Anda di halaman 1dari 9

BAB IV

Epistemologi: Cara Mendapatkan Pengetahuan yang Benar


1.1 jarum sejarah pengetahuan
Pada zaman dahulu seseorang yang ahli dalam bidang tertentu, juga akan di anggap sebagai
ahli dalam bidang yang lain.
Pada pertengahan abad ke 17 dikenal sebagai Abad Penalaran, karena konsep dasar
mengalami perubahan fundamental.
Tidak ada perbedaan objek, motode atau kegunaan, dalam pengetahuan semuanya sama.
Muncul perkembangan/perubahan mengenai konsep dasar pengetahuan, seperti bagaimana
cara mengetahui dan untuk apa pengetahuan itu dipergunakan.
Adapun cabang pengetahuan, dibedakan dari ilmu yang berbeda dari pengetahuan lainnya
terutama dalam segi metodenya.
Ilmu telah dipisahkan dari moral, dan makin banyak cabang-cabang ilmu berdasarkan objek
yang ditelaah.
Makin spesifik masing-masing ilmu akan menumbulkan masalah yang lain, seperti kaburnya
batas-batas otonomi dari masing-masing disiplin ilmu pengetahuan.
Terciptanya paradigma baru melalui pendekatan inter-disipliner, yang diharapkan sebagai alat
untuk mengadakan pengkajian bersama antar-disiplin keilmuan.

1.2 pengetahuan
Pengetahuan pada hakikatnya merupakan segenap apa yang kita ketahui tentang suatu objek
tertentu, termasuk di dalamnya adalah ilmu,jadi ilmu merupakan bagian dari pengetahuan
yang diketahui oleh manusia di samping berbagai pengetahuan lainnya seperti seni dan
agama.
Pengetahuan merupakan khasanah kekayaan mental yang secara langsung atau tidak langsung
turut memperkaya kehidupan kita karena itu sukar untuk dibayangkan bagaimana kehidupan

manusia seandainya pengetahuan itu tak ada, sebab pengetahuan merupakan sumber jawaban
bagi berbagai pertanyaan yang muncul dalam kehidupan.
Tiap jenis pertanyaan pada dasarnya menjawab pertanyaan tertentu yang diajukan, oleh
karena itu agar kita dapat memanfaatkan segenap pengetahuan kita secara maksimal maka
harus kita ketahui jawaban apa saja yang mungkin bisa diberikan oleh suatu pengetahuan
tertentu.
Secara ontologism ilmu membatasi diri pada pengkajian objek yang berada dalam lingkup
pengalaman manusia, sedangkan agama memasuki pula daerah penjelajahan yang bersifat
trasendental yang berada diluar pengalaman kita.
Jika seorang tersesat dijalan dan dia menanyakan arah pada seorang yang dididik untuk
bersimpati, maka mungkin dia akan menunjukan arah, yang sebenarnya tidak melepaskan
orang itu dari kesesatan, tetapi dia hanya melakukannya karena didorong oleh aspek cultural.
Pada hakikatnya, kita mengingkan jawaban ynag benar, karena itu kita perlu menyusun
pengetahuan yang benar juga, yang dalam kajian filsafat tersebut epistemology dan landasan
epistemology adalah metode ilmiah (metode ilmiah adalah cara yang dilakukan ilmu dalam
menyusun pengetahuan yang benar).
Setiap jenis pengetahuan mempunyai ciri-ciri yang spefisik mengenai apa (ontology),
bagaimana (epistemology) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun, ketiga hal
ini saling berkaitan.
Pengetahuan dikumpulkan oleh ilmu dengan tujuan untuk menjawab permasalahan
kehidupan yang sehari-hari dihadapi manusia dan untuk digunakan dalam menawarkan
berbagai kemudahan kepadanya.
Persoalan utama yang dihadapi oleh tiap epistemology pengetahuan pada dasarnya adalah
bagaimana mendapat pengetahuan yang benar dengan memperhitungkan aspek ontology dan
aksiologi masing-masing, demikian juga dengan masalah yang dihadapi epistemology
keilmuan yakni bagaimana menyusun pengetahuan yang benar untuk menjawab
permasalahan mengenai dunia empiris yang akan digunakan sebagai alat untuk meramalkan
dan mengontrol gejala alam.

1.3 metode ilmiah


Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan atau ilmu.Selain itu
metode ilmiahpun berguna dalam mengkomunisasikan penemuan ilmiah kepada masyarakat
sehingga dapat menciptakan ilmu-ilmu atau pengetahuan-pengetahuan baru yang mampu
membangun
Ilmu memiliki banyak manfaatnya,salah satunya yaitu membantu memecahkan masalahmasalah yang ada di sekitar kita dalam kehidupan sehari-hari.Namun dibutuhkan pula
pengetahuan agama karena ke dua pengetahuan ini saling melengkapi.
Untuk memecahkan masalahpun,salah satunya menggunakan hipotesis .Hipotesis adalah
dugaan atau jawaban sementara terhadap permasalahan yang dihadapi dan pastinya harus
didukung dengan fakta-fakta yang benar-benar mendukung dan benaragar hipotesis tersebut
dapat diterima.Setelah penyusunan hipotesis,dilakukan pengujiannya dengan dunia nyata
yakni dapat diterima oleh panca indera dan akal sehat kita.Kemudian hipotesis yang diterima
dianggap menjadi pengetahuan ilmiah yang baru.
Dan untuk mendapatkan suatu metode ilmiah yang benar dan sistematis adalah harus
memenuhi langkah-langkah seperti berikut ini :
a. Perumusan masalah yang berisi tentang kumpulan pertanyaan mengenai objek
empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasikan serta yang terkait
di dalamnya.
b. Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis yang merupakan
argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat di antara berbagai
factor yang saling terkait dan membentuk konsisitensi permasalahan.Kerangka
berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah
teruji kebenarannya dengan memperhatikan factor empiris yang relevan dengan
permasalahannya.
c. Perumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara atau dugaan terhadap
pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka
berpikir yang dikembangkan.

d. Pengujian hipotesis yamg merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan


dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah ada fakta-fakta yang
mendukung hipotesis tersebut atau tidak.
e. Penarikan kesimpulan yang merupakan penilaian apakah sebuah hipotesis yang
diajukan itu ditolak atau diterima.Sekiranya dalam proses pengujian terdapat fakta
yang cukup dan mendukung maka hipotesis itu diterima.Pun sebaliknya bila tidak
terdapat

fakta

yang

ditolak.Kemudian,hipotesis

cukup
yang

dan

mendukung

diterima

dianggap

maka
menjadi

hipotesis

itu

bagian

dari

pengetahuan ilmiah sebab telah memenuhi persyaratan ilmiah yakni mempunyai


kerangka penjelasan yang konsisten dengan pengetahuan ilmiah sebelumnya serta
telah teruji kebenarannya.

Pengujian Hipotesis

Ilmu tidak bertujuan untuk mencari kebenaran absolute melainkan kebenaran yang
bermanfaat bagi manusia dalam tahap perkembangan tertentu. Berbagai macam hipotesis-

hipotesis sampai saat ini tidak ditolak kebenarannya dan sangat bermanfaat bagi kehidupan
manusia, kita menganggap hipotesis-hipotesis tersebut merupakan pengetahuan yang
dimasukkan kedalam keluarga keilmuan. Tetapi dikemudian hari, hipotesis ini mempunyai
kegunaan. Metode ilmiah pada dasarnya merupakan sama bagi semua disiplin keilmuan baik
yang termasuk dalam ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu social. Bila ada perbedaaan dalam
kedua ilmu tersebut maka perbedaannya sekadar terletak pada aspek-aspek tekniknya dan
bukan pada struktur berpikir atau aspek metodologis. Metode ilmiah tidak dapat diterapkan
pada pengetahuan yang tidak termasuk kedalam kelompok ilmu. Misalnya matematika dan
bahasa tidak mempergunakan metode ilmiah dalam menyusun pengetahuannya sebab
matematika bukanlah ilmu melainkan pengetahan yang merupakan sarana berpikir ilmiah.
Tetapi meskipun demikian dari aspek pengetahuan tersebut dapat dengan mudah menerapkan
metode ilmiah dalam pengkajian-pengkajian. Beberapa disiplin ilmu social juga
mengembangkan teknik-teknik tersendiri dalam melakukan penelitian ilmiah misalnya
antropologi dan sosiologi. Teknik-teknik yang bersifat khusus ini biasanya dikembangkan
untuk meneliti aspek tertentu yang bersifat eksploratoris yang bertujuan untuk menemukan
pola atau struktur secara keseluruhan. Penelitian merupakan pencerminan secara konkrit
kegiatan ilmu dalam memproses pengetahuannya. Bagi pendidikan keilmuan maka aspekaspek filsafat ilmu sebaiknya secara langsung dikaitkan dengan kegiatan berpikir ilmiah pada
umumnya dan kegiatan penelitian pada khususnya. Langkah-langkah penelitian koheren
dengan landasan ontologism, epistemologis, dan aksiologis keilmuan. Langkah-langkah
dalam metode ilmiah ini janganlah ditafsirkan secara mati dan menjadi hafalan baru. Dengan
metode ilmiah sebagai paradigma maka ilmu dibandingkan dengan berbagai pengetahuan
lainnya dapat dengan cepat berkembang. Setelah pendirian dari The Royal Society maka
berkembang pula komunikasi dan kerja sama antara ilmuwan dalam bentuk kelembagaan,
himpunan dan penerbitan jurnal berkembang dengan pesat. Denagn berbagai percobaan yang
dilakukan ulang oleh ilmuwan lainnya didapat hasil yang sama dengan yang ditemukan oleh
ilmuwan aslinya terdahulu sehingga serta merta ilmuwan tersebut menerima dan mendukung
kebenaran yang dimaksud. Akhirnya dunia keilmuan menganggap permasalannya mengenai
hal tersebut telah selesai dan ilmu mendapatkan pengetahuan baru yang diterima oleh
seluruh ilmuwan. Dengan demikian ilmu berkembang dengan cepat dalam dinamika yang
dipercepat karena penemuan-penemuan. Ilmu tersebut bersifat konsisten karena penemuan
yang satu didasarkan kepada penemuan-penemuan sebelumnya. Sebenarnya hal ini tidak
seluruhnya benar, karena sampai saat ini belum satupun dari seluruh disiplin ilmu yang telah
berhasil menyusun suatu teori yang konsisten dan menyeluruh.teori ilmiah masih merupakan

penjelasan yang bersifat sebagian sesuai dengan tahap perkembangan keilmuan yang masih
sedang berjalan. Ilmu memandang kebenaran sebagai tujuan yang mungkin dapat dicapai
namun tak pernah sepenuhnya terungkap hingga selesai. Bagi ilmuwan kegiatan
keilmuwannya tersebut akan ungkapkan komitmen moral serta intelektual untuk mencoba
mendekati kebenaran dengan cara yang sejujur-jujurnya. Dalam berbagai macam prespektif
maka penelitian terhadap ilmu tidaklah ditentukan oleh kesahihan teori sepanjang zaman
melainkan terletak dalam kemampuan memberikan jawaban terhadap permasalahan manusia
dalam tahap peradapan tertentu.namun masalah-masalah tersebut menjadi sangat aneh bila
dihubungkan dengan hal-hal yang bersifat asasi dimana manusia membutuhkan adanya
kemutlakkan dan bukan sekadar kesementaraan yang relative. Demikian pula bagi ilmu yang
semakin terspesialisasikan menyebabkan bidang pengkajian suatu disiplin keilmuwan makin
sempit yang ditambah dengan berbagai ppembatasan dalam pengkajiannya seperti postulat,
asumsi, dan berbagai prinsip-prinsip ilmu yang melakukan penelaahan bersama diantaranya
yaitu cara berpikir system. Berpikir menurut system ini merupakan sarana berpikir yang
membantu proses pengkajian seperti juga bahasa, logika matematika dan statistika.
Demikianlah telah dilihat berbagai keterbatasan yang dimiliki ilmu. Segala keterbatasan ilmu
merupakan pengetahuan yang telah menunjukkan keampuhannya dalm membangun
kemajuan peradaban seperti ysng dilihat pada zaman sekarang ini. Kekurangan dan kelebihan
ilmu ilmu pengetahuan digunakan sebgai pedoman untuk meletakkan ilmu dalam tempat
yang sewajarnya sebab hanya dengan sikap itulah kita dapat memanfaatkan kegunaannya
semaksimal mungkin demi kesejahteraan manusia.

1.4 struktur pengetahuan ilmiah


Pengetahuan ilmiah atau ilmu adalah pengetahuan yang diproses menurut metode ilmiah
yang telah memenuhi syarat-syarat keilmuan dan diproses lewat serangkaian langkah-langkah
tertentu yang dilakukan dengan penuh kedisiplinan sehingga memungkinkan adanya
perkembangan pengetahuan yang relative lebih cepat.
Sebuah hipotesis dapat diuji secara formal dan diterima sebagai pernyataan pengetahuan
ilmiah yang baru namun apabila kemudian ternyata salah maka pengetahuan ini akan di
buang, tetapi apabila pengetahuan ilmiah yang baru ini benar, maka pernyataan dalam
pengetahuan ini dapat digunakan untuk menghasilkan hipotesis-hipotesis baru yang apabila
dibenarkan dapat menjadi pengetahuan ilmiah yang baru pula.

Ilmu pada dasarnya merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan berbagai
gejala alam yang memungkinkan manusia melakukan serangkaian tindakan untuk menguasai
gejala tersebut berdasarkan penjelasan yang ada. Jadi pengetahuan ilmiah pada hakikatnya
mempunyai tiga fungsi yaitu menjelaskan, meramalkan, dan mengontrol.
Secara garis besar terdapat empat jenis pola penjelasan yakni deduktif, probabilistik,
fungsional atau teleologis, dan genetic, namun tidak satu pun dari pola-pola di atas mampu
menjelaskan secara keseluruhan suatu kajian keilmuan sehingga digunakan pola yang
berbeda untuk menjelaskan masalah yang berbeda pula.
Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu factor
tertentu dari suatu disiplin keilmuan yang tujuan akhirnya adalah mengembangkan sebuah
teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten, namun hal ini baru dicapai oleh beberapa
disiplin keilmuan saja seperti fisika, itu pun secara keseluruhan belum membuat sebuah teori
yang utuh.
Perkembangan penjelasan teoretis pada disiplin-disiplin keilmuan dalam bidang social belum
membentuk suatu perspektif teoretis yang bersifat umum disebabkan seringnya menggunakan
postulat dan asumsi yang berbeda satu dengan yang lainnya sehingga banyak ilmuan yang
meninggalkan ilmu social dan beralih ke ilmu fisika, filsafat dan matematika.
Sebuah teori biasanya terdiri dari hukum yang pada hakikatnya merupakan pernyataan yang
menyatakan hubungan antara dua variable atau lebih dalam suatu kaitan sebab akibat dimana
hubungan kasualita memungkinkan kita untuk meramalkan apa yang akan terjadi sebagai
akibat dari sebuah sebab.
Contohnya, dengan mengetahui hubungan permintaan dengan penawaran maka kita dapat
menjelaskan mekanisme pembentukan harga, yang dengan berdasarkan penjelasan ini
selanjutnya kita dapat meramalkan terjadinya harga, dan melakukan upaya untuk mengontrol
naik turunnya harga.
Secara mudah dapat dikatakan bahwa teori adalah pengetahuan ilmiah yang memberikan
penjelasan tentang mengapa suatu gejala-gejala terjadi sedangkan hukum memberikan
kemampuan kepada kita untuk meramalkan tentang apa yang mungkin terjadi.
Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum ini harus mempunyai tingkat keumuman
yang tinggi, atau secara idealnya, harus bersifat universal dimana pengetahuan ilmiah
merupakan pengetahuan yang bersifat umum yang disimpulkan dari berbagai-bagai kasus.
Dalam usaha meningkatkan tingkat keumuman yang lebih tinggi maka dalam sejarah
perkembangan ilmu kita melihat berbagai contoh di mana teori-teori yang mempunyai tingkat
keumuman yang lebih rendah disatukan dalam suatu teori umum yang mampu megikat
keseluruhan teori-teori tersebut.
Teori copernikus yang mengatakan bukan matahari yang mengelilingi bumi melainkan bumi
mengelilingi matahari disempurnakan oleh Johannes Kepler yang menyatakan bahwa orbit

planet-planet dalam mengelilingi matahari tidaklah berbentuk lingkaran seperti apa yang
dipercayai oleh Ptolemeus maupun Copernicus melainkan berbentuk ellips.
Akhirnya Newton dalam Philosophiae Naturalis Principia Mathematica dengan teorinya
yang menyatakan bahwa semua gerak, baik yang terjadi di langit atau di bumi, tunduk
kepada hukum-hukum yang sama mampu mempersatukan teori Galileo, Copernicus, dan
Kepler.
Dalam mempersatukan teori-teori fisika yang sudah ditemukan sebelumnya Newton
mengemukakan teori tentang daya tarik atau gravitasi yang diinspirasi pada saat Newton
duduk di bawah pohon apel, dan melihat buah apel jatuh ke tanah.
Sistem yg terdiri dari pernyataan pernyataan agar terpadu dan konsisten jelas memerlukan
konsep yang mempersatukan dan konsep yang mempersatukan tersebut adalah teori.
Makin tinggi tingkat keumuman sebuah konsep maka makin teoritis konsep tersebut.
Konsep konsep yang bersifat teoritis seperti contoh tersebut diatas karena sifatnya yang
mendasar sering tidak langsung kentara kegunaan praktisnya.
Pengertian untuk membedakan antara pernyataan yg bersifat dasar dan terapan ini harus
dimiliki dengan baik, sebab kalau tidak maka kita mungkin memiliki pengetahuan jangka
pendek namun kurang baik untuk jangka panjang.
Dalam ilmu ilmu social pada umumnya maka pengembangan hokum hokum ilmiah sukar
dilakukan dan pada hakikatnya telah ditinggalkan.
Disamping hokum maka teori keilmuan juga mengenal kategori pernyataan yang disebut
prinsip. Prinsip dapat diartikan sebagai pernyataan yang berlaku secara umum bagi
sekelompok gejala gejala tertentu, yang mampu menjelaskan kejadian yang terjadi,
umpamanya saja hokum sebab akibat sebuah gejala.
Beberapa disiplin ilmu sering menggunakan postulat dalam menyusun teorinya. Postulat
merupakan asumsi dasar yang kebenarannya kita terima tanpa dituntut pembuktiannya.
Pada hakikatnya postulat merupakan anggapan yang ditetapkan secara smebarang dengan
kebenaran yang tidak dibuktikan. Sebuah postulat dapat diterima sekiranya ramalan yang
bertumpu pada postulat kebenaranya dapat dibuktikan.
Berbeda dengan postulat, asumsi harus ditetapkan dalam sebuah argumentasi ilmiah. Asumsi
harus merupakan sebuah pernyataan yang kebenarannya secara empiris dapat diuji.
Penelitian berdasarkan tujuan dibagi atas dua yaitu penelitian murni dan penelitian terapan.
Penerapan ilmu kepada teknologi memang tidak selalu merupakan rahmat bagi manusia
sebab di samping dapat dipergunakan untuk tujuan destruktif juga menimbulkan implikasi
moral, social dan cultural.

Manusia disebut homo faber ( makluk yang membuat peralatan) di samping homo sapiens
(makluk yang berpikir) yang mencerminkan kaitan antara pengetahuan yang bersifat teoritis
dengan teknologi yang bersifat praktis.