Anda di halaman 1dari 13

1

BAB I
PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang

Antibiotik ialah zat kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang


mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh
mikroorganisme. (Dorland, 2010) Antibiotika digunakan untuk mengobati
berbagai infeksi akibat kuman atau juga untuk prevensi infeksi. Mekanisme
kerja yang terpenting pada antibiotika adalah perintangan sintesa protein,
sehingga kuman musnah atau tidak berkembang lagi tanpa merusak jaringan
tuan rumah. (Syarif, 2009)
Penggunaan antibiotik dapat mengakibatkan efek yang tidak
diinginkan pada bayi atau mempengaruhi janin apabila obat yang
dikonsumsi oleh ibu hamil tembus melewati plasenta. Sedangkan
penggunaan antibiotik pada ibu menyusui dapat diekskresi ke dalam air susu
sehingga diminum atau terminum oleh bayi. Meskipun konsentrasi antibiotik
dalam air susu ibu biasanya rendah, tetapi dosis total terhadap bayi dapat
menimbulkan masalah. (Syarif, 2009) Sehubungan dengan hal tersebut,
penting bagi seorang dokter untuk memahami dengan baik antibiotik mana
yang boleh diberikan dan tidak boleh diberikan pada wanita hamil dan
menyusui agar dapat memberikan penanganan yang tepat kepada pasien.
Diharapkan dengan disusunnya refarat ini dapat menambah pengetahuan
mahasiswa mengenai antibiotik yang aman untuk wanita hamil dan
menyusui.
Dalam tinjauan pustaka, penulis membahas secara singkat mengenai
terapi antibiotik, terapi antibiotik pada kehamilan, terapi antibiotik selama
laktasi, efek antibiotik untuk wanita hamil dan menyusui, dan antibiotik
yang aman untuk wanita hamil dan menyusui.

I.2

Tujuan dan Manfaat

I.2.1 Tujuan Umum


Untuk mengetahui antibiotik yang aman untuk wanita hamil dan
menyusui.
I.2.2 Tujuan Khusus
a. Sebagai syarat untuk mengukuti Ujian Akhir Blok.
b. Memberi wawasan tentang antibiotik yang aman bagi wanita hamil
dan menyusui kepada mahasiswa lain.
I.2.3 Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh dari disusunnya referat ini adalah
mampu memberikan pengetahuan dan wawasan yang lebih luas
mengenai antibiotik yang aman untuk wanita hamil dan menyusui,
bagi mahasiswa dan penulis.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Terapi Antibiotik

Antibiotik adalah zat-zat kimia yang memiliki khasiat mematikan atau


menghambat pertumbuhan kuman, sedangkan toksisitasnya bagi manusia
relatif kecil. Cara kerjanya yang terpenting adalah perintangan sintesa
protein, sehingga kuman musnah atau tidak berkembang lagi. Selain itu
beberapa antibiotik bekerja terhadap dinding sel atau membran sel. (Tjay
dan Rahardja, 2007)
Obat antibiotik diklasifikasi berdasarkan mekanisme kerjanya sebagai
berikut: (1) senyawa-senyawa yang menghambat sintesis dinding sel bakteri,
termasuk golongan B-laktam dan senyawa lain seperti vankomisin; (2)
senyawa-senyawa yang bekerja langsung pada membran sel meningkatkan
permeabilitas dan menyebabkan kebocoran senyawa intraseluler; (3)
senyawa-senyawa yang mengganggu fungsi subunit ribosom untuk
tenghambat sintesis protein secara reversibel (contohnya: kloramfenikol,
tetrasiklin, eritromisin, dan klindamisin); (4) senyawa-senyawa yang terikat
pada subunit ribosom 30S dan mengubah sintesis protein (contohnya,
aminoglikosida); (5) senyawa yang memengaruhi metabolisme asam nukleat
bakteri dengan cara menghambat RNA polimerase (contohnya, rifampin),
atau topoisomerase (contohnya, kuinolon); (6) antimetabolit, termasuk
trimetoprim dan sulfonamida, yang menghambat enzim penting dalam
metabolisme folat. (Bunton dkk, 2011)
Usia dapat berperan penting dalam terapi antibiotik; bayi baru lahir
dan lansia sering mengalami gangguan mekanisme eliminasi antibiotik
sehingga mereka rentan terhadap toksisitas obat tertentu. Polimorfisme
genetik yang memengaruhi metabolisme obat semakin diperhatikan sebagai
faktor penting perbedaan antarindividual dalam efek toksik banyak obat,
termasuk antibiotik. Kehamilan, dapat mengalami peningkatan risiko reaksi
antibiotik untuk ibu dan janin. Demikian pula, wanita menyusui dapat

melewatkan antibiotik ke bayinya, kadang-kadang dengan efek merugikan.


Alergi obat merupakan keadaan umum yang terjadi dengan banyak
antibiotik, khususnya antibiotik B-laktam. (Bunton dkk, 2011)

II.2 Terapi Antibiotik pada Kehamilan

Kebanyakan obat yang digunakan oleh ibu hamil dapat melintasi


plasenta dan menimbulkan efek farmakologis dan efek teratogenik pada
embrio dan janin yang sedang berkembang. Faktor-faktor penting yang
memengaruhi transfer obat ke plasenta dan efek obat terhadap janin
meliputi: (1) sifat fisikokimiawi obat; (2) laju obat melintasi plasenta dan
jumlah obat yang mencapai janin; (3) durasi pajanan obat; (4) ciri distribusi
ke berbagai jaringan janin yang berbeda; (5) tahap perkembangan plasenta
dan janin pada waktu terpajan oleh obat; dan (6) efek obat yang digunakan
dalam kombinasi. (Katzung, 2011)
Transfer obat melalui plasenta merupakan hal yang perlu diperhatikan
karena dapat menyebabkan abnormalitas pada fetus yang sedang
berkembang. Faktor-faktor yang menentukan kemampuan suatu obat dalam
menembus plasenta ialah kelarutannya dalam lipid, banyaknya obat yang
terikat plasma dan derajat ionisasi dari obat asam atau basa lemah. Plasma
pada fetus (pH 7,0-7,2) sedikit lebih asam dibandingkan plasma milik
ibunya (pH 7,4) sehingga dapat memerangkap obat yang bersifat basa. Akan
tetapi, pandangan yang menganggap bahwa plasenta fetus merupakan sawar
absolut terhadap obat merupakan sesuatu yang sangat keliru, antara lain
karena adanya transporter yang dapat membawa obat-obat melewati
plasenta. Pada tingkat tertentu, fetus terpapar pada semua obat yang
dikonsumsi oleh ibunya. (Bunton dkk, 2011)

II.3

Terapi Antibiotik Selama Laktasi

Meskipun terdapat fakta bahwa sebagian besar obat diekskresi ke


dalam air susu ibu dalam jumlah yang terlalu kecil untuk menimbulkan efek
merugikan bagi kesehatan neonatus, ribuan perempuan yang menggunakan
obat tidak menyusui bayinya karena kesalahan persepsi terhadap risiko ini.
Kebanyakan obat yang diberikan pada ibu menyusui dapat dideteksi dalam
air susu ibu. Untungnya, kadar obat yang tercapai dalam air susu ibu
biasanya rendah. Oleh sebab itu, jumlah obat total yang didapat oleh bayi
dalam satu hari cukup jauh di bawah jumlah yang disebut sebagai "dosis
terapeutik". Jika ibu yang menyusui harus menggunakan obat dan obat yang
digunakan relatif aman, ibu tersebut harus secara optimal menggunakan
obat 30-60 menit setelah menyusui dan 3-4 jam sebelum menyusui
selanjutnya. Hal ini memberi waktu bagi banyak obat untuk dibersihkan dari
darah ibu sehingga kadarnya dalam air susu ibu akan relatif rendah. Obat
yang tidak memiliki data tentang keamanan harus dihindari selama laktasi
atau tindak menyusui dihentikan bila obat ini diberikan. (Katzung, 2011)
Sebagian besar antibiotik yang digunakan oleh ibu menyusui dapat
dideteksi dalam air susu ibu. Kadar tetrasiklin dalam air susu ibu adalah
sekitar 70% kadar serum maternal dan berisiko mewarnai gigi bayi secara
permanen. Isoniazid dengan cepat mencapai keseimbangan antara air susu
ibu dan darah ibu. Kadar yang dicapai dalam air susu ibu cukup tinggi
sehingga tanda-tanda defisiensi piridoksin dapat dijumpai pada bayi jika ibu
tidak mendapat suplemen piridoksin. (Katzung, 2011)

II.4 Efek Antibiotik untuk Wanita Hamil dan Menyusui

Efek obat terhadap jaringan reproduktif (payudara, uterus, dll) ibu


hamil sesekali diubah oleh lingkungan endokrin yang sesuai untuk setiap
tahap kehamilan. Efek obat pada jaringan ibu lainnya (jantung, paru, ginjal,
sistem saraf pusat, dll) tidak mengalami perubahan yang berarti selama
kehamilan, meskipun konteks fisiologisnya (curah jantung, aliran darah
ginjal, dll) dapat mengalami perubahan sehingga memerlukan penggunaan

obat yang tidak diperlukan oleh perempuan yang sama ketika tidak hamil.
(Katzung, 2011)
Pajanan intrauterin tunggal oleh suatu obat dapat memengaruhi
struktur janin yang sedang mengalami perkembangan cepat pada waktu
pajanan terjadi.
a. Mekanisme teratogenik
Mekanisme munculnya efek teratogenik akibat berbagai macam obat
yang berbeda belum begitu dipahami dan mungkin disebabkan oleh berbagai
macam faktor. Contohnya obat dapat berdampak langsung pada jaringan ibu
dengan dampak tak langsung atau sekunder pada jaringan janin. Obat dapat
mempengaruhi jalannya oksigen atau nutrisi melalui plasenta sehingga
berdampak paling besar terhadap jaringan janin yang paling cepat
bermetabolisme. Akibatnya, obat dapat memiliki dampak langsung yang
penting terhadap proses diferensiasi jaringan yang sedang berkembang.
Defisiensi zat yang penting tampaknya berperan menimbulkan beberapa
jenis kelainan. Contohnya, suplementasi asam folat selama kehamilan
tampaknya menurunkan insiden defek tabung saraf/neural tube (misalnya,
spina bifida). Pajanan suatu teratogen secara bersinambungan dapat
menghasilkan efek kumulatif atau dapat memengaruhi beberapa organ yang
sedang menjalani berbagai macam tahap perkembangan.
b. Definisi teratogen
Untuk dianggap bersifat teratogenik, suatu zat atau proses harus (1)
menimbulkan

serangkaian

malformasi

khas,

yang

menandakan

selektivitasnya terhadap organ target tertentu; (2) memunculkan efeknya


pada suatu tahap tertentu dalam perkembangan janin, yakni, selama waktu
tertentu dalam organogenesis organ target; dan (3) menunjukkan kejadian
yang bergantung pada dosis. Beberapa obat dengan sifat teratogenik yang
diketahui atau efek simpang lainnya dalam kehamilan disajikan pada Tabel
2.3.
Suatu sistem mengenai potensi teratogenik yang dibuat Food and Drug
Administration (Tabel 2.1) yang banyak digunakan merupakan suatu upaya
untuk menghitung risiko teratogenik dari A (aman) hingga X (jelas berisiko
teratogenik bagi manusia). Sistem ini telah mendapat banyak kritik karena

dianggap tidak akurat serta tidak praktis. Contohnya, beberapa obat telah
dilabel "X" meskipun terbukti sebaliknya melalui data keamanan pada
manusia.
c. Memberi konseling pada perempuan mengenai risiko teratogenik
Sejak tragedi talidomid, penggunaan obat telah dijalankan dengan cara
seolah-olah semua obat berpotensi teratogenik pada manusia; kenyataannya,
hanya kurang dari 30 obat yang terbukti memiliki efek demikian, dengan
ratusan obat lainnya yang terbukti aman bagi janin. Para klinisi yang ingin
memberikan konseling kepada ibu hamil harus memastikan bahwa informasi
yang dipunyainya merupakan informasi termutakhir dan berdasar pada
temuan dan bahwa ibu memahami batas dasar risiko teratogenik dalam
kehamilan (yakni, risiko terjadinya kelainan pada neonatus tanpa adanya
pajanan teratogenik yang diketahui) adalah sekitar 3%. Risiko terhadap ibu
dan janin yang ditimbulkan oleh suatu penyakit yang tidak diobati juga
harus dibahas jika terapi tidak diberikan. (Katzung, 2011)

Tabel 2.1 Kategori risiko teratogenik FDA

Kategori
A

Deskripsi
Penelitian terkontrol pada perempuan gagal menunjukkan adanya
risiko terhadap janin pada trimester pertama (dan tidak terbukti
adanya risiko pada trimester ketiga), dan kemungkinannya

mencederai janin tampaknya sangat kecil.


Penelitian reproduksi pada binatang tidak menunjukkan adanya
risiko janin tetapi penelitian terkontrol pada ibu hamil belum/ tidak
dilakukan, atau penelitian reproduksi pada binatang telah
menunjukkan adanya efek simpang (selain penurunan fertilitas)
yang tidak dikonfirmasi melalui penelitian terkontrol pada
perempuan trimester pertama (dan tidak terbukti adanya risiko pada
trimester berikutnya).
Penelitian pada binatang telah menunjukkan adanya efek simpang
pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan tidak
dilakukan penelitian terkontrol pada perempuan, atau tidak tersedia
penelitian terkontrol pada perempuan dan binatang. Obat hanya
dapat diberikan jika potensi manfaatnya melebihi potensi risiko
pada janin.
Terbukti positif berisiko terhadap janin manusia, tetapi manfaat
yang ditimbulkan oleh penggunaannya pada ibu hamil dapat
diterima meskipun terdapat risiko (misalnya, jika obat diperlukan
pada keadaan yang mengancam nyawa atau penyakit berat, ketika
obat lain yang lebih aman tidak dapat digunakan atau tidak efektif).
Penelitian pada binatang atau manusia menunjukkan adanya
kelainan janin, atau terbukti berisiko terhadap janin berdasarkan
pengalaman pada manusia, atau keduanya, dan risiko penggunaan
obat pada ibu hamil jelas-jelas lebih besar daripada manfaatnya.
Obat tersebut dikontraindikasikan pada perempuan yang memang
atau mungkin akan mengandung.
(Katzung, 2011)

Tabel 2.2 Kategori risiko teratogenik bagi ibu menyusui

Kategori
L1
L2
L3
L4
L5

Deskripsi
Safest
Safer
Moderately safe
Possibly hazardous

Contraindicated
(Medications' and Mothers' Milk by Thomas Hale, PhD (2004 edition))

10

II.5 Antibiotik yang Aman untuk Wanita Hamil dan Menyusui

Tabe1 2.5 Antibiotik yang aman untuk wanita hamil

11

Obat
Kategori FDA
Sefalosporin
B
Eritromisin
B
Metronidazol
B
Nitrofurantoin
B
Penisilin
B
Rifabutin
B
(Cunningham dkk, 2006)
Terdapat banyak sefalosporin oral dan parenteral. Apabila diberikan
selama kehamilan, semua sefalosporin menembus plasenta, walaupun waktu
paruhnya mungkin lebih singkat selama kehamilan karena meningkatnya bersihan
ginjal. Data terbatas mengisyaratkan bahwa sefalosporin tidak menimbulkan efek
samping pada mudigahjanin dan sebagai satu kelompok sefalosporin
digolongkan dalam kategori B. (Cunningham dkk, 2006)
Nitrofurantoin sering digunakan untuk infeksi saluran kemih selama
kehamilan. Dalam sebuah studi prospektif terhadap 100 wanita yang diterapi
dengan obat ini, tidak dijumpai peningkatan angka kelainan kongenital.
(Cunningham dkk, 2006)
Semua penisilin dianggap aman bagi wanita hamil dan menyusui,
walaupun dalam jumlah kecil terdapat dalam darah janin dan air susu ibu. (Tjay
dan Rahardja, 2007)
Tabe1 2.6 Antibiotik yang aman untuk wanita menyusui

Obat
Kategori
Eritromisin
Nitrofurantoin
L2
Penicillin
L1
Sefalosporin
L1
(Informatorium Obat Nasional Indonesia 2008 BPOM dan Medications' and
Mothers' Milk by Thomas Hale, PhD (2004 edition))
BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan

12

1. Kehamilan, dapat mengalami peningkatan risiko reaksi antibiotik untuk


ibu dan janin. Kebanyakan obat yang digunakan oleh ibu hamil dapat
melintasi plasenta dan menimbulkan efek farmakologis dan efek
teratogenik pada embrio dan janin yang sedang berkembang. Demikian
pula, wanita menyusui dapat melewatkan antibiotik ke bayinya,
kadang-kadang dengan efek merugikan.
2. Antibiotik yang aman untuk wanita hamil, yaitu: Sefalosporin,
Eritromisin, Metronidazol, Nitrofurantoin, Penisilin, dan Rifabutin.
3. Antibiotik yang aman untuk wanita menyusui, yaitu: Eritromisin,
Nitrofurantoin, Penicillin, dan Sefalosporin.
III.2 Saran
Pemberian antibiotik jenis tertentu pada wanita hamil dan menyusui
bisa sangat membahayakan janin, karena itu harus hati-hati dan perhatikan
petunjuk dokter tentang cara pemakaian antibiotik untuk wanita hamil dan
menyusui.

DAFTAR PUSTAKA

Badan POM. Informatorium Obat Nasional Indonesia 2008 Badan Pengawas


Obat dan Makanan Republik Indonesia. Jakarta: Sagung Seto. 2009.

13

Bunton, L.L; Parker, K..L; Blumenthal, D.K; dan Button, I.L.O. Goodman &
Gilmans: Manual Farmakologi dan Terapi. Jakarta: EGC. 2011.
Cunningham, F.G; Gant, N.F; Leveno, K.J; Gilstrap III, L.C; Hauth, J.C; dan
Wenstrom, K.D. Obstetri Williams Edisi 21 Volume 2. Jakarta: EGC. 2006.
Dorland,W.A.N. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 31. Jakarta: EGC. 2010.
Hale, Thomas. Medications and Mothers' Milk, 12th Edition. 2006. Hale
Publishing.http://www.kellymom.com/health/meds/aap-approved-meds.html.
Diunduh pada 16 September 2011.
Katzung, B.G. Farmakologi Dasar dan Klinis Edisi 10. Jakarta: EGC. 2011.
Sanjoyo, R. http://yoyoke.web.ugm.ac.id/download/obat.pdf. Diunduh pada 16
September 2011.
Syarif, Amir dkk. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
2009.
Tjay, T.H dan Rahardja, K. Obat-obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan Efekefek Sampingnya. Jakarta: Elex Media Komputerindo. 2007.