Anda di halaman 1dari 21

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan kehadurat Allah SWT


yang

telah

melimpakan

rahmat,

tauhid

dan

hidayah-Nya

sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah

ini

dengan judul Kultur Kalus Nilam yang merupakan salah satu


syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Kultur Jaringan
Tumbuhan.
Melalui usaha dan doa yang selalu menyertai penulis, serta
bantuan moril maupun materi yang menunjang bagi penulis
untuk menyelesaikan tugas makalah ini. Pada kesempatan ini
penulis

menyampaikan

rasa

terima

kasih

kepada

dosen

Pengampuh Mata Kuliah yang telah membimbing penulis dalam


penyelesaian tugas ini.
Dengan terbatasnya pengetahuan, kemampuan dan waktu,
penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna
baik materi maupun penyajiannya. Untuk itu saran dan kritik
yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan .
Demikian dalam pembuatan makalah ini, penulis berharap
semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi semua pihak
Terimakasih.

April,
2015
Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

I.1.

Latar Belakang
Indonesia merupakan negara beriklim tropis kaya akan

beraneka ragam flora, berbagai jenis tanaman yang mempunyai


banyak manfaat dapat tumbuh dengan mudah, salah satu
diantaranya adalah tanaman yang dapat menghasilkan minyak
atsiri. Indonesia memiliki potensi sebagai salah satu negara
pengekspor minyak atsiri, seperti minyak nilam, kenanga, akar
wangi, sereh wangi, cendana, pala, dan daun cengkeh.Beberapa
daerah produksi minyak atsiri antara lain daerah Jawa Barat
(sereh wangi, akar wangi, daun cengkeh, dan pala), Jawa Timur
(kenanga dan cengkeh), serta daerah Jawa Tengah, Bengkulu,
Aceh atau Sumatera utara sebagai penghasil minyak nilam.
Minyak atsiri merupakan salah satu komoditas ekspor non
- migas yang memiliki peluang pasar dan sangat dibutuhkan
keberadaannya oleh berbagai bidang industri di dalam maupun
di luar negeri.Hal tersebut disebabkan oleh kegunaan minyak
atsiri yang sangat luas dan spesifik.
Kualitas

minyak

atsiri

ditentukan

oleh

karakteristik

alamiah dari masing-masing minyak tersebut dan bahan-bahan

asing yang tercampur di dalamnya. Selain itu, faktor lain yang


menentukan mutu minyak adalah sifat-sifat fisika-kimia minyak,
jenis

tanaman,

penyulingan,

umur

jenis

panen,perlakuaan

peralatan

yang

bahan

digunakan

sebelum

dan

kondisi

prosesnya, perlakuan minyak setelah penyulingan, kemasan, dan


penyimpanan.
Tercatat tidak kurang dari 40 jenis minyak atsiri yang
selama ini telah diperdagangkan di pasar dunia dapat diproduksi
di Indonesia. Jenis tanaman minyak atsiri yang saat ini dapat
dikembangkan sekaligus diproduksi minyaknya sebagai bahan
pengharum atau pewangi antara lain nilam dan kenanga.
I.2.

Permasalahan
Nilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan tanaman

penghasil minyak atsiri.Salah satu kendala dalamusaha tani


nilam adalah penyediaan benih tepat waktu, tepatjumlah,
seragam,

dan

bebas

umumnyadiperbanyak
ditumbuhkandalam

penyakit.

dengan

polibeg

Tanaman

setek

sehingga

nilam

atau

setek

yang

jumlah

benih

yang

dihasilkan terbatas,selain benih dapat menularkan penyakit.


Perbanyakannilam

secaraKultur

jaringandiharapkan

dapat

menghasilkan benihyang banyak, seragam, dan bebas penyakit.


1.3.Tujuan
Tujuan

dari

pembuatan

makalah

ini

adalah

untuk

mengetahui jenis jenis metode kultur jaringan yang dapat


diterapkan untuk perbanyakan Tanaman Nilam.

BAB II
ISI
II.1

Tanaman Nilam
Tanaman nilam dikenal dengan sebagai Dhilep Wangi atau

Pecoli, mempunyai daun berbentuk bulat dan lonjong, ujungnya


runcing, pangkalnya tumpul tetapi bergerigi, dan permukaannya
berbulu. Tinggi tanaman nilam sekitar 30 70 cm, lebar daun
sekitar 5 7 cm, panjang sekitar 7 9 cm, dan tebalnya sekitar
0,5

-1

mm.

Ada

tiga

jenis

tanaman

nilam

yaitu

nilam

Aceh (Pogostemon cablin), nilam Jawa(Pogostemon hortensis),


dan nilam tipis (Pogostemon heineanus). Walaupun tanaman
nilam di Indonesia telah lama dibudidayakan, daerah penghasil
utama (Aceh dan Sumatra Utara) sampai sekarang masih
diusahakan secara tradisional. Hal ini disebabkan oleh beberapa
faktor, antara lain oleh faktor sosial ekonomi petani dan masih
terbatasnya teknologi yang tersedia. Mengingat daun nilam
mengandung minyak atsiri yang mempunyai banyak kegunaan,
maka perlu dicari kondisi proses penyulingan minyak nilam yang
menghasilkan

kadar&

kualitas

menguntungkan dari segi ekonomi.

minyak

yang

baik

juga

Menurut pengamatan para ahli nilam jenis Pogostemon


cablin terdapat di Filipina, Brazilia, Malaysia, Madagaskar dan
Indonesia. Nilam jenis ini tidak atau jarang berbunga. Kadar
minyak tinggi sekitar 2,5 5 % dan komposisi minyaknya bagus.
Nilam jenis Pogostemon Heyneaus sering tumbuh secara liar di
pekarangan rumah atau tempat yang jarang di jamah oleh
manusia.Ciri nilam ini adalah berbunga. Kadar minyaknya sekitar
0,5-1,5 % dari berat daun kering. Nilam jenis Pogostemon
Hortensis, Backer diguna-kan sebagai pengganti sabun, sehingga
sering disebut nilam sabun, kadar minyak rendah sekitar 0,5-1,5
%.Dari ketiga jenis nilam tersebut jenis nilam Pogostemon cablin
adalah yang layak dikembangkan, sebab kadar dan komposisi
minyaknya paling bagus diantara jenis lainnya.

Gambar 1. Tanaman Nilam

II.1.1 Minyak Nilam


Dalam dunia perdagangan minyak nilam dikenal dengan
nama minyak patchouli. Nilam (Pogostemon cablin benth) salah
satu famili dari Labiatae, merupakan tanaman yang mengandung
minyak atsiri yang cukup penting peranannya, baik sebagai
sumber devisa Negara maupun sebagai sumber pendapatan
petani. Ekspor minyak nilam mencapai 700 1500 ton pertahun.
Terbukti minyak nilam telah tercatat sebagai penyumbang
terbesar devisa negara dibanding minyak atsiri lainnya. Menurut

Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Bogor, pada saat ini
Indonesia merupakan produsen minyak nilam terbesar dunia
dengan kontribusi sekitar 70 - 90 % .

Gambar 2. Minyak Nilam

II.1.2 Manfaat Minyak Nilam


Minyak nilam merupakan salah satu minyak atsiri yang
mempunyai fungsi dan kegunaan yang luas karena wanginya
yang khas maka sering digunakan sebagai parfum pakaian,
karpet dan barang - barang tenun, industri sabun, dan kosmetik.
Minyak nilam terdiri atas campuran senyawa terpen yang
bercampur

dengan

alkohol, aldehid,

dan

ester-ester

yang

memberikan aroma yang khas dan spesifik. Senyawa-senyawa


tersebut antara lain : sinamaldehid, benzaldehid, patchoulen,
eugenol benzoat, dan patchouli alkohol sebagai komponen utama
minyak nilam. Minyak nilam yang banyak mengandung senyawa
terpen akan menurunkan nilai kelarutannya .
Aroma

minyak

nilam

sangat

khas,

sehingga

kerap

dimanfaatkan orang sebagai pengikat (fiksatif) wangi pada


parfum ataupun kosmetika .Minyak ini memiliki daya lekat kuat,
sehingga aroma wanginya tidak mudah hilang atau menguap.

Keunggulan lainnya adalah dapat larut dengan alkohol dan


dicampur dengan minyak atsiri lain. Dibandingkan dengan
minyak atsiri yang dihasilkan dari tanaman lain, minyak nilam
paling diunggulkan keharumannya
Berdasarkan penelitian terhadap bioaktivitasnya, ternyata
minyak nilam memiliki aktivitas sebagai antibakteri, antiradang,
dan menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri . Minyak nilam
juga memiliki kepekaan terhadap bakteri sepertiStaphylococcus
epidermidis dan Propionibacteriumacnes .
Berdasarkan

akitivitasnya

sebagai

antibakteri

dan

antiradang inilah, maka dijadikan dasar untuk mengembangkan


minyak nilam sebagai obat jerawat .Jerawat adalah penyakit kulit
(topikal) akibat peradangan menahun dari folikel polisebasea dan
ditandai dengan meningkatnya jumlah bakteri dalam folikel
yaitu Propionibacterium

acnes dan Staphylococcus

epidermidis yang berperan dalam proses inflamasi .

VCO merupakan minyak alamiah berkualitas tinggi yang


diperoleh dari santan kelapa segar. Kandungan asam lemak
terutama asam laurat dan oleat dalam VCO, dapat berfungsi
untuk melembutkan kulit, peningkat penetrasi, moisturizer dan
mempercepat penyembuhan pada kulit. Disamping itu, VCO
aman digunakan pada kulit karena tidak mengiritasi .
Terkait dengan aktivitasnya, VCO ternyata juga memiliki
aktivitas sebagai antibakteri . Berdasarkan sifat minyak nilam
dan VCO seperti tersebut di atas dan ditambah dengan
ketersediaannya yang melimpah di Indonesia, membuatnya
berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku pada
formulasi sabun transparan yang berbasis bahan alami

II.1.3.

Standar mutu Minyak Nilam


Standar mutu minyak nilam belum seragam untuk

seluruh dunia, karena setiap negara penghasil dan pengimpor


menentukan standar minyak nilam sendiri. Menurut hasil seminar
dan standarisasi dan pengawasan mutu barang-barang ekspor di
Jakarta (1997), ditetapkan standar mutu minyak nilam sesuai
dengan SNI 06-2385-1998 .
Minyak Nilam
Jenis uji
Warna

Persyaratan
Kuning muda
sampai coklat
tua

Densitas
(20 0C )

0,943 - 0,983

Indeks Bias

1,504 1,514

Bau

Segar khas
minyak nilam

Bilangan asam,
%
Bilangan ester,
%

Maks. 5,0
Maks. 10,0

Tabel 1. Spesifikasi Persyaratan Mutu

II.2

Kultur Jaringan
Indonesia sebagai salah satu negara tropis yang kaya

akan plasma nutfah merupakan pusat keanekaragaman genetik


bagi

banyak

tanaman

seperti

buah-buahan,

umbi-umbian,

palem-paleman, padi-padian, sayur-sayuran dan berbagai jenis


anggrek.

Keanekaragaman

plasma

nutfah

yang

sangat

diperlukan dalam pemuliaan tanaman ini terus menerus terkikis


habis karena beberapa faktor, diantaranya adalah : perusakan
lingkungan

hutan,

introduksi

dipopulerkannya

jenis

kelamaan

punah,

akan

sebagainya.

Untuk

tanaman

itu

varietas

unggul,

tidak

tersebut

sehingga

lama

banyaknya
pelestarian

hama
terhadap

penyakit

dan

pertumbuhan

tanaman sangat diperlukan salah satu nya dengan kultur


jaringan .
Kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi
bagian tanaman seperti protoplasma sel, jaringan dan organ
serta menumbuhkannya dalam kondisi aseptik sehingga bagianbagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi
menjadi tanaman lengkap.
Keberhasilan kultur jaringan sangat ditentukan oleh
media yang digunakan. Media kultur jaringan harus mengandung
bahan-bahan penting, yaitu garam-garam anorganik, senyawasenyawa organik, dan persenyawaan organik komplek. Garamgaram

anorganik

menyediakan

unsur-unsur

hara

makro

(N,P,K,Ca,Mg, dan S) dan unsur mikro (Fe,Mn,Zn,B,Cu, dan Co).


Senyawa organik yang sering ditambahkan adalah vitamin, zat
pengatur tumbuh, dan senyawa organik alami seperti sari buah
tomat, sari buah jeruk, air kelapa dan sari buah pisang .
Menurut Gamborg dan Shyluk (1981) serta Pierik (1987)
keberhasilan kultur jaringan dipengaruhi oleh zat pengatur
tumbuh tanaman, nutrisi, dan sumber eksplan yang digunakan
serta

lingkungan

fisik

kultur

jaringan

tersebut.

Regulasi

organogenesis dan metabolisme sekunder lebih bergantung pada


hara mineral.
Dalam kultur jaringan dua golongan zat pengatur tumbuh
yang sangat penting adalah sitokinin dan auksin. Zat pengatur

tumbuh ini mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis


dalam kultur sel, jaringan dan organ. Penggunaan BAP 0.5 ppm
yang dikombinasikan dengan NAA 0.1 ppm, menghasilkan jumlah
tunas per kultur tertinggi (15.7 buah) pada eksplan shoot
tip Ixora fulgens Roxb. Interaksi dan perimbangan antara zat
pengatur tumbuh yang diberikan dalam medium dan yang
diproduksi

oleh

sel

secara

endogen

menentukan

arah

perkembangan suatu kultur.


Tanaman Nilam sejauh ini dapat di kultur dengan
berbagai cara antara lain yaitu pemanfaatan air kelapa dengan
cara in vitro ,Perbanyakan tanaman nilam dilakukan dengan stek
batang, Keragaman Somaklonal, induksi tunas secara in vitro .
II.3

Teknik

Pemanfaatan Air

Kelapa

Untuk

Perbanyakan Nilam secara In Vitro


Kultur jaringan dapat dilakukan secara in vitro yaitu
dengan caramemperbanyak di dalam botol. Perbanyakan in
vitro dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu organogenesis dan
embriogenesis. Organogenesis adalah suatu proses membentuk
dan menumbuhkan tunas dari jaringan meristem (Pardal 2002),
sedangkan embryogenesis adalah proses pembentukan embrio
tanpa melalui fusi gamet, tetapi berkembang dari sel somatik
Dalam

makalah ini,

proses

kultur

jaringan

melalui

organogenesis langsung atau tanpa melalui kalus sehingga


kemungkinan tidak terjadi mutasi. Keuntungan perbanyakan
secara kultur jaringan melalui organogenesis langsung adalah :
(1) waktu perbanyakan lebih cepat;
(2) jumlah benih yang dihasilkan tidak terbatas;
(3) jumlah eksplan yang digunakan kecil (tunas terminal aksilar);
(4) bebas hama dan penyakit;
(5) memerlukan lahan sempit; dan

(6) genotipe sama dengan induknya (George dan Sherington


1984).
II.3.1

Air Kelapa
Air

kelapa

merupakan

endosperm

atau

cadangan

makanan cair sumber energi, selain mengandung zat pengatur


tumbuh. Air kelapa yang baik untuk kultur jaringan adalah air
kelapa muda yang daging buahnya berwarna putih, belum keras
tetapi masih dapat diambil dengan sendok .
Air kelapa merupakan hormon alami kelompok auksin dan
sitokinin.

Dalam

kultur

jaringan,

auksinberperan

memacu

pembentukan kalus, menghambat kerja sitokinin, membentuk


klorofil dalam kalus, mendorong proses morfogenesis kalus,
membentuk akar, dan mendorong proses embriogenesis.
Sitokinin berperan memacu pembelahan sel, proliferasi
meristem

ujung,

menghambat

pembentukan

akar,

dan

mendorong pembentukan klorofil pada kalus .


Media
Ditambahkan air kelapa muda +gula + agar + NaOH dan

HCl

Dipanaskan dengan microwavedanDimasukkan ke dalam botol


kultur, ditutupaluminum foil

Disterilisasi dengan autoklaf pada suhu 121C,tekanan 17,5 Psi


selama 20 menit dan Disimpan selama 3-7 hari

Media siap ditanami


Gambar 3. Diagram alir cara pembuatan media padaPemanfaatan Air Kelapa
untuk perbanyakannilam secara in vitro

Penggunaan media MS ditambah air kelapa 10% pada


perbanyakan

nilam

secarain

vitro menghasilkan

persentase

tunas hidup rata-rata 100%, jumlah tunas 3, tinggi tunas 1,61


cm, dan jumlah daun 9,10, paling baik dibanding perlakuan
lainnya. Berdasarkan hasil percobaan ini, disarankan untuk
melakukan penelitian pemanfaatan air kelapa sebagai campuran
media kultur pada komoditas lainnya. Lebih tingginya persentase
tunas hidup, jumlah tunas, tinggi tunas, dan jumah daun diduga
karena adanya auksin dan sitokinin dalam air kelapa. Auksin
berperan

memicu

pembentukan

kalus,

menghambat

kerja

sitokinin, membentuk klorofil dalam kalus, mendorong proses


morfogenesis kalus, serta memacu pembentukan akar dan
proses embriogenesis. Sitokinin memacu pembelahan sel dan
proliferasi meristem ujung, menghambat pembentukan akar, dan
memacu pembentukan klorofil pada kalus.
II.4

Perbanyakan Tanaman Nilam dengan Stek Batang


Perbanyakan tanaman nilam dilakukan dengan stek

batang

karena

tanaman

ini

jarang

berbunga.

Kesuksesan

perbanyakan nilam dengan stek batang, dipengaruhi berbagai


faktor antara lain faktor perakaran dan ketersediaan hormone
tanaman, khususnya auksin. Zimmerman and Wilcoxon, 1953
dalam

Candace

etc.

2000

menyatakan

bahwa

berbagai

penelitian telah dilakukan dan berhasil membuktikan bahwa


auksin berperan dalam pembentukan akar adventif.

Pemberian IBA sebagai salah satu jenis auksin sintetis,


terbukti dapat meningkatkan perakaran.Bahkan dari hasil yang
diperoleh, diketahui bahwa IBA lebih efektif daripada IAA atau
auksin sintetis lain (Zimmerman and Wilcoxon, 1953 dalam
Candace etc. 2000).Tetapi dibutuhkan konsentrasi yang tepat
dalam

penggunaannya,

agar

diperoleh

perakaran

optimal.Pemberian IBA pada konsentrasi 59 ppm yang dilakukan


oleh

Djauhariya

dan

Rahardjo

(2004)

dapat

meningkatkanpanjang akar mengkudu. Pada percobaan lain yang


dilakukan oleh Irawati (2005), diketahui bahwa perendaman
tanaman daun dewa (Gynura Pseudochina) dalam IBAkonsentrasi
50 ppm diperoleh hasil terbaik pada perakarannya.
Pemberian IAA danNAA pada konsentrasi yang semakin
meningkat

hingga

mencapai

batas

50

ppm,juga

dapat

meningkatkan jumlah dan panjang akar Leguminoceae (Abidin,


1982).
Penelitian ini dilakukan dengan cara mengambil stek
batang nilam diambil dari indukan yang sudah cukup umur.
Selanjutnya mempersiapkan larutan IBA dengan cara, IBA
dengan berat 100 mg dilarutkan dalam KOH, kemudian ditambah
aquades hingga mencapai 1 liter. Kemudian stek batang nilam
direndam

dalam

larutan

IBA

selama

30

menit.Langkah

selanjutnya mempersiapkan media tanam. Media tanam berupa


campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1,
disiapkan dalam polybag. Stek batang nilam yang sudah
direndam,

ditanam

tanam.Selanjutnya

dalam

polybag

pemeliharaan

yang

berisi

dilakukan

media

selama

30

hari.Pengamatan dilakukan setelah tanaman berumur 30 hari.


Pada

tanaman

Nilam

kosentrasi

yang

pas

untuk

perbayakan tanaman ini dicapai pada konsentrasi 25 ppm.Dalam

hal ini, IBA pada konsentrasi tersebut mampu mengoptimalkan


perakaran, sehingga penyerapan nutrien dapat dilakukan secara
optimal.

Nutrien

yang

diserap

tersebut

selanjutnya

akan

digunakan untuk mendukung pertumbuhan tanaman, sebelum


cadangan makanan yang dimiliki habis.
II.5

Perbanyakan Tanaman Nilam Dengan Induksi Tunas

secara In Vitro
Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas bahan baku
nilam dapat dilakukan melalui teknik kultur jaringan. Teknik
kultur jaringan selain dapat digunakan untuk perbanyakan
vegetatif tanaman

nilam secara in vitro untuk menghasilkan

klon-klon yang sehat dalam jumlah yang besar dalam waktu


yang relatif singkat, serta dapat digunakan untuk menghasilkan
tanaman dengan sifat baru.
Perbanyakan

vegetatif

nilam

dengan

teknik

kultur

jaringan dilakukan melalui tahapan: induksi tunas, pemanjangan


tunas dan induksi perakaran serta aklimatisasi plantlet pada
media tanah .
1.

Induksi

tunas

nilam in

vitro dilakukan

dengan

menggunakan eksplan daun (Gambar 1A) yang dikultur pada


medium MS dengan penambahan zat pengatur tumbuh NAA dan
BAP.
2.

Tunas mulai terbentuk dari eksplan setelah 2 minggu kultur

(Gambar 1B).
3.

Pemanjangan tunas dilakukan dengan mengkultur tunas

yang terbentuk umur 6 minggu (Gambar 1C) pada media MS


dengan

penambahan

hormon

GA3.

Pada

media

yang

mengandung GA3 ini, selain tunas mengalami pemanjangan,


akar juga mulai terbentuk dari tunas-tunas nilam (Gambar 1D).

4.

Setelah 4 minggu dalam media ini, plantlet diaklimatisasi

(Gambar 1E dan F).


5.

Dua minggu setelah aklimatisasi plantlet dipindah ke

polibag dan siap dipindah dalam penanaman dalam bentuk


demplot.

Gambar 4. Proses Kultur

II.6

Perbanyakan Tanaman Nilam Dengan Keragaman

Somaklonal
Keragamaan
genetik

yang

terjadi

somaklonal
secara

merupakan

spontan

hasil

keragaman

regenerasi

sel

somatik.Perubahan sifat genetik dan sel somatik telah dilaporkan


se-jak tahun 1961.Metode tersebut te-lah diterapkan pada
tanaman panili kombinasi dengan mutagen fisik (radiasi sinar
gamma). Nilam

merupakan

penghasil

minyak

atsiri

yang

potensial dikembangkan dan Indonesia merupakan pemasok


utama di pasar dunia. Peningkatan kadar minyak nilam melalui
teknikkonvensional sulit dilakukan karena tanaman tersebut tidak
berbunga.

Peningkatan

keragaman

genetic

dilakukan

pada

tunas in vitro yang telah mengalami periode kulturin vitro selama


2 tahun dan subkultur 12 kali.
Kalus yang berasal dari jaringan daun yang diisolasi dari
biakan tersebut kemudian dikaluskan dan dibuat suspensi sel
kemudian massa selnya ditaburkan di atas kertas filter. Sel
tersebut diradiasi dengan sinar gamma 0-3 krad.Sekitar 411
somaklonal yang diperoleh diuji di2 lokasi (Bogor dan Bandung)
selama 2 tahun ber-turut-turut. Dari sekitar 411 soma-klonal
diperoleh 5 somaklon yang kadar minyaknya tinggi dan di antaranya terdapat 1 somaklon yang kadar minyaknya mencapai 4%
dan selalu stabil pada setiap panen de-ngan musim yang
berbeda. Pada tahun ketiga dicoba kembali di Bogor, kadar
minyaknya tetap stabil, demikian pula pada tahun keempat
(Mariska, 2002).
II.7

Zat Pengatur Tumbuh Untuk Perbanyakan Tanaman

Nilam di Dalam Kultur Jaringan


Zat pengatur tumbuh tanaman adalah senyawa organik
bukan hara, yang dalam jumlah sedikit dapat mendukung,
menghambat dan dapat merubah proses fisiologi tumbuhan
(Sriyanti dan Wijayani, 1994). Zat pengatur tumbuh dapat
ditambahkan ke dalam media kultur jaringan yangberfungsi
untuk merangsang pertumbuhan antara lain pertumbuhan tunas
dan akar. Zat pengatur tumbuh yang sering ditambahkan ke
dalam medium kultur jaringan adalah sitokinin dan auksin.
Zat pengatur tumbuh ini berfungsi sebagai faktor pemicu
yang

dapat

morfogenesis.

mempercepat
Zat

pengatur

proses

pertumbuhan

tumbuh

diperlukan

dan

sebagai

komponen media bagi pertumbuhan dan diferensiasi. Tanpa


penambahan zat pengatur tumbuh dalam media, pertumbuhan

terhambat, bahkan mungkin tidak tumbuh sama sekali (Pierik,


1987).
Sitokinin penting dalam pengaturan pembelahan sel,
morfogenesis

dan

organogenesis,

banyak

berperan

pembentukan

tunas,

dalam

mendorong

mengatur
proliferasi

meristem ujung, menghambat pembentukan akar, mendorong


pembentukan klorofil (Evans dan Sharp, 1981; Tisserat, 1986;
Basri dan Muslimin, 2001).
Jenis sitokinin yang digunakandalam kultur jaringan, yaitu kinetin
(6-furfuryl amino purine), zeatine (4-hydroxyl-3-metyltrans-2butenyl amino purine), BAP/BA (6-benzyl amino purine/6-benzyl
adenine),Thidiazuron (N-phenyl-N-1,2,3-thiadiazol-5-tl-urea).
Auksin

membantu

meningkatkan

pertumbuhan

akar

dikarenakan dapat menginduksisekresi ion H+ keluar melalui


dinding

sel,

pengasaman

dinding

sel

menyebabkan

K+

diambildan pengambilan ini mengurangi potensial air dalam sel.


Akibatnya air masuk ke dalam seljuga mendorong enzim
sellulase

memotong-motong

ikatan

selulosa

pada

dinding

primerhingga dinding elastis dan sel membesar , auksin juga


digunakan untukmerangsang kalus, suspensi sel dan organ,
mendorng proses morfogenesis kalus membentukakar dan tunas,
mendorong proses embriogenesis, mempengaruhi kestabilan
genetik tanaman. Jenis auksin sintetik yang digunakan dalam
kultur

jaringan,

yaitu

IAA

(Indole

Acetic

Acid),2,4-D

(2,4-

dichlorophenoxy acetic acid), NAA (napthalene Acetic Acid), IBA


(IndoleButyric Acid), Dicamba (3,6-Dichloro Anisic Acid),dan
Picloram (4-Amino-3,5,6,-TrichloroPicolinic Acid) (Santoso dan
Nursandi, 2004).

BAB III
PENUTUP

III.1 Kesimpulan
Berdasarkan

ulasan

hasil

penelitian

tentang

kultur

jaringan tanaman Nilam dapat disimpulkan bahwa :


1.

Kultur in vitro merupakan teknologi yang potensial untuk

meningkatkan

keragaman

genetik

nilam.

Dengan

adanya

keragaman tersebut maka peluang untuk mendapatkan genotipe


baru yang unggul menjadi terbuka.
2.

Perendaman stek batang tanaman nilam (P. cablin) dalam

IBA berpengaruh nyata terhadap panjang akar, berat basah dan


berat kering.
3.

Zat pengatur tumbuh sangat berperan penting terhadap

pertumbuhan tanaman Nilam

DAFTAR PUSTAKA

1. Surachman , dedi, 2011, Tehnik Pemanfaatan Air kelapa untuk


perbanyakan Nilam secara In vitro , Buletin tehnik Pertanian ,
vol 16 No 1
2. Hasanah, Farida , 2007 , Pembentukan Akar pada Stek Batang
Nilam(Pogostemon cablin Benth.) setelah direndam Iba (Indol
Butyric Acid) pada Konsentrasi Berbeda,Buletin Anatomi dan
Fisiologi ,Vol. XV, No. 2,
3. Sumarni, Nunung Bayu Aji, dan Solekan, 2008 ,Pengaruh
Volume Air dan Berat Bahan pada Penyulingan Minyak
Atsiri Jurnal Teknologi, Vol. 1, No. 1

TUGAS MAKALAH KULIAH

PENGEMBANGAN KULTUR JARINGAN NILAM


SECARA IN VITRO

Oleh :
KELOMPOK 4 :
ADE ANIDINI

(N111 13 059)

SYUKUR

(N111 12

WAHYUNI

(N111 13 0

NIDAUL HUSNA

(N111 13

HENDRIANI PARAMITA

(N111 13

KULTUR JARINGAN TUMBUHAN C


FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR
2015