Anda di halaman 1dari 6

Eksplanasi

Setiap ilmuwan berusaha memperoleh kemampuan menjelaskan apa yang


terjadi di dunia dan meramalkan kemunngkinan terjadinya di masa depan,
Ilmuwan Hubungan Internasional juga berusaha mengembangkan kemampuan
eksplanasi dan prediksi tentang fenomena internasional. Karena pentingnya
kedua hal in, maka setiap pelajar ilmu ini harus menguasai logika eksplanasi dan
prediksi agar bisa memahami dan meneliti hubungan internasional.
Apakah yang dimaksud dengan eksplanasi ?
Sebelum melanjutkan pembahasan tentang soal penjelasan ini, mungkin
perlu diperhatikan sering timbulnya kerancuan dalam menggunakan kata
penjelasan. Perhatikan dua contoh berikut. Seorang dosen berkata kepada
mahasisiwanya: Coba jelaskan struktur organisasi ASEAN!. Lain kali ia
meminta: Coba jelaskan konsep integrasi! Makna penjelasan dalam dua contoh
itu bukanlah yang dimaksud dalam bab ini. Arti kata penjelasan dalam contoh
pertama sebenarnya adalah deskripsi, karenanya kalimat itu bisa diubah menjadi
: Coba gambarkan struktur organisasi ASEAN. Dalam contoh kedua, makna
penjelasan di situ adalah pendefenisian konsep integrasi.
Dalam pembahasan metodologi, yang dimaksud dengan penjelasan atau
eksplanasi adalah upaya menjawab pertanyaan mengapa ? Misalnya: Mengapa
terjadi perang? Mengapa terjadi kemiskinan? Mengapa terjadi hubungan
ketergantungan antara negara Utara dan Selatan ? Mengapa Vietnam
melakukan intervensi di Kampuchea ? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang
ditanyakan dan dicoba dijawab oleh ilmuwan social, termasuk ilmuwan
hubungan internasional.
Pada dasarnya hanya ada satu format dasar eksplanasi dalam dunia ilmu,
yaitu eksplanasi nomologis. Namun format ini menuntut persyaratan yang
umumnya tidak bisa dipenuhi oleh Ilmu Sosial, terutama keharusan adanya
generalisasi universal atau statistic, sehingga muncul model-model alternative
yang tidak homologis. Berikut ini akan dibahas model eksplanasi nomologis,
sedang eksplanasi non-nomologis akan dibahas dalam bagian berikutnya.

Eksplanasi Nomologis
Model eksplanasi ini mensyaratkan adanya serangkaian generalisasi atau
hukum dalam premis atau eksplanan-nya. Generalisasi itu disebut coveringlaws karena generalisasi itu meng-cover atau meliputi situasi atau fenomena
yang hendak dijelaskan. Eksplanasi yang menggunakan serangkaian generalisasi
yang meliputi situasi yang hendak dijelaskan itu disebut eksplanasi covering-law
atau nomologis. Dalam bagian ini akan dibicarakan akan dibicarakan dua bentuk
eksplanasi nomologis, yaitu eksplanasi deduktif dan ekspalanasi statisticprobabilistik.
-

Eksplanasi deduktif
Penjelasan secara deduktif berbentuk argumen deduktif yang sahih (valid).
Kesimpulan dalam eksplanasi deduktif pasti benar kalau premisnya
benar.Eksplanasi deduktif bisa menjelaskan kejadian individual maupun
umum.Dua hal ini membuat eksplanasi deduktif sebagai tipe eksplanasi yang
paling meyakinkan. Eksplanasi deduktif terdiri dari dua bagian: eksplanandum
dan eksplanan.
Namun, walaupun eksplanasi deduktif sangat meyakinkan, penerapannya dalam
Ilmu social sangat terbatas sekali. Lalu, mengapa kita mempelajari eksplanasi
deduktif ? Ada beberapa alasan. Pertama, ini adalah bentuk eksplanasi yang
ideal. Pemahaman kita tentang eksplanasi ini membantu kita memahami
eksplanasi statistic-probabilistis (yang disebut juga eksplanasi induktif), karena
dalam banyak segi bentuknya sama. Kedua, argument dan eksplanasi deduktif
dipakai oleh banyak sekali orang yang memperjuangkan berbagai macam
gagasan dan oleh banyak sekali pengamat fenomena social.
Eksplanasi Statistik-Probabilistis
Ini adalh bentuk yang paling banyak dalam Ilmu Sosial. Banyak penjelasan dalam
Ilmu Pengetahuan Alam juga berbentuk statistik-probabilistis atau induktif.
Eksplanasi ini juga memuat eksplanan dan eksplanandum. Tetapi, eksplanannya
memuat generalisasi statistic, bukan generalisasi universal. Karena itu,
eksplanandum dari eksplanasi statistic-probabilistis ini tidak bisa dideduksikan
dari eksplanannya secara meyakinkan. Eksplanandum itu ditarik dari eksplanan
berdasar probabilitas. Eksplanan member bukti atau dukungan pada
eksplanandum tetapi tidak bisa meyakinkan bahwa eksplanandum itu benar.
Dalam eksplanasi seperti ini, walaupun eksplanannya benar, eksplanandumnya
bisa salah.
Eksplanasi statistic-probabilistis bisa menjelaskan probabilitas timbulnya
peristiwa, baik yang tunggal maupun umum. Eksplanasi statistik-probabilistis
yang menjelaskan probabilitas timbulnya suatu kejadian tunggal.
Perbedaan-perbedaan antara kedua bentuk eksplanasi :

DEDUKTIF

1.

Eksplanan harus berisi paling tidak satu generalisasi universal.

2.

Eksplanan membuat eksplanandum pasti.

3.

Satu peristiwa negative bisa menyalahkan eksplanasi.

4.

Bisa menjelaskan peristiwa tunggal dan umum.

STATISTIK-PROBABILISTIS (INDUKTIF)

1.

Ekspalanan harus berisi paling tidak satu generalisasi statistic.

2.

Eksplanan membuat eksplanandum mungkin (probable).

3.

4.

Satu kejadian negative tidak bisa menyalahkan eksplanasi.


Eksplanasi ini hanya bisa disalahkan kalau ada sejumlah besar
kejadian negative dengan frekuensi yang tinggi.
Bisa menjelaskan probabilitas peristiwa tunggal dan umum.

Modelmodel

Derajat kesempurnaan Eksplanasi


Generalisasi
kondisi Awal :

dan Dijabarkan semuanya

Diketahui semua :

Eksplanasi sempurna

Diketahui sebagian Eksplanasi parsial


:

Dijabarkan sebagian
Eksplanasi eliptis
Sketsa Eksplanasi

Eksplanasi Alternatif
Ada yang mengatakan bahwa model-model eksplanasi alternative ini sebenarnya
sekadar varian dari model nomologis, karena walaupun sedikit model alternative
itu memuat juga unsur-unsur model nomologis. Artinya, walaupun hanya implisit
atau tidak terumuskan dengan baik, namun model-model alternative itu juga
merujuk pada generalisasi dan pada kondisi awal. Oleh sebab itu, dengan

beberapa penyesuaian model itu seringkali juga bisa diubah menjadi seperti
model nomologis. Juga, karena itu daya eksplanasi model-model alternative ini
bisa dinilai berdasarkan ukuran : seberapa jauh kemampuannya memenuhi
persyaratan-persyaratan yang dimiliki oleh eksplanasi nomologis. Semakin
banyak persyaratan model nomologis yang bisa dipenuhi, semakin kuat pula
daya eksplanasi model-model alternative itu. Model-model eksplanasi alternative
yang paling sering dipakai adalah :
1.

Eksplanasi Rasional

2.

Eksplanasi Intensional

3.

Eksplanasi Intensional

4.

Eksplanasi Disposisional

5.

Eksplanasi Makro

6.

Eksplanasi Fungsional

7.

Eksplanasi Genetik

Kombinasi Pola-pola Eksplanasi


Cara penyajian keenam model atau pola eksplanasi alternative di atas
sebenarnya mengecoh, karena masing-masing diajukan sebagai pola yang
seolah-olah
berdiri
sendiri.
Menurut
Isaak,
ada
tiga
cara
untuk
mengkombinasikan beberpa pola eksplanasi, yaitu: Pertama, dengan
menggabungkan beberpa variabel independen; kedua, dengan menyususun
beberapa variabel dalam rentetan hubungan kausal; dan ketiga, pengaturan
beberapa variabel secara lebih rumit, sehingga memungkinkan interaksi
antarvariabel dan umpan balik.

Kesimpulan yang hendak disampaikan di sini adalah ilmuwan politik jarang


sekali menemukan eksplanasi yang bagus, yang hanya menggunakan satu factor
penyebab.

K E S I M P U L A N

Metode penelitian Hubungan Internasional secara langsung merupakan


pengembangan dari ilmu politik indukan metode penelitian ilmu social. Terlibat
perdebatan-perdebatan paradigma penelitian yang dibahas dalam filsafat ilmu.
Konsep hubungan Internasional diturunkan pada penelitian Hubungan
Internasional yaitu rencana penelitian (judul desain /variabel).

Metode penelitian merupakan salah satu hal ikhwal yang harus dipelajari,
dan metode penelitian ini tidak hanya dipergunakan dalam kajian Ilmu Hubungan
Internasional saja tetapi bisa diterapkan di bidang Ilmu yang lainnya.
Pengetahuan mengenai metodologis juga bisa digunakan untuk
mengevaluasi beberapa teori-teori yang dihasilkan oleh para ilmuwan bidang
studi hubungan internasional ini.
D A F TA R P U S TA K A

Masoed Mohtar. Ilmu hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi. LP3ES


http://ciaatciaaat.blogspot.com/2014/01/v-behaviorurldefaultvmlo.html

Eksplanasi Ilmiah dan Ekplanasi Pedagogi


Pengertian Eksplanasi Ilmiah dan Eksplanasi Pedagogi
Eksplanasi ilmiah adalah eksplanasi yang disampaikan oleh para ilmuwan.
Eksplanasi pedagogi adalah eksplanasi yang disampaikan oleh pendidik berupa hasil penelitian ilmiah
para ilmuwan yang telah disesuaikan dengan perkembangan intelektual peserta didik.

Fungsi Eksplanasi Ilmiah dan Eksplanasi Pedagogi


Fungsi eksplanasi ilmiah adalah Sebagai sarana bagi para ilmuwan untuk mempublikasikan
penemuannya.
(bisa berupa buku atau publikasi ilmiah dalam bentuk jurnal, makalah, dll). Subject matter inilah
yang akan diajarkan kepada siswa di sekolah, agar subject matter ini mudah dipahami oleh siswa
(accessible) dan mudah diajarkan oleh guru (teacheable), subject matter dengan ekplanasi ilmiah
harus ditranfer terlebih dahulu menjadi ekplanasi pedagogi.

Fungsi eksplanasi pedagogi adalah mempermudah bagi peserta didik untuk memahami pengetahuanpengetahuan yang bersifat ilmiah.
Ada keistimewaan dalam penelitian pendidikan sains, keistimewaan ini dikarenakan pendidikan
sains merupakan suatu ekplanasi pedagogi yang diberikan pengajar/penulis buku pelajaran kepada
pembelajar berdasarkan kepada ekplanasi ilmiah para ilmuwan. Persoalan dalam pendidikan sains
dan juga tugas dari guru/pembuat buku sains adalah bagaimana ekplanasi ilmiah para ilmuwan dapat
dipahami dengan mudah oleh para siswa. Inilah yang acapkali jadi masalah, konsep-konsep yang
dikemukan ilmuwan terlalu abstrak sehingga siswa pun sulit memahaminya.

Ekplanasi pedagogi menggabungkan ilmu pedagogi dan ilmu psikologi, sehingga subject
matter sesuai dengan tingkat keterampilan berpikir siswa. Prasyarat utama yang harus diperhatikan
oleh guru adalah ekplanasi pedagogi tidak bertentangan dengan ekplanasi ilmiah. Jadi seorang guru
harus menguasai materi yang diajarkan dengan baik melalui penyerapan terhadap materi yang
dikemukakan oleh ilmuwan.

Perbedaan Eksplanasi Ilmiah dan Eksplanasi Pedagogi


No.

Hal

1.

Subjek yang
menyampaikan

2.

3.

4.

Eksplanasi Ilmiah

Eksplanasi Pedagogi

Peneliti / Ilmuwan /
Saintis

Pendidik

Paradigma positivistik.

Paradigma naturalistik.

Paradigma yang
digunakan

Paradigma ini
memandang bahwa
kebenaran diperoleh
setelah hipotesis
diverifikasi melalui
eksperimen.

Paradigma ini
memandang bahwa
kebenaran diperoleh
melalui observasi atau
penelitian terhadap
fenomena di lapangan
(studi lapangan).

Objek yang diteliti

Fenomena alam yang


dipandang sebagai
fragmen-fragmen yang
dapat diisolasi dari
lingkungannya. Yang
diteliti disebut objek
penelitian dan tidak ada
saling ketergantungan

Persoalan manusia di
masyarakat (termasuk
komunitas pembelajaran
di sekolah) yang bersifat
mutltikausal dan
kompleks. Yang diteliti
disebut subyek penelitian
bukan obyek penelitian.

Metode penelitian

Kuantitatif dengan
eksperimen di
laboratorium

Kuantitatif tidak selalu


harus eksperimen atau
kualitatif

http://momentumsudutdanrotasibendategar.blogspot.com/2013/10/eksplanasiilmiah-dan-ekplanasi-pedagogi.html