Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

MIKROBA RUMEN

Oleh: Kelompok (A-5) kelas A


Endar Wijayanto

(135050100111036)

M. Rizal A B

(135050100111038)

Ali Ridho Kurniawan

(135050100111042)

Ike Ambarwati

(135050100111043)

Hidayatin Nafiah

(135050100111044)

Siti Umairoh N. H

(135050100111045)

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
GANJIL 2013/2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nyalah kami dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul Mikroba Rumen dengan tepat waktu. Makalah ini
berisikan tentang pengertian karya ilmiah, ragam, sistematika, teknik penulisan
dan lain sebagainya.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan tentang karya ilmiah. Selain itu, mahasiswa dapat
mengambil nilai positif yang ada di dalam makalah ini untuk diaplikasikan secara
nyata.
Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang kami harapkan. Untuk itu, kami
berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan di masa yang akan
datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa sarana yang
membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami
sendiri maupun orang yang membacanya. Kami mohon maaf apabila terdapat
kesalahan kata-kata yang kurang berkenan.

Malang, 27 November 2014

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................... 2


DAFTAR ISI ......................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 4
1.1.

Latar Belakang ............................................................................................ 4

1.2. Tujuan .......................................................................................................... 5


1.3. Kegunaan ..................................................................................................... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................... 3
BAB III PEMBAHASAN................................................................... 8
2.1 Mikroba Rumen ............................................................................................. 8
2.2 Faktor faktor yang Mempengaruhi Populasi Rumen .................................. 13
2.3 Interaksi Antara Mikroba didalam Rumen ...................................................... 14
BAB IV PENUTUP........................................................................................... 17
3.1. Kesimpulan................................................................................................ 17
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 18

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ruminansia merupakan hewan poligastrik yang mempunyai lambung depan
yang terdiri dari Retikulum (perut jala), Rumen (perut handuk), Omasum (perut
kitab), dan lambung sejati , yaitu Abomasum (perut kelenjar) . Proses pencernaan
di dalam lambung depan terjadi secara mikrobial . Mikroba memegang peranan
penting dalam pemecahan makanan . Sedangkan di dalam lambung sejati terjadi
pencernaan enzimatik karena lambung ini mempunyai banyak kelenjar . Rumen
merupakan tempat pencernaan sebagian serat kasar serta proses fermentatif yang
terjadi dengan bantuan mikroorganisme, terutama bakteri anaerob dan protozoa .
Ada tiga macam mikroba yang terdapat di dalam cairan rumen, yaitu
bakteri, protozoa dan sejumlah kecil jamur . Volume dari keseluruhan mikroba
diperkirakan meliputi 3,60% dari cairan rumen (Bryant, 1970) . Bakteri
merupakan jumlah besar yang terbesar sedangkan protozoa lebih sedikit yaitu
sekitar satu juta/ml cairan rumen . Jamur ditemukan pada ternak yang
digembalakan dan fungsinya dalam rumen sebagai kelompok selulolitik. Bakteri
merupakan biomassa mikroba yang terbesar di dalam rumen, berdasarkan
letaknya dalam rumen, bakteri dapat dikelompokkan menjadi bakteri yang bebas
dalam cairan rumen (30% dari total bakteri),

bakteri yang menempel pada

partikel makanan (70% dari total bakteri), bakteri yang menempel pada epithel
dinding rumen dan bakteri yang menempel pada protozoa.
Adanya mikroba dan aktifitas fermentasi di dalam rumen merupakan salah
satu karakteristik yang membedakan sistem pencernaan ternak ruminansia dengan
ternak lain. Mikroba tersebut sangat berperan dalam mendegradasi pakan yang
masuk ke dalam rumen menjadi produk produk sederhana yang dapat
dimanfaatkan oleh mikroba maupun induk semang dimana aktifitas mikroba
tersebut sangat tergantung pada ketersediaan nitrogen dan energi hewan
ruminansia

Dengan mengetahui jeni-jenis mikroba yang ada pada rumen di harapkan


mahasiswa mampu mengetahui peran mikroba dalam sistem pencernaan
ruminansia, terutama mampu mengaplikasikanya dalam manajemen produktivitas
ternak ruminansia.

1.2 Rumusan Masalah


1. Mikroba apa sajakah yang ada dirumen dan bagaimana karakteristik dan
fungsi kerjanya dari masing-masing mikroba ?
2. Apa sajakah faktor yang mempengaruhi polpulasi mikroba rumen?
3. Bagaimana interaksi yang terjadi antar mikroba rumen ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui jenis mikroba yang ada dirumen beserta karakteristik
dan fungsi kerjanya di rumen.
2. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi polpulasi mikroba rumen.
3. Untuk mengetahui pola interaksi yang terjadi antar mikroba rumen.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Ternak ruminansia adalah sebutan untuk semua ternak yang mempunyai


strukturpencernakan ganda yaitu terdiri atas rumen, retikulum, omasum dan
abomasum. Atau lebih tepat dikatakan bahwa ternak ruminansia adalah ternak
yang mempunyai sistim pencernakan pakan yang khas sehingga menyebabkan
ternak tersebut mampu mengkonversi pakan-pakan berkualitas relatif rendah
menjadi produk bergizi tinggi. (Nugroho, 2008).
Rumen merupakan tempat pencernaan sebagian serat kasar serta proses
fermentatif yang terjadi dengan bantuan mikroorganisme, terutama bakteri
anaerob dan protozoa. Di dalam rumen karbohidrat komplek yang meliputi
selulosa, hemiselulosa dan lignin dengan adanya aktifitas fermentatif. (Suwandi,
1997).
Kondisi rumen sangat penting agar proses pencernaan pakan di dalam
rumen dapat optimal. Hal ini karena proses pencernaan ruminansia tidak terlepas
dari peran mikrobia rumen yang sangat membantu dalam proses pencernaan dan
penyediaan zat makanan dan energi bagi ternak ruminansia tersebut Jumlah
mikrobia yang terdapat di dalam cairan rumen yang dibedakan menjadi protozoa,
bakteri dan fungi. (Purbawati, 2014).
Pemberian makanan berserat kasar rendah dan banyak mengandung
karbohidrat mudah tercerna cenderung menurunkan konsentrasi VFA dan
menurunkan pH cairan rumen, akibatnya aktivitas selulolitik menurun. (Fajar,
2013).
Metabolisme mikroba di dalam rumen diatur oleh jumlah dan kecepatan
degradasi karbohidrat dan protein. Kondisi ini sangat dipengaruhi oleh
karakteristik fisik dan kimia pakan. (Hindratiningrum, 2011).
Mikroba rumen memiliki peranan penting dalam proses metabolisme
pakan bagi ruminansia. Beberapa spesies mikroba rumen mampu menghasilkan
enzim selulase dan hemiselulase yang dapat mencerna dinding sel tanaman. Hal

tersebut yang membedakan ruminansia dengan ternak lainnya karena dapat


memanfaatkan tanaman yang mengandung serat tinggi. Mikroba rumen
merupakan salah satu sumber utama protein bagi ternak ruminansia sehingga
keberadaanya sangat menentukan efisiensi pemanfaatan protein. (Mayasari,
2014).
Peningkatan produktivitas ruminansia juga sangat tergantung dari tingkat
kecernaan pakan dan aktivitas fermentasi di rumen. Perkembangan dan
pertumbuhan mikroba rumen yang sempurna membutuhkan berbagai unsur
mineral, antara lain S (belerang). Unsur S diperlukan mikroba untuk pembentukan
asam amino cystein dan cystin. Apabila pakan ruminansia kekurangan unsur S,
menyebabkan jumlah mikroba dalam rumen berkurang. (Uhi, 2005).
Bahan organik pakan merupakan bagian pakan yang dimanfaatkan oleh
mikroba rumen untuk mempertahankan hidup dan pertumbuhannya. (Muhtarudin
dan Liman, 2006).

BAB III
PEMBAHASAN
2.1. Mikroba Rumen
Secara garis besar terdapat 4 kelompok utama mikroba rumen, yaitu:
bakteri,protozoa, jamur dan virus. Secara kuantitatif golongan terakhirbelum
diketahui. Disamping itu terdapat sejumlah amoeba yang juga belum
diketahuisecara pasti populasinya.
Mikroba rumen mampu mencerna pakan yang mampumencerna pakan
serat kasar yang tinggi menjadi VFA yaitu asam asetat, propionat, butirat, valerat,
dan asam isobutirat.
1. Bakteri
Bakteri rumen mempunyai fungsi penting dalam proses
degradasi pakan. Beberapa spesies bakteri rumen yang
mampu mendegradasi selulose dan hemiselulosa dalam pakan
a. Bakteri Selulolitik
Bakteri selulolitik menghasilkan enzim yang dapat menghidrolisis
ikatan glukosida 1.4,sellulosa dan dimer selobiosa, karena tidak ada
organisme

yang

mampu

mencerna

serat

maka

selulosa

sangat

tergantungpada bakteri yang terdapat di sepanjang saluran pencernaan


pakan. Bakteri selulolitikakan dominan apabila makanan utama ternak
berupa serat kasar.Contoh: Ruminicoccus flavefaciens dan Ruminicoccus
albus.
b. Bakteri Hemiselulolitik
Hemiselulosa berbeda dengan selulosa terutama dalam kandungan
pentosa,gula heksosa serta biasanya asam uronat. Hemiselulosa merupakan
strukturpolisakarida

yang

penting

dalam

dinding

sel

tanaman.

Mikroorganisme yang dapatmenghidrolisa selulosa biasanya juga dapat


menghidrolisa hemiselulosa.Contoh bakteri hemiselulolitik antara lain:
Butyrivibrio fibriosolven dan Bacteriodes ruminicola.

c. Acid Utilizer Bacteria (bakteri pemakai asam)


Beberapa janis bakteri dalam rumen dapat menggunakan asam
laktat. Jenis lainnya dapat menggunakan asam suksinat, malat dan fumarat
yang merupakan hasil akhir fermentasioleh bakteri jenis lainnya.Asam
oksalat yang bersifat racun pada mamalia akan dirombak oleh bakteri
rumen, sehinggamenyebabkan ternak ruminansia mampu mengkonsumsi
tanaman yang beracun bagiternak lainnya sebagai bahan makanan.
Contoh: Propionibacterium dan Selemonas lactilytica.
d. Bakteri Amilolitik
Bakteri yang berperan penting dalam menceerna pati. Contoh:
Bacteriodes amylophilus dan Bacteroides ruminicola.
e. Sugar Untilizer Bacteria (bakteri pemakai gula)
Hampir

semua

memfermentasikan

bakteri

pemakai

disakaridadan

polisakarida

monosakarida.

Tanaman

dapat
muda

mengandung karbohidrat siap terfermentasi dalamkonsentrasi yang tinggi


yang segera akan mengalami fermentasi begitu sampai diretikulo-rumen.
f. Bakteri Proteolitik
Bakteri proteolitik merupakan jenis bakteri yang paling banyak
terdapat padasaluran pencernaan makanan mamalia termasuk karnivora
(carnivora). Didalam rumen,beberapa spesies diketahui menggunakan
asam

amino

sebagai

sumber

utama

enersi.Contoh:

Bacteroides

amylophilus,Clostridium sporogenes, dan Bacillus licheniformis.


g. Bakteri Methanogenik
Sekitar 25 persen dari gas yang diproduksi didalam rumen adalah
gas

methan.Contoh:

Methanobacterium

ruminantium

dan

Methanobacterium formicium.
h. Bakteri Lipolitik
Enzim

lipase

bakteria

dan

protozoa

sangat

efektif

dalam

menghidrolisa lemakdalam chloroplast. Contoh: Anaerovibrio lipolytica


dan Selemonas ruminantium var. Lactilytica.

10

2. Protozoa
Populasi protozoa di dalam rumen berbanding lurus dengan produksi
gas metan. Karakteristik fermentasi di rumen yang mengarah pada sintesis
propionat lebih menguntungkan, karena propionat mampu mengurangi
energi yang terbuang menjadi metana.
Protozoa mengandung nucleus (eukaryotic), uniseluler dan bergerak
menggu- nakan silia atau flagela. Jumlah protozoa dalam rumen berkisar
105 106/ml cairan rumen (Hungate, 1966) dan ukuran diameternya
berkisar antara 5-250 m. Aktifitas protozoa rumen yang mendegradasi
hemicellulose menyebabkan perenggangan ikatan lignin dengan komponen
karbohidrat lainnya, seperti cellulose yang memungkinkan fermentasi
karbohidrat tersebut oleh mikrobial-enzymes. Sebagian besar komponen
pakan yang dikonsumsi oleh protozoa rumen difermentasimenjadi H2,
CO2, asamasetat dan asam butirat.
Sebagian besar protozoa yang terdapat didalam rumen adalah cilliata
meskipunflagellata juga banyak dijumpai. Cilliata ini merupakan non
pathogen dan anaerobicmichroorganism. Pada kondisi rumen yang normal
dapat dijumpai ciliata sebanyak 105 -106 perml isi rumen. Protozoa
sebagai sumber protein dengan keseimbangan kandungan asamamino yang
lebih

baik

dibandingkan

dengan

bakteri

sebagai

makanan

ternakruminansia. Selain itu ciliata/protozoa juga menelan partikel-partikel


pati sehinggamemperlambat terjadinya fermentasi. Sepanjang hanya
spesies tertentu dari ciliata iniyang mampu mencerna selulosa dengan hasil
akhir berupa asam lemak terbang (VFA). Tidak seperti bakteri rumen,
ciliata dapat diklasifikasikan atas dasar morfolginya karena ukuran selnya
cukup besar yaitu antara 200 - 200 mm.
Repoduksi dan siklus hidup protozoa dapat secara seksual dan
aseksual. Aseksual dengan pembelahan biner, skizogami, dan budding.
Pembelahan biner atau ganda biasanya terjadi pada flagelata, amoeba, dan
ciliata. Pembelahan ganda yaitu pembelehan berulang-ulang dimana
sitoplasma mengelilingi inti kemudian sitoplasma membelah. Budding

11

adalah sel anak yang kecil memisahkan diri dari induknya lalu tumbuh
menjadi individu baru.
Reproduksi secara dengan cara singami dan konjugasi. Singami
dengan persatuan dua gamet, sedangkan konjugasi adalah penggabungan
secara temporer dua individu dari spesies yang sama untuk melakukan
pertukaran materi inti. Pada singami terbentuk dua gamet haploid yang
ebrkembang menjadi zigot. Pada konjugasi setelah pertukaran inti maka
inti makro berregenerasi dan inti mikro membelah beberapa kali.
Kemudian bagian tersebut memisah, bakal inti bergabung dan terjadi
regenerasi inti.
Peran ciliata di dalam rumen adalah untuk mem[ertahankan pH
melalui pengamanan pakan yang mudah difermentasi (Readly Fermentable
Carbohydrate atau RFC).

Ciliata biasanya langsung menumpuk

karbohidrat di dalam tubuhnya, sehingga laju konversi RFC yang terlalu


cepat oleh aktivitas fermentasi bakteri menjadi asam laktat dapat dicegah
oleh ciliata. Laju konversi RFC yang terlalu cepat dapat menurunkan pH,
karena penurunan pH secara drastis berpengaruh terhadap populasi
mikroba rumen.

Ciliata rumen dapat dibedakan menjadi 2macam yaitu:


a)

Oligotrichia
Mempunyai ukuran sel lebih kecil dan hanya memiliki cilia
disekitar prostoma (mulut). Jenis ini hanya sedikit sekali menggunakan
gula terlarut sebagai makananannya,akan tetapi butir-butir pati akan
menjadi sasaran utama. Beberapa spesies juga memangsa amilopektin
dari Holotricha disamping ada pula yang secara aktif menelan serat
kasar tanaman dan mencerna selulosa. Hasil penelitian terakhir
meragukan kemampuan protozoa rumen untuk dapat mencerna
selulosa. Pencernaan selulosa dapat dilakukan karena protozoa
memangsa bakteri dan bakteri inilah yang akan menghasilkan enzim
selulase didalam tubuh protozoa sehingga selulosa yang dimangsa dapat
dicerna. Bakteri selulolitik hidup secara simbiosis dengan Oligotricha

12

didalam selnya. Contoh: Diplodinium dentatum dan Entodinium


caudatum.

b) Holotricha
Mempunyai

ukuran

sel

lebih

besar

dengan

cilia

menutupseluruh tubuh. Ciri-cirinya pergerakannya yang cepat,


bentuk sel umumnya oval. Dapat menggunakan glukosa, fruktosa,
sukrosa dan pektin. Karbohidrat akan disimpan dalam bentuk
amilopektin. Jenis ciliata rumen ini mempunyai peranan penting
dalam metabolisme karbohidrat dengan jalanmenelan gula segera
setelah

masuk

ke

rumen

dan

menyimpannya

dalam

bentukamilopektin, yang selanjutnya akan melepaskan kembali


senyawa ini kedalam cairanrumen pada saat populasi Holotricha
mengalami lisis atau pada fase pertumbuhannya.Mekanisme ini
mempunyai pengaruh positif terhadap tersedianya karbohidrat
dapatterfermentasi (fermentable carbohydrate) bagi bakteri rumen,
terutama apabila tidakterdapat lagi karbohidrat dalam makanan
misalnya pada saat ternak beristirahat. Contoh: Isotricha intestinalis
dan Isotricha prostoma.

3. Jamur
Kenyataan bahwa mikrooganisme ini selalu banyak terdapat
dalamrumen ternak ruminansia yang diberi ransum basal dengan
kandungan serat kasar tinggi(misalnya jerami), menunjukkan bahwa
mikroorganisme ini mempunyai peranan pentingdalam pencernaan serat
kasar.
Dalam rumen fungi mempunyai siklus hidup yang terdiri atas phase
bergerak zoospora dan phase vegetatif sporocyst.Zoospora melekat pada
permukaan partikel pakan dan dalam waktu 15 menit, spora tersebut
tumbuh membentuk mycelium menghasilkan rhizoid. Rhizoid akan
mempenetrasi jaringan partikel pakan yang memungkinkan fungi rumen
mendapatkan sumber nutrient untuk tumbuh. Jamur rumen merenggangkan

13

ikatan hemiselulosa-lignin komplek dan melepas lignin-karbohidrat


komplek.
Salah satu ciri khas jamur rumen ini bila dibandingkan dengan jenis
jamurlainnya adalah kebutuhannya akan kondisi absolut anaerobik (strictly
anaerobic) untukpertumbuhan dan terbentuknya senyawa hidrogen (H)
dalam proses fermentasiselulosa. Siklus kehidupan mikroorganisme ini
dilaporkan berlangsung antara 24 30jam, menandakan bahwa jamur
rumen sangat erat kaitannya dengan material yangsukar dicerna. Contoh:
Neocallimastix frontalis dan Piromonas communis.

2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Populasi Rumen

Beberapa faktor telah diketahui sebagai kendala terhadap populasi


mikrobarumen. Faktor-faktor tersebut antara lain: suhu, komposisi gas, pengaruh
osmotik danionik, keasaman, tersedianya nutrisi dan keluarnya cairan atau
masuknya aliran kerumen.
a). Suhu
Temperatur rumen dikatakan normal apabila berada pada kisaran antara 39
-41C. Segera setelah makan, temperatur rumen biasanya akan meningkat sampai
dengan 41C, terutama selam proses fermentasi terjadi didalam rumen. Sebaliknya
temperatur akan menurun sampai dibawah suhu normal bila ternak minum air
dingin.
b). Keasaman (pH)
Dalam kondisi anaerobik serta suhu diantara 39 - 40C, keasaman rumen
berkisar antara 5,5 - 7,0. Keasaman lambung atau rumen dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor seperti macam pakan serta waktu setelah makan. Untuk menjaga
agar pH rumen tidak menurunatau meningkat secara drastis maka perlu adanya
hijauan didalam ransum dalamproporsi yang memadai ( 40 persen dari total
ransum atau dengan kadar serat kasarsekitar 20 persen) dimana 70 persen dari
serat kasar ini harus dalam bentukpolisakarida berstruktur untuk dapat
merangsang produksi saliva selama prosesruminasi.
c). Pengaruh osmotik dan ionik

14

Pada umumnya tekanan osmotik isi rumen adalah hipotonik terhadap


tekanan osmosis darah, akan tetapi akan terjadi fluktuasi sebagai akibat
mengkonsumsi pakan.Osmolalitas isi rumen akan cenderung menjadi hipertonik
pada saat beberapa jamsetelah makan, sebaliknya akan menjadi hipotonik setelah
minum.
d). Komposisi Gas
Komposisi gas didalam rumen kurang lebih terdiri dari 63-63,35 %
CO2;26,76-2% CH4; 7% N2 dan sedikit H2S, H2 dan O2. Karena kondisi
anaerob
didalam rumen merupakan faktor yang sangat penting maka produksi CO2 pada
prosesfermentasi sangat menentukan terciptanya kondisi anaerob.
e). Tekanan Permukaan
Tekanan permukaan cairan rumen biasanya diantara 45 - 59 dynes/cm.
Belumbanyak informasi yang diperoleh tentang pengaruh tekanan permukaan
terhadapperubahan populasi mikroba rumen. Namun demikian kasus terjadinya
kembung (bloat)adalah erat kaitannya dengan perubahan tekanan permukaan.
f). Variasi Harian
Konsentrasi mikroba rumen akan berfluktuasi sepanjang hari. Beberapa
faktorpenyebabnya antara lain: makanan, kelaparan (starvation) dan pengenceran
(dilutionrate) cairan rumen. Fluktuasi protozoa mungkin erat kaitannya dengan
perubahan pHrumen disamping faktor lainnya.
g). Nutrisi
Enersi yang diperlukan mikroba diperoleh dari proses fermentasi polimer
tanamanterutama selulosa dan pati dengan menghasilkan VFA, CH4 dan CO2.
Sedangkan untukproses biosintesis diperoleh dari protein yaitu dari unsur-unsur
C, H, O, N dan S.

2.3 Interaksi Antara Mikroba didalam Rumen

a). Interaksi antar Bakteri


Interaksi

antar

bakteri

terjadi

baik

pada

bakteri

yang

terdapat/menenmpel padapartikel digesta maupun yang terdapat pada

15

ephitelium rumen. Bentuk hubungan inibiasanya bersifat mutualisme


dimana hasil hasil fermentasi oleh satu jenis bakteri akandigunakan oleh
bakteri jenis lainnya untuk pertumbuhannya.Contoh hubungan ini adalah
proses fermentasi selulosa menjadi VFA dimanaterjadi interaksi antar
bakteri penghasil hidrogen dan bakteri pemakai hidrogen.Jenis interaksi ini
hampir seluruhnya menguntungkan, sehingga sangat kecilkemungkinan
untuk dilakukan manipulasi akan interaksi yang ada kecualipenghambatan
methanogenesis.
b). Interaksi antara Protozoa-Bakteri
Protozoa memangsa bakteri yangterdapat pada cairan rumen dan
mencernanya sebagai sumber asam amino bagipertumbuhannya, akibatnya
biomassa bakteri akan berkurang sehingga laju kolonisasipartikel makanan
didalam rumen akan berkurang pula. Pengaruh ini mungkin kurangnyata
pada ternak ruminansia dengan pakan basal yang mengandung banyak
partikelterlarut misalnya gula, pati dan sebagainya. Akan tetapi jika pakan
basal adalah limbahpertanian, maka pengaruh penurunan biomassa bakteri
akibat dimangsa oleh protozoaakan kelihatan nyata sekali dengan
diperpanjangnya lag phase yakni suatu keadaandimana tidak terjadi
pencernaan sama sekali.
Seperti telah disebutkan dimuka, kehadiran protozoa dalam
jumlah/populasitinggi akan membantu pencegahan terjadinya acidosis
apabila ransum basal berupagula terlarut atau pati, karena protozoa akan
menelan partikel gula dan pati sehinggafermentasi kedua senyawa oleh
bakteri tersebut dapat ditunda sampai senyawa tersebutdilepas kembali
pada saat terjadinya lysis atau pecahnya sel protozoa akibat terlalubanyak
menyimpan amilopektin.
Diperkirakan tiap ekor protozoa dapat memangsa bakteri dengan
kecepatanantara 130 - 21200 bakteri/protozoa/jam pada kondisi kepadatan
bakteri 109 sel/ml.Pencernaan bakteri dalam sel protozoa dapat berkisar
antara 345 1200bakteri/protozoa/jam. Jumlah ini akan setara dengan 2,4
- 45 persen bakteri bilakonsentrasi protozoa mencapai 106/ml isi rumen

16

domba.Kondisi optimalterjadinya predasi adalah pH rumen sekitar 6,0 dan


akan menurun apabila pH lebihtinggi atau lebih rendah dari 6,0.

c). Interaksi antara Bakteri-Jamur dan Protozoa


Populasi

jamur

rumen

(zoospores)

meningkat

setelah

defaunasi.Sebagai akibat meningkatnya populasi jamur rumen setelah


proses defaunasi,daya cerna serat kasar akan meningkat secara nyata 6 - 10
unit/24 jam. Disamping itujumlah bakteri juga meningkat apabila protozoa
dihilangkan dari rumen sehingga padakondisi pakan dengan kandungan
protein rendah tapi kandungan enersi tinggi, diperolehkenaikan produksi
wool serta bobot badan. Defaunasi memberikan pengaruh positif terhadap
efisiensi penggunaan enersiyang digunakan untuk proses sintesis protein
mikrobial. Meskipun demikian peningkatanlaju aliran protein mikroba ke
dalam duodenum diperoleh melalui proses multiplikasihasil protein mikroba
akibat meningkatnya jumlah bahan organik yang terfermentasi di dalam
rumen.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa interaksi antar mikroba
rumen sangat kompleks dan tidak menguntungkan bagi hewan inang.
Protozoa denganpopulasi yang besar akan mengurangi produktivitas ternak,
melalui penurunan ratioantara asam amino dengan enersi pada hasil
pencernaan yang terserap. Hal inidisebabkan kehadiran protozoa dalam
jumlah besar akan mengurangi biomassa bakteridan juga jamur didalam
rumen ternak yang diberi pakan basal limbah pertanian ataudengan kadar
serat kasar tinggi. Dalam kondisi ini laju pencernaan serat kasar
akanmenurun.

17

BAB IV
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa :


1. Mikroba rumen meliputi bakteri ,protozoa, jamur dan virus dengan fungsi
utama untuk mendegradasi pakan dari molekul yang komplek menjadi
sederhana sehingga pakan mudah dicerna dan diserap.
2. Factor yang mempengaruhi populasi mikroba rumen yaitu: suhu, komposisi
gas, pengaruh osmotik dan ionik, keasaman, tersedianya nutrisi dan keluarnya
cairan atau masuknya aliran ke rumen.
3. Interaksi antara mikroba didalam rumen , meliputi : interaksi antar bakteri,
interaksiantar protozoa bakteri , interaksiantara bakteri-jamur dan protozoa.

18

DAFTAR PUSTAKA

Bryant, M .P . 1967 . Microbiology of the Rumen In Sweeson, M .J . 1970 .


Duke,sPhysiology of the Domestic Animal, Cornell University Press,
London.
Fajar, A. P. 2013. Amonia Cairan Rumen, pH dan Urea Plasma Darah Kambing
Kacang Jantan yang Mendapatkan Wafer Pakan Komplit Mengandung
Tongkol Jagung. Skripsi. Fakultas Peternakan. Universitas Hassanudin.

Hendrawan S. Mikrobiologi Rumen. Bahan Kuliah Nutrisi Ruminansia Jurusan


Nutrisi & Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas BrawijayaMalang.

Hidratiningrum, N., Bata, M., dan Santosa, S. A. 2011. Produk Fermentasi Rumen
dan Produksi Protein Mikroba Sapi Lokal yang Diberi Pakan Jerami
Amoniasi dan Beberapa Bahan Pakan Sumber Energi. Agripet. Vol.
11(2): 29-34.

Ismartoyo. 2011. IlmuNutrisiRuminansia. Buku Ajar, Jurusan Nutrisi dan Makan


Ternak Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar.

Khasanah U. 2009. Identifikasi Ciliata di Dalam Rumen Sapi Brahman Cross,


Peranakan Ongole, Sumba Ongole dan Frisien Holstein Lampung.
Skripsi. Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Tekhnologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Mayasari, I., Kusmartono, dan Marjuki. 2014. Pengaruh Penambahan Daun


Tanaman Pohon dalam Pakan Berbasis Ketela Pohon (Manihot
Utilissima) terhadap Produksi Gas, Konsentrasi N-NH3 dan Efisiensi
Sintesis Protein Mikroba secara In-Vitro. Fakultas Peternakan.
Universitas Barawijaya.

19

Muhtarudin dan Liman. 2006. Penentuan Tingkat Penggunaan Mineral Organik


Untuk Memperbaiki Bioproses Rumen pada Kambing Secara In-Vitro.
Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia. Vol. 8(2): 132-140.

Nugroho, P.C . 2008. Agribisnis Ternak Ruminansia. Direktorat Pembinaan


Sekolah Menengah Kejuruan.

Prihartini1, I & Khusnul, K. 2011. Produksi Probiotik Rumen Berbasis Bakteri


Lignichloritik dan Aplikasinya pada Ternak Sapi Perah. Jurnal Gamma
Volume 7, Nomor 1, September 2011: 27 31.

Purbawati, E. 2014. Karakteristik Cairan Rumen, Jenis, dan Jumlah mIkroba


Dalam Rumen Sapi Jawa dan Peranakan Ongole. Buletin Peternakan.
Vol. 38(1) : 21-26.

Suwandi. 1997. Peranan Mikroba Rumen Pada Ternak Ruminansia. Lokakarya


Fungsional Non Peneliti. 15-19

Uhi, H. T., dkk. 2005. Pengujian in Vitro Gelatin Sagu, Sumber NPN, Mineral
Kobalt dan Seng pada Cairan Rumen Domba. Jurnal Ilmu Ternak. Vol.
5(2): 53-57.