Anda di halaman 1dari 45

LAPORAN INDIVIDU

STUDI LAPANGAN DAN KUNJUNGAN LEMBAGA


(SLKL) 2015

DAMPAK PENGEMBANGAN PARIWISATA TERHADAP TINGKAT


KESEJAHTERAAN MASYARAKAT SASAK SADE

Penyusun :
Nina Minawati Muhaemin
6111121004

JURUSAN ILMU PEMERINTAHAN


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI-2015

LEMBAR PENGESAHAN
DAMPAK PENGEMBANGAN PARIWISATA TERHADAP TINGKAT
KESEJAHTERAAN MASYARAKAT SASAK SADE
PROPOSAL PRAKTIKUM

Penulis :
Nina Minawati Muhaemin
6111121004

Disetujui Pembimbing
Cimahi, 21 April 2015

Toto Kushartono, S.IP., M.Si


NID 4121.530.72

Mengetahui dan Mengesahkan


Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan

Dadan Kurnia, S.IP.,M.Si


NID 4121.413.74

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat


rahmat dan ridho- Nyalah peneliti dapat menyelesaikan penyusunan laporan
praktikum ini. Adapum judul yang peneliti pilih dalam laporan praktikum ini
adalah

Dampak

Pengembangan

Pariwisata

Terhadap

Tingkat

Kesejahteraan Masyarakat Sasak Sade


Adapun tujuan penyusunan laporan praktikum ini adalah untuk
memenuhi salah satu tugas Praktikum tahun ajaran 2015. Terwujudnya laporan
praktikum ini bukan hanya hasil kerja peneliti semesta. Banyak pihak yang turut
berkontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung dalam membantu
penyusunan karya tulis ini.
Melalui kata pengantar ini, peneliti haturkan ucapan terimakasih yang tak
terhingga pada ayah dan ibu atas segala doa dan motivasi yang diberikan selama
ini. Tak ada yang dapatmembalas kecuali ALLah SWT, selain itu laporan
praktikum ini terwujud berkat bantuan, bimbingan, serta dorongan dari semua
pihak, maka pada kesempatan ini peneliti menyampaikan terimaksih terhadap
yang terhormat:
1. Toto Kushartono, S.IP., M.Si., selaku pembimbing ynag telah
memberikan bimbingan dan arahan dalam pelaksanaan praktikum
sampai dengan penyusunan laporan ini.

Dan tak lupa peneliti menyampaikan ucapan terimakasih kepada pihak-pihak yang
telah membantu praktikum SLKL 2015:
1. Dekan Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Achmad Yani.
2. Wakil Dekan I, II, III Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Jenderal Achmad Yani.
3. Bapak Yamardi S.IP., M.Si selaku ketua panitia praktikum SLKL 2015
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Achmad Yani.
4. Semua pihak yang telah membantu peneliti dalam penyusunan laporan
praktikum SLKL 2015 ini dan seluruh teman- teman jurusan Ilmu
Pemerintahan Universitas Jenderal Achmad Yani.
Akhir kata, peneliti mengucapkan banyak tereimakasih kepada semua
pihak, adapun dalam penulisan laoran prkatikum SLKL 2015 ini masih banyak
kekurangannya, hal ini berkaitan dengan keterbatasan peneliti. Untuk itu peneliti
membuka diri atas kritik dan saran yang sifatnya membangun, semoga praktikum
ini dapat memberikan sumbangan kepada semua pihak, khususnya pengembangan
Ilmu Pemerintahan.

Cimahi, 20 April 2015

Peneliti

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................

DAFTAR ISI ................................................................................................

iii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................

I.1 Latar Belakang Penelitian .......................................................................

I.2 Indentifikasi Masalah Penelitian .............................................................

1.3 Tujuan Penelitian ....................................................................................

I.4 Kegunaan Penelitian ...............................................................................

I.4.1 Kegunaan Teoritik .........................................................................

I.4.2 Kegunaan Praktis ...........................................................................

I.5 Kerangka Pemikiran ...............................................................................

I.6 Metode Penelitian ...................................................................................

I.7 Lokasi dan Waktu Penelitian ..................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................

11

II.1 Konsep Pengembangan .........................................................................

11

II.2 Konsep Pariwisata .................................................................................

12

II.2.1 Pengertian Pariwisata ...................................................................

12

II.3 Konsep Pengembangan Pariwisata ........................................................

15

II.4 Konsep Kesejahteraan Sosial ................................................................

17

II.4.1 Indikator Kesejahteraan Sosial .....................................................

17

II.5 Konsep Masyarakat ...............................................................................

18

BAB III OBJEK PRAKTIKUM ................................................................

20

III.1 Letak dan Keadaan Alam .....................................................................

20

III.2 Kependudukan......................................................................................

21

ii

III.3 Lokasi Suku Sasak ...............................................................................

22

III.4 Asal-Usul Suku Sasak ..........................................................................

24

III.5 Sistem Mata Pencaharian Suku Sasak..................................................

25

III.6 Sistem Sosial dan Kekerabatan Suku Sasak.........................................

25

III.7 Teknologi dan Peralatan Hidup Suku Sasak ........................................

26

III.8 Rumah Adat Suku Sasak ......................................................................

27

III.9 Nilai-Nilai yang Terkandung (Makna Dari Bangunan) .......................

29

BAB IV PEMBAHASAN............................................................................

31

IV.1 Dampak Pengembangan Pariwisata Desa Adat terhadap Tingkat


Kesejahteraan Masyarakat Sasak Sade ................................................

31

IV.1.1 Pendapatan Masyarakat Sasak Sade ........................................

31

IV.1.2 Konsumsi atau Pengeluaran Masyarakat Sasak Sade ..............

32

IV.1.3 Keadaan Tempat Tinggal Masyarakat Sasak Sade ..................

32

IV.1.4 Fasilitas Tempat Tinggal Masyarakat Sasak Sade ...................

33

IV.1.5 Kesehatan Anggota Keluarga Masyarakat Sasak Sade ............

33

IV.1.6 Kmeudahan Memasukkan Anak Ke Jenjang Pendidikan ........

34

IV.1.7 Kemudahan Mendapatkan Fasilitas Transportasi ....................

34

BAB V PENUTUP .......................................................................................

35

V.1 Kesimpulan ...........................................................................................

35

V.2 Saran ......................................................................................................

35

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................

36

iii

BAB I
PENDAHULUAN

I.1

Latar Belakang Penelitian


Kebijakan otonomi daerah yang diimplementasikan melalui Undang-

Undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah telah membuka peluang
yang sangat besar bagi daerah untuk mengembangkan daerahnya sesuai dengan
potensi yang tersedia di daerah. Dengan adanya otonomi daerah dengan prinsip
otonomi yang seluas-luasnya, daerah dapat dengan leluasa menyusun perencanaan
pembangunan dalam bentuk RPJPD (Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Daerah) serta menyusun perencanaan keuangan dalam bentuk APBD (Anggaran
Pemasukan dan Belanja Daerah) yang mengacu pada Undang-Undang No. 25
Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Sebagaimana
yang disebutkan dalam pasal 1 ayat 6 UU No.23 tahun 2014 bahwa Otonomi
daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan
mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat
dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pemerintah daerah melaksakan urusan pemerintahan daerah, kecuali
urusan-urusan yang dalam undang-undang Pemerintahan Daerah menjadi urusan
mutlak dari pemerintah pusat, yakni urusan politik luar negeri, pertahanan,
keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional, serta urusan agama. Pemerintah

daerah melaksanakan urusan wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar seperti
pendidikan, kesehatan, ketertiban umum, dan sejenisnya. Selain urusan wajib
tersebut, terdapat urusan pemerintahan pilihan yang dapat dipilih oleh pemerintah
daerah sesuai dengan potensi yang ada di daerah, urusan-urusan tersebut adalah
kelautan dan perikanan, pariwisata, pertanian, kehutanan, energi dan sumber daya
mineral, perdagangan, perindustrian, dan transmigrasi. Pemerintah dapat
memaksimalkan pengelolaan potensi sumber daya yang ada terutama sumber daya
alam yang tersedia untuk menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang
tentunya menjadi modal bagi pemerintah daerah untuk melaksanakan tigas
hakikinya,

yakni

pembangunan,

pelayanan,

dan

pemberdayaan

kepada

masyarakat.
Pembangunan yang ada di Indonesia pada hakikatnya adalah untuk
tecapainya kesejahteraan masyarakat Indonesia. Begitupun dengan pembangunan
dan pengembangan yang dilakukan pada sektor pariwisata. Pasal 4 UndangUndang No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan menyebutkan beberapa
tujuan

pariwisata

meningkatkan

yakni

kesejahteraan

untuk

meningkatkan

rakyat,

menghapus

pertumbuhan

ekonomi,

kemiskinan,

mengatasi

pengangguran, melestarikan alam, lingkungan dan sumber daya, memajukan


kebudayaan, mengangkat citra bangsa, memupuk rasa cinta tanah air,
memperkukuh jati diri dan persatuan bangsa, dan mempererat persahabatan antar
bangsa. Dari uraian tujuan tersebut sangat jelaslah bahwa pengrmbangan sektor
pariwisata diharapkan dapat berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan
masyarakat.

Kabupaten Lombok tengah memiliki potensi sumber daya alam dan


sumber daya manusia yang dapat dijadikan objek wisata. Terdapat banyak
wilayah pantai yang dapat dijadikan tempat wisata bahari, dan bentang alam
lainnya yang dapat menjadi daya tarik wisata alam. Kebudayaan masyarakat suku
sasak pun sebagai suku asli pulau Lombok dapat dijadikan sebagai potensi wisata
budaya berbasis budaya masyarakat. Dengan demikian, potensi yang ada baik
potensi sumber daya alam maupun potensi sumber daya manusia berupa
kebudayaan yang menjadi ciri khas dapat dimanfaatkan untuk menciptakan
kesejahteraan masyarakat Lombok sendiri. Untuk itu, disusunlah penelitian yang
berjudul

Dampak

Pengembangan

Pariwisata

terhadap

Tingkat

Kesejahteraan Masyarakat Sasak Sade.


II.2

Identifikasi Masalah Penelitian


Pengembangan pariwisata di Desa Sasak Sade memberikan dampak bagi

masyarakat sekitar. Dampak ini kemudian akan mempengaruhi kehidupan sosial


masyarakat ke arah yang lebih baik apabila dampak positif akibat pengembangan
pariwisata dapat dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat sekitar. Terjadinya
kenaikan tingkat kesejahteraan merupakan salah satu dampak positif yang dapat
dimanfaatkan oleh masyarakat apabila peningkatan tersebut terdistribusi dengan
baik. Hal ini terjadi karena dengan adanya pengembangan pariwisata maka
terbuka lapangan pekerjaan baru yakni di sektor pariwisata itu sendiri. Oleh
karena

itu

menjadi

menarik

untuk

melihat

bagaimana

dampak

pengembangan pariwisata terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat sasak


sade?

I.3

Tujuan Penelitian
Pada umumnya perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat akibat adanya

pengembangan pariwisata terjadi di berbagai komponen kehidupan salah satunya


adalah pada tingkat kesejahteraan masyarakat. Untuk itu, tujuan dari penulisan
penelitian ini adalah untuk menganalisis dampak pengembangan pariwisata
terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat sasak sade.
I.4

Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

I.4.1

Kegunaan Teoritik

Kepentingan penyusun, kegiatan praktikum pemerintahan ini merupakan


kesempatan untuk menambah wawasan serta melatih dan mempertajam
daya nalar berfikir dari teori- teori yang telah dipelajari, dan sarana
menambah kemampuan menganalisis permasalahan yang dihadapi dalam
melihat dampak pengembangan pariwisata terhadap kesejahteraan
masyarakat.

Kepentingan akademik, laporan kegiatan praktikum pemerintahan


diharapkan

dapat

memberikan

sumbangan

bagi

perkembangan

pengetahuan serta memperkaya wacana dunia pendidikan khususnya


bidang pemerintahan dan berkenaan dengan dampak pariwisata terhadap
tingkat kesejahteraan.

I.4.2

Kegunaan Praktis;
Hasil kegiatan praktikum pemerintahan ini diharapkan dapat menjadi
bahan pertimbangan

serta bahan masukan

dalam menyelesaikan

permasalahan- permasalahan yang berkenaan dengan kesejahteraan


masyarakat di Kabupaten Lombok Tengah.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pada pemrintah


dalam

rangka

apengembangan

kebijakan

dan

program

untuk

mempertahankan eksistensi desa adat sebagai salah satu akar kebudayaan


Lombok. Bagi desa adat penelitian ini dapat berguna sebagai inspirasi
dalam rangka memelihara dan mempertahankan adat- istiadat asli daerah
agar tetap mempunyai ciri khas tersendiri, sedangkan dari segi akademik,
penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kepustakaan yang mengaitkan
pariwisata dengan lembaga tradisional khususnya dalam konteks
kebudayaan di Lombok.

I.5

Kerangka Pemikiran

Pengembangan pariwisata menurut Pearce (1981 : 12) dapat diartikan


sebagai usaha untuk melengkapi atau meningkatkan fasilitas dan pelayanan yang
dibutuhkan masyarakat. Pengembangan pariwisata mempunyai dampak positif
maupun dampak negatif, maka diperlukannya perencanaan untuk menekan sekecil
kemungkinan dampak negatif yang ditimbulkan. Spillane (1994 : 51-62)
menjelaskan

mengenai

pengembangan pariwisata.

dampak

positif

maupun

dampak

negatif

dari

Dampak positif, yang diambil dari pengembangan pariwisata meliputi:


1. Penciptaan lapangan pekerjaan, di mana pada umumnya pariwisata
merupakan industri padat karya di mana tenaga kerja tidak dapat
digantikan dengan modal atau peralatan.
2. Sebagai sumber devisa negara.
3. Pariwisata dan distribusi pembangunan spiritual, di sini pariwisata secara
wajar cenderung mendistribusikan pembangunan dari pusat industri ke
arah wilayah desa yang belum berkembang, bahkan pariwisata disadari
dapat menjadi dasar pembangunan regional. Struktur perekonomian
regional sangat penting untuk menyesuaikan dan menentukan dampak
ekonomis dari pariwisata.
Sedangkan dampak negatif
pengembangan pariwisata meliputi:

yang

ditimbulkan

dengan

adanya

1. Pariwisata dan vulnerability ekonomi, karena di negara kecil dengan


perekonomian terbuka, pariwisata menjadi sumber mudah kena serang
atau luka (vulnerability), khususnya kalau negara tersebut sangat
tergantung pada satu pasar asing.
2. Banyak kebocoran yang sangat luas dan besar, khususnya kalau proyekproyek pariwisata berskala besar dan diluar kapasitas perekonomian,
seperti barang-barang impor, biaya promosi keluar negri, tambahan
pengeluaran untuk warga negara sebagai akibat dari penerimaan dan
percontohan dari pariwisata dan lainnya.
3. Polarisasi spasial dari industri pariwisata di mana perusahaan besar
mempunyai kemampuan untuk menerima sumber daya modal yang besar
dari kelompok besar perbankan atau lembaga keuangan lainnya.
Pasal 4 Undang-Undang No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan
menyebutkan beberapa tujuan pariwisata yakni untuk :

1. meningkatkan pertumbuhan ekonomi,


2. meningkatkan kesejahteraan rakyat,
3. menghapus kemiskinan,
4. mengatasi pengangguran,
5. melestarikan alam,
6. lingkungan dan sumber daya,
7. memajukan kebudayaan,
8. mengangkat citra bangsa,
9. memupuk rasa cinta tanah air,
10. memperkukuh jati diri dan persatuan bangsa,
11. dan mempererat persahabatan antar bangsa.

Kesejahteraan masyarakat menjadi tujuan dari setiap pemerintahan yang


ada yang salah satu caranya yakni dengan mengembangkan sektor pariwisata.
Menurut James Midgley (dalam Huraerah, 2002:29) kesejahteraan sosial suatu
keadaan manusia yang baik atau sejahtera yang wujudnya apabila masalahmasalah sosial terkendali, apabila kebutuhan-kebutuhan manusia terpenuhi, dan
apabila kesempatan-kesempatan sosial dimaksimalkan.
Menurut Badan Pusat Statistik (2005), indikator yang digunakan untuk
mengetahui tingkat kesejahteraan, yaitu
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

I.6

pendapatan
konsumsi atau pengeluaran keluarga
Keadaan tempat tinggal
Fasilitas tempat tinggal
kesehatan anggota keluarga
kemudahan memasukkan anak ke jenjang pendidikan
kemudahan mendapatkan fasilitas transportasi.

Metode Praktikum
Penelitian ini pada hakikatnya merupakan suatu upaya untuk menentukan

kebenaran atau untuk lebih membenarkan kebenaran hasil penelitian tersebut.


Untuk itu di dalam proses penyusunan laporan praktikum SLKL 2015. Peneliti
menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif.
Pendekatan

kualitatif

ini

adalah

pendekatan

yang

diguanakan

untuk

menggambarkan persoalan- persoalan yang ada di lapangan dan merupakan suatu


cara

di

dalam

mengungkapkan

dan

menelaah

permaslahan

dengan

menggambarkan serta menjelaskan peristiwa- peristiwa yang terjadi berdasarkan


fakta yang ada, sehingga menghasilkan data yang bersifat deskriptif yaitu berupa
kata- kata tertulis maupun lisan dari orang- orang dan perilaku yang diamati.

Karakteristik penelitian sangat penting untuk diketahui, Djunaidi &


Fauzan (2012:32) mengatakan karakteristik khusus penelitian kualitatif adalah
berupaya mengungkapkan individu, kelompok, masyarakat, atau organisasi
tertentu dalam kehidupan sehari- hari secara komperhensifatau holistik danrinci.
Adapun karakteristik penelitian menurut (Sujana dan Ibrahim, 2001: 67), Suharsini Arikunto, 2002: 11- 12;Moleong, 2005; 8- 11; Johnson, 2005, dan
Kasiram, 2008;154- 155).
a. Menggunakan pola berpikir induktif (empiris- rasional atau bottomup). Metode kualitatif sering digunakan untuk menghasilkan groundes
theory, yaitu teori yang timbul dari data bukan dari hipotesis seperti
dalam metode kuantitatif. Atas dasar itu penelitian bersifat genetaring
theory, sehingga teoru yang dihasilkan berupa teori substansif.
b. Perspekitf partispan sangat diutamakan dan dihargai tinggi. Minta
penelitaian banyak tercurah pada bagaimana persepsi dan makna
menurut sudut pandang partisipan yang diteliti, sehingga bisa
menemukan apa yang disebut sebagai fakta fenomenologis.
c. Penelitian kualitatif tidak menggunakan rancanganpenelitian baku.
Rancangan penelitian berkembang selama proses penelitian.
d. Tujuan penelitian kualitatif adalah untuk memahami, mencari makna
dibalik data, menemukan kebenaran, baik kebenaran empiris sensual,
dan empiris logis.
e. Subjek yang diteliti, data yang dikumpulkan, sumberdata yang
dibutuhkan, dan alat pengumpulan data bisa berubah- ubah sesuai
dengan kebutuhan.
f. Pengumpulan data dilakukan atas dasar prinsip fenomenologis, yaitu
dengan memahami secara mendalam gejala atau fenomena yang
dihadapi.
g. Peneliti berfungsi pula sebagai alat pengumpul data sehingga
keberadaan tidak terpisahkan dengan apayang diteliti.
h. Analisis data dapat dilakukan selama peneltian sedang dan telah
berlangsung.
i. Hasil penelitian berupa deskripsi dan interprestasi dalam konteks waktu
serta situasi tertentu,
j. Penelitian kualitatif disebut juga penelitian alamiah atau inquiri
naturalistik.
Berdasarkan definisi menurut Moleong maka dapat disimpulkan bahwa
penelitian menggunakan prosedur analisis kualitatif adalah penelitian yang

menghasilkan prosedur analisis yang tidak menggunakan prosedur analisis


statistik atau cara kuantitatif lainnya. Selain itu juga, penelitian kualitatif
didasarkan pada upaya membangun pandangan mereka yang diteliti secara rinci,
dibentuk dengan kata- kata, gambaran holistik dan rumit.
I.7

Lokasi dan Waktu


Praktikum ini diselenggarakan di Kabupaten Lombok Tengah tepatnya di

Dusun Sade Desa Rambitan, Pujut Lombok Tengah.


Adapun lama praktikum selama3 hari dengan rincian sebagai berikut :
1. Tanggal 1- 28 Februari 2015 : Persiapan
2. Tanggal 9 Maret 10 April 2015 : Bimbingan
3. Tanggal 13 April 2015 : Pembekalan
4. Tanggal 19 25 April 2015 : Pelaksanaan
5. Mei 2015 : Evaluasi

10

Berikut adalah jadwal dan kegiatan praktikum seperti terlihat pada tabel
sebagai berikut:
Tabel 1.1 Jadwal dan Kegiatan Praktikum Tahun 2015
JANUARI FEBRUARI MARET APRIL MEI
PERSIAPAN
1- 28 Februari
2015
BIMBINGAN
9 Maret 2015
Evaluasi Mei
2015
PEMBEKALAN
13 April 2015
PELAKSANAAN
19 25 April
2015
EVALUASI

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1

Konsep Pengembangan
Konsep pengembangan telah banyak dibahas oleh banyak ahli Darminta

(2002 : 474) pengembangan adalah suatu proses atau cara menjadikan sesuatu
menjadi maju, baik, sempurna, dan berguna. Pengembangan dalam penelitian ini
diartikan sebagai proses atau perbuatan pengembangan dari belum ada, dari yang
sudah ada menjadi lebih baik dan dari yang sudah baik menjadi lebih baik.
Menurut

Suwantoro

(1997:120)

Pengembangan

bertujuan

untuk

mengembangkan produk dan pelayanan yang berkualitas, seimbang, dan bertahap.


Sementara itu, menurut Poerwadarminta (2002:474) Pengembangan lebih
menekankan kepada suatu proses atau suatu cara menjadikan sesuatu menjadi
maju, baik sempurna dan berguna.
Moeliono

(1990:

414)

mengungkapkan,

yang

dimaksud

dengan

pengembangan adalah proses, cara, pembuatan mengembangkan. Pengembangan


pariwisata memiliki karakter aktivitas yang bersifat multisectoral, dalam
pelaksanaan pengembangan pariwisata harus terencana secara terpadu dengan
pertimbangan-pertimbangan terhadap aspek ekonomi, sosial, budaya, lingkungan
fisik dan politik. Jadi pengembangan dapat diartikan sebagai perbuatan
menjadikan sesuatu baik yang ada maupun yang belum ada menjadi lebih baik
dari sebelumnya.
11

12

II.2

Konsep Pariwisata

II.2.1 Pengertian Pariwisata


Dalam arti luas, pariwisata adalah kegiatan rekreasi di luar domisili untuk
melepaskan diri dari pekerjaan rutin atau mencari suasana lain. Sebagai suatu
aktifitas, pariwisata telah menjadi bagian penting dari kebutuhan dasar masyarakat
maju dan sebagian kecil masyarakat negara berkembang.
Definisi pariwisata menurut Damanik dan Weber (2006:1) sebagai berikut
:
Pariwisata adalah fenomena pergerakan manusia, barang, dan jasa, yang
sangat kompleks. Ia terkait erat dengan organisasi, hubungan-hubungan
kelembagaan dan individu, kebutuhan layanan, penyediaan kebutuhan
layanan, dan sebagainya.

Sementara Marpaung (2002:13) mendefinisikan pariwisata sebagai :


Pariwisata adalah perpindahan sementara yang dilakukan manusia dengan
tujuan keluar dari pekerjaan-pekerjaan runtin, keluar dari tempat
kediamannya. Aktifitas dilakukan selama mereka tinggal di tempat yang
dituju dan fasilitas dibuat untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Menurut Soekadijo pariwisata adalah segala kegiatan dalam masyarakat


yang berhubungan dengan wisatawan. Semua kegiatan pembangunan hotel,
pemugaran cagar budaya, pembuatan pusat rekreasi, penyelenggaraan pekan
pariwisata, penyediaan angkutan dan sebagainya semua itu dapat disebut kegiatan
pariwisata sepanjang dengan kegiatan-kegiatan itu semua dapat diharapkan para
wisatawan akan datang (Soekadijo, 1997: 2).
Undang-

Undang

No.

10

Tahun

menyebutkan beberapa istilah, diantaranya :

2009

tentang

Kepariwisataan

13

Pasal 1
(1) Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau
sekelompok orang untuk mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan
rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya
tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara.
(2) Wisatawan adalah orang yang melakukan wisata
(3) Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung
berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat,
pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah.
(4) Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan
pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul
sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serts interaksi antar
wisatawan dan masyarakat setempat, sesame wisatawan, pemerintah,
pemerintah daerah, dan pengusaha.
(5) Daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan,
keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam,
budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan
kunjungan wisata.

Nyoman S. Pendit (1999: 42-48) menggolongkan pariwisata menjadi


beberapa jenis yaitu :
1. Wisata Budaya Merupakan perjalanan wisata atas dasar keinginan
untuk memperluas pandangan seseorang dengan mengadakan
kunjungan atau peninjauan ke tempat lain atau ke luar negeri,
mempelajari keadaan rakyat, kebiasaan dan adat istiadat mereka.
2. Wisata Kesehatan Hal ini dimaksudkan dengan perjalanan seorang
wisatawan dengan tujuan untuk menukar keadaan dan lingkungan
tempat sehari-hari di mana ia tinggal demi kepentingan beristirahat
baginya dalam arti jasmani dan rohani dengan mengunjungi tempat
peristirahatan seperti mata air panas mengandung mineral yang dapat
menyembuhkan, tempat yang memiliki iklim udara menyehatkan atau
tempat yang memiliki fasilitas-fasilitas kesehatan lainnya.
3. Wisata Olah Raga Wisatawan yang melakukan perjalanan dengan
tujuan berolahraga atau. memang sengaja bermaksud mengambil
bagian aktif dalam peserta olahraga disuatu tempat atau Negara
seperti Asian Games, Olympiade, Thomas Cup, Uber Cup dan lainlain. Bisa saja olahraga memancing, berburu, berenang
4. Wisata Komersial Dalam jenis ini termasuk perjalanan untuk
mengunjungi pameranpameran dan pekan raya yang bersifat
komersial, seperti pameran industri, pameran dagang dan sebagainya.
5. Wisata Industri Perjalanan yang dilakukan oleh rombongan pelajar
atau mahasiswa, atau orang-orang awam ke suatu kompleks atau
daerah perindustrian dimana terdapat pabrik-pabrik atau bengkel-

14

bengkel besar dengan maksud tujuan untuk mengadakan peninjauan


atau penelitian. Misalnya, rombongan pelajar yang mengunjungi
industri tekstil.
6. Wisata Politik Perjalanan yang dilakukan untuk mengunjungi atau
mengambil bagian aktif dalam peristiwa kegiatan politik. Misalnya,
ulang tahun 17 Agustus di Jakarta, Perayaan 10 Oktober di Moskow,
Penobatan Ratu Inggris, Perayaan Kemerdekaan, Kongres atau
konvensi politik yang disertai dengan darmawisata.
7. Wisata Konvensi Perjalanan yang dilakukan untuk melakukan
konvensi atau konferensi. Misalnya APEC, KTT non Blok.
8. Wisata Sosial Merupakan pengorganisasian suatu perjalanan murah
serta mudah untuk memberi kesempatan kepada golongan masyarakat
ekonomi lemah untuk mengadakan perjalanan seperti kaum buruh,
pemuda, pelajar atau mahasiswa, petani dan sebagainya.
9. Wisata Pertanian Merupakan pengorganisasian perjalanan yang
dilakukan ke proyek-proyek pertanian, perkebunan, ladang
pembibitan dan sebagainya dimananwisatawan rombongan dapat
mengadakan kunjungan dan peninjauan untuk tujuan studi maupun
melihat-lihat keliling sambil menikmati segarnya tanaman beraneka
ragam warna dan suburnya pembibitan di tempat yang dikunjunginya.
10. Wisata Maritim (Marina) atau Bahari Wisata yang dikaitkan dengan
kegiatan olah raga di air, lebih-lebih danau, bengawan, teluk atau laut.
Seperti memancing, berlayar, menyelam, berselancar, balapan
mendayung dan lainnya.
11. Wisata Cagar Alam Wisata ini biasanya diselenggarakan oleh agen
atau biro perjalanan yang mengkhususkan usaha-usaha dengan jalan
mengatur wisata ke tempat atau daerah cagar alam, tanaman lindung,
hutan daerah pegunungan dan sebagainya.
12. Wisata Buru Wisata untuk buru, ditempat atau hutan yang telah
ditetapkan pemerintah Negara yang bersangkutan sebagai daerah
perburuan, seperti di Baluran, Jawa Timur untuk menembak babi
hutan atau banteng.
13. Wisata Pilgrim Jenis wisata ini dikaitkan dengan agama, sejarah, adatistiadat dan kepercayaan umat atau kelompok dalam masyarakat Ini
banyak dilakukan oleh rombongan atau perorangan ketempat-tempat
suci, ke makam-makam orang besar, bukit atau gunung yang
dianggap keramat, tempat pemakaman tokoh atau pimpinan yang
dianggap legenda. Contoh makam Bung Karno di Blitar, Makam Wali
Songo, tempat ibadah seperti di Candi Borobudur, Pura Besakih di
Bali, Sendang Sono di Jawa Tengah dan sebagainya.
14. Wisata Bulan Madu Suatu penyelenggaraan perjalanan bagi
pasangan-pasangan, pengantin baru, yang sedang berbulan madu
dengan fasilitas-fasilitas khusus dan tersendiri demi kenikmatan
perjalanan dan kunjungan mereka.

15

II.3

Konsep Pengembangan Pariwisata


Pengembangan pariwisata menurut Pearce (1981 : 12) dapat diartikan

sebagai usaha untuk melengkapi atau meningkatkan fasilitas dan pelayanan yang
dibutuhkan masyarakat. Dalam pengembangan pariwisata, terdapat faktor yang
dapat menentukan keberhasilan pengembangan pariwisata (Yoeti : 1996) yaitu:
1. Tersedianya objek dan daya tarik wisata.
2. Adanya fasilitas accessibility yaitu sarana dan prasarana sehingga
memungkinkan wisatawan mengunjungi suatu daerah atau kawasan
wisata.
3. Tersedianya fasilitas amenities yaitu sarana kepariwisataan yang
dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Pengembangan pariwisata tidak lepas dari perkembangan politik, ekonomi,


sosial, dan pembangunan di sektor lainnya. Maka di dalam pengembangan
pariwisata dibutuhkan perencanaan terlebih dahulu. Dari pemikiran di atas dapat
disimpulkan bahwa pengembangan adalah suatu proses atau cara yang terjadi
secara terus menerus, untuk menjadikan sesuatu objek tersebut menjadi lebih baik
sehingga dapat meningkatkan kebutuhkan masyarakat secara keseluruhan.
Pengembangan pariwisata mempunyai dampak positif maupun dampak
negatif, maka diperlukannya perencanaan untuk menekan sekecil kemungkinan
dampak negatif yang ditimbulkan. Spillane (1994 : 51-62) menjelaskan mengenai
dampak positif maupun dampak negatif dari pengembangan pariwisata.
Dampak positif, yang diambil dari pengembangan pariwisata meliputi:
1. Penciptaan lapangan pekerjaan, di mana pada umumnya pariwisata
merupakan industri padat karya di mana tenaga kerja tidak dapat
digantikan dengan modal atau peralatan.
2. Sebagai sumber devisa negara.
3. Pariwisata dan distribusi pembangunan spiritual, di sini pariwisata secara
wajar cenderung mendistribusikan pembangunan dari pusat industri ke
arah wilayah desa yang belum berkembang, bahkan pariwisata disadari

16

dapat menjadi dasar pembangunan regional. Struktur perekonomian


regional sangat penting untuk menyesuaikan dan menentukan dampak
ekonomis dari pariwisata.
Sedangkan dampak negatif yang ditimbulkan dengan adanya pengembangan
pariwisata meliputi:
1. Pariwisata dan vulnerability ekonomi, karena di negara kecil dengan
perekonomian terbuka, pariwisata menjadi sumber mudah kena serang
atau luka (vulnerability), khususnya kalau negara tersebut sangat
tergantung pada satu pasar asing.
2. Banyak kebocoran yang sangat luas dan besar, khususnya kalau proyekproyek pariwisata berskala besar dan diluar kapasitas perekonomian,
seperti barang-barang impor, biaya promosi keluar negri, tambahan
pengeluaran untuk warga negara sebagai akibat dari penerimaan dan
percontohan dari pariwisata dan lainnya.
3. Polarisasi spasial dari industri pariwisata di mana perusahaan besar
mempunyai kemampuan untuk menerima sumber daya modal yang besar
dari kelompok besar perbankan atau lembaga keuangan lainnya.
II.4

Konsep Kesejahteraan Sosial


Menurut James Midgley (dalam Huraerah, 2011:29) kesejahteraan sosial

suatu keadaan manusia yang baik atau sejahtera yang wujudnya apabila masalahmasalah sosial terkendali, apabila kebutuhan-kebutuhan manusia terpenuhi, dan
apabila kesempatan-kesempatan sosial dimaksimalkan.
Dalam definisi tersebut, tersirat bahwa individu, keluarga atau masyarakat
yang mampu mengatasi masalah sosialnya akan lebih sejahtera. Begitu juga,
individu, keluarga, atau masyarakat yang kebutuhannya terpenuhi, seperti
kebutuhan makanan, pakaian, rumah, pendidikan, kesehatan, air bersih, dan
transportasi akan merasa sejahtera. Demikian pula, individu, keluarga atau
masyarakat akan menjadi sejahtera jika memiliki kesempatan sosial untuk
mengembangkan dan merealisasikan potensi-potensinya.
Sebaliknya, jika ketiga kondisi diatas tidak dapat dipenuhi, dapat
dipastikan bahwa individu, keluarga atau masyarakat tersebut gagal dalam

17

mencapai tingkat kesejahteraan yang diinginkan. Dalam kaitan ini, Richard M.


Titmuss (dalam Huraerah 2011: 30) mengatakan bahwa ketidakmampuan untuk
mengatasi masalah-masalah sosial melahirkan kondisi yang disebut sebagai
penyakit sosial. Ketidaksanggupan dalam meraih kesempatan-kesempatan sosial
juga dapat menyebabkan terjadinya penyakit sosial. Sementara itu, dalam
pandangan Midgley (dalam Huraerah 2011:30) orang yang tidak dapat memenuhi
kebutuhan-kebutuhannya dikatakan sebagai orang yang tidak dapat mencapai
kebahagiaan sosial.
Menurut rumusan Undang-Undang Republik Indonesia No.6 Tahun 1974
tentang ketentuan-ketentuan pokok kesejahteraan sosial pasal 2 ayat 1, adalah:
Kesejahteraan sosial adalah suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial
material maupun spiritual yang diliputi oleh rasa keselamatan, kesusilaan
dan ketenteraman lahir dan batin, yang memungkinkan bagi setiap warga
negara untuk mengadakan usaha pemenuhan kebutuan-kebutuhan
jasmaniah, rohaniah dan sosial yang sebaik-baiknya bagi diri, keluarga
serta masyarakat dengan menjunjung tinggi hak-hak asasi serta kewajiban
manusia sesuai dengan Pancasila.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa
Kesejahteraan sosial adalah kondisi masyarakat yang dapat memenuhi kebutuhan
pokoknya baik secara rohani maupun jasmani.
II.4.1 Indikator Kesejahteraan Sosial
Menurut Badan Pusat Statistik (2005), indikator yang digunakan untuk
mengetahui tingkat kesejahteraan ada delapan, yaitu
1.
2.
3.
4.
5.
6.

pendapatan
konsumsi atau pengeluaran keluarga
Keadaan tempat tinggal
kesehatan anggota keluarga
kemudahan mendapatkan pelayanan kesehatan
kemudahan memasukkan anak ke jenjang pendidikan

18

7. kemudahan mendapatkan fasilitas transportasi.

Sen, (2002: 8) mengatakan bahwa welfare economics merupakan suatu


proses rasional ke arah melepaskan masyarakat dari hambatan untuk memperoleh
kemajuan. Kesejahteraan sosial dapat diukur dari ukuran-ukuran seperti :
1.
2.
3.
4.
II.5

tingkat kehidupan (levels of living);


pemenuhan kebutuhan pokok (basic needs fulfillment);
kualitas hidup (quality of life); dan
pembangunan manusia (human development).

Konsep Masyarakat
Dalam bahasa Inggris masyarakat disebut society, asal katanya socius yang

berarti kawan. Adapun kata masyarakat berasal dari bahasa Arab, yaitu syirk,
artinya bergaul. Adanya saling bergaul ini tntu karena ada bentuk- bentuk aturan
hidup, yang bukan disebabkan oleh manusia sebagai perseorangan, melalinkan
oleh unsur- unsur kekuatan lain dalam lingkungan sosial yang merupakan
kesatuan. Para ahli seperti Maclver, J. L. Gillin, dan J.P Gillin (dalam Soelaeman
2000:122) menyatakan bahwa:
Adanya saling bergaul dan interaksi karena mempunyai nilai- nilai,
norma- norma, cara- cara, dan prosedur yang merupakan kebutuhan
bersama sehingga masyarakat merupakan kesatuan hidup manusia yang
berinteraksi menurut suatu sistem adat- istiadat tertentu, yang bersifat
kontinyu dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama.
Sementara itu, Definisi lain diungkapkan oleh Koentjaraningrat (2009:
115-118) yang menyatakan bahwa :
masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut
suatu sistem adat tenrtentu yang bersifat kontinyu, dan yang terikat oleh
suatu rasa identitas bersama. Kontinuitas merupakan kesatuan masyarakat
yang memiliki keempat ciri yaitu interaksi antara warga-warganya, adat
istiadat, kontinuitas waktu, dan rasa identitas yang mengikat semua warga

19

Bisa dikatakan bahwa masyarakat adalah sekumpulan manusia yang


berinteraksi dalam suatu hubungan sosial. Mereka mempunyai kesamaan budaya,
wilayah, dan identitas, mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap, dan perasaan
persatuan yang diikat oleh kesamaan.

BAB III
OBJEK PENELITIAN

III.1

Letak dan Keadaan Alam


Kabupaten

Lombok

Tengah

dengan

Kota

Praya

sebagai

pusat

pemerintahannya merupakan salah satu dari 10 (sepuluh) Kabupaten/Kota yang


ada di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Posisinya terletak di antara 11605 sampai
11624 Bujur Timur dan 824 sampai 857 Lintang Selatan, dengan luas
wilayah 1.208,39 km (120.839 ha). Di sebelah Utara berbatasan dengan
Kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Lombok Utara, di sebelah Selatan
terbentang Samudera Indonesia, di sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten
Lombok Barat dan di sebelah Timur dengan Kabupaten Lombok Timur.
Kabupaten Lombok Tengah memiliki iklim tropis dengan musim kemarau
yang kering pada bulan April-Oktober. Musim hujan mulai sekitar bulan
Oktober/Nopember sampai dengan bulan April dengan curah hujan pada
bulanbulan tersebut rata-rata di atas 100 mm, dan curah hujan tertinggi terjadi
pada bulan Januari yang mencapai 375 mm. Sedangkan pada bulan Mei sampai
September curah hujan rata-rata di bawah 100 mm bahkan di bawah 50 mm dan
curah hujan terendah terjadi pada bulan Agustus yakni sebesar 0,58 mm. Hari
hujan terbanyak terjadi pada bulan Januari 18,16 hari dan hari hujan terkecil pada
bulan Agustus selama 0,58 hari. Untuk memenuhi kebutuhan air, baik untuk

20

21

keperluan air bersih maupun keperluan pertanian banyak terdapat sumber mata air
di wilayah bagian Utara dengan cadangan debit air seluruhnya diperkirakan
sekitar 5.162 liter per detik.
Dilihat dari topografi, bagian utara wilayah Kabupaten Lombok Tengah
merupakan daerah dataran tinggi dan merupakan areal kaki Gunung Rinjani.
Curah hujan pada daerah ini relatif tinggi dan dapat menjadi pendukung bagi
kegiatan di sektor pertanian, juga terdapat aset wisata terutama pariwisata alam
pegunungan dengan pemandangan yang indah dan udara yang sejuk. Bagian
tengah merupakan wilayah dataran rendah yang memiliki potensi pertanian padi
dan palawija, didukung oleh hamparan lahan sawah yang luas dengan sarana
irigasi yang memadai. Sedangkan bagian Selatan merupakan daerah yang
berbukit-bukit dan sekaligus berbatasan dengan Samudra Indonesia dengan garis
pantai sepanjang 85 km. Karena berbatasan dengan Samudra Indonesia, maka
wilayah ini memendam potensi wisata pantai yang indah dengan gelombang yang
cukup fantastik.
Secara administrasi pemerintahan, wilayah Kabupaten Lombok Tengah
terdiri dari atas 12 Kecamatan, 127 desa dan 12 kelurahan, dengan jumlah dusun
1.354 dusun.
III.2

Kependudukan
Luas wilayah Kabupaten Lombok Tengah adalah 1.208,39 km dengan

penduduk berjumlah 860.209 jiwa terdiri dari penduduk laki-laki berjumlah

22

407.079 jiwa, penduduk perempuan 453.130 jiwa dan rumah tangga berjumlah
256.670 RT.
Kepadatan penduduk 712 jiwa/km, Kecamatan yang terpadat adalah
Kecamatan Praya dengan kepadatan penduduk 1.688 jiwa/km dan Kecamatan
yang paling rendah tingkat kepadatannya adalah Kecamatan Batukliang Utara
dengan kepadatan penduduk 260 jiwa/km. Rata-rata laju pertumbuhan penduduk
Kabupaten Lombok Tengah pertahun periode 2000-2010 sebesar 1,45 persen,
dimana angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata laju
pertumbuhan penduduk pertahun periode 1990-2000 yaitu sebesar 0,98 persen.
III.3

Lokasi Suku Sasak


Suku Sasak adalah suku bangsa yang mendiami pulau Lombok, Nusa

Tenggara Barat. Jumlah penduduk pulau Lombok pada tahun 2014 sekitar
3.311.044 jiwa yaitu sebuah pulau di Kepulauan Sunda Kecil atau Nusa Tenggara
yang terpisahkan oleh Selat Lombok dari Bali di sebelah barat dan Selat Alas di
sebelah timur dari Sumbawa. Letak Geografis pulau Lombok 8.565 S 116 .351
E. Pulau ini kurang lebih berbentuk bulat dengan semacam ekor disisi barat daya
yang panjangnya kurang lebih 70 km. Luas pulau ini mencapai 5.435 km,
menempatkannya pada peringkat 108 dari daftar pulau berdasarkan luasnya di
dunia. Kota utama di pulau ini adalah Kota Mataram.
Pulau Lombok termasuk provinsi Nusa Tenggara Barat dan pulau ini
sendiri dibagi menjadi 1 Kotamadya dan 3 Kabupaten :
1. Kotamadya Mataram
2. Kabupaten Lombok Barat

23

3. Kabupaten Lombok Tengah


4. Kabupaten Lombok Timur
Luas wilayah Kabupaten Lombok Tengah adalah 1.208,39 km dengan
penduduk berjumlah 860.209 jiwa terdiri dari penduduk laki-laki berjumlah
407.079 jiwa, penduduk perempuan 453.130 jiwa dan rumah tangga berjumlah
256.670 RT.
Kecamatan Pujut yang terletak di bagian Selatan Kabupaten Lombok Tengah
yang mempunyai obyek wisata pantai yang sangat indah dan mempesona dengan
panjang panti kurang lebih 17 Km yang terbentang dari Pantai Mawun Desa
Tumpak sampai Awang Desa Mertak, merupakan salah satu dari 12 Kecamatan
yang ada di Kabupaten Lombok Tengah yang terletak 15 Km disebelah Selatan
Ibu Kota Kabupaten Lombok Tengah yaitu Kota Praya dengan luas wilayah
23.355 Ha. yang tersebar dalam 16 ( Enam belas ) Desa dan 207 ( Dua ratus )
Dusun dengan jumlah Penduduk 106.536 Jiwa yang terdiri dari Laki-laki : 51.445
jiwa, Perempuan 54.767 jiwa, Jumlah Kepala Keluarga ( KK ) : 32.562 dan
Jumlah Kepala Keluarga Miskin : 14580.
Secara Geografis kampung Sade terletak pada 8 50 LS dan 116 GT
dengan batas wilayah sebelah barat Dusun Penyalu sebelah timur Dusun Lentak
sebelah utara Dusun Selak dan sebelah selatan Dusun Selemang. Pemukiman
kampung Sade terletak pada ketinggian 120-126 mdpl dengan topogafi yang
berbukit dan bergelombang. Desa Sade Rembitan terletak di wilayah Pujut,
Lombok Tengah. Desa ini merupakan salah satu dati tiga desa adat yang menjadi
tempat tinggal Suku Sasak di Lombok. Luas wilayah desa sade adalah kurang

24

lebih 6 Ha dengan jumlah penduduk 213 kepala keluarga atau kurang lebih 872
jiwa dari usia 0-100 tahun.
III.4

Asal-Usul Suku Sasak


Menurut isi Babad Lombok, kerajaan tertua yang pernah berkuasa di pulau

ini bernama Kerajaan Laeq (dalam bahasa Sasak Laeq berarti waktu lampau),
namun sumber lain yakni Babad Suwung, menyatakan bahwa kerajaan tertua yang
ada di Lombok adalah Kerajaan Suwung yang dibangun dan dipimpin oleh Raja
Betara Indera. Kerajaan Suwung kemudian surut dan digantikan oleh Kerajaan
Lombok. Pada abad ke-9 hingga abad ke-11 berdiri Kerajaan Sasak yang
kemudian dikalahkan oleh salah satu kerajaan yang berasal dari Bali pada masa
itu. Beberapa kerajaan lain yang pernah berdiri di pulau Lombok, antara lain :
Pejanggik, Langko, Bayan, Sokong Samar Katon, dan Selaparang.
Kerajaan Selaparang sendiri muncul pada dua periode yakni pada abad ke13 dan abad ke-16. Kerajaan Selaparang pertama adalah Kerajaan Hindu dan
kekuasaannya berakhir dengan kedatangan ekspedisi Kerajaan Majapahit pada
tahun 1357. Kerajaan Selaparang kedua adalah Kerajaan Islam dan kekuasaannya
berakhir pada tahun 1744 setelah ditaklukkan oleh gabungan pasukan Kerajaan
Karangasem dari Bali dan Arya Banjar Getas yang merupakan keluarga kerajaan
yang berkhianat terhadap Selaparang karena permasalahan dengan raja
Selaparang. Pendudukan Bali ini memunculkan pengaruh kultur Bali yang kuat
disisi barat Lombok, seperti pada tarian serta peninggalan bangunan (misalnya
Istana Cakranegara di Ampenan). Baru pada tahun 1894 Lombok terbebas dari
pengaruh Karangasem akibat campur tangan Batavia (Hindia Belanda) yang

25

masuk karena pemberontakan orang Sasak mengundang mereka datang. Namun


demikian, Lombok kemudian berada dibawah kekuasaan Hindia Belanda secara
langsung.
Masuknya Jepang (1942) membuat otomatis Lombok berada dibawah
kendali pemerintah pendudukan Jepang wilayah timur. Sesuai perang dunia II,
Lombok sempat berada dibawah Negara Indonesia Timur, sebelum kemudian pada
tahun 1950 bergabung dengan Republik Indonesia.
III.5

Sistem Mata Pencaharian Suku Sasak


Mata pencaharian utama Orang Sasak adalah bercocok tanam di ladang

(lendang) atau di sawah (subak). Ada juga yang menggantungkan hidup pada
kegiatan berburu rusa, babi, dan binatang hutan lain; mencari umbi-umbian,
menangkap ikan; mata pencaharian lain adalah membuat barang anyaman, ukiran
logam, kain tenun, barang-barang dari rotan, tanah liat dan sebagainya.
III.6

Sistem Sosial Dan Kekerabatan Suku Sasak


Keluarga inti masyarakat Sasak disebut koren atau kurenan. Keluarga-

keluarga inti ini bergabung ke dalam keluarga luas terbatas yang mereka sebut
sorohan atau kadang waris. Prinsip kekerabatan mereka adalah patrilineal yang
mengenal garis keturunan ke atas (papu balo) dan ke bawah (papu bai), lalu ke
samping (semeton jari). Adat menetap sesudah nikah biasanya virilokal, walaupun
banyak juga yang lebih suka membuat hunian baru. Dalam kegiatan yang
membutuhkan banyak tenaga mereka bergotong royong dengan sistem yang
mereka sebut basiru.

26

Setiap sorohan dipimpin oleh seorang ketua yang disebut turas dan diberi
gelar Datu. Dalam sebuah desa (dusun atau gubuk) pada masa sekarang selain
kepala desa juga dikenal pemimpin adat yang dipanggil mangkubumi atau
pemangku adat atau jintaka. Kepala desa sendiri sehari-hari dibantu oleh krama
desa, yaitu orang-orang terkemuka dari setiap kelompok soroan dalam desa.
Pembantu tetap kepala desa adalah jaksa (juru tulis), keliang (penghubung),
langlang (kepala keamanan) dan wakil keliang (juarah). Setiap kepala desa
memperoleh santunan dari warganya, misalnya bantuan tenaga untuk mengerjakan
sawah atau ladang kepala desa, ini disebut najen.
Pada masa sekarang dalam masyarakat Sasak masih ada sisa bentuk
pelapisan sosial lama, yaitu dengan adanya golongan-golongan seperti menak
(bangsawan) yang biasanya bergelar Datu, Raden, dan Mamik. Kedua adalah
golongan orang terpandang yang berasal dari keturunan pemimpin desa yang
bukan bangsawan, disebut parawangsa. Ketiga adalah golongan kaula atau orang
kebanyakan : yang sudah mempunyai anak disebut amaq, yang belum mempunyai
anak disebut Ioq. Sedangkan perempuan yang belum mempunyai suami disebut Ia,
dan yang sudah bersuami disebut inaq.
III.7

Teknologi Dan Peralatan Hidup Suku Sasak


Lombok dalam banyak hal mirip dengan Bali, dan pada dasawarsa tahun

1990-an mulai dikenal wisatawan mancanegara. Namun dengan munculnya krisis


moneter yang melanda Indonesia pada akhir tahun 1997 dan krisis-krisis lain yang
menyertainya, potensi pariwisata agak terlantarkan. Lalu pada awal tahun 2000
terjadi kerusuhan antar etnis dan antar agama di seluruh Lombok sehingga terjadi

27

pengungsian besar-besaran kaum minoritas. Mereka terutama mengungsi ke pulau


Bali. Namun selang beberapa lama kemudian situasi sudah menjadi kondusif dan
mereka sudah kembali. Pada tahun 2007 sektor pariwisata adalah satu-satunya
sektor di Lombok yang berkembang.
Salah satu bentuk dari bukti kebudayaan Sasak adalah bentuk bangunan
rumah adatnya. Rumah mempunyai posisi penting dalam kehidupan manusia,
yaitu sebagai tempat individu dan keluarganya berlindung secara jasmani dan
memenuhi kebutuhan spiritualnya. Oleh karena itulah, jika kita memperhatikan
bangunan rumah adat secara seksama, maka kita akan menemukan bahwa rumah
adat dibangun berdasarkan nilai estetika dan local wisdom masyarakatnya, seperti
halnya rumah tradisional suku Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Orang
Sasak mengenal beberapa jenis bangunan adat yang dijadikan sebagai tempat
tinggal dan juga tempat penyelenggaraan ritual adat dan ritual keagamaan.
III.8

Rumah Adat Suku Sasak


Atap rumah Sasak terbuat dari jerami dan berdinding anyaman bambu

(bedek). Lantainya dibuat dari tanah liat yang dicampur dengan kotoran kerbau
dan abu jerami. Campuran tanah liat dan kotoran kerbau membuat lantai tanah
mengeras, sekeras semen. Pengetahuan membuat lantai dengan cara tersebut
diwarisi dari nenek moyang mereka.
Seluruh bahan bangunan (seperti kayu dan bambu) untuk membuat rumah
adat Sasak didapatkan dari lingkungan sekitar mereka, bahkan untuk menyambung
bagian-bagian kayu tersebut, mereka menggunakan paku yang terbuat dari bambu.

28

Rumah adat suku Sasak hanya memiliki satu pintu berukuran sempit dan rendah,
dan tidak memiliki jendela.
Dalam masyarakat Sasak, rumah berada dalam dimensi sakral (suci) dan
profan duniawi) secara bersamaan. Artinya, rumah adat Sasak disamping sebagai
tempat berlindung dan berkumpulnya anggota keluarga juga menjadi tempat
dilaksanakannya ritual-ritual sakral yang merupakan manifestasi dari keyakinan
kepada Tuhan, arwah nenek moyang (papuk baluk), epen bale (penunggu rumah),
dan sebaginya.
Perubahan pengetahuan masyarakat, bertambahnya jumlah penghuni dan
berubahnya faktor-faktor eksternal lainya (seperti faktor keamanan, geografis, dan
topografis) menyebabkan perubahan terhadap fungsi dan bentuk fisik rumah adat.
Hanya saja, konsep pembangunannya seperti arsitektur, tata ruang, dan polanya
tetap menampilkan karakteristik tradisionalnya yang dilandasi oleh nilai-nilai
filosofis yang ditransmisikan secara turun temurun.
Untuk menjaga lestarinya rumah adat mereka dari gilasan arsitektur
modern, para orang tua biasanya mengatakan kepada anak-anaknya yang hendak
membangun rumah dengan ungkapan: Kalau mau tetap tinggal di sini, buatlah
rumah seperti model dan bahan bangunan yang sudah ada. Kalau ingin
membangun rumah permanen seperti rumah-rumah di kampung-kampung lain
pada umumnya, silakan keluar dari kampung ini. Demikianlah cara orang Sasak
menjaga eksistensi rumah adat mereka, yaitu dengan cara melembagakan dan
mentransmisikan pengetahuan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

29

III.9

Nilai-Nilai yang Terkandung (Makna Dari Bangunan)


Rumah merupakan ekspresi pemikiran paling nyata seorang individu atau

kelompok

dalam

mengejewantahkan

hubungan

dengan

sesama

manusia

(komunitas atau masyarakat), alam, dan dengan Tuhan (lingkup keyakinan).


Keberadaan rumah Sasak, baik bentuk, tata ruang serta struktur bangunan
rumahnya mengandung simbol-simbol yang sarat dengan nilai-nilai filsafat tinggi
dan sakral. Di antara nilai-nilai tersebut diantaranya:
Atap rumah dengan design sangat rendah dengan pintu berukuran kecil
bertujuan agar tamu yang datang harus merunduk bila memasuki pintu rumah yang
relatif pendek. Sikap merunduk merupakan sikap saling hormat menghormati dan
saling menghargai antara tamu dengan tuan rumah.
Pembangunan rumah dengan arah dan ukuran yang sama menunjukkan
bahwa masyarakat hidup harmonis. Oleh karena itu, jika ada yang membangun
rumah yang arahnya tidak sama dengan bangunan rumah yang sudah ada, maka itu
menandakan bahwa penghuni kampung tersebut tidak harmonis.
Undak-undakan (tangga) tingkat tiga mempunyai pesan bahwa tingkat
ketaqwaan ilmu pengetahuan dan kekayaan tiap-tiap manusia tidak akan sama.
Oleh karena itu, diharapkan semua manusia senantiasa menyadari bahwa
kekurangan dan kelebihan yang dimiliki merupakan rahmat Tuhan. Ada juga yang
menganggap bahwa anak tangga sebanyak tiga buah menunjukkan simbol daur
hidup manusia, yaitu lahir, berkembang, dan mati, atau simbol keluarga batih
(ayah, ibu, dan anak).

30

Empat

tiang penyangga

berugaq/sekepat

mempunyai

pengertian:

Kebenaran yang harus diutamakan; Kepercayaan diri dalam memegang amanah;


dalam menyampaikan sesuatu hendaknya berlaku jujur dan polos; dan sebagai
orang yang beriman hendaknya pandai/cerdas dalam menyikapi masah (tanggap).
Sedangkan atapnya menggambarkan keyakian bahwa Tuhan Maha tahu atas
segalanya, baik yang tersirat maupun yang tersurat. Ada juga yang beranggapan
bahwa pesan dari berugak bertiang empat adalah simbol syariat Islam: Quran,
Hadis, Ijma, Qiyas. Disamping itu, berugak yang ada di depan rumah merupakan
bentuk rasa syukur terhadap rezeki yang diberikan Tuhan, dan juga sebagai tempat
berinteraksi dengan masyarakat lainnya.
Bale tajuk, pada umumnya, berbentuk segi lima dengan tiang berjumlah
lima melambangkan bahwa masyarakat Sasak adalah masyarakat yang religius
yang menurut keyakinan mereka, setiap mahluk hidup pasti akan mati dan setiap
sesuatu yang lahir maka pasti akan berakhir.
Keberadaan lumbung menunjukkan bahwa warga sasak harus hidup
hemat dan tidak boros. Bahan-bahan yang disimpan di dalamnya, hanya bisa
diambil pada waktu tertentu, misalnya sekali sebulan sebagai persiapan untuk
keperluan mendadak, misalnya karena gagal panen atau karena ada salah satu
anggota keluarga meninggal.

BAB IV
PEMBAHASAN

IV.1

Dampak Pengembangan Pariwisata Desa Adat terhadap Tingkat


Kesejahteraan Masyarakat Sasak Sade
Salah satu tujuan dari diadakannya pengembangan sektor pariwisata di

setiap daerah yang memiliki potensi menjadi objek wisata adalah untuk mencapai
peningkatan perekonomian masyarakat. Peningkatan perekonomian tersebut dapat
berdampak positif terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. Di desa Sasak Sade
Kabupaten Lombok tengah sendiri telah dikembangkan wisata budaya, desa Sasak
Sade telah dijadikan sebagai desa adat yang menjadi salah satu destinasi
pariwisata di Lombok Tengah.
Masyarakat Sasak sade baik secara langsung maupun tidak langsung
terkena dampak dari adanya pengembangan pariwisata tersebut, salah satu
dampaknya adalah pada tingkat kesejahteraan masyarakat sasak sade sendiri.
Terdapat beberapa tolak ukur untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat,
yakni : pendapatan, konsumsi atau pengeluaran keluarga, Keadaan tempat tinggal,
fasilitas tempat tinggal, kesehatan anggota keluarga, kemudahan memasukkan
anak ke jenjang pendidikan, dan kemudahan mendapatkan fasilitas transportasi
(BPS, 2005).
IV.1.1 Pendapatan Mayarakat Sasak Sade
umber mata pencaharian masyarakat desa sasak sade adalah bertani.
Masyarakat beertani padi dengan masa panen satu kali dalam satu tahun. Hasil
31

32

panen pun disimpan sebagian di tempat yang disebut Lumbung Padi. Sistem
pertaniannya masih menggunakan sistem subsistem, dimana masyarakat bertani
hanya untuk memenuhi kebutuhannya saja. Semenjak desa sasak sade dijadikan
tempat wisata budaya berbasis desa adat, masyarakat mempunya sumber
pemasukan lainnya, yakni penghasilan dari hasil pertunjukkan seni, dan dari hasil
penjualan handicraft berupa kain songket, aksesoris wanita, kain sarung, dan
sejenisnya. Besar kecilnya pendapatan masyarakat bergantung pada banyaknya
wisatawan yang hadir. Pada saat pengunjung ramai, pendapatan masyarakat bisa
mencapai Rp. 200.000 per hari, namun jika pengunjung sedang sepi, bahkan uang
sepeserpun tidak mereka dapatkan.
IV.1.2 Konsumsi atau Pengeluaran Masyarakat Sasak Sade
Masyarakat sasak sade adalah masyarakat yang masih kental dengan nilainilai tradisional. Pola pikir masyarakat yang masih belum dapat berpikir terlalu
jauh ke depan membuat pola konsumsi atau pengeluaran keluarga hanya sebatas
pengeluaran yang bersifat kebutuhan pokok. Pengeluaran yang ada tidak lebih dari
membeli kebutuhan untuk makan sehari-hari. Pengeluaran masyarakat belum pada
tahap pada pemenuhan kebutuhan sekunder maupun kebutuhan tersier.
IV.1.3 Keadaan Tempat Tinggal Masyarakat Sasak Sade
Desa sasak sade adalah desa adat, maka dari itu keadaan tempat tinggal
masyarakat jauh dari kata modern. Nilai-nilai tradisional masih sangat kental dan
terwujud dalam bangunan tenpat tinggal yang ada. Dinding rumah masih terbuat
dari bilik dan atapnya hanya tumpukan jerami. Rumah tersebut sengaja

33

dipertahankan seperti itu agar tetap menjadi ciri khas budaya dari masyarakat yan
gjustru menjadi daya tarik desa adat tersebut. Bagian depan desa sasak sade,
terlihat tertata dengan rapi, namun saat memasuki kawasan yang lebih dalam,
dapat dilihat keadaan yang kumuh. Jalan yang ada masih berupa tanah, tempat
sanitasi (MCK) tidak terawat dan tempatnya ada di luar rumah dan digunakan
secara bersamaan oleh masyarakat.
IV.1.4 Fasilitas Tempat Tinggal Masyarakat Sasak Sade
Untuk standar desa adat, tempat tinggal dari masyarakat sasak sade
memang dipertahankan tetap tradisional. Berbicara mengenai fasilitas, masyarakat
sasak sade sudah terfasilitasi dengan aliran listrik, namun masyarakat masih
banyak masyarakat yang tidak memiliki televisi, kulkas, dan alat elektronik dan
alat rumah tangga modern lainnya. Untuk fasilitas kebersihan pun masyarakat
masih menggunakan kamar mandi bersama yang keadaannya tidak terawat.
Sementara, untuk air besih, masyarakat menampung air hujan di dalam sebuah
bak besar yang bahkan banyak jentik nyamuk di dalamnya. Hal ini menandakan
bahwa disana masih sulit untuk mendapatkan air bersih karena warga sekitar
memanfaatkan air hujan untuk memenuhi kebutuhannya terhadap air bersih.
IV.1.5 Kesehatan Anggota Kelaurga Masyarakat Sasak Sade
Masyarakat

sasak

sade

masih

terkesan

kurang

memperhatikan

kesehatannya. Hal tersebut dapat dilihat dari tempat Mandi, Cuci, Kakus (MCK)
yang tidak terawat. Tumbuh lumut di lantai MCK tersebut, sementara itu
penampungan air yang ada penuh dengan jentik nyamuk yang dapat menjadi

34

sarang nyamuk demam berdarah. Sementara kondisi MCK ynag tidak terawat
dapat menjadi tempat berkembangbiaknya bakteri, virus, jamur, dan beberapa
penyakit menular, terlebih MCK tersebut digunakan oleh warga sevara
bersamaan.
IV.1.6 Kemudahan Memasukkan Anak ke Jenjang Pendidikan
Tingkat pendidikan masyarakat Sade, dapat dikatakan lebih baik dari pada
sebelumnya, hal ini dilihat dari kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan,
meskipun sebagian besar tingkat pendidikan masyarakat Dusun Sade baru sampai jenjang
Sekolah Menengah Atas (SMA)/sederajat. Terutama pada generasi muda yang diarahkan
pada pendidikan kejuruan khususnya pariwisata, untuk menunjang program pemerintah
yang menetapkan Dusun Sade sebagai destinasi pariwisata.Sedangkan sebagian kecilnya
telah mencapai jenjang pendidikan yang lebih tinggi namun jumlahnya masih dapat
dihitung dalam hitungan jari. Sementara jarak dari desa ke tempat pendidikan SD,
SMP/Sederajat, SMA/Sederajat relatif dekat. Untuk jarak menuju SD cukup menempuh
perjalanan sejauh 500 m, serta SMP dan SMA sekitar 1 km.

IV.1.7 Kemudahan Mendapatkan Fasilitas Transportasi


Keadaan jalan raya yang melewati Desa Sasak Sade dapat dikatakan
mulus. Jalan yang ada telah teraspal dan tidak ditemukan lubang-lubang di jalan
yang mampu mebngganggu pengguna jalan. Namun sangat disayangkan,
keberadaan transportasi umum di sana sangat jarang. Hal tersebut tentunya
menjadikan akses transportasi merupakan salah satu hal yang sulit di dapatkan
oleh masyarakat sasak sade. Sehingga akses masyarakat terbatas.

BAB V
PENUTUP

V.1

Kesimpulan
Berdasarkan

uraian-uraian

dalam

bab

pembahasan,

Dampak

Pengembangan Pariwisata terhadap Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Sasak


Sade

berdasarkan indikator-indikator kesejahteraan masyarakat,

peneliti

mengambil kesimpulan bahwa secara ekonomi, masyarakat sasak sade mengalami


perbaikan karena adanya lapangan kerja baru yang terbentuk setelah adanya
pengembangan sektor pariwisata di desa tersebut, sehingga masyarakat memiliki
pendapatan tambahan selain bertani.Namun, pola hidup masyarakat yang masih
kental dengan nilai-nilai tradisional membuat masyarakat sulit untuk mencapai
indikator kesejahteraan masyarakat lainnya, seperti pemenuhan fasilitas tempat
tinggal, dan tingkat kesehatan. Sementara untuk pendidikan masyarakat Sade,
dapat dikatakan lebih baik dari pada sebelumnya, hal ini dilihat dari kesadaran
masyarakat terhadap pentingnya pendidikan, meskipun sebagian besar tingkat
pendidikan masyarakat Dusun Sade baru sampai jenjang Sekolah Menengah Atas
(SMA)/sederajat.
V.2

Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, peneliti mengajukan saran agar

pengembangan pariwisata dapat berdampak positif untuk meningkatkan


kesejahteraan masyarakat, perlu diadakannya pemberdayaan masyarakat sehingga
masyarakat siap untuk melakukan pembangunan. Pemberdayaan yang mampu
35

36

menjadikan masyarakat hisup secara tradisional namun memiliki pemikiran yang


modern dan berwawasan ke depan sehingga kesejahteraan masyarakat dapat
terwujud.

36

DAFTAR PUSTAKA

Buku :
Arikunto, Suharsimi. 2002. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Damanik, J dan Weber, H. 2006. Perencanaan Ekowisata Dari Teori ke Aplikasi.
Jogjakarta: Pusat Studi Pariwisata.
Darminta. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia.
Ghony, Djunaidi. M dan Almanshur, Fauzan. 2012. Metode Penelitian Kualitatif.
Jogjakarta: Arr-Ruzz Media
Huraerah, Abu. 2011. Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat.
Bandung: Humaniora.
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Marpaung, Happy. 2002. Pengantar Pariwisata. Bandung: Alfabeta.
Moeliono, M. Anton. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:
DEPDIKBUD Balai Pustaka.
Moleong, 2005. Metodologi Kualitatif Edisi Revisi. Bandung: PT. Remaja Kosda
Karya.
Soekadjo, R.G. 1997. Anatomi Pariwisata. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Suwantoro, G. 1997. Dasar-Dasar Pariwisata. Jogjakarta: Andi.

37

Dokumen :
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1974
Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial.
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009
Tentang Kepariwisataan.
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014
Tentang Pemerintahan Daerah.
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004
Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.
Internet :
Anonim. Sejarah Dan Tradisi Suku Sasak Lombok NTB.(http://www.wacana
nusantara.org/sejarah-dan-tradisi-suku-sasak/).
Ihsan

Gagah.

Masyarakat

dan

Kebudayaan

Suku

Sasak

di

Pulau

Lombok.(http://ihsangagah.blogspot.com/2012/02/masyarakat-dankebudayaan-suku-sasak)
Nur

Kasana.

Etnografi

Suku

Sasak.

(http://nurkasana1992.blogspot.com/2013/05/800x600-normal-o-falsefalse-false-en.html?m=1)
Watipuspitasari.

Kebudayaan

Suku

Sasak.

(http://watipuspitasari.blogspot.com/2011/05/kebudayaan-suku-sasak).

38

Website Resmi Badan Pusat Statistik (BPS). (http://bps.go.id)


Website Resmi Kabupaten Lombok Tengah. (http://lomboktengahkab.go.id)