Anda di halaman 1dari 12

BLOK XVII: NEUROPSIKIATRI

PENUGASAN
CEREBRAL PALSY

NAMA: KHALIDA FAILASUFI


NIM : H1A012027

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MATARAM
2015

PENDAHULUAN
Cerebral palsy adalah keadaan pada anak dengan kelainan motorik dini yang disebabkan
suatu cacat otak atau kerusakan otak non progresif pada usia muda. Ditandai dengan paresis,
gerakan volunter, atau gangguan koordinasi. Cerebral Palsy adalah suatu keadaan kerusakan
jaringan otak yang kekal dan tidak progresif, terjadi pada waktu masih muda (sejak dilahirkan)
serta merintangi perkembangan otak normal dengan gambaran klinik dapat berubah selama
hidup dan menunjukan kelainan dalam sikap dan pergerakan, disertai kelainan neurologis berupa
kelumpuhan spastis, gangguan ganglia basal dan serebelum juga kelainan mental ( Perdossi,
2011 ). Istilah cerebral ditujukan pada kedua belahan otak atau hemisfer dan palsi
mendeskripsikan bermacam penyakit yang mengenai pusat pengendalian pergerakan tubuh. Jadi
penyakit tersebut tidak disebabkan oleh masalah pada otot atau jaringan saraf tepi, melainkan
terjadi perkembangan yang salah atau kerusakan pada area motorik otak yang akan mengganggu
kemampuan otak untuk mengontrol pergerakan dan postur secara adekuat.

DEFINISI
Cerebral palsy adalah gangguan perkembangan gerakan dan postur yang non progresif
tetapi sering berubah, gangguan motorik akibat anomaly dari otak yang timbul sejak anak
dilahirkan ( Sankar and mundku, 2005 ). Ini akan menyebabkan adanya keterbatasan aktivitas,
dikaitkan dengan gangguan yang non progresif yang terjadi saat otak bayi berkembang atau
ketika masih janin. Gangguan motorik serbral palsy sering disertai dengan gangguan sensasi,
persepsi, kognitif, komunikasi dan prilaku, epilepsy, dan masalah musculoskeletal ( Novak ,
2014 ).

EPIDEMIOLOGI
Insidensi serebral palsi tidak berubah lebih dari 4 dekade walaupun telah terdapat
kemajuan yang signifikan dalam perawatan medis neonates. Pada negara maju, secara
keseluruhan prevalensi diperkirakan sekitar 2 hingga 2,5 kasus per 1000 kelahiran hidup.
Prevalensi ini diantara bayi yang prematur dan yang sangat prematur diketahui cukup tinggi.
Pada negara berkembang, diperkirakan prevalensi serebral palsi adalah 1,5-5,6 kasus per 1000

kelahiran hidup. Perkiraan ini dapat dikatakan dapat tidak sesuai dengan kenyataan dikarenakan
kurangnya data, kurangnya akses kesehatan, hanya merupakan perwakilan dari kasus yang parah,
dan karena kriteria diagnostic yang tidak konsisten (Hamid, 2013).
Angka kejadian serebral palsi tidak dipengaruhi oleh ras. Selain itu, status ekonomi yang
rendah dan jenis kelamin laki-laki merupakan faktor resiko serebral palsi. Keterkaitan serebral
palsi dengan usia ialah biasanya serebral palsi terjadi selama perkembangan otak dewasa.
Kejadian ini dapat berlangsung kapan saja antara perkebangan janin dan hingga usia 3 tahun,
namun biasanya anak-anak tidak terdiagnosis hingga setelah usia 1 tahun (Hamid, 2013).

ETIOLOGI
Cerebral Palsy disebabkan oleh trauma, toksemia kehamilan, prematuritas, anoksia,
infeksi saat kehamilan dan adanya anomali perkembangan otak. Keadaan tersebut dapat
mengakibatkan kelainan otak apabila pertumbuhan dan perkembangan otak belum selesai.
Spasticity disebabkan oleh kelainan cerebelum. Athetosis disebabkan oleh kelainan basal ganglia.
Rigidity disebabkan oleh kelainan basal ganglia. Ataxia disebabkan oleh kelainan cerebelum
( Syarif, 2012 ).

PATOFISIOLOGI
Cerebral palsy bukan merupakan satu penyakit dengan satu penyebab. Cerebral palsy
merupakan grup penyakit dengan masalah mengatur gerakan, tetapi dapat mempunyai penyabab
yang berbeda. Untuk menentukan penyebab cerebral palsy.
Adanya malformasi hambatan pada vaskuler, atrofi, hilangnya neuron dan degenerasi
laminar akan menimbulkan narrowergyiri, suluran sulcus dan berat otak rendah. Cerebral palsy
digambarkan sebagai kekacauan pergerakan dan postur tubuh yang disebabkan oleh cacat
nonprogressive atau luka otak pada saat anak-anak. Suatu presentasi scerebral palsy dapat
diakibatkan oleh suatu dasar kelainan (struktural otak : awal sebelum dilahirkan, perinatal, atau
luka-luka / kerugian setelah kelahiran dalam kaitan dengan ketidakcukupan vaskuler, toksin atau
infeksi).

Di USA, sekitar 10 20% cerebral palsy disebabkan oleh karena penyakit setelah lahir.
Dapat juga merupakan hasil dari kerusakan otak pada bulan bulan pertama atau tahun pertama
kehidupan yang merupakan sisa infeksi otak, misalnya meningitis bakteri atau ensefalitis virus,
atau merupakan hasil dari trauma kepala yang sering akibat kecelakaan lalu lintas, jatuh atau
penganiayaan anak.

MANIFESTASI KLINIS
Gejala awal dari Cerebral Palsy biasanya akan tampak < 3 tahun, dan orang tua mulai
menjadi curiga dengan kemampuan motorik anak mereka. Bayi dengan cerebral palsy akan
mengalami kelambatan dalam perkembangan, misalnya tengkurap, duduk, merangkak,
tersenyum atau berjalan ( Perdossi, 2011 ).
1) Spastisitas
Terdapat peninggian tonus otot dan refleks yang disertai dengan klonus dan reflek
Babinski yang positif. Tonus otot yang meninggi itu menetap dan tidak hilang meskipun
penderita dalam keadaan tidur. Peninggian tonus ini tidak sama derajatnya pada suatu
gabungan otot, karena itu tampak sifat yang khas dengan kecenderungan terjadi
kontraktur, misalnya lengan dalam aduksi, fleksi pada sendi siku dan pergelangan tangan
dalam pronasi serta jari-jari dalam fleksi sehingga posisi ibu jari melintang di telapak
tangan. Tungkai dalam sikap aduksi, fleksi pada sendi paha dan lutut, kaki dalam flesi
plantar dan telapak kaki berputar ke dalam. Tonic neck reflex dan refleks neonatal
menghilang pada waktunya. Kerusakan biasanya terletak di traktus kortikospinalis.
Bentuk kelumpuhan spastisitas tergantung kepada letak dan besarnya kerusakan yaitu
monoplegia / monoparesis. Kelumpuhan keempat anggota gerak, tetapi salah satu
anggota gerak lebih hebat dari yang lainnya; hemiplegia/ hemiparesis adalah kelumpuhan
lengan dan tungkai dipihak yang sama; diplegia/ diparesis adalah kelumpuhan keempat
anggota gerak tetapi tungkai lebih hebat daripada lengan; tetraplegia/ tetraparesis adalah
kelimpuhan keempat anggota gerak, lengan lebih atau sama hebatnya dibandingkan
dengan tungkai (Shamsoddini, 2014 ).
2) Tonus otot yang berubah.

Bayi dengan gejala ini, pada usia bulan pertama tampak flaksid (lemas) dan berbaring
seperti kodok terlentang sehingga tampak seperti kelainan pada lower motor neuron.
Menjelang umur 1 tahun barulah terjadi perubahan tonus otot dari rendah hingga tinggi.
Bila dibiarkan berbaring tampak fleksid dan sikapnya seperti kodok terlentang, tetapi bila
dirangsang atau mulai diperiksa otot tonusnya berubah menjadi spastis, Refleks otot yang
normal dan refleks babinski negatif, tetapi yang khas ialah refelek neonatal dan tonic
neck reflex menetap. Kerusakan biasanya terletak di batang otak dan disebabkan oleh
afiksia perinatal atau ikterus (Shamsoddini, 2014 ).
3) Koreo-atetosis
Kelainan yang khas yaitu sikap yang abnormal dengan pergerakan yang terjadi dengan
sendirinya (involuntary movement). Pada 6 bulan pertama tampak flaksid, tetapa sesudah
itu barulah muncul kelainan tersebut. Refleks neonatal menetap dan tampak adanya
perubahan tonus otot. Dapat timbul juga gejala spastisitas dan ataksia, kerusakan terletak
diganglia basal disebabkan oleh asfiksia berat atau ikterus kern pada masa neonatus
(Shamsoddini, 2014 ).
4) Ataksia
Ataksia adalah gangguan koordinasi. Bayi dalam golongan ini biasanya flaksid dan
menunjukan perkembangan motorik yang lambat. Kehilangan keseimbangan tamapak
bila mulai belajar duduk. Mulai berjalan sangat lambat dan semua pergerakan canggung
dan kaku. Kerusakan terletak diserebelum.
5) Gangguan pendengaran
Terdapat 5-10% anak dengan serebral palsi. Gangguan berupa kelainan neurogen
terutama persepsi nadi tinggi, sehingga sulit menangkap kata-kata. Terdapat pada
golongan koreo-atetosis
6) Gangguan bicara
Disebabkan oleh gangguan pendengaran atau retradasi mental. Gerakan yang terjadi
dengan sendirinya dibibir dan lidah menyebabkan sukar mengontrol otot-otot tersebut
sehingga anak sulit membentuk kata-kata dan sering tampak anak berliur (Shamsoddini,
2014 ).

7) Gangguan mata
Gangguan mata biasanya berupa strabismus konvergen dan kelainan refraksi pada
keadaan asfiksia yang berat dapat terjadi katarak (Shamsoddini, 2014 ).

DIAGNOSIS
- Laboratorium
a. Fungsi tiroid
Fungsi tiroid yang abnormal dapat berhubungan dengan kelainan pada otot atau reflex
tendon dalam atau gangguan gerak.
b. Peningkatan laktat dan piruvat
Kelainan ini dapat menujukkan suatu kelainan metabolism energy (cytopathy
mitokondria)
c. Peningkatan amonia
Peningkatan kadar amonia dapat menunjukkan disfungsi hati
d. Analisis kromosom
Kromosom analisis, termasuk analisis kariotipe dan tes DNA tertentu dapat diindikasikan
untuk menyingkirkan sindrom genetik, jika fitur dismorfik atau kelainan berbagai sistem
organ yang hadir.

TATALAKSANA
Tidak ada terapi spesifik terhadap Cerebral palsy. Terapi bersifat simtomatik, yang
diharapkan akan memperbaiki kondisi pasien. Terapi yang sangat dini akan dapat mencegah atau
mengurangi gejala-gejala neurologik. Untuk menentukan jenis terapi atau latihan yang diberikan
dan untuk menentukan ke- berhasilannya maka perlu diperhatikan penggolongan Cerebral palsy
berdasarkan derajat kemampuan fungsionil yaitu derajat ringan, sedang dan berat. Tujuan terapi
pasien Cerebral palsy adalah membantu pasien dan keluarganya memperbaiki fungsi motorik
dan mencegah deformitas serta penyesuaian emosional dan pendidikan sehingga pendenta sedikit
mungkin memerlukan pertolongan orang lain, diharapkan penderita bisa mandiri ( Perdossi, 2011
).

Pada keadaan ini perlu kerja sama yang baik dan merupakan suatu team antara dokter anak,
neurolog, psikiater, dokter mata, dokter THT, ahli ortopedi, psikologi, fisioterapi, occupational
therapist, pekerja sosial, guru sekolah luar biasa dan orang tua penderita ( Perdossi, 2011 ).
a) Fisioterapi
Fisioterapi dini dan intensif untuk mencegah kecacatan, juga penanganan psikolog atau
psikiater untuk mengatasi perubahan tingkah laku pada anak yang lebih besar.
Tindakan ini harus segera dimulai secara intensif. Orang tua turut membantu program
latihan di rumah. Untuk mencegah kontraktur perlu diperhatikan posisi penderita pada
waktu istirahat atau tidur. Bagi penderita yang berat dianjurkan untuk sementara tinggal
di suatu pusat latihan. Fisioterapi ini diakukan sepanjang penderita hidup ( Dimitrijevi,
2014 ).
b) Pembedahan
Bila terdapat hipertonus otot atau hiperspastisitas, dianjurkan untuk melakukn
pembedahan otot, tendon, atau tulang untuk reposisi kelainan tersebut. Pembedahan
stereotaktik dianjurkan pada penderita dengan gerakan koreo-atetosis yang berlebihan
( Dimitrijevi, 2014 ).
c) Pendidikan
Penderita Cerebral palsy dididik sesuai tingkat intelegensinya, di sekolah luar biasa
dan bila mungkin di sekolah biasa bersama-sama dengan anak yang normal. Mereka
sebaiknya diperlakukan sama dengan anak yang normal, yaitu pulang ke rumah dengan
kendaraan bersama-sama, sehingga mereka tidak merasa diasingkan, hidup dalam
suasana normal. Orang tua juga janganlah melindungi anak secara berlebihan dan untuk
ini pekerja sosial dapat membantu dirumah dengan nasehat seperlunya.
d) Obat-obatan
Pada penderita dengan kejang diberikan obat antikonvulsan rumat yang sesuai dengan
karakteristik kejangnya, misalnya luminal, dilantin, dan sebagainya. Pada keadaan tonus
otot berlebihan, obat dari golongan benzodiazepin dapat menolong, misalnya diazepam,
klordiazepoksid (librium), nitrazepam (mogadon). Pada keadaan koreoatestosis
diberikan artan. Imipramin (tofranil) diberikan pada penderita dengan depresi.
Penderita Cerebral Palsy memerlukan tatalaksana terpadu / multi disipliner
mengingat masalah yang dihadapi sangat kompleks, yaitu:
a. Gangguan motorik

b. Retardasi mental
c. Kejang
d. Gangguan pendengaran
e. Gangguan rasa raba
f. Gangguan bahasa dan bicara
g. Makan/gizi
h. Gangguan mengontrol miksi (ngompol)
i. Gangguan konsentrasi
j. Gangguan emosi
k. Gangguan belajar

Tim diagnostik dan penatalaksanaan Cerebral Palsy ini meliputi:


1. Tim Inti :
a.

Neuropediatri

b.

Dokter Gigi

c.

Psikolog

d.

Perawat

e.

Fisioterapi (terapi kerja, terapi bicara)

f.

Pekerja Sosial (pengunjung rumah)

2. Tim Konsultasi :
a.

Tim Tumbuh Kembang Anak dan Remaja

b.

Dokter Bedah (Ortopedi)

c.

Dokter Mata

d.

Dokter THT

e.

Psikiater Anak

f.

Guru SLB (cacat tubuh, tunanetra, tunarungu)

g.
Penatalaksanaan Cerebral Palsy meliputi:
Medikamentosa, untuk mengatasi spastisitas :
Benzodiazepin :

Usia < 6 bulan tidak direkomendasi.


Usia > 6 bulan diberikan dosis 0,12-0,8 mg/KgBB/hari PO dibagi 6-8 jam (tidak lebih

10 mg/dosis).
Baclofen (Lioresal) : dosis yang diberikan 3 x 10 mg PO (dapat dinaikkan sampai 40-80
mg/hari).
Dantrolene (Dantrium) dosis yang diberikan dimulai dari 25 mg/hari, dapat dinaikkan
sampai 40 mg/hari.
Haloperidol dosis dapat diberikan 0,03 mg/KgBB/hari PO dosis tunggal (untuk
mengurangi gerakan involusi).
Botulinum toksin A dengan ketentuan :
Usia < 12 tahun belum direkomendasikan.
Usia > 12 tahun : 1,25-2,5 ml (0,05-0,1 ml tiap 3-4 bulan).
Apabila belum berhasil dosis berikutnya dinaikkan 2x/tidak lebih 25 ml perkali atau 200
ml perbulan.

KOMPLIKASI
Komplikasi serebral palsi dapat mempengaruhi beberapa sistem. Msialnya komplikasi
pada kulit termasuk ulkus dekubitus dan luka, sementara komplikasi ortopedi adalah kontrakur,
dislokasi panggul, dan atau skoliosis.
Adapun komplikasi pada gastrointestinal ialah:
-

Obesitas
GERD dan dapat dikaitkan dengan pneumonia aspirasi
Konstipasi
Karies gigi
Kegagalan dalam pertumbuhan
Masalah gigi yang merupakan salah satu komplikasi dari serebral palsi dapat juga

mencakup enamel disgenesis, maloklusi, dan hyperplasia gingival. Peningkatan kejaidan dari
masalah gigi biasanya bersifat sekunder terkait dengan penggunaan obat, terutama obat yang
diberikan pada bayi prematur dan pemberian agen antiepilepsi.
Komplikasi neurologis meliputi:

Epilepsy
Gangguan pendengaran (terutama pada pasien yang memiliki bilirubin ensefalopati akut)
Gangguan penglihatan
Strabismus
Epilepsy terjadi pada sekitar 15-60% anak dengan serebral palsi dan lebih sering terjadi

pada pasien dengan keterbelakangan mental.


Komplikasi kognitif, psikologis, dan perilaku meliputi:
-

ADHD
Penurunan kinerja khususnya akademik
Peningkatan prevalensi depresi
Kesulitan intergarsi sensorik
Peningkatan prevalenis gangguan perkembangan progresif atau autisme.

PROGNOSIS
Prognosisnya sebagian besar tergantung dari jenis kerusakan motoriknya. Kematian juga
sangat terkait dengan tingkat gangguan fungsional serta terkait dengan gangguan non-motorik.
berdasarkan salah satu penelitian terhadap lebih dari 2.014 individu dengan cesebral palsy ,
prediktor terkuat dari kematian adalah cacat intelektual. Misalnya, diantara orang-orang dengan
cacat intelektual yang berat yaitu IQ <20, hanya 1,5 % yang bisa bertahan sampai dewasa,
sedangkan diantara mereka dengan IQ >35, 92% bertahan yang sampai dewasa. Secara umum,
dengan meningkatnya risiko kematian secara bertahap berbanding lurus dengan meningkatnya
jumlah gangguan termasuk intelektual, fungsi anggota tbuh, pendengaran, dan penglihatan
( Michael, 2008).

KESIMPULAN
Cerebral Palsy adalah suatu keadaan kerusakan jaringan otak yang kekal dan tidak
progresif, terjadi pada waktu masih muda (sejak dilahirkan) serta merintangi perkembangan otak
normal dengan gambaran klinik dapat berubah selama hidup dan menunjukan kelainan dalam
sikap dan pergerakan disertai kelainan neurologis berupa kelumpuhan spastis, gangguan ganglia
basal dan serebelum juga kelainan mental. Cerebral Palsy disebabkan oleh trauma, toksemia

kehamilan, prematuritas, anoksia, infeksi saat kehamilan dan adanya anomali perkembangan
otak. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan kelainan otak apabila pertumbuhan dan
perkembangan otak belum selesai. Gejala awal dari Cerebral Palsy biasanya akan tampak < 3
tahun, dan orang tua mulai menjadi curiga dengan kemampuan motorik anak mereka. Bayi
dengan cerebral palsy akan mengalami kelambatan dalam perkembangan, misalnya tengkurap,
duduk, merangkak, tersenyum atau berjalan. Tidak ada terapi spesifik terhadap Cerebral palsy.
Terapi bersifat simtomatik, yang diharapkan akan memperbaiki kondisi pasien. Terapi yang
sangat dini akan dapat mencegah atau mengurangi gejala-gejala neurologik. Untuk menentukan
jenis terapi atau latihan yang diberikan dan untuk menentukan ke- berhasilannya maka perlu
diperhatikan penggolongan Cerebral palsy berdasarkan derajat kemampuan fungsionil yaitu
derajat ringan, sedang dan berat.

DAFTAR PUSTAKA
1. Dimitrijevi, L. 2014. Assessment and Treatment of Spasticity in Children with Cerebral
Palsy. Scientific Journal of the Faculty of Medicine in Ni 2014;31(3):163-169. Available
at : http://www.medfak.ni.ac.rs/acta%20facultatis/2014/3-2014/3.pdf. ( Acessed at :
Kamis, 30 April 2015 ).
2. Hamid, HZ. 2013. Cerebral Palsy. Medscape Journal.
3. Novak I. 2014. Evidence-Based Diagnosis, Health Care,and Rehabilitation for Children
With Cerebral Palsy. Topical Review Article. Journal of Child Neurology 2014, Vol.
29(8) 1141-1156 http://www.aacpdm.org/UserFiles/file/IC172.pdf
4. PERDOSSI. 2011. Buku Pedoman Pelayanan Medis Dan Standar Prosedur Operasional
NeurologI. PERDOSSI : Jakarta
5. Sankar C and Mundku N. 2005. Cerebral PalsyDefinition, Classification, Etiology and
Early Diagnosis. Symposium on Developmental and Behavioral Disorders I .

Department of Developmental Pediatrics, Bangalore Children's Hospital, City Centre,


Bangalore, India. Indian Journal of Pediatrics, Volume 72October, 2005
http://medind.nic.in/icb/t06/i5/icbt06i5p401.pdf
6. Shamsoddini, A. Et al. 2014. Management of Spasticity in Children with Cerebral Palsy.
Iranian Journal of Pediatrics, Volume 24 (Number 4), August 2014, Pages: 345-351.
Available at : http://www.bioline.org.br/pdf?pe14064. ( Acessed at : Kamis, 30 April 2015
).
7. Syarif, WF. 2012. Perawatan Dental Anak Dengan Ceribral Palsy. Fakultas Kedokteran
Gigi Universitas Padjadjaran Bandung.
.