Anda di halaman 1dari 12

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Mekanisme yang berjalan di dalam tubuh manusia diatur oleh dua sistem pengatur

utama yaitu sistem saraf dan sistem hormonal atau sistem endokrin. Pada umumnya, sistem
saraf ini mengatur aktivitas tubuh yang cepat, misalnya kontraksi otot, perubahan viseral
yang berlangsung dengan cepat dan bahkan juga kecepatan sekresi beberapa kelenjar
endokrin.
Sistem hormonal yang berkaitan dengan pengaturan berbagai fungsi metabolisme
tubuh, seperti pengaturan kecepatan reaksi kimia di dalam sel atau pengangkutan bahanbahan melewati membran sel atau aspek lain dari metabolisme sel seperti pertumbuhan dan
sekresi. Hormon tersebut dikeluarkan oleh sistem kelenjar atau struktur lain yang disebut
sistem endokrin.
Salah satu kelenjar yang mensekresi hormon yang sangat berperan dalam metabolisme
tubuh manusia adalah kelenjar tiroid. Dalam pembentukan hormon tiroid tersebut dibutuhkan
persediaan unsur yodium yang cukup dan berkesinambungan. Penurunan total sekresi tiroid
biasanya menyebabkan penurunan kecepatan metabolisme basal kira-kira 40 sampai 50
persen di bawah normal dan bila kelebihan sekresi hormon tiroid sangat hebat dapat
menyebabkan naiknya kecepatan metabolisme basal sampai setinggi 60 sampai 100 persen di
atas normal. Keadaan ini dapat timbul secara spontan maupun sebagai akibat pemasukan
hormon tiroid yang berlebihan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian hipotiroidisme ?
2. Apa saja etiologi hipotiroidisme ?
3. Apa saja jenis-jenis hipotiroidisme ?
4. Apa saja manifestasi klinis hipotiroidisme ?
5. Bagaimana patofisiologi hipotiroidisme ?
6. Apa saja komplikasi hipertiroidisme ?
7. Apa saja penceganhan hipotiroidisme ?
8. Apa saja Pemeriksaan penujang hipertiroidisme ?
9. Apa saja penatalaksanaan hipotiroidisme ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian hipotiroidisme.
2. Untuk mengetahui etiologi hipotiroidisme.
3. Untuk mengetahui jenis-jenis hipotiroidisme.
4. Untuk mengetahui manisfestasi klinis hipotiroidisme.
5. Untuk mengetahui patofisiologi hipotiroidisme.
6. Untuk Mengetahui komplikasi hipotiroidisme.
7. Untuk Mengetahui pencegahan hipotiroidisme.
8. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang hipotiroidisme.
9. Untuk mengetahui penatalaksanaan hipotiroidisme.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Hipotiroidisme
Menurut Corwin (2009) yang disebut hipotiroidisme adalah suatu penyakit yang
tejadi akibat penurunan kadar hormon tiroid yang bersirkulasi. Hipotiroidisme adalah
suatu kelainan yang relative sering ditemukan degan ditandai oleh ketidakcukupan
produksi hormone tiroid. Kekurangan produksi hormone tiroid paling sering disebakan
oleh kegagalan tiroid primer tetapi juga dapat disebakan oleh penurunan sekresi TSH
karena insufisiensi hipofisis (hipotiroidisme sekunder) atau kegagalan hipotalamus dalam
melepaskan TRH (hipotiroidisme tersier).
Hipotiroidisme merupakan keaadaan yang ditandai dengan terjadinya hipofungsi
tiroid yang berjalan lambat yang diikuti oleh gejala-gejala kegagalan tiroid. Keadaan ini
terjadi akibat kadar hormon tiroid berada dibawah nilai optimal (Brunner & Suddarth,
2002).Sedangkan menurut Price (2006) Hipotiroid adalah defisiensi produksi hormon
dari kelenjar tiroid.
Dari beberapa pengertian diatas dapat diketahui bahwa hipotiroidisme merupakan
suatu keadaan yang disebabkan oleh penurunan hormon tiroid yang ditandai dengan
ketidakcukupan produksi hormon tiroid karena hormon tiroid berada di bawah nilai
optimal.
2.2 Etiologi Hipotiroidisme
Hipotiroidisme dapat terjadi akibat malfungsi kelenjar tiroid, hipofisis,
atauhipotalamus. Apabila disebabkan oleh malfungsi kelenjar tiroid, maka kadar HT
yang rendahakan disertai oleh peningkatan kadar TSH dan TRH karena tidak adanya
umpan balik negatifoleh HT pada hipofisis anterior dan hipotalamus. Apabila
hipotiroidisme terjadi akibatmalfungsi hipofisis, maka kadar HT yang rendah disebabkan
oleh rendahnya kadar TSH.TRH dari hipotalamus tinggi karena. tidak adanya umpan
balik negatif baik dari TSHmaupun HT. Hipotiroidisme yang disebabkan oleh malfungsi
hipotalamus akanmenyebabkan rendahnya kadar HT, TSH, dan TRH.
Penyakit Hipotiroidisme

1. Penyakit Hashimoto, juga disebut tiroiditis otoimun, terjadi akibat adanya


otoantibodiyang merusak jaringan kelenjar tiroid. Hal ini menyebabkan penurunan
HT disertaipeningkatan kadar TSH dan TRH akibat umpan balik negatif yang
minimal, Penyebabtiroiditis otoimun tidak diketahui, tetapi tampaknya terdapat
kecenderungan genetikuntuk mengidap penyakit ini. Penyebab yang paling sering
ditemukan adalah tiroiditis Hashimoto.Pada tiroiditis Hashimoto, kelenjar tiroid
seringkali membesar danhipotiroidisme terjadi beberapa bulan kemudian akibat
rusaknya daerah kelenjar yangmasih berfungsi.
2. Penyebab kedua tersering adalah pengobatan terhadap hipertiroidisme. Baik
yodiumradioaktif maupun pembedahan cenderung menyebabkan hipotiroidisme.
3. Gondok

endemik

adalah

hipotiroidisme

akibat

defisiensi

iodium

dalam

makanan.Gondok adalah pembesaran kelenjar tiroid. Pada defisiensi iodiurn terjadi


gondok karenasel-sel tiroid menjadi aktif berlebihan dan hipertrofik dalarn usaha
untuk menyerapsernua iodium yang tersisa dalam. darah. Kadar HT yang rendah akan
disertai kadarTSH dan TRH yang tinggi karena minimnya umpan balik.Kekurangan
yodium jangkapanjang dalam makanan, menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid
yang kurang aktif(hipotiroidisme goitrosa).
4. Kekurangan

yodium

jangka

panjang

merupakan

penyebab

tersering

dari

hipotiroidismedi negara terbelakang.


5. Karsinoma tiroid, tetapi tidak selalu, menyebabkan hipotiroidisme. Namun,
terapiuntuk kanker yang jarang dijumpai ini antara lain adalah tiroidektomi,
pemberian obatpenekan TSH, atau terapi iodium radioaktif untuk mengbancurkan
jaringan tiroid.Semua pengobatan ini dapat menyebabkan hipotiroidisme. Pajanan ke
radiasi, terutamamasa anak-anak, adalah penyebab kanker tiroid. Defisiensi iodium
juga dapatmeningkatkan risiko pembentukan kanker tiroid karena hal tersebut
merangsangproliferasi dan hiperplasia sel tiroid.
2.3Jenis-Jenis Hipertiroidisme
Lebih dari 95% penderita hipotiroid mengalami hipotiroid primer atau tiroidal
yang mengacu kepada disfungsi kelenjar tiroid itu sendiri.Apabila disfungsi tiroid
disebabkan oleh kegagalan kelenjar hipofisis, hipotalamus atau keduanya hipotiroid
sentral (hipotiroid sekunder) atau pituitaria.Jika sepenuhnya disebabkan oleh hipofisis
hipotiroid tersier.
4

a. Primer
1) Goiter : Tiroiditis Hashimoto, fase penyembuhan setelah tiroiditis, defisiensi
yodium
2) Non-goiter : destruksi pembedahan, kondisi setelah pemberian yodium radioaktif
atau radiasi eksternal, agenesis, amiodaron
b. Sekunder :
kegagalan hipotalamus ( TRH, TSH yang berubah-ubah, T4 bebas) atau kegagalan
pituitari ( TSH, T4 bebas)
2.4 Manifestasi Klinis Hipotiroidisme
1. Kelambanan, perlambatan daya pikir, dan gerakan yang canggung lambat
2. Penurunan frekuensi denyut jantung, pembesaran jantung (jantung miksedema), dan
3. penurunan curah jantung
4. Pembengkakkan dan edema kulit, terutama di bawah mata dan di pergelangan kaki
5. Penurunan kecepatan metabolisme, penurunan kebutuhan kalori, penurunan nafsu
makan
6. dan penyerapan zat gizi dari saluran cema
7. Konstipasi
8. Perubahan-perubahan dalam fungsi reproduksi
9. Kulit kering dan bersisik serta rambut kepala dan tubuh yang tipis dan rapuh
2.5 Patofisiologi Hipotiroidisme
Hipotiroid dapat disebabkan oleh gangguan sintesis hormon tiroid atau gangguan
pada respon jaringan terhadap hormon tiroid. Pada dasarnya sistem kerja hormon tiroid
dimulai dari Hipotalamus membuat Thyrotropin Releasing Hormone (TRH) yang
merangsang hipofisis anterior kemudian Hipofisis anterior mensintesis thyrotropin
(Thyroid Stimulating Hormone = TSH) yang merangsang kelenjar tiroid lalu kelenjar
tiroid mensintesis hormon tiroid (Triiodothyronin = T3 dan Tetraiodothyronin = T4 =
Thyroxin) yang merangsang metabolisme jaringan yang meliputi: konsumsi oksigen,
produksi panas tubuh, fungsi syaraf, metabolisme protrein, karbohidrat, lemak, dan
vitamin-vitamin, serta kerja daripada hormon-hormon lain.
Hipotiroidisme dapat terjadi akibat malfungsi kelenjar tiroid, hipofisis, atau
hipotalamus. Apabila disebabkan oleh malfungsi kelenjar tiroid, maka kadar HT yang
5

rendah akan disertai oleh peningkatan kadar TSH dan TRH karena tidak adanya umpan
balik negatif oleh HT pada hipofisis anterior dan hipotalamus. Apabila hipotiroidisme
terjadi akibat malfungsi hipofisis, maka kadar HT yang rendah disebabkan oleh
rendahnya kadar TSH. TRH dari hipotalamus tinggi karena tidak adanya umpan balik
negatif baik dari TSH maupun HT. Hipotiroidisme yang disebabkan oleh malfungsi
hipotalamus akan menyebabkan rendahnya kadar HT, TSH, dan TRH.
Kelenjar tiroid membutuhkan iodine untuk sintesis dan mensekresi hormon
tiroid.Jika diet seseorang kurang mengandung iodine/ jika produksi dari hormon
tiroid.Kelenjar tiroid akan membesar sebagai usaha untuk kompensasi dari kekurangan
hormon. Pada keadaan seperti ini goiter merupakan adaptasi penting pada suatu
defisiensi respon untuk meningkatkan respon sekresi pituitary dari TSH.TSH
menstimulasi tiroid untuk mensekresi T4 lebih banyak ketika level T4 darah rendah.
Biasanya, kelenjar akan membesar dan itu akan menekan struktur di leher dan dada
menyebabkan gejala respirasi disfagia.
Penyakit Hashimoto, juga disebut tiroiditis autotoimun, terjadi akibat adanya
autoantibodi yang merusak jaringan kelenjar tiroid. Hal ini menyebabkan penurunan HT
disertai peningkatan kadar TSH dan TRH akibat umpan balik negatif yang minimal. Pada
tiroiditis Hashimoto, kelenjar tiroid seringkali membesar dan hipotiroidisme terjadi
beberapa

bulan

kemudian

akibat

rusaknya

daerah

kelenjar

yang

masih

berfungsi.Penyebab kedua tersering adalah pengobatan terhadap hipertiroidisme.Baik


yodium radioaktif maupun pembedahan cenderung menyebabkan hipotiroidisme.Gondok
endemik adalah hipotiroidisme akibat defisiensi iodium dalam makanan.Gondok adalah
pembesaran kelenjar tiroid.Pada defisiensi iodiurn terjadi gondok karena sel-sel tiroid
menjadi aktif berlebihan dan hipertrofik dalarn usaha untuk menyerap sernua iodium
yang tersisa dalam darah. Kadar HT yang rendah akan disertai kadar TSH dan TRH yang
tinggi karena minimnya umpan balik.Kekurangan yodium jangka panjang dalam
makanan, menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid yang kurang aktif (hipotiroidisme
goitrosa). Karsinoma tiroid dapat dan tidak selalu menyebabkan hipotiroidisme. Namun,
terapi untuk kanker yang jarang dijumpai ini antara lain adalah tiroidektomi, pemberian
obat penekan TSH, atau terapi iodium radioaktif untuk mengbancurkan jaringan tiroid.
Semua pengobatan ini dapat menyebabkan hipotiroidisme.

Karena sebab-sebab yang dijelaskan di atas maka akan terjadi gangguan


metabolisme. Dengan adanya gangguan metabolisme ini, menyebabkan produksi ADP
dan ATP akan menurun sehingga menyebabkan kelelahan serta terjadinya penurunan
fungsi pernapasan yang berujung pada depresi ventilasi dan timbul dispneu kemudian
pada tahap lebih lanjut kurangnya jumlah ATP dan ADP dalam tubuh juga berdampak
pada sistem sirkulasi tubuh terutama jantung karena suplai oksigen ke jantung ikut
berkurang dan terjadilah bradikardia, disritrmia dan hipotensi. Gangguan pada sistem
sirkulasi juga dapat menyebabkan gangguan pada sistem neurologis yaitu terjadinya
gangguan kesadaran karena suplai oksigen yang menurun ke otak.Selain itu gangguan
metabolisme juga menyebabkan gangguan pada fungsi gastrointestinal dan pada
akhirnya dapat menyebabkan menurunnya fungsi peristaltik usus sehingga menimbulkan
konstipasi.Metabolisme yang terganggu juga berdampak pada turunnya suhu tubuh
karena produksi kalor yang menurun sehingga terjadi intoleransi suhu dingin.
Perubahan yang paling penting menyebabkan penurunan tingkat hormon tiroid
yang mempengaruhi metabolisme lemak. Ada suatu peningkatan hasil kolesterol dalam
serum dan level trigliserida dan sehingga klien berpotensi mengalami aterosklerosis dan
penyakit jantung koroner. Hormon tiroid biasanya berperan dalam produksi sel darah
merah, jadi klien dengan tiroidisme biasanya menunjukkan tanda anemia karena
pembentukan eritrosit yang tidak optimal dengan kemungkinan kekurangan vitamin B12
dan asam folat.

PATHWAY
Gangguan
kelenjar tiroid

Penyebab lain iodium,


hashimotomi, riwayat
pengobatan

Produksi hormon tiroid menurun

Produksi ATP &


ADP

Gangguan hipotalamus
& hipofisis

Fungsi
GI
menurun

Metabolisme tubuh
Kelem
ahan
fisik

Fungsi
pernafa
san

Intoleransi
aktivitas
Depresi
pernafas
an

Pola nafas
tidak
efektif

Gangguan persepsi
sensori
Gangguan Proses Berfikir

Fungsi
saraf

Tonus
otot

Produksi
panas
tubuh

Fungsi
kardiovaskuler

Bradikardi
Hipoter
mia

Penurunan
Curah
Jantung

Resiko
Cidera

Suplai darah
keseluruh tubuh

Suplai O2 & nutrisi ke


otak
Otak tidak dapat berfungsi
secara maksimal

Fungsi
reproduksi

Masa
mentruasi
yang
memanjang

Ketidakef
ektifan
Pola
Seksual

Mortilitas
usus dan
sekresi
hormon
pencernaan
menurun

Konstipasi

Amenore

Disfungsi
Seksual

2.6 Komplikasi Hipotiroidisme


Koma miksedema adalah situasi yang mengancam nyawa yang ditandai oleh
eksaserbasi (perburukan) semua gejala hipotiroidisme termasuk hipotermia tanpa
menggigil, hipotensi, hipoglikemia, hipoventilasi, dan penurunan kesadaran hingga
koma.Kematian dapat terjadi apabila tidak diberikan HT dan stabilisasi semua gejala.
Dalam keadaan darurat(misalnya koma miksedem), hormon tiroid bisa diberikan secara
intravena.
Ada juga risiko yang berkaitan dengan terapi defisiensi tiroid.Resiko ini
mencakup penggantian hormon yang berlebihan, ansietas, atrofi otot, osteoporosis, dan
fibrilasi atrium.Untuk prognosis penyakit ini biasanya respon terhadap pengobatan
umumnya baik sehingga pasien bisa kembali hidup normal bila terus mengkonsumsi obat
sesuai anjuran dokter.
2.7 Pencegahan Hipotiroidisme
Beberapa pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit hipotiroid
ini antara lain:
a. Memastikan kebutuhan yodium tubuh tercukupi dengan tepat mulai dini
b. Pemeriksaan fungsi tiroid sejak dini jika pernah melakukan terapi radioiodium,
pembedahan, atau preparat antitiroid.
c. Pada pasien lansia yang mengalami hipotiroidisme ringan hingga sedang, terapi
penggantian hormone tiroid harus dimulai dengan dosisi rendah dan kemudian
ditingkatkan

secara

perlahan-lahansekali

untuk

mencegah

efek

samping

kardiovaskuler dan neurologi yang serius.


d. Pada masa kehamilan hindari penggunaan obat-obatah antitiroid secara berlebihan,
yodium profilaksis pada daerah-daerah endemik, diagnosis dini melalui pemeriksaan
penyaringan pada neonatus.
e. Sedangkan pada hipotiroidisme dewasa dapat dilakukan dengan pemeriksaan ulang
tahunan.

2.8Pemeriksaan Penujang Hipotiroidisme


Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada penderita hipotiroid ini adalah
1. Pemeriksaan Laboratorium
a. Pemeriksaan T3 dan T4 serum
Jika kadar TSH meningkat, maka T4 menurun sehingga terjadi hipotiroid.
1. T3 serum(0,6 1,85 mg/dl)
2. T4 serum (4,8 12,0 mg/dl)
3. TSH (0,4 6,0 mg/dl)
2. Pemeriksaan TSH
TSH Diproduksi kelenjar hipofise merangsang kelenjar tiroid untuk membuat dan
mengeluarkan hormon tiroid. Saat kadar hormon tiroid menurun, maka TSH akan
menurun. Pemeriksaan TSH menggunakan uji sensitif merupakan scirining awal yang
direkomendasikan saat dicurigai penyakit tiroid (Rumahorbo, 1999). Dengan
mengetahui kadar TSH, maka dapat dibedakan anatara pasien hipotiroid,hipertiroid
dan orang normal. Pada dasar nya TSH nrmal dapat menyingkirkan penyakit tiroid
primer.Kadar TSH meningkat sehingga terjadi hipotiroid.
3. Pemeriksaan Radiologis
Ambilain iodium radioaktif dan scan tiroid biasanya tidak banyak manfaatnya
pada hipotiroidisme. Tetapi Scan harus dilakukan jika terdapat keraguan mengenai
nodularitas tiroid. Scan tiroid bermanfaat untuk mendeteksi kelainan anatomi,
jaringan ektopik (tiroid lingual, tiroid mediastinum, trauma ovarii), tumor metastatik.
Pemeriksaan ini bermanfaat untuk mempelajarai nodul tiroid.
Ultrasonografi tiroid sangat bermanfaat untuk memastikan apakah nodul tiroid,
yang nonfungsional pada sidikan isotop, suatu kistik atau padat.Jika kistik, dilakukan
aspirasi dan pemeriksaan sitologisebagai pedoman keperluan pembedahan.
Pemeriksaan
keterlambatan

radiologis

dalam

rangka

pertumbuhan,
10

menunjukkan
disgenesis

tulang

epifisis,

yang
dan

mengalami

keterlambatan

perkembangan gigi. Tes-tes laboratorium yang digunakan untuk memastikan


hipotiroidisme antara lain kadar tiroksin dan triyodotironin serum yang rendah, BMR
yang rendah, dan peningkatan kolesterol (Price, 2006). Dalam hal ini, dapat dijumpai
kalsifikasi bilateral pada dasar tengkorak.Densitas tulang bisa normal atau meningkat.
4. Pmeriksaan Fisik
Bila terdapat kecurigaan adanya hipotiroidisme, penemuan diferensial yang
paling penting pada pemeriksaan fisik adalah ada tidaknya goiter.Riwayat operasi
tiroid yang sebelumnya harus ditanyakan disamping pemeriksaan yang cermat
terhadap tanda-tanda hipotiroidisme termasuk hipotermia, bradikardi, kulit kering,
rambut kasar, bicara lambat, lidah tebal, dan pembengkakan periorbiotal.Tanda klinis
yang paling khusus pada hipotiroidisme adalah fasr relaksasi yang lambat pada refleks
tendon dalam.
2.9Penatalaksanaan Hipotiroidisme
Tujuan primer penatalaksanaan hipotiroidisme adalah memulihkan metabolisme
pasien kembali kepada keadaan metabolik normal dengan cara mengambil hormon yang
hilang. Levitiroksin sintetik (Syntiroid atau levothroid) merupakan preparat terpilih
untuk pengobatan hipotiroidisme dan supresi penyakit goiter nontoksis.Dosis terapi
penggantian hormonal didasarkan pada konsentrasi TSH dalam serum pasien.Preparat
tiroid yang dikeringkan jarang digunakan karena sering menyebabakan kenaikan
sementara T3 dan kadang-kadang disertai dengan gejala hipertiroidesme. Jika terapi
pengantian sudah memadai, gejala miksedema akan menghilang dan aktivitas metabolik
yang normal dapat timbul kembali.
Pengobatan hipotiroidisme antara lain dengan pemberian tiroksin, biasanya
dimulai dalam dosis rendah ( 50g/hari ). Khususnya pada pasien yang lebih tua atau
pada pasien dengan miksedema berat, dan setelah beberapa hari atau minggu, sedikit
demi sedikit ditingkatkan sampai akhirnya mencapai dosis pemeliharaan maksimal
150g/hari.Pada dewasa muda, dosis pemeliharaan maksimal dapat dimulai secepatnya.
Pengukuran kadar TSH pada pasien hipotiroidisme primer dapat digunakan untuk
menentukan manfaat terapi pengganti. Kadar ini harus dipertahankan dalam kisaran
normal. Pengobatan yang adekuat pada pasien dengan hipotiroidisme sekunder sebaiknya
dengan mengikuti kadar tiroksin bebas.

11

12