Anda di halaman 1dari 86

Staad Pro adalah program untuk menghitung

struktur 3 dimensi dan mendesain material


yang beragam. Dalam analisa struktur yang
dilakuka STAAD pertama kali adalah
menyiapkan matriks kekakuan berdasarkan
informasi geometri, material dan properti..
Matriks ini akan digunakan untuk
mendapatkan respons dari struktur berupa
gaya ujung batang, reaksi tumpuan,
deformasi dan rotasi.
Langkah memulai staad Pro sebagai berikut:

Klik
disini kita
harus mementukan jenis struktur
yang akan kita inginkan. Space untuk
struktur 3 Dimensi dengan gaya
bekerja di semua bidang, Plane untuk
struktur dengan gaya sebidang
dengan struktur, Floor untuk struktur
dengan gaya tegak lurus bidang
struktur, Truss untuk struktur rangka
batang dimana gaya yang bekerja
hanya tarik atau tekan.
Kita juga diminta untuk memasukkan
nama File serta lokasi tempat
penyimpanan file.

Di tahap ini juga kita diminta untuk


menentukan satuan panjang dan
satuan yang akan kita gunakan.
Setelah selesai klik next.
Disini kita ditanyakan dimana kita
akan memulai mendisain.
Klik
pada tahap ini kita
diminta mengisi kelengkapan data
dokumen yang kita ingin buat
sebagai berikut pekerjaan, klien,
insinyur, pemeriksa, dll
Klik

Tahap ini kita

diminta untuk membuat model


struktur yang akan kita desain seperti
balok, plat, surface, benda pejal, dll.
Klik

untuk

langkah

selanjutnya kita diminta untuk


menentukan material yang digunakan
klik
untuk mengisi datanya.

Kemudian klik

untuk

menentukan bentuknya. Selanjutnya

klik

untuk

pembebanan. Klik

menentukan
untuk

menentukan jenis perletakan. Klik


untuk menentukan kondisi
khusus pada struktur.
Klik

untuk menghitung

struktur .
Klik

untuk

mendesain

sesuai material yang digunakan


seperti baja, beton, kayu, alumunium.
Disain Beton:
CLB = jarak bersih tulangan terluar
bawah
CLS = jarak bersih tulangan terluar
sisi

CLT = jarak bersih tulangan terluar


atas
Depth =
Eface =
Fc = kekuatan tekan beton
FyMain = Kuat leleh tulamgan utama

FySec = Kuat leleh tulangan


sekunder
MaxMain = besar maximum tulangan
utama
MinMain = besar minimum tulangan
utama
MinSec = besar minimum tulangan
sekunder
Mmag = faktor pembesaran kolom
Nsection = pembagian interval pada
balok untuk mendesain balok.
REINF = pilihan untuk desain kolom
mengunakan spiral atau sengkang
kotak biasa.
RHOMN
=
persen
tulangan
minimum untuk desain kolom.
SFACE=
TRACK = untuk pelaporan
WIDTH =
Disain Baja:

AXIS =
Beam = jarak balok yang didesain
Bmax =
CAN =
Cb =
CDIA =
CHOLE =

CMY =
CMZ =
COMPOSITE =
CONDIA = diameter shear konektor
DINC =
CONHEIGHT = tinggi shear
konektor setelah di las
Cycles =
DFF = maksimum lendutan lokal
yang diperbolehkan
DJ1 =
DJ2 =
DLR2=
DLRatio =
DMAX =
DMIN =
EFFWIDTH =
ELECTRODE =
FBINC =
FLX =

FPC = kekuatan tekan beton usia 28


hari
FSS =
FTBINC =
FTINC =
FU = kekuatan tarik baja
FYLD = kekuatan leleh baja
HECC =

KX = Effective length factor for


flexural torsional buckling
KY = K value in local Y axis, usually
minor axis.
KZ = K value in local Z axis, usually
major axis.
LX = length for flexural torsional
buckling
LY = Length in local Y axis
slenderness value KL/r
LZ = Length in local Z axis for
slendernedd value KL/r
Main
=
pilihan
menghitung
kelangsingan atau tidak
NSF = Net section factor for tension
members.
OVR = Factor by which all allowable
stresses/capacities
should
be
multiplied

PLTHICK = Thickness of cover plate


welded to bottom flange of compisite
beam
PLTWIDTH = Width of cover plate
welded to bottom flange of
composite beam
PROFILE =
RATIO = Permissible ratio of actual
to allowable stress

RDIM =
RHOLE =
RIBHeight = Height of Rib of form
steel deck
RIBWidth = Width of rib of form
steel deck
SHE = Shear stress calculation option
Shoring = Temporary shoring during
construction.
SlabThick = tebal slab
SSY = Desain untuk goyangan ke
lokal sumbu Y
SSZ = Desain untuk goyangan ke
lokal sumbu Z
STIFF = spacing of stiffeners for
plate girder design
TAPER = Design for Tapered
member
TMAIN = Allowable L/R in tension

Torsion = Desain untuk torsi


TRACK = laporan desain
UNB = Unsupported length of
bottom flange foe calc. bending
capacity.
UNT = Unsupported length of top
flange foe calc. bending capacity.
WELD =
WMAX= tebal maksimum las

Disain Alumunium
ALCLAD =
ALLOY =
Beam = pengecekan pada batang
DMAX =
DMIN =
KT =
KY =
KZ=
LT =
LY =
LZ =
Product =
Ratio =
SSY =
SSZ =
STIFF =
Structure =

Track =
UNL =
WELD =

Disain Kayu
Beam=
CB =
CC =
CCR =
CDT =
CFB =
CFC =
CFT =
CFU =
CMB =
CMC =
CME =
CMP =
CMT =
CMV =
CR =
CSF =
CSS =

CTM =
CTT =
CV =
Index =
KB =
KBD =
KBE =
KCE =
KEY =

KEZ =
KL =
LUY =
LUZ =
LY =
LZ =
Ratio =
SRC =
SRT =

JENIS PEMBEBANAN
Selftweight = beban mati struktur
Nodal Load = Beban titik pertemuan
Support Displacement = penurunan
perletakan
Member Load = gaya pada batang
Uniform force = gaya merata
Uniform moment = momen merata
Concentrated Force = Beban terpusat
Concentrated Momen = Moment
terpusat
Linear varying = beban berubah
secara linear.
Trapezoidal = beban trapesium
Hydrostatic = beban hidrostatis
Pre/Post Stress = beban prestress,
poststress.
Fixed end = beban

Physical Member Load = beban fisik


batang
Uniform Force = gaya merata
Uniform moment = moment merata
Concentrated Force = beban terpusat
Concentrated Moment = Momen
terpusat
Trapezoidal = beban trapesium

Area Load = beban area


Floor Load = beban lantai
Plate Load
Presure on full plate = tekanan seluas
plate
Concentrated Load = Beban titik
pada plate
Partial Plate Pressure = tekanan
sebagian pada luasan plate
Trapezoidal = beban trapesium
Element Joint load = beban pada titik
pertemuan plate
Surface load = beban pada
permukaan
Concentrated Load = gaya terpusat
pada surface
Pressure on full surface = beban
penuh merata pada surface

Partial Surface Pressure = tekanan


sebagian pada luasan plate
Partial surface trapizoidal load =
beban trapesium sebagian pada
surface
Solid load = beban benda pejal
Temperatur Load = beban suhu

Seismic Load = beban gempa


Time History = beban gempa
berdasarkan catatan rekam waktu
Wind Load = beban angin
Snow Load = beban salju
Respons Spectra =
Repeat Load =
Frequency
Property
Circle = lingkaran
Rectangle = segi empat
Tee = T
Trapezoidal = Trapesium
General = umum
Tapered I = I tidak beraturan
Tapered Tube =

Section Database = pengambilan


bentuk
material
dengan
menggunakan database.
Geometry
bagian

ini

digunakan

untuk

membuat model balok, caranya tentukaan


grid sesuai dengan keperluan. Grid bisa
linear, radial, dan tidak teratur.

bagian ini untuk memodelkan plat.


bagian ini untuk memodelkan
permukaan.
bagian ini untuk memodelkan solid.
bagian ini untuk memodelkan
parametric model
bagian ini untuk memodelkan
composite deck
utk
member table.

memodelkan

Physical

Material
Material dibagi dua yaitu Isotropic dan
Ortho Tropic2D.
Parameter material Isotropic sbb :
Young Modulus (E)
Poissons Ratio
Density
Thermal Coeff
Critical Damping
Shear Modulus

Pembagian beban :
1. Tetap = Beban mati.
2. Sementara = beban angin, gempa,
getaran, hidup.
3. Tanah = tekanan tanah, air
Beban mati = beban yang selalu ada di
bangunan itu (tidak berpindah pindah), berat
sendiri struktur.
Di lantai : kramik, marmer, granito,
perekat/screed, beban ME (kabel,
pipa , ducting ac), plafond, plat
lantai.

Dinding : Bata. Batako, bata ringan,


dinding bata + kaca.
Pelapis eksterior = cladding
Partisi : gypsum + rangka hollow,
kaca + rangka.
Atap :
dakbeton + screed +
waterproofing, rangka baja , penutup
atap, genteng.
Beban hidup = lihat peraturan pembebanan
Indonesia.
Beban angin : P=V2/16. (V dalam m/det, P =
kg/m2)

Beban gempa = lihat peraturan gempa.


Konbinasi Beban LRFD :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

1.2 DL+1.6LL
1.2 DL+1LL+1Fx+0.3Fy
1.2 DL+1LL+1Fx-0.3Fy
1.2 DL+1LL-1Fx+0.3Fy
1.2 DL+1LL-1Fx-0.3Fy
1.2 DL+1LL+0.3Fx+1Fy
1.2 DL+1LL+0.3Fx-1Fy
1.2 DL+1LL-0.3Fx+1Fy
1.2 DL+1LL-0.3Fx-1Fy

Tipe Analisa struktur pada STAAD


1. Linear statik analisis
2. Second Order Static Analysis
Analisa P-Delta
Analisa Non Linear
Multi Linear Spring Support
Member/Spring
Tension/Compression only

3. Analisa Dinamik
Time History
Respons Spectrum
Analisa Dinamika
Anda telah mempelajari beberapa fasilitas
dari STAAD, dimana mode analisa struktu
yang digunakan adalah analisa statik. Pada
bagian ini akan digunakan fasilitas analisa
dinamik dari STAAD. Analisa tersebut
meliputi analisa riwayat waktu, analisa
respons spektrum dan analisa seismic.

Analisa Riwayat Waktu (Time History


Analsis) :
Time
History
Analysis
menganalisa
percepatan terhadap waktu kita harus
memiliki
rekaman.
Minimal
kita
menggunakan dua rekaman terkenal dan satu
rekaman gempa terdekat dgn lokasi desain
dan harus terkenal juga.
Dalam Analisa Riwayat waktu, respons
struktur (misalkan perpindahan) yang akan
didapat berubah terhadap waktu, sebagai
akibat dari gaya luar dinamik yang bekerja.
Dimana respons yang didapat tergantung
dari nilai eigen (yang merupakan fungsi
kekakuan dan massa) dari struktur.Dalam

respons rekayasa teknik, nilai respons


perpindahan maksimum yang didapat akan
di evaluasi apakah berada di dalam batas
perpindahan maksimum yang diijinkan.
Hal yang menarik mengenai analisa dinamik
adalah respons pada saat resonansi, dimana
perpindahan akan mencapai maksimum jika

frekuensi gaya luar mendekati frekuensi


gaya dalam.
Hal yang perlu diperhatikan dalam analisa
dinamika:
1. Respons struktur harus berada di dalam
batas ijin dari respon. Informasi yang
diperlukan
adalah
perpindahan
maksimum pada saat getaran terjadi.
2. Efek resonansi harus dihindari sedapat
mungkin. Informasi yang diperlukan
adalah frekuensi natural dan modus getar
struktur, dan frekuensi gaya eksitasi
(gaya luar) yang menyebabkan struktur
bergetar.
Analisa Respons Spektrum
Gempa yang terkenal dirangkum oleh
panitia menjadi respons spectra, dipakai
gempa yang terdekat untuk dianalisa.
Respons Spekta dilampirkan per wilayah
dari spektrum.

Analisa dinamik dengan metode respons


spektrum digunakan untuk mencari
kemungkinan respons maksimum pada
tanah dasar. Dimana data input yang
dipakai merupakan grafik respon tanah
dasar

Statik Ekivalen
Analisa seismik digunakan untuk
memperhitungkan
respons
struktur
terhadap gaya gempa. Dimana akibat
gaya gempa, struktur akan bergoyang
berdasarkan periode natural sistem.
Dalam hal ini penambahan gaya akibat
gempa dijadikan beban lateral statik yang
nilainya ekuivalen berdasarkan gempa
maksimum
yang
akan
mungkin
terjadi.Adapun besarnya gaya tersebut
tergantung dari : periode natural dan
jenis tanah (lunak atau keras). Karena itu
metode ini sering disebut metode
Gempa Statik Ekuivalent.
Langkah langkah perencanaan :
1. Lakukan analisis struktur akibat beban
mati dan beban hidup.
2. Tentukan waktu getar bangunan cara
empiris dari UBC.

3. Tetapkan wilayah gempa (wilayah 1 SD


wilayah 6)
4. Tetapkan
jenis
tanah
(Tanah
Lunak/Sedang/Keras)
5. Hitung base shear (gaya geser dasar)
Total
6. Hitung distribusi gaya geser per masing
masing lantai.

7. Hitung pusat massa masing masing


lantai.
8. Hitung pusat kekakuan / rotasi masing
masing lantai.
9. Hitung eksentrisitas teoritis dan desai /
rencana masing masing lantai
10. Hitung pusat massa disain masing
masing lantai
11. Tetapkan kombinasi pembebanan akibat
beban mati, beban hidup dan gaya
gempa.
Keterangan :
Menentukan waktu getar cara empiris dari
a). UBC 1997:

T Ct hn

Ct = 0.0853 untuk steel moment resisting


frame
= 0.0731 untuk reinforced concrete
moment resisting frames
dan eccentrically braced
frames.
= 0.0488
untuk bangunan lain
hn = tinggi bangunan (m)
b). Cara Rayleigh

n
2
Wd
i i
T 2 i 1
n
g Fd
i i
i 1
Wi = berat lantai ke i
Fi = gaya geser lantai ke i
di = defleksi lateral lantai ke i
Menetapkan wilayah gempa wilayah di
Indonesia dibagi menjadi 6 wilayah. Lihat di
buku peraturan gempa cocokkan dengan
lokasi pembangunan. Contoh Tangerang
berada di wilayah 4.
Menetapkan jenis tanah berdasarkan
laporan penyelidikan tanah. Dibagi menjadi
3 yaitu tanah lunak, tanah sedang dan tanah
keras. Untuk lebih jelasnya lihat di buku
peraturan gempa.
Perhitungan Base Shear (Gaya geser dasar)
total.
CI
V
.Wt
R

Dimana: (lihat di buku peraturan gempa


Indonesia)
C
= faktor respon gempa. (grafik)
I
= faktor keutamaan gedung (Tabel
1)
R
= faktor reduksi gempa maksimum.
(tabel 3)
Wt
= berat total bangunan (beban mati
+ beban hidup tereduksi)
Hitung distribusi gaya geser per masingmasing lantai:
Fi

Wi Z i
n

W Z
i 1

Wi

= beban lantai ke-i (beban mati+beban


hidup tereduksi)

Zi

= ketinggian lantai tingkat ke-i (diukur


dari taraf penjepitan lateral)
= nomor lantai tingkat tertinggi (paling
atas)

Menghitung pusat massa masing masing


lantai.

PMi = (Xmi, Ymi)


Xmi =
Pi
Xi
Yi

Pi.Xi
Pi

= gaya aksial kolom lantai ke-i


= jarak arah xPi dari titik referensi
= jarak arah y Pi dari titik referensi.

Menghitung pusat kekakuan / rotasi


masing masing lantai.
PRi = (XRi, YRi)

XRi

Vy. Xi
Vy

CHECK

YRi

Vx.Yi
Vx

Menghitung Eksentrisitas Teoritis dan


Desain / rencana masing masing lantai.
e = |PM-PR|
exi= |PMxi-PRxi|
eyi = |PMyi-PRyi|
untuk 0<e 0.3b
ed = 1.5 e + 0.05b
atau
ed = e 0.05b
untuk e >0.3b
ed = 1.33e + 0.1b
ed =0.17e 0.1b
Hitung pusat massa disain masing masing
lantai
PMi = PMi + edi
PMxi = PMxi + (edxi-exi) (untuk PMxi Prxi)
PMxi = PMxi - (edxi-exi) (untuk PMxi < PRxi )

PMyi = PMyi + (edyi-eyi) untuk PMyi PRyi


PMyi = PMyi - (edyi-eyi) untuk PMyi < PRyi

Tetapkan Kombinasi Pembebanan akibat


Beban Mati, Beban Hidup dan Beban
Gempa.
1. 1.2 DL + 1.6LL
2. 1.2 DL + 1LL + 1Fx + 0.3Fy
3. 1.2 DL + 1LL + 1Fx - 0.3Fy
4. 1.2 DL + 1LL - 1Fx + 0.3Fy
5. 1.2 DL + 1LL - 1Fx - 0.3Fy
6. 1.2 DL + 1LL + 0.3Fx + 1Fy
7. 1.2 DL + 1LL + 0.3Fx - 1Fy
8. 1.2 DL + 1LL - 0.3Fx + 1Fy
9. 1.2 DL + 1LL - 0.3Fx -1Fy
Analisa P-Delta
Secara
normal
struktur
mengalami
pembebanan berupa berat sendiri dan beban
hidup yang bekerja centris pada titik berat
sistem. Jika struktur diberikan gaya lateral,
maka struktur akan mengalami perpindahan
kearah lateral.Akibatnya akan terjadi
eccentrisitas antara gaya vertikal terhadap
titik berat sistem. Hasilnya akan timbul
beban tambahan berupa gaya dan moment.
Untuk kolom pendek reaksi yang terjadi
hanya berupa efek primer saja P delta dapat

diabaikan. Sedeangkan untuk kolom lebih


panjang selain efek primer akan timbul efek
sekunder berupa penambahan gaya akibat
adanya eksentrisitas.Efek P Delta, akan
sangat berpengaruh terutama untuk batang
dengan gaya aksial besar dan angka
kelangsingan yang tinggi. Karena itu untuk
struktur Gedung tinggi harus dilakukan
analisa P-Delta, apalagi jika daerah
konstruksi merupakan daerah rawan gempa.

Contoh soal bangunan lima lantai


Masukkan nama file dan lokasi
penyimpanan file yang akan

Tampak atas

Tampak Depan
Cara membuat Geometry.

Klik

Tahap selanjutnya pilih irregular


untuk membuat grid, beri nama x,
isikan data relatif gridlines distance

Hasil Grid yang dibuat sebagai


berikut; jgn lupa beri tanda pada
grid yang baru dibuat.

Sekarang gunakan snap node/beam


untuk membuat model struktur,
jangan
lupa
matikan
snap
node/beam jika diperlukan untuk
keperluan membuat model struktur

sesuai dengan
rencana.

gambar

struktur

Gunakan

translational repeat.

Hasilnya

1.
2.
1.

Sekarang kita akan menetapkan


jenis material yang dipakai yaitu
Beton
K300.
Klik
kemudian klik

Klik

Isikan data sebagai berikut untuk


K300

Selanjutnya kita mengisi property


klik
klik define, pilih

rectangle
untuk
menentukan
dimensi dari balok dan kolom.
Kolom ukuran 50cmx50cm, balok
arah x = 40cmx80cm, balok arah z
= 20cm x 40cm.

klik

klik

Hasil akhir sebagai berikut. Ulangi


untuk balok arah x dan arah z

Sekarang kita akan memberi tanda


(assign)ke model struktur sesuai
dengan material dan propertynya.
Untuk kolom Rect0.5x0.5, balok
arah x Rect0.8x0.4 dan balok arah z
Rect0.4x0.2.
caranya
sorot Rect 0.5x0.5,
kemudian sorot bagian dari gambar
model
struktur
yang
akan
didefinisikan sebagai Rect 0.5x0.5.

Kemudian klik Assign, Hasilnya


sebagai berikut

Ulangi untuk Rect0.8x0.4 dan


Rect0.4x0.2. Hasil sebagai berikut :

Sekarang kita tentukan perletakan


Klik 1

Klik 2

klik

klik

Hasilnya sebagai berikut

Sekarang kita akan memberi tanda


(assign)ke model struktur sesuai
dengan jenis perletakan. Pada model
ini semua perletakan adalah jepit.
caranya sorot support 2 kemudian
sorot bagian dari gambar model
struktur yang akan didefinisikan
sebagai perletakan jepit

Kemudian klik Assign, Hasilnya


sebagai berikut

Sekarang kita akan memasukkan


live load (2.5kN/m2) dan beban
mati(4.5kN/m2)
Klik1

Klik2

klik

Ulangi untuk Live load, hasil


sebagai berikut :

klik

Kita akan memasukkan beban mati


4.5kN/m2, dengan menggunakan
fasilitas Floor Load.

klik

Masukkan Pressure dead load -4.5


kN/m2 ; Define Y Range 0 s/d 18.4,
Xrange 0 s/d 23 dan Zrange -4 s/d 0

Masukkan Pressure dead load -4.5


kN/m2 ; Define Y Range 0 s/d 18.4,
Xrange 0 s/d 23 dan Zrange -7 s/d
-4

Ulangi untuk live load dengan


beban -2.5 kN/m2. Hingga hasil
sebagai berikut :

Kemudian kita akan menentukan


load combination caranya : sorot
Load Cases Detail kemudian klik
add.

klik

klik

Hasilnya :

Sekarang kita akan memerintahkan


STAAD PRO untuk menganalisa
struktur yang telah kita modelkan.
Klik 1

klik

Hasilnya sebagai berikut :

Langkah berikutnya tekan Ctrl+F5

klik

Setelah Go to Processing Mode


dipilih maka staad Pro akan
menampilkan Node Displacement
sepertui gambar berikut :

Sekarang kita akan mencari pusat


massa masing masing lantai. Tapi
sekarang kita harus mengetahui
gaya aksial kolom di masing masing
lantai. Disini kita akan menganalisa
untuk lantai 5. Berarti kita menyorot
penyangga lantai 5, seperti gambar
di bawah ini:

Kemudian kita gunakan fasilitas


Report section Forces.
klik

klik

klik

Hasilnya sebagai berikut:

Setelah keluar section Force kita


copy ke excel untuk dianalisa guna
mendapatkan pusat massa dan berat
per lantai.

Hasil analisa untuk lantai 5 sebagai


berikut
Dianalisa utk mendapatkan pusat
massa dan berat per lantai

Ulangi perhitungan untuk lantai


1,2,3,4. Hasil sebagai berikut :

Dari struktur yang sudah ada kita


tambahkan node pusat massa / PM
(NB: kembali ke bagian geometri)

Ketik node PM

Selanjutnya kita akan membuat


Master Slave node per lantai.
Dimana node pusat massa tiap tiap
lantai menjadi Master node di tiap
lantai. Contoh di lantai 5 master
node adalah node pusat massa lantai
5 sedangkan yang menjadi slave
node adalah sisa node yang berada
di lantai 5.
Klik 1

Pilih semua node lantai 5

Klik 2

Pilih semua node lantai 5 kemudian


klik view kemudian View Selected
Objects Only

klik

Hasil sebagai berikut : jangan lupa


tampilkan nomor node gunakan
lalu masuk ke label kemudian
berikan tanda cek di node number. :
hasil sebagai berikut :
Pusat massa

Sekarang kita akan menjadikan


node nomor 73 menjadi master
slave.

klik

klik

Hasilnya sebagai berikut

Master node lantai 5 sudah


ditentukan yaitu node nomor 73,
tahapan lanjutnya kita akan
menentukan node slave nya untuk
lantai 5. Caranya sorot