlah individu sebagai suatu indicator tak baik
tentang kebutuhan sumber daya populasi.
4. Pertumbuhan Populasi Eksponensial
Model eksponensial pertumbuhan populasi menjelaskan suatu populasi ideal dalam
lingkungan yang terbatas. Apabila dibuat suatu kurva yang menunjukkan pertambahan
populasi pada berbagai waktu yang berbeda, maka akan diperoleh kurva berbentuk huruf J.
Pertumbuhan eksponensial memiliki persamaan Nt

= No ert atau dN/dt = r N, dimana

No

= Jumlah populasi awal, pd waktu t = 0

Nt

= Jumlah populasi pada waktu t

= Dasar logaritma natural

= Konstante / kecepatan instrinsik pertumbuhan scr wajar.

dN

= Kecepatan berubah populasi / waktu pd saat tertentu.

dt

= Interval waktu

5. Peraturan Populasi Dependen Densitas Versus Dependen Lebat

Semua individu dalam suatu populasi tumbuhan akan memerlukan kesamaan,


sehingga tiap individu dalam populasi menjadi setara untuk ditempati oleh individu lainnya.
Apakah karena perbedaan genetik atau mikrohabitat, beberapa individu mendapatkan lebih
banyak dari pada berbagi dalam sumber daya, dan mereka tumbuh lebih cepat dari pada
tumbuhan yang sama besarnya.
Hasilnya adalah penjarangan diri secara bertingkat pada populasi sangat lebat, karena
tumbuhan individu tertentu akan mati, sedang yang lain mendominer tegak. Kematian
tumbuhan disebabkan karena kompetensi dalam tegakan berumur sama dan lebat mengikuti
pola yang dapat ditentukan.
6. Populasi Dependen Lebat
Ukuran populasi dalam populasi yang bertambah bergantung pada dependen densitas
yang berubah dalam survival atau laju reproduktif, karena jumlah populasi menjadi lebih
besar. Dari hukum Yield konstan dimana tumbuhan bertanggap terhadap kelebatan tidak
hanya oleh densitas tetapi juga oleh ukuran individu. Pupolasi tumbuhan lebih bersifat
dependen lebat daripada dependen densitas.
7. Stadia Versus Umur
Teori demografik klasik memakai umur sebagai dasar untuk perkiraan kesuburan dan
survivorship. Namun, umur dapat pula tidak berupa indikator status reproduktif dalam
tumbuhan. Ada dua alasan pokok yaitu :
a. Ukuran tidak perlu berkorelasi dengan umur
b. Banyak tumbuhan akan berbunga bila telah mencapai ukuran tertentu tanpa
memandang umurnya.
Sebaliknya, dalam lingkungan optimal, ukuran yang diperlukan dan karbohidrat
simpanan mungkin akan dikumpulkan secara cepat dan pembungaan dapat terjadi dalam
tahun pertumbuhan pertama. Semai pohon tetap kecil untuk beberapa tahun bila tumbuh
dalam naungan hutan lebat. Ini merupakan stadia perkembangan yang menentukan status
demografi individu, bukan tentang umurnya.