Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bali merupakan destinasi wisata dunia yang sangat terkenal. Hampir dapat
dipastikan bahwa orang-orang dari berbagai belahan dunia sangat menyukai Pulau
Bali karena iklim tropis yang hangat, pemandangan alam yang menakjubkan, ombak
di pantai yang berkelas internasional untuk olahraga selancar air dan tentunya
kebudayaan serta tradisi yang dipertahankan oleh masyarakat Bali sebagai denyut
nadi kehidupan pulau kecil di selatan Indonesia ini. Hal ini ditunjukan oleh
antusiasme kunjungan wisatawan internasional dan domestik dalam menjelajahi
keindahan Pulau Dewata. Bali bahkan dijuluki sebagai The Last Paradise on The
Earth oleh orang-orang Belanda pada tahun 1800-an yang mulai mengenalkan
budaya Bali ke seluruh dunia melalui jepretan kamera dan film-film hitam putih.
Bali sebagai Pulau Seribu Pura seakan sangat dilimpahi oleh karunia dan berkah
yang luar biasa dari Sang Pencipta Alam Semesta. Namun di balik semua cerita
hebat dan mitos yang terselip dalam kehidupan masyarakat Bali, terdapat pula
sekelumit permasalahan baru bagi Bali dalam menyongsong era globalisasi dan arus
perpindahan manusia yang tidak dapat dibendung. Bali oleh majalah luar negeri
kembali mendapat julukan baru namun kali ini dalam bingkai stigma negatif sebagai
The New Hell akibat pembangunan dan eksploitasi lahan yang tidak terkendali dan
jelas arahnya, yang malah menghilangkan kesakralan alam Bali sebagai intisari dan
1

daya tarik utama bagi wisatawan. Selain itu berbagai gejolak isu keamanan dalam
negeri pun menjadi perhatian tersendiri oleh dunia internasional yang berujung
dikeluarkannya travel warning, padahal Bali sempat mendapat predikat sebagai
tempat teraman di dunia. Masalah lain yang juga cukup mendapat sorotan adalah
masalah kesehatan yang meliputi kasus travelers diarrhea dan belakangan ini status
Bali sebagai salah satu daerah endemi Rabies di Indonesia. Masalah rabies yang
telah memakan banyak korban jiwa ini menjadi sorotan terutama karena masih
adanya masyarakat yang terinfeksi rabies sejak ditemukannya kasus ini pada
penghujung tahun 2008 di Kabupaten Badung.
Pulau Bali yang memiliki luas 4200 km2 dengan tingkat kepadatan penduduk
mencapai 690 orang per km2 pada tahun 2010 menjadi rumah bagi sekitar 600.000
anjing jalanan dengan tingkat kepadatan anjing berbanding manusia sekitar 8,27 : 1
per km2 atau sekitar 96 ekor per km2. Jumlah hewan penular rabies (HPR) yang
demikian tinggi merupakan faktor resiko terbesar bagi masyarakat terutama
berkaitan dengan jumlah kasus gigitan baru, terlepas dari masalah apakah gigitan itu
terindikasi mengandung virus rabies atau tidak. Apalagi tingginya angka kunjungan
wisatawan ke Bali menjadi salah satu pendorong bergeraknya rasio manusia dengan
HPR menjadi lebih tinggi di daerah Bali. Sehingga masalah rabies ini menjadi
perhatian dan agenda yang serius bagi Pemerintah Daerah Propinsi Bali. Namun
sekali lagi, salah satu strategi dalam pengendalian kasus rabies di Bali mendapat
tantangan khususnya oleh berbagai LSM dalam dan luar negeri. Berbagai LSM
menentang cara-cara pemberantasan rabies pada HPR menggunakan metode
eliminasi karena dianggap melanggar hak-hak hewan untuk hidup dan kurang
2

manusiawi. LSM tersebut seperti Born Free Foundation dengan kampanye Stop the
inhumane cull dog in Bali, World Society for the Protection of Animals (WSPA)
Australia & New Zealand dengan kampanye Urgent Action: Save Balis dog,
Animal Rights dengan kampanye Bali dogs are dying. Please Stop the killing,
Animal Asia Foundation: Sign the petition to Governor of Bali against unnecessary
killing bahkan juga LSM dalam negeri, Bali Animal Welfare Association: Save
Bali dogs. Help eliminate the cruel treatment of animals in Indonesia (Naipospos,
2010). Dengan demikian cara yang cukup manusiawi dan disarankan untuk
dilakukan adalah metode vaksinasi terhadap anjing, yang dianggap lebih efektif
dalam mencegah rabies. Meskipun pada akhirnya segala upaya dalam usaha
eradikasi rabies memiliki tempatnya masing-masing dalam tiap tingkat penanganan.
Mengingat pentingnya upaya pembebaskan Bali dari masalah rabies maka
penulis memilih tema kasus rabies serta upaya pencegahan dan pemberantasannya
sebagai bahan penelitian. Meskipun vaksinasi masal dan eliminasi HPR
sesungguhnya merupakan ranah kerja dari dinas peternakan namun perlu disadari
bahwa terdapat suatu hubungan hulu hilir dengan dinas kesehatan dalam kasus
rabies. Jika diasumsikan program vaksinasi masal sebagai hulu maka dinas
kesehatan yang berperan sebagai hilir akan merasakan dampak dalam penurunan
kasus rabies pada manusia di masyarakat. Sehingga pemisahan wewenang dan
program kerja dapat dikesampingkan dalam penelitian ini demi menilai serta
evaluasi kasus rabies dan segala upaya penanganannya sejak mencuatnya kasus
rabies tahun 2008.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana situasi kasus rabies dan upaya pencegahan serta pemberantasan rabies
pada manusia dan anjing di Propinsi Bali tahun 2008-2012 ?

1.3 Tujuan Penelitian


a. Tujuan Umum
Mengetahui situasi penyakit rabies pada manusia dan anjing serta upaya
pencegahan dan pemberantasannya di Propinsi Bali tahun 2008-2012.
b. Tujuan Khusus
i. Mengetahui jumlah vaksinasi dan eliminasi pada anjing di Propinsi Bali tahun
2008-2012.
ii. Mengetahui jumlah kasus rabies pada manusia di Propinsi Bali tahun 20082012.
iii. Mengetahui jumlah kasus rabies pada anjing di Propinsi Bali tahun 2008-2012.
iv. Mengetahui jumlah kasus gigitan hewan penular rabies pada manusia di
Propinsi Bali tahun 2008-2012.
v. Mengetahui kecenderungan tren kasus rabies pada manusia dan anjing di
Propinsi Bali tahun 2008-2012.

1.4 Manfaat Penelitian


Adapun manfaat dari penelitian ini adalah
a. Pemerintah dapat melakukan terobosan ataupun melanjutkan program yang telah
ada dengan modifikasi maupun inovasi dalam rangka mengejar target Bali Bebas
Rabies 2015
b. Masyarakat dapat lebih memahami pentingnya upaya tindakan pencegahan dan
pemberantasan kasus rabies pada hewan dan manusia
c. Media massa dapat mendukung langkah pemerintah dan pihak-pihak terkait
dalam upaya eradikasi rabies di Propinsi Bali dengan tetap kritis dan realistis
sesuai kemajuan yang dicapai tanpa mengurangi ataupun melebih-lebihkannya

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Rabies
2.1.1 Etiologi
Rabies adalah penyakit viral yang mempengaruhi susunan saraf pusat. Rabies
adalah penyakit zoonosis karena menular dari hewan yang bertindak sebagai
reservoir ke manusia yang merupakan dead end host. Virus rabies berasal dari genus
Lyssavirus, famili Rhabdoviridae yang berwujud seperti peluru tumpul dengan inti
nucleocapsid RNA untai tunggal dan diliputi selubung lipoprotein. Materi
nucleocapsid terdiri dari Negri bodies yang dapat dilihat pada sitoplasma neuron
yang terinfeksi dalam horn of Ammon di hippocampus dan korteks serebral dengan
pewarnaan hematoxylin dan eosin. Karena virus rabies memiliki selubung
lipoprotein maka sangat mudah dan cepat diinaktifkan dengan cara pengeringan,
sinar UV, sinar X, tripsin, detergen dan eter (Gompf, 2011). Prinsip ini yang dipakai
dalam penanganan awal pada korban gigitan HPR (Hewan Penular Rabies) yaitu
mencuci luka dengan detergen atau sabun pada air mengalir sebelum diberikan VAR
(Vaksin Anti Rabies) dan SAR (Serum Anti Rabies) pada pusat pelayanan kesehatan.

2.1.2 Karakteristik Virus


Rabies merupakan virus neurotropik yang mampu menghindari imunitas
penjamu dengan masuk melalui sistem saraf. Selama inokulasi, virus rabies
memasuki saraf tepi dan mengalami masa inkubasi yang lamanya bergantung pada
luas inokulum serta jaraknya ke susunan saraf pusat. Amplifikasi timbul ketika
nucleocapsid menumpahkan materi genetik virus ke dalam myoneural junction dan
memasuki akson sensorik serta motorik. Pada fase ini terapi profilaksis berupa
vaksinasi menjadi sia-sia dan virus rabies menyebar tanpa hambatan dengan
Mortality Rate 100%. Virus rabies bergerilya sepanjang akson pada kecepatan 1224mm/hari untuk mencapai ganglion spinalis. Multiplikasi pada ganglion ditandai
dengan onset nyeri atau paresthesia di lokasi inokulum yang merupakan gejala klinis
yang penting. Dari ganglion virus rabies akan menyebar dengan kecepatan 200400mm/hari masuk ke dalam susunan saraf pusat dan penyebarannya ditandai oleh
ensefalitis yang cepat dan progresif. Selanjutnya virus kemudian menyebar ke perifer
dan kelenjar saliva. Pada hewan, virus siap ditularkan lagi melalui gigitan, cakaran
atau lewat udara melalui sekret binatang yang terinfeksi. Paralisis yang asenden
seperti sindrom guillain barre dan koma rabies dapat berlangsung dari beberapa jam
sampai bulanan, tergantung dari penanganan intensif aktif yang diberikan pada
pasien. Namun bagaimanapun juga, kematian pada kasus rabies tidak dapat dihindari
setelah gejala prodromal berlanjut ke arah progresif melalui disfungsi saraf otonom
dan miokarditis yang mengarah ke aritmia dan henti jantung (Gompf, 2011).

Penting untuk memahami dari segi diagnosis dan terapi bahwa virus rabies
beraksi sebagai neurotoksik ketimbang sitotoksik. Hal ini dikarenakan virion yang
bekerja pada celah sinaps berikatan dengan reseptor neurotransmiter asetikolin,
GABA dan glisine yang memiliki kesamaan/homologi pada deretan asam aminonya.
Virus rabies yang kompetitf terhadap neurotransmiter inilah yang dipandang sebagai
racun neuron karena menimbulkan efek saraf otonom yang termanifestasi pada
gejala dan tanda yang dialami penderita. Sementara itu sitotoksisitas virus rabies
tidak dapat dibuktikan mengingat morfologi dan rentang hidup neuronal selama
observasi tidak mengalami perubahan dan dalam keadaan normal (Gompf, 2011).
2.1.3 Gambaran Klinis
Terdapat lima stadium klinis rabies pada manusia (Gompf, 2011) yaitu:
a. Masa inkubasi : durasi antara 20-90 hari dengan 90% kasus masa inkubasi <1
tahun meskipun pernah dilaporkan kasus rabies dengan masa inkubasi sampai 719 tahun. Pada pasien yang digigit pada leher atau kepala dengan inokulum dalam
dan luas serta luka yang multiple maka periode ini berlangsung <50 hari
mengingat kecepatan virus melewati neuron. Selama masa inkubasi, respon
antibodi belum dapat diukur karena sifat virus rabies yang mampu menghindari
sistem imun penjamu sehingga VAR dapat diberikan untuk mengaktifkan respon
kekebalan tubuh serta jika tersedia SAR dapat digunakan untuk meredam laju
perjalanan virus rabies sambil menunggu VAR bekerja.

b. Masa prodromal : virus telah memasuki susunan saraf pusat dengan durasi 2-10
hari. Paresthesia, nyeri dan gatal adalah gejala patognomonis pada 50% kasus
rabies yang mana lebih bersifat subyektif pada fase ini.
c. Periode neurogik akut : fase yang diasosiasikan dengan tanda obyektif dari gejala
gangguan susunan saraf pusat. Lamanya antara 2-7 hari. Gejala-gejalanya antara
lain fasikulasi otot, priapism, konvulsi yang fokal ataupun general serta fobia
khas. Pada stase ini dikenal dua jenis rabies yaitu furious dan paralitik rabies.
Pada furious rabies, pasien muncul dengan gejala agitasi, hiperaktifitas,
menggigit, dan halusinasi yang diselingi fase tenang, koperatif dan periode lucid.
Episode furious ini timbul <5 menit yang dapat dipicu oleh rangsangan visual,
audiotorik, stimulus taktil ataupun spontan. Furious rabies mungkin berakhir
dengan henti nafas dan jantung atau berlanjut menjadi fase paralisis. Rabies
paralitik dikenal juga sebagai dumb rabies/apathetic rabies merupakan bentuk
tenang dari 20% kasus rabies. Gejala paralisis yang dominan sedari awal dengan
demam dan sakit kepala yang lebih menonjol.
d. Koma : muncul dalam 10 hari setelah onset dengan durasi yang bervariasi. Tanpa
dukungan perawatan intesif maka henti nafas dan jantung serta kematian muncul
dengan cepat.
e. Kematian : sangat penting untuk menentukan kematian lewat biopsi otak atau
evaluasi absennya aliran arteri serebral karena tanda-tanda neurologis dapat
memberikan gejala palsu kematian otak seperti anisokor, fixed pupillary
dilatation/blown pupil dan optic neuritis.
9

2.1.4 Diagnosis Rabies


Beberapa metode uji telah dikembangkan untuk diagnosis rabies secara
serologis. Metode uji untuk deteksi antibodi terhadap rabies yang sering digunakan
adalah serum netralisasi (SN), yaitu Rapid Fluorscent Focus Inhibition Test (RFFIT)
dan Fluorscent Antibodi Virus Neutralisation (FAVN) (OIE, 2008). SN merupakan
uji gold standard dalam pemeriksaan antibodi netralisasi terhadap rabies (Moore,
2010). Metode uji tersebut menggunakan virus rabies hidup, sehingga pengerjaannya
memerlukan laboratorium dengan fasilitas biosekuriti yang memadai dan staf yang
telah terlatih baik serta sudah divaksinasi. Complement fixation test dengan
glikoprotein sebagai antigen juga dapat digunakan untuk deteksi antibodi netralisasi
terhadap virus rabies (Cox et al., 1977).
Enzym Linked Immunosorbent assay (ELISA) juga merupakan salah satu metode
yang digunakan untuk deteksi antibodi pada serum hewan (anjing dan kucing) serta
pada serum manusia. ELISA juga digunakan untuk deteksi antibodi pada hewan
untuk uji skrining atau uji alternatif dari FAVN (Cliquet et.al., 2004; Meslin dan
Kaplan, 1996; OIE, 2008; Shanker, 2009). Kelebihan dari uji ELISA adalah dapat
dilakukan dalam empat jam, tidak menggunakan virus hidup, tidak memerlukan
laboratorium dengan fasilitas biosekuriti yang tinggi. Hal ini terbalik dengan FAVN
yang memerlukan waktu pengujian selama 4 hari (McElhinney et al., 2008). Kit
ELISA untuk deteksi antibodi terhadap rabies sudah tersedia di Indonesia yang
diproduksi oleh Pusat Veterinaria Farma Surabaya.

10

2.2 Program Pencegahan dan Pemberantasan Rabies di Bali


2.2.1 Landasan Program
Pemerintah Propinsi Bali sejak tahun 2008 menyatakan daerah Bali dalam status
KLB (Kejadian Luar Biasa) rabies. Hal ini dinyatakan dalam Peraturan Gubernur
No. 88/2008 dan Peraturan Bupati Badung No. 53/2008 serta Keputusan Menteri
Pertanian No. 1637.1/2008 tertanggal 1 Desember 2008. Dengan penyebaran yang
cepat maka pada bulan Juni 2010 semua kabupaten/kota di Propinsi Bali dinyatakan
sudah tertular rabies (Putra et al., 2009; Kerta et al., 2011). Maka berdasarkan
arahan Departemen Kesehatan R.I., upaya penanggulangan rabies yang menyangkut
hewan menjadi tanggung jawab Departemen Pertanian dan Direktorat Jendral
Peternakan sedangkan yang menyangkut manusia menjadi tanggung jawab
Departemen Kesehatan (Departemen Kesesehatan RI, 2000).
2.2.2 Pokok Program Kerja
Adapun pokok kegiatan dalam upaya pemberantasan rabies berdasarkan
pembagian kerja berdasarkan arahan Departemen Kesehatan RI (2000) adalah:
a. Pokok kegiatan yang dilaksanakan oleh Sektor Peternakan:
1. Vaksinasi hewan yang dilaksanakan melalui vaksinasi masal (bulan rabies).
2. Pengawasan lalu lintas hewan, melalui Perda yang mengacu kepada UU
No.6.1967 tentang : Ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan.

11

3. Eliminasi anjing-anjing liar/tak bertuan dengan melakukan pengamatan


langsung di tempat persembunyian atau sarang anjing.
b. Pokok-pokok yang dilaksanakan olek Sektor Kesehatan :
1. Vaksinasi pada kasus gigitan hewan tersangka rabies melalui pemberian
Vaksinasi Anti Rabies (VAR) atau kombinasi Vaksinasi Anti Rabies (VAR) dan
Serum Anti Rabies (SAR) di Puskesmas dan Rumah Sakit.
2. Pencucian luka gigitan hewan-hewan tersangka rabies dengan sabun atau
detergen lain untuk mengurangi masuknya kuman ke dalam tubuh.
3. Melaksanakan folow up pengobatan melalui kunjungan petugas Puskesmas ke
tempat penderita.
4. Melakukan pelacakan kasus gigitan tambahan melalui Penyelidikan
Epidemiologi.
5. Melakukan rujukan penderita rabies ke Rumah Sakit guna mendapatkan
perawatan intensif.
Kunci utama dalam menangani rabies adalah mencegah pada sumbernya yaitu
hewan. Sesuai dengan pedoman pengendalian rabies terpadu, metoda pemberantasan
rabies dilakukan dengan a) vaksinasi dan eliminasi dilakukan pada anjing, kucing,
dan kera dengan fokus utama pada anjing, b) vaksinasi dilakukan terhadap anjing
dan kera berpemilik, dan c) eliminasi dilakukan terhadap anjing tidak berpemilik dan
anjing berpemilik yang tidak divaksinasi/diliarkan (Direktorat Kesehatan Hewan,
2006).
12

2.2.3 Vaksinasi Rabies pada Hewan


Program pengendalian dalam rangka pencegahan dan pemberantasan rabies di
Indonesia yang dikenal secara luas adalah vaksinasi dan eliminasi. Meskipun
beberapa daerah berhasil mengatasi masalah rabies namun pendekatan dengan
program tersebut belum mampu diterapkan dengan baik di seluruh daerah karena
kasus rabies malah menjadi endemi (stabil) ataupun mengalami peningkatan
(Direktorat Kesehatan Hewan, 2006). Sementara itu untuk di Bali sendiri, program
pemberantasan rabies dilakukan dengan menggunakan pendekatan teknis dan
pendekatan sosial budaya. Pendekatan teknis meliputi: vaksinasi, pendataan,
penertiban dan pengawasan pemeliharaan anjing, eliminasi yang selektif dan
berdasarkan target, observasi hewan tersangka rabies, pengawasan lalu lintas anjing,
penyidikan/tracing, surveilans, sosialisasi dalam rangka komunikasi - informasi dan
edukasi, peningkatan peran serta masyarakat, monitoring, legislasi, dan pertolongan
pasien penderita rabies (Direktorat Kesehatan Hewan, 2004).
Vaksin yang digunakan dalam vaksinasi masal rabies pada anjing di Bali adalah
vaksin Rabivet Supra92 dan Rabisin yang mampu hasilkan antibodi protektif
tertinggi pada periode 3-6 bulan paska vaksinasi sehingga perlu diberikan booster
atau dosis ulangan untuk pertahankan titer antibodi protektif tiap 3 bulan (Ohore et
al., 2007; Simani et al., 2004). Namun karena kesulitan untuk menangkap dan
memegang anjing berpemilik yang umumnya dipelihara secara free-roaming, maka
sejak November 2009 sampai sekarang digunakan vaksin impor dengan booster satu
tahun kemudian (Putra, 2011).

13

Vaksinasi dilakukan dengan pendekatan banjar/desa, dengan target cakupan


minimal 70% dari estimasi populasi anjing agar mendapat kekebalan. Penghitungan
persentase anjing yang telah divaksin akan dilakukan oleh koordinator vaksinator
kabupaten. Caranya yaitu jumlah anjing dengan kalung (sebagai penanda telah
mendapatkan vaksin) dibandingkan dengan total estimasi populasi anjing (total
jumlah anjing berkalung dan tidak berkalung) pada suatu area. Jika persentase
cakupan vaksinasi <70% maka vaksinasi lanjutan harus dilakukan sesegera mungkin
(Direktorat Kesehatan Hewan, 2011). Target ini bertujuan untuk menghilangkan atau
mencegah wabah rabies meluas (Putra, 2011).
2.2.4 Eliminasi Hewan Penular Rabies
Di luar argumentasi dari yayasan kesejahteraan hewan yang menyatakan eliminasi
dengan sumpit beracun adalah tidak manusiawi, terdapat pertimbangan berdasarkan
bukti yang ada bahwa tindakan tersebut bukan metode yang efektif didalam
pemberantasan atau pengendalian rabies. Berikut merupakan penjelasannya (BAWA,
2010) :
a. Di Flores, hampir 300.000 ekor anjing atau sekitar satu per tiga dari populasi
yang ada, di bunuh antara tahun 1998 dan 2001 dalam upaya pengendalian
wabah rabies namun sampai saat ini rabies tetap mewabah di sana
(Windiyaningsih et al., 2004).
b. Agar eliminasi dapat efektif, kepadatan populasi hewan anjing per km 2 harus
dikurangi sedemikian rupa agar laju interaksi antar hewan anjing kurang dari
level yang bisa memacu wabah rabies. Di Bali yang populasi hewan anjingnya
14

mencapai 460.000 ekor saat ini harus dikurangi hingga mencapai 7.600 ekor.
Sehingga hal ini tidak akan terjangkau dan terlaksana.
c. Saat eliminasi berakhir berarti akan terdapat banyak makanan bagi sisa hewan
anjing yang ada dan ini membantu dalam pertumbuhan yang pesat. Itu sebabnya
eliminasi bersifat sementara. Dalam banyak kasus, hewan anjing tereliminasi
yang ada pemiliknya dan disayang malah memicu perolehan hewan anjing dari
lokasi lain. Hal ini sangat berpotensi meningkatkan penyebaran wabah di
sekeliling pulau.
d. Seperti bukti yang menunjukan bahwa eliminasi itu tidak manusiawi dan juga
tidak akan berhasil, juga ada bukti lain yang menunjukan eliminasi itu sangat
meresahkan dan membuat trauma masyarakat setempat dan juga para pelaku
eliminasi tersebut.
e. Eliminasi menciptakan reaksi negatif untuk wisatawan, sama hal nya juga dari
organisasi internasional dan para pakar rabies. Banyak negara yang
perekonomiannya sangat bergantung kepada kepariwisataan sedangkan biaya
eliminasi merupakan pemborosan biaya, oleh sebab itu dampak negatif secara
finansial terhadap kepariwisataan itu juga harus diperhitungkan.
f. Eliminasi di Bali sudah dilaksanakan sejak rabies mewabah dan kasus rabies
pada manusia masih terus meningkat.
Sekelompok orang berpikiran bahwa menggabungkan vaksinasi dan eliminasi akan
lebih efektif. Namun, ada banyak alasan mengapa eliminasi pada hewan anjing yang
15

tidak tervaksinasi setelah cakupan 70% tercapai, tidak efektif dan bisa mengalihkan
perhatian dari program vaksinasi itu sendiri (BAWA, 2010) adalah:
a. Sehubungan dengan penanda untuk vaksin yang sifatnya tidak permanen maka
eliminasi sering tidak dapat membedakan anjing mana yang telah tervaksin. Bila
hal ini terjadi maka dana yang telah dikucurkan untuk vaksinasi tersebut akan siasia.
b. Sewaktu pelaksanaan eliminasi dimulai akan banyak pemilik-pemilik hewan
anjing yang menyembunyikan hewan peliharaan atau memindahkan hewan
tersebut ke kawasan lain agar tidak dieliminasi secara kejam. Hal ini berdampak
buruk pada penyebaran wabah.
c Pembiakan dan penggantian hewan anjing yang tereliminasi oleh para pemilik akan
berakibat pada perkembangan populasi yang cepat. Akibatnya semua manfaat yang
seharusnya ada menjadi tersisihkan dengan cepat.

16

BAB III
KERANGKA KONSEP

Rabies adalah penyakit zoonis yang yang sangat bergantung pada efektifitas
pengawasan hewan dan program vaksinasi. Rabies pada manusia sangat bergantung
pada jumlah hewan yang terinfeksi dan kontaknya dalam populasi manusia. Sehingga
sangat memungkinkan mengendalikan kasus rabies di tengah masyarakat agar tidak
menimbulkan keresahan dengan jatuhnya korban jiwa karena rabies. Salah satu cara
yang paling efektif dalam menekan angka kejadian rabies pada manusia dan binatang
adalah melalui vaksinasi hewan penular rabies sebagai reservoir dan penyebar virus
rabies ke hewan lain maupun manusia.

Jumlah vaksinasi dan eliminasi


pada anjing

Karakteristik kasus rabies


pada manusia dan anjing
serta upaya pencegahan dan
pemberantasan di Propinsi
Bali Tahun 2008-2012

Jumlah rabies pada manusia dan


anjing
Jumlah gigitan baru pada manusia

Kecenderungan
penurunan kasus
Gambar 1. Kerangka Konsep
Penelitian
rabies
Vaksinasi masal rabies harus mencakup 70% dari total populasi hewan penular
rabies (dominan hewan anjing) sebagai prasayarat dalam pencegahan dan
pemberantasan kasus rabies. Hasilnya dilihat dari jumlah kasus gigitan baru HPR
pada populasi manusia dan kasus baru rabies pada hewan dan manusia setelah
program vaksinasi masal rabies pada anjing berlangsung yaitu pada tahun 2010.
17

Meskipun kasus rabies pada manusia mungkin saja rendah karena pada daerah
endemi setiap gigitan hewan penular rabies (GPHR) pada manusia diberikan VAR
oleh pusat pelayanan kesehatan masyarakat namun hal tersebut dipandang sebagai
suatu rangkaian keberhasilan vaksinasi masal rabies atau program hulu-hilir, kendati
dilakukan oleh dua instansi pemerintah yang memiliki wewenang yang berbeda.
Meskipun program vaksinasi masal rabies disebut sebagai metode paling efektif
dalam mencegah penularan rabies namun vaksinasi bukan merupakan satu-satunya
cara dalam penanganan wabah rabies. Terdapat integrasi beberapa program yang
melibatkan kerjasama lintas sektoral di dalamnya. Eliminasi merupakan salah satu
metode yang tetap dikerjakan dalam mengatasi masalah rabies. Terlepas dari segala
polemik dan kontroversi yang ditimbulkan bahwa metode eliminasi memiliki
hubungan dengan jumlah kasus rabies yang terjadi. Selain itu pemahaman
masyarakat pun memiliki peran yang strategis dalam upaya penanggulangan masalah
rabies, dimulai dari kesadaran membawa anjing peliharaan untuk divaksin,
melaporkan keberadaan anjing liar atau binatang peliharaan yang berperilaku aneh
dan penanganan awal terhadap korban luka gigitan hewan penular rabies. Sehingga
pada akhirnya keberhasilan eradikasi rabies bergantung dari banyak aspek dan tidak
serta merta bergantung pada satu penanganan tunggal.

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

18

4.1 Lokasi Penelitian


Pengambilan data mengenai

status vaksinasi dan kasus rabies pada anjing

dilakukan pada kantor Dinas Peternakan Propinsi Bali sedangkan data mengenai
jumlah gigitan baru hewan penular rabies terhadap manusia dan jumlah pasien rabies
didapatkan dari Dinas Kesehatan Propinsi Bali.

4.2 Jenis dan Sumber Data


Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder mengenai status
vaksinasi masal rabies, eliminasi dan jumlah kasus rabies pada anjing yang
sumbernya diperoleh dari Dinas Peternakan Propinsi Bali. Sedanglan data sekunder
tentang jumlah gigitan baru hewan penular rabies pada manusia dan jumlah pasien
positif rabies diperoleh dari Dinas Kesehatan Propinsi Bali.

4.3 Definisi Operasional


i. Vaksinasi masal rabies pada anjing adalah vaksinasi yang dilakukan dengan
pendekatan banjar/desa pada anjing yang berpemilik maupun anjing liar, dengan
target cakupan minimal 70% dari estimasi populasi anjing di Bali agar mendapat
kekebalan/antibodi protektif terhadap virus rabies dengan booster setahun paska
vaksinasi.
19

ii. Rabies pada manusia adalah kasus rabies yang dikonfirmasi menggunakan
metode Enzym Linked Immunosorbent Assay (ELISA) dalam mendeteksi
antibodi atau antigen serta memiliki gejala/tanda klinis rabies dan memiliki
riwayat paparan dengan anjing yang sudah dipastikan positif melalui konfirmasi
laboratorium atau yang belum dapat dipastikan karena anjing tidak dapat
ditemukan, lari atau lolos dari penangkapan.
iii. Rabies pada anjing adalah anjing yang dikonfirmasi setelah dilakukan uji
serologis di laboratorium Disease Investigation Center Denpasar dengan metode
Fluorescent Antibody Test (FAT).

4.4 Metode Penelitian


Penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Data upaya pencegahan dan
pemberantasan rabies berupa vaksinasi dan eliminasi pada anjing periode tahun 2008
sampai dengan bulan September 2012 dijabarkan dan dibandingkan dengan jumlah
kasus positif rabies pada anjing dan manusia serta jumlah gigitan anjing terhadap
manusia. Dengan demikian dapat dilihat usaha pemerintah dan hasil yang dicapai
selama program berlangsung.

4.5 Analisis Data


Data yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah:

20

i. Jumlah kasus rabies pada anjing dan manusia.


ii. Jumlah kasus baru gigitan anjing pada manusia.
iii. Jumlah vaksinasi rabies dan eliminasi pada anjing.
iv. Kecenderungan penurunan kasus rabies pada manusia dan anjing.

BAB V
HASIL PENELITIAN
21

5.1 Jumlah Kasus Rabies pada Manusia


Pada puncak kasus rabies di Bali pada tahun 2010 terjadi 82 kasus rabies pada
manusia. Jumlah tersebut sekitar dua puluh kali lipat dibandingkan awal kemunculan
masalah rabies di Bali tahun 2008. Secara kumulatif sampai tahun 2012 terdata 145
kasus rabies yang terjadi pada manusia. Sementara itu rabies pada manusia terjadi
paling banyak di Kabupaten Karangasem sedangkan Jembrana dinyatakan sebagai
daerah endemis kasus rabies yang terendah di Propinsi Bali (Tabel 2).
Tabel 1. Data Kasus Rabies di Propinsi Bali Tahun 2008-2012
Periode

Rabies pada

Rabies pada

Manusia

Anjing

4
28
82
23
8

7
81
345
90
*-

Tahun 2008
Tahun 2009
Tahun 2010
Tahun 2011
Tahun 2012

Total
145
Keterangan : * Data tidak tersedia

523

Tabel 2. Kasus Rabies pada Manusia berdasarkan Kabupaten/Kota Tahun 2008-2012


Kabupaten/Kota

Tahun
2008

2009

2010

2011

2012

Total

Buleleng

21

27

Jembrana

Tabanan

13

18

22

Badung

10

23

Denpasar

11

Gianyar

10

Klungkung

10

Bangli

Karangasem

29

39

Jumlah

28

82

23

145

5.2 Jumlah Kasus Rabies pada Anjing


Kasus Rabies pada anjing mencapai puncaknya pada tahun 2010 yaitu 345 kasus
(Tabel 3). Pada tahun 2010 terjadi peningkatan kasus rabies sebanyak lima puluh kali
lipat pada anjing dibandingkan awal kemunculan kasus tahun 2008. Totalnya
sebanyak 523 kasus rabies pada anjing tersebar di seluruh Bali. Kasus anjing positif
rabies tertinggi terletak di Kabupaten Gianyar dan jumlah terendah berada di
Tabanan (Tabel 3).
Tabel 3. Kasus Rabies pada Anjing berdasarkan Kabupaten/Kota Tahun 2008-2011
Kabupaten/Kota
Buleleng

Tahun
2008
2009
2010
2011
0
10
55
23

Total
7

72

Jembrana

22

24

46

Tabanan
Badung
Denpasar
Gianyar
Klungkung
Bangli
Karangasem
Jumlah

0
6
1
0
0
0
0
7

7
28
10
14
0
1
11
81

14
42
35
101
26
50
59
345

6
6
6
23
8
8
2
90

27
82
52
138
34
59
72
523

Grafik 1. Kasus Rabies pada Manusia dan Anjing di Propinsi Bali

5.3 Jumlah Kasus Gigitan Anjing pada Manusia


Kasus gigitan anjing pada manusia terjadi paling banyak di Kabupaten Badung
dengan 28.960 serangan anjing pada manusia. Kabupaten Jembrana yang memiliki
angka rabies pada manusia terendah, ternyata juga memiliki tingkat gigitan anjing
pada manusia paling sedikit di Propinsi Bali (Tabel 4). Kasus gigitan anjing juga
cenderung mengalami penurunan setelah mencapai puncaknya pada tahun 2010
24

(Grafik 2). Secara umum terdapat sebanyak 141.450 kasus gigitan yang tercatat
dengan diantaranya 141 kasus menjadi positif rabies pada manusia selama tahun
2009-2012.

Tabel 4. Kasus Gigitan Anjing pada Manusia berdasarkan Kabupaten/Kota Tahun


2009-2012
Kabupaten/Kota

Tahun
2009

2010

2011

2012

Total

Buleleng

918

10,289

6,332

4,493

22,032

Jembrana

137

1,376

1,791

1,866

5,170

Tabanan

3,164

4,180

6,473

6,832

20,649

Badung

2,918

9,926

8,111

8,005

28,960

Denpasar

2,931

2,696

3,411

3,326

12,364

Gianyar

1,691

7,066

7,474

7,276

23,507

Klungkung

214

2,805

2,477

1,786

7,282

Bangli

258

3,773

4,006

3,308

11,345

Karangasem

1,635

7,601

3,486

3,409

16,131

RS Sanglah

7,940

17,849

9,247

6,825

41,861

17,587

51,716

38,212

33,935

141,450

Jumlah

25

Grafik 2. Kasus Gigitan Anjing pada Manusia Periode Th. 2009-2012


Meskipun dari grafik 2 terlihat kecenderungan penurunan angka kasus gigitan anjing
namun berdasarkan data terakhir tahun 2012 terdapat jumlah gigitan yang masih
tinggi yaitu sekitar 33.935 kasus gigitan pada manusia atau sekitar dua kali dari
jumlah kasus tahun 2009.

5.4 Jumlah Vaksinasi dan Eliminasi Anjing


Tabel 5 menerangkan data realisasi vaksinasi masal dan eliminasi yang
dikerjakan oleh Dinas Peternakan dan BBVet Propinsi Bali dalam rangka
pencegahan dan pemberantasan rabies. Jumlah realisasi vaksinasi merupakan total
dosis vaksin dan boosternya. Jumlah dosis vaksin yang diberikan semakin menurun
disebabkan semakin meningkatnya jumlah populasi anjing peka yang telah
menerima vaksinasi. Terlihat penurunan jumlah anjing yang dieleminasi setelah
dilakukan vaksinasi masal yang dimulai pada tahun 2010. Penurunan angka
26

eliminasi pada anjing tahun 2011 diperkirakan sekitar 74% jika dibandingkan jumlah
eleminasi yang telah dilakukan pada tahun 2008-2010.
Tabel 5. Realisasi Vaksinasi Masal Rabies dan Eliminasi pada Anjing Tahun 20082012

Periode

Realisasi

Eliminasi

Vaksinasi

(Ekor)

(Dosis)
Tahun 2008 - 2010
474.332
Tahun 2011
393.224
Tahun 2012
264. 018
Total
1.131.574
Keterangan : * Data tidak tersedia

138.410
36.579
*174.989

BAB VI
PEMBAHASAN
27

6.1 Jumlah Kasus Rabies Pada Manusia dan Anjing


Jumlah kasus rabies bervariasi pada setiap daerah di Bali. Jika dilihat secara
kumulatif dari awal munculnya kasus pada 2008 sampai data terakhir yang tercatat
di Dinas Kesehatan Propinsi Bali tanggal 7 Desember 2012 maka terlihat bahwa
kabupaten yang memiliki kasus rabies pada manusia terbanyak adalah Karangasem
yaitu 35 orang dan sebaliknya Jembrana hanya 2 orang (Tabel 2). Sedangkan kasus
anjing rabies tertinggi pada Kabupaten Gianyar dan terendah di Tabanan (Tabel 3).
Kasus rabies pada manusia di Kabupaten Karangasem dan di Jembrana,
kemungkinan dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Karangasem memiliki penduduk dengan sumber daya manusia (SDM) dan
pengetahuan yang rendah serta kurang memahami tentang penanganan awal luka
gigitan anjing jika dibandingkan dengan daerah Jembrana yang lebih maju
sehingga alur informasi menjadi macet dan kurang berkembang di Karangasem.
b. Karangasem sebagai daerah timur Bali yang masih kental dengan nuansa
kebudayaan Hindu, dimana terdapat kepercayaan harmoni antara manusia dan
lingkungan sehingga anjing dibiarkan berkeliaran bebas sehingga meningkatkan
resiko gigitan anjing terinfeksi rabies. Sedangkan di Jembrana merupakan daerah
yang telah mengalami asimilasi budaya dengan suku Jawa yang beragama Islam
sehingga anjing tidak dibiarkan lalu lalang di sekitar pemukiman warga.

28

c. Kasus rabies di Jembrana baru dilaporkan muncul pada bulan Juni 2010 sehingga
menjadikannya sebagai kabupaten terakhir yang tertular rabies. Bandingkan
dengan Kabupaten Tabanan, Karangasem, Buleleng, Bangli dan Gianyar yang
pada pertengahan tahun 2009 telah dinyatakan sebagai daerah terjangkit rabies
(Putra et al., 2009).
d. Jarak pusat layanan kesehatan yang jauh di Karangasem menjadi hambatan bagi
masyarakat dalam mendapatkan VAR dan baru melapor ketika kondisi telah
memburuk.
e. Jembrana merupakan kabupaten dengan tingkat gigitan anjing terendah di Bali
yaitu dengan 5,170 kasus gigitan anjing sementara Karangasem mencapai kasus
16,131 gigitan anjing sepanjang tahun 2009-2012 (Tabel 3).
Sementara itu kasus anjing positif rabies tertinggi di Kabupaten Gianyar dan
terendah di Tabanan dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Cakupan vaksinasi di Kabupaten Tabanan pada vaksinasi masal rabies I pada
Oktober 2010 sampai Maret 2011 mencapai 100% (Putra, 2011) sehingga tidak
mengherankan kasus rabies pada anjing menjadi yang terendah di Bali.
b. Diagnosis anjing rabies didasarkan pada konfirmasi sampel dari laboratorium
sehingga semakin banyak sampel maka kemungkinan positif juga semakin tinggi
begitu pula sebaliknya. Kemungkinan Kabupaten Gianyar lebih aktif dalam
pengiriman sampel anjing yang terindikasi rabies sehingga terlihat jumlah kasus
positif rabies pada anjing yang tinggi dibandingkan Tabanan. Dengan demikian
29

rendahnya tingkat kasus rabies pada anjing tidak otomatis menjadikan daerah
tersebut aman dari wabah rabies, karena dapat pula disebabkan sistem pelaporan
dan skrining yang kurang memadai oleh pemda setempat.
c. Gianyar merupakan kabupaten yang berstatus desa tertular rabies dengan kasus
baru, aktif dan sangat aktif yang tertinggi di Bali sebelum dan sesudah vaksinasi
masal rabies tahun 2010 sehingga wajar jika jumlah anjing positif tinggi (Putra,
2011).
d. Tingginya tingkat kesadaran masyarakat dalam pencegahan dan pemberantasan
rabies sehingga terdapat peran aktif dalam penangkapan atau penyerahan anjing
yang diduga terinfeksi.
e. Daerah tersebut memiliki populasi anjing yang tinggi sehingga memudahkan
penularan rabies antar anjing sehingga angka kejadian rabies antara anjing lebih
sering muncul.
Pertanyaannya adalah mengapa daerah yang tinggi kasus anjing rabies tidak serta
merta menjadi kabupaten dengan kasus rabies pada manusia tertinggi? Hal ini
mungkin dikarenakan sigapnya pelayanan pemerintah dalam pemberian VAR pada
korban gigitan, tingkat pengetahuan tentang penanganan awal atau anjing yang
terinfeksi belum sempat menggigit manusia karena program eliminasi oleh daerah
tersebut. Dengan demikian daerah dengan banyak anjing positif rabies seperti
Gianyar tidak mesti menjadikannya daerah dengan kasus rabies manusia tertinggi di
Bali seperti halnya Karangasem.

30

Berbeda dengan ancaman rabies di daerah lain di Indonesia dan bahkan di dunia,
ancaman rabies di Bali sangat spesifik. Hal ini disebabkan karena keadaan sosiobudaya dan bio-geografi Bali. Sebagai daerah padat penduduk, di Bali juga banyak
ditemukan hewan pembawa rabies seperti : anjing, kucing, monyet dan kelelawar,
beberapa koloni monyet dan kelelawar bahkan menjadi obyek wisata yang ramai
dikunjungi wisatawan (Kerta et al., 2011). Kabupaten Gianyar yang terkenal dengan
monkey forest di Ubud dan Karangasem dengan Goa Lawah di Pesinggahan yang
merupakan koloni kelelawar, menjadikan kedua kabupaten itu semakin berisiko
dalam pelestarian rantai penularan rabies di Bali.

6.2 Jumlah Kasus Gigitan Anjing pada Manusia


Angka gigitan hewan penular rabies (HPR) di Bali telah melampau angka ratarata gigitan HPR secara nasional yang berasal dari 23 provinsi tertular rabies di
Indonesia. Tingginya angka gigitan HPR ini mungkin ada kaitannya dengan densitas
populasi anjing dan manusia yang sangat padat di Bali, sekitar 75 ekor anjing dan
650 orang per km2 (Putra, 2011).
Kasus gigitan hewan penular rabies tertinggi terdapat di Kabupaten Badung dan
sesuai dengan jumlah manusia yang terinfeksi rabies maka Jembrana adalah
Kabupaten di Bali dengan tingkat gigitan anjing dan kasus rabies manusia yang
terendah di Propinsi Bali (Tabel 2 dan 4). Meskipun terjadi tren penurunan kasus
gigitan anjing namun jumlah gigitan anjing pada tahun 2012 tercatat sebanyak dua
kali lipat dari kasus gigitan tahun 2009. Hal ini sesuai fakta bahwa proporsi anjing
31

yang dirumahkan kurang dari 30% estimasi populasi (Kerta et al., 2011) dan 90%
proporsi anjing di Bali dipelihara dengan cara dilepaskan (Putra, 2011) sehingga
kasus gigitan anjing dapat menjadi sedemikian tingginya. Lebih lanjut, anjing
terinfeksi rabies belum tentu menggigit manusia dan begitu pula sebaliknya sehingga
sesuai data di atas maka daerah dengan anjing positif rabies tertinggi tidak serta
merta menjadikannya sebagai daerah dengan kasus rabies tertinggi pada manusia.
Pada kasus gigitan anjing, lebih mudah dimengerti hubungannya dengan kasus rabies
pada manusia, yaitu:
a. Badung menjadi kabupaten dengan kasus gigitan anjing yang tertinggi karena
daerah ini merupakan awal mula kasus rabies di Bali sehingga sistem pencatatan
kasus rabies menjadi lebih teliti dan lengkap (Putra et al., 2009). Sementara itu
Kabupaten Jembrana baru tertular rabies pada Juni 2010 sehingga kasus gigitan
menjadi relatif lebih rendah.
b. Kabupaten Badung memiliki tingkat kepadatan penduduk yang jauh lebih tinggi
daripada Jembrana sehingga resiko gigitan anjing menjadi lebih tinggi.
c. Badung sebagai daerah yang memiliki pelabuhan besar sebagai jalur transit
transportasi laut memungkinkan penyebaran rabies yang tidak terdeteksi melalui
anjing-anjing geladak kapal yang membawa virus rabies. Hal ini diperkuat oleh
temuan Dibia et al. (2001) yang menyatakan virus rabies isolat Bali mempunyai
jarak genetik paling dekat dengan virus rabies isolat asal Flores dan Sulawesi.
a. Badung sebagai daerah dengan kasus gigitan anjing tertinggi tidak otomatis

menjadi daerah dengan kasus rabies pada manusia tertinggi di Bali karena
32

merupakan daerah yang pertama kali merasakan wabah rabies sehingga


masyarakat lebih paham terhadap penanganan awal luka gigitan anjing. Jarak
pusat layanan kesehatan yang dekat serta ketersedian dan pemberian VAR
terhadap korban gigitan anjing juga menjadi faktor yang berperan dalam kasus
rabies pada manusia. Sedangkan di Jembrana, dengan tingkat gigitan yang rendah
maka otomatis kasus rabies pada manusia pun menjadi rendah.
Secara umum terdapat sebanyak 141.450 kasus gigitan yang tercatat dengan
diantaranya 141 kasus menjadi positif rabies pada manusia selama tahun 2009-2012.
Dengan demikian ada kemungkinan korban gigitan anjing menjadi kasus rabies pada
manusia dengan perbandingan 1000 : 1, sehingga diperkirakan setiap seribu gigitan
anjing berpotensi menimbulkan satu kasus positif rabies pada manusia. Meskipun
data gigitan anjing yang tercantumkan dikategorikan berdasarkan kabupaten/kota
namun data gigitan anjing dari RS Sanglah juga dimasukan dalam kumulatif data
total. Hal ini disebabkan banyaknya masyarakat di sekitar Kota Denpasar yang
langsung mendatangi RS Sanglah karena statusnya sebagai rumah sakit rujukan
utama Propinsi Bali. Sehingga terdapat kekhawatiran akan adanya pendataan ganda
terhadap kasus gigitan anjing ditingkat kabupaten/kota dan RS Sanglah. Dengan
demikian, mungkin saja fakta di lapangan jumlah kasus lebih sedikit dari yang
tertera dalam data tersebut.

6.3 Jumlah Vaksinasi dan Eliminasi Anjing

33

Dalam kurun waktu Desember 2008 sampai dengan September 2010


diperkirakan sekitar 40% dari estimasi populasi anjing telah divaksinasi. Cakupan
70% vaksinasi anjing, baru dapat tercapai pada periode Oktober 2010 November
2012 (Putra, 2011). Seiring berjalannya program vaksinasi rabies maka jumlah
anjing yang mendapatkan vaksinasi semakin meningkat namun dari data terlihat
seolah jumlah anjing yang divaksin semakin menurun. Hal ini dapat dijelaskan
bahwa jumlah anjing peka (jumlah total anjing dikurangi jumlah anjing yang telah
memperoleh vaksinasi) semakin berkurang jumlahnya sehingga total anjing yang
harus divaksinasi semakin berkurang (Tabel 5). Sehingga diharapkan cakupan
vaksinasi semakin meningkat untuk mengejar target Bali bebas rabies 2015.
Diperkirakan sekitar 138.410 ekor anjing telah dieliminasi dari tahun 2008-2010
dan jika dilihat berdasarkan (Grafik 1) maka metode eliminasi dan program
vaksinasi yang belum mencapai 70% estimasi populasi anjing sebelum tahun 2010,
tidak mampu meredam laju peningkatan kasus rabies di Bali. Bandingkan dengan
fakta bahwa hanya 36.579 ekor anjing dieliminasi setelah program vaksinasi masal
di seluruh Bali, jumlah tersebut mengalami penurunan sekitar 74% dibandingkan
sepanjang tahun 2008-2010. Sebelum ada rabies, masyarakat Bali yang mayoritas
berlatang belakang Hindu, boleh dikatakan tidak pernah melakukan pembantaian
anjing secara besar-besaran (Putra, 2011). Sehubungan dengan penanda untuk vaksin
yang sifatnya tidak permanen maka eliminasi sering tidak dapat membedakan anjing
mana yang telah tervaksin. Bila hal ini terjadi maka dana yang telah dikucurkan
untuk vaksinasi tersebut akan sia-sia (BAWA, 2010). Di Flores, hampir 300.000 ekor
anjing atau sekitar satu per tiga dari populasi yang ada, di bunuh antara tahun 1998
34

dan 2001 dalam upaya pengendalian wabah rabies namun sampai saat ini rabies tetap
mewabah di sana (Windiyaningsih et al., 2004). Dengan demikian, melihat fakta
tersebut eliminasi menjadi sia-sia jika dilakukan tanpa dukungan program kerja lain
yang efektif dan dengan sasaran yang jelas.

6.4 Kecenderungan Penurunan Kasus Rabies


Masalah rabies pada manusia dan anjing serta kasus baru gigitan HPR juga
terlihat mengalami kecenderungan penurunan dari pelaksanaan awal program
vaksinasi masal I pada tahun 2010 sampai tahap III tahun 2012 (Grafik 1 dan 2).
Meskipun adanya kerancuan dalam penurunan kasus rabies pada manusia karena
pemberian VAR pada tiap kasus gigitan HPR pada manusia namun persoalan ini
dianggap sebagai suatu keberhasilan keterpaduan kerja program hulu hilir antara
Dinas Peternakan dan Kesehatan Propinsi Bali dalam meredam kepanikan
masyarakat terhadap kasus rabies pada manusia (Tabel 1).
Setelah program vaksinasi masal rabies pada hewan yang diselenggarakan pada
tahun 2010, ditemukan kecenderungan penurunan kasus rabies pada manusia
maupun hewan (Grafik 1). Tahun 2008 merupakan awal ditemukannya kasus rabies
pertama di Bali dengan korban jiwa berjumlah empat orang dan terus mengalami
peningkatan sampai pada puncaknya tahun 2010. Meskipun sejak awal telah
dikerahkan segala upaya dalam menangani rabies termasuk dengan metode vaksinasi
dan eleminasi namun upaya tersebut dipandang kurang berhasil dalam menekan laju
penyebaran dan infeksi rabies pada hewan dan manusia karena tidak memenuhi
35

cakupan vaksinasi >70% pada estimasi populasi anjing. Semenjak program vaksinasi
masal rabies pada anjing diluncurkan pada bulan Oktober 2010 sampai 2011, terjadi
penurunan kasus rabies sebesar 72% pada manusia dan senilai 78% pada hewan.
Sementara itu usaha vaksinasi dari tahun 20112012 meskipun mengalami
perlambatan namun mampu mengurangi sekitar 65% kasus rabies pada manusia dari
tahun sebelumnya. Berdasarkan penelitian Putra (2011), rata-rata jumlah kasus
rabies per bulan di seluruh Bali, sebelum program vaksinasi masal jauh lebih tinggi
(44,7) dibandingkan dengan sesudah program vaksinasi masal (10,8).
Pola penurunan serupa juga terlihat pada jumlah gigitan hewan penular rabies
setelah tahun 2010 (Grafik 2). Rata-rata gigitan anjing per hari sebelum program
vaksinasi masal sebanyak 208 atau 6.256 per bulan dan selama program vaksinasi
masal sebanyak 153 per hari atau 4.589 gigitan per bulan. Sementara jumlah
kematian manusia yang terkait dengan gigitan anjing, sebelum program vaksinasi
masal rabies di seluruh Bali sebanyak 94 orang atau sekitar 4,3 orang per bulan, dan
selama program vaksinasi masal sebanyak 34 orang atau sekitar 4,8 per bulan (Putra,
2011). Namun yang perlu dipahami adalah gigitan oleh hewan bukan hanya semata
disebabkan oleh infeksi rabies tetapi dapat juga dipengaruhi oleh perasaan terancam,
hidup liar dan sifat alami anjing itu sendiri. Jumlah gigitan hewan penular rabies
(GPHR) hanya dipandang sebagai faktor resiko untuk meramalkan jumlah VAR dan
SAR yang dibutuhkan dalam menghadapi kasus rabies pada manusia. Dengan
demikian jumlah GPHR tidak secara langsung menunjukan upaya pencegahan dan
pemberantasan terhadap penurunan kasus rabies itu sendiri.

36

Terdapat kecenderungan dalam tren penurunan kasus rabies sejak dimulainya


vaksinasi masal rabies pada bulan Oktober tahun 2010 dibandingkan sejak
mewabahnya rabies dari tahun 2008 sampai puncaknya pada 2010. Namun banyak
faktor yang dapat mempengaruhi hasil tersebut sehingga program vaksinasi masal
dengan cakupan >70% estimasi populasi anjing belum dapat ditentukan sebagai
solusi definitif dalam pemberantasan kasus rabies di Bali. Berdasarkan data yang ada
di Balai Besar Veteriner Denpasar (BBVet Denpasar), tiga ekor anjing yang
didiagnosis positif rabies ternyata sudah pernah mendapatkan vaksinasi rabies. Hal
yang hampir sama juga dilaporkan oleh Wilde dan Tepsumethanon (2010), bahwa 36% kasus anjing rabies di Thailand memiliki sejarah sudah pernah divaksinasi.
Melihat hal tersebut maka selain cakupan vaksinasi, masalah efikasi dan kekebalan
yang diberikan vaksin sangat mempengaruhi keberhasilan pencegahan dan
pemberantasan rabies.
Faktor lain yang turut berpengaruh antara lain eliminasi anjing secara terseleksi,
peningkatan

kesadaran

dan

pemahaman

masyarakat

dalam

pemeliharaan,

pengkandangan/pengikatan hewan peliharaan, pemberian VAR kepada korban


gigitan anjing dalam rangka mencegah penularan rabies serta langkah-langkah
terpadu lain antara pemerintah dan masyarakat. Sebagai contoh, Jepang berhasil
bebas dari rabies sejak tahun 1957 dengan melakukan kontrol legislasi yang kuat,
termasuk sistem karantina dan vaksinasi pada anjing setiap tahun (Inoue, 2003).
Meskipun faktor-faktor yang telah disebutkan tadi sangat berpengaruh dalam
mendukung program pencegahan dan pemberantasan rabies namun yang menjadi

37

pertanyaan adalah mengapa langkah langkah penanganan rabies sebelum program


vaksinasi masal tahun 2010 tidak mampu mengatasi permasalahan rabies yang ada?
Bahkan terdapat peningkatan dengan puncaknya pada tahun 2010. Apakah hal
tersebut karena kurangnya peran masyarakat dalam program pemerintah menghadapi
rabies atau masalahnya terdapat pada kurang efektifnya pelaksanaan program di
lapangan? Karena memang upaya mengendalikan rabies dengan vaksin dan eliminasi
belum mencapai hasil yang diinginkan. Malahan kasus semakin meluas seperti pada
tahun 2010. Jika ditelusuri maka banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan
antara lain cakupan vaksin yang kurang memadai (<70% populasi anjing), kualitas
vaksin, teknik aplikasi dan waktu pelaksanaan. Selain itu itu teknik eliminasi jika
dilakukan secara membabi buta malah dapat meningkatkan jumlah anjing liar dan
populasi anjing di suatu daerah. Tentu untuk lebih jelas, jawaban dari pertanyaan
tersebut memerlukan penelitian lebih lanjut dan mendalam terhadap kasus rabies dan
upaya penanganan rabies yang benar-benar efektif sehingga diperoleh jawaban yang
memuaskan dan dapat menjadi bahan pembelajaran kedepannya.

BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN

38

7.1 Simpulan
a. Jumlah kasus rabies pada manusia tertinggi tahun 2008-2012 terletak di
Kabupaten Karangasem sedangkan Jembrana merupakan kabupaten dengan
jumlah kasus rabies pada manusia dan gigitan anjing terendah di Propinsi Bali.
b. Jumlah kasus anjing rabies terendah ditemukan pada Kabupaten Tabanan dan yang
tertinggi di Kabupaten Gianyar tahun 2008-2012.
c. Kabupaten Badung memiliki kasus gigitan anjing tertinggi tahun 2009-2012.
d. Dua metode utama dalam pencegahan dan pemberantasan rabies di Bali adalah
vaksinasi dan eliminasi anjing.
e. Program vaksinasi masal rabies pada anjing sejak tahun 2010 memberi
kecenderungan menurunkan kasus rabies pada manusia dan hewan di Propinsi
Bali namun dengan catatan bahwa kasus gigitan baru hewan penular rabies masih
tinggi sehingga faktor resiko terbesar dalam penularan rabies masih tinggi.

7.2 Saran
a. Mengkombinasikan metode vaksinasi parenteral dan oral untuk meningkatkan
cakupan vaksinasi rabies dalam rangka menuju Bali Bebas Rabies 2015

39

b. Memberikan pemahaman secara berkesinambungan terhadap masyarakat tentang


bahaya rabies agar masyarakat selalu waspada dan tetap siaga dalam mendukung
pencegahan serta pemberantasan rabies
c. Melakukan pencatatan dan pendataan aktif terhadap variabel-variabel yang
berhubungan dengan kasus rabies agar dapat karakteristik rabies di Propinsi Bali
menjadi jelas dan akurat.

DAFTAR PUSTAKA

Bali Animal Welfare Association. 2010. Vaksinasi Masal Memberantas Rabies Vaksinasi
Solusi Manusiawi untuk Hewan Anjing Bali. www.wspa-international.org

40

Cliquet F., L.M.McElhinney, A.Servat, J.M.Boucher, J.P.Lowings, T.Goddard,


K.L.Mansfield dan A.R.Fooks. 2004. Protocol. Development of a qualitative
indirect ELISA for the measurement of rabies virus-specific antibodies from
vaccinated dogs and cats. Journal of Virological Methods. 117 (2004):1 8.
Cox J.H., B. Dietzschold, L.G. Schneider. 1977. Rabies Virus Glycoprotein.II.
Biological and Serological Characterization. Infect Immun. 16(3):754-759.
Departemen Kesehatan R.I Direktorat Jendral PPM & PPL. 2000. Petunjuk
Pemberantasan Rabies di Indonesia.
Dibia I N., K.S.A. Putra, N. Sutami, dan N. Purnatha (2001). Prevalensi Antibodi Rabies
Pada Anjing Pravaksinasi di Kabupaten Manggarai dan Ende, Nusa Tenggara
Timur. Buletin Veteriner, BPPV.VI. XIII (59) : 28-33.
Direktorat Kesehatan Hewan. 2004. Pedoman Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit
Hewan Menular Seri Penyakit Rabies. Direktorat Jenderal Peternakan dan
Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian
Direktorat Kesehatan Hewan. 2006. Pedoman Pengendalian Rabies Terpadu.
Departemen Pertanian, Direktorat Jenderal Peternakan, Direktorat Kesehatan
Hewan
Direktorat Kesehatan Hewan. 2011. Panduan Umum Program Pengendalian dan
Pemberantasan Rabies dengan Vaksinasi Masal: Situasi dan Kebijakan Program
Pembebasan Rabies di Indonesia. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan
Hewan Kementerian Pertanian.
Dirjen PP & PL. Departemen Kesehatan. 2006. Makalah Pertemuan Tim Koordinasi
Rabies Se-Sumatera di Bengkulu.
Gompf, Sandra G. 2011. Rabies. http:/emedicine.medscape.com
Inoue, S., M.Yurie, K.Tomoko, O.Kenichiro, and Y.Akio. 2003. Safe and Easy
monitoring of anti-rabies antibody in dogs using His-Tagged Recombinant Nprotein. Jpn.J.Infect.Dis.
Kerta Besung. INK., NK. Suwiti, IK. Suatha, P. Suastik a, IW. Piraksa, dan NL. Eka
Setiasih. 2011. Vaksinasi, Edukasi dan Eliminasi Anjing Liar sebagai Usaha
Percepatan Penanggulangan Penyakit Rabies di Bali. Udayana Mengabdi 10 (2) :
58.
McElhinney.L.M., A.R.Fooks, and A.D.Radford. 2008. Diagnostic tools for the detection
of rabies virus.EJCAP-Vol.18-issue 3 December 2008. 224-231.
Meslin.F.X, dan M.M.Kaplan. 1996. An overview of laboratory techniques in the
diagnosis and prevention of rabies and in rabies research hal 9-27, Chapter II in
laboratory techniques in rabies fouth edition.
41

Moore S.M. dan C.A. Hanton. 2010. Rabies-Specific Antibodies: Measuring Surrogates
of Protection Against a Fatal Disease. PloS Neglected Tropical
Diseases.http://www.plosntds.org/article/info:doi%2F10.1371%2Fjournal.pnt.
Naipospos, T. 2010. Stop Pembunuhan Anjing di Bali : Vaksin Oral untuk Anjing
Jalanan. http://tatavetblog.blogspot.com/2010/04/stop-pembunuhan-anjing-di-balivaksin.html
Ohore.O.G., B.O.Emikpe., O.O.Oke, and D.O.Oluwayelu. 2007. The seroprofile of
rabies antibodies in companion urban dogs in Ibalan Nigeria. Journal of animal and
veterinary advance 6 (1). 53-56. Medwell online.
OIE . 2008. Rabies. Manual of standard for diagnostic techniques. Chapter 2.1.13.
Terrestrial manual. P.304-323.
Putra A.A.G. 2011 Epidemiologi Rabies di Bali: Hasil Vaksinasi Masal Rabies Pertama
di Seluruh Bali dan Dampaknya terhadap Status Desa Tertular dan Kejadian Rabies
pada Hewan dan Manusia. Buletin Veteriner, BBVet Denpasar, Vol. XXIII, No.78 :
57
Putra.A.A.G., I.K.Gunata, Faizah., N.L.Dartini, D.H.W.Hartawan, G.Setiaji,
A.A.G.Semara-Putra, Soegiarto, dan H.Scott-Orr. 2009. Situasi Rabies Bali: Enam
bulan pasca program pemberantasan. Buletin Veteriner. XXI (74) : 13-26
Shanker B.R. 2009. Advances in Diagnosis of Rabies. Veterinary world. 2(2) : 74-78
Simani S., A.Amirkhani, F.Farahtaj, B.Hooshmand, A.Nadim, J.Sharifion, N.Howaizi,
N.Eslami, A.Gholami, A.Janami, and A.Fayas. 2004. Evaluation of The
Effectiveness of Pre Exposure Rabies Vaccination in Iran. Arch Med.7(4) : 251255.
Wilde H., V. Tepsumethanon. 2010. Rabies and Thailand. www.cueid.org : 1-14.
Windiyaningsih, C. et al. 2004. The rabies epidemic on Flores Island, Indonesia (19982003). Journal of the Medical Association of Thailand 87(11):1389-1393.

42