Anda di halaman 1dari 18

GEOMORFOLOGI PULAU JAWA

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar belakang masalah
Pada dasarnya perkembangan tektonik dari Pulau Jawa itu tidak jauh berbeda dari Pulau
Sumatra yang berada di sebelah barat lautnya. Hal ini dikarenakan pada awal Paleogen, Pulau
Jawa dan Sumatra masih berada dalam bagian batas tepi lempeng mikro Sunda dan juga
masih berada dalam satu sistem palung busur yang sama, yaitu hasil interaksi konvergen
antara lempeng
Australia (Indo-Australia) dengan lempeng Eurasia (lempeng mikroSunda). Ketika Eosen, pulau
Jawa bagian utara yang semula berupa daratan,menjadi tergenang oleh air laut dan
membentuk cekungan geosinklin. Ketika pertengahan Eosen, terbentang sesar purba dari Jawa
hingga ke Meratus yang dikenal dengan Luk-Ulo Meratus. Sesar tersebut membentang ke utara
timur membelah laut Jawa sampai bagian tenggara Kalimantan.
Pada kala Oligosen, hampir seluruh pulau jawa mengalami pengangkatan, sehingga menjadi
geantklin yang disebut geantklin Jawa.Pada saat itu muncul beberapa gunung api di Jawa
bagian selatan. Pulau Jawa yang semula merupakan geantiklin berangsur-angsur mengalami
penurunan lagi sehingga pada Miosen bawah terjadi genang laut. Gunung api yang
bermunculan di bagian selatan membentuk pulau-pulau gunung api. Pada pulau-pulau tersebut
terdapat endapan breaksi vulkanik dan endapan-endapan laut. Semakin jauh dari pantai
terbentuk endapan gamping koral dan gamping foraminifera. Pada Miosen tengah di sepanjang
pulau Jawa bagian selatan, pembentukan gamping koral terus berkembang dengan diselingi
batuan vulkanik. Kemudian pada Miosen atas terjadi pengangkatan pada seluruh lengkung
Sunda-Bali dan bagian selatan Jawa. Keberadaan pegunungan Jawa bagian selatan ini tetap
bertahan sampai sekarang dengan batuan penyusun yang didominasi oleh batuan kapur yang
dibeberapa tempat diselingi oleh munculnya vulkanik atau bentuk intrusi yang lain

2.
Rumusan Masalah
Dari beberapa uraian dalam latar belakang masalah dapat diambil beberapa rumusan masalah
yang akan kami sajikan dalam pembahasan diantaranya:
1.
Geologi di pulau Jawa
2.
Fisiografi dan geomorfologi di pulau Jawa
3.
Jenis-Jenis Tanah di pulau Jawa
4.
Hidrologi di pulau Jawa

5.
6.
3.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Iklim di pulau Jawa


Pengembangan potensi fisik wilayah di pulau Jawa
Tujuan
Untuk mengetahui tatanan geologi di pulau Jawa
Untuk mengetahui fisiografi dan geomorfologi di pulau Jawa
Untuk mengetahui jenis-jenis tanah di pulau Jawa
Untuk mengetahui hidrologi di pulau Jawa
Untuk mengetahui iklim di pulau Jawa
Untuk mengetahui pengembangan potensi fisik wilayah pulau Jawa

BAB II
PEMBAHASAN
1.
GEOLOGI PULAU JAWA
Tatanan Tektonik
a.
Tektonik Regional
Perkembangan tektonik pulau Jawa dapat dipelajari dari pola-pola struktur geologi dari waktu ke
waktu. Struktur geologi yang ada di pulau Jawa memiliki pola-pola yang teratur. Secara geologi
pulau Jawa merupakan suatu komplek sejarah penurunan basin, pensesaran, perlipatan dan
vulkanisme di bawah pengaruh stress regime yang berbeda-beda dari waktu ke waktu. Secara
umum, ada tiga arah pola umum struktur yaitu arah Timur Laut-Barat Daya (NE-SW) yang
disebut pola Meratus, arah Utara-Selatan (N-S) atau pola Sunda dan arah Timur-Barat (E-W).
Perubahan jalur penunjaman berumur kapur yang berarah Timur Laut-Barat Daya (NE-SW)
menjadi relatif Timur-Barat (E-W) sejak kala Oligosen sampai sekarang telah menghasilkan
tatanan geologi Tersier di pulau Jawa yang sangat rumit disamping mengundang pertanyaan
bagaimanakah mekanisme perubahan tersebut. Kerumitan tersebut dapat terlihat pada unsur
struktur Pulau Jawa dan daerah sekitarnya.

Pola Meratus di bagian barat terekspresikan pada Sesar Cimandiri, di bagian tengah
terekspresikan dari pola penyebab singkapan batuan pra-Tersier di daerah Karang Sambung.
Sedangkan di bagian timur ditunjukkan oleh sesar pembatas Cekungan Pati, Florence timur,
Central Deep. Cekungan Tuban dan juga tercermin dari pola konfigurasi Tinggian Karimun
Jawa, Tinggian Bawean dan Tinggian Masalembo. Pola Meratus tampak lebih dominan
terekspresikan di bagian timur.
Pola Sunda berarah Utara-Selatan, di bagian barat tampak lebih dominan sementara
perkembangan ke arah timur tidak terekspresikan. Ekspresi yang mencerminkan pola ini adalah
pola sesar-sesar pembatas Cekungan Asri, Cekungan Sunda dan Cekungan Arjuna. Pola
Sunda pada Umumnya berupa struktur regangan.
Pola Jawa di bagian barat pola ini diwakili oleh sesar-sesar naik seperti sesar Beribis dan
sesar-sesar dalam Cekungan Bogor. Di bagian tengah tampak pola dari sesar-sesar yang
terdapat pada zona Serayu Utara dan Serayu Selatan. Di bagian Timur ditunjukkan oleh arah
Sesar Pegunungan Kendeng yang berupa sesar naik.
Dari data stratigrafi dan tektonik diketahui bahwa pola Meratus merupakan pola yang paling tua.
Sesar-sesar yang termasuk dalam pola ini berumur Kapur sampai Paleosen dan tersebar dalam
jalur Tinggian Karimun Jawa menerus melalui Karang Sambung hingga di daerah Cimandiri
Jawa Barat. Sesar ini teraktifkan kembali oleh aktivitas tektonik yang lebih muda. Pola Sunda
lebih muda dari pola Meratus. Data seismik menunjukkan Pola Sunda telah mengaktifkan
kembali sesar-sesar yang berpola Meratus pada Eosen Akhir hingga Oligosen Akhir.
Pola Jawa menunjukkan pola termuda dan mengaktifkan kembali seluruh pola yang telah ada
sebelumnya (Pulunggono, 1994). Data seismik menunjukkan bahwa pola sesar naik dengan
arah barat-timur masih aktif hingga sekarang.
Fakta lain yang harus dipahami ialah bahwa akibat dari pola struktur dan persebaran tersebut
dihasilkan cekungan-cekungan dengan pola yang tertentu pula. Penampang stratigrafi yang
diberikan oleh Kusumadinata, 1975 dalam Pulunggono, 1994 menunjukkan bahwa ada dua
kelompok cekungan yaitu Cekungan Jawa Utara bagian barat dan Cekungan Jawa Utara
bagian timur yang terpisahkan oleh tinggian Karimun Jawa.
Kelompok cekungan Jawa Utara bagian barat mempunyai bentuk geometri memanjang relatif
utara-selatan dengan batas cekungan berupa sesar-sesar dengan arah utara selatan dan timurbarat. Sedangkan cekungan yang terdapat di kelompok cekungan Jawa Utara Bagian Timur
umumnya mempunyai geometri memanjang timur-barat dengan peran struktur yang berarah
timur-barat lebih dominan.
Pada Akhir Cretasius terbentuk zona penunjaman yang terbentuk di daerah Karangsambung
menerus hingga Pegunungan Meratus di Kalimantan. Zona ini membentuk struktur kerangka
struktur geologi yang berarah timurlaut-baratdaya. Kemudian selama tersier pola ini bergeser

sehingga zona penunjaman ini berada di sebelah selatan Pulau Jawa. Pada pola ini struktur
yang terbentuk berarah timur-barat.
Tumbukkan antara lempeng Asia dengan lempeng Australia menghasilkan gaya utama
kompresi utara-selatan. Gaya ini membentuk pola sesar geser (oblique wrench fault) dengan
arah baratlaut-tenggara, yang kurang lebih searah dengan pola pegunungan akhir Cretasisus.
Pada periode Pliosen-Pleistosen arah tegasan utama masih sama, utara-selatan. Aktifitas
tektonik periode ini menghasillkan pola struktur naik dan lipatan dengan arah timur-barat yang
dapat dikenali di Zona Kendeng.
Volkanisme
Posisi pulau Jawa dalam kerangka tektonik terletak pada batas aktif (zona penunjaman)
sementara berdasarkan konfigurasi penunjamannya terletak pada jarak kedalaman 100 km di
selatan hingga 400 km di utara zona Benioff. Konfigurasi memberikan empat pola busur atau
jalur magmatisme, yang terbentuk sebagai formasi-formasi batuan beku dan volkanik. Empat
jalur magmatisme tersebut menurut Soeria Atmadja dkk., 1991 adalah :
a.
Jalur volkanisme Eosen hingga Miosen Tengah, terwujud sebagai Zona Pegunungan
Selatan.
b.
Jalur volkanisme Miosen Atas hingga Pliosen. Terletak di sebelah utara jalur Pegnungan
Selatan. Berupa intrusi lava dan batuan beku.
c.
Jalur volkanisme Kuarter Busur Samudera yang terdiri dari sederetan gunungapi aktif.
d.
Jalur volkanisme Kuarter Busur Belakang, jalur ini ditempati oleh sejumlah gunungapi
yang berumur Kuarter yang terletak di belakang busur volkanik aktif sekarang.
Magmatisme Pra Tersier
Batuan Pra-Tersier di pulau Jawa hanya tersingkap di Ciletuh, Karang Sambung dan Bayat.
Dari ketiga tempat tersebut, batuan yang dapat dijumpai umumnya batuan beku dan batuan
metamorf. Sementara itu, batuan yang menunjukkan aktifitas magmatisme terdiri atas batuan
asal kerak samudra seperti, peridotite, gabbro, diabase, basalt toleit. Batuan-batuan ini
sebagian telah menjadi batuan metamorf.
Magmatisme Eosen
Data-data yang menunjukkan adanya aktifitas magmatisme pada Eosen ialah adanya Formasi
Jatibarang di bagian utara Jawa Barat, dike basaltik yang memotong Formasi Karang Sambung
di daerah Kebumen Utara, batuan berumur Eosen di Bayat dan lava bantal basaltik di sungai
Grindulu Pacitan. Formasi Jatibarang merupakan batuan volkanik yang dapat dijumpai di setiap
sumur pemboran. Ketebalan Formasi Jatibarang kurang lebih 1200 meter. Sementara di daerah
Jawa Tengah dapat ditemui di Gunung Bujil yang berupa dike basaltik yang memotong Formasi
Karang Sambung, di Bayat dapat ditemui di kompleks Perbukitan Jiwo berupa dike basaltik dan
stok gabroik yang memotong sekis kristalin dan Formasi Gamping-Wungkal.
Magmatisme Oligosen-Miosen Tengah
Pulau Jawa terentuk oleh rangkaian gunungapi yang berumur Oligosen-Miosen Tengah dan
Pliosen-Kuarter. Batuan penyusun terdiri atas batuan volkanik berupa breksi piroklastik,breksi

laharik, lava, batupasir volkanik tufa yang terendapkan dalam lingkungan darat dan laut.
Pembentukan deretan gunungapi berkaitan erat dengan penunjaman lempeng samudra Hindia
pada akhir Paleogen. Menurut Van Bemmelen (1970) salah satu produk aktivitas volkanik saat
itu adalah Formasi Andesit Tua.
Magmatisme Miosen Atas-Pliosen
Posisi jalus magmatisme pada periode ini berada di sebelah utara jalur magmatisme periode
Oligosen-Miosen Tengah. Pada periode in aktivitas magmatisme tidak terekspresikan dalam
bentuk munculnya gunungapi, tetapi berupa intrusi-intrusi seperti dike, sill dan volkanik neck.
Batuannya berkomposisi andesitik.
Magmatisme Kuarter
Pada periode aktifitas kuarter ini magmatisme muncul sebagai kerucut-kerucut gunungapi. Ada
dua jalur rangkaian gunungapi yaitu : jalur utama terletak di tengah pulau Jawa atau pada jalur
utama dan jalur belakang busur. Gunungapi pada jalur utama ersusun oleh batuan volkanik tipe
toleitik, kalk alkali dan kalk alkali kaya potasium. Sedangkan batuan volkanik yan terletak di
belakan busur utama berkomposisi shoshonitik dan ultra potasik dengan kandungan leusit.
Magmatisme Belakang Busur Gunung Ungaran merupakan magmatisme belakang busur yang
terletak di Kota Ungaran, Jawa Tengah dengan ketinggian sekitar 2050 meter di atas
permukaan laut. Secara geologis, Gunung Ungaran terletak di atas batuan yan tergabung
dalam Formasi batuan tersier dalam Cekungan Serayu Utara di bagian barat dan Cekungan
Kendeng di bagian utara-timur. Gunung Ungaran merupakan rangkaian paling utara dari
deretan gunungapi (volcanic lineament) Gunung Merapi-Gunung Merbabu-Gunung Ungaran.
Beberapa peneliti menyatakan bahwa fenomena itu berkaitan dengan adanya patahan besar
yan berarah utara-selatan.
Komposisi batuan yang terdapat di Gunung Ungaran cukup bervariasi, terdiri dari basal yang
mengandung olivin, andesit piroksen, andesit hornblende dan dijumpai juga gabro. Pada
perkembangannya, Gunung Ungaran mengalami dua kali pertumbuhan, mulanya menghasilkan
batuan volkanik tipe basalt andesit pada kala Pleistosen Bawah. Perkembangan selanjutnya
pada Kala Pleistosen Tengah berubah menjadi cenderung bersifat andesit untuk kemudian
roboh. Pertumbuhan kedua mulai lagi pada Kala Pleistosen Atas dan Holosen yang
menghasilkan Gunung Ungaran kedua dan ketiga. Saat ini Gunung Ungaran dalam kondisi
dormant.
b.
Tatanan Tektonik Daerah Ungaran
Gunung Ungaran selama perkembangannya mengalami ambrolan-tektonik yang diakibatkan
oleh pergeseran gaya berat karena dasarnya yang lemah (Gambar 2.3 dan 2.4). Gunung
Ungaran tersebut memperlihatkan dua angkatan pertumbuhan yang dipisahkan oleh dua kali
robohan (Zen dkk., 1983). Ungaran pertama menghasilkan batuan andesit di Kala Pliosen
Bawah, di Pliosen Tengah hasilnya lebih bersifat andesit dan berakhir dengan robohan. Daur

kedua mulai di Kala Pliosen Atas dan Holosen. Kegiatan tersebut menghasilkan daur ungaran
kedua dan ketiga.
Struktur geologi daerah Ungaran dikontrol oleh struktur runtuhan (collapse structure) yang
memanjang dari barat hingga tenggara dari Ungaran. Batuan volkanik penyusun pre-caldera
dikontrol oleh sistem sesar yang berarah barat laut-barat daya dan tenggara-barat daya,
sedangkan batuan volkanik penyusun post-caldera hanya terdapat sedikit struktur dimana
struktur ini dikontrol oleh sistem sesar regional (Budiardjo et al. 1997).
Struktur geologi daerah Ungaran dikontrol oleh struktur runtuhan (collapse structure
Blok diagram struktur volkano-tektonik Ungaran Tua (akhir Pleistosen). (Bemmelen,1943 vide
Bemmelen, 1970 dengan perubahan)
2.

FISIOGRAFI DAN GEOMORFOLOGI PULAU JAWA

A. Fisiografi
Pulau Jawa secara fisiografi dan struktural, dibagi atas empat bagian utama (Bemmelen, 1970)
yaitu:
Sebelah barat Cirebon (Jawa Barat)
Jawa Tengah (antara Cirebon dan Semarang)
Jawa Timur (antara Semarang dan Surabaya)
Cabang sebelah timur Pulau Jawa, meliputi Selat Madura dan Pulau Madura Jawa Tengah
merupakan bagian yang sempit di antara bagian yang lain dari Pulau Jawa, lebarnya pada arah
utara-selatan sekitar 100 120 km.
Daerah Jawa Tengah tersebut terbentuk oleh dua pegunungan yaitu Pegunungan Serayu Utara
yang berbatasan dengan jalur Pegunungan Bogor di sebelah barat dan Pegunungan Kendeng
di sebelah timur serta Pegunungan Serayu Selatan yang merupakan terusan dari Depresi
Bandung di Jawa Barat.
Pegunungan Serayu Utara memiliki luas 30-50 km, pada bagian barat dibatasi oleh Gunung
Slamet dan di bagian timur ditutupi oleh endapan gunung api muda dari Gunung
Rogojembangan, Gunung Prahu dan Gunung Ungaran.
Gunung Ungaran merupakan gunung api kuarter yang menjadi bagian paling timur dari
Pegunungan Serayu Utara. Daerah Gunung Ungaran ini di sebelah utara berbatasan dengan
dataran aluvial Jawa bagian utara, di bagian selatan merupakan jalur gunung api Kuarter
(Sindoro, Sumbing, Telomoyo, Merbabu), sedangkan pada bagian timur berbatasan dengan
Pegunungan Kendeng (Gambar 2.1). Bagian utara Pulau Jawa ini merupakan geosinklin yang
memanjang dari barat ke timur (Bemmelen, 1970).
ketsa fisiografi Pulau Jawa bagian tengah (Bemmelen,1943 vide Bemmelen, 1970, dengan
modifikasi)
B.

Stratigrafi Regional

Secara lebih rinci, fisiografi Pegunungan Serayu Utara dibagi menjadi tiga bagian yaitu bagian
barat (Bumiayu), bagian tengah (Karangkobar) dan bagian timur (Ungaran). Dalam Bemmelen
(1970) diuraikan bahwa stratigrafi regional Pegunungan Serayu Utara bagian timur (Gunung
Ungaran dan sekitarnya) dari yang tertua adalah sebagai berikut:
a)
Lutut Beds Endapan ini berupa konglomerat dan batugamping dengan fosil berupa
Spiroclypeus, Eulipidina, Miogypsina dengan penyebaran yang sempit. Endapan ini menutupi
endapan Eosen yang ada di bawahnya.endapan ini berumur Oligo-Miosen.
b)
Merawu Beds Endapan ini merupakan endapan flysch yang berupa perselangselingan
lempung serpihan, batupasir kuarsa dan batupasir tufaan dengan fosil Lepidocyclina dan
Cycloclypeus. Endapan ini berumur Miosen Bawah.
c)
Panjatan Beds Endapan ini berupa lempung serpihan yang relatif tebal dengan
kandungan fosil Trypliolepidina rutteni, Nephrolepidina ferreroi PROV., N. Angulosa Prov.,
Cycloclypeus sp., Radiocyclocypeus TAN., Miogypsina thecideae formis RUTTEN. Fosil yang
ada menunjukkan Miosen Tengah.
d) Banyak Beds Endapan ini berupa batu pasir tufaan yang diendapkan pada Miosen Atas.
e)
Cipluk Beds Endapan ini berada di atas Banyak Beds yang berupa napal yang berumur
Miosen Atas.
f)
Kapung Limestone Batu gamping tersebut diendapkan pada Pliosen Bawah dengan
dijumpainya fosil Trybliolepidina dan Clavilithes sp. Namun fosil ini kelimpahannya sangat
sedikit.
g)
Kalibluk Beds Endapan ini berupa lempung serpihan dan batupasir yang mengandung
moluska yang mencirikan fauna cheribonian yang berumur Pliosen Tengah.
h)
Damar Series Endapan ini merupakan endapan yang terbentuk pada lingkungan transisi.
Endapan yang ada berupa tuffaceous marls dan batupasir tufaan yang mengandung fosil gigi
Rhinocerous, yang mencirikan Pleistosen awal-Tengah.
i)
Notopuro Breccias Endapan ini berupa breksi vulkanik yang menutupi secara tidak
selaras di atas endapan Damar Series. Endapan ini terbentuk pada Pleistosen Atas.
j)
Alluvial dan endapan Ungaran Muda Endapan ini merupakan endapan alluvial yang
dihasilkan oleh proses erosi yang terus berlangsung sampai saat ini (Holosen). Selain itu juga
dijumpai endapan breksi andesit yang merupakan produk dari Gunung Ungaran Muda. Menurut
Budiardjo et. al. (1997), stratigrafi daerah.Ungaran dari yang tua ke yang muda adalah sebagai
berikut:
1.
Batugamping volkanik
2.
Breksi volkanik III
3.
Batupasir volkanik
4.
Batulempung volkanik
5.
Lava andesitic
6.
Andesit porfiritik
7.
Breksi volkanik II
8.
Breksi volkanik I

9.
Andesit porfiritik
10. Lava andesit
11. .Aluvium
Peta geologi regional daerah Ungaran (Budiardjo, et. al., 1997)
Peta Ungaran fault System dan antiklinorium utara Candi (Bemmelen, 1943 vide Bemmelen,
1970 dengan perubahan
3.

JENIS-JENIS TANAH DI PULAU JAWA

1.
Tanah Vulkanis
Ciri-cirinya :
Butir tanahnya halus hingga menyerupai abu
Tidak mudah terbang bila ditiup angin
Tanahnya sangat subur
Banyak mengandung unsur hara yang dibutuhkan oleh tumbuhan
Pulau Jawa merupakan letak terbanyak gunung berapi di Indonesia
Tersebar di bagian tengah dan selatan Pulau Jawa
2.
Tanah Aluvial
Ciri-cirinya :
Tanahnya sangat subur
Terbentuk dari hasil endapan di tempat yg lebih rendah
Banyak terdapat di lembah aliran sungai dan dataran rendah
Daerah ini merupakan lumbung-lumbung beras di tanah air
Dimanfaatkan sebagai daerah pertanian tanaman padi
Tersebar di bagian utara Pulau Jawa
3.
Tanah Humus
Ciri-cirinya :
Tanahnya sangat subur
Berasal dr pembusukan tumbuhan
Terdapat di bag. Atas dr tanah pada hutan-hutan lebat
Berasal dari pembusukan-pembusukan tumbuhan

4.

HIDROLOGI PULAU JAWA

Pola hidrologi kawasan kars Kendeng Utara secara regional adalah pola aliran paralel dimana
terdapat penjajaran mata air dan mengikuti struktur geologi yang ada. Pola aliran seperti ini
merupakan cerminan bahwa pola aliran sungai di kawasan kars Sukolilo Pati dan kawasan kars
Grobogan dipengaruhi oleh struktur geologi yang berkembang. Sungai-sungai yang mengalir
dibagi menjadi dua zona, yaitu zona aliran Utara dan zona aliran Selatan. Baik zona Utara
maupun Selatan adalah sungai-sungai yang muncul dari rekahan batugamping kawasan
tersebut atau karst spring dengan tipe mata air kars rekahan (fracture springs). Terbentuknya

mata air rekahan tersebut akibat terjadinya patahan pada blok batugamping di kawasan ini saat
proses pengangkatan dan perlipatan.
Zona ditemukannya penjajaran mata air tersebut merupakan batas zona jenuh. Pada zona
Utara pemunculan mata air kars berada pada daerah-daerah berelief rendah hingga dataran
dengan kisaran ketinggian 20 - 100 mdpl dan pada zona Selatan muncul pada ketinggian
antara 100 - 350 mdpl. Bukti lain bahwa proses karstifikasi kawasan ini masih berlanjut dan
masih merupakan fungsi hidrologis adalah ditemukannya sungai-sungai bawah permukaan
yang keluar sebagai aliran permukaan melalui corridor-corridor mulut gua yang ada pada
daerah Sukolilo. Bukti ini dapat dilihat dari sungai bawah tanah yang terdapat di Gua Wareh,
Gua Gondang, Gua Banyu dan Gua Pancuran. Keempat gua tersebut merupakan sistem
perguaan sekaligus sistem sungai bawah tanah yang masih aktif. Fenomena tersebut
memberikan gambaran bahwa perbukitan kawasan kars Kendeng Utara berfungsi sebagai
kawasan resapan air (recharge area), kemudian air resapan tersebut terdistribusi keluar melalui
mata air-mata air

yang bermunculan di bagian pemukiman dan di daerah-daerah dataran

sekitar kawasan kars Pati dan Grobogan.


Dalam kawasan kars Kendeng Utara ini terdapat 33 sumber mata air yang mengelilingi
kawasan kars Grobogan dan 79 sumber mata air yang mengelilingi kawasan kars Sukolilo Pati
(Kendeng Utara). Keseluruhan mata air tersebut bersifat parenial artinya terus mengalir dalam
debit yang konstan meskipun pada musim kemarau. Dari hasil perhitungan dapat diketahui
bahwa pemunculan air di sepanjang musim selalu berubah. Pada musim kemarau berdasarkan
perhitungan dari 38 sumber air yang ada di kawasan Sukolilo mencapai lebih dari 1.009 lt/dtk,
dan mencukupi kebutuhan air lebih dari 7.882 KK yang ada di Kecamatan Sukolilo, dari 18
sumber air yang ada di Kecamatan Tawangharjo mencapai debit 462,796 lt/dtk dan mencukupi
kebutuhan air lebih dari 5.000 KK yang ada di Kecamatan Tawangharjo dan Wirosari,
Kabupaten Grobogan. Perhitungan ini akan lebih meningkat drastis pada saat musim hujan.
Gambar 4. Peta Penyebaran Gua dan Sumber Air di Kawasan Kars Kendeng Utara
5.
IKLIM DI PULAU JAWA
Seperti daerah lain di pulau tropis, Jawa iklim Indonesia memiliki dua musim: musim hujan
(selama bulan Oktober-April) dan musim kemarau (selama Mei-September). Musim kemarau
adalah waktu terbaik jika Anda ingin mengunjungi pulau ini. Bulan-bulan terbasah adalah antara
Januari-Februari. Jawa Barat dari daerah basah Timur dan daerah pegunungan menerima
curah hujan lebih tinggi. Dataran tinggi Parahyangan Jawa Barat menerima lebih dari 4.000 mm
per tahun, sedangkan pantai utara Jawa Timur menerima 900 mm per tahun.
Suhu rata-rata Jawa Indonesia mulai dari 22 C sampai 29 C atau 71,6 -84,2 tentang F.
Rata-rata kelembaban cuaca Indonesia Jawa adalah 75%. Daerah utara yang lebih panas dari

tengah-tengah Pulau, rata-rata 34 C di musim kemarau. Daerah selatan biasanya lebih dingin
dari wilayah utara.
Khusus wilayah Jakarta memiliki puncak musim hujan pada bulan Januari dan Februari dengan
curah hujan 350 milimeter. Suhu rata-rata adalah Jakarta 27 C. Curah hujan antara bulan
Januari dan awal Februari sangat tinggi, saat itulah Jakarta dibanjiri, dan puncak musim
kemarau pada bulan Agustus dengan rata-rata curah hujan 60 milimeter. Pada bulan
September dan awal Oktober adalah hari terpanas di Jakata, suhu bisa mencapai 40 C (104
F). Iklim di Banten dan Jawa Barat daerah sangat dipengaruhi oleh Monson
Perdagangan dan gelombang La Nina atau El Nino. Ketika musim hujan cuaca didominasi oleh
Angin Barat (dari Sumatera dan Samudera India yang bergabung dengan angin dari Asia
melalui Laut Cina Selatan), cuaca didominasi oleh angin Timur yang menyebabkan harshed
Banten, khususnya di pantai utara, bahkan lebih sehingga ketika El Nino terakhir. Suhu di
daerah pesisir berkisar antara 22 C dan 32 C, sedangkan suhu di pegunungan dengan
ketinggian antara 400-1.350 m di atas permukaan laut antara 18 C-29 C. Curah hujan
tertinggi Provinsi Banten mulai dari 2712-3670 mm pada musim hujan. Pada musim kemarau,
curah hujan 615-833 mm tertinggi pada bulan April-Desember sedangkan curah huJawa Barat
mungkin memiliki suhu 9 C (48,2 F) di puncak Gunung Pangrango dan 34 C (93,2 F) di
Pantai Utara, curah hujan rata-rata 2.000 mm per tahun, namun di beberapa daerah
pegunungan antara 3.000 sampai 5.000 mm per tahun.
Wilayah Jawa Tengah memiliki curah hujan tahunan rata-rata 2.000 mm per tahun, dan suhu
rata-rata 21-32 C (sekitar 69,8 -89,6 F). Daerah dengan curah hujan tinggi terutama
berlokasi di Nusakambangan pulau (selatan Jawa), dan sepanjang Pegunungan Serayu.
Daerah dengan curah hujan rendah dan sering kekeringan di musim kering Blora dan daerah
sekitarnya serta di bagian selatan Wonogiri.
Dibandingkan dengan wilayah barat Jawa, Jawa Timur memiliki curah hujan kurang. Curah
hujan rata-rata 1900 mm per tahun, dengan musim hujan selama 100 hari. Suhu rata-rata
berkisar antara 21-34 C (sekitar 69,8 -93,2 F). Suhu di daerah pegunungan lebih rendah,
dan bahkan di daerah Ranu Pani (lereng Gunung Semeru), suhu bisa mencapai minus 4 C
atau 24,8 F, yang menyebabkan hujan salju yang lembut. jan terendah di kering 360-486 mm
bulan Juni sampai September.
6.
PENGEMBANGAN POTENSI FISIK WILAYAH
Pulau Jawa yang termasuk dalam kelompok Kawasan Telah Berkembang di Indonesia,
merupakan wilayah dengan perkembangan perekonomian yang sangat pesat dan potensial,
dimana Pulau Jawa memiliki potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang besar.

Namun dalam kenyataannya, tidak seluruh daerah di Pulau Jawa menunjukkan perkembangan
yang sama. Secara fisik kawasan utara Pulau
Setiap pulau tentu memiliki sumber daya alam, kekayaan alam, dan corak serta tipe daerah
yang berbeda. Karena hal tersebut peta perekonomian di setiap daerah pun berbeda.
Seperti halnya pulau jawa, salah satu pulau terbesar di Indonesia ini terbagi menjadi 3 wilayah,
yaitu: Jawa tengah, Jawa barat dan Jawa timur. Walau berada dalam 1 pulau, masing-masing
wilayah tersebut memiliki mata pencaharian yang berbeda sebagai investasi dan pemanfaatan
sumber daya yang tersedia.
1. Jawa tengah
Jumlah penduduk sekitar 32.380.687 jiwa, terdiri dari 16.081.140 laki-laki dan 16.299.547
perempuan, dengan persentase pertumbuhan penduduk sebesar 0,67% pertahun.
Pertanian merupakan sektor utama perekonomian Jawa tengah. Dimana hampir separuh dari
jumlah angkatan kerja terserap di sektor pertanian. Dari jumlah penduduk, 47% diantaranya
merupakan angkatan kerja. Mata pencahariannya adalah pertanian (42.34%), diikuti
perdagangan (20,91%), industri (15,71%) dan jasa (10,98).
2. Jawa Barat
Jumlah penduduk sekitar 37.548.565 jiwa, dengan tingkat pertumbuhan sebesar 2,14%
pertahun. Jawa barat memiliki tenaga pekerja berpendidikan sebanyak 15,7juta jiwa atau 18%
dari jumlah nasional. Sebagian besar bekerja pada bidang pertanian, kehutanan dan perikanan
(31%), pada industri manufaktur (17%), perdagangan, hotel dan restoran (22,5%) dan sektor
jasa (29%) Provinsi ini menyumbang hampir 1/4 dari nilai total hasil produksi Indonesia di sektor
non migas, Ekspor utama tekstil sekitar 55,45% dari total ekspor Jawa barat.
3. Jawa timur
Dengan luas wilayah 47.922 km Jawa timur memiliki jumlah penduduk sebesar 37.070.731
jiwa, dengan tingkat pertumbuhan 0,59% pertahun. Kota dengan jumlah penduduk terbanyak
adalah Surabaya yang merupakan ibukota provinsi. Mata pencaharian masyarakat Jawa timur
umumnya di bidang Perindustrian, Pertambangan dan Energi.
Jawa timur dikenal sebagai pusat kawasan timur Indonesia dan memiliki signifikansi
perekonomian yang cukup tinggi, yakni 14,85% terhadap produk domestik bruto nasional. Jawa
timur memiliki sejumlah industri besar, diantaranya adalah galangan pembuatan kapal terbesar,
Industri kereta api, pabrik kertas serta pabrik rokok.
Jawa lebih berkembang dibanding dengan kawasan selatan. Kondisi infrastruktur jalan di
kawasan Utara Jawa seperti Jalur Pantura telah mampu mengangkat roda perekonomian,
aktivitas sosial, dan mobilitas warga masyarakat, sedangkan akibat keterbatasan infrastruktur
jalan di kawasan selatan Jawa, perkembangan wilayah dan tingkat kesejahteraan masyarakat
masih rendah bahkan banyak ditemui daerah-daerah terisolir. Hal ini terbukti dengan adanya

kota-kota di kawasan utara yang lebih berkembang, seperti Jakarta, Cirebon, Surabaya, dan
lain-lain. Selain itu persentase nilai PDRB per kapita wilayah Jawa bagian utara jauh lebih tinggi
dibandingkan dengan bagian selatan. Rata-rata semua sektor ekonomi di wilayah Jawa bagian
selatan mempunyai kontribusi yang sangat kecil, dengan prosentase antara 0-13%.
Sebenarnya, wilayah Jawa bagian selatan mempunyai potensi sumberdaya alam yang besar,
selain memiliki tanah yang subur, sumber-sumber tambang,
sumberdaya laut. Berbagai potensi

tersebut

pariwisata,

juga kaya akan

sangat memungkinkan untuk dilakukan

pengembangan yang lebih optimal. Potensi utama ini juga dapat dilihat secara nyata pada
persentase nilai PDRB perkapita wilayah Jawa bagian selatan. Sektor pertanian memberikan
kontibusi cukup besar pada nilai PDRB per kapita provinsi yang mencapai 35-50%. Selain itu,
terdapat potensi di bidang pariwisata terutama wisata alam, dengan kontribusi terhadap nilai
PDRB per kapita provinsi sebesar 18-22%. Kekayaan dan potensi yang melimpah tersebut
tentu merupakan suatu faktor strategis yang mampu mendorong kemajuan wilayah Jawa
bagian

selatan

serta

peningkatan

kesejahteraan

masyarakat

wilayah

tersebut

jika

dikembangkan secara optimal dengan dukungan infrastruktur ekonomi dan sosial yang
memadai. Berikut gambaran potensi yang terdapat di beberapa wilayah Pulau Jawa bagian
selatan.
Sebagai upaya menyeimbangkan pertumbuhan kawasan pantai utara Pulau Jawa dan pantai
selatan Pulau Jawa serta untuk menghadapi tantangan kepadatan jalur pantura Jawa salah
satunya adalah dengan pembangunan infrastruktur.

Salah satu infrastruktur yang harus

dibangun adalah berupa jalan dan jembatan. Mengapa? Karena jalan dan jembatan adalah
prasarana yang dapat menjadi urat nadi dalam mengembangkan suatu wilayah sekaligus
sebagai pembentuk struktur ruang wilayah. Terkait dengan hal ini, upaya yang dilakukan
pemerintah adalah dengan pembangunan dan peningkatan prasarana jalan lintas di selatan
Pulau Jawa.

Sesuai dengan kebijakan pengembangan infrastruktur, salah satu

fungsi

pembangunan jaringan jalan lintas selatan Pulau Jawa adalah untuk menjamin kelancaran
pergerakan barang dari kawasan produksi menuju tujuan pemasaran maupun pergerakan
orang antar pusat-pusat permukiman.
Jalan lintas selatan Pulau Jawa direncanakan untuk mengubungkan 5 provinsi di Pulau Jawa,
yaitu Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur,
yang dimulai dari Labuan (Banten) hingga Banyuwangi (Jawa Timur) sepanjang 1.556 km,
dengan panjang pada masing-masing provinsi adalah Banten 128 km, Jawa Barat 419 km,
Jawa Tengah 190 km, Daerah Istimewa Yogyakarta 157 km, dan Jawa Timur sepanjang 662
km. Langkah awal pembangunan jalan lintas selatan Pulau Jawa telah dimulai pada tahun
1997-1998 dengan dilakukan pra-feasibility study. Dilanjutkan dengan feasibility study pada

tahun 2000-2001, kemudian studi AMDAL pada tahun 2002, serta desain dan pelaksanaan
konstruksi pada tahun 2002-2007. Sebenarnya selama ini di wilayah selatan Jawa telah
dibangun jalan kabupaten dan propinsi, dimana investasi oleh masing-masing daerah cukup
besar, namun tetap belum cukup memadai untuk membuka isolasi potensi yang seharusnya
dapat dimanfaatkan secara optimal oleh penduduknya. Dengan dibangunnya jaringan jalan
lintas selatan yang berkelas jalan nasional dengan fungsi arteri primer selebar 24 meter dan
merupakan jaringan jalan yang menghubungkan seluruh.
Pulau Jawa bagian selatan ini, setidaknya masalah aksesibilitas sudah terpecahkan. Dapat
dikatakan bahwa pembangunan jalan lintas selatan ini tidak hanya untuk memudahkan
transportasi dari arah barat ke timur dan sebaliknya, tetapi yang terpenting untuk meningkatkan
kesejahteraan

jutaan

penduduk di kawasan Pulau Jawa bagian selatan. Penetapan rute

berawal dari hasil Detail Engineering Design dari perencana yang selanjutnya dilakukan
peninjauan

lokasi

bersama-sama antara pemerintah provinsi dengan

masing-masing

pemerintah kabupaten dan dibahas dalam beberapa kali pertemuan. Hasil pertemuan tersebut
diintegrasikan dengan studi jaringan yang dilakukan oleh pemerintah pusat, yaitu studi Java
Arterial Road Network (JARN). Selanjutnya dari hasil tersebut ditetapkan rute jalan lintas
selatan Pulau Jawa yang dari segi pendanaan melalui sharing pemerintah pusat yang lebih
proporsional.Saat ini,

Saat ini kondisi eksisting jalan lintas selatan Pulau Jawa belum

sepenuhnya berfungsi. Selain karena kondisi permukaan jalan yang buruk juga karena adanya
beberapa jembatan penghubung yang belum selesai dibuat di beberapa ruas jalan. Contoh
kasus di Provinsi Jawa Barat, jalan lintas selatan di Provinsi Jawa Barat melewati 5 Kabupaten,
yaitu Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. Kondisi eksisting jalan
walau sebagian besar telah diaspal, namun terdapat ruas jalan dalam keadaan masih dalam
tahap pengerasan maupun rusak di beberapa bagian. Di wilayah Kabupaten Cianjur, masih
terdapat jembatan yang belum selesai dibangun sehingga menyebabkan jalan lintas selatan
terputus. Selain itu, kondisi wilayah selatan Jawa yang relatif berbukit-bukit cukup menyulitkan
untuk pembangunan jalan dengan kontur datar. Jalur lintas selatan Pulau Jawa yang nantinya
diharapkan menjadi bagian dari jaringan jalan lintas Jawa dan menjadi akses utama selain jalur
lintas utara, tidak terlepas dari kendala-kendala yang ada, antara lain kondisi fisik atau kontur
selatan Pulau Jawa yang berat, keterbatasan dana, pengadaan lahan, dan juga masalah
kontrak tahunan.
Kondisi fisik atau kontur daerah pantai selatan yg berat dalam hal ini adalah ruas jalan lintas
yang sebagian besar melalui gunung, tebing, maupun jurang sehingga harus ditangani dengan
konstruksi yang kuat terhadap ancaman longsoran dan landslide. Contoh kasus di Provinsi
Jawa Barat, yaitu masih banyaknya jalan yang berbatu atau tidak layak untuk dilewati yakni di

sepanjang jalur lintas selatan. Jalur penghubung (link junction) yang menghubungkan jalur utara
dengan selatan juga belum memadai, dengan kondisi wilayahnya sebagian besar pegunungan
yang berbukit-bukit. Kualitas jalannya hanya setingkat jalan kabupaten dan desa, dengan lebar
kurang lebih 5 meter. Sementara kondisi di samping sampingnya bukit dan jurang.
Kendala lain yang berhubungan dengan kondisi fisik adalah contoh kasus di Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta. Pada link 7 di Yogyakarta, pembangunan jembatan merupakan hal yang
penting dalam kesinambungan jaringan jalan atau koridor. Link 7 membutuhkan jembatan
penghubung yang dekat dengan laut dengan panjang 600 meter. Kendala berikutnya adalah
keterbatasan dana, yang dapat dibagi ke dalam dua masalah. Pertama adalah masalah desain.
Keterbatasan dana yang ada telah mengakibatkan dalam pembangunan jalan lintas selatan ini
adalah alignment yang lebih memprioritaskan daripada kajian teknik berupa aspek geologis,
drainase, dan lain-lain. Padahal kedua hal ini sebenarnya sama pentingnya dan tidak bisa
terpisahkan satu sama lain.
Masalah kedua adalah konstruksi. Dana konstruksi untuk total jalan sepanjang 1.556 km yang
melibatkan banyak kabupaten dengan jumlah yang terbatas harus dialokasikan ke semua
kabupaten, sehingga dana menjadi kecil diterima setiap kabupaten. Kendala ketiga adalah
tentang pengadaan lahan. Salah satu kendala pengadaan lahan terletak dalam hal
pembebasan lahan. Pembebasan lahan adalah salah satu masalah terumit dalam
pembangunan jalan, termasuk pembangunan jalan lintas selatan Pulau Jawa ini.
Sebagian besar lahan yang akan terambil sebagai ruas jalan adalah kepunyaan penduduk
setempat. Oleh karena itu pembebasan lahan harus melalui negosiasi yang cukup pelik antara
pemerintah dengan masyarakat, antara lain dengan memberikan ganti rugi yang sesuai dan
juga pemahaman bahwa pembangunan jalan lintas selatan ini juga akan berpengaruh positif
bagi kesejahteraan penduduk sekitar. Selain milik perseorangan atau penduduk setempat,
kepemilikan lahan yang akan digunakan sebagai jalan lintas selatan juga sebagian adalah
lahan hutan. Tidak kalah rumitnya, untuk penggunaan lahan perhutani, terlebih dahulu harus
melewati mekanisme pinjam-pakai dengan kompensasi 1:1 sesuai Permen Kehutanan No:
P.14/Menhut-II/2006, serta memenuhi beberapa persyaratan antara lain desain, studi AMDAL,
kesanggupan kompensasi lahan, dan lain-lain.Kendala terakhir adalah kontrak tahunan.Kontrak
tahunan memberikan dampak negatif dalam hal kehilangan waktu dan ketidakefisienan akibat
proses pengadaan, sehingga perlu pemeliharaan jalan yang belum selesai.
Dari berbagai hal yang sudah dijelaskan diatas berkaitan dengan jalan lintas selatan Pulau
Jawa, memang memerlukan suatu proses yang panjang serta upaya yang keras untuk jalan
lintas selatan Pulau Jawa selesai dibangun. Satu hal yang terpenting adalah pembangunan ini
harus tetap berkiblat pada peraturan tata ruang sehingga nantinya diharapkan ke depannya

jalan lintas selatan ini akan menjadi jaringan jalan yang benar-benar memperhatikan kaidah
teknis

dan

pembangunan

berkelanjutan,

sehingga

benar-benar

dapat

meningkatkan

perekonomian wilayah selatan Pulau Jawa. Seyogyanya, pembangunan jalan lintas selatan
Pulau Jawa difokuskan pada percepatan untuk dapat dimanfaatkannya jalan tersebut oleh
masyarakat, walaupun untuk lalu lintas ringan. Akhir kata, saat ini kita hanya bisa sabar
menunggu kapan jalur lintas selatan Pulau Jawa itu menjadi kenyataan.
Pulau Jawa adalah pulau terpadat di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Luas Pulau Jawa 6,9
persen luas daratan seluruh Indonesia. Namun, jumlah penduduknya 60 persen dari penduduk
Indonesia. Jacub Rais. Menurut data resmi Bakosurtanal, luas Pulau Jawa adalah 132.187 km
persegi dan luas total daratan Indonesia adalah 1.919.443 km persegi.
Jumlah penduduk di Pulau Jawa pada tahun 1990, menurut Agenda 21 Indonesia yang
diterbitkan Kementerian Negara Lingkungan Hidup 1997, adalah 107.515.322 jiwa dari jumlah
total penduduk Indonesia pada tahun tersebut sebanyak 179.243.375 jiwa, atau 60 persen
penduduk Indonesia hidup di Pulau Jawa. Ini berarti kepadatan penduduk di Jawa adalah 813
orang per km persegi. Kepadatan penduduk di Pulau Jawa ini sebenarnya juga sudah terjadi
sejak Gubernur Jenderal Thomas Raffles (1820-1830) dalam tulisannya pada 1826, The History
of Java, Volume I, halaman 68-72, yang mengatakan bahwa 60 persen penduduk Indonesia
hidup di Pulau Jawa yang merupakan 6,95 persen dari luas daratan Indonesia. Rasio ini tidak
berubah sejak tahun 1920 ketika penduduk Pulau Jawa hanya 34,4 juta, yang kemudian
berkembang menjadi 41,7 juta (1930), 48,4 juta (1940), dan 60 juta (1950).
Prediksi dalam Agenda 21 Indonesia, pada tahun 2020 penduduk Indonesia akan mencapai
254.214.909 jiwa dan penduduk Pulau Jawa akan berkembang menjadi 144.214.909 jiwa atau
kepadatan penduduk menjadi 1091 orang per km persegi. Ini berarti 57,7 persen penduduk
Indonesia hidup di 6,9 persen lahan daratan. Kita juga tahu bahwa tidak semua daratan dapat
digunakan karena berupa gunung dan bukit yang ditutupi hutan lindung, atau topografi terjal
yang tidak dapat dimanfaatkan, bahkan sebagian besar harus dilindungi untuk menjaga
keseimbangan hidrologis.
Masalah kota Jakarta dengan jumlah penduduk pada siang hari katanya sekitar 11,4 juta pada
tahun 2001 telah makin membuat kesemrawutan lalu lintas, penduduk yang mendiami bantaran
sungai, kolong jembatan, masalah jalur hijau, pedagang kaki lima, masalah banjir yang kronis,
masalah kesehatan, dan lain-lain. Menurut prediksi, kota Jakarta yang berpenduduk lebih dari
10 juta ini pada tahun 2015 akan mencapai 17,3 juta penduduknya. Bagaimana mengatasinya?
Dari rasio penduduk terhadap ketersediaan lahan yang makin kecil, Pulau Jawa sampai tahun
2020 akan terus-menerus menghadapi degradasi lingkungan, seperti ketidakseimbangan
hidrologis (keterbatasan tersedianya air, banjir, longsor), lingkungan hidup makin kumuh di
bantaran-bantaran sungai, pantai, dan urbanisasi semakin meningkat karena kehidupan di

tanah-tanah pertanian tidak memberi harapan yang baik, meningkatnya konversi lahan
pertanian menjadi lahan nonpertanian (perumahan, industri, pusat-pusat jasa), meningkatnya
konsumsi beras dengan bertambahnya penduduk sedangkan luas lahan pertanian tidak
berubah, malah berkurang juga meningkatnya aspek sampingan dari kepadatan dan
kemiskinan penduduk, seperti kesehatan, kriminalitas, dan pengangguran.
Dalam prediksi Agenda 21 Indonesia, kebutuhan beras akan meningkat dari 27,2 juta ton pada
1992 menjadi 45,1 juta ton pada 2018. Ini memerlukan pembukaan lahan sawah baru sebesar
11,2 juta hektar (di luar Jawa) pada 2018 jika ingin mempertahankan swasembada beras.
Perambahan hutan telah terjadi dengan laju yang menakutkan akibat kebutuhan lahan bagi
penduduk setempat maupun pendatang untuk tempat hidup dan berladang. Keadaan ini
mempunyai dampak terhadap meningkatnya laju erosi dan tingkat sedimentasi yang ditranspor
melalui sungai-sungai sehingga hampir semua sungai besar di Pulau Jawa tercemar oleh
sedimen, ditambah dengan sisa-sisa nutrien dan polutan dari sumber-sumber point and nonpoint sources yang berada di sekitar sungai (permukiman, industri, pertanian, peternakan, dan
sebagainya). Sedimen, polutan, dan nutrien yang mengalir di sungai akan menurunkan kualitas
air sehingga menurunkan pula daya dukungnya terhadap biota laut di daerah-daerah estuaria,
lahan basah, delta di daerah hilir.
Ada ancaman lain yang datangnya dari luar (di luar kehendak manusia), seperti proses-proses
endogenetik (dari dalam tubuh Bumi) dan eksogenetik (dari luar tubuh Bumi, seperti dari
atmosfer dan hidrosfer)
Ada dua hal yang harus dilakukan di Pulau Jawa dalam jangka menengah, yaitu:
a)
Masalah sampah

Sampah adalah produk dari kehidupan dan pembangunan.

Memerlukan pengelolaan sampah yang ramah lingkungan.

Menjadikan sampah dari gangguan (nuisance) menjadi potential resources. Perlu


program nasional untuk itu.
b)
Masalah Penataan Ruang

Penataan ruang Pulau Jawa secara sinergis antara provinsi-provinsi di Pulau Jawa dan
provinsi-provinsi luar Jawa. Terapkan Penataan Ruang Darat-Laut Terpadu.

Jadikan Agenda 21 Indonesia sebagai acuan pembangunan nasional/daerah/kota (kalau


perlu ada revisi agenda tersebut)

Strategi Pengembangan Wilayah (untuk meningkatkan daya dukung daratan dan lautan)
bagi meningkatkan kemakmuran dengan memperhitungkan dinamika atmosfer.
Sebagai catatan, tidak ada satu provinsi pun di Pulau Jawa yang boleh menata ruangnya
secara sendiri-sendiri. Butuh keterpaduan antara provinsi-provinsi yang berbatasan langsung
maupun tidak langsung.
Pulau Jawa memerlukan satu strategi terpadu dalam menata ruangnya, yaitu bagaimana
menangani penduduk yang padat dan bagaimana mendistribusikan penduduk secara merata ke
seluruh Indonesia.

Untuk dapat mengurangi penduduk Pulau Jawa minimal 2 juta per tahun, diperlukan
pembangunan pusat-pusat pertumbuhan di pulau-pulau besar dan kecil di luar Pulau Jawa,
berbasis industri agromaritim. Rencana strategis ini perlu didukung oleh tata ruang terpadu
antara pusat dan daerah serta antara darat dan laut untuk mengurangi tekanan penduduk
terhadap lahan di Pulau Jawa. Jika penduduk Jakarta mencapai 17,3 juta pada tahun 1015,
bagaimana bentuk penataan Jakarta? Tentang supermegapolitan?
Pengembangan sumber daya energi bersih lingkungan perlu dikembangkan dan diterapkan
secara konsekuen, seperti tenaga energi listrik dari surya dan angin.

BAB III
A. KESIMPULAN
Struktur geologi yang ada di pulau Jawa memiliki pola-pola yang teratur. Secara geologi pulau
Jawa merupakan suatu komplek sejarah penurunan basin, pensesaran, perlipatan dan
vulkanisme di bawah pengaruh stress regime yang berbeda-beda dari waktu ke waktu. Secara
umum, ada tiga arah pola umum struktur yaitu arah Timur Laut-Barat Daya (NE-SW) yang
disebut pola Meratus, arah Utara-Selatan (N-S) atau pola Sunda dan arah Timur-Barat (E-W).
Perubahan jalur penunjaman berumur kapur yang berarah Timur Laut-Barat Daya (NE-SW)
menjadi relatif Timur-Barat (E-W) sejak kala Oligosen sampai sekarang
Pulau Jawa secara fisiografi dan struktural, dibagi atas empat bagian utama (Bemmelen, 1970)
yaitu:
Sebelah barat Cirebon (Jawa Barat)
Jawa Tengah (antara Cirebon dan Semarang)
Jawa Timur (antara Semarang dan Surabaya)
Cabang sebelah timur Pulau Jawa, meliputi Selat Madura dan Pulau Madura Jawa Tengah
merupakan bagian yang sempit di antara bagian yang lain dari Pulau Jawa, lebarnya pada arah
utara-selatan sekitar 100 120 km.
Jenis tanah di pulau jawa adalah tanah vulkanis,tanah humus,tanah alluvial. Kesimpulan Pulau
Jawa : Tanahnya subur, kecuali beberapa daerah yang tanahnya terdiri dari tanah kapur.
Contohnya Pegunungan Sewu dan Kendeng. kesimpulan indonesia Paling subur pulau jawa.
Selain itu Pulau Jawa sebagai pusat perekonomian.
Pada zona Utara pemunculan mata air kars berada pada daerah-daerah berelief rendah hingga
dataran dengan kisaran ketinggian 20 - 100 mdpl dan pada zona Selatan muncul pada
ketinggian antara 100 - 350 mdpl. Bukti lain bahwa proses karstifikasi kawasan ini masih

berlanjut dan masih merupakan fungsi hidrologis adalah ditemukannya sungai-sungai bawah
permukaan yang keluar sebagai aliran permukaan melalui corridor-corridor mulut gua yang ada
pada daerah Sukolilo.
Jawa lebih berkembang dibanding dengan kawasan selatan. Kondisi infrastruktur jalan di
kawasan Utara Jawa seperti Jalur Pantura telah mampu mengangkat roda perekonomian,
aktivitas sosial, dan mobilitas warga masyarakat, sedangkan akibat keterbatasan infrastruktur
jalan di kawasan selatan Jawa, perkembangan wilayah dan tingkat kesejahteraan masyarakat
masih rendah bahkan banyak ditemui daerah-daerah terisolir. Hal ini terbukti dengan adanya
kota-kota di kawasan utara yang lebih berkembang, seperti Jakarta, Cirebon, Surabaya, dan
lain-lain.
B. SARAN
Sebaiknya, bidang-bidang tertentu di pindahkan atau dikembangkan ke daerah lain(di luar pulau
Jawa) agar tidak terjadi bencana(karena terlalu banyak bangunan, sehingga peresapan air
berkurang oleh karena itu menyebabkan banjir) di pulau Jawa dan demi terwujudnya
pemerataan pembangunan