Anda di halaman 1dari 3

ARTIKEL PELANGGARAN ETIK PADA

KEPERAWATAN KOMUNITAS

Kelompok 8 :
1. Jalu Jatmika
2. Mutiara Indriani
3. Septia Dwi Wahyuningsih

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS MH. THAMRIN
2014

Perawat pun Rentan Kriminalisasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berbeda dengan dokter yang profesinya memperoleh


kepastian hukum melalui UU Nomor 29/2004 tentang Praktik Kedokteran, tidak begitu
dengan profesi keperawatan. Ketiadaan perlindungan hukum atas perawat membuat profesi
salah satu tenaga kesehatan ini rentan mengalami kriminalisasi.
Bila kepastian hukum bagi perawat dibiarkan, bukan tidak mungkin jerat hukum yang
diterima Misran di Kutai Kertanegara dialami oleh perawat lainnya. Misran merupakan
perawat yang menjadi tenaga kesehatan satu-satunya di Kuala Samboja, Kabupaten Kutai
Kertanegara. Di wilayah yang tidak memiliki dokter itu, Misran menjadi orang satu-satunya
yang merawat 9.000 warga mencari pengobatan.
Namun, Misran justru di penjara karena dinilai melanggar kode etik profesinya dengan
memberi obat keras kepada pasien, yang secara UU hanya diperbolehkan oleh dokter. Bila
Misran yang mengabdikan dirinya demi kepentingan kesehatan masyarakatnya saja bisa
dipenjara, Sekjen Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Harif Fadilah, khawatir
perawat lain yang berada di daerah terpencil bisa bernasib sama.
"Kejelasan kewenangan dan batasan tanggung jawab dalam pelayanan kesehatan penting
untuk totalitas melayani masyarakat. Oleh sebab itu perlu adanya pengaturan mekanisme
pendelegasian wewenang dan sistem rujukan yang diatur dalam Undang-undang untuk
meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan," ujar Hanif di Konferensi Health
Professional Education Quality (HPEQ) 2012 Profesi Perawat di PPTIK UGM, seperti
dikutip dari laman resmi UGM, Kamis (8/11).

Bukan hanya melindungi perawat, UU Keperawatan juga dilihat Hanif sangat dibutuhkan
masyarakat untuk mendapat jaminan hukum bila ingin mendapatkan pelayanan keperawatan.
PPNI mencatat 40 persen puskesmas di Indonesia tak memiliki dokter. Bila jumlah
puskesmas di Indonesia sebanyak 8.931 dan 22.650 puskesmas pembantu, berarti 2.000
puskesmas di antaranya hanya diperbantukan oleh perawat.
Bila penyebaran dokter yang tidak merata ini berlanjut, perawat-perawat seperti Misran akan
mengalami kesulitan menjalankan profesinya. Belum dimasukannya RUU Keperawatan
dalam daftar Prolegnas oleh DPR, Hanif menilai bahwa terganjalnya pengesahan karena DPR
RI lebih memprioritaskan RUU yang lain.