Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PRAKTIKUM

Nama pengujian / Analisis/ Materi

: Survei Entomologi Demam Berdarah

Mata Kuliah

: Entomologi Kesehatan Dan Teknik Entomologi

Semester

: VI

PJMK / Dosen Praktikum

: Dra. Retno Hestiningsih, M.Kes

Asisten Praktikum

: Ika Dina Amin

Disusun oleh
NAMA : Dewi Mustikawati

NIM : 25010112130146

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015

HALAMAN PENGESAHAN

1. Judul Kegiatan

: Survei Entomologi Demam Berdarah

2. Materi

a. Survei Telur Aedes aegypti


b. Survei Jentik Aedes aegypti
c. Survei Nyamuk Aedes aegypti
3. Penyusun
Nama

:
: Dewi Mustikawati

NIM : 25010112130146

4. Lokasi Kegiatan : Baskoro, Kelurahan Tembalang

Semarang, 03 Mei 2015

Mengetahui,
Asisten Praktikum

Praktikan

Ika Dina Amin

Dewi Mustikawati

NIM. 25010111120005

NIM. 25010112130146

KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan
kurnia-Nya, sehingga penulis dapat menyusun dan menyelesaikan Laporan Praktikum
seperti penulis harapkan.
Tujuan penulisan Laporan Praktikum dengan judul Survey Entomologi Demam
Berdarah adalah untuk memenuhi dan melengkapi salah satu nilai mata kuliah
Entomologi Kesehatan Dan Teknik entomologi.
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu, sehingga Laporan Praktikum ini bisa
terselesaikan. Penulis menyadari masih banyak kekurangan pada Laporan Praktikum
ini maka penulis mengharapkan kritik dan saran yang membantu dari semua pihak.

Semarang, 03 Mei 2015

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN COVER........................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN............................................................................... ii
DAFTAR ISI...................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR...........................................................................................vi
DAFTAR TABEL................................................................................................vii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang........................................................................................1
1.2 Tujuan Praktikum.....................................................................................2
1.3 Manfaat Praktikum...................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Nyamuk Hidup Nyamuk Aedes aegypti. ....................................................3
2.2 Alat Dan Bahan..........................................................................................9
2.3 Diagram Alur Kerja.....................................................................................10
BAB III HASIL
3.1 Survey Telur.............................................................................................13
3.2 Suvey Jentik............................................................................................13
3.3 Survey Nyamuk Aedes aegypti................................................................14
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Survey Telur.............................................................................................15
4.2 Survey Jentik...........................................................................................17
4.3 Survey Nyamuk Aedes aegypti................................................................22
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan..............................................................................................24
5.2 Saran.......................................................................................................24
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................25
DOKUMENTASI................................................................................................27
LAMPIRAN.......................................................................................................28

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Telur Aedes sp......................................................................................3

Gambar 2. Aedes sp. stadium larva .......................................................................4


Gambar 3. Aedes sp. Stadium pupa ......................................................................6
Gambar 4. Nyamuk Aedes sp. ...............................................................................7
Gambar 5. Siklus Hidup Aedes sp..........................................................................8
Gambar 6. Diagarm Alur Kerja Survey Telur Nyamuk.............................................10
Gambar 7. Diagram Alur Kerja Survey Jentik .........................................................11
Gambar 8. Diagram Alur Kerja Survey Nyamuk......................................................12

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Hasil di Lapangan......................................................................................13
Tabel 2. Klasifikasi Ovitrap Index Dengan Tindakan Yang Dilaksanakan ...............16

Tabel 3. Stadium Larva...........................................................................................17


Tabel 4. Angka Index Jentik Berdasarkan Survei....................................................18
Tabel 5. Jenis Kontainer Berdasarkan Hasil Survei.................................................19
Tabel 6. Jenis Kontainer yang Positif Jentik berdasarkan Hasil Survei...................20
Tabel 7. Bahan Kontainer Berdasarkan Hasil Survei...............................................21

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit endemis di
Indonesia, sejak pertama kali di temukan pada tahun 1968 di Surabaya dan
Jakarta, jumlah kasus terus meningkat baik dalam jumlah maupun luas wilayah
yang terjangkit dan secara sporadis selalu terjadi KLB setiap tahun, KLB yang
terbesar terjadi pada tahun 1998 dilaporkan dari 16 propinsi IR = 35,19 per 100.000
penduduk dengan CFR 2,0%. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10,17.
Namun tahun-tahun berikutnya IR tampak cenderung meningkat yaitu 15.99; 21,66;
19,24; dan 23,87 (tahun 2000,2001,2002, dan 2003).
Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang jumlah kasus DBD di kota
Semarang menunjukkan tren peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Jika pada
tahun 2006 tercatat terdapat 1.845 kasus DBD dimana 42 (2,28%) diantaranya
meninggal dunia, pada tahun 2007 meningkat menjadi 2.942 kasus dan 32 (1,09%)
diantaranya meninggal dunia. Pada tahun 2008 jumlah korbannya meningkat
menjadi 3.368 kasus DBD, dan 15 (0,45%) diantaranya meninggal dunia (DKK
Semarang, 2008).
Meski menunjukkan peningkatan jumlah penderita DBD, namun kasus DBD
di Semarang belum dimasukkan dalam kategori Kejadian Luar Biasa (KLB). Namun
demikian hampir semua wilayah di daerah Semarang termasuk endemis DBD
meliputi kecamatan Tembalang, Genuk, Gayamsari, Pedurungan, dan Tugu.
Beberapa daerah endemis DBD di Semarang, berdasarkan data dari Dinas
Kesehatan Kota (DKK) Semarang tahun 2008 kecamatan pedurungan merupakan
daerah endemis DBD dengan jumlah penderita paling tinggi dibandingkan dengan
daerah endemis lainnya. Hal ini terlihat dari data selama tiga tahun terakhir (20062008) yaitu sebanyak 467 orang pada tahun 2006, 648 orang pada tahun 2007,
dan 576 kasus DBD pada tahun 2008. Sementara daerah/ kecamatan lain hanya
berkisar 440 orang pada tahun 2006, 340 orang pada tahun 2007, dan 409 kasus
DBD pada tahun 2008 (DKK Semarang, 2008).
Tingginya kasus DBD juga sangat dipengaruhi oleh perilaku masyarakat.
Perilaku yang tidak sehat memberi ruang leluasa perilaku nyamuk Aedes aegypti

untuk hidup dan berkembang biak. Sebagian besar masyarakat telah mengetahui
program pemberantasan nyamuk demam berdarah melalui kegiatan 3M, namun
sebagian besar tidak banyak yang melaksanakannya (Depkes, 2005). Kepedulian
masyarakat terhadap PSN DBD relative belum optimal, ini ditunjukkan berdasarkan
survey di 37 kelurahan di kota Semarang menunjukkan bahwa angka bebas jentik
(ABJ) nyamuk baru mencapai 78,8 persen (Maryanti, 2005).
Berdasarkan pada data-data tersebut merupakan hal yang penting untuk
dilakukan survey telur, survey jentik dan survey nyamuk dewasa untuk mengetahui
tingkat kepadatan nyamuk salah satunya di Desa Baskoro Kelurahan Tembalang
sebagai salah satu daerah dengan kasus DBD yang tinggi.
1.2 Tujuan Paktikum
Mahasiswa dapat terampil melakukan berbagai jenis survei entomologi untuk
penyakit demam berdarah.
1.3 Manfaat Praktikum
1. Untuk mengetahui cara melakukan survei entomologi untuk penyakit demam
berdarah dengan benar dan tepat
2. Untuk mengetahui ovitrap index dan kepadatan Telur
3. Bisa menghitung dan mengetahui House Index, Container index, serta Breteau
Index.
4. Dapat Menghitung Landing Rate serta Resting Rate Nyamuk.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Siklus Hidup

Masa pertumbuhan dan perkembangan nyamuk Aedes sp dapat dibagi


menjadi 4 tahap yaitu telur, larva, pupa, dan dewasa, sehingga termasuk
metamorfosis sempurna (holometabola). (Soegeng Soegijanto, 2006)
1. Telur

Gambar 1. Telur Aedes sp


Sumber : Anonim, 1972
Pada waktu dikeluarkan telur berwarna putih, lalu berubah menjadi
hitam dalam waktu 30 menit. Dari penelitian Brown (1962) bahwa telur
yang diletakkan di dalam air akan menetas dalam waktu 1-3 hari pada
suhu 30C, namun memerlukan waktu 7 hari pada suhu 16C. Telur
Aedes akan menetas sebanyak 80% pada hari pertama dan 95% pada
hari kedua bila direndam dalam air dan dalam kondisi normal. Jika
diamati dibawah mikroskop, akan nampak adanya garis-garis
membentuk gambaran seperti sarang lebah pada dinding luar
(exochorion) telur nyamuk Aedes sp tersebut. (Sudarto, 1972)
Sama halnya dengan Aedes albopictus, telur Aedes aegypti dapat
tahan terhadap pengeringan, intensitas dan durasi yang bervariasi,
tetapi banyak spesies nyamuk ini yang dapat tetap kering dan layak,
selama berbulan-bulan. Ketika banjir, beberapa telur dapat menetas
dalam waktu beberapa menit, yang lain mungkin memerlukan
perendaman lebih lama dalam air, kemudian menetas dan kemungkinan
tersebar di beberapa hari atau minggu sesudahnya. Di daerah panas
Aedes albopictus bertahan dalam bentuk stadium telur dan memerlukan
peresapan air selama jangka waktu tertentu sebelum dapat bertahan

lama terhadap pengeringan dan temperatur rendah. (M.W. Service,


1996)
Telur yang berumur sama tidak menetas saat bersamaan. Telur
yang berumur sama dan diletakkan dalam suatu kontainer akan
menetas segera sesudah berkontak dengan air. Lama penetasan dan
dalam siklus hidup tergantung pada waktu yang dibutuhkan telur untuk
menjadi masak sesudah ditelurkan oleh induknya dan juga bergantung
pada temperatur masa perkembangan selanjutnya.
Waktu bertelur sesudah menghisap darah dipengaruhi oleh
temperatur. Waktu terpendek antara menghisap darah dan bertelur
pertama kali ialah 7 hari pada suhu 21C dan 3 hari pada suhu 28C.
Penahanan telur yang sudah matang agaknya berhubungan dengan
keadaan dasar tempat bertelur.
Telur didepositkan pada permukaan basah dalam wadah buatan
seperti kaleng, botol, guci atau wadah air hujan. Ban mobil juga dapat
menyediakan habitat larva yang sangat baik dan tempat beristirahat saat
stadium dewasa. Dalam iklim tropis, larva juga ditemui dalam air alami
penahan rongga di lubang pohon dan tanaman herba. Telur Aedes
aegypti dapat menahan pengeringan hingga 1 tahun. Telur menetas
ketika dibanjiri oleh air yang terdeoksigenasi. (Womack .M, 1993).
2. Larva

Gambar 2. Aedes sp stadium Larva


Sumber : Anonim, 1972
Setelah menetas telur akan berkembang menjadi larva (jentikjentik). Pada stadium ini kelangsungan hidup larva dipengaruhi suhu, pH
air perindukan, ketersediaan makanan, cahaya, kepadatan larva,

lingkungan hidup, serta adanya predator. Berikut ini adalah ciri-ciri dari
larva Aedes aegypti :
a. Adanya corong udara (siphon) pada segmen terakhir. Pada corong
udara tersebut memiliki pecten serta sepasang rambut dan jumbai.
b. Pada segmen-segmen abdomen tidak dijumpai adanya rambutrambut berbentuk kipas (palmate hairs).
c. Pada setiap sisi abdomen segmen kedelapan ada comb scale
sebanyak 8 21 atau berjejer 1 3.
d. Bentuk individu dari comb scale seperti duri.
e. Pada sisi thorax terdapat duri yang panjang dengan bentuk kurva
dan adanya sepasang rambut di kepala. (Iskandar. A, 1985).
Larva Aedes aegypti biasa bergerak-gerak lincah dan aktif, dengan
memperlihatkan gerakan-gerakan naik ke permukaan air dan turun ke
dasar wadah secara berulang. Larva mengambil makanan di dasar
wadah, oleh karena itu larva Aedes aegypti disebut pemakan makanan
di dasar (bottom feeder). Makanannya terdiri dari mikroorganisme,
detritus, alga, protista, daun, dan invertebrata hidup dan mati. Pada
larva Aedes albopictus makanan yang mengandung protein lebih disukai
daripada yang mengandung hidrat arang. (Barry J. Beaty, 1996).
Pada saat larva mengambil oksigen dari udara, larva menempatkan
corong udara (siphon) pada permukaan air seolah-olah badan larva
berada pada posisi membentuk sudut dengan permukaan air.
(Kusnindar, 1990)
Larva Aedes aegypti mempunyai tubuh memanjang tanpa kaki
dengan bulu-bulu sederhana yang tersusun bilateral simetris. Larva ini
dalam pertumbuhan dan perkembangannya mengalami 4 kali pergantian
kulit (ecdysis), dan larva yang terbentuk berturut-turut disebut instar I, II,
III, dan IV. Larva instar I , tubuhnya sangat kecil, warna transparan,
panjang 1-2 mm, duri-duri (spinae) pada dada (thorax) belum begitu
jelas, dan corong pernapasan (siphon) belum menghitam. Larva instar II
bertambah besar, ukuran 2,5-3,9 mm, duri dada belum jelas, dan corong
pernapasan sudah berwarna hitam. Larva instar IV telah lengkap
struktur anatominya dan jelas tubuh dapat dibagi menjadi bagian kepala
(chepal), dada (thorax), dan perut (abdomen). Larva ini tubuhnya

langsing dan bergerak sangat lincah, bersifat fototaksis negatif, dan


waktu istirahat membentuk sudut hampir tegak lurus dengan bidang
permukan air. (Soegeng .S, 2006).
3. Pupa

Gambar 3. Aedes sp stadium pupa


Sumber : Anonim, 1972
Larva instar akan berubah menjadi pupa yang berbentuk bulat
gemuk menyerupai tanda koma. Pada pupa terdapat kantong udara
yang terletak di antara bakal sayap nyamuk dewasa dan terdapat
sepasang sayap pengayuh yang saling menutupi sehingga
memungkinkan pupa untuk menyelam cepat dan mengadakan
serangkaian jungkiran sebagai reaksi terhadap rangsangan. Selama
stadium pupa tidak memerlukan makanan. Ketika Metamorfosis selesai
dan nyamuk dewasa sepenuhnya terbentuk dalam selongsong pupa,
kemudian adanya gelembung udara dapat meningkatkan tekanan
internal, dan selongsong terbagi sepanjang garis belahan dada. Nyamuk
dewasa ini perlahan-lahan muncul dari sobeknya selongsong pupa ke
permukaan air. Kemudian secara skloretik nyamuk dewasa mampu
terbang dalam waktu 10-15 menit. (Barry .J. B, 1996)
Pupa Aedes aegypti mempunyai bentuk tubuh bengkok dengan
bagian kepaladada (Cephalothorax) lebih besar bila dibandingkan
dengan bagian perutnya, sehingga tampak seperti tanda baca koma.
Pada bagian punggung (dorsal) dada terdapat alat bernapas seperti
terompet. Pada ruas perut ke-8 terdapat sepasang alat pengayuh yang
berguna untuk berenang. Alat pengayuh tersebut berjumbai panjang dan
berbulu pada ruas perut ke-8 tidak bercabang. Pupa adalah bentuk tidak

makan, tampak gerakannya lebih lincah bila dibandingkan dengan larva.


Waktu istirahat, posisi pupa sejajar dengan bidang permukaan air.
(Soegeng .S, 2006)
Stadium pupa tidak lama, rata-rata berumur 2 hari. Dalam
percobaan penyelidikan di laboratorium ternyata nyamuk dewasa dapat
hidup maksimal selama 10 hari, umurnya di alam tidak diketahui, tetapi
pasti lebih pendek. Sepuluh hari setelah nyamuk menghisap darah
manusia yang kebetulan menderita infeksi dengue, virus ditemukan
dalam kelenjar induknya, sehingga dapat dimengerti bahwa hanya
nyamuk betina yang telah berumur 10 hari ke atas dapat menyebarkan
virus dengue.
4. Dewasa

Gambar 4. Nyamuk Aedes sp


Sumber : Anonim, 1972
Setelah keluar dari selongsong pupa, nyamuk akan diam beberapa
saat di selongsong pupa untuk mengeringkan sayapnya. Setelah
berkopulasi, nyamuk betina menghisap darah dan tiga hari kemudian
akan bertelur sebanyak kurang lebih 100 butir, lalu nyamuk akan
menghisap darah lagi. (Hendratno.S, )
Hanya nyamuk betina yang menggigit dan menghisap darah serta
memilih darah manusia untuk mematangkan telurnya. Sedangkan
nyamuk jantan tidak bisa menggigit/ menghisap darah, melainkan hidup
dari sari bunga tumbuh tumbuhan. (Sri R.H.H, 2002).
Nyamuk Aedes aegypti dewasa dapat hidup dengan baik pada
suhu 6C dalam 24 jam. Nyamuk dapat hidup pada suhu 7C - 9C.

Rata-rata lama hidup nyamuk betina Aedes aegypti selama 10 hari.


(Poorwosudarmo.S, 1993).
Nyamuk Aedes aegypti dewasa mempunyai tubuh yang tersusun
dari 3 bagian yaitu kepala, dada, dan perut. Pada bagian kepala
terdapat sepasang mata majemuk dan antena yang berbulu. Alat mulut
nyamuk betina tipe penusuk pengisap (piercing - sucking) dan
termasuk lebih menyukai manusia (Anthropophagus), sedangkan
nyamuk jantan bagian mulut lebih lemah sehingga tidak mampu
menembus kulit manusia, karena itu tergolong lebih menyukai cairan
tumbuhan (phytophagus). Nyamuk betina mempunyai antena tipe pilose,
sedangkan nyamuk jantan tipe plumose. (Soegeng .S, 2006)
Berikut ini adalah siklus hidup Aedes sp dari telur hingga dewasa :

Gambar 5. Siklus Hidup Aedes sp


Sumber : Anonim, 1972

2.2 Alat Dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum Survey Entomologi Demam
Berdarah adalah :
1. Alat

Senter : untuk pencahayaan saat survei jentik


Ovitrap : untuk memancing nyamuk beristirahat
Gelas plastik atau botol plastik : utnuk tempat jentik hasil dari survei

Alat tulis : untuk menulis hasil survei


Gayung : untuk mengambil jentik di dalam bak mandi
Pipet : untuk mengambil jentik
Aspirator : untuk menangkap nyamuk

2. Bahan

Kertas saring : untuk ditaruh pada ovitrap agar nyamuk bertelur di kertas

tersebut.
Kertas label : untuk memberikan label pada kertas saring dan dapa
ovitrap

1.3 Diagram Alur Kerja


1. Survey Telur
Mulai
Membuat ovitrap (perangkap telur) dengan gelas plastik
ukuran 0,5 liter yang dicat hitam

Memotong kertas saring yang permukaanya kasar dan


disesuaikan lebarnya dengan ovitrap yang dibuat

Mengisi ovitrap dengan antraktan yang di campur dengan


air bersih dan memasukkan kertas saring pada batas air
hingga menutupi pinggiran dalam gelas yang berisi air.

Meletakkan ovitrap di tempat yang terlindung dari hujan dan


dekat dengan aktivitas manusia (dalam dan luar rumah).

Setelah seminggu, melakukan pemeriksaan ada tidaknya


telur nyamuk pada ovitrap
Menghitung ovitrap index dan kepadatan telur per ovitrap.

Menyajikan dan melaporkan hasil

Selesai
Gambar 6. Diagram alur kerja survey telur

2. Survey Jentik

Mulai

Memeriksa tempat penampungan air dan kontainer yang


dapat menjadi habitat perkembangbiakan nyamuk Aedes
sp di dalam dan di luar rumah untuk mengetahui ada
tidaknya jentik

Jika pada penglihatan pertama tidak menemukan jentik,


tunggu - 1 menit untuk memastikan bahwa benarMenggunakan senter
untuk
memeriksa
benar
tidak
ada jentikjentik ditempat
gelap atau keruh.:
a. Metode Single Larva
Mengambil satu jentik di setiap tempat genangan air
yang ditemukan jentik dan identifikasi lebih lanjut
b. Metode Visual
Cukup dilakukan dengan melihat ada atau tidaknya
jentik disetiap genangan air tanpa mengambil

10

Menghitung House index, Container Index, Breteu Index

Menyajikan dan melaporkan hasil

Selesai
Gambar 7. Diagram Alur Kerja Survey Jentik
3. Survei Nyamuk
Mulai
Melakukan survei nyamuk dilakukan menggunakan
umpan orang di dalam dan di luar rumah, masing-masing
selama 20 menit per rumah menggunakan aspirator
Melakukan survei pada saat nyamuk tidak aktif. Di dalam
rumah biasanya nyamuk resting di kamar tidur, tempattempat gelap, gantungan baju dsb, sedangkan di luar
rumah nyamuk biasanya resting di tanaman-tanaman
kebun. Penangkapan resting menggunakan senter,
Menghitung landing rate dan resting per rumah
aspirator mulut atau aspirator dengan baterai 12 volt dan
Menyajikan dan melaporkan hasil
Selesai

11

Gambar 8. Diagram Alur Kerja Survei Nyamuk

BAB III
HASIL
3.1 Survey Telur
Menghitung ovitrap index:
1. Ovitrap Dalam

telur
ovitrap
Ovitrap Dalam=
15
ovitrap dalam= 100
20
ovitrap dalam=75

2. Ovitrap Luar

telur
ovitrap
Ovitrapluar =

13
100
20
ovitrap dalam=65
ovitrap dalam=
3. Ovitrap Index

telur
ovitrap
Ovitrap Index=
28
ovitrap dalam= 100
40
ovitrap dalam=70

3.2 Survei Jentik


Tabel 1. Hasil di Lapangan

12

Bangunan
Bangunan

Container

(+)

(-)

di periksa

di periksa

jentik

jentik

50

135

29

21

Container
Container
di Periksa

135

(+)

(-)

jentik

jentik

40

95

Menghitung House Index, Container Index, dan Brateau Index.


1. House Index

jentik
bangunan
House index=
29
House index= 100
50
House index=58

2. Container Index

jentik
container
Container index=
40
Container index=
100
135
Container index=29,63

3. Brateau Index

jentik
container
Breteau index=
40
Breteau index= 100
50
Breteau index=80

3.3 Survei Nyamuk


Menghitung Landing Rate dan Resting per rumah.
1. Landing Rate

Aedes sp . tertangkap umpan orang


penangkap jam penangkapan
82
Landing rate=
10 40
Landing rate=

Landing rate=0,205

13

2. Resting Rate

Aedes sp . resting tertangkap


rumah yang dilakukan penangkapan
41
resting rate=
10
Resting rate=4,1
Resting rate=

BAB IV
PEMBAHASAN
a. Survei Telur
Tujuan dari survei perangkap telur adalah untuk mengetahui
ada atau tidaknya nyamuk Aedes aegypti dalam situasi densitas
sangat rendah, yang mana dengan metode single larva maupun
metode visual tidak dapat menemukan adanya kontainer positif. Survei
ini dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut ovitrap. Ovitrap
yang di gunakan terbuat dari botol plastik yang dinding bagian
dalamnya dicat hitam dan beri antraktan serta air bersih secukupnya.
Ke dalam ovitrap tersebut dimasukan kertas saring. Ovitrap ini akan
ditempatkan baik di dalam atau diluar rumah yang gelap dan lembab
karena nyamuk menyukai tempat-temat tersebut untuk bertelur.
Setelah satu minggu dilakukan pemeriksaan ada atau tidaknya telur
pada kertas saring tersebut.
Indeks ovitrap merupakan perbandingan ovitrap yang positif
terdapat telur nyamuk (Aedes aegypti dan Aedes albopictus) dengan
jumlah ovitrap yang disebarkan. (Anonimus, 2002). Indeks ovitrap
dapat dikelompokan atas empat tingkatan. Pencegahan khusus dan
tingkat pengendalian dapat dilakukan dari tingkat ovitrap tersebut.
Manajamen tempat-tempat umum (sekolah, pelabuhan, komplek
perumahan, dll) seharusnya melakukan tindakan khusus untuk
pengendalian nyamuk dilingkungan mereka demi keamanan mereka.
Adapun empat tingkatan ovitrap Indeks adalah sebagai berikut.

14

Tabel 2. Klasifikasi Ovitrap Index Dengan Tindakan Yang Dilaksanakan


Klasifikasi

Ovitrap

Tindakan yang dilaksanakan

Index
Tingkat 1

(OI)
<5%

- Pengawasan dengan cermat kondisi


kebersihan lingkungan untuk mencegah
tempat perindukan nyamuk
- Periksaan mingguan untuk mengidentifikasi
tempat perindukan atau yang berpotensi dan
meniadakan tempat yang mungkin sebagai

Tingkat 2

5%-

perindukan nyamuk
Mengingatkan manajemen tempat-tempat

20%

umum untuk memeriksa secara berkala


(waktu tidak lebih dari 7 hari) dan

Tingkat 3

20%-

menghilangkan tempat perindukan sekitarnya.


Kegiatan meniadakan tempat perindukan/yang

Tingkat 4

40%
40%

berpotensi lebih ditingkatkan


Memberikan kewenangan kepada perusahaan
pest control untuk mengatasi permasalahan

nyamuk.
Tindakan larvasida atau stadium dewasa dapa
t diterapkan.
Sumber tabel : http://www.fedh.gov.hk//saafefood/dengue_fever, 2004
Berdasarkan hasil survei telur di Desa Baskoro Kelurahan
Tembalang diperoleh hasil penghitungan ovitrap Index sebesar 70%.
Hal ini membuktikan bahwa kondisi ovitrap yang positif telur cukup
tinggi. Pada saat survei didapati banyaknya rumah penduduk yang
berdekatan serta kepadatan penduduk yang tinggi. Selain itu banyak
barang-barang yang tergeletak baik di dalam rumah atau di luar
rumah. Hal ini menyebabkan banyaknya resting place dan kelembaban
yang tinggi, sehingga nyamuk akan sangat mudah untuk berkembang
biak dan berpindah tempat. Banyaknya penduduk di Desa Baskoro
akan sangat mudah bagi nyamuk betina menghisap darah untuk

15

mempersiapkan pematangan telur dan peletakan telur yang akan


sangat disukai nyamuk seperti rendaman jerami yang telah
dipersiapkan pada ovitrap. Ovitrap index sebesar 70 % masuk dalam
kategori indeks ovitrap tingkat 4. Pada kategori tingkat 2 tindakan yang
dapat dilaksanakan meliput, memberikan kewenangan kepada
perusahaan pest control untuk mengatasi permasalahan nyamuk dan
menerapkan tindakan larvasida atau stadium dewasa.
b. Survei Jentik
Jumlah populasi jentik nyamuk Aedes spp berhubungan erat
dengan meningkatnya kasus DBD. Kepadatan populasi larva nyamuk
Aedes spp dengan parameter House Index (HI), Container Index (CI),
dan Breteau index (BI).
Tabel 3. Larva Index
Density
figure (DF)
1
2
3
4
5
6
7
8
9

House Index (HI)

Container Index

13
47
8 17
18 28
29 37
38 49
50 -59
60 76
>77

12
35
69
10 -1 4
15 20
21 27
28 31
32 40
>41

Breteau
Index
14
59
10 19
20 34
35 -49
50 74
75 99
100 199
>200

Density figure ditentukan setelah menghitung dan mengetahui


hasil House Index (HI), Container Index (CI), dan Breteau Index (BI).
Apabila angka DF kurang dari 1 menunjukan risiko penularan rendah,
jika 1-5 menunjukan resiko penularan sedang dan diatas 5 risiko
penularan tinggi.
Berdasarkan hasil survei larva atau jentik yang telah di lakukan
di Desa Baskoro Kelurahan Tembalang, Angka House Index (HI),
Container Index (CI), dan Breteau Index (BI) yang berturut-turut

16

sebesar 58%, 29,63%, 80%. Menurut WHO (1998), daerah yang


mempunyai HI lebih besar dari 5% dan BI lebih besar dari 20%
umumnya merupakan daerah yang sensitive atau rawan demam
dengue.
Tabel 4. Angka Index Jentik Berdasarkan Survei
Kelurahan

Rumah disurvei

Tembalang

50

kontainer
diperiksa
135

Angka Indikator Jentik


HI
BI
CI
58%
80% 29,63%

Survey jentik dilakukan di rumah-rumah penduduk. Dari 50


rumah yang diperiksa 40 rumah diantaranya terdapat container yang
mengandung jentik. Dari 50 rumah yang disurvei, ditemukan tipe-tipe
container yang berbeda yang dapat menjadi tempat perindukan
nyamuk Aedes. Berdasarkan tipe container yag diperiksa didapatkan
bahwa container yang paling dominan ditemukan dari rumah-rumah
yang disurvei adalah bak mandi, selengkapnya dapat dilihat dari tabel
5 data tipe container yang ditemukan menunjukkan bak mandi
(14,81%), sebagai jenis container yang mendominasi wilayah tersebut.
Diikuti oleh Ember (5,92%), Tempayan (2,22%), kulkas dan tatakan pot
(1,48%) , dan container lainnya.

Tabel 5. Jenis Kontainer Berdasarkan Hasil Survey


No
1
2
3
4
5
6
7

Jenis Kontainer
Bak Mandi
Drum
Tempayan
Ember
Dispenser
Ember Lain
Bak lain

(% )

Jumlah
20
1
3
8
1
0
0

Kontainer
14,81
0,74
2,22
5,92
0,74
0
0

17

8
9
10
11
12
13
14
15

Vas Bunga
Aquarium
Tempat Minum
Burung
Kolam
Kulkas
Kaleng
Tatakan pot
Kebun

1
0

0,74
0

0
2
1
2
0

0
1,48
0,74
1,48
0

Hasyimi dan soekirno (2004) menyatakan bahwa penggunaan


tempat penampungan air di daerah pemukiman dimana keperluan air
sehari-hari dikelola PDAM, sering menimbulkan masalah bagi
perindukan vector disebabkan penduduk banyak menampung air di
suatu tempat. Dengan alasan ini maka tempat perindukan nyamuk
Aedes cenderung menjadi banyak sehingga memperluas terjadinya
transmisi virus Dengue dan Chikungunya.
Seperti yang dilihat dari tabel 5, container positif ditemukan
jentik yang paling dominan adalah Bak Mandi (50%) dan Ember
(17,5%). Chan dan hasyimi menyatakan bahwa di daerah perkotaan
habitat nyamuk Aedes sp. sangat bervariasi, tetapi 90% adalah
wadahwadah yang dibuat oleh manusia. Fock dalam hasyimi dan
soekirno (2004) menyatakan bahwa tempayan, drum, bak mandi
adalah tiga jenis container yang banyak memfasilitasi jentik Aedes
menjadi dewasa, mengingat ketiganya termasuk tempat penampungan
air yang berukuran besar dan sulit mengganti airnya.
Tabel 6. Jenis Kontainer yang Positif Jentik berdasarkan Hasil Survei
No
1
2
3
4
5
6
7

Jenis Kontainer
Bak Mandi
Tempayan
Ember
Dispenser
Aquarium
Tempat burung
Kolam

Kontainer Positif
20
4
7
1
0
0
0

(% ) Kontainer
Positif
50
10
17,5
2,5
0
0
0

18

8
9
10
11
12
13
14
15

Tatakan pot
Lemari Es
Vas bunga
Kaleng
Drum
Bak lain
Ember lain
Kebun

1
2
1
1
2
0
1
0

2,5
5
2,5
2,5
5
0
2,5
0

Sebagian besar bahan container yang ditemukan pada survey ini


adalah Plastik (42,5%), Keramik (27,5%), dan Semen (22,5%).
Tabel 7. Bahan Kontainer Berdasarkan Hasil Survei
No
1
2
3
4
5
6
7

Bahan Kontainer
Semen
Tanah
Plastik
Kaca
Keramik
Logam/besi
Alumunium

Positif Jentik (%)


9 (22,5%)
17 (42,5%)
11 (27,5%)
2 (5%)
1 (2,5%)

Pada House Index (HI) sebesar 58 % termasuk ke dalam skala


7 yang menunjukan pada kategori padat dengan tingkat risiko
penularan tinggi. Container Index (CI) sebesar 29,63% termasuk ke
dalam skala 7 menunjukan kategori resiko penularan tinggi. Angka BI
merupakan pengukuran terbaik yang digunakan untuk memperkirakan
densitas jentik, karena sudah mengkombinasikan keduanya baik
rumah maupun wadah. BI sebagai predictor KLB, jika BI 50 maka
daerah tersebut berpotensi untuk mengalami KLB. Breteau Index (BI)
sebesar 80 % termasuk ke dalam skala 7 menunjukan kategori resiko
berpotensi terjadinya KLB. Menurut WHO angka BI sebesar 80 %

19

termasuk ke dalam skala 7 yang apabila dikaitan dengan tingkat resiko


kejadian luar biasa (KLB) penyakit DBD belum terjadi walaupun
kepadatan vektornya termasuk tinggi.
Tingginya angka Container Index, House Index dan Breteau
Index di Desa Baskoro Kelurahan Tembalang, diduga disebabkan oleh
adanya banyak tempat-tempat perindukan buatan manusia di sekitar
rumah baik di dalam maupun di luar rumah seperti tempat
penampungan atau penyimpanan air atau TPA (tangki air, bak besar,
bak mandi, tempayan, ember, bak WC) non TPA atau barang bekas
(kaleng bekas, ban bekas, botol bekas, bekas kolam ikan, bekas
akuarium) dan yang lainnya (vas bunga, pot bunga, dan tatakan pot).
Banyaknya ketersediaan tempat-tempat perindukan nyamuk Aedes
spp sebagai vektor DBD serta perilaku masyarakat dalam menunjang
ketersediaan tempat perindukan dapat meningkatkan kepadatan larva
(jentik) nyamuk Aedes spp. sebagai vektor DBD.
c. Survei Nyamuk
Survei nyamuk dapat dilakukan melalui penangkapan nyamuk
dengan menggunakan umpan orang yang ada di dalam maupun di luar
rumah, yang mana masing-masing penangkapan nyamuk dilakukan
selama 20 menit tiap rumah. Survei nyamuk yang dilakukan pada
praktikum ini meliputi landing rate dan resting rate.
Menurut aktivitas dalam pencarian makanan nyamuk dibedakan
menjadi dua jenis yaitu nyamuk yang mencari makanan di dalam
rumah disebut endophagic dan spesies nyamuk yang mencari
makanan di luar rumah disebut eksophagic. Setelah mencari makan
sebagian spesies nyamuk akan mencari tempat untuk mencerna darah
yang dimakan dan melakukan pematangan sel telur. Sebagian spesies
nyamuk akan melakukan istirahat dan pematangan sel telur di dalam
rumah atau disebut endophilic, dan spesies yang melakukannya di luar
ruangan disebut eksophilic.
Pengamatan perilaku menggigit nyamuk dilakukan dengan
melihat banyaknya nyamuk yang hinggap pada inang yang disediakan

20

(landing). Hasil praktikum survei nyamuk dewasa, memperlihatkan


landing rate sebesar 0,205 nyamuk yang hinggap pada umpan orang.
Perilaku menggigit ini hanya dilakukan oleh nyamuk betina. Nyamuk
betina yang aktif menggigit adalah nyamuk dalam masa pematangan
telur, karena protein dari darah hanya diperlukan untuk pematangan
sel-sel telur. Nyamuk betina akan terbang berkeliling sampai
menemukan inang yang cocok diterima oleh alat penerima
rangsangan.
Pengamatan perilaku istirahat nyamuk dilakukan dengan
penangkapan nyamuk yang sedang hinggap atau istirahat.
Penangkapan di dalam rumah biasanya dilakukan pada gantungangantungan baju, kelambu, gorden, bawah meja, bawah tempat tidur
ataupun daerah-daerah tersembunyi yang jarang terkena sinar
matahari. Sedangkan penangkapan di luar rumah di lakukan pada
dinding rumah, sekitar tanaman hias atau di bawah pohon. Pada
praktikum ini kami hanya melakukan di dalam rumah. Hasil praktikum
kami menunjukan bahwa resting rate sebesar 4,1 nyamuk yang
beristirahat. Menurut penelitian Tandon dan Sudipta (2000) di India
yang mendapati bahwa 82,51 % nyamuk Aedes aegypti beristirahat di
dalam ruangan (endophilic). Tempat yang disenangi nyamuk Aedes
aegypthi untuk beristirahat selama menunggu pematangan telur
adalah tempat-tempat gelap, lembab, dan sedikit angin. Sehingga
tempat yang biasa dipilih adalah baju-baju yang digantung dalam
ruangan atau tempat-tempat lain yang berada dalam ruangan remangremang.

21

BAB V
PENUTUP
5.1

Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil survei dilapangan, di dapatkan angka index telur yaitu
ovitrap index 70%. Ini membuktikan kepadatan telur masih cukup tinggi.
2. Dari hasil di lapangan bahwa HI sebesar 58% termasuk ke dalam skala 7,
yang mana merupakan tingkat penularan tinggi. Sedangkan CI sebesar
29,63% masuk dalam skala 7 dengan resiko tingkat penularan tinggi. Dan
hasil BI sebesar 80% yang artinya menunjukkan resiko terjaninya KLB.
3. Untuk angka kepadatan nyamuk di dapat hasil pada saat Landing Rate
0,205, sedangkat pada saat resting rate 4,1.

5.2

Saran
Perlunya kesadaran yang tinggi dari penduduk masyarakat untuk
meningkatkan kebersihan lingkungan, terutama kebersihan di dalam dan
disekitar rumah dari adanya tempat-tempat genangan air yang memungkinkan
digunakan sebagai tempat perkembangbiakan nyamuk. Masyarakat diharapkan
dapat melakukan pengurasan pada bak mandi dan tempat-tempat
penampungan air yang lain serta menjaga kebersihan diri salah satunya
dengan mengurangi tempat-tempat yang digunakan sebagai resting nyamuk
yaitu gantungan pakaian sehingga diharapkan kepadatan nyamuk dapat
berkurang.

DAFTAR PUSTAKA

22

Anonim. 1972. Vector Control in International. New York


Barry J.Beaty and William C.Marquardt. The Biology of Disease Vectors. 1996.
University Press of Colorado. Colorado
Departemen Kesehatan R.I. (2005). Rencana Strategi Departemen
Kesehatan. Jakarta: Depkes RI
Iskandar A. Pemberantasan Serangga dan Binatang Pengganggu. Proyek
Pengembangan Pendidikan Tenaga Sanitasi Pusat. Pusdiknes Depkes RI.
1985.
Kusnindar. Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah ditinjau dari Berbagai
Penelitian. Cermin Dunia Kedokteran. 1990 : 60: 10.
Maryanti, E., 2005. Perilaku Masyarakat Terhadap kesehatan Lingkungan dalam
Upaya Penanggulangan dan Penularan Penyakit DBD di Kota Medan Tahun
2005. Tesis Mahasiswa Pascasarjana. Universitas Sumatera Utara.
M.W.Service. Medical Entomology For Student. 1996. T.J Press, Padstow, Cornwall.
Great Britain.
Poorwosudarmo S. Demam Berdarah Dengue pada Anak. 1993. UI Press : 24.
Jakarta.
Soegeng Soegijanto. DEMAM BERDARAH DENGUE (edisi 2). 2006. Airlangga
University Press.
Sri Rezeki H. Hadinegoro dan Hindra Irawan Satari. DEMAM BERDARAH DENGUE:
Naskah Lengkap Pelatihan bagi Pelatih, Dokter Spesialis Anak, dan Dokter
Spesialis Penyakit Dalam dalam Tatalaksana Kasus DBD. 2002. Balai Penerbit
FKUI. Jakarta.
Sudarto. Atlas Entomologi Kedokteran. 1972. EGC. Jakarta. Widya Hary Cahyati dan
Suharyo. DINAMIKA AEDES AEGYPTI SEBAGAI VEKTOR PENYAKIT.
KEMAS - Volume 2 / No. 1 / Juli Desember 2006. Semarang.
Womack, M. 1993. The yellow fever mosquito, Aedes aegypti. Nyamuk demam kuning,
Aedes aegypti. Wing Beats, Vol. Wing Beats, Vol. 5(4):4. 5 (4): 4.

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/115/jtptunimus-gdl-sitiqoniat-5714-1abstrak.pdf Diakses pada 05 Mei 2015

23

http://www.fedh.gov.hk//saafefood/dengue_fever, 2004 Diakses pada 17 Mei 2015

DOKUMENTASI

Gambar hasil survei jentik

Gambar ovitrap

24

Gambar antraktan

Gambar hasil survei telur

Gambar kandang nyamuk

25