Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Reaksi-reaksi kimia biasanya berlangsung antara dua campuran zat, bukannya antara
dua zat mumi. Salah satu bentuk yang umum dari campuran adalah larutan. tanpa kita sadari,
selama ini kehidupan kita sangat berkaitan dengan zat kimia yang dapat kita temui dalam
berbagai macam bentuk
Larutan memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Di alam kebanyakan
reaksi berlangsung dalam larutan air. Tubuh menyerap mineral, vitamin dan makanan dalam
bentuk larutan. Pada tumbuhan nutrisi diangkut dalam larutan air ke semua bagian jaringan.
Obat-obatan biasanya merupakan larutan air atau alkohol dari senyawa fisiologis aktif.
Banyak reaksi-reaksi kimia yang dikenal, baik di dalam laboratorium atau di industri terjadi
dalam larutan.
Kuantitas relatif suatu zat tertentu dalam larutan disebut konsentrasi. Konsentrasi
merupakan salah satu faktor penting yang menentukan cepat atau lambatnya reaksi
berlangsung. Dalam beberapa hal konsentrasi juga menentukan hasil reaksi yang terbentuk.
Pada bab ini akan diuraikan beberapa cara yang berguna dalam menyatakan konsentrasi.
Untuk meramalkan sifat larutan tidak dapat langsung dari sifat komponennya, karena
dalam campuran terdapat banyak interaksi antara komponen penyusunnya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan larutan?
2. Apa yang dimaksud dengan kesetimbangan larutan?
3. Bagaimana sifat koligatif larutan?
1.3 Tujuan
1. Agar dapat mengetahui apa itu larutan
2. Agar dapat mengetahui tentang kesetimbangan larutan
3. Agar dapat mengetahui sifat koligatif larutan?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sifat Dasar Larutan
Larutan adalah campuran yang bersifat homogen antara molekul, atom ataupun ion
dari dua zat atau lebih. Disebut campuran karena susunannya atau komposisinya dapat
berubah. Disebut homogen karena susunanya begitu seragam sehingga tidak dapat diamati
adanya bagian-bagian yang berlainan, bahkan dengan mikroskop optis sekalipun. Dalam
campuran heterogen permukaan-permukaan tertentu dapat diamati antara fase-fase yang
terpisah.
Campuran ada tiga kemungkinan :
1. Campuran kasar, contoh: campuran tanah dan pasir.
2. Dispersi koloid, contoh: tahah liat dalam air.
3. Larutan sejati, contoh: gula dalam air
Komponen larutan terdiri dari pelarut (solvent) dan zat terlarut (solute). Pelarut
adalah medium bagi zat terlarut yang dapat berperan serta dalam reaksi kimia dalam larutan
atau meninggalkan larutan karena pengendapan atau penguapan. Umumnya zat terlarut
jumlahnya lebih sedikit dibanding pelarut. Sedangkan pelarut bisa berupa air ataupun cairan
organik seperti metanol, etanol, aseton dan lain-lain. Biasanya air bertindak sebagai zat
pelarut karena sifat air yang dapat melarutkan zat-zat lain melebihi dari beratnya sendiri.
Namun pada larutan air-alkohol, keduanya bisa bertindak sebagai pelarut. Jika air yang lebih
banyak, maka air disebut pelarut, dan sebaliknya bila alkohol yang lebih banyak, maka
alkohol yang bertindak sebagai pelarut.
Pada umumnya larutan yang dimaksud adalah campuran yang berbentuk cair,
meskipun ada juga yang berfase gas maupun padat. Larutan yang berbentuk gas adalah udara
yang merupakan campuran dari berbagai jenis gas seperti nitrogen dan oksigen. Sedangkan
yang berbentuk padat adalah emas 22 karat yang merupakan campuran homogen dari emas
dengan perak atau logam lain. Karena fase larutan dapat berbentuk padat, cair dan gas, berarti
ada sembiIan kemungkinan jenis larutan. Diantara jenis-jenis larutan ini yang penting adalah
larutan gas dalam cair, cair dalam cair dan.padat dalam cair.

Apabila zat padat atau cairan larut dalam cairan, maka dalam campuran terjadi gaya
tarik menarik antarmolekul (intermolekul) zat terlarut dan pelarut. Selain itu juga terdapat
gaya tarik di dalam molekul (intramolekul) itu sendiri, yang menyebabkan molekul atau
ionnya masih tetap bersatu.
Dua senyawa dapat bercampur (miscible) lebih mudah bila gaya tarik antara molekul
solut dan pelarut semakin besar. Besamya gaya tarik ini ditentukan oleh jenis ikatan pada
masing-masing molekul. Bila gaya tarik antara molekulnya termasuk dalam kelompok yang
sama (misalnya: air dan etanol), maka keduanya akan saling melarutkan. Sedangkan bila
kekuatan gaya tarik antara molekulnya berbeda jenis (misalnya : air dan heksana), maka tidak
saling melarutkan.
Pada pembentukan larutan antara air dan etanol (alkohol), maka keduanya saling
melarutkan dalam berbagi perbandingan. Baik molekul air maupun alkohol masing-masing
antara molekulnya tetjadi interaksi yang begitu kuat berdasarkan ikatan hidrogen. Ketika
keduanya dicampur, maka tidak ada halangan bagi keduanya untuk saling menggantikan.
Kedua zat akhimya mudah untuk bercampur.
Dalam ilmu kimia dikenal suatu ungkapan like dissolves like, yaitu jika molekul
solute dan pelarut mirip, maka akan mudah bagi keduanya untuk saling menggantikan
sehingga mudah untuk bercampur. Secara umum, terdapat kecenderungan kuat bagi senyawa
non polar untuk larut dalam pelarut yang bersifat non polar dan senyawa kovalen polar atau
senyawa ion larur ke dalam pelarut polar. Dengan kata lain sejenis melarutkan yang sejenis,
dimana sejenis disini menunjukkan persamaan dalam hal kekuatan gaya tarik anatara
molekulnya.
Contoh Jenis larutan
Zat

Zat

Wujud

Terlarut

Pelarut

Larutan

Gas

Gas

Gas

Gas

Cairan

Cairan

Gas

Padatan

Padatan

Contoh
Udara
Air soda (CO2 dalam air), oksigen
dalam air
Gas H2 dalam paladium

Cairan

Cairan

Cairan

Etanol dalam air, brom dalam air

Cairan

Padatan

Padatan

Air raksa dalam perak

Padatan

Cairan

Cairan

Padatan

Padatan

Padatan

Kuningan (tembaga/seng)

Padatan

Padatan

Cairan

Alloy kalium-natrium

iodiumtinctur (iodium dalam alkohol),


NaCl dalam air

Macam-macam Larutan
a. Berdasarkan kemampuannya melarutkan zat terlarut ( Tingkat Kelarutannya)
1. Larutan tak jenuh yaitu larutan yang mengandung solute (zat terlarut) kurang dari
yang diperlukan untuk membuat larutan jenuh. Atau dengan kata lain, larutan yang
partikel- partikelnya tidak tepat habis bereaksi dengan pereaksi (masih bisa
melarutkan zat). Larutan tak jenuh terjadi apabila bila hasil kali konsentrasi ion < Ksp
berarti larutan belum jenuh ( masih dapat larut).
2. Larutan jenuh yaitu suatu larutan yang mengandung sejumlah solute yang larut dan
mengadakan kesetimbangn dengan solut padatnya. Atau dengan kata lain, larutan
yang partikel- partikelnya tepat habis bereaksi dengan pereaksi (zat dengan
konsentrasi maksimal). Larutan jenuh terjadi apabila bila hasil konsentrasi ion = Ksp
berarti larutan tepat jenuh.
3. Larutan sangat jenuh (kelewat jenuh) yaitu suatu larutan yang mengandung lebih
banyak solute daripada yang diperlukan untuk larutan jenuh. Atau dengan kata lain,
larutan yang tidak dapat lagi melarutkan zat terlarut sehingga terjadi endapan. Larutan
sangat jenuh terjadi apabila bila hasil kali konsentrasi ion > Ksp berarti larutan lewat
jenuh (mengendap).
b. Berdasarkan daya hantar listrik
Larutan yang dapat menghantarkan arus listrik disebut larutan yang bersifat elektrolit.
Larutan yang tidak dapat menghantarkan arus listrik disebut larutan yang bersifat
nonelektrolit.

1. Larutan elektrolit kuat adalah larutan yang mempunyai daya hantar listrik yang kuat,
karena zat terlarutnya didalam pelarut (umumnya air), seluruhnya berubah menjadi
ion-ion. Yang termasuk elektrolit kuat:
a. Asam kuat, contohnya: HCl, HBr, HI, H2SO4, HNO3, HClO4
b. Basa kuat, contohnya: NaOH, KOH, Ba(OH)2, Sr(OH)2
c. Garam, misalnya: NaCl, KCl, MgCl2, KNO3, MgSO4
Partikel-partikel yang ada di dalam larutan elektrolit kuat adalah ion-ion yang
bergabung dengan molekul air, sehingga larutan tersebut daya hantar listriknya kuat. Hal
ini disebabkan karena tidak ada molekul atau partikel lain yang menghalangi gerakan ionion untuk menghantarkan arus listrik, sementara molekul-molekul air adalah sebagai
media untuk pergerakan ion. Misalnya HCl dilarutkan ke dalam air, maka semua HCl
akan bereaksi dengan air dan berubah menjadi ion-ion dengan persamaan reaksi berikut:
HCl (g) + H2O ( l ) H3O+(aq) + Cl(aq)
Reaksi ini biasa dituliskan:
HCl (aq) H+(aq) + Cl(aq)
2. Larutan elektrolit lemah yaitu larutan yang tidak semua molekul-molekulnya terurai
menjadi ion-ion sehingga larutan ini dalam menghantarkan arus listrik sangat
lemahatau kurang kuat. Karena molekul-molekul senyawa dalam larutan tidak dapat
menghantarkan listrik, sehingga menghalangi ion-ion yang akan menghantarkan
listrik. Yang termasuk elektrolit lemah adalah:
a. Asam lemah, contohnya: HF, H2S, HCN, H2CO3, HCOOH, CH3COOH
b. Basa lemah, contohnya: Fe(OH)3 , Cu(OH)2 , NH3, N2H4, CH3NH2, (CH3)2NH
3. Larutan non elektrolit yaitu larutan yang molekul-molekulnya tidak terionisasi
sehingga tidak ada ion-ion yang dapat menghantarkan arus listrik.
Yang termasuk nonelektrolit,
Misalnya: C6H12O6, CO(NH2)2, CH4, C3H8, C13H10O.

c. Berdasarkan banyak sedikitnya zat terlarut, larutan dapat dibedakan menjadi 2,


yaitu:
1. Larutan pekat yaitu: jumlah zat terlarut lebih banyak namun tidak melebihi zat
pelarut.
2. Larutan encer yaitu: jumlah zat terlarutnya lebih sedikit dari pada jumlah zat terlarut
larutan pekat.
d. Berdasarkan kuantitasnya, larutan dapat dibedakan menjadi 3, yaitu :
1. Larutan berfase gas : campuran gas dengan gas yang fasenya sama dengan larutan gas
homogen. Contoh : udara
2. Larutan berfase cair :

gas dalam cair. Contoh : kandungan O2 dalam air

air dalam cair. Contoh : alcohol dalam air

padat dalam cair. Contoh : garam dalam air

3. Larutan berfase padat.


e. Berdasarkan Cara Pemberiannya
1. Larutan Oral adalah sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral, mengandung satu
atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma, pemanis atau pewarna yang larut
dalam air atau campuran cosolvent-air
2. Larutan topikal adalah larutan yang biasanya mengandung air tetapi seringkali juga
pelarut lain, misalnya etanol untuk penggunaan topikal pada kulit dan untuk
penggunaan topikal pada mukosa mulut
f. Berdasarkan Reaksi Kimianya
1. Larutan Asam Basa
Larutan asam mempunyai rasa asam, bersifat korosif (merusak logam,marmer, dan
berbagai bahan lain), mempunyai ph < 7 dan jika diuji dengan kertas lakmus berwarna
merah. Contoh larutan cuka, air jeruk, dan air aki. Sedangkan larutan basa berasa agak
pahit, bersifat kaustik (licin), mempunyai ph > 7 dan jika diuji dengan kertas lakmus
berwarna biru.. Contoh air kapur, larutan sabun, larutan ammonia dsb. Larutan netral jika
di uji dengan kertas lakmus tidak akan mengubah warna. Contoh air murni.
2. Larutan Penyangga

Larutan penyangga, larutan dapar, atau buffer adalah larutan yang digunakan untuk
mempertahankan nilai pH tertentu agar tidak banyak berubah selama reaksi kimia
berlangsung. Sifat yang khas dari larutan penyangga ini adalah pH-nya hanya berubah
sedikit dengan pemberian sedikit asam kuat atau basa kuat.
Larutan penyangga tersusun dari asam lemah dengan basa konjugatnya atau oleh basa
lemah dengan asam konjugatnya. Reaksi di antara kedua komponen penyusun ini disebut
sebagai reaksi asam-basa konjugasi.
Larutan penyangga yang bersifat asam adalah sesuatu yang memiliki pH kurang dari
7. Larutan penyangga yang bersifat asam biasanya terbuat dari asam lemah dan
garammya. Larutan penyangga yang bersifat basa memiliki pH diatas 7. Larutan
penyangga yang bersifat basa biasanya terbuat dari basa lemah dan garamnya.
Proses Pembentukan Larutan
Larutan terbentuk melalui pencampuran dua atau lebih zat murni yang molekulnya
berinteraksi langsung dalam keadaan tercampur. Semua gas bersifat dapat bercampur
dengan sesamanya, karena itu campuran gas adalah larutan. Proses pelarutan dapat
diilustrasikan seperti berikut :

Molekul-molekul pelarut terpisah dari kelompoknya. Tahap ini memerlukan energi


panas (endotermik) untuk mengatasi gaya tarik antar molekul

Molekul-molekul dari zat terlarut terpisah dari kelompoknya. Tahap ini memerlukan
panas (endotermik)

Molekul-molekul pelarut dan terlarut yang masing-masing telah berada dalam


keadaan terpisah itu selanjutnya bersatu membentuk larutan. Energi panas dilepaskan

(eksotermik). pada tahap ini karena terjadi gaya tarik menarik antar molekul pelarut
dan molekul zat terlarut.
Gaya Tarik Menarik Antar Molekul
GAYA

TARIK

MENARIK

PARTIKEL ZAT

JENIS IKATAN

ANTAR PARTIKEL

Ion

Ion

Elektrostatik

Molekul

Kovalen polar

Elektrostatik

Molekul

Kovalen murni

Gaya Van der Waals

Kovalen polar

Bisa membentuk ikatan hidrogen

Molekul yang mengandung


gugus OH, - O -, - NH2, =
O, -NH-.

Faktor Faktor yang Mempengaruhi Kelarutan


1. Struktur molekul (sifat pelarut dan zat terlarut)
Zat-zat dengan struktur kimia yang mirip umumnya dapat saling bercampur dengan
baik, sedangkan zat-zat yang struktur kimianya berbeda umumnya kurang dapat
saling bercampur (like dissolves like). Senyawa yang bersifat polar akan mudah larut
dalam pelarut polar, sedangkan senyawa nonpolar akan mudah larut dalam pelarut
nonpolar. Contohnya alkohol dan air bercampur sempurna (completely miscible), air
dan eter bercampur sebagian (partially miscible), sedangkan minyak dan air tidak
bercampur (completely immiscible)
2. Temperatur
Kelarutan gas umumnya berkurang pada temperatur yang lebih tinggi. Misalnya jika
air dipanaskan, maka timbul gelembung-gelembung gas yang keluar dari dalam air,
sehingga gas yang terlarut dalam air tersebut menjadi berkurang. Kebanyakan zat
padat kelarutannya lebih besar pada temperatur yang lebih tinggi. Ada beberapa zat
padat yang kelarutannya berkurang pada temperatur yang lebih tinggi, misalnya
natrium sulfat dan serium sulfat. Pada larutan jenuh terdapat kesetimbangan antara
proses pelarutan dan proses pengkristalan kembali. Jika salah satu proses bersifat

endoterm, maka proses sebaliknya bersifat eksoterm. Jika temperatur dinaikkan, maka
sesuai dengan azas Le Chatelier (Henri Louis Le Chatelier: 1850-1936)
kesetimbangan itu bergeser ke arah proses endoterm. Jadi jika proses pelarutan
bersifat endoterm, maka kelarutannya bertambah pada temperatur yang lebih tinggi.
Sebaliknya jika proses pelarutan bersifat eksoterm, maka kelarutannya berkurang
pada suhu yang lebih tinggi.
3. Tekanan
Perubahan tekanan pengaruhnya kecil terhadap kelarutan zat cair atau padat.
Perubahan tekanan sebesar 500 atm hanya merubah kelarutan NaCl sekitar 2,3 % dan
NH4Cl sekitar 5,1 %. Kelarutan gas sebanding dengan tekanan partial gas itu.
Menurut hukum Henry (William Henry: 1774-1836) massa gas yang melarut dalam
sejumlah tertentu cairan (pelarutnya) berbanding lurus dengan tekanan yang
dilakukan oleh gas itu (tekanan partial), yang berada dalam kesetimbangan dengan
larutan itu.
Secara matematis ditulis :
Cg=kgPg
dimana :
Cg=Konsentrasi atau kelarutan gas dalam cairan
kg =Tetapan henry
Pg =Tekanan parsial gas
Contohnya kelarutan oksigen dalam air bertambah menjadi 5 kali jika tekanan
partial-nya dinaikkan 5 kali. Hukum ini tidak berlaku untuk gas yang bereaksi dengan
pelarut, misalnya HCl atau NH3 dalam air.
4. Pengadukan
Pengadukan menyebabkan partikel-partikel antara zat terlarut dengan pelarut akan
semakin sering untuk bertabrakan. Hal ini menyebabkan proses pelarutan menjadi
semakin cepat.
5. Besar kecilnya zat terlarut (luas permukaan)
Zat terlarut dengan ukuran kecil (serbuk) lebih mudah melarut dibandingkan dengan
zat terlarut yang berukuran besar.

Pada zat terlarut berbentuk serbuk, permukaan sentuh antara zat terlarut dengan
pelarut semakin banyak. Akibatnya, zat terlarut berbentuk serbuk lebih cepat larut
daripada zat telarut berukuran besar.
6. Cosolvensi
Kelarutan suatu zat sangat dipengaruhi oleh polaritas pelarut. Pelarut polar
mempunyai konstanta dielektrik yang tinggi dapat melarutkan zat-zat non polar sukar
larut di dalamnya, begitu pula sebaliknya. Besarnya tetapan dielektrik ini menurut
moore dapat diatur dengan penambahan pelarut lain. Tetapan dielektrik suatu
campuran pelarut merupakan hasil penjumlahan dari tetapan dielektrik masing-masing
yang sudah dikalikan dengan % volume masing-masing komponen pelarut.
Adakalanya suatu zat lebih mudah larut dalam pelarut campuran dibandingkan pelarut
tunggalnya. Fenomena ini dikenal dengan istilah co-solvency dan pelarut yang mana
dalam bentuk campuran dapat menaikkan kelarutan suatu zat diseut co solvent.
Etanol, gliserin dan propilen glikol adalah co-solvent yang umum digunakan dalam
bidang farmasi untuk pembuatan eliksir.
7. Salting Out
Salting Out adalah Peristiwa adanya zat terlarut tertentu yang mempunyai kelarutan
lebih besar dibanding zat utama, akan menyebabkan penurunan kelarutan zat utama
atau terbentuknya endapan karena ada reaksi kimia. Contohnya : kelarutan minyak
atsiri dalam air akan turun bila kedalam air tersebut ditambahkan larutan NaCl jenuh.
8. Salting In
Salting in adalah adanya zat terlarut tertentu yang menyebabkan kelarutan zat utama
dalam solvent menjadi lebih besar. Contohnya : Riboflavin tidak larut dalam air tetapi
larut dalam larutan yang mengandung Nicotinamida.
9. Pembentukan Kompleks
Pembentukan kompleks adalah peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa tak larut
dengan zat yang larut dengan membentuk garam kompleks. Contohnya : Iodium larut
dalam larutan KI atau NaI jenuh.

Komposisi Larutan
Ada beberapa cara untuk menyatakan komposisi larutan. Yaitu dengan Presentase massa/
persen bobot : presentase berdasarkan massa suatu zat dalam larutan. Dalam kimia yang
paling bermanfaat menyatakan komposisi adalah fraksi mol, molaritas, dan molalitas. Dan
untuk lebih jelasnya akan dijelaskan pada pembahasan konsentrasi larutan.
Konsentrasi Larutan
Sifat-sifat fisik larutan ditentukan oleh konsentrasi dari berbagai komponennya.
Konsentrasi larutan menyatakan banyaknya zat terlarut yang terdapat dalam suatu pelarut
atau larutan. .Larutan yang mengandung sebagian besar solut relatif terhadap pelarut, berarti
larutan tersebut konsentrasinya tinggi (pekat). Sebaliknya bila mengandung sejumlah kecil
solut, maka konsentrasiya rendah (encer). Terdapat beberapa cara yang umum dipakai dalam
menyatakan konsentrasi larutan, yaitu :
Satuan Konsentrasi Larutan
No Pernyataan
.

Konsentrasi

1.

Persen

Simbol

Hubungan satuan

% (w/w)

Penggunaan

Kelarutan

berat/berat

dan

lainnya
%(w/w) =

2.

Persen

% (v/v)

volume/volum

%(v/v) = (Volume zat/Volume larutan) Beberapa


x 100%

e
3.

Persen

penggunaan
praktis

%(w/v)

berat/volume
%(w/v) =
4.

5.

Molaritas

Molalitas

M = mol zat terlarut/Liter larutan

Analisa kuantitatif

(Molar)

dan kualitatif

Sifat

(molal)

elektrokimia,

koligatif,

termodinamika

6.

Normalitas

m=

larutan elektrolit

N = ekivalen zat terlarut / Liter larutan

Analisa volumetri,
daya

hantar

ekivalen
7.

Keformalan

F = massa rumus zat terlarut / Liter Analisa kuantitatif


larutan

8.

Fraksi mol

Sifat

X=
9.

Parts

dan kualitatif

per Ppm

koligatif,

hukum

Dalton,

Hukum

Raoult,

termodinamika
Larutan

milion (bagian

yang

sangat encer

persejuta)
ppm =
10. Osmolaritas

Osm

Peristiwa osmosis

Osm =

Ada 2 reaksi dalam larutan, yaitu:


a) Eksoterm, yaitu proses melepaskan panas dari sistem ke lingkungan, temperatur dari
campuran reaksi akan naik dan energi potensial dari zat- zat kimia yang bersangkutan akan
turun.
b) Endoterm, yaitu menyerap panas dari lingkungan ke sistem, temperatur dari campuran
reaksi akan turun dan energi potensial dari zat- zat kimia yang bersangkutan akan naik.

2.2 Kesetimbangan kimia dinamis


Kesetimbangan kimia dinamis tercapai pada saat dua reaksi kimia yang berlawanan
terjadi pada tempat dan waktu yang sama dengan laju reaksi yang sama. Ketika sistem
mencapai kesetimbangan, jumlah masing-masing spesi kimia menjadi konstan (tidak perlu
sama).

Kadang-kadang, terdapat banyak produk (spesi kimia yang ada di sisi kanan tanda panah
bolak-balik) ketika reaksi mencapai kesetimbangan. Tetapi, kadang-kadang, produknya justru
sangat sedikit. Jumlah relatif dari produk dan reaktan dalam kesetimbangan dapat ditentukan
dengan menggunakan konstanta kesetimbangan kimia (K) untuk reaksi tersebut.
Secara umum, untuk reaksi kesetimbangan hipotetis berikut :
a A + b B <> c C + d D
Huruf besar menunjukkan spesi kimia dalam kesetimbangan kimia dan huruf kecil
menyatakan koefisien reaksi pada reaksi kimia setara. Konstanta kesetimbangan kimia (Kc)
secara matematis dapat dinyatakan dalam persamaan berikut :
Kc = [C]c [D]d / [A]a [B]b
Persamaan Keq dirumuskan oleh dua ahli kimia berkebangsaan Norwegia, yaitu Cato
Guldberg dan Peter Waage, pada tahun 1864. Persamaan ini merupakan pernyataan
matematis dari hukum aksi massa (law of mass action), yang menyatakan bahwa pada
reaksi reversible (bolak-balik, dua arah) yang mencapai keadaan kesetimbangan pada
temperatur tertentu, perbandingan konsentrasi reaktan dan produk memiliki nilai tertentu
(konstan), yaitu Kc (konstanta kesetimbangan kimia).
kesetimbangan homogen fasa gas
Konsentrasi reaktan dan produk dalam reaksi gas dapat dinyatakan dalam
bentuk tekanan parsial masing-masing gas (ingat persamaan gas ideal, PV=nRT). Dengan
demikian, satuan konsentrasi yang diganti dengan tekanan parsial gas akan mengubah
persamaan Kc menjadi Kpsebagai berikut :
a A + b B <> c C
Kp = (C)c / (B)b (A)a
Nilai Kp menunjukkan konstanta kesetimbangan yang dinyatakan dalam satuan tekanan
(atm). Kp hanya dimiliki oleh sistem kesetimbangan yang melibatkan fasa gas saja.
Secara umum, nilai Kc tidak sama dengan nilai Kp, sebab besarnya konsentrasi reaktan
dan produk tidak sama dengan tekanan parsial masing-masing gas saat kesetimbangan.
Dengan demikian, terdapat hubungan sederhana antara Kc dan Kp yang dapat dinyatakan
dalam persamaan matematis berikut :
Kp = Kc (RT)n
Kp = konstanta kesetimbangan tekanan parsial gas
Kc = konstanta kesetimbangan konsentrasi gas

R = konstanta universal gas ideal (0,0821 L.atm/mol.K)


T = temperatur reaksi (K)
n = koefisien gas produk koefisien gas reaktan
Untuk mempelajari kecenderungan arah reaksi, digunakan besaran Qc, yaitu hasil
perkalian konsentrasi awal produk dibagi hasil perkalian konsentrasi awal reaktan yang
masing-masing dipangkatkan dengan koefisien reaksinya. Jika nilai Qc dibandingkan dengan
nilai Kc, terdapat tiga kemungkinan hubungan yang terjadi, antara lain :
1. Qc < Kc
Sistem reaksi

reversibel kelebihan

reaktan

dan

kekurangan

produk.

Untuk

mencapaikesetimbangan, sejumlah reaktan diubah menjadi produk. Akibatnya, reaksi


cenderung ke arah produk (ke kanan).
2. Qc = Kc
Sistem berada dalam keadaan kesetimbangan. Laju reaksi, baik ke arah reaktan maupun
produk, sama.
3. Qc > Kc
Sistem reaksi

reversibel kelebihan

produk

dan

kekurangan

reaktan.

Untuk

mencapaikesetimbangan, sejumlah produk diubah menjadi reaktan. Akibatnya, reaksi


cenderung ke arah reaktan (ke kiri).

2.3 Sifat Koligatif Larutan


Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak bergantung pada jenis zat terlarut
tetapi hanya bergantung pada konsentrasi pertikel zat terlarutnya. Sifat koligatif larutan terdiri
dari dua jenis, yaitu sifat koligatif larutan elektrolit dan sifat koligatif larutan nonelektrolit.
Sifat Koligatif Larutan Nonelektrolit
Meskipun sifat koligatif melibatkan larutan, sifat koligatif tidak bergantung pada
interaksi antara molekul pelarut dan zat terlarut, tetapi bergatung pada jumlah zat terlarut
yang larut pada suatu larutan. Sifat koligatif terdiri dari penurunan tekanan uap, kenaikan titik
didih, penurunan titik beku, dan tekanan osmotic

Penurunan Tekanan Uap


Molekul - molekul zat cair yang meninggalkan permukaan menyebabkan adanya
tekanan uap zat cair. Semakin mudah molekul - molekul zat cair berubah menjadi uap, makin
tinggi pula tekanan uapzat cair. Apabila tekanan zat cair tersebut dilarutkan oleh zat terlarut
yang tidak menguap, maka partikel - partikel zat terlarut ini akan mengurangi penguapan
molekul - molekul zat cair. Laut mati adalah contoh dari terjadinya penurunan tekanan uap
pelarut oleh zat terlarut yang tidak mudah menguap. Air berkadar garam sangat tinggi ini
terletak di daerah gurun yang sangat panas dan kering, serta tidak berhubungan dengan laut
bebas, sehingga konsentrasi zat terlarutnya semakin tinggi. Persamaan penurunan tekanan
uap dapat ditulis

P = tekanan uap jenuh larutan

P0 = tekanan uap jenuh pelarut

P = tekanan uap zat cair murni


P = tekanan uap larutan

murni

Xp = fraksi mol zat pelarut

Xt = fraksi mol zat terlarut

Kenaikan Titik Didih


Titik didih zat cair adalah suhu tetap pada saat zat cair mendidih. Pada suhu ini,
tekanan uap zat cair sama dengan tekanan udara di sekitarnya. Hal ini menyebabkan
terjadinya penguapan di seluruh bagian zat cair. Titik didih zat cair diukur pada tekanan 1
atmosfer. Dari hasil penelitian, ternyata titik didih larutan selalu lebih tinggi dari titik didih
pelarut murninya. Hal ini disebabkan adanya partikel - partikel zat terlarut dalam suatu
larutan menghalangi peristiwa penguapan partikel - partikel pelarut. Oleh karena itu,

penguapan partikel - partikel pelarut membutuhkan energi yang lebih besar. Perbedaan titik
didih larutan dengan titik didih pelarut murni di sebut kenaikan titik didih yang dinyatakan
dengan (

). Persamaannya dapat ditulis:

Tb = kenaikan titik didih (oC)

kb = tetapan kenaikan titik didih molal (oC kg/mol)

m = molalitas larutan (mol/kg)

Mr = massa molekul relatif

P = jumlah massa zat (kg)

Penurunan Titik Beku


Adanya zat terlarut dalam larutan akan mengakibatkan titik beku larutan lebih kecil
daripada titik beku pelarutnya. Persamaannya dapat ditulis sebagai berikut :

Tf = penurunan titik beku (oC)

kf = tetapan perubahan titik beku (oC kg/mol)

m = molalitas larutan (mol/kg)

Mr = massa molekul relatif

P = jumlah massa zat (kg)

Tekanan Osmotik
Tekanan osmotik adalah gaya yang diperlukan untuk mengimbangi desakan zat pelarut
yang melalui selaput semipermiabel ke dalam larutan. Membran semipermeabel adalah suatu
selaput yang dapat dilalui molekul - molekul pelarut dan tidak dapat dilalui oleh zat terlarut.
Menurut Van't Hoff, tekanan osmotik larutan dirumuskan:

= tekanan osmotik

M = molaritas larutan

R = tetapan gas (0,082)

T = suhu mutlak

Sifat Koligatif Larutan Elektrolit


Pada konsentrasi yang sama, sifat koligatif larutan elektrolit memliki nilai yang lebih
besar daripada sifat koligatif larutan non elektrolit. Banyaknya partikel zat terlarut hasil
reaksi ionisasi larutan elektrolit dirumuskan dalam faktor Van't Hoff. Perhitungan sifat
koligatif larutan elektrolit selalu dikalikan dengan faktor Van't Hoff :

Keterangan :

= faktor Van't Hoff

n = jumlah koefisien kation


= derajat ionisasi
Penurunan Tekanan Uap Jenuh
Rumus penurunan tekanan uap jenuh dengan memakai faktor Van't Hoff adalah:
=P0
Kenaikan Titik Didih

Penurunan Titik Beku

Tekanan Osmotik

Persamaannya adalah:

Persamaannya adalah :

Persamaannya adalah :

=
=

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari pembahasan makalah ini adalah :
1. Larutan adalah campuran homogen (serbasama) terdiri dari zat terlarut (jumlahnya
sedikit) dan zat pelarut (jumlahnya banyak).
Solute (zat terlarut): zat yang berperan sebagai terlarut dalam jumlah sedikit.
Solvent (zat pelarut): zat yang berperan sebagai pelarut dalam jumlah banyak.
2. Kesetimbangan kimia dinamis tercapai pada saat dua reaksi kimia yang berlawanan
terjadi pada tempat dan waktu yang sama dengan laju reaksi yang sama. Ketika sistem
mencapai kesetimbangan, jumlah masing-masing spesi kimia menjadi konstan (tidak
perlu sama).
3. Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak bergantung pada jenis zat terlarut
tetapi hanya bergantung pada konsentrasi pertikel zat terlarutnya. Sifat koligatif
larutan terdiri dari dua jenis, yaitu sifat koligatif larutan elektrolit dan sifat koligatif
larutan nonelektrolit. Hal yang berkaitan tentang sifat koligatif larutan adalah
penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku, dan tekanan
osmotik
3.2 Saran
Demikian makalah yang kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca. Apabila ada
saran dan kritik yang ingin di sampaikan, silahkan sampaikan kepada kami. Apabila ada
terdapat kesalahan mohon dapat memaafkan dan memakluminya, karena manusia tidak ada
yang sempurna.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2011.ANONIM

2011

FAKTOR-FAKTOR

YANG

MEMPENGARUHI KELARUTAN.
[Online].tersedia:http://skripsiairku.wordpress.com/2011/04/15/fakto
r-faktor-yang-mempengaruhi-kelarutan/.[diakses 12 Desember 2014,
17.18 Wita]
Anonim.2008.Medicafarma.
[Online].tersedia:http://medicafarma.blogspot.com/2008/08/larutan.
html.[diakses 12 Desember 2014, 17.44 Wita]
Dhesta,Ita.2011.Macam

Macam

Larutan.

[online].tersedia:http://itadhesta.blogspot.com/2011/04/macammacam-larutan.html.[diakses 12 Desember 2014, 17.12 Wita]


Rahma,Yoga Kevan.2011.Laporan Praktikum Farmasi Fisik Kelarutan.
[Online].tersedia:http://yoggazta.blogspot.com/2011/05/laporanpraktikum-farmasi-fisik.html.[diakses 12 Desember 2014, 17.27
Wita]
Sauri,

Sofyan.2012.Definisi

Larutan

Dan

Macam

Macam

Larutan.

[online].tersedia:http://sofyansauri29.blogspot.com/2012/12/larutan.html. [diakses 12
Desember 2014, 16.34 Wita]
Supradi.-.Sifat Koligatif Larutan.[online].tersedia: https://dsupardi.wordpress.com/kimia-xii2/sifat-koligatif-larutan/.[diakses 12 Desember 2014, 16.55]
Teras

Kimia.2012.Kesetimbangan

Kimia.[online].tersedia:

http://aboutche-

mistry.blogspot.com/2012/05/kesetimbangan-kelarutan.html.[diakses 12 Desember
2014, 12.00]
Yasintha,Nadia.2011.

Larutan

Dan

[online].tersedia:http://yasinthananad.blogspot.com/2011/05/larutan-danjenisnya.html.[diakses 12 Desember 2014, 16.37 Wita]

Jenisnya.

TUGAS MATA KULIAH KIMIA FISIKA


LARUTAN

OLEH
PUTU RINA WIDHIASIH
(PO7134014002)

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
2014