Anda di halaman 1dari 64

Disusun oleh :

Yelmida A

TOPIK
Energi

2 SKS

Bebas Gibbs & Kesetimbangan

Kimia

Kesetimbangan Fasa dan Diagram Fasa

Larutan

Non-Elektrolit & Larutan Elektrolit

Pengantar

Kimia Koloid &Kimia


Permukaan

Elektrokimia

dan Sel Elektrokimia

Kinetika Reaksi

Refere
T.,(1987) , Physical Chemistry, Alih
nsi Bird,
bahasa Kwee Ie Tjien, Cet. I, Gramedia,
1.

3.

Jakarta
2.
R.A., Alberty dan F. Daniels, (1983), Kimia
Fisika , Erlangga, Jakarta,
Sukarjo, (1985), Kimia Fisika , Penerbit Bina
Aksara, Yokjakarta
4.
S.K Dogra and S.Dogra, Physical Chem.
Through Problems, Wiley Eastern Limited
1984

Penilaian :
UTS
UAS
Kuis
Tugas
Pekerjaan
Absen

rumah
tak berpengaruh

Tiga macam campuran yang penting:


Larutan,
Dispersi koloid,
Suspensi

Larutan adalah suatu campuran yang bersifat


homogen
Sistem koloid adalah suatu bentuk campuran
yang keadaannya terletak antara larutan dan
suspensi (campuran kasar).
Sistem koloid ini mempunyai sifat-sifat khas
yang berbeda dari sifat larutan atau suspensi.
Suspensi dapat dipisahkan dengan penyaringan
atau dengan sentrifugasi.

Tabel 1. Perbedaan larutan, koloid dan suspensi


LARUTAN

DISPERSI
KOLOID

SUSPENSI

Semua bentuk
partikel
dari atom,ion atau
molekul (0,1 1
nm)

Partikel paling sedikit


satu
komponen atom, ion
atau
molekul kecil (1 1000
nm)

Partikel paling sedikit


satu
komponen yang dapat
dilihat dibawah
mikroskop

Stabil terhadap
gravitasi

Kurang Stabil

Tidak stabil

Homogen

Perbatasan homogen

Tidak Homogen

Tembus Cahaya

Buram

Tidak tembus

Tidak ada efek


Tyndall

Efek Tyndall

Tidak transparan

Tidak ada gerak


Brown

Gerak Brown

Partikel terpisah

Tidak dapat
dipisahkan

Tidak dapat dipisahkan Dapat dipisahkan


6
dengan penyaringan
dengan penyaringan

Penyelidikan terhadap zat yang berupa


larutan pertama kali dilakukan oleh Thomas
Graham (1861)
Kecepatan difusi : - cepat
- lambat
- tidak berdifusi
Graham membagi larutan berdasarkan
kecepatan diffusi menjadi :
1. KRISTALOID : Bila zat dilarutkan dalam suatu
pelarut maka diperoleh larutan yang homogen
yang tidak dapat dibedakan dan mudah berdifusi
melalui membran
larutan gula
larutan garam.
7

2. KOLOID : campuran yang juga bersifat


homogen tapi dapat dibedakan.
Kecepatan difusi koloid sangat lambat , hampir
tak berdiffusi
Perbedaan utama antara KOLOID dan
KRISTALOID berdasarkan ukuran partikelnya :
- KRISTALOID : 10 Ao ( Larutan sejati )
- KOLOID
: 10 Ao - 10.000 Ao
- SUSPENSI
: > 10.000 Ao
8

Koloid tidak dapat berdifusi melalui membran.


Proses pemisahan berdasarkan difusi pada
membran semipermiable : DIALISIS

KOLOID
:

suatu campuran (sistem dispersi) dua atau


lebih zat yang bersifat homogen namun
memiliki ukuran partikel terdispersi yang cukup
besar (1 - 100 nm), sehingga terkena efek
Tyndall.
Bersifat homogen berarti partikel terdispersi
tidak terpengaruh oleh gaya gravitasi atau gaya
lain yang dikenakan kepadanya; sehingga tidak
dijumpai pengendapan, misalnya.
10

Di dalam larutan koloid secara umum, selalu


terdiri dari dua fase:

Fase terdispersi, yakni zat yang terlarut di


dalam larutan koloid, berupa partikel-partikel
berukuran koloid

Fase pendispersi, yakni zat pelarut di dalam


larutan koloid, merupakan medium tempat
partikel koloid tersebut tersebar.

Koloid memiliki bentuk bermacam-macam,


tergantung dari fasa zat pendispersi dan zat
terdispersinya.
11

Tabel 2. Jenis-jenis Dispersi Koloid


FASA
MEDIA
TERDISPERSI PENDISPERSI
Gas

Cair

Gas

JENIS

CONTOH

Busa

Busa sabun

Padat

Busa Padat

Batu apung

Cair

Gas

Aerosol Cair

Kabut, halimun, awan

Cair

Cair

Emulsi

Krim, susu, saos

Cair

Padat

Emulsi Padat

Mentega, keju

Padat

Gas

Asap

Debu, partikulat dalam asap

Padat

Cair

Sol

Pati dalam air, jeli, cat

padat

padat

Sol Padat

Aloy, mutiara

12

Klasifikasi Koloid
a. Ditinjau dari jenis partikelnya,
koloid dibedakan atas :
- dispersi koloid
- larutan koloid sejati / larutan
makromolekul.
- koloid asosiasi.

13

DISPERSI KOLOID :
Terdiri dari zat-zat yang tidak larut
dengan partikel partikel yang terdiri
dari gabungan banyak molekul.
Misal : - dispers koloid Au , AS2 S3
- minyak dalam air.
-

Kedua fase terdispersi dan dispers


medium dapat berupa gas, padat, cair,
Secara termodinamik, dispers koloid
tidak stabil karena nisbah permukaan
dan volume sangat besar
14

LARUTAN KOLOID SEJATI / LARUTAN


MAKRO MOLEKUL
Terdiri dari larutan dengan zat terlarut
yang BM nya tinggi ( makro molekul :
misal pati, protein ).
Secara termodinamik sistim ini stabil.
Dapat disintesis, misal polistiren, nylon
Sifat larutan polimer ini mirip sol liofil

15

KOLOID ASOSIASI

KOLOID ELEKTROLIT
:

Sistim terdiri dari molekul yang BM nya


rendah yang beragregasi membentuk
partikel berukuran koloid.
Secara TD sistim ini juga stabil.
Contoh : larutan sabun dan deterjen, alkil
sulfat dan sulfonat.
16

SABUN

molekul organik
- gugus liofil ( hidrofilik )
- gugus
liofob ( hidrofobik )

17

BAGAIMANA SABUN DAN DETERGENT BEKERJA

18

Klasifikasi Koloid

b. Berdasarkan sifat adsorpsi partikel koloid


terhadap medium pendispersinya,
dikenal 2 macam koloid :

1.Koloid liofil yaitu koloid yang senang

cairan (bahasa Yunani : liyo = cairan; philia


= senang). Partikel koloid akan mengadsorpsi
molekul cairan, sehingga terbentuk selubung
di sekeliling partikel koloid itu. Mis :
kanji,protein, agar-agar
2.Koloid liofob yaitu koloid yang benci
cairan (phobia = benci). Partikel koloid tidak
mengadsorpsi molekul cairan. Misal : sol
sulfida dan sol logam
19

Klasifikasi Koloid

c. Berdasarkan jenis muatannya dikenal

dua macam koloid, yaitu :

Koloid bermuatan positif , misal koloid Fe(OH)


mengadsorbsi ion H+ , sehingga menjadi
bermuatan (+). Karena muatan senama maka
koloid Fe(OH)3, akan tolak-menolak sesamanya
sehingga partikel-partikel koloid tidak akan
saling menggerombol.

Koloid bermuatan negatif, misal koloid As S


2

mengadsorbsi ion OH- dalam larutan sehingga


akan bermuatan (-)
20

Karena

muatannya sejenis, maka


terdapat gaya tolak menolak antar
partikel koloid, sehingga memberikan
kestabilan pada sistem koloid.
Namun secara keseluruhan system
koloid bersifat netral, karena partikel
koloid yang bermuatan ini akan menarik
ion-ion dengan muatan berlawanan
dalam medium pendispersinya.
21

Klasifikasi
Koloid

d. Koloid berdasarkan fasa zat pendispersi dan zat


terdispersinya:

SOL , EMULSI , Busa


SOL :
Dispersi koloid dimana fase terdispersinya
merupakan zat padat
Sol Liofobik

butir butir koloid tidak


suka pelarut.

Sol Liofilik

butir butir koloid suka


pelarutnya.
22

Berdasarkan medium pendispersinya,


sol dapat dibagi menjadi:
1.

2.

3.

Sol Padat, merupakan sol di dalam medium


pendispersi padat.
Contoh : paduan logam, gelas berwarna, dan intan
hitam.
Sol Cair (Sol), merupakan sol di dalam medium
pendispersi cair.
Contoh : cat, tinta, tepung dalam air, tanah liat,
Sol Gas (Aerosol Padat), merupakan sol di dalam
medium pendispersi padat.
Contoh : debu di udara, asap pembakaran, dll.
23

EMULSI :
Dispersi koloid dimana fase terdispersinya
adalah zat cair

Berdasarkan medium pendispersinya, emulsi


dapat dibagi menjadi:

Emulsi Gas (Aerosol Cair) : medium pendispersi

gas. Aerosol cair seperti hairspray dan baygon,


Emulsi Cair : medium pendispersi cair , yang
melibatkan campuran dua zat cair yang tidak
dapat saling melarutkan
Emulsi Padat atau Gel, merupakan emulsi
didalam medium pendispersi zat padat. Gel dapat
dianggap terbentuk akibat penggumpalan
sebagian sol cair.
24

Emulsi Cair yang paling dikenal :

Emulsi minyak dalam air (O / W )


Emulsi air dalam minyak ( W / O )
Agar stabil
Sifat

EMULGATOR

emulsi cair yang penting ialah:

Demulsifikasi. Kestabilan emulsi cair dapat

rusak akibat pemanasan, pendinginan,


proses sentrifugasi, penambahan elektrolit,
dan perusakan zat pengelmusi.
Pengenceran. Diencerkan dengan medium
pendispersinya
25

Ditinjau dari segi


kepolaran, emulsi
merupakan campuran
cairan polar dan cairan
non polar.
Salah satu emulsi adalah
susu, di mana lemak
terdispersi dalam air.
Dalam susu terkandung
kasein suatu protein
yang berfungsi sebagai
zat pengemulsi.

26

Emulsi Padat / Gel


Gel merupakan emulsi didalam
medium pendispersi zat padat.
Berdasarkan sifat elastisitasnya, gel dapat
dibagi menjadi:
Gel elastis, contoh adalah sabun dan gelatin
Gel non-elastis, contoh adalah gel silika
Gel memiliki sifat tiksotropi : menjadi cairan
ketika digoyang, tetapi kembali memadat ketika
dibiarkan tenang

27

Dengan mengganti cairan


dengan gas, dimungkinkan
untuk membentuk aerogel ('gel
udara'), yaitu bahan dengan
sifat yang khusus, seperti
massa jenis rendah, luas
permukaan yang sangat besar,
dan isolator panas yang
sangat baik.

Aerogel adalah zat berdasarsilikon dan merupakan benda


padat kepadatan-terendah di
dunia. Dia terbentuk dari
99,8% udara dan foam yang
kaku dengan kepadatan 3
miligram per cm.
28

Aerogel dibuat dengan mengeringkan


sebuah gel yang terdiri dari silika koloid
dalam sebuah lingkungan yang ekstrim.
Alkohol cair, seperti ethanol dicampur
dengan prekursor silikon alkoksida
membentuk sebuah gel silikon
dioksida (gel silika).
Melalui proses yang disebut
pengeringan superkritikal, alkohol
disingkirkan dari gel.
Biasanya dilakukan dengan menukar
etanol dengan CO2 cair dan membuat
CO2 berada di atas titik kritis.
Terakhir menghilangkan seluruh cairan
dari gel dan menggantikannya dengan
gas, tanpa membuat struktur gel rusak
atau berkurang volumenya.
29

Koloid Buih /
Busa

Buih merupakan koloid dimana


fase terdispersinya merupakan gas.
Berdasarkan medium pendispersinya, buih
dapat dibagi menjadi:

Buih Cair (Buih), sistem koloid dengan fase

terdispersi gas dan medium pendispersi zat


cair. Contohnya adalah buih yang dihasilkan
alat pemadam kebakaran dan kocokan putih
telur.
Buih Padat, fase terdispersi gas
dan medium pendispersi zat padat .
Contoh : roti,styrofoam, batu apung
30

SIFAT SIFAT KOLOID


1.

2.

Menurut ukuran partikelnya :10 A - 10.000A.


Umumnya dengan BM besar. Misalnya
albumin BM = 44.000.
EFEK TYNDALL

Ahli fisika Inggris


Tahun 1869 Tyndall menemukan : bila
seberkas sinar dilewatkan pada larutan koloid
maka cahaya tadi akan kelihatan.
31

Efek Tyndall adalah efek yang terjadi jika suatu


larutan terkena sinar.
Pada saat larutan sejati disinari dengan cahaya,
maka larutan tersebut tidak akan
menghamburkan cahaya, sedangkan pada sistem
koloid, cahaya akan dihamburkan.
Penghamburan cahaya terjadi karena partikelpartikel koloid mempunyai partikel-partikel yang
relatif besar untuk dapat menghamburkan sinar
tersebut
Contoh efek Tyndall : sinar matahari yang
dihamburkan partikel koloid di angkasa ; langit
berwarna biru pada siang hari dan jingga pada
sore hari ; debu dalam ruangan akan terlihat jika
ada sinar masuk melalui celah.
32

Berkas cahaya akan kelihatan


karena adanya pantulan atau
hamburan cahaya oleh
permukaan partikel koloid.

Efek Tyndall
Mikroskop Ultra
Dapat digunakan untuk memperkirakan BM
koloid karena intensitas hamburan cahaya
bergantung pada ukuran partikel

Efek Tyndall merupakan Sifat Optik.

33

3.

GERAK BROWN
Gerak Brown adalah gerakan partikelpartikel koloid yang senantiasa bergerak
lurus tapi tidak menentu (gerak acak/tidak
beraturan).
Dibawah mikroskop ultra,
akan terlihat partikelpartikel tersebut akan
bergerak membentuk
zig zag.

34

Koloid dengan medium pendispersi zat


cair atau gas, pergerakan partikelpartikel akan menghasilkan tumbukan
dengan partikel-partikel koloid itu
sendiri.
Gerak Brown dipengaruhi oleh :

suhu
ukuran partikel koloid
Gerak Brown merupakan SIFAT KINETIK
35

Sifat kinetik ini timbul, bisa disebabkan oleh :

Gerakan termal dari partikel koloid


Pengaruh gravitasi
Pergerakan partikel koloid bukan karena
penguapan lokal, tapi akibat tumbukan acak
dengan molekul pelarut. Partikel koloid
cukup kecil, tumbukan cenderung tidak
seimbang, sehingga terjadi gerak zigzag
atau gerak brown
Pengaruh gravitasi, bisa bersifat alami atau
buatan.

36

4.

ADSORPSI
Peristiwa penyerapan partikel
atau ion atau senyawa lain
pada permukaan partikel
koloid yang disebabkan oleh
luasnya permukaan partikel
Partikel koloid sol memiliki kemampuan
untuk mengadsorpsi partikel-partikel
pada permukaannya, baik partikel netral
atau bermuatan (kation atau anion)
karena mempunyai permukaan yang
sangat luas.
37

Contoh :
(i) Koloid Fe(OH)3
bermuatan positif
karena permukaannya
menyerap ion H+.
(ii)

Koloid As2S3
bermuatan negatif
karena permukaannya
menyerap ion S -2.

38

Sifat

adsorbsi digunakan dalam proses:

Pemutihan gula tebu.


Norit.
Penjernihan air.
Misal

: koloid antara obat diare dan


cairan dalam usus yang akan menyerap
kuman penyebab diare.
39

ELEKTROFORESIS
Partikel sol bermuatan listrik, maka
partikel ini akan bergerak dalam
medan listrik.
Pergerakan ini disebut
elektroforesis
5.

Partikel koloid yang


bermuatan positif
bergerak menuju
elektrode negatif
dan sebaliknya
40

Koloid akan
membentuk suatu
permukaan
bermuatan listrik
bila berhubungan
dengan medan
listrik

Terjadinya Elektroforesis

Peristiwa
elektroforesis
merupakan SIFAT

ELEKTRIK
41

Adanya

muatan listrik pada butir-butir


koloid menyebabkan terjadinya beda
potensial antara permukaan zat padat
dan larutan
Menurut Helmholtz dan Debye-Huckel,
pada permukaan koloid terdapat lapisan
rangkap listrik, karena adanya ion-ion
yang mengimbangi, butir-butir koloid
tersebut selalu bergerak
Gerakan koloid dalam alat elektroforesis
menentukan jenis muatan partikel koloid
42

PEMBUATAN KOLOID SOL


Metode

kondensasi : merupakan metode


bergabungnya partikel-partikel kecil
larutan sejati yang membentuk partikelpartikel berukuran koloid.

Metode

dispersi : merupakan metode


dipecahnya partikel-partikel besar
sehingga menjadi partikel-partikel
berukuran koloid.
43

A. Metode Kondensasi
Pembuatan koloid sol dengan metode ini
umumnya dengan cara kimia (dekomposisi
rangkap, hidrolisis, dan redoks) atau dengan
penggantian pelarut.
1.

Reaksi dekomposisi rangkap

- Sol As2S3, dibuat dengan cara mengalirkan H2S


perlahan-lahan melalui larutan As2O3 dingin
sampai terbentuk sol As2S3 yang berwarna
kuning terang;
As2O3 (aq) + 3H2S(g)
As2S3 (koloid)
+ 3H2O(l)
- Sol AgCl, dibuat dengan mencampurkan
larutan AgNO3 encer dan larutan HCl encer;
AgNO3 (ag) + HCl(aq)
AgCl (koloid) +
HNO3 (aq)
44

2. Reaksi hidrolisis
Hidrolisis adalah reaksi suatu zat dengan air.
- Sol Fe(OH)3, dibuat dengan hidrolisis larutan
FeCl3 dengan memanaskan larutan FeCl3, atau
reaksi hidrolisis garam Fe dalam air mendidih;
FeCl3 (aq) + 3H2O(l)
+ 3HCl(aq)

Fe(OH)3 (koloid)

`- Sol Al(OH)3 dapat diperoleh dari reaksi


hidrolisis garam Al dalam air mendidih;
AlCl3 (aq) + 3H2O(l)
3HCl(aq)

Al(OH)3 (koloid) +

45

3.

Reaksi redoks

- Sol emas atau sol Au, dibuat dengan mereduksi


larutan garamnya dengan melarutkan AuCl3
dengan reduktor HCOH;
2AuCl3 (aq) + HCOH(aq) + 3H2O(l)
2Au(s) + HCOOH(aq) + 6HCl(aq)
- Sol belerang dibuat dengan mereduksi SO 2
yang terlarut dalam air dengan mengalirkan gas
H2 S ;
2H2S(g) + SO2 (aq)
3S(s) + 2H2O(l)
46

4.

Penggantian pelarut
Dilakukan dengan mengganti medium
pendispersi sehingga fasa terdispersi yang
semula larut, setelah diganti pelarutnya
menjadi berukuran koloid.
Misal : membuat sol belerang yang sukar larut
dalam air tetapi mudah larut dalam alkohol
seperti etanol .
Belerang terlebih dahulu dilarutkan dalam
etanol sampai jenuh.
Selanjutnya larutan belerang dalam etanol
ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam air
sambil diaduk.
47

B. Metode Dispersi
Metode

ini melibatkan pemecahan


partikel-partikel kasar menjadi berukuran
koloid, kemudian didispersikan dalam
medium pendispersinya.
Ada 3 cara dalam metode ini, yaitu:

Cara Mekanik
Cara peptisasi
Cara Busur Bredig
48

1.Cara Mekanik
Cara mekanik : penghalusan partikel-partikel
kasar zat padat dengan penggilingan
partikel-partikel berukuran koloid.
Misal :
- industri makanan untuk membuat jus buah,
selai, krim, es krim,dsb.
- Industri kimia rumah tangga untuk membuat
pasta gigi, semir sepatu, deterjen, dsb.
- Industri kimia untuk membuat pelumas padat,
cat dan zat pewarna.
- Industri-industri lainnya seperti industri
plastik, farmasi, tekstil, dan kertas.
49

2. Cara peptisasi
Cara peptisasi adalah :
pembuatan koloid dari
butir-butir kasar atau
dari suatu endapan dengan
bantuan suatu zat pemecah.
Zat pemecah dapat berupa elektrolit,
Contoh:
- Agar-agar dipeptisasi oleh air ; karet oleh
bensin.
- Endapan NiS dipeptisasi oleh H2S ;
- Endapan Al(OH) 3 oleh AlCl3.

50

3. Cara Busur Bredig


Cara busur Bredig biasanya
digunakan untuk membuat
sol-sol logam, seperti Ag, Au, Pt.
Logam yang akan diubah jadi
partikel koloid digunakan sebagai elektrode.
Kemudian kedua logam dicelupkan ke dalam
medium pendispersinya (air suling dingin)
sampai kedua ujungnya saling berdekatan.
Kedua elektrode diberi loncatan listrik.
Panas yang timbul menyebabkan logam
menguap, dan terkondensasi menghasilkan
pertikel-pertikel kolid.

51

Koagulasi
Koloidkoloid bersifat netral, maka
Jika partikel-partikel
akan terjadi penggumpalan dan pengendapan
karena pengaruh gravitasi.
Proses penggumpalan partikel koloid dan
membentuk endapan ini disebut : koagulasi.

52

Dengan terjadinya koagulasi, berarti zat


terdispersi tidak lagi membentuk koloid.
Faktor-faktor

yang menyebabkan

koagulasi:

Perubahan suhu.
Pengadukan.
Penambahan ion dengan muatan besar

(contoh: tawas).
Pencampuran koloid positif dan koloid negatif.

53

Penghilangan muatan listrik pada partikel


koloid dapat dilakukan empat cara :
1. Menggunakan prinsip elektroforesis
Proses elektroforesis adalah pergerakan partikelpartikel koloid yang bermuatan ke elektrode
dengan muatan berlawanan. Ketika partikel
mencapai elektrode, maka system koloid akan
kehilangan muatannya dan bersifat netral.
2. Penambahan koloid lain dengan muatan
berlawanan
Ketika koloid bermuatan positif dicampur dengan
koloid bermuatan negatif, maka muatan tersebut
akan saling menghilang dan bersifat netral.
54

3. Penambahan elektrolit
Jika suatu elektrolit ditambahkan pada system
koloid, maka partikel koloid yang bermuatan
negatif akan mengasorpsi ion positif (kation) dari
elektrolit. Begitu juga sebaliknya. Dari adsorpsi ini
maka terjadi proses koagulasi.
4. Pendidihan
Kenaikan suhu menyebabkan jumlah tumbukan
antara partikel dengan molekul air bertambah
banyak. Akibatnya elektrolit yang teradsorpsi pada
permukaan koloid lepas dan partikel jadi tidak
bermuatan.
55

Kestabilan Koloid
Partikel-partikel koloid bermuatan sejenis,
sehingga terjadi gaya tolak-menolak yang
mencegah partikel-partikel koloid bergabung
dan mengendap akibat gaya gravitasi.
Jadi, selain gerak Brown, muatan koloid juga
berperan besar dalam menjaga kestabilan
koloid.

56

Koloid pelindung

Sistem koloid di mana partikel terdispersinya


mempunyai daya adsorpsi relatif besar
disebut koloid liofil , koloid ini bersifat lebih
stabil.

Jika partikel terdispersinya mempunyai gaya


absorpsi yang cukup kecil, maka disebut
koloid liofob yang bersifat kurang stabil.
Yang berfungsi sebagai koloid pelindung
ialah koloid liofil.
57

Koloid

pelindung ialah koloid yang


mempunyai sifat dapat melindungi
koloid lain dari proses koagulasi.

Sol

liofob/ hidrofob mudah terkoagulasi


dengan sedikit penambahan elektrolit,
tetapi menjadi lebih stabil jika
ditambahkan koloid pelindung yaitu
koloid liofil

58

PEMURNIAN KOLOID
Pemisahan atau pemurnian koloid dapat
dilakukan dengan cara :

a.Dialisys :
Proses pemurnian
partikel koloid dari
muatan-muatan yang
menempel pada
permukaannya
menggunakan
membran
semipermiable
59

b. Elektro dialysis
Proses dialysis di
bawah pengaruh
medan listrik.
Elektrodialisis hanya
dapat digunakan
untuk memisahkan
partikel-partikel zat
terlarut yang berupa
elektrolit

60

c. Penyaring ultra

Partikel-partikel kolid tidak


dapat disaring biasa
seperti dengan kertas
saring
Kertas saring diresapi
dengan selulosa seperti
selofan
penyaring ultra
Proses pemurnian
dengan menggunakan
penyaring ultra ini
termasuk lambat, jadi
tekanan harus dinaikkan

61

Koloid Dalam Kehidupan


Sehari-hari
Sifat

karakteristik koloid yang


penting, yaitu sangat
bermanfaat untuk mencampur
zat-zat yang tidak dapat saling
melarutkan secara homogen
dan bersifat stabil untuk
produksi skala besar.

62

Selain industri, sistem koloid juga banyak


dijumpai dalam kehidupan kita sehari-hari

Penggumpalan darah
Pembentukan delta di muara sungai
Pengambilan endapan pengotor
Pemutihan gula

63

64