Anda di halaman 1dari 96

PROBLEMATIKA MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS)

DI MADRASAH IBTIDAIYAH MUHAMMADIYAH JATIGUNUNG I


KECAMATAN TULAKAN KABUPATEN PACITAN
TAHUN PELAJARAN 2013/2014

SKRIPSI

Oleh :
RODHI NUR WAHID
NIM : 20102000012
NIMKO : 2010.4.106.0020.1.00012

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA PACITAN


(STAI NU PACITAN)
TAHUN 2014

PROBLEMATIKA MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS)


DI MADRASAH IBTIDAIYAH MUHAMMADIYAH JATIGUNUNG I
KECAMATAN TULAKAN KABUPATEN PACITAN
TAHUN PELAJARAN 2013/2014

SKRIPSI

Oleh :
RODHI NUR WAHID
NIM : 20102000012
NIMKO : 2010.4.106.0020.1.00012

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA PACITAN


(STAI NU PACITAN)
TAHUN 2014

PROBLEMATIKA MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS)


DI MADRASAH IBTIDAIYAH MUHAMMADIYAH JATIGUNUNG I
KECAMATAN TULAKAN KABUPATEN PACITAN
TAHUN PELAJARAN 2013/2014

SKRIPSI

Diajukan Kepada
Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama Pacitan
Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Guna Memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan Islam

Oleh :
RODHI NUR WAHID
NIM : 20102000012
NIMKO : 2010.4.106.0020.1.00012

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA PACITAN


(STAI NU PACITAN)
TAHUN 2014

ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Naskah skripsi yang disusun oleh : Rodhi Nur Wahid, NIM : 20102000012,
NIMKO : 2010.4.106.0020.1.00012 dengan judul Problematika Manajemen
Berbasis Sekolah (MBS) Di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung I
Kecamatan Tulakan Kabupaten Pacitan Tahun Pelajaran 2013/2014 Telah
diadakan bimbingan, pemeriksaan, maupun perbaikan seperlunya dan dipandang
telah telah memenuhi syarat untuk diajukan dalam sidang munaqosah/ujian skripsi.

Pacitan, 04 Juli 2014

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. H. Mukarom, M.Pd.I

Drs. H. Abdulloh Sajad, MSI

iii

PENGESAHAN
Skripsi yang disusun oleh : Rodhi Nur Wahid Nim : 2010200012, NIMKO :
2010.4.106.0020.1.00012 dengan judul Problematika Manajemen Berbasis
Sekolah (MBS) Di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung I Kecamatan
Tulakan Kabupaten Pacitan Tahun Pelajaran 2013/2014 telah dipertahankan di
depan dewan penguji skripsi Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAI
NU) Pacitan dan diterima untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh
gelar sarjana pendidikan Islam pada tanggal : 07 Juli 2014.

DEWAN PENGUJI
1. Ketua Sidang : Drs. H. Imam Faqih, MSI
2. Sekretaris

: Zaenal Nurudin, S.Pd., MSI

3. Penguji I

: Drs. H. M. Kholid Masruri, MSI

4. Penguji II

: Dra. Hj. Henny Nailufary, MM

Pacitan, 07 Juli 2014


Mengesahkan
Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAI NU) Pacitan
Ketua

Drs. H. IMAM FAQIH, M.S.I


NIY. 01.04.07.2005

iv

MOTTO



....Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha
mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Mujaadilah : 11).*

Barang Siapa Yang Mengamalkan Ilmu,


maka ia akan semakin memilikinya.

Al-Quranul dan Terjemahnya Semarang, CV. Alwaah, 1993, 910


Aminatus Zahroh, Total Quality Management, Teori Praktik manajemen untuk
mendongkrak mutu pendidikan, Yogyakarta, Arruz Media, 2014, 5

PERSEMBAHAN
Skripsi ini ku persembahkan kepada :
Ayah dan Ibu yang telah membesarkanku dan membiayai kuliah;
Adikku yang telah banyak memberikan semangat;
Sahabat-sahabat senasib dan seperjuangan;
Keluarga Besar Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung I yang telah
memberikan izin sebagai lokasi penelitian;
Almamaterku STAINU Pacitan

vi

KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmaanirrahim.
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Tuhan semesta alam.
Dengan berkat, rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini
dengan lancar.
Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi
Muhammad SAW. Yang telah membimbing umat manusia menuju kebenaran dan
kejujuran sehingga eksistensi kemanusiaannya tetap senantiasa terpelihara.
Semata penulis mampu menyelesaikan skripsi dengan judul Problematika
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah
Jatigunung I Kecamatan Tulakan Kabupaten Pacitan Tahun Pelajaran 2013/2014,
sebagai syarat untuk menyelesaikan program studi Manajemen Pendidikan Islam
pada Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama Pacitan (STAI NU Pacitan).
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa
adanya bantuan, dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak, semoga amal baik
tersebut dibalas oleh Allah SWT. Untuk itu penulis menghaturkan terima kasih
yang sedalam-dalamnya kepada:
1. Bapak Drs. H. Imam Faqih, MSI., Selaku Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam
Nahdlatul Ulama Pacitan (STAI NU Pacitan) yang telah memberikan izin
kepada penulis untuk mengadakan penelitian terkait dengan judul skripsi ini.

vii

2. Bapak Drs. H. Mukarom, M.Pd.I dan Drs. H. Abdulloh Sajad, MSI selaku
Dosen Pembimbing yang telah memberikan bimbingan dengan penuh kesabaran
dalam penulisan skripsi dapat terselesaikan dengan lancar.
3. Bapak Sufyan S.Pd.I., selaku kepala MI Muhammadiyah Jatigunung I dan juga
stafnya yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian,
yang dengan suka rela juga telah banyak membantu penulisan berupa informasi
dan data-data yang penulis perlukan.
4. Sahabat-sahabatku

dan

semua

pihak

yang

telah

membantu

demi

terselesaikannya skripsi ini.


Sekalipun Penulis telah berupaya dengan segala kemampuan dan
kekuatan yang ada untuk menyempurnakan skripsi ini, namun penulis sadar skripsi
ini tidak lepas dari kekurangan, Oleh karenanya penulis mengharapkan kritik dan
saran yang konstruktif dari para pembaca.
Akhirnya, hanya kepada Allah SWT. Penulis tawakkal dan senantiasa
berdoa semoga skripsi ini bermanfaat bagi diri penulis dan bagi para pembaca
sekalian. Amin.
Pacitan, 1 September 2014

Rodhi Nur Wahid

viii

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL .....................................................................

HALAMAN PENGAJUAN ..............................................................

ii

HALAMAN PERSETUJUAN ...........................................................

iii

HALAMAN PENGESAHAN ............................................................

iv

HALAMAN MOTTO ........................................................................

HALAMAN PERSEMBAHAN .........................................................

vi

KATA PENGANTAR .......................................................................

vii

DAFTAR ISI .....................................................................................

ix

DAFTAR TABEL .............................................................................

xiii

DAFTAR BAGAN ............................................................................

xiv

DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................

xv

ABSTRAK ........................................................................................

xvi

BAB I. PENDAHULUAN .................................................................

A.a Latar belakang masalah ....................................................

B.a Penegasan Istilah ..............................................................

C.a Rumusan Masalah ............................................................

D. Tujuan Penelitian ..............................................................

E. Kegunaan Penelitian ..........................................................

F. Sistematika Pembahasan ...................................................

ix

BAB II. LNDASAN TEORI ..............................................................

A. Pengertian Manajemen ....................................................

B. Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah ........................

10

C. Tujuan dan Manfaat Manajemen Berbasis Sekolah ..........

12

D. Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah .....................

14

E. Faktor-faktor yang menjadi pendukung dan penghambat


dalam Manajemen Berbasis Sekolah. ..............................

14

F. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Manajemen Berbasis


Sekolah ...........................................................................

20

G. Upaya Peningkatan Kualitas Manajemen Berbasis


Sekolah ...........................................................................

21

H. Implikasi Manajemen Berbasis Sekolah ..........................

22

BAB III. METODE PENELITIAN ....................................................

24

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian .....................................

24

B. Kehadiran Peneliti .........................................................

25

C. Data dan Sumber Data ...................................................

25

D. Lokasi Penelitian ...........................................................

27

E. Metode Pengumpulan Data ............................................

27

F. Metode Analisis Data ....................................................

31

G. Pengecekan Keabsahan Data..........................................

32

H. Tahap-tahap Penelitian ..................................................

34

BAB IV. TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ..............

36

A. Deskripsi Objek Penelitian ..............................................

36

1. Sejarah Singkat Berdirinya MI Muhammadiyah


Jatigunung I ............................................................

36

2. Letak Geografis dan Identitas MI Muhammadiyah


Jatigunung I ............................................................

37

3. Visi Misi MI Muhammadiyah Jatigunung I ..............

38

4. Tujuan Berdirinya MI Muhammadiyah Jatigunung I. 39


5. Kurikulum MI Muhammadiyah Jatigunung I ..........

39

6. Keadaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan MI


Muhammadiyah Jatigunung I ...................................

41

7. Keadaan Siswa MI Muhammadiyah Jatigunung I .....

42

8. Struktur Organisasi MI Muhammadiyah Jatigunung I 43


B. Temuan Penelitian ................................................................

45

1. Problematika Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Di


Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung I..........

45

a.nFaktor Pendidik ..........................................................

45

b.nKurangnya Sarana dan Prasarana pendukung


Pendidikan ......................................................................

46

c.nProses Manajemen Berbasis Sekolah ..........................

46

C. Pembahasan .........................................................................

50

1. Problematika Manajemen Berbasis Sekolah di MI


Muhammadiyah Jatigunung I ........................................

xi

50

2. Proses Manajemen Berbasis Sekolah di MI


Muhammadiyah Jatigunung I .........................................

55

3. Perencanaan dan Pembelian Sarana dan Prasarana ..........

56

4. Pendistribusian Sarana dan Prasarana ..............................

56

5. Penggunaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana


Pendidikan .....................................................................

57

6. Hasil Peningkatan Kualitas Mutu Pendidikan Melalui Manajemen


Berbasis Sekolah ..........................................................

58

BAB V. PENUTUP ..........................................................................

59

A. Kesimpulan ..................................................................

59

B. Implikasi .......................................................................

60

C. Saran .............................................................................

60

DAFTAR KEPUSTAKAAN .............................................................

62

xii

DAFTAR TABEL
Tabel 1. KURIKULUM MI MUHAMMADIYAH JATIGUNUNG I ............... 40
Tabel 2. KEADAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
MI MUHAMMADIYAH JATIGUNUNG I TAHUN 2013/2014 ........ 41
Tabel 3. KEADAAN SISWA MI MUHAMMADIYAH JATIGUNUNG I ....... 42
Tabel 4. SARANA PRASARANA MI MUHAMMADIYAH
JATIGUNUNG I ............................................................................... 43
Tabel 5. SARANA YANG DIBUTUHKAN DALAM MENINGKATKAN
KUALITAS MUTU PENDIDIKAN DI MI MUHAMMADIYAH
JATIGUNUNG I................................................................................. 54
Tabel 6. PRASARANA YANG DIBUTUHKAN DALAM MENINGKATKAN
KUALITAS MUTU PENDIDIKAN DI MI MUHAMMADIYAH
JATIGUNUNG I ................................................................................ 54

xiii

DAFTAR BAGAN

Bagan 1. STRUKTUR

ORGANISASI

MI

MUHAMMADIYAH

JATIGUNUNG I ........................................................................... 44

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

1. Surat Ijin Penelitian


2. Surat Keterangan Penelitian
3. Pedoman Wawancara
4. Transkrip Wawancara
5. Foto Hasil Observasi
6. Foto Wawancara
7. Surat Keterangan Keaslian
8. Daftar Riwayat Hidup

xv

ABSTRAK
Oleh : Rodhi Nur Wahid, NIM : 20102000012, Nimko : 2010.4.106.0020.1.00012
dengan Judul Problematika Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di Madrasah
Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung I Kecamatan Tulakan Kabupaten Pacitan
Tahun Pelajaran 2013/2014. Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Sekolah
Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama Pacitan (STAINU) Pacitan Dosen
Pembimbing I : Drs. H. Mukarom, M.Pd., Pembimbing II : Drs. H. Abdulloh Sajad,
MSI.
Latar Belakang : Perkembangan ilmu pengetahuan sangat ditentukan oleh
perkembangan dunia pendidikan, di mana didalamnya mempunyai peran yang
sangat strategis dalam menentukan arah maju mundurnya kualitas pendidikan. Hal
ini bisa dirasakan ketika sebuah lembaga pendidikan dalam menyelenggarakan
pendidikan yang benar-benar bagus, maka dapat dilihat kualitasnya, berbeda
dengan lembaga pendidikan yang melaksanakan pendidikan hanya dengan
sekedarnya maka hasilnya pun biasa-biasa saja.
Rumusan Penelitian : (1) Bagaimana Proses Pengelolaan Manajemen
Berbasis Sekolah (MBS) di MI Muhammadiyah Jatigunung I Kecamatan Tulakan
Kabupaten Pacitan Tahun Pelajaran 2013/2014?, (2) Adakah Problematika
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Di MI Muhammadiyah Jatigunung I
Kecamatan Tulakan Kabupaten Pacitan Tahun Pelajaran 2013/2014.
Tujuan Penelitian : tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
bagaimana proses Pengelolaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan
mengetahui Problematika Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di Madrasah
Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung I Kecamatan Tulakan Kabupaten Pacitan
Tahun Pelajaran 2013/2014.
Metode Penelitian : Sesuai dengan tujuan, maka dalam melakukan
penelitian ini metode yang digunakan deskriptif populasi yang dijadikan sasaran
adalah kepala sekolah, pendidik dan tenaga kependidikan MI Muhammadiyah
Jatigunung I sedangkan sampelnya diambil sebanyak 4 orang guru serta 1 Tenaga
kependidikan untuk memperoleh data dilakukan interview/wawancara, dan
dokumentasi.
Hasil Penelitian : (1) Pengelolaan manajemen berbasis sekolah di Madrasah
Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung I sudah menerapkan manajemen berbasis
sekolah akan tetapi masih banyak kekurangan dari berbagai faktor guna
meningkatkan mutu pendidikan melalui Manajemen Berbasis Sekolah, (2)
Problematika yang timbul yakni kurangnya sarana prasarana pendidikan,
transparansi keuangan dan profesionalitas seorang pendidik dan tenaga
kependidikan.
Penutup : Sehubungan dengan hasil penelitian tersebut maka disarankan,
adanya supervisi diklat-diklat tentang peningkatan kompetensi guru/pendidik.
Merealisasikan kebutuhan sarana dan prasarana guna faktor penunjang dalam
kegiatan belajar dan mengajar sehingga peningkatan mutu pendidikan melalui
manajemen berbasis sekolah dapat tercapai dengan maksimal.

xvi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hidup tidak dapat lepas dari istilah pendidikan, terciptanya pendidikan yang
berkualitas tidak terlepas dari unsur-unsur dan faktor pendorong berjalanya proses
pendidikan, dilihat dari segi praktisnya bahwasanya faktor pendorong tersebut adalah
pengelolaan yang optimal manajemen yang baik kemudian juga mempunyai pendidik
dan tenaga kependidikan yang profesional serta fasilitas pendidikan yang banyak, dari
segi tersebut kualitas pendidikan bisa dapat berjalan lancar dan dapat mendongkrak
mutu pendidikan di Indonesia.
Administrasi dan Manejemen pendidikan pada setiap sekolah memegang
peranan yang sangat penting, karena kelancaran seluruh kegiatan sekolah sangat
ditentukan oleh Administrasi dan Manajemen sekolah itu, jika Administrasinya bagus
dan manajemen jelas maka segala kegiatan di sekolah itu akan berjalan dengan baik
namun demikian tidak jarang kita temukan di lapangan administrasi pendidikan
kurang diperhatikan dan manajemen tidak jelas, sehingga proses pembelajaran kurang
efektif. Kenyataan ini menimbulkan kehawatiran bagi guru dan kepala sekolah yang
akhirnya memaksa mereka untuk bertindak melanggar etika dan moralitas manajemen
pendidikan.
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Definisi manajemen sendiri berasal dari
bahasa latin yaitu asal kata manus yang berarti tangan, dan agere yang berarti
melakukan kemudian dua kata tersebut digabungkan menjadi managere yang artinya
menangani. Kemudian manager diterjemahkan kedalam bahasa inggris dengan kata

to manage, kata benda management dan manager untuk orang yang melakukan
kegiatan manajemen. Akhirnya management diterjemahkan dalam bahasa Indonesia
menjadi manajemen yang artinya pengelolaan 1.
Selain diatas definisi manajemen banyak dikemukakan oleh para ahli dengan
redaksi yang berbeda-beda, manajemen adalah suatu proses yang terdiri atas
perencanaan, pengorganisasian, pergerakan pelaksanaan dan pengawasan agar dapat
menyelesaikan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya 2.
Aminatus Zahroh menuliskan dalam bukunya Mutu pendidikan memang
dititiktekankan pada siswa dan proses didalamnya. Tanpa adanya proses yang baik,
sekolah yang bermutu juga akan mustahil untuk dicapai 3.
Manajemen pendidikan untuk saat ini merupakan hal yang harus diprioritaskan
untuk kelangsungan pendidikan sehingga menghasilkan keluaran yang diinginkan.
Kenyataan yang ada, sekarang ini banyak institusi pendidikan yang belum memiliki
manajemen yang bagus dalam pengelolaan pendidikannya. Manajemen yang
digunakan masih konvensional, sehingga kurang bisa menjawab tantangan zaman dan
terkesan tertinggal dari modernitas.
Hal ini mengakibatkan sasaran-sasaran ideal pendidikan yang seharusnya bisa
dipenuhi ternyata tidak bisa diwujudkan. Parahnya terkadang para pengelola
pendidikan tidak menyadari akan hal tersebut, oleh karena itu, tulisan ini akan sedikit
mengulas tentang problematika, tantangan serta isu-isu yang berkaitan dengan
Manajemen Pendidikan.

Onisimus Amtu, Manajemen Pendidikan di Era Otonomi Daerah Konsep Strategi dan
Implementasi, Bandung, Alfabeta, 2011,1.
2
G.R Terry, Manajemen Teori Strategi dan Implementasi, Bandung, Alfabeta, 2009,1.
3
Aminatus Zahroh, Total Quality Management, Teori Praktik manajemen untuk mendongkrak
mutu pendidikan, Yogyakarta, Arruz Media, 2014,28.

Manajemen yang dimaksud dalam penelitian ini adalah Manajemen Berbasis


Sekolah (MBS) yang lebih cenderung kepada pengelolaan keuangan sekolah/madrasah
yang diteliti. Sehingga peneliti nantinya dapat mengetahui bagaimana proses
pengelolaan/manajemen administrasi keuangan, sarana dan prasarana, tenaga pendidik
dan kependidikan di sekolah/madrasah tersebut.
Untuk mencapai keberhasilan Pendidikan yang optimal tidak hanya cukup
ditempuh melalui usaha-usaha lewat jalur evaluasi kegiatan pembelajaran Pendidikan
formal saja, melainkan sangat diperlukan adanya pengelolaan dan realisasi keuangan,
pengelolaan sarana prasarana, pengelolaan tenaga pendidik dan kependidikan guna
mendukung fasilitas kegiatan belajar mengajar tersebut yang kemudian akan menjadi
dampak positif baik pada peserta didik maupun kepada tenaga pendidik.
Manajemen Pendidikan Islam merupakan manajemen kelembagaan Islam yang
bertujuan untuk menunjang perkembangan dan penyelenggaraan pengajaran dan
pembelajaran. Dengan demikian Manajemen Pendidikan Islam berkaitan erat dengan
penerapan berfikir rasional untuk mengorganisasikan kegiatan yang menunjang
pembeajaran, kegiatan tersebut perlu direncanakan dan dikelola sebaik mungkin agar
bisa mencapai tujuan yang diharapkan 4.
Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung I adalah sebuah lembaga
yang telah lama berdiri dan menyelenggarakan kegiatan pendidikan dan prosesnyapun
berjalan lancar akan tetapi output masih standard dan bisa dikatakan belum
memuaskan bagi pendidik kemudian melihat dari pernyataan diatas peneliti
menyimpulkan pertanyaan dari mana penyebab masalah output tersebut sehingga
belum memuaskan, setelah penulis mengadakan penelitian bahwa telah diketahui,

Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam, Tulungagung, Teras, 2009, 34

penyebab tersebut adalah muncul dari bidang Manajemen/Pengelolaan baik di sarana


dan prasarana, tenaga pendidik dan kependidikan maupun keuangan.
Berkaitan dengan pemahaman diatas yaitu yang dimaksud tujuan/rencana
adalah peningkatan mutu pendidikan dan mutu pendidikan tersebut berindikasi pada
hasil keluaran (Output) yang diproses secara maksimal oleh lembaga pendidikan itu
sendiri5.
Menurut Kementerian Pendidikan Nasional sebagaimana dikutip Mulyasa,
pengertian mutu pendidikan mencakup input, proses dan output pendidikan 6.
Dalam proses globalisasi yang sedang dan akan dihadapi oleh lembaga
pendidikan di Indonesia saat ini semakin lama semakin intens, Salah satu tantangan
besar lembaga-lembaga pendidikan, termasuk lembaga pendidikan Islam adalah
bagaimana cara mengoptimalkan Manajemen Berbasis Sekolah. maka pertanyaan
segera muncul, bagaimanakah mengelola sistem pendidikan agar dapat sejalan dengan
dinamika yang sedang dan akan terjadi serta berjalan sesuai dengan tujuan.
Untuk dapat menjalankan fungsinya sebagai lembaga pendidikan, sebuah
lembaga keluarga, tentu saja harus dapat menjalankan fungsinya sebagai lembaga
pendidikan dan lembaga sosial, sehingga ia dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhanya,
administrasi termasuk dalam memenuhi kebutuhan pendukung dalam pendidikan
kegiatan pembelajaran bagi peserta didik dan tenaga pendidik.

B. Penegasan Istilah
Sebelum penulis melanjutkan penulisan skripsi ini, penulis memandang perlu
untuk memberikan penegasan berupa istilah yang terdapat dalam penulisan skripsi ini.
5

Aminatul Zahroh, Total Quality Manajemen, Yogyakarta, Ar-Ruzz Media, 2014, 27


Enco Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional dalam konteks menyukseskan MBS dan
KBK, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2003, 76
6

Adapun istilah yang penulis pandang perlu untuk ditegaskan antara lain sebagai
berikut:
1. Manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja yang melibatkan bimbingan

dan atau poengarahan suatu kelompok orang-orang kea rah tujuan-tujuan


organisasional atau maksud-maksud yang nyata7.
2. Manajemen berbasis sekolah secara konseptual dapat digambarkan sebagai suatu

perubahan formal struktur penyelenggaraan, sebagai suatu bentuk desentralisasi


yang mengidentifikasi sekolah itu sendiri sebagai unit utama peningkatan serta
bertumpu pada redistribusi kewenangan pembuatan keputusan sebagai sarana
penting yang dengannya peningkatan dapat didorong dan ditopang8.
3. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Adalah bentuk alternatif sekolah sebagai

hasil dari desentralisasi pendidikan. MBS Dimaksudkan meningkatkan otonomi


sekolah/madrasah, mengelola madrasah dengan sumber daya yang ada untuk
berinovasi9.
Asumsi diatas perlu dibuktikan oleh peneliti dilapangan (di Madrasah
Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung I Kecamatan Tulakan Kabupaten Pacitan),
dimana pengelolaan di lembaga tersebut masih kurang baik sehingga proses
berjalannya kegiatan pembelajaran masih terganggu dengan disebabkan oleh
pengelolaan/Manajemen Berbasis Sekolah yang kurang baik.
Berkenaan dengan hal tersebut diatas, penulis dalam rangka penyusunan
skripsi berusaha mengungkap masalah/problem apa saja yang timbul di madrasah
Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung I dengan judul Problematika Manajemen
Berbasis Sekolah (MBS) Di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung I
Kecamatan Tulakan Kabupaten Pacitan Tahun Pelajaran 2013/2014.

Tery & Rue Manajemen Pendidikan di Era Otonomi Daerah Konsep Strategi dan
Implementasi, Bandung, Alfabeta, 2011,2.
8
http://komunitaspenulisjepara.blogspot.com
9
Op. Cit. 3 hlm 33-34

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka masalah penelitian ini dirumuskan
sebagai berikut :
1. Bagaimana Proses Pengelolaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di
Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung I Kecamatan Tulakan
Kabupaten Pacitan Tahun Pelajaran 2013/2014?.
2. Adakah Problematika Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Di Madrasah
Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung I Kecamatan Tulakan Kabupaten
Pacitan Tahun Pelajaran 2013/2014.

D. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui bagaimana proses Pengelolaan Manajemen Berbasis Sekolah
(MBS) di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung I Kecamatan Tulakan
Kabupaten Pacitan Tahun Pelajaran 2013/2014.
2. Untuk mengetahui adakah Problematika Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
pada Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung I Kecamatan Tulakan
Kabupaten Pacitan Tahun Pelajaran 2013/2014.

E. Kegunaan Penelitian
Diharapkan Penelitian ini dapat memberikan Kegunaan baik teoritis maupun
praktis, antara lain:
1. Kegunaan Teoritis:
a. Menambah pengetahuan/wawasan bagi penulis khususnya dan bagi para
pembaca umumnya.

b. Untuk memperkaya khasanah ilmu pengetahuan khususnya di bidang


Manajemen Pendidikan Islam.

2. Kegunaan praktis.
Sebagai bahan literatur/referensi Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah
Jatigunung I untuk melakukan evaluasi madrasah yang dimana letak masalah
itu ada sehingga dapat di atasi secara optimal.

F. Sistematika Pembahasan
Sistematika Pembahasan merupakan suatu urutan yang saling keterkaitan
antara satu dengan yang lain.
BAB I :

Pendahuluan, yang berisi pokok-pokok pemikiran yang melatarbelakangi


penulisan skripsi ini yaitu berisi, latar belakang masalah, penegasan istilah,
perumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian dan sistematika
pembahasan.

BAB II : Landasan Teori berisi pembahasan yang lebih fokus untuk menuju titik
penelitian mengenai Problematika Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di
Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung I kecamatan Tulakan
Kabupaten Pacitan tahun Pelajaran 2013/2014, kemudian Konsep
Manajemen Berbasis Sekolah dimana di bagian ini dijelaskan tentang
Pengertian Manajemen, Pengertian manajemen manajemen Berbasis
Sekolah, Tujuan dan manfaat Manajemen Berbasis Sekolah dan
Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah pada poin akhir di BAB ini
adalah Proses Manajemen Berbasis Sekolah di poin pembahasan ini dibagi
menjadi empat bagian yakni, Pertama Faktor-faktor yang menjadi

pendukung dan penghambat dalam Manajemen Berbasis Sekolah. Kedua


Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Manajemen Berbasis Sekolah Ketiga
Upaya Peningkatan Kualitas Manajemen Berbasis Sekolah dan yang
terakhir adalah Implikasi Manajemen Berbasis Sekolah.
BAB III :

Metode Penelitian merupakan sumber untuk bahan bagian inti yaitu di


BAB ini akan dibahas pendekatan dan jenis penelitian, Kehadiran
peneliti, data dan sumber data, lokasi penelitian, metode pengumpulan
data, metode analisis data, pengecekan keabsahan data, dan tahap-tahap
penelitian.

BAB IV : Temuan Penelitian dan Pembahasan, BAB ini akan menjabarkan


masalah/kesenjangan

dari

istilah

BAB

III

kemudian

disini

mendeskripsikan objek penelitian, temuan penelitian dan membahas


temuan-temuan dalam penelitian tersebut.
BAB V :

Adalah Penutup yang berisi kesimpulan atas pembahasan yang dilakukan,


saran-saran dan kata-kata penutup.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Manajemen
Manajemen sering diartikan sebagai ilmu, kiat, dan profesi dikatakan sebagai
ilmu oleh luther gulick karena manajemen dipandang sebagai suatu bidang pengetahuan
yang secara sistematik berusaha memahami mengapa dan bagaimana orang bekerja
sama1.
Berbeda dengan asumsi diatas bahwa manajemen adalah suatu seni untuk
mengkoordinir sumberdaya organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. Sumberdaya
organisasi tersebut meliputi manusia, bahan baku (materials) dan mesin (machines).
Koordinasi dimaksudkan agar tujuan organisasi bisa dicapai dengan efisien sehingga
dapat memenuhi harapan berbagai pihak (stake-holders) yang mempunyai kepentingan
terhadap organisasi.
Manajemen pada hakikatnya dapat dipahami sebagai proses kerja dengan
menggunakan sumber daya yang dimiliki organisasi untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan1.
Pengertian manajemen sebagaimana yang telah diutarakan diatas adalah
manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja yang melibatkan bimbingan atau
pengarahan suatu kelompok orang-orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau
maksud-maksud yang nyata.
Selain itu Penjelasan-penjelasan tentang manajemen diatas bahwa pengertian
manajemen tersebut yang dikemukakan oleh para ahli cenderung berbeda antara yang

Onisimus Amtu, Manajemen Pendidikan........, 1

10

satu dengan yang lainnya. Karena sangat tergantung dengan sudut pandang masingmasing.

B. Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah


Manajemen merupakan suatu proses untuk mewujudkan tujuan yang diinginkan
karena manajemen diartikan mengatur maka timbul beberapa pertanyaan, seperti apa
yang diatur? Kenapa harus diatur? Siapa yang mengatur? Bagaimana mengaturnya? Di
mana harus diatur?.
Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya
manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efesien untuk mencapai tujuan
tertentu2. Selebihnya beliau menyatakan bahwa manajemen adalah satu proses yang
khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan
pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang
telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya.
Sejalan dengan asumsi diatas penulis mendifinisikan Manajemen Berbasis
Sekolah (MBS) yaitu model pengelolaan yang memberikan otonomi atau kemandirian
kepada sekolah atau madrasah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang
melibatkan secara langsung semua warga sekolah atau madrasah sesuai dengan standar
pelayanan mutu yang ditetapkan oleh pemerintah pusat, Provinsi, Kabupaten dan Kota.
Ada kaitan yang erat antara Organisasi, Administrasi dan Manajemen. Pengertian
organisasi yaitu kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih bekerjasama untuk
mencapai tujuan tertentu nampak sudah ada kesepakatan dari para ahli. Tetapi

Malayu Hasibuan, Manajemen Dasar, Pengertian, dan Masalah ,Jakarta, Bumi Aksara, 2001, 1

11

pengertian administrasi dengan pengertian manajemen masih kelihatan tidak terpisah


secara jelas3. Seringkali kata administrasi dikaitkan dengan kata manajemen.
Administrasi dan manajemen tidak dapat dipisahkan dan harus merupakan suatu
kesatuan, hanya saja kegiatannya yang dapat dibedakan sesuai dengan perbedaan kedua
wawasan. Administrasi lebih luas daripada manajemen, administrasi bersifat
menentukan tujuan dan kebijakan umum yang mengikat seluruh atau departemental.
Akhirnya tanpa manajemen tak mungkin administrasi mencapai tujuannya.
Dalam administrasi tercakup dalam manajemen. Secara spesifik administrasi
merupakan satu bidang dari manajemen sebab manajemen terdiri dari enam bidang,
yakni production, marketing, financial, personal, human relation dan administrative
management4.
Yang dimaksud Manajemen Berbasis Sekolah yakni semua komponen ataupun
bagian-bagian manajemen dalam sebuah lembaga telah terstruktur secara rapih
kemudian juga melaksanakan tugasnya masing-masing sehingga semua bagian-bagian
manajemen tersebut dapat mewujudkan/menjawab tujuan yang ada.
Manajemen Berbasis Sekolah adalah bentuk otonomi manajemen pendidikan
pada satuan pendidikan, yang dalam hal ini kepala sekolah dan guru di SD/MI, dibantu
oleh komite sekolah dalam mengelola kegiatan pendidikan (Penjelasan Pasal 51 Ayat (1)
UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional).
Dengan apa yang dijelaskan diatas maka Manajemen berbasis sekolah
merupakan strategi untuk mewujudkan sekolah yang efektif dan produktif. Manajemen
berbasis sekolah merupakan paradigma baru manajemen pendidikan, yang memberikan
otonomi
3
4

luas pada sekolah, dan pelibatan masyarakat dalam kerangka kebijakan

Made Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia, Jakarta, Bina Aksara,1988,1


Harbangan Siagian, Administrasi Pendidikan, Semarang,Setya Wacana, 1989, 54

12

pendidikan nasional. Otonomi diberikan agar sekolah leluasa mengelola sumber daya,
sumber dana, sumber belajar dan mengalokasikannya sesuai prioritas kebutuhan, serta
lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat.

C. Tujuan dan manfaat Manajemen Berbasis Sekolah


Pada hakikatnya muara penerapan Manajemen Berbasis Sekolah adalah untuk
meningkatkan

kualitas

dan

relevansi

pendidikan,

baik

menyangkut

kualitas

pembelajaran, kurikulum, sumber daya manusia maupun tenaga kependidikan lainnya,


dan pelayanan pendidikan.
Aspek yang dijadikan motif diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah di
sekolah antara lain adalah motif ekonomi, profesional, politik, efisiensi administrasi,
finansial, prestasi siswa, akuntabilitas, dan efektivitas sekolah.
Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah di Indonesia didasari oleh Empat alas
an yakni : Pertama, sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan
ancaman bagi dirinya sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber
daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. Kedua, sekolah lebih mengetahui
kebutuhannya. Ketiga, keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan
keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. Keempat,
akuntabilitas sekolah tentang mutu pendidikan kepada pemerintah, orang tua siswa, dan
masyarakat, mendorong sekolah untuk berupaya semaksimal mungkin melaksanakan
dan mencapai sasaran mutu pendidikan yang direncanakan, dengan melakukan upayaupaya inovatif dengan dukungan orang tua, masyarakat, dan pemerintah. Dibawah ini
adalah beberapa Tujuan dan Manfaat penerapan Manajemen Berbasis Sekolah yaitu :
1. Memperkenan-kan orang-orang yang kompeten di sekolah untuk mengambil
keputusan yang akan dapat meningkatkan pembelajaran.

13

2. Memberikan kesempatan kepada komunitas sekolah (guru, staf sekolah, orang


tua dan masyarakat) dalam keterlibatan mengambil keputusan kunci (prioritas).
3. Memfokuskan akuntabilitas pada keputusan; mengarahkan pada kreativitas dan
fleksibilitas yang lebih besar dalam mendesain program sehingga dapat
memenuhi kebutuhan siswa
4. Mengatur ulang sumber daya untuk mendukung tujuan yang dikembangkan di
sekolah.
5. Mengarahkan pada penganggaran yang realistik yang mendorong orang tua dan
guru semakin menyadari akan status keuangan sekolah, batasan pembelanjaan
dan biaya dari setiap program
6. Meningkatkan moral para guru dan memelihara kepemimpinan baru pada setiap
tingkat.
7. Meningkatkan kuantitas, kualitas, dan fleksibilitas komunikasi di antara
komunitas sekolah.
Untuk mencapai tujuan dan manfaat Manajemen Berbasis Sekolah secara
maksimal terdapat implikasi yang harus dipenuhi melalui penerapan Manajemen
Berbasis Sekolah di suatu sekolah. Implikasi tersebut berupa perubahan peran-peran dari
para pihak yang aktif, yang mencakup pejabat dinas pendidikan, para pengawas sekolah,
para kepala sekolah, para guru dan siswa di sekolah maupun masyarakat dan orang tua
siswa.
Di samping itu terdapat pula sejumlah kendala yang potensial menghadang
pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah yaitu daya tahan para pelaksana, harapanharapan yang tidak realistik, dukungan dewan sekolah yang tidak memadai,
ketidaksejalanan harapan guru dan kebijakan yang ada, hembatan-hambatan dalam
pengambilan keputusan dan kegagala para pihak untuk fokus pada tujuan utama

14

Manajemen Berbasis Sekolah yaitu peningkatan kualitas pendidikan di sekolah yang


bersangkutan.

D. Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah


Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah sangat berbeda dengan ciri
pengelolaan pada waktu masih menganut kebijakan terpusat. Karakteristik Manajemen
Berbasis Sekolah menurut pemerintah lebih menekankan pada model manajemen yang
memberikan otonomi kepada sekolah artinya sekolah mempunyai kebijakan tersendiri
dengan tujuan untuk meningkatkan mutu pembelajaran dalam hal pengelolaan meliputi
pelatihan tim pelatih tingkat kabupaten, pelatihan terhadap sekolah/madrasah dan
masyarakat (Kepala Sekolah, Guru Staf dan juga mitra kerja/Komite sekolah) dalam
penyusunan Rencana Induk Pengembangan Sekolah (RIPS) dan Rencana Anggaran
Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) oleh sekolah dan masyarakat. Adapun
karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah yang dikemukakan oleh Nurkholis Bahwa :
Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah meliputi misi sekolah, setrategi-setrategi
manajemen, penggunaan sumber daya, perbedaan peran, hubungan antar manusia,
kualitas para administrator, indikator-indikator pada efektifitas 5.

E. Faktor-faktor yang menjadi pendukung dan penghambat dalam Manajemen


Berbasis Sekolah.
Yang dimaksud faktor pendukung adalah sesuatu yang dapat menjadikan
pendidikan itu maju dan berhasil dengan baik sehingga apa yang menjadi tujuan
pendidikan dapat dicapai. Sedangkan yang dimaksud dengan faktor penghambat adalah

56-64

Nurkholis, manajemen berbasis sekolah, teori, model dan aplikasi, jakarta, PT Grasindo, 2003,

15

segala sesuatu yang dapat mengganggu jalannya pendidikan sehingga pendidikan tidak
terwujud dengan baik.
1. Faktor Pendukung
a. Peserta Didik
Peserta didik dalam pendidikan Islam adalah setiap manusia yang
sepanjang hayatnya selalu berada dalam perkembangan. Jadi, bukan hanya
anak-anak yang sedang dalam pengasuhan dan pengasihan orang tuanya,
bukan pula hanya anak-anak dalam usia sekolah. Pengertian ini didasarkan
atas tujuan pendidikan yaitu manusia sempurna secara utuh, yang untuk
mencapainya manusia berusaha terus menerus hingga akhir hayatnya 6.
Kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam akan berjalan
dengan lancar, efektif, dan efisien serta dapat mencapai tujuan pendidikan
apabila peserta didik mengikuti pelajaran dengan tenang, memperhatikan
penjelasan

guru

dengan

seksama,

belajar

dengan

rajin,

mampu

mengembangkan potensinya melalui diskusi-diskusi dengan temannya,


disiplin waktu serta yang tak kalah pentingnya fasilitas-fasilitas dalam
pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
b. Faktor Pendidik dan Tenaga kependidikan
Pendidik tidak sama dengan pengajar sebab pengajar hanya sekadar
menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik. Menurut UU RI No.
20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS pada bab XI pasal 39 ayat 2 disebutkan
bahwa pendidik merupakan tenaga professional yang bertugas merencanakan
dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran,

Heri Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Logos Wacana Ilmu, 1999, 113

16

melakukan pembimbingan dan pelatihan serta melakukan penelitian dan


pengabdian kepada masyarakat terutama bagi pendidik perguruan tinggi.
Sedangkan pada pasal 42 ayat 1 disebutkan: pendidik harus memiliki
kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan
mengajar, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk
mewujudkan tujuan pendidikan Nasional.
Bagi guru Agama, disamping harus memiliki syarat-syarat tersebut,
masih harus ditambah dengan syarat yang lain, yang oleh Direktorat
Pendidikan Agama telah ditetapkan sebagai berikut: 1) memiliki pribadi
mukmin, muslim dan muhsin; 2) taat untuk menjalankan agama
(menjalankan syariat Agama Islam, dapat memberi contoh teladan yang baik
kepada peserta didik); 3) memiliki jiwa pendidik dan rasa kasih sayang
kepada anak didiknya dan ikhlas jiwanya; 4) mengetahui tentang dasar-dasar
ilmu pengetahuan tentang keguruan, terutama didaktik dan metodik; 5)
menguasai ilmu pengetahuan agama dan 6) tidak memiliki cacat rohaniah
dan jasmaniyah dalam dirinya.
Sedangkan tenaga kependidikan berperan penting yang mana dalam
lembaga pendidikan jika tidak di dukung oleh tenaga kependidikan yang ahli
atau teknisi data yang profesional maka lembaga tersebut akan semakin
kurang dalam pelayanan baik dalam administrasi dan maupun pembelajaran.
Jadi tenaga pendidikan di zaman seperti saat ini mau atau tidak mau harus
dimiliki oleh sebuah lembaga guna memberikan pelayanan yang baik.
c. Sarana dan Prasarana Manajemen Berbasis Sekolah
Sebuah sekolah/lembaga pendidikan tak terlepas akan sebuah fasilitas
ataupun sarana dan prasarana yang hal tersebut sangat memberikan pengaruh

17

terhadap proses Manajemen Berbasis Sekolah selanjutnya dibawah ini adalah


beberapa sarana dan prasarana yang sangat menjadi jantung didalam sebuah
lembaga : (Ruang Administrasi) administrasi yang terpisah dengan kantor
guru akan mudah dalam, di tingkat SD/MI ruang TU yang terpisah masih
jarang ditemui kebanyakan masih menyatu dengan ruang guru. (komputer)
dunia teknologi semakin hari semakin canggih oleh karena itu apa bila
lembaga pendidikan yang menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah pasti
akan memberikan hal yang terbaik dalam hal pelayanan, (Aplikasi
Pendukung Manajemen Berbasis Sekolah) dimana kebutuhan-kebutuhan
yang banyak baik dalam soft copy maupun hard copy ini dalam lembaga
pendidikan sangat dibutuhkan dan di masa ini menjadi persaingan di bidang
teknologi, (Almari) Menjadi indah dan tertata rapi jika ada almari yang
sesuai untuk diisi berbagai file-file yang kemudian memudahkan seorang
Pendidik dan Tenaga Pendidik untuk mengurus perlengkapan dalam
bertugas. (Ruang/Rak Arsip) Pendidik dan Tenaga Pendidik akan merasakan
sebuah kenyamanan dalam menata sebuah file-file ataupun dokumen arsip
yang disana jika rak arsip dimiliki dan dimanfaatkan oleh sebuah lembaga
dan hal ini sangat mempengaruhi proses manajemen berbasis sekolah
disebuah lembaga.
d. Alat/Fasilitas pendidikan
Alat pendidikan atau yang pada saat ini kerap disebut sarana dalam
pembelajaran hal ini tentu menjadi sebuah faktor yang sangat berpengaruh
dalam kualitas pendidikan disebuah lembaga dan apabila sebuah lembaga
kurang memiliki banyak fasilitas belajar yang pasti akan sulit untuk
menyajikan mutu yang baik.

18

Alat pendidikan sangat menunjang proses pembelajaran PAI, untuk


itu pihak sekolah/madrasah harus menyediakan alat-alat pendidikan tersebut.
Di mana alat pendidikan tersebut di antaranya adalah:
1) Gedung sekolah yang memadai.
2) Perpustakaan sekolah yang lengkap isinya, sehingga siswa dapat belajar
secara mandiri dengan cara membaca buku.
3) Alat peraga dan media pendidikan yang lengkap, sehingga penyampaian
materi dari guru dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.
4) Sarana dan prasarana untuk ibadah.
e. Faktor kurikulum
Kurikulum merupakan suatu program bagi unit periodisasi sekolah
dalam rangka mengantar anak-anak kepada taraf pendidikan, tingkah laku
dan pola pikir yang diharapkan serta berusaha pula mengangkat derajat hidup
masyarakat mereka dan merealisasikan tujuan akhirnya. Sistem pendidikan
Islam menuntut pengkajian kurikulum yang Islami pula yang tercermin dari
sifat dan karakteristiknya. Kurikulum seperti itu hanya mungkin, apabila
bertopang dan mengacu pada dasar pemikiran yang Islami pula, serta
bertolak dari pandangan hidup serta pandangan tentang manusia (pandangan
antropologis) serta diarahkan kepada tujuan pendidikan yang dilandasi
kaidah-kaidah Islami. Untuk memenuhi kriteria tersebut, suatu kurikulum
yang Islami perlu memperhatikan hal-hal di bawah ini : Perkembangan
kurikulum hendaknya selaras dengan fitrah insani sehingga memiliki peluang
untuk menyucikannya dan menjaganya dari penyimpangan sosial Kurikulum
hendaknya diarahkan untuk mencapai tujuan akhir pendidikan Islam, yaitu
ikhlas, taat dan beribadah kepada Allah. Pentahapan serta pengkhususan

19

kurikulum hendaknya memperhatikan periodisasi perkembangan peserta


didik. Secara keseluruhan struktur dan organisasi kurikulum hendaknya tidak
bertentangan dan tidak menimbulkan pertentangan, bahkan sebaliknya; dan
terarah kepada pola hidup Islami.
2. Faktor Penghambat
a. Faktor Pendidik dan Tenaga Pendidik
Karakteristik seorang Pendidik dan Tenaga Pendidik yang menjadi
penghambat bagi peningkatan kualitas pembelajaran, di antaranya adalah:
1. Seorang Pendidik dan Tenaga Pendidik tidak ikhlas dalam mengerjakan
tugas semata-mata materialistik.
2. Pendidik dan Tenaga Pendidik yang tidak mempunyai sifat penyabar dan
pemaaf.
3. Pendidik dan Tenaga Pendidik yang tidak berakhlak mulia dan tidak
dapat memberikan contoh teladan kepada murid-muridnya dan para
personil lainnya.
4. Pendidik dan Tenaga Pendidik yang tidak menguasai bahan tugas dan
pelajaran yang akan diberikan.
5. Pendidik dan Tenaga Pendidik yang tidak bersikap dinamis, tidak mau
menambah wawasan dan pengetahuannya.
b. Sarana dan Prasarana Manajemen Berbasis Sekolah
Seperti apa yang telah uraikan di faktor pendukung dalam poin
Sarana dan Prasarana Manajemen Berbasis Sekolah ini yang pasti ada sebuah
Sebuah titik lemahnya artinya keterbatasan dalam hal sarana dan maupun
prasarana baik dalam bidang komputerisasi maupun perabot yang lain

20

sehingga sarpras tersebut bisa jadi penghambat apabila masih banyak yang
kurangdimiliki.
c. Faktor Alat Pendidikan
Sedangkan alat pendidikan/fasilitas/sarana yang dapat menghambat
Dalam manajemen berbasis sekolah adalah:
1. Gedung sekolah yang kurang terawat
2. Kurangnya

manajemen

sarana

dan

prasarana,

sehingga

kurang

mendukung tercapainya manajemen berbasis sekolah yang optimal.


3. Minimnya dana pendidikan sehingga menyebabkan sulitnya pengadaan
sarana pendukung dalam MBS yang dibutuhkan.

F. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Manajemen Berbasis Sekolah


Selain mempunyai manfaat dalam penerapan Manajemen Berbasis Sekolah
juga banyak faktor-faktor yang mempengaruhi dalam Manajemen Berbasis Sekolah
terhadap kemajuan sekolah oleh karena itu implementasi Manajemen Berbasis
Sekolah membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak agar dapat terlaksana dengan
baik.
Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi dalam Manajemen Berbasis
Sekolah yaitu : kewajiban sekolah, kebijakan dan prioritas sekolah peranan orang tua
dan masyarakat, peranan profesionalisme, manajerial dan pengembangan profesi. Di
lain sisi faktor-faktor yang mempengaruhi dalam Manajemen Berbasis Sekolah
secara keseluruhan yakni pada keterbatasan sumber daya.

21

G. Upaya Peningkatan Kualitas Manajemen Berbasis Sekolah


Konsep mutu (kualitas) telah menjadi fenomena dan kenyataan dalam seluruh
aspek dan dinamika masyarakat global memasuki persaingan pasar bebas dewasa ini 7.
Dalam rangka meningkatkan kualitas Manajemen Berbasis Sekolah, maka
peningkatan materi perlu mendapatkan perhatian karena dengan lengkapnya materi yang
diberikan tentu akan menambah lebih luas pengetahuan dalam pengelolaan Manajemen
Berbasis Sekolah. Materi/pelatihan tidak boleh menyimpang dari tujuan Manajemen
Berbasis Sekolah yang telah dirumuskan.
Mutu yang baik selalu menjadi dambaan setiap orang, terlebih pada bidang
pendidikan kemudian mutu pendidikan pada dasarnya terdiri dari berbagai indikator dan
komponen yang saling berkaitan 8. Hal tersebut akhirnya lebih membawa kepada
manajemen pengelolaan pendidikan yang kemudian sangat berpengaruh pada mutu
pendidikan tersebut.
Setiap proyek yang hendak dilaksanakan mempunyai sarana-sarana yang sesuai
dengannya dan akan mewujudkan tujuannya. Mendirikan sebuah bangunan besar
umpamanya, membutuhkan mesin-mesin, para arsitektur, bahan-bahan bangunan dan
para pekerja. Demikian pula pendidikan merupakan satu proyek yang bertujuan
mengarahkan dan memelihara perkembangan generasi manusia, guna merealisasikan
tujuan akhir umat, yaitu tujuan yang diserukan oleh Allah SWT, agar kita menjadi
sebaik-baik umat yang dikeluarkan demi kepentingan manusia.
Tentang tujuan harus jelas dan tidak terlalu tinggi sehingga akan mudah tercapai
sukses di dalam Manajemen Berbasis Sekolah. Sebagaimana seorang pemain sandiwara
menarik perhatian penonton, demikian pula seorang guru/staf/manajer harus mampu

7
8

Onisimus Amtu, Manajemen Pendidikan........,117


Onisimus Amtu, Manajemen Pendidikan........,139

22

memberikan perfomance terbaik didepan publik artinya agar dapat menarik perhatian
simpati kepada mereka sehingga lembaga pendidikan dapat terpercaya dan sukses dalam
mengelola pendidikan.

H. Implikasi Manajemen Berbasis Sekolah


Dengan perencanaan kegiatan atau penyusunan program-program sekolah
dengan melibatkan unsur guru-guru, masyarakat dan pihak pihak terkait yang dilakukan
oleh kepala sekolah/madrasah hal ini akan mendorong terwujudnya keterbukaan dalam
pelaksanaan program kerja sekolah/madrasah. Kegiatan perencanaan dilaksanakan
dengan matang dan dimusyawarahkan secara terbuka dengan melibatkan semua unsurunsur yaitu Kepala Sekolah, Guru, Komite dan wali murid hal ini mempunyai dampak
yang positif terhadap keberhasilan sekolah, dengan melibatkan semuan unsur sekolah,
maka guru, komite sekolah, orang tua, dan tokoh masyarakat merasa dilibatkan dan
mempunyai rasa kepercayaan terhadap madrasah dan kegiatan madrasah.

Hal ini

menumbuhkan rasa tanggung jawab bagi pihak tersebut untuk merasa memiliki terhadap
sebuah madrasah dilingkungannya, sehingga dapat tercapai prestasi sekolah seperti yang
diharapkan. Apabila program tersebut di atas tidak dilaksanakan, maka akan berdampak
pada berkurangnya tingkat kepercayaan orang tua siswa terhadap transparansi kegiatan
Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung I Kecamatan Tulakan Kabupaten
Pacitan.
Tindakan kepala sekolah dalam mengimplementasikan program kerja sekolah,
dengan berupaya untuk menciptakan suasana kebersamaan dan kepercayaan antara guru
dan pengurus sekolah, yang selaras dengan prinsip penerapan program Manajemen
Berbasis Sekolah yaitu adanya keterbukaan partisipasi dan akuntabilitas, mempunyai
dampak terhadap peran serta masyarakat, dan beralihnya pandangan masyarakat semula

23

masyarakat beranggapan bahwa pendidikan merupakan tugas sekolah, beralih pada


pandangan bahwa keberhasilan pendidikan bukannya hanya menjadi tanggung jawab
sekolah tetapi merupakan tanggung jawab sekolah dan masyarakat.
Di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung I ini memang sudah
menggunakan sistem Manajemen Berbasis Sekolah akan tetapi dimana masih banyak
sektor-sektor kekurangan yang dimaksudkan untuk membangun Manajemen Berbasis
Sekolah tersebut yang saat ini semakin jelas terlihat adalah dari segi tenaga pendidik dan
kependidikan dimana sumber daya mereka sangat menjadi titik puncaknya pendidikan
kepada peserta didik dalam menghadapi dan menjawab dunia global dengan demikian
dari sisi inilah peningkatan mutu pendidikan ini yang sangat dan harus diutamakan oleh
manajer dan pihak-pihak terkait.
Selanjutnya setelah penulis mengamati jika dipilah-pilah dari beberapa masalah
yang ada bahwa prosentase terbesar kedua adalah dari sisi pengelolaan keuangan
madrasah ini adalah madrasah penerima Bantuan Operasional Sekolah sehingga pada
setiap tiga bulan sekali laporan rutin penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah
tersebut, meski madrasah ini sudah membuat laporan rutin namun hanya laporan
Bantuan Operasional Sekolah yang rapi dalam pembukuannya entah mengapa
permasalahannya ataukah memang dari instansi naungan belum ada form-form tentang
pembukuan yang jelas untuk pengarsipan sebagai bukti authentik. Selain itu bukti
pembelanjaan dalam setiap kegiatan pembelanjaan juga kurang sesuai, dari pernyataan
diatas dapat disimpulkan bahwa penyebab manajemen ini keuangan dan manajemen
keuangan disebabkan pelatihan/pembinaan dalam mengelola hal itu sangat kurang dan
atau mungkin sumber daya pengelola yang memang juga lemah.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian


Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kualitatif. Menurut Bogdan
dan Taylor dalam Moleong L.J penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian
yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orangorang dan prilaku yang diamati1. Menurut mereka, pendekatan ini diarahkan
pada latar dan individu tersebut secara holistik (utuh). Sejalan dengan definisi
tersebut, Kirk dan Miller mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi
tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada
pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan
orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
deskriptif, karena dengan pendekatan deskriptif akan dihasilkan data yang berupa
kata-kata, sebagaimana ciri-ciri yang ada dalam penelitian kualitatif. Penelitian
deskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan
informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yaitu keadaan gejala menurut
apa adanya pada saat penelitian dilakukan. Penelitian deskriptif tidak
dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu, tetapi hanya menggambarkan apa
adanya tentang suatu variabel, gejala atau keadaan. Ada beberapa jenis penelitian
yang dapat dikategorikan sebagai penelitian deskriptif yaitu : penelitian survai
(survey

studies),

studi

kasus

(case

studies),

penelitian

perkembangan

(developmental studies), penelitian tindak lanjut (follow-up studies), analisis


1

L.J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2002, 3

24

25

dokumen (documentary analyses) dan penelitian konvensional (correlation


studies)2. Dan penelitian ini termasuk dalam kategori studi kasus (case studies).

B. Kehadiran Peneliti
Dalam penelitian kualitatif kehadiran peneliti mutlak diperlukan. Hal ini
dikarenakan instrumen penelitian dalam penelitian kualitatif adalah peneliti itu
sendiri. Sebagaimana diungkapkan oleh Prof. Dr. Sugiyono dalam penelitian
kualitatif yang menjadi instrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri
oleh karena itu peneliti juga harus siap divalidasi seberapa jauh peneliti siap untuk
melakukan kualitatif3.
Pengertian instrumen atau alat penelitian di sini tepat karena ia menjadi
segalanya dari keseluruhan proses penelitian. Ciri-ciri umum manusia sebagai
instrumen mancakup segi responsif, dapat menyesuaikan diri, menekankan
keutuhan, mendasarkan diri atas pengetahuan, memproses data secepatnya, dan
memanfaatkan kesempatan untuk mengklasifikasikan dan mengikhtisarkan, dan
memanfaatkan kesempatan mencari respon yang tidak lazim atau idiosinkratik.

C. Data dan Sumber Data


Yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian adalah subyek dari
mana data dapat diperoleh. Apabila peneliti menggunakan kuesioner atau
wawancara dalam pengumpulan datanya, maka sumber data disebut responden
yaitu orang yang merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti, baik
pertanyaan tertulis maupun lisan. Apabila peneliti menggunakan teknik observasi,

2
3

2013,222.

Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, Jakarta Rineka Cipta, 1995), 309


Prof. Dr. Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif R & D, Bandung, Alfabeta,

26

maka sumber datanya bisa berupa benda gerak atau proses sesuatu. Apabila
peneliti menggunakan dokumentasi, maka dokumen atau catatanlah yang menjadi
sumber data. Untuk mempermudah mengidentifikasi sumber data maka sumber
data dalam penelitian ini dapat diklasifikasikan menjadi 3 (Tiga) dengan huruf
depan P, singkatan dari bahasa Inggris, yaitu:
Person : sumber data berupa orang, yaitu sumber data yang dapat
memberikan data berupa jawaban lisan melalui wawancara atau jawaban tertulis
melalui angket. Dalam penelitian ini sumber data yang berupa person adalah;
Kepala Sekolah, Staf TU, KTU dan Guru.
Place : sumber data berupa tempat, yaitu sumber data yang menyajikan
tampilan berupa keadaan diam dan bergerak. Dalam penelitian ini yang berperan
sebagai sumber data berupa place adalah gedung sekolah, kantor kepsek, ruang
guru, kantor staff sekolah, kantor TU, Ruang Administrasi, dan kelas-kelas untuk
pelaksanaan proses belajar mengajar.
Paper : sumber data berupa simbol, yaitu sumber data yang menyajikan
tanda-tanda berupa huruf, angka, gambar, atau simbol-simbol yang lain. Peneliti
mengambil data dari file-file yang berada di dokumentasi sekolah dan dijadikan
sebagai sumber data. Seperti dokumentasi mengenai data para guru dan karyawan,
data siswa, dan data inventaris sarana dan prasarana pendidikan yang ada di
Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung I.
Sedangkan Penelitian kualitatif ini peneliti menggunakan penggalian data
melalui wawancara. Yang dengan menggunakan sumber tersebut peneliti sudah
dapat mendapat informasi berupa data yang akurat serta didukung dokumendokumen terkait.

27

D. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di sebuah lembaga pendidikan milik Yayasan
Muhammadiyah yaitu di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung I
kecamatan

Tulakan

Kabupaten

Pacitan,

ditingkat

Madrasah

Ibtidaiyah

Sekolah/Madrasah ini merpakan madrasah yang tidak begitu ketinggalan dalam


hal prestasi dan juga output-output yang berkualitas.
Alasan peneliti mengambil lokasi di sekolah ini dikarenakan dari tahun ke
tahun Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung I kecamatan Tulakan
Kabupaten Pacitan terus mengalami kemajuan dalam bidang prestasi siswanya
dan sarana dan prasarananya, dimulai dari perbaikan dan penambahan ruang kelas
sebagai ruang belajar mengajar dan perlengkapan sarana pendidikan. Kualitas
pembelajaran yang ditawarkan juga mengalami peningkatan, terutama pendidikan
agama Islam dan olah raga. Walaupun guru Pendidikan Agama Islam ada 3
Pendidikan Jasmani dan Kesehatan sebenarnya hanya 1 orang dan dibantu oleh 1
orang guru BP, namun kualitas pembelajaran MI Muhammadiyah Jatigunung I
kecamatan Tulakan. dapat dikatakan cukup baik. Salah satu faktor penunjangnya
yakni sarana dan prasarana yang sudah memadai, fasilitas Manajemen yang bisa
dikatakan cukup sehingga meski belum sebegitu canggih namun sudah dapat
melaksanakan Proses Manajemen Berbasis Sekolah.

E. Metode Pengumpulan data


teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam
penelitian karena tujuan utama dalam penelitian adalah mendapatkan data tanpa

28

teknik pengumpulan data maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang
memenuhi standar yang diterapkan 4.
Kualitas data ditentukan oleh kualitas alat pengambil data atau alat
pengukurnya. Kalau alat pengambil datanya cukup reliabel dan valid, maka
datanya juga akan cukup reliabel dan valid. Selain itu metode serta cara dalam
pengambilan data juga harus diperhatikan5. Dalam Penelitian ini peneliti
menggunakan 3 metode yang sudah lazim di gunakan dalam penelitian kualitatif
deskriptif, diantaranya adalah :
1. Metode Observasi/Pengamatan
Observasi merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data
dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang
berlangsung. Kegiatan tersebut bisa berkenaan dengan cara guru mengajar,
siswa belajar, kepala sekolah yang sedang memberikan pengarahan, personil
kepegawaian.
Dipandang dari sisi lain observasi atau pengamatan digunakan dalam
rangka mengumpulkan data dalam suatu penelitian, merupakan hasil
perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya
sesuatu rangsangan tertentu yang diinginkan, atau suatu studi yang disengaja
dan sistematis tentang keadaan/fenomena sosial dan gejala-gejala psikis
dengan jalan mengamati dan mencatat.
Yang dilakukan waktu pengamatan adalah mengamati gejala-gejala
sosial atau problematika yang muncul dalam kategori yang tepat,
mengamati berkali-kali dan mencatat segera dengan memakai alat bantu
seperti alat pencatat, formulir dan alat mekanik. Dalam pelaksanaannya

4
5

Prof. Dr. Sugiyono, Metode Penelitian........, 224


Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, Jakarta, Rajawali, 1990, 92

29

digunakan alat Bantu seperti checklist, skala penilaian atau alat mekanik
seperti tape recorder dan lainnya6.
Metode ini digunakan peneliti untuk mengamati kondisi fisik dan non
fisik yang berupa gedung, sarana dan prasarana penunjang Manajemen
Pengelolaan Madrasah dan kegiatan belajar mengajar Di MI Muhammadiyah
Jatigunung I Kecamatan Tulakan, serta sarana kerja kepala sekolah dan tenaga
edukatif dalam rangka mengembangkan lembaga sekolah selanjutnya.
2. Metode interview/wawancara
Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang digunakan
peneliti untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan melalui bercakapcakap dan berhadapan muka dengan orang yang dapat memberikan
keterangan pada peneliti7. Wawancara ini dapat dipakai untuk
melengkapi data yang diperoleh melalui observasi. Dalam penelitian ini,
peneliti menggunakan metode interview dalam bentuk interview bebas
terpimpin. bahwasannya interview bebas terpimpin yaitu kombinasi dari
interview bebas dan interview terpimpin. Sedangkan Interview dapat
dibagi menjadi 3 yaitu :
a) Interview berstruktur, yaitu interview dimana hal-hal yang
diberikan telah ditentukan terlebih dahulu.
b) Interview non struktur, yaitu belum ada persiapan jawaban
sebelumnya dari responden.
c) Interview terarah, merupakan perpaduan dari dua macam interview
diatas.

Mardalis, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, Jakarta: Bumi Aksara, 1999,

Mardalis, Metode Penelitian ........, 64

11

30

Dalam penelitian ini penulis menggunakan interview bebas


terpimpin (terarah) sebagai metode bantu. Metode interview ini digunakan
untuk mengumpulkan data tentang proses pembelajaran pendidikan dan
Proses Manajemen Berbasis Sekolah pada MI Muhammadiyah I
Kecamatan Tulakan Kabupaten Pacitan.
Data yang diperoleh dengan metode interview ini mengenai
informasi tentang Problematika Manajemen Berbasis Sekolah apa saja
yang dapat diangkat dan sangat menjadi pengaruh dalam peningkatan
mutu MBS di MI Muhammadiyah Jatigunung I bagaimana proses
manajemen pendidikan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran
pendidikan di MI Muhammadiyah Jatigunung I serta bagaimana hasil
peningkatan kualitas pembelajaran. melalui Manajemen Berbasis Sekolah.
3. Metode Dokumentasi
Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu,
dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental
dari seseorang8.
Mengumpulkan data dengan cara mengalir atau mengambil datadata dari catatan, dokumentasi, administrasi yang sesuai dengan masalah
yang diteliti. Dalam hal ini dokumentasi diperoleh melalui dokumendokumen atau arsip-arsip dari lembaga yang di teliti.
Pengumpulan data melalui teknik ini digunakan untuk melengkapi
data yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi. Dengan analisis
dokumentasi ini diharapkan data yang diperlukan benar-benar valid.

Prof. Dr Sugiyono, Metode Penelitian........, 240

31

Metode ini dipergunakan untuk

mencari data jumlah karyawan, data

pendaftar, data kelulusan, data sarana-prasarana dan catatan-catatan lain


yang relevan dengan permasalahan penelitian.
Dalam mengadakan penelitian yang bersumber pada tulisan
peneliti menggunakan metode dokumentasi. Dokumentasi, dari
asal katanya dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Di
dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki
benda-benda tertulis, seperti buku-buku, majalah, dokumen,
peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dokumentasi
manajemen pendidikan dan lain sebagainya9.
Dengan metode ini peneliti mendapatkan data-data mengenai
kondisi obyektif MI Muhammadiyah Jatigunung I, data karyawan, data
guru serta data siswa MI Muhammadiyah Jatigunung I. Dan juga berbagai
kegiatan ekstrakulikuler yang dilaksanakan di MI Muhammadiyah
Jatigunung I.

F. Metode Analisis Data


Setelah data terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah analisis data
untuk memperoleh kesimpulan dalam menganalisis data tersebut dilakukan secara
deskriptif (menutur kata dengan apa adanya secara kualitatif) dengan metode
induktifmetode induktif yaitu suatu cara berfikir yang berangkat dari fakta-fakta
atau peristiwa-peristiwa khusus kemudian ditarik generalisasi yang bersifat
umum.
Dalam penelitian kualitatif data diperoleh dari berbagai sumber dengan
menggunakan teknik pengumpulan data yang bermacm-macam (triangulasi) 10.
Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke
dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan
9

L.J Moleong, Metodologi Penelitian....., 135


Prof. Dr. Sugiyono, Metode Penelitian........, 243

10

32

dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. Tujuan
analisa di dalam penelitian adalah menyempitkan dan membatasi penemuanpenemuan hingga menjadi suatu data yang teratur, serta tersusun dan lebih berarti.
Proses analisis data dianjurkan agar secepatnya dilakukan oleh peneliti,
jangan menunggu sampai data itu menjadi dingin bahkan membeku atau malah
menjadi kadaluwarsa. Pekerjaan menganalisis data memerlukan usaha pemusatan
perhatian dan pengerahan tenaga fisik dan fikiran peneliti. Agar hasil penelitian
dapat tersusun sistematis, maka langkah peneliti dalam menganalisis data adalah;
pertama, dengan mereduksi data yaitu merangkum, memilih hal-hal yang pokok
dan memfokuskan pada hal-hal yang penting. Kedua, mendisplay data yaitu
menyajikan data yang dilakukan dalam bentuk uraian singkat, tabel dan
sejenisnya. Dan ketiga melalui verifikasi/penarikan kesimpulan, yaitu kesimpulan
yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang bersifat kredibel dan dapat
menjawab rumusan masalah yang dikemukakan sejak awal.

G. Pengecekan Keabsahan Data


Pengecekan keabsahan data/validitas dalam suatu penelitian sangat
penting dan harus dilakukan, karena kegiatan ini merupakan pembuktian bahwa
apa yang telah diamati/data yang diperoleh sesuai dengan apa yang sesungguhnya
menjadi kenyataan. Untuk menetapkan keabsahan data diperlukan teknik
pemeriksaan. Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah kriteria
tertentu. Ada empat kriteria yang digunakan, yaitu derajat kepercayaan
(credibility), keteralihan (transferability), kebergantungan (dependability), dan
kepastian (confirmability).

33

Pengecekan keabsahan data merupakan suatu langkah untuk mengurangi


kesalahan dalam proses perolehan data penelitian yang tentunya akan berimbas
terhadap hasil akhir dari suatu penelitian. Maka dari itu, dalam proses pengecekan
keabsahan data pada penelitian ini harus melalui beberapa teknik pengujian data.
Adapun teknik pengecekan keabsahan yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu:
1. Perpanjangan Keikutsertaan
Dengan perpanjangan keikutsertaan peneliti dapat menguji
ketidakbenaran informasi yang diperkenalkan oleh distorsi, baik yang
berasal dari diri sendiri maupun dari responden, dan membangun
kepercayaan subyek. Perpanjangan keikutsertaan juga menuntut peneliti
agar terjun ke dalam lokasi dan dalam waktu yang cukup panjang guna
mendeteksi dan memperhitungkan distorsi yang mungkin mengotori data.
Distorsi dapat berasal dari responden, banyak di antaranya terjadi tanpa
sengaja. Di pihak lain perpanjangan keikutsertaan juga dimaksudkan untuk
membangun kepercayaan para subyek terhadap peneliti dan juga
kepercayaan diri peneliti sendiri.
2. Ketekunan Pengamatan
Maksud ketekunan pengamatan adalah untuk menemukan ciri-ciri
dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau
isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal
tersebut secara rinci. Peneliti hendaknya mengadakan pengamatan dengan
teliti dan rinci secara berkesinambungan terhadap faktor-faktor yang
menonjol. Kemudian ia menelaahnya secara rinci sampai pada suatu titik
sehingga pada pemeriksaan tahap awal tampak salah satu atau seluruh
faktor yang ditelaah sudah dipahami dengan cara yang biasa.

34

Kekurangtekunan pengamatan terletak pada pengamatan terhadap pokok


persoalan yang dilakukan secara terlalu awal. Hal itu mungkin dapat
disebabkan oleh tekanan subyek atau sponsor atau barangkali juga
ketidaktoleransian subyek,

atau sebaliknya

peneliti terlalu cepat

mengarahkan fokus penelitiannya walaupun tampaknya belum patut


dilakukan demikian.
3. Triangulasi
Triangulasi Susan Stainback dalam buku Dr Sugiyono Tujuan
Triangulasi bukan untuk mencari kebenaran tentang beberapa fenomena.,
tetapi lebih pada peningkatan pemahaman peneliti terhadap apa yang telah
ditemukan11.
Melihat pendapat diatas Triangulasi adalah teknik pemeriksaan
keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu
untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.
Teknik triangulasi yang paling banyak digunakan ialah pemeriksaan
melalui sumber lainnya.

H. Tahap-tahap Penelitian
1.

Tahap Persiapan
a) observasi pendahuluan
b) mengurus surat izin penelitian
c) membuat rancangan/desain penelitian
d) mencari beberapa buku untuk dijadikan sebagai referensi agar penelitian
lebih fokus dan terarah
11

Prof. Dr. Sugiyono, Metode Penelitian........, 241.

35

e) Membuat pedoman interview, sehingga data yang diperoleh lebih


sistematis dan mendalam.
2.

Tahap Pelaksanaan
a) Peneliti melaksanakan wawancara kepada para guru guna memperoleh
data awal tentang proses pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dan
pelayanan manajemen di MI Muhammadiyah Jatigunung I Bersamaan
dengan itu peneliti melaksanakan observasi langsung terhadap tugas-tugas
guru dan staf MI Muhammadiyah Jatigunung I, agar penelitian lebih
efisien maka peneliti hanya mengamati Kepala Madrasah, Guru dan TU
staf. Serta mengadakan pengamatan langsung terhadap dokumen-dokumen
penting yang ada di MI Muhammadiyah Jatigunung I guna mengetahui
tentang hasil Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah.
b) Peneliti melakukan wawancara yang lebih terarah dan mendalam,
wawancara ini ditujukan kepada Kepala Mi Muhammadiyah Jatigunung I,
untuk mengetahui kualitas mutu pendidikan di madrasah tersebut serta
hambatan yang sering dikeluhkan oleh guru TU dan juga Stafnya.
Wawancara dilanjutkan kepada Urusan kebendaharaan, wawancara ini
dilakukan untuk mengetahui upaya yang akan dan sedang dilakukan guna
meningkatkan kualitas realisasi pendanaan yang relevan dan akuntabel.
Wawancara juga dilakukan Kepada Tata Usaha guna mengetahui proses
manajemen pengelolaan teknisi data pendidikan yang ada di MI
Muhammadiyah Jatigunung I. Wawancara yang terakhir ditujukan kepada
guru guna mengetahui problem-problem yang mereka alami dan yang
sangat intens berpengaruh dalam Manajemen Berbasis Sekolah di MI
Muhammadiyah Jatigunung I.

BAB IV
TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Diskripsi Objek Penelitian

1. Sejarah Singkat Berdirinya MI Muhammadiyah Jatigunung I


Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung 1 berdiri sejak
tanggal 04 Juli 1963. Berawal dari kegiatan mengaji pada sore hari di
masjid yang dipimpin oleh seorang tokoh Agama yang bernama Mbah
Kasan Mustat, kegiatan mengaji tersebut santrinya cukup banyak akan
tetapi jarang yang selesai mengaji atau sudah dewasa melanjutkan ke
pondok atau madrasah lain namun ada dua orang santri yang
melanjutkan ke pondok pesantren yaitu bpk Qomari dan Bpk Abdul
Hamid, dengan kepulangan kedua sanitri tersebut ke kampung
halamnya maka timbulah gagasan-gagasan dari masyarakat Dusun
Pinggir Desa Jatigunung ingin merubah dari kegiatan mengaji tersebut
seperti halnya TPA menjadi Madrasah Diniyah. Melihat semakin pesat
santri yang belajar di Madrasah diniyah tersebut sehingga pada tahun
1963 secara resmi Madrasah Diniyah itu berubah menjadi Madrasah
Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung 1, dengan menempati sebuah
rumah seorang warga masyarakat dusun pinggir Mbah Paikem
Namun karena kurang strategis dan letaknyapun terlalu sulit dijangkau
dengan demikian madrasah tersebut dipindahkan untuk menempati
tanah hibah dari Mbah Paijem/Mbah Jumawan1.
Meskipun Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung 1 sudah
dikatakan resmi akan tetapi belum ada surat izin operasional dari pemerintah
ataupun Kementrian Agama serta Yayasan Muhammadiyah, tepatnya pada
tanggal 04 Juli 1963 Surat Izin Operasional diterbitkan dan dengan demikian
Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung 1 sudah resmi.
Dengan dipelopori oleh para pendiri madrasah tersebut yang
diantaranya Mbah Minarjo, Mbah Marlan, Mbah Jumawan, Mbah Qomari
1

Arsip/Dok Sejarah Berdiri MI Muhammadiyah Jatigunung I

36

37

serta Mbah Abdul Hamid para pendiri tersebut dan masyarakat berupaya
memajukan Madrasah tersebut dan membangun kader kader Madrasah.
Di bawah naungan Yayasan Muhammadiyah akhirnya Madrasah
Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung 1 lama kelamaan sekolah subur karena
tidak ada saingan dari sekolah lain. Dan syukur alhamdulillah sampai saat ini
sekolah masih tetap berjalan dengan lancar dan muridnyapun juga tidak kalah
banyaknya dengan sekolah lainnya.

2. Letak Geografis dan Identitas MI Muhammadiyah Jatigunung I


Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung I berada di Rt 01 Rw
14 dusun Pinggir Desa Jatigunung Kecamatan Tulakan Kabupaten Pacitan. Secara
geografis Desa Jatigunung ini berbatasan dengan :
a. Sebelah utara

: Berbatasan dengan Desa Ngile

b. Sebelah timur

: Berbatasan dengan Desa Tulakan

c. Sebelah selatan

: Berbatasan dengan Desa Wonoanti

d. Sebelah barat

: Berbatasan dengan Desa Kalikuning

Sedangkan batas batas MI Muhammadiyah Jatigunung I dengan Sekolah


Lain adalah sebagai berikut :
a. Sebelah utara : Berbatasan dengan SDN Jatigunung III
b. Sebelah timur : Berbatasan dengan SDN Tulakan 1
c. Sebelah selatan : Berbatasan dengan MI Muhammadiyah Wonoanti III
d. Sebelah barat : Berbatasan dengan SDN Jatigunung 1

38

Sedangkan Identitas Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah


Jatigunung I adalah sebagai berikut:
Nama Madrasah

: MI Muhammadiyah Jatigunung I

Lokasi/Alamat

: Jl. Pinggir-Jatigunung KM. 2 Tulakan

Kabupaten

: Pacitan

Provinsi

: Jawa Timur

NPSN

: 60714231

NSM

: 111235010082

Status Madrasah

: Swasta

Akreditasi

:B

Tahun Berdiri

: 04 Juli 1963

Pimpinan

: SUFYAN, S.Pd.I

NIP

: 19601115 200604 1 016

3. Visi dan Misi Madrasah


a) Visi
Membentuk insan yang berakhlak mulia, bertaqwa, cerdas, iman,
dan terampil. (BERCITRA).
b) Misi
Mengembangkan kreatifitas, potensi anak didik untuk mencapai
harapan dan cita-cita.

39

4. Tujuan Berdirinya MI Muhammadiyah Jatigunung I


a) Dapat mengamalkan ajaran Agama hasil proses pembelajaran dan kegiatan
pembelajaran.
b) Meningatkan pengamalan salat lima waktu berjamaah, mengucapkan
salam serta menguasai hafalan surat-surat pendek dan doa sehari-hari
c) Menciptakan alumni MI Muhammadiyah Jatigunung I yang berkualitas,
meraih prestasi akademik maupun non akademik minimal tingkat
Kecamatan ataupun provinsi.

5. Kurikulum MI Muhammadiyah Jatigunung I


Eksistensi kurikulum dalam sebuah lembaga mempunyai fungsi yang
sangat penting, karena merupakan operasionalisasi yang dicita-citakan.
Bahkan tujuan pendidikan tidak akan tercapai tanpa keterlibatan kurikulum
pendidikan nasional. Kurikulum yang diterapkan di MI Muhammadiyah
Jatigunung I mengacu pada kurikulum Kementerian Agama dan Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP). Sehingga materi pelajaran yang diajarkan memuat materi yang ada di
kedua instansi terkait tersebut ditambah dengan materi yang mengandung
muatan lokal. Kurikulum MI Muhammadiyah Jatigunung I bisa dilihat dalam
tabel berikut:

40

Tabel. 1
KURIKULUM MI MUHAMMADIYAH JATIGUNUNG I

NO
A
1.

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
B

ALOKASI WAKTU
KELAS
I II III IV V VI

MATA PELAJARAN
Pendidikan Agama Islam
a) Bahasa arab
b) Al-quran hadits
c) SKI
d) Akhidah akhlaq
e) Fiqih
Pendidikan Kewarganegaraan
Bahasa Indonesia
Matematika
Ilmu Pengetahuan Alam
Ilmu Pengetahuan Sosial
Seni Budaya Dan Keterampilan
Pend. Olahraga
Muatan Lokal
a) Bahasa inggris
b) Bahasa daerah
c) Kemuhammadiyahan
d) Pengembangan Diri
Jumlah jam/ Minggu

1
2

1
2
2
2
2
6
6
6
2
2
3

1
2
2
1
2
2
6
6
6
3
2
3

2
2
2
1
2
2
6
6
6
3
2
3

2
2
2
1
2
2
6
6
6
3
2
3

2
2
2
1
2
2
6
6
6
3
2
3

2
2
2
6
6
6
2
2
3

2
1
2

2
1
2

2
2
1
2

2
2
1
2

2
2
1
2

2
2
1
2

39

39

43

44

44

44

Adapun pelaksanaan kegiatan belajar mengajar MI Muhammadiyah


Jatigunung I adalah :
a) Waktu belajar menggunakan sistem semester.
b) Pembelajaran menggunakan system guru kelas kecuali guru Bahasa
Indonesia, Matematika dan Pendidikan Olah Raga.
c) Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan pada pukul 07:30 sampai dengan
12 : 25 WIB. Dan alokasi waktu satu jam pelajaran adalah 35 menit.

41

6. Keadaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan MI Muhammadiyah


Jatigunung I
Di MI Muhammadiyah Jatigunung I mempunyai 6 Guru kelas dan 5
Guru bidang studi yang semuanya masih berstatus Guru Tetap Yayasan.
Untuk lebih rincinya bisa dilihat di tabel berikut:
Tabel. 2
KEADAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN MI
MUHAMMADIYAH JATIGUNUNG I TAHUN 2013/2014
No

Nama

L/P

Ijazah

Jabatan

SUFYAN, S.Pd.I

S1

Kepala Sekolah

SUPARLAN

SLTA

GTY

PAERAN, S.Pd.I

S1

GTY

RUDY SUSANTO, S.Pd

S1

GTY

SURANTO, A.MA

D II

GTY

ENDRO RIYANTO, S.Pd.I

S1

GTY

DWI SUCONDRO, S.Pd.I

S1

GTY

ENIK WIDYAWATI, S.Pd.I

S1

GTY

RINA RATIH, S.Pd.I

S1

GTY

10

RENI PUSPITASARI, S.Pd

S1

GTY

11

NOVIYANTI, S.Pd.I

S1

GTY

12

MUAMAR ZAINUDIN

SLTA

TU

Sumber : Arsip Data Keadaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan MI


Muhammadiyah Jatigunung I

42

7. Keadaan Siswa MI Muhammadiyah Jatigunung I


Jumlah murid yang dimiliki MI Muhammadiyah Jatigunung I dari kelas 1
sampai kelas 6 berjumlah 78 Siswa. Keadaan murid ini dapat dilihat di tabel
berikut :
Tabel. 3
KEADAAN SISWA MI MUHAMMADIYAH JATIGUNUNG I
No

Kelas

Laki-laki

Perempuan

Jumlah

13

II

10

15

III

12

IV

12

12

VI

10

14

JUMLAH
39
39
78
Sumber : Arsip Data Siswa MI Muhammadiyah Jatigunung I
Keadaan Sarana dan Prasarana MI Muhammadiyah Jatigunung I
Walaupun berada di lokasi pedesaan, namun sarana prasarana yang
dimiliki MI Muhammadiyah Jatigunung I tidak kalah dengan yang berada di
lokasi kecamatan/kota/kabupaten. Berdiri di atas tanah seluas 1463 M2 dan
luas bangunan 390M2, sarana prasarana yang dimiliki MI Muhammadiyah
Jatigunung I yakni :

43

Tabel. 4
SARANA PRASARANA MI MUHAMMADIYAH JATIGUNUNG I
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16
17.
18.
19.
20.
21.
22.

Nama Sarana/Prasarana

Jumlah

Keterangan

Ruang Kelas
6
Lokal
Ruang Perpustakaan
1
Sudut
Laboratorium IPA
Ruang Kepala Sekolah
1
Ruang
Ruang Guru
1
Ruang
Ruang Komputer
1
Ruang
LCD Proyektor
1
Paket
Ruang Kesehatan (UKS)
1
Sudut
Kamar Mandi/WC Guru
1
Ruang
Kamar Mandi/WC Siswa
1
Ruang
Gudang
1
Ruang
Ruang Administrasi
1
Sudut
Tempat Bermain/Tempat Olahraga 3
Lokal
Komputer
2
Paket
Laptop
1
Buah
Printer
2
Buah
Sumber penerangan
1
Listrik PLN
Papan Tulis
6
Buah
Meja & kursi Guru
12
Paket
Meja & kursi Siswa
45
Paket
TV 21 inchi
1
Buah
Sound Sistem
1
Paket
Sumber : Data Sarpras MI Muhammadiyah Jatigunung I

8. Struktur Organisasi MI Muhammadiyah Jatigunung I


Organisasi di MI Muhammadiyah Jatigunung I terstruktur mulai dari
jabatan paling atas ditempati oleh bapak kepala sekolah dan selanjutnya
ditempati oleh para staf dan guru mata pelajaran berada di bawah para staf.
Untuk lebih jelasnya apat dilihat pada bagan berikut ini :

44

Bagan. 1
STRUKTUR ORGANISASI MI MUHAMMADIYAH JATIGUNUNG I
Kepala Madrasah
SUFYAN, S.Pd.I

KTU
Muamar Zainudin
BK
Suranto

BK
Suranto, A.Ma

WK Kurikulum
PAERAN, ,S.Pd.I

Komite Madrasah
KHOIRUDIN

WK Humas
Endro Riyanto, S.Pd.I

WK Sarpras
Dwi Sucodro, S.Pd.I

WK Kesiswaan
Suranto, A.Ma

WK Bendahara
Rina Ratih, S.Pd.I
Wali Kelas

Kelas 1
Noviyanti

Kelas 2
Enik W, S.Pd.I

Kelas 3
Suparlan

Kelas 4
Reni P, S.Pd

Staf Pengajar

SISWA - SISWI

Kelas 5
Suranto, A.Ma

Kelas 6
Rudy S,S.Pd

45

B. Temuan Penelitian

1. Problematika Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Di Madrasah


Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung I
Pelayanan manajemen yang baik di sebuah lembaga pendidikan
adalah proses pembelajaran yang menyenangkan, tidak membosankan,
variatif, efektif, efisiensi, dan inovatif. Pembelajaran dapat dikatakan
berkualitas jika pelayanan manajemen berbasis sekolah terlaksana dengan
baik serta realisasi keuangan di madrasah terukur dan sesuai sasaran
sehingga dapat mencapai tujuan yang dirumuskan dan sesuai dengan
ketentuan-ketentuan yang dipakai. Adapun problematika yang muncul
setelah diadakan penelitian

a. Faktor Pendidik
Dimana lembaga ini memiliki 12 tenaga pendidik dan kependidikan
baik guru dan stafnya hal ini tentunya manajer harus bisa lebih
mengkondisikan personalnya dimana dalam mewujudkan pelayanan
pendidikan yang maksimal harus saling singkron antara staf guru dan
kepala

madrasah,

bertentangan

dengan

hal

tersbut

di

MI

Muhammadiyah Jatigunung I memang memiliki tenaga pendidik yang


berkualifikasi Sarjana Strata Satu akan tetapi masih kurang
berkompeten dan kurang profesional sehingga dalam mengetahui
karakter-karakter peserta didik masih belum begitu menguasai.

46

Pernyataan tersebut sebelumnya diungkapkan oleh kepala madrasah


yakni :
dibidang Pendidik Memang kami sudah mempunyai gelar S1 akan
tetapi pengalaman belajar yang masih kurang sehingga banyak
tantangan yang kami hadapi dalam proses KBM, ini menjadi PR kita
untuk mewujudkan perkembangan mutu/kualitas pendidikan 2.

b. Kurangnya Sarana dan Prasarana pendukung Pendidikan


Sebagai lembaga pendidikan yang mengedepankan ilmu
pendidikan agama islam maka seharusnya lembaga tersebut memiliki
sebuah tempat ibadah yang memadahi namun sebaliknya meski tempat
ibadah belum dimiliki akan tetapi yang menjadi tempat praktik ibadah
yakni ruang kelas sehingga sangat

mengganggu kelas yang

bersangkutan.

c. Proses Manajemen Berbasis Sekolah


Kepala Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung I
menjelaskan ketika pada waktu peneliti melakukan wawancara :
Lembaga ini memang telah banyak meraih prestasi yang diantara
prestasi tersebut didominasi oleh bidang olah raga namun meski
demikian dibidang keagamaan juga tidak kalah saing buktinya
pada tahun 2013 anak-anak kami juga mampu meraih tiga besar di
tingkat kabupaten, olimpiade mipa pada tahun 2012 juga
mewakili kecamatan tulakan pada tingkat kabupaten sedangkan
pada tahun 2010 dibidang olah raga bola volly dari lembaga ini
juga mewakili Kabupaten Pacitan dalam pekan olah raga dan seni
(Porseni Ke-III) di Jombang 2010, dan tak kalah juga dalam tahun
2

Wawancara, Kepala MI Muhammadiyah Jatigunung I, Tanggal 18 Juni 2014

47

2013 Porseni ke-IV Blitar juga mewakili Kabupaten Pacitan dari


cabang lari dengan hasil peringkat 3 besar dan tersebut adalah
dibidang Umum kemudian dalam bidang Agama Lomba
Pendidikan Agama Islam Tahun 2013 mewakili Kecamatan
Tulakan tingkat Kabupaten. kemudian kalau dalam proses
pembelajarannyapun juga tidak mau kalah saing artinya mulai
kelas IV, V dan VI Kami fokus ke materi pelajaran yang disini
siswa harus menyelesaikan mata pelajaran sesuai dengan SK/KD
pada tempo yang ditetapkan jika belum tuntas maka harus remidi
dan remidi tersebut tidak pada waktu reguler berarti harus ada les
bidang studi, namun demikian meski dimadrasah mendapat
pelajaran yang banyak dan tugas yang juga lumayan berat untuk
siswa, lingkungan tetap lebih besar dalam mempengaruhi anak
didik untuk membentuk karakteristik yang baik, jadi problem
yang muncul disini di bidang pembelajaran pada lembaga kami
pertama dari segi eksternal yaitu pengaruh lingkungan terhadap
peserta didik kami sehingga kami sedikit kerepotan dalam
memberikan pelajaran yang bisa diterima oleh anak didik tersebut,
kalau dari segi internal yakni kami mengakui untuk staf pengajar
masih terlalu memikir secara materialistik artinya ketika mereka
ada kepentingan lain mereka hanya membiarkan begitu saja
tentang tugas sebagai pendidik jadi kami merasa kasihan pada
anak didik kami jika pendidik kami masih belum mau sepenuhnya
bertanggung jawab3.
Seperti yang telah kami ketahui memang benar bahwa apa yang
telah disampaikan oleh kepala MI Muhammadiyah Jatigunung I tersebut
sangat berdampak sekali terhadap output lembaga ini sehingga harapan
dalam meningkatkan kualitas mutu pembelajaran dan mutu manajemen
dalam mengelola lembaga pendidikan ini semoga terwujud dan juga
dibidang personalia/pendidik/staf kependidikan dapat bertugas secara
ikhlas dan bertanggung jawab.
Selanjutnya dibidang sarana dan prasarana setelah peneliti
membaca tabel 4.4 untuk mencapai standar pendidikan yang berbasis
sekolah secara mutu yang tinggi masih banyak yang kurang seperti
3

Wawancara, Kepala MI Muhammadiyah Jatigunung I, Tanggal 18 Juni 2014

48

pengadaan tempat Ibadah lab. IPA, ruang UKS yang baik, seperti yang
dijelaskan oleh waka Sarpras MI Muhammadiyah Jatigunung I, beliau
mengatakan :
Banyak sekali yang masih kurang di lembaga ini misalnya tempat
ibadah ya meskipun berbentuk musola yang setidaknya ada itu sudah
sangat bermanfaat bagi lingkungan madrasah ini kemudian, ruang UKS
yang masih menyatu dengan ruang administrasi ini perlu diperhatikan,
kemudian perpustakaan juga masih belum tertata dengan rapi akhirnya
siswa menjadi malas untuk membaca buku di perpustakaan dan yang
terpenting adalah alat media informasi dan teknologi, komputer misalnya
di madrasah ini hanya ada 2 buah komputer dimana pada zaman seperti
saat ini hampir semua urusan lewat komputer/berbasis media elektronik,
dan jika ini menjadi penghambat pelayanan dalam mengerjakan tugas ini
tentu berdampak pada ketertinggalan informasi diluar4.

Melihat apa yang telah dipaparkan oleh waka sarpras MI


Muhammadiyah Jatigunung I tersebut bahwa sarana dan prasarana yang
disebutkan tadi menjadi titik utama lembaga jika ruang kelas sudah
memadahi dan sudah cukup maka yang menjadi penghambat untuk
berjalan lancar adalah sarana dan prasarana tersebut oleh karenanya
manajer perlu memperhatikan fasilitas pendidikan tersebut jika ingin
madrasahnya mempunyai citra yang baik mutu yang baik dan output
berkualitas.
Hal senada juga diungkapkan oleh Waka Bendahara MI
Muhammadiyah Jatigunung I, Ibu Rina Ratih, S.Pd.I Beliau Menjelaskan
dalam wawancara dengan peneliti :
Saya mengabdi di Madrasah ini sudah tujuh tahun dan menjabat
sebagai bendahara madrasah sudah empat tahun namun didalam perjalanan
4

Wawancara, Waka Sarpras MI Muhammadiyah Jatigunung I, Tanggal 18 Juni 2014

49

saya disini ada banyak kendala yang diantaranya adalah aplikasi


manajemen keuangan kurang canggih sehingga saya harus mengerjakan
secara manual kemudian realisasi keuangan terhadap kebutuhan madrasah
semakin banyak bahkan antara sumber pendanaan kami dengan
pengeluaran masih sering banyak pengeluaran sementara sumber dana
kami adalah iuran orang tua dan BOS Pusat realisasi ini sekitar 20 %
hanya kepada gaji pegawai5.
Aplikasi yang dimaksud oleh waka bendahara tersebut bisa
dikatakan hal yang paling penting dalam mengolah keuangan supaya
akuntabel dan akurat dalam merealisasikan kuangan dan membuat laporan
keuangan akan lebih mudah sehingga nilai kecilpun mudah terbaca dan
semua akan berjalan lancar.
Menyimpulkan pernyataan-pernyataan dalam hasil penelitian
tersebut yakni sebenarnya masalah yang ada di Madrasah Ibtidaiyah
Muhammadiyah tersebut adalah keterbatasannya sumberdaya dalam
mengelola manajemen berbasis sekolah itu sendiri merekapun merasa
kesulitan dalam memecahkan masalah yang ada dan itupun didesak oleh
waktu misalnya pengumpulan data-data penting laporan-laporan dan
sejenisnya itu menjadi penghambat dari sebuah pengelolaan sehingga
menjadi tidan maksimal.

Wawancara, Waka Bendahara MI Muhammadiyah Jatigunung I, Tanggal 18 Juni 2014

50

C. Pembahasan

1. Problematika Manajemen Berbasis Sekolah di MI Muhammadiyah


Jatigunung I
Melihat kesenjangan/masalah yang ada bahwa manajemen yang
diterapkan di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung I tersebut
memang Manajemen Berbasis Sekolah akan tetapi secara teknis masih banyak
administrasi yang belum tertata baik administrasi/perlengkapan kelas maupun
administrasi kepegawaian/kantor sehingga mengakibatkan kegiatan belajar
mengajar menjadi terganggu hal ini sangat berdampak negatif pada peserta
didik selebihnya dalam bagian administrasi kantor harus lebih diperbaiki
misalnya pembukuan-pembukuan klaper siswa, data-data dinging sehingga
kewibawaan dalam pandangan wali murid, komite dan mereka juga
mempunyai rasa kepercayaan terhadap madrasah tersebut akan tetapi tidak
hanya melalui memperbaiki administrasi untuk mendapak kepercayaan dari
masyarakat tersebut seorang pendidik haris bisa menjadi contoh tauladan bagi
peserta didik. Dimulai dari sekarang ini semoga setelah peneliti memberikan
salinan hasil penelitian ini dapat menjadi literatur madrasah untuk sedikit atau
banyak berubah menjadi yang lebih baik.
Pendidikan berlangsung selama hidup, untuk menumbuhkan, memupuk,
mengembangkan, memelihara dan mempertahankan tujuan pendidikan yang
telah dicapai. Tujuan untuk membentuk insan dengan berpola takwa dapat
mengalami perubahan naik turun, bertambah dan berkurang dalam perjalanan
hidup seseorang. Maka dari itu orang yang sudah takwa, masih perlu

51

mendapatkan pendidikan dalam rangka pengembangan dan penyempurnaan,


sekurang-kurangnya pemeliharaan supaya tidak luntur dan berkurang,
meskipun pendidikan oleh diri sendiri dan bukan dalam pendidikan formal.
Tujuan akhir dari pendidikan agama Islam dapat dilihat dalam firman Allah:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa


kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan
beragama Islam(Q.S. Al-Imran : 102)6.



....niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu
dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah
Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Q.S. al-Mujadalah: 11)7.
MI

Muhammadiyah

Jatigunung

dalam

menjalankan

kegiatan

pembelajaran juga tak lepas dari visi yang telah ditentukan pada awal berdirinya
sekolah ini. Dengan mengedepankan keunggulan dalam hal iman dan taqwa maka
kegiatan pembelajaran di madrasah yang memang lembaga ini sudah menjadi
basis religius meski bukan pondok pesantren tetapi justru harus diperhatikan lebih
serius dalam mengembangkan pendidikan agama Islam yang didukung dengan
fasilitas canggih lengkap dan administrasi yang baik.

6
7

Al-Quran dan Terjemahnya Semarang, CV. Alwaah, 1993, 92


Al-Quran dan Terjemahnya......, 910

52

Dalam rangka mengatasi berbagai macam persoalan dalam hidup ini maka
pendidikan harus menunjukkan kontribusinya. Dan oleh karenanya para pendidik
masih seringkali mendapat kritik pedas dari para pakar ahli pendidikan, maka dari
itu kualitas pembelajaran PAI harus ditingkatkan. Banyak faktor yang menjadi
pendukung adanya peningkatan kualitas pembelajaran PAI di antaranya adalah
faktor sarana dan prasarana. Karena tanpa adanya sarana dan prasarana yang
memadai maka pembelajaran tidak akan berjalan efektif dan efisien. Tujuan
pembelajaran yang telah ditentukan pun akan sulit tercapai.
Berdasarkan wawancara dari berbagai bidang khususnya dalam bidang
ketenagapendidikan yang ada di lokasi penelitian kemudian dari sana dapat
dipertegas bahwa pembelajaran perlu dan sangat penting dilakukan diklat-diklat
mata pelajaran peningkatan mutu guru agar guru dapat mempunyai jiwa besar
sebagai guru dan menguasai materi-materi yang diajarkan kemudian disisi lain
dengan adannya bentuk peningkatan mutu guru ini juga harus diberikan oleh
kepala madrasah/manajer berupa supervisi bentuk ini sangat efektif dan mudah
sekali untuk mewujudkan pendidik agar dapat membenahi kekurangankekurangan yang ada disamping itu guru juga lebih berkompeten dalam bidang
ajar.
Dibidang sarana dan prasarana sesuai apa yang dipaparkan oleh wakil kepala
sarara dan prasarana dalam wawancara pada tanggal 18 Juni 2014 beliau
menjelaskan bahwa kekurangan-kekurangan fasilitas di lembaga tersebut banyak
sekali seperti ruang administrasi hanya menggunakan sudut dalam ruang guru
ruang perpustakaan begitu juga hal ini dapat mengurangi fokus kegiatan belajar

53

mengajar sehingga mutu pendidikan juga kurang baik. Tidak hanya itu setelah
kami lakukai penelitian lebih jauh ternyata fasilitas/sarana dan prasarana masih
kurang dalam menciptakan manajemen berbasis sekolah yang baik yakni media
pembelajaran dan pengelolaan masih sangat sederhana seperti jaringan internet
yang belum ada hanya menggunakan modem (Modulator-Demodulator) saluran
Air bersih yang terkadang tidak lancar sehingga toilet dan kamar mandi tidak
terjamin. Selanjutnya di lihat dari bahan habis pakai bahwa kebutuhan kelas juga
banyak sekali lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

54

Tabel 5
SARANA YANG DIBUTUHKAN DALAM MENINGKATKAN KUALITAS
MUTU PENDIDIKAN DI MI MUHAMMADIYAH JATIGUNUNG I
Ditinjau dari habis
Ditinjau dari
tidaknya dipakai
bergerak tidaknya
1 Sarana pendidikan Sarana yang
yang habis dipakai : bergerak:
a. kapur tulis
a. meja
b. buku tulis
b. bangku
c. spidol
c. kursi
d. almari

No

2 Sarana pendidikan
yang tahan lama

Ditinjau dari hubungannya


dengan PBM
Sarana yang langsung digunakan
dalam PBM:
a. Alat pelajaran: Kapur tulis,
papan tulis, penghapus papan
tulis, penggaris, buku tulis dll.
b. Alat peraga: boneka untuk
peragaan sholat jenazah,
kabah tiruan untuk praktek
manasik haji.
c. Media: tape recorder (audio),
TV dan VCD (audio visual).
Sarana yang secara tidak
langsung digunakan dalam PBM:
almari buku

Sarana yang tidak


bergerak:
a. meubelair
a. meja
perpustakaan
b. kursi
b. peralatan
c. papan tulis
laboratorium
c. saluran PDAM
Sumber : Arsip MI Muhammadiyah Jatigunung I
Tabel 6

PRASARANA YANG DIBUTUHKAN DALAM MENINGKATKAN


KUALITAS MUTU PENDIDIKAN
DI MI MUHAMMADIYAH JATIGUNUNG I

No

Klasifikasi Prasarana Pendidikan

Contoh

Ruang Kelas, Perpustakaan,


1
Laboratorium, Tempat Ibadah,
Tempat Olah Raga
Ruang guru, ruang kepala sekolah,
Prasarana yang secara tidak
ruang staff, ruang TU, kamar
2
langsung digunakan dalam KBM
mandi, tempat wudlu, halaman
tapi juga menunjang KBM
sekolah, dan jalan menuju sekola
Sumber : Arsip MI Muhammadiyah Jatigunung I
Prasarana yang secara langsung
digunakan dalam KBM

55

Hal senada diungkapkan oleh Bpk Muamar Zainudin selaku Kepala Tata Usaha
MI Muhammadiyah Jatigunung I beliau mengungkapkan :
Sarana yang dibutuhkan guru dalam mengajar adalah seperti kapur tulis,
spidol/Board Marker, papan tulis, penghapu, meja, bangku, kursi, almari,
dan media pendidikan seperti LCD, kaset, CD, VCD, dan TV. MI
Muhammadiyah Jatigunung I Kecamatan Tulakan belum memiliki media
audio visual yang lengkap hanya beberapa saja yang kami punya,
Sedangkan prasarana yang menunjang peningkatan kualitas mutu
pendidikan dan meminimalisir problematika Manajemen berbasis sekolah
adalah masjid, ruang kelas dan perpustakaan ruang administrasi dan
fasilitas administrasi yang lengkap. Karena untuk ruang administrasi kami
belum punya. Selain sudut ruang kantor guru yang kami gunakan untuk
ruang tersebut hal ini sangat sempit dan kami merasa kurang nyaman saat
mengerjakan teknisi data. Di bidang pendidikan kami tambahkan yakni
perpustakaan dan masjid adalah prasarana yang utama dalam peningkatan
mutu pendidikan berbasis sekolah di madrasah ini. Selain itu siswa dan
guru biasanya mengerjakan sholat dhuha pada jam pertama dan
menunaikan jamaah shalat dhuhur pada istirahat kedua atau sepulang
sekolah.8
MI Muhammadiyah Jatigunung I dalam meningkatkan kualitas

Mutu

Pendidikan memerlukan sarana dan prasarana pendidikan yang lengkap, memadai


dan siap pakai. Sama halnya dengan mata pelajaran yang lainnya seperti Biologi,
Kimia, Fisika, Bahasa dan lain-lain.

2. Proses Manajemen Berbasis Sekolah di MI Muhammadiyah Jatigunung I


Aktifitas pertama dalam manajemen Berbasis Sekolah adalah pengadaan
sarana dan prasarana fasilitas administrasi. Kegiatan ini biasanya dilakukan
untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan
pendidikan di sekolah, menggantikan barang-barang yang rusak, hilang,
dihapuskan atau sebab- sebab lain yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga

Wawancara Kepala Tata Usaha Mi uhammadiyah Jatigunung I Tanggal 23 Juni 2014

56

memerlukan pergantian, dan untuk menjaga tingkat persediaan barang setiap


tahun anggaran mendatang.

3. Perencanaan dan Pembelian Sarana dan Prasarana


Kemudian aktivitas selanjutnya adalah perencanaan dan pembelian
dalam perencanaan anggaran pembelian ini masuk dalam dokumen rencana
kerja anggaran madrasah (RKAM). Disana dijelaskan dalam hal pengadaan
sarana administrasi dan kebutuhan pendidikan di kelas dapat berupa pembelian,
hadiah atau sumbangan tukar menukar. Setelah mendapatkan sarana dan
prasarana tersebut maka kepala menetapkan bagaimana pengelolaannya dan
bagaimana penggunaannya

4. Pendistribusian Sarana dan Prasarana Sekolah


Barang-barang perlengkapan sekolah (sarana dan prasarana pendidikan)
yang telah diadakan dapat didistribusikan. Pendistribusian atau penyaluran
perlengkapan merupakan kegiatan pemindahan barang dan tanggungjawab dari
seorang penanggungjawab penyimpanan kepada unit-unit atau orang-orang
yang membutuhkan barang itu. Dalam rangka itu, ada tiga langkah yang
sebaiknya ditempuh oleh bagian penanggungjawab penyimpanan atau
penyaluran, yaitu: (1) penyusunan alokasi barang; (2) pengiriman barang; (3)
penyerahan barang.

57

5. Penggunaan dan Pemeliharaan Sarana Dan Prasarana Pendidikan


Kegiatan rutin untuk mengusahakan agar barang tetap dalam keadaan
baik dan berfungsi baik pula (running well) disebut pemeliharaan atau
perawatan (service). Kegiatan pemeliharaan dapat dilakukan menurut ukuran
waktu dan menurut ukuran keadaan barang. Pemeliharaan tersebut dapat
dilakukan sendiri oleh pemegangnya/penanggungjawabnya, atau memanggil
tukang/ahli servis untuk melakukannya, atau membawanya ke bengkel servis.
Bapak kepala MI Muhammadiyah Jatigunung I termasuk pemimpin
yang

bijaksana, beliau tidak asal perintah saja melainkan beliau juga

memberikan tauladan yang baik terhadap anak buahnya. Karena beliau


mempunyai prinsip bahwasannya orang yang menyuruh melakukan sesuatu
harus berbuat hal yang sama, jadi tidak asal ngomong dan tidak
melaksanakan. Hal ini sesuai dengan firman Allah:



Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu
melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab
(Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? (Q.S. Al-Baqarah: 44). 9


Amat besar kebencian di sisi Allah karena kamu mengatakan apa-apa
yang tiada kamu kerjakan. (Q.S. As-Shaf: 3) 10.

Al-Quran dan Terjemahnya........, 16


Al-Quran dan Terjemahnya........, 928

10

58

6. Hasil Peningkatan Kualitas Mutu Pendidikan melalui Manajemen Berbasis


Sekolah.
Pendidikan Dalam kamus besar bahasa Indonesia kualitas didefinisikan
sebagai tingkat baik buruknya sesuatu, kadar atau mutu atau dapat juga dikatakan
sebagai derajat atau taraf (kepandaian atau kecakapan, dan sebagainya). 11
Sedangkan. secara sederhana pembelajaran mengandung arti setiap kegiatan yang
dirancang untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dan atau
nilai yang baru.
Oleh karena itu agar kualitas Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah di
suatu sekolah umum lebih meningkat dari pada sebelumnya dan bisa setara
dengan kualitas Manajemen Berbasis Sekolah yang lain maka sekolah harus
memiliki sarana dan prasarana manajemen dan sarana prasarana pendidikan yang
lengkap. Tapi tidak cukup itu, sekolah harus memiliki kapabilitas dalam
mengelola sarana dan prasarana pendidikan yang sudah tersedia, paham tentang
teori-teori manajemen sarana dan rasarana dan mampu mengimplementasikannya
dalam realitas di madrasah, sehingga adanya sarana dan prasarana pendidikan
yang termanage dengan baik sangat memungkinkan hasil yang diperolehnya pun
akan lebih baik.

11

467.

W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka,1989,

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari seluruh pembahasan dan pemaparan terhadap pokok permasalahan yang
diajukan dalam skripsi dengan berdasarkan pada data hasil penelitian beserta proses
penganalisaan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Proses

Pengelolaan

Manajemen

Berbasis

Sekolah

(MBS)

di

MI

Muhammadiyah Jatigunung I Tahun Pelajaran 2013-2014 berdasarkan


penelitian masih banyak kekurangan dari berbagai sektor sehingga sangat
menghambat proses peningkatan mutu pendidikan melalui Manajemen
Berbsis Sekolah (MBS).
2. Problematika Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang ada di Madrasah
Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung I adalah kurangnya profesionalitas
pendidik, tanaga kependidikan, pengelolaan keuangan kurang transparan dan
akuntabel. serta sarana dan prasarana pendidikan yang kurang memadahi.

B. Saran
Dari hasil kesimpulan pembahasan di atas, maka ada beberapa hal yang perlu
diungkapkan

sebagai

saran

dalam

rangka

meningkatkan

kualitas

mutu

pendidikanmelalui manajemen berbasis sekolah :


1.

Bagi Kepala Sekolah


Hendaknya kepada kepala sekolah melakukan supervisi terhadap
pendidik dan tenaga kependidikan hingga ada perubahan yang positif dalam

59

60

proses peningkatan pengelolaan manajemen berbasis sekolah di Madrasah


Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung I.
2. Bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Hendaknya guru/pendidik dan tenaga kependidik banyak mendapatkan
kesempatan

pelatihan-pelatihan

dibidangnya

sehingga

dapat

lebih

berpengalaman yang banyak.


Hendaknya lebih banyak memiliki fokus kinerja yang maksimal karena
administrasi sebagai jantung lembaga/perusahaan yang sangat berpengaruh pada
Input, Proses maupun Output.
3. Bagi Urusan Bidang Sarana dan Prasarana
Perlu adanya komunikasi yang intensif dengan kepala sekolah, guru dan
karyawan dalam proses manajemen sarana dan prasarana, terutama dalam
proses rencana pengadaan, pemeliharaan sarana dan prasarana.

Sarana dan

prasarana yang telah usang dan tidak dipakai lagi dihapus saja, meskipun harus
dengan prosedur yang rumit. Karena dengan penghapusan barang-barang yang
tela usang itu, akan menambah luas sarana dan prasarana yang telah tersedia.
Selain itu sekolah akan mendapatkan dana jika barang-barang itu dilelang dan
dana itu dapat digunakan untuk pengadaan sarana dan prasarana yang belum
tersedia/yang lebih baru.

DAFTAR KEPUSTAKAAN
Al-Quranul dan Terjemahnya Semarang, CV. Alwaah, 1993.
Amtu Onisimus, Manajemen Pendidikan di Era Otonomi Daerah Konsep Strategi
dan Implementasi, Bandung, Alfabeta, 2011.
Arsip/Dok Sejarah Berdiri MI Muhammadiyah Jatigunung I.
Fattah Nanang, Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung, PT Remaja Rosdakarya,
2014.
Hasibuan Malayu, Manajemen Dasar, Pengertian, dan Masalah, Jakarta, Bumi
Aksara, 2001.
Mardalis, Metode Penelitian: Suatu Pendekatan Proposal, Jakarta, Bumi Aksara
1999.
Moleong L.J, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung,Remaja Rosdakarya, 2002.
Mulyasa Enco, Menjadi Kepala Sekolah Profesional dalam konteks menyukseskan
MBS dan KBK, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2003.
Noer Aly Heri, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Logos Wacana Ilmu, 1999.
Nurkholis, manajemen berbasis sekolah, teori, model dan aplikasi, Jakarta PT
Grasindo, 2003.
Pidarta Made, Manajemen Pendidikan Indonesia, Jakarta, Bina Aksara,1988.
Siagian Harbangan, Administrasi Pendidikan, Semarang, Setya Wacana, 1989.
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif R & D, Bandung, Alfabeta, 2013
Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, Jakarta, Rineka Cipta, 1995).
Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam, Tulungagung, Teras, 2009.
Suryabrata Sumadi, Metodologi Penelitian, Jakarta, Rajawali, 1990.
Terry G.R, Manajemen Madrasah Teori Strategi dan Implementasi, Bandung,
Alfabeta, 2009.
Tery & Rue Manajemen Pendidikan di Era Otonomi Daerah Konsep Strategi dan
Implementasi, Bandung, Alfabeta, 2011.
W.J.S.

Poerwadarminta,
Pustaka,1989.

Kamus

Umum

61

Bahasa

Indonesia,

Jakarta,

Balai

62

Wawancara, Kepala MI Muhammadiyah Jatigunung I, Tanggal 18 Juni 2014.


Wawancara, Waka Sarpras MI Muhammadiyah Jatigunung I, Tanggal 18 Juni 2014.
Wawancara, Waka Bendahara MI Muhammadiyah Jatigunung I, Tanggal 18 Juni
2014.
Wawancara, KTU MI Muhammadiyah Jatigunung I, Tanggal 23 Juni 2014.
Zahroh Aminatul, Total Quality Manajemen, Yogyakarta, Ar-Ruzz Media, 2014.
Zahroh Aminatus, Total Quality Management, Teori Praktik manajemen untuk
mendongkrak mutu pendidikan,Yogyakarta, Arruz Media, 2014.

Lampiran 3

A. PEDOMAN WAWANCARA
Penelitian dan pendekatan kualitatif menggunakan instrumen penelitian
berupa pedoman wawancara karena dalam proses pengumpulan data menekankan
pada wawancara mendalam terhadap narasumber/informan untuk mendapatkan
pemahaman mengenai proses pengelolaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di
MI

Muhammadiyah

Jatigunung

Tahun

Pelajaran

2013-2014,

narasumber/informan adalah pemberi informasi yang berhubungan permasalahan


penelitian peneliti menentkan 1 orang pimpinan dan 3 orang karyawan/guru/staf
sebagai informan dalam penelitian sehingga informasi yang disajikan dapat
maksimal dan akurat.
Berdasarkan fokus penelitian diatas, peneliti memfokuskan penelitian ini
pada pertanyaan-pertanyaan penelitian yang dijabarkan dalam pedoman
wawancara sebagai berikut kepada informan penelitian :
1. Pimpinan/Manajer
a. Manajemen Sekolah
b. Pendidik dan Tenaga Kependidikan
c. Proses Manajemen Sekolah
d. Supervisi
2. Bawahan/Staf
a. Sarana dan Prasarana
b. Teknisi data/administrasi
c. Keuangan
d. Data Lembaga/Profil.

Lampiran 3

B. INSTRUMEN WAWANCARA
1. Pengelolaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di Madrasah Ibtidaiyah
Muhammadiyah Jatigunung I Kecamatan Tulakan Kabupaten Pacitan
Tahun Pelajaran 2013/2014?.
a. Apakan Lembaga ini telah menerapkan MBS.
b. Bagaimana Menurut Anda Prestasi Siswa dalam bidang akademik.
c. Bagaimana Pandangan anda tentang Pengelolaan MBS
d. Bagaimana Proses Pengelolaan MBS di MI Muhammadiyah
Jatigunung I tahun Pelajaran 2013-2014.
e. Selebihnya apa yang bapak/ibu dianggap menjadi kesenjangan di
lembaga ini.
2. Faktor-faktor yang menjadi pendukung, penghambat dan mempengaruhi
dalam Proses Pengelolaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di
Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung I Kecamatan Tulakan
Kabupaten Pacitan Tahun Pelajaran 2013/2014?.
a. Faktor Apa saja yang menjadi pendukung dalam Manajemen Berbasis
Sekolah
b. Faktor Apa saja yang menjadi Penghambat dalam Manajemen Berbasis
Sekolah
c. Faktor Apa saja yang menjadi mempengaruhi dalam Manajemen
Berbasis Sekolah
3. Problematika Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Di Madrasah
Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung I Kecamatan Tulakan Kabupaten
Pacitan Tahun Pelajaran 2013/2014.
a. Problematika apa yang timbul pada di MI Muhammadiyah Jatigunung
I tahun Pelajaran 2013-2014.
b. Apa

penyebabnya

timbul

problematika

dalam

MBS

Muhammadiyah Jatigunung I tahun Pelajaran 2013-2014.

di

MI

Lampiran 4

TRANSKRIP WAWANCARA
DENGAN KEPALA MADRASAH
MI MUHAMMADIYAH JATIGUNUNG I
Nama

: Sufyan, S.Pd.I

Jabatan

: Kepala Madrasah

Tanggal Wawancara : Tanggal 18 Juni 2014 di Ruang Kepala Madrasah

1. Apakan Lembaga Ya. Karena Memang Madrasah/lembaga pendidikan


ini

telah di naungan kementerian Agama Kabupaten Pacitan


dianjurkan untuk menerapkan MBS.

menerapkan
MBS?.
2. Bagaimana

Lembaga ini memang telah banyak meraih prestasi

Menurut

Bapak yang diantara prestasi tersebut didominasi oleh

Prestasi

Siswa bidang olah raga namun meski demikian dibidang

dalam

bidang keagamaan juga tidak kalah saing buktinya pada

akademiknya?.
Selebihnya
yang

tahun 2013 anak-anak kami juga mampu meraih tiga


apa besar di tingkat kabupaten, olimpiade mipa pada

bapak/ibu tahun 2012 juga mewakili kecamatan tulakan pada

dianggap menjadi tingkat kabupaten sedangkan pada tahun 2010


Masalah

di dibidang olah raga bola volly dari lembaga ini juga

lembaga

ini mewakili Kabupaten Pacitan dalam pekan olah raga

Terkait MBS.

dan seni (Porseni Ke-III) di Jombang 2010, dan tak


kalah juga dalam tahun 2013 Porseni ke-IV Blitar
juga mewakili Kabupaten Pacitan dari cabang lari
dengan hasil peringkat 3 besar dan tersebut adalah
dibidang Umum kemudian dalam bidang Agama
Lomba Pendidikan Agama Islam Tahun 2013
mewakili Kecamatan Tulakan tingkat Kabupaten.
Kemudian kalau dalam proses pembelajarannyapun
juga tidak mau kalah saing artinya mulai kelas IV, V
dan VI Kami fokus ke materi pelajaran yang disini

Lampiran 4

siswa harus menyelesaikan mata pelajaran sesuai


dengan SK/KD pada tempo yang ditetapkan jika
belum tuntas maka harus remidi dan remidi tersebut
tidak pada waktu reguler berarti harus ada les bidang
studi, namun demikian meski dimadrasah mendapat
pelajaran yang banyak dan tugas yang juga lumayan
berat untuk siswa, lingkungan tetap lebih besar
dalam mempengaruhi anak didik untuk membentuk
karakteristik yang baik, jadi problem yang muncul
disini di bidang pembelajaran pada lembaga kami
pertama

dari

segi

eksternal

yaitu

pengaruh

lingkungan terhadap peserta didik kami sehingga


kami sedikit kerepotan dalam memberikan pelajaran
yang bisa diterima oleh anak didik tersebut, kalau
dari segi internal yakni kami mengakui untuk staf
pengajar masih terlalu memikir secara materialistik
artinya ketika mereka ada kepentingan lain mereka
hanya membiarkan begitu saja tentang tugas sebagai
pendidik jadi kami merasa kasihan pada anak didik
kami jika pendidik kami masih belum mau
sepenuhnya bertanggung jawab.
3. Bagaimana Proses Sudah Berjalan tetapi memang basih banyak
Pengelolaan MBS kekurangan dalam melangkah atau proses-prosesnya
di

MI dimana di bidang sarpras tenaga pendidik dan

Muhammadiyah

kependidikan juga masih sangat riskan sekali

Jatigunung I tahun sehingga ada kaitannya dengan yang pertanyaan


Pelajaran
2014.

2013- yang tadi guru kurang fasilitas pembelajaran


akhirnya siswa yang menjadi korban. Kemudian

Lampiran 4

dibidang pelayanannya MBS bisa di tanyakan pada


wakil saya ada bendahara, sarpras, TU saya kira itu
lebih paham dan lebih detail.

Informan
(Kepala Madrasah)

Peneliti

SUFYAN, S.Pd.I

Rodhi Nur Wahid

Lampiran 4

TRANSKRIP WAWANCARA
DENGAN
WAKA SARPRAS MADRASAH
Nama

: Dwi Sucondro, S.Pd.I

Jabatan

: Waka Sarpras

Tanggal Wawancara : Tanggal 18 Juni 2014 di Ruang Guru MI Muhammadiyah


Jatigunung I
1. Faktor Apa saja

Banyak sekali yang masih kurang di lembaga ini

yang menjadi

misalnya tempat ibadah ya meskipun berbentuk

pendukung,

musola yang setidaknya ada itu sudah sangat

Penghambat dan

bermanfaat bagi lingkungan madrasah ini kemudian,

mempengaruhi

ruang UKS yang masih menyatu dengan ruang

dalam

administrasi

Manajemen

perpustakaan juga masih belum tertata dengan rapi

Berbasis

akhirnya siswa menjadi malas untuk membaca buku

Sekolah?.

di perpustakaan dan yang terpenting adalah alat

Kemudian

media informasi dan teknologi, komputer misalnya di

dampaknya.

madrasah ini hanya ada 2 buah komputer dimana

ini

perlu

diperhatikan,

kemudian

pada zaman seperti saat ini hampir semua urusan


lewat komputer/berbasis media elektronik, dan jika
ini

menjadi

penghambat

pelayanan

dalam

mengerjakan tugas ini tentu berdampak pada


ketertinggalan informasi diluar

Informan
(Waka Sarpras Madrasah)

Peneliti

Dwi Sucondro, S.Pd.I

Rodhi Nur Wahid

Lampiran 4

TRANSKRIP WAWANCARA
DENGAN
WAKA BENDAHARA MADRASAH
Nama

: Rina Ratih, S.Pd.I

Jabatan

: Waka Bendahara Madrasah

Tanggal Wawancara : Tanggal 18 Juni 2014 di Ruang Guru MI Muhammadiyah


Jatigunung I
1. Apasaja ibu yang Saya mengabdi di Madrasah ini sudah tujuh tahun
menjadi

dan menjabat

sebagai bendahara madrasah sudah

penghambat

empat tahun namun didalam perjalanan saya disini

proses manajemen ada banyak kendala yang diantaranya adalah aplikasi


berbasis

sekolah manajemen keuangan kurang canggih sehingga saya

dalam

bidang harus mengerjakan secara manual kemudian realisasi

keuangan

keuangan terhadap kebutuhan madrasah semakin

selebihnya

banyak bahkan antara sumber pendanaan kami

deskrpsikan

dengan

beserta

pengeluaran sementara sumber dana kami adalah

sumbernya.

iuran orang tua dan BOS Pusat realisasi ini sekitar 20

pengeluaran

masih

sering

% hanya kepada gaji pegawai

Informan
(Waka Bendahara Madrasah)

Peneliti

Rina Ratih, S.Pd.I

Rodhi Nur Wahid

banyak

Lampiran 4

TRANSKRIP WAWANCARA
DENGAN
KTU MI MUHAMMAIDYAH JATIGUNUNG I

Nama

: Muamar Zainudin

Jabatan

: KTU

Tanggal Wawancara : Tanggal 23 Juni 2014 di Ruang Administrasi/TU


1. Mohon Jelaskan
tentang problemproblem/kendala
yang timbul pada
MBS di Lembaga
ini.?

Sarana yang pertama kali dibutuhkan guru dalam


mengajar adalah seperti kapur tulis, spidol/Board
Marker, papan tulis, penghapu, meja, bangku, kursi,
almari, dan media pendidikan seperti LCD, kaset,
CD, VCD, dan TV. MI Muhammadiyah Jatigunung I
Kecamatan Tulakan belum memiliki media audio
visual yang lengkap hanya beberapa saja yang kami
punya, Sedangkan prasarana yang menunjang
peningkatan kualitas mutu pendidikan dan
meminimalisir problematika Manajemen berbasis
sekolah adalah masjid, ruang kelas dan perpustakaan
ruang administrasi dan fasilitas administrasi yang
lengkap. Karena untuk ruang administrasi kami
belum punya. Selain sudut ruang kantor guru yang
kami gunakan untuk ruang tersebut hal ini sangat
sempit dan kami merasa kurang nyaman saat
mengerjakan teknisi data. Di bidang pendidikan kami
tambahkan yakni perpustakaan dan masjid adalah
prasarana yang utama dalam peningkatan mutu
pendidikan berbasis sekolah di madrasah ini. Selain
itu siswa dan guru biasanya mengerjakan sholat
dhuha pada jam pertama dan menunaikan jamaah
shalat dhuhur pada istirahat kedua atau sepulang
sekolah

Informan
(KTU Madrasah)

Peneliti

Muamar Zainudin

Rodhi Nur Wahid

Lampiran 5 (Foto Lokasi dan Kegiatan MI Muhammadiyah Jatigunung I)

1.

2.

Foto Keadaan MI Muhammadiyah Jatigunung I Tahun Pelajaran 2013-2014

Foto Kegiatan Pembinaan Madrasah Dari Kementerian Agama Kab Pacitan


Tahun Pelajaran 2013-2014

Lampiran 5 (Foto Lokasi dan Kegiatan MI Muhammadiyah Jatigunung I)

3.

4.

Foto Kegiatan Porseni MI Muhammadiyah Jatigunung I Tahun Pelajaran


2013-2014

Foto Kegiatan PPHBN & PPHBI

Lampiran 6

1.

Foto Wawancara dengan Kepala dan Waka Sarpras MI Muhammadiyah


Jatigunung I Tahun Pelajaran 2013-2014

Lampiran 6

Lampiran 6

2.

Foto Wawancara Waka Berdahara MI Muhammadiyah Jatigunung I Tahun


Pelajaran 2013-2014

Lampiran 6

Lampiran 6

3.

Foto Wawancara dengan KTU MI Muhammadiyah Jatigunung I Tahun


Pelajaran 2013-2014

Lampiran 6
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama
Tempat dan Tanggal Lahir
Umur
Status Perkawinan
Jenis Kelamin
Agama

: Rodhi Nur Wahid


: Pacitan, 24 Maret 1992
: 22 Tahun
: Belum Kawin
: Laki-Laki
: Islam

Penulis dilahirkan di Daerah Kecamatan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur pada


tanggal 24 Maret 1992 dari ayah yang bernama Thoyib dan ibu bernama Sarinem.
Penulis merupakan anak Pertama/Sulung dari dua Bersaudara. Penulis menyelesaikan
pendidikan Dasar di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Jatigunung I Kecamatan
Tulakan Kabupaten Pacitan pada tahun 1998 dan lulus pada tahun 2004. Kemudian
Penulis melanjutkan pendidikannya di MTs Maarif 01 Tulakan dan tamat pada tahun
2007. Penulis melanjutkan pendidikannya di Tingkat MA/SMA yakni di MA Maarif
02 Tulakan Kabupaten Pacitan. dan lulus pada tahun 2010. Setelah tamat SMA/MA,
penulis Melanjutkan studinya di Sekolah Tinggi agama islam Nahdlatul Ulama
Pacitan Fakultas Tarbiyah Jurusan Manajemen Pendidikan Islam (MPI) pada tahun
2010 dan telah melaksanakan kuliah kerja nyata (KKN) pada tahun 2013 di
kecamatan kebonagung dan juga telah melaksanakan PPL di MTs Maarif 1
Sidomulyo Kecamatan Kebonagung Kabupaten Pacitan.

Pacitan, 7 Juli 2014

Rodhi Nur Wahid