Anda di halaman 1dari 61

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Diagnosa
2.1.1 Anamnesis
Disarankan melakukan metoda anamnesa terpimpin yang meliputi semua aspek dasar,
yaitu kelengkapan identitas, riwayat penyakit saat ini, riwayat penyakit lampau, riwayat
pertolongan medis, riwayat keluarga, sosial, dan penyakit penyerta. Pada kecurigaan kasus
PUA (meliputi semua kelainan haid baik dalam hal jumlah maupun durasi), perlu digali
mengenai adanya kelainan pada uterus, faktor resiko kelainan tiroid, penambahan dan
penurunan berat badan, serta riwayat kelainan hemostasis, yang akan berguna untuk
mengklasifikasikan PUA menurut FIGO. Gangguan hemostasis adalah diagnosa banding
besar yang dapat dieksklusi melalui anamnesa. Terdapat sejumlah gambaran klinis khas yang
dapat digunakan untuk menapis adanya perdarahan haid oleh karena gangguan hemostasis.
Keypoint Pertanyaan
1

Perdarahan Haid dengan volume banyak (> 80mL) sejak menarche


Terdapat minimal 1 (satu) keadaan sebagai berikut :

Perdarahan Pasca Persalinan

Perdarahan Berhubungan Dengan Operasi

Perdarahan Berhubungan Dengan Perawatan Gigi

Terdapat minimal 2 (dua) keadaan sebagai berikut :


3

Memar 1 2 x / bulan

Epistaksis 1 2 x / bulan

Perdarahan gusi yang sering

Riwayat keluarga dengan keluhan perdarahan

Tabel 1.1 Penapisan klinis pasien dengan perdarahan haid karena kelainan hemostasis.

Selain itu, kelainan haid dan perdarahannya juga seringkali disertai sejumlah gejala
yang memiliki kaitan khas dengan suatu masalah / kelainan, gejala berikut dijelaskan dalam
tabel 1.2 :
Keluhan dan Gejala Khas

Masalah Umum / Tersering

Nyeri Pelvik

Abortus, Kehamilan Ektopik

Mual, disertai Peningkatan


Frekuensi Kencing

Hamil

Penurunan Berat Badan, disertai


Banyak Berkeringat, Palpitasi

Hipertiroid

Peningkatan Berat Badan, disertai


Kelelahan, Gangguan Toleransi
Hawa Dingin

Hipotiroid

Riwayat Pemakaian Obat


Antikoagulan, Gangguan
Pembekuan Darah

Koagulopati

Hirsutisme, disertai Akne,


Akantosis nigricans, Obesitas

Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK)

Perdarahan Pasca Koitus

Displasia Serviks, Polip Endoserviks

Galaktorea, disertai Sakit


Kepala dan Gangguan Lapang
Pandang

Tumor Hipofisis

Tabel 1.2 Gejala Klinis Khas Pada Diagnosa Banding PUA

2.1.2 Pemeriksaan Fisik


2.1.2.1 Keadaan Umum
Sebelum dilakukan pemeriksaan fisik khusus, dilakukan pemeriksaan fisik umum.
Dimulai dari inspeksi, dapat dinilai keadaan umum dan utamanya keadaan stabilitas
hemodinamik pasien. Inspeksi dilakukan dengan menilai keadaan fisik pasien dari kepala
hingga kaki, sign seperti pucat, ikterik, kelelahan, dan sebagainya dicatat untuk membantu
penegakan diagnosa. Pada pemeriksaan fisik umum, perlu dipastikan bahwa perdarahan
berasal dari kanalis servikalis dan bukan berhubungan dengan kehamilan, maka inspeksi
pertanda umum kehamilan seperti distensi abdomen, striae gravidarum, nigra, dan albicans,
serta vena superfisial dapat membantu penyempitan sudut pandang diagnosa. Pada

kecurigaan PUA, diagnosa banding gangguan hormon dapat dieksklusi dengan kewajiban
untuk memeriksa indeks massa tubuh, pembesaran kelenjar tiroid atau manifestasi
hipotiroid/hipertiroid, galaktorea (hiperprolaktinemia), gangguan lapang pandang (adenoma
hipofisis) dan purpura ekimosis.
2.1.2.2 Pemeriksaan Ginekologi
Pada pemeriksaan fisik khusus, tujuannya adalah mengerucutkan diagnosa ke etiologi
penyebab PUA. Pada pemeriksaan ginekologi, dapat disingkirkan kemungkinan adanya polip
serviks, mioma uteri, hiperplasia, endometrium, keganasan, luka/lesi, hingga abortus.
Pemeriksaan dapat diawali dengan inspeksi melalui spekulum, untuk dinilai tiap adanya
peradangan, lesi, ulkus, dan kelainan lainnya, kemudian perlu diambil swab / pap smear
untuk keperluan histopatologi. Untuk menegakkan diagnosa pada gadis, tidak perlu dilakukan
kuret, namun pada wanita yang sudah menikah, dapat dilakukan kuret untuk menegakkan
diagnosis. USG Transvaginal adalah bagian dari pemeriksaan penunjang, namun merupakan
alat penapis yang tepat dan disarankan untuk dilakukan pada pemeriksaan awal PUA.
2.1.2.3 Penilaian Ovulasi
Siklus haid yang berovulasi berkisar 22 35 hari. PUA yang berhubungan dengan
ovulasi (PUA-O) seringkali perdarahannya bersifat ireguler dan diselingi amenorea, pada
kecurigaan ini dapat dilakukan konfirmasi ovulasi, yaitu dengan pemeriksaan progesteron
serum fase luteal madya atau USG transvaginal.
2.1.2.4 Penilaian Endometrium
Pengambilan sampel endometrium / Kuret tidak harus dilakukan pada semua pasien
PUA, berikut adalah kriteria untuk pengambilan sampel endometrium :

Wanita dengan usia > 45 tahun


Terdapat faktor resiko genetik / riwayat keluarga dengan kanker
Pemeriksaan USG transvaginal menggambarkan penebalan endometrium kompleks
yang merupakan faktor resiko hiperplasia atipik atau kanker endometrium

Perdarahan Uterus Abnormal (PUA) yang menetap / tidak memberi respons pada
pengobatan

2.1.2.5 Penilaian Kavum Uteri


Bertujuan untuk menilai kemungkinan adanya polip endometrium atau mioma uteri
submukosum. USG Transvaginal pada awal pemeriksaan adalah alat yang tepat untuk
menapis kelainan ini. Bila dicurigai terdapat polip endometrium atau mioma uteri
submukosum, dapat dilakukan SIS atau histeroskopi yang dapat menegakkan diagnosa
sekaligus memberi terapi secara bersamaan.
2.1.2.6 Penilaian Miometrium
Bertujuan menilai kemungkinan mioma uteri maupun adenomiosis, alat bantu yang
tepat adalah dengan metode USG Transvaginal/Transrektal, SIS, histeroskopi, atau MRI
(yang lebih unggul dalam mendiagnosa adenomiosis).
2.1.3 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang dikelompokkan dalam 4 divisi utama, yaitu Laboratorium,
USG, Penilaian Endometrium, dan Penilaian Serviks (bila ada patologi).
Jenis
Pemeriksaan

Laboratoriu
m

USG

Primer

Sekunder

Tersier

Hb

Darah Lengkap

Prolaktin

Tes
Kehamilan

Hemostasis (BTCT, lainnya sesuai


fasilitas)

Tiroid (TSH, FT4)

Testosteron

Hemostasis (PTT,
aPTT, Fibrinogen)

USG Transabdominal

USG Transabdominal

USG Transvaginal

USG Trans-vaginal

USG Trans-rektal

USG Trans-rektal

SIS

SIS

Doppler

MRI

Penilaian
Endometriu
m

Penilaian
Serviks

IVA

Mikrokuret

Mikrokuret / D & K

D&K

Histeroskopi

Endometrial
sampling
(histeroskopi
terpimpin)

Pap Smear

Kolposkopi

Pap Smear

Tabel 2.0 Pemeriksaan Penunjang pada kecurigaan PUA

2.2 Manifestasi Klinis


Perdarahan Uterus Abnormal meliputi seluruh kelainan haid baik dalam hal jumlah
maupun lamanya. Manifestasi klinis dapat berupa perdarahan banyak, sedikit, siklus haid
yang memanjang, atau tidak beraturan. Seperti dibahas pada bab klasifikasi, terdapat 2
macam PUA, yaitu PUA Akut dan Kronik, manifestasi klinis PUA Kronik adalah terdapatnya
satu atau lebih kondisi perdarahan dalam 3 bulan terakhir, yang jumlah, lama, dan
frekuensinya tidak dapat diramalkan. Daftar gejala yang seringkali didapatkan adalah sebagai
berikut :

Perdarahan vaginal (bergumpal atau flooding) yang tidak beraturan, periode berat

biasa terjadi pada post-menarche atau perimenopausal.


Dapat berkaitan dengan Dysmenorrhea.
Gejala sistemik berupa anemia karena perdarahan.
Perdarahan yang tidak diketahui penyebabnya, perdarahan intermenstrual, dan
perdarahan post-koital memerlukan pemeriksaan patologi servik atau endometrial.

2.3 Tata Laksana / Manajemen


Tata laksana / penanganan PUA dibagi berdasarkan penyebabnya, sesuai dengan
klasifikasi PUA menurut FIGO, berikut adalah panduan penanganan Perdarahan Uterus
Abnormal :

2.3.1 Polip (PUA-P)


Penanganan polip endometrium dapat dilakukan dengan :
1.
2.
3.
4.

Reseksi secara histeroskopi (Rekomendasi C)


Dilatasi dan Kuretase
Kuret Hisap
Hasil kemudian dikonfirmasi dengan pemeriksaan histopatologi

2.3.2 Adenomiosis (PUA-A)


Diagnosa Adenomiosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaanUSG atau MRI. Sebelum
memilih terapi, ditanyakan terlebih dahulu kepada pasien apakah masih menginginkan
kehamilan di masa mendatang.
1. Apabila pasien masih menginginkan kehamilan, dapat diberikan analog GnRH +
add-back therapy atau LNG IUS selama 6 bulan (Rekomendasi C).
2. Alternatif pada pasien yang masih ingin hamil juga dapat

dilakukan

adenomiomektomi (terutama pada adenomiosis > 6 cm).


3. Bila pasien tidak memiliki keinginan untuk hamil lagi, dapat dilakukan reseksi atau
ablasi endometrium. Pada kasus gagal pengobatan, dapat dilakukan histerektomi.
2.3.3 Leimioma Uteri (PUA-L)
Diagnosa mioma uteri ditegakkan berdasarkan pemeriksaan USG. Sama seperti
Adenomiosis, juga perlu ditanyakan apakah ibu masih menginginkan kehamilan di masa
mendatang.
1. Histeroskopi mioma uteri submukosum dilakukan terutama bila pasien menginginkan
kehamilan (Rekomendasi B)
a. Pilihan pertama untuk mioma uteri submukosum berukuran < 4 cm
b. Pilihan pertama untuk mioma uteri submukosum derajat 0 atau 1
(Rekomendasi B)
c. Pilihan ketiga untuk mioma uteri submukosum derajat 2 (Rekomendasi C)
2. Bila terdapat mioma uteri intramural atau submukosum dapat dilakukan penanganan
sesuai PUA-E / O (Rekomendasi C). Pembedahan dilakukan bila respon pengobatan
tidak cocok.

3. Bila pasien tidak menginginkan kehamilan, dapat dilakukan terapi obat untuk
mengurangi perdarahan (traneksamat atau hormonal) dan memperbaiki anemia
(Rekomendasi B). Embolisasi arteri uterina merupakan alternatif dalam pembedahan
(Rekomendasi A).
2.3.4 Malignancy / Keganasan dan Hiperplasia (PUA-M)
Diagnosa hiperplasia endometrium atipik ditegakkan dari penilaian histopatologi.
Terapi juga ditentukan dari keinginan pasien untuk mendapatkan kehamilan di masa depan.
1. Jika pasien menginginkan kehamilan dapat dilakukan D & K dilanjutkan pemberian
progestin, analog GnRH atau LNG-IUS selama 6 bulan (Rekomendasi C).
2. Jika pasien tidak lagi menginginkan kehamilan, tindakan histerektomi merupakan
pilihan tepat.
3. Biopsi endometrium diperlukan untuk pemeriksaan histologi pada akhir bulan ke-6
pengobatan.
4. Jika hiperplasia atipik menetap, dilakukan histerektomi.
2.3.5 Coagulopathy / Koagulopati (PUA-C)
Terminologi koagulopati digunakan untuk kelainan hemostasis sistemik yang terkait
dengan PUA, penanganan multidisiplin diperlukan pada kasus ini. Pengobatan dengan asam
traneksamat, progestin, kombinasi pil estrogen-progestin dan LNG-IUS pada kasus ini
memberikan hasil yang sama dibandingkan dengan kelompok tanpa kelainan koagulasi. Jika
terdapat kontraindikasi pada asam traneksamat atau PKK, dapat diberikan LNG-IUS atau
dilakukan pembedahan bergantung pada umur pasien. Pada penyakit von Willebrand, dapat
diberikan terapi spesifik seperti desmopressin.
2.3.6 Ovulatoris (PUA-O)
Gangguan ovulasi merupakan salah satu penyebab PUA dengan manifestasi klinik
perdarahan yang sulit diramalkan dan jumlah darah yang bervariasi. Pemeriksaan hormon
tiroid dan prolaktin perlu dilakukan terutama pada keadaan oligomenorea. Bila dijumpai
hiperprolaktinemia yang disebabkan oleh hipotiroid, maka kondisi ini harus diterapi. Pada

perempuan usia > 45 tahun atau dengan resiko tinggi keganasan endometrium perlu
dilakukan pemeriksaan USG transvaginal dan pengambilan sampel endometrium. Terapi
bergantung pada rencana pasien untuk memiliki kehamilan di masa mendatang.
1. Bila menginginkan kehamilan dapat langsung mengikuti prosedur tata laksana
infertilitas.
2. Bila tidak menginginkan kehamilan dapat diberikan terapi hormonal dengan menilai
ada atau tidaknya kontraindikasi terhadap PKK. Bila tidak ada kontraindikasi, dapat
diberikan PKK selama 3 bulan. Bila memiliki kontraindikasi PKK, disarankan
preparat progestin selama 14 hari, kemudian stop 14 hari, dan diulang hingga 3 bulan
siklus. Kemudian dievaluasi, bila keluhan berkurang obat hormonal dapat dilanjutkan
atau distop sesuai keinginan pasien. Bila keluhan tidak berkurang, dosis PKK
dinaikkan tiap 2 hari sampai perdarahan berkurang atau dosis maksimal.
2.3.7 Endometrial (PUA-E)
Adalah Perdarahan Uterus Abnormal yang terjadi pada perempuan dengan siklus haid
yang teratur. Pemeriksaan tiroid dilakukan bila didapatkan gejala dan tanda hipotiroid atau
hipertiroid pada anamnesis dan pemeriksaan fisik (Rekomendasi C). Pemeriksaan USG
Transvaginal atau SIS terutama dapat dilakukan untuk menilai kavum uteri.
1. Asam traneksamat 3 x 1 g dan asam mefenamat 3 x 500 mg merupakan pilihan lini
pertama dalam tata laksana menoragia. Observasi dilakukan selama 3 siklus
menstruasi, jika respon obat tidak adekuat akan dinilai kontraindikasi pemberian
PKK.
2. PKK mampu mengurangi jumlah perdarahan dengan menekan pertumbuhan
endometrium, dapat dimulai pada hari apa saja, selanjutnya pada hari pertama siklus
menstruasi. Jika pasien memiliki kontraindikasi PKK, dapat diberi preparat progestin
siklik 14 hari, stop dan ulang selama 3 siklus.
3. Jika dengan USG TV atau SIS didapatkan polip atau mioma submukosum segera
pertimbangkan untuk reseksi dengan histeroskopi.

4. Jika hasil USG atau SIS didapatkan ketebalan endometrium > 10 mm, lakukan
pengambilan sampel endometrium untuk menapis hiperplasia.
5. Jika terdapat adenomiosis, dapat dipastikan dengan MRI, terapi dengan progestin,
LNG IUS, GnRHa atau histerektomi.
6. Jika pasien sudah tidak menginginkan fungsi reproduksi, dapat dilakukan ablasi
endometrium atau histerektomi.
2.3.8 Iatrogenik (PUA-I)
2.3.8.1 Perdarahan Karena Efek Samping PKK
Penanganan efek samping PUA-E disesuaikan dengan algoritma PUA-E. Perdarahan
sela (breaktrough bleeding) PUA-I terjadi dalam 3 bulan pertama penggunaan PKK, dimana
penggunaan PKK tetap dilanjutkan dengan mencatat siklus haid. Sebagai penapis, dilakukan
pemeriksaan Chlamydia dan Neisseria (endometritis), bila positif, diberikan doksisiklin 2 x
100 mg selama 10 hari. Jika usia pasien > 35 tahun dilakukan biopsi endometrium, jika
perdarahan abnormal menetap, TVS, SIS, atau histeroskopi dapat menyingkirkan kelainan
saluran reproduksi. Jika disertai amenorea, singkirkan kemungkinan kehamilan, jika tidak
hamil, dosis estrogen dinaikkan atau dilanjutkan dengan pil yang sama.
2.3.8.2 Perdarahan Karena Efek Samping Kontrasepsi Progestin
Pada kontrasepsi progestin, efek samping dapat berupa PUA-O atau Amenorea
dengan perdarahan bercak.
1. Pada amenorea atau perdarahan bercak, pasien harus di KIE bahwa itu merupakan hal
biasa (expected effects).
2. Jika efek samping berupa PUA-O, pasien dengan usia > 35 tahun perlu dilakukan
biopsi endometrium karena beresiko tinggi karsinoma endometrium.
3. Jika pasien dalam 4-6 bulan pertama pemakaian kontrasepsi, kontrasepsi diganti
dengan PKK (bila tidak ada kontraindikasi) atau boleh dilanjutkan penggunaan
progestin.

4. Terapi dapat diberikan estrogen jangka pendek (EEK 4 x 1.25 mg / hari selama 7 hari)
yang dapat diulang jika perdarahan abnormal terjadi kembali. Pertimbangkan juga
pemilihan metoda kontrasepsi lainnya.

Sumber utama data kependudukan di Indonesia diperoleh dari hasil sensus penduduk dan
survei penduduk antarsensus (Supas). Sensus diadakan pertama kali di Indonesia pada tahun
1930 dan terakhir tahun 2010 (Sulistyawati, 2011). Sensus penduduk pada tahun 1971 dan
1980 masing-masing mencatat jumlah penduduk Indonesia sebesar 119,2 juta jiwa dan 147,4
juta jiwa. Survei penduduk antarsensus 1985 menunjukkan jumlah penduduk sekitar 164,0
jiwa dan pada akhir Repelita IV (1983-1988) menunjukkan angka pertumbuhan 2,1% per
tahun, pada akhir dekade periode itu (1990) didapatkan laju pertumbuhan penduduk per tahun
sebanyak 1,97%. Sedangkan pada 2010, BPS mengumumkan jumlah penduduk Indonesia
sebanyak lebih dari 237 juta jiwa, hasil sensus yang diumumkan pada 16 Agustus 2010,
jumlah penduduk Indonesia sebanyak 237.556.363 jiwa, yang terdiri atas 119.507.580 lakilaki dan 118.048.783 wanita. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia adalah sebesar 1,49
persen per tahun (Badan Pusat Statistik, 2010)

5.1 Penegakkan Diagnosa


Sesuai dengan materi yang dibahas dalam tinjauan pustaka, diagnosa pada pasien
ditegakkan berdasar kombinasi dari anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang, berikut adalah daftar masalah dan faktor resiko pada pasien yang mengarahkan
diagnosa PUA-P (Perdarahan Uterus Abnormal o.k. Polip Servik dan/atau Endometrial)
5.1.1 Anamnesa
Pada keluhan utama, pasien mengeluhkan perdarahan haid dengan peningkatan
jumlah dan durasi, yang disebut juga dengan istilah menorrhagia, dari temuan tersebut

ditingkatkan kecurigaan pada penyakit PUA yang meliputi seluruh kelainan haid baik dalam
hal jumlah maupun durasi. Riwayat penyakit sekarang adalah perdarahan haid tak terhenti
selama lebih dari 1 bulan (15 Agustus 2012) awalnya keluar banyak dan bergumpal,
kemudian keluar flek hingga saat ini dan perdarahan pasca koitus, yang merupakan gejala
PUA dengan kemungkinan Polip Endoserviks. Selain itu pada pasien tidak didapatkan nyeri
pelvik, mual, penurunan berat badan, kelelahan, dan peningkatan frekuensi kencing, yang
secara klinis mengurangi dugaan Kehamilan, Abortus, KET, dan gangguan hormon tiroid.
Riwayat medis pasien pernah periksa ke klinik instansi tempatnya bekerja, mendapat
pemeriksaan USG dan dikatakan normal, diberikan obat yang pasien lupa namanya, diminum
selama 5 hari, perdarahan hilang sampai obat habis dan muncul kembali. Riwayat haid pasien
sebelumnya normal sejak usia 13 tahun. Pasien adalah pengguna pil KB sejak 20 tahun lalu
(setelah persalinan ke-3) berhenti sejak timbul perdarahan haid abnormal 1 bulan yang lalu.
Riwayat kehamilan adalah P2002 Ab200 dengan penjelasan sebagai berikut :
1. Anak pertama lahir hidup namun meninggal pada usia 7 tahun karena penyakit
leukemia.
2. Anak kedua abortus dengan kuretase pada usia kehamilan 18 minggu.
3. Anak ketiga lahir hidup hingga saat ini usia 20 tahun.
4. Anak keempat abortus pada usia kehamilan dibawah 20 minggu, saat itu pasien tidak
pernah ANC sama sekali, hanya dirumah & minum jamu.
5.1.2 Pemeriksaan Fisik
Walaupun dugaan kuat mengarah pada penyakit ginekologi yaitu PUA, tetap
dilakukan pemeriksaan fisik lengkap, dimana pada pasien ini keadaan umum, tanda vital,
kepala/leher, thoraks abdomen dan ekstremitas tidak didapatkan gangguan (dalam batas
normal). Pada pemeriksaan ginekologi, GE didapatkan flux(+) dan fluor(-), dan pada
inspekulo, flux(+) fluor(-), dan didapatkan massa diserviks 1 cm berwarna kemerahan,
POMP tertutup licin. Pada VT, flux (+), teraba massa di serviks, padat kenyal 1 cm, tungkai
(+), dan nyeri (-). Dari pemeriksaan fisik tersebut, didirikan diagnosa kerja Perdarahan Uterus

Abnormal e.c. Polip Endoserviks, dan direncanakan pemeriksaan penunjang sekaligus terapi
berupa Ekstirpasi Polip dengan Kuretase.
5.1.3 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang disini adalah darah lengkap untuk memeriksa kondisi
hematologi pasien dan kemungkinan infeksi, dan yang terutama histopatologi untuk
mengkonfirmasi struktur massa yang terdapat pada endoserviks, sampel diambil dengan cara
kuretase, yang sekaligus berfungsi sebagai terapi ekstirpasi polip. Berikut adalah hasil
pemeriksaan penunjang :
5.1.3.1 Darah Lengkap
Hb : 10.3 ; Leukosit : 9.350 ; PCV : 37.3 ; Trombosit : 200.000.
Kesimpulan : Hemoglobin sedikit menurun karena kehilangan darah, tidak didapatkan tanda
infeksi, dalam batas normal.
5.1.3.2 Pemeriksaan Histopatologi
Lokalisasi Massa : Cervix & Cavum Uteri
Diagnosa Klinis : PUA e.c Polip Endoserviks
Makroskopik :
I.
II.
III.

Jaringan kecil dari serviks


Jaringan kerokan sebanyak 1,5 cm
Jaringan sebesar 2,5 x 1,5 x 1 cm

Mikroskopik :
I.
II.
III.

Endoserviks tanpa kelainan tertentu


Jaringan endometrial dengan kelenjar tubula stroma padat
Jaringan berbentuk tonjolan dengan jaringan fibrovaskular dilapisi epitel silindris
dengan permukaan kasar

Kesimpulan :
I.
II.
III.

Endoserviks tanpa kelainan tertentu


Endometrium proliferasi
Polip Endoserviks. Tidak didapatkan keganasan pada sediaan ini.

5.1.4 Kesimpulan
Berdasarkan runtutan anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang,
disimpulkan diagnosa pada pasien ini berupa Perdarahan Uterus Abnormal et causa Polip
Endoserviks.
5.2 Terapi
5.2.1 Terapi Utama
Sesuai dengan diagnosa Perdarahan Uterus Abnormal e.c. Polip Endoserviks pada
pasien, maka tujuan terapi disini adalah menyingkirkan penyebab (et. Causa) berupa massa
polip yang terdapat pada endoserviks. Terapi yang dipilih adalah tindakan Kuretase yang
berfungsi ganda sebagai terapi dan berguna sebagai pengambilan sampel untuk pemeriksaan
penunjang. Adapun susunan terapi pada pasien ini berupa :
1. Rawat Inap di Rumah Sakit (pro ekstirpasi polip)
2. KIE terapi Kuretase dan faktor resikonya ; Persiapan awal : Tanda Vital & Darah
Lengkap Dalam Batas Normal
3. Obat-obatan pre-kuretase : Gentamycin 1 amp ; Kaltrofen supp 2 caps
4. Dilatasi dan Kuretase (D & C) mengikis lapisan rahim untuk mereseksi polip
endoserviks
5. Obat-obatan post-kuretase : Amoxicillin 3x1 tab, Asam Mefenamat 3x1 tab,
Plasminex 3x1 tab.\
6. Evaluasi post kuretase : Kegawatan 1 x 24 jam, bila tidak ada pasien dipersilahkan
pulang.
7. Evaluasi ulang dilaksanakan 1 minggu berikutnya, bila masih terjadi keluhan yang
sama, maka dilakukan pemeriksaan ulang (anamnesa & fisik), dan bila perlu
dilakukan Kuretase ulang.
5.2.2 Pilihan Terapi Alternatif
Tujuan terapi umum dalam menangani PUA et kausa Polip Endoserviks adalah
mengikis / menghancurkan lapisan endometrium yang dianggap patologis, salah satunya
dengan cara kuretase. Walaupun kemungkinannya relatif kecil, namun tindakan ini masih

beresiko menimbulkan komplikasi perdarahan, infeksi, hingga sindroma Asherman yang


dapat memperumit keadaan. Saat ini terdapat metoda terapi modern yang dapat memperkecil
resiko tersebut lebih jauh, salah satunya dinamakan Ablasi Endometrial Generasi Kedua,
yang menggunakan alat seperti thermal balloon (CavaTerm, ThermaChoice) atau elektroda
(NovaSure) yang mekanisme kerjanya mengombinasikan proses tekanan (230-240mmHg),
panas (70-80C), dalam waktu (10 menit) untuk mengablasi dinding endometrial yang
patologis dan menyingkirkan gangguan seperti polip dan endometriosis. Terapi ini utamanya
diindikasikan untuk PUA-O, E dan P. Terapi ini memiliki keuntungan dalam
mempertahankan kondisi uterus. Kontraindikasi terapi antara lain perdarahan uterus yang
tidak diketahui, keinginan untuk hamil di masa mendatang, infeksi, dan kelainan pada
dinding

uteri

(post-SC,

histerektomi).

Analgesik

dapat

diberikan

anti-

inflamatoris/prostatglandin, atau anastesi lokal, spinal, epidural, blok servikal/paraservikal,


sesuai kondisi yang dibutuhkan.
2. Keluarga Berencana adalah tindakan yang membantu individu/pasutri untuk
mendapatkan objektif tertentu, menghindari kelahiran yang tidak diinginkan,
mengatur interval antar kehamilan, dan menentukan jumlah anak dalam keluarga
(WHO Expert Comitee, 1970).

2.2.2 Tujuan dan Sasaran Program Keluarga Berencana


Tujuan dan sasaran program KB tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional (RPJMN), BBKBN 2004-2009 yaitu :
1. Menurunnya rata-rata laju pertumbuhan per tahun penduduk menjadi sekitar 1,14
persen
2. Menurunnya angka kelahiran total (TFR) menjadi sekitar 2,2 per perempuan

3. Menurunnya pasangan usia subur (PUS) yang tidak ingin punya anak lagi dan ingin
menjarangkan kelahiran berikutnya
4. Meningkatnya perserta KB laki-laki menjadi 4,5 persen
5. Meningkatnya penggunaan metode yang rasional, efektif, dan efisien.
6. Meningkatnya rata-rata usia perkawinan pertama pertama perempuan menjadi 21
tahun
7. Meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh kembang anak.
8. Meningkatnya jumlah keluarga pra-sejahtera dan sejahtera-1 yang aktif dalam
usaha ekonomi produktif
9. Meningkatnya jumlah institusi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan
program KB Nasional

2.2.3. Ruang Lingkup Program Keluarga Berencana


Ruang Lingkup program Keluarga Berencana secara umum adalah :
1. Keluarga Berencana
2. Kesehatan Reproduksi Remaja
3. Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga
4. Penguatan Pelembagaan Keluarga Kecil Berkualitas
5. Keserasian Kebijakan Kependudukan
6. Pengelolaan SDM Aparatur
7. Penyelenggaraan Pimpinan Kenegaraan dan Kepemerintahan
8. Peningkatan Pengawasan dan Akuntabilitas Aparatur Negara

2.2.4. Pendekatan dan Cara Operasional Pelayanan KB


Sulistyawati (2011) menyebutkan pokok-pokok pelayanan kontrasespsi adalah :

1. Menggunakan pola pelayanan kontrasepsi rasional sebagai pola pelayanan


kontrasepsi kepada masyarakat, berdasarkan kurun reproduksi sehat.
2. Pada usia 20 tahun dianjurkan menunda kehamilan dengan menggunakan
kontrasepsi pil KB, AKDR, kontrasepsi suntik, susuk, kondom, atau intravagina.
3. Menyediakan sarana dan alat kontrasepsi bermutu dalam jumlah yang merata.
4. Meningkatkan mutu layanan kontrasepsi
5. Menumbuhkan kemandirian masyarakat dalam mendapatkan pelayanan kontrasepsi
maupun dalam mengelola pelayanan kontrasepsi.

2.3. Program KIE Dalam Pelayanan KB


Konseling adalah aspek yang sangat penting dalam pelayanan KB dimana petugas
membantu klien dalam memilih dan memutuskan jenis kontrasepsi yang akan digunakan
sesuai dengan pilihannya. Tujuan umum konseling adalah kepuasan klien, peningkatan
hubungan dan kepercayaan dengan pelayan KB, dan penggunaan kontrasepsi yang lebih lama
dan peningkatan keberhasilan KB. Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) Program KB
dapat diberikan lewat berbagai cara, seperti wawancara langsung, mengadakan demonstrasi
kelompok, ceramah diskusi, hingga melalui acara pameran (Sulistyawati, 2011). Namun
seluruh kegiatan diatas sama-sama bertujuan untuk menyampaikan pesan kepada calon
akseptor yang terdiri dari :
1) Arti dan Tujuan Keluarga Berencana.
2) Alat-alat kontrasepsi.
3) Aspek-aspek Keluarga Berencana (aspek sosial, kesehatan, agama, atau aspekaspek lainnya.)
4) Efek samping alat pemakaian kontrasepsi.

5) Peranan fasilitas pelayanan KB; apa yang dapat diharapkan dari fasilitas
pelayanan KB.
6) Teknik Pemakaian alat-alat kontrasepsi (Kondom, pil, dsb).

2.3.1. Panduan Pelaksanaan KIE KB


Dalam melaksanakan pelayanan Konseling / KIE, BKKBN menyusun suatu panduan bagi
para pelaksana, yang dinamakan Langkah-Langkah Konseling KB SATU TUJU
SApa dan SAlam kepada klien secara terbuka dan sopan, menanyakan apa yang
perlu dibantu
Tanyakan klien tentang informasi dirinya
Uraikan kepada klien mengenai pilihan kontrasepsi
BanTU klien menentukan pilihan, yaitu dengan membantu berpikir mengenai apa
yang paling sesuai dengan keadaan dan kebutuhannya.
Jelaskan secara lengkap bagaimana menggunakan kontrasepsi pilihannya.
Perlunya diadakan tinjauan Ulang, dengan membuat perjanjian kapan klien dapat
kembali untuk pemeriksaan lanjutan.
Persetujuan tindakan medis adalah informasi jujur dan benar mengenai metode
kontrasepsi yang akan digunakan oleh calon/klien program KB. Jika kontrasepsi yang dipilih
klien memerlukan tindakan medis, maka diperlukan surat Persetujuan Tindakan Medis
(Informed Consent) yang harus disetujui terlebih dahulu oleh calon/klien program KB
(Handayani, 2010).

2.4. Pelayanan Kontrasepsi


Salah satu pelayanan utama dalam program KB adalah pemberian layanan kontrasepsi.
Sesudah para calon akseptor diberikan KIE tentang macam-macam pilihan metode

kontrasepsi yang ditawarkan, calon akseptor dapat memilih metode yang paling cocok
dengan kondisi dan kebutuhannya. Berikut berbagai metode KB yang ditawarkan sesuai
dengan Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi (BKKBN, 2003) :
a. Metode Amenorea Laktasi (MAL)
Adalah metode yang mengandalkan pemberian Air Susu Ibu (ASI). MAL tepat digunakan
bila calon akseptor adalah seorang ibu menyusui secara penuh (full breast feeding) yang
belum haid atau bayinya berusia kurang dari 6 bulan.
b. Metode Keluarga Berencana Alamiah
Adalah metode yang berpedoman siklus reproduksi Ibu, dengan mekanisme berupa
menghindari sanggama pada masa subur yaitu pada fase siklus menstruasi dimana
kemungkinan terjadi konsepsi/kehamilan.
c. Metode Sanggama Terputus
Adalah metode KB tradisional, dimana pria mengeluarkan alat kelaminnya sebelum
mencapai ejakulasi. Efektivitas metode ini bergantung pada kesediaan pasangan untuk
melakukan sanggama terputus. Metode biasanya disarankan untuk pasangan yang
mempunyai alasan filosofi atau religius untuk tidak menggunakan metode-metode lain.
d. Metode Barrier
Prinsip kerja metode barrier adalah mencegah kehamilan dengan menutup jalan masuk
sperma menuju sel telur. Metode ini dilakukan dengan menggunakan alat-alat kontrasepsi
antara lain :
Kondom : Merupakan selubung/sarung yang terbuat dari berbagai bahan
diantaranya lateks, vinyl, atau bahan alami yang dipasang pada penis saat
berhubungan seks. Kondom menghalangi pertemuan sperma dengan sel telur. Alat
ini memiliki keuntungan karena harganya relatif murah, dapat dibeli secara umum,
tidak mempengaruhi kesehatan, dan umumnya tak memiliki efek samping.

Keterbatasannya adalah tingkat efektivitasnya bergantung pada cara penggunaan,


karena kondom masih berpotensi sobek dan menyebabkan kehamilan. Bagi
sebagian orang, kondom dinilai mengganggu kenyamanan seksual.
Diafragma : Adalah kap berbentuk bulat cembung, terbuat dari lateks yang
diinsersi kedalam vagina sebelum berhubungan seksual untuk menutup serviks.
Alat ini menahan sperma agar tidak mendapatkan akses untuk mencapai uterus dan
tuba fallopii, juga berfungsi sebagai tempat spermisida. Alat ini tidak menghalangi
kontak langsung hubungan seksual, hampir sama seperti kondom, keberhasilan
kontrasepsi ini bergantung pada kepatuhan mengikuti cara penggunaan.
Keterbatasannya adalah pemasangannya tidak sesederhana kondom, dan pada
beberapa pengguna dapat menyebabkan infeksi saluran uretra.
e. Metode Kontrasepsi Hormon Kombinasi
Metode dengan meminum pil hormonal atau suntikan hormonal yang berfungsi menekan
ovulasi, mencegah implantasi, mengentalkan lendir serviks hingga bersifat spermisidal, dan
mengganggu pergerakan tuba yang menyebabkan terganggunya transportasi sel telur. Metode
pil dapat dipakai oleh semua ibu usia reproduksi baik yang sudah mempunyai anak atau
belum. Manfaat yang dimiliki salah satunya efektivitas yang tinggi bila digunakan setiap hari
(1 kehamilan per 1000 perempuan dalam setahun penggunaan). Memberi sentuhan langsung
dalam hubungan seks adalah salah satu keuntungan, selain itu konsumsi pil ini juga membuat
siklus haid menjadi teratur. Keterbatasannya adalah harga yang relatif mahal, dan tanggungan
kedisiplinan karena penggunaannya yang harus setiap hari. Efek samping antara lain pusing,
perdarahan bercak atau perdarahan sela (terutama 3 bulan pertama) dan nyeri payudara.
Konsumsi pil ini tidak boleh untuk ibu menyusui, karena mengganggu produksi ASI.
f. Metode Kontrasepsi Hormonal Progestin

Relatif sama dengan metode hormonal kombinasi, keuntungannya adalah dapat digunakan
oleh ibu menyusui karena tak mengganggu produksi ASI dan mempercepat kesuburan,
kekurangannya adalah pada 30 60 % pengguna mengalami gangguan haid (perdarahan,
spotting, amenorea), dan hirsutisme (tumbuh rambut/bulu berlebihan di daerah muka) yang
mana sangat jarang terjadi.
g. Metode Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (IUD)
Menggunakan AKDR, alat yang ditanamkan pada rahim wanita. Cara kerjanya
menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba fallopii, mempengaruhi fertilisasi
sebelum ovum mencapai kavum uterii. Dinilai sangat efektif, dengan catatan 0,6 0,8
kehamilan dari 100 perempuan dalam setahun pertama. Keuntungan utama adalah
kepraktisannya pasca pemakaian yang bertahan untuk jangka panjang (10 tahun proteksi CuT380A sebelum harus diganti), praktis karena tak menuntut disiplin tinggi seperti konsumsi
pil KB, dan tak mengganggu kenyamanan hubungan. Keterbatasannya adalah efek samping
pada sebagian orang seperti perubahan siklus haid, perdarahan (spotting) antar menstruasi,
hingga komplikasi seperti kejang (kasus yang jarang), hingga resiko perforasi pada
pemasangan. Metode ini tak boleh digunakan pada wanita yang beresiko tinggi tertular atau
telah menderita penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS), karena tidak dapat mencegah
penularan penyakit tersebut.
h. Metode Kontrasepsi Mantap (Kontap)
Adalah metode kontrasepsi yang menggunakan prosedur bedah untuk menghentikan
kemampuan reproduksi pada pria atau wanita secara permanen atau semi-permanen. Berikut
adalah berbagai prosedur bedah yang dituliskan dalam Buku Panduan Praktis Pelayanan KB
oleh BKKBN:
Tubektomi : Bertujuan menghentikan kesuburan perempuan secara permanen.
Mengoklusi tuba fallopii dengan mengikat, dan memotong atau memasang cincin,

sehingga sperma tak dapat bertemu dengan ovum. Efektivitas sangat tinggi, dengan
0,2 0,4 kehamilan pada 100 perempuan selama setahun, tidak menghalangi
sentuhan langsung hingga tak mengganggu kenyamanan, dan menjadi pilihan tepat
bagi akseptor yang berencana untuk tidak punya anak lagi, karena praktis dan tidak
mempengaruhi proses menyusui, selain itu juga mengurangi resiko kanker
ovarium. Keterbatasanya resiko kegagalan operasi, dan kemungkinan berubah
pikiran saat ingin punya anak lagi, sehingga perlu operasi khusus (rekanalisasi)
untuk memulihkan kembali fungsi reproduksi.
Vasektomi : Menghentikan kapasitas reproduksi pria dengan mengoklusi vas
deferens hingga alur transportasi sperma terhambat dan proses fertilisasi tidak
terjadi. Merupakan upaya untuk menghentikan fertilitas saat fungsi reproduksi
menjadi ancaman atau gangguan pada kesehatan pria dan pasangan serta
melemahkan ketahanan dan kualitas keluarga. Kondisi yang perlu perhatian antara
lain infeksi kulit pada daerah operasi, infeksi sitemik, hidrokel atau varikokel
besar, hernia inguinal, hingga anemia. Vasektomi tidak mengganggu hormon atau
kepuasan seksual, ada perawatan yang harus diperhatikan pasca operasi.
Efektivitas dan keterbatasan relatif sama seperti tubektomi.
(BKKBN, 2003)

2.5. Tingkat Pengetahuan dan Sikap Sebagai Faktor Yang Mempengaruhi Praktik
Keluarga Berencana
Tingkat Pengetahuan dan sikap adalah faktor yang mempengaruhi praktik Keluarga
Berencana, studi yang melibatkan 900 sampel di Kohat, Pakistan, oleh Jabeen et al ( 2011),
mendapatkan bahwa tingkat pengetahuan dan sikap adalah faktor kunci yang menentukan

praktik KB dan penentuan metode kontrasepsi. Juga ditemukan bahwa beda berupa
pengetahuan akan satu jenis metode kontrasepsi saja sudah memberikan perbedaan signifikan
pada praktik KB target penelitian.

2.5.1. Pengertian Tingkat Pengetahuan dan Sikap


Pengetahuan, menurut Notoatmodjo (2007), adalah hasil dari kegiatan memahami
sesuatu lewat proses penginderaan, dimana menurut pendekatan konstruktivis, pengetahuan
bukanlah fakta suatu kenyataan yang sedang dipelajari, melainkan konstruksi kognitif
seseorang terhadap objek, pengalaman, dan lingkungan disekitarnya. Adapun faktor yang
mempengaruhi tingkat pengetahuan antara lain :
a. Pendidikan : usaha menimbulkan sifat positif, serta memberikan atau
meningkatkan kemampuan masyarakat tentang aspek yang bersangkutan,
sehingga dicapai suatu masyarakat yang berkembang.. Sistem pendidikan
berjenjang akan meningkatkan pemahaman lewat pola tertentu
b. Informasi / Mass Media : Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal
maupun non formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediate
impact) sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan.
c. Status Ekonomi : Status ekonomi seseorang juga akan menentukan tersedianya
suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial
ekonomi ini akan mempengaruhi pengetahuan seseorang.
d. Pengalaman : Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara
untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang kembali
pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi masa
lalu.

e. Usia : Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang.
Semakin bertambah usia, semakin berkembang pula daya tangkap dan pola
pikir, sehingga pengetahuan yang diperoleh semakin membaik.
(Notoadmodjo, 2007).
Sedangkan sikap, merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap mencerminkan kesenangan atau ketidaksenangan
seseorang terhadap sesuatu. Sikap berasal dari pengalaman atau dari orang dekat dengan kita
(BKKBN, 2002). Adapun faktor yang mempengaruhi sikap seseorang terhadap suatu hal
antara lain :
a. Pengalaman : Apa yang pernah atau sedang kita alami akan ikut membentuk
dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus sosial.
b. Media Massa : Sebagai sarana komunikasi, mempunyai pengaruh besar dalam
pembentukan opini dan kepercayaan.
c. Lembaga Pendidikan atau Agama : Berpengaruh pada pembentukan sikap
karena meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam arti individu.
d. Faktor Emosional : Terkadang suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang
didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai penyaluran frustasi atau
pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego.
(Azwar, 2000).

2.5.2. Tingkat Pengetahuan dan Sikap Mengenai KB


Ttingkat pengetahuan mengenai KB adalah hasil dari proses memahami orientasi KB
lewat proses penginderaan.Sedangkan sikap mengenai KB yang dimaksud berarti kecocokan
atau ketidakcocokan seseorang terhadap KB. Adapun faktor yang mempengaruhi tingkat

pengeteahuan dan sikap mengenai KB disebutkan oleh Handayani (2010) bahwa berbagai
faktor yang dinilai mempengaruhi pengetahuan dan sikap mengenai KB di Indonesia, yaitu
Sosial Ekonomi, Budaya, Pendidikan, Agama, dan Satatus Wanita. Berikut adalah
penjelasannya :
1. Sosial Ekonomi
Tinggi rendahnya status sosial dan keadaan ekonomi penduduk di Indonesia
mempengaruhi perkembangan dan kemajuan program KB. Kemajuan program KB tidak bisa
lepas dari tingkat ekonomi masyarakat karena berkaitan erat dengan kemampuan untuk
membeli alat kontrasepsi yang digunakan. Contoh : Keluarga dengan penghasilan yang cukup
akan lebih mampu mengikuti program KB daripada keluarga yang kurang mampu, karena
bagi keluarga yang kurang mampu, KB bukanlah kebutuhan pokok. Dengan suksesnya
program KB, maka perekonomian suatu negara akan lebih baik karena dengan anggota
keluarga yang sedikit kebutuhan akan lebih tercukupi dan kesejahteraan dapat lebih terjamin.
2. Budaya
Sejumlah faktor budaya dapat mempengaruhi klien dalam memilih metode kontrasepsi.
Faktor-faktor ini meliputi salah pengertian dalam masyarakat mengenai berbagai metode,
kepercayaan religius, serta budaya, tingkat pendidikan persepsi mengenai resiko kehamilan
dan status wanita. Penyedia layanan harus menyadari bagaimana faktor-faktor tersebut
mempengaruhi pemilihan metode di daerah mereka dan harus memantau perubahanperubahan yang mungkin mempengaruhi pemilihan metode.

3. Pendidikan
Tingkat pendidikan tidak saja mempengaruhi kerelaan menggunakan keluarga berencana
tetapi juga pemilihan suatu metode. Beberapa studi telah memperlihatkan bahwa metode
kalender lebih banyak digunakan oleh pasangan yang lebih berpendidikan. Diselidiki bahwa

wanita yang berpendidikan menginginkan keluarga berencana yang efektif, tapi tidak rela
untuk mengambil resiko yang terkait dengan sebagai metode kontrasepsi.
4. Agama
Di berbagai daerah, kepercayaan atau religi dapat mempengaruhi klien dalam memilih
metode. Sebagai contoh, penganut Katolik yang taat membatasi pemilihan kontrasepsi
mereka pada KB alami. Sebagian pemimpin Islam mengklaim bahwa sterilisasi dilarang
sedangkan sebagian lainnya mengijinkan. Walaupun agama Islam tidak melarang metode
kontrasepsi secara umum, para akseptor wanita mungkin akan berpendapat bahwa pola
pendarahan yang tidak teratur yang disebabkan sebagian metode hormonal akan sangat
menyulitkan mereka karena selama haid dilarang bersembahyang. Walaupun hanya
menyangkut pilihan metode, hal ini dimungkinkan berpengaruh pada sikap / pandangan
akseptor secara luas dalam mengikuti program KB.
5. Status Wanita
Status wanita dalam masyarakat mempengaruhi kemampuan mereka mengolah dan
menggunakan berbagai metode kontrasepsi. Di daerah yang status wanitanya tidak dianggap
lebih inferior dari laki-laki, wanita lebih sedikit mendapat pembatasan dan lebih bebas dalam
memilih dan menyumbangkan keputusan hingga mendapat dukungan suami untuk ikut
melaksanakan program KB.

BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN
Faktor Sosial Karakteristik :
-

Agama - Pengalaman Konseling


Usia - Sumber Infornasi
Pendidikan - Dukungan Suami
Pendapatan - Riwayat Bersalin

at Pengetahuan dan Sikap Akseptor Terhadap Program


KB Kinerja Program KB
Stagnansi

Kurang Tingginya Angka Prevalensi Kontrasepsi (CPR)

Gambar 3.1. Kerangka Konsep Penelitian


Keterangan :
: Materi yang diteliti
: Materi yang tidak diteliti

Faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan dan sikap ibu melahirkan mengenai
KB bersifat multifaktorial. Faktor-faktor tersebut antara lain usia, yang dikategorikan menjadi
usia masa reproduksi muda (<21 tahun), masa reproduksi sehat (21-30 tahun), dan masa
reproduksi tua (31-40 tahun) (Sulistyawati, 2011). Faktor lain yang juga disebutkan adalah
agama, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, kali terakhir mendapat konseling, dukungan
suami, dan riwayat kehamilan. Pada penelitian ini, semua faktor faktor tersebut akan
ditanyakan untuk mendapatkan gambaran identitas karakteristik. peneliti menilai tingkat
pengetahuan dan sikap pasien tentang keluarga berencana melalui pertanyaan pada kuesioner
yang disusun berdasarkan poin tujuan KIE, dan panduan pelaksanaan KIE yang dijelaskan
dalam buku panduan pelayanan oleh BKKBN. Setelah mengumpulkan semua data dengan
lengkap, peneliti akan memaparkan semua data dan kemudian menyusun laporan berdasar
frekuensi karakteristik dari responden dan uji statistik.
4.2 Hipotesis Penelitian
Hipotesa yang disusun berdasarkan tujuan penelitian adalah : Terdapat perbedaan nilai yang
signifikan pada tingkat pengetahuan dan sikap ibu bersalin di Rumah Sakit Bhayangkara H.S.
Samsoeri Mertodjoso Surabaya yang diteliti berdasarkan pengaruh faktor usia, pendidikan,
pendapatan, pengalaman konseling, sumber informasi KB terbanyak, dukungan suami, dan
riwayat bersalin.

BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian


Peneilitian ini bersifat observasi analitik dengan menggunakan kuesioner sebagai alat
ukur. Penelitian dilakukan secara cross sectional pada responden ibu yang melahirkan di
Rumah Sakit Bhayangkara H.S. Samsoeri Mertodjoso Surabaya. Tingkat pengetahuan dan
sikap responden diukur dan dihubungkan dengan karakteristik responden.

4.2 Lokasi Penelitian


Lokasi penelitian ini adalah ruang rawat inap bersalin ilmu kandungan dan poli
bersalin Rumah Sakit Bhayangkara H.S. Samsoeri Mertodjoso Surabaya.

4.3 Waktu Penelitian


Waktu pengumpulan data menyesuaikan banyaknya sampel yang dibutuhkan
berdasarkan hasil perhitungan rumus diatas.

4.4 Populasi dan Sampel Penelitian


Populasi target atau total sampling dalam penelitian ini adalah Ibu bersalin yang
berada di rawat inap dan ibu yang memeriksakan kehamilan di poli kebidanan dan kandungan
Rumah Sakit Bhayangkara H.S. Samsoeri Mertodjoso Surabaya.

4.4.1. Sampel Penelitian


Sesuai dengan desain penelitian multivariat regresi linier, sampel penelitian dihitung
dengan menggunakan dua metode perhitungan dasar:
4.4.1.1. Menghitung Besar Sampel Untuk Tiap Variabel Bebas Yang Diteliti

Disini variabel bebasnya mempunyai skala pengukuran kategorik, sedangkan variabel


terikatnya mempunyai skala pengukuran numerik, maka rumusnya adalah :

Z + Z 2
+3
1+r
0,5(
)
1r

Dengan penjelasan :
: Persentase kesalahan untuk menyatakan hipotesis benar, padahal tidak benar
ditetapkan peneliti sebesar 10%
: Persentase kesalahan untuk menyatakan hipotesis tidak benar, padahal benar
ditetapkan peneliti sebesar 5 %
Nilai lebih besar dari , karena kecenderungan hipotesis saya menyatakan
adanya hubungan dari variabel terikat dengan variabel bebas.
Jenis Hipotesis : Hipotesis 2 arah, yaitu hipotesis yang menyatakan adanya
perbedaan / adanya hubungan antara satu kategori dengan kategori yang lain,
tanpa menyebabkan secara spesifik mana yang lebih besar atau lebih baik.

Tabel Z & Z (Tabel Deviat Baku Sopiyuddin, 2011 )


Kesalahan (%)
1
5
10
15
20

Z & Z Hipotesis 1 arah


2,326
1,645
1,282
1,036
0,842

Z & Z Hipotesis 2 arah


2,576
1,960
1,645
1,440
1,282

Berdasarkan Tabel tersebut, maka dapat ditentukan Z = 1,645 ; dan Z = 1,960


Karena dalam daftar pustaka peneliti belum menemukan penelitian sebelumnya
yang membahas / menyangkut hubungan kedua variabel ini, maka Korelasi

Minimal Untuk Dianggap Bermakna (r), ditetapkan sebesar 0,5 (Sopiyuddin,


2011)
Berdasarkan rumus diatas, maka didapatkan ekuasi :

1,645+ 1,960 2
+3
1,5
0,5(
)
0,5

2
3,415
+3
0,5.( ( 1,5 )ln ( 0,5 ))

3,415
+3
0,5493.

= 41,65 42 Sampel

4.4.1.2 Menggunakan Rule Of Thumb


Rule Of Thumb besar sampel adalah antara 5-10 kali jumlah variabel bebas yang
diteliti (Sopiyuddin, 2011). Dengan jumlah variabel bebas yang diteliti sebanyak 7 buah,
maka diambil titik tengah antara 5-10 kali jumlah dari 7 variabel bebas, yaitu antara 35 dan
70, yaitu 63 buah sampel.

4.4.1.3. Kesimpulan Sampel


Dengan dua rumus dasar diatas, maka besar sampel valid minimal adalah sebanyak 42 buah
sampel.

4.5 Variabel Penelitian


4.5.1 Variabel terikat

Variabel tergantung pada penelitian ini adalah skor tingkat pengetahuan, dan skor
sikap ibu bersalin mengenai program KB.

4.5.2 Variabel bebas


Variabel bebas pada penelitian ini adalah berbagai faktor internal yang berdasarkan
daftar pustaka memiliki pengaruh kepada skor tingkat pengetahuan dan sikap. Berikut adalah
serangkaian faktor internal yang akan diteliti dalam penelitian ini :
1. Usia
2. Agama
3. Pendidikan
4. Tingkat Pendapatan
5. Kali Terakhir Mendapatkan Konseling
6. Dukungan Suami
7. Riwayat Bersalin

4.6 Definisi Operasional Variabel


Seluruh variabel bebas yang ditanyakan dalam kuesioner memiliki skala pengukuran,
yaitu nominal, scale, dan ordinal. Variabel nominal adalah variabel yang sederajat atau tidak
bertingkat, dan variabel ordinal mempuntai kategori yang tidak sederajat atau bertingkat
(contoh : jenjang pendidikan). Sedangkan variabel scale adalah variabel ukur yang
menunjukkan ukuran nilai murni.

4.6.1. Definisi Operasional Variabel Terikat


1. Tingkat Pengetahuan Mengenai KB

Definisi tingkat pengetahuan mengenai KB adalah hasil yang didapat oleh seseorang
dari suatu usaha memahami arti atau makna KB lewat proses penginderaan (Notoadmodjo,
2007). Penilaian terhadap tingkat pengetahuan diakses melalui 10 pertanyaan dengan format
pilihan ganda yang menyangkut ilmu pengetahuan dasar mengenai KB, pertanyaan disusun
berdasarkan acuan dari Pesan Utama KIE Program KB (Sulistyawati, 2011) dan Panduan
Langkah Konseling KB SATU TUJU (Handayani, 2010). Berikut ini dijelaskan keypoint
yang menjadi tujuan pertanyaan untuk masing-masing nomor :
Nomor

Keypoint Pertanyaan

Pengetahuan responden mengenai tujuan dasar dari Program Keluarga Berencana

Pengetahuan tentang manfaat yang bisa didapatkan responden dengan berpartisipasi


dalam program KB

Pengetahuan responden mengenai ruang lingkup pelayanan program KB

Informasi dasar yang dimiliki responden seputar kondisi tepat untuk penggunaan
metode KB Operatif Kontrasepsi Mantap (Kontap) MOW

Informasi dasar yang dimiliki responden seputar cara kerja metode KB AKDR / KB
IUD.

Informasi dasar yang dimiliki responden seputar keuntungan yang bisa didapat dari
penggunaan metode KB barrier kondom

Informasi dasar yang dimiliki responden seputar penggunaan metode KB oral


hormonal / pil KB

Informasi dasar yang dimiliki responden seputar keuntungan yang bisa didapat dari
penggunaan metode KB suntik hormonal

Informasi dasar yang dimiliki responden seputar kondisi tepat untuk menggunakan
metode KB menyusui / amenorrhea laktasi

10

Pengetahuan responden mengenai metode yang tepat untuk kondisi ingin pemakaian
yang cukup sekali saja untuk jangka panjang

2. Sikap Mengenai KB
Sikap mengenai KB bermakna pencerminan kecocokan atau ketidakcocokan
seseorang terhadap KB (BKKBN, 2002). Penilaian sikap dilakukan dengan memberikan
kuesioner berisi 8 pernyataan seputar sikap pada responden, responden diberikan pilihan
Sangat Setuju, Setuju, Ragu-Ragu, Tidak Setuju, dan Sangat Tidak Setuju.

Jawaban yang menyatakan sangat tidak setuju, tidak setuju, dan ragu ragu, mendapatkan
skor 1, jawaban yang menyatakan setuju dan sangat setuju mendapatkan skor 2, nilai tersebut
kemudian diakumulasi untuk mendapatkan gambaran sikap responden mengenai program
KB.

4.6.2. Definisi Operasional Variabel Bebas


1. Agama
Data tentang status agama diperoleh dari kolom informasi agama dalam kuesioner,
skala pengukuran yang digunakan adalah : Nominal.
2. Usia
Dalam penelitian ini, usia pasien diketahui dari kolom informasi usia dalam
kuesioner, yang selanjutnya dikategorikan menjadi usia masa reproduksi muda (< 21 tahun),
masa reproduksi sehat (21-30 tahun), dan masa reproduksi tua (31-40 tahun). Skala
pengukuran yang digunakan adalah : Ordinal.
3. Pendidikan
Data tentang pendidikan diperoleh dari dari kolom informasi pendidikan dalam
kuesioner yang selanjutnya akan diklasifikasikan menjadi lima kelompok yaitu Tamat SD,
Tamat SMP, Tamat SMA, Diploma/Sarjana, dan Pasca Sarjana. Skala pengukuran yang
digunakan adalah : Ordinal.
4. Status Ekonomi
Data tentang status ekonomi diperoleh dari kolom informasi dalam kuesioner
mengenai status ekonomi yang menanyakan jumlah pendapatan keluarga setiap bulan yang
selanjutnya akan diklasifikasikan menjadi : (< 1.500.000), (1.500.000 3.000.000),
(3.000.000 5.000.000), (> 5.000.000). Skala pengukuran yang digunakan adalah : Ordinal.
5. Kali Terakhir Menerima Konseling

Responden ditanyakan kapan terakhir kali mendapat konseling KB yang


diklasifikasikan menjadi sekitar 1 minggu lalu, sekitar 1 bulan lalu, sekitar 2-6 bulan
lalu, lebih dari satu tahun lalu, dan belum pernah sama sekali untuk yang belum pernah
mendapat KIE mengenai KB. Skala pengukuran yang digunakan adalah : Nominal
6. Dukungan Suami
Sebagai bantuan pemahaman motivasi pelaksanaan program KB, dibutuhkan
pengetahuan apakah adanya dukungan suami bagi ibu untuk melaksanakan program KB,
dalam kuesioner akan ditanyakan apakah ibu pernah berunding dengan suami seputar
masalah KB, dijawab dengan skala pernah dan tidak pernah dan bagi yang menjawab
pernah, dilanjutkan dengan pertanyaan apakah ibu mendapat dukungan

suami untuk

melaksanakan program KB. Skala pengukuran yang digunakan adalah : Nominal


7. Riwayat Bersalin
Ditanyakan dalam kuesioner apakah ibu memiliki riwayat persalinan sebelumnya
yang melibatkan penyulit atau tindakan operasi. Dijawab dengan menggunakan skala ya /
tidak. Skala pengukuran yang digunakan adalah : Nominal
8. Tingkat Pengetahuan
Penilaian terhadap tingkat pengetahuan Ibu Bersalin mengenai KB diakses melalui
serangkaian pertanyaan, yaitu 10 pertanyaan dengan format pilihan ganda yang menyangkut
ilmu pengetahuan dasar mengenai KB, pertanyaan disusun berdasarkan acuan dari Pesan
Utama KIE Program KB (Sulistyawati, 2011) dan Panduan Langkah Konseling KB SATU
TUJU (Handayani, 2010). Berikut ini dijelaskan keypoint yang menjadi tujuan pertanyaan
untuk masing-masing nomor :

4.7 Pengumpulan Data

Penyusuran laporan dalam penelitian ini berdasarkan distribusi frekuensi karakteristik


dari responden, dan uji statistik untuk memahami hubungan antara faktor faktor internal
dari ibu bersalin terhadap tingkat pengetahuan dan sikap mengenai Program Keluarga
Berencana. Langkah yang adalah :
Pengumpulan Data : Data dikumpulan dengan membagi kuesioner pada responden
di lokasi penelitian.
Kodifikasi : Setelah data terkumpul, proses input dimulai dengan melakukan
kodifikasi, atau pemberian kode untuk pilihan jawaban yang ditawarkan pada
kuesioner, dengan tujuan untuk mempermudah proses berikutnya
Tabulasi Data : Adalah proses yang dilakukan setelah melakukan kodifikasi,
proses ini dilakukan dengan membuat Master Table, yaitu Tabel yang memuat
semua informasi yang dikumpulkan dalam kuesioner.

4.8 Analisis Data


Data yang telah ditabulasi, dianalisis dengan menggunakan perangkat lunak SPSS
versi 16.0. Data diolah dengan metode analisa Descriptive Statistics untuk mengetahui
gambaran umum, Independent Sample t-Test dan One-Way ANOVA untuk inferensi data
berdistribusi normal, serta Mann-Whitney Test dan Kruskal-Wallis Test untuk inferensi data
berdistribusi tidak normal

4.9 Etik penelitian


Penelitian sudah memenuhi standar etik. Untuk menjadi responden penelitian, calon
responden menyetujui informed consent yang disampaikan oleh peneliti.

BAB V
HASIL DAN ANALISIS

5.1 Gambaran Karakteristik Target Penelitian


Banyaknya sampel minimal yang dibutuhkan berdasarkan rumus desain penelitian
adalah antara sebanyak 42 orang sampai 63 orang, dalam penelitian ini jumlah responden
yang diteliti adalah sebanyak 62 orang. Setelah mengumpulkan data melalui kuesioner dan
mengolah data menggunakan perangkat lunak SPSS versi 16.0, didapatkan hasil sebagai
berikut :
Tabel 5.1 Karakteristik Sosiodemografi

Agama

Usia
Pendidikan

Islam

54

87.1

Kristen

8.1

Katolik

3.2

Hindhu

1.6

21-30 tahun

35

56.5

31-40 tahun

27

53.5

SD

4.8

SMP

8.1

SMA

41

66.1

PT

12

21.0

9.7

Rp. 1.500.000,00 Rp. 3.000.000,00

43

69.4

Rp. 3.000.000,00 Rp. 5.000.000,00

13

21.0

Pendapatan/bulan < Rp. 1.500.000,00

Tabel 5.1 menunjukkan bahwa mayoritas responden beragama Islam (87.1%), dengan
rentang usia dalam kategori masa reproduksi sehat yaitu 21-30 tahun (56.5%) lebih banyak
dari kategori masa reproduksi tua, dengan latar belakang pendidikan minimal tamat SMA
(66,1%).

Berdasarkan tingkat pendapatan per bulan sebagian besar melaporkan bahwa

mereka termasuk golongan ekonomi menengah dengan pendapatan minimal 1,5 juta rupiah
per bulan (90.3%). Hanya sebagian kecil yang berpendapatan kurang dari 1,5 juta rupiah
(9.7%).

Tabel 5.2 Karakteristik Responden Tentang KB


N

Pernah Mendapat

Belum Pernah

1.6

Info Tentang KB

Sudah Pernah

61

98.4

Sumber Info KB

Belum Pernah Terima Informasi

1.5

Terbanyak

Media Elektronik

20

32.3

Konsultasi Tenaga Medik

36

58.1

Media Cetak

8.1

Kali Terakhir

Belum Pernah Dapat Konseling

26

41.9

Dapat Konseling

Sekitar 1 Minggu Terakhir

1.6

Sekitar 2 6 Bulan Terakhir

3.2

Lebih Dari 1 Tahun Terakhir

33

53.2

Pernah Berunding

Belum Pernah

10

16.1

Dengan Suami

Sudah Pernah

52

83.9

Mendapat

Tidak

11

17.7

Dukungan Suami

Iya

51

82.3

Pernah

Belum Pernah

30

48.4

Melahirkan

Sudah Pernah

32

51.6

Pernah

Belum Pernah Melahirkan

30

48.4

Melahirkan

Pernah Melahirkan, Tanpa Penyulit

21

33.9

Dengan

Pernah Melahirkan, Dengan Penyulit

11

17.7

Sebelumnya

Penyulit
Tabel 5.2 menunjukkan bahwa sebagian besar responden sudah pernah mendengar
tentang KB (98.4%). Informasi seputar KB umumnya mereka dapatkan dari konseling oleh
tenaga medik dan media elektronik (televisi, radio, internet). Walaupun demikian, tidak
semua pernah mendapat konseling KB secara langsung (misalnya: interview, diskusi

kelompok), hampir setengah jumlah responden (41.9%) belum pernah menerima konseling,
dan setengah (53.1%) responden lainnya sudah pernah menerima konseling lebih dari setahun
yang lalu. Sebagian besar responden (82.3%) mendapat dukungan suami mengenai KB.
Setengah dari seluruh responden (51.6%) sudah pernah melahirkan sebelumnya, diantara
jumlah tersebut, sebagian besar (65.6%) melahirkan tanpa penyulit

5.2. Tingkat Pengetahuan dan Sikap Responden tentang KB


Tabel 5.3 Analisis Deskriptif Skor Tingkat Pengetahuan dan Sikap

Skor
Skor Sikap
Pengetahuan
-

Mean
Standard error
95% Confidence Interval for Mean
Upper Bound
Lower Bound
Median
Variance
Standard Deviation
Minimum
Maximum
Range

6.17
0.21

8.96
0.17

5.73
6.61
6.00
2.96
1.72
3.00
10.00
7.00

8.62
9.31
8.00
1.83
1.35
8.00
14.00
6.00

Tabel diatas memaparkan gambaran umum tingkat pengetahuan dan sikap responden
dalam skala 1-10, untuk gambaran pengetahuan, rata-rata tingkat pengetahuan responden
adalah 6.17 dengan skor minimal 3.00 dan maksimal 10.00, median untuk skor pengetahuan
adalah 6.00 dengan standar deviasi 1.72. Mengenai sikap, responden dikatakan memilki sikap
yang kurang mendukung bila skor responden adalah sama dengan nilai median, yaitu senilai
8.00, mirip seperti gambaran skor pengetahuan, didapatkan responden yang memiliki skor
baik sebanyak 28 responden, dan 34 sisanya memiliki skor kurang baik.

34

35
30
25
20
15

Skor Pengetahuan Responden

10
5
0
Kurang Baik
Baik

Gambar 5.1 Tingkat Pengetahuan Responden tentang KB


Gambar diatas memaparkan gambaran kategori skor pengetahuan responden yang
dinilai dengan skala baik kurang baik, responden dikatakan memilki pengetahuan baik jika
skor responden adalah sama dengan atau kurang dari nilai median, yaitu sebesar 6.00. Skor
baik didapatkan oleh 46 % responden, dan skor kurang baik didapatkan oleh 54 % responden.
35
35
30
25
20

Skor Sikap Responden

15
10
5
0
Kurang mendukung

Mendukung

Gambar 5.2 Sikap Responden tentang KB

Gambar diatas memaparkan gambaran kategori skor sikap responden yang dinilai
dengan skala mendukung kurang mendukung, responden dikatakan memilki sikap yang
kurang mendukung bila skor responden adalah sama dengan nilai median, yaitu senilai 8.00,
mirip seperti gambaran skor pengetahuan, 46 % responden mendapatkan skor baik, dan 54 %
sisanya mendapatkan skor kurang baik.

5.3 Analisis Skor Pengetahuan dan Sikap Berdasar Karakterisktik Responden


Tabel 5.4 Hasil Analisis Inferensial
Karakteristik Responden

Usia
Pendidikan

Pendapatan
Per Bulan

Pengalaman
Menerima
Konseling

Skor Pengetahuan

Skor Sikap

Rata-rata
skor

Hasil Uji Rata-rata


Beda
skor
(nilai p)

Hasil Uji
Beda
(nilai p)

21-30

6.02

0.443

0.362

31-40

6.37

SD

4.66

SMP

6.80

8.80

SMA

6.21

9.02

PT

6.15

9.07

< Rp. 1.500.000

6.83

9.14
8.74

0.401

0.559

8.00

8.66

Rp. 1.500.000 Rp. 6.04


3.000.000

9.02

Rp. 3.000.000 Rp. 6.30


5.000.000

8.92

Belum Pernah

5.7

Pernah

6.5

Sumber Info Media Cetak


dan 6.48
Terbanyak
Media Elektronik
Konseling Langsung

6.05

Mendapat
Dukungan
Suami

Tidak

5.63

Iya

6.29

Pernah
Melahirkan
Sebelumnya

Belum Pernah

5.93

Pernah

6.40

Pernah
Melahirkan
Dengan
Penyulit

Tidak

6.42

Iya

6.36

0.083

9.22

0.497

0.862

0.167

8.77
0.338

8,76

0.644

9.05
0.152

9.09

0.503

8.94
0.284

9.26

0.175

8.68
0.920

8.61

0.534

8.81

Tabel 5.4 menunjukkan hasil analisis inferensial, yaitu hubungan skor tingkat
pengetahuan dan sikap dengan setiap faktor yang diteliti kaitannya dengan variabel tersebut.

Dalam penelitian ini, ditemukan perbedaan rata-rata skor pada tiap variabel terikat, namun
tidak didapatkan faktor yang memberikan perbedaan hasil yang signifikan.
Pada analisa skor tingkat pengetahuan mengenai KB , untuk faktor usia, skor yang
lebih tinggi didapat oleh responden dengan kategori usia reproduksi tua (31-40 tahun). Pada
faktor pendidikan, skor terendah didapatkan responden dengan pendidikan SD, sedangkan
terdapat variasi skor pada responden dengan tingkat pendidikan SMP mendapat skor tertinggi
melebihi skor responden dengan tingkat pendidikan SMA dan Perguruan Tinggi. Pada segi
pendapatan / ekonomi, skor terbaik didapat oleh responden dengan rata-rata pendapatan < Rp.
1.500.000,00. Responden yang pernah menerima konseling memiliki skor yang cukup jauh
lebih tinggi dibanding yang belum menerima. Mengenai sumber informasi terbanyak, nilai
tertinggi didapat oleh responden yang menerima dari media cetak dan elektronik. Pada faktor
dukungan suami, responden yang telah mendapat dukungan suaminya mendapat skor yang
lebih tinggi. Untuk riwayat bersalin, responden yang pernah melahirkan sebelumnya
memiliki skor yang lebih tinggi, sedangkan responden yang pernah melahirkan dengan
penyulit mendapat skor pengetahuan yang lebih rendah.
Pada skor sikap mengenai KB, skor tertinggi pada faktor usia didapatkan responden
dalam kategori masa reproduksi tua (31-40 tahun). Pada segi pendidikan, skor terendah
didapat responden dengan pendidikan SD, dan urut hingga skor tertinggi didapat responden
dengan tingkat pendidikan Perguruan Tinggi.
Untuk faktor ekonomi / pendapatan, rata-rata skor sikap tertinggi didapatkan
responden berpenghasilan Rp 1.500.000,00 Rp 3.000.000,00. Pada pengalaman menerima
konseling, responden yang pernah menerima konseling mendapat skor sikap yang sedikit
lebih rendah dibanding yang belum pernah mendapatkan. Tentang sumber informasi
terbanyak, responden yang lebih sering menerima konsultasi langsung memiliki skor sikap
yang lebih tinggi. Pada Responden yang telah mendapatkan dukungan suaminya tentang KB,

kedua kategori hampir imbang karena hanya didapatkan perbedaan hasil yang terpaut tipis
antara kedua kategori. Mengenai sumber informasi terbanyak, skor sikap tertinggi didapatkan
responden yang sering menerima informasi lewat konseling langsung. Pada riwayat bersalin,
responden yang pernah melahirkan sebelumnya mendapat skor sikap yang lebih rendah.
Sedangkan responden yang pernah melahirkan dengan penyulit mendapatkan skor sikap yang
lebih tinggi dibanding responden yang belum pernah melahirkan dengan penyulit.

BAB VI
PEMBAHASAN

6.1. Faktor Sosiodemografi


6.1.1. Hubungan Usia Dengan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Mengenai KB
Berdasarkan Tabel 5.4, tidak ditemukan adanya perbedaan signifikan antara kedua
kategori usia yang dibandingkan pada tingkat pengetahuan dan sikap (p > 0,05). Dalam
penelitian ini, ditemukan usia responden tidak mempengaruhi tingkat pengetahuan dan sikap
mengenai KB. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian di Semarang oleh Kusumaningrum
(2009) yang menemukan adanya hubungan signifikan dimana semakin tua usia ibu, semakin
tinggi pula pengetahuan dan kesadarannya mengenai KB. Usia bukan prediktor yang kuat
dalam membedakan tingkat pengetahuan dan sikap responden, karena adanya perbedaan
jumlah dan frekuensi paparan pada kelompok yang diteliti. Selain itu faktor sampling / nonsampling error juga dapat menjadi penyebab tidak sejalannya hasil kedua penelitian ada.

6.1.2. Hubungan Pendidikan Dengan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Mengenai KB


Berdasarkan Tabel 5.4, ditemukan bahwa responden dengan pendidikan SD mendapat
rata-rata skor terendah baik skor tingkat pengetahuan maupun sikap . Sedangkan untuk skor
sikap, didapatkan peningkatan hasil sesuai jenjang pendidikan responden, namun perbedaan
itu masih belum mencapai nilai signifikan hingga pada penelitian ini didapatkan bahwa
pendidikan tidak mempengaruhi tingkat pengetahuan dan sikap responden mengenai KB.
Nurmaliah (2011) menemukan pendidikan mempengaruhi pengetahuan dan sikap ibu
terhadap KB. Perbedaan kelompok masyarakat yang diteliti dan sampling / non-sampling
error dapat menjadi penyebab tidak sejalannya kedua temuan tersebut.

6.1.3. Hubungan Pendapatan Dengan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Mengenai KB.
Berdasarkan Tabel 5.4, tidak ditemukan perbedaan signifikan antara kategori
pendapatan yang diteliti hubungannya dengan tingkat pengetahuan dan sikap tentang KB.
Temuan ini sejalan dengan temuan oleh Kusumaningrum (2009) yang menemukan bahwa
faktor pendapatan tidak mempengaruhi tingkat pengetahuan ibu mengenai KB. Saat ini,
Akses untuk mendapatkan informasi kesehatan sudah meluas sehingga dapat diterima oleh
masyarakat dari semua lapisan ekonomi baik rendah maupun tinggi. Pada skor sikap
menunjukkan hasil berbeda dengan penelitian oleh Andria (2010), yang menemukan bahwa
pendapatan memegang peranan penting pada sikap ibu terhadap KB. Perbedaan pada
masyarakat yang diteliti dapat menjadi penyebab tidak sejalannya kedua penemuan tersebut.

6.2. Faktor Pengalaman KB, Dukungan Suami, dan Riwayat Bersalin


6.2.1. Hubungan Pengalaman Konseling dan Sumber Informasi KB Dengan Tingkat
Pengetahuan dan Sikap Mengenai KB.
Berdasarkan Tabel 5.4, didapatkan 56 % dari total responden sudah pernah menerima
konseling, namun dari jumlah itu sebanyak 91 % menerima konseling terakhirnya lebih dari
setahun yang lalu, yang menandakan selama masa kehamilan saat ini responden belum
menerima konseling lagi. Pada analisa inferensial, tidak ditemukan adanya hubungan
signifikan antara kedua faktor tersebut dengan tingkat pengetahuan dan sikap responden
mengenai KB. Ditemukan juga bahwa responden yang menerima informasi terbanyaknya
lewat media cetak / elektronik justru mendapat skor pengetahuan yang lebih tinggi dibanding
responden yang menerima informasi terbanyaknya melalui konseling langsung dalam KIE
KB. Astrina (2011) yang melakukan penelitian pada responden yang belum dan sudah diberi
KIE KB menemukan bahwa responden yang pernah mendapat konseling menunjukkan
tingkat pengetahuan dan sikap yang jauh lebih tinggi dibanding yang belum mendapatkan.

Salah satu faktor yang menjadi penyebab berbedanya kedua temuan ini adalah keadaan
dimana responden sudah lama tidak menerima konseling lagi, sehingga menyebabkan
deteriorasi pada hasil yang didapatkan saat konseling terakhir. Sesuai pendapat oleh
Hemmings (2000) bahwa efektivitas konseling tidak hanya bergantung pada kecakapan dan
penguasaan materi oleh konselor saja, namun frekuensi sebagai monitor perkembangan hasil
konseling juga perlu diperhatikan.

6.2.2. Hubungan Dukungan Suami Dengan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Mengenai
KB
Berdasarkan Tabel 5.4, dukungan suami tidak memberikan hubungan yang signifikan
pada tingkat pengetahuan dan sikap mengenai KB. Pada penelitian di

Kohat,

Pakistan

oleh Jabeen et al (2011) dan penelitian di Enugu, Nigeria oleh Onwuzurike (2002),
ditemukan bahwa faktor dukungan suami adalah faktor utama yang mempengaruhi sikap ibu
mengenai family planning atau KB. Pada penelitian ini, faktor dukungan suami tidak
memberi pengaruh signifikan pada tingkat pengetahuan dan sikap ibu mengenai KB. Salah
satu penyebabnya adalah merujuk pada teori oleh Handayani (2010), bahwa pada masyarakat
yang status wanitanya tidak lebih dianggap setara dengan laki-laki, wanita lebih bebas untuk
memilih dan turut membuat keputusan mengenai KB.

6.2.3. Hubungan Riwayat Bersalin Dengan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Mengenai
KB
Berdasarkan Tabel 5.4, tidak ditemukan adanya hubungan signifikan antara riwayat
bersalin dengan tingkat pengetahuan dan sikap ibu mengenai KB. Hal itu tidak sejalan
dengan penelitian di Hyderabad, India oleh Haider et al (2011) yang menemukan bahwa
riwayat bersalin mempengaruhi tingkat pengetahuan dan sikap ibu mengenai KB. Perbedaan

antara kelompok masyarakat yang diteliti beserta sampling / non-sampling error adalah
beberapa penyebab tidak sejalannya kedua penelitian tersebut.

6.3. Keterbatasan Penelitian


Penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Bhayangkara HS Samsoeri Mertodjoso
Surabaya dalam kurun waktu pengambilan data selama 2 bulan, sehingga hasil yang
didapatkan kurang dapat merepresentasikan target penelitian di daerah terkait secara total,
yang idealnya selama 1 tahun.. Miller (2006) menyatakan signifikansi statistik dapat gagal
dikarenakan oleh dua hal, yaitu : 1) sampling error dan 2) non-sampling error. Menurutnya
kebanyakan fokus peneliti terpusat pada penolakan hipotesis nol dan perumusan sampel,
sehingga kurang menaruh perhatian pada non-sampling error, yang dapat menyebabkan
kesalahan seperti penyusunan desain kuesioner yang kurang efektif, kurangnya identifikasi
target responden yang relevan, hingga interviewer bias. Kemungkinan lain yang dinyatakan
oleh Miller adalah adanya hubungan signifikan, namun jadi terlihat tidak signifikan, yang
dijelaskan pada gambar 6.1 :

Gambar 6.1 Besar sampel dan Sampling Error


Gambar diatas menunjukkan bahwa seiring dengan meluasnya jumlah lingkaran
sampel, semakin besar pula jangkauan lingkaran sampel dalam ruang kotak populasi, yang
memberi kesimpulan bahwa semakin besar jumlah sampel dalam sebuah studi, semakin kecil
kemungkinan untuk terjadinya sampling error. Maka perlu dilakukan penelitian lanjutan yang
mengambil sampel lebih besar dalam kurun waktu yang lebih lama untuk hasil penelitian
yang lebih optimal.

BAB VII
PENUTUP

7.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dengan melakukan analisa terhadap gambaran
karakteristik serta gambaran tingkat pengetahuan dan sikap ibu bersalin mengenai KB,
diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1. Didapatkan tingkat pengetahuan dan sikap ibu bersalin mengenai KB yang
tergolong kurang baik / kurang mendukung.
2. Tidak ditemukan perbedaan nilai yang signifikan pada tingkat pengetahuan dan
sikap ibu bersalin yang diteliti berdasarkan pengaruh faktor usia, pendidikan,
pendapatan, pengalaman konseling, sumber informasi KB terbanyak, dukungan
suami, dan riwayat bersalin.
7.2 Saran
Berikut adalah saran yang diberikan atas hasil penelitian ini :
1. Bahwa pengaruh faktor sosial dan karakteristik kepada suatu objek dapat berbeda
hasilnya antara telaah kepustakaan dengan kenyataan di lapangan.
2. Pada konseling KB, perlu adanya monitor hasil pemberian konseling pada akseptor
dengan cara pemberian konseling ulang di kesempatan yang lain untuk hasil
konseling yang lebih baik.
3. Diperlukan penelitian lanjutan dengan kurun waktu yang lebih lama serta jumlah
sampel yang lebih besar untuk hasil penelitian yang lebih optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Afni, Nur. (2008). Hubungan Antara Pengetahuan dan Pendidikan Ibu Dengan Pemakaian
Alat Kontrasepsi Di Kelurahan Matang Seulimeng Kota Langsa Tahun 2008. Karya
Tulis Ilmiah : D-IV Bidan Pendidik, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Andi, Swastika. (2008). Pasangan Usia Subur Akseptor KB Masih Rendah. Diakses 5 Januari
2011 <http://andi.stk31.com/pasangan-usia-subur-akseptor-kb-masih-rendah.html>
Andria. (2010). Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Pasangan Usia Subur (PUS) Tidak
Menggunakan Alat Kontrasepsi di Desa Tanjung Anom Kecamatan Pancur Batu
Kabupaten Deli Serdang. Karya Tulis Ilmiah : D-IV Bidan Pendidik, Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Astrina, Kindi Mei. (2009). Pengaruh Konseling Terhadap Pengetahuan dan Pemilihan Alat
Kontrasepsi Oleh Akseptor KB Di Lingkungan II Kelurahan Sumber Jaya Kecamatan
Siantar Martoba Pematang Siantar Tahun 2008. Karya Tulis Ilmiah : D-IV Bidan
Pendidik, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Azwar, Saifuddin. (2000). Sikap Manusia : Teori dan Pengukurannya. Edisi Kedua. Pustaka
Pelajar : Jogjakarta
Badan Pusat Statistik. (2010). Hasil Sensus Penduduk 2010 Data Agregat Per Provinsi.
Diakses tanggal 8 Januari 2011
<http://dds.bps.go.id/eng/download_file/SP2010_agregat_data_perProvinsi.pdf>
Badan Pusat Statistik. (2010). General Information Of 2010 Census. Diakses tanggal 8
Januari 2011 <http://dds.bps.go.id/eng/aboutus.php?sp=1>
BKKBN. (2003). Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta : Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
BKKBN. (2009). RPJMN 2004-2009. Program KB di Indonesia, diakses tanggal 8 Januari
2011 <http://www.lusa.web.id/program-kb-di-indonesia/>
BKKBN. (2010). Laporan Data Lapangan Jumlah Petugas KB. Diakses 16 Januari 2011
<http://lap.bkkbn.go.id:5300/Dallap/LaporanMasukK0Kec.aspx>
BKKBN. (2011). Keluarga Berencana Dan Alat KB. Diakses 15 Januari 2011
<http://www.bkkbnjatim.com/rubrik.php?id_rubrik=36&reat=2>
Dahlan, Sopiyuddin. (2010). Besar Sampel dan Cara Pengambilan Sampel : Dalam
Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta : Salemba Medika. Halaman 99-102.

Gani, Ascobat. (2011). Kompas., Perlu Revolusi Dalam Pelaksanaan Program KB.
<http://health.kompas.com/index.php/read/2010/10/18/06431390/Perlu.Revolusi.dala
m.Pelaksanaan.Program.KB>
Gillespie, Duff. (2010). Kesuksesan KB di Indonesia Masih Menjadi Acuan. Diakses
<http://kesehatan.kompas.com/read/2010/04/06/15301845/Kesuksesan.KB.di.Indones
ia.Masih.Jadi.Acuan>
Haider, G. Parveen, N. Rani, S. Haider, A. (2009). Family Planning Practices and Awareness
Among Multiparous Women at Isra University Hyderabad. Medical Article :
Obstetrics and Gynaecology Department Isra University Hospital Hyderabad Sindh,
Pakistan
Handayani, Sri. (2010). Buku Ajar Pelayanan Keluarga Berencana. Yogyakarta : Pustaka
Rihana. Halaman 1-9, 16, 29-30.
Hemmings, A. (2000). Counselling In Primary Care: A Review of The Practice Evidence.
British Journal of Guidance & Counselling, 28(2), 234-254.
Kusumaningrum, Radita. (2009). Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Pemilihan Jenis
Kontrasepsi Yang Digunakan Pasangan Usia Subur. Karya Tulis Ilmiah : S-1
Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.\
Jabeen, M. Gul, F. Wazir, F. Javed, N. (2011). Knowledge, Attitude, and Practices of
Contraception in Women of Reproductive Age. Gomal Journal of Medical Sciences,
Vol. 9 No. 2 July December 2011, Page 223 229.
Malik, Rizal. (2011). Stagnan, Jumlah Akseptor KB. Diakses tanggal 8 Januari 2011
<http://kesehatan.kompas.com/read/2010/07/29/1250591/Stagnan.Jumlah.Akseptor.K
B>
Notoadmodjo, Soekidjo. (2007). Promosi Kesehatan Ilmu dan Perilaku. Cetakan I : Jakarta,
PT. Rineka Cipta.
Samsul, Hadi. (2010). KB Dan Kendala Anggaran. Diakses tanggal 5 Januari 2011
<http://birokrasi.kompasiana.com/2010/10/18/kb-dan-kendala-anggaran/>
Sulistyawati, Ari. (2011). Pelayanan Keluarga Berencana. Jakarta : Salemba Medika.
Halaman 1-3, 12-14, 33-35.
Suparti, Sri. (1992). Faktor Faktor Yang Berkaitan Dengan Tingkat Pengetahuan, Sikap, dan
Praktek KB Mandiri di Kelurahan Siswodipuran Kecamatan Boyolali Kota Kabupaten
II Dati Boyolali. Karya Tulis Ilmiah: Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
Syarif, Sugiri. (2011). Jumlah Penduduk Indonesia Bisa Menggeser AS. Diakses tanggal
21Februari<http://health.kompas.com/read/2011/02/10/18231750/Jumlah.Penduduk.I
ndonesia.Bisa.Menggeser.AS>

Lampiran 1
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama

: Mohammad Satyabhisma

NIM

: 0810713025

Program Studi

: Program Studi Kedokteran Umum


Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Tugas Akhir yang saya tulis ini benar-benar hasil
karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pikiran orang lain yang
saya akui sebagai tulisan atau pikiran saya sendiri. Apabila di kemudian hari dapat dibuktikan
bahwa Tugas Akhir ini adalah hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas
perbuatan tersebut.

Lampiran 2
KELAIKAN ETIK

Malang, 13 Februari 2012


Yang membuat pernyataan

Mohammad Satyabhisma
NIM. 0810713025

Lampiran 3

KUESIONER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG

Saya Mohammad Satyabhisma ( 0810713025 ) Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas


Brawijaya Malang sedang melakukan penelitian sehubungan dengan Tugas Akhir. Saya
memohon kesediaan ibu untuk mengisi kuisioner ini. Ibu tidak memiliki resiko apapun dalam
mengisi kuesioner ini. Tujuan kuesioner ini adalah untuk mendapatkan gambaran tingkat
pengetahuan dan sikap ibu megenai program KB. Oleh karena itu saya mohon agar kuisioner
ini ibu isi dengan sebenar-benarnya sesuai dengan kondisi, pendapat, dan pengetahuan ibu
saat ini. Kuesioner ini hanya berisi 30 buah pertanyaan. Kerahasiaan identitas, data, dan
seluruh jawaban ibu akan sepenuhnya saya jaga. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih
atas partisipasi ibu.
Identitas diri :
Nama

: ..................................................................................... (mohon diisi dengan nama

lengkap)

Alamat

: ..................................................................................... (mohon diisi sesuai alamat ibu

sekarang)

No. Telepon : ............................................................................. (yang bisa dihubungi)


Usia

: ...... Tahun

Berilah tanda cek () pada pilihan yang paling sesuai dengan pendapat ibu.
1. Apa agama ibu ?

(.................................)

Islam
Hindu

Protestan
Budha

Katolik
Lainnya

2. Apa status tingkat pendidikan terakhir ibu ? (atau yg sedang ibu jalani sekarang) ?
SD
SMP
SMU dan Sederajat
Sarjana - Pascasarjana Lainnya (................................)
3. Berapa kisaran pendapatan keluarga ibu per bulan ?
< Rp. 1.500.000
Rp. 1.500.000 Rp. 3.000.000
Rp. 3.000.000 - Rp. 5.000.000

> Rp. 5.000.000

4. Apa Ibu pernah mendapat informasi tentang program KB ?


Iya
Tidak
4a.

Darimanakah ibu paling banyak menerima informasi mengenai program KB ?

Dari Televisi, Radio, Internet


Dari Dokter, Bidan, Perawat

Dari konseling oleh petugas KB


Dari Koran, Poster, Buku KIE program KB

4b.
Bagaimana tanggapan ibu tentang informasi KB yang paling banyak ibu terima
tersebut ?
Sudah jelas / Sudah paham
Kurang Jelas / Masih punya keraguan
Tidak jelas / Tidak paham
5. Kapankah ibu terakhir menerima konseling dari petugas KB ?
Sekitar 1 minggu lalu
Sekitar 1 bulan lalu
Belum pernah
Sekitar 2-6 bulan lalu
Lebih dari 1 tahun lalu.
6. Apakah Ibu pernah berunding dengan suami mengenai program KB?
Iya
Tidak ( langsung lanjut ke pertanyaan no.7 )
6a. Apakah Ibu mendapat dukungan dari suami untuk melaksanakan program KB?
Iya
Tidak
7. Apakah Ibu pernah memiliki riwayat persalinan / pernah melahirkan sebelumnya?
Pernah
Belum Pernah ( lewati pertanyaan no 7a)
7a. Apakah persalinan ibu sebelumnya normal, tanpa penyulit (tanpa operasi, atau penyulit
lain) ?
Ya
Tidak

10 Pertanyaan Singkat Seputar Program KB


Berilah tanda cek () pada pilihan yang paling sesuai dengan pendapat ibu.
1. Menurut ibu, manakah salah satu tujuan utama adanya program KB ?
Mengurangi jumlah penduduk Indonesia Mencegah penduduk pindah dari desa ke
kota
Mengurangi pengangguran segera mungkin
Mengendalikan angka kelahiran
untuk menaikan
kualitas hidup rakyat
2. Manakah dibawah ini yang merupakan salah satu manfaat dari mengikuti Program KB ?
Mendapat layanan persalinan gratis
Melindungi keluarga dari berbagai
penyakit
Gaji / pendapatan per bulan akan meningkat
Membatasi jumlah anggota
keluarga sesuai
dengan
kesanggupan keluarga
3. Dibawah ini, mana yang menurut ibu termasuk pelayanan KB ?
Aborsi / Menggugurkan kandungan
Pemberian tunjangan uang keluarga
Konsultasi masalah seks dan kesuburan Pengobatan gratis untuk penyakit
kandungan

4. Apa Ibu pernah menerima informasi / membaca seputar metode kontrasepsi mantap
wanita atau MOW ?
Iya

Tidak *Langsung ke nomor 5


4a. Untuk kondisi manakah metode KB ini paling tepat untuk digunakan ?
Untuk Ibu yang belum melahirkan dan ingin
Untuk Ibu yang sudah melahirkan
dan ingin
menambah anak.
menambah anak.
Untuk Ibu yang tidak ingin menambah anak lagi.
5. Apa Ibu pernah menerima informasi / membaca seputar penggunaan Alat Kontrasepsi
Dalam Rahim
(AKDR) atau KB IUD / Spiral ?
Iya

Tidak *Langsung ke nomor


5a. Bagaimanakah cara memakai Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) / KB IUD /
Spiral ?
Dengan minum pil secara teratur
Dengan menanam alat kontrasepsi dalam
rahim
Dengan menyuntikkan hormon pencegah Dengan operasi untuk menghentikan fungsi
kehamilan
alat kelamin.
6. Apa Ibu pernah menerima informasi / membaca seputar penggunaan Kondom sebagai alat
pencegah kehamilan ?
Iya

Tidak *Langsung ke nomor 7


6a. Manakah yang merupakan keuntungan pemakaian alat kontrasepsi kondom ?
Kondom, mencegah kemungkinan hamil Hemat, karena satu kondom dapat
digunakan
Hingga 100% (tak mungkin terjadi kegagalan)lebih dari sekali
Terjamin keamanan, tidak bisa rusak atau
Mengurangi penularan penyakit
seksual
robek
7. Apa Ibu pernah menerima informasi / membaca seputar penggunaan Kontrasepsi Oral
Hormonal (Minum Pil KB) ?
Iya

Tidak *Langsung ke nomor 8


7a. Menurut Ibu, dibawah ini manakah yang benar tentang tata cara minum pil KB ?
Pil diminum hanya setelah senggama
Pil bisa diminum kapan saja sesuai
keinginan
Pil harus diminum teratur dan setiap hari Pil KB diminum hanya 30 menit sebelum
senggama
8. Apakah Ibu pernah menerima informasi / membaca seputar metode KB suntik/injeksi ?

Iya

Tidak *Langsung ke nomor 9

8a. Dibawah ini, manakah yang menurut ibu termasuk keuntungan metode KB suntik ?
Efektif dan tidak punya gangguan
panjang,
atau efek samping pada tubuh
istri
Efektif, dan bisa dihentikan kapan saja
tanpa perlu suntik kembali

Efektif, mencegah hamil untuk jangka


dan tidak mempengaruhi hubungan suami

9. Apakah Ibu pernah menerima informasi / membaca seputar metode KB Amenore Laktasi /
metode menyusui ?
Iya

Tidak *Langsung ke pertanyaan


no 10
9a. Dibawah ini manakah syarat agar bisa melakukan metode KB Amenore Laktasi ?
Untuk Ibu menyusui minimal 8 kali sehari
Untuk Ibu menyusui minimal 8
kali sehari dan
dan belum haid
sudah haid
Untuk Ibu yang tidak menyusui
10. Menurut Ibu, metode KB manakah yang pelaksanaannya cukup dilakukan sekali saja
untuk digunakan jangka panjang ?
Kondom
Spiral)
Pil KB / Pil anti kehamilan

Metode IUD (Intra Uterine Device / KB


Metode KB Alami Kalender (masa subur)

Tanggapan Ibu Mengenai Program KB


Berilah tanda cek () pada pilihan yang paling sesuai dengan pendapat ibu.
No
1.
2.
3.
4.
5.

Pernyataan
Program KB merepotkan saya karena terlalu
memakan banyak waktu dan tenaga.
Kualitas pelayanan program KB masih
kurang dan perlu banyak ditingkatkan.
Saya masih punya keraguan untuk mengikuti
program KB.
Info, konseling, dan pendidikan tentang KB
tersebar luas dan mudah didapatkan.
Cara pemakaian alat kontrasepsi / metode KB
mudah dipelajari dan dimengerti.

Sangat
Setuju

Setuju

Ragu
Ragu

Tidak
Setuju

Sangat
Tidak
Setuju

No
6.
7.
8.
9.
10.

Pernyataan

Sangat
Setuju

Setuju

Mudah bagi saya dan suami saya untuk


memilih alat kontrasepsi / metode KB yang
paling cocok.
Para petugas KB saat ini sudah memberikan
pelayanan baik dan bermutu dalam
tugasnya kepada rakyat.
Kinerja program KB saat ini sudah efektif
memberi manfaat pada rakyat dan bisa
dinilai sukses.
Setiap keluarga sebaiknya mengikuti
program KB.
Saya bersedia untuk mengikuti program
KB.
..:: Terima Kasih Banyak Atas Partisipasi Ibu ::..

Ragu
Ragu

Tidak
Setuju

Sangat
Tidak
Setuju

Lampiran 4
FREKUENSI SOSIODEMOGRAFI

Usia
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

21

1.6

1.6

1.6

22

1.6

1.6

3.2

23

1.6

1.6

4.8

25

9.7

9.7

14.5

26

12.9

12.9

27.4

27

11.3

11.3

38.7

28

14.5

14.5

53.2

29

1.6

1.6

54.8

30

1.6

1.6

56.5

31

9.7

9.7

66.1

32

4.8

4.8

71.0

33

1.6

1.6

72.6

34

3.2

3.2

75.8

35

6.5

6.5

82.3

36

1.6

1.6

83.9

37

3.2

3.2

87.1

38

8.1

8.1

95.2

39

3.2

3.2

98.4

40

1.6

1.6

100.0

62

100.0

100.0

Total

Agama
Cumulative
Frequency
Valid

Islam

Percent

Valid Percent

Percent

54

87.1

87.1

87.1

Kristen

8.1

8.1

95.2

Katolik

3.2

3.2

98.4

Hindhu

1.6

1.6

100.0

62

100.0

100.0

Total

Pendidikan
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

SD

4.8

4.8

4.8

SMP

8.1

8.1

12.9

SMA / Sederajat

41

66.1

66.1

79.0

Perguruan Tinggi

13

21.0

21.0

100.0

Total

62

100.0

100.0

Pendapatan
Cumulative
Frequency
Valid

< Rp 1.500.000,00
Rp 1.500.000,00 Rp
3.000.000,00
Rp 3.000.000,00 Rp
5.000.000,00
Total

Percent

Valid Percent

Percent

9.7

9.7

9.7

43

69.4

69.4

79.0

13

21.0

21.0

100.0

62

100.0

100.0

Lampiran 5
KARAKTERISTIK TENTANG KB

Pernah Menerima Info KB


Cumulative
Frequency
Valid

Tidak

Percent

Valid Percent

Percent

1.6

1.6

1.6

Iya

61

98.4

98.4

100.0

Total

62

100.0

100.0

Sumber Terbanyak
Cumulative
Frequency
Valid

Belum Pernah Terima

Percent

Valid Percent

Percent

1.6

1.6

1.6

Media Elektronik

20

32.3

32.3

33.9

Tenaga Medik

36

58.1

58.1

91.9

8.1

8.1

100.0

62

100.0

100.0

Informasi

Media Cetak
Total

Terakhir Konseling
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

Sekitar 1 minggu lalu

1.6

1.6

1.6

Sekitar 2 - 6 bulan lalu

3.2

3.2

4.8

Lebih dari setahun lalu

33

53.2

53.2

58.1

Belum pernah

26

41.9

41.9

100.0

Total

62

100.0

100.0

Mendapat Dukungan Suami


Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

Tidak

11

17.7

17.7

17.7

Iya

51

82.3

82.3

100.0

Total

62

100.0

100.0

Pernah Melahirkan Sebelumnya


Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

Tidak

30

48.4

48.4

48.4

Iya

32

51.6

51.6

100.0

Total

62

100.0

100.0

Melahirkan Normal / Tanpa Penyulit


Cumulative
Frequency
Valid

Belum pernah melahirkan


sebelumnya
Pernah melahirkan
sebelumnya, tanpa penyulit

Percent

Valid Percent

Percent

30

48.4

48.4

48.4

21

33.9

33.9

82.3

11

17.7

17.7

100.0

62

100.0

100.0

Pernah melahirkan
sebelumnya, dengan
penyulit
Total