Anda di halaman 1dari 291

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENGENDALIAN

IMPOR HORTIKULTURA
(Studi Implementasi Peraturan Gubernur Jawa Timur
Nomor 2 Tahun 2013 tentang Pengendalian Distribusi
Produk Impor di Jawa Timur)

Skripsi

DISUSUN OLEH :
AHMAD AFIF MAULANA
071011010

PROGRAM STUDI S1 ILMU ADMINISTRASI NEGARA


DEPARTEMEN ADMINISTRASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SEMESTER GENAP 2013/2014

KEBIJAKAN PENGENDALIAN IMPOR HORTIKULTURA


(Studi Implementasi Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 2 Tahun 2013
tentang Pengendalian Distribusi Produk Impor di Jawa Timur)

SKRIPSI

Maksud : Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi S1 pada


Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga

Disusun Oleh :
Ahmad Afif Maulana
071011010

Program Studi S1 Ilmu Administrasi Negara


Departemen Administrasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Airlangga
Semester Genap Tahun 2013/2014

i|Skrips i

ii | S k r i p s i

iii | S k r i p s i

iv | S k r i p s i

Halaman Persembahan

Skripsi ini kupersembahkan untuk Ayah dan Ibu


yang ingin melihat anaknya mendapat
pendidikan tinggi serta menjadi manusia yang
bermartabat serta berakhlak mulia.
Juga untuk segenap saudara, sahabat & semua
orang yang telah berjasa memberikan cinta dan
doanya hingga saat ini, jazakumullah...

v|Skrips i

Pemuda akan dipandang (derajatnya)


tinggi
tergantung
seberapa
tinggi
keyakinannya, dan jika pemuda tidak
memiliki keyakinan, maka ia tiada akan
bermanfaat. (Al-Imrithi)

Ya Tuhanku jadikanlah harapanku tidak siasia di sisi-Mu dan jadikanlah keyakinanku


akan kebaikan-Mu tidak berkurang.

vi | S k r i p s i

Ucapan Terimakasih...
Alhamdulillah Terima kasih kepada Allah SWT yang telah memberikan
Nikmat dan Anugerah yang tak terhingga hingga saat ini. Semoga selalu
bisa menjadi Hamba-Mu yang senantiasa syukur dan dzikir. Juga kepada
inspiratorku dan panutan terbaik manusia, Rasulullah Muhammad SAW
yang selalu kurindukan kehangatan cintanya. Assalamualaika Yaa
Rasulallah...
Salam tadzim dan hormat ananda kepada Ayahanda dan Ibunda yang
senantiasa memberikan semangat, kasih sayang dan doa yang tulus dan
tiada terputus. Terima kasih atas perjuangan di siang dan malam untuk
merawat dan mendidik ananda dengan pendidikan yang terbaik. Semoga
Allah senantiasa menjaga dan melindungi panjenengan..
Kepada kedua kakakku Mas Arif dan Mas Fahmi beserta dua jagoan
kecilnya Kak Fathir dan Dek Naufal semoga kalian bisa membanggakan
orangtua, abi dan umik ya kelak...
Terimakasih kepada Bapak Drs. Roestoto H.P., S.U (Semoga Allah
memanjangkan usianya) selaku pembimbing skripsi yang tak pernah lelah
membimbing dan mengajari kami dengan ilmu dan wejangan yang
membekas dihati, suara beliau selalu dirindukan saat kuliah di kelas AN...
Kepada segenap Dosen dan staf pengajar di Program studi S1 Ilmu
Administrasi Negara: Dr. Falih Suaedi selaku Kaprodi Ilmu Administrasi
Negara, Prof. Jusuf Irianto M.Comm., Pak Gitadi Tegas Supramudyo
M.Si, Bapak Dr. Bintoro Wardianto, Bapak Dr. Antun Mardianta, Bapak
Soenaryo M.Pst, Bapak Eko Supeno M.Si, Bapak Nanang Haryono M.Si,
Pak Philipus Keban M.Si, Ibu Erna Setijaningrum M.Si dan juga Ibu
Rochyati Wahyuni MS. Salam tadzim dan hormat ananda kepada
panjenengan. Semoga ilmu-ilmu yang telah panjenengan berikan
membawa manfaat dan barokah untuk saya dan teman-teman semua...
Terimakasih untuk Bapak Eka setiyabudi, Bapak Adi Utomo, Ibu Ninik
Margirini dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provisi Jawa Timur
yang telah dengan senang hati memberikan informasi selama masa
penelitian. Segenap Kepala dan staf di Biro Administrasi Perekonomian
Provinsi Jawa Timur, Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur, Balai Besar
Karantina Pertanian Surabaya, BPD GINSI Jawa Timur dan BPS Provinsi
Jawa Timur yang kooperatif dan mendukung terselesaikannya skripsi ini.
Special hugs for my beloved Brothers and Sisters, Cahaya Bulan teams:
Tetriana Widya Nur Indah S.IAN yang telah mendahului kami (Lulusnya)
dan insya Allah mendahului juga dalam berkeluarga, My best think tank
dari bukit Giri Asri Betty Wahyuningtyas, Latifha Kunen Kurnia yang
selalu berusaha membumikan bahasa ngapak ala adipala, My Brother
Cak Denny Samba dan juga Kang M. Lukman ukik Al Hakim yang
selalu menemani kisah klasik selama masa kuliah. Terima kasih atas cinta,
doa dan kebersamaan yang telah kalian berikan selama ini, insya Allah
tidak ada ujung dari perjalanan kisah kita... :)

vii | S k r i p s i

Untuk My Partner in Journey a.k.a Sayung Pengeran: Paksyi, Fajnugh,


cak Khozin, Aulia kimur, Bima, Hubaib Aris Khariza, Binti Saadah.
Terimakasih untuk perjalanan dan pengalaman. Kalian memang partner
paling pas dalam perjalanan!
Segenap Keluarga Besar Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara 2010,
mulai bangku depan sampai bangku paling belakang yang cakep dan
cantik. Terimakasih atas kebersamaan dan kekompakan kalian selama ini,
semoga kita akan tetap selalu ISTIMEWA selamanya. Ill miss u all
guys...
Kepada kakak dan adik angkatan semua di HIMA JUARA, AN 2011,
2012, 2013 dan segenap civitas akademika Ilmu Administrasi Negara, ayo
tunjukkan pada dunia kalo AN UA memang tiada duanya...
Kepada PT. Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk yang telah membantu
meringankan biaya studi selama masa kuliah di Universitas Airlangga,
semoga PGN selalu memberi Energi bagi kehidupan Energy for Life...
Terima kasih kepada segenap keluarga besar Yayasan Peduli Kasih Anak
Berkebutuhan Khusus (YPK ABK) Surabaya, khususnya adik-adikku yang
selalu memberikan senyuman dan berbagi tawa ditengah-tengah penatnya
pikiran selama pengerjaan skripsi ini, i love you all, kejarlah mimpimu
setinggi bintang di langit.
Terimakasih kepada Mas Sis dan Mbak Isti yang selalu ada dan setia
menanti di Departemen Administrasi Negara, semoga Allah membalas
kebaikan panjenengan...
Dan semua pihak-pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Untuk
yang pernah mengenal saya, seluruhnya saya ucapkan terimakasih atas doa
dan dukungan kalian. Salam hangat selalu. :)

viii | S k r i p s i

Abstrak
Era globalisasi perdagangan berdampak pada produk hortikultura
Indonesia. Dalam rangka melaksanakan perlindungan konsumen dan pengawasan
terkait dengan komoditas hortikultura, melalui Permentan No. 89 tahun 2011
pemerintah membatasi distribusi produk impor hortikultura hanya melalui empat
pintu masuk, salahsatunya Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Dalam kaitan itu,
Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengeluarkan Peraturan Gubernur Jawa Timur
Nomor 2 Tahun 2013 tentang Pengendalian Distribusi Produk Impor di Jawa
Timur untuk menjaga stabilitas harga komoditas lokal, melindungi produk
hortikultura lokal dan sebagai upaya mencegah kemungkinan cemaran biologis,
kimiawi dan benda lain yang dapat merugikan dan membahayakan kesehatan
manusia.
Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan implementasi kebijakan
pengendalian distribusi produk impor hortikultura dan juga faktor-faktor yang
mempengaruhi proses implementasi. Untuk menjawab permasalahan penelitian,
digunakan motode penelitian kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif.
Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dan dokumentasi. Teknik
penentuan informan secara purposive. Sedangkan teknik pemeriksaan keabsahan
data melalui triangulasi sumber data sehingga data yang disajikan merupakan data
yang absah.
Hasil temuan data menunjukkan bahwa implementasi kebijakan
pengendalian distribusi produk impor hortikultura di Jawa Timur seluruh
prosedurnya telah dilaksanakan dengan baik. Adapun faktor sumberdaya staf,
fasilitas fisik dan finansial dalam kondisi tidak memadai/mencukupi pada
pelaksana di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur sehingga
kondisi tersebut menghambat implementasi kebijakan ini.
Kata kunci : Implementasi Kebijakan, Pengendalian Impor, Hortikultura

ix | S k r i p s i

Abstract
Nowaday the era of trade globalization impact the Indonesian
horticultural products. In order to protect and supervise the distribution
especially in horticultural commodities, the government issued Permentan No. 89
tahun 2011 to restricts the distribution of imported horticultural products only
through four entrances, one of them is the Port of Tanjung Perak. In that regard,
the East Java Governor issued Pergub Jatim No. 2 tahun 2013 to control the
distribution of Imported Products in East Java. This regulation to maintain the
stability of the local commodity prices, protecting the local horticultural products
and as an effort to prevent possible contamination of biological, chemical and
other objects that can be harm and endanger human health.
This research is conducted to describe the implementation policy of the
distribution controlling of imported horticultural products and also the factors
that affect the implementation process. This research used qualitative method with
descriptive research type. Data was collected by interview and documentation
technique. The informants determination technique is purposive sampling
technique. The examination technique of data through triangulation, so data
which presented is a valid data.
The research results showed that the implementation policy of the
distribution controlling of imported horticultural products in East Java has been
implemented properly. While staff resources, physical facilities, and financial
condition was insufficient in Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi
Jawa Timur and these conditions inhibit the policy implementation.
Keywords: Policy Implementation, Import Control, Horticulture

x|Skri ps i

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT karena hanya dengan Rahmat dan
Pertolongannya sehingga penulisan skripsi yang berjudul Implementasi
Kebijakan Pengendalian Impor Hortikultura (Studi Implementasi Peraturan
Gubernur Jawa Timur Nomor 2 Tahun 2013 Tentang Pengendalian Distribusi
Produk Impor di Jawa Timur) ini dapat terselesaikan dengan baik.
Sebagai provinsi yang memiliki kondisi agro-ekologi yang bervariasi dan
didukung dengan kesesuaian lahan yang tersedia, Jawa Timur merupakan provinsi
yang memiliki berbagai jenis komoditas hortikultura tropik maupun sub tropik.
Namun faktanya komoditas hortikultura lokal saat ini belum mampu bersaing
dengan produk hortikultura impor disebabkan berbagai hal. Impor hortikultura
selalu mengalami kenaikan setiap tahunnya baik dari segi volume maupun
nilainya. Padahal peningkatan impor produk hortikultura dikhawatirkan tidak
hanya mengancam produksi produk sejenis di dalam negeri, namun juga
dikhawatirkan masuknya Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK)
seperti hama, virus dan sebagainya. Oleh karena itu, dalam rangka mengamankan
pasar dalam negeri, mengatur pola distribusi dan sebagai upaya mencegah
kemungkinan cemaran yang merugikan dan membahayakan kesehatan manusia,
Pemerintah provinsi Jawa Timur telah mengesahkan Peraturan Gubernur Jawa
Timur Nomor 2 Tahun 2013 Tentang Pengendalian Distribusi Produk Impor di
Jawa Timur. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui tentang implementasi

xi | S k r i p s i

kebijakan Pengendalian Distribusi Produk Impor di Jawa Timur serta


mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi dalam implementasi kebijakan
tersebut.
Peneliti menyadari akan segala kekurangan yang ada dalam penulisan
skripsi ini, oleh sebab itu penulis menerima segala masukan bagi kesempurnaan
skripsi ini. Penulis berharap karya tulis ini dapat memberikan sumbangsih bagi
perkembangan Ilmu Administrasi Negara dan sebagai bahan masukan bagi para
pelaksana kebijakan Pengendalian Distribusi Produk Impor di Jawa Timur. Akhir
kata penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dan memberikan dukungan dalam penyelesaian penulisan skripsi ini.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita ke jalan yang benar, Amin.

Surabaya, 20 Juni 2014

Ahmad Afif Maulana

xii | S k r i p s i

DAFTAR ISI
JUDUL DALAM ........................................................................................................................ i
HALAMAN PERNYATAAN TIDAK MELAKUKAN PLAGIAT ......................................... ii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .......................................................................iii
HALAMAN PENGESAHAN PANITIA PENGUJI ................................................................ iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................................................ v
MOTTO .................................................................................................................................... vi
UCAPAN TERIMAKASIH .................................................................................................... vii
ABSTRAK ................................................................................................................................ ix
ABSTRACT............................................................................................................................... x
KATA PENGANTAR .............................................................................................................. xi
DAFTAR ISI ..........................................................................................................................xiii
DAFTAR TABEL ................................................................................................................. xvii
DAFTAR GRAFIK/ GAMBAR ............................................................................................. xix
I. PENDAHULUAN.............................................................................................................. I-1
I.1. Latar Belakang Masalah ............................................................................................ I-1
I.2. Rumusan Masalah.................................................................................................... I-26
I.3. Tujuan Penelitian ..................................................................................................... I-26
I.4. Manfaat Penelitian ................................................................................................... I-27
I.5. Tinjauan Pustaka...................................................................................................... I-27
I.5.1. Kebijakan Publik .............................................................................................. I-27
I.5.1.1. Karakteristik, Urgensi dan Ciri Kebijakan Publik............................... I-31
I.5.1.2. Tahapan dalam Kebijakan Publik........................................................ I-34
I.5.1.3. Tipe-tipe Kebijakan Publik ................................................................. I-37
I.5.1.4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Publik......................... I-42
I.5.1.5. Implementasi Kebijakan Publik .......................................................... I-44
I.5.1.6. Model-model Implementasi Kebijakan ............................................... I-47
I.5.2. Kebijakan Impor ............................................................................................... I-56
I.5.2.1. Faktor Pendorong Terjadinya Impor ................................................... I-58
I.5.2.2. Pengendalian Impor............................................................................. I-59
I.5.3. Hortikultura ...................................................................................................... I-60
I.5.3.1. Definisi Hortikultura ........................................................................... I-60
xiii | S k r i p s i

I.5.3.2. Ciri-ciri Tanaman Hortikultura ........................................................... I-62


I.5.3.3. Hortikultura Unggulan di Jawa Timur ................................................ I-64
I.6. Definisi Konsep ....................................................................................................... I-65
I.7. Rincian Data yang Diperoleh................................................................................... I-67
I.8. Metode Penelitian .................................................................................................... I-68
I.8.1. Tipe Penelitian............................................................................................... I-69
I.8.2. Lokasi Penelitian ........................................................................................... I-69
I.8.3. Teknik Penentuan Informan .......................................................................... I-71
I.8.4. Teknik Pengumpulan Data ............................................................................ I-72
I.8.5. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data ........................................................... I-74
1.8.6. Teknik Analisis Data .................................................................................... I-75
II. GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN .............................................................. II-1
II.1. Gambaran Umum Provinsi Jawa Timur ................................................................... II-1
II.1.1. Kondisi Geografis .......................................................................................... II-1
II.1.2. Kondisi Perekonomian dan Infrastruktur ....................................................... II-4
II.1.3. Ekspor-impor Jawa Timur ............................................................................. II-9
II.1.4. Kondisi Pertanian Jawa Timur ..................................................................... II-13
II.2. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur ................................. II-18
II.2.1. Tugas Pokok dan Fungsi .............................................................................. II-18
II.2.2. Visi, Misi dan Program Pembangunan ........................................................ II-18
II.2.3. Struktur Organisasi ...................................................................................... II-21
II.3. Biro Administrasi dan Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur ... II-26
II.3.1. Tugas Pokok dan Fungsi .............................................................................. II-26
II.3.2. Struktur Organisasi ...................................................................................... II-27
II.4. Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Jawa Timur ................. II-29
II.4.1. Tujuan dan Keanggotaan ............................................................................. II-30
II.4.2. Kegiatan ....................................................................................................... II-30
II.4.3. Susunan Kepengurusan BPD GINSI Jawa Timur........................................ II-31
II.5. Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 2 Tahun 2013 Tentang Pengendalian
Distribusi Produk Impor di Jawa Timur ................................................................ II-32
III. PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK ................................... III-1
III.1. Implementasi Kebijakan Pengendalian Distribusi Impor Hortikultura di
Jawa Timur ............................................................................................................ III-2
xiv | S k r i p s i

III.1.1. Tahap-tahap Distribusi Impor Hortikultura ............................................... III-8


III.1.2. Pengawasan dan Pengendalian Distribusi Produk Impor ........................ III-14
III.1.2.1. Proses Persiapan, Koordinasi dan Pelaksanaan Pengawasan ........... III-19
III.1.2.2. Tahap Pelaporan Hasil dan Penyidikan ........................................... III-23
III.1.2.3. Penarikan Barang dan Sanksi ........................................................... III-29
III.1.2.4. Evaluasi Pengendalian dan Pengawasan Distribusi Impor .............. III-35
III.2. Sasaran Kebijakan, Sumberdaya, Karakteristik Agen Pelaksana, Komunikasi,
Disposisi, Kondisi Ekonomi dan Politik, Karakteristik Kebijakan dan Respon
Obyek Kebijakan .................................................................................................. III-36
III.2.1. Sasaran Kebijakan ................................................................................... III-36
III.2.2. Sumberdaya ............................................................................................. III-38
III.2.2.1. Sumberdaya Administrasi/Staf ........................................................ III-38
III.2.2.2. Sumberdaya Kewenangan ................................................................ III-44
III.2.2.3. Sumberdaya Fasilitas Fisik .............................................................. III-49
III.2.2.4. Sumberdaya Informasi ..................................................................... III-52
III.2.2.5. Sumberdaya Finansial ...................................................................... III-54
III.2.3. Struktur Birokrasi .................................................................................... III-60
III.2.4. Komunikasi .............................................................................................. III-65
III.2.5. Disposisi .................................................................................................. III-75
III.2.6. Kondisi Ekonomi dan Politik................................................................... III-80
III.2.7. Karakteristik Kebijakan ........................................................................... III-88
III.2.8. Respon Objek Kebijakan ......................................................................... III-90
III.3. Interpretasi Teoritik ............................................................................................ III-95
III.3.1. Implementasi Kebijakan Pengendalian Distribusi Impor Hortikultura
di Jawa Timur .......................................................................................... III-95
IV. PENUTUP ..................................................................................................................... IV-1
IV.1. Kesimpulan ........................................................................................................... IV-1
IV.2. Saran ..................................................................................................................... IV-8
IV.3. Implikasi Penelitian ............................................................................................ IV-10
IV.3.1. Implikasi Akademis ................................................................................. IV-10
IV.3.2. Implikasi Praktis ...................................................................................... IV-11

xv | S k r i p s i

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xvi | S k r i p s i

DAFTAR TABEL

No

Halaman

I.1. Komoditas Hortikultura Binaan Direktorat Jenderal Hortikultura ........................ I-10


I.2. Komoditas Hortikultura Unggulan Jawa Timur ...................................................... I-11
I.3. Impor Komoditas Sub Sektor Hortikultura Periode Juli - Agustus 2012 ................ I-13
I.4. Perkembangan Ekspor Komoditas Hortikultura Periode Bulan Juli
Agustus 2012 .......................................................................................................... I-15
I.5. Neraca Perdagangan Komoditas Sub Sektor Hortikultura Bulan Juli
Agustus 2012 .......................................................................................................... I-17
I.6. Data Kegiatan Impor Komoditas Hortikultura Melalui Pelabuhan
Tanjung Perak 2011-2013........................................................................................ I-20
I.7. Komoditas Hortikultura Unggulan Jawa Timur dan Sentra Produksinya ............... I-64
II.1. Daftar Kabupaten/ Kota di Jawa Timur ................................................................... II-2
II.2. Pertumbuhan Ekonomi Nasional dan Jawa Timur .................................................. II-5
II.3. Pertumbuhan PDRB Sektoral Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun
2009-2013 ................................................................................................................. II-6
II.4. Inflasi 10 Kabupaten/Kota IHK Jawa Timur Tahun 2009 2013........................... II-7
II.5. Ringkasan Perkembangan Ekspor-impor Jawa Timur September 2013 ............... II-12
II.6. Tanaman Hasil, Produksi dan Rata-Rata Hasil Buah-buahan di Jawa
Timur Angka Tetap 2011-2012 .............................................................................. II-15
II.7. Luas Panen, Produksi dan Rata-Rata Hasil Sayuran, Tanaman Hias dan
Biofarmaka Di Jawa Timur 2011-2012 .................................................................. II-17
II.8. Susunan Badan Pengurus Daerah Gabungan Importir Nasional Seluruh
Indonesia wilayah Jawa Timur tahun 2011-2016 ................................................... II-31
III.1. Volume Impor Provinsi Jawa Timur Menurut Pelabuhan Impor Selama
2010-2012 ............................................................................................................... III-5
III.2. Laporan Distribusi Produk Impor Provinsi Jawa Timur Per Tanggal
1 Januari 2014 S/D 7 Mei 2014 ........................................................................... III-10
III.3. Susunan Keanggotaan Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar
Provinsi Jawa Timur ............................................................................................ III-16
III.4. Laporan Hasil Pengawasan Barang Beredar Komoditas Hortikultura
Selama 2012-2013 ............................................................................................... III-25
xvii | S k r i p s i

III.5. Rekapitulasi Hasil Pengumpulan Data tentang Sasaran Kebijakan ................... III-38
III.6. Susunan Anggota PPNS-PK dan PPBJ Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa Timur ...................................................................... III-40
III.7. Susunan Staf Bagian Perdagangan Biro Administrasi Perekonomian
Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur ............................................................. III-43
III.8. Rekapitulasi Hasil Pengumpulan Data tentang Sumberdaya Staf ..................... III-44
III.9. Rekapitulasi Hasil Pengumpulan Data tentang Sumberdaya Kewenangan ........ III-49
III.10. Rekapitulasi Hasil Pengumpulan Data tentang Sumberdaya Fasilitas Fisik .... III-51
III.11. Rekapitulasi Hasil Pengumpulan Data tentang Sumberdaya Informasi ........... III-54
III.12. Rekapitulasi Sumberdaya Dalam Implementasi Kebijakan Pengendalian
Distribusi Produk Impor Hortikultura di Jawa Timur .......................................... III-58
III.13. Rekapitulasi Hasil Pengumpulan Data tentang Karakteristik Agen
Pelaksana .............................................................................................................. III-65
III.14. Rekapitulasi Komunikasi dalam Implementasi Kebijakan Pengendalian
Distribusi Produk Impor Hortikultura di Jawa Timur .......................................... III-73
III.15. Rekapitulasi Hasil Pengumpulan Data tentang Disposisi ................................. III-80
III.16. PDRB Per Kapita Jawa Timur Atas Dasar Harga Berlaku Tahun
2011-2013 ............................................................................................................. III-84
III.17. Rekapitulasi Hasil Pengumpulan Data tentang Karakteristik Kebijakan ......... III-90
III.18. Rekapitulasi Hasil Pengumpulan Data tentang Respon Objek Kebijakan........ III-95

xviii | S k r i p s i

DAFTAR GRAFIK/ GAMBAR

No

Halaman

I.1.

Tahap-tahap Kebijakan ...................................................................................... I-37

I.2.

Model Implementasi Kebijakan Menurut G.C Edwards III ............................... I-49

I.3.

Model Implementasi Kebijakan Menurut Van Matter dan Van Horn ............... I-52

II.1.

Laju Inflasi Jawa Timur dan Nasional Tahun 2009 - 2013 ................................. II-7

II.2.

Struktur Organisasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi


Jawa Timur........................................................................................................ II-25

II.3.

Alur Perijinan Distribusi Produk Impor di Jawa Timur.................................... II-36

III.1. Alur Penerbitan RIPH dan SPI Melalui Sistem Inatrade ................................ III-13
III.2. Mekanisme Prosedur Teknis Pengawasan ...................................................... III-22
III.3. Koordinasi Pelaksanaan Penyidikan ............................................................... III-28
III.4. Mekanisme Penarikan Barang ........................................................................ III-31
III.5. Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Jawa Timur 2010-2013 ............................... III-83

xix | S k r i p s i

PENDAHULUAN

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah


Pelaksanaan pembangunan sejatinya tidak hanya untuk memajukan
kehidupan bangsa dan negara saja, tapi juga sekaligus sebagai upaya
pemenuhan

kebutuhan

hidup

masyarakatnya.

Negara

yang

maju

pembangunannya secara otomatis maju pula perekonomiannya.


Seiring dengan perkembangan zaman, Indonesia kini dihadapkan pada
suatu kondisi perekonomian dunia yang semakin global dan terintegrasi.
Kondisi tersebut menciptakan kecenderungan berupa regionalisasi ekonomi
dan perdagangan bebas. Teknologi dan perekonomian dunia juga turut
berkembang pesat dan meningkatkan persaingan antarnegara maupun kawasan
regional. Perdagangan internasional yang dulunya dilakukan secara tradisional
dan terbatas, sekarang telah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hilir
mudik komoditas perdagangan ekspor-impor dengan kapasitas yang besar
bergerak cepat dari satu negara ke negara lain tanpa mengenal batas dan
waktu. Kondisi ini tentunya akan berakibat pada pola hubungan perdagangan
antarnegara. Sehingga negara yang tidak cepat merespon maka negara itu akan
kehilangan pasar potensial dan akan ditinggalkan negara lainnya.
Dewasa kini semakin banyak negara melakukan hubungan ekonomi
dengan negara lain, tentu hal ini akan meningkatkan pula ketergantungan
kegiatan ekonomi antarnegara di dunia yang lazim disebut globalisasi
ekonomi. Globalisasi ekonomi mempengaruhi tingkat ketergantungan

I-1

PENDAHULUAN

antarnegara menjadi semakin tinggi. Hal ini sesuai dengan teori ekonomi
pembangunan menurut Sumitro Djojohadikusumo (1994:65) adapun ciri-ciri
yang digunakan dalam teori tersebut antara lain:
1. Pertumbuhan ekonomi yang ditandai dengan peningkatan produksi
barang dan jasa dimana sektor primer memiliki peranan yang sangat
besar dalam perekonomian negara.
2. Tersedianya lapangan kerja yang produktif.
3. Lalu lintas perdagangan ekspor dan impor, serta pembayaran luar
negeri.
4. Kestabilan harga yang terjadi di pasar.
Implikasi dari globalisasi ekonomi ini adalah semakin besar pula
kemungkinan negara tersebut memperoleh kesejahteraan sebagai tujuan dari
aktivitas perdagangan. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa kesejahteraan
suatu negara akan bergantung kepada kue perdagangan dunia diperoleh
melalui aktivitas perdagangan.
Pada tanggal 6 Nopember 2001 dalam forum puncak ASEAN dan
Republik Rakyat Cina di Brunei Darussalam, Indonesia dan negara-negara
ASEAN berhasil menyepakati komitmen pembentukan framework kerja sama
ekonomi dan pendirian kawasan perdagangan bebas bersama (ASEAN-China
Free Trade Area). ACFTA merupakan kesepakatan antara negara-negara
ASEAN dengan Cina untuk mewujudkan kawasan perdagangan bebas dengan
menghilangkan atau mengurangi hambatan-hambatan perdagangan barang,
baik berupa tarif maupun non tarif, peningkatan akses pasar jasa, peraturan

I-2

PENDAHULUAN

dan ketentuan investasi, sekaligus peningkatan aspek kerjasama ekonomi


dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat ASEAN dan Cina
(ASEAN,

2010:1)

Selanjutnya

kerangka

kerjasama

ekonomi

secara

menyeluruh ditandatangani pada tanggal 4 Nopember 2002 di Phnom Phen,


Kamboja. Ratifikasi dilakukan oleh pemerintah Indonesia berdasarkan
Peraturan Presiden Nomor 48 tahun 2004.
Kebijakan tersebut membawa dampak pada terciptanya suatu perdagangan
lintas negara yang semakin luas dan kompetitif pada negara-negara yang
tergabung dalam blok perdagangan tersebut. Pembukaan pasar ini merupakan
perwujudan dari perjanjian perdagangan bebas antara enam negara anggota
ASEAN (Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina dan Brunei
Darussalam) dengan Cina. Dalam ACFTA disepakati kerjasama yang lebih
intensif dalam beberapa bidang seperti pertanian, teknologi informasi,
pengembangan SDM, investasi, pengembangan Sungai Mekong, perbankan,
keuangan dan lain sebagainya. (http://ditjenkpi.kemendag.go.id/Umum/
Regional/Win/ASEAN%20%20China%20FTA.pdf diakses 25 Oktober 2013).
Sebaliknya, Indonesia sebagai anggota ACFTA juga memiliki kesempatan
yang sama untuk memasuki pasar dalam negeri negara-negara ASEAN dan
Cina.
Menurut Mutakin & Salam (2009: 2) dengan berlakunya ACFTA berbagai
pengamat memprediksi bahwa produk-produk yang ekspornya

akan

meningkat adalah kelompok produk pertanian, antara lain kelapa sawit, karet,
dan kopi. Kemudian produk yang diprediksi akan terkena dampak negatif

I-3

PENDAHULUAN

adalah produk yang pasarnya di dalam negeri, antara lain garmen, elektronik,
sektor makanan, industri baja/besi, dan produk hortikultura.
Menurut Anifawati (2013:3) kedudukan produk hortikultura memiliki
peranan penting dalam kegiatan perdagangan internasional. Hal ini dapat
dilihat pada perjanjian Organisasi Perdagangan Dunia World Trade
Organization (WTO) yang salah satunya mengatur perdagangan hortikultura
secara khusus dalam skala global. Indonesia yang menjadi salah satu anggota
dalam WTO secara otomatis memiliki kewajiban untuk mengikuti segala
peraturan yang telah diterapkan dalam WTO termasuk dalam aturan WTO
mengenai perdagangan bebas pada produk hortikultura. Era globalisasi
perdagangan yang terjadi saat ini siap atau tidak akan berdampak pada produk
hortikultura Indonesia. Produk Indonesia harus bersaing dengan produkproduk hortikultura negara lainnya dalam persaingan yang ketat. Sektor
pertanian dapat menjadi salah satu sektor unggulan yang dapat memberikan
kontribusi bagi pertumbuhan perekonomian Indonesia. Setiap negara berusaha
mengunggulkan produknya dengan berlomba-lomba untuk menghasilkan
varietas produk terbaik. Sehingga produk yang paling unggul yang dapat
merebut

hati

konsumen

internasional

adalah

negara

yang

mampu

menyesuaikan keinginan konsumen di berbagai negara yang berbeda-beda.


Ghea Ishabela (2012) telah melakukan penelitian mengenai Dampak
kesepakatan perdagangan bebas Asean-China Free Trade Area terhadap
sektor pertanian di Indonesia menemukan fakta bahwa subsektor hortikultura
yang merasakan dampak yang paling signifikan dengan melonjaknya impor

I-4

PENDAHULUAN

dari China. Dari subsektor holtikultura Indonesia bisa dikatakan masih


tergantung pada impor misalnya buah-buahan, dan sayuran Indonesia sampai
saat ini masih dikatakan ketergantungan akan impor dari China. Tetapi disisi
lain, kenaikan eskpor yang ada dinikmati oleh subsektor perkebunan, yaitu
Minyak sawit. Permintaan minyak sawit dari China itu sangat besar
dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Itu membuktikan, produk
Unggulan ekspor kita dalam sektor pertanian hanya dari minyak sawit, dan
produk unggulan impor kita dari China adalah buah-buahan yang bisa dilihat
baik pasar modern maupun tradisional, lebih banyak buah yang diimpor
daripada buah lokal. Pemerintah mempunyai peran penting dalam melindungi
produk pertanian di Indonesia akibat dari dampak ACFTA ini.
Penelitian lainnya dilakukan oleh Michelia (2011) tentang daya saing
buah-buahan tropis Indonesia di pasar dunia dengan menggunakan metode
Revealed Comparative Advantage (RCA) dan Export Product Dynamic
(EPD). Hasil estimasi RCA kurang dari satu, kecuali untuk Jambu Biji,
Mangga dan Manggis. Ini menunjukan bahwa buah-buahan Indonesia
memiliki posisi daya saing yang lebih rendah dibandingkan dengan negaranegara pesaing utamanya. Hasil EPD pun menyimpulkan demikian, performa
ekspor buah-buahan Indonesia umumnya tidak terlalu baik. Hanya alpukat
yang menduduki posisi rising star, sedangkan buah-buahan lainnya berada di
posisi falling star, lost opportunity bahkan retreat.

I-5

PENDAHULUAN

UU No. 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura menjelaskan definisi


hortikultura adalah segala hal yang berkaitan dengan buah, sayuran, bahan
obat nabati, dan florikultura, termasuk di dalamnya jamur, lumut, dan tanaman
air yang berfungsi sebagai sayuran, bahan obat nabati, dan/atau bahan estetika.
Komoditas hortikultura menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial
Ekonomi Pertanian (2001), setidak-tidaknya hortikultura mempunyai tiga
peranan penting dalam perekonomian Indonesia :
1. Sebagai sumber pendapatan masyarakat, terutama petani dan buruh
tani. Total produksi sayuran dan buah-buahan dan rata-rata
kepemilikan lahan yang sangat sempit memberikan petunjuk bahwa
banyak keluarga petani yang mengusahakan komoditas hortikultura
dan cukup banyak kesempatan kerja yang diciptakan bagi buruh tani.
Oleh karena komoditas hortikultura umumnya mempunyai nilai
ekonomi tinggi (high-value commodity), pengembangan usahatani
hortikultura merupakan salah satu alternatif upaya meningkatkan
pendapatan petani.
2. Sebagai salah satu bahan pangan masyarakat, khususnya sebagai
sumber vitamin (buah-buahan) serta mineral dan bumbu masak
(sayuran). Data Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) yang
dilansir BPS menunjukkan bahwa total konsumsi produk hortikultura
perkapita yang dikonsumsi masyarakat pada tahun 2011 mencapai
59,66 Kg/ tahun.

I-6

PENDAHULUAN

3. Sebagai salah satu sumber devisa negara, namun pada masa kini justru
menjadi pengurang devisa negara karena Indonesia menjadi negara
importir buah-buahan dan sayuran.
Menurut data BPS kontribusi subsektor hortikultura terhadap
pembangunan sektor pertanian dari tahun ke tahun cenderung meningkat yang
ditandai dengan peningkatan beberapa indikator makro, seperti Produk
Domestik Bruto (PDB), volume ekspor dan penyerapan tenaga kerja. Angka
PDB hortikultura tahun 2005 sebesar Rp 61,792 miliar meningkat menjadi Rp
88.334 miliar pada tahun 2010. Adapun PDB terbesar disumbang dari
komoditas buah, disusul sayuran, bunga hias dan tanaman obat. Selain
peningkatan PDB akan geliat buah lokal membuka lapangan kerja yang
meningkat, sepanjang tahun 2004 2009 tenaga kerja yang bergerak di bidang
on farm hortikultura meningkat dari 2.924.487 orang menjadi 3.974.898
orang, atau terjadi peningkatan sebesar 35 persen selama 5 tahun terakhir.
Kontribusi ekspor buah-buahan Indonesia ke pasar internasional meningkat
menjadi 0,8% (BPS, 2010).
Namun,

menurut

Direktur

Budidaya

Tanaman

Sayuran

dan

Biofarmaka, Ditjen Hortikultura, Departemen Pertanian (2012), produksi


sayuran dalam negeri terkategori masih rendah. Produksi sayuran pada tahun
2012 baru mencapai 10,93 juta ton. Nilai produksi tersebut hanya meningkat
kurang dari 1 persen dibanding pada tahun sebelumnya. Nilai produksi
tersebut jika dibagi dengan total penduduk Indonesia sebesar 232 juta jiwa
menghasilkan tingkat konsumsi sayuran perkapita sebesar 41,9 kilogram per

I-7

PENDAHULUAN

kapita per tahun. Nilai tersebut masih belum mampu memenuhi rekomendasi
tingkat konsumsi sayuran per kapita sebesar 73 kilogram per kapita per tahun.
Bila kedua tingkat

konsumsi tersebut dibandingkan

maka terdapat

kesenjangan pemenuhan kebutuhan yang belum dapat dipenuhi produksi


hortikultura Indonesia sebesar 31,1 kilogram per kapita per tahun. Hal tersebut
menunjukkan bahwa peluang untuk pengembangan hortikultura masih besar.
Kekurangan kebutuhan hortikultura Indonesia saat ini dipenuhi oleh
komoditas impor.
Dengan jumlah penduduk yang diperkirakan mencapai 250 juta di
tahun 2013 dengan tingkat pertumbuhan penduduk per tahun sebesar 1,49%
(BKKBN, 2013) menjadikan negara kita sebagai pasar potensial yang sangat
besar. Selain itu, menurut data BPS tingkat pendapatan per kapita masyarakat
juga mengalami peningkatan dari sebelumnya 1.100 dollar AS per kapita per
tahun di 2004 menjadi 4.000 dollar AS per kapita per tahun pada tahun 2013,
sehingga menjadi pendorong meningkatnya daya beli masyarakat terhadap
produk-produk bermutu, namun tetap mempertimbangkan efisiensi dengan
tetap memilih barang-barang dengan harga yang terjangkau.
Dari sudut pandang potensi pasar, Indonesia merupakan salah satu
negara yang menjadi pasar potensial dalam pemasaran produk pertanian
seperti komoditas pangan, sayuran dan hortikultura. Terbukti dengan
membanjirnya berbagai produk hortikultura diantaranya buah-buahan,
sayuran, tanaman hias, dan tanaman obat diberbagai pasar mulai skala
supermarket hingga pasar-pasar tradisional. Produk-produk impor mulai

I-8

PENDAHULUAN

membanjiri pasar domestik, seperti jeruk mandarin, jeruk kinnow Pakistan,


durian montong, jamur shitake, jamur aprikot korea dan lain-lain
(http://bisnis.liputan6.com/read/819685/ jeruk-kinnow-pakistan-mulai-jajah pa
sar-indonesia diakses 27 Februari 2014). Alasan utama para pelaku usaha dan
industri melakukan impor produk hortikultura adalah untuk memenuhi
permintaan konsumen. Alasan penting kedua adalah karena konsisten dalam
supply nya lebih terjamin. Selanjutnya, produk-produk impor tersebut
menawarkan penampilan yang lebih menarik, baik warna ataupun bentuk
dengan harga yang lebih murah dibandingkan produk-produk lokal. Sehingga
dapat menarik minat konsumen domestik untuk mengkonsumsi produk impor
daripada produk lokal (Kemendag, 2012).
Indonesia dengan potensi sumber daya lahan dan agroklimat yang
beragam memiliki peluang besar untuk mengembangkan berbagai tanaman
hortikultura tropis. Menurut Dirjen Hortikultura Kementrian Pertanian sesuai
Keputusan Menteri Pertanian Nomor 3599/Kpts/PD.310/2006 tentang
Perubahan

Lampiran

Keputusan

Menteri

Pertanian

Nomor

511/Kpts/PD.310/9/2006 tentang Komoditi Binaan Direktorat Jenderal


Perkebunan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Direktorat Jenderal
Hortikultura, Indonesia memiliki 374 komoditas hortikultura binaan yang
masing-masing terdiri dari: 60 komoditas buah, 80 komoditas sayuran, 117
florikultura dan 117 tanaman obat (biofarmaka). Adapun sebagian komoditas
binaan hortikultura disajikan dalam tabel I.1 berikut:

I-9

PENDAHULUAN

Tabel I.1 Komoditas Hortikultura Binaan Direktorat Jenderal Hortikultura


KOMODITAS
Buah-buahan

JENIS-JENIS
Alpukat,

Buah

Naga,

Kedondong,

Manggis, Jeruk, Durian,

Pisang,

Mangga,

Kawista, Rambutan, Salak,

Semangka, Nanas, Melon, Sawo, Timun Suri, Kesemek.


Sayur-sayuran

Kentang, Cabe besar, Cabe rawit, Bawang merah, Kol/kubis,


Tomat, Sawi/petsa, Daun bawang, Paprika, Jamur Merang,
Shitake, Jamur Tiram, Bit, Selada Air, Jengkol, Kenikir.

Biofarmaka/

Temulawak, Jahe, Kunyit, Kencur, Sambiloto, Temulawak,

Tanaman Obat

Temuireng, Temukunci, Kapulaga, Lidah buaya, Tapak


Liman, Kunyit Putih, Jahe merah, Ginseng, Cengkeh.

Florikultura/

Krisan, Anggrek, Mawar, Sedap malam, Pakis, Palem,

Bunga Hias

Melati, Kamboja Jepang, Cemara laut, Anyelir, Bambu hias,


Suplir, Teratai, Pacar air, Pinus, Pisang-pisangan, Ponix.

Sumber: Dirjen Hortikultura, 2012

Provinsi Jawa Timur sebagai salah satu provinsi di Indonesia yang


memiliki agro-ekologi yang bervariasi dan didukung dengan kesesuaian lahan
yang tersedia, dapat dimanfaatkan untuk pengembangan berbagai jenis
komoditas hortikultura tropik maupun sub tropik. Selain faktor potensi
wilayah dan kesesuaian agroklimat, komoditas hortikultura unggulan
dikembangkan untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor
sekaligus untuk mensubstitusi produk impor yang banyak dijumpai di pasaran.
Komoditas hortikultura yang dikembangkan tergantung pada besarnya
permintaan pasar, keuntungan kompetitif, nilai ekonomi, sebaran wilayah
produksi dan kesesuaian agroekologi. Sesuai dengan potensi daerah Jawa

I-10

PENDAHULUAN

Timur, maka komoditas hortikultura yang potensial dikembangkan seperti yang


tercantum pada Tabel I.2
Tabel I.2 Komoditas Hortikultura Unggulan Jawa Timur

Buah-Buahan

KOMODITAS
Sayuran
Tanaman Hias

- Mangga
- Cabe rawit
- Krisan
- Jeruk
- Bawang Merah
- Sedap Malam
- Pisang
- Kentang
- Mawar
- Durian
- Kol
- Melati
- Rambutan
- Tomat
- Salak
- Sirsat
- Manggis
- Apel
- Belimbing
Sumber: Balai Besar Pelatihan Pertanian, 2013

Tanaman Obat
- Mengkudu
- Mahkota Dewa
- Laos/ Lengkuas
- Jahe

Melihat potensi sumberdaya alam yang dimiliki provinsi Jawa Timur


merupakan sebuah keunggulan kompetitif yang harus dimanfaatkan seoptimal
mungkin. Dengan potensi sumberdaya alam yang berlimpah dengan mudah
tumbuh dan berkembang semua komoditas baik pangan, perkebunan maupun
komoditas

hortikultura

terutama

sayuran

dan

buah-buahan

sehingga

keunggulan ini mampu mendatangkan kesejahteraan penduduknya dan mampu


mencapai swasembada hortikultura.
Menurut Balai Besar Pelatihan Pertanian (2013) hortikultura merupakan
salah satu subsektor andalan yang diharapkan mampu memberikan sumbangan
positif bagi pembangunan sektor pertanian di Jawa Timur.

Komoditas

hortikultura yang terdiri dari sayuran, buah-buahan, tanaman hias dan tanaman
obat memiliki nilai ekonomi tinggi dan sangat prospektif untuk dikembangkan

I-11

PENDAHULUAN

mengingat potensi serapan pasar dalam negeri dan internasional yang terus
meningkat. Namun faktanya berbeda, kecenderungan yang terjadi adalah
membanjirnya produk industri dan pertanian yang mengakibatkan besarnya
arus impor produk daripada arus ekspor produk ke luarnegeri. Menurut
Kementerian Pertanian perkembangan impor buah dan sayur di Indonesia
mengalami lonjakan yang tinggi.
Pada tahun 2008 nilai impor produk hortikultura baru mencapai 881,6 juta
dollar AS, tetapi pada 2011 nilai impor produk hortikultura sudah mencapai 1.7
miliar dollar AS (dengan kurs Rp. 10.000, sekitar Rp 17 triliun). Sedangkan
Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian RI mencatat nilai
impor komoditas hortikultura Indonesia Sepanjang tahun 2012, volume impor
hortikultura sebanyak 1,66 juta ton, buah 826,597 ribu ton dan sayur sebanyak
770 ribu ton. Sedangkan menurut data Pusdatin Nilai impor komoditas sub
sektor hortikultura pada bulan Agustus 2012 mencapai US$ 145,42 juta atau
mengalami penurunan sebesar 15,02% dibandingkan bulan sebelumnya.
Demikian pula, dari sisi volume mengalami penurunan sebesar 18,76%, yaitu
dari 194,22 ribu ton menjadi 157,79 ribu ton. Realisasi nilai impor yang cukup
besar pada bulan Agustus 2012 adalah lengkeng segar dan olahan sebesar US$
37,81 juta, bawang putih segar dan olahan (US$ 25,01 juta), apel segar dan
olahan (US$ 15,55 juta), dan anggur segar dan olahan (US$ 14,70 juta).
Perkembangan impor komoditas sub sektor hortikultura bulan Juli - Agustus
2012 disajikan pada Tabel I.3

I-12

PENDAHULUAN
Tabel I.3 Impor komoditas sub sektor hortikultura, Juli - Agustus 2012

Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah Pusdatin

I-13

PENDAHULUAN

Adapun total nilai ekspor sub sektor hortikultura pada bulan Agustus 2012
adalah US$ 42,74 juta atau mengalami penurunan sebesar 3,31% dibandingkan
bulan Juli 2012. Sebaliknya, dari sisi volume ekspor komoditas sub sektor
hortikultura mengalami peningkatan sebesar 5,68%, yaitu dari 41,73 ribu ton
menjadi 44,10 ribu ton. Komoditas sub sektor hortikultura yang mempunyai nilai
ekspor terbesar pada bulan Agustus 2012 adalah nenas segar dan olahan sebesar
US$ 14,01 juta, cabe segar dan olahan sebesar US$ 1,91 juta, kubis segar sebesar
US$ 1,81 juta, dan anggur segar sebesar US$ 1,58 juta. Perkembangan ekspor
komoditas hortikultura periode bulan Juli - Agustus 2012 secara rinci disajikan
pada Tabel I.4

I-14

PENDAHULUAN
Tabel I.4 Perkembangan ekspor komoditas hortikultura periode bulan Juli - Agustus 2012

Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah Pusdatin

I-15

PENDAHULUAN

Pada bulan Agustus 2012, neraca perdagangan sub sektor hortikultura


mengalami defisit sebesar US$ 102,68 juta atau mengalami penurunan sebesar
19,09% dibandingkan bulan Juli 2012. Komoditas yang mengalami defisit neraca
perdagangan yang cukup besar yakni lengkeng segar dan olahan (US$ 37,70 juta),
bawang putih segar dan olahan (US$ 24,84 juta), apel segar dan olahan (US$
15,55 juta), anggur segar dan olahan (US$ 13,12 juta), Jeruk segar dan olahan
(US$ 6,93 juta), serta kentang segar dan olahan (US$ 6,75 juta). Komoditas
hortikultura yang mengalami surplus neraca perdagangan pada bulan Agustus
2012 dan cukup besar adalah nenas segar dan olahan yang mencapai US$ 13,99
juta, tanaman hidup lainnya yang mencapai US$ 2,08 juta, kubis segar dan olahan
sebesar US$ 1,76 juta, dan bawang merah yang mencapai US$ 1,09 juta.
Perkembangan neraca perdagangan komoditas sub sektor hortikultura bulan Juli Agustus 2012 secara rinci disajikan pada Tabel I.5

I-16

PENDAHULUAN
Tabel I.5 Neraca perdagangan komoditas sub sektor hortikultura bulan Juli - Agustus 2012

Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah Pusdatin

I-17

PENDAHULUAN

Dalam rangka mendorong produktivitas komoditas pertanian khususnya


terkait dengan komoditas hortikultura, pemerintah terus berupaya untuk membuat
kebijakan yang mendukung kemandirian produksi hortikultura dalam negeri.
Kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk mendorong kemandirian ini
diantaranya melalui pembatasan gerak kegiatan impor hortikultura dari luar negeri
yaitu melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 15 dan 16 Tahun 2012 yang
diterapkan mulai 19 Juni 2012 yang menetapkan bahwa aktivitas impor
hortikultura hanya bisa dilakukan melalui empat pintu yaitu: Bandara Soekarno
Hatta, Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Pelabuhan Belawan Medan, dan
Pelabuhan Makassar.
Peraturan tersebut berdampak pada peningkatan jumlah hortikultura impor
yang masuk melalui Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Peningkatan terjadi
hampir diseluruh komoditas buah dan sayur. Hingga pertengahan bulan
September 2012 volumenya mencapai 423.006 Ton atau meningkat 13% jika
dibandingkan tahun 2011 di periode yang sama yang mencapai 46.047 kontainer.
Peningkatan dalam komoditas buah misalnya, menurut data Asosiasi Hortikultura
Nasional jumlah realisasi importasi apel di semester I-2013 sebanyak 83.918 ton
dan di semester II-2013 sebanyak 66.500 ton. Sementara itu di semester I-2014,
pemerintah membuka rekomendasi impor apel sejumlah 200.483 ton, 50.635 Ton
Jeruk, dan 37.467 Ton Pir yang masuk melalui Pelabuhan Tanjung Perak.
Peningkatan terbesar terjadi bulan Juli lalu, saat itu hampir 10.000 kontainer
hortikultura. Sedangkan untuk sayur, komoditas yang paling banyak di impor

I-18

PENDAHULUAN

adalah Bawang Putih dengan volume 197.832 Ton. (http://kabarbisnis.com/read


/2833579 diakses 25 Oktober 2013).
Menurut data Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya selama periode
2011-2013 kegiatan impor komoditas hortikultura melalui pelabuhan Tanjung
Perak di dominasi oleh importir asal negara Cina. Komoditas buah-buahan
menjadi produk terbesar dari komoditas impor hortikultura terpilih. Pada tahun
2013 Buah Pear merupakan komoditas buah impor terbesar dilihat dari volumenya
mencapai 102.971.975,7 Kg kemudian Apel sebesar 83.317.070,98 Kg.
Sedangkan komoditas sayuran volume impor terbesar yaitu Wortel sebesar
6.636.250,00 Kg kemudian Cabai sebesar 1.974.920,00 Kg. Data kegiatan impor
komoditas hortikultura melalui pelabuhan Tanjung Perak 2011-2013 secara rinci
dijelaskan dalam tabel I.6

I-19

PENDAHULUAN

Tabel I.6 Data Kegiatan Impor Komoditas Hortikultura Melalui Pelabuhan Tanjung Perak 2011-2013
NO.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

KOMODITAS
Apel
Jeruk
Pear
Kurma
Strawberry
Bawang Merah
Bawang Putih
Bawang Bombay
Wortel
Cabai

NEGARA
ASAL
Cina
Cina
Cina
Mesir
Cina
Vietnam
Cina
India
Cina
Cina

2011
44.060.754
33.904.508
30.285.196
1.304.300
101.000
10.030.150
223.256.680
12.578.649
9.216.325
59.700

VOLUME (KG)
2012
74.445.405
53.127.949
68.293.543
1.708.666
277.244
5.727.400
294.801.775
6.190.050
12.393.625
1.536.300

2013
83.317.070,98
66.754.230,2
102.971.975,7
1.553.450
572.205
12.520.888
392.170.754
40.654.149
6.636.250,00
1.974.920,00

Sumber: Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya, diolah

I-20

PENDAHULUAN

Potensi sumberdaya alam berlimpah yang dimiliki provinsi Jawa Timur


baik berupa komoditas pangan, perkebunan maupun komoditas hortikultura
terutama sayuran dan buah-buahan memiliki keunggulan kompetitif sehingga
harus mampu mendatangkan kesejahteraan penduduknya dan mampu mencapai
swasembada hortikultura. Hortikultura merupakan salah satu sub sektor andalan
yang diharapkan mampu memberikan sumbangan positif bagi pembangunan
sektor pertanian di Jawa Timur.
Namun fakta bahwa komoditas hortikultura lokal belum mampu bersaing
dengan produk dari luarnegeri disebabkan terdapat kendala biaya operasional,
harga jual produk, varietas dan kualitas produk jauh di bawah produk impor dan
negara lainnya. Seperti yang terjadi pada pertengahan Februari 2014, komoditas
apel Malang kualitas nomor satu hanya dihargai Rp 6.000 per kilogram, anjlok
dari harga sebelumnya yang mencapai Rp 12.000 per kg, selain harga anjlok,
volume

permintaan

terhadap

apel

juga

turun.

(http://regional.kompas.com/read/2014/01/04/1112129/Panen.Harga.Apel.Batu.A
njlok diakses 27 Februari 2014). Selain itu daya saing buah lokal rendah salah
satunya dipicu oleh infrastruktur yang buruk seperti jeruk dari Malang yang akan
dibawa ke Jakarta akibat infrastruktur yang buruk, biaya angkutan menjadi mahal
sehingga harga jadi mahal dan kualitas buah menurun karena waktu angkut yang
lama. Sementara buah jeruk impor dari Singapura bisa dijual dengan harga murah
dan dalam kondisi bagus karena infrastruktur bagus dan proses angkut yang
efisien (http://www.investor.co.id/ agribusiness/ citra-buruk-penyebab-buah-lokalkalah-bersaing/ 31816 diakses 14 Juli 2014).

I-21

PENDAHULUAN

Dengan melihat fakta dan temuan di lapangan, maka wajar rasanya jika
masyarakat khususnya para pengusaha domestik resah dalam menghadapi serbuan
produk impor dari Cina. Peningkatan impor produk hortikultura tersebut
dikhawatirkan tidak hanya mengancam kelangsungan produksi produk sejenis di
dalam negeri, namun juga mengakibatkan masuknya Organisme Pengganggu
Tumbuhan Karantina (OPTK) eksotik yang tidak pernah ada di Indonesia, yang pada
akhirnya mengakibatkan turunnya produktifitas produk hortikultura dalam negeri.
Tingginya permintaan impor akan barang konsumsi baik produk hasil industri
maupun pertanian, mengakibatkan kegelisahan di kalangan produsen dalam negeri
karena dapat mengganggu dan mengurangi daya saing barang lokal sejenis di pasar
dalam negeri (Kemendag, 2012)

Produk impor juga tidak terlepas dari masalah keamanan pangan meliputi
kondisi kemungkinan adanya cemaran biologis, kimiawi dan benda lain yang
dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia seperti
yang ditemukan oleh Balai Karantina Pertanian Surabaya pada 2 Mei 2013 saat
dilakukan pemeriksaan dua kontainer jeruk Mandarin Kinnow (Citrus Reticulata)
impor asal Pakistan. Hasil pemeriksaan laboratorium menyatakan bahwa jeruk
sebanyak 53 ribu kilogram itu sudah membusuk dan mengandung jamur
karsinogenik penyebab kanker. Akhirnya sebanyak 5.300 kardus berisi jeruk
dikeluarkan dari kontainer berukuran 40 feet untuk digilas. Sedangkan kardusnya
dibakar (http://www.tempo.co/read/news/2013/05/02/090477365/Balai-KarantinaMusnahkan-53-Ribu-Kg-Jeruk-Busuk diakses 27 Februari 2014).
Permasalahn lain terkait produk hortikultura impor juga ditemukan oleh
Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian pada triwulan II 2013 di
I-22

PENDAHULUAN

Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Badan Karantina Pertanian Kementerian


Pertanian melakukan penangkapan dan pemusnahan terhadap 400 kontainer
bawang putih impor. Selain bawang putih, pemusnahan juga dilakukan terhadap
komoditas sayuran yakni wortel impor dan jahe masing masing sebesar 356.934
kg dan 930 kg. Adapun, pada komoditas buah terdiri dari empat jenis yakni Jeruk,
Anggur, Apel dan Lengkeng senilai Rp 438 miliar. Volume impor keempat
komoditas itu senilai 14,2 ton. Pemusnahan tersebut dilakukan karena komoditas
impor tersebut masuk tanpa melalui surat dokumen impor yang lengkap dan juga
tidak memenuhi uji keamanan pangan (http://kabarbisnis.com/read/2844100
diakses pada 22 Maret 2014).
Melihat fakta yang dipaparkan di atas maka dalam rangka mengamankan
pasar dalam negeri dan memberikan perlindungan konsumen serta membantu
produsen dalam negeri agar barang lokal sejenis dapat bersaing dengan barang
konsumsi asal impor, diperlukan suatu kebijakan yang mengatur tentang
pengendalian distribusi produk impor. Sesuai amanat Undang-Undang Republik

Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen disebutkan


bahwa semakin terbukanya pasar nasional sebagai akibat dari proses globalisasi
ekonomi harus tetap menjamin peningkatan

kesejahteraan masyarakat serta

kepastian atas mutu, jumlah dan keamanan barang dan/atau jasa yang
diperolehnya di pasar.
UU No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan menyebutkan bahwa negara
berkewajiban mewujudkan ketersediaan, keterjangkauan, dan pemenuhan
konsumsi pangan baik pada tingkat nasional maupun daerah hingga perseorangan

I-23

PENDAHULUAN

secara merata di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Undangundang tersebut menunjukkan bahwa pemerintah memiliki kewajiban untuk
memajukan kesejahteraan umum, dimana dapat diartikan bahwa pemerintah
sepatutnya bisa mengatur kedaulatan, kemandirian, dan ketahanan pangannya
sendiri. Pemerintah sebagai stakeholder memiliki peranan penting dalam hal
pembuat kebijakan dan regulasi terkait perlindungan dan pengawasan peredaran
produk impor.
Penelitian yang pernah dilakukan oleh Anifawati (2011) mengenai
kebijakan pembatasan impor hortikultura dan daging sapi sebagai kebijakan
proteksi kepentingan dalam negeri ditemukan fakta bahwa ada 4 dampak yang
ditimbulkan terkait dengan kebijakan ini, diantaranya: pertama, adanya protes dari
pemerintah Amerika Serikat karena dianggap membatasi impor dan berdampak
negatif bagi sektor pertanian dan peternakan Amerika Serikat dan dianggap
bertentangan dengan peraturan yang telah disepakati oleh World Trade
Organization (WTO). Dampak kedua yaitu terjadinya inflasi yang disebabkan
jumlah pasokan (supply) pangan lebih sedikit daripada jumlah permintaannya
(demand), sehingga menyebabkan kenaikan harga. Sementara, keran impor telah
ditutup/dibatasi dengan kebijakan pengendalian. Ketiga, kebijakan pembatasan
impor hortikultura dan daging sapi berdampak pada produktivitas petani lokal
untuk bersemangat dalam memproduksi hortikultura dan sapi lokal. Keempat,
adanya kebijakan pembatasan impor hortikultura dan daging sapi meningkatan
neraca perdagangan produk pertanian sampai Nopember 2012 mengalami surplus
sebesar US$ 19,00 milyar dengan nilai ekspor sebesar US$ 31,78 milyar dan nilai

I-24

PENDAHULUAN

impor sebesar US$ 12,78 milyar. Sedangkan bila dibandingkan tahun 2011 pada
periode yang sama, terjadi penurunan surplus neraca nilai perdagangan 9,55%
atau dengan capaian -63% (tidak berhasil) dari target 15%.
Pemerintah provinsi Jawa Timur telah mengesahkan Peraturan Gubernur
Jawa Timur Nomor 2 Tahun 2013 tentang Pengendalian Distribusi Produk Impor
di Jawa Timur sesuai dengan maksud diterbitkannya untuk menjaga stabilitas
harga komoditas lokal, melindungi produk hortikultura lokal dari produk impor
dan tersebarnya organisme pengganggu tumbuhan, selain itu juga sebagai upaya
mengatur pengendalian produk impor hortikultura dan pemberdayaan usaha
hortikultura di Jawa Timur yang pada gilirannya akan meningkatkan
kesejahteraan para petani lokal.
Dalam Pergub Jatim No. 2 tahun 2013 ini terdapat pasal-pasal yang
menyatakan bahwa importir wajib menyerahkan surat pernyataan yang berisi
beberapa poin terkait dengan jenis barang yang diimpor, jumlah barang, negara
asal barang, tempat penampungan sementara/gudang, tujuan distribusi dan
peruntukannya. Hal ini dimaksudkan untuk mengendalikan produk impor,
menjaga stabilitas harga komoditas lokal dan bentuk perlindungan pemerintah
terhadap konsumen. Selain mengatur terkait masalah perijinan, Peraturan
Gubernur Jatim Nomor 2 Tahun 2013 juga mengatur mengenai pengawasan
dalam rangka pengendalian pelaksanaan distribusi produk Impor. Adapun
pelaksana pengawasan peredaran, monitoring dan evaluasi dilakukan oleh Tim
Terpadu Pengawasan Barang Beredar yang ditetapkan melalui Keputusan
Gubernur Jawa Timur.

I-25

PENDAHULUAN

Dari paparan tersebut peneliti merasa tertarik dan merasa perlu untuk
melakukan pengkajian dan penelitian yang diwujudkan dalam bentuk skripsi
dengan judul Implementasi Kebijakan Pengendalian Distribusi Produk Impor
Hortikultura (Studi Implementasi Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 2
Tahun 2013 tentang Pengendalian Distribusi Produk Impor di Jawa Timur).

I.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana implementasi kebijakan pengendalian distribusi produk impor
hortikultura di Jawa Timur?
2. Bagaimanakah

sasaran kebijakan, sumberdaya,

struktur

birokrasi,

komunikasi, disposisi, kondisi ekonomi dan politik, karakteristik kebijakan


dan respon obyek kebijakan mempengaruhi implementasi kebijakan
pengendalian distribusi produk impor hortikultura di Jawa Timur?

I.3 Tujuan Penelitian


1. Untuk memahami implementasi kebijakan pengendalian distribusi produk
impor hortikultura di Jawa Timur.
2. Untuk menjelaskan mengenai sasaran kebijakan, sumberdaya, struktur
birokrasi, komunikasi, disposisi dan kondisi ekonomi dan politik,
karakteristik kebijakan dan respon obyek kebijakan dalam implementasi
kebijakan pengendalian distribusi produk impor hortikultura di Jawa
Timur.

I-26

PENDAHULUAN

I.4 Manfaat Penelitian


1.

Manfaat Akademis
Memberi sumbangan bagi perkembangan studi Ilmu Administrasi Negara
terkait dengan kajian implementasi kebijakan publik. Penelitian ini
berusaha melihat implementasi kebijakan dari segi pelaksana maupun
kelompok sasaran dengan mengelaborasikan teori implementasi dari
Edwards III, Van Matter dan Van Horn yang mengarah pada pelaksana
kebijakan serta teori implementasi Hill & Hupe yang mengacu pada
kelompok sasaran.

2.

Manfaat Praktis
Penelitian ini dapat memberikan kontribusi pemikiran yang bermanfaat
bagi keefektifan pelaksanaan kebijakan guna melihat dan meneliti
pelaksanaan kebijakan serta hasil yang dicapai dan mencapai umpan balik
untuk perbaikan kebijakan selanjutnya.

I.5 Tinjauan Pustaka


I.5.1 Kebijakan Publik
Dalam tinjauan pustaka ini akan diawali dengan pemahaman
tentang kebijakan publik. Kebijakan publik menurut Harold D. Laswell
dan Abraham Kaplan dalam Islamy (2002:15) sebagai A projected
program of goals, values and practicies, yaitu suatu program pencapaian
tujuan, nilai-nilai dan praktek yang terarah. Sedangkan Carl J. Friederick
dalam Islamy (2002:17) mendefinisikan kebijakan sebagai berikut:

I-27

PENDAHULUAN

....a purposed course of action of a person, group or


government within a given environment providing obstacles and
opportunities which the policy was purposed to utilize and
overcome in an effort to each a goal or realize an objective or a
purpose.
(Serangkaian tindakan yang diusulkan seseorang, kelompok, atau
pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu dengan menunjukkan
hambatan-hambatan dan kesempatan-kesempatan terhada pelaksanaan
usulan kebijakan tersebut dalam rangka mencapai tujuan tertentu).
Sementara Carl I. Fredrich sebagaimana dikutip Wahab (2004:3)
mengatakan bahwa kebijakan adalah tindakan yang mengarah pada tujuan
yang diusulkan seseorang, kelompok atau pemerintah dalam lingkungan
tertentu dengan adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencari
peluang-peluang guna mencapai tujuan atau mewujudkan sasaran yang
dinginkan.
Thomas Dye dalam Islamy (2002:18) mendefinisikan kebijakan
publik sebagai public policy is whatever goverments choose to do or not
to do, yaitu apapun pilihan pemerintah untuk melakukan atau tidak
melakukan sesuatu. Pemikiran Thomas R. Dye memiiki kesamaan dengan
pemikiran George C. Edward III dan Ira Sharkansy yang menjelaskan
kebijakan publik sebagai apa yang dinyatakan dan dilakukan atau tidak
dilakukan pemerintah. Kebijakan publik bisa berupa sasaran atau tujuan
program-program pemerintah (Islamy, 2002: 18-19).
Kebijakan publik menurut William Dunn (2003:109) adalah
serangkaian pilihan yang kurang lebih saling berhubungan yang diambil

I-28

PENDAHULUAN

oleh badan atau pejabat pemerintah. Richard Rose sebagaimana dikutip


Winarno (2012:20) juga menyarankan bahwa kebijakan hendaknya
dipahami sebagai serangkaian kegiatan yang sedikit banyak berhubungan
beserta konsekuensi-konsekuensi bagi mereka yang bersangkutan daripada
sebagai keputusan yang berdiri sendiri.
Irfan Islamy (2002:20) mendefinisikan kebijakan negara sebagai
serangkaian tindakan yang ditetapkan dan dilaksanakan pemerintah dan
memiliki tujuan atau orientasi pada tujuan tertentu, demi kepentingan
seluruh masyarakat. Selain itu David Easton dalam Haryono (2007:25)
mengartikan kebijakan negara sebagai:
pengalokasian nilai-nilai secara paksa atau sah kepada seluruh
anggota masyarakat.
Berdasarkan situasi ini Easton menegaskan bahwa hanya
pemerintah yang secara sah dapat berbuat sesuatu kepada masyarakatnya
dan pilihan pemerintah untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan
sesuatu tersebut diwujudkan dalam bentuk pengalokasian nilai-nilai pada
masyarakat. Mereka menjelaskan bahwa kebijakan publik bisa ditetapkan
secara jelas melalui peraturan perundang-undangan, ketetapan pemerintah,
pidato pejabat berwenang, instruksi dan program-program yang dilakukan
pemerintah.
Menurut Irfan Islamy (2002:20-21) pengertian kebijakan publik
memiliki empat implikasi, yaitu: 1) Kebijakan publik dapat berupa
penetapan tindakan-tindakan dari pemerintah; 2) Kebijakan publik dalam
artian untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan sesuatu harus
I-29

PENDAHULUAN

memiliki dan dilandasi maksud dan tujuan tertentu; 3) Kebijakan publik


tidak cukup hanya dinyatakan saja, tetapi harus dilaksanakan dalam suatu
bentuk yang nyata; 4) Kebijakan publik harus senantiasa ditujukan bagi
kepentingan seluruh anggota masyarakat.
Dalam kehidupan sehari-hari sering dihadapkan dengan berbagai
jenis kebijakan publik. Beberapa diantaranya kebijakan dalam bidang
kesehatan, pangan, pendidikan dan sebagainya. Selain itu Lingkup dari
studi kebijakan publik sangat luas karena mencakup berbagai bidang dan
sektor seperti ekonomi, politik, sosial, budaya, hukum, dan sebagainya. Di
samping itu dilihat dari hirarkirnya kebijakan publik dapat bersifat
nasional, regional maupun lokal seperti undang-undang, peraturan
pemerintah, peraturan presiden, peraturan menteri, peraturan pemerintah
daerah/provinsi, keputusan gubernur, peraturan daerah kabupaten/kota,
dan keputusan bupati/walikota.
Dari beberapa definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
kebijakan publik adalah apapun yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh
pemerintah yang mencerminkan keputusan-keputusan pemerintah yang
telah dipilih, kewenangan formal seperti undang-undang atau peraturan
pemerintah, seperangkat kegiatan yang mencakup rencana penggunaan
sumber daya lembaga dan strategi pencapaian tujuan sebagai produk dari
kegiatan tertentu.

I-30

PENDAHULUAN

I.5.1.1 Karakteristik, Urgensi dan Ciri-ciri Kebijakan Publik


Leo Agustino (2008:8) membuat suatu kesimpulan dari beberapa
karakteristik utama dari suatu definisi kebijakan publik. Pertama,
kebijakan publik perhatiannya ditujukan pada tindakan yang mempunyai
maksud atau tujuan tertentu daripada perilaku yang berubah atau acak.
Kedua, Kebijakan publik pada dasarnya mengandung bagian atau pola
kegiatan yang dilakukan oleh pejabat pemerintah daripada keputusan yang
terpisah-pisah.

Ketiga,

kebijakan

publik

merupakan

apa

yang

sesungguhnya dikerjakan oleh pemerintah dalam mengatur perdagangan,


mengontrol inflasi. Keempat, kebijakan publik dapat berbentuk positif
maupun negatif. Secara positif, kebijakan melibatkan beberapa tindakan
pemerintah yang jelas dalam menangani suatu permasalah; secara negatif,
kebijakan publik dapat melibatkan suatu keputusan pejabat pemerintah
untuk tidak melakukan suatu tindakan atau tidak mengerjakan apapun
padahal dalam konteks tersebut keterlibatan pemerintah amat diperlukan.
Kelima, kebijakan publik paling tidak secara positif, didasarkan pada
hukum dan merupakan tindakan yang bersifat memerintah.
Studi kebijakan publik merupakan studi yang bermaksud untuk
menganalisis dan menjelaskan secara cermat berbagai faktor, sebab dan
akibat dari tindakan-tindakan yang dilakukan pemerintah. Studi kebijakan
publik menurut Thomas R. Dye dalam Wahab (2004:11-12) sebagai
berikut:
Studi kebijakan publik mencakup menggambarkan upaya
kebijakan publik, penilaian mengenai dampak dari kekuatanI-31

PENDAHULUAN

kekuatan yang berasal dari lingkungan terhadap isi kebijakan


publik, analisis mengenai akibat berbagai pernyataan kelembagaan
dan proses-proses politik terhadap kebijakan publik; penelitian
mendalam mengenai akibat-akibat dari berbagai kebijakan politik
pada masyarakat, baik berupa dampak kebijakan publik pada
masyarakat, baik berupa dampak yang diharapkan (direncanakan)
maupun dampak yang tidak diharapkan.
Menurut Anderson dan Dye sebagaimana dalam Wahab (2004:12114) ada 3 alasan urgensi atau faktor yang menyebabkan studi kebijakan
menjadi penting untuk dipelajari, yaitu:
a) Alasan Ilmiah
Kebijakan

publik

dipelajari

dengan

maksud

untuk

memperoleh pengetahuan yang luas tentang asal-muasalnya,


proses perkembangannya, dan konsekuensi-konsekuensinya bagi
masyarakat. Dalam hal ini kebijakan dapat di pandang sebagai
variabel terikat (dependent variable) maupun sebagai variabel
independen (independent variable). Kebijakan dipandang sebagai
variabel terikat, maka perhatian akan tertuju pada faktor-faktor
politik dan lingkungan yang membantu menentukan substansi
kebijakan atau diduga mempengaruhi isi kebijakan piblik.
Kebijakan dipandang sebagai variabel independen jika fokus
perhatian tertuju pada dampak kebijakan tertuju pada sistem
politik dan lingkungan yang berpengaruh terhadap kebijakan
publik.

I-32

PENDAHULUAN

b)

Alasan Profesional
Studi kebijakan publik dimaksudkan sebagai upaya untuk

menetapkan pengetahuan ilmiah dibidang kebijakan publik guna


memecahkan masalah-masalah sosial sehari-hari.
c) Alasan Politik
Mempelajari kebijakan publik pada dasarnya dimaksudkan
agar pemerintah dapat menempuh kebijakan yang tepat guna
mencapai tujuan yang tepat pula.
Menurut Suharno (2010:22-24) ada ciri-ciri khusus yang melekat
pada kebijakan publik bersumber pada kenyataan bahwa kebijakan itu
dirumuskan. Ciri-ciri kebijakan publik antara lain:
a) Kebijakan publik lebih merupakan tindakan yang mengarah
pada tujuan daripada sebagai perilaku atau tindakan yang serba
acak dan kebetulan. Kebijakan-kebijakan publik dalam sistem
politik modern merupakan suatu tindakan yang direncanakan.
b) Kebijakan pada hakekatnya terdiri atas tindakan-tindakan yang
saling berkait dan berpola yang mengarah pada tujuan tertentu
yang dilakukan oleh pejabat-pejabat pemerintah dan bukan
merupakan keputusan yang berdiri sendiri. Kebijakan tidak
cukup mencakup keputusan untuk membuat undang-undang
dalam

bidang tertentu,

keputusan-keputusan

melainkan diikuti

yang

bersangkut

pula
paut

dengan
dengan

implementasi dan pemaksaan pemberlakuan.

I-33

PENDAHULUAN

c) Kebijakan bersangkut paut dengan apa yang senyatanya


dilakukan pemerintah dalam bidang tertentu.
d) Kebijakan publik mungkin berbentuk positif, mungkin pula
negatif, kemungkinan meliputi keputusan-keputusan pejabat
pemerintah untuk tidak bertindak atau tidak melakukan tindakan
apapun dalam masalah-masalah dimana justru campur tangan
pemerintah diperlukan.

I.5.1.2 Tahapan dalam Kebijakan Publik


Proses pembuatan kebijakan publik merupakan suatu proses yang
bersifat kompleks dan komprehensif, hal ini karena dalam kajian kebijakan
publik melibatkan banyak proses maupun variabel yang harus dikaji. Oleh
karena itu beberapa ahli politik yang menaruh minat untuk mengkaji
kebijakan publik membagi proses-proses penyusunan kebijakan publik
kedalam beberapa tahap. Beberapa ahli mungkin membagi tahap-tahap ini
dengan urutan yang berbeda, tujuan pembagian ini adalah untuk
memudahkan peneliti dalam mengkaji kebijakan publik. Winarno
(2012:36-38) menjelaskan bahwa kebijakan publik secara garis besar
mencakup tahap-tahap perumusan masalah kebijakan, implementasi
kebijakan dan evaluasi kebijakan. Sementara itu, analisis kebijakan
berhubungan dengan penyelidikkan dan deskripsi sebab-sebab dan
konsekuensi-konsekuensi kebijakan publik.

I-34

PENDAHULUAN

Menurut William Dunn sebagaimana dalam Winarno (2012:36-38)


menjelaskan tahap-tahap dalam kebijakan publik adalah sebagai berikut:
a. Tahap penyusunan agenda
Para pejabat yang dipilih dan diangkat menempatkan masalah
pada agenda publik. Sebelumnya masalah ini berkompetisi
terlebih dahulu untuk dapat masuk dalam agenda kebijakan.
Pada akhirnya, beberapa masalah masuk ke agenda kebijakan
para perumus kabijakan. Pada tahap ini mungkin suatu masalah
tidak disentuh sama sekali, sementara masalah yang lain
ditetapkan menjadi fokus pembahasan, atau ada pula masalah
karena alasan-alasan tertentu ditunda untuk waktu yang lama.
b. Tahap formulasi kebijakan
Masalah yang telah masuk ke agenda kebijakan kemudian
dibahas oleh para pembuat kebijakan. Masalah-masalah tadi
didefinisikan untuk kemudian dicari pemecahan masalah
terbaik. Pemecahan masalah tersebut berasal dari berbagai
alternatif atau pilihan kebijakan (policy alternatives/policy
options) yang ada. Dalam perumusan kebijakan masing-masing
alternatif bersaing untuk dapat dipilih sebagai kebijakan yang
diambil untuk memecahkan masalah. Dalam tahap ini masingmasing actor akan bersaing dan berusaha untuk mengusulkan
pemecahan masalah terbaik.

I-35

PENDAHULUAN

c. Tahap adopsi kebijakan


Dari sekian banyak alternatif kebijakan yang ditawarkan oleh
para perumus kebijakan, pada akhirnya salah satu dari alternatif
kebijakan tersebut diadopsi dengan dukungan dari mayoritas
legislatif, konsensus antara direktur lembaga atau putusan
peradilan.
d. Tahap implementasi kebijakan
Suatu program kebijakan hanya akan menjadi catatan-catatan
elit jika program tersebut tidak diimplementasikan, yakni
dilaksanakan oleh badan-badan administrasi maupun agen-agen
pemerintah di tingkat bawah. Kebijakan yang telah diambil
dilaksanakan

oleh

unit-unit

administrasikan

yang

memobilisasikan sumber daya finansial dan manusia. Pada tahap


implementasi ini berbagai kepentingan akan saling bersaing.
Beberapa implementasi kebijakan mendapat dukungan para
pelaksana (implementors), namun beberapa yang lain mungkin
akan ditentang oleh para pelaksana.
e. Tahap evaluasi kebijakan
Dalam tahap ini kebijakan yang telah dijalankan akan dinilai
atau dievaluasi, unuk melihat sejauh mana kebijakan yang
dibuat

untuk

meraih

dampak

yang

diinginkan,

yaitu

memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat. Oleh karena


itu ditentukan ukuran-ukuran atau kriteria-kriteria yang menjadi

I-36

PENDAHULUAN

dasar untuk menilai apakah kebijakan publik yang telah


dilaksanakan sudah mencapai dampak atau tujuan yang
diinginkan atau belum.

Penyusunan Agenda

Formulasi Kebijakan

Adopsi Kebijakan

Implementasi Kebijakan

Evaluasi Kebijakan

Gambar I.1 Tahap-tahap kebijakan


(Sumber: Budi Winarno, 2012: 36)

I.5.1.3 Tipe-tipe Kebijakan Publik


Dalam memahami studi kebijakan publik, para ahli membagi
dalam beberapa tipe. Seperti misalnya William N. Dunn (2000: 21)
membedakan tipe-tipe kebijakan menjadi lima bagian, yaitu:
a. Masalah kebijakan (policy public) adalah nilai, kebutuhan
dan kesempatan yang belum terpuaskan, tetapi dapat
diidentifikasi

dan

dicapai

melalui

tindakan

publik.

Pengetahuan apa yang hendak dipecahkan membutuhkan

I-37

PENDAHULUAN

informasi mengenai kondisi-kondisi yang mendahului adanya


problem

maupun

informasi

mengenai

nilai

yang

pencapaiannya menuntut pemecahan masalah.


b. Alternatif kebijakan (policy alternatives) yaitu arah tindakan
yang secara

potensial tersedia

yang dapat

memberi

sumbangan kepada pencapaian nilai dan pemecahan masalah


kebijakan. Informasi mengenai kondisi yang menimbulkan
masalah pada dasarnya juga mengandung identifikasi
terhadap kemungkinan pemecahannya.
c. Tindakan kebijakan (policy actions) adalah suatu gerakan
atau serangkaian gerakan sesuai dengan alternatif kebijakan
yang dipilih, yang dilakukan untuk mencapai tujuan bernilai.
d. Hasil kebijakan (policy outcomes) adalah akibat-akibat yang
terjadi dari serangkaian tindakan kebijakan yang telah
dilaksanakan. Hasil dari setiap tindakan tidak sepenuhnya
stabil atau diketahui sebelum tindakan dilakukan, juga tidak
semua dari hasil tersebut terjadi seperti yang diharapkan atau
dapat diduga sebelumnya.
e. Hasil guna kebijakan adalah tingkat seberapa jauh hasil
kebijakan memberikan sumbangan pada pencapaian nilai.
Pada kenyataanya jarang ada problem yang dapat dipecahkan
secara tuntas, umumnya pemecahan terhadap suatu problem

I-38

PENDAHULUAN

dapat menumbuhkan problem sehingga perlu pemecahan


kembali atau perumusan kembali.
Banyak pakar yang mengajukan jenis kebijakan publik berdasarkan
sudut pandang masing-masing. James Anderson sebagaimana dikutip
Suharno (2010: 24-25) menyampaikan tipologi kebijakan publik sebagai
berikut:
a) Kebijakan substantif versus kebijakan prosedural
Kebijakan substantif yaitu kebijakan yang menyangkut apa
yang akan dilakukan oleh pemerintah. Sedangkan kebijakan
prosedural adalah bagaimana kebijakan substantif tersebut
dapat dijalankan.
b) Kebijakan distributif versus kebijakan regulatori versus
kebijakan redistributif
Kebijakan distributif menyangkut distribusi pelayanan atau
kemanfaatan pada masyarakat atau individu. Kebijakan
regulatori merupakan kebijakan yang berupa pembatasan atau
pelarangan terhadap perilaku individu atau kelompok
masyarakat. Sedangkan, kebijakan redistributif merupakan
kebijakan yang mengatur alokasi kekayaan, pendapatan,
pemilikan atau hak-hak diantara berbagai kelompok dalam
masyarakat.

I-39

PENDAHULUAN

c) Kebijakan materal versus kebijakan simbolik


Kebijakan materal adalah kebijakan yang memberikan
keuntungan sumberdaya pada kelompok sasaran. Sedangkan,
kebijakan simbolis adalah kebijakan yang memberikan
manfaat simbolis pada kelompok sasaran.
d) Kebijakan yang berhubungan dengan barang umum (public
goods) dan barang privat (privat goods)
Kebijakan berkaitan dengan public goods adalah kebijakan
yang mengatur pemberian barang atau pelayanan publik.
Sedangkan kebijakan yang berkaitan dengan privat goods
adalah kebijakan yang mengatur penyediaan barang atau
pelayanan untuk pasar bebas.
Kemudian terdapat juga tipologi kebijakan menurut Theodore
Lowi dalam Parsons (2005:135) diantaranya:
a) Kebijakan Distributif
Kebijakan dalam mengalokasikan pelayanan atau manfaat
terhadap masyarakat, individu atau kelompok. Kebijakan ini
ditandai dengan pengenaan paksaan secara tidak langsung,
tetapi kebijakan ini diterapkan secara langsung kepada
individu. Individu mendapatkan manfaat kebijakan tersebut
meski tidak dikenakan paksaan untuk menggunakannya.
Misalnya pemberian subsidi, beasiswa dan sebagainya.

I-40

PENDAHULUAN

b) Kebijakan Regulatif
Kebijakan regulatif merupakan kebijakan yang mengandung
pemaksaan, pembatasan atau pelarangan perbuatan yang
diterapkan secara langsung kepada individu. Kebijakan
regulatif

biasanya

bersifat

mengatur

individu

untuk

melakukan atau mencegah individu untuk melakukan sesuatu.


Seperti misalnya undang-undang, peraturan dan sebagainya.
Selain itu kebijakan regulatif dibuat untuk menjaga agar
kepentingan umum tidak terganggu.
c) Kebijakan Redistributif
Merupakan kebijakan yang bertujuan untuk mendistribusikan
kembali kemakmuran/ kekayaan atau benda-benda yang
dianggap bernilai oleh masyarakat. Kebijakan ini berusaha
untuk mendistribusikan manfaat yang berasal dari satu
kelompok ke kelompok lainnya. Kebijakan ini cenderung
bercirikan ideologi dan seringkali melibatkan konflik klas.
d) Kebijakan Konstituen
Kebijakan konstituen adalah kebijakan yang mengatur tata
relasi antara negara dan masyarakat, antara eksekutif dan
legislatif, dan lain sebagainya. Kebijakan ini ditandai dengan
kemungkinan pengenaan paksaan fisik yang sangat jauh, dan
penerapan kebijakan itu secara tidak langsung melalui
lingkungan. Kebijakan konstituen dibagi dalam dua lingkup

I-41

PENDAHULUAN

yaitu: (1) Urusan keamanan nasional dan luar negeri; (2)


Berbagai dinas pelayanan administrasi.

I.5.1.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Publik


Menurut

Suharno

(2010:52)

proses

pembuatan

kebijakan

merupakan pekerjaan yang kompleks dan tidak semudah yang


dibayangkan. Para decision maker dalam sebuah organisasi institusi atau
lembaga dituntut memiliki tanggungjawab dan kemauan, serta kemampuan
atau keahlian, sehingga dapat membuat kebijakan dengan resiko yang
diharapkan (intended risks) maupun resiko yang tidak diharapkan
(unintended risks). Menurut Suharno (2010:52-53) faktor-faktor yang
mempengaruhi pembuatan kebijakan adalah:
a) Adanya pengaruh tekanan-tekanan dari luar
Seringkali para pembuat kebijakan dipengaruhi oleh aktor dan
mendapat tekanan-tekanan dari pihak lain. Adanya tekanantekanan tersebut baik langsung atau tidak akan mempengaruhi
pembuatan kebijakan tersebut. Pembuat kebijakan harus
mempertimbangkan alternatif-alternatif yang akan dipilih
berdasar penilaian rasional semata, tetapi proses dan prosedur
pembuatan kebijakan tidak dapat dipisahkan dari dunia nyata.
b) Adanya pengaruh kebiasaan lama
Kebiasaan lama organisasi yang sebagaimana dikutip oleh
Nigro disebutkan dengan istilah sunk cost, seperti kebiasaan

I-42

PENDAHULUAN

yang cenderung akan diikuti oleh para birokrat lainnya.


Kebiasaan lama tersebut sering secara terus menerus diikuti,
terlebih kalau suatu kebijakan yang telah ada tersebut
dipandang memuaskan.
c) Adanya pengaruh sifat-sifat pribadi/subyektifitas
Manusia sebagai makhluk yang rasional seringkali tidak bisa
bersikap bebas nilai atau value free. Berbagai macam
keputusan

atau

kebijakan

yang

telah

dibuat

banyak

dipengaruhi oleh sifat-sifat pribadi pembuat kebijakan tersebut.


d) Adanya pengaruh dari kelompok luar/interest group
Teori sistem mengatakan bahwa pembuatan kebijakan tidak
dapat dipisahkan dari lingkungan sekitarnya. Tuntutan
terhadap

kebijakan

dapat

dilahirkan

karena

pengaruh

lingkungan, dan kemudian ditransformasikan ke dalam suatu


sistem politik. Lingkungan sosial dan para pembuat kebijakan
juga berpengaruh terhadap pembuatan kebijakan. Keputusan
yang diambil oleh pihak-pihak akan memikirkan sisi
menguntungkan atau tidaknya bagi pihak luar.
e) Adanya pengaruh keadaan masa lalu
Pengalaman latihan, pekerjaan atau latar belakang sesorang
yang

terdahulu

kebijakan/keputusan.
dilakukan

dengan

berpengaruh
Sering

juga

pada

pembuatan

pembuatan

kebijakan

mempertimbangkan

pengalaman-

I-43

PENDAHULUAN

pengalaman dari orang lain yang sebelumnya berada di luar


bidang pemerintahan, sehingga aktor kebijakan bersikap sama
dengan yang dilakukannya dimasa lalu.

I.5.1.5 Implementasi Kebijakan Publik


Implementasi kebijakan merupakan tahapan lanjutan yang harus
dilalui oleh pembuat kebijakan setelah tahap perumusan dan penetapan
sebuah kebijakan. Suatu kebijakan tidak akan terlaksana atau hanya
menjadi angan-angan jika tidak diimplementasikan. Menurut Lester dan
Stewart dalam Winarno (2012:147) mengemukakan bahwa implementasi
kebijakan dipandang dalam pengertian luas merupakan tahap dari proses
kebijakan segera setelah penetapan kebijakan. Implementasi melibatkan
berbagai aktor, prosedur, organisasi, dan teknik bekerja bersama-sama
untuk menjalankan suatu program atau kebijakan.
George Edward III dalam Winarno (2012:177) mengemukakan
bahwa proses implementasi adalah tahapan dalam proses kebijakan yang
berada diantara tahap penyusunan kebijakan dan hasil atau konsekuensikonsekuensi yang ditimbulkan oleh kebijakan itu. Termasuk di dalamnya
adalah aktivitas perencanaan, pendanaan, pengorganisasian, pengangkatan
dan pemecatan karyawan serta negosiasi. Sedangkan menurut Van Metter
dan Van Horn dalam Wahab (2008:51) menyatakan bahwa implementasi
kebijakan mencakup juga usaha-usaha untuk mengubah keputusan-

I-44

PENDAHULUAN

keputusan menjadi operasional melanjutkan usaha-usaha untuk mencapai


usaha besar dan yang ditetapkan oleh keputusan-keputusan kebijaksanaan.
Solichin Abdul Wahab (2004:63) mendefinisikan implementasi
kebijakan sebagai tindakan-tindakan yang dilakukan baik oleh individuindividu, pejabat-pejabat, atau kelompok-kelompok pemerintah atau
swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah
digariskan dalam keputusan kebijakan.
Paul A. Sabatier dan DA. Mazmanian sebagaimana dalam Winarno
(2007:146) menjelaskan bahwa implementasi kebijakan adalah proses
memahami apa

yang senyatanya

terjadi

setelah suatu program

dilaksanakan atau dinyatakan berlaku atau dirumuskan merupakan fokus


perhatian implementasi kebijakan, yakni kejadian-kejadian ataupun
kegiatan-kegiatan yang timbul setelah disahkannya pedoman-pedoman
kebijakan negara baik yang mencakup usaha-usaha administrasi maupun
usaha dalam menimbulkan dampak nyata dimasyarakat. Laster dan
Stewart menyatakan bahwa implementasi merupakan sebuah fenomena
kompleks yang dapat dipahami sebagai sebuah proses, adanya suatu
keluaran (output), maupun sebagai sebuah dampak (outcome). Winarno
(2012:147) menjelaskan bahwa implementasi merupakan sebuah proses,
yaitu serangkaian tindakan yang ditujukan agar keputusan yang telah
dibuat suatu instansi dapat dijalankan. Implementasi juga dapat diartikan
dalam konteks keluaran yaitu sejauh mana tujuan-tujuan yang telah
direncanakan telah terlaksana. Adapun implementasi sebagai dampak yaitu

I-45

PENDAHULUAN

berarti bahwa ada perubahan yang bisa diukur berkaitan dengan kebijakan
yang dijalankan.
Menurut Anderson dalam Islamy (2002:107) semua jenis kebijakan
publik dimaksudkan untuk mempengaruhi atau mengontrol perbuatan
manusia sesuai dengan aturan-aturan dan tujuan yang telah ditetapkan
pemerintah atau negara. Suatu kebijakan akan menjadi efektif bila
dilaksanakan dan memiliki dampak positif bagi anggota masyarakat. Bila
masyarakat tidak berbuat atau bertindak sesuai dengan keinginan
pemerintah atau negara maka kebijakan publik menjadi tidak efektif.
Implementasi menjadi sebuah proses yang penting dari keseluruhan proses
kebijakan oleh sebab itu bisa dikatakan bahwa tolak ukur keberhasilan
suatu program atau kebijakan tergantung pada proses implementasinya.
Menurut Islamy (2002:106) sifat kebijakan itu kompleks dan saling
tergantung sehingga hanya sedikit kebijakan negara yang bersifat selfexcuting, kebanyakan adalah non self-excuting, artinya kebijakan negara
perlu diwujudkan dan dilaksanakan oleh berbagai pihak sehingga memilik
dampak yang diharapkan. Jadi dapat disimpulkan bahwa implementasi
kebijakan merupakan suatu kegiatan pelaksanaan suatu keputusan
kebijakan yang memiliki legalitas hukum, bisa berbentuk undang
undang, peraturan pemerintah, keputusan eksekutif, dll dan memiliki
tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan. Keputusan
tersebut biasanya berbentuk program yang merujuk pada masalah yang

I-46

PENDAHULUAN

akan ditangani. Program program ini yang dijalankan untuk mencapai


tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan.

I.5.1.6 Model-model Implementasi Kebijakan


Dengan memperhatikan definisi dari implementasi kebijakan, maka
dalam sejarah perkembangan studi implementasi kebijakan terdapat
beberapa teori yang dikemukakan oleh para ahli guna lebih memahami
proses implementasi kebijakan. Berikut ini beberapa teori implementasi
kebijakan:
Model yang pertama adalah model implementasi kebijakan yang
dikemukakan oleh George C. Edward III dalam Widodo (2007:96-110).
Dalam model yang dikembangkannya, ia mengemukakan ada 4 (empat)
faktor yang mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan implementasi.
Keempat faktor tersebut keseluruhannya saling berhubungan dan saling
mempengaruhi satu sama lain dalam menentukan keberhasilan atau
kegagalan implementasi. Keempat faktor tersebut pada hasil implementasi
dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Komunikasi
Komunikasi memiliki peran penting karena suatu program hanya
bisa dilaksanakan dengan baik apabila implementor dapat memahami
kebijakan dengan baik. Dalam implementasi yang efektif tidak cukup
hanya dengan petunjuk yang jelas, tapi juga adanya arus komunikasi
yang jelas dan tegas. Selain itu, ketepatan dan keakuratan informasi

I-47

PENDAHULUAN

juga dibutuhkan agar pelaksana dapat mengetahui secara jelas tujuan


yang ingin dicapai dalam implementasi kebijakan tersebut dan mereka
dapat mengetahui dengan jelas apa yang seharusnya mereka lakukan.
2. Sumberdaya
Yang dimaskud dengan sumberdaya yang diperlukan dalam
implementasi menurut Edwards III adalah tersedianya sumberdaya
yang berkualitas sesuai dengan pekerjaan yang diisyaratkan. Semakin
baik kualitas , penggunaan dan ketersediaan sumberdaya tercukupi,
maka akan semakin mempengaruhi keberhasilan implementasi suatu
kebijakan. Sumberdaya meliputi: 1) Staf yang mencukupi (jumlah dan
mutunya), 2) Informasi yang terkait dengan bagaimana melaksanakan
kebijakan tersebut (Juklak-Juknis) serta data yang terkait dengan
kebijakan yang akan dilaksanakan, 3) Kewenangan yang dibutuhkan
dan harus tersedia bagi implementor sangat bervariasi tergantung pada
kebijakan apa yang harus dilaksanakan. Kewenangan tersebut dapat
berwujud kewenangan untuk memperoleh dan menggunakan dana,
kewenangan untuk meminta kerjasama dengan badan pemerintah yang
lain, dll. 4) Fasilitas fisik yang memadai, implementasi juga tidak akan
efektif. Fasilitas fisik ini beragam tergantung pada kebutuhan
kebijakan seperti: ruang kantor, komputer, dll. 5) dana.
3. Disposisi
Yang dimaksud dengan disposisi adalah sikap dan komitmen dari
pelaksana terhadap kebijakan atau program yang harus mereka

I-48

PENDAHULUAN

laksanakan karena

setiap kebijakan membutuhkan pelaksana-

pelaksana yang memiliki hasrat kuat dan komitmen yang tinggi agar
mampu mencapai tujuan kebijakan yang diharapkan.
4. Struktur Birokrasi
Struktur Birokrasi adalah mekanisme kerja yang dibentuk untuk
mengelola pelaksanaan sebuah kebijakan. Ia menekankan perlu adanya
Standart Operating Procedure (SOP) yang mengatur tata aliran
pekerjaan diantara para pelaksana, terlebih jika pelaksanaan program
melibatkan lebih dari satu institusi. Struktur ini mencakup aspek-aspek
struktur organisasi, pembagian kewenangan, hubungan antar unit baik
yang ada di dalam organisasi maupun diluar organisasi.

KOMUNIKASI

SUMBERDAYA
IMPLEMENTASI
DISPOSISI
STRUKTUR
BIROKRASI

Gambar I.2 Model Implementasi Kebijakan G.C Edwards III


(Sumber: Budi Winarno, 2012: 211)

I-49

PENDAHULUAN

Model yang kedua dikemukakan oleh Donald Van Metter dan Carl Van
Horn

dalam

Winarno

(2012:160)

membuat

sebuah

gambaran

yang

menunjukkan hubungan antar berbagai faktor yang mempengaruhi hasil atau


kinerja suatu kebijakan. Implementasi kebijakan selalu terjadi secara sengaja
dalam hubungan antar berbagai faktor untuk meraih kinerja yang tinggi.
Menurut Van Metter dan Van Horn, suatu kebijakan selalu menetapkan standar
dan sasaran tertentu yang harus dicapai oleh para pelaksana kebijakan. Karena
dengan standar dan penetapan sasaran tersebut suatu kebijakan bisa dinilai.
Model ini mengandaikan bahwa implementasi kebijakan dilaksanakan secara
linier dari keputusan politik yang tersedia, pelaksana dan kinerja kebijakan
publik.
Menurut Van Metter dan Van Horn dalam Riant Nugroho (2004:167) ada
enam faktor yang mempengaruhi kinerja implementasi kebijakan publik, yaitu:
1. Standar dan sasaran kebijakan
Kinerja

implementasi

suatu

kebijakan

dapat

diukur

tingkat

keberhasilannya jika memang standar dan sasaran kebijakannya jelas,


realistis dan sesuai dengan sosio kultur yang ada di level pelaksana.
2. Sumberdaya
Tingkat keberhasilan implementasi suatu kebijakan juga dipengaruhi
oleh kemampuan dalam memanfaatkan sumberdaya baik manusia,
finansial dan waktu. Dalam suatu kebijakan dibutuhkan sumberdaya
yang berkualitas sesuai dengan pekerjaan yang diisyaratkan. Semakin
baik kualitas, penggunaan dan ketersediaan sumberdaya tercukupi,

I-50

PENDAHULUAN

maka akan semakin mempengaruhi keberhasilan implementasi suatu


kebijakan.
3. Karakteristik agen pelaksana
Karakteristik agen pelaksana ini meliputi organisasi formal dan
organisasi informal yang terlibat dalam implementasi kebijakan.
Karakteristik ini juga mencakup struktur birokrasi, pola hubungan
yang terjadi dalam birokrasi.
4. Komunikasi antar organisasi dan aktivitas pelaksana
Dalam implementasi kebijakan dibutuhkan koordinasi dan komunikasi
yang baik diantara pihak-pihak yang terlibat. Sehingga dengan adanya
komunikasi dan koordinasi yang baik diharapkan mampu mengurangi
terjadinya miskomunikasi.
5. Kondisi Lingkungan Sosial, Ekonomi dan Politik
Kondisi lingkungan eksternal juga mempengaruhi keberhasilan
implementasi suatu kebijakan. Lingkungan sosial, ekonomi dan politik
yang kondusif cenderung akan mendorong keberhasilan implementasi
kebijakan dan begitupula sebaliknya.
6. Disposisi Implementor
Yang dimaksud dengan disposisi adalah sikap dan komitmen dari
pelaksana terhadap kebijakan atau program yang harus mereka
laksanakan karena setiap kebijakan membutuhkan pelaksana-pelaksana
yang memiliki hasrat kuat dan komitmen yang tinggi agar mampu
mencapai tujuan kebijakan yang diharapkan.

I-51

PENDAHULUAN

Komunikasi Antar Organisasi dan


Aktivitas Pelaksana
Standar dan
Sasaran Kebijakan

Kinerja
Karakteristik Agen

Disposisi

Pelakasana

Implementor

Implementasi

Sumberdaya

Lingkungan Sosial,
Ekonomi dan Politik

Gambar I.3 Model Implementasi Kebijakan Van Matter dan Van Horn
(Sumber: Riant Nugroho, 2004:167)

Model yang dikembangkan oleh Van Matter dan Van Horn

dalam

Winarno (2012:160) ini memberikan hasil berupa penjelasan dan analisa atas
pencapaian-pencapaian atau mungkin kegagalan program. Bagi para analis
kebijakan, model ini dapat mengarahkan fokus utama dari pegukuran dampak
kebijakan publik menuju kepada penjelasan atas hasil-hasil yang diamati.
Selain itu bagi para pembuat kebijakan, model ini dapat menyadarkan para
decision maker kepada faktor-faktor yang dapat dimanipulasi untuk
memperbaiki pemberian pelayanan publik.
Kemudian model yang ketiga merupakan model implementasi yang
dikembangkan oleh Michael Hill dan Peter Hupe (2002). Model ini merupakan

I-52

PENDAHULUAN

eksplorasi dari state of the art atas studi-studi implementasi kebijakan


terdahulu. Menurut Hill & Hupe (2002:2) kajian implementasi selama ini
masih cenderung mengikuti pada model lama yakni model implementasi yang
dikemukakan

Pressman

dan

Wildavsky

pada

tahun

1973.

Padahal

perkembangan ilmu pengetahuan khususnya studi politik, hukum publik dan


organisasi publik terus berkembang dari waktu ke waktu. Studi baru dengan
wawasan baru diberi perhatian lebih dari studi yang sebelumnya, dan ide-ide
lama diperbaharui dengan konsep-konsep yang relevan dan kekinian.
Dalam studi implementasi kebijakan menurut Hill dan Hupe (2002:2)
masih didominasi oleh argumen mengenai konfrontasi dan perdebatan antara
penggunaan model top-down atau bottom up yang paling ideal. Padahal akan
jauh lebih bermanfaat jika mau mencari untuk penjelasan dan pemahaman
mengenai proses implementasi daripada disibukkan oleh kebutuhan untuk
mencari gap antara kedua model tersebut. Menurut Hill dan Hupe (2002:123)
ada tujuh faktor yang mempengaruhi kinerja implementasi kebijakan publik,
yaitu:
1. Karakteristik Kebijakan
Pendekatan ini berangkat dari perspektif umum dalam pengembangan
studi kebijakan yang dikemukakan oleh Theodore Lowi mengenai
tipologi kebijakan. Karakteristik tersebut menggambarkan apakah
kebijakan tersebut termasuk dalam kebijakan distributif, redistributif
atau regulatif. Dengan mengetahui jenis kebijakannya diharapkan

I-53

PENDAHULUAN

mampu mengantisipasi konsekuensi yang terjadi dari implementasi


sebuah kebijakan.
2. Pembentukan Kebijakan
Implementasi kebijakan harus memiliki alasan yang jelas mengenai
keharusan kebijakan tersebut dibuat, sehingga sebuah kebijakan harus
memiliki sasaran yang menguraikan tujuan keseluruhan dari keputusan
kebijakan. Selain itu, sebuah kebijakan juga harus didukung oleh
sumberdaya dan insentif yang cukup.
3. Administrasi Publik Vertikal
Dalam implementasi kebijakan komunikasi memiliki peran penting
karena suatu program hanya bisa dilaksanakan dengan baik apabila
implementor dapat memahami kebijakan dengan baik. Dalam
implementasi yang efektif tidak cukup hanya dengan petunjuk yang
jelas, tapi juga adanya arus komunikasi dan arahan yang jelas dan tegas.
4. Respon Lembaga Implementasi
Respon lembaga implementasi ini meliputi organisasi yang terlibat
dalam implementasi kebijakan. Respon lembaga implementasi terdiri
dari kontrol organisasi, pembagian kerja, respon para pelaksana
(disposisi) dan juga pemahaman atas kebijakan.
5. Respon Obyek Kebijakan
Respon dari obyek kebijakan merupakan suatu hal yang penting untuk
mengetahui bahwa proses implementasi kebijakan juga dipengaruhi
oleh tanggapan dari pihak yang terkena dampak kebijakan. Apalagi

I-54

PENDAHULUAN

dalam hal kebijakan yang bersifat regulatif. Selain itu dari faktor ini
dapat diketahui partisipasi organisasi swasta dan keterlibatannya dalam
pengambilan keputusan.
6. Hubungan Antarorganisasi Horizontal
Hubungan dan kolaborasi antar instansi merupakan hal yang wajar dan
dibutuhkan dalam proses implementasi kebijakan. Sebuah kebijakan
tentu tidak bisa dilakukan oleh sebuah lembaga tanpa melibatkan
lembaga lainnya, sehingga kolaborasi antar lembaga yang baik diantara
pihak-pihak yang terlibat akan mampu mengurangi kesulitan-kesulitan
yang ditemui di lapangan.
7. Faktor-faktor Lingkungan
Kondisi lingkungan juga mempengaruhi keberhasilan implementasi
suatu kebijakan. Faktor lingkungan melihat sejauh mana implementasi
kebijakan mampu secara efektif mengatasi masalah yang dihadapi.
Dengan demikian terlihat jelas bahwa untuk dapat mewujudkan apa
yang menjadi tujuan dari kebijakan terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi
implementasi kebijakan tersebut. Dari model-model implementasi kebijakan
yang telah dijelaskan, maka dalam penelitian ini digunakan model yang
dikembangkan oleh Edwards III dengan faktor sumberdaya, struktur birokrasi,
komunikasi, disposisi. Model implementasi Van Matter dan Van Horn dengan
dua faktor yaitu: sasaran kebijakan dan kondisi ekonomi dan politik. Selain itu
digunakan pula dua faktor dari model Hill & Hupe yaitu: karakteristik
kebijakan dan respon obyek kebijakan. Dengan pertimbangan bahwa kebijakan

I-55

PENDAHULUAN

pengendalian distribusi produk impor hortikultura di Jawa Timur merupakan


jenis kebijakan yang kontrol administrasi implementasinya bersifat top down
maka diperlukan teori implementasi kebijakan yang bersifat rasional perspektif
dengan model sudut pandang top down. Selain itu, dengan memadukan ketiga
model ini diharapkan mampu menjelaskan permasalahan implementasi
kebijakan dengan perspektif yang baru dan menyajikan hasil yang lebih
komprehensif.

I.5.2 Kebijakan Impor


Dalam perekonomian terbuka selain sektor rumah tangga, sektor
perusahaan dan pemerintah juga ada sektor luar negeri karena penduduk di
negara bersangkutan telah melakukan perdagangan dengan negara lain.
Suatu negara yang memproduksi lebih dari kebutuhan dalam negeri dapat
mengekspor kelebihan produksi tersebut ke luar negeri, sedangkan yang
tidak mampu memproduksi sendiri dapat mengimpornya dari luar negeri.
Impor mempunyai sifat yang berlawanan dengan ekspor, dimana semakin
besar impor dari satu sisi baik karena berguna untuk menyediakan
kebutuhan akan barang dan jasa untuk kebutuhan penduduk suatu negara,
namun di sisi lain bisa mematikan produk atau jasa sejenis dalam negeri
dan yang paling mendasar dapat menguras pendapatan negara yang
bersangkutan.
Menurut Mankiw (2006:222) impor adalah proses transportasi
memasukkan barang atau komoditas dari suatu negara ke negara lain

I-56

PENDAHULUAN

secara legal dalam perdagangan internasional diukur dalam bentuk


nilainya dengan satuan dollar Amerika (US$). Impor adalah barang dan
jasa yang diproduksi diluar negeri dan dijual di dalam negeri. Jika suatu
negara membuka perdagangan international dan menjadi pengimpor suatu
barang, maka produsen domestik barang tersebut akan dirugikan,
sedangkan konsumen domestik barang tersebut akan diuntungkan.
Menurut Mankiw (2006:222) embukaan perdagangan internasional akan
menguntungkan negara yang bersangkutan secara keseluruhan, karena
keuntungan yang diperoleh melebihi kerugiannya.
Pendapat lain disampaikan oleh MS. Amir (1985:2) bahwa impor
merupakan suatu kegiatan pengiriman barang ke dalam daerah pabean
Indonesia. Kegiatan impor dimulai dari adanya pelaku-pelaku yang terlibat
yaitu importir dan eksportir atas barang atau jasa barang tertentu dimana
keduanya berada dinegara yang berbeda dan membuat kesepakatan tertulis
dalam suatu kontrak jual beli yang di dalamnya ditetapkan hak dan
tanggungjawab masing-masing. Sedangkan menurut Purwito (2001:11)
impor adalah kegiatan pengiriman barang yang diproduksi di negara lain
untuk dijual dipasar dalam negeri. Hal ini berkaitan dengan arus lalu lintas
barang, sehingga otoritas ada pada pabean. Impor berakibat adanya aliran
keluar valuta asing dari dalam negeri.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa impor
merupakan kegiatan pengiriman suatu komoditas barang perdagangan
yang diproduksi oleh negeri lain untuk dijual dipasar dalam negeri secara

I-57

PENDAHULUAN

legal dalam perdagangan internasional diukur dalam bentuk nilainya


dengan satuan valuta asing.
I.5.2.1 Faktor Pendorong Terjadinya Impor
Menurut Gonarsyah (1987:377) ada beberapa faktor yang
mendorong timbulnya perdagangan internasional (ekspor-impor) dari
suatu negara ke negara lain yaitu bersumber dari keinginan untuk
memperluas pemasaran komoditi ekspor, menambah penerimaan devisa
Negara bagi kegiatan pembangunan, adanya perbedaan biaya relatif dalam
menghasilkan komoditi tertentu serta adanya perbedaan penawaran dan
permintaan antar Negara. Diantara faktor-faktor yang mendorong
terjadinya perdagangan antarnegara diantaranya:
a. Keanekaragaman kondisi produksi
Merujuk kepada potensi faktor-faktor produksi yang dimiliki
suatu negara. Contohnya Indonesia, memiliki potensi besar
dalam memproduksi barang-barang hasil pertanian. Dengan
kata lain, melalui perdagangan, suatu negara dapat memperoleh
barang yang tidak dapat dihasilkannya di dalam negeri.
b. Penghematan Biaya Produksi/Spesialisasi
Perdagangan

internasional

memproduksi

barang

memungkinkan

dalam

jumlah

suatu

besar,

negara
sehingga

menghasilkan increasing returns to scale atau biaya produksi


rata-rata yang semakin menurun ketika jumlah barang yang
diproduksi

semakin

besar. Jadi,

apabila

suatu

negara

I-58

PENDAHULUAN

berspesialisasi

memproduksi

barang

tertentu

dan

mengekspornya, biaya produksi rata-ratanya akan turun.


c. Perbedaan Selera
Sekalipun kondisi produksi di semua negara adalah sama,
namun setiap negara mungkin akan melakukan perdagangan
jika selera mereka berbeda. Contohnya, Norwegia mengekspor
daging dan Swedia mengekspor ikan. Kedua negara akan
memperoleh keunggulan dari perdagangan ini dan jumlah
orang yang berbahagia meningkat.
I.5.2.2 Pengendalian Impor
Kebijakan dalam mengendalikan impor memiliki berbagai bentuk.
Banyak negara semakin kreatif dalam menetapkan kebijakan pengendalian
baru dari waktu ke waktu. Menurut Ratya Anindita dan Michael R. Reed
(2008:33). Kebijakan yang paling baru dan paling nyata adalah adanya
tarif impor. Tarif impor adalah jumlah harga tetap per unit atau persentase
tetap dari harga barang impor. Umumnya eksportir dapat menyuplai
sejumlah barang ke negara pengimpor tetapi barang-barang tersebut akan
dibebani pajak di negara tujuan.
Kebijakan lainnya masih menurut Ratya Anindita dan Michael R.
Reed (2008:34) adalah ditetapkannya kuota impor disuatu negara. Ada
beberapa negara yang membatasi kuantitas produk sehingga jumlahnya
sudah ditetapkan sebelumnya. Seperti halnya pemakaian tarif impor,
tujuan utama dari penerapan kuota impor ini adalah untuk melindungi

I-59

PENDAHULUAN

industri atau sektor ekonomi di dalam negeri. Tetapi, seringkali sistem


kuota ini digunakan untuk melengkapi kebijakan pengendalian devisa yang
bertujuan untuk memperbaiki neraca pembayaran.
Adapula kebijakan pengendalian impor lainnya menurut Tulus
Tambunan (2004:339) adalah berbagai instrumen mulai dari larangan
impor secara mutlak, kuota impor, pemberian subsidi kepada produsen
dalam negeri juga termasuk berbagai jenis regulasi dan ketentuan teknis
dari pemerintah yang berkaitan dengan: kesehatan, pertahanan dan
keamanan, perizinan impor, regulasi standardisasi dan masih banyak
lainnya.

I.5.3 Hortikultura
I.5.3.1 Definisi Hortikultura
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata hortikultura
berarti seluk-beluk kegiatan atau seni bercocok tanam sayur-sayuran,
buah-buahan, atau tanaman hias. Selain buah-buahan, sayuran dan
tanaman hias, yang termasuk dalam kelompok hortikultura adalah
tanaman obat-obatan. Hortikultura merupakan cabang dari agronomi.
Berbeda dengan agronomi, hortikultura memfokuskan pada budidaya
tanaman buah (pomologi/frutikultur), tanaman bunga (florikultura),
tanaman sayuran (olerikultura), tanaman obat-obatan (biofarmaka), dan
taman (lansekap). Salah satu ciri khas produk hortikultura adalah
perisabel atau mudah rusak karena segar. Menurut Poerwanto (2009:1)

I-60

PENDAHULUAN

Kata Hortikultura (Horticulture) berasal dari Bahasa Latin hortus yang


artinya kebun dan colere yang artinya membudidayakan. Jadi
hortikultura adalah membudidayakan tanaman di kebun. Konsep ini
berbeda dengan Agronomi, yang merupakan membudidayakan tanaman
di lapangan. Budidaya dikebun bersifat lebih intensif, padat modal dan
tenaga kerja.
UU No. 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura menjelaskan definisi
hortikultura adalah segala hal yang berkaitan dengan buah, sayuran,
bahan obat nabati, dan florikultura, termasuk di dalamnya jamur, lumut,
dan tanaman air yang berfungsi sebagai sayuran, bahan obat nabati,
dan/atau bahan estetika. Sedangkan usaha hortikultura adalah semua
kegiatan untuk menghasilkan produk dan/atau menyelenggarakan jasa
yang

berkaitan

dengan

hortikultura.

Menurut

Perhorti

(2004),

hortikultura adalah gabungan ilmu, seni, dan teknologi dalam mengelola


tanaman sayuran, buah, ornamen, bumbu-bumbu dan tanaman obat
obatan.
Hortikultura juga bisa diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang
mempelajari tentang budidaya tanaman yang intensif dan produknya
digunakan manusia sebagai bahan pangan, bahan obat (tanaman emponemponan), bahan bumbu (tanaman rempah-rempah), bahan penyegar atau
penyedap dan sebagai pelindung serta penyaman lingkungan (tanaman
hias). Dilihat dari tempat usaha, hortikultura berorientasi pada
pengusahaan tanaman di sekitar tempat tinggal (kebun) pada areal

I-61

PENDAHULUAN

terbatas. Pada umumnya produk hortikultura dikonsumsi dalam bentuk


segar, sehingga kadar air sangat menentukan kualitasnya. Menurut
Poerwanto (2009:1) hortikultura

juga

akan akan menghasilkan

pengembalian, apakah berupa keuntungan ekonomi atau kesenangan


pribadi, yang sesuai dengan usaha yang intensif tersebut.
Menurut Poerwanto (2009:2) komoditas hortikultura adalah
kelompok komoditas yang terdiri dari buah-buahan, sayuran, bunga,
tanaman hias dan tanaman biofarmaka. Kalau dilihat dari cara
penggunaan, habitus tanamannya maupun fungsinya, kelima kelompok
anggota hortikultura merupakan komoditas-komoditas yang sangat
berbeda satu dengan yang lain. Buah-buahan dan sayuran dikonsumsi
sebagai pangan manusia, sedangkan bunga dan tanaman hias tidak
dimakan, dan tanaman obat lain lagi penggunaannya. Pohon buah-buahan
sebagian besar habitusnya adalah pohon, sedangkan sayuran adalah
herba. Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa
hortikultura adalah segala usaha yang berkaitan dengan buah, sayuran,
bahan obat nabati, dan florikultura yang nantinya akan menghasilkan
pengembalian, apakah berupa keuntungan ekonomi atau kesenangan
pribadi, yang sesuai dengan usaha yang intensif tersebut.
I.5.3.2 Ciri-ciri Tanaman Hortikultura
Menurut Setyobudi (2014:28) tanaman hortikultura memiliki
karakter tersendiri yang membedakan dengan varietas tanaman lain,
diantaranya:

I-62

PENDAHULUAN

1. Produk hortikultura mudah rusak (perishabel) bila di simpan


tanpa perlakuan khusus, misalnya dengan perlakuan suhu
rendah (4 C) atau pelapisan lilin, karena di panen dalam
bentuk segar.
2. Komponen utama mutu produk ditentukan oleh kandungan
air (water conten), dan bukan oleh kandungan bahan kering
(dry meter) karena konsumsinya dalam keadaan segar.
3. Ketersediaan produk, terutama dari kelompok buah-buahan,
bersifat musiman atau meruah (voluminous atau bulky) pada
saat panen terutama panen raya, sehingga mempersulit
penanganan dan pengangkutanya. Hal ini pula yang
mengakibatkan jatuhnya harga pada saat panen raya, namun
harga akan mahal di luar musim.
4. Harga produk ditentukan oleh kualitas bukan kuantitas.
5. Berbeda dengan konsumsi tanaman pangan, tubuh manusia
membutuhkan konsumsi tanaman hortikultura dalam jumlah
yang sedikit, namun bila tidak di penuhi akan berakibat buruk
pada kesehatan.
6. Produk hortikultura merupakan sumber vitamin dan mineral,
dan bukan di utamakan sumber protein dan karbohidrat.
7. Di samping untuk pemenuhan kebutuhan jasmani, produk
hortikultura juga berfungsi untuk pemenuhan kebutuhan
rohani, misalnya tanaman hias, baik sebagai bunga pot, bunga

I-63

PENDAHULUAN

potong, maupun sebagai elemen lunak di dalam tanaman.

I.5.4.3 Hortikultura Unggulan di Jawa Timur


Menurut Dirjen Hortikultura Kementrian Pertanian, Jawa Timur
sebagai salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki potensi
hortikultura yang cukup beragam dan tersebar hampir diseluruh wilayah
kabupaten/ kota di Jawa Timur. Sebagaimana dijelaskan dalam tabel I.

Tabel 1.7 Komoditas Hortikultura Unggulan Jawa Timur dan Sentra Produksinya
NO.
1.

2.

3.

4.

KOMODITAS
Buah-buahan
- Mangga
- Jeruk
- Pisang
- Durian
- Rambutan
- Sirsat
- Manggis
- Apel
- Nanas
Sayuran
- Cabe
- Bw. Merah
- Bw. Putih
- Kentang
- Kol
- Tomat
Tanaman Hias
- Anggrek
- S. Malam
- Mawar
- Melati
Tanaman Obat
- Rimpang
- Cabe jamu

SENTRA PRODUKSI
Situbondo, Probolinggo, Gresik, Kediri, Pasuruan
Malang, Ponorogo, Pamekasan, Magetan, Madiun
Mojokerto, Lumajang, Banyuwangi, Jember
Pasuruan, Jombang, Trenggalek, Ponorogo
Blitar, Malang, Ngawi, Banyuwangi
Kediri, Mojokerto
Trenggalek, Ponorogo
Malang, Batu, Pasuruan
Kediri, Blitar
Gresik, Tuban, Kediri, Probolinggo, Malang,
Malang, Nganjuk, Probolinggo, Kediri, Sumenep
Malang, Mojoketo, Pasuruan, Probolinggo,
Malang, Batu, Pasuruan, Probolinggo, Magetan
Malang, Batu, Pasuruan, Probolinggo, Magetan
Malang, Probolinggo, Banyuwangi, Blitar, Kediri
Surabaya, Sidoarjo, Malang, Pasuruan, Mojokerto
Pasuruan, Banyuwangi, Pamekasan
Malang, Pasuruan, Magetan
Pasuruan, Bangkalan, Pamekasan
Trenggalek, Ponorogo, Pacitan, Kediri, Malang
Pamekasan, Sumenep

Sumber: Deptan, 2010

I-64

PENDAHULUAN

I.6 Definisi Konsep


1. Implementasi Kebijakan: kegiatan pelaksanaan suatu keputusan atau
kebijakan yang memiliki legalitas hukum baik berupa undang undang,
peraturan pemerintah yang memiliki tujuan-tujuan yang telah digariskan
dalam keputusan kebijakan.
2. Kebijakan Pengendalian Distribusi Produk Impor Hortikultura: kebijakan
yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam rangka
mengendalikan dan mengawasi produk impor hortikultura yang masuk ke
Jawa Timur.
3. Komunikasi: proses penyampaian informasi yang disampaikan dari satu
individu ke individu/ kelompok lainnya baik secara langsung maupun
tidak langsung.
4. Sumberdaya: suatu nilai potensi yang dimiliki oleh suatu materi atau
unsur tertentu baik bersifat fisik (tangible), tetapi juga non-fisik
(intangible).

Sumberdaya

bisa

meliputi:

sumberdaya

manusia,

sumberdaya keuangan, fasilitas fisik maupun informasi.


5. Disposisi: sikap, komitmen dan pemahaman dari pelaksana terhadap
kebijakan atau program yang harus dilaksanakan agar mampu mencapai
tujuan kebijakan yang diharapkan.
6. Struktur birokrasi: merupakan sebuah kondisi yang dimiliki oleh
organisasi pelaksana kebijakan yang terdiri dari struktur birokrasi, pola
hubungan, pembagian wewenang dan Standard Operating Procedure
(SOP).

I-65

PENDAHULUAN

7. Sasaran kebijakan: suatu kondisi atau keadaannya ingin dipengaruhi oleh


kebijakan yang bersangkutan yang telah ditetapkan dan menggambarkan
sesuatu yang akan dihasilkan dalam kurun waktu tertentu dan
dialokasikan melalui serangkaian program yang telah dijabarkan lebih
lanjut dalam suatu rencana kinerja (performance plan).
8. Kondisi Lingkungan Ekonomi dan Politik: merupakan suatu keadaan
atau posisi yang menjelaskan situasi lingkungan eksternal yaitu kondisi
ekonomi dan kondisi politik Provinsi Jawa Timur.
9. Karakteristik Kebijakan: merupakan pengembangan taksonomi kebijakan
yang dikemukakan oleh Theodore Lowi. Karakteristik tersebut terdiri
dari kebijakan distributif, redistributif, regulatif atau konstituen.
10. Respon Obyek Kebijakan: merupakan tanggapan yang diberikan oleh
pihak yang terkena dampak kebijakan dan juga partisipasi organisasi
swasta dan keterlibatannya dalam pengambilan keputusan.
11. Impor: kegiatan pengiriman suatu komoditas barang perdagangan yang
diproduksi oleh negeri lain untuk dijual dipasar dalam negeri secara
legal dalam perdagangan internasional diukur dalam bentuk nilainya
dengan satuan mata uang asing/ valuta asing.
12. Hortikultura: segala usaha yang berkaitan dengan buah, sayuran, bahan
obat nabati, dan florikultura yang nantinya akan menghasilkan
pengembalian, apakah berupa keuntungan ekonomi atau kesenangan
pribadi, yang sesuai dengan usaha yang intensif tersebut.

I-66

PENDAHULUAN

I.7 Rincian Data yang Diperoleh


Penelitian ini berawal dengan mencari data dan informasi yang terkait
dengan kebijakan pengendalian distribusi produk impor hortikultura di
Jawa Timur, yang meliputi :
a) Peraturan teknis (Juknis) tata laksana impor hortikultura yang
berlaku.
b) Struktur Birokrasi:

Tata aliran yang mendukung dalam proses implementasi


kebijakan pengendalian impor hortikultura di Jawa Timur.

Standart Operating Procedure (SOP)

Pembagian wewenang dan hubungan antar pelaksana

c) Sumberdaya:

Kecukupan jumlah dan kemampuan Sumberdaya manusia

Kecukupan sumber keuangan

Sarana dan prasarana yang dibutuhkan

Kecukupan informasi dan wewenang pelaksana

d) Komunikasi:

Kejelasan komunikasi dan koordinasi antar instansi terkait

Proses komunikasi dalam pelaksanaan kebijakan

Kejelasan dan konsistensi perintah serta arahan

e) Disposisi terkait kemampuan aparat dalam memahami peraturan

Pemahaman dan pengetahuan para pelaksana kebijakan

Respon dari para pelaksana kebijakan

f) Kemampuan kebijakan menyesuaikan dengan kondisi makro dan


mikro ekonomi, kondusifitas dan dukungan politik.
g) Respon dan tanggapan dari Objek Kebijakan

Respon dari objek kebijakan

Saran dari objek kebijakan

h) Sasaran Kebijakan:
I-67

PENDAHULUAN

Tujuan atau goal dari implementasi kebijakan

Kondisi yang diharapkan pasca implementasi

I.8 Metode Penelitian


Metode penelitian adalah seperangkat petunjuk atau pedoman yang
merupakan strategi untuk menjawab suatu permasalahan ilmiah guna
memperoleh suatu pengetahuan yang berkebenaran ilmiah. Pada tahap ini
mengkaji bagaimana masalah penelitian yang ada ditemukan jawabannya.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
penelitian kualitatif, dimana yang dicari adalah pemahaman atas suatu
fenomena sosial, sehingga yang menjadi fokus utama adalah memperoleh
pemahaman atas tindakan dan makna gejala sosial dalam sudut pandang
subyek penelitian. Bogdan dan Taylor dalam Moleong (2010:4)
mendefinisikan metode penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian
yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata atau lisan dari obyek
yang diamati.
Penelitian

kualitatif

menurut

Creswell

(1994:4-7)

lebih

mengutamakan penggunaan logika induktif dimana kategorisasi dilahirkan


dari perjumpaan peneliti dengan informan di lapangan atau data-data yang
ditemukan. Sehingga penelitian kualitatif menghasilkan informasi berupa
ikatan konteks yang akan menggiring pada pola-pola atau teori yang akan
menjelaskan fenomena sosial.
Alasan peneliti memakai metode kualitatif adalah sifat masalah
yang diteliti, yang berupaya memahami sesuatu dibalik fenomena yang
I-68

PENDAHULUAN

kompleks serta mendapat gambaran yang lebih mendalam tentang


implementasi Pergub Jatim No. 2 Tahun 2013 dalam mengendalikan
distribusi produk impor hortikultura.
I.8.1 Tipe Penelitian
Merujuk pada perumusan masalah dan tujuan penelitian,
meka tipe penelitian yang digunakan adalah tipe penelitian
deskriptif sedangkan berdasarkan pada analisa data, tipe penelitian
adalah kualitatif.
Tipe

penelitian

deskriptif

menurut

Wignjosoebroto

(2007:31) dimulai dengan cara menyimak suatu objek yang ada di


alam indrawi, mengidentifikasikan berbagai gejala yang merupakan
aspek

objek

tersimak

itu

untuk

kemudian

menggolong-

golongkannya ke dalam sejumlah kategori konseptual, yang secara


menyeluruh akan memberikan suatu gambaran utuh mengenai
objek yang disimaknya itu.
Sedangkan Moleong (2010:11) juga menyebutkan jika pada
penelitian deskriptif data yang dikumpulkan adalah berupa katakata, gambar, bukan angka-angka, dengan demikian laporan dari
penelitian tersebut nantinya akan berisi kutipan-kutipan data untuk
memberi gambaran penyajian laporan.
I.8.2 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian merupakan tempat peneliti dapat melihat
keadaan yang sebenarnya dari obyek yang akan diteliti untuk

I-69

PENDAHULUAN

mendapatkan informasi yang akurat, sehingga akan benar-benar


mendapatkan data yang relevan untuk penelitian ini.
Penelitian

ini

dilakukan

di

Jawa

Timur

dengan

pertimbangan berikut:
1. Jawa Timur (Pelabuhan Tanjung Perak) ditetapkan
Pemerintah pusat sebagai pelabuhan utama kegiatan
ekspor impor hortikultura dikawasan timur Indonesia.
2. Dari segi Agroekologis Jawa Timur memiliki potensi
hortikultura yang baik dan khas dibanding provinsi
lainnya.
3. Pemerintah Provinsi Jawa Timur merupakan satusatunya pemerintah daerah di Indonesia yang membuat
kebijakan/ regulasi terkait pengendalian distribusi
produk impor.
4. Minimnya research dan penelitian yang terkait dengan
kebijakan impor hortikultura di Provinsi Jawa Timur,
sehingga dengan penelitian ini diharapkan menambah
referensi dan pengetahuan bagi masyarakat luas.
Adapun instansi atau organisasi yang dijadikan lokasi
penelitian yaitu Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi
Jawa Timur, Biro Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah
Provinsi Jawa Timur dan BPD Gabungan Importir Nasional
Seluruh Indonesia (GINSI) Jawa Timur. Dalam penentuan ini

I-70

PENDAHULUAN

didasarkan pada beberapa pertimbangan antara lain karena lokasi


di atas merupakan instansi pemerintahan yang terkait langsung
dengan permasalahan penelitian dan ketersediaan informasi yang
dibutuhkan dalam penelitian.
I.8.3 Teknik Penentuan Informan
Berbeda

halnya

dengan

penelitian

kuantitatif

yang

mengutamakan keterwakilan dan menggunakan istilah responden


dalam penentuan informan. Metode kualitatif lebih mengutamakan
keleluasaan cakupan rentangan informasi dan menggunakan istilah
informan pada penentuan sampelnya. Dalam penelitian ini
digunakan teknik penentuan informan dilakukan secara Purposive
Sampling, dimana informan yang dipilih merupakan pihak yang
dianggap paling mengetahui dan memahami tentang permasalahan
dalam penelitian ini.
Dalam penelitian kualitatif dikenal istilah informan yaitu
orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang
situasi dan kondisi penelitian. Adapun informan dalam penelitian
ini adalah:
1. Ibu Ninik Margirini, S.S selaku Kasi Impor Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur.
2. Bapak

Eka

Pengawasan
Konsumen

Setyabudi
Barang
Dinas

S.H.,

M.M

Beredar

dan

selaku

Kasi

Perlindungan

Perindustrian dan Perdagangan

I-71

PENDAHULUAN

Provinsi Jawa Timur sekaligus sebagai Koordinator Tim


Terpadu Pengawasan Barang Beredar.
3. Bapak Adi Utomo selaku Staf Pengawasan Barang
Beredar

dan

Perlindungan

Konsumen

Dinas

Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur


sekaligus Anggota Tim Terpadu Pengawasan Barang
Beredar.
4. Ibu Tuti Asri Harini selaku Kasubag Perdagangan Biro
Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi
Jawa

Timur

sekaligus

Anggota

Tim

Terpadu

Pengawasan Barang Beredar.


5. Bapak

Gede

Perdagangan

Garina
Biro

S.E.,

selaku

Administrasi

staf

bagian

Perekonomian

Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur.


6. Ibu Dra. Risang Dwi Rahayu selaku staf bagian
Perdagangan

Biro

Administrasi

Perekonomian

Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur.


7. Bapak Setiyobudi selaku Sekretaris Eksekutif BPD
Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI)
Jawa Timur.
I.8.4 Teknik Pengumpulan Data
Data dalam penelitian menurut Moleong (2010:186) bisa
diperoleh melalui wawancara, pengamatan dari dokumen atau

I-72

PENDAHULUAN

lainnya. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang


digunakan adalah metode wawancara dan dokumentasi.
1. Wawancara
Menurut Moleong (2010:186) wawancara ialah percakapan
dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak
yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan
terwawancara

yang

menjawab

pertanyaan

tersebut.

Tujuannya untuk memahami pandangan subyek penelitian


tentang pengalaman
sebagaimana

atau situasi

diungkapkan

dalam

subyek

penelitian,

bahasanya

sendiri.

Metode ini mengajukan pertanyaan secara langsung dengan


menggunakan pedoman wawancara kepada informan yang
dapat

memberikan

penjelasan

pendapat,

sikap

dan

keyakinan tentang hal-hal yang relevan dalam penelitian.


2. Dokumentasi
Selain melalui wawancara dan observasi, informasi juga
bisa diperoleh lewat fakta yang tersimpan dalam bentuk
surat, catatan harian, arsip foto, hasil rapat, jurnal kegiatan
dan sebagainya. Data berupa dokumen seperti ini bisa
dipakai untuk menggali infromasi yang terjadi di masa
silam. Peneliti perlu memiliki kepekaan teoretik untuk
memaknai semua dokumen tersebut sehingga tidak sekadar
barang yang tidak bermakna.

I-73

PENDAHULUAN

I.8.5 Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data


Kriteria teknik pemeriksaan keabsahan data merupakan
faktor yang menentukan dalam penelitian kualitatif. Untuk
menetapkan keabsahan (trustworthiness) data diperlukan teknik
pemeriksaan dengan kriteria tertentu. Uji keabsahan data dalam
penelitian ini adalah menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi
diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan
berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu.
Menurut Moleong (2010:330) ada beberapa jenis triangulasi: 1).
Triangulasi sumber, 2). Triangulasi metode, 3). Triangulasi
penyidik dan 4). Triangulasi teori. Dalam penelitian ini digunakan
Triangulasi

sumber.

Triangulasi

dengan

sumber

berarti

membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu


informasi yang dilakukan dengan:

Membandingkan apa yang dikatakan informan ketika


didepan umum dengan yang dikatakan secara pribadi.

Membandingkan keadaan dan perspektif informan dengan


pendapat dan pandangan umum.

Membandingkan apa yang dikatakan informan ketika


memakai alat perekam dan ketika alat perekam dimatikan.

Membandingkan hasil wawancara dengan dokumen yang


terkait.

I-74

PENDAHULUAN

I.8.6 Teknik Analisis Data


Setelah melakukan pengumpulan data dengan teknik di
atas, kemudian dilakukan teknik analisis data. Hal ini dimaksudkan
agar data yang diperoleh dari lapangan dapat dengan mudah dibaca
dan

dipahami

sebagai

upaya

menemukan

jawaban

atas

permasalahan penelitian.
Moleong (2010:247) mengemukakan bahwa proses analisa
data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia lalu
dilakukan reduksi data dengan menyusun abstraksi-abstraksi yang
merupakan rangkuman proses dan pernyataan-pernyataan yang
perlu dijaga agar tetap berada di dalamnya. Data disederhanakan
agar mudah dipahami, dibaca dan diinterpretasikan sebagai upaya
mencari jawaban atas permasalahan penelitian.
Miles

dan

Huberman

dalam

Sugiyono

(2008:120)

mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif


dilakukan secara interaktif dan berlangsung terus menerus sampai
tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data
yaitu: reduksi data, penyajian data dan verifikasi/penarikan
kesimpulan yang ketiganya saling berkaitan yaitu meliputi:
1. Reduksi data
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal yang
pokok dan mencari tema dan polanya. Dalam tahap ini
peneliti melakukan pemilihan, dan pemusatan perhatian

I-75

PENDAHULUAN

untuk penyederhanaan, abstraksi, dan transformasi data


kasar yang diperoleh sehingga memberikan gambaran
yang lebih jelas.
2. Penyajian data
Peneliti mengembangkan sebuah deskripsi informasi
tersusun untuk menarik kesimpulan dan pengambilan
tindakan. Penyajian data ini menuntut peneliti untuk
mampu mentransformasikan data kasar menjadi tulisan.
3. Penarikan kesimpulan dan verifikasi
Merupakan sebagian dari seluruh konfigurasi kegiatan
penelitian yang utuh dan dapat dilakukan selama
penelitian berlangsung. Aktivitas yang bisa dilakukan
sesingkat pemikiran kembali yang melintas dalam
pikiran peneliti selama ia menulis, meninjau ulang
catatan-catatan lapangan atau mungkin lebih seksama
dan memakan waktu dan tenaga yang lebih besar.

I-76

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

BAB II
GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

II.1 Gambaran Umum Provinsi Jawa Timur


II.1.1 Kondisi Geografis
Provinsi Jawa Timur terletak pada 111.0o hingga 114.4o Bujur
Timur dan 7.12o hingga 8.48o Lintang Selatan. Luas wilayahnya mencakup
47.799,75 km2. Provinsi Jawa Timur terbagi menjadi 658 kecamatan dan
8.497 desa/kelurahan. Kabupaten Malang memiliki jumlah kecamatan
terbanyak yaitu 33 kecamatan. Sementara itu luas wilayah yang paling
besar adalah Kabupaten Banyuwangi dengan luas total wilayah sebesar
5.783 km2. Data rincian tentang Kabupaten/ Kota di Jawa Timur bisa
dilihat di tabel II.1

II-1

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

Tabel II.1 Daftar Kabupaten/ Kota di Jawa Timur


No.

Kabupaten/Kota

Kecamatan

No.

Kabupaten/Kota

Kecamatan

1.

Kab. Bangkalan

18

21.

Kab. Ponorogo

21

2.

Kab. Banyuwangi

24

22.

Kab. Probolinggo

24

3.

Kab. Blitar

22

23.

Kab. Sampang

14

4.

Kab. Bojonegoro

27

24.

Kab. Sidoarjo

18

5.

Kab. Bondowoso

23

25.

Kab. Situbondo

17

6.

Kab. Gresik

18

26.

Kab. Sumenep

27

7.

Kab. Jember

31

27.

Kab. Trenggalek

14

8.

Kab. Jombang

21

28.

Kab. Tuban

20

9.

Kab. Kediri

26

29.

Kab. Tulungagung

19

10.

Kab. Lamongan

27

30.

Kab. Pasuruan

24

11.

Kab. Lumajang

21

31.

Kota Blitar

12.

Kab. Madiun

15

32.

Kota Kediri

13.

Kab. Magetan

18

33.

Kota Madiun

14.

Kab. Malang

33

34.

Kota Malang

15.

Kab. Mojokerto

18

35.

Kota Mojokerto

16.

Kab. Nganjuk

20

36.

Kota Pasuruan

17.

Kab. Ngawi

19

37.

Kota Probolinggo

18.

Kab. Pacitan

12

38.

Kota Surabaya

31

19.

Kab. Pamekasan

13

38.

Kota Batu

Sumber: BPS Jatim, 2013

Wilayah Jawa Timur sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa,


sebelah Timur dengan Selat Bali, sebelah Selatan dengan Samudera
Indonesia dan sebelah Barat dengan Propinsi Jawa Tengah. Jumlah

II-2

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

Penduduk Jawa Timur sebanyak 37.476.757 jiwa (BPS Jatim, 2010)


dengan kepadatan penduduk 794 jiwa per kilometer persegi. Sementara
itu, tingkat pertumbuhan penduduk Jawa Timur sebesar 1,09 % per tahun.
Surabaya sebagai Ibukota Propinsi Jawa Timur merupakan kota
yang letaknya paling rendah, yaitu sekitar 2 meter di atas permukaan laut.
Sementara itu kota yang letaknya paling tinggi dari permukaan laut adalah
Malang dengan ketinggian 445 m di atas permukaan laut. Suhu udara kotakota di Jawa Timur sangat bervariasi, mengingat wilayah ini banyak
terdapat pegunungan. Di bagian dekat pantai suhu maksimum dapat
mencapai 36o 37o C pada siang hari, sedang suhu minimum sekitar 22 o C
pada malam hari. Di daerah pegunungan dapat mencapai 25 o C pada siang
hari, dan 19o C pada malam hari. Suhu yang lebih rendah dari 15 o C idak
dijumpai di daerah Jawa Timur. Temperatur terendah umumnya terjadi
pada bulan Juni, sedangkan temperatur tertinggi umumnya terjadi pada
bulan Oktober.
Kondisi topografi di wilayah Propinsi Jawa Timur sangat
bervariasi, namun secara umum lebih banyak didominasi oleh adanya
topografi pegunungan. Hal ini mengingat Jawa Timur merupakan lintasan
pegunungan Selatan, dengan elevasi permukaan tanah maksimum + 3637
mdpl (puncak gunung Semeru) yang terletak di daerah Lumajang.

II-3

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

II.1.2 Kondisi Perekonomian dan Infrastruktur


Menurut data Bank Indonesia, kinerja perekonomian Jawa Timur
(Jatim) pada tahun 2013 mencapai 6,55% (yoy), melambat dibanding 2012
(7,22%), namun tetap lebih tinggi dari ekonomi nasional yang berada pada
level 5,78%. Sebagaimana diinformasikan pada tabel II.2 bahwa
pertumbuhan ekonomi Jatim dalam kurun waktu 4 tahun terakhir
cenderung lebih tinggi dibandingkan nasional. Jika diukur lebih lanjut,
kinerja perekonomian Jatim terus meningkat, sedangkan nasional mulai
mengalami perlambatan di tahun 2012.

Tabel II.2 Pertumbuhan Ekonomi Nasional dan Jawa Timur


WILAYAH

2010

2011

2012

2013

NASIONAL

6,22

6,49

6,23

5,78

JAWA TIMUR

6,68

7,22

7,27

6,55

Sumber: BPS Provinsi Jawa Timur

Jawa Timur merupakan provinsi yang memberikan sumbangan


relatif besar dalam perhitungan PDRB nasional, dimana pada tahun 2010
pangsa PDRB Jawa Timur terhadap PDRB nasional sebesar 15,41%.
Selama tahun 2013 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur
tumbuh 6,56 persen dibandingkan kinerja tahun 2012 yang pertumbuhan
tertinggi disumbang oleh 3 sektor utama yaitu Sektor Perdagangan, Hotel
dan Restoran dengan kontribusi sebesar 31,33 persen, diikuti Sektor
Industri Pengolahan dan Sektor Pertanian masing-masing sebesar 26,60

II-4

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

persen dan 14,91 persen. Beberapa komoditas unggulan Jawa Timur


meliputi beras, gula, kopi, tembakau, coklat dan karet, kayu jati dan
peternakan. Hasil perkapalan, semen, besi/baja, pupuk petrokimia,
elektronik, farmasi dan peralatan mesin.
Tabel II.3 Pertumbuhan PDRB Sektoral Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun
2009-2013 (persen)
No.

Sektor

2010

2011

2012

2013

(1)

(2)
2,23
9,18
4,32
6,43
6,64
10,67
10,07
7,27
4,34
6,68

(3)
2,53
6,08
6,06
6,25
9,12
9,81
11,44
8,18
5,08
7,22

(4)
3,49
2,10
6,34
6,21
7,05
10,06
9,64
8,01
5,07
7,27

(5)
1,59
3,30
5,59
4,74
9,08
8,61
10,43
7,68
5,32
6,55

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Pertanian
Pertambangan & Penggalian
Industri Pengolahan
Listrik, Gas dan Air Bersih
Bangunan/ Konstruksi
Perdagangan, Hotel & Restoran
Pengangkutan & Komunikasi
Keuangan, Persewaan & Perusahaan
Jasa-jasa
PDRB
Sumber: BPS Provinsi Jawa Timur

Dapat dilihat pada Tabel II.3 di atas, secara sektoral pada tahun
2013 seluruh sektor mengalami

perlambatan kecuali

konstruksi,

pengangkutan dan komunikasi serta jasa-jasa. Sektor pertanian mengalami


percepatan sampai dengan tahun 2012 dan kembali melambat pada tahun
2013. Industri pengolahan yang memberikan kontribusi terbesar kedua
dalam

struktur PDRB mengalami percepatan dari tahun 2010 sampai

dengan tahun 2012, namun mengalami perlambatan pada tahun 2013.


Sektor perdagangan, hotel dan restoran yang berkontribusi dominan
mengalami percepatan pada tahun 2010, namun mengalami perlambatan
pada tahun 2011 dan kembali mengalami percepatan 10,06 persen pada

II-5

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

tahun 2012 dan kembali melambat menjadi 8,61 persen pada tahun 2013.
Situasi perekonomian global yang masih mengalami krisis sangat
mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang tercermin dari
pertumbuhan sektoralnya.
Unsur lain yang layak dipertimbangkan dalam perekonomian
wilayah adalah besarnya laju inflasi. Indikator pada Gambar II.1
menggambarkan kenaikan indek harga konsumen di Jawa Timur. Pada
periode tahun 2009 - 2013, inflasi di Jawa Timur cenderung berfluktuasi
dari kisaran 3,62 persen di tahun 2009 hingga 7,59 persen di tahun 2013.
Nilai inflasi Jawa Timur dari tahun 2009 - 2012 lebih tinggi dibanding
dengan inflasi nasional, namun pada mulai bulan Mei tahun 2013 inflasi
Jawa Timur berada di bawah inflasi Nasional.

Sumber: BPS Provinsi Jawa Timur


Gambar II.1 Laju Inflasi Jawa Timur dan nasional Tahun 2009 - 2013

II-6

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

Apabila dilihat dari lokasi dan besaran inflasi pada tingkatan yang
lebih kecil (Kabupaten/Kota) tahun 2009 - 2013, dapat terlihat seperti
pada tabel berikut:

Tabel II.4 Inflasi 10 Kabupaten/Kota IHK Jawa Timur Tahun 2009 2013

Sumber: BPS Provinsi Jawa Timur

Pada parameter inflasi, BPS Provinsi Jawa Timur mencatat pada


tahun 2013 terjadi inflasi dari 10 kota yang diukur indeks harga
konsumennya di Jawa Timur, inflasi tertinggi terjadi di Kediri sebesar
8,05%, diikuti Probolinggo sebesar 7,98%. Sedangkan inflasi terendah
terjadi di Sumenep sebesar 6,62%. Peningkatan inflasi di Jawa Timur pada
akhir 2013 disebabkan kenaikan kelompok harga perumahan, air, listrik,
gas, dan bahan bakar. Sedangkan dari sisi komoditas, yang memberikan
sumbangan terbesar pada inflasi adalah kenaikan tarif listrik, bawang
merah, dan daging sapi.

II-7

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

Jawa

Timur

sebagai

provinsi

yang

cukup

besar

dalam

sumbangannya terhadap perekonomian nasional memiliki potensi yang


prospektif dalam peningkatan perekonomian antara lain :
1.

Cadangan minyak bumi dan cadangan gas alam di Bojonegoro.

2.

Potensi agrobisnis perikanan, peternakan, hortikultura dan


perkebunan.

3.

Cadangan mineral seperti batu alam, kalsite, pasir kuarsa, fosfat,


gypsum, bentonit, zeolit, dolomite, marmer, batu onyx sebesar
7.436,4 juta ton.

4.

Industri

dan

manufaktur

meliputi

logam

&

mesin;

komputer,elektronik & kabel elektrik; industri tekstil; lantai


keramik; kertas & percetakan; industri kimia & farmasi;
pemrosesan makanan terintegrasi.
5.

Jasa-jasa termasuk bank, LKBB, pasar modal, asuransi, gedung,


perumahan,

hotel

&

restoran

(sumber:

http://www.bi.go.id/id/publikasi/kajian-ekonomi-regional/jatim/pr
ofil/Contents/Ekonomi.aspx diakses 22 Februari 2014).
Dalam mendukung dan mendorong perekonomian Jawa Timur
terdapat infrastruktur yang telah dan akan dibangun antara lain :
1.

Bandar udara yang ada saat ini adalah Bandara Internasional


Juanda (Surabaya) dan Bandara Abdulrahman Saleh (Malang).

2.

Fasilitas umum meliputi jaringan telekomunikasi modern, listrik,


jaringan pipa gas industri dan PDAM.

II-8

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

3.

Lembaga keuangan antara lain Bursa Efek Surabaya, perbankan


nasional dan asing, asuransi.

4.

Kawasan industri di berbagai kota seperti SIER, BERBEK &


ALTA PRIMA (Surabaya); PIER (Pasuruan), KIG (Gresik); NIP
& MASPION (Mojokerto).

5.

Jalan dan jaringan transportasi meliputi 3,34 ribu km jalan &


jembatan, 986,3 km rel, dan 63,7 km jalan tol.

6.

Pelabuhan yang terdiri dari terminal kontainer internasional


(50.000 TEUs), Tanjung Perak (Surabaya), Tanjung Wangi
(Banyuwangi),

Tanjung

Tembaga

(Probolinggo)

serta

pelabuhan lokal lainnya.


7.

Layang tol sepanjang 106,3 km dan jembatan Suramadu yang


menghubungkan Surabaya dan Pulau Madura.

8.

Perluasan Bandara Internasional Juanda.

II.1.3 Ekspor-impor Jawa Timur


Menurut data BPS Provinsi Jawa Timur, nilai ekspor Jawa Timur
bulan September 2013 mencapai US $ 1.426,11 juta atau naik 36,27
persen dibanding ekspor bulan Agustus 2013 yang mencapai US $
1.046,57 juta. Secara kumulatif, nilai ekspor Januari September 2013
mencapai US $ 10.650,95 juta atau turun sebesar 6,33 persen dibanding
ekspor periode yang sama tahun 2012 yang mencapai US $ 11.370,38 juta.

II-9

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

Ekspor migas Jawa Timur selama periode Januari September


2013 ekspor migas mencapai US $ 359,82 juta atau turun 39,64 persen
dibanding ekspor migas periode yang sama tahun 2012 yang mencapai US
$ 596,12 juta. Sedangkan, Ekspor non migas Jawa Timur selama Januari
September 2013 ekspor non migas mencapai US $ 10.291,13 juta atau
turun sebesar 4,48 persen dibanding ekspor non migas periode yang sama
tahun 2012 yang mencapai US $ 10.774,26 juta. Pencapaian ini
menempatkan Jawa Timur pada posisi keempat dalam memberikan
kontribusi ekspor nasional.
Pesatnya pertumbuhan ekspor ini didukung oleh 10 komoditas
utama Jawa Timur, yaitu pengolahan tembaga, timah; kimia dasar;
pengolahan kayu; besi baja; pulp dan kertas; makanan dan minuman;
tekstil; pengolahan karet; udang dan alat-alat listrik. Kesepuluh komoditas
tersebut memberikan kontribusi terbesar terhadap ekspor Jawa Timur,
yaitu sebesar 78,10%. Adapun sepuluh negara tujuan utama ekspor Jawa
Timur adalah Jepang, Amerika Serikat, Malaysia, RRC, Thailand,
Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Australia dan Jerman.
Sedangkan nilai impor Jawa Timur secara kumulatif Januari
September 2013 mencapai US $ 18.190,96 juta atau naik 0,49 persen
dibanding periode yang sama tahun 2012 yang mencapai US $ 18.102,83
juta. Impor migas Jawa Timur selama Januari September 2013 impor
migas mencapai US $ 4.567,69 juta atau mengalami penurunan sebesar

II-10

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

7,86 persen dibanding impor migas periode yang sama tahun 2012 yang
mencapai US $ 4.957,45 juta.
Impor non migas Jawa Timur selama Januari September 2013
impor non migas Jawa Timur mencapai US $ 13.623,27 juta atau
mengalami kenaikan sebesar 3,64 persen dibanding periode yang sama
tahun 2012 yang mencapai US $ 13.145,37 juta. Ringkasan Perkembangan
Ekspor-impor Jawa Timur September 2013 disajikan dalam tabel II.5
Impor non migas Jatim didominasi oleh mesin/pesawat mekanik,
diikuti besi dan baja, plastik barang dari plastik, ampas/sisa industri
makanan dan gandum ganduman. Adapun lima negara pemasok impor di
Jawa Timur yaitu Cina merupakan negara pemasok barang impor non
migas

terbesar

Jawa

Timur

selama

November

2013,

diikuti Amerika Serikat, Jepang, Thailand dan India (BPS Jatim, 2013).

II-11

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

Tabel II.5 Ringkasan Perkembangan Ekspor-impor Jawa Timur September 2013

Sumber: BPS Provinsi Jatim

II-12

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

II.1.4 Kondisi Pertanian di Jawa Timur


Potensi hasil sumberdaya alam Jawa Timur sangat bervariasi,
mulai dari hasil pertanian, kehutanan, kelautan dan perikanan, peternakan
serta perkebunan. Menurut data BPS Jawa Timur pada tahun 2010 luas
lahan sawah di Jawa Timur mencapai 1.107.276 ha, terdiri dari lahan
beririgasi seluas 879.618 ha dan sawah tadah hujan seluas 243.899 ha.
Luas lahan palawija, hortikultura dan sayur mayur seluas 4.046.971 ha.
Dari lahan persawahan yang ada, areal panen rata rata seluas
1,692.729 ha dengan rata rata produktivitas 53,17 Kw/ha, jumlah produksi
padi kering giling yang diperoleh sebanyak 64.776.457 ton/tahun atau
beras sebanyak 40.938.721 ton/tahun. Tanaman jagung dengan luas areal
produksi

mencapai

1.144.349

ha,

dapat

memproduksi

sebanyak

18.233.417 ton/tahun. Tanaman kedelai dengan produksi mencapai


257.170 ha, dapat memproduksi sebanyak 975.257 ton/tahun (BPS, 2010).
Jawa Timur selain memiliki potensi dalam produksi tanaman bahan
pangan juga memiliki beragam varietas dan jenis produk hortikultura. Sub
sektor hortikultura merupakan salah satu jenis komoditas yang juga tidak
kalah pentingnya dibanding tanaman padi dan palawija. Provinsi Jawa
Timur juga berpotensi untuk pengembangan buah-buahan, menurut Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur, buah-buahan asal
Jawa Timur memberikan kontribusi sebesar 20% dari total kebutuhan
buah-buahan di Indonesia. Jenis buah buahan yang mempunyai nilai
ekonomi tinggi dan menjadi produk unggulan Jawa Timur adalah pisang

II-13

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

dengan total produksi pada tahun 2012 mencapai 1.362.881 ton, kemudian
posisi kedua ditempati oleh mangga dengan total produksi 840.316 ton dan
ketiga yaitu jeruk dengan total produksi 362.680 ton (Dispertan, 2013).
Adapun secara lengkap disajikan dalam tabel II.6

II-14

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

Tabel II.6 Tanaman Hasil, Produksi dan Rata-Rata Hasil Buah-buahan Di Jawa Timur Angka Tetap 2011-2012

1.

Mangga

TANAMAN HASIL
(POHON)
2011
2012
7.653.238
7.654.726

2.

Jeruk

3.418.577

3.616.373

315.133

362.680

92,18

100,29

3.

Pisang

19.312.613

21.343.126

1.188.926

1.362.881

61,56

63,86

4.

Durian

976.808

853.317

111.207

158.341

113,85

185,56

5.

Rambutan

1.899.114

1.216.515

110.184

104.998

58,02

86,31

6.

Salak

4.659.687

3.979.430

104.722

76.356

22,47

19,19

7.

Sirsat

166.073

189.451

8.855

10.548

53,32

55,67

8.

Manggis

131.257

128.587

11.535

8.392

87,88

65,26

9.

Apel

3.033.356

3.471.148

200.057

246.914

65,95

71,13

10.

Belimbing

299.281

307.474

22.811

28.294

76,22

92,02

NO.

JENIS HORTIKULTURA

PRODUKSI
(TON)
2011
2012
754.930
840.316

RATA-RATA HASIL
(KG/POHON)
2011
2012
98,64
109,78

Keterangan : Satuan tanaman yang menghasilkannya adalah rumpun, untuk tanaman Pisang dan Salak
Sumber: Dinas Pertanian Jatim, 2013

II-15

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

Sedangkan produksi komoditas hortikultura selain buah-buahan yaitu


sayuran, tanaman hias dan tanaman obat (biofarmaka), Jawa Timur juga memiliki
total produksi yang cukup besar, seperti misalnya kategori sayuran terdapat Cabe
rawit, bawang merah dan kubis yang pada 2012 total produksinya masing-masing
mencapai 2.440.404 kuintal, 2.228.615 kuintal dan 2.368.167 kuintal. Adapun
tanaman hias yang dihasilkan di provinsi Jawa Timur antara lain: Krisan, Sedap
malam, Mawar dan melati dengan produksi masing-masing mencapai 57.126.398
kuintal, 56.123.387 kuintal, 27.528.210 kuintal dan 1.673.313 kuintal. Keterangan
selengkapnya disajikan dalam tabel II.7 di bawah ini

II-16

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

Tabel II.7 Luas Panen, Produksi dan Rata-Rata Hasil Sayuran, Tanaman Hias dan Biofarmaka Di Jawa Timur 2011-2012
NO.
1.

JENIS
HORTIKULTURA
Cabe Rawit

2.

Bawang Merah

3.

LUAS PANEN
(HA)
2011
47.275

2012
49.111

PRODUKSI
(KU)
2011
2012
1.818.058
2.440.404

RATA-RATA HASIL
(KU/HA)
2011
2012
38,46
49,69

20.940

22.323

1.983.874

2.228.615

94,74

99,83

Kentang

6.563

10.391

855.199

1.620.385

130,31

155,94

4.

Kubis

9.748

9.922

1.828.989

2.368.167

187,63

238,68

5.

Tomat

4.860

4.663

676.439

620.181

139,18

133,00

6.

Krisan

4.247.893

4.327.950

51.005.632

57.126.398

11,35

12,43

7.

Sedap Malam

213.249

97.394

46.279.671

56.123.387

24,18

28,52

8.

Mawar

203.140

375.223

27.372.750

27.528.210

22,93

23,49

9.

Melati *)

35.648

31.171

1.634.003

1.673.313

4,54

4,34

10.

Laos/ Lengkuas

3.163.864

3.321.527

6.788.820

7.837.763

1,96

2,20

11.

Jahe

11.331.178

11.391.443

14.564.262

17.464.640

1,25

1,48

12.

Mengkudu/ Pace **)

2.001.624

57.933

5.866.862

3.473.993

2,73

10,91

13.

Mahkota Dewa **)

27.509

18.089

1.440.533

572.388

33,13

22,81

Keterangan:
*) satuan luas panen dalam kg
**) satuan luas panen dalam pohon
Sumber: Dinas Pertanian Jatim, 2013

II-17

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

II.2 Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur


II.2.1 Tugas Pokok dan Fungsi
Dinas

Perindustrian

dan

Perdagangan

merupakan

instansi

pemerintahan yang berperan dalam upaya pertumbuhan ekonomi Jawa


Timur, karena Dinas ini berwenang untuk melaksanakan pembangunan
industri dan perdagangan. Peran penting dari Dinas Perindutrian dan
Perdagangan Jawa Timur juga karena merupakan perpanjangan tangan
dari 2 kementerian yaitu Kementerian Perindustrian RI Dan Kementerian
Perdagangan RI.
Tugas dan fungsi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi
Jawa Timur diatur dalam Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 96
Tahun 2008 Tentang Uraian Tugas Sekretariat, Bidang, Sub Bagian dan
Seksi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur.
II.2.2 Visi, Misi dan Program Pembangunan
Visi dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa
Timur: "Jawa Timur sebagai pusat industri dan perdagangan terkemuka,
berdaya saing global dan berperan sebagai motor penggerak utama
perekonomian dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Adapun program Pembangunan Sektor Industri Dan Perdagangan secara
garis besar dijelaskan sebagai berikut:
1. Program Pembangunan Perdagangan.
a. Program Prioritas
Program Peningkatan dan Pengembangan Ekspor

II-18

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

Program Peningkatan Efisiensi Perdagangan Dalam


Negeri
b. Program Penunjang
Program Peningkatan Perlindungan Konsumen
2. Program Pembangunan Perindustrian.
a. Program Prioritas
Program Pengembangan Industri Kecil dan Menengah
Program Penataan Struktur Industri
Program Peningkatan Industri Berbasis Sumber Daya
Alam
b. Program Penunjang.

Program Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia

Program Peningkatan Standardisasi Industri

Program Peningkatan Kapasitas Teknologi Industri

Untuk mewujudkan visi pembangunan sektor industri dan


perdagangan di Provinsi Jawa Timur dan mengaplikasikan Misi dari
Provinsi Jawa Timur tahun 2009-2014 yaitu Makmur bersama Wong Cilik
melalui APBD untuk Rakyat, maka ditetapkan misi pembangunan sektor
industri dan perdagangan di Provinsi Jawa Timur 2009-2014 adalah:
1. Meningkatkan pelayanan kesekretariatan.
2. Meningkatkan pembinaan dan pengembangan standarisasi dan
desain produk industri.
3. Meningkatkan pembinaan dan pengembangan Industri Agro dan
Kimia.
4. Meningkatkan pembinaan dan pengembangan

Industri Logam,

Mesin, Tekstil dan Aneka.

II-19

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

5. Meningkatkan pembinaan dan pengembangan Industri Alat


Transportasi, Elektronika dan Telematika.
6. Meningkatkan pembinaan dan pengembangan pasar, distribusi,
promosi,

peningkatan

pengembangan

usaha,

penggunaan
pengawasan

produksi
barang

dalam
beredar

negeri,
dan

perlindungan konsumen.
7. Meningkatkan pembinaan dan pelayanan ekspor, pengendalian
impor, meningkatkan/mengembangkan promosi dan kerjasama
perdagangan internasional serta pengawasan terhadap pelaksanaan
kebijakan dibidang perdagangan internasional.
8. Meningkatkan pembinaan dan pengendalian serta pengembangan
metrologi legal.
9. Meningkatkan pengujian, inspeksi teknis, kalibrasi, sertifikasi
mutu, sertifikasi produk, pembinaan dan pengawasan mutu barang.
10. Meningkatkan pelayanan tera dan tera ulang alat-alat ukur, takar,
timbang dan perlengkapannya.
11. Meningkatkan pelayanan teknis, pembinaan, alih teknologi,
perekayasaan, pengembangan desain, menyediakan sarana usaha
industri dibidang industri logam, industri kulit & produk kulit,
industri kayu dan produk kayu, Industri makanan, minuman dan
kemasan, serta aneka industri dan kerajinan.
12. Meningkatkan pendidikan pelatihan dan promosi ekspor.

II-20

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

II.2.3 Struktur Organisasi


Adapun susunan organisasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Jawa Timur sesuai dengan Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 103
Tahun 2010 Tentang Uraian Jabatan Pada Dinas Perindustrian Dan
Perdagangan Provinsi Jawa Timur yang terdiri dari:
a) Kepala Dinas;
b) Sekretariat, membawahi :
1. Sub Bagian Tata Usaha
2. Sub Bagian Penyusunan Program
3. Sub Bagian Keuangan
4. Sub Bagian Perlengkapan
c) Bidang Standarisasi dan Desain Produk Industri, membawahi:
1. Seksi Standarisasi dan HaKI Industri
2. Seksi Desain Produk Industri
d) Bidang Industri Agro dan Kimia, membawahi:
1. Seksi Industri Makanan, Minuman dan Tembakau
2. Seksi Industri Hasil Pertanian dan Kehutanan
3. Seksi Industri Kimia
e) Bidang

Industri

Logam,

Mesin,

Tekstil

dan

Aneka,

membawahi:
1. Seksi Industri Logam dan Mesin
2. Seksi Industri Tekstil dan Produk Tekstil
3. Seksi Industri Aneka

II-21

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

f) Bidang Industri Alat Transportasi, Elektronika dan Telematika,


membawahi:
1. Seksi Industri Alat Angkutan Darat dan Jasa Keteknikan
2. Seksi Industri Maritim
3. Seksi Industri Elektronika dan Telematika
g) Bidang Perdagangan Dalam Negeri, membawahi :
1. Seksi Bina Pasar dan Distribusi
2. Seksi Promosi Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam
Negeri dan Pengembangan Usaha
3. Seksi Pengawasan Barang Beredar dan Perlindungan
Konsumen
h) Bidang Perdagangan Internasional, membawahi :
1. Seksi Ekspor
2. Seksi Impor
3. Seksi Promosi dan Kerjasama Perdagangan Internasional
i) Bidang Metrologi, membawahi
1. Seksi Pengelolaan Standard dan Laboratorium
2. Seksi Pengawasan dan Penyidikan
3. Seksi Sarana dan Penyuluhan Kemetrologian
j) Kelompok Jabatan Fungsional

Adapun seksi yang berkaitan dengan kebijakan pengendalian


distribusi produk impor yang pertama adalah Seksi impor Bidang

II-22

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

Perdagangan Internasional Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi


Jawa Timur. Terdapat delapan fungsi Seksi Impor, yaitu: a. merencanakan
bahan

perencanaan

program

kegiatan

pengendalian

impor;

b.

melaksanakan bahan sosialisasi kebijakan impor; c. melaksanakan bahan


bimbingan teknis dan pengendalian impor; d. melaksanakan bahan
penerbitan rekomendasi / persetujuan impor dan Angka Pengenal Importir
(API); e. melaksanakan bahan verifikasi barang impor; f. melaksanakan
bahan koordinasi pengawasan mutu barang impor; g. melaksanakan bahan
monitoring, evaluasi dan pelaporan kegiatan impor; h. melaksanaan tugastugas lain yang diberikan oleh Kepala Bidang.
Selanjutnya, adalah Seksi Pengawasan Barang Beredar dan
Perlindungan Konsumen mempunyai tugas diantaranya: a. menyusun
rencana kegiatan pengawasan barang beredar dan perlindungan konsumen;
b. melaksanakan penyiapan bahan bimbingan teknis; pengawasan barang
beredar dan jasa serta perlindungan konsumen; c. melaksanakan kebijakan
dan evaluasi pengawasan barang beredar dan jasa di pasar serta penegakan
hukum; d. melaksanakan koordinasi kegiatan Lembaga Perlindungan
Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM), pembentukan dan fasilitasi
operasional

Perwakilan

Badan

Perlindungan

Konsumen

Nasional

(PBPKN) dan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK); e.


melaksanakan

koordinasi

dan

kerjasama

dalam

penyelenggaraan

perlindungan konsumen dan pelaksanaan pengawasan barang beredar dan


jasa; f. melaksanakan pembinaan dan pemberdayaan Petugas Pengawas

II-23

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

Peredaran Barang dan Jasa (PPBJ) dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil
Perlindungan Konsumen (PPNS-PK); g. melaksanakan monitoring dan
evaluasi serta pelaporan; h. melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan
oleh Kepala Bidang. Adapun struktur organisasi Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa Timur disajikan dalam gambar II.2

II-24

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

Gambar II.2 Struktur organisasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur

II-25

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

II.3 Biro Administrasi dan Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa


Timur
II.3.1 Tugas Pokok dan Fungsi
Tugas

Pokok

dan

Fungsi

pada

Biro Administrasi

Perekonomian berdasarkan pada Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor


16 Tahun 2011 tentang Uraian Tugas dan Fungsi Asisten, Biro, Bagian dan
Sub Bagian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur sebagaimana pada
alinea berikut.
Biro Administrasi Perekonomian mempunyai tugas menyiapkan
perumusan kebijakan, mengkoordinasikan pelaksanaan tugas dan fungsi,
pemantauan dan evaluasi program kegiatan dan penyelenggaraan pembinaan
teknis, administrasi dan sumberdaya di bidang Koperasi, Usaha Mikro,
Kecil dan Menengah (UMKM), Perindustrian, Perdagangan, Penanaman
Modal , Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), Sarana Perekonomian dan
Pengembangan Teknologi.

Sedangkan

Fungsi

Biro

Administrasi

bidang

administrasi

Perekonomian :
1. Pelaksanaan

perumusan

kebijakan

di

Perekonomian.
2. Pelaksanaan koordinasi, pembinaan dan penyusunan program kegiatan
serta petunjuk teknis pelaksanaan di bidang pengembangan koperasi,
UMKM, perindustrian, perdagangan, penanaman modal, BUMD,
sarana perekonomian dan pengembangan teknologi.

II-26

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

3. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan pemerintah dan


pembangunan

dibidang

pengembangan

koperasi,

UMKM,

perindustrian, perdagangan, penanaman modal, BUMD, sarana


perekonomian dan pengembangan teknologi.
4. Pelaksanaan

perumusan,

pemantauan,

pengendalian

kebijakan ekonomi mikro dan ekonomi makro.


5. Pelaksanaan pembinaan administrasi pemerintahan, pembangunan dan
sumber daya aparatur di bidang administrasi Perekonomian.
6. Pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan Asisten.

II.3.3 Struktur Organisasi


Susunan

organisasi

Biro

Administrasi

dan

Perekonomian

Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur sesuai dengan Peraturan Gubernur


Jawa Timur Nomor 16 Tahun 2011 Tentang Uraian Tugas Dan Fungsi
Asisten, Biro, Bagian Dan Sub Bagian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa
Timur yang terdiri dari:
a. Bagian Koperasi dan UMKM;
b. Bagian Perindustrian dan Perdagangan;
c. Bagian Penanaman Modal dan BUMD; dan
d. Bagian Sarana Perekonomian dan Pengembangan Teknologi.

Bagian yang berkaitan dengan kebijakan pengendalian distribusi


produk impor adalah Bagian Perindustrian dan Perdagangan. Bagian

II-27

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

Perindustrian dan Perdagangan mempunyai tugas menyiapkan koordinasi


pembinaan dan petunjuk pelaksanaan usaha peningkatan perindustrian dan
perdagangan. Untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud, Bagian
Perindustrian dan Perdagangan mempunyai fungsi:
a. Pelaksanaan koordinasi pembinaan pelaksanaan usaha peningkatan
perindustrian dan perdagangan;
b. Pelaksanaan penyusunan program dan petunjuk pelaksanaan usaha
peningkatan perindustrian dan perdagangan;
c. Pelaksanaan pemantauan, evaluasi dan koordinasi usaha peningkatan
perindustrian dan perdagangan; dan
d. Pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Biro.

Kemudian

Bagian

Perindustrian

dan

Perdagangan

Biro

Administrasi dan Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur,


terdiri atas:
a. Sub Bagian Perindustrian;
b. Sub Bagian Perdagangan; dan
c. Sub Bagian Promosi Daerah.
Adapun Sub Bagian

yang menangani masalah kebijakan

pengendalian distribusi produk impor adalah Sub Bagian Perdagangan,


Sub Bagian Perdagangan mempunyai tugas:
a. Mengumpulkan, dan menganalisis data dan bahan di bidang
perdagangan;

II-28

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

b. Menyiapkan bahan perumusan kebijakan di bidang perdagangan;


c. Menyiapkan bahan penyusunan petunjuk pelaksanaan di bidang
perdagangan;
d. Menyiapkan

bahan pemantauan

dan pelaporan

di

bidang

perdagangan; dan
e. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Bagian.

II.4 Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Jawa Timur


Merupakan satu-satunya asosiasi pengusaha di bidang impor di
Indonesia. Semula organisasi ini bernama Kongres Importir Nasional
Seluruh Indonesia (KINSI) yang dibentuk pada tanggal 26 Maret 1956 di
Surabaya. KINSI merupakan peleburan berbagai organisasi importir yang
ada di Indonesia pada waktu itu, yaitu: Gabungan Pembelian Indonesia
(GAPINDO);

Ikatan

Importir Nasional

Indonesia

(IKINI);

Ikatan

Pemasukan Barang Teknik (IPBT); Persatuan Improtir Pharmasi Indonesia


(PlPhl); Gabungan Importir Barang Perindustrian Indonesia (GIBPI);
Persatuan Importir Indonesia (PII); Gabungan Importir Djawa Tengah
(GABID); Gabungan Importir Nasional Indonsia (GINI). Pada tanggal 8
Mei 1959 berdasarkan Surat Keputusan Direktur Perdagangan Dalam
Negeri Kementerian Perdagangan No. 1766/C-III-O/DPDN/P, KINSI
diresmikan

menjadi

Organisasi

Pengusaha

Sejenis

Impor

(OPS

Impor). Barulah dalam masa pemerintahan Orde Baru, dalam Kongresnya

II-29

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

yang ke-3 tanggal 31 Januari sampai 1 Februari 1967 di Jakarta, nama


asosiasi ini secara resmi diubah menjadi GINSI.
II.4.1 Tujuan dan Keanggotaan
GINSI dibentuk dengan tujuan mendorong keterlibatan para
anggotanya dalam perdagangan dan kerja sama internasional; meningkatkan
peran serta swasta nasional dalam pembangunan; dan memperbaiki kondisi
perdagangan luar negeri. Azas GINSI didasarkan pada keyakinan bahwa
pemecahan masalah yang dihadapi perekonomian dunia terletak pada
kebijakan yang memberikan kebebasan gerak bagi manusia, jasa, dan modal
antarnegara dunia tanpa memandang tingkat perkembangan masing-masing
negara.
GINSI terbuka bagi semua importir Indonesia yang memiliki
sertifikat pengakuan dari Departemen Perdagangan, baik yang berupa API
(Angka Pengenal Impor), APIS (Angka Pengenal Impor Sementara), atau
APIT (Angka Pengenal Impor Terbatas). Pada tahun 1987 anggota GINSI
berjumlah lebih dari 1.000 orang/perusahaan. Hingga 2014 untuk Wilayah
Provinsi Jawa Timur terdapat 600 perusahaan yang tergabung dalam
keanggotaan GINSI. Perusahaan asing (PMA) di Indonesia yang memiliki
izin impor dapat menjadi anggota GINSI dengan status associate member.
II.4.2 Kegiatan
Dalam menyelenggarakan fungsinya sebagai asosiasi impor,
menyediakan berbagai jasa pelayanan bagi para anggotanya yang meliputi:
1. Jasa konsultasi dalam bidang penyelesaian klaim, bea, dan cukai, dll;

II-30

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

2. Program pendidikan dan pelatihan dalam bidang prosedur impor,


asuransi, perbankan, dan seminar-seminar serta lokakarya bagi para
anggota dan masyarakat umum yang berminat;
3. Informasi produk-produk luar negeri, para pemasok, dan produsen
luar negeri bagi para anggota yang memerlukannya;
4. Penyelidikan dan tindakan atas keluhan mengenai mutu pelayanan
anggotanya;
5. Daftar hitam dari mitra bisnis di luar negeri yang tidak memenuhi
atau menghormati perjanjian/kontrak dagang;
6. Penerbitan buletin berjudul Ekonomi Indonesia yang dibagikan
secara cuma-cuma kepada para anggotanya.
II.4.3 Susunan Kepengurusan BPD GINSI Jawa Timur
Berikut ini merupakan susunan Badan Pengurus Daerah Gabungan Importir
Nasional Seluruh Indonesia wilayah Jawa Timur tahun 2011-2016:

Tabel II.8 Susunan Badan Pengurus Daerah Gabungan Importir Nasional


Seluruh Indonesia wilayah Jawa Timur tahun 2011-2016
No.
Jabatan
Nama
1.
Penasehat
2.
Ketua
3.
Wakil Ketua I
4.
Wakil Ketua II
5.
Sekretaris
6.
Bendahara
Sumber: Ginsi Jatim, 2014

Ramelan Siswo Pranoto


H. Bambang Sukadi
Toto Subhakti
Romzy Abdullah
Drs. Soekarjono
Ima Sumaryani

II-31

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

II.5 Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 2 Tahun 2013 Tentang


Pengendalian Distribusi Produk Impor di Jawa Timur
Dalam era globalisasi ini kegiatan perdagangan antarnegara dan
kerjasama ekonomi merupakan hal yang tidak bisa dihindarkan lagi yang
diharapkan akan dapat

memperluas kesempatan berusaha

dalam

perdagangan dan kesempatan memperoleh aneka produk. Pada hakekatnya


perdagangan antarnegara juga mengandung makna terbukanya pasar
bersama para pelaku usaha di dalam satu kawasan tertentu, yang berarti
tidak bisa dipungkiri akan menciptakan persaingan yang semakin tajam
antara produk lokal dan produk impor termasuk di dalamnya produk
hortikultura.
Disahkannya Peraturan Menteri Pertanian Nomor 89 Tahun 2011
tentang Persyaratan Teknis dan Tindakan Karantina Tumbuhan untuk
pemasukan Buah-buahan dan/atau Sayuran Buah Segar kedalam Wilayah
Negara Republik Indonesia menyebabkan dipusatkannya pintu masuk
impor hortikultura hanya melalui empat pintu yaitu Bandara Soekarno
Hatta, Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Pelabuhan Belawan Medan,
dan Pelabuhan Makassar, sehingga untuk mencegah peningkatan jumlah
produk impor yang masuk melalui Pelabuhan Tanjung Perak, pemerintah
Provinsi Jawa Timur mengeluarkan Peraturan Gubernur Jatim Nomor 2
Tahun 2013 yang mengatur tentang distribusi produk impor di Jawa
Timur.

II-32

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

Dalam Peraturan Gubernur Jatim Nomor 2 Tahun 2013 dijelaskan


bahwa yang dimaksud dengan Produk impor adalah adalah jenis produk
yang meliputi komoditi jagung, kacang kedelai, bungkil kedelai, kacang
tanah, kacang hijau, susu, tepung terigu, tepung jagung, tepung bulu,
tepung ikan, ikan, cumi-cumi, hortikultura, gula, beras, dan garam yang
diimpor melalui wilayah Jawa Timur.
Peraturan Gubernur Jatim Nomor 2 Tahun 2013 dikeluarkan dalam
rangka menjaga stabilitas harga komoditas lokal yang diharapkan outcome
yang dihasilkan akan meningkatkan kesejahteraan petani serta sebagai
bentuk perlindungan terhadap konsumen sehingga perlu menetapkan
pengendalian distribusi produk impor di Jawa Timur. Dalam pasal 3
Peraturan Gubernur Jatim Nomor 2 Tahun 2013 secara terperinci
menjelaskan bahwa peraturan ini bertujuan untuk :
a)

Mengendalikan produk impor;

b) Menjaga stabilitas harga komoditas lokal;


c)

Melindungi dan meningkatkan kesejahteraan serta kepentingan


petani;

d) Perlindungan terhadap masuknya organisme pengganggu


tumbuhan (OPT) atau organisme pengganggu tumbuhan
karantina;
e)

Perlindungan terhadap konsumen.

II-33

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

Selain itu, untuk menjamin keamanan produk dan sebagai bentuk


perlindungan konsumen dalam pasal 4 Peraturan Gubernur Jatim Nomor 2
Tahun 2013 juga mengatur mengenai aspek-aspek yang harus dipenuhi
oleh produk impor yang masuk di wilayah Jawa Timur wajib
memperhatikan aspek berikut:
a) Keamanan pangan meliputi kondisi dan upaya yang diperlukan
untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis,
kimiawi dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan
membahayakan kesehatan manusia;
b) Ketersediaan produksi Jawa timur;
c) Penetapan sasaran produksi dan konsumsi produk;
d) Persyaratan kemasan dan pelabelan;
e) Standar mutu yang memuat persyaratan nilai yang ditentukan atas
dasar kriteria keamanan pangan (aman dari cemaran fisik, biologi
dan kimia) kandungan gizi dan persyaratan perdagangan dan
atribut lain yang ditentukan;
f) Ketentuan keamanan dan perlindungan terhadap kesehatan
manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan.

Mekanisme distribusi produk impor menurut Peraturan Gubernur


Jatim Nomor 2 Tahun 2013 dimulai dengan perusahaan yang akan
melakukan importasi melalui wilayah Jawa Timur menyampaikan surat
pernyataan keterangan distribusi produk impor yang berisi: Jenis barang

II-34

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

yang diimpor, Jumlah barang, Negara asal barang, Tempat Penampungan


Sementara/Gudang,
pernyataan

tersebut

Tujuan

distribusi;

ditujukan

kepada

dan

Peruntukannya.

Gubernur

melalui

Surat
Dinas

Perindustrian dan Perdagangan selambat-lambatnya 2 (dua) hari setelah


tanggal Surat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB) yang dikeluarkan
oleh Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Tipe Madya Pabean
Tanjung Perak.
Surat Pernyataan tersebut dilampiri dengan Bill of Lading,
Pemberitahuan Impor Barang (PIB), Tanda Daftar Gudang Produk Impor
dan Kartu Kendali Gudang Produk Impor. Adapun gudang/Tempat
Penampungan Sementara produk impor yang dipergunakan oleh importir
wajib memiliki Tanda Daftar Gudang Produk Impor dan Kartu Kendali
Gudang Produk Impor yang telah terdaftar di Dinas Perindustrian dan
Perdagangan. Khusus untuk komoditi strategis beras, gula (gula
mentah/gula rafinasi/gula putih) dan garam importir juga diwajibkan
melengkapi Surat Izin Bongkar dari Gubernur.
Setelah menyampaikan surat pernyataan sebagaimana importir
dapat mendistribusikan komoditasnya di Wilayah Jawa Timur dan atau di
luar Wilayah Jawa Timur. Berikut ini alur perijinan distribusi produk
impor di Jawa Timur disajikan dalam gambar II.3

II-35

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

Importir
Menyerahkan surat

Gubernur Jawa Timur c.q


Biro Administrasi

Berkas

Perekonomian Setda

Tidak

Provinsi Jatim

Lengkap

Pemberitahuan Impor

Berkas

Ditolak

Barang, TDGPI dan

Lengkap

pernyataan keterangan
distribusi produk
impor dilampiri
dengan Bill of Lading,

KKGPI
Diterima

Distribusi
Produk
Gambar II.3 Alur perijinan Distribusi Produk impor di Jawa Timur
(Sumber: Disperindag Jatim, 2013)

Untuk menjamin kelangsungan dan mendukung keberadaan produk


hortikulura lokal, Peraturan Gubernur Jatim Nomor 2 Tahun 2013 dalam
pasal 10 menjelaskan bahwa komoditi produk impor olahan dan
turunannya serta yang dapat dihasilkan di Jawa Timur termasuk
hortikultura pada masa panen dan pasca panen distribusinya akan diatur
lebih lanjut oleh instansi teknis yang menangani, sehingga diharapkan
distribusi produk hortikultura impor dapat dikurangi dan tidak memenuhi
pangsa pasar produk hortikutura lokal.

II-36

GAMBARAN UMUM KAJIAN PENELITIAN

Selain mekanisme perijinan, Peraturan Gubernur Jatim Nomor 2


Tahun 2013 juga mengatur mengenai pengawasan dalam rangka
pengendalian pelaksanaan distribusi produk Impor. Dalam pasal 13
dijelaskan bahwa pelaksanaan pengawasan peredaran, monitoring dan
evaluasi pelaksanaan distribusi yang importasinya melalui wilayah Jawa
Timur dilakukan oleh Gubernur Jawa Timur melalui Tim Terpadu
Pengawasan Barang Beredar yang ditetapkan melalui Keputusan Gubernur
Jawa Timur. Fungsi dari hasil pelaksanaan pengawasan peredaran,
monitoring

dan

evaluasi

akan

digunakan

sebagai

bahan

saran

pertimbangan kepada pemerintah pusat dalam hal pemberian Surat


Persetujuan Impor (SPI).

II-37

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

BAB III
PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Dalam bab ini dilakukan penyajian atas data yang telah diperoleh di
lapangan baik berupa hasil wawancara maupun dokumen dari organisasiorganisasi pelaksana yang terlibat. Penyajian data disertai dengan analisis dan
interpretasi sebagai upaya dalam menjawab rumusan masalah yang diajukan.
Analisis dan interpretasi sengaja dijadikan dalam satu bab agar tercipta alur
pengemasan laporan yang runtut dan untuk mempermudah proses penyimpulan,
sehingga diharapkan laporan yang dihasilkan dapat tersaji dengan lebih terarah
dan efisien. Pada dasarnya penyajian data, analisis dan interpretasi merupakan
suatu kesatuan yang utuh, saling melengkapi dan terkait. Sebuah laporan yang
baik

menyediakan

penyajian

melalui

deskripsi

yang

memadai

untuk

memungkinkan pembaca memahami analisis, dan analisis yang memadai


memungkinkan

pembaca

memahami

interpretasi

dan

penjelasan

yang

disampaikan (Patton, 2006:284). Sehingga hal ini memperkuat alasan untuk


menampilkan penyajian, analisis dan interpretasi teoritik dalam satu bab.
Dalam bab ini juga menggunakan tabel rekapitulasi yang akan
memberikan rangkuman terhadap hasil temuan data yang diperoleh dan juga
menjadi arah dari analisis. Tabel rekapitulasi juga akan memberikan penegasanpenegasan terhadap deskripsi fenomena yang telah ditampilkan sehingga akan
lebih mudah dipahami.

III-1

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Data yang telah diperoleh selama penelitian akan disajikan dalam bab ini
sesuai dengan kerangka awal yaitu dimulai pada bagian pertama mengenai
gambaran implementasi kebijakan pengendalian distribusi produk impor
hortikultura di Jawa Timur. Sedangkan bagian kedua merupakan pendeskripsian
serta penjelasan faktor-faktor yang terkait kebijakan pengendalian distribusi impor
hortikultura di Jawa Timur yaitu: sasaran kebijakan, sumberdaya, struktur
birokrasi, komunikasi, disposisi, karakteristik kebijakan, respon obyek kebijakan
dan kondisi ekonomi, sosial dan politik. Selanjutnya akan dilakukan pemaparan
mengenai hasil pengumpulan data yang telah dilakukan dalam rangka menjawab
perumusan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya.

III.1 Implementasi Kebijakan Pengendalian Distribusi Produk Impor


Hortikultura di Jawa Timur
Latar belakang munculnya kebijakan pengendalian distribusi impor
hortikultura ini berawal dari diterbitkannya Peraturan Menteri Pertanian Nomor
89 Tahun 2011 tentang Persyaratan Teknis dan Tindakan Karantina Tumbuhan
Untuk Pemasukan Buah-buahan Dan/atau Sayuran Buah Segar ke Dalam Wilayah
Negara Republik Indonesia yang mengatur tujuh pintu masuk pelabuhan dan
bandar udara dikurangi menjadi empat pintu masuk saja, diantaranya: Pelabuhan
Belawan Medan, Pelabuhan Tanjung Perak, Pelabuhan Makassar dan Bandar
Udara Soekarno Hatta Cengkareng. Tujuan penetapan empat pintu masuk itu
adalah agar Pemerintah dapat lebih melakukan fungsi pengawasan dan
pengendalian terhadap produk impor.

III-2

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Menurut kajian kebijakan penentuan pelabuhan tertentu sebagai pintu masuk


impor produk tertentu yang dilakukan oleh Kementrian Perdagangan Republik
Indonesia (2012) menetapkan pelabuhan tertentu sebagai pintu masuk produkproduk hortikultura dan industri, kriteria utama yang perlu dijadikan dasar
penetapan tersebut berturut-turut mulai dari yang paling prioritas adalah:
1. Kriteria Keamanan, Ketahanan, dan Pelayanan Pelabuhan,
2. Kriteria Ketersediaan Sumberdaya Manusia,
3. Kriteria Fasilitas Pelabuhan Laut,
4. Kriteria Proteksi terhadap Produk Lokal, dan
5. Kriteria Wilayah Perairan untuk Pelabuhan Laut.
Hal tersebut senada dengan penjelasan Ibu Ninik Margirini (Kasi Impor
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur) yang menjelaskan
lebih rinci mengenai kebijakan pengendalian distribusi produk impor hortikultura
di Jawa Timur. Berikut penjelasannya:
Mengenai kebijakan pengendalian distribusi produk impor
khususnya hortikultura itu gini mas, pada tahun 2011 itu
Kementrian Pertanian mengeluarkan peraturan baru yaitu
Peraturan Menteri Pertanian Nomor 89 Tahun 2011 yang mana
dalam peraturan tersebut menetapkan empat pintu masuk impor
hortikultura yaitu Pelabuhan Belawan Medan, Pelabuhan
Tanjung Perak, Pelabuhan Makassar dan Bandar Udara
Soekarno Hatta Cengkareng. Tanjung Priok sudah tidak jadi
pintu masuk lagi karena dinilai sudah overload. Importir kan
nggak mungkin melakukan impor lewat bandara, jadi kalo di
Jawa ya di Tanjung Perak ini. Nah setelah adanya peraturan
tersebut dampak yang ditimbulkan luar biasa, banyak produkproduk impor hortikultura yang menumpuk di Pelabuhan
Tanjung Perak sehingga ada beberapa yang sampai membusuk.
Dari situ Pemerintah Provinsi Jawa Timur berinisiatif untuk
membuat kebijakan pengendalian distribusi produk impor itu
dalam Pergub Jatim No. 2 Tahun 2013. (wawancara tanggal 7
April 2014)

III-3

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Begitu juga dengan penjelasan Ibu Tuti Asri Harini (Kasubag Perdagangan
Biro Administrasi Perekonomian Provinsi Jawa Timur) yaitu:
Kebijakan pengendalian distribusi produk impor ini mas
merupakan kebijakan yang diambil oleh Pemerintah Provinsi Jawa
Timur dan disahkan melalui Pergub Jatim No. 2 Tahun 2013 karena
adanya Peraturan Pusat yaitu Permentan Nomor 89 Tahun 2011. Di
peraturan tersebut menetapkan bahwa Tanjung Perak itu menjadi
salah satu pintu masuk produk impor, sehingga Pak Gubernur
merasa perlu membuat kebijakan tersebut. (wawancara tanggal 17
April 2014)
Dari informasi tersebut dapat dipahami bahwa kebijakan pengendalian
distribusi produk impor hortikultura di Jawa Timur merupakan tindak lanjut dari
Peraturan Menteri Pertanian No. 89 Tahun 2011 yang menetapkan Pelabuhan
Tanjung Perak sebagai salah satu pintu masuk produk impor di Jawa Timur.
Peraturan Menteri Pertanian No. 89 Tahun 2011 tersebut memiliki dampak
terhadap melonjaknya jumlah produk-produk impor khususnya hortikultura yang
masuk melalui Pelabuhan Tanjung Perak sehingga menyebabkan penumpukan
barang. Untuk lebih jelasnya terkait dengan volume impor Provinsi Jawa Timur
menurut pelabuhan impor bisa dilihat di Tabel III.1 di bawah.

III-4

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Tabel III.1 Volume Impor Provinsi Jawa Timur Menurut Pelabuhan Impor Selama 2010-2012
2010
Pelabuhan

2011

2012

Nilai (US $)

Volume (Kg)

Nilai (US $)

Volume (Kg)

Nilai (US $)

15.685.012.608

12.475.156.860

17.777.544.913

15.700.217.230

18.186.390.975

16.430.646.970

Tuban

2.464.039.754

1.510.702.300

4.800.370.694

4.370.768.911

4.832.241.553

4.731.727.359

Gresik

1.849.980.516

670.144.755

2.955.895.642

1.327.306.231

4.542.048.415

2.224.390.439

Panarukan

808.519.248

547.282.314

258.027.446

241.206.770

166.315.880

170.861.569

Banyuwangi

139.488.441

111.537.876

479.377.310

423.411.227

433.144.110

313.446.635

Pasuruan

5.000.000

305.000

180.835.670

166.318.677

100.007.701

95.425.170

TOTAL

20.224.373.243

15.315.129.105

26.452.051.675

22.229.229.046

28.260.148.634

23.966.498.142

Tanjung Perak

Volume (Kg)

Sumber: BPS Provinsi Jatim, diolah

III-5

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Dari tabel III.1 dapat diketahui bahwa volume impor di Pelabuhan Tanjung
Perak selalu mengalami peningkatan baik dari segi volume maupun nilai. Pada
tahun 2010 volume impor melalui Tanjung Perak sebesar 15.685.012.608 Kg
meningkat 2.501.378.367 Kg menjadi 18.186.390.975 Kg pada tahun 2012. Dari
tabel III.1 juga dapat diketahui bahwa Pelabuhan Tanjung Perak juga merupakan
Pelabuhan paling padat dari segi aktivitas bongkar muat barang dibandingkan
pelabuhan-pelabuhan lain di Jawa Timur.
Selanjutnya, mengenai informasi lain yang terkait dengan pembentukan
Peraturan Gubernur Jawa Timur No. 2 Tahun 2013 ini, Bapak Eka Setyabudi
(Kasi Pengawasan Barang Beredar dan Perlindungan Konsumen Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur) menjelaskan sebagai
berikut:
Jadi mas, selain mengatur mengenai pengendalian distribusi
produk impor yang masuk, Pergub No. 2 Tahun 2013 itu juga
mengatur hal lainnya terkait keamanan, pengawasan dan
perlindungan terhadap konsumen. Hal ini juga sesuai amanat dalam
Peraturan Menteri Perdagangan No. 60 Tahun 2012 tentang
Ketentuan Impor Produk Hortikultura dan juga Peraturan Menteri
Pertanian No. 60 Tahun 2012 tentang Rekomendasi Impor Produk
Hortikultura. Dalam Permendag tersebut mensyaratkan bahwa
produk impor yang masuk harus mencantumkan label bahasa
Indonesia, ada sertifikasi uji keamanan dan memiliki Rekomendasi
Impor Produk Hortikultura (RIPH) yang terdaftar di Kementrian
Pertanian Republik Indonesia. Jadi, dengan adanya Pergub ini
konsumen juga terjamin keamanannya dari kemungkinan cemaran
biologis, kimiawi dan benda lain yang dapat mengganggu dan
membahayakan kesehatan. Selain itu melalui Pergub ini pemerintah
provinsi berusaha menjaga stabilitas harga komoditas lokal yang
diharapkan mampu
meningkatkan kesejahteraan
petani.
(wawancara tanggal 26 Maret 2014)
Dari petikan wawancara di atas dapat dipahami bahwa Peraturan Gubernur
Jatim No. 2 tahun 2013 merupakan dasar hukum dalam rangka pengendalian dan
III-6

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

pengawasan bagi produk impor yang masuk di wilayah Jawa Timur. Kebijakan
pengendalian ini merupakan tindak lanjut dari Permendag 60 tahun 2012 dan
Permentan 60 Tahun 2012 yang mensyaratkan bahwa impor produk hortikultura
baik dalam bentuk produk hortikultura segar untuk tujuan konsumsi, produk
hortikultura untuk bahan baku industri maupun produk hortikultura olahan, hanya
dapat dilaksanakan setelah memperoleh surat Rekomendasi Impor Produk
Hortikultura (RIPH) yang diterbitkan oleh Kementerian Pertanian.
Munculnya Peraturan Gubernur Jatim no. 2 tahun 2012 merupakan upaya
yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk mengendalikan
keberadaan produk impor yang masuk ke Jawa Timur agar tidak mengganggu
pangsa pasar komoditas hortikultura lokal. Kondisi tersebut diharapkan mampu
meningkatkan pasar hortikultura lokal yang akan berpengaruh pada kesejahteraan
para petani lokal. Selain itu dengan peraturan ini pemerintah berusaha melindungi
konsumen dari kemungkinan ancaman bahaya atau cemaran biologis yang
terkandung dalam produk hortikultura impor.
Dalam Peraturan Gubernur Jatim No. 2 tahun 2013 tertulis bahwasannya
kebijakan pengendalian distribusi produk impor ini memiliki tujuan sebagai
berikut:
a)

Mengendalikan produk impor;

b) Menjaga stabilitas harga komoditas lokal;


c)

Melindungi dan meningkatkan kesejahteraan serta kepentingan


petani;

III-7

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

d) Perlindungan terhadap masuknya Organisme Pengganggu


Tumbuhan (OPT) atau Organisme Pengganggu Tumbuhan
Karantina;
e)

Perlindungan terhadap konsumen.

Mengutip dari hasil kajian kebijakan penentuan pelabuhan tertentu sebagai


pintu masuk impor produk tertentu yang dilakukan oleh Kementrian Perdagangan
pada tahun 2012, berdasarkan analisis kesesuaian penentuan pelabuhan yang akan
ditetapkan dengan sentra produksi hortikultura dan sentra industri, maka
pelabuhan yang sangat sensitif dijadikan pintu masuk impor adalah Tanjung Perak
(Jawa Timur), Belawan (Sumatera Utara) dan Batam karena kedua wilayah
tersebut merupakan produsen utama yang menempati wilayah produsen terbesar
kedua dan ketiga dari produksi buah-buahan dan sayuran segar di Indonesia. Oleh
karena itu, di pelabuhan-pelabuhan tersebut perlu di back up oleh peraturan
daerah (Gubernur) dan peraturan lainnya untuk lebih melindungi daya saing
produk lokalnya yang masih jauh lebih rendah dibandingkan produk impor.

III.1.1 Tahap-tahap Distribusi Impor Hortikultura


Untuk melakukan distribusi produk impor hortikultura di Jawa Timur,
secara teknis importir harus melakukan prosedur yang telah ditetapkan ditingkat
pusat oleh pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini yaitu Kementrian
Perdagangan dan Kementrian Pertanian Republik Indonesia dan juga persyaratan
yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Untuk syarat dan
ketentuan terkait distribusi produk impor hortikultura oleh pemerintah pusat telah

III-8

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan No. 47 tahun 2013 tetang Ketentuan
Impor Produk Hortikultura dan juga Peraturan Menteri Pertanian No. 60 tahun
2012 tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura. Sedangkan ditingkat
Provinsi Jawa Timur ditetapkan dalam Peraturan Gubernur No. 2 tahun 2013
tentang Pengendalian Distribusi Produk Impor. Hal ini sebagaimana yang
dijelaskan oleh Ibu Ninik Margirini, S.S selaku Kasi Impor Dinas Perindustrian
dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur sebagai berikut:
Jadi untuk memasukkan impor produk hortikultura ke Jawa Timur
harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah
pusat yaitu dalam Permentan 60 tahun 2012, Permendag 47 tahun
2013 dan juga Pergub No. 2/2013. Disitu dijelaskan bahwa importir
harus memiliki Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) dan
juga Surat Persetujuan Impor (SPI) serta memenuhi persyaratan yang
telah ditetapkan. (wawancara tanggal 17 April 2014)
Kemudian Ibu Tuti Asri Harini (Kasubag Perdagangan Biro Administrasi
Perekonomian Provinsi Jawa Timur) menambahkan:
Untuk teknis pemasukan hortikultura impor ke Jawa Timur sesuai
Pergub, jadi Perusahaan yang melakukan Importasi wajib
menyampaikan surat pernyataan keterangan distribusi produk impor
kepada Gubernur melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Provinsi Jawa Timur. Itu dilaksanakan paling lambat 2 (dua) hari
setelah clearence dari Bea Cukai Tanjung Perak. Untuk total
perusahaan yang telah menyerahkan surat keterangan impor sampai
saat ini (2014, pen.) berjumlah kurang lebih 214 perusahaan dengan
jumlah impor hortikultura mencapai 80.173.176 Kg dengan rincian
73.051.759 Kg untuk wilayah Jawa Timur dan 7.121.417 untuk
wilayah luar Jawa Timur. (wawancara tanggal 7 April 2014)

Dari informasi di atas dapat dipahami bahwa syarat utama untuk dapat
melakukan impor hortikultura adalah kepemilikan Rekomendasi Impor Produk
Hortikultura (RIPH) dan Surat Persetujuan Impor (SPI) yang telah terdaftar di
Kementrian Pertanian dan Kementrian Perdagangan. Dalam Peraturan Menteri
III-9

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Pertanian no. 60 tahun 2012 dijelaskan bahwa Rekomendasi Impor Produk


Hortikultura (RIPH) adalah keterangan tertulis yang diberikan oleh Menteri
Pertanian atau pejabat yang ditunjuk olehnya kepada perusahaan yang akan
melakukan impor produk hortikultura ke dalam wilayah negara Republik
Indonesia. Selanjutnya, total jumlah perusahaan atau importir yang memiliki
RIPH dan melakukan distribusi produk hortikultura impor melalui Provinsi Jawa
Timur hingga Kuartal-I 2014 mencapai 214 perusahaan. Untuk lebih jelasnya
terkait Laporan Distribusi Produk Impor Provinsi Jawa Timur Per Tanggal 1
Januari 2014 S/D 7 Mei 2014 disajikan dalam tabel berikut.

Tabel III.2 Laporan Distribusi Produk Impor Provinsi Jawa Timur


Per Tanggal 1 Januari 2014 S/D 7 Mei 2014

NO
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

KOMODITI

DALAM JAWA TIMUR


(Kg)

KONSUMSI INDUSTRI
JAGUNG
129.415
368
KC KEDELAI
695.223
384.673
BK KEDELAI
2.000.961
70.090.894
KC TANAH
1.331.319
0
KC HIJAU
32.020
0
T. TERIGU
928
1.698
TP JAGUNG
810
420.440
TP BULU
0
1.377
TP IKAN
0
1.398
IKAN
100
129
CUMI-CUMI
84
0
HORTIKULTURA 55.375.202
17.676.557
59.566.062
88.577.536
JUMLAH

TOTAL
129.783
1.079.896
72.091.855
1.331.319
32.020
2.626
421.250
1.377
1.398
229
84
73.051.759
148.143.598

TOTAL
LUAR
JATIM

JUMLAH
(Kg)

0
0
0
20
0
0
0
0
0
2.004.870
112
7.121.417
9.126.419

129.783
1.079.896
72.091.855
1.331.339
32.020
2.626
421.250
1.377
1.398
2.005.099
196
80.173.176
157.270.017

Sumber: Biro Administrasi Perekonomian Provinsi Jawa Timur, 2014

III-10

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Adapun persyaratan untuk mendapatkan Rekomendasi Impor Produk


Hortikultura (RIPH) dan Surat Persetujuan Impor (SPI), terdiri dari Persyaratan
Administrasi :
1. Produk hortikultura segar untuk konsumsi meliputi:

Foto copy IT-Produk Hortikultura dari Kementerian Perdagangan;

Foto copy Angka Pengenal Importir Umum (API-U); dan

Pernyataan tidak memasukkan produk hortikultura yang melebihi 6


(enam) bulan setelah panen.

2. Produk hortikultura segar dan olahan untuk bahan baku industri meliputi:

Surat pertimbangan teknis, lokasi industri, dan kapasitas industri dari


Kementerian Perindustrian;

Foto copy Angka Pengenal Importir Produsen (API-P).

3. Produk hortikultura olahan untuk konsumsi meliputi:

Foto copy IT-Produk Hortikultura dari Kementerian Perdagangan;

Surat persetujuan pemasukan dari Badan Pengawas Obat dan


Makanan;

Foto copy Angka Pengenal Importir Umum (API-U).

Kemudian selain harus memenuhi persyaratan administratif, ada persyaratan


Teknis yang harus dipenuhi, antara lain:
1. Keterangan registrasi kebun/lahan usaha atau sertifikat Penerapan
Budidaya yang Baik (Good Agriculture Practices/GAP) dari negara asal
(yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia);

III-11

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

2. Registrasi bangsal pascapanen (packing house) yang diterbitkan oleh


instansi yang berwenang dari negara asal (yang sudah diterjemahkan ke
dalam Bahasa Indonesia);
3. Pernyataan

memiliki

sarana

penyimpanan

dan

distribusi

produk

hortikultura yang sesuai dengan karakter dan jenis produk;


4. Pernyataan kesesuaian daya tampung gudang penyimpanan; dan
5. Keterangan

rencana

distribusi

menurut

waktu

dan

wilayah

(kabupaten/kota).
Sedangkan prosedur penerbitan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura
(RIPH) dan Surat Pernyataan Impor (SPI) adalah sebagai berikut:
1. Pemohon melakukan melalui registrasi melalui website Kementrian
Perdagangan

Republik

Indonesia

yaitu

http://www.inatrade.kemendag.go.id
2. Data yang masuk akan diverifikasi oleh Direktorat Jenderal Pengolahan
dan Pengembangan Hasil Pertanian Kementrian Pertanian Republik
Indonesia.
3. Apabila disetujui maka Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH)
akan diberikan.
4. Untuk Surat Persetujuan Impor (SPI) dikeluarkan oleh Kementrian
Perdagangan Republik Indonesia setalah mendapat persetujuan dari
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan Balai Pertanian Kementrian
Pertanian.
5. Pemohon akan diberikan RIPH dan SPI.

III-12

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam gambar di bawah ini:

Gambar III.1 Alur Penerbitan RIPH dan SPI melalui sistem Inatrade
Sumber: Kemendag, 2014

Selanjutnya, setelah importir memiliki surat Rekomendasi Impor Produk


Hortikultura (RIPH) dan Surat Pernyataan Impor (SPI) importir, untuk bisa masuk
kedalam wilayah kepabeanan Provinsi Jawa Timur, importir harus memenuhi
persyaratan berikut:
1. Perusahaan yang melakukan Importasi melalui wilayah Jawa Timur wajib
menyampaikan surat pernyataan keterangan distribusi produk impor
kepada Gubernur melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan selambat-

III-13

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

lambatnya 2 (dua) hari setelah tanggal Surat Persetujuan Pengeluaran


Barang (SPPB) yang dikeluarkan oleh Kantor Pengawasan dan Pelayanan
Bea Cukai Tipe Madya Pabean Tanjung Perak.
2. Setelah menyampaikan surat pernyataan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 5 ayat (1) importir dapat mendistribusikan komoditasnya di Wilayah
Jawa Timur dan atau di luar Wilayah Jawa Timur.

III.1.2 Pengawasan dan Pengendalian Distribusi Produk Impor


Dalam rangka pelaksanaan perlindungan konsumen perlu adanya
penanganan yang sinergis dan terkoordinasi dalam melaksanakan pengawasan
barang beredar dan jasa yang dilaksanakan secara terpadu oleh unsur instansi
terkait. Pengawasan barang beredar dilakukan terhadap produk-produk lokal
maupun produk impor, hal ini dimaksudkan untuk melindungi konsumen dalam
negeri dari praktek ilegal dan ancaman bahaya. Pengawasan barang beredar akan
menjamin kesesuaian produk dengan standar mutu yang telah ditetapkan. Dengan
standar mutu tersebut maka diharapkan bahwa konsumen tidak akan dirugikan
serta keselamatan konsumen dalam menggunakan produk tersebut akan dapat
dijamin. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Bapak Adi Utomo (Staf
Pengawasan Barang Beredar dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian
dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur) sebagai berikut:
Jadi yang dimaksud pengawasan adalah kegiatan yang dilakukan
oleh petugas pengawas untuk memastikan kesesuaian barang
dan/atau jasa dalam memenuhi standar mutu, pencantuman label,
cara menjual, pelayanan purna jual, dan kebenaran peruntukkan
distribusinya. Tindakan pengawasan dan pengendalian produk impor
itu bertujuan untuk mengawasi dan memonitoring peredaran barang

III-14

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

di pasaran mas, baik produk lokal maupun impor. Jadi kita selaku
instansi yang terkait dengan hal itu punya kewenangan untuk
melakukan pengawasan barang dipasaran. Apakah barang tersebut
sudah memenuhi syarat dan standar atau belum. Jadi aktivitas ini
kami lakukan untuk melindungi konsumen dan juga mengawasi
kemungkinan adanya produsen-produsen nakal. (wawancara
tanggal 28 April 2014)

Aktivitas pengawasan dan pengendalian Distribusi produk impor


hortikultura di Jawa Timur menjadi tanggungjawab dari Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa Timur dan dibantu oleh instansi-instansi lainnya yang
ditunjuk oleh SK Gubernur. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Bapak Eka
yaitu:
Jadi untuk masalah Pengawasan dari barang beredar termasuk
produk-produk impor itu kewenangannya ada pada Bapak Gubernur
selaku pengarah yang kemudian tugas ini didelegasikan kepada
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur melalui
Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar (TTPBB). Adapun
penetapan Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar Provinsi Jawa
Timur ditetapkan melalui Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor
188/210/KPTS/013/2011. Jadi istilahnya Disperindag itu menjadi
motor penggeraknya mas, selain itu juga dibantu oleh teman-teman
dari instansi lain sesuai kebutuhannya. (wawancara tanggal 26
Maret 2014)
Sesuai dengan Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 188/ 210
/KPTS/013/2011 Tentang Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar Di Provinsi
Jawa Timur, pelaksanaan pengawasan barang beredar di Jawa Timur ini
melibatkan beberapa instansi antara lain Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Provinsi Jawa Timur sebagai penanggung jawab, Kepolisian Daerah Jawa Timur,
Biro Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Dinas Pertanian
Provinsi Jawa Timur, Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan Surabaya,
Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi
III-15

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Jawa Timur, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jatim I, Kepala
Bidang Metrologi, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur,
Kepala Bidang Standarisasi dan Desain Produk Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa Timur sebagai anggota Tim Terpadu Pengawasan
Barang Beredar Provinsi Jawa Timur. untuk lebih jelasnya mengenai Tim Terpadu
Pengawasan Barang Beredar dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel III.3 Susunan Keanggotaan Tim Terpadu Pengawasan Barang


Beredar Provinsi Jawa Timur
No.
1.
2.

Jabatan Dalam
Tim
Pengarah
Ketua

Keterangan Jabatan/ Instansi

Gubernur Jawa Timur


Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Provinsi Jawa Timur
3.
Sekretaris
Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi
Jawa Timur
4.
Anggota
a) Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur
b) Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah
Provinsi Jawa Timur
c) Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur
d) Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan
Makanan Surabaya
e) Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur
f) Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi
Jawa Timur
g) Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea
dan Cukai Jatim I
h) Kepala Bidang Metrologi, Dinas Perindustrian
dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur
i) Kepala Bidang Standarisasi dan Desain Produk
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi
Jawa Timur
Sumber: Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 188/ 210 /KPTS/013/2011

III-16

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Dalam pelaksanaan program pengawasan dan pengendalian distribusi


produk impor di lapangan selain dibantu oleh Tim Terpadu Pengawasan Barang
Beredar Di Provinsi Jawa Timur, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi
Jawa Timur juga telah membentuk tim pengawasan internal sendiri, hal ini sesuai
dengan informasi yang disampaikan oleh Bapak Eka sebagai berikut:
Dalam program pengawasan barang dipasaran selain dibantu oleh
Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar kami juga memiliki tim
internal mas yang dibentuk oleh Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa Timur yang terdiri dari dua petugas yaitu
Petugas Pengawas Barang dan Jasa (PPBJ) dan Penyidik Pegawai
Negeri Sipil Perlindungan Konsumen (PPNS-PK). PPBJ dan PPNSPK itu melakukan pengawasan secara berkala jadi sudah terjadwal
dan itu sudah ada peraturan yang mengatur yaitu Permendag No. 20
Tahun 2009. (wawancara tanggal 26 Maret 2014)
Dasar hukum dari aktivitas pengawasan barang beredar di pasar adalah
melalui Peraturan Menteri Perdagangan No. 20 tahun 2009 tentang Ketentuan dan
Tata Cara Pengawasan Barang dan/atau Jasa. Dalam pasal 22 ayat 1 dijelaskan
bahwa Pengawasan secara berkala dilakukan terhadap barang dan/atau jasa. Hal
ini sesuai dengan hasil wawancara oleh Bapak Eka (Kasi Pengawasan Barang
Beredar dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Provinsi Jawa Timur) sebagai berikut:
Dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur
kami ada tim pengawas internal yaitu PPBJ dan PPNS-PK yang
melaksanakan program pengawasan barang baik di ritel modern
maupun pasar tradisional seminggu dua kali, jadi setiap minggu
kami pasti turun ke lapangan. Sedangkan untuk Tim Terpadu
Pengawasan Barang Beredar Provinsi Jawa Timur itu biasanya
melakukan pengawasan pada saat-saat tertentu mas, misalnya saat
ada operasi bersama menjelang puasa dan lebaran, atau mungkin saat
ada indikasi pelanggaran yang skala besar dan perlu melibatkan
beberapa instansi, seperti kemarin misalnya ada indikasi kebocoran
gula rafinasi. (wawancara tanggal 24 April 2014)

III-17

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Untuk memaksimalkan program pengawasan dan pengendalian barang,


Dinas

Perindustrian

dan

Perdagangan

Provinsi

Jawa

Timur

sebagai

penanggungjawab aktivitas pengawasan barang telah membentuk Petugas


Pengawas Barang dan Jasa (PPBJ) dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil
Perlindungan Konsumen (PPNS-PK). Anggota dari PPBJ dan PPNS-PK
merupakan Pegawai Negeri Sipil yang berada dilingkup Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa Timur. Adapun pembentukan PPBJ dan PPNS-PK ini
diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 20 Tahun 2009 tentang
Ketentuan Dan Tata Cara Pengawasan Barang dan/atau Jasa.
Dalam Pasal 1 Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 20 Tahun 2009
tentang Ketentuan Dan Tata Cara Pengawasan Barang dan/atau Jasa dijelaskan
bahwa Petugas Pengawas Barang dan Jasa (PPBJ) merupakan Pegawai Negeri
Sipil yang berada di lingkungan unit atau organisasi yang bertanggung jawab
dalam penyelenggaraan pengawasan barang dan/atau jasa atau penyelenggaraan
perlindungan konsumen di bidang perdagangan yang ditunjuk dan diangkat oleh
pejabat yang berwenang. Sedangkan Penyidik Pegawai Negeri Sipil Perlindungan
Konsumen (PPNS-PK) adalah Pejabat atau Pegawai Negeri Sipil tertentu baik
yang ada di pusat maupun daerah yang diberi wewenang khusus oleh UndangUndang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen dan telah diangkat sebagai Penyidik oleh Menteri Hukum dan HAM.
Kemudian disebutkan dalam pasal 2 bahwa ruang lingkup pengawasan meliputi:
a) Barang dan/atau jasa yang beredar di pasar;
b) Barang yang dilarang beredar di pasar;

III-18

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

c) Barang yang diatur tata niaganya;


d) Perdagangan barang-barang dalam pengawasan; dan
e) Distribusi

III.1.2.1 Proses Persiapan, Koordinasi dan Pelaksanaan Pengawasan


Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur sebagai
koordinator Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar di Jawa Timur
melaksanakan agenda pengendalian dan pengawasan terhadap produk hortikultura
impor dilingkup wilayah Provinsi Jawa Timur, dalam pelaksanaannya terdapat
tahapan-tahapan yang terdiri dari proses persiapan, perencanaan dan koordinasi
yang dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur.
Adapun proses persiapan yang dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa Timur adalah sebagai berikut:
a) Membuat rencana kerja yang terdiri dari:
Menetapkan tujuan atau lokasi yang akan dijadikan objek
pengawasan.
Menentukan produk atau komoditas yang menjadi prioritas untuk
dilakukan pengawasan.
Menetapkan jumlah merek yang akan dilakukan pengawasan.
Membuat jadwal kegiatan (tanggal, bulan dan tahun).
b) Membuat rencana anggaran.
c) Menyiapkan surat tugas yang ditandatangani oleh Kepala Unit Kerja/
Kepala Dinas.

III-19

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Dalam pasal 21 Peraturan Menteri Perdagangan R.I. Nomor: 20/MDAG/PER/5/2009 tentang Ketentuan Dan Tata Cara Pengawasan Barang dan/atau
Jasa menyatakan bahwa PPBJ dan PPNS-PK dalam melaksanakan pengawasan
dilakukan secara terbuka dan diwajibkan:
a) Mengenakan tanda pengenal pegawai;
b) Membawa surat tugas pengawasan dari Kepala Unit Kerja;
c) Mempersiapkan berita acara hasil pengawasan; dan
d) Menyusun hasil pengamatan kasat mata dalam tabel dan tabulasi hasil
uji laboratorium.
Mengenai teknis pelaksanaan perencanaan dan persiapan pengawasan
barang beredar dijelaskan oleh Bapak Eka Setyabudi (Kasi Pengawasan Barang
Beredar dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Provinsi Jawa Timur) sebagai berikut:
Sebelum melaksanakan kegiatan tugas pengawasan kami selalu
mengadakan briefing terlebih dahulu dengan mengumpulkan seluruh
anggota tim. Rapat biasanya dilakukan pagi hari jam 08.00 di kantor
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur. Disana
kami akan menjelaskan terkait informasi awal yang terkait dengan
agenda dan pemberitahuan lokasi pengawasan. Mengenai lokasi
pengawasan memang sengaja saya sampaikan pada saat rapat
tersebut, karena kami khawatir ada kebocoran informasi apabila saya
sampaikan sebelumnya. (wawancara tanggal 24 April 2014)
Dari informasi di atas dapat dipahami bahwa sebelum melaksanakan
aktivitas pengawasan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur
melakukan briefing terlebih dahulu untuk menetapkan dan menjelaskan terkait
tujuan dan sasaran pengawasan kepada anggota tim pengawasan barang. Selain itu
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur juga melakukan

III-20

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

koordinasi dengan anggota tim terpadu pengawasan barang beredar Provinsi Jawa
Timur yang terdiri dari 8 instansi terkait di Jawa Timur. Koordinasi dimaksudkan
untuk memberikan informasi mengenai kegiatan pengawasan dan pelaksanaan
tugas sesuai fungsi dan wewenang masing-masing instansi.
Hal tersebut dibenarkan oleh Bapak Gede Garina selaku Staf bagian
Perdagangan Biro Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa
Timur sekaligus Anggota Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar sebagai
berikut:
Kami dan teman-teman tim pengawasan selalu di briefing dulu
oleh Disperindag sebelum terjun ke lapangan, mereka menjelaskan
informasi-informasi yang dibutuhkan selama di lapangan, seperti
komoditas yang akan diawasi dan lokasinya. Tujuannya kan biar
nggak ada miskomunikasi nanti di lapangan. (wawancara tanggal 8
April 2014)
Selanjutnya terkait pelaksanaan pengawasan di lapangan ada tiga aktivitas
yang dilakukan:
a) Melakukan survei di lapangan dan menetapkan lokasi (pasar atau
toko) yang menjadi target pengawasan.
b) Melakukan pembelian sampel ke lokasi (pasar atau toko) yang telah
ditentukan.
c) Jumlah sampel yang dibeli sesuai dengan kebutuhan dalam rangka
pengujian di laboratorium.

III-21

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam gambar berikut:

Persiapan
Operasional

Pengambilan
Sampel

Uji Pengamatan
Kasat Mata

Analisa,
Kesimpulan dan
Rekomendasi

Tabulasi Uji Kasat


Mata dan Uji
Laboratorium

Uji Laboratorium
Mutu

Gambar III.2 Mekanisme Prosedur Teknis Pengawasan


Sumber: Disperindag Jatim, 2014

Selain melaksanakan aktivitas pengendalian dan pengawasan secara


langsung di lapangan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur
juga berusaha mengajak masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam rangka
mengawasi peredaran barang dipasaran melalui call center milik Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur. Sebagaimana yang
disampaikan oleh Bapak Adi Utomo selaku Staf Pengawasan Barang Beredar dan
Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa
Timur sebagai berikut:
Selain kami terjun langsung di lapangan, kami juga telah
membuka call center 24 jam untuk pengaduan masyarakat mengenai
pengawasan barang beredar. Jadi kami berusaha untuk meningkatkan
partisipasi masyarakat dalam rangka ikut membantu pemerintah
mengawasi barang beredar dipasaran. Call center yang bisa
dihubungi yaitu 031-8421444 dan 081232956044. (wawancara
tanggal 29 April 2014)

III-22

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Dari informasi di atas dapat dipahami bahwa untuk meningkatkan efektifitas


dan memaksimalkan program pengawasan dan pengendalian barang, Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur berusaha mengajak
partisipasi masyarakat untuk berperan aktif dalam melakukan pengawasan barang
beredar dengan membuka call center milik Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Provinsi Jawa Timur. Mengingat jumlah pelaksana kebijakan yang terbatas
dengan lingkup pengawasan yang meliputi seluruh wilayah Provinsi Jawa Timur,
tentu kebijakan ini tidak akan berjalan dengan efektif tanpa peran serta
masyarakat. Melalui call center tersebut masyarakat dapat melaporkan dan
mengadukan apabila terdapat indikasi pelanggaran atau segala sesuatu yang bisa
merugikan konsumen. Hal ini sesuai dengan pasal 3 ayat 1 Peraturan Menteri
Perdagangan Nomor 20 Tahun 2009 tentang Ketentuan Dan Tata Cara
Pengawasan Barang dan/atau Jasa yang menjelaskan bahwa masyarakat berhak
mengawasi barang dan/atau jasa yang beredar di pasar.

III.1.2.2 Tahap Pelaporan Hasil dan Penyidikan


Tahapan selanjutnya setelah proses persiapan, koordinasi dan pelaksanaan
pengawasan adalah tahap pelaporan hasil. Tahap ini adalah merupakan tahap yang
dilakukan setelah aktivitas pengawasan di lapangan. Dalam tahap ini aktivitas
yang dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur
dan Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar antara lain:
a) Melakukan pengkodean terhadap sampel yang telah dibeli.
b) Melakukan pengamatan kasat mata terhadap sampel yang telah dibeli.

III-23

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

c) Melakukan pengiriman sampel ke laboratorium yang terakreditasi atau


laboratorium yang ditunjuk, apabila barang tersebut membutuhkan
pengujian.
d) Membuat tabulasi pengamatan kasat mata.
e) Membuat analisa pengujian laboratorium.
f) Membuat laporan akhir ke Kepala Unit Kerja (KUK).
Mengenai proses pelaporan hasil pengawasan barang beredar dijelaskan
oleh Bapak Eka Setyabudi (Kasi Pengawasan Barang Beredar dan Perlindungan
Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur) sebagai
berikut:
Setelah melakukan pengawasan barang beredar, apabila
ditemukan barang atau produk yang perlu diuji ya kami uji
dilaboratorium. Kemudian hasilnya nanti kami jadikan bahan
laporan terkait hasil dari program pengawasan ini kepada Kepala
Unit Kerja, dalam hal ini adalah Pak Kadisperindag Jatim. Laporan
tersebut memuat mengenai berita acara pengawasan yang telah kami
lakukan. (wawancara tanggal 24 April 2014)
Hasil laporan pengawasan barang beredar pada Tahun 2012 yang dirilis oleh
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur menunjukkan selama
tahun 2012 terdapat 101 temuan terkait pelanggaran persyaratan dan standar mutu
yang telah ditentukan oleh pemerintah, 3 diantaranya terkait dengan produk
hortikultura impor. Kemudian hasil pengawasan barang beredar pada tahun 2013
menunjukkan angka peningkatan yang cukup signifikan dibanding tahun 2012.
Pada tahun 2013 ditemukan 141 pelanggaran persyaratan dan standar mutu yang
42 diantaranya merupakan komoditas hortikultura. Untuk lebih jelasnya akan
disajikan dalam tabel di bawah.

III-24

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Tabel III.4 Laporan Hasil Pengawasan Barang Beredar Komoditas Hortikultura Selama 2012-2013
TANGGAL
20 Desember 2012

TEMPAT
Superindo Delta Plaza

27 Desember 2012
06 Februari 2013

Giant Pondok Candra


Hero Lenmarc Surabaya

07 Februari 2013

Hokky Supermarket
Hypermart Pakuwon
Giant Tegalsari
Hero Supermarket
Total Buah Segar

13 Maret 2013

Giant Diponegoro

15 Maret 2013

Gudang CV. Bumi Jaya


Gudang PT. Angrimax Indah Indonesia
Hero Taman Pinang Sidoarjo

20 Maret 2013

KOMODITAS
Pepaya California
Sweet Tamarind (Asam)
Wortel
Mangga Bangkok
Anggur
Jeruk Lokam
Jeruk Santang
Markisa
Jamur Shimeji & Enoki
Kentang Honesty
Jamur impor Cina
Jamur Enoki impor Cina
Jeruk impor Rainbow
Jamur Enoki
Jamur impor Enoki
Asem impor Thailand
Buah-buahan
Jamur Enoki Korea
Wortel impor
Ubi Mori ungu
Bawang Putih impor Cina
Bawang Putih impor Cina
Asinan Sawi Pickled Sour

HASIL PENGAWASAN
Banyak bagian yang rusak
Label belum berbahasa Indonesia
Sudah banyak berjamur
Sudah layu
Sudah berjamur
Sudah rusak
Sudah rusak
Sudah rusak
Label belum berbahasa Indonesia
Label belum berbahasa Indonesia
Label belum berbahasa Indonesia
Label belum berbahasa Indonesia
Sudah busuk
Label belum berbahasa Indonesia
Label belum berbahasa Indonesia
Label belum berbahasa Indonesia
dan tidak terdaftar
Beberapa tidak layak jual
Label belum berbahasa Indonesia
Sudah tumbuh tunas
Sudah tumbuh tunas
2 kontainer dibongkar
2 kontainer dibongkar
Label belum berbahasa Indonesia

Bersambung.....
III-25

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

TANGGAL

TEMPAT

16 Mei 2013

PT. Karunia Alam Segar Gresik

24 Juni 2013
26 Juni 2013

Hypermart Royal Plaza


Hypermart Lippo Plaza

10 Desember 2013

Hypermart Ciputra

Carrefour Golden City

12 Desember 2013
13 Desember 2013

Superindo Wadungasri
Pasar Genteng Surabaya
Hero Tunjungan Plaza

KOMODITAS
Wortel Impor
Bawang Merah impor Cina
Bawang Putih impor Cina
Buah Peach impor USA
Apel Fuji RRC
Sweet Pear
Apel Red USA
Jamur Tiram
Jamur Shimeji
Asam Thailand
Asam Thailand
Apel
Pear
Buah dan Sayur
Pangan
Segar
Asal
Tumbuhan
Asam Thailand
Makanan kaleng impor
Spear Asparagus
Pangan
Segar
Asal
Tumbuhan (kacang merah)

HASIL PENGAWASAN
Tumbuh Tunas
Masuk gudang
Masuk gudang
Kondisi rusak/ tidak layak
Kandungan berbahaya
Kandungan berbahaya
Kandungan berbahaya
Sterofoam rusak
Label belum berbahasa Indonesia
Label belum berbahasa Indonesia
Label belum berbahasa Indonesia
Sudah busuk/ tidak layak
Sudah busuk/ tidak layak
Beberapa berjamur
Label belum terdaftar
Label belum berbahasa Indonesia
Penyok dan kadaluarsa
Kaleng Penyok
Label belum terdaftar

Sumber: Disperindag Jatim, 2014

III-26

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Kemudian apabila dari hasil laporan dan uji laboratorium ditemukan


pelanggaran atau indikasi tindak pidana, maka tim pengawas PPNS-PK Dinas
Perindustrian dan perdagangan Provinsi Jawa Timur memiliki wewenang untuk
melakukan tindakan penyidikan terkait penemuan

pelanggaran tersebut.

Penyidikan merupakan serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara
yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan untuk mencari serta
mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di
bidang perlindungan konsumen guna menemukan tersangkanya. Dalam hal ini
PPNS-PK akan berkoordinasi dengan Tim penyidik dari Kepolisian Daerah Jawa
Timur. Secara rinci koordinasi pelaksanaan penyidikan dijelaskan dalam Gambar
III.3 di bawah.

III-27

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Tindak Pidana Bidang


Perlindungan Konsumen

Penemuan/ Pengaduan
Dugaan Tindak Pidana

Penyidik

Penyidik
Koordinasi

PPNS-PK

POLDA

Dikedepankan
PPNS-PK

POLRI Mem-back up sebagai


Wujud Fungsi Korwas

Gambar III.3 Koordinasi Pelaksanaan Penyidikan


Sumber: Disperindag, 2014

Secara lebih spesifik terkait dengan tindakan penyidikan oleh PPNS-PK


dijelaskan dalam pasal 59 UU. No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
bahwa dalam tahap penyidikan selain Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia,
Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu dilingkungan instansi pemerintah yang
lingkup tugas dan tanggung jawabnya dibidang perlindungan konsumen juga
diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undangundang Hukum Acara Pidana yang berlaku. Penyidik Pejabat Pegawai Negeri
Sipil berwenang:

III-28

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

a) Melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan


berkenaan dengan tindak pidana di bidang perlindungan konsumen;
b) Melakukan pemeriksaan terhadap orang lain atau badan hukum yang
diduga melakukan tindak pidana dibidang perlindungan konsumen;
c) Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan hukum
sehubungan dengan peristiwa tindak pidana dibidang perlindungan
konsumen;
d) Melakukan pemeriksaan atas pembukuan, catatan, dan dokumen lain
berkenaan dengan tindak pidana di bidang perlindungan konsumen;
e) Melakukan pemeriksaan ditempat tertentu yang diduga terdapat bahan
bukti serta melakukan penyitaan terhadap barang hasil pelanggaran yang
dapat dijadikan bukti dalam perkara tindak pidana di bidang perlindungan
konsumen.
f) Meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak
pidana dibidang perlindungan konsumen.

III.1.2.3 Penarikan Barang dan Sanksi


Penarikan barang merupakan tahapan dalam aktivitas pengawasan dan
pengendalian barang yang dilakukan setelah dilakukan proses pengamatan, uji
laboratorium dan pengecekan ulang terhadap barang yang diawasi. Penarikan
barang sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 20
Tahun 2009 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pengawasan Barang dan/atau Jasa
dapat dilakukan setelah memenuhi kriteria berikut:

III-29

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

a) Membahayakan keselamatan, keamanan, kesehatan konsumen, atau


lingkungan hidup;
b) Merugikan konsumen atau mengakibatkan terjadinya korban;
c) Tidak sesuai dengan persyaratan yang telah diberlakukan SNI wajib;
d) Tidak sesuai dengan SNI yang diterapkan oleh pelaku usaha; atau
e) Tidak sesuai dengan persyaratan teknis lain yang diberlakukan wajib oleh
instansi teknis yang berwenang.
Perintah penarikan barang dilakukan oleh instansi berwenang yaitu Dinas
Perindustrian dan Perdagangan dilakukan setelah dikoordinasikan dengan
unit/instansi teknis terkait. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Bapak
Eka Setyabudi (Kasi Pengawasan Barang Beredar dan Perlindungan Konsumen
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur) sebagai berikut:
Untuk penarikan barang di Jawa Timur itu dilakukan oleh instansi
berwenang yaitu Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa
Timur setelah dikoordinasikan dengan instansi-instansi terkait
lainnya. Sedangkan untuk barang yang membahayakan keselamatan
dan keamanan konsumen itu juga dapat dilakukan oleh Menteri
terkait dalam hal ini Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam
Negeri. (wawancara tanggal 28 April 2014)
Kemudian setelah dilakukan penarikan barang beredar dari pasaran, Kepala
Unit Kerja di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur dapat
mempublikasikan barang yang ditarik dari peredaran kepada masyarakat untuk
menghindari terjadinya kerugian atau korban. Publikasi tersebut diharapkan
mampu memberikan informasi kepada masyarakat dan sebagai pertimbangan
konsumen dalam memilih barang yang akan dibeli. Hal itu merupakan salah satu
bentuk tanggungjawab dari Pemerintah dalam melindungi konsumen sebagaimana

III-30

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

yang diatur dalam undang-undang. Untuk lebih jelasnya terkait dengan


mekanisme penarikan barang dapat dilihat dalam gambar di bawah.

MENTERI

PELAKU USAHA
Untuk Menarik Barang dari
Peredaran Jika Terbukti:

DIRJEN

1. Membahayakan keselamatan,
keamanan,

STNADARDISASI &

kesehatan

PERLINDUNGAN

konsumen atau lingkungan.

KONSUMEN

2. Merugikan konsumen atau


mengakibatkan jatuh korban.

Memerintahkan

3. Tidak

sesuai

persyaratan

yang telah diberlakukan SNI.


4. Tidak sesuai dengan SNI
Pengujian di Laboratorium

yang diterapkan oleh pelaku

yang Terakreditasi

usaha.
5. Tidak
yang

sesuai

persyaratan

ditentukan

instansi

teknis berwenang.

Gambar III.4 Mekanisme Penarikan Barang


Sumber: Disperindag, 2014

Selanjutnya, terkait dengan sanksi dalam aktivitas pengawasan dan


pengendalian distribusi produk. Ada 2 macam sanksi terhadap pelanggaran
kebijakan ini yaitu :
1) Sanksi Administrasi

III-31

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Pejabat yang berwenang menerapkan sanksi Administrasi, Menteri atau


pejabat yang ditunjuk menyampaikan rekomendasi pencabutan perizinan
teknis kepada instansi terkait/pejabat berwenang untuk menerapkan sanksi
administrasi berupa :
a. Pencabutan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) oleh pejabat
penerbit SIUP; atau
b. Pencabutan perizinan teknis lainnya oleh pejabat berwenang yang
dilakukan setelah diberikan peringatan tertulis sebanyak 3 (tiga) kali
berturut-turut dengan tenggang waktu masing-masing 7 (tujuh) hari
kalender.
2) Sanksi Pidana
Selain sanksi administratif, terdapat pula sanksi pidana yang akan
dijatuhkan sanksi pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana
denda paling banyak Rp 2.000.000.000,00 (dua milyar rupiah) kepada
Pelaku usaha yang melanggar ketentuan dalam UU. No. 8 tahun 1999
tentang Perlindungan Konsumen berikut:

Pelanggaran Pasal 8

Pelanggaran Pasal 9

Pelanggaran Pasal 10

Pelanggaran Pasal 13 ayat (2)

Pelanggaran Pasal 15

Pelanggaran Pasal 17 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c, huruf e,


ayat (2)

III-32

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Pelanggaran Pasal 18
Kemudian sanksi pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau

pidana denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)


dijatuhkan kepada Pelaku usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam UU. No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
berikut:

Pelanggaran Pasal 11

Pelanggaran Pasal 12

Pelanggaran Pasal 13 ayat (1)

Pelanggaran Pasal 14

Pelanggaran Pasal 16

Pelanggaran Pasal 17 ayat (1) huruf d dan huruf f

Kemudian terhadap pelanggaran yang mengakibatkan luka berat,


sakit berat, cacat tetap atau kematian diberlakukan ketentuan pidana yang
berlaku. Terhadap sanksi pidana sebagaimana dimaksud dapat dijatuhkan
hukuman tambahan, berupa:
a) Perampasan barang tertentu;
b) Pengumuman keputusan hakim;
c) Pembayaran ganti rugi;
d) Perintah penghentian kegiatan tertentu yang menyebabkan
timbulnya kerugian konsumen;
e) Kewajiban penarikan barang dari peredaran; atau

III-33

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

f) Pencabutan izin usaha.


Pemberian sanksi terhadap pelanggaran kebijakan ini pun belum
sepenuhnya dijatuhkan sanksi secara pidana. Sanksi yang dijatuhkan kepada
pelanggar kebanyakan berupa sanksi administratif. Seperti halnya sanksi yang
dijatuhkan terkait dengan produk hortikultura adalah berupa pemusnahan atau
pembakaran. Hal ini sesuai dengan informasi yang diberikan oleh Bapak Adi
Utomo selaku Staf Pengawasan Barang Beredar dan Perlindungan Konsumen
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur sebagai berikut:
Sayangnya untuk sanksi yang diberikan selama ini itu hanya
berupa sanksi administratif mas, jadi kebanyakan hanya berupa
penarikan barang atau pencabutan izin usaha saja. Kalo untuk
hortikultura ya berupa pemusnahan atau pembakaran. Menurut saya,
untuk sanksi kalo cuma dicabut izinnya kan bisa jadi nanti daftar lagi
dengan nama yang baru. Beda kalo dengan sanksi pidana.
(wawancara tanggal 28 April 2014)
Dari informasi di atas dapat dipahami bahwa selama ini sanksi yang
diberikan kepada pelanggar kebijakan distribusi produk impor hanya sebatas
sanksi administratif saja berupa pencabutan izin usaha dan Pencabutan perizinan
teknis lainnya oleh pejabat berwenang. Sehingga pelaksana kebijakan merasa
bahwa sanksi yang diberikan belum efektif untuk membuat jera para pelanggar.
Diharapkan adanya sanksi yang tegas mampu memberikan efek jera kepada
pelanggar dan juga sebagai upaya agar kebijakan ini bisa berjalan dengan baik dan
lancar.

III-34

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

III.1.2.4 Evaluasi Pengendalian dan Pengawasan Distribusi Impor


Setelah melaksanakan tahapan-tahapan dalam kebijakan pengendalian dan
pengawasan produk impor hortikultura. Pelaksana kebijakan memiliki kewajiban
untuk melakukan evaluasi terkait hasil dari program pengawasan yang telah
dilaksanakan. Evaluasi kebijakan dalam perspektif alur proses/siklus kebijakan
publik, menempati posisi terakhir setelah implementasi kebijakan, sehingga sudah
sewajarnya jika kebijakan publik yang telah dibuat dan dilaksanakan lalu
dievaluasi. Dari evaluasi akan diketahui keberhasilan atau kegagalan sebuah
kebijakan, sehingga secara normatif akan diperoleh rekomendasi apakah
kebijakan dapat dilanjutkan; atau perlu perbaikan sebelum dilanjutkan, atau
bahkan harus dihentikan.
Dalam kebijakan pengendalian distribusi produk impor ini, evaluasi terkait
hasil dari pelaksanaan pengawasan peredaran dan monitoring juga dilakukan oleh
Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar. Hal ini sebagaimana yang
disampaikan oleh Bapak Eka Setyabudi S.H., M.M selaku Kasi Pengawasan
Barang Beredar dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa Timur sebagai berikut:
Jadi setelah melakukan aktivitas pelaksanaan pengawasan
peredaran dan monitoring di pasaran, kami harus membuat laporan
berupa berita acara pengawasan kepada Kepala Unit Kerja dalam hal
ini Bapak Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Kemudian
hasilnya nanti akan dilaporkan kepada Bapak Gubernur Jatim
sebagai bahan saran pertimbangan kepada pemerintah pusat.
(wawancara tanggal 24 April 2014)

III-35

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Hal ini diperkuat dengan pernyataan dari Ibu Tuti Asri Harini selaku
Kasubag Perdagangan Biro Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah
Provinsi Jawa Timur sebagai berikut:
Evaluasi harus ada setidaknya setiap setahun sekali atau dua kali.
Kemudian dari hasil evaluasi tersebut kita mengusulkan atau
menginformasikan saja ke pusat bahwa importir ini kurang bagus,
importir ini bagus dan seterusnya. Istilahnya sebagai bahan
pengambilan kebijakan di Kementrian pusat dalam menetapkan
persetujuan impor. (wawancara tanggal 7 April 2014)
Dari kedua hasil wawancara di atas dapat dipahami bahwa evaluasi
kebijakan pengendalian dan pengawasan produk impor merupakan aspek yang
sangat penting, karena dari hasil evaluasi tersebut akan diketahui mengenai
keberhasilan atau kegagalan sebuah kebijakan. Selain itu, hasil dari evaluasi ini
juga akan menjadi bahan kajian atau rekomendasi untuk pemerintah pusat dalam
menetapkan kebijakan pemberian Surat Persetujuan Impor (SPI) sehingga bisa
menjadi bahan pertimbangan pemerintah pusat untuk melihat track record
importir sebelum memberikan Surat Persetujuan Impor (SPI).

III.2 Sasaran Kebijakan, Sumberdaya, Struktur Birokrasi, Komunikasi,


Disposisi, Kondisi Ekonomi dan Politik, Karakteristik Kebijakan Dan
Respon Obyek Kebijakan
III.2.1 Sasaran Kebijakan
Dalam pelaksanaan kebijakan pengawasan dan pengendalian distribusi
produk impor di Jawa Timur tentunya ada sasaran kebijakan yang telah ditetapkan
sebelumnya. Sasaran kebijakan digunakan untuk mengetahui aktor-aktor yang
menjadi objek kebijakan dan juga berfungsi agar kebijakan tersebut efektif dan
III-36

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

tidak salah sasaran. Sasaran juga merupakan penjabaran dari misi dan tujuan yang
telah ditetapkan. Sasaran kebijakan juga menjelaskan objek-objek kebijakan yang
akan dikenai program yang telah dijabarkan lebih lanjut dalam suatu rencana
kinerja (performance plan) secara langsung. Penetapan sasaran diperlukan untuk
memberikan fokus pada penyusunan rencana kinerja dan alokasi sumber daya
organisasi dalam kegiatan/operasional tiap-tiap tahun.
Untuk dapat mengetahui terkait dengan sasaran kebijakan pada
pelaksanaan kebijakan pengendalian distribusi produk impor hortikultura ini, akan
dijelaskan oleh Ibu Ninik Margirini (Kasi impor Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa Timur) sebagai berikut:
Sasaran dari kebijakan pengendalian distribusi produk impor
hortikultura ini tentu saja para importir hortikultura yang
memasukkan barangnya melalui Jawa Timur. (wawancara tanggal
17 April 2014)
Hal ini diperkuat dengan informasi yang diberikan oleh Bapak Eka
Setyabudi S.H., M.M selaku Kasi Pengawasan Barang Beredar dan Perlindungan
Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur sebagai
berikut:
Target atau sasaran dari kebijakan ini adalah semua pelaku usaha
dalam hal ini adalah importir hortikultura, kemudian pedagang besar
terutama ritel modern dan juga pasar tradisional. (wawancara
tanggal 28 April 2014)
Senada dengan pendapat di atas disampaikan oleh Bapak Gede Garina
selaku staf bagian Perdagangan Biro Administrasi Perekonomian Sekretariat
Daerah Provinsi Jawa Timur sebagai berikut:

III-37

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Ya pasti semua importir yang masuk di Jawa Timur, meskipun


nanti didistribusikan di Jawa Timur maupun diluar Jawa Timur.
(wawancara tanggal 27 April 2014)
Dari uraian wawancara di atas dapat dipahami bahwa sasaran dari
kebijakan pengendalian distribusi produk impor hortikultura ini adalah para
pelaku usaha dibidang impor hortikultura yang masuk melalui wilayah
kepabeanan Provinsi Jawa Timur, kemudian para pedagang besar di ritel dan
supermarket seperti: Giant, Hero, Hokky, Super Indo, Hypermart, Carrefour serta
para pedagang kecil yang ada dipasar tradisional. Kemudian hasil rekapitulasi dari
sasaran kebijakan dijelaskan dalam tabel di bawah.

Tabel III.5 Rekapitulasi Hasil Pengumpulan Data tentang Sasaran


Kebijakan
Sasaran Kebijakan
Dinas Perindustrian dan
Biro Administrasi
Perdagangan Provinsi
Perekonomian Provinsi
Jawa Timur
Jawa Timur
Adanya
sasaran
dari Ada, yaitu para pelaku Ada, yaitu para pelaku
Kebijakan Pengendalian usaha dibidang impor usaha dibidang impor
distribusi Produk Impor hortikultura,
para hortikultura yang masuk
Hortikultura
pedagang besar ritel dan kedalam wilayah Jawa
supermarket serta para Timur.
pedagang kecil yang ada
dipasar tradisional.

Sumber: Diolah dari hasil pengumpulan data

III.2.2 Sumberdaya
III.2.2.1 Sumberdaya Administrasi/Staf
Dalam melaksanakan sebuah kebijakan, diperlukan pelaksana dalam
menjalankan tugas serta tanggungjawab yang berhubungan dengan kebijakan

III-38

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

tersebut. Demikian pula dengan kebijakan pengendalian distribusi produk impor


hortikultura di Jawa Timur ini, memerlukan staf pelaksana untuk menjalankan
segala hal yang berkaitan dengan aktivitas pengawasan dan pengendalian. Pihak
pelaksana

sekaligus

yang

menjadi

penanggungjawab

dalam

kebijakan

pengawasan dan pengendalian distribusi produk impor di Jawa Timur adalah


Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur dan dibantu oleh
instansi-instansi terkait yang tergabung dalam Tim Terpadu Pengawasan Barang
Beredar Di Provinsi Jawa Timur.
Sumberdaya administrasi dalam implementasi kebijakan pengawasan dan
pengendalian distribusi produk impor di Jawa Timur ini dilihat dari dua hal.
Pertama, terkait dengan kecukupan jumlah (kuantitas) staf dan kedua terkait
dengan kecukupan kualitas yang menyangkut kemampuan serta kompetensi para
staf dalam melaksanakan aktivitas yang terkait dengan kebijakan pengawasan dan
pengendalian distribusi produk impor di Jawa Timur.
Kecukupan jumlah (kuantitas) dan kualitas staf
Pelaksanaan kebijakan pengawasan dan pengendalian distribusi produk
impor di Jawa Timur ini tentu memerlukan staf atau pelaksana dengan jumlah
tertentu dan kompetensi yang dibutuhkan dalam menjalankan tugas sesuai yang
telah ditentukan dalam keputusan kebijakan. Staf pelaksana pada Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur dijelaskan dalam petikan
wawancara Bapak Eka sebagai berikut:
Pelaksana yang terlibat dalam program pengawasan dan
pengendalian distribusi produk impor ini terdiri dari berbagai macam
instansi mas, kurang lebih ada tujuh instansi terkait. Kalau dari
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur itu dari

III-39

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

seksi pengawasan barang beredar dan perlindungan konsumen. Total


dari semua anggotanya ada 8 orang termasuk saya. 8 orang tersebut
terdiri dari PPBJ dan PPNS-PK. (wawancara tanggal 24 April
2014)
Dari penuturan Bapak Eka di atas dapat dipahami bahwa staf pelaksana di
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur terdiri dari 8 orang
yang berasal dari PPBJ dan PPNS-PK. Untuk lebih jelasnya mengenai nama-nama
anggota Petugas Pengawas Barang dan Jasa (PPBJ) dan Penyidik Pegawai Negeri
Sipil Perlindungan Konsumen (PPNS-PK) di lingkungan Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa Timur dapat dilihat dari tabel berikut ini:

Tabel III.6 Susunan Anggota PPNS-PK dan PPBJ


Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Nama
Bapak Eka Setyabudi
Ibu Endang
Bapak Rutadi
Bapak Sugiono
Bapak Adi Utomo
Bapak Pitaya
Bapak Bambang
Ibu Anis

Jabatan
Petugas Pengawas Barang dan Jasa (PPBJ) dan
Penyidik Pegawai Negeri Sipil Perlindungan
Konsumen (PPNS-PK)
Petugas Pengawas Barang dan Jasa (PPBJ)
Anggota Pengawas Disperindag

Sumber: Disperindag, 2014

Menurut Bapak Adi Utomo selaku Staf Pengawasan Barang Beredar dan
Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa
Timur mengemukakan pendapatnya mengenai ketidaksesuaian antara jumlah staf
dengan tugas yang harus dilakukan terkait dengan kebijakan pengawasan dan
pengendalian produk impor:

III-40

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Kalo untuk personil saya rasa belum cukup sih mas, soalnya dari
Disperindag sendiri hanya 8 orang padahal lingkup yang harus
diawasi itu luas sekali, se-jawa timur lho mas. Jadi menurut saya
untuk masalah jumlah memang belum memadai. Namun untuk
masalah kualitas sudah mencukupi karena kami ada sertifikasinya
mas. (wawancara tanggal 28 April 2014)
Hal demikian juga dikemukakan oleh Bapak Eka:
Nah untuk jumlah personil terkait tugas kami di Disperindag ini
memang kurang memadai mas, Cuma 8 orang lho, coba bayangkan
kita harus mengawasi produk-produk dan keliling di 38
Kota/Kabupaten se-Jawa Timur mas. Jadi kalo bisa ya ditambah lagi.
Begitu pula yang ada di Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar
Di Provinsi Jawa Timur saya rasa kuantitasnya juga kurang namun
secara kualitas sudah memadai karena terdiri dari berbagai instansi
yang memiliki ahli-ahli dari berbagai bidang. (wawancara tanggal
24 April 2014)
Dari informasi di atas dapat dipahami bahwa kondisi mengenai kecukupan
jumlah (kuantitas) staf di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa
Timur yang menjadi motor penggerak dari aktivitas pengawasan dan pengendalian
produk impor mengalami kekurangan staf pelaksana, utamanya saat mengadakan
inspeksi pengawasan di lapangan. Namun, dalam perihal kualitas di

Dinas

Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur tidak ditemukan masalah


karena staf yang ada sudah memiliki kualitas sesuai kriteria yang dibutuhkan,
selain itu setiap anggota PPBJ dan PPNS-PK juga memiliki sertifikat terkait
kompetensi mereka.
Hal berbeda terkait masalah kecukupan terkait jumlah staf pelaksana tidak
ditemukan masalah dari pihak Biro Administrasi Perekonomian Provinsi Jawa
Timur. Hal ini sesuai dengan informasi yang diberikan oleh Ibu Tuti Asri Harini
selaku Kasubag Perdagangan Biro Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah
Provinsi Jawa Timur:
III-41

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Kalo dari kami di Biro Administrasi Perekonomian untuk staf


terkait pengawasan dan pengendalian produk impor saya rasa sudah
cukup ya mas. Kami sudah bagi tugas masing-masing kepada staf
saya, ada yang bagian entry data dan juga ada yang bagian lapangan
kalo memang diperlukan oleh Tim Terpadu Pengawasan Barang
Beredar Provinsi Jawa Timur. Kalo masalah kualitas juga tidak ada
masalah sih, soalnya sudah sering ada pelatihan dan salah satu staf
saya juga ada yang lulusan IPDN mas. (wawancara tanggal 7 April
2014)
Hal tersebut juga diungkapkan oleh Ibu Risang Dwi Rahayu selaku staf
bagian Perdagangan Biro Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi
Jawa Timur:
Kami disini selaku staf menurut kami sudah cukup untuk masalah
jumlah staf, mereka juga sudah punya tugas masing-masing. Dari
pimpinan juga sudah banyak membekali kami dengan pengetahuanpengetahuan dan kebutuhan kerja terkait pekerjaan kami. Jadi, meski
tidak ada bu Tuti insya Allah kami sudah mampu mengerjakan
tugas-tugas disini. (wawancara tanggal 7 April 2014)
Dari penuturan Ibu Risang di atas dapat dipahami bahwa untuk masalah
kuantitas staf di Biro Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi
Jawa Timur dianggap sudah sesuai dengan kebutuhan. Begitu pula dari segi
kualitasnya juga sudah memadai, mayoritas sumberdaya staf di Biro Administrasi
Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur memiliki tingkat
pendidikan minimal jenjang sarjana (S1). Untuk lebih jelasnya mengenai staf di
lingkungan Biro Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa
Timur dapat dilihat dari tabel berikut ini:

III-42

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Tabel III.7 Susunan Staf Bagian Perdagangan Biro Administrasi


Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur
No.
1.
2.
3.
4.
5.

Nama
Ibu Tuti Asri Harini
Bapak Gede Garina, S.E
Bapak M. Devis Susandika, S.STP
Ibu Dra. Risang Dwi Rahayu
Ibu Usniyah, S.Sos.

Jabatan
Kasubag Perdagangan
Staf Bagian Perdagangan

Sumber: Biro Administrasi Perekonomian Provinsi Jawa Timur, 2014

Dari pernyataan-pernyataan di atas dapat dipahami bahwa untuk


sumberdaya administrasi terjadi perbedaan terkait kuantitas di Dinas Perindustrian
dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur dan Biro Administrasi Perekonomian
Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur. Namun terkait dengan kualitas
sumberdaya administrasi tidak terdapat perbedaan antara keduanya, kualitas
sumberdaya administrasi dikedua instansi dianggap sudah cukup memadai untuk
melaksanakan kebijakan terkait pengendalian dan pengawasan distribusi produk
impor di Jawa Timur.
Maka berdasarkan hasil pengumpulan data yang dilakukan, sumberdaya
staf dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur dan Biro
Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur diperjelas
melalui tabel di bawah ini:

III-43

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Tabel III.8 Rekapitulasi Hasil Pengumpulan Data tentang


Sumberdaya Staf
Sumberdaya Administrasi
Dinas Perindustrian dan
Biro Administrasi
Perdagangan Provinsi
Perekonomian Provinsi
Jawa Timur
Jawa Timur
Kecukupan
kuantitas Kurang Memadai
Tersedia
staf
(jumlah) Sumberdaya Staf
dalam
jumlah
yang cukup
Kecukupan
kualitas Cukup Memadai
Cukup Memadai
(kemampuan)
Sumberdaya Staf
Sumber: Diolah dari hasil pengumpulan data

III.2.2.2 Sumberdaya Kewenangan


Dalam pelaksanaan kebijakan pengawasan dan pengendalian distribusi
produk impor di Jawa Timur tentunya para aparat pelaksana kebijakan harus
dibekali dengan wewenang dalam pengambilan keputusan, karena tanggungjawab
dan tugas tersebut tidak akan efektif jika para pelaksana tidak dibekali wewenang
dalam mengambil keputusan yang diperlukan guna menyelesaikan tugas yang
dilaksanakan. Kewenangan juga diperlukan dalam pelaksanaan kebijakan guna
menciptakan modifikasi dan inovasi kebijakan karena para aparat tersebut yang
langsung berhadapan dengan kelompok sasaran serta mampu mengetahui apa
yang sebaiknya mereka lakukan.
Kewenangan menyangkut pelimpahan tanggungjawab terkait kebijakan
pengawasan dan pengendalian distribusi produk impor yang dimiliki oleh Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur. Wewenang ini merupakan
limpahan tanggungjawab yang dimiliki oleh para pelaksana lainnya termasuk

III-44

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

yang tergabung dalam Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar Provinsi Jawa
Timur.
Kecukupan wewenang para pelaksana
Dalam rangka menjalankan tugas dan tanggungjawabnya masing-masing
pelaksana kebijakan harus memiliki wewenang agar dapat menjalankan tugas
sesuai perannya. Sebagai instansi yang mengurusi masalah perdagangan, Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur memiliki kewenangan dalam
hal mengawasi dan mengendalikan distribusi produk impor yang masuk melalui
wilayah Jawa Timur. Kewenangan terkait masalah ini termuat dalam Peraturan
Menteri Perdagangan Nomor 20 Tahun 2009 Tentang Ketentuan dan Tata Cara
Pengawasan Barang dan/atau Jasa, juga dalam Peraturan Gubernur No. 2 tahun
2013 tentang pengendalian distribusi produk impor di Jawa Timur dan juga
melalui Keputusan Gubernur Nomor 188/ 210 /KPTS/ 013/2011 Tentang Tim
Terpadu Pengawasan Barang Beredar Di Provinsi Jawa Timur. Dalam Keputusan
Gubernur Nomor 188/ 210 /KPTS/ 013/2011, Kepala Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa Timur ditunjuk sebagai ketua dari Tim Terpadu
Pengawasan Barang Beredar Provinsi Jawa Timur. Wewenang tersebut
diungkapkan oleh Ibu Ninik Margirini, S.S (Kasi Impor Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa Timur) sebagai berikut:
Dalam kebijakan pengendalian distribusi produk impor di
Disperindag ini kan ada 2 bidang yang menangani, satu Bidang
Perdagangan internasional yaitu saya dan satu lagi Bidang
Perdagangan Dalam Negeri yaitu Pak Eka selaku Kasi Pengawasan
Barang Beredar dan Perlindungan Konsumen. Kalo tugas dan
wewenang saya itu antara lain: membuat bahan perencanaan
program kegiatan pengendalian impor, verifikasi barang impor dan

III-45

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

bahan penerbitan rekomendasi/persetujuan impor. (wawancara


tanggal 17 April 2014)

Kemudian Bapak Eka Kasi Pengawasan Barang Beredar dan Perlindungan


Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur sekaligus
sebagai Koordinator Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar menambahkan
informasi sebagai berikut:
Kalo kewenangan kami selaku seksi pengawas di Disperindag,
tupoksi kami diatur dalam Peraturan Gubernur No. 96 tahun 2008.
Kami memiliki tugas dan kewenangan yang cukup luas, seperti
menyusun rencana kegiatan pengawasan barang beredar juga
melaksanakan kebijakan dan evaluasi pengawasan barang beredar di
pasar dan penegakan hukum. Sedangkan dalam Tim Terpadu
Pengawasan Barang Beredar kami juga memiliki kewenangan untuk
melakukan pengawasan termasuk inspeksi mendadak, pengambilan
sampel dan pengujian produk. Selain itu kami juga berwenang
menyampaikan teguran tertulis kepada pelaku usaha yang
memperdagangkan barang atau jasa yang tidak memenuhi
persyaratan yang telah ditetapkan serta meminta penjelasan
mengenai asal barang atau jasa yang diperdagangkan. Kami juga
melaksanakan tugas pelaporan apabila diduga terjadi tindak pidana
di bidang perlindungan konsumen yang didukung dengan bukti yang
cukup. (wawancara tanggal 26 Maret 2014)
Hal serupa juga dikuatkan oleh Bapak Adi Utomo selaku anggota Tim
Terpadu Pengawasan Barang Beredar dalam petikan wawancara berikut ini:
Jadi kami selaku Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar punya
kewenangan yang diatur dalam Permendag No. 20 tahun 2009
Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pengawasan Barang dan/atau
Jasa. Disitu dijelaskan bahwa apabila ditemukan pelanggaran dengan
bukti awal yang cukup kami berwenang untuk melakukan penarikan
barang tersebut bahkan jika ditemukan pelanggaran kami bisa
melaporkan hal tersebut sebagai tindak pidana. (wawancara tanggal
29 April 2014)
Pada dasarnya kewenangan yang dimiliki oleh Dinas Perindustrian dan
perdagangan Provinsi Jawa Timur terkait pelaksanaan kebijakan pengendalian

III-46

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

distribusi produk impor telah tertuang dalam Peraturan Gubernur Jawa Timur
Nomor 96 Tahun 2008 Tentang Uraian Tugas Sekretariat, Bidang, Sub Bagian
dan Seksi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur. Dalam
pasal 19 ayat 3 disebutkan bahwa ada 8 tugas dan kewenangan yang dimiliki oleh
seksi pengawasan barang beredar dan perlindungan konsumen, diantaranya adalah
melaksanakan kebijakan dan evaluasi pengawasan barang beredar dan jasa di
pasar serta penegakan hukumnya. Kemudian dalam pasal 22 ayat 2 juga
menjelaskan tugas dan kewenangan yang dimiliki oleh seksi impor antara lain
yaitu: membuat bahan perencanaan program kegiatan pengendalian impor,
verifikasi barang impor dan bahan penerbitan rekomendasi/persetujuan impor.
Kewenangan yang dimiliki oleh Dinas ini sudah cukup memadai karena sudah
diatur dalam peraturan yang ada. Kewenangan dari

Dinas Perindustrian Dan

Perdagangan Provinsi Jawa Timur yang lainnya dapat dilihat dalam Lampiran.
Sedangkan

kewenangan

yang

dimiliki

oleh

Biro

Administrasi

Perekonomian Provinsi Jawa Timur sebagai anggota Tim Terpadu Pengawasan


Barang Beredar Provinsi Jawa Timur dikemukakan oleh Ibu Tuti Asri Harini
selaku Kasubag Perdagangan Biro Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah
Provinsi Jawa Timur sebagai berikut:
Jadi tugas dan wewenang kami selaku Biro Administrasi
perekonomian Provinsi Jawa Timur diatur dalam Peraturan Gubernur
Jawa Timur Nomor 16 Tahun 2011, diantaranya tugas kami adalah
menyiapkan bahan perumusan kebijakan di bidang perdagangan dan
juga menyiapkan bahan pemantauan dan pelaporan di bidang
perdagangan. Ada juga wewenang kami terkait kebijakan
pengendalian distribusi produk hortikultura impor mas, yaitu kami
memverifikasi dokumen-dokumen terkait surat keterangan distribusi
produk impor. Sebenarnya itu kewenangan dari Asisten Gubernur
yang dilimpahkan kepada kami sehingga kami yang memverifikasi

III-47

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

dokumen pernyataan distribusi produk impor sudah lengkap atau


belum. Kalau sudah lengkap maka kami beri izin, kalau tidak
lengkap ya kami tolak, tentu juga dengan pertimbangan dan saran
dari Disperindag Jatim. (wawancara tanggal 7 April 2014)
Selain kewenangan di atas, Biro Administrasi Perekonomian Provinsi
Jawa Timur juga memiliki kewenangan lain. Seperti yang diungkapkan oleh
Bapak Gede Garina S.E., staf bagian Perdagangan Biro Administrasi
Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur sebagai berikut:
Kami di Biro Administrasi Perekonomian Provinsi Jawa Timur ini
kan juga tergabung dalam Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar
Provinsi Jawa Timur, jadi selaku anggota kami juga memiliki
kewenangan untuk ikut dalam setiap agenda kegiatan Tim Terpadu
Pengawasan Barang Beredar Provinsi Jawa Timur di lapangan.
(wawancara tanggal 7 April 2014)
Dari penuturan Ibu Tuti dan Bapak Gede di atas dapat dipahami bahwa
untuk masalah kebijakan pengendalian distribusi produk hortikultura impor di
Jawa Timur ini Biro Administrasi Perekonomian Jawa Timur memiliki
kewenangan yang cukup memadai mengingat bahwa Biro Administrasi
Perekonomian Jawa Timur memiliki wewenang yang luas terkait verifikasi
dokumen terkait pernyataan distribusi produk hortikultura impor di Jawa Timur.
Selain itu, kewenangan ini juga didukung oleh keberadaan Biro Administrasi
Perekonomian Jawa Timur yang tergabung dalam anggota Tim Terpadu
Pengawasan Barang Beredar Provinsi Jawa Timur sehingga Biro Administrasi
Perekonomian Jawa Timur memiliki wewenang untuk ikut serta dalam setiap
aktivitas yang dilakukan oleh Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar Provinsi
Jawa Timur. Selanjutnya sumberdaya kewenangan yang dimiliki oleh para
pelaksana dapat disimpulkan sebagai berikut:

III-48

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Tabel III.9 Rekapitulasi Hasil Pengumpulan Data tentang


Sumberdaya Kewenangan
Sumberdaya Kewenangan Dinas Perindustrian dan
Biro Administrasi
Perdagangan Provinsi
Perekonomian Provinsi
Jawa Timur
Jawa Timur
Kecukupan
wewenang Telah cukup dan
Telah Cukup dan
yang dimiliki Pelaksana
Memadai
Memadai
Sumber: Diolah dari hasil pengumpulan data

III.2.2.3 Sumberdaya Fasilitas Fisik


Sumberdaya fisik merupakan input berupa peralatan serta fasilitas
pendukung dalam pelaksanaan kebijakan pengendalian distribusi produk impor
yang dimiliki oleh para pelaksana. Sumberdaya fasilitas dalam penelitian ini akan
dilihat dari kecukupannya.
Kecukupan fasilitas fisik dalam pelaksanaan
Dalam pelaksanaan kebijakan pengendalian distribusi produk impor, Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur membutuhkan beberapa
fasilitas fisik untuk menunjang kelancaran aktivitasnya. Seperti yang dijelaskan
oleh Bapak Eka Setyabudi (Kasi Pengawasan Barang Beredar dan Perlindungan
Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur sekaligus
Koordinator Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar) sebagai berikut:
Kalau untuk fasilitas fisik yang kami butuhkan antara lain ya
gedung atau kantor ini, kemudian ada juga ruang rapat. Selain itu
pasti juga membutuhkan komputer, printer, internet itu memang
sudah tersedia semua mas. Tapi yang belum terpenuhi itu menurut
kami ada dua mas, yaitu mobil dinas untuk di lapangan dan juga
laboratorium untuk pengujian. Memang mobil sudah ada tapi itu
kurang untuk mobilitas kami di lapangan, kalau laboratorium itu
kebanyakan diluar Jawa Timur tapi untuk hortikultura kami ada
Balai Sertifikasi Mutu Barang (BSMB) dan juga sudah ada di Balai
Besar Karantina Pertanian Surabaya. (wawancara tanggal 24 April
2014)
III-49

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Keberadaan fasilitas fisik yang tersedia di Dinas Perindustrian dan


Perdagangan Provinsi Jawa Timur memang masih dirasa kurang dalam
menunjang kelancaran pelaksanaan pengawasan dan pengendalian distribusi
produk impor. Dalam hal ini kekurangan tersebut ditemukan dalam ketersediaan
kendaraan dinas. Padahal kendaraan dinas itu sangat diperlukan untuk mobilitas
para pelaksana kebijakan dalam menjalankan tugasnya. Sehingga dengan adanya
kekurangan ini berakibat terhadap kurangnya mobilitas pelaksana kebijakan
ketika di lapangan. Kemudian Pak Eka juga menambahkan:
Mobil dinas yang kita perlukan itu sebenarnya bukan seperti mobil
pribadi gitu mas, tapi untuk operasional kita butuh semacam mobil
box besar yang dapat menampung barang, karena seringkali kita juga
membawa barang-barang hasil sidak untuk kemudian dibawa atau
diuji. Selain itu kalau bisa mobilnya dikanan-kiri diberi tulisan Tim
Terpadu Pengawasan Barang Beredar Provinsi Jawa Timur, ini
tujuannya supaya masyarakat tahu bahwa ada institusi yang
mengawasi barang di pasaran (wawancara tanggal 24 April 2014)
Dari informasi di atas dapat dipahami bahwa aparat pelaksana dari Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur memang membutuhkan
mobil box dalam menunjang aktivitas pengawasan dan pengendalian barang
dipasar. Mobil box dipilih dengan pertimbangan mampu mengangkut atau
membawa barang-barang yang ditemukan saat inspeksi di lapangan. Barangbarang tersebut akan dibawa untuk disita atau untuk keperluan pengujian di
laboratorium.
Sedangkan dari Biro Administrasi Perekonomian Jawa Timur merasa bahwa
fasilitas fisik yang tersedia sudah cukup memenuhi dan mendukung kelancaran
aktivitasnya. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Ibu Tuti Asri Harini

III-50

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

(Kasubag Perdagangan Biro Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah


Provinsi Jawa Timur) sebagai berikut:
Untuk fasilitas disini yang dibutuhkan saya rasa sudah terpenuhi ya
mas, untuk kantor sudah ada, ruangan kantor, komputer, internet,
scan, printer kami sudah ada semua. Kalo untuk dokumen juga sudah
tersedia selain itu juga bisa didapat dari online. Jadi secara umum
sudah memadai lah. (wawancara tanggal 7 Mei 2014)
Hal ini juga didukung dengan pernyataan dari Ibu Risang selaku staf Bidang
Perdagangan Biro Administrasi Perekonomian Jawa Timur sebagai berikut:
Saya rasa fasilitas fisik disini sudah memadai mas, ada ruangan
yang nyaman, komputer juga terkoneksi internet. Jadi kalau ada yang
mau mengurus perijinan terkait impor ya tinggal datang kesini
membawa berkas-berkasnya saja sudah bisa kami layani dengan
baik. (wawancara tanggal 7 Mei 2014)
Dari hasil pengumpulan data yang telah dilakukan, maka dapat
disimpulkan terkait ketersediaan dan kecukupan fasilitas fisik yang dimiliki oleh
para pelaksana dalam implementasi kebijakan pengendalian distribusi produk
impor di Jawa Timur ini akan disajikan dalam tabel di bawah.

Tabel III.10 Rekapitulasi Hasil Pengumpulan Data tentang


Sumberdaya Fasilitas Fisik
Sumberdaya Fasilitas Fisik Dinas Perindustrian dan
Biro Administrasi
Perdagangan Provinsi
Perekonomian Provinsi
Jawa Timur
Jawa Timur
Kecukupan Sumberdaya Tersedia
namun
Telah Cukup dan
fisik/
fasilitas
yang kurang memadai
Memadai
dimiliki
Sumber: Diolah dari hasil pengumpulan data

III-51

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

III.2.2.4 Sumberdaya Informasi


Dalam melaksanakan suatu kebijakan dibutuhkan adanya peraturan
sebagai landasan hukum dan pedoman pelaksanaan tugas. Sumberdaya informasi
merupakan input yang dibutuhkan oleh para pelaksana berupa peraturan petunjuk
teknis maupun petunjuk pelaksanaan terkait pengendalian distribusi produk
impor. Dalam penelitian ini, sumberdaya informasi akan dilihat dari kemudahan
dalam mendapatkan informasi.
Kemudahan mendapatkan informasi (juklak/ juknis)
Informasi tentang maupun peraturan pelaksanaan yang terkait kebijakan
pengendalian distribusi produk impor dikemukakan oleh Ibu Ninik Margirini
(Kasi Impor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur) sebagai
berikut:
informasi mengenai peraturan pelaksanaan kebijakan ini biasanya
diberitahukan oleh pimpinan kami baik melalui rapat maupun surat
edaran, selain itu bisa juga melalui internet. Kalo di Jawa Timur kan
sudah ada Biro Hukum yang menyediakan peraturan-peraturan yang
terbaru melalui websitenya. (wawancara tanggal 17 April 2014)
Kemudian ditambahkan oleh Bapak Adi Utomo (Staf Pengawasan Barang
Beredar dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Provinsi Jawa Timur) sebagai berikut:
Kami selaku pelaksana di lapangan kan juga harus tahu mas
landasan hukum terkait dengan kebijakan yang kami lakukan. Jadi
kami juga harus berusaha mencari tahu terkait adanya peraturan atau
juknis yang baru. Kan lucu kalo misalnya kami di lapangan dan tidak
tahu terkait dengan peraturan yang baru dan masih pakai peraturan
lama. Kalau di Disperindag sendiri saya rasa mekanismenya sudah
baik terkait pemberian informasi ini. (wawancara tanggal 29 April
2014)

III-52

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Berdasarkan informasi di atas, memang telah terdapat kemudahan bagi


para pelaksana kebijakan di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa
Timur dalam mengakses informasi terkait perubahan peraturan dan petunjuk.
Akses informasi tersebut lebih sering dilakukan melalui forum rapat karena
dianggap menjadi cara yang paling efektif dalam menyampaikan informasi. Selain
itu kemudahan akses informasi juga didukung melalui informasi online melalui
internet di website Biro Hukum Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur yang bisa
diakses melalui

http://www.jdih.jatimprov.go.id

karena

semua

peraturan-

peraturan baru akan disajikan disana.


Rapat formal juga memang dianggap efektif untuk mendapatkan informasi
terbaru terkait dengan peraturan dan petunjuk pelaksanaan kebijakan. Hal ini juga
terjadi di Biro Administrasi Perekonomian Provinsi Jawa Timur sebagaimana
disampaikan oleh Bapak Gede Garina (staf bagian Perdagangan Biro Administrasi
Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur) sebagai berikut:
Misalnya ada peraturan atau petunjuk baru biasanya dilakukan
melalui rapat mas baik di internal sini maupun antar instansi,
biasanya ada sosialisasi terkait peraturan baru tersebut. (wawancara
tanggal 7 April 2014)
Informasi mengenai peraturan yang berhubungan dengan kebijakan pengendalian
distribusi produk impor pada kedua instansi memang dilaksanakan melalui forumforum resmi seperti rapat dan acara sosialisasi baik yang dilakukan di instansi
masing-masing maupun rapat antar instansi dilingkungan Pemerintah Provinsi
Jawa Timur. Melalui forum tersebut diberikan informasi tertulis dan penjelasan
mengenai peraturan yang terkait dengan kebijakan pengendalian distribusi produk

III-53

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

impor, informasi tersebut akan menjadi pedoman bagi para pelaksana dalam
menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing.
Dari hasil pengumpulan data yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan
terkait ketersediaan dan kecukupan sumberdaya informasi yang dimiliki oleh para
pelaksana dalam implementasi kebijakan pengendalian distribusi produk impor di
Jawa Timur ini akan disajikan dalam tabel di bawah.

Tabel III.11 Rekapitulasi Hasil Pengumpulan Data tentang


Sumberdaya Informasi
Sumberdaya Informasi
Dinas Perindustrian dan
Biro Administrasi
Perdagangan Provinsi
Perekonomian Provinsi
Jawa Timur
Jawa Timur
Kemudahan
dan Informasi
diperoleh Informasi
diperoleh
mekanisme
akses melalui
forum
rapat, melalui forum rapat,
informasi
juklak-juknis tertulis dan juklak-juknis tertulis
internet
Sumber: Diolah dari hasil pengumpulan data

III.2.2.5 Sumberdaya Finansial


Untuk menunjang pelaksanaan kebijakan, sumberdaya dana/ finansial
sangat diperlukan sebagai input atau modal dasar bagi para pelaksana.
Sumberdaya finansial digunakan untuk menjalankan aktivitasnya. Untuk
mengetahui tentang sumberdaya finansial dalam kebijakan pengendalian distribusi
produk impor akan ditinjau dari ketersedian dan kecukupan dana bagi pelaksanaan
kebijakan.
Ketersediaan sumberdaya finansial

III-54

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Ketersediaan dana terkait pelaksanaan kebijakan pengendalian distribusi


produk impor dalam operasionalnya dijelaskan oleh Bapak Eka Setyabudi (Kasi
Pengawasan Barang Beredar dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian
dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur) berikut ini:
Dalam kebijakan pengendalian dan pengawasan ini, kami
mendapatkan jatah dana dari APBD Provinsi Jawa Timur mas, jadi
setiap tahun kan kita dari Dinas kan mengajukan dana ke Pak
Gubernur dan dana itu kami gunakan untuk operasional kami di
lapangan seperti pembelian dan pengujian di laboratorium.
(wawancara tanggal 17 April 2014)
Dari pihak Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur dapat
dipahami bahwa dana yang digunakan untuk kegiatan operasional di lapangan
diperoleh dari APBD Provinsi Jawa Timur, dana tersebut dialokasikan untuk
kegiatan operasional di lapangan seperti dana pembelian dan pengujian di
laboratorium.
Sementara itu Biro Administrasi Perekonomian Provinsi Jawa Timur juga
mengatakan bahwa memiliki anggaran terkait pelaksanaan tugas pokok dan
fungsinya, sebagaimana disampaikan oleh Ibu Tuti Asri Harini (Kasubag
Perdagangan Biro Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa
Timur) sebagai berikut:
kalo dana ya pasti ada mas, setiap instansi pemerintah pasti
memiliki dana dari anggarannya masing-masing. Kan tiap tahun
pasti mengajukan toh. Kalo di Biro sini anggarannya berasal dari
APBD Provinsi mas. (wawancara tanggal 7 April 2014)
Dari informasi di atas dapat dipahami bahwa Biro Administrasi
Perekonomian Provinsi Jawa Timur juga memiliki anggaran kerja yang berasal
dari APBD Provinsi Jawa Timur. Anggaran tersebut merupakan anggaran rutin

III-55

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

yang digunakan untuk operasional Biro Administrasi Perekonomian Provinsi Jawa


Timur.
Dari paparan di atas telah disajikan informasi terkait ketersediaan
sumberdaya finansial di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa
Timur dan Biro Administrasi Perekonomian Provinsi Jawa Timur. Kemudian akan
dijelaskan terkait kecukupan sumberdaya finansial yang dimiliki dalam
menjalankan aktivitas terkait kebijakan pengendalian distribusi produk impor di
Jawa Timur.
Kecukupan sumberdaya finansial
Selain ketersedian sumberdaya finansial, ada hal yang tidak kalah penting
terkait dengan masalah sumberdaya finansial yaitu kecukupan sumberdaya
finansial. Kecukupan sumberdaya finansial ini dianggap penting karena terkait
dengan kemampuan instansi dalam membiayai kegiatan operasional. Informasi
terkait hal ini disampaikan oleh Bapak Eka sebagai berikut:
untuk masalah dana ini gimana ya mas, saya rasa memang untuk
operasional kami belum cukup mas. Artinya dana yang dianggarkan
itu tidak memadai dengan aktivitas kita yang begitu banyak. Untuk
dana sendiri tahun ini anggarannya hanya sekitar Rp. 500 juta saja
mas, padahal tugas kita itu keliling di 38 Kota/kabupaten se-Jawa
Timur mas. Belum lagi kalo ada pengujian di laboratorium dan
pembelian. (wawancara tanggal 28 April 2014)
Dalam menjalankan aktivitas pengendalian dan pengawasan distribusi
produk impor, pihak Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur
mengalami kendala terkait kecukupan sumberdaya finansial. Alokasi anggaran
sebesar Rp. 500 juta/tahun yang dianggarkan masih kurang jika dibandingkan
dengan aktivitas Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur yang

III-56

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

harus mengawasi peredaran barang diseluruh kota/kabupaten di Jawa Timur.


Sehingga untuk mengatasi hal ini pihak Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Provinsi Jawa Timur membuat skala prioritas terkait apa yang sebaiknya
didahulukan. Hal ini dikemukakan oleh Pak Eka:
Karena dana yang saat ini jumlahnya terbatas mas, jadi untuk
mengakali ya kita bikin skala-skala prioritas mas. Mana yang akan
kita selesaikan terlebih dahulu ya itu kita gunakan anggarannya.
Seperti misalnya kemarin ada indikasi kebocoran gula rafinasi di
Malang, itu yang kita dahulukan. (wawancara tanggal 28 April
2014)
Dari informasi di atas dapat dipahami bahwa dengan anggaran yang
terbatas, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur berusaha
memaksimalkan anggaran yang ada untuk membuat skala prioritas terkait
aktivitas pengawasan dan pengendalian distribusi produk impor ini. Memang ada
mekanisme pengajuan rancangan anggaran setiap tahunnya, namun rancangan
tersebut tidak serta merta dikabulkan secara keseluruhan. Sehingga dengan
menetapkan skala prioritas Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa
Timur mampu melaksanakan aktivitas pengawasan dan pengendalian distribusi
produk impor di Jawa Timur.
Untuk sumberdaya finansial di Biro Administrasi Perekonomian Provinsi
Jawa Timur tidak ditemukan masalah yang berarti. Hal ini disampaikan oleh Ibu
Tuti Asri Harini (Kasubag Perdagangan Biro Administrasi Perekonomian
Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur):
Untuk masalah kecukupan dana kami tidak menemukan kesulitan
yang berarti mas, saya rasa anggarannya untuk sementara ini cukup
kok. (wawancara tanggal 7 April 2014)

III-57

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK


Tabel III.12 Rekapitulasi Sumberdaya Dalam Implementasi Kebijakan Pengendalian Distribusi Produk Impor Hortikultura di Jawa Timur
Jenis Sumberdaya
a). Administrasi
Kecukupan jumlah staf/
pelaksana

Kecukupan kemampuan
dan kompetensi staf

b). Kewenangan
Kecukupan
yang dimiliki

wewenang

Gambaran Ideal/
teoritik (Indikator)

Dinas Perindustrian dan


Perdagangan Provinsi Jawa Timur
Kondisi
Dukung Hambat

Staf
yang
jumlahnya
cukup
akan
mendukung
pelaksanaan
kebijakan
Staf
dengan
kemampuan
yang
cukup
akan
mendukung
kelancaran
program

Kurang
tersedia staf
dalam jumlah
yang
memadai

Kewenangan
yang
cukup
pelaksana
mampu bekerja
maksimal

Memiliki
kewenangan
yang cukup
dan memadai

Memiliki
kemampuan
dan keahlian
dalam
melakukan
tugas

Biro Administrasi Perekonomian


Provinsi Jawa Timur
Kondisi
Dukung Hambat
Staf dalam
jumlah yang
memadai

Memiliki
kemampuan
dan keahlian
dalam
melakukan
tugas

Memiliki
kewenangan
yang cukup
dan memadai

Bersambung.....

III-58

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Fasilitas yang
memadai akan
membantu
pelaksanaan
kebijakan

Tersedia tapi
kurang
memadai

d). Informasi
Kemudahan mendapatkan
informasi peraturan

Kemudahan
mendapatkan
informasi
mendukung
kelancaran
pelaksanaan
kebijakan

Mudah dalam
mendapat
informasi

e). Finansial/ dana


Ketersediaan/ kecukupan
dana yang dimiliki

Dana
yang
cukup menjadi
modal
pelaksanaan
kebijakan

Dana APBD
Provinsi
masih terbatas

c). Fisik/ Fasilitas


Kecukupan
pendukung

fasilitas

Tersedia
dalam
jumlah yang
memadai

Mudah
dalam
mendapat
informasi

Dana APBD
Provinsi
cukup
dan
memadai

Sumber: diolah dari hasil pengumpulan data

III-59

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

III.2.3 Struktur Birokrasi


Dalam studi implementasi kebijakan publik aktor pelaksana kebijakan
merupakan pemeran utama dalam pelaksanaan kebijakan di lapangan. Pada saat
pemerintah mengambil keputusan dalam rangka mengendalikan distribusi produk
impor hortikultura, maka pemerintah dituntut untuk menunjuk instansi yang
dianggap mampu mendukung dan melaksanakan kebijakan tersebut. Berkaitan
dengan kebijakan pengendalian distribusi produk impor maka Dinas Perindustrian
dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur ditunjuk sebagai koordinator sekaligus
sebagai leading sector pelaksanaan kebijakan tersebut. Dalam pelaksanaannya di
lapangan tentu Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur tidak
bisa bergerak sendiri dalam mengawasi dan mengendalikan distribusi produk
impor hortikultura, oleh sebab itu Gubernur Provinsi Jawa Timur kemudian
membentuk Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar di Jawa Timur.
Diharapkan dengan adanya tim terpadu ini dapat membantu kelancaran dan
keefektifan pelaksanaan pengawasan dan pengendalian distribusi produk impor di
Jawa Timur.
Selain Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur terdapat
instansi-instansi lainnya yang juga terlibat dalam kebijakan pengendalian
distribusi produk impor diatur dalam Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor
188/ 210 /KPTS/013/2011 Tentang Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar di
Provinsi Jawa Timur yang terdiri dari Kepolisian Daerah Jawa Timur, Biro
Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Dinas Pertanian Provinsi
Jawa Timur, Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan Surabaya, Dinas

III-60

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Peternakan Provinsi Jawa Timur, Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa
Timur, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jatim I, Kepala Bidang
Metrologi, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur, Kepala
Bidang Standarisasi dan Desain Produk Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Provinsi Jawa Timur.
Struktur birokrasi pelaksana kebijakan pengendalian distribusi produk
impor meliputi beberapa instansi yang bekerja secara koordinatif. Sampai saat ini
menurut pihak Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur,
struktur birokrasi pelaksana kebijakan pengendalian distribusi produk impor telah
memiliki struktur hirarki dan garis fungsi yang jelas serta telah dilaksanakan.
Kegiatan utama yang paling sering dilakukan dari aktivitas pengendalian
distribusi produk impor adalah pemberian izin distribusi produk impor, pemberian
izin bongkar komoditas dan tindakan pengawasan distribusi produk impor di
lapangan. Mengenai hal ini dijelaskan oleh Bapak Eka (Kasi Pengawasan Barang
Beredar dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Provinsi Jawa Timur):
Kalau masalah struktur birokrasi dalam konteks pengawasan itu
kami yang tergabung dalam tim terpadu kan terdiri dari berbagai
macam instansi, jadi semua sudah memiliki wewenang masingmasing. Saya rasa untuk sampai saat ini semua bisa berjalan dengan
baik sesuai tugas dan fungsinya. (wawancara tanggal 24 April
2014)
Hal ini juga dikuatkan oleh Bapak Gede (Staf bagian Perdagangan Biro
Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur):
Kami di Biro Administrasi Perekonomian itu punya tugas yang
diberikan Bapak Gubernur kepada kita, seperti misalnya penerbitan
surat pernyataan distribusi produk impor hortikultura dan juga surat
III-61

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

izin bongkar untuk komoditas gula, garam dan beras. (wawancara


tanggal 7 April 2014)
Kemudian ditambahkan oleh Ibu Risang Dwi Rahayu (staf bagian
Perdagangan Biro Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa
Timur) mengenai proses pemberian keterangan distribusi produk impor
hortikultura sebagai berikut:
Untuk masalah pengurusan surat keterangan distribusi produk
impor hortikultura itu menurut saya ngga ribet kok mas, tergantung
dari pemohon, kalau dokumen-dokumen mereka lengkap dan sudah
ada clearence dari bea cukai ya segera kami proses. Setelah dari sini
kan nanti ada tanggapan dan saran dari disperidag. Standar
pelayanannya ngga sampai 5 hari kerja kok mas. (wawancara
tanggal 28 April 2014)
Struktur

birokrasi

yang

dikemukakan

oleh

Biro

Administrasi

Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur dalam mekanisme


pemberian izin distribusi produk impor tidak berbelit-belit dan relatif singkat tidak
memakan waktu lama meskipun melibatkan instansi lainnya. Dalam pelaksanaan
kebijakan pengendalian distribusi produk impor ini memang melibatkan beberapa
instansi, namun sudah ada Standard Operating Procedures (SOP) yang mengatur
tata aliran pekerjaan dan pelaksanaan kebijakan yang mengatur mekanisme kerja
pelaksanaan kebijakan ini. Dengan adanya SOP ini masing-masing instansi yang
terlibat memiliki fungsi dan kewenangan masing-masing sesuai peraturan, hal ini
tentu akan mempermudah dan memperlancar pelaksanaan kebijakan ini. SOP
dalam pelaksanaan pengendalian distribusi produk impor hortikultura ini diatur
dalam beberapa peraturan, diantaranya: Permendag No. 47 tahun 2013 tentang
Ketentuan Impor Produk Hortikultura, Permentan No. 60 tahun 2012 tentang

III-62

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Rekomendasi Impor Produk Hortikultura, Permendag No. 20 tahun 2009 tentang


Ketentuan Dan Tata Cara Pengawasan Barang Dan/Atau Jasa, Pergub Jatim No. 2
tahun 2013 tentang Pengendalian Distribusi Produk Impor dan juga Keputusan
Gubernur Jawa Timur Nomor 188/210/KPTS/013/2011 tentang Tim Terpadu
Pengawasan Barang Beredar di Provinsi Jawa Timur. Hal ini sesuai dengan yang
disampaikan oleh Ibu Ninik Margirini (Kasi Impor Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa Timur):
Dalam peraturan yang berlaku mulai Permendag, Permentan sampai
Pergub itu sudah diatur bagaimana tatacara misalnya mekanisme
pengawasan, mekanisme perizinan sampai terkait sangsi dan lain
sebagainya. Peraturan tersebut juga menyebutkan instansi mana saja
yang berwenang dalam hal mengendalikan distribusi produk impor.
Sehingga kami memiliki dasar hukum yang kuat dan petunjuk
pelaksanaannya. (wawancara tanggal 17 April 2014)

Selain masalah struktur birokrasi dan SOP, dalam penelitian ini juga dilihat
terkait dengan pembagian kerja dan spesialisasi, karena keberadaan beberapa
instansi dalam implementasi kebijakan memungkinkan terjadinya fragmentasi dan
ketidakjelasan fungsi dan wewenang. Namun hal itu tidak dibenarkan oleh Bapak
Eka seperti hasil wawancara berikut ini:
Kalo kekhawatiran terkait tugas yang ganda atau ketidakjelasan
fungsi itu tidak terjadi mas, karena selain sudah ada SOP yang
mengatur, kami juga sering melakukan koordinasi antar instansi
terkait masalah kebijakan pengendalian distribusi produk impor ini.
Jadi misalnya kami dari tim terpadu pengawasan ada masalah yang
dihadapi terkait peredaran barang ya langsung kami koordinasikan
dengan intansi terkait. Misalnya kemarin ada kasus gula rafinasi ya
kami koordinasi dengan teman-teman Dinas Perkebunan dan Dinas
Pertanian Jawa Timur, kan itu memang ranah mereka, masa kami
mau koordinasi dengan Dinas Peternakan, kan ngga nyambung.
(wawancara tanggal 24 April 2014)

III-63

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Dalam struktur birokrasi pelaksana kebijakan pengendalian distribusi


produk impor hortikultura di Biro Administrasoi Perekonomian Provinsi Jawa
Timur juga telah memiliki pembagian kerja dan spesialisasi yang jelas. Hal ini
diinformasikan oleh Ibu Tuti Asri Harini (Kasubag Perdagangan Biro
Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur) sebagai
berikut:
Pembagian kerja disini sudah jelas kok mas, untuk masalah
perizinan distribusi produk impor hortikultura itu wewenangnya ada
di kami. Kalau pengawasan itu di Disperindag dan Tim Terpadu.
Kalau staf saya juga sudah ada tugas masing-masing seperti bagian
entry data, bagian pengurusan dokumen dan sebagainya.
(wawancara tanggal 7 April 2014)
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terkait struktur birokrasi, tidak
ditemukan adanya kendala. Dengan adanya SOP yang jelas dan koordinasi yang
intensif segala aktivitas yang terkait dengan kebijakan pengendalian distribusi
produk impor hortikultura dapat berjalan dengan lancar. Selain itu dikedua
instansi juga telah ada pembagian kerja dan spesialisasi yang jelas. Selanjutnya
hasi rekapitulasi akan disajikan dalam tabel di bawah.

III-64

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Tabel III.13 Rekapitulasi Hasil Pengumpulan Data tentang Struktur


Birokrasi
Struktur Birokrasi
Dinas Perindustrian dan
Biro Administrasi
Perdagangan Provinsi
Perekonomian Provinsi
Jawa Timur
Jawa Timur
Adanya tata aliran struktur Sudah ada tata aliran Sudah ada tata aliran
kerja
struktur kerja yang jelas
struktur kerja yang jelas
Adanya
SOP
yang
mengatur
mekanisme
kerja
Adanya pembagian kerja
dan spesialisasi kerja

Ada SOP yang mengatur


mekanisme kerja

Ada SOP yang mengatur


mekanisme kerja

Sudah ada spesialisasi


kerja yang jelas antar
instansi
Hambatan yang muncul Tidak ada hambatan yang
dalam struktur birokrasi
muncul
karena
ada
mekanisme
koordinasi
yang efektif

Sudah ada spesialisasi


kerja yang jelas antar
instansi
Tidak ada hambatan yang
muncul
karena
ada
mekanisme
koordinasi
yang efektif

Sumber: Diolah dari hasil pengumpulan data

III.2.4 Komunikasi
Komunikasi merupakan salah satu komponen yang penting dalam
implementasi suatu kebijakan. Komunikasi berfungsi untuk memadukan gerak
langkah dan kesamaan persepsi para pelaksana kebijakan pengendalian distribusi
produk impor. Komunikasi yang efektif tentu akan memberi dampak yang positif
terhadap pelaksanaan kebijakan. Dengan adanya persamaan persepsi juga akan
tercipta keterpaduan dan meminimalisir kemungkinan terjadinya misskomunikasi
dari tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Agar implementasi suatu kebijakan
bisa berjalan dengan baik maka diperlukan perintah, petunjuk dan arahan yang
baik mengenai kebijakan tersebut.
Berikut ini akan dijelaskan komunikasi pada pelaksanaan kebijakan
pengendalian distribusi produk impor hortikultura yang telah dilakukan. Ada

III-65

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

beberapa indikator yang digunakan dalam hal ini yaitu: pertama adalah transmisi
(proses pemberian petunjuk/ arahan). Kedua, dilihat dari kejelasan perintah dan
arahan. Dan yang ketiga adalah terkait konsistensi petunjuk serta arahanyang
diberikan dalam proses komunikasi tersebut. hasil dari pengumpulan data tentang
komunikasi akan disajikan seperti di bawah ini
Transmisi (proses pemberian petunjuk dan arahan)
Dalam pelaksanaan kebijakan pengendalian distribusi produk impor, Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur melalui Tim Terpadu
Pengawasan Barang Beredar Provinsi Jawa Timur merupakan penanggungjawab
dari kebijakan pengendalian dan pengawasan distribusi produk impor.
Komunikasi dan koordinasi yang dilakukan disampaikan oleh Bapak Eka (Kasi
Pengawasan Barang Beredar dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian
dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur) sebagai berikut:
Proses komunikasi yang dilakukan dengan staf Disperindag dan
juga Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar Provinsi Jawa Timur
dilakukan melalui rapat, kami setiap sebelum dan sesudah
melaksanakan aktivitas pengawasan selalu melakukan rapat
koordinasi terlebih dahulu mas, kan tidak mungkin kalau saya
langsung ambil keputusan tanpa koordinasi dengan kawan-kawan
Tim Terpadu Pengawasan Barang. Jadi untuk menghindari
miskomunikasi kami selalu mengadakan rapat dan evaluasi.
(wawancara tanggal 18 April 2014)

Proses komunikasi yang dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan


Perdagangan Provinsi Jawa Timur secara internal disampaikan oleh Bapak Adi
Utomo (Staf Pengawasan Barang Beredar dan Perlindungan Konsumen Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur) sebagai berikut:

III-66

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Kalo rapat koordinasi di internal kami ya dilakukan hampir tiap


minggu mas, lha kita tiap minggu kan ada agenda pengawasan. Jadi
intensitasnya cukup sering menurut saya. Ini juga baik untuk
menjaga komunikasi kami agar tetap lancar dan efektif. (wawancara
tanggal 28 April 2014)
Komunikasi yang dilakukan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Provinsi Jawa Timur selaku koordinator dari Tim Terpadu Pengawasan Barang
Beredar Provinsi Jawa Timur dilakukan melalui forum rapat baik kepada internal
Dinas maupun eksternal bersama Tim terpadu. Rapat tersebut dilaksanakan
sebelum melaksanakan aktivitas pengawasan maupun setelah melakukan
pengawasan sebagai bahan evaluasi tim.
Hal tersebut dibenarkan oleh Ibu Tuti Asri Harini (Kasubag Perdagangan
Biro Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur)
sebagai berikut:
Iya mas memang benar, kami selalu diajak komunikasi dengan Pak
Eka selaku Koordinator Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar
Provinsi Jawa Timur sesaat sebelum melakukan sidak dan juga
setelah melakukan sidak. Biasanya dilakukan pagi hari dikantor
Disperindag sana. Jadi rapatnya itu terdiri dari seluruh Tim Terpadu
Pengawasan Barang Beredar Provinsi Jawa Timur yang akan
berangkat saat itu. Kalau rapat internal di Biro Administrasi
Perekonomian sendiri juga ada mas. (wawancara tanggal 7 April
2014)
Dari paparan informasi di atas dapat dikatakan bahwa telah terjadi
komunikasi secara internal Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa
Timur maupun dengan pihak Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar Provinsi
Jawa Timur terkait dengan kegiatan operasional pengawasan dan pengendalian
distribusi produk impor di Jawa Timur. Komunikasi juga dilakukan oleh Biro
Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur sebagai

III-67

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

bagian dari anggota Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar Provinsi Jawa
Timur.
Selain

memerlukan

komunikasi

antar

pelaksana

kebijakan,

maka

komunikasi pada kelompok sasaran kebijakan juga dilakukan. Hal ini


disampaikan oleh Bapak Eka (Kasi Pengawasan Barang Beredar dan
Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa
Timur):
Komunikasi juga kami lakukan kepada para pelaku usaha dan
asosiasi yang terkena dampak kebijakan ini, melalui forum
sosialisasi dan diskusi. Jadi jika ada peraturan atau kebijakan baru
seperti pergub ini, kami selalu berusaha untuk mengkomunikasikan
dengan mereka. Ini menurut kami juga penting karena mereka adalah
bagian dari kami. (wawancara tanggal 28 April 2014)
Komunikasi dengan kelompok sasaran telah dilakukan oleh Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur melalui forum sosialisasi dan
diskusi. Sosialisasi tersebut dilakukan dengan mengundang stakeholder yang
berkaitan dengan kegiatan impor hortikultura. Mengenai sosialisasi tersebut lebih
lanjut dijelaskan oleh Bapak Gede Garina:
Sosialisasi itu kan tujuannya untuk memberitahu masyarakat dan
mengedukasi mereka, supaya mereka tahu bahwa ada peraturan baru
terkait kebijakan impor hortikultura. Ini sangat penting mas karena
terkait dengan aktivitas mereka sebagai pengusaha, selain itu biar
nggak ada miskomunikasi. (wawancara tanggal 28 April 2014)
Hal ini dibenarkan oleh Bapak Setiyobudi (Sekretaris Eksekutif BPD
Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Jawa Timur):
Iya memang benar mas, kami memang selalu diundang oleh Dinas
kalau ada sosialisasi yang terkait dengan peraturan dan perundangundangan baru. Biasanya yang diundang itu dari pihak pengusaha
dan asosiasi seperti kami. (wawancara tanggal 28 April 2014)

III-68

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Dari informasi di atas dapat dipahami bahwa upaya komunikasi telah


dilakukan baik oleh Pihak Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa
Timur selaku Koordinator Tim Terpadu maupun oleh Biro Administrasi
Perekonomian Provinsi Jawa Timur kepada kelompok sasaran kebijakan. Hal ini
bertujuan untuk mengedukasi masyarakat sekaligus sebagai media sosialisasi
terkait peraturan yang sedang berlaku. Mekanisme forum rapat dianggap cara
yang paling efektif dalam komunikasi karena dengan mekanisme tersebut dapat
dilakukan diskusi dan tanya jawab terkait materi rapat.
Kejelasan perintah dan arahan kebijakan
Dalam komunikasi yang dilakukan informasi yang disampaikan harus
mengandung unsur kejelasan. Kejelasan informasi ini menghendaki agar
kebijakan yang ditransmisikan kepada para pelaksana dan target group dapat
dipahami dengan baik apa yang menjadi maksud, tujuan dan sasaran dari
kebijakan tersebut.
Terkait dengan aspek kejelasan perintah dan arahan pada saat melakukan
komunikasi antar pelaksana dijelaskan dalam wawancara dengan Bapak Eka
sebagai berikut:
Pada saat rapat saya kan menjelaskan semua mulai dari apa yang
akan dilaksanakan di lapangan dan juga informasi lokasinya kepada
anggota Tim terpadu. Sehingga dengan rapat tersebut diharapkan
tidak ada kebingungan ditingkat pelaksana. Kalau ada yang tanya ya
saya persilahkan, dan saya rasa sejauh ini sudah jelas dan tidak ada
masalah. (wawancara tanggal 18 April 2014)
Kejelasan informasi tersebut juga diungkapkan oleh Bapak Adi Utomo (Staf
Pengawasan Barang Beredar dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian

III-69

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur sekaligus Anggota Tim Terpadu


Pengawasan Barang Beredar):
Saya rasa terkait arahan itu sudah jelas ya mas, saya bisa
memahami dengan baik apa-apa yang harus dilakukan. (wawancara
tanggal 28 April 2014)
Hal serupa juga diungkapkan oleh Ibu Tuti Asri Harini (Kasubag
Perdagangan Biro Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa
Timur sekaligus Anggota Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar):
Untuk masalah arahan dan perintah itu saya rasa sudah disampaikan
dengan baik dan jelas sebelum melaksanakan tugas. Semua
informasi yang dibutuhkan juga disampaikan sehingga memudahkan
proses pelaksanaan di lapangan. (wawancara tanggal 7 April 2014)
Komunikasi yang terjalin antar pelaksana sudah dapat dikatakan
mengandung unsur kejelasan, baik dari pihak Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa Timur maupun Biro Administrasi Perekonomian
Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur. Selain antar pelaksana, komunikasi juga
dilakukan pada kelompok sasaran untuk menimbulkan kepahaman dan ketaatan.
Mengenai kejelasan informasi pada saat melakukan komunikasi dengan kelompok
sasaran disampaikan oleh Bapak Setiyobudi sebagai berikut:
Dalam sosialisasi itu kami diberi penjelasan rinci dan informasi
yang dibutuhkan oleh kami. Seperti misalnya ada prosedur-prosedur
terkait perizinan dan sebagainya itu juga disampaikan saat
sosialisasi. Kami juga diberi kesempatan untuk bertanya dan juga
menyampaikan uneg-uneg kami terkait kebijakan tersebut.
(wawancara tanggal 28 April 2014)
Dari pernyataan di atas dapat dipahami bahwa dari pihak BPD GINSI selaku
kelompok sasaran sudah merasa mendapat informasi yang jelas mengenai

III-70

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

kebijakan pengendalian distribusi produk impor di Jawa Timur melalui program


sosialisasi yang dilakukan oleh Pemerintah.
Bagi para pelaksana, kejelasan informasi dalam komunikasi terkait
kebijakan pengendalian distribusi produk impor telah diperoleh kejelasan melalui
komunikasi yang dilakukan. Hal ini akan mempermudah para pelaksana dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya. Begitupula dengan pihak yang terkena
dampak kebijakan, dengan komunikasi yang jelas diharapkan menimbulkan
ketaatan dan kerjasama yang baik.
Konsistensi perintah dan arahan kebijakan
Dalam pelaksanaan komunikasi dalam rangka memberikan perintah dan
arahan, selain harus mengandung kejelasan juga diperlukan konsistensi perintah
dan arahan. Karena hal tersebut akan menjadi pedoman bagi para pelaksana dalam
menjalankan tugas dan kewajibannya sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Konsisitensi dalam pemberian perintah dan arahan tentang pengendalian
distribusi produk impor ini dijelaskan oleh Bapak Eka selaku Kasi Pengawasan
Barang Beredar dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa Timur:
Peraturan dan ketentuan yang berkaitan dengan pengawasan dan
pengendalian itu sampai saat ini masih tetap konsisten mas, tidak ada
perubahan. Sampai saat ini masih menggunakan pedoman pada
Permendag No. 20 tahun 2009 tentang tata cara pengawasan barang.
Selain itu kami ini kan kerja tim, jadi kalau instruksinya berubahubah kan kasihan teman-teman lainnya. (wawancara tanggal 24
April 2014)

III-71

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Hal tersebut dibenarkan oleh Ibu Tuti Asri Harini (Kasubag Perdagangan
Biro Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur
sekaligus Anggota Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar):
Kalau masalah konsisten menurut saya ya konsisten. Tidak ada
perubahan terkait arahan dan petunjuk pelaksanaannya, karena itu
kan sudah ada pakemnya, jadi kita tinggal jalankan saja. Namun
untuk ditingkat pusat ada hal yang saya sayangkan yaitu terkait
komunikasi antara pemerintah provinsi dengan pusat yaitu terkait
data tentang pertanian kita, data yang ada dipusat itu terkadang
berbeda dengan data yang kita punya (wawancara tanggal 7 April
2014)
Berdasarkan informasi di atas dapat dipahami bahwa hingga saat ini
perintah dan arahan terkait kebijakan pengendalian distribusi produk impor
hortikultura masih konsisten dan tidak mengalami perubahan. Sehingga para
pelaksana kebijakan di lapangan tidak menemukan masalah atau kebingungan
dengan arahan yang diberikan. Namun ada satu hal yang menjadi masalah terkait
aspek komunikasi yaitu keterpaduan antara data yang dimiliki oleh pemerintah
pusat dan pemerintah daerah yang tidak sama. Hal ini tentu sedikit menghambat
kelancaran dan keefektifan program pengendalian dan pengawasan distribusi
produk impor serta dalam pembuatan kebijakan. Selanjutnya rekapitulasi dari
aspek komunikasi akan disajikan pada tabel di bawah.

III-72

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Tabel III.14 Rekapitulasi Komunikasi Dalam Implementasi Kebijakan Pengendalian Distribusi Produk Impor Hortikultura di Jawa Timur
Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa
Timur
Kondisi

Biro Administrasi
Perekonomian Provinsi Jawa
Timur
Kondisi

BPD Gabungan Importir


Nasional Jawa Timur

Terdapat komunikasi internal


dan
eksternal
termasuk
kelompok sasaran

Terdapat komunikasi internal


dan
eksternal
termasuk
kelompok sasaran

Terdapat komunikasi kepada


kelompok sasaran

Mekanisme
pemberian arahan
pelaksanaan
kebijakan

Komunikasi melalui
rapat dan sosialisasi

forum

Komunikasi melalui
rapat dan sosialisasi

forum

Komunikasi
sosialisasi

Intensitas pemberian
perintah dan arahan
kebijakan

Komunikasi intens
berbagai pihak

dengan

Komunikasi intens
berbagai pihak

dengan

KOMUNIKASI

a). Transmisi
Ada
tidaknya
komunikasi

b). Kejelasan
Tingkat
kejelasan
pemberian perintah
dan
arahan
kebijakan

Telah terdapat kejelasan dalam


komunikasi kebijakan baik
internal maupun eksternal

Telah terdapat kejelasan dalam


komunikasi kebijakan baik
internal maupun eksternal

Kondisi

melalui

forum

Telah terdapat kejelasan dalam


komunikasi kebijakan

Bersambung.....
III-73

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

KOMUNIKASI

c) Konsistensi
Tingkat konsistensi
perintah dan arahan
kebijakan

Dinas Perindustrian dan


Perdagangan Provinsi Jawa
Timur
Kondisi

Biro Administrasi
Perekonomian Provinsi Jawa
Timur
Kondisi

BPD Gabungan Importir


Nasional Jawa Timur

Petunjuk
serta
arahan
pelaksanaan sudah konsisten

Petunjuk
serta
arahan
pelaksanaan sudah konsisten
Adanya
hambatan
yakni
terkait ketidakterpaduan data
antara pusat dan daerah

Kondisi

Sumber: diolah dari hasil pengumpulan data

III-74

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

III.2.5 Disposisi
Keberhasilan implementasi suatu kebijakan selain perlu didukung oleh
faktor sumberdaya, dan komunikasi namun tidak bisa terlepas dari faktor
kemauan dan iktikad baik dari para pelaksana kebijakan. Sebuah kebijakan akan
berjalan dengan baik dan efektif apabila didukung oleh keinginan yang kuat oleh
para aparat di lapangan. Bisa dikatakan pula bahwa disposisi merupakan
kesediaan pelaksana untuk menjalankan kebijakan yang terwujud dalam
pengetahuan dan pemahaman serta tanggapan terhadap kebijakan yang ada.
Untuk melihat disposisi pelaksana dalam pelaksanaan kebijakan
pengendalian distribusi produk impor ini ditinjau dari dua hal yaitu: pemahaman
dan pengetahuan para pelaksana kebijakan dan respon dari para pelaksana
kebijakan. Hal ini dapat digunakan untuk melihat disposisi yang dimiliki oleh para
pelaksana. Jika hal tersebut menunjukkan arah yang positif maka tingkat
kesediaan untuk melaksanakan kebijakan akan semakin tinggi pula, dan begitu
sebaliknya.
Tingkat pengetahuan dan pemahaman pelaksana
Pengetahuan aparat pelaksana terhadap kebijakan ini menjadi hal yang
penting dalam pelaksanaan pengendalian distribusi produk impor. Hal ini
disampaikan oleh Ibu Tuti Asri Harini (Kasubag Perdagangan Biro Administrasi
Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur):
kebijakan pengendalian itu artinya kita tidak menghambat ya, kita
tidak menghambat impor yang masuk kesini. Tapi kebijakan ini
bermaksud untuk mengendalikan saja. Mengapa demikian? Ini
karena pengaruh dari penetapan Pelabuhan Tanjung perak sebagai
satu-satunya pintu masuk impor hortikultura di pulau Jawa.
Selanjutnya banyak sekali produk hortikultura impor yang masuk

III-75

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

kesini padahal petani kita banyak menghasilkan hortikultura juga,


sehingga kita harus sangat mengendalikan hal tersebut melalui
pembuatan laporan distribusi, selain itu juga dilakukan pengawasan
barang beredar untuk menghindari kemungkinan rembesan atau
kebocoran di Jawa Timur. (wawancara tanggal 7 April 2014)
Selanjutnya daitambahkan oleh Ibu Risang Dwi Rahayu selaku staf
bagian Perdagangan Biro Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah
Provinsi Jawa Timur.:
Kebijakan Pengendalian distribusi produk impor ini dibuat sebagai
mekanisme pengendalian terhadap hortikultura impor yang masuk ke
Jawa Timur. Kebijakan ini muncul dari keinginan pemerintah untuk
melindungi petani-petani kita dari serbuan buah-buahan impor yang
datang dari luar. Jawa Timur ini kan sebagai wilayah yang memiliki
agro-ekologi yang bagus mas, jadi kalau tidak didukung oleh
pemerintah maka ditakutkan petani kita kalah dengan produk impor
tersebut. (wawancara tanggal 28 April 2014)

Pelaksana dari Biro Administrasi Perekonomian Provinsi Jawa


Timur telah mengetahui latar belakang dan gambaran terkait kebijakan
pengendalian distribusi produk impor. Pelaksana dari Biro Administrasi
Perekonomian Provinsi Jawa Timur juga telah memahami bahwa
mekanisme yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur
bukanlah untuk menghambat produk-produk impor, tapi hanya sebatas
mengendalikan distribusi impor yang masuk agar tidak mengganggu
keberadaan hortikultura lokal di Jawa Timur.
Kemudian dari Pihak Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi
Jawa Timur

yang juga terlibat dalam pelaksanaan kebijakan ini

dikemukakan oleh Ibu Ninik Margirini selaku Kasi Impor Dinas


Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur:

III-76

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Jadi begini, sesuai dengan ratifikasi WTO kita tidak boleh


mengatakan melarang produk impor untuk masuk kesini, kecuali
terhadap barang-barang yang dilarang seperti bahan peledak. Yang
dilakukan Pemerintah Jawa Timur adalah mengendalikan
distribusinya. Pemerintah Jawa Timur merupakan satu-satunya
pemerintah daerah di Indonesia yang membuat kebijakan mengenai
pengendalian distribusi produk impor, jadi sebenarnya khusus untuk
hortikultura Jawa Timur adalah provinsi penghasil hortikultura
terbesar karena kita provinsi agribisnis, kita surplus lho disini dan
kita juga men supply kebutuhan agrobis di wilayah timur. Oleh sebab
itu, untuk mengamankan produk di jawa timur lahirlah Pergub No. 2
tahun 2013. (wawancara tanggal 24 April 2014)
Kemudian ditambahkan oleh Pak Eka selaku Kasi Pengawasan Barang
Beredar dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Provinsi Jawa Timur sebagai berikut:
Yang dimaksud pengendalian produk impor itu pertama kita harus
tahu munculnya dari Pergub ini, pintu masuk impor yang diatur
menjadi 4 titik. Dari situ Pak Gubernur merasa perlu membuat
kebijakan pengendalian mengingat Jawa Timur itu memasok kurang
lebih 60% produk hortikultura ke Indonesia timur. Beliau tidak mau
posisi pasar kita dimasuki oleh produk-produk impor. Mau tidak
mau kan kita dilewati oleh produk impor karena hampir 70% itu
bongkar disini. Maka dari itu Pak Gubernur membuat gebrakan
dengan Pergub ini. Selain itu kebijakan ini juga bermaksud untuk
melindungi konsumen dari kemungkinan adanya cemaran berbahaya
dari produk impor. (wawancara tanggal 18 April 2014)

Dari informasi yang dikemukakan oleh pihak Dinas Perindustrian dan


Perdagangan Provinsi Jawa Timur dapat dipahami bahwa pelaksana kebijakan
juga telah memiliki pengetahuan yang cukup terkait dengan kebijakan
pengendalian distribusi produk impor. Para pelaksana memahami bahwa
kebijakan pengendalian distribusi produk impor hortikultura bukan merupakan
upaya untuk melarang produk impor yang masuk, tapi kebijakan ini merupakan
mekanisme pengendalian terhadap distribusi produk impor. Provinsi Jawa Timur

III-77

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

memiliki peran strategis sebagai produsen dan distributor hortikultura untuk


wilayah Indonesia Timur sebesar 60%, sehingga dengan adanya peraturan ini
diharapkan mampu melindungi para petani hortikultura lokal dari serangan buahbuahan impor yang masuk melalui Jawa Timur. Selain itu, para pelaksana
kebijakan juga memahami bahwa kebijakan ini juga memiliki implikasi terhadap
perlindungan konsumen yang kemungkinan terkena dampak akibat cemarancearan yang terkandung dalam produk-produk impor.
Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa aparat pelaksana baik yang ada di
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur dan Biro Administrasi
Perekonomian Jawa Timur telah memiliki tingkat pemahaman dan pengetahuan
yang cukup baik terhadap kebijakan pengendalian distribusi produk impor.
Dengan pemahaman dan pengetahuan pelaksana yang baik maka pelaksanaan
kebijakan akan berjalan secara efektif.
Arah respon pelaksana terhadap kebijakan
Arah respon pelaksana merupakan tanggapan yang muncul dari kesesuaian
nilai-nilai yang dimiliki oleh pelaksana terhadap sebuah kebijakan. Apabila
pelaksana kebijakan memiliki arah respon yang negatif atau tidak sesuai dengan
nilai-nilai yang dianut maka kebijakan tersebut akan mengalami hambatan atau
masalah. Sebaliknya jika pelaksana kebijakan memiliki respon yang positif dan
mendukung pelaksanaan kebijakan, maka kebijakan tersebut akan dapat terlaksana
dengan baik. Dalam melihat hal tersebut bisa ditemukan dalam hasil wawancara
dengan Ibu Ninik Margirini selaku Kasi Impor Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa Timur:

III-78

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Kalo saya sangat setuju dan mendukung dengan adanya kebijakan


ini, karena dengan kebijakan ini kita mampu melindungi produkproduk lokal kita dari masuknya produk impor, selain itu dengan
adanya peraturan ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan
para petani kita. (wawancara tanggal 18 April 2014)
Kemudian ditambahkan oleh Bapak Eka Setyabudi selaku Kasi Pengawasan
Barang Beredar dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa Timur:
Untuk kami selaku aparat pelaksana mendukung penuh dengan
adanya peraturan ini, karena kalau tidak dilindungi ya amblas petani
kita mas. Ini kan instrumen untuk melindungi petani kita. Kalau kita
tidak mengendalikan produk impor maka harga produk kita akan
anjlok. Bayangkan kalau petani kita baru saja panen dan dibuka
keran impor besar-besaran, bakal jadi apa mereka. (wawancara
tanggal 24 April 2014)
Respon yang positif terkait kebijakan pengendalian distribusi produk impor
ini juga disampaikan oleh aparat pelaksana dari Biro Administrasi Perekonomian
Provinsi Jawa Timur yaitu Bapak Gede Garina selaku staf bagian Perdagangan
Biro Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur sebagai
berikut:
Kebijakan pengendalian distribusi produk impor itu sangat penting
mas, karena tujuannya sangat baik yaitu melindungi petani kita dari
serbuan produk-produk impor. (wawancara tanggal 29 April 2014)
Hal yang serupa dikatakan oleh Ibu Tuti Asri Harini selaku Kasubag
Perdagangan Biro Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa
Timur sebagai berikut:
Kebijakan ini menurut saya ya sangat perlu toh, apalagi Pak
Gubernur itu sangat pro-rakyat, maka menurut saya ya perlu itu.
Kasihan petani kita, kasihan produsen kita, bisa-bisa nggak laku.
Petani kita kan perlu dilindungi. (wawancara tanggal 28 Maret
2014)
III-79

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Dari informasi di atas dapat dipahami bahwa para pelaksana dari kebijakan
pengendalian distribusi produk impor ini secara keseluruhan memiliki respon
yang positif terhadap kebijakan ini. Para pelaksana sangat mendukung dengan
keberadaan kebijakan ini dengan pertimbangan manfaat-manfaat yang diperoleh
sangat menguntungkan bagi para petani dan produsen hortikultura lokal di Jawa
Timur. Selanjutnya, disposisi yang ditunjukkan para pelaksana kebijakan ini dapat
disimpulkan dalam tabel di bawah ini.

Tabel III.15 Rekapitulasi Hasil Pengumpulan Data tentang Disposisi


Disposisi Pelaksana
Dinas Perindustrian dan
Biro Administrasi
Perdagangan Provinsi
Perekonomian Provinsi
Jawa Timur
Jawa Timur
Pengetahuan
dan Memiliki pengetahuan dan Memiliki
pengetahuan
pemahaman
tentang memahami
tentang dan memahami tentang
kebijakan
kebijakan dengan baik
kebijakan dengan baik
Arah
respon
para Positif, karena bermanfaat Positif,
karena
pelaksana
terhadap bagi petani dan produsen bermanfaat bagi petani
kebijakan
hortikultura lokal dan dan
produsen
sebagai
mekanisme hortikultura
lokal,
perlindungan konsumen
mampu
meningkatkan
kesejahteraan petani
Sumber: Diolah dari hasil pengumpulan data

III.2.6 Kondisi Ekonomi dan Politik


Implementasi bukanlah proses yang sederhana, tetapi merupakan tahapan
proses kebijakan yang kompleks dan merupakan proses yang berlangsung
dinamis. Hasil akhir dari proses implementasi tidak bisa diperkirakan hanya dari
ketersediaan kelengkapan program, namun juga dibutuhkan adanya dukungan dari
kondisi lingkungan sekitar. Kondisi lingkungan sangat berpengaruh terhadap

III-80

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

keberhasilan proses implementasi, sehingga harus melibatkan berbagai disiplin


ilmu dalam penerapannya. Meskipun kebijakan tersebut memiliki perencanaan
dan desain yang baik, kemungkinan untuk berhasil akan kecil jika tidak didukung
oleh lingkungan sekitarnya. Lingkungan dalam pembahasan ini dibagi menjadi
dua, yaitu lingkungan ekonomi dan lingkungan politik.
Kedua lingkungan tersebut dianggap memiliki peran terhadap keberhasilan
implementasi suatu kebijakan. Kondisi ekonomi akan dibagi menjadi dua: skala
makro dan skala mikro. Skala makro dalam pembahasan ini ditinjau dari sistem
perekonomian Indonesia, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur dan PDRB Perkapita
Provinsi Jawa Timur. Sedangkan skala mikro akan ditinjau dari dampak kebijakan
pengendalian distribusi produk impor terhadap harga komoditas hortikultura
impor
Kondisi politik juga tidak kalah penting dari kondisi ekonomi, karena
suatu kebijakan akan berjalan efektif apabila lingkungan politik dari kebijakan
tersebut kondusif dan mendapat dukungan secara politis. Dari kondisi lingkungan
politik dilihat dari kondusifitas politik dan juga dukungan para elit politik di Jawa
Timur terhadap implementasi kebijakan pengendalian distribusi produk impor.
Selanjutnya di bawah ini akan di jelaskan terkait penjelasan kondisi ekonomi dan
politik di Jawa Timur.
Kondisi ekonomi
Dalam upaya menjaga keseimbangan dan kestabilan perekonomian, Indonesia
menganut sistem ekonomi campuran. Sistem ekonomi campuran memadukan dua
sistem ekonomi yaitu sistem ekonomi pasar dan terpimpin, namun tidak pernah

III-81

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

lepas dari nilai-nilai landasan Negara Republik Indonesia yaitu pasal 33 ayat 1
sampai dengan 3 UUD RI tahun 1945 yang menyatakan bahwa:
1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas
kekeluargaan.
2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai
hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai
oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat.
Pemerintah memiliki peranan yang sama pentingnya dengan privat/ swasta.
Peranan dari pemerintah bertujuan agar tidak terjadi sistem ekonomi komando
yang hanya dimonopoli oleh beberapa pihak saja dan juga menghindari adanya
sistem ekonomi pasar bebas yang sebebas-bebasnya. Dalam hal yang berkaitan
dengan kebijakan pengendalian distribusi produk impor ini, bisa ditinjau dari
peranan pemerintah sebagai stakeholder yang memiliki kepentingan untuk
menjaga stabilitas dan menjamin distribusi produk impor di Jawa Timur dapat
berjalan dengan baik dan tidak mengganggu kepentingan daerah atau nasional.
Situasi dan kondisi perekonomian Jawa Timur pada awal tahun 2014 cukup
kondusif, meski menjelang pemilihan umum. Hal ini juga ditunjukkan dari
perolehan tingkat pertumbuhan ekonominya yang tumbuh positif. Kondisi
ekonomi Jawa timur secara umum dilihat dari sisi pertumbuhan ekonomi di tahun
2013 berada pada angka 6,55%, lebih rendah dari pertumbuhan tahun
sebelumnya, yaitu sebesar 7,27%. Namun, pertumbuhan ekonomi Jatim masih di

III-82

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

atas angka pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,78%. Hal ini
sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibu Tuti Asri Harini selaku Kasubag
Perdagangan Biro Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa
Timur sebagai berikut:
Untuk kondisi pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur tahun 2013
menurut data BPS masih bagus ya meski menurun sekitar 0,72% dari
tahun sebelumnya. Hal ini karena banyak faktor mas, seperti
misalnya akibat beberapa musibah yang terjadi kemarin gunung
Kelud, banjir dan sebagainya. Selain itu, kerusakan infrastruktur di
sebagian wilayah pantura, kenaikan harga BBM dan listrik juga
menghambat laju pertumbuhan ekonomi, namun secara umum
pertumbuhan ekonomi Jawa Timur masih lebih bagus dari pada
Jakarta bahkan nasional. (wawancara tanggal 27 Maret 2014)

Berdasarkan grafik III.5 di bawah dapat dilihat bahwa pada tahun 2010
perekonomian Jawa Timur mampu tumbuh 6,68 persen, kemudian tahun 2011 dan
tahun 2012 masing-masing mengalami percepatan sebesar 7,22 persen dan 7,27
persen, akan tetapi mengalami perlambatan menjadi 6,55 persen pada tahun 2013.

7,4
7,3

7,22

7,27

7,2
7,1
7
6,9
6,8
6,7

6,68
6,55

6,6
6,5
2010

2011

2012

2013

Grafik III.5 Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Jawa Timur 2010-2013


Sumber: BPS Provinsi Jatim
III-83

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Kondisi perekonomian Jawa Timur menunjukkan perkembangan cukup


menggembirakan, hal ini juga dapat dilihat dari peningkatan PDRB per kapita
Jawa Timur sebagaimana ditunjukkan pada tabel III.16 PDRB per kapita
penduduk Jawa Timur setiap tahun mengalami peningkatan. Pada tahun 2011
PDRB per kapita Jawa Timur Rp. 23,46 juta dan meningkat pada tahun 2012
mencapai Rp. 26,32 juta. Kemudian meningkat pada tahun 2013 sebesar Rp.
29,62 juta atau meningkat 12,74 persen dibandingkan tahun 2012. Hal ini
merupakan satu indikasi membaiknya kondisi perekonomian Jawa Timur.
Informasi lebih jelas dapat dilihat dalam tabel di bawah.

Tabel III.16 PDRB Per Kapita Jawa Timur Atas Dasar Harga
Berlaku Tahun 2011-2013

Uraian

2011

2012

2013

(1)

(2)

(3)

(4)

1. PDRB Atas Dasar Harga Berlaku

884.144

1.001

1.136

2. Jumlah Penduduk (Ribu Jiwa)

37.688

38.052

38.363

3. PDRB Perkapita (Ribu Rupiah)

23.460

26.320

29,62

(Miliar Rupiah)

Sumber: BPS Jatim, 2014

Kemudian terkait kondisi ekonomi Provinsi Jawa Timur ditinjau dari skala
mikro ditinjau dari dampak kebijakan pengendalian distribusi produk impor
terhadap harga komoditas hortikultura impor. Menurut hasil penelitian dari Pusat
Sosial, Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian

Kementrian

Pertanian

(2013)

menunjukkan

bahwa

kebijakan

III-84

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

pengaturan impor hortikultura berdampak pada turunnya ketersedian buah-buahan


impor dipasaran. Hal ini menyebabkan peningkatan harga buah impor mencapai
50-100%. Disisi lain kebijakan tersebut berdampak pada turut meningkatnya
ketersediaan buah lokal. Turunnya ketersediaan buah impor menyebabkan
perubahan komposisi buah yang diusahakan distributor, supermarket maupun
pedagang eceran. Persentase buah impor menurun sementara persentase buah
lokal meningkat. Di Lotte Mart kebijakan tersebut berdampak pada komposisi
buah-buahan yang dijual dari sebelumnya 70% merupakan buah impor menjadi
hanya 30% .
Dampak dari kebijakan pengendalian distribusi produk impor hortikultura
ini juga terjadi di Jawa Timur, seperti yang terjadi di kota Malang harga apel fuji
yang sebelumnya Rp. 110 ribu/kardus menjadi Rp.510 ribu/kardus. Harga buah
lokal juga mengalami kenaikan. Misalnya, apel Malang menjadi Rp. 19 ribu/kg
dari sebelumnya Rp. 10 ribu/ kg, alpukat dari Rp. 7 ribu/ kg menjadi Rp. 14
ribu/kg, dan duku menjadi Rp. 19 ribu/kg dari sebelumnya Rp. 11 ribu/kg. Di
Pasar Wonokromo Surabaya kenaikan harga buah impor mencapai 10-20%,
seperti misalnya apel Fuji dari harga Rp. 20 ribu naik menjadi Rp. 22 ribu, apel
washington dari harga Rp. 22 ribu menjadi Rp. 25 ribu, kelengkeng dari harga Rp.
22 ribu menjadi Rp. 25 ribu dan harga anggur dari harga Rp. 55 ribu menjadi Rp.
60 ribu perkilogramnya. (http://www.suarasurabaya.net/fokus/53/2013/123631Harga-Buah-Impor-Kini-Tak-Semanis-Rasanya 13 April 2014). Hal serupa juga
disampaikan oleh BPD Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI)
Jawa Timur yang menyatakan bahwa pemerintah berhasil menekan harga

III-85

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

komoditas hortikultura impor ke Jawa Timur. Adanya aturan-aturan yang


diterapkan kepada importir holtikultura berdampak pada harga buah impor
dipasaran semakin tinggi (http://www.antarajatim.com/lihat/berita/125420/ginsipemerintah-berhasil-kurangi-peredaran-buah-impor diakses 13 April 2014).
Dari informasi di atas dapat dipahami bahwa kebijakan pengendalian
distribusi produk impor hortikultura yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi
Jawa Timur melalui Pergub Jatim No. 2 tahun mampu menurunkan ketersedian
buah-buahan impor dipasaran. Hal ini berdampak pada peningkatan harga buah
impor mencapai 10-20% di Surabaya. Kemudian kenaikan harga buah-buahan
impor berdampak positif pada ketersediaan buah-buahan lokal di pasaran.

Kondisi politik
Jika ditinjau dari kondisi politik di Jawa Timur saat ini cukup baik dan
kondusif. Kondisi politik yang baik tersebut bisa dilihat dari beberapa hal.
Pertama terkait pelaksanaan Pemilihan Gubernur Jawa Timur pada tanggal 29
Agustus 2013 yang berlangsung secara aman dan kondusif. Kemudian pada
tanggal 9 April lalu juga telah dilaksanakan pemilihan umum legislatif yang
berlangsung dengan aman dan tertib. Sehingga kondisi politik yang kondusif
tersebut berdampak positif terhadap pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di
Jawa Timur. Hal ini sesuai dengan informasi yang diberikan oleh Ibu Tuti Asri
Harini selaku Kasubag Perdagangan Biro Administrasi Perekonomian Sekretariat
Daerah Provinsi Jawa Timur sebagai berikut:
Secara umum kondisi politik di Jawa Timur ini kan kondusif dan
aman. Bisa dilihat dari pelaksanaan pemilu Gubernur kemarin dan

III-86

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

pemilu legislatif yang baru saja dilaksanakan. Tentu kondisi politik


yang kondusif ini memberikan dampak positif terhadap
pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur. (wawancara
tanggal 7 April 2014)
Mengenai kondisi politik Jawa Timur juga dapat dilihat dari jargon politik
yang tertuang dalam visi misi yang dibawa oleh Gubernur Jawa Timur Dr. H.
Soekarwo, S.H., M.Hum yaitu: Pro Growth, Pro Job, Pro Poor and Pro
Environment menjadi target pembangunan provinsi Jawa Timur di periode 20142019. Tentu dengan jargon tersebut diharapkan kebijakan yang diambil akan
mengarah pada kesejahteraan rakyat.
Selain itu, untuk mendukung kondisi politik yang stabil dan terjalinnya
kerjasama antar unsur partai politik, setiap tiga bulan sekali Pemerintah provinsi
Jawa Timur mengadakan pertemuan dengan para petinggi partai politik yang ada
di Jawa Timur. Dengan hubungan yang cukup baik antara Pemerintah provinsi
Jawa Timur dengan unsur partai politik tersebut diharapkan menghasilkan solusi
berbagai permasalahan yang ada serta menjaga hubungan baik antar stakeholder
(http://www.jatimprov.go.id/site/jatim-belgia-tingkatkan-kerja-sama-ekonomi/
diakses 28 Mei 2014).
Terkait dukungan politik terhadap kebijakan pengendalian distribusi
produk impor dapat dikatakan sudah baik karena kebijakan ini mendapat
dukungan baik dari Pemerintah, DPRD Provinsi Jawa Timur unsur partai politik
di Jawa Timur dan juga DPR-RI. Hal ini dapat diketahui dari informasi yang
dilansir oleh portal berita kompas tanggal 18 Juni 2012 yang menyatakan bahwa
kebijakan pengendalian distribusi produk impor ini mendapat dukungan penuh
dari Komisi B DPRD Jatim. Selain dari komisi B DPRD Jatim dukungan tersebut
III-87

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

juga datang dari Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim yang menyerukan seluruh
pengurus DPC, kader maupun simpatisan partai untuk mengantisipasi terjadinya
kebocoran

proses

transit

buah-buahan

dan

sayuran

impor

di

Jatim

(http://health.kompas.com/read/2012/06/18/02381310/Jawa.Timur.Tegas.soal.Hor
tikultura.Impor diakses 2 Mei 2014). Dukungan terkait dengan kebijakan
Pengendalian distribusi produk impor hortikultura juga datang dari Komisi IV
DPR-RI yang salut dengan langkah yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa
Timur

terkait

regulasi

terhadap

produk

impor

hortikultura

(http://jatim.tribunnews.com/2012/02/15/dpr-ri-dukung-jatim-tolak-imporhortikultura diakses 2 Mei 2014).


Dari informasi di atas dapat dipahami bahwa kondisi politik di Jawa Timur
dalam keadaan kondusif dan stabil. Begitupula terkait dengan dukungan politik
terhadap kebijakan pengendalian distribusi produk impor hortikultura ini juga
didukung oleh segenap stakeholders yang ada di Jawa Timur dan Pusat. Tentu
kondisi politik dan dukungan politik merupakan aspek yang penting dalam
pelaksanaan suatu kebijakan, karena tanpa kondisi politik yang kondusif dan
dukungan politik yang baik akan mempengaruhi terhadap kelancaran dan
keberhasilan suatu kebijakan.

III.2.7 Karakteristik Kebijakan


Suatu kebijakan yang dikemukakan oleh Theodore Lowi mengenai
tipologi kebijakan. Karakteristik tersebut menggambarkan apakah kebijakan
tersebut termasuk dalam kebijakan distributif, redistributif atau regulatif. Dengan

III-88

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

mengetahui jenis kebijakannya diharapkan mampu mengantisipasi konsekuensi


yang terjadi dari implementasi sebuah kebijakan.
Dalam melihat karakteristik kebijakan pengendalian distribusi produk
impor hortikultura di Jawa Timur bisa ditemukan dalam hasil wawancara dengan
Ibu Ninik Margirini selaku Kasi Impor Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Provinsi Jawa Timur sebagai berikut:
Kalo namanya peraturan itu ya harus ditaati mas, karena ini sifatnya
kan administratif. Artinya kalau undang-undang berarti tidak
memiliki konsekuensi hukum tapi kalau peraturan ada sangsi secara
administratif seperti misalnya izinnya dicabut atau sangsi lain seperti
pencabutan surat-surat atau dokumen-dokumen terkait. (wawancara
tanggal 17 April 2014)
Hal yang serupa disampaikan oleh Bapak Eka Setyabudi selaku Kasi
Pengawasan Barang Beredar dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian
dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur sebagai berikut:
Oh iya jelas, peraturan ini sifatnya memaksa. Jadi semua importir
harus menaati peraturan ini. Misalnya masalah izin bongkar, jadi
otoritas pelabuhan tidak bisa mengeluarkan barang di pelabuhan
sebelum mendapat rekomendasi dari Biro Perekonomian Provinsi
Jawa Timur, kalau mereka memaksa ya berarti melanggar artinya
ilegal. (wawancara tanggal 18 April 2014)

Kemudian Ibu Tuti Asri Harini selaku Kasubag Perdagangan Biro


Administrasi

Perekonomian

Sekretariat

Daerah

Provinsi

Jawa

Timur

menambahkan sebagai berikut:


Iya, kebijakan ini harus ditaati oleh semua importir. Sampean bisa
lihat dokumen-dokumen yang menumpuk dimeja kami setiap hari.
Itu kan semua terkait perizinan distribusi produk hortikultura impor
yang masuk ke Jawa Timur. (wawancara tanggal 7 April 2014)

III-89

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Dari informasi di atas dapat dipahami bahwa semua pelaksana kebijakan


baik yang ada di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur
maupun Biro Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur
sepakat bahwa Peraturan Gubernur No.2 tahun 2013 tentang pengendalian
distribusi produk impor merupakan suatu peraturan administratif yang harus
ditaati dan dilaksanakan, karena sifat dari peraturan ini adalah memaksa dan
mengatur importir. Sehingga ada konsekuensi hukum berupa sanksi administratif
bagi importir yang tidak memenuhi persyaratan perizinan distribusi produk impor
hortikultura di Jawa Timur. Jadi dapat dikatakan bahwa kebijakan pengendalian
distribusi produk impor hortikultura di Jawa Timur merupakan tipe kebijakan
regulatif menurut Lowi, karena kebijakan ini mengandung pemaksaan yang
diterapkan secara langsung dan bersifat mengatur untuk melakukan atau
mencegah untuk melakukan sesuatu.

Tabel III.17 Rekapitulasi Hasil Pengumpulan Data tentang


Karakteristik Kebijakan
Karakteristik Kebijakan
Dinas Perindustrian dan
Biro Administrasi
Perdagangan Provinsi Jawa
Perekonomian Provinsi
Timur
Jawa Timur
Tipologi
kebijakan Regulatif,
karena Regulatif,
karena
menurut sifatnya
memaksa/mengatur terkait memaksa/ mengatur terkait
distribusi produk impor
distribusi produk impor
Sumber: Diolah dari hasil pengumpulan data

III.2.8 Respon Objek Kebijakan


Implementasi kebijakan merupakan suatu tahapan dalam proses kebijakan
yang bersifat kompleks. Pada tahap ini aktor yang paling berperan tentu saja para

III-90

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

birokrat dari semua level. Namun demikian juga terdapat peran aktor-aktor
lainnya baik dari instansi pemerintah lainnya serta aktor-aktor lain diluar
lingkaran pemerintahan seperti LSM, asosiasi dan termasuk respon dari target
group yang telah ditetapkan dalam suatu kebijakan.
Respon dari objek kebijakan merupakan suatu hal yang penting dalam era
perubahan dari government menuju pada governance. Hal ini berguna untuk
mengetahui bahwa proses implementasi kebijakan juga dipengaruhi oleh
tanggapan dari pihak yang terkena dampak kebijakan. Sehingga semakin positif
dan kooperatif tanggapan dari objek kebijakan, maka keberhasilan dari
implementasi kebijakan juga akan semakin besar, begitupun sebaliknya. Respon
dari objek kebijakan juga diperlukan dalam konteks kebijakan yang bersifat
regulatif, karena sifat dari kebijakan regulatif itu bersifat koersif atau memaksa,
sehingga diperlukan input berupa masukan, saran dan partisipasi untuk kelancaran
dan keefektifan suatu kebijakan. Dalam pembahasan ini akan difokuskan pada 2
aspek yaitu: tanggapan/ respon dan saran.
Tanggapan/ Respon
Tentang bagaimana respon dari objek kebijakan pengendalian distribusi
produk impor hortikultura di Jawa Timur ini diperoleh informasi dari Bapak
Setiyobudi (Sekretaris Eksekutif BPD Ginsi Jawa Timur) sebagai berikut:
Kita ya menerima dengan baik, karena ini kan melindungi
perusahaan dalam negeri dan petani. Tapi saya yang keberatan itu
apakah produk kita sudah mampu memenuhi kebutuhan dalam
negeri, seperti misalnya bawang putih itu kan banyak dibutuhkan
oleh perusahaan-perusahaan besar, tapi kita hanya bisa produksi 510% saja. Kemudian yang saya dan teman-teman importir tanyakan
tentang peraturan ini kalau memang bertujuan melindungi

III-91

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

hortikultura lokal apakah sudah dilihat mutu-mutunya dari produk


lokal kita. (wawancara tanggal 28 April 2014)
Dari informasi di atas dapat dipahami bahwa respon dari objek kebijakan
selalu mendukung kebijakan agar petani lokal terus berkembang. Namun ada
beberapa hal yang kurang disepakati oleh BPD GINSI Jawa Timur seperti
misalnya kualitas buah dari petani masih rendah dan juga ada beberapa buah yang
tidak diproduksi di dalam negeri, sehingga konsumen akan tetap mencari buah
impor. Hal tersebut dianggap BPD GINSI Jawa Timur harus dipertimbangkan
Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam membuat kebijakan. Kemudian Bapak
Setiyobudi menambahkan:
Begitu juga menurut saya peraturan-peraturan ini kan tumpah tindih
ya mas, Kementrian Pertanian mengeluarkan peraturan, Kementrian
Perdagangan juga mengeluarkan, Gubernur pun mengeluarkan, kan
gitu. Padahal seharusnya menurut kami kalau masalah perdagangan
kebijakan impor itu seharusnya yang memegang kendali adalah dari
Kementrian Perdagangan, jadi nggak ribet mas. Kalo mekanisme
sekarang kan harus punya Rekomendasi Impor Produk Hortikultura
(RIPH) kemudian Surat Pernyataan Impor (SPI) oleh kemendag, lalu
boleh impor, disini harus lewat Gubernur lagi, kan ribet.
(wawancara tanggal 28 April 2014)
Kemudian BPD GINSI Jawa Timur juga menilai bahwa peraturan yang
ada saat ini saling tumpang tindih kewenangannya. Dalam hal impor produk
hortikultura ada beberapa peraturan yang mengatur, mulai dari Peraturan Menteri
Pertanian No. 60 tahun 2012, Peraturan Menteri Perdagangan No. 47 tahun 2013
dan juga Peraturan Gubernur No. 2 tahun 2013. Peraturan-peraturan tersebut
mengatur terkait persyaratan pemasukan produk impor, izin impor, mekanisme
impor hingga pengendalian distribusinya. Kebijakan terkait dengan distribusi
produk impor hortikultura juga dianggap terlalu rumit dan berbelit, sehingga BPD

III-92

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

GINSI Jawa Timur mengharapkan adanya penyederhanaan terkait teknis distribusi


produk impor hortikultura.
Saran
Sebagai objek dari kebijakan pengendalian distribusi produk impor, BPD
GINSI Jawa Timur memiliki saran terkait kebijakan pengendalian distribusi
produk impor di Jawa Timur. Diharapkan dengan saran yang diberikan mampu
diakomodir oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur sehingga terjadi timbal balik/
interaksi antar aktor dan menjadi feedback Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam
membuat kebijakan di masa mendatang.
Adapun saran yang diberikan oleh Bapak Setyobudi selaku Sekretaris
Eksekutif BPD Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Jawa
Timur, sebagai berikut:
Saran saya, seharusnya mekanisme pengendalian distribusi impor
hortikultura dilakukan oleh satu kementrian saja. Impor itu kan
ranahnya perdagangan, ya harusnya dari Kementrian Perdagangan
saja lah, jadi prosedurnya tidak terlalu ribet mas. Seperti kemarin
waktu awal-awal penerapan Permendag 60 tahun 2012 itu kan
sempat terjadi penumpukan barang di Pelabuhan, itu kan karena
pengurusan RIPH yang belum selesai. (wawancara tanggal 28 April
2014)
Dari informasi di atas dapat dipahami bahwa BPD GINSI Jawa Timur
mengharapkan adanya penyederhanaan terkait mekanisme perizinan dan
pengendalian distribusi produk impor di Jawa Timur. Mekanisme perizinan
diharapkan hanya terpusat melalui satu kementrian saja yaitu Kementrian
Perdagangan, karena Kementrian Perdagangan dianggap institusi yang paling
terkait dengan kegiatan distribusi produk impor. Selain Kemudian beliau
menambahkan lagi:
III-93

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Terkait dengan pengendalian impor hortikultura mas, kalo


pemerintah memang mau benar-benar melakukan pengendalian,
seharusnya dari pihak pemerintah belajar dari luar negeri bagaimana
kualitas buah bisa baik, itu kan ranahnya Kementrian Pertanian.
Bagaimana mutunya agar tidak kalah dengan produk impor, lahan
disini juga banyak. Disamping itu bisa juga kerjasama dengan
universitas-universitas yang punya fakultas pertanian. Kalau nanti
sudah bagus kualitasnya maka otomatis orang-orang akan memilih
produk dalam negeri. (wawancara tanggal 28 April 2014)
Selanjutnya, saran yang diberikan oleh BPD GINSI Jawa Timur terkait
dengan kebijakan pengendalian distribusi produk impor hortikultura adalah terkait
dengan iktikad baik pemerintah untuk memperbaiki kualitas produk hortikultura
lokal yang hingga saat ini dianggap masih rendah. BPD GINSI Jawa Timur
mengharapkan adanya keseriusan pemerintah untuk memberdayakan produkproduk hortikultura lokal melalui riset dan pengembangan dengan melibatkan
akademisi pertanian dari perguruan-perguruan tinggi di Indonesia, sehingga
diharapkan Indonesia mampu menghasilkan produk-produk hortikultura unggulan
yang memiliki kualitas yang setara dengan hortikultura impor. Dengan demikian
produk-produk hortikultura lokal mampu bersaing dengan produk hortikultura
asal luar negeri. Selanjutnya, Respon objek kebijakan ini dapat disimpulkan dalam
tabel di bawah ini.

III-94

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Tabel III.18 Rekapitulasi Hasil Pengumpulan Data tentang Respon


Objek Kebijakan
Respon Objek
Kebijakan
Respon Kebijakan

Saran

BPD Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI)


Jawa Timur
Memiliki respon yang positif terkait kebijakan pengendalian
distribusi produk impor hortikultura, meskipun ada beberapa
hal yang kurang disetujui.
Mengharapkan
adanya
penyederhanaan
terkait
mekanisme perizinan dan pengendalian distribusi produk
impor di Jawa Timur. Mekanisme perizinan diharapkan
hanya terpusat melalui satu kementrian saja yaitu
Kementrian Perdagangan.
Mengharapkan adanya keseriusan pemerintah untuk
memberdayakan produk-produk hortikultura lokal
melalui riset dan pengembangan dengan melibatkan
akademisi pertanian dari perguruan-perguruan tinggi di
Indonesia.

Sumber: Diolah dari hasil pengumpulan data

III.3 Interpretasi Teoritik


III.3.1

Implementasi

Kebijakan

Pengendalian

Distribusi

Produk

Impor

Hortikultura di Jawa Timur


Van Metter dan Van Horn menyatakan bahwa implementasi kebijakan
mencakup juga usaha-usaha untuk mengubah keputusan-keputusan menjadi
operasional melanjutkan usaha-usaha untuk mencapai usaha besar dan yang
ditetapkan oleh keputusan-keputusan kebijaksanaan (Wahab, 2008:51). Latar
belakang munculnya kebijakan pengendalian distribusi impor hortikultura ini
berawal dari diterbitkannya Peraturan Menteri Pertanian Nomor 89 Tahun 2011
tentang Persyaratan Teknis dan Tindakan Karantina Tumbuhan Untuk Pemasukan
Buah-buahan Dan/atau Sayuran Buah Segar ke Dalam Wilayah Negara Republik

III-95

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Indonesia yang mengatur tujuh pintu masuk pelabuhan dan bandar udara
dikurangi menjadi empat pintu masuk saja, diantaranya: Pelabuhan Belawan
Medan, Pelabuhan Tanjung Perak, Pelabuhan Makassar dan Bandar Udara
Soekarno Hatta Cengkareng. Tujuan penetapan empat pintu masuk itu adalah agar
Pemerintah dapat lebih melakukan fungsi pengawasan terhadap produk impor.
Dalam teorinya, Tulus Tambunan (2004:339) mengatakan bahwa
kebijakan pengendalian impor terdiri dari berbagai instrumen mulai dari larangan
impor secara mutlak, kuota impor, pemberian subsidi kepada produsen dalam
negeri juga termasuk berbagai jenis regulasi dan ketentuan teknis dari pemerintah
yang berkaitan dengan: kesehatan, pertahanan dan keamanan, perizinan impor,
regulasi standardisasi dan masih banyak lainnya. Kebijakan pengendalian
distribusi produk impor hortikultura di Jawa Timur merupakan tindak lanjut dari
Peraturan Menteri Pertanian No. 89 Tahun 2011 yang menetapkan Pelabuhan
Tanjung Perak sebagai salah satu pintu masuk produk impor di Jawa Timur.
Peraturan Menteri tersebut memiliki dampak terhadap melonjaknya jumlah
produk-produk impor khususnya hortikultura yang masuk melalui Pelabuhan
Tanjung Perak sehingga menyebabkan penumpukan barang. Hal ini terjadi karena
Pelabuhan Tanjung Perak merupakan alternatif pintu masuk impor hortikultura di
Pulau Jawa dan paling memungkinkan dibandingkan melalui Bandara Soekarno
Hatta Jakarta. Sedangkan Pelabuhan Tanjung Priok tidak lagi ditetapkan sebagai
pintu masuk impor produk hortikultura karena keterbatasan kemampuan
laboratorium karantina dan keamanan pangan serta tidak memadainya jumlah

III-96

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

petugas karantina. Untuk mengatur distribusi produk impor yang masuk, maka
Pemerintah Provinsi Jawa Timur membuat Peraturan Gubernur No. 2 Tahun 2013.
Sesuai hasil kajian kebijakan yang dilakukan oleh Kementrian
Perdagangan pada tahun 2012, berdasarkan analisis kesesuaian penentuan
pelabuhan yang akan ditetapkan dengan sentra produksi hortikultura dan sentra
industri, maka pelabuhan yang sangat sensitif dijadikan pintu masuk impor adalah
Tanjung Perak (Jawa Timur), Belawan (Sumatera Utara) dan Batam karena kedua
wilayah tersebut merupakan produsen utama yang menempati wilayah produsen
terbesar kedua dan ketiga dari produksi buah-buahan dan sayuran segar di
Indonesia. Oleh karena itu, di pelabuhan-pelabuhan tersebut perlu di back up oleh
peraturan daerah (Gubernur) dan peraturan lainnya untuk lebih melindungi daya
saing produk lokalnya yang masih jauh lebih rendah dibandingkan produk impor.
UU. No. 8 tahun 2009 tentang Perlindungan Konsumen menyebutkan
bahwa dalam rangka pelaksanaan perlindungan konsumen perlu adanya
penanganan yang sinergis dan terkoordinasi dalam melaksanakan pengawasan
barang beredar dan jasa yang dilaksanakan secara terpadu oleh unsur instansi
terkait. Pengawasan barang beredar dilakukan terhadap produk-produk lokal
maupun produk impor, hal ini dimaksudkan untuk melindungi konsumen dalam
negeri dari praktek ilegal dan ancaman bahaya.
Hal ini sesuai dengan tujuan yang terkandung dalam Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang
menyatakan bahwa Perlindungan konsumen bertujuan :

III-97

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

a) Meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk


melindungi diri;
b) Mengangkat

harkat

dan

martabat

konsumen

dengan

cara

menghindarkannya dari ekses negatif pemakaian barang dan/atau jasa;


c) Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan dan
menuntut hak-haknya sebagai konsumen;
d) Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur
kepastian hukum

dan

keterbukaan informasi

serta

akses untuk

mendapatkan informasi;
e) Menumbuhkan

kesadaran

pelaku

usaha

mengenai

pentingnya

perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan


bertanggung jawab dalam berusaha;
f) Meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan
usaha produksi barang dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan,
dan keselamatan konsumen.
Dalam pelaksanaannya pengawasan barang beredar di Jawa Timur terdiri
dari beberapa aktivitas atau tahapan seperti proses persiapan, koordinasi dan
pelaksanaan pengawasan, tahap pelaporan hasil dan penyidikan, penarikan barang
dan sanksi hingga evaluasi pengendalian dan pengawasan distribusi impor yang
sudah berjalan dengan baik sesuai dengan Peraturan Menteri Perdagangan No. 20
Tahun 2009 tentang Ketentuan dan tatacara Pengawasan Barang dan/atau Jasa.
Pelaksanaan proses pengendalian dan pengawasan ini melibatkan beberapa
instansi antara lain Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur

III-98

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

sebagai penanggung jawab, Kepolisian Daerah Jawa Timur, Biro Perekonomian


Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur,
Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan Surabaya, Dinas Peternakan Provinsi
Jawa Timur, Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur, Kantor Wilayah
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jatim I, Kepala Bidang Metrologi, Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur, Kepala Bidang Standarisasi
dan Desain Produk Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur
sebagai anggota Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar Provinsi Jawa Timur.
Hal ini sesuai dengan Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 188/ 210
/KPTS/013/2011 Tentang Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar Di Provinsi
Jawa Timur.
Selain melakukan pengawasan langsung di lapangan, untuk menunjang
efektifitas dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam mengawasi barang
beredar, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur berusaha
mengajak partisipasi masyarakat untuk berperan aktif dalam melakukan
pengawasan barang beredar dengan membuka call center milik Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur. Melalui call center tersebut
masyarakat dapat melaporkan dan mengadukan apabila terdapat indikasi
pelanggaran atau segala sesuatu yang bisa merugikan konsumen. Hal ini sesuai
dengan pasal 3 ayat 1 Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 20 Tahun 2009
tentang Ketentuan Dan Tata Cara Pengawasan Barang dan/atau Jasa yang
menjelaskan bahwa masyarakat berhak mengawasi barang dan/atau jasa yang
beredar di pasar.

III-99

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Dalam pelaksanaannya kebijakan pengendalian dan pengawasan produk


impor hortikultura ini sudah dapat berjalan dengan baik dalam setiap tahapannya.
Kebijakan pengendalian distribusi produk impor hortikultura merupakan
kebijakan yang penting, karena dari hasil evaluasi dari kebijakan pengendalian ini
akan menjadi bahan kajian atau rekomendasi untuk pemerintah pusat dalam
menetapkan kebijakan pemberian Surat Persetujuan Impor (SPI) sehingga bisa
menjadi bahan pertimbangan pemerintah pusat untuk melihat track record
importir sebelum memberikan Surat Persetujuan Impor (SPI). Selain itu,
kebijakan pengendalian dan pengawasan barang beredar akan menjamin
kesesuaian produk dengan standar mutu yang telah ditetapkan. Dengan standar
mutu tersebut maka diharapkan bahwa konsumen tidak akan dirugikan serta
keselamatan konsumen dalam menggunakan produk tersebut akan dapat dijamin.
Dalam penelitian ini, interpretasi data yang dilakukan menggunakan acuan
faktor-faktor yang telah ditentukan pada bab sebelumnya.
Sasaran Kebijakan
Dalam pelaksanaan kebijakan pengawasan dan pengendalian distribusi
produk impor di Jawa Timur tentunya ada sasaran kebijakan yang telah ditetapkan
sebelumnya. Menurut Van Matter dan Van Horn sasaran kebijakan digunakan
untuk mengetahui aktor-aktor yang menjadi objek kebijakan dan juga berfungsi
agar kebijakan tersebut efektif dan tidak salah sasaran (Nugroho, 2011:628).
Dalam penelitian ini sasaran dari kebijakan pengendalian distribusi produk
impor hortikultura ini adalah para pelaku usaha dibidang impor hortikultura yang
masuk melalui wilayah kepabeanan Provinsi Jawa Timur, selain itu sasaran

III-100

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

lainnya adalah para pedagang besar di ritel dan supermarket seperti: Giant, Hero,
Hokky, Super Indo, Hypermart, Carrefour serta para pedagang kecil yang ada
dipasar-pasar tradisional.
Sumberdaya
Bryant and White (1989:142) mengemukakan bahwa sumberdaya
memiliki peranan penting dalam implementasi sebuah kebijakan. Sebagus apapun
suatu kebijakan jika tidak didukung oleh sumberdaya yang mencukupi akan sulit
untuk diimplementasikan. Sumber daya menjadi suatu komponen yang diperlukan
untuk melaksanakan sebuah kebijakan agar pelaksanaan suatu kebijakan dapat
berjalan dengan baik maka harus didukung oleh sumber daya pelaksananya.
Dalam menginterpretasi implementasi kebijakan pengendalian distribusi
produk impor hortikultura ini dilihat dari sumberdaya yang telah ditentukan
tinjauan teori penelitian yaitu: sumberdaya administrasi/staf, sumberdaya
kewenangan, sumberdaya fisik/fasilitas, sumberdaya informasi dan sumberdaya
finansial.
1. Administrasi/ staf
Edward III (dalam Widodo, 2007:98) menegaskan bahwa sumberdaya
manusia merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan
dan kegagalan pelaksanaan kebijakan. Kebijakan yang jelas dan konsisten
yang tidak didukung dengan ketersediaan sumberdaya manusia maka
kebijakan tersebut tidak akan berjalan dengan efektif.
Kualitas yang dimiliki para staf dari Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa Timur dan Biro Administrasi Perekonomian

III-101

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur telah cukup memadai sesuai


dengan pendapat yang dikemukakan oleh Edward III. Para pelaksana
memiliki

tingkat

pendidikan

serta

keahlian

yang

cukup

untuk

melaksanakan kebijakan terkait pengawasan dan pengendalian distribusi


produk impor. Selain itu kebijakan ini juga didukung oleh adanya Tim
Terpadu Pengawasan Barang Beredar Provinsi Jawa Timur yang terdiri
dari berbagai instansi diantaranya: Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Provinsi Jawa Timur sebagai penanggung jawab, Kepolisian Daerah Jawa
Timur, Biro Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Dinas
Pertanian Provinsi Jawa Timur, Balai Besar Pengawasan Obat dan
Makanan Surabaya, Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Dinas
Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur, Kantor Wilayah Direktorat
Jenderal Bea dan Cukai Jatim I, Kepala Bidang Metrologi, Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur, Kepala Bidang
Standarisasi dan Desain Produk Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Provinsi Jawa Timur.
Kompetensi yang dimiliki oleh Tim Terpadu Pengawasan Barang
Beredar Provinsi Jawa Timur tentu sudah cukup baik karena terdiri dari
berbagai macam instansi yang berkompeten dan ahli dibidangnya masingmasing yang berhubungan dengan pelaksanaan kebijakan pengawasan dan
pengendalian distribusi produk impor, selain itu seluruh anggota yang
tergabung didala Tim Terpadu sudah memiliki sertifikat kompetensi,

III-102

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

sehingga diharapkan pelaksanaan kebijakan ini berjalan dengan maksimal


dan efektif.
Adanya sumberdaya staf yang memadai menurut Van Metter dan Van
Horn dalam Nugroho (2011:628) akan mempengaruhi tingkat keberhasilan
implementasi suatu kebijakan. Dalam suatu kebijakan dibutuhkan
sumberdaya yang berkualitas sesuai dengan pekerjaan yang diisyaratkan.
Semakin baik kualitas, penggunaan dan ketersediaan sumberdaya
tercukupi, maka akan semakin mempengaruhi keberhasilan implementasi
suatu kebijakan.
Demikian pula dalam implementasi kebijakan pengawasan dan
pengendalian distribusi produk impor ini. Jumlah dan kualitas yang
dimiliki para staf pelaksana dari dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Provinsi Jawa Timur dan Biro Administrasi Perekonomian Provinsi Jawa
Timur dapat memperlancar pelaksanaan tugas yang terkait dengan tugas
dan kewenangannya masing-masing sehingga peran sumberdaya staf yang
ada bisa dikatakan mendukung implementasi kebijakan ini, meskipun ada
sedikit hambatan berupa kekurangan sumberdaya staf pada dari Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur akan dapat
memunculkan hambatan dalam pelaksanaan tugas yang berkaitan dengan
kebijakan pengawasan dan pengendalian distribusi produk hortikultura
impor tersebut. Hal ini masih kurang memenuhi syarat apabila dikaitkan
dengan konsep yang disampaikan oleh Widodo (2007:99) yang
menyampaikan bahwa sumberdaya manusia harus ada ketepatan dan

III-103

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

kelayakan antara jumlah staf yang dibutuhkan dan keahlian yang dimiliki
sesuai dengan tugas pekerjaan yang ditanganinya.
2. Kewenangan
Secara keseluruhan kewenangan yang dimiliki oleh masing-masing
pelaksana kebijakan pengendalian distribusi produk impor di Jawa Timur
baik dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur dan
Biro Administrasi Perekonomian Jawa Timur sudah memadai karena
sudah diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 20 Tahun
2009, Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 16 Tahun 2011, Peraturan
Gubernur No. 2 tahun 2013 dan juga dalam Keputusan Gubernur Nomor
188/ 210 /KPTS/ 013/2011.
Kedudukan Dinas Perindustrian Dan Perdagangan Provinsi Jawa
Timur sebagai koordinator dalam Tim Terpadu Pengawasan Barang
Beredar Provinsi Jawa Timur juga memberikan dinas ini kewenangan
untuk memberikan arahan yang terkait dengan kebijakan pengendalian
distribusi produk impor. Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar
Provinsi Jawa Timur juga berwenang untuk melakukan teguran tertulis dan
meminta penjelasan terkait indikasi pelanggaran di lapangan, kemudian
Tim ini juga berwenang melakukan pelaporan apabila ditemukan
pelanggaran pidana.
Kewenangan merupakan satu hal yang sangat diperlukan dalam
pencapaian tujuan sebuah kebijakan, termasuk dalam implementasi
kebijakan pengendalian distribusi produk impor ini. Utamanya apabila

III-104

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

terjadi suatu permasalahan yang ditemukan di lapangan yang terkait


dengan tugas pokok kedua instansi tersebut. Berdasarkan hasil penelitian
yang diperoleh, menunjukkan bahwa Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Provinsi Jawa Timur dan Biro Administrasi Perekonomian Jawa Timur
telah memiliki kewenangan yang cukup dan memadai dalam menjalankan
tugas dan fungsinya. Dengan kewenangan yang cukup maka segala proses
pengendalian dan pengawasan distribusi produk impor di Jawa Timur ini
dapat berjalan lancar sesuai dengan peran masing-masing. Hal ini sesuai
dengan apa yang disampaikan oleh Edward III (dalam Widodo, 2007:103)
bahwa sumberdaya kewenangan yang cukup untuk membuat keputusan
sendiri yang dimiliki oleh suatu lembaga akan mempermudah pelaksanaan
suatu kebijakan di lapangan.
3. Fisik/ fasilitas
Kecukupan dan ketersediaan fasilitas fisik merupakan salah satu aspek
yang mendukung kelancaran pelaksanaan kebijakan pengendalian sitribusi
produk impor. Sebagaimana yang dikatakan oleh Edward III (dalam
Widodo, 2007: 102):
Fasilitas fisik merupakan aspek penting yang harus dipenuhi dalm
implementasi kebijakan. implementor mungkin memiliki staf yang
memadai dan memiliki pemahaman yang baik serta kewenangan yang
cukup. Namun, tanpa adanya gedung yang dibutuhkan, peralatan, sarana
yang mencukupi maka implementasi tidak akan berjalan dengan baik.

Secara umum tidak ditemukan masalah terkait sumberdaya fasilitas


fisik dikedua instansi baik Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi
Jawa Timur maupun Biro Administrasi Perekonomian Provinsi Jawa

III-105

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Timur seperti ketersedian gedung, ruangan kerja, laboratorium, perangkat


komputer, printer, internet dan lain sebagainya semua telah tersedia.
Namun, ada fasilitas yang dirasa kurang di Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa Timur yaitu mobil box yang bisa digunakan
dalam aktivitas pengendalian dan pengawasan barang beredar di lapangan.
Namun untuk saat ini masih bisa di atasi dengan mobil dinas yang ada
sehingga

aktivitas

pengendalian

dan

pengawasan

produk

impor

hortikultura masih bisa berjalan dengan baik.


4. Informasi
Kemudahan dalam mendapatkan informasi peraturan dan petunjuk
teknis yang ada akan mempermudah pelaksana kebijakan dalam
melakukan aktivitasnya sesuai tugas dan fungsinya masing-masing. Hasil
yang diperoleh dari penelitian menunjukkan bahwa pelaksana di Dinas
Perindustrian

dan

Perdagangan

Provinsi

Jawa

Timur

dan

Biro

Administrasi Perekonomian Provinsi Jawa Timur tidak menemukan


kesulitan dalam mendapatkan informasi. Informasi tersebut didapatkan
melalui rapat-rapat formal dan acara sosialisasi yang diadakan oleh
pemerintah. Melalui forum rapat juga bisa menampung pertanyaanpertanyaan guna mendapatkan hasil yang maksimal sehingga tidak terjadi
kesalahpahaman mengenai informasi yang didapat. Selain itu inisiatif yang
dilakukan oleh pelaksana kebijakan adalah mencari sendiri melalui website
Biro Hukum Sekretariat daerah Provinsi Jawa Timur yang menyediakan
informasi-informasi terbaru terkait peraturan-peraturan yang berlaku.

III-106

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Informasi menjadi hal yang sangat penting karena dengan peraturan


tersebut para pelaksana akan melaksanakan tugas dan kewajibannya sesuai
fungsinya masing-masing.
5. Finansial/ dana
Dikatakan oleh Mazmanian dan Sebatier (dalam Wibawa, 1994:74)
bahwa:
Secara umum tersedianya dana pada tingkat batas ambang tertentu
amat diperlukan agar terbuka peluang untuk mencapai tujuan-tujuan
formal, dan tersedianya dana di atas tingkat ambang ini akan sebanding
dengan peluang tercapainya tujuan tersebut.

Dari teori tersebut dapat dipahami bahwa dana merupakan faktor kritis
dalam

pelaksanaan

kebijakan.

Dalam

implementasi

kebijakan

pengendalian distribusi produk impor hortikultura di Jawa Timur, Biro


Administrasi Perekonomian Provinsi Jawa Timur, disana tidak ditemukan
adanya masalah terkait kecukupan sumberdaya anggaran. Namun, masalah
terkait kecukupan dana ditemukan pada pihak Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa Timur. Hal tersebut menghambat kelancaran
kinerja para pelaksana. Keterbatasan anggaran akan mempengaruhi pada
efektifitas kinerja pengawasan dan pengendalian produk impor di
lapangan, karena anggaran sangat dibutuhkan dalam aktivitas operasional
pelaksana kebijakan seperti mobilitas aparatur, pembelian hingga
pengujian laboratorium. Namun untuk mengatasi hal tersebut pelaksana
kebijakan dari Disperindag Jatim membuat skala prioritas program yang
akan dilakukan.

III-107

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Kecukupan sumberdaya dana merupakan modal dasar bagi para


pelaksana kebijakan. Apabila anggaran yang tersedia tidak mencukupi
maka akan berpengaruh pada kelancaran program yang dilakukan. Dan
sebaliknya, jika sumberdaya dana tersedia dalam jumlah yang cukup maka
program yang dilakukan akan berjalan efektif dan maksimal (Widodo,
2007: 101).
Struktur Birokrasi
Dalam studi implementasi kebijakan publik aktor pelaksana kebijakan
merupakan pemeran utama dalam pelaksanaan kebijakan di lapangan. Pada saat
pemerintah mengambil keputusan dalam rangka mengendalikan distribusi produk
impor hortikultura, maka pemerintah dituntut untuk menunjuk instansi yang
dianggap mampu mendukung dan melaksanakan kebijakan tersebut.
Struktur birokrasi merupakan suatu aturan (SOP) meliputi tata aliran atau
prosedur-prosedur rutin yang mengatur mekanisme kerja pelaksanaan kebijakan
serta keefisienan aspek-aspek struktur organisasi, pembagian kewenangan,
hubungan antara unit-unit organisasi yang ada dalam organisasi yang
bersangkutan, dan hubungan organisasi dengan organisasi luar, dan sebagainya.
Struktur birokrasi pelaksana kebijakan pengendalian distribusi produk impor
meliputi beberapa instansi yang bekerja secara koordinatif dan telah memiliki
struktur hirarki dan garis fungsi yang jelas serta telah dilaksanakan. Kegiatan
utama yang paling sering dilakukan dari aktivitas pengendalian distribusi produk
impor adalah pemberian izin distribusi produk impor, pemberian izin bongkar
komoditas dan tindakan pengawasan distribusi produk impor di lapangan.

III-108

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Adanya Standard Operating Procedures (SOP) yang mengatur tata aliran


pekerjaan dan pelaksanaan kebijakan yang mengatur mekanisme kerja
pelaksanaan kebijakan ini. Dengan adanya SOP ini masing-masing instansi yang
terlibat memiliki fungsi dan kewenangan masing-masing sesuai peraturan, hal ini
tentu akan mempermudah dan memperlancar pelaksanaan kebijakan ini. SOP
dalam pelaksanaan pengendalian distribusi produk impor hortikultura ini diatur
dalam beberapa peraturan, diantaranya: Permendag No. 47 tahun 2013 tentang
Ketentuan Impor Produk Hortikultura, Permentan No. 60 tahun 2012 tentang
Rekomendasi Impor Produk Hortikultura, Permendag No. 20 tahun 2009 tentang
Ketentuan Dan Tata Cara Pengawasan Barang Dan/Atau Jasa, Pergub Jatim No. 2
tahun 2013 tentang Pengendalian Distribusi Produk Impor dan juga Keputusan
Gubernur Jawa Timur Nomor 188/210/KPTS/013/2011 tentang Tim Terpadu
Pengawasan Barang Beredar di Provinsi Jawa Timur.
Apabila permasalahan tersebut dikaitkan dengan teori implementasi
George Edward III maka terlihat jelas bahwa pada struktur birokrasi di tingkat
pelaksana kebijakan pengendalian distribusi produk impor hortikultura Provinsi
Jawa Timur sudah baik. George Edward III dalam Widodo (2007:106),
menjelaskan bahwa implementasi kebijakan menjadi efektif apabila struktur
birokrasi yang dimiliki efektif. Struktur birokrasi ini mencakup aspek-aspek
seperti struktur organisasi, pembagian kewenangan, hubungan antara unit-unit
organisasi yang ada dalam organisasi yang bersangkutan dan sebagainya. Struktur
birokrasi mencakup dimensi fragmentasi dan standar prosedur operasi yang akan

III-109

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

memudahkan dan menyeragamkan tindakan dari para pelaksana kebijakan dalam


melaksanakan apa yang menjadi bidang tugasnya.
Komunikasi
Komunikasi merupakan salah satu komponen yang penting dalam
implementasi suatu kebijakan. Komunikasi berfungsi untuk memadukan gerak
langkah dan kesamaan persepsi para pelaksana kebijakan pengendalian distribusi
produk impor. Komunikasi yang efektif tentu akan memberi dampak yang positif
terhadap pelaksanaan kebijakan. Van Meter dan Van Horn dalam Widodo
(2007:199) menjelaskan bahwa komunikasi adalah penyampaian informasi
kepada para pelaksana kebijakan tentang apa yang menjadi standar dan tujuan
kebijakan. Karena prospek implementasi kebijakan yang efektif sangat ditentukan
oleh kejelasan standar dan tujuan kebijakan, dan dikomunikasikan kepada para
pelaksana kebijakan secara akurat dan konsisten.
Dalam pelaksanaan kebijakan pengendalian distribusi produk impor
hortikultura telah terjadi komunikasi secara internal Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa Timur maupun dengan pihak Tim Terpadu
Pengawasan Barang Beredar Provinsi Jawa Timur terkait dengan kegiatan
operasional pengawasan dan pengendalian distribusi produk impor di Jawa Timur.
Komunikasi juga dilakukan oleh Biro Administrasi Perekonomian Sekretariat
Daerah Provinsi Jawa Timur sebagai bagian dari anggota Tim Terpadu
Pengawasan Barang Beredar Provinsi Jawa Timur. Komunikasi yang terjalin antar
pelaksana sudah dapat dikatakan mengandung unsur kejelasan, baik dari pihak
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur maupun Biro

III-110

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur. Hal ini


sesuai dengan yang ungkapkan oleh Widodo (2007:97) yang mengatakan bahwa
komunikasi perlu disampaikan kepada pelaku kebijakan agar pelaku kebijakan
dapat mengetahui dan memahami apa yang menjadi isi, tujuan, arahm dan
kelompok sasaran kebijakan agar dapat mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan.
Selain antar pelaksana, komunikasi juga dilakukan pada kelompok sasaran untuk
menimbulkan kepahaman dan ketaatan.
Terkait dengan konsistensi arahan hingga saat ini perintah dan arahan
terkait kebijakan pengendalian distribusi produk impor hortikultura masih
konsisten dan tidak mengalami perubahan. Sehingga para pelaksana kebijakan di
lapangan tidak menemukan masalah atau kebingungan dengan arahan yang
diberikan. Namun ada satu hal yang menjadi masalah terkait aspek komunikasi
yaitu keterpaduan antara data yang dimiliki oleh pemerintah pusat dan pemerintah
daerah yang tidak sama. Hal ini tentu sedikit menghambat kelancaran dan
keefektifan program pengendalian dan pengawasan distribusi produk impor serta
dalam pembuatan kebijakan.
Disposisi
Keberhasilan implementasi suatu kebijakan selain perlu didukung oleh
faktor sumberdaya, dan komunikasi namun tidak bisa terlepas dari faktor
kemauan dan iktikad baik dari para pelaksana kebijakan. Sebuah kebijakan akan
berjalan dengan baik dan efektif apabila didukung oleh keinginan yang kuat oleh
para aparat di lapangan. Bisa dikatakan pula bahwa disposisi merupakan

III-111

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

kesediaan pelaksana untuk menjalankan kebijakan yang terwujud dalam


pengetahuan dan pemahaman serta tanggapan terhadap kebijakan yang ada.
Disposisi para pelaksana kebijakan pengendalian distribusi produk impor
sudah baik. Hal tersebut dapat dilihat dari pemahaman dan pengetahuan yang
memadai serta arah dukungan yang positif terhadap pelaksanaan kebijakan ini.
Para pelaksana sudah mengetahui tujuan dan manfaat terkait kebijakan tersebut.
kesediaan dan kemauan para pelaksana untuk menjalankan kebijakan juga sudah
baik. Hal ini tentunya akan memperlancar pelaksanaan terkait kebijakan
pengendalian distribusi produk impor hortikultura. Menurut Van Matter dan Van
Horn dalam Widodo (2007:105) pemahaman terkait dengan maksud dari
kebijakan adalah hal yang penting bagi pelakasana kebijakan, karena
implementasi kebijakan yang berhasil bisa menjadi gagal (frustated) ketika para
pelaksana kebijakan tidak sepenuhnya menyadari dan memahami tujuan dan
maksud kebijakan. Arah disposisi para pelaksana terhadap standar dan tujuan
kebijakan merupakan hal yang krusial. Kurangnya atau keterbatasan intensitas
disposisi akan menyebabkan gagalnya implementasi kebijakan.
Kondisi Ekonomi dan Politik
Menurut Van Metter dan Van Horn dalam Nugroho (2004:167) ada
beberapa faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan
implementasi suatu kebijakan, seperti misalnya disposisi pelaksana, komunikasi
dan sumberdaya. Hal-hal tersebut merupakan beberapa faktor yang dianggap
mempengaruhi implementasi. Namun, disisi lain kondisi lingkungan eksternal
juga mempengaruhi keberhasilan implementasi suatu kebijakan. Lingkungan

III-112

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

ekonomi dan politik yang kondusif cenderung akan mendorong keberhasilan


implementasi kebijakan dan begitupula sebaliknya, lingkungan ekonomi dan
politik yang tidak stabil atau tidak kondusif akan berdampak negatif pada
keberhasilan implementasi kebijakan.
Situasi dan kondisi perekonomian Jawa Timur pada awal tahun 2014
cukup baik. Hal ini ditunjukkan dari perolehan tingkat pertumbuhan ekonominya
yang tumbuh positif. Kondisi ekonomi Jawa timur secara umum dilihat dari sisi
pertumbuhan ekonomi di tahun 2013 berada pada angka 6,55% di atas angka
pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,78%. Pertumbuhan ekonomi yang
positif juga ditunjukkan dari meningkatnya PDRB perkapita provinsi Jawa Timur
pada tahun 2012 mencapai Rp. 26,32 juta meningkat pada tahun 2013 sebesar Rp.
29,62 juta atau meningkat 12,74 persen. Hal ini merupakan satu indikasi
membaiknya kondisi perekonomian Jawa Timur.
Ditinjau dari skala mikro terkait dampak kebijakan pengendalian distribusi
produk impor terhadap harga komoditas hortikultura impor. Menurut hasil
penelitian dari Pusat Sosial, Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Badan Penelitian
dan Pengembangan Pertanian Kementrian Pertanian (2013) menunjukkan bahwa
kebijakan pengaturan impor hortikultura berdampak pada turunnya ketersedian
buah-buahan impor dipasaran. Hal ini menyebabkan peningkatan harga buah
impor mencapai 50-100%. Disisi lain kebijakan tersebut berdampak pada turut
meningkatnya harga dan ketersediaan buah lokal.
Kondisi politik di Jawa Timur dalam keadaan kondusif dan stabil.
Begitupula terkait dengan dukungan politik terhadap kebijakan pengendalian

III-113

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

distribusi produk impor hortikultura ini juga didukung oleh segenap stakeholders
yang ada di Jawa Timur dan Pusat. Tentu kondisi politik dan dukungan politik
merupakan aspek yang penting dalam pelaksanaan suatu kebijakan, karena tanpa
kondisi politik yang kondusif dan dukungan politik yang baik akan mempengaruhi
terhadap kelancaran dan keberhasilan suatu kebijakan. Hal ini sesuai dengan
pendapat dari Wahyuni Triana (2011:123) yang mengatakan bahwa kondisi
lingkungan akan dapat mempengaruhi hasil akhir sebuah implementasi kebijakan,
meski tidak secara langsung. Bahwa sebuah kebijakan telah diperhitungkan secara
masak dan rasional, struktur implementasi telah dipersiapkan sebaik mungkin,
aktor-aktor pelaksana dan pola komunikasi juga telah persiapkan secara matang,
namun hasil akhir bisa berbeda tergantung pada kondisi lingkungan dimana
kebijakan tersebut diimplementasikan.
Karakteristik Kebijakan
Menurut Hill & Hupe (2002:123) mengetahui karakteristik kebijakan
menjadi aspek yang penting dalam implementasi suatu kebijakan. karakteristik
tersebut dapat dilihat dari tipologi Theodore Lowi yang membagi dalam tipe
kebijakan distributif, redistributif regulatif dan konstituen. Dengan mengetahui
jenis kebijakannya diharapkan mampu mengantisipasi konsekuensi yang terjadi
dari implementasi sebuah kebijakan.
Peraturan Gubernur No.2 tahun 2013 tentang pengendalian distribusi
produk impor merupakan suatu peraturan administratif yang harus ditaati dan
dilaksanakan, karena sifat dari peraturan ini adalah memaksa dan mengatur
importir. Sehingga ada konsekuensi hukum berupa sanksi administratif bagi

III-114

PENYAJIAN, ANALISIS DAN INTERPRETASI TEORITIK

importir yang tidak memenuhi persyaratan perizinan distribusi produk impor


hortikultura di Jawa Timur. Kebijakan ini mengandung pemaksaan yang
diterapkan secara langsung dan bersifat mengatur untuk melakukan atau
mencegah melakukan sesuatu sehingga kebijakan pengendalian distribusi produk
impor hortikultura di Jawa Timur merupakan tipe kebijakan regulatif menurut
Lowi.
Respon Objek Kebijakan
Respon dari obyek kebijakan merupakan suatu hal yang penting untuk
mengetahui bahwa proses implementasi kebijakan juga dipengaruhi oleh
tanggapan dari pihak yang terkena dampak kebijakan. Apalagi dalam hal
kebijakan yang bersifat regulatif. Dari respon objek kebijakan ini dapat diketahui
partisipasi organisasi swasta dan keterlibatannya dalam pengambilan keputusan
(Hill & Hupe, 2002:128).
Respon objek kebijakan pengendalian distribusi produk impor sudah baik.
Hal tersebut dapat dilihat dari tanggapan positif terhadap pelaksanaan kebijakan
ini, meskipun ada beberapa hal yang kurang disetujui oleh pihak objek kebijakan.
Respon objek kebijakan merupakan salah satu aspek yang penting, karena
semakin positif dan kooperatif tanggapan dari objek kebijakan, maka keberhasilan
dari implementasi kebijakan juga akan semakin besar.

III-115

PENUTUP

BAB IV
PENUTUP

Berdasarkan hasil temuan data di lapangan yang telah disajikan dan


dianalisis serta diinterpretasi pada bab sebelumnya, maka dalam bab ini dapat
disimpulkan sebagai hasil dari penelitian ini. Selain itu, setelah penyusunan
kesimpulan, akan dirumuskan pula rekomendasi beserta saran yang bermanfaat
bagi kebijakan pengendalian distribusi produk impor hortikultura serta dapat
memberikan feedback bagi pemerintah untuk upaya perbaikan kebijakan program
pengendalian distribusi produk impor hortikultura di waktu yang akan datang.

IV.1. Kesimpulan
1. Kesimpulan Implementasi Kebijakan Pengendalian Distribusi Produk
Impor Hortikultura di Jawa Timur
Aktivitas yang dilaksanakan dalam implementasi kebijakan
pengendalian distribusi produk impor hortikultura ini secara prosedural
telah dilakukan dengan baik oleh para pelaksana kebijakan. Serangkaian
kegiatan-kegiatan tersebut meliputi sosialisasi kebijakan, aktivitas
pengendalian dan pengawasan barang beredar mulai dari proses persiapan
dan perencanaan, proses koordinasi, pelaksanaan pengawasan, pelaporan
dan penyidikan, penarikan barang dan pemberian sanksi hingga tahap
evaluasi.

IV-1

PENUTUP

Kegiatan sosialisasi Kebijakan Pengendalian Distribusi Produk


Impor Hortikultura dilakukan oleh Biro Administrasi Perekonomian
Provinsi Jawa Timur dan juga Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Provinsi Jawa Timur kepada kelompok sasaran kebijakan dan masyarakat
melalui forum sosialisasi secara langsung dan juga melalui surat edaran
yang diberikan kepada sasaran kebijakan. Dalam aktivitas pengendalian
dan pengawasan hortikultura dipasaran telah dilakukan dengan baik oleh
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur sebagai
koordinator pelaksana dengan koordinasi dan dibantu oleh Tim Terpadu
Pengawasan Barang Beredar Provinsi Jawa Timur yang terdiri dari 9
instansi terkait.
Aktivitas pengawasan barang beredar juga dilakukan oleh Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur melalui Petugas
Pengawas Barang dan Jasa (PPBJ) dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil
Perlindungan Konsumen (PPNS-PK) setiap dua kali dalam seminggu.
Hasil/ sampel dari pengawasan barang akan diuji laboratorium, apabila
ditemukan pelanggaran atau indikasi tindak pidana, maka tim pengawas
Dinas Perindustrian dan perdagangan Provinsi Jawa Timur berwenang
untuk melakukan tindakan penyidikan terkait penemuan pelanggaran
tersebut dan menjatuhkan sanksi sesuai dengan hasil penyidikan. Namun
sanksi yang diberikan saat ini masih berupa sanksi administratif berupa
pencabutan izin usaha atau pencabutan dokumen-dokumen teknis lainnya
yang dianggap belum memberikan efek jera kepada pelaku pelanggaran.

IV-2

PENUTUP

2. Sasaran kebijakan, sumberdaya, struktur birokrasi, komunikasi, disposisi,


karakteristik kebijakan, respon obyek kebijakan dan kondisi ekonomi dan
politik dalam implementasi kebijakan pengendalian distribusi produk
impor hortikultura
Dari hasil analisis dan interpretasi data ditemukan bahwa faktor
sumberdaya staf, fasilitas fisik dan finansial dalam kondisi tidak
memadai/mencukupi

pada

pelaksana di

Dinas Perindustrian dan

Perdagangan Provinsi Jawa Timur. Namun tidak ditemukan masalah yang


berarti pada pelaksana di Biro Administrasi Perekonomian. Adapun respon
dari objek kebijakan yaitu mendukung dengan adanya kebijakan
pengendalian distribusi produk impor hortikultura ini, berikut pemaparan
secara rinci:

Sasaran kebijakan
Sasaran dari kebijakan pengendalian distribusi produk impor
hortikultura ini adalah para pelaku usaha dibidang impor
hortikultura yang masuk melalui wilayah kepabeanan Provinsi
Jawa Timur, kemudian para pedagang besar di ritel dan
supermarket serta para pedagang kecil yang ada dipasar
tradisional.

Sumberdaya
-

Administrasi/staf: Sumber daya administrasi dari Biro


Administrasi Perekonomian Provinsi Jawa Timur sudah
memiliki jumlah dan kualitas yang memadai. Sedangkan

IV-3

PENUTUP

sumberdaya staf dari Disperindag Jatim dari segi kualitas


sudah memadai, namun dari segi kuantitas memang masih
belum memenuhi kebutuhan dibandingkan luas wilayah
yang harus diawasi.
-

Kewenangan: Baik

Biro Administrasi Perekonomian

Provinsi Jawa Timur maupun Disperindag Jatim sudah


memiliki kewenangan yang cukup dan memadai karena
sudah diatur dalam peraturan yang ada.
-

Fasilitas Fisik: Fasilitas fisik yang dibutuhkan di Biro


Administrasi Perekonomian Provinsi Jawa Timur sudah
tercukupi semuanya. Sedangkan Disperindag Jatim fasilitas
fisik khusus untuk kendaraan operasional pengawasan
barang beredar berupa mobil double cabin belum tersedia,
namun hal ini di atasi dengan menggunakan kendaraan
dinas milik Disperindag Jatim.

Informasi: Tidak ada hambatan dalam hal informasi,


informasi diperoleh melalui rapat formal yang diadakan
oleh Disperindag Jatim dengan instansi yang terkait. Selain
itu, informasi terkait juklak dan juknis juga dapat diunduh
melalui website Biro Hukum Provinsi Jawa Timur di:
http://www.jdih.jatimprov.go.id

Dana: Kedua instansi memiliki sumberdaya dana yang


bersumber dari APBD Provinsi Jawa Timur. Biro

IV-4

PENUTUP

Administrasi Perekonomian Provinsi Jawa Timur memiliki


dana yang cukup untuk melakukan kegiatan kebijakan ini.
Namun dari Disperindag Jatim dana yang dimiliki terbatas.
Dana yang ada hanya Rp 500 juta pertahun dan dana
tersebut masih kurang jika dibandingkan dengan aktivitas
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur
dalam mengawasi, membeli sampel barang hingga menguji
di laboratorium. Untuk mengatasi hal tersebur Disperidag
Jatim masih bisa mengoptimalkan penggunaannya dengan
menetapkan skala prioritas pengawasan.

Struktur Birokrasi
Struktur birokrasi dalam kebijakan ini tidak berbelit-belit
meskipun melibatkan banyak instansi yang berbeda. Dengan
adanya SOP (Standard Operating Procedures) yang termuat
dalam Permendag No. 20 tahun 2009 tentang Ketentuan Dan
Tata Cara Pengawasan Barang Dan/Atau Jasa, Pergub Jatim
No. 2 tahun 2013 tentang Pengendalian Distribusi Produk
Impor

dan

Keputusan

Gubernur

Jawa

Timur

Nomor

188/210/KPTS/013/2011 tentang Tim Terpadu Pengawasan


Barang Beredar di Provinsi Jawa Timur. Adanya SOP dalam
mekanisme Kebijakan Pengendalian Distribusi Produk Impor
Hortikultura membuat segala pengurusan prosedur menjadi
lebih

mudah

dan

terarah.

Fragmentasi

dalam

proses

IV-5

PENUTUP

pelaksanaan kebijakan ini dapat dihindari dengan adanya


koordinasi yang baik oleh setiap instansi yang terlibat. Selain
itu dalam struktur birokrasi juga sudah ada pembagian kerja
dan spesialisasi yang jelas.

Komunikasi
Komunikasi sudah dilakukan antarpelaksana maupun dengan
kelompok

sasaran

dalam

kegiatan

pengendalian

dan

pengawasan distribusi produk impor hortikultura. Komunikasi


Disperindag dan Biro Administrasi Perekonomian Provinsi
Jawa Timur sudah cukup baik dan intensif. Begitu juga
komunikasi yang dilakukan oleh Disperindag dengan Tim
Terpadu Pengawasan Barang Beredar Provinsi Jawa Timur
juga terlaksana dengan efektif dan intens melalui forum rapat.
Hambatan dalam komunikasi terjadi antara pemerintah pusat
dengan pemerintah daerah yang belum efektif ditunjukkan
dengan perbedaan data yang dimiliki terkait hasil pertanian.

Disposisi
Aparat pelaksana baik yang ada di Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa Timur dan Biro Administrasi
Perekonomian Jawa Timur memiliki tingkat pemahaman dan
pengetahuan yang baik terhadap kebijakan pengendalian
distribusi produk impor. Para pelaksana dari kebijakan
pengendalian distribusi produk impor memiliki respon yang

IV-6

PENUTUP

positif

terhadap

mendukung

kebijakan

dengan

ini.

Para

keberadaan

pelaksana

kebijakan

ini

sangat
dengan

pertimbangan manfaat bagi para petani dan produsen


hortikultura lokal di Jawa Timur.

Karakteristik kebijakan
Semua pelaksana kebijakan baik di Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa Timur maupun Biro Administrasi
Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur sepakat
bahwa

Peraturan

Gubernur

No.2

tahun

2013

tentang

pengendalian distribusi produk impor merupakan suatu


peraturan administratif yang harus ditaati dan dilaksanakan,
karena sifat dari peraturan ini adalah memaksa dan mengatur
importir

serta

ada

konsekuensi

hukum

berupa

sanksi

administratif. Sehingga tipe kebijakan ini termasuk dalam


kebijakan regulatif menurut Lowi.

Respon objek kebijakan


Respon objek kebijakan pengendalian distribusi produk impor
ini sudah baik. Hal tersebut dapat dilihat dari tanggapan positif
terhadap pelaksanaan kebijakan ini dan juga sikap kooperatif
yang ditunjukkan. Meskipun ada beberapa hal yang kurang
disetujui oleh pihak objek kebijakan seperti terkait mekanisme
perijinan distribusi produk impor hortikultura yang dianggap
masih rumit.

IV-7

PENUTUP

Kondisi ekonomi dan politik


Kondisi ekonomi Jawa timur dilihat dari sisi pertumbuhan
ekonomi di tahun 2013 berada pada angka 6,55%, lebih rendah
dari pertumbuhan tahun sebelumnya, yaitu sebesar 7,27%.
Namun, pertumbuhan ekonomi Jatim masih di atas angka
pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,78%. Secara
mikro kebijakan pengendalian distribusi

produk impor

hortikultura mampu menurunkan ketersedian buah-buahan


impor dipasaran. Hal ini berdampak pada peningkatan harga
buah impor mencapai 10-20% di Pasar Wonokromo Surabaya.
Kenaikan harga buah-buahan impor ini berdampak positif pada
kenaikan dan ketersediaan buah-buahan lokal di pasaran.
Sedangkan kondisi politik di Jawa Timur dalam keadaan
kondusif dan stabil. Begitupula terkait dengan dukungan politik
terhadap kebijakan pengendalian distribusi produk impor
hortikultura ini juga didukung oleh segenap stakeholders yang
ada di Jawa Timur dan Pusat.

IV.2. Saran
1. Disarankan untuk meningkatkan sumber daya staf di Dinas Perindustrian
dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur. Karena Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa Timur merupakan leading sector dalam

IV-8

PENUTUP

pelaksanaan pengendalian dan pengawasan distribusi produk impor


hortikultura di seluruh wilayah Jawa Timur.
2. Sumberdana di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur
khususnya dalam Bidang Pengawasan barang beredar perlu ditingkatkan
untuk menunjang aktivitas pelaksana dalam kegiatan operasional di
lapangan seperti pembelian sampel, pengujian di laboratorium dan
kegiatan operasional lainnya. Dengan tersedianya dana yang mencukupi
diharapkan mampu meningkatkan kualitas pengawasan dan intensitas
pengawasan di Jawa Timur.
3. Disarankan untuk menambahkan sumberdaya fisik berupa mobil box
sebagai

sarana

penunjang

operasional

Dinas

Perindustrian

dan

Perdagangan Provinsi Jawa Timur dan Tim Terpadu Pengawasan Barang


Beredar Provinsi Jawa Timur agar pelaksanaan kebijakan pengendalian
dan pengawasan berjalan semakin efektif.
4. Terkait dengan sanksi yang diberikan harus lebih ditegakkan bagi
pelanggaran kebijakan ini untuk memberikan efek jera dan menjadi bahan
pertimbangan agar tidak melakukan pelanggaran. Sanksi hukum juga perlu
disesuaikan besarnya pelanggaran agar menimbulkan kepatuhan, tidak
sekedar hanya sanksi yang bersifat administratif semata namun juga
berupa sanksi denda dan pidana.
5. Perlu adanya komunikasi dan koordinasi yang baik antara Pemerintah
Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Pusat dalam hal ini adalah
Kementrian Pertanian Republik Indonesia. Dengan adanya komunikasi

IV-9

PENUTUP

yang baik diharapkan bisa terjadi kesamaan persepsi dan keterpaduan


informasi yang valid untuk menunjang keefektifan pelaksanaan kebijakan
pengendalian distribusi produk impor hortikultura.

IV.3 Implikasi Penelitian


IV.3.1. Implikasi Akademis
Penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi kajian ilmu Administrasi
Negara, khususnya dalam lingkup studi implementasi kebijakan. Kajian
implementasi saat ini sudah berkembang mengikuti perkembangan jaman
khususnya terkait studi politik, hukum publik dan organisasi. Dengan elaborasi
model implementasi kebijakan yang dikembangkan oleh Edwards III, Van
Matter dan Van Horn serta Michael Hill dan Peter Hupe penelitian ini
memberikan analisis teori terhadap permasalahan ini berupa penjelasan dan
analisa atas pencapaian-pencapaian atau mungkin kegagalan program dilihat
dari sumberdaya, struktur birokrasi, komunikasi, disposisi, sasaran kebijakan
dan kondisi ekonomi dan politik dan karakteristik kebijakan. Penelitian ini juga
melihat sebuah fenomena implementasi kebijakan dari segi pelaksana maupun
kelompok sasaran dengan mengelaborasikan teori implementasi dari Edwards
III dan Van Matter dan Van Horn yang mengarah pada pelaksana kebijakan
serta teori dari Michael Hill dan Peter Hupe yang mengacu pada objek
kebijakan. Kegiatan implementasi kebijakan ini terdiri dari 3 hal yaitu;
kebijakan itu sendiri, pelaksana, serta kelompok sasaran.

IV-10

PENUTUP

Kebijakan pengendalian distribusi produk impor hortikultura ini tentu


membutuhkan sumberdaya, komunikasi, struktur birokrasi, dan disposisi dari
pihak pelaksana, dan juga diperlukan respon yang baik dari pengusaha/importir
sebagai objek kebijakan ini. Selain itu, implementasi kebijakan juga ditentukan
oleh kondisi lingkungan ekonomi dan politik yang mempengaruhi kebijakan
tersebut. Dalam implementasi kebijakan ini ditemukan bahwa faktor
sumberdaya

staf,

fasilitas

fisik

dan finansial

dalam

kondisi

tidak

memadai/mencukupi pada pelaksana di Dinas Perindustrian dan Perdagangan


Provinsi Jawa Timur. Adapun respon dari objek kebijakan yaitu mendukung
dengan adanya kebijakan pengendalian distribusi produk impor hortikultura
ini. Dengan demikian, penelitian ini mampu memberikan sumbangan akademis
yang komprehensif dalam menjembatani serta mengaplikasikan kajian teoritis
pada studi implementasi dengan fenomena empiris di lapangan yang berguna
bagi perkembangan ilmu Administrasi Negara ke depannya.

IV.3.2. Implikasi Praktis


Hasil penelitian ini merupakan penggambaran sebuah fenomena
pelaksanaan kebijakan pengendalian distribusi produk impor khususnya
komoditas hortikultura di Jawa Timur serta menganalisis dan menjelaskan
beberapa faktor yang berpengaruh di dalamnya dari segi sasaran kebijakan,
sumberdaya, struktur birokrasi, komunikasi, disposisi, kondisi ekonomi dan
politik, karakteristik kebijakan dan respon obyek kebijakan. Hasil laporan ini
memberikan informasi dan sumber masukan terutama kepada para pelaksana

IV-11

PENUTUP

kebijakan pengendalian distribusi produk impor di Jawa Timur untuk


melakukan perbaikan dengan memperhatikan faktor-faktor yang menghambat
implementasi kebijakan pengendalian distribusi produk impor di Jawa Timur
serta melakukan peningkatan pada faktor-faktor yang mendukung pelaksanaan
kebijakan. Oleh karena itu saran-saran yang telah disampaikan, diharapkan
dapat menjadi pertimbangan bagi kebijakan pengendalian distribusi produk
impor hortikultura kedepannya. Selain itu juga sebagai masukan bagi programprogram yang berhubungan dengan program-program pengendalian dan
pengawasan produk impor ditingkat daerah maupun nasional.

IV-12

Daftar Pustaka

Agri, Michelia Widya. 2011. Posisi Daya Saing Hortikultura Indonesia di


Sepuluh Negara Tujuan Utama dan Dunia (Skripsi) Fakultas Ekonomi
Dan Manajemen Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Agustino, Leo. 2008. Dasar-dasar Kebijakan Publik. Bandung: Alfabeta.
Amir, M.S. 1985. Seluk Beluk dan Teknik Perdagangan Luar Negeri. Jakarta: PT.
Pustaka Binaman Pressindo.
Anifawati, Ifa. 2013. Kebijakan Pembatasan Import Hortikultura Dan Daging
Sapi Sebagai Kebijakan Proteksi Kepentingan Dalam Negeri (Skripsi)
Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Malang.
Anindita, Ratya dan Michael R. Reed. 2008. Bisnis dan Perdagangan
Internasional. Yogyakarta: Andi.
Badan Pusat Statistik. 2013. Statistik Indonesia 2012 = Statistical yearbook of
Indonesia 2012. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
Bryant C. and White. 1989. Manajemen Pembangunan Untuk Negara
Berkembang. Jakarta: LP3ES.
Creswell, John W. 1994. Research Design: Qualitative and Quantitative
Approaches. California: Sage Publications, Inc.
Djojohadikusumo, Sumitro. 1994. Perkembangan Pemikiran Ekonomi, Dasar
Teori Ekonomi Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan. Jakarta:
LP3ES.
Dumairy. 1997. Perekonomian Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Dunn, William N, (2003). Pengantar Analisis Kebijakan Publik, Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Gonarsyah, I. 1987. Landasan Perdagangan Internasional. Departemen IlmuIlmu Sosial dan Ekonomi Pertanian. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Hill, Michael dan Peter Hupe. 2002. Implementing Public Policy. London: Sage
Publications Ltd.
Islamy, Irfan. 2002. Prinsip-prinsip Perumusan Kebijakan Negara. Jakarta: Bumi
Aksara.

Jones, Charles O. 1991. Pengantar Kebijakan Publik (Public Policy). Jakarta:


Rajawali Press.
Mankiw, Gregory N. 2006. Principles of Economics, Pengantar Ekonomi Makro.
Edisi Ketiga, terjemahan Chriswan Sungkono. Jakarta: Salemba Empat.
Moleong, Lexy J. 2010. Metologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja
Rosydakarya.
Mutakin, Firman dan Aziza Rahmaniar Salam. 2009. Dampak Penerapan ASEAN
China Free Trade Agreement (ACFTA) Bagi Perdagangan Indonesia.
Economic Review No. 218 Desember 2009 Nobel dan Mundell yang
Kapabel. Esai-Esai Nobel Ekonomi, Kompas, Jakarta: 2007.
Nugroho, Riant. 2004. Kebijakan Publik: Formula, Implementasi dan evaluasi.
Jakarta: Elex Media Komputindo.
Parson, Wayne. 2005. Public Policy: Pengantar Teori dan Praktek Analisis
Kebijakan. Jakarta: Kencana Press.
Patton, Michael Quinn. 2006. Metode Evaluasi Kualitatif. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Pusat Kebijakan Perdagangan Luar Negeri. 2012. Kajian Kebijakan Penentuan
Pelabuhan Tertentu Sebagai Pintu Masuk Impor Produk Tertentu.
Jakarta: Kementerian Perdagangan RI.
Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. 2013. Analisis Struktur Perilaku
Kinerja Pasar Buah-buahan. Jakarta: Kementerian Pertanian RI.
Poerwanto, Roedhy. 2009. Bahan Ajar Matakuliah Dasar-dasar Hortikultura,
Departemen Agronomi & Hortikultura. Fakultas Pertanian Institut
Pertanian Bogor.
Setyobudi, L. 2014. Bahan Ajar Matakuliah Teknologi Produksi Tanaman
Hortikultura. Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R dan D. Bandung:
Penerbit Alfabeta.
Suharno. 2010. Dasar-Dasar Kebijakan Publik. Jogjakarta: UNY Press.
Surono. 2012. Penerapan Free Trade Agreement: Antara Harapan dan
Kenyataan. Majalah Media Edukasi dan Informasi Keuangan, Vol. 11, h:
4-9.

Somantri, Gumilar Rusliwa. Desember 2005. Memahami Metode Kualitatif.


Makara, Sosial Humaniora, Vol. 9, No. 2, h: 57-65.
Tambunan, Tulus T.H. 2004. Globalisasi dan perdagangan internasional. Bogor:
Ghalia Indonesia.
Triana, Rochyati Wahyuni. 2011. Implementasi dan Evaluasi Kebijakan Publik.
Surabaya: PT Revka Petra Media.
Toloh, Ghea Ishabela. 2012. Dampak Kesepakatan Perdagangan Bebas AseanChina Free Trade Area Terhadap Sektor Pertanian Di Indonesia (Tesis)
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.
Wahab, Solichin Abdul. 2004. Analisis Kebijaksanaan dari Formulasi ke
Implementasi Kebijaksanaan Negara. Jakarta : Bumi Aksara
-------------------------------- 2008. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Malang:
UMM Press.
Wibawa, Samodra, Yuyun Purbokusumo, dan Agus Pramusito. 1994. Evaluasi
Kebijakan Publik. Jakarta: Rajawali Press.
Wibowo, Adhi. 2004. Analisis dan evaluasi tentang non trade issues dalam
perjanjian internasional dibidang perdagangan. Jakarta: BPHN.
Wibowo, Harry. 2011. Dampak Penerapan Asean-China Free Trade Area
(ACFTA) Terhadap Nilai Perdagangan Indonesia Atas China: Studi
Beberapa Komoditas Terpilih (Tesis) Fakultas Ekonomi, Universitas
Indonesia, Jakarta.
Widodo, Joko. 2007. Analisis Kebijakan Publik. Malang: Bayu Media Publishing.
Winarno, Budi. 2007. Kebijakan Publik: Teori dan Proses. Jakarta: Media
Pressindo.

Pedoman Wawancara
NAMA
:
JABATAN :

TANGGAL :

1. Sasaran Kebijakan
Apa tujuan dan manfaat dari kebijakan pengendalian impor?
Hasil-hasil apa yang diharapkan dari pelaksanaan kebijakan pengendalian
impor hortikultura?
Siapa saja yang menjadi sasaran (target group) dalam kebijakan pengendalian
ini?
2. Disposisi (sikap) pelaksana
Apa yang dimaksud dengan Kebijakan pengendalian impor?
Apa yang melatarbelakangi dikeluarkannya peraturan tentang kebijakan
pengendalian impor hortikultura? Landasan hukumnya?
Bagaimana tanggapan tentang kebijakan ini? Perlukah?
Bagaimana komitmen/ kesungguhan para pelaksana kebijakan?
Bagaimana pemahaman para pelaksana kebijakan?
Menurut anda bagaimana sikap masyarakat (importir) dengan adanya
kebijakan ini?
3. Karakteristik Kebijakan
Bagaimana sifat dari Pergub No. 2 Tahun 2013 apakah sifatnya memaksa atau
tidak?
Dimana letak perbedaan terkait substansi Pergub No. 2 Tahun 2013 dan
peraturan terkait sebelumnya?
Apakah ada pengecualian/kekhususan kepada pihak-pihak tertentu dalam
melaksanakan Pergub No. 2 Tahun 2013?
4. Sumberdaya
Siapa saja aktor yang terkait dalam kebijakan pengendalian impor
hortikultura?
Apa saja peran masing-masing aktor dalam pelaksanaan pengendalian impor?
Bagaimana kompetensi dan kecukupan SDM di Disperindag?
Apa saja fasilitas fisik yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pengendalian
impor?
Apakah fasilitas yang ada sudah tersedia dalam jumlah yang memadai untuk
melaksanakan kegiatan terkait pengendalian?
Darimana asal sumberdana yang dipakai dalam kegiatan operasional terkait
pelaksanaan pengendalian impor?
Apakah dana yang dianggarkan cukup untuk melaksanakan kegiatan terkait
pengendalian impor?
Sejauhmana wewenang yang dimiliki Disperindag dalam melaksanakan
kebijakan pengendalian impor?

5. Karakteristik Agen Pelaksana


Bagaimana alur mekanisme (juknis) pengendalian produk impor hortikultura
sesuai Pergub No. 2 Tahun 2013? Apakah sesuai dengan di lapangan?
Bagaimana hubungan antarunit di Disperindag Jatim terkait pelaksanaan
kebijakan pengendalian impor?
Bagaimana hubungan antara Disperindag dengan instansi lain seperti Biro
Administrasi Perekonomian Provinsi Jatim, Dirjen Bea dan Cukai dan importir
terkait penyelenggaraan pengendalian impor hortikultura?
6. Komunikasi
Apakah ada sosialisasi yang dilakukan terkait implementasi Pergub No. 2
Tahun 2013? Bagaimana proses dan kapan dilaksanakannya?
Kepada siapa sajakah komunikasi yang terkait dengan pelaksanaan kebijakan
ini dilakukan?
Bagaimanakah proses komunikasi dalam pelaksanaan kebijakan ini?
Bagaimana upaya yang dilakukan untuk tetap menjaga kelancaran komunikasi
terkait dengan pelaksanaan kebijakan ini?
Menurut anda, apakah komunikasi yang dilakukan selama ini sudah dapat
dipahami dengan mudah terkait pelakasanaan kebijakan pengendalian impor?
Apakah sering terjadi perubahan terkait petunjuk arahan serta perintah dalam
rangka pelaksanaan kebijakan ini?
7. Kondisi Sosial, Ekonomi dan Politik
Bagaimana dukungan para elit politik, masyarakat dan kelompok kepentingan
(pengusaha) terhadap kebijakan pengendalian impor hortikultura?
Menurut anda apakah kebijakan pengendalian produk impor ini akan
mempengaruhi stabilitas harga komoditas lokal di Jawa Timur?

Pedoman Wawancara Asosiasi Importir


NAMA
:
JABATAN :

TANGGAL :

a. Bagaimana tanggapan tentang kebijakan pengendalian distribusi produk


impor?
b. Apakah pihak swasta juga dilibatkan dalam pembuatan kebijakan terkait
pengendalian produk impor?
c. Apakah ada sosialisasi terkait pelaksanaan Pergub No. 2 Tahun 2013 terkait
pengendalian distribusi impor?
d. Apakah ada mekanisme forum yang digunakan untuk menyalurkan aspirasi ke
pemerintah?
e. Bagaimana anda melihat kondisi Jawa Timur terkait kebutuhan terhadap
produk hortikultura impor?
f. Apa masukan/ saran yang diberikan terkait kebijakan pengendalian distribusi
produk impor?

Ibu Ninik Margirini, S.S selaku Kasi Impor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi
Jawa Timur.

Bapak Eka Setyabudi S.H., M.M selaku Kasi Pengawasan Barang Beredar dan Perlindungan
Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur

Bapak Setiyobudi selaku Sekretaris Eksekutif BPD Gabungan Importir Nasional Seluruh
Indonesia (GINSI) Jawa Timur

Pelatihan Peningkatan Pemantauan Perlindungan Konsumen oleh Dinas Perindustrian dan


Perdagangan Provinsi Jawa Timur pada 29-30 April 2014 di Hotel Twin Surabaya

PERATURAN MENTERI PERTANIAN


NOMOR 89/Permentan/OT.140/12/2011
TENTANG
PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PERTANIAN
NOMOR 37/Kpts/HK.060/1/2006 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS
DAN TINDAKAN KARANTINA TUMBUHAN UNTUK PEMASUKAN
BUAH-BUAHAN DAN/ATAU SAYURAN BUAH SEGAR KE DALAM
WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI PERTANIAN,
Menimbang

: a. bahwa dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor


37 /Kpts/HK.060/1/2006 tentang Persyaratan
Teknis dan Tindakan Karantina Tumbuhan Untuk
Pemasukan Buah-Buahan dan/atau Sayuran Buah
Segar telah ditetapkan ketentuan mengenai tempat
pemasukan buah-buahan dan atau sayuran buah
segar ke dalam wilayah Negara Republik
Indonesia;
b. bahwa untuk mengurangi risiko masuk dan
tersebarnya organisme pengganggu tumbuhan
karantina, perlu menetapkan kembali tempattempat pemasukan buah-buahan dan/atau sayuran
buah segar ke dalam wilayah Negara Republik
Indonesia;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan huruf a dan
huruf b di atas, perlu mengubah Peraturan Menteri
Pertanian Nomor 37 /Kpts/HK.060/1/2006;

Mengingat

: 1.

Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang


Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (Lembaran
Negara Tahun 1992 Nomor 56, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3482);

524

2.

Undang-Undang
17
Tahun
2006
tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun
1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara
Tahun 2006 Nomor 93, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 4661);

3.

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang


Pelayaran (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor
64, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4849);

4.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang


Penerbangan (Lembaran Negara Tahun 2009
Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Nomor
4956);

5.

Undang-Undang 13 Tahun 2010


tentang
Hortikultura Lembaran Negara Tahun 2010 Nomor
132, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5170);

6.

Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2002


tentang Karantina Tumbuhan (Lembaran Negara
2002 Nomor 35, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 4196);

7.

Keputusan Presiden Nomor 84/P Tahun 2009


tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu
II;

8.

Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang


Pembentukan
dan
Organisasi
Kementerian
Negara;

9.

Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang


Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian
Negara, serta Susunan Organisasi, Tugas, dan
Fungsi Eselon I;

10. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM.53


Tahun 2002 tentang Tatanan Kepelabuhan
Nasional;
11. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 38/Kpts/HK.
060/1/2006
tentang
Jenis-jenis
Organisme
Pengganggu Tumbuhan Karantina Golongan I
Kategori A1 dan A2, Golongan II Kategori A1 dan
A2, Tanaman Inang, Media Pembawa dan Daerah
Sebarnya;

525

12. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 22/Permentan/


OT.140/4/ 2008 tentang Organisasi, dan Tata Kerja
Unit Pelaksana Teknis Karantina Pertanian;
13. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM.11
Tahun 2010 tentang Tatanan Kebandarudaraan
Nasional;
14. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 46/Permentan/
HK.
340/8/2010
tentang
Tempat-Tempat
Pemasukan Dan Pengeluaran Media Pembawa
Hama dan Penyakit Hewan Karantina dan
Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina;
15. Peraturan
Menteri
Pertanian
Nomor
61/Permentan/OT. 140/10/2010 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Kementerian Pertanian;
MEMUTUSKAN:
Menetapkan :

PERATURAN MENTERI PERTANIAN TENTANG


PERUBAHAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN
NOMOR
37/Kpts/HK.
060/1/2006
TENTANG
PERSYARATAN
TEKNIS
DAN
TINDAKAN
KARANTINA TUMBUHAN UNTUK PEMASUKAN
BUAH-BUAHAN DAN/ATAU SAYURAN BUAH SEGAR
KE
DALAM
WILAYAH
NEGARA
REPUBLIK
INDONESIA.
Pasal 1

Beberapa ketentuan dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 37/Kpts/


HK.060/1/2006 tentang Persyaratan Teknis dan Tindakan Karantina
Tumbuhan Untuk Pemasukan Buah-Buahan dan/atau Sayuran Buah
Segar Ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia diubah sebagai
berikut:
1.

Ketentuan Pasal 17 diubah, sehingga berbunyi sebagai


berikut:
Pasal 17
Tempat-tempat pemasukan buah-buahan dan/atau sayuran buah
segar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf b, terdiri atas :
a. Pelabuhan Laut Tanjung Perak, Surabaya;
b. Pelabuhan Laut Belawan, Medan;
c. Bandar Udara Soekarno-Hatta, Jakarta; dan
526

d. Pelabuhan Laut Makassar.


2.

Ketentuan lain dalam


Peraturan Menteri Pertanian Nomor
37/Kpts/HK.060/1/ 2006 Tentang Persyaratan Teknis dan Tindakan
Karantina Tumbuhan Untuk Pemasukan Buah-Buahan dan/atau
Sayuran Buah Segar Ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia
dinyatakan masih tetap berlaku.
Pasal 2

Peraturan Menteri ini mulai berlaku setelah 3 (tiga) bulan terhitung sejak
tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, Peraturan Menteri Pertanian ini
diundangkan dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik
Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 14 Desember 2011
MENTERI PERTANIAN,
ttd
SUSWONO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 19 Desember 2011
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
AMIR SYAMSUDDIN
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2011 NOMOR 843

527

GUBERNUR JAWA TIMUR


KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR
NOMOR 188/ 210 /KPTS/013/2011
TENTANG
TIM TERPADU PENGAWASAN BARANG BEREDAR
DI PROVINSI JAWA TIMUR
GUBERNUR JAWA TIMUR,
Menimbang

a. bahwa dalam rangka pelaksanaan Perlindungan Konsumen


dan persaingan usaha yang sehat, perlu adanya penanganan
yang sinergis dan terkoordinasi dalam melaksanakan
pengawasan barang beredar dan jasa yang dilaksanakan secara
terpadu oleh unsur instansi terkait ;
b. bahwa sehubungan dengan maksud tersebut pada huruf a, agar
pelaksanaannya dapat berjalan dengan lancar, berdayaguna
dan berhasilguna, perlu membentuk Tim Terpadu Pengawasan
Barang Beredar di Provinsi Jawa Timur dengan Keputusan
Gubernur Jawa Timur ;

Mengingat

: 1. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal


(Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 11, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3193 ) ;
2. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar
Perusahaan (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 7,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3214);
3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian
(Lembaran Negara Tahun 1984 Nomor 22, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3274) ;
4. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan
(Lembaran Negara Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3612) sebagaimana telah diubah
beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun
2006 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun
1995 tentang Kepabeanan (Lembaran Negara Tahun 2006
Nomor 93, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4661) ;
5. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan
(Lembaran Negara Tahun 1996 Nomor 99, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3656) ;
6. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 42,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3821) ;

Dok. Informasi Hukum - JDIH Biro Hukum Setda Prov Jatim

7. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan


Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4437) sebagaimana telah beberapa
kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun
2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara
Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor
4844) ;
8. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
(Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 5063) ;
9. Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 1962 tentang
Perdagangan Barang-barang Dalam Pengawasan (Lembaran
Negara Tahun 1962 Nomor 46, Tambanahan Lembaran Negara
Nomor 2473) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 19 Tahun 2004 (Lembaran Negara Tahun
2004 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4402) ;
10. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1999 tentang Label dan
Iklan Pangan (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 131,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3867) ;
11. Peraturan Pemerintah Nomor 102 Tahun 2000 tentang
Standardisasi Nasional (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor
199, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4020) ;
12. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2001 tentang
Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Perlindungan
Konsumen (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 103,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 4126) ;
13. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang
Keamanan Mutu dan Gizi Pangan (Lembaran Negara Tahun
2004 Nomor 107, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4424) ;
14. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang
Pengelolahan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Tahun
2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4578) ;
15. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang
Pembagian
Urusan
Pemerintahan
antara
Pemerintah,
Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah
Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 82,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 4737) ;
16. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor
229/MPP/Kep/7/1997 tentang ketentuan Umum di Bidang
Impor ;
17. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 19/M-IND/PER/5/2006
tentang Standardisasi, Pembinaan, dan Pengawasan Standar
Nasional Indonesia Bidang Industri ;
18. Peraturan Meteri Perdagangan Nomor 19/M-DAG/5/2009
tentang Pendaftaran Petunjuk Penggunaan (Manual) dan Kartu
Jaminan / Garansi dalam bahasa Indonesia bagi Produk
Telematika dan Elektronika ;

Dok. Informasi Hukum - JDIH Biro Hukum Setda Prov Jatim

19. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 14/M-DAG/PER/3/2007


tentang Standardisasi Jasa Bidang Perdagangan dan
Pengawasan Standar Nasional Indonesia (SNI) Wajib terhadap
Barang dan Jasa yang diperdagangkan sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 30/MDAG/PER/7/2007 ;
20. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 20/M-DAG/PER/5/2009
tentang Ketentuan dan Tata Cara Pengawasan Barang dan/atau
Jasa ;
21. Peraturan
Menteri
Perdagangan
Nomor
54/MDAG/PER/10/2009 tentang Ketentuan Umum di Bidang Impor ;
22. Peraturan
Menteri
Perdagangan
Nomor
62/MDAG/PER/12/2009 tentang Kewajiban Pencantuman Label Pada
Barang sebagai mana telah diubah dengan Peraturan Menteri
Perdagangan Nomor 22/M-DAG/PER/5/2010 ;
23. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 86/M-IND/PER/9/2009
tentang Standar Nasional Indonesia Bidang Industri ;
24. Peraturan
Menteri
Perdagangan
Nomor
39/MDAG/PER/10/2010 tentang Ketentuan Impor Barang Jadi oleh
Produsen ;
25. Peraturan
Menteri
Perdagangan
Nomor
57/MDAG/PER/12/2010 tentang Ketentuan Impor Produk Tertentu ;
26. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 9 Tahun 2008
tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Provinsi Jawa
Timur (Lembaran Daerah Tahun 2008 Nomor 2, Seri D) ;
27. Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 114 Tahun 2010
tentang Larangan Peredaran Gula Rafinasi dan Gula Kristal
Mentah di Pasaran Umum di Jawa Timur ;
MEMUTUSKAN :
Menetapkan,
PERTAMA

KEDUA

Membentuk Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar di Provinsi


Jawa Timur, dengan susunan keanggotaan sebagaimana tersebut
dalam Lampiran.
: Menugaskan Tim Terpadu sebagaimana dimaksud dalam Diktum
PERTAMA, untuk :
a. melaksanakan inventarisasi permasalahan dan kendala yang
berkaitan dengan pelaksanaan peredaran barang impor ;
b. melaksanakan sinkronisasi dan koordinasi langkah-langkah
penanganan dalam kegiatan pelaksanaan pengawasan barang
yang beredar sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan ;
c. melaksanakan pengawasan secara terpadu dalam rangka
pengamanan pasar dalam negeri sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan ;
d. melaksanakan evaluasi secara berkala terhadap pelaksanaan
pengawasan barang-barang yang beredar ;
e. membentuk Sekretariat sesuai kebutuhan ;
f. melaporkan hasil pelaksanaan tugasnya kepada Gubernur Jawa
Timur.

Dok. Informasi Hukum - JDIH Biro Hukum Setda Prov Jatim

KETIGA

: Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Surabaya
pada tanggal 20 April 2011
GUBERNUR JAWA TIMUR
ttd
Dr. H. SOEKARWO

Dok. Informasi Hukum - JDIH Biro Hukum Setda Prov Jatim

LAMPIRAN KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR


NOMOR : 188/ 210 /KPTS/013/2011
TANGGAL : 20 APRIL 2011

SUSUNAN KEANGGOTAAN TIM TERPADU PENGAWASAN


BARANG BEREDAR DI PROVINSI JAWA TIMUR
NO
1

JABATAN DALAM TIM


2

KETERANGAN JABATAN / INSTANSI


3

1.

Pengarah

Gubernur Jawa Timur

2.

Ketua

Kepala Dinas Perindustrian


Provinsi Jawa Timur

3.

Sekretaris

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Dinas


Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur

4.

Anggota-anggota :

a. Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur


b. Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah
Provinsi Jawa Timur
c. Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur
d. Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan
Makanan Surabaya
e. Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur
f. Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi
Jawa Timur
g. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea
dan Cukai Jatim I
h. Kepala Bidang Metrologi, Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa Timur
i. Kepala Bidang Standarisasi dan Desain Produk,
Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi
Jawa Timur

dan

Perdagangan

GUBERNUR JAWA TIMUR


ttd
Dr. H. SOEKARWO

SALINAN Keputusan ini disampaikan kepada :


Yth. : 1. Sdr. Menteri Dalam Negeri di Jakarta.
2. Sdr. Menteri Perdagangan di Jakarta.
3. Sdr. Menteri Perindustrian di Jakarta.
4. Sdr. Inspektur Provinsi Jawa Timur di Sidoarjo.
5. Sdr. Kepala
Dinas
Perindustrian
dan
Perdagangan
Provinsi Jawa Timur di
Surabaya.
6. Sdr. Anggota Tim Terpadu dimaksud.

Dok. Informasi Hukum - JDIH Biro Hukum Setda Prov Jatim

GUBERNUR JAWA TIMUR


PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR
NOMOR 2 TAHUN 2013
TENTANG
PENGENDALIAN DISTRIBUSI PRODUK IMPOR DI JAWA TIMUR
GUBERNUR JAWA TIMUR,
Menimbang

Mengingat

: bahwa dalam rangka menjaga stabilitas harga komoditas lokal yang


pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan petani serta
untuk perlindungan terhadap konsumen, perlu menetapkan
Pengendalian Distribusi Produk Impor di Jawa Timur dengan
Peraturan Gubernur Jawa Timur;
: 1. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1950 tentang Pembentukan
Propinsi Djawa Timur (Himpunan Peraturan Peraturan Negara
Tahun 1950) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
Nomor 18 Tahun 1950 tentang Mengadakan Perubahan dalam
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1950 (Himpunan Peraturan
Peraturan Negara Tahun 1950);
2. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina
Hewan, Ikan dan Tumbuhan (Lembaran Negara Tahun 1992
Nomor 56, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3482);
3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4437) sebagaimana telah diubah
beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun
2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor
4844);
4. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan
Kesehatan Hewan (Lembaran Negara Tahun 2009 Nomor 84,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 5015);
5. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura
(Lembaran Negara Tahun 2010 Nomor 132, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 5170);
6. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran Negara Tahun 2011
Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5234);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1999 tentang Iklan
dan Label Pangan (Tambahan Lembaran Negara Nomor 3867);

8. Peraturan

-2-

8. Peraturan Pemerintah Nomor 102 Tahun 2000 tentang


Standardisasi Nasional (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor
1999, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4020);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2002 tentang Karantina
Tumbuhan (Lembaran Negara Tahun 2002 Nomor 35, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4196);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan
Mutu dan Guna Pangan (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor
107, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4424);
11. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian
Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah
Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran
Negara Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 4737);
12. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 38/Kpts/Hk.310/1990
tentang Syarat-Syarat dan Tindakan Karantina Tumbuhan Untuk
Pemasukan Tanaman Bibit Tanaman ke dalam Wilayah Negara
Republik Indonesia;
13. Keputusan Menteri Pertanian Nomor 627.Kpts/PD.540/12/2003
tentang Jenis-Jenis Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina
Golongan I, Golongan II dan Media Pembawanya sebagaimana
telah diubah dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor
117/Kpts/PD.540/2/2004;
14. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik
Indonesia Nomor 527/MPP/kep/9/2004 tentang Ketentuan Impor
Gula.
15. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 16/M-DAG/PER/3/2006
tentang Penataan dan Pembinaan Pergudangan;
16. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 37/KPTS/HK.060/1/2006
tentang Persyaratan Tehnis dan Tindakan karantina Tumbuhan
Untuk Pemasukan Buah-buahan dan atau sayuran buah Segar ke
Dalam Wilayah Republik Indonesia sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 89/Permentan/OT/
140/12/2011;
17. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 54/M/DAG/PER/5/2009
Tentang Ketentuan Umum di Bidang Impor;
18. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 20/M/DAG/PER/5/2009
tentang Ketentuan dan Tata Cara Pengawasan Barang dan atau
Jasa yang beredar;
19. Peraturan
Menteri
Kelautan
dan
Perikanan
Nomor
PER.15/MEN/2011 tentang Pengendalian Mutu dan Keamanan
Hasil Perikanan yang Masuk kedalam Wilayah Negara Republik
Indonesia;
20. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 48/Permentan/OT.140/10/
2009 tentang Pedoman Budidaya Buah dan Sayur yang Baik
(Good Agriculture Practices For Fruit and Vegetables);
21. Peraturan

-3-

21. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 62/Permentan/OT.140/10/


2010 tentang Tata Cara Penerapan dan Registrasi Kebun atau
Lahan Usaha dalam Budidaya Buah dan Sayur yang Baik;
22. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 50/Permentan/OT/9/2011
tentang Rekomendasi Persetujuan Pemasukan Karkas, Daging,
Jeroan dan/atau Olahannya dalam wilayah Negara Republik
Indonesia;
23. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 88/Permentan/PP.340/12/
2011 tentang Pengawasan Keamanan Pangan Terhadap
Pemasukan dan Pengeluaran Pangan Segar Asal Tumbuhan;
24. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 58/M-DAG/PER/9/2012
tentang Ketentuan Impor Garam;
25. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 30/M-DAG/PER/5/2012
tentang ketentuan Impor Produk Hortikultura yang dirubah dengan
Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 60/M-DAG/PER/9/2012
tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Perdagangan
Nomor 30/M-DAG/PER/5/2012 tentang ketentuan Impor Produk
Hortikultura;
26. Peraturan
Menteri
Pertanian
Nomor
43/PERMENTAN/
OT.140/6/2012 tentang Tindakan Karantina Tumbuhan Untuk
Pemasukan Sayuran Umbi Lapis Segar ke Dalam Wilayah Negara
Republik Indonesia;
27. Peraturan
Menteri
Pertanian
Nomor
60/PERMENTAN/
OT.140/9/2012 tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura;
MEMUTUSKAN :
Menetapkan

: PERATURAN GUBERNUR TENTANG PENGENDALIAN DISTRIBUSI


PRODUK IMPOR DI JAWA TIMUR.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan:
a. Pemerintah Daerah Provinsi adalah Pemerintah Daerah Provinsi
Jawa Timur.
b. Gubernur adalah Gubernur Jawa Timur.
c. Dinas Perindustrian dan Perdagangan adalah Dinas Perindustrian
dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur.
d. Biro Administrasi Perekonomian adalah Biro Administrasi
Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur.
e. Produk Impor adalah jenis produk impor yang meliputi komoditi
jagung, kacang kedelai, bungkil kedelai, kacang tanah, kacang
hijau, susu, tepung terigu, tepung jagung, tepung bulu, tepung
ikan, ikan, cumi-cumi, hortikultura, gula, beras, dan garam yang
diimpor melalui wilayah Jawa Timur.

f. Surat

-4-

f.

g.

h.

i.

j.

k.

l.

m.

n.

o.

Surat Pernyataan Keterangan Distribusi adalah surat pernyataan


yang dibuat oleh importir untuk menjelaskan jenis komoditi,
jumlah, negara asal dan keperuntukannya.
Surat Izin Bongkar yang selanjutnya disebut izin bongkar adalah
surat Izin Bongkar yang dibuat oleh Gubenur Jawa Timur untuk
menerangkan bahwa perusahaan yang bersangkutan telah
mendapatkan persetujuan untuk membongkar komoditi impornya
di wilayah Jawa Timur.
Keamanan Pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan
untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis,
kimiawi dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan
membahayakan kesehatan manusia.
Standar Mutu adalah persyaratan nilai yang ditentukan atas dasar
kriteria keamanan pangan (aman dari cemaran fisik, biologi dan
kimia) kandungan gizi dan persyaratan perdagangan dan atribut
lain yang ditentukan.
Distribusi Produk Impor adalah kegiatan penyaluran, pembagian,
dan
pengiriman
produk
impor
dari
pelabuhan/tempat
penyimpanan/gudang sampai di pasar dan/atau konsumen serta
pabrik/tempat pengolahan.
Tim Terpadu Pengawasan Barang Beredar adalah tim yang
dibentuk oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi
Jawa Timur dengan Keputusan Gubernur Jawa Timur.
Surat Persetujuan Impor yang selanjutnya disebut SPI adalah
surat izin impor yang diterbitkan direktur jenderal perdagangan
luar negeri, kementerian perdagangan.
Gudang/Tempat Penampungan Sementara Produk Impor yang
selanjutnya disebut gudang adalah suatu ruangan tidak bergerak
yang dapat ditutup dengan tujuan tidak untuk dikunjungi oleh
umum melainkan untuk dipakai khusus sebagai tempat
penyimpanan Produk Impor yang memenuhi syarat-syarat lain
yang diperlukan dan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Tanda Daftar Gudang Produk Impor yang selanjutnya disebut
TDGPI adalah surat tanda daftar yang berlaku sebagai bukti
bahwa gudang tersebut telah di daftar untuk dapat melakukan
kegiatan sarana distribusi produk impor.
Kartu Kendali Gudang Produk Impor yang selanjutnya disebut
KKGPI adalah pencatatan pergerakan keluar masuknya barang
yang berada dalam gudang.

BAB II
MAKSUD DAN TUJUAN
Pasal 2
Peraturan ini dimaksudkan sebagai dasar hukum dalam rangka
pengendalian dan pengawasan bagi produk impor yang masuk di
wilayah Jawa Timur.
Pasal 3

-5-

Pasal 3
Peraturan ini bertujuan untuk :
a. mengendalikan produk impor;
b. menjaga stabilitas harga komoditas lokal;
c. melindungi dan meningkatkan kesejahteraan serta kepentingan
petani;
d. perlindungan terhadap masuknya Organisme Pengganggu
Tumbuhan (OPT) atau Organisme Pengganggu Tumbuhan
Karantina;
e. perlindungan terhadap konsumen.
BAB III
PENGENDALIAN PRODUK IMPOR
Pasal 4
Produk impor yang masuk di wilayah Jawa Timur wajib
memperhatikan aspek:
a. keamanan pangan;
b. ketersediaan produksi Jawa Timur;
c. penetapan sasaran produksi dan konsumsi produk;
d. persyaratan kemasan dan pelabelan;
e. standar mutu; dan
f. ketentuan keamanan dan perlindungan terhadap kesehatan
manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan.
Pasal 5
(1) Perusahaan yang melakukan Importasi melalui wilayah Jawa
Timur wajib menyampaikan surat pernyataan keterangan
distribusi produk impor kepada Gubernur melalui Dinas
Perindustrian dan Perdagangan selambat-lambatnya 2 (dua) hari
setelah tanggal Surat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB)
yang dikeluarkan oleh Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea
Cukai Tipe Madya Pabean Tanjung Perak.
(2) Surat Pernyataan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilampiri
dengan Bill of Lading, Pemberitahuan Impor Barang (PIB),
Tanda Daftar Gudang Produk Impor dan Kartu Kendali Gudang
Produk Impor.
(3) Bentuk surat pernyataan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tercantum dalam Lampiran A.

Pasal 6

-6-

Pasal 6
Surat Pernyataan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1)
diperlukan untuk mengetahui :
a. Jenis barang yang diimpor;
b. Jumlah barang;
c. Negara asal barang;
d. Tempat Penampungan Sementara/Gudang;
e. Tujuan distribusi; dan
f.

Peruntukannya.
Pasal 7

Setelah menyampaikan surat pernyataan sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 5 ayat (1) importir dapat mendistribusikan komoditasnya
di Wilayah Jawa Timur dan atau di luar Wilayah Jawa Timur.
Pasal 8
(1) Khusus untuk komoditi strategis beras, gula (gula mentah/gula
rafinasi/gula putih) dan garam importir juga diwajibkan
melengkapi Surat Izin Bongkar dari Gubernur.
(2) Prosedur dan Persyaratan Surat Izin Bongkar dari Gubernur
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sesuai dengan Standar
Operasional Prosedur yang tercantum dalam Lampiran B.
Pasal 9
Setelah mendapatkan Surat Izin Bongkar sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 8 ayat (1) importir dapat membongkar komoditasnya di
wilayah Jawa Timur.
Pasal 10
Untuk komoditi produk impor olahan dan turunannya serta yang dapat
dihasilkan di Jawa Timur, pada kondisi tertentu (panen) distribusi
komoditi impornya akan diatur lebih lanjut oleh instansi teknis yang
menangani.

BAB IV

-7BAB IV
PENATAAN GUDANG PRODUK IMPOR
Pasal 11
Gudang/Tempat Penampungan Sementara produk impor yang
dipergunakan oleh importir wajib memiliki Tanda Daftar Gudang
Produk Impor dan Kartu Kendali Gudang Produk Impor yang telah
terdaftar di Dinas Perindustrian dan Perdagangan.
Pasal 12
Tanda Daftar Gudang Produk Impor dan Kartu Kendali Gudang
Produk Impor sebagaimana dimaksud pada Pasal 11 diatur lebih
lanjut oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan.
BAB V
PENGAWASAN
Pasal 13
(1) Dalam rangka pengendalian dan pengawasan pelaksanaan
distribusi produk Impor, Gubernur melakukan pengawasan
peredaran, monitoring dan evaluasi pelaksanaan distribusi yang
importasinya melalui wilayah Jawa Timur.
(2) Pelaksanaan pengawasan peredaran, monitoring dan evaluasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Tim
Terpadu Pengawasan Barang Beredar.
(3) Tim pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
ditetapkan dengan Keputusan Gubernur Jawa Timur.
Pasal 14
Hasil pelaksanaan pengawasan peredaran, monitoring dan evaluasi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2) dilaporkan kepada
Gubernur dan akan dipakai sebagai bahan saran pertimbangan
kepada pemerintah pusat dalam hal pemberian Surat Persetujuan
Impor (SPI).

BAB VI

-8BAB VI
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 15
Pada saat Peraturan Gubernur ini mulai berlaku, Peraturan Gubernur
Jawa Timur Nomor 22 Tahun 2012 tentang Pengendalian Impor
Produk Hortikultura dan Pemberdayaan Usaha Hortikultura di Jawa
Timur, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 16
Peraturan Gubernur ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Peraturan Gubernur ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah
Provinsi Jawa Timur.

Ditetapkan di Surabaya
pada tanggal 11 Januari 2013
GUBERNUR JAWA TIMUR
DIUNDANGKAN DALAM BERITA DAERAH
PROVINSI JAWA TIMUR
TGL. 11-1-2013 No 2 Th 2013/ D

ttd
Dr. H. SOEKARWO

LAMPIRAN

LAMPIRAN PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR


NOMOR
: 2 TAHUN 2013
TANGGAL : 11 JANUARI 2013

PENGENDALIAN DISTRIBUSI PRODUK IMPOR DI JAWA TIMUR

A. BENTUK SURAT PERNYATAAN


________________________________________________________________________

KOP PERUSAHAAN

Nomor
Sifat
Lampiran
Perihal

:
:
: : Surat Pernyataan Keterangan
Distribusi Produk Impor

Kepada
Yth. Bpk. Gubernur Jawa Timur
Cq. Dinas Perindustrian dan
Perdagangan Provinsi Jawa Timur
di
SURABAYA

Yang bertanda tangan di bawah ini saya:


Nama

Jabatan

Nama Perusahaan

Alamat kantor pusat/cabang

Telpon/Fax/Email

Alamat pabrik/gudang/TPS

Telpon/Fax/Email

Nomor Angka Pengenal Impor (API)

Nomor, tanggal dan massa berlakunya SPI

Nomor, tanggal dan massa berlakunya RIPH

Jumlah persetujuan impor

Jenis komoditas

Nomor pos tarif/HS

Nomor dan tanggal Bill Of Lading

Negara asal

Volume (ton)

Peruntukan:
a. Jawa Timur
-

Volume Untuk Industri

Volume Untuk Konsumsi

b. Luar Jawa Timur


-

Volume (Ton)

Prov/Kota Tujuan

Demikian

-2-

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan


saya bersedia dituntut sesuai dengan hukum yang berlaku.

Surabaya,..........................
Yang Membuat Pernyataan

MATERAI 6000
CAP/STEMPEL PERUSAHAAN

TEMBUSAN :
( NAMA TERANG )
Yth. Sdr. Kepala Biro Adm. Perekonomian
JABATAN
Setda Prov. Jatim;
Sdr. Kepala Kantor Otoritas Pelabuhan Utama Tg. Perak;
Sdr. Kepala Kanwil DJBC Jatim I;
Sdr. Kepala Balai Besar Karantina Pertanian;
Sdr. Kepala Balai KIPM Kelas I Surabaya II.

-3-

B. STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) IZIN BONGKAR KOMODITI IMPOR


(BERAS, GULA DAN GARAM) DI JAWA TIMUR

I. PERMOHONAN :
a)

Importir mengajukan surat permohonan izin bongkar kepada Gubernur Jawa


Timur Cq. Biro Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa
Timur dengan tembusan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa
Timur yang didalamnya dicantumkan Nomor Bill of Lading, Nama Kapal,
Negara Asal, Jenis Komoditi, Tonase (Berat Bersih), Peruntukannya (untuk
wilayah Jawa Timur atau di luar wilayah Jawa Timur beserta tonase), dan
Alamat Gudang.

b)

Surat permohonan izin bongkar dengan melampirkan foto copy:


1) Angka Pengenal Importir Umum/Produsen (API-U/P);
2) Surat Izin Usaha Perdagangan/Izin Usaha Industri (SIUP/IUI);
3) Tanda Daftar Perusahaan (TDP);
4) Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
5) Nomor Pengenal Importir khusus (NPIK);
6) Surat Pengakuan Sebagai Importir Terdaftar/Produsen (IT/IP) dari Dirjen
Perdagangan Luar Negeri Departemen Perdagangan RI;
7) Surat Persetujuan Impor (SPI) dari dirjen perdagangan luar negeri;
8) Bill of Lading;
9) Khusus importir produsen garam konsumsi wajib melampirkan bukti serap
pembelian garam rakyat minimal 50 % dari jumlah impor yang disahkan
oleh Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten/Kota dan
Asosiasi Garam;
10) Importir produsen garam industri dan konsumsi harus dilengkapi surat
pernyataan bahwa garam impor tersebut tidak dijual atau dipindah
tangankan kepada pihak lain;
11) Khusus importir produsen komoditi gula mentah dan gula rafinasi
dilampirkan surat pernyataan bahwa gula impor tersebut tidak dijual atau
dipindah tangankan kepada pihak lain;
12) Khusus komoditi beras dilampirkan surat pernyataan bahwa beras impor
tersebut tidak diperjualbelikan/diedarkan di Jawa Timur tetapi hanya untuk
memenuhi kebutuhan bahan baku perusahaan tersebut;
13) Khusus komoditi beras ketan yang akan diperdagangkan harus
melampirkan surat pernyataan penyimpanan/gudang dan penanggung
jawab importasi di Jawa Timur.

II. MEKANISME

-4-

II. MEKANISME :
a) Importir mengajukan permohonan izin bongkar ke Gubernur Jawa Timur Cq
Biro Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur
dengan tembusan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur.
b) Gubernur Jawa Timur dalam hal ini Biro Administrasi Perekonomian Sekretariat
Daerah Provinsi Jawa Timur membuatkan surat permohonan saran/tanggapan
terhadap surat permohonan izin bongkar dari importir tersebut yang ditujukan
kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur. Surat
permohonan saran/tanggapan dari Biro Administrasi Perekonomian dapat
ditandatangani oleh Kepala Biro Administrasi Perekonomian atau Kepala
Bagian Perindustrian dan Perdagangan Biro Administrasi Perekonomian
Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur.
c) Setelah persyaratan terpenuhi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi
Jawa Timur memberikan saran/tanggapan kepada Gubernur Jawa Timur Cq.
Biro Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur
berupa Surat Rekomendasi yang
ditandatangani oleh Kepala Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur.
d) Berdasarkan butir 3 dan kelengkapan persyaratan terpenuhi, Gubernur Jawa
Timur mengeluarkan surat ijin bongkar yang ditujukan kepada Importir,
dengan tembusan kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa
Timur, Kanwil Ditjen Bea dan Cukai Jatim I, Kepala Kantor Otoritas Pelabuhan
Utama Tanjung Perak, PELINDO III Tanjung Perak Surabaya dan Kepala
Syahbandar.
e) Setelah mendapatkan Surat Izin Bongkar dari Gubernur Jawa Timur Importir
dapat melaksanakan bongkar dan mendistribusikan komoditinya.
III.

WAKTU :
Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan Surat Izin Bongkar atau izin
pengeluaran Gubernur Jawa Timur dalam waktu 5 (lima) hari kerja setelah surat
permohonan diterima dengan catatan berkas lengkap dan benar.

________________________________________________________________________
GUBERNUR JAWA TIMUR
DIUNDANGKAN DALAM BERITA DAERAH
PROVINSI JAWA TIMUR

ttd

TGL. 11-1-2013 No 2 Th 2013/ D

Dr. H. SOEKARWO