Anda di halaman 1dari 6

1. Jelaskan dasar penetapan klasifikasi potensi lahan dengan pendekatan fisiografik!

Jawab :
Fisiografik merupakan deskripsi bentuk lahan yang mencakup aspek fisik (abiotik) dari
lahan (Van Zuidam, 1979). Pendekatan fisiografik menggunakan bentuk lahan untuk
mengidentifikasi satuan daerah secara alami, yang membagi tingkatan bentuk lahan dari skala
kecil dengan informasi detil sampai skala besar dengan informasi lebih umum. Menurut
Dessaunettes (1977). Bentuk lahan adalah suatu kenampakan hasil dari proses-proses
geomorfologi yang terjadi pada berbagai batuan dan bahan induk lainnya selama periode
waktu yang bervariasi, pengaruh iklim yang lampau pada proses-proses tersebut yang dapat
dilihat dari berbagai bentuk ahan dan wilayah fisiografi. Unsur-unsur bentuk lahan antara
lain : kemiringan lereng, bentuk lereng, panjang lereng, ketinggian, kekasaran medan, pola
aliran sungai, dan kerapatan drainase.
Pendekatan ini membagi lahan berdasarkan jumlah dan intensitas pembatas lahan.
Pembatas lahan adalah penyimpangan dari kondisi optimal karakteristik dan kualitas lahan
yang memberikan pengaruh buruk untuk berbagai penggunaan lahan. Pada dasarnya,
pendekatan fisiografi dilakukan berdasarkan analisis dan interpretasi terhadap foto udara,
sehingga satuan lahan yang dihasilkan menunjukkan pola berulang dari bentuk lahan, tanah,
dan vegetasi. Pendekatan fisiografik mengelompokkan satuan bentuk lahan secara
keseluruhan dan tidak berdasarkan sifat tertentu. Ini dilakukan dengan anggapan bahwa suatu
daerah yang mempunyai fisiografik yang relatif seragam akan mempunyai faktor-faktor
lingkungan lainnya yang juga relatif seragam : seperti iklim mikro, cirri tanah, hidorologi,
geologi, geomorfologi dan vegetasi.
2. Jelaskan dasar penetapan klasifikasi potensi lahan dengan pendekatan parametrik!
Jawab :
Pendekatan parametrik adalah sistem klasifikasi dan pembagian lahan atas dasar
pengaruh atau nilai cirri lahan tertentu dan kemudian mengkombinasikan pengaruh-pengaruh
tersebut untuk memperoleh kesesuaiannya (Udawatta and Henderson, 1986). Pemberian nilai
pada tingkat pembatas yang berbeda pada sifat lahan, dalam skala normal diberi nilai
maksimum 100 hingga minimum 0. Nilai 100 diberikan jika sifat lahan optimal untuk tipe
penggunaan lahan yang dipertimbangkan (sys et al, 1991). Nilai numerik yang ditetapkan
dalam pendekatan ini dapat menghindarkan penilaian yang sifatnya subjektif. Pendekatan ini
biasanya digunakan apabila individu dari suatu lahan tertentu dianggap lebih penting daripada
1

sifat lainnya (sitorus, 2004). Pada metode ini, perhitungan dilakukan dengan menjumlahkan
nilai dari faktor-faktor seperti kadar humus, kedalaman tanah, dll.
3. Uraikan faktor-faktor yang harus dianalisis dalam penentuan potensi lahan untuk
budidaya padi sawah dengan pendekatan parametrik!
Jawab :
Faktor-faktor yang dianalisis dalam penentuan potensi lahan untuk budidaya padi sawah
dengan pendekatan parametrik adalah :
1. Kemiringan
2. Tekstur tanah
3. Kedalaman top soil untuk pertumbuhan akar
4. Mengembang dan menyusut
5. Drainase
6. Kapasitas tukar kation
7. Kemampuan melepaskan K
8. Kemasaman / PH
9. Fiksasi P
10. Keracunan Al
11. Kandungan asam sulfat
12. Reaksi dasar (bebas CaCo3, pH < 7,3)
13. Salinitas
14. Sodisifitas
15. Ketersediaan air
16. Erodibilitas
Kendala utama lahan padi sawah adalah kedalaman tanah terbatas, fiksasi fosfat tinggi,
ketersediaan air rendah. Erodibilitas tanah memiliki pengaruh lansung yang sedikit untuk
sawah irigasi. Jadi, yang memiliki kontribusi tinggi terhadap nilai indeks evaluasi adalah
ketersediaan air, kapasitas tukar kation, tingkat keracunan Al, kemasaman, dan salinitas.
4. Jelaskan kelebihan dan kekurangan dari pendekatan fisografik!
Jawab :
Pendekatan fisiografik adalah pendekatan yang mempertimbangkan lahan secara
keseluruhan di dalam penilaiannya. Pada umumnya pendekatan ini menggunakan kerangka
bentuk lahan untuk mengidentifikasi satuan daerah secara alami. Pendekatan bentuk lahan
dapat digunakan dalam survei kesesuaian lahan, dengan satuan lahan sebagai satuan
pemetaannya. Maka, sebelum dilakukan kegiatan pemprosesan data lebih lanjut, terlebih
2

dahulu ditentukan satuan lahan daerah penelitian untuk mengidentifkasi satuan daerah secara
alami. Pendekatan fisiografik hanya mementingkan interpretasi hasil interaksi antara
komponen-komponen ekologi seperti iklim, tanah, vegetasi, geomorfologi, geologi dan
lainnya dalam suatu keasatuan fisiografi. Evaluasi fisiografik dilakukan tanpa harus
mengobservasi secara detail variable masing-masing komponen ekologi sperti yang dilakukan
pada pendekatan parametrik.
Keunggulan pendekatan fisiografis sebagai penyusunan rencana tata ruang adalah mampu
memecahkan masalah dan mengarahkan pengembangan wilayah secara sistematis, dapat
diterapkan dalam berbagai skala rencana, berkaitan langsung dengan kenampakan bentang
alam sehingga tidak selalu terlebih dahulu membutuhkan data dan pengukuran yang rumit,
dan dapat dilakukan dengan cepat. Pendekatan fisiografis lebih mudah dipahami oleh berbagai
pihak, bahkan yang bukan ahlinya. Pendekatan fisiografis membagi tingkatan bentuk lahan
dari skala kecil dengan informasi detil sampai besar dengan informasi lebih umum.
Gofrey membagi atas lima kategori sistem klasifikasi satuan fisiografi yaitu,
a. province berdasarkan struktur geologi, kategori ini berguna untuk perencanaan guna lahan
nasional atau bagian wilayah nasional
b. section membagi provinsi lebih lanjut berdasarkan perbedaan satu aspek atau lebih seperti
iklim, vegetasi, jenis tanah, ketinggian, sejarah erosi geologi atau deposisional
c. subsection/land typemembagi provinsi lebih lanjut berdasarkan perbedaan satu aspek atau
lebih seperti iklim, vegetasi, jenis tanah, ketinggian, sejarah erosi geologi atau
deposisional
d. subsection/land type yang merupakan bagian section yang berupa satu bentuk lahan yang
memiliki kesamaan litologi, proses geomorfik dan geologi. Kategori ini berguna untuk
perencanaan regional
e. land type yang merupakan pembagian yang dapat diamati di atas lahan seperti bukit,
lembah, ngarai. Dimana elemen geomorfik, biologi, dan hidrologi daru suatu land type
saling terkait.
Kekurangan dari metode pendekatan fisiografik ini adalah pada proses evaluasi dan
klasifikasi hanya menggunakan nilai satuan baku kualitas dan karakteristik lahan.
5. Jelaskan kelebihan dan kekurangan dari pendekatan parametrik !
Jawab :

Pendekatan parametrik dalam evaluasi kesesuaian lahan adalah pemberian nilai pada
tingkat pembatas yang berbeda pada sifat lahan, dalam skala normal diberi nilai maksimum
100 hingga nilai minimum 0. Nilai 100 diberikan jika sifat lahan optimal untuk tipe
penggunaan lahan yang dipertimbangkan (Sys et al., 1991).
Pendekatan parametrik mempunyai berbagai keuntungan yaitu kriteria yang dapat
dikuantifikasikan dan dapat dipilih sehingga memungkinkan data yang obyektif. Hal ini
dikarenakan penilaian yang digunakan dalam metode ini merupakan metode skoring sehingga
ketepatannya tinggi. Selain itu beberapa keunggulan penggunaan pendekatan parametrik
antara lain :

Sederhana dan mudah diterapkan meskipun bukan oleh spesialis survei dan evaluator

lahan.
Mengurangi subyektivitas dalam proses evaluasi, terutama untuk pendekatan parametrik

induktif.
Lebih bersifat kuantitatif dan mempertimbangkan kombinasi dan interaksi keseluruhan

faktor-faktor yang digunakan sebagai kriteria evaluasi.


Selektif, hanya beberapa faktor penting atau yang berpengaruh yang dikaji.
Fleksibel, mudah dimodifikasi bila hasilnya tidak atau kurang berkolerasi baik dengan

produktivitas.
Mudah dilakukan kalibrasi sistem, sebab pendekatan parametrik mengkuantifikasi indeks
lahan yang secara langsung dapat dibandingkan atau dikorelasikan dengan produksi
aktual pada lahan yang sama, atau dengan pada lahan-lahan dengan kategori indeks yang

sama.
Mudah diterapkannya sistem pengelolaan data base dengan menggunakan komputer,
pemodelan, dan sistem berbasis spasial seperti SIG.
Sedangkan masalah yang mungkin timbul dalam pendekatan parametrik ialah dalam hal

pemilihan

sifat,

penarikan

batas-batas

kelas,

waktu

yang

diperlukan

untuk

mengkuantifikasikan sifat serta kenyataan bahwa masing-masing klasifikasi hanya


diperuntukkan bagi penggunaan lahan tertentu (Sitorus, 1998). Jadi pada intinya kekurangan
dari metode parametrik ini adalah tidak dapat menarik kesimpulan dalam kelas-kelas lahan
tertentu untuk selanjutnya dapat digunakan bagi penggunaan lahan, karena penilaian yang

dilakukan berupa skoring pada faktor-faktor tertentu. Selain itu beberapa kelemahan
penggunaan pendekatan parametrik antara lain :

Pendekatan parametrik memerlukan data biofisik yang lengkap, dan dalam kasus tertentu
membutuhkan jumlah pengulangan daya yang cukup, sehingga hanya sesuai untuk studi

skala detail atau semi detail.


Kekurangan utama pada pendekatan parametrik deduktif adalah kurang tersedianya data
produksi, terutama pada areal yang belum atau sedang dikembangkan. Begitu pula,
pendekatan deduktif tidak dapat menyediakan informasi tentang parameter atau variabel

lahan yang mempengaruhi produktivitas.


Oleh karena sifatnya yang fleksibel terhadap jumlah parameter yang perlu
dipertimbangkan, maka sebelum memutuskan untuk menggunakan suatu metode tertentu
di suatu daerah tertentu, perlu dilakukan pengkajian awal terhadap faktor-faktor ekologi
dominan, atau pembatas yang sangat berpengaruh terhadap penggunaan lahan yang akan
dievaluasi. Dengan tidak dipertimbangkannya faktor pembatas berpengaruh dalam

analisis, maka akan menimbulkan ketidaktepatan terhadap hasil evaluasi.


Perlu hati-hati dalam memilih metode parametrik, apakah perkalian, penjumlahan, atau
komplek, terutama pada kondisi di mana variabel lahan memiliki keragaman nilai yang
merupakan pembatas sangat ringan.

6. Berdasarkan kelebih dan dan kekurangan dari masing-masing pendekatan, analisislah


pendekatan mana yang lebih baik digunakan dalam evaluasi lahan untuk areal
perkebunan kelapa sawit!
Jawab :
Pendekatan parametric merupakan pendekatan yang lebih baik digunakan dalam evaluiasi
lahan untuk areal perkebnunan kelapa sawit. Karena, pada pendekatan parametric, ditekankan
kuantitas, penilaian dan pembobotan, dan penerapan operasi matematika. Sedangkan pada
pendekatan fisiografik pada proses evaluasi dan klasifikasi hanya menggunakan nilai satuan
baku kualitas dan karakteristik lahan. Selain itu, pada pendekatan parametric akan
diklasifikasikan ke dalam dua kelompok utama yaitu deduktif dan induktif. Pendekatan
deduktif mementingkan hubungan antara produksi lahan dengan kualitas lahan bersangkutan,
sehingga evaluasi dilakukan berdasarkan analisis data produksi tanaman. Pendekatan
parametric deduktif ini menekankan indeks produktivitas melalui hubungan antara produksi
5

lahan yang diobserbasi dengan standar produksi suatu jenis tanaman tertentu. Sementara
dengan analisis induktif yang tidak mengevaluasi data produksi secara langsung, melainkan
menggunakan operasi matematika untuk mengkuantifikasi indeks kualitas lahan melalui
penilaian dan pembobotan.
Maka, pendekatan parametric adalah salah satu pendekatan yang lebih baik digunakan
untuk evaluasi lahan areal perkebunan kelapa sawit. Karena pendekatan ini lebih menekankan
kepada konsep klasifikasi kesesuaian lahan. Selain itu, pendekatan ini mempertimbangkan
kombinasi dan interaksi keseluruhan faktor-faktor yang digunakan sebagai kriteria evaluasi
DAFTAR PUSTAKA
Baja, Sumbangan. 2012. Perencanaan Tata Guna Lahan dalam Pengembangan Wilayah
Pendekatan Spasial dan Aplikasinya. Terdapat pada http://books.google.co.id/. Diakses
pada 16 November 2014.