Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah


Rinosinusitis adalah kondisi medis yang dikarakteristikkan oleh

adanya inflamasi pada hidung dan mukosa sinus paranasal (Hwang,


2006). Bila yang terkena lebih dari satu sinus disebut multisinusitis dan
bila semua sinus terkena disebut pansinusitis (Haridha, 2010). Sinus
paranasal adalah rongga-rongga yang terdapat pada tulang wajah. Sesuai
dengan anatomi sinus yang terkena dapat dibagi menjadi sinusitis
maksila, sinusitis etmoid, sinusitis frontal dan sinusitis sfenoid. Sinusitis
yang sering ditemukan yaitu sinusitis maksila dan etmoid, sedangkan
sinusitis frontalis dan sfenoid lebih jarang (Yoan, 2009).
Sekitar duapuluh tahun lalu, ketertarikan terhadap pembelajaran
radang sinus meningkat secara dramatis. Pada awalnya para peneliti
mengenalnya sebagai sinusitis, yang berarti keradangan pada sinus.
Namun jarang didapatkan adanya sinusitis tanpa keterlibatan hidung
didalamnya. Oleh karena itu, para peneliti mengubah istilah dari sinusitis
menjadi rinosinusitis, yang menandakan bahwa antara hidung dan sinus
terletak berdekatan dan saling terlibat (Kaliner, 2008). Kejadian sinusitis
umumnya disertai atau dipicu oleh rinitis sehingga sinusitis sering juga
disebut dengan rinosinusitis (Haridha, 2010).
Infeksi sinus merupakan penyakit yang serius. Banyak orang yang
menganggap sepele penyakit ini. Di Amerika, tiap tahunnya 31 juta orang
terkena infeksi sinus. Sebanyak 14% orang dewasa di Amerika terserang
rinosinusitis setiap tahunnya dan sebanyak 91,2 juta orang harus berobat
ke rumah sakit. Menurut studi yang dimuat dalam The American Academy
of Otolaryngology-Head and Neck Surgery menemukan bahwa sinusitis

lebih banyak dialami oleh wanita daripada pria. Dan sebanyak 73 juta
orang di Amerika terbatas aktivitasnya karena penyakit ini (Ulfah, 2009).
Angka kejadian sinusitis di Indonesia belum diketahui secara pasti.
Tetapi diperkirakan cukup tinggi karena masih tingginya kejadian infeksi
saluran nafas atas, yang merupakan salah satu penyebab terbesar
terjadinya sinusitis (Kautsar, 2009). Sinusitis dianggap salah satu
penyebab gangguan kesehatan tersering di dunia. Data dari DEPKES RI
tahun 2003 menyebutkan bahwa penyakit hidung dan sinus berada pada
urutan ke-25 dari 50 pola penyakit peringkat utama di Indonesia. Data dari
Divisi Rinologi Departemen THT RSCM Januari Agustus 2005
menyebutkan jumlah pasien rinologi sebanyak 435 pasien dan 69%nya
adalah sinusitis (Haridha, 2010).
Sinusitis maksilaris kronis menduduki urutan ke-5 dari 10 besar
kasus terbanyak di poli THT RSU Dr. Saiful Anwar Malang pada tahun
2006 dengan 918 (6,39%) kasus baru dari 14.349 kasus THT. Sedangkan
di poli khusus THT rinologi alergi didapatkan 161 (19,47%) kasus
penderita sinusitis maksilaris kronis dari 827 kasus rinologi alergi
(Lukitasari, 2009).
Sinusitis merupakan salah satu penyakit atau kelainan pada sinus
paranasal yang akhir-akhir ini semakin meningkat angka kejadiannya.
Dampak yang ditimbulkan oleh penyakit ini bervariasi, mulai dari yang
ringan sampai dengan yang berat. Betapapun ringannya dampak yang
ditimbulkan, penyakit ini selalu menyebabkan penurunan kualitas hidup
penderitanya. Sehingga akan terjadi pula kerugian, baik yang ternilai
maupun yang tidak ternilai harganya (Kautsar, 2009).
Untuk terapi sinusitis dapat diberikan pengobatan medikamentosa,
bila perlu dibantu dengan tindakan, yaitu diatermi atau pencucian sinus.
Jika ada obstruksi kompleks osteomeatal maka dilakukan tindakan bedah
yaitu bedah konvensional atau radikal (Haridha, 2009). Terapi tambahan
dengan pemberian short wave diathermy (SWD) dapat memberikan efek

fisiologis dan terapeutik. Pengobatan hendaknya dilakukan sesegera


mungkin

tanpa

mengabaikan

indikasi

dan

kontraindikasi

SWD

(Prasetyowati, 2009).
Seperti yang dikutip dari Fathma F, mahasiswa FK-UI dalam
tesisnya, Short Wave Diathermy (SWD) merupakan diatermi dengan arus
listrik yang banyak digunakan pada pengobatan penyakit kolagen, seperti
rematoid artritis atau pada kontraktur akibat fibrotik jaringan Rat. Tetapi
akhir-akhir ini, diatermi juga banyak digunakan pada kasus sinusitis
paranasalis. Secara teoritis, diatermi pada sinusitis akan membantu
mempercepat proses penyembuhan karena mempunyai efek memperbaiki
sirkulasi darah, menghilangkan nyeri, menghilangkan edema dan
mempercepat penyerapan eksudat.
Sehubungan dengan pernyataan dan alasan yang dikemukakan
diatas, mendorong penulis untuk melakukan penelitian mengenai
pengaruh diatermi terhadap penurunan gejala klinis penderita rinosinusitis
maksilaris.

1.2

Rumusan Masalah
Bagaimana pengaruh diatermi terhadap penurunan gejala klinis

penderita rinosinusitis maksilaris di poli THT RSAL Dr. Ramelan


Surabaya?

1.3

Tujuan Penelitian
Tujuan umum:
Mengetahui pengaruh diatermi terhadap penurunan gejala klinis

penderita rinosinusitis maksilaris di poli THT RSAL Dr. Ramelan Surabaya.


Tujuan khusus:

a. Untuk mengetahui penurunan gejala klinis penderita rinosinusitis


maksilaris yang telah mendapatkan terapi medikamentosa.
b. Untuk mengetahui penurunan gejala klinis penderita rinosinusitis
maksilaris yang telah mendapatkan terapi tambahan diatermi dan
medikamentosa.
c. Untuk mengetahui efektifitas diatermi sebagai terapi tambahan pada
pengobatan rinosinusitis maksilaris dalam menurunkan gejala klinis
penderita.

1.4

Manfaat Penelitian

a. Bagi Peneliti
Memperoleh pengetahuan dan wawasan yang lebih luas dalam
pelaksaanaan diatermi pada pengobatan rinosinusitis maksilaris.
b. Bagi Penderita
Penderita mengerti tentang diatermi sebagai salah satu terapi
tambahan untuk pengobatan rinosinusitis maksilaris.
c. Bagi Pendidikan dan Instansi Kesehatan
Memperoleh informasi tentang kasus rinosinusitis maksilaris di poli
THT RSAL Dr. Ramelan dan mengetahui peran diatermi dalam
penanganan kasus tersebut, sehingga diharapkan dapat mengambil
tindakan yang tepat saat menjumpai kasus-kasus tersebut.
d. Bagi Masyarakat
Memberi

dan

menyebarluaskan

informasi

kasus

rinosinusitis

maksilaris dan mengenalkan peran diatermi dalam penanganan kasus


tersebut, sehingga diharapkan masyarakat dapat segera mencari
pertolongan jika menjumpai atau mengalami kasus tersebut.