Anda di halaman 1dari 7

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
3.1.1
Identitas
Pada umunya terjadi pada orang-orang yang hidup di daerah utara dengan
temperatus tinggi, terutama pada dewasa muda (20-40th).
3.1.2
Keluhan Utama
Muncul keluhan lemah pada anggota badan bahkan mengalami spastisitas /
kekejangan dan kaku otot, kerusakan penglihatan.
3.1.3
Riwayat Penyakit Dahulu
Biasanya klien pernah mengalami pengakit autoimun.
3.1.4
Riwayat Penyakit Sekarang
Pada umunya terjadi demilinasi ireguler pada susunan saraf pusat perier
yang mengakibatkan erbagai derajat penurunan motorik, sensorik, dan juga
kognitif
3.1.5
Riwayat penyakit keluarga
Penyakit ini sedikit lebih banyak ditemukan di antara keluarga yang
pernah menderita penyakit tersebut, yaitu kira-kira 6-8 kali lebih sering pada
keluarga dekat.
3.1.6
Pengkajian psikososiospiritual
Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien untuk menilai
respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan perubahan peran
klien dalam keluarga dan masyarakat serta respons atau pengaruhnya dalam
kehidupan sehari-harinya, baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat.
Adanya perubahan hubungan dan peran karena klien mengalami kesulitan untuk
berkomunikasi akibat gangguan bicara. Pada pola persepsi dan konsep diri,
didapatkan klien merasa tidak berdaya, tidak ada harapan,mudah marah dan tidak
kooperatif.perubahan yang terpenting pada klien dengan penyakit mutiple
sclerosis adalah adanya gangguan afek, berupa euforia. Keluhan lain yang
melibatkan gangguan serebral dapat berupa hilangnya daya ingat dan dimensia.
3.1.7
Pemeriksaan Fisik
3.1.7.1 Keadaan umum
Klien dengan mutiple sclerosis umumnya tidak mengalami penurunan
kesadaran. Adanya perubahan pada tanda-tanda vital, meliputi bradikardi,
hipotensi, dan penurunan frekuensi pernapasan berhubungan dengan bercak lesi di
medula spinalis.
3.1.7.2 B1 (Breathing)

Pada umumnya klien dengan mutiple sclerosis tidak mengalami gangguan


pada sistem pernapasan.pada beberapa klien yang telah lama menderita mutiple
sclerosis dengan tampak dari tirah baring lama, mengalami gangguan fungsi
pernapasan. Pemeriksaan fisik yang didapat mencakup hal-hal sebagai beikut:

Inspeksi umum : didapatkan klien batuk atau penurunan kemampuan untuk


batuk efektif, peningkatan produksi sputum, sesak nafas, dan penggunaan otot

bantu napas.
Palpasi : taktil premitus seimbang kanan dan kiri
Perkusi : adanya suara resonan pada seluruh lapangan paru
Auskultasi : bunyi napas tambahan seperti napas stridor,ronkhi pada klien
dengan peningkatan produksi sekret dan kemampuan batuk yang menurun yang

sering didapatkan pada klien dengan inaktivitas


3.1.7.3 B2 (Blood)
Pada umumnya klien dengan mutiple sclerosis tidak mengalami gangguan
pada sistem kardiovaskuler.akibat dari tirah baring lama dan inaktivitas biasanya
klien mengalami hipotensi postural.
3.1.7.4 B3 (Brain)
Pengkajian B3 (brain) merupakan pengkajian fokus atau lebih lengkap
dibandingkan pengkajian pada sistem lainnya. Inspeksi umum didapatkan
berbagai manifestasi akibat perubahan tingkah laku.
3.1.7.5 B4 (Bladder)
Disfungsi kandung kemih. Lesi pada traktus kortokospinalis menimbulkan
gangguan pengaturan spingtersehingga timbul keraguan, frekuensi dan urgensi
yang menunjukkan berkurangnya kapasitas kandung kemih yang spatis.selalin itu
juga timbul retensi dan inkontinensia.
3.1.7.6 B5 (Bowel)
Pemenuhan nutrisi berkurang berhubungan dengan asupan nutrisi yang kurang
karena kelemahan fisik umum dan perubahan status kognitif. Penurunan aktivitas
umum klien sering mengalami konstipasi.
3.1.7.7 B6 (Bone)
Pada keadaan pasien mutiple sclerosisbiasanya didapatkan adanya kesuliatan
untuk beraktivitas karena kelemahan spastik anggota gerak.kelemahan anggota
gerak pada satu sisi tubuh atau terbagi secara asimetris pada keempat anggota
gerak.merasa lelah dan berat pada satu tungkai, dan pada waktu berjalan terlihat
jelas kaki yang sebelah terseret maju, dan pengontrolan yang kurang sekali. Klien
dapat mengeluh tungkainya seakan-akan meloncat secara spontan terutama

apabila ia sedang berada di tempat tidur.keadaan spatis yang lebih berat disertai
dengan spasme otot yang nyeri.
3.2 Diagnosa keperawatan
3.2.1

Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan, paresis, dan

spastisitas.
3.2.2

Resiko terhadap cedera berhubungan dengan kerusakan sensori dan

penglihatan.
3.2.3

Defisit perawatan diri (makan,minum,berpakaian,higiene) berhubungan

dengan perubahan kemampuan merawat diri sendiri, kelemahan fisik spastis.


3.2.4

Resiko tinggi kerusakan intergrasi jaringan berhubungan dengan tirah

baring lama.
3.3 Intervensi dan Rasional
3.3.1

Dix 1 : Hambatan mobilitas fisik yang b.d kelemahan, paresis, dan spastisitas
Tujuan : Dalam waktu 3 x 24 jam klien mampu melaksanakan aktifitas fisik sesuai
dengan kemampuannya
Kriteria :
Klien dapat ikut serta dalam program latihan
Tidak terjadi kontraktor sendi
Bertambahnya kekuatan otot
Klien menunjukkan tindakkan untuk meningkatkan mobilitas
Intervensi

Kaji mobilitas yang ada dan observasi terhadap peningkatan kerusakan, kaji
secara teratur fungsi motoric

R/ mengetahui tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktifitas

Modifikasi peningkatan mobilitas fisik


o R/ relaksasi dan koordinasi latihan otot meningkatkan efisiensi otot pada klien
multipel sklerosis.

Anjurkan teknik aktifitas dan teknik istirahat


o R/ klien dianjurkan untuk melakukan aktifitas melelahkan dalam waktu singkat,
karena lamanya latihan yang melelahkan ekstremitas dapat menyebabkan paresis,
kebas, atau tidak ada koordinasi.

Ajarkan teknik latihan jalan


o R/ Latihan berjalan meningkatkan gaya berjalan, karena umumnya pada keadaan
tersebut kaki dan telapak kaki kehilangan sensasi positif.

Ubah posisi klien tiap 2 jam

R/ menurunkan resiko terjadinya iskemia jaringan akibat sirkulasi darah yang

jelek pada daerah yang tertekan.


Ajarkan klien untuk melakukan latihan gerak aktif pada ekstermitas yang

tidak sakit
R/ Gerakan aktif memberikan massa, tonus dan kekuatan otot serta memperbaiki

funsi jantung dan pernapasan

Lakukan gerak pasif pada ekstermitas yang sakit.


o R/ otot volunteer akan kehilangan tonus dan kekuatannya bila tidak dilatih untuk
digerakan.

Bantu klien melakukan latihan ROM, perawatan diri sesuai toleransi


o R/ untuk memelihara fleksibilitas sendi sesuai kemampuannya

Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien


o R/ peningkatan kemampuan dalam mobilisasi ektremitas dapat ditingkatkan
dengan latihan fisik dari tim fisioterapi
3.3.2

Dix 2 : Resiko cedera yang b.d kerusakan sensori dan penglihatan, dampak

tirah baring lama dan kelemahan spastis


Tujuan : dalam waktu 3x 24 jam resiko trauma tidak terjadi
Kriteria :
Klien mau berpartisipasi terhadap pencegahan trauma
Decubitus tidak terjadi
Kontraktur sendi tidak terjadi
Klien tidak jatuh dari tempat tidur
Intervensi

Pertahankan tirah baring dan imobilisasi sesuai indikasi


R/ meminimalkan rangsangan nyeri akibat gesekkan antara fragmen tulang
dengan jaringan lunak disekitarnya

Berikan kacamata yang sesuai dengan klien


o R/ tameng mata atau kacamata penutup dapat digunakan untuk memblok implus
penglihatan pada satu mata bila klien mengalami diplopia atau penglihatan ganda

Minimalkan efek imobilitas.


o R/ oleh karena aktifitas fisik dan imobilisasi sering terjadi pada multipel sklerosis,
maka komlikasi yang di hubungkan dengan imobilisasi mencakup dekubitus dan
langka untuk mencegahnya

Modifikasi pencegahan cedera :


o R/ pencegahan cedera dilakukan pada klien multipel sklerosis jika disfungsi
motorik menyebabkan masalah dalam tidak ada koordinasi dan adanya kekakuan

atau jika ataksia ada, klien resiko jatuh.


Modifikasi lingkungan

R/ untuk mengatasi ketidak mampuan, klien di anjurkan untuk dengan kaki


kosong pada ruang yang luas untuk menyediakan dasar yang luas dan untuk

meningkatkan kemampuan berjalan dengan stabil

Ajarkan teknik berjalan


o R/ jika kehilangan sensasi terhadap posisi tubuh, klien di anjurkan untuk melihat
kaki sambil berjalan

Berikan terapi okupasi


o R/ terapi okupasi merupakan sumber yang membantu individu dalam memberi
anjuran dan menjamin bantuan untuk maningkatkan kemandirian

Meminimalkan resiko decubitus


o R/ oleh karena hilangnya sensori dapat menyebabkan bertambahnya kehilangan
gerakkan motoric. Decubitus terus diatasi untuk inegritas kulit. Penggunaan kursi
roda meningkatkan resiko.

Inspeksi kulit dibagian distal setiap hari ( pantau kulit dan membran mukosa
o

terhadap iritasi, kemerahan, atau lecet-lecet )


R/ deteksi dini adanya gangguan sirkulasi dan hilangnya sensasi resiko tinggi

kerusakan integritas kulit kemungkinan komplikasi imobilisasi

Minimalkan spastisitas dan kontraktur


o R/ spastisitas otot biasa terjadi dan terjadi pada tahap lanjut, yang terlihat dalam
bentuk addukor yang berat pada pinggul, dengan spasme fleksor pada pinggul
dan lutut.

Ajarkan teknik latihan


o R/ latihan setiap hari untuk menguatkan otot diberikan untuk meminimalkan
kontraktur sendi. Perhatian khusus diberikan pada otot-otot paha, otot
gatroknemeus, adductor, biseps dan pergelangan tangan, serta fleksor jari-jari

Pertahankan sendi 90 derajad terhadap papan kaki


o R/ telapak kaki dalam posisi 90 derajad dapat mencegah footdrop

Evaluasi tanda / gejala perluasan cedera jaringan ( peradangan lokal /


o
3.3.3

sistemik, sperti peningkatan nyeri, edema dan demam )


R/ menilai perkembangan masalah klien

Dix 3 : Perubahan pola eliminasi urin yang b.d kelumpuhan saraf perkemihan
Tujuan : dalam waktu 2 x 24 jam eliminasi urin terpenuhi
Kriteria hasil :

Pemenuhan eliminasi urin dapat dilaksanakan dengan atau tidak


mengguanakan keteter

Produksi 50 cc/jam

Keluhan eliminasi urin tidak ada


Intervensi


Kaji pola berkemih dan catat urin setiap 6 jam
o R/ mengetahui fungsi ginjal

Tingkatkan kontrol berkemih dengan cara berikan dukungan pada klien


tentang pemenuhan eliminasi urin, lakukan jadwal berkemih, ukur jumlah urin
o

tiap 2 jam
R/ jadwal berkemih diatur awalnya setiap 1 sampai 2 jam dengan perpanjangan
interfal waktu bertahap. Klien diinstruksikan untuk mengukur jumlah air yang di

minum setiap 2 jam dan mencoba untuk berkemih 30 menit setelah minum.

Palpasi kemungkinan adanya distensi kandung kemih


o R/ menialai perubahan akibat dari inkontinensial urin

Anjurkan klien untuk minum 2000 cc/hari


o R/ mempertahankan funsi ginjal

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Sklerosis multipel merupakan penyakit pada sistem Persyarafan yang
ditandai dengan lemah, mati rasa, hilnganya fungsi pendengaran dan penglihatan
yang biasanya terjdi pada umur 18-40 tahun dan kapan saja. Sklerosis multipel
timbul karena pola makan yang tidak teratur, pola diet, penggunaan obat,
konsumsi alcohol, merokok dan kurang beraktifitas. Klien perluh diberikan
pendidikan kesehatan tentang pencegahan,dan pengobatan agar dapat menjaga
kesehatannya.
4.2 Saran

Pada makalah ini penulis menyarankan mahasiswa kesehatan senantiasa


menggunakan

metode

proses

keperawatan

dalam

keperawatan kepada klien dengan Sklerosis multipel

memberikan
serta

asuhan

memberikan

pendidikan kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA

Mc. Graw Hill. 2000. Keperawatan Medikal Bedah Basic Neurologi. Jakarta.
PT: Ghanesa

Clark.1991. Mekanisme Autoimune Manusia. Bandung. Gramedhia

Mutaqin Arif. 2008. Asuhan keperawatan klien dangan gangguan system


persyarafan ed 6 vol.2. salemba medical. Jakarta

Brunner & suddarth.2002. keperawatan medikal bedah ed 8 vol.3 EGC.


Jakarta

Beri Nilai