Anda di halaman 1dari 27

SEJARAH BIMBINGAN DAN KONSELING DI DUNIA

SEJARAH BIMBINGAN DAN KONSELING Pemikiran-pemikiran mengenai bimbingan


dan konseling memang sudah ada sejak jaman Yunani kuno. Karena ketertarikannya pada
pemahaman psikologis individu, Plato dianggap sebagai konselor Yunani kuno saat itu.
Kemudian menyusultokoh-tokoh lain seperti Aristoteles, Hippocrates, dan para dokter (tabib)
yang jugamenaruh perhatian terhadap bidang psikologi. Namun, gerakan bimbingan dan
konseling di sekolah mulai berkembangsekitar permulaan abad ke-20 sebagai dampak dari
revolusi industri. Tepatnya tahun1908-1909 yang merupakan periode dasar-dasar ilmiah
bimbingan dan konselingdiletakkan oleh beberapa ahli ilmu jiwa dan pendidikan. Masalah
bimbingan dankonseling di Amerika Serikat telah mulai dirintis sejak tahun 1887. Di
AmerikaSerikat, gerakan bimbingan dan konseling dipelopori oleh tokoh-tokoh berikut: 1. Eli
Weaper, pada tahun 1906 menerbitkan buku Memilih Suatu Karirdan membentuk komite
guru pembimbing di setiap sekolah menengah di New York. Komite tersebut bergerak untuk
membantu siswa dalammenemukan kemampuan-kemampuan dan belajar tentang
bimbinganmenggunakan kemampuan-kemampuan tersebut dalam rangka menjadiseorang
pekerja yang produktif. 2. Jesse B. Davis, seorang konselor sekolah di Detroit mulai
memberikanlayanan konseling pendidikan dan pekerjaan di SMA pada tahun 1898.Pada
tahun 1907, dia diangkat menjadi kepala SMA di Grand Rapids,Michigan, dan memasukkan
program bimbingan di sekolah tersebut.Tujuan dari program bimbingan tersebut adalah untuk
membantu siswaagar mampu (a) mengembangkan karakternya yang baik sebagai asset
bagisetiap siswa dalam rangka merencanakan, mempersiapkan, dan memasukidunia kerja; (b)
mencegah dirinya dari perilaku bermasalah; dan(c)menghubungkan minat pekerjaan dengan
kurikulum 3. Frank Parson, dikenal sebagai Father of The Guidance Movement in American
Education. Dia mendirikan biro pekerjaan pada tahun 1908 diBoston Massachussets, yang
bertujuan membantu siswa dalam memilih karir yang didasarkan atas proses seleksi secara
alamiah dan melatih guruuntuk memberikan pelayanan sebagai konselor. Dialah yang
mengemukakan istilah atau pengertian tentang vocational guidance. Dia pulayang
mengusulkan agar masalah vocational guidance dimasukkan dalamkurikulum sekolah.4. 4. E.
G. Williamson, pada akhir tahun 1930 dan awal tahun 1940 menulis buku How to Counsel
Students: A manual of Techniques for Clinical Counselors. Model bimbingan sekolah yang
dikembangkan oleh Williamson terkenal dengan nama trait and factor (directive) guidance.
Dalam model ini, para konselor menggunakan informasi untuk membantusiswa dalam
memecahkan masalahnya, khususnya dalam bidang pekerjaandan penyesuaian interpersonal.
Peranan konselor bersifat direktif denganmenekankan pada mengajar keterampilan dan
membentuk sikap dan tingkah laku. 5. Carl R. Rogers, mengembangkan teori konseling
client-centered, yangtidak terfokus kepada masalah, tetapi sangat mementingkan
hubunganantara konselor dengan kliennya. Pendekatan atau teori konseling Rogersini
terangkum dalam dua bukunya, yaitu Counseling and Psychotherapy (1942) dan ClientCentered Therapy (1951). Selama tahun 1960, 1970, dan 1980-an, telah terjadi perkembangan
dalam peran dan fungsi konselor sekolah berikut program-programnya. Perkembangan
tersebut meliputi: (a) pengembangan, penerapan, dan evaluasi program
bimbingankomprehensif; (b) pemberian layanan konseling secara langsung kepada para
siswa,orang tua, dan guru; (c) perencanaan pendidikan dan pekerjaan; (d) penempatansiswa;
(e) layanan referral, rujukan; dan (f) konsultasi dengan guru-guru, tenagaadministrasi, dan
orang tua. Khusus menyangkut peran konselor di sekolah dasar,Joint Committee on
Elementary School Counselor mengklasifikasikannya menjaditiga peran, yaitu: konseling,
konsultasi, dan koordinasi.

http://dwiayuindaswarynhb.blogspot.com/2012/04/sejarah-bimbingan-dankonseling-di.html

BIMBINGAN DAN KONSELING


Bimbingan Konseling merupakan suatu kegiatan bantuan dan tuntunan yang diberikan
kepada individu pada umumnya, dan siswa pada khususnya di sekolah. Menurut Sertzer dan
Stone, bimbingan merupakan proses membantu orang perorangan untuk memahami dirinya
sendiri dan lingkungan hidupnya. Sedangkan konseling sendiri berasal dari kata latin
Consilum yang berarti dengan atau bersama dan mengambil atau memegang. Maka
dapat dirumuskan sebagai memegang atau mengambil bersama.
Sejarah bimbingan dan konseling di Indonesia
Pelayanan Konseling dalam system pendidikan Indonesia mengalami beberapa
perubahan nama. Pada kurikulum 1984 semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (BP),
kemudian pada Kurikulum 1994 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling (BK)
sampai dengan sekarang. Layanan BK sudah mulai dibicarakan di Indonesia sejak tahun
1962. Namun BK baru diresmikan di sekolah di Indonesia sejak diberlakukan kurikulum
1975. Kemudian disempurnakan ke dalam kurikulum 1984 dengan memasukkan bimbingan
karir didalamnya. Perkembangan BK semakin mantap pada tahun 2001.
-

1.
2.
3.
4.
-

Perkembangan bimbingan dan konseling sebelum kemerdekaan


Masa ini merupakan masa penjajahan Belanda dan Jepang, para siswa didiik untuk mengabdi
emi kepentingan penjajah. Dalam situasi seperti ini, upaya bimbingan dikerahkan. Bangsa
Indonesia berusaha untuk memperjuangkan kemajun bangsa Indonesia melalui pendidikan.
Salah satunya adalah taman siswa yang dipelopori oleh K.H. Dewantara yang menanamkan
nasionalisme di kalangan para siswanya. Dari sudut pandang bimbingan, hal tersebut pada
hakikatnya adalah dasar bagi pelaksanaan bimbingan.
Dekade 40-an
Dalam bidang pendidikan, pada decade 40-an lebih banyak ditandai dengan perjuangan
merealisasikan kemerdekaan melalui pendidikan. Melalui pendidikan yang serba darurat
mkala pada saat itu di upayakan secara bertahap memecahkan masalah besar anatara lain
melalui pemberantasan buta huruf. Sesuai dengan jiwa pancasila dan UUD 45. Hal ini
pulalaah yang menjadi focus utama dalam bimbingan pada saat itu.
Dekade 50-an
Bidang pendidikan menghadapi tentangan yang amat besar yaitu memecahkan masalah
kebodohan dan keterbelakangan rakyat Indonesia. Kegiatan bimbingan pada masa dekade ini
lebih banyak tersirat dalam berbagai kegiatan pendidikan dan benar benar menghadapi
tantangan dalam membantu siswa disekolah agar dapat berprestasi.
Dekade 60-an
Beberapa peristiwa penting dalam pendidikan pada dekade ini :
Ketetapan MPRS tahun 1966 tentang dasar pendidikan nasional
Lahirnya kurikulum SMA gaya Baru 1964
Lahirnya kurikulum 1968
Lahirnya jurusan bimbingan dan konseling di IKIP tahun 1963
Keadaan dia tas memberikan tantangan bagi keperluan pelayanan bimbinga dan konseling
disekolah.
Dekade 70-an
dalam dekade ini bimbingan di upayakan aktualisasi nya melalui penataan legalitas sistem,
dan pelaksanaannya. Pembangunan pendidikan terutama diarahkan kepada pemecahan
masalah utama pendidikan yaitu : (1) Pemerataan kesempatan belajar, (2) mutu, (3)

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Relevansi, dan (4) efisiensi. Pada dekade ini, bimbingan dilakukan secara konseptual,
maupun secara operasional. Melalui upaya ini semua pihak telah merasakan apa, mengapa,
bagaimana, dan dimana bimbingan dan konseling.
Dekade 80-an
Pada dekade ini, bimbingan ini diupayakan agar mantap. Pemantapan terutama diusahakan
untuk menuju kepada perwujudan bimbingan yang professional. Dalam dekade 80-an
pembangunan telah memasuki Repelita III, IV, dan V yang ditandai dengan menuju lepas
landas.
Beberapa upaya dalam pendidikan yang dilakukan dalam dekade ini:
Penyempurnaan kurikulum
Penyempurnaan seleksi mahasiswa baru
Profesionalisasi tenaga pendidikan dalam berbagai tingkat dan jenis
Penataan perguruan tinggi
Pelaksnaan wajib belajar
Pembukaan universitas teruka
Ahirnya Undang Undang pendidikan nasional
Beberapa kecenderungan yang dirasakan pada masa itu adalah kebutuhan akan
profesionalisasi layanan, keterpaduan pengelolaan, sistem pendidikan konselor, legalitas
formal, pemantapan organisasi, pengmbangan konsep konsep bimbingan yang berorientasi
Indonesia, dsb.
Meyongsong era Lepas landas
Era lepas landas mempunyai makna sebagai tahap pembangunan yang ditandai dengan
kehidupan nasional atas kemampuan dan kekuatan sendiri khususnya dalam aspek ekonomi.
Cirri kehidupan lepas landas ditandai dengan keberadaan dan berkembang atas dasar
kekuatan dan kemampuan sendiri, maka cirri manusia lepas landas adalah manusia yang
mandiri secara utuh dengan tiga kata kunci : mental, disiplin, dan integrasi nasional yang
diharapkan terwujud dalam kemampuannya menghadapi tekanan tekanan zaman baru yang
berdasarkan peradaban komunikasi informasi.
Bimbingan berdasarkan pancasila
Bimbingan mempunyai peran yang amat penting dan strategis dalam perjalanan bangsa
Indonesia secara keseluruhan. Manusia Indonesia yang dicita-citakan adalah manusia
pancasila dengan cirri-ciri sebagaimana yang terjabar dalam P-4 sebanyak 36 butir bagi
bangsa Indonesia, pancasila merupakan dasar Negara, pandangan hidup, kepribadian bangsa
dan idiologi nasional. Sebagai bangsa, pancasila menuntut bangsa Indonesia mampu
menunjukkan ciri-ciri kepribadiannya ditengah-tengah pergaulan dengan bangsa lain.
Bimbingan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan dan mempunyai tanggung
jawab yang amat besar guna mewujudkan manusia pancasila karena itu seluruh kegiatan
bimbingan di Indonesia tidak lepas dari pancasila.
Sejarah bimbingan dan konseling di Dunia Internasional
Sampai awal abad ke-20 belum ada konselor disekolah. Pada saat itu pekerjaanpekerjaan konselor masih ditangani oleh para guru.
Gerakan bimbingan disekolah mulai berkembang sebagai dampak dari revolusi
industri dan keragaman latar belakang para siswa yang masuk kesekolah-sekolah negeri.
Tahun 1898 Jesse B. Davis, seorang konselor di Detroit mulai memberikan layanan konseling
pendidikan dan pekerjaan di SMA. Pada tahun 1907 dia memasukkan program bimbingan di
sekolah tersebut.

Pada waktu yang sama para ahli yang juga mengembangkan program bimbingan ini
diantaranya; Eli Weaper, Frank Parson, E.G Will Amson, Carlr. Rogers.
Eli Weaper pada tahun 1906 menerbitkan buku tentang memilih suatu karir dan
membentuk komite guru pembimbing disetiap sekolah menengah di New York. Kamite
tersebut bergerak untuk membantu para pemuda dalam menemukan kemampuan-kemampuan
dan belajar tentang bimbingan menggunakan kemampuan-kemampuan tersebut dalam rangka
menjadi seorang pekerja yang produktif.
Frank Parson dikenal sebagai Father of The Guedance Movement in American
Education. Mendirikan biro pekerjaan tahun 1908 di Boston Massachussets, yang bertujuan
membantu pemuda dalam memilih karir uang didasarkan atas proses seleksi secara ilmiyah
dan melatih guru untuk memberikan pelayanan sebagai koselor.
Bradley (John J.Pie Trafesa et. al., 1980) menambah satu tahapan dari tiga tahapan
tentang sejarah bimbingan menurut Stiller, yaitu sebagai berikut:
1) Vocational exploration : Tahapan yang menekankan tentang analisis individual dan pasaran
kerja
2) Metting Individual Needs : Tahapan yang menekankan membantu individu agar meeting
memperoleh kepuasan kebutuhan hidupnya. Perkembangan BK pada tahapan ini dipengaruhi
oleh diri dan memecahkan masalahnya sendiri.
3) Transisional Professionalism : Tahapan yang memfokuskan perhatian kepada upaya
profesionalisasi konselor
4) Situasional Diagnosis : Tahapan sebagai periode perubahan dan inovasi pada tahapan ini
memfokuskan pada analisis lingkungan dalam proses bimbingan dan gerakan cara-cara yang
hanya terpusat pada individu.
-

Di Amerika Serikat
Bimbingan dimulai pada abad 20 di amerika dengan didirikannya suatu vocational bureau
tahun 1908 oleh Frank Parsons yang utuk selanjutnya dikenal dengan nama the father of
guidance yang menekankan pentingnya setiap individu diberikan pertolongan agar mereka
dapat mengenal atau memahami berbagai perbuatan dan kelemahan yang ada pada dirinya
dengan tujuan agar dapat dipergunakan secara intelijensi denga memilih pekerjaan yang
terbaik yang tepat bagi dirinya.
Menurut Arthur E. Trax and Robert D North, dalam bukunya yang berjudul Techniques of
Guidance, (1986), disebutkan beberapa kejadian penting yang mewarnai sejarah bimbingan
diantaranya :
1. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
Timbul suatu gerakan kemanusiaan yang menitik beratkan pada kesejahteraan manusia dan
kondisi sosialnya. Geraka ini membantu vocational bureau Parsons dalam bidang keungan
agar dapat menolong anak-anak muda yang tidak dapat bekerja dengan baik.
2. Agama
Pada rohaniman berpandangan bahwa dunia adalah dimana ada pertentangan yang secara
terus menerus antara baik dan buruk.
3. Aliran kesehatan mental
Timbul dengan tujuan perlakuan yang manusiawi terhadap penderita penyakit jiwa dan
perhatian terhadap berbagai gejala, tingkat penyakit jiwa, pengobatan, dan pencegahannya,
karna ada suatu kesadaran bahwa penyakit ini bias diobati apabila ditemukan pada tingkat

yang lebih dini. Gerakan ii mendorong para pendidik untuk lebih peka terhadap masalahmasalah gangguan kejiwaan, rasa tidak aman, dan kehilangan identitas diantra anak-anak
muda.
4. Perubahan dalam masyarakat
Akibat dari perang dunia 1 dan 2, pengangguran, depresi, perkembangan IPTEK, wajib
belajar, mendorong beribu-ribu anak untuk masuk sekolah tanpa mengetahui untuk apa
mereka bersekolah. Perubahan masyarakat semacam ini mendorong para pendidik untuk
memperbaiki setiap anak sesuai dengan kebutuhannya agar mereka dapat menyelesaikan
pendidikannya dengan berhasil.
5. Gerakan mengenal siswa sebagai individu
Gerakan ini erat sekali kaitannya dengan gerakan tes pengukuran. Bimbingan diadakan di
sekolah disebabkan tugas sekolah untuk mengenal atau memahami siswa-siswanya secara
individual. Karena sulitnya untuk mengenal atau memahami siswa secara individual atau
pribadi, maka diciptakanlah berbagai teknik dan instrument diantaranya tes psikologis dan
pengukuran.

Sejarah lahirnya Bimbingan dan Konseling di Indonesia diawali dari dimasukkannya


Bimbingan dan Konseling (dulunya Bimbingan dan Penyuluhan) pada setting sekolah.
Pemikiran ini diawali sejak tahun 1960. Hal ini merupakan salah satu hasil Konferensi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (disingkat FKIP, yang kemudian menjadi IKIP) di
Malang tanggal 20 24 Agustus 1960.
Perkembangan berikutnya tahun 1964 IKIP Bandung dan IKIP Malang mendirikan jurusan
Bimbingan dan Penyuluhan. Tahun 1971 beridiri Proyek Perintis Sekolah Pembangunan
(PPSP) pada delapan IKIP yaitu IKIP Padang, IKIP Jakarta, IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta,
IKIP Semarang, IKIP Surabaya, IKIP Malang, dan IKIP Menado. Melalui proyek ini
Bimbingan dan Penyuluhan dikembangkan, juga berhasil disusun Pola Dasar Rencana dan
Pengembangan Bimbingan dan Penyuluhan pada PPSP. Lahirnya Kurikulum 1975 untuk
Sekolah Menengah Atas didalamnya memuat Pedoman Bimbingan dan Penyuluhan.
Tahun 1978 diselenggarakan program PGSLP dan PGSLA Bimbingan dan Penyuluhan di
IKIP (setingkat D2 atau D3) untuk mengisi jabatan Guru Bimbingan dan Penyuluhan di
sekolah yang sampai saat itu belum ada jatah pengangkatan guru BP dari tamatan S1 Jurusan
Bimbingan dan Penyuluhan. Pengangkatan Guru Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah
mulai diadakan sejak adanya PGSLP dan PGSLA Bimbingan dan Penyuluhan. Keberadaan
Bimbingan dan Penyuluhan secara legal formal diakui tahun 1989 dengan lahirnya SK
Menpan No 026/Menp an/1989 tentang Angka Kredit bagi Jabatan Guru dalam lingkungan
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Di dalam Kepmen tersebut ditetapkan secara resmi
adanya kegiatan pelayanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah. Akan tetapi pelaksanaan di
sekolah masih belum jelas seperti pemikiran awal untuk mendukung misi sekolah dan
membantu peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan mereka.

Sampai tahun 1993 pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah tidak jelas,
parahnya lagi pengguna terutama orang tua murid berpandangan kurang bersahabat dengan
BP. Muncul anggapan bahwa anak yang ke BP identik dengan anak yang bermasalah, kalau
orang tua murid diundang ke sekolah oleh guru BP dibenak orang tua terpikir bahwa anaknya
di sekolah mesti bermasalah atau ada masalah. Hingga lahirnya SK Menpan No. 83/1993
tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya yang di dalamnya termuat aturan
tentang Bimbingan dan Konseling di sekolah. Ketentuan pokok dalam SK Menpan itu
dijabarkan lebih lanjut melalui SK Mendikbud No 025/1995 sebagai petunjuk pelaksanaan
Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Di Dalam SK Mendikbud ini istilah
Bimbingan dan Penyuluhan diganti menjadi Bimbingan dan Konseling di sekolah dan
dilaksanakan oleh Guru Pembimbing. Di sinilah pola pelaksanaan Bimbingan dan
Konseling di sekolah mulai jelas.

Read more: Sejarah Lahirnya Bimbingan dan Konseling


http://belajarpsikologi.com/sejarah-lahirnya-bimbingan-dan-konseling/

Sejarah Perkembangan Bimbingan Dan Konseling Di Indonesia

A. Latar balakamg BK
Istilah bimbingan konseling yang pada awalnya muncul dari suatu kebutuhan yang dirasakan
seorang mantan mahasiswa Yale yang memiliki ganguan mental, akhirnya berkembang hingga
munculnya teori-teori pendekatan untuk mengatasi permasalahan ganguan mental. Namun dengan
seiring kemajuan zaman,ada perkembangan arah pendekatan tersebut ke arah pembinaan
perkawinan/keluarga dan vokasional, ini terlihat jelas setelah PD II. Mulai tahun 1930-an hingga 1950an bermunculan organisasi yang membawahi bimbingan konseling ini dan juga pendekatanpendekatan konseling yang ditemukan beberapa ahli. Sekitar tahun 1950-1960-an, kementrian
pendidikan, melakukan studi banding ke Amerika. Disana dijumpai bahwa disetiap sekolah terdapat
layanan konseling, yang ditangani oleh tenaga Konselor. Setelah kembali ke Indonesia, hal tersebut
dituangkan dalam kurikulum Pendidikan Nasional. Di tahun yang sama itulah juga bimbingan konseling
mulai berkembang di Indonesia yang dipelopori oleh Prof. Dr. Slamet Imam Santoso yang
mengembangkan ilmu Psikologi di Universitas Indonesia.
B. BK di Indonesia

Sejarah lahirnya Bimbingan dan Konseling di Indonesia diawali dari dimasukkannya Bimbingan
dan Konseling (dulunya Bimbingan dan Penyuluhan) pada setting sekolah. Pemikiran ini diawali sejak
tahun 1960. Hal ini merupakan salah satu hasil Konferensi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
(disingkat FKIP, yang kemudian menjadi IKIP) di Malang tanggal 20 &; 24 Agustus 1960.
Perkembangan berikutnya tahun 1964 IKIP Bandung dan IKIP Malang mendirikan jurusan Bimbingan
dan Penyuluhan.
Tahun 1971 beridiri Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) pada delapan IKIP yaitu IKIP
Padang, IKIP Jakarta, IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, IKIP Semarang, IKIP Surabaya, IKIP Malang,
dan IKIP Menado. Melalui proyek ini Bimbingan dan Penyuluhan dikembangkan, juga berhasil disusun
Pola Dasar Rencana dan Pengembangan Bimbingan dan Penyuluhan pada PPSP. Lahirnya Kurikulum
1975 untuk Sekolah Menengah Atas didalamnya memuat Pedoman Bimbingan dan Penyuluhan.
Kurikulum 1975 berisi layanan Bimbingan dan Konseling sebagai salah satu dari wilayah
layanan dalam sistem persekolahan mulai dari jenjang SD sampai dengan SMA, yaitu pembelajaran
yang didampingi layanan Manajemen dan Layanan Bimbingan dan Konseling. Pada tahun 1976,
ketentuan yang serupa juga diberlakukan untuk SMK. Dalam kaitan inilah, dengan kerja sama Jurusan
Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Malang, pada tahun 1976 Direktorat
Pendidikan Menengah Kejuruan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan
pelatihan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling untuk guru-guru SMK yang
ditunjuk. Tindak lanjutnya memang tidak diketahui perkembangannya, karena para kepala SMK kurang
memberikan ruang gerak bagi alumni pelatihan Bimbingan dan Konseling tersebut untuk
menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling sekembalinya mereka ke sekolah masingmasing. Dan dengan penetapan jurusan yang telah pasti sejak kelas I SMK, memang agak terbatas
ruang gerak yang tersisa, misalnya untuk melaksanakan layanan bimbingan karier.
Meskipun ketentuan perundang-undangan belum memberikan ruang gerak, akan tetapi karena
didorong oleh keinginan kuat untuk memperkokoh profesi konselor, maka dengan diplopori oleh para
pendidik konselor yang bertugas sebagai tenaga akademik di beberapa LPTK, pada tanggal 17
Desember 1975 di Malang didirikanlah Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI), yang menghimpun
konselor lulusan Program Sarjana Muda dan Sarjana yang bertugas di sekolah dan para pendidik
konselor yang bertugas di LPTK, di samping para konselor yang berlatar belakang bermacam - macam
yang

secara

de

facto

bertugas

sebagai

guru

pembimbing

di

lapangan.

Ketika ketentuan tentang Akta Mengajar diberlakukan, tidak ada ketentuan tentang Akta Konselor.
Oleh karena itu, dicarilah jalan ke luar yang bersifat ad hoc agar konselor lulusan program studi
Bimbingan dan Konseling juga bisa diangkat sebagai PNS, yaitu dengan mewajibkan mahasiswa
program S-1 Bimbingan dan Konseling untuk mengambil program minor sehingga bisa mengajarkan 1

bidang studi. Dalam hal itu IPBI tetap mengupayakan kegiatan peningkatan profesionalitas anggotanya
antara lain dengan menerbitkan Newsletter sebagai wahana komunikasi profesional meskipun tidak
mampu terbit secara teratur, di samping mengadakan pertemuan periodik berupa konvensi dan
kongres.
Untuk jenjang SD, pelayanan bimbingan dan konseling belum terwujud sesuai dengan
harapan, dan belum ada konselor yang diangkat di SD, kecuali mungkin di sekolah swasta tertentu,
tetapi pelaksanaan bimbingan dilakukan secara inplisit dalam program pendidikan. Untuk jenjang
sekolah menengah, posisi konselor diisi seadanya termasuk, ketika SPG di-phase out mulai akhir
tahun 1989, sebagian dari guru-guru SPG yang tidak diintegrasikan ke lingkungan LPTK sebagai
dosen Program D-II PGSD, juga ditempatkan sebagai guru pembimbing, umumnya di SMA.
Di awal tahun 1960, muncul tenaga konselor di SD, yang kemudian pada tahun 1975,
berdasarkan hukum publik 94-145, Pemerintah Amerika,menyediakan dana khusus untuk melayani
anak-anak penyandang cacat,sehingga banyak daerah yang memasukkan tenaga Konselor di sekolahsekolah terutama tingkat dasar dan menengah.Pengaruh kuat lainnya datang dari organisasi profesi,
yaitu: Asosiasi Konseling Amerika (ACA),Asosiasi Konselor Sekolah Amerika (ASCA), dan Asosiasi
Pendidikan Konselordan Supervisi (ACES) (Wittmer, 1993). Para anggota organisasi ini berupaya
menggerakkan para profesional untuk mengembangkan aturan-aturan seperti program akreditasi dan
sertifikasi. Sehingga secara berangsur-angsur konseling sekolah menjadi lebih profesional, dan utuh
baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat.
Dengan diberlakukannya Kurikulum 1994, mulailah ada ruang gerak bagi layanan ahli bimbingan
dan konseling dalam sistem persekolahan di Indonesia, sebab salah satu ketentuannya adalah
mewajibkan tiap sekolah untuk menyediakan 1 (satu) orang konselor untuk setiap 150 (seratus lima
puluh) peserta didik, meskipun hanya terealisasi pada jenjang pendidikan menengah.
Sejumlah hal dilakukan sebagai konsolidasi profesi sedhingga Bimbingan dan konseling menjadi
profesi yang utuh dan berwibawa antara lain kata penyuluhan menjadi konseling, BK di sekolah
hanya dilakukan oleh guru Pembimbing, dan lain sebagainya. Pada tahun 2001 dalam kongres di
Lampung Ikatan Pertugas Bimbingan Indonesia (IPBI) berganti nama menjadi Asosiasi Bimbingan dan
Konseling Indonesia (ABKIN).
C. Landasan Pelaksanaan Bimbingan Konseling
Dalam perjalanan dan perkembangan di Indinesia Bimbingan dan konseling dilaksanakan
berdasarkan aturan yang mengarah kepada pertumbuhan BK menjadi suatu profesi yang sejajar
dengan profesi lainya. Kendatipun dalam pelaksanaannya mengalami pasang surut, namun legalitas
BK terus di perjuangkan terutama dalam seting pendidikan. Secara juridis dalam sejara perkembangan
bimbingan konseling di lakukan antara lain berdasarkan;

1.

Ketetapan MPRS Tahun 1966 tentang Dasar Pendidikan Nasional

2.

SK Menpan No. 026/ Menpan /1989. Yang merupakan angin segar bagi pelaksanaan BK

3.

SK Menpan 1993 tentang jabatan fungsional guru dan angka kredit yang menyangkut aturan
bimbingan dan konseling di Indonesia

4.

Sk Mendikbud No. 025/1995 tentang petunjuk jabatan fungsional guru dan anka kredit secara
substansial menyangkut bimbingan konseling.
http://paul-arjanto.blogspot.com/2011/06/sejarah-perkembangan-bimbingan-dan.html

SEJARAH BIMBINGAN DAN KONSELING DI DUNIA


SEJARAH BIMBINGAN DAN KONSELING Pemikiran-pemikiran mengenai bimbingan
dan konseling memang sudah ada sejak jaman Yunani kuno. Karena ketertarikannya pada
pemahaman psikologis individu, Plato dianggap sebagai konselor Yunani kuno saat itu.
Kemudian menyusultokoh-tokoh lain seperti Aristoteles, Hippocrates, dan para dokter (tabib)
yang jugamenaruh perhatian terhadap bidang psikologi. Namun, gerakan bimbingan dan
konseling di sekolah mulai berkembangsekitar permulaan abad ke-20 sebagai dampak dari
revolusi industri. Tepatnya tahun1908-1909 yang merupakan periode dasar-dasar ilmiah
bimbingan dan konselingdiletakkan oleh beberapa ahli ilmu jiwa dan pendidikan. Masalah
bimbingan dankonseling di Amerika Serikat telah mulai dirintis sejak tahun 1887. Di
AmerikaSerikat, gerakan bimbingan dan konseling dipelopori oleh tokoh-tokoh berikut: 1. Eli
Weaper, pada tahun 1906 menerbitkan buku Memilih Suatu Karirdan membentuk komite
guru pembimbing di setiap sekolah menengah di New York. Komite tersebut bergerak untuk
membantu siswa dalammenemukan kemampuan-kemampuan dan belajar tentang
bimbinganmenggunakan kemampuan-kemampuan tersebut dalam rangka menjadiseorang
pekerja yang produktif. 2. Jesse B. Davis, seorang konselor sekolah di Detroit mulai
memberikanlayanan konseling pendidikan dan pekerjaan di SMA pada tahun 1898.Pada
tahun 1907, dia diangkat menjadi kepala SMA di Grand Rapids,Michigan, dan memasukkan
program bimbingan di sekolah tersebut.Tujuan dari program bimbingan tersebut adalah untuk
membantu siswaagar mampu (a) mengembangkan karakternya yang baik sebagai asset
bagisetiap siswa dalam rangka merencanakan, mempersiapkan, dan memasukidunia kerja; (b)
mencegah dirinya dari perilaku bermasalah; dan(c)menghubungkan minat pekerjaan dengan
kurikulum 3. Frank Parson, dikenal sebagai Father of The Guidance Movement in American
Education. Dia mendirikan biro pekerjaan pada tahun 1908 diBoston Massachussets, yang
bertujuan membantu siswa dalam memilih karir yang didasarkan atas proses seleksi secara
alamiah dan melatih guruuntuk memberikan pelayanan sebagai konselor. Dialah yang
mengemukakan istilah atau pengertian tentang vocational guidance. Dia pulayang
mengusulkan agar masalah vocational guidance dimasukkan dalamkurikulum sekolah.4. 4. E.
G. Williamson, pada akhir tahun 1930 dan awal tahun 1940 menulis buku How to Counsel
Students: A manual of Techniques for Clinical Counselors. Model bimbingan sekolah yang
dikembangkan oleh Williamson terkenal dengan nama trait and factor (directive) guidance.
Dalam model ini, para konselor menggunakan informasi untuk membantusiswa dalam
memecahkan masalahnya, khususnya dalam bidang pekerjaandan penyesuaian interpersonal.
Peranan konselor bersifat direktif denganmenekankan pada mengajar keterampilan dan

membentuk sikap dan tingkah laku. 5. Carl R. Rogers, mengembangkan teori konseling
client-centered, yangtidak terfokus kepada masalah, tetapi sangat mementingkan
hubunganantara konselor dengan kliennya. Pendekatan atau teori konseling Rogersini
terangkum dalam dua bukunya, yaitu Counseling and Psychotherapy (1942) dan ClientCentered Therapy (1951). Selama tahun 1960, 1970, dan 1980-an, telah terjadi perkembangan
dalam peran dan fungsi konselor sekolah berikut program-programnya. Perkembangan
tersebut meliputi: (a) pengembangan, penerapan, dan evaluasi program
bimbingankomprehensif; (b) pemberian layanan konseling secara langsung kepada para
siswa,orang tua, dan guru; (c) perencanaan pendidikan dan pekerjaan; (d) penempatansiswa;
(e) layanan referral, rujukan; dan (f) konsultasi dengan guru-guru, tenagaadministrasi, dan
orang tua. Khusus menyangkut peran konselor di sekolah dasar,Joint Committee on
Elementary School Counselor mengklasifikasikannya menjaditiga peran, yaitu: konseling,
konsultasi, dan koordinasi.
http://dwiayuindaswarynhb.blogspot.com/2012/04/sejarah-bimbingan-dan-konseling-di.html

BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian bimbingan dan konseling dalam pendidikan
Bimbingan di definisikan dalam beratus-ratus secara umum , bimbingan di
anggap sebagai sebuah usaha untuk membantu orang dalam memahami dirinya
sendiri dan dunia tentang dirinya atau sebagai sebuah usaha untuk mencapai
realisasi diri maksimal individu.
Secara konseptual bimbingan melihat melibatkan sebuah sudut pandang
dalammembantu seseorang sebagai sebuah konstruk pendidikan ,bimbingan
adalah wilayah pengalaman yang membantu siswa agar mampu membantu
dirinya sendiri dan sebagi sebuah layanan ,bimbingan adalh prosedur yang
terorganisir untuk mencapai sebuah hubungan yang saling membantu.untuk
memperoleh pengertian yang jelas tentang bimbingan berikut di kutipkan
pengertian bimbingan (guidance) menurut beberapa sumber year book of
education menyatakn bahwa :
guidance is a process of helping idividual through their own effort to discover in
developing their potentialisties both forpersonal happiness and social
usefulness
bimbingan adalah proses bantuan antara individu untuk mencapai pemahaman
diri dan pengaruh diri sendiri yang dibutuhkan untuk penyesuaian diri
secaramaksimum kepada sekolah ,keluarga serta masyarakat
sedangkan rogers conseling is series of direct contants with the individual with
aims to offer him assistance in changing his attitude and behaviour
konseling adalah serangkaian kontak atau hubungan bantuan langsung dengan
individu dengan bertujuan memberikan bantuan kepadanya dalam mengubah
sikap dan tingkah lakunya.
B.Bimbingan dan Konseling sebagai bagian integral dalam sistem pendidikan
Bimbingan merupakan bagian integral dari proses pendidikan dan memeiliki

kontribusi terhadap keberhasilan proses pendidikan di sekolah (juntika ,2005)


berdasarkan pernyataan di atas dapat di pahami bahwa proes pendidkan di
sekolah termasuk madrasah tidak akan berhasil secara baik apabila tidak di
dukung dengan penyelenggaraan secara baik pula.
Lembaga pendidkan memiliki tanggung jawab yang besar membantu siswa agar
berhasil dalam belajar , untuk itu sekolah dan madrasah hendaknya meberikan
bantuanpada siswa untuk mengatasi masalah masalah yang timbul dalam
kegiatan belaar siswa dalam kondisi seperti ini pelayanan bimbingan dan
konselng lembaga pendididikan sangat penting untuk dilaksanakan guna
membantu siswa mengatasi beberapa masalah yang di hadapinya
Konseling sebagai bagian integral dari sistem pendidikan di sekolah memiliki
peranan
3
penting berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Pendidikan
dapat memanfaatkan konseling sebagai mitra kerja dalam melaksanakan
tugasnya sebagai rangkaian upaya pemberian bantuan (Dahlan,1988:22).
Konseling menyediakan unsur-unsur di luar individu yang dapat dipergunakan
untuk memperkembangkan diri (Crow & Crow, 1960). Mengacu kepada
pernyataan tersebut, dalam arti luas konseling dapat dianggap sebagai bentuk
upaya pendidikan, dan dalam arti sempit konseling dapat dianggap sebagai
teknik yang memungkinkan individu menolong dirinya sendiri. Perkembangan
dan kemandirian individu dipentingkan dalam proses konseling yang sekaligus
merupakan proses pdndidikan. Untuk dapat berkembang dengan baik dan
mandiri, individu memerlukan pengetahuan dan keterampilan, jasmani dan
rohani yang sehat, serta kemampuan penerapan nilai dan norma-norma hidup
kemasyarakatan.
Integrasi konseling dalam pendidikan juga tampak dari dhmasukkannya secara
terus menerus program-program konseling ke dalam program-program sekolah
(Belkin,1975; Borbers & Drury,1992); konsep-konsep dan praktek-praktek
konseling merupakan bagian integral upaya pendidikan (Mortensen &
Schmuller,1964). Kegiatan konseling akan selalu terkait dengan pendidikan,
karena keberadaan konseling dalam pendidikan merupakan konsekuensi logis
dari upaya pendidikan itu sendiri. Konseling merupakan proses yang menunjang
pelaksanaan pendidikan di sekolah (Rochman Natawidjaja, 1978:30), karena
program-program konseling meliputi aspek-aspek tugas perkembangan individu,
khususnya menyangkut kawasan kematangan pendidikan dan karir, kematangan
personal dan emosional, serta kematangan sosial. Hasil-hasil konseling pada
kawasan itu menunjang keberhasilan pendidikan yang bermutu pada umumnya.
Dalam keadaan tertentu konseling dapat dipergunakan sebagai metode dan alat
untuk mencapai tujuan program pendidikan di sekolah.
Secara umum masalah masalah yang di hadapi oleh individu khususnya oleh
siswa dalam sekolah atau madrasah dalam pendidikannya sehingga memerlukan
pelayanan bimbingan dan konseling adalah:
1.Masalah masalah pribadi
2.Masalah belajar (masalah yang menyangkut dalam pembelajaran)
3.Masalah pendidikan
4.Masalah karier dan pekerjaan

5.Penggunaan waktu senggang


dan sebagainya.
Praktek di dalam sistem pendidikan ,bimbingan dan konseling sesungguhnya
tidak terpisah apalagi jika kita pahami bahwa konseling merupakan salah satu
teknik bimbingan .selain itu integrasi antar bimbingan dan konseling dapat kita
ketahui dari pernyataan bahwa ketika seseorang
4
sedang melakukan konseling berarti ia sedang memberikan bimbingan oleh
sebab itu perlu kiranya di rumuskan atau dikonsepsikan pengertian bimbingan
dan konseling secara terintregasi.
Konseling yang dilakukan oleh konselor sebagai bentuk upaya pendidikan,
karena kegiatan konseling selalu terkait dengan pendidikan dan keberadaan
konseling di dalam pendidikan merupakan konsekuensi logis dari upaya
pendidikan itu sendiri. Dahlan (1988:22) menyatakan bahwa konseling tidak
dapat lepas dan melepaskan diri dari keseluruhan rangkaian pendidikan..
Konseling sebagai upaya pendidikan memberikan perhatian pada proses, yaitu
cenderung memperhatikan tugasnya sebagai rangkaian upaya pemberian
bantuan pada anak mencapai suatu tingkat kehidupan yang berdasarkan
pertimbangan normative, antropologis (memperhatian anak selaku manusia) dan
sosio kultural. Dengan demikian, konseling tidak mungkin melepaskan diri dari
keseluruhan rangkaian pendidikan.
Secara fungsional, konseling sangat signifikan sebagai salah satu upaya
pendidikan untuk membantu individu memperkembangkan diri secara optimal
sesuai dengan tahap-tahap perkembangan dan tuntutan lingkungan. Konseling
membantu individu untuk menjadi insan yang berguna dalam kehidupan yang
memiliki berbagai wawasan, pandangan, interpretasi, pilihan, penyesuaian, dan
keterampilan yang tepat berkenanaan dengan diri sendiri dan lingkungan.
Konseling merupakan proses yang menunjang pelaksanaan program pendidikan
di sekolah, karena program-program konseling meliputi aspek-aspek
perkembangan individu, khususnya menyangkut kawasan kematangan
pendidikan, kematangan karir, kematangan persona dan emosional, serta
kematangan sosial. Hasil konseling dalam kawasan ini menunjang keberhasilan
pendidikan umumnya.
Pendidikan sebagai proses interaksi, selalu berhadapan dengan kepribadian
manusia yang sedang berkembang dalam proses menjadi. Pendidikan bertugas
membantu manusia mencapai tingkat perkembangan yang lebih tinggi, dan
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Pendidikan merupakan proses yang bersifat individual sehingga strategi
pendidikan harus dilengkapi dengan strategi khusus yang lebih intensif dan
menyentuh dunia kehidupan secara individual. Strategi ini dapat memperhalus,
menginternalisasi, dan mengintegrasikan sistem nilai dan pola perilaku yang
dipelajari lewat proses pendidikan secara umum (Kartadinata,1987:104). Bentuk
strategi khusus ini dapat ditemukan dalam kegiatan konseling baik konseling
individual maupun kelompok yang dilakukan oleh konselor

profesional yang mempunyai kemampuan untuk mewujudkan tujuan.


5
Intervensi konseling dalam merealisasikan fungsi pendidikan akan terarah
kepada upaya membantu individu yang dapat dilakukan melalui konseling untuk
memperhalus, menginternalisasi, memperbaharui dan mengintegrasikan sistem
nilai dan pola perilaku yang mandiri. Dalam proses konseling amat mungkin
diperlukan dan digunakan berbagai metode dan teknis psikologis untuk
memahami dan mempengaruhi perkembangan perilaku individu, dengan tetap
berstandar dan terarah kepada pengembangan manusia sesuai dengan hakikat
eksistensinya.
Hakikat manusia dengan segenap dimensi kehidupan manusia yang perlu
dikembangkan, yaitu dimensi spiritual dan psikologis, sosio-emosional, fisik,
serta segenap tujuan dan tugas kehidupan menjadi landasan bagi konsepsi dan
penyelenggaraan konseling. Manusia adalah segala-galanya bagi pelayanan
konseling. Ini berarti bahwa hakikat tujuan konseling harus bertolak dari sistem
nilai dan kehidupan yang menjadi rujukan manusia yang ada dalam sistem
kehidupan tersebut. Teori dan konsep konseling yang didasarkan pada sistem
kehidupan sosial dan budaya tertentu belum tentu berlaku bagi sistem
kehidupan sosial dan budaya lain, untuk itu diperlukan perspektif sosiologis
tentang hakikat tujuan konsling dan kehidupan individu yang hendak dilayani.
Keberadaan konseling dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia dijalani
melalui proses panjang sejak kurang lebih 48 tahun yang lalu. Pada saat ini
keberadaan pelayanan konseling dalam setting pendidikan, khususnya
persekolahan, telah memiliki legalitas yang kuat dan menjadi bagian terpadu
dari sistem pendidikan nasional. Pelayanan konseling telah mendapat tempat di
semua jenjang pendidikan mulai dari jenjang Taman Kanak-Kanak sampai
Perguruan Tinggi. Pengakuan ini terus mendorong perlunya tenaga profesional
yang secara khusus dipersiapkan untuk menyelenggarakan layanan konseling.
Secara eksplisit telah ditetapkannya:
1. Pelayanan bimbingan dan konseling sebagai salah satu layanan pendidikan
yang harus diperoleh semua peserta didik telah termuat dalam Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 89 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional
dan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar dan
Nomor 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah.
2. Konselor sebagai salah satu jenis tenaga kependidikan dalam UndangUndang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Pada Bab I pasal 1 butir 6 dinyatakan bahwa pendidik adalah tenaga
kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar,
widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan
kekhususannya, serta berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan.
3. Pelayanan konseling yang merupakan bagian dari kegiatan pengembangan
diri telah termuat
6
dalam struktur kurikulum yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar isi untuk
Satuan Pendidikan Dasar Menengah.
4. Beban kerja Guru bimbingan dan konseling atau konselor pada Pasal 54 ayat

(6) Peraturan Pemerintah republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru
yang menyatakan bahwa beban kerja Guru bimbingan dan konseling atau
konselor yang memperoleh tunjangan profesi dan maslahat tambahan adalah
mengampu bimbingan dan konseling paling sedikit 150 (seratus lima puluh)
peserta didik per tahun pada satu atau lebih satuan pendidikan. Lebih lanjut
dalam penjelasan Pasal 54 ayat (6) yang dimaksud dengan mengampu layanan
bimbingan dan konseling adalah pemberian perhatian, pengarahan,
pengendalian, dan pengawasan kepada sekurang-kurangnya 150 (seratus lima
puluh) peserta didik, yang dapat dilaksanakan dalam bentuk pelayanan tatap
muka terjadwal di kelas dan layanan perseorangan atau kelompok bagi yang
dianggap perlu dan memerlukan.
5. Penilaian kinerja Guru bimbingan dan konseling (konselor) pada Pasal 22 ayat
(5) Peraturan bersama Menteri Pendidikan Nasional dan Kepala Badan
Kepegawaian Negara Nomor 03/V/PB/2010 dan Nomor 14 tahun 2010 tentang
petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya dinyatakan
bahwa penilaian kinerja Guru bimbingan dan konseling (konselor) dihitung secara
proporsional berdasarkan beban kerja wajib paling kurang 150 (seratus lima
puluh) orang siswa dan paling banyak 250 9dua ratus lima puluh) orang siswa
per tahun.
6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 27 Tahun
2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor, yang
menyatakan bahwa kualifikasi akademik konselor dalam satuan pendidikan pada
jalur pendidikan formal dan nonformal adalah: (i) sarjana pendidikan (S-1) dalam
bidang bimbingan dan konseling ; (ii) berpendidikan profesi konselor. Kompetensi
konselor meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi
sosial, dan kompetensi profesional, yang berjumlah 17 kompetensi dan 76 sub
kompetensi.
C.Hubungan BK sebagai kegiatan yang integral dalam sistem pendidikan
Istilah bimbingan (guidance) dan konseling (counseling) memiliki hubungan yang
sangat erat dan merupakan kegiatan yang integral dalam praktek sehari hari
dalam sistem pendidikan istilah bimbingan selalu digandengkan dengan istilah
konseling (guidance and counseling)
ada pihak pihak yang beranggapan bahwa tidak ada perbedaan yang prinsipil
antar bimbingan dan konseling atau keduanya memiliki makna yang identik
namun sementara ada pihak
7
yang yang berpendapat bahwa bimbingan dan konseling merupakan dua
pengertian yang berbeda baik dasar maupun cara kerjanya ,koseling atau
counseling dianggap identik dengan psychoteraphy yaitu usaha menolong orang
orang yang mengalami gangguan psikis yang serius ,sedangkan bimbingan
dianggap identik dengan pendidikan.
Sementara pihak lain ada yg berpendapat bahwa konseling merupakan salah
satu teknis pemberian layanan dalam bimbingan secara integral yaitu dengan
cara memberi layanan bimbingan dan merupakan inti dari integrasi pelayanan
bimbingan ,pendapat inilah yang nampaknya banyak di anut
Dengan demikian jelasah bahwa konseling adalah salah satu teknik pelayanan
bimbingan yang secara integral yaitu dengan cara memberikan bantuan secara

individual (face to face relationship). Bimbingan tanpa konseling ibarat


pendidikan tanpa pengajaran ,kalaulah ada perbedaan diantara keduanya
hanyalah terletak pada tingkatannya.
Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa bimbingan dan konseling adalah
identik dengan pendidikan hinggsekolah tidak perlu lagi bersusah payah
menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling, karena dianggap sudah
implisit dalam pendidikanitu sendiri. Cukup mantapkan saja pengajaran sebagai
pelaksanaan nyata dari pendidikan.Mereka sama sekali tidak melihat arti penting
bimbingan dan konseling di sekolah.Sementara ada juga yang berpendapat
pelayanan bimbingan dan konseling harus benar- benar terpisah dari pendidikan
dan pelayanan bimbingan dan konseling harus secaranyata dibedakan dari
praktik pendidikan sehari-hari.Walaupun guru dalam melaksanakan
pembelajaran siswa dituntut untuk dapat melakukankegiatan-kegiatan
interpersonal dengan para siswanya, namun kenyataan menunjukkan bahwa
masih banyak hal yang menyangkut kepentingan siswa yang tidak bisa dan
tidak mungkin dapat dilayani sepenuhnya oleh guru di sekolah melalui
pelayanan pengajaransemata, seperti dalam hal pelayanan dasar (kurikulum
bimbingan dan konseling), perencanaan individual, pelayanan responsif, dan
beberapa kegiatan khas Bimbingan danKonseling lainnya.Begitu pula, Bimbingan
dan Konseling bukanlah pelayanan eksklusif yang harus terpisahdari pendidikan.
Pelayanan bimbingan dan konseling pada dasarnya memiliki derajat dantujuan
yang sama dengan pelayanan pendidikan lainnya (baca: pelayanan
pengajarandan/atau manajemen), yaitu mengantarkan para siswa untuk
memperoleh perkembangandiri yang optimal. Perbedaan terletak dalam
pelaksanaan tugas dan fungsinya, dimanamasing-masing memiliki karakteristik
tugas dan fungsi yang khas dan berbeda.
Bimbingan dan Konseling merupakan bagian integral dari sistem pendidikan
nasional,
8
maka orientasi, tujuan dan pelaksanaan BK juga merupakan bagian dari
orientasi, tujuan dan pelaksanaan pendidikan karakter.Program Bimbingan dan
Konseling di sekolah merupakan bagian inti pendidikan karakter yang
dilaksanakan dengan berbagai strategi pelayanan dalam upaya
mengembangkan potensi peserta didik untuk mencapai kemandirian, dengan
memiliki karakter yang dibutuhkan saat ini dan masa depan. Pekerjaan
bimbingan dan konseling adalah pekerjaan berbasis nilai, layanan etis normatif,
dan bukan layanan bebas nilai. Seorang konselor perlu memahami betul hakekat
manusia dan perkembangannya sebagai makhluk sadar nilai dan
perkembangannya ke arah normatif-etis. Seorang konselor harus memahami
perkembangan nilai, namun seorang konselor tidak boleh memaksakan nilai
yang dianutnya kepada konseli (peserta didik yang dilayani), dan tidak boleh
meneladankan diri untuk ditiru konselinya, melainkan memfasilitasi konseli untuk
menemukan makna nilai kehidupannya. (Sunaryo, 2006)
9
BAB III

PENUTUP
Kesimpulan
Dari uraian tersebut maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
Bimbingan merupakan bagian integral dari proses pendidikan dan memeiliki
kontribusi terhadap keberhasilan proses pendidikan di sekolah (juntika ,2005)
berdasarkan pernyataan di atas dapat di pahami bahwa proes pendidkan di
sekolah termasuk madrasah tidak akan berhasil secara baik apabila tidak di
dukung dengan penyelenggaraan secara baik pula.
Konseling sebagai bagian integral dari sistem pendidikan di sekolah memiliki
peranan penting berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan di sekolah.
Pendidikan dapat memanfaatkan konseling sebagai mitra kerja dalam
melaksanakan tugasnya sebagai rangkaian upaya pemberian bantuan
(Dahlan,1988:22). Konseling menyediakan unsur-unsur di luar individu yang
dapat dipergunakan untuk memperkembangkan diri (Crow & Crow, 1960).
Mengacu kepada pernyataan tersebut, dalam arti luas konseling dapat dianggap
sebagai bentuk upaya pendidikan, dan dalam arti sempit konseling dapat
dianggap sebagai teknik yang memungkinkan individu menolong dirinya sendiri.
Perkembangan dan kemandirian individu dipentingkan dalam proses konseling
yang sekaligus merupakan proses pdndidikan. Untuk dapat berkembang dengan
baik dan mandiri, individu memerlukan pengetahuan dan keterampilan, jasmani
dan rohani yang sehat, serta kemampuan penerapan nilai dan norma-norma
hidup kemasyarakatan

http://beautifulgril2009.blogspot.com/2012/04/bk-sebagai-bagian-integral-dalam-sistem.html

URGENSI BIMBINGAN KONSELING DALAM PENDIDIKAN


A. Pendahuluan
Bimbingan dan konseling merupakan salah satu kompenen dari pendidikan
kita, mengingat bahwa bimbingan dan konseling adalah merupakan suatu
kegiatan bantuan dan tuntunan yang diberikan kepada individu pada umumnya
dan siswa pada khususnya disekolah dalam rangka meningkatkan mutunya.
Pelayanan bimbingan merupakan bagian integral dari program pendidikan itu
dan karena sebagian besar dari tumpukan masalah yang yang dihadapi oleh
peserta didik justru bersumber dari keaneka ragaman tuntutan belajar disekolah.
Maka, para konselor sekolah harus mengenal bidang pendidikan sekolah secara
konret.

Dari latar belakang masalah diatas, dapat diketahui urgensi bimbingan dan
konseling dalam pendidikan yang akan dipaparkan dalam sub bahasan yaitu
fungsi pelayanan bimbingan dalam keseluruhan pendidikan sekolah, tujuan dari
bimbingan dalam sekolah, faktor yang menjadi latar belakang bimbingan dan
konseling dalam pendidikan dan peran serta kedudukan bimbingan konseling.
B.

Pembahasan
Perlu kita pahami terlebih dahulu, apakah perbedaan antara bimbingan dan
pendidikan? Bukankah pendidikan itu sebenarnya merupakan pendidikan yang
telah dilaksanakan disekolah-sekolah sejak dahulu.
Bimbingan itu sebenarnya menyangkut semua usaha pendidikan yang
dilakukan oleh guru baik didalam maupun diluar sekolah.[1]
Namun demikian, walaupun bimbingan itu menyangkut tiap-tiap aspek dari
kegiatan
bimbingan

sekolah,
berbeda

hendaknya
dalam

perlu

tujuan

diperhatikan
dan

bahwa

prosesnya.

pendidikan

Pendidikan

itu

dan
lebih

menyangkut pada masalah perorangan (Individu), sedangkan bimbingan banyak


menyangkut dengan faktor-faktor di luar individu.
Jadi bimbingan itu dapat dikatakan sebagai suatu bentuk pendidikan. Dalam
arti khusus, bimbingan menyangkut semua teknik konseling dan semua macam
informasi yang dapat menolong individu untuk menolong dirinya sendiri.

1. Fungsi bimbingan dan konseling


a. Pencegahan (preventif)
Layanan bimbingan dapat berfungsi pencegahan, artinya merupakan usaha
pencegahan terhadap timbulnya masalah. Layanan yang diberikan berupa
bantuan bagi para siswa agar terhindar dari berbagai masalah yang dapat
menghambat perkembangannya.
Kegiatannya dapat berupa program orientasi, bimbingan karir, inventaris data.
b. Pemahaman
Maksudnya yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan
pemahaman tentang sesuatu pihak-pihak tertentu sesuai dengan keperluan
pengembangan siswa dan agar siswa dapat menyesuaikan dirinya dengan
lingkungan secara dinamis dan konstruktif.[2]
Untuk mencapai perkembangan optimal siswa sesuai dengan tujuan institusional
lembaga pendidikan pada dasarnya membina tiga usaha pokok, yaitu:[3]
Pengelolaan administrasi sekolah

Pengembangan

pemahaman

dan

pengetahuan,

nilai

dan

sikap,

serta

keterampilan melalui program intrakulikuler maupun ekstrakulikuler


Pelayanan khusus kepada siswa dalam berbagai bidang yang membulatkan
pendidikan siswa/ menunjang kesejahteraan siswa seperti membina Osis,
Pelayanan kesehatan, kerohanian, pengadaan warung sekolah, perpustakaan
sekolah.
Dalam fungsi pemahaman disini mencakup:
Pemahaman tentang diri siswa
Pemahaman tentang lingkungan siswa
Pemahaman tentang lingkungan yang lebih luas.
c. Perbaikan (penyembuhan)
Fungsi bimbingan yang kuratif yaitu yang berkaitan erat dengan fungsi
bimbingan dan konseling yang akan mengahasilkan terpecahkannya atau
teratasinya berbagai permasalahan siswa baik aspek pribadi, sosial, belajar,
d.

maupun karir. Teknik yang digunakan adalah konseling dan remidial teaching.
Fungsi pemeliharaan dan pengembangan
Yang berarti layanan bimbingan dan konseling yang diberikan dapat membantu
siswa dalam memelihara dan mengembangkan pribadinya secara mantap,
terarah dan berkelanjutan. Yaitu konselor senantiasa berupaya menciptakan
lingkungan belajar yang kondusif, memfasilitasi perkembangan siswa. Dengan
demikian, siswa dapat memelihara dan mengembangkan berbagai potensi dan
kondisi yang positif dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan

e.

berkelanjutan.
Fungsi penyaluran (distributif)[4]
Yaitu fungsi bimbingan memberi

bantuan

kepada

siswa

dalam

memilih

kemungkinan kesempatan yang ada dalam lingkungan sekolah. Misalnya


kegiatan ekstrakurikuler jurusan, program studi, dan memantapkan penguasaan
karir atau jabatan sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian
f.

lainnya.
Fungsi adaptasi (adative)
Yaitu fungsi bimbingan sebagai pemberi bantuan para pelaksana pendidikan
khususnya

konselor

guru

atau

dosen

untuk

mengadaptasikan

program

pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, bakat, kebutuhan serta


g.

kemampuan siswa dan memperhatikan dinamika kelompok.


Fungsi penyesuaian (adjuditive)
Fungsi bimbingan sebagai pemberi bantuan kepada siswa

agar

dapat

menyesuaikan diri secara dinamis dan konstruktif terhadap program pendidikan,


peraturan sekolah atau norma agama.
Fungsi-fungsi tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan berbagai jenis
layanan bimbingan dan pendukung bimbingan dan konseling untuk mencapai
hasil sebagaimana yang terkandung dalam masing-masing fungsi.

Setiap layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling harus dilaksanakan


secara langsung mengacu pada salah satu atau beberapa fungsi tersebut, agar
hasil yang hendak dicapai secara jelas dapat diidentifikasikan dan dievakuasi.[5]
2. Tujuan bimbingan dan konseling
a. Tujuan umum
Tujuan umumnya adalah sesuai dengan tujuan pendidikan sebagaimana dalam
UU Sistem Pendidikan Nasional tahun 1989 (UU No. 2/1989) yaitu terwujudnya
manusia Indonesia seutuhnya yang cerdas, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan
Yang

Maha

Esa

dan

berbudi

pekerti

luhur,

memiliki

pengetahuan

dan

keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan

mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.


Untuk mencapai tujuan tersebut, mereka harus mendapatkan kesempatan:[6]
Mengenal dan memahami potensi, kekuatan dan tugas perkembangannya
Mengenal dan memahami potensi/ peluang yang ada dilingkungannya
Mengenal dan menentukan tujuan hidupnya
Memahami dan mengatasi permasalahan pribadi
Menggunakan kemampuan untuk kepentingan pribadi, lembaga dan

masyarakat
Menyesuaikan diri dengan lingkungan
Mengembangkan segala potensi dan kekuatannya secara tepat dan teratur

secara optimal.
b. Tujuan khusus
Secara khusus bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu peserta
didik agar dapat mencapai tujuan perkembangannya yang meliputi aspek
pribadi-sosial, perkembangan belajar (akademik), dan perkembangan karir.
1. Tujuan bimbingan dan konseling yang menyangkut aspek pribadi-sosial siswa
antara lain:
Memiliki kesadaran diri, yaitu menggambarkan penampilan dan mengenal
kekhususan yang ada pada dirinya.
Dapat mengembangkan sikap positif, seperti menggambarkan orang-orang
2.

yang mereka senangi


Membuat pilihan secara sehat
Mempu menghargai orang lain
Memiliki rasa tanggungjawab
Mengembangkan keterampilan hubungan antar pribadi
Dapat menyelesaikan konflik
Dapat membuat keputusan secara efektif.
Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek perkembangan

3.

belajar (akademik) adalah:


Dapat melaksanakan keterampilan atau teknik belajar secara efektif.
Dapat menetapkan tujuan dan perencanaan pendidikan
Mampu belajar secara efektif
Memiliki keterampilan, kemampuan dan minat.
Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek perkembangan
karir, antara lain:

Mampu membentuk identitas karir, dengan mengenali ciri-ciri pekerjaan

didalam lingkungan kerja


- Mampu merencanakan masa depan
- Dapat membentuk pola-pola karir, yaitu kecenderungan arah karir
- Mengenal keterampilan, kemampuan dan minat.
3. Faktor yang melatarbelakangi bimbingan dan penyuluhan dibutukan
dalam lapangan pendidikan.
a. Faktor perkembangan pendidikan
Demokrasi pendidikan
Perubahan sistem
Perluasan peraturan pendidikan.
b. Faktor sosial kultural
Faktor ini muncul sebagai akibat dari perubahan sosial dan budaya yang
menimbulkan kesenjangan antara satu golongan dengan golongan lain.
c. Faktor psikologi
Dari segi psikologis anak adalah pribadi yang sedang berkembang yang menuju
kearah kedewasaan, perubahan tersebut menyebabkan berada dalam keadaan
yang sulit. Untuk itu, mereka perlu mempersiapkan diri dari segala intelektual
emosional.
4. Peran bimbingan dan penyuluhan dalam pendidikan
Peranan bimbingan dan penyuluhan disekolah ialah mempelancar usahausaha sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan. Usaha untuk mencapai tujuan
ini sering mengalami hambatan, dan ini terlihat pada anak-anak didik. Mereka
tidak bisa mengikuti program pendidikan disekolah karena mereka mengalami
masalah, kesulitan ataupun ketidakpastian. Disinilah letak peranan bimbingan
dan penyuluhan, yaitu untuk memberikan bantuan untuk mengatasi masalah
tersebut sehingga anak-anak dapat belajar lebih berhasil. Dengan begitu,
pencapaian tujuan pendidikan lebih dapat diperlancar.
5. Kedudukan bimbingan dan penyuluhan dalam pendidikan
Beberapa kriteria yang menjadi syarat bahwa pendidikan dapat dikata
bermutu adalah pendidikan yang mampu mengintregasikan tiga bidang kegiatan
utama secara efektif, yaitu: bidang administratif dan kepemimpinan, bidang
instruksional dan kurikulum, dan bidang pembinaan siswa (bimbingan dan
a.

konseling).[7]
Bidang administratif dan kepemimpinan
Bidang ini merupakan kegiatan yang berkaitan dengan masalah administrasi dan
kepemimpinan, yaitu masalah yang berhubungan dengan cara melakukan

b.

kegiatan secara efesien.


Bidang pengajaran dan kurikuler
Bidang ini bertanggung jawab dalam kegiatan pengajaran dan bertujuan untuk
memberikan bekal, pengetahuan, keterampilan, dan sikap kepada pesertadidik.
Pada umumnya bidang ini merupakan pusat kegiatan pendidikan dan merupakan

c.

tanggung jawab utama staff pengajar.


Bidang pembinaan siswa (bimbingan dan konseling).

Bidang ini terkait dengan program pemberian layanan bantuan kepada peserta
didik dalam upaya mencapai perkembangannya yang optimal melalui interaksi
yang sehat dengan lingkungannya.
Menurut Dr. Thari Musnamar, bimbingan dan penyuluhan disekolah dalam
pelaksanaannya
1.
2.
3.
4.
5.

mempunyai

beberapa

pola

atau

kemungkinannya

operasionalnya:
Bimbingan identik dengan pendidikan.
Bimbingan sebagai pelengkap pendidikan.
Bimbingan dan penyuluhan sebagai pelengkap kurikuler.
Bimbingan dan penyuluhan sebagai bagian dari layanan urusan kesiswaan.
Bimbingan dan penyuluhan sebagai sub sistem pendidikan.

C. Kesimpulan
Dari urian diatas dapat kami simpulkan bahwa dalam keseluruhan proses
pendidikan, program bimbingan dan penyuluhan merupakan suatu keharusan
yang tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan pada umumnya. Dengan
melalui program pelayanan bimbingan dan penyuluhan yang baik, maka setiap
peserta didik diharapkan mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan
setiap potensi dan kemampuan yang dimilikinya seoptimal mungkin.
Selain itu, bimbingan dan konseling bertujuan untuk membantu individu
(siswa) agar memperoleh pencerahan diri (intelektual, emosional, sosial dan
moral spiritual) sehingga mampu menyesuaikan diri secara dinamis dan
konstruktif serta mampu mencapai kehidupannya yang bermakna (produktif dan
konstributif), baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain atau masyarakat.

http://akademi-pendidikan.blogspot.com/2012/10/urgensibimbingan-konseling-dalam.html

KEDUDUKAN BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM PENDIDIKAN


SERTA KONSEP DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING
A.

KEDUDUKAN BIMBINGAN DALAM PENDIDIKAN


Pendidikan merupakan aset yang tak ternilai bagi individu dan masyarakat.
Pendidikan tidak pernah dapat dideskripsikan secara gamblang hanya dengan mencatat
banyaknya jumlah siswa, personel yang terlibat, harga bangunan, dan fasilitas yang dimiliki.

1.

2.

3.

1.
2.
3.
4.
5.

Pendidikan memang menyangkut hal itu semua, namun lebih dari itu semuanya. Pendidikan
merupakan proses yang esensial untuk mencapai tujuan dan cita-cita pribadi individu
(siswa).
Siswa merupakan unsur utama dalam pendidikan. Siswa sebagai individu sedang
berada dalam proses berkembang atau menjadi (becoming), yaitu berkembang ke arah
kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kemandirian tersebut, siswa memerlukan
bimbingan, karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya
dan lingkungannya, juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya.
Pendidikan yang hanya melaksanakan bidang administratif dan pengajaran dengan
mengabaikan bidang bimbingan mungkin hanya akan menghasilkan individu yang pintar dan
terampil dalam aspek akademik, tetapi kurang memiliki kemampuan atau kematangan dalam
aspek psikososiospiritual.
Ketiga bidang utama pendidikan di atas lebih lanjut dijelaskan sebagai berikut:
Bidang Administrasi dan Kepemimpinan
Bidang ini menyangkut kegiatan pengelolaan program secara efisien. Pada bidang ini terletak
tanggung jawab kepemimpinanan (kepala sekolah dan staf administrasi lainnya) yang terkait
dengan kegiatan perencanaan organisasi, deskripsi jabatan atau pembagian tugas,
pembiayaan, penyediaan fasilitas atau sarana prasarana (material), supervisi, dan evaluasi
program.
Bidang intruksional dan kurikuler
Bidang ini terkait dengan kegiatan pengajaran yang bertujuan untuk memberikan
pengetahuan, keterampilan, dan pengembangan sikap. Pihak yang bertanggung jawab secara
langsung terhadap bidang ini adalah para guru.
Bidang Pembinaan Siswa (Bimbingan dan Konseling)
Bidang ini terkait dengan program pemberiaan layanan bantuan kepada peserta didik (siswa)
dalam upaya mencapai perkembangannya yang optimal, melalui interaksi yang sehat dengan
lingkungannya. Personel yang paling bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bidang ini
adalah guru pembimbing atau konselor.
Dalam keseluruhan kegiatan pendidikan khususnya pada tatanan persekolahan,
layanan bimbingan dan konseling mempunyai posisi dan peran yang cukup penting dan
strategis. Bimbingan dan konseling berperan untuk memberikan layanan kepada siswa agar
dapat berkembang secara optimal melalui proses pembelajaran secara efektif. Untuk
membantu siswa dalam proses pembelajaran, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan
pribadi agar dapat membantu keseluruhan proses belajarnya. Dalam kaitan ini para
pembimbing diharapkan untuk:
Mengenal danmemahami setiap siswa baik secara individual maupu kelompok,
Memberikan informasi-informasi yang diperlukan dalam proses belajar,
Memberi kesempatan yang memadai agar setiap siswa dapat belajar sesuai dengan karakter
istik pribadinya,
Membantu setiap siswa dalam menghadapi masalah-masalah pribadi yang dihadapinya,
Menilai keberhasilan setiap langkah kegiatan yang telah dilakukan.
Berkenaan dengan hubungan antara bimbingan dan pendidikan tersebut di atas,
Rochma Natawidjaja (1990: 16) Memberikan penjelasan sebagai berikut:
...bimbingan dan konseling memiliki fungsi dan posisi kunci dalam pendidikan di
sekolah, yaitu sebagai pendamping fungsi utama sekolah dalam bidang pengajaran dan
perkembangan intelektual siswa dalam bidang menangani ihwal sisi sosial pribadi siswa..
Lebih lanjut ia menegaskan bahwa bimbingan dan konseling memiliki fungsi
memberikan bantuan kepada siswa dalam rangka memperlancar pencapaian tujuan
pendidikan, yaitu membantu meratakan jalan menuju ALLAH Swt.; berguna bagi manusia,
dan bermanfaat bagi kesejahteraan dan pembangunan bangsa, negara, dan umat manusia

B. KONSEP DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING


1. Pengertian Bimbingan
a. Bimbingan adalah proses pemberian bantuan kepada individu agar mampu memahami diri
dan lingkungannya. (Shertzer dan Stone, 1971)
b. Bimbingan sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara
berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat memahami dirinya, sehingga dia sanggup
mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan
lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat dan kehidupan pada umumnya. (Rochman
Natawidjaja,1987)
c. Bimbingan diartikan sebagai suatu proses pemberian bantuan yang terus-menerus dan
sistematis dari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai kemandirian dalam
pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri dan perwujudan diri dalam mencapai
tingkat perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan lingkungannya. (M.Surya,
1988)
d. Dalam Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah
dikemukakan bahwa Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik
dalam rangka menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan.
e. Bimbingan adalah proses membantu individu untuk mencapai perkembangan optimal.
(Sunaryo Kartadinata, 1998)
2. Pengertian Konseling
a. ASCA (American School Counselor Association) mengemukakan bahwa Konseling adalah
hubungan tatap muka yang bersifat rahasia, penuh dengan sikap penerimaan dan pemberian
kesempatan dari konselor kepada klien, konselor mempergunakan pengetahuan dan
keterampilannya untuk membantu kliennya mengatasi masalah-masalahnya. (dalam Syamsu
Yusuf, 2009)
b. Konseling merupakan bagian dari bimbingan, baik sebagai pelayanan maupun sebagai
tehnik. Konseling merupakan inti kegiatan bimbingan secara keseluruhan dan lebih
berkenaan dengan masalah individu secara pribadi. Montensen (1964:301) mengatakan
bahwa,Counseling is the heart of the guidance program . Dan Ruth Strang (1958)
menyatakan bahwa, Guidance is broader: Counseling is a most important tool of guidance
. Jadi konseling merupakan inti dan alat yang paling penting dalam keseluruhan system dan
kegiatan bimbingan.
Jadi bimbingan dan konseling merupakan suatu proses yang berkesinambungan,
sistematis, berencana yang mengarah kepada pencapaian tujuan. Bimbingan merupakan
bantuan atau pertolongan dalam membantu individu mengambil keputusannya sendiri,
pembimbing hanya bertindak sebagai fasilitator. Keseluruhan proses kegiatan atau layanan
kepada individu untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal dan
didalamnya terdapat Konseling yang merupakan inti dari kegiatan Bimbingan.
3. Ragam Bimbingan dan konseling
Dilihat dari masalah individu ada empat jenis bimbingan yaitu:
a. Bimbingan Akademik, yaitu bimbingan yang diarahkan untuk membantu para individu
dalam menghadapi masalah-masalah akademik seperti pengenalan kurikulum, pemilihan

jurusan/konsentrasi, cara belajar dsb. Bimbingan akademik dilakukan dengan cara


mengembangkan suasana belajar- mengajar yang kondusif agar terhindar dari kesulitan
belajar. Dalam bimbingan akademik pembimbing berupaya memfasilitasi individu dalam
mencapai tujuan akademik yang diharapkan.
b. Bimbingan Sosial-Pribadi, merupakan bimbingan untuk membantu para individu dalam
memecahkan masalah-masalah sosial-pribadi. Contohnya: masalah sosial pribadi adalah
hubungan sesama teman, dengan dosen, serta staf, pemahaman sifat dan kemampuan diri
penyesuaian diri dengan lingkungan pendidikan dan masyarakat tempat mereka tinggal dan
penyelesaian konflik.
c.
Bimbingan Karir, yaitu bimbingan untuk membantu individu dalam perencanaan,
pengembangan, dan pemecahan masalah-masalah karir seperti: pemahaman terhadap jabatan
dan tugas-tugas kerja, pemahaman kondisi dan kemampuan diri dsb.
d. Bimbingan Keluarga, merupakan upaya pemberian bantuan kepada para individu sebagai
pemimpin/anggota keluarga agar mereka mampu menciptakan keluarga yang utuh dan
harmonis, memberdayakan diri secara produktif, dapat menciptakan dan menyesuaikan diri
dengan norma keluarga, serta berperan/berpartisipasi aktif dalam mencapai kehidupan
keluarga yang bahagia.
4. Tujuan Bimbingan dan Konseling
a.
b.
c.
d.

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Tujuan pemberian layanan bimbingan ialah agar individu dapat :


Merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir, serta kehidupannya di masa
yang akan datang
Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin
Menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat, serta lingkungan
kerjanya
Mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan
lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja.
Untuk mencapai tujuan, individu harus mendapatkan kesempatan untuk :
Mengenal dan memahami potensi, kekuatan, dan tugas-tugas perkembangannya
Mengenal dan memahami potensi atau peluang yang ada di lingkungannya
Mengenal dan menentukan tujuan dan rencana hidupnya serta rencana pencapaian tujuan
tersebut.
Memahami dan mengatasi kesulitan-kesulitan sendiri.
Menggunakan kemampuannya untuk kepentingan dirinya, kepentingan lembaga tempat
bekerja, dan masyarakat.
Menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya
Mengembangkan segala potensi dan kekuatan yang dimilikinya secara optimal

5. Fungsi Bimbingan dan Konseling


a.

Fungsi Pemahaman, yaitu membantu individu agar dapat memahami dirinya sendiri
(potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan,dan norma agama).
b. Fungsi Fasilitasi, yaitu memberikan kemudahan kepada individu dalam mencapai
pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang seluruh aspek
dalam diri konseli.
c. Fungsi Penyesuaian, yaitu membantu individu agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan
lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.

d.
e.
f.
g.
h.
i.

Fungsi Penyaluran, yaitu membantu individu dalam memilih kegiatan ekstrakurikuler,


jurusan, atau program studi dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai
dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya.
Fungsi Adaptasi, yaitu membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan
staf, konselor dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang
pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan individu.
Fungsi Pencegahan, yaitu memberikan bimbingan tentang cara menghindarkan diri dari
perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya.
Fungsi Penyembuhan, yaitu pemberian bantuan kepada individu yang mengalami masalah,
baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir.
Fungsi Pemeliharaan, yaitu menfasilitasi konseli agar terhindar dari kondisi-kondisi yang
akan menyebabkan penurunan produktivitas diri.
Fungsi Pengembangan, yaitu kerjasama antara konselor dengan personil sekolah dalam
merumuskan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan
dalam upaya membantu siswa mencapai tugas-tugas perkembangannya.

6. Prinsip Bimbingan dan Konseling


a.
b.
c.
d.
e.
f.

Bimbingan diperuntukkan bagi semua individu


Bimbingan bersifat individualisasi
Bimbingan menekankan hal yang positif
Bimbingan merupakan usaha bersama
Pengambilan keputusan merupakan hal yang esensial dalam bimbingan
Bimbingan berlangsung dalam berbagai setting (adegan) kehidupan

7. Asas Bimbingan dan Konseling


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Asas Kerahasiaan yaitu menuntut dirahasiakannya segenap data dan keterangan tentang
konseli yang merupakan data yang tidak layak diketahui oleh orang lain.
Asas kesukarelaan yaitu menghendaki adanya kesukarelaan konseli dalam mengikuti
pelayanan yang diperlukan baginya.
Asas keterbukaan yaitu agar konseli bersifat terbuka dan tidak berpura-pura dalam
memberikan keterangan atau informasi yang diperlukan dalam kegiatan layanan BK.
Asas kegiatan yaitu konseli yang menjadi sasaran pelayanan berpartisipasi secara aktif dalam
penyelenggaraan kegiatan BK.
Asas kemandirian yaitu membantu / mengarahkan konseli agar mampu mandiri dalam
mengambil keputusan yang tepat.
Asas Kekinian yaitu asas yang menghendaki objek sasaran pelayanan bimbingan dan
konseling ialah permasalahan konseli dalam kondisinya sekarang.
Asas kedinamisan yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar isi pelayanan
terhadap sasaran pelayanan yang sama hendaknya tidak monoton dan terus berkembang dari
waktu ke waktu.
Asas keterpaduan yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar berbagai
pelayanan bimbingan dan konseling baik yang dilakukan oleh guru pembimbing dan pihakpihak lain saling menunjang, harmonis dan terpadu.
Asas keharmonisan yaitu asas bimbingan dan konseling menghendaki agar segenap
pelayanan bimbingan dan konseling didasarkan pada nilai dan norma yang ada.
Asas Keahlian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar pelayanan
bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional.

k.

Asas Alih Tangan Kasus yaitu mengalihtangankan permasalahan kepada pihak yang lebih
ahli agar konseli ditangani secara tepat dan tuntas.

8. Jenis Layanan Bimbingan dan Konseling


a.

Layanan Pengumpulan Data tentang siswa dan lingkungannya. Pelayanan ini merupakan
usaha untuk mengetahui diri siswa seluas-luasnya. Untuk mengumpulkan data dapat
menggunakan teknik tes dan non tes. Teknik tes meliputi: psikotes, dan tes prestasi belajar.
Non tes meliputi observasi, angket, wawancara, dan autobiografi.
b. Konseling merupakan pelayanan terpenting dalam program bimbingan. Layanan ini
memfasilitasi siswa untuk memperoleh bantuan pribadi secara langsung, baik secara face to
face maupun melalui media (telepon atau internet).
c. Penyajian Informasi dan Penempatan. Layanan ini menyajikan informasi tentang berbagai
berbagai aspek kehidupan yang diperlukan individu, seperti menyangkut aspek pribadi,
sosial, dan pengembangan karir. Sementara layanan penempatan merupakan layanan bantuan
yang diberikan kepada siswa dalam rangka menyalurkan dirinya ke arah yang tepat sesuai
dengan kemampuan, minat dan bakatnya.
d. Penilaian dan Penelitian
Layanan penilaian dilaksanakan untuk mengetahui sejauh mana pencapaian tujuan program
bimbingan dapat di capai. Selain itu dilakukan juga penilaian penilaian terhadap hasil
pelayanan terhadap individu untuk kemudian dilakukan tindak lanjut (follow up) terhadap
hasil yang telah dicapai oleh individu yang bersangkutan. Hasil penilaian terhadap program
bimbingan dan individu dapat dipergunakan sebagai bahan penelitian yang dimaksudkan
untuk mengembangkan program bimbingandalam arti menelaah lebih jauh tentang
pelaksanaannya; menelaah tentang kebutuhan bimbingan yang belum terpenuhi serta
menelaah tentang hakikat individu dan perkembangannya.
http://dewi-dewilin.blogspot.com/2010/09/kedudukan-bimbingan-dan-konseling-dalam.html

Posisi dan Urgensi Bimbingan dan Konseling (BK) dalam Dunia Pendidikan

Bimbingan Konseling (BK) berkaitan dengan psikologi pendidikan. BK merupakan


bagian dari
pengajaran yang dilakukan sebagai upaya untuk membantu dalam
pencapaian tujuan pendidikan.
Tujuan pendidikan nasional (UU NO. 20 Tahun 2003), yaitu: beriman dan
bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, memiliki
pengetahuan dan keterampilan, memiliki kesehatan jasmani dan rohani, memiliki
kepribadian yang mantap dan mandiri, serta memiliki rasa tanggung jawab
kemasyarakatan dan kebangsaan. Keseluruhan tujuan itu tentu dimaksudnkan
untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Tujuan pendidikan tidak bisa dicapai dengan mudahnya tanpa
adanya sinergi dari manajemen, pengajaran, dan BK itu sendiri. Dewasa ini,
peserta didik sangat dimudahkan dalam berbagai hal karena globalisasi yang

berimbah majunya teknologi dan informasi, yang sudah pasti selain efek positif
tentu juga memberikan efek negatif.
Upaya menangkal hal-hal yang tidak diinginkan (efek negatif)
dapat dilakukan dengan bantuan BK di dalam dunia pendidikan. BK memfasilitasi
peserta didik agar dapat mengembangkan potensinya dan mampu mencapai
standar kompetensi kemandirian.
Jadi, pendidikan yang bermutu, efektif, dan ideal adalah
pendidikan yang dapat mencapai tujuan pendidikan itu sendiri dengan kerjasama
antara manajemen, pengajaran, dan BK. Pendidikan yang mengabaikan bidang
BK, hanya akan menghasilkan individu yang terampil dalam hal akademik, tetapi
kurang memiliki kematangan dalam hal kepribadian

http://newijayanto.blogspot.com/2012/03/posisi-dan-urgensi-bimbingan-dan.html