Anda di halaman 1dari 17

STEP 7 JIWA LBM 1

1. Apa yang dimaksud gangguan jiwa?


2. Apasaja gejala gangguan jiwa?

1. Gejala-Gejala Positif, yaitu penambahan fungsi dari batas normal,


meliputi:
a. Delusi.
Delusi adalah keyakinan yang oleh kebanyakan orang dianggap
misinterpretasi terhadap realitas. Delusi memiliki bermacam-macam
bentuk, yaitu delusion of grandeur (waham kebesaran) yaitu keyakinan
irasional mengenai nilai dirinya, delusion of persecution yaitu yakin dirinya
atau orang lain yang dekat dengannya
diperlakukan dengan buruk oleh orang lain dengan cara tertentu, delusion
of erotomanic yaitu keyakinan irasional bahwa penderita dicintai oleh
seseorang yang lebih tinggi statusnya, delusion of jealous yaitu yakin
pasangan seksualnya tidak setia, dan delusion of somatic yaitu merasa
menderita cacat fisik atau kondisi medis tertentu.
b. Halusinasi
Gejala-gejala psikotik dari gangguan perseptual dimana berbagai hal
dilihat didengar, atau diindera meskipun hal-hal itu tidak real (benar-benar
ada).
2. Gejala-Gejala Negatif, yaitu pengurangan fungsi dari batas normal,
meliputi:
a. Avolisi
Yaitu apati atau ketidakmampuan untuk memulai atau mempertahankan
kegiatan-kegiatan penting.
b. Alogia
Yaitu pengurangan dalam jumlah atau isi pembicaraan.
c. Anhedonia
Yaitu ketidakmampuan untuk mengalami kesenangan yang terkaitu
dengan beberapa gangguan suasana perasaan dan gangguan skizofrenik.
d. Afek Datar
Yaitu tingkah laku yang tampak tanpa emosi.
3. Gejala Disorganisasi, yaitu ketidakharmonisan fungsi, meliputi:
a. Disorganisasi dalam pembicaraan (Disorganized Speech)
Gaya bicara yang sering terlihat pada penderita skizofrenia termasuk
inkoherensi dan ketiadaan pola logika yang wajar.
b. Afek yang tidak pas (inappropriate Affect) dan perilaku yang
disorganisasi
Afek yang tidak pas merupakan ekspresi emosi yang tidak sesuai dengan
aslinya. Perilaku yang disorganisasi adalah perilaku yang tidak lazim
Psikiatri komprehensif. EGC Jakarta.2009

3. Apasaja pembagian dari gangguan jiwa?

Disosiatif

Gangguan Mental
Organik

Gangguan Mental
Psikotik

Gangguan Neurotik dan


Gangguan Kepribadian

Gangguan Organik dan


Simtomatik

F0 : Gangguan Mental
Organic, termasuk
Gangguan Mental
Simtomatik

Gangguan Akibat Alkohol


dan Obat

F1 : Gangguan Mental
dan Perilaku Akibat
Penggunaan Alkohol dan
Zat Psikoaktif Lainnya

Skizofrenia dan
Gangguan Terkait

F2 : Skizofrenia,
Gangguan Skizotipal dan
Gangguan Waham

Gangguan Afektif

F3 : Gangguan Suasana
Perasaan (Mood [Afektif])

Gangguan Neurotik

F4 : Gangguan Neurotik,
Gangguan Somatoform
dan Gangguan Terkait
Stress

Gangguan Kepribadian
dan Perilaku Masa
Dewasa

F5 : Sindrom Perilaku
yang Berhubungan
dengan Gangguan
Fisiologis dan Faktor Fisik
F6 : Gangguan
Kepribadian dan Perilaku
Masa Dewasa

Gangguan Masa Kanak,


Remaja dan

Retardasi Mental

F7 : Retardasi Mental

Gangguan Masa Kanak,

F8 : Gangguan

Perkembangan

Remaja dan
Perkembangan

Perkembangan Psikologis
F9 : Gangguan Perilaku
dan Emosional dengan
Onset Biasanya pada
Masa Kanak dan Remaja

Pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa di Indonesia III.


Jakarta: Departemen Kesehatan; 1993
4. Apasaja macam gangguan jiwa psikotik?

Jenis psikosis
a. Psikosis organic
adalah penyakit jiwa yang disebabkan oleh faktor-faktor fisik atau
organik, yaitu pada fungsi jaringan otak, sehingga penderita
mengalamai inkompeten secara sosial, tidak mampu bertanggung
jawab, dan gagal dalam menyesuaikan diri terhadap realitas.
b. Psikosis fungsional
Psikosis fungsional merupakan penyakit jiwa secara fungsional yang
bersifat nonorganik, yang ditandai dengan disintegrasi kepribadian dan
ketidak mampuan dalam melakukan penyesuaian sosial. Psikosis jenis
ini dibedakan menjadi beberapa ., yaitu : schizophrenia, psikosis
mania-depresif, dan psiukosis paranoid (Kartini Kartono, 2000 : 106).
Psikosis Organik
Alcoholic psychosis
Drug psychose Drug psychose
Traumatic psychosis
Dementia paralytica,
Psikosis Fungsional
Schizophrenia
Psikosis mania-depresif
Psikosis paranoid
Psikiatri Simtomatologi, FK UNDIP Semarang
5. Perbedaan dari psikotik dan neurotik?

Pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa di Indonesia III.


Jakarta: Departemen Kesehatan; 1993
6. Sebutkan macam-macam waham?

sifat dari waham!


a.
b.
c.
d.
e.

Buah pikiran ini selalu mengenai diri sendiri (egosentris)


Selalu bertentangan dengan realitas
Selalu bertentangan dengan logika (fikiran sehat)
Penderita percaya 100% kepada kebenaran fikirannya
Tidak dapat diubah oleh orang lain, sekalipun dengan jalan yang
logis dan rasional
Psikiatri Simtomatologi, FK UNDIP Semarang

f. Delusion of control : waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu


kekuatan tertentu dari luar
g. Delusion of influence : waham tentang dirinya dipengaruhi oleh
suatu kekuatan tertentu dari luar
h. Delusion of passivity : waham tentang dirinya tidak berdaya dan
pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar
i. Delusional Perception : pengalaman inderawi yang tak wajar, yang
bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau
mukjizat
Dr. Rusdi Salim, Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa,
Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III
j. Waham kebesaran : penderita merasa dirinya orang besar,
berpangkat tinggi, pandai sekali, kaya raya. Didapatkan dari
sindroma mania
k. Waham Berdosa : Timbul perasaan salah yang luar biasa dan
merasakan suatu dosa yang besar. Penderita percaya sudah

l.

m.
n.
o.
p.
q.

selayaknya dirinya harus dihukum berat, atau menjalani hukuman


mati sekalipun. Didapatkan pada sindroma depresi.
Waham dikejar : individu merasa dirinya senantiasa dikejar2 oleh
orang lain/ sekelompok orang yang bermaksud berbuat jahat pada
dirinya
Waham curiga/ sindiran : individu merasa selalu disindir oleh orang2
disekitarnya.
Waham cemburu : selalu cemburu terhadap orang lain
Waham rendah diri : perasaan rendah diri / kurang dari orang lain
Waham hypocondri : perasaan mengenai berbagai penyakit yang
berada dalam tubuhnya.
Waham magik-mistik : waham mengenai soal-soal magik mistik

Psikiatri Simtomatologi, FK UNDIP Semarang


7. Bagaimana sifat-sifat pasien yang mengalami waham?
8. Apasaja macam halusinasi?
Halusinasi Auditorik/Akustik/Dengar. Gangguan ini sudah pasti meliputi organ pendengaran kita.
Bisikan-bisikan yang terdengar di telinga penderita menjadi faktor pendorong perbuatan penderita.
Suara ini tentu saja tidak ditemukan di lingkungan sekeliling penderita. Misalnya penderita mendengar
suara ancaman kepada dirinya yang membuat penderita sangat ketakutan dan mungkin memunculkan
perilaku bersembunyi akut. Atau bisikan untuk mengakhiri hidup sendiri atau hidup orang lain, atau
pasien mendengar ada suara ngakak mentertawakan dan menghina dirinya. Yah, intinya suarasuara/bisikan-bisikan yang hanya pasien yang mendengarnya sedang sumbernya tidak dijumpai.
Halusinasi Visual/Lihat. Halusinasi dari organ penglihatan (mata). Pasien melihat, sedang orang di
sekitar sama sekali tidak. Atau kenyataannya di mata orang lain tidak ada apa-apa sedangkan pasien
yakin sekali melihat. Misalnya, melihat bentangan alam yang indah, melihat hewan-hewan, monster,
dan lain-lain.
Halusinasi Olfaktorik/Penciuman (Bau/Hidu). Tidak ada sumber bau, tetapi penderita yakin
menghirup bau-bau tertentu. Misalnya bau parfum, bau busuk, bau menyengat, dan lain-lain. Kelainan
ini jarang terjadi, dan ada dugaan kelainan ini muncul dengan kecenderungan adanya kerusakan otak
organik.
Halusinasi Gustatorik/Kecap. Penderita merasakan sensasi rasa di mulutnya. Kelainan ini sering
terjadi bergandengan dengan adanya gangguan penghidu/pembau/olfaktorik.
Halusinasi Taktil/Raba-Rasa/Kinestetik. Penderita merasakan sensasi taktil/raba-rasa di tubuhnya
yang tentu saja tanpa sumber/stimulus/rangsangan/trigger. Misalnya penderita merasakan sakit,
merasakan seperti di setrum, merasa digebukin, merasakan panas, merasakan kedinginan. Lebih
khusus lagi dari gangguan ke-5 ini: Jika sensasi raba yang dirasakan penderita adalah rangsangan
erotis (seksual) maka disebut sebagaihalusinasi heptik; Jika pasien melaporkan adanya perasaan
sedang merasakan proses pembentukan cairan tubuh, seperti merasakan pembentukan feses, urin,
atau darah maka disebut halusinasi cenesthetik; Sedangkan yang dimaksud halusinasi kinestetik
apabila pasien merasakan dirinya bergerak padahal posisinya saat itu tidak bergerak sama sekali.

Psikiatri komprehensif. EGC Jakarta.2009

9. Mengapa pasien sering marah-marah tanpa sebab dan bicara kacau


kurang lebih 10 hari?
a. Neurotransmitter pada gangguan jiwa menurun (serotonin
menurun, menyebabkan marahnya meluap luap)
b. Amin biogenic (GABA, serotonin, dopamine), jika serotonin menurun
akan mempengaruhi pusat limbic sehingga emosinya tidak stabil.
Skizofrenia merupakan penyakit yang mempengaruhi otak. Pada otak terjadi
proses penyampaian pesan secara kimiawi (neurotransmitter) yang akan
meneruskan pesan sekitar otak. Pada penderita skizofrenia, produksi
neurotransmitter-dopamin- berlebihan, sedangkan kadar dopamin tersebut
berperan penting pada perasaan senang dan pengalaman mood yang
berbeda. Bila kadar dopamin tidak seimbang ;berlebihan atau kurang;
penderita dapat mengalami gejala positif dan negatif seperti yang disebutkan
di atas. Penyebab ketidakseimbangan dopamin ini masih belum diketahui
atau dimengerti sepenuhnya. Pada kenyataannya, awal terjadinya skizofrenia
kemungkinan disebabkan oleh kombinasi faktor-faktor tersebut. Faktor-faktor
yang mungkin dapat mempengaruhi terjadinya skizofrenia, antara lain:
sejarah keluarga, tumbuh kembang ditengah-tengah kota, penyalahgunaan
obat seperti amphetamine, stres yang berlebihan, dan komplikasi kehamilan.

SUMBER : Psikiatri Simtomatologi, FK UNDIP Semarang

Ketidakseimbangan Neurokimia (neurotransmitter)


Skizofrenia memiliki basis biologis, seperti halnya penyakit kanker dan
diabetes. Penyakit ini muncul karena ketidakseimbangan yang terjadi pada
dopamine, yakni salah satu sel kimia dalam otak (neurotransmitter). Otak
sendiri terbentuk dari sel saraf yang disebut neuron dan kimia yang disebut
neurotransmitter.
Penelitian terbaru bahkan menunjukkan serotonin, norepinefrin, glutamate,
dan GABA juga berperan dalam menimbulkan gejala-gejala skizofrenia.
Majorie Wallace, pimpinan eksekutif yayasan Skizofrenia SANE, London,
berkomentar bahwa, di dalam otak terdapat miliaran sambungan sel. Setiap
sambungan sel menjadi tempat untuk meneruskan maupun menerima pesan
dari sambungan sel lainnya. Sambungan sel tersebut melepaskan zat kimia
yang disebut neurotransmitter yang menbawa pesan dari ujung sambungan
sel yang satu ke ujung sambungan sel yang lain. Di dalam otak penderita
skizofrenia, terdapat kesalahan atau kerusakan pada sistem komunikasi
tersebut. Biasanya mereka mengalami halusinasi.
Halusinasi selalu terjadi saat rangsangan terlalu kuat dan otak tidak mampu
menginterpretasikan dan merespons pesan atau rangsangan yang datang.
Penderita skizofrenia mungkin mendengar suara-suara atau melihat sesuatu
yang sebenarnya tidak ada, atau mengalami suatu sensasi yang tidak biasa
pada tubuhnya. Auditory hallucinations, gejala yang biasanya timbul, yaitu
penderita merasakan ada suara dari dalam dirinya.
Psikiatri Simtomatologi, FK UNDIP Semarang
10.Mengapa pasien mengalami waham paranoid dan halusinasi akustik
phonema?

11.Apakah ada hubungan umur pasien dg keluhan yg dialami ?


12.Bagaimana cara pemeriksaan status mental?
13.Bagaimana penilaian fungsi global gangguan jiwa?
14.Terapi antipsikotik dan psikososial apa yang diberi kepada pasien?
15.Sebutkan macam zat psikoaktif?
16.Apasaja DD dari skenario?
17.Faktr pencetus dari keluhan pasien?
18.Cara mendiagnosis pasien dg gangguan jiwa(diagnosis multiaksial)?

Aksis I:
Gangguan klinis: pola perilaku abnormal (gangguan mental) yang
meenyebabkan hendaya fungsi dan perasaan tertekan pada individu.
Kondisi lain yang mungkin menjadi focus perhatian: masalah lain yang
menjadi focus diagnosis atau pandangan tapi bukan gangguan mental,
seperti problem akademik, pekerjaan atau social, factor psikologi yang
mempengaruhi kondisi medis.
Aksis II:
Gangguan kepribadian: mencakup poa perilaku maladaptive yang sangat
kaku dan betahan, biasanya merusak hubunganantar pribadi dan adaptasi
social.
Retardasi Mental

Seseorang bias memenuhi aksis I atau II, atau memenuhi kedua aksis.
Aksis III:
Kondisi medis umum dan kondisi medis yang mugkin penting bagi
pemahaman atau penyembuhan atau penanganan gangguan mental
individu.
Meliputi kondisi klinis yang diduga menjadi penyebab atau bukan
penyebab gangguan yang dialami individu.
Aksis IV:
Problem psikososial dan lingkungan. Mencakup peristiwa hidup yang
negative maupun positif; kondisi lingkungan dan social yang tidak
menguntungkan, dll
Aksis V:
Assessment fungsi secara global. Mencakup assessment menyeluruh
tentangfungsi psikologis social dan pekerjaan klien.
Digunakan juga untuk mengindikasikan taraf keberfungsian tertinggi yang
mungkin dicapai selama beberapa bulan pada tahun sebeelumnya.
100
Gejala tidak ada, berfungsi maksimal, tidak ada masalah yang tak tertanggulangi

91
90
81

Gejala minimal, berfungsi baik, cukup puas, tidak lebih dari masalah harian yang
biasa

80
71

Gejala sementara dan dapat diatasi, disabilitas ringan dalam social, pekerjaan,
sekolah, dll

70
61

Beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi, secara
umum masih baik

60
51

Gejala sedang (moderate), disabilitas sedang

50
41

Gejala berat (serious), disabilitas berat

40
31

Beberapa disabilitas dalam hubungan dengan realita dan komunikasi, disabilitas


berat dalam beberapa fungsi

30
21

Disabilitas berat dalam komunikasi dan daya nilai, tidak mampu berfungsi hampir
semua bidang

20
11

Bahaya mencederai diri/ orang lain, disabilitas sangat berat dalam komunikasi
dan mengurus diri

10 1

Seperti diatas, namun persisten dan lebih serius

Informasi tidak adekuat

NILAI GAF

GEJALA

GANGGUAN FUNGSI

MASALAH

100-91

90-81

+ (minimal)

80-71

++ (dpt diatasi)

70-61

+++ (ringan menetap)

60-51

++++ (sedang)

++ (sedang)

50-41

+++++ (berat)

+++ (berat)

++ (berat)

+++ (berat)

++ (berat)

Komunikasi baik
40-31

+++++ (berat)
Gangguan
ringan

Komunikasi

30-21

+++++ (berat)
Gangguan
berat

20-11

10-1

+++ (berat)

Mencederai diri/or lain

+++ (berat)

persisten

Komunikasi

+++++ (berat)
Gangguan
berat

++ (berat)

Komunikasi

+++++ (berat)
Gangguan
berat

+++ (berat)

Komunikasi

Pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa di Indonesia III.


Jakarta: Departemen Kesehatan; 1993
19.Apa itu stressor?
20.Apasaja macam stressor?
21.Derajat stressor?
22.Apa gejala psikotik?
23.Apa yang dimaksud gangguan psikotik?
24.Apa yang dimaksud antipsikotik dan macam-macamnya?
o Tipikal
o Atipikal
o Antagonis serotonin-dopamin
o Antagonis dopamine
Gol

Mekanisme Kerja

Susunan Kimia

Tipikal

Dopamine D2 reseptor
antagonis: pasca sinap
sistem limbik dan sistem
ekstraporamidal

Gol
phenothiazine:
- rantai alifatik:
Chlorpromazine ( 25,
100 mg),
Levomepromazine (25
mg)
- rantai piperazine:
Trifluperazine (1,5
mg), Perphenazine &
Fluphenazine(2,5;5;25
mg)
- rantai piperidine:
Thioridazine (50, 100
mg)

Conto
h obat

Atipikal

1. Non dopaminenergik
2.Serotonin-dopamin
antagonis
3.selektive D2/D3 blockers

Gol
Butyrophenone:
Haloperidol(I,5;2
;5mg)
Gol
Diphenylbutylpi
peridine:
Pimozide(2,4)
Gol Benzamide:
Sulpiride(200
mg, 50 mg)

Gol
Benzisoxazole:
risperidone
(1,2,3 mg)
Gol
Dibenzodiazepin
e:
- Clozapine:
Clozapine (25,100)
- Quetiapine:
Seroquel (25,100,200
mg)
- Olanzapine:
Zyprexa (5,10 mg)

Cara pemberian obat antipsikotik


Dimulai dengan dosis awal sesuai dosis anjuran, lalu
dinaikkan setiap 2-3 hari sampai mencapai dosis efektif (mulai
timbul peredaan sindrom psikosis); dosis dievaluasi setiap 2 minggu
dan bila perlu dinaikkan; dosis optimal dipertahankan sekitar 812 minggu (stabilisasi); lalu dosis diturunkan setiap 2 minggu
sampai ke dosis maintenance; dosis dipertahankan selama 6
bulan sampai 2 tahun diselingi drug holiday 1-2 hari/minggu),
selanjutnya tapering off (dosis diturunkan tiap 2-4 minggu)
sampai dapat dihentikan.
Lama pemberian obat antipsikotik
a) Serangan sindrom psikosis multipel: maintenance sedikitnya
5th
b) Pemberian cukup lama mencegah kekambuhan 2,5-5 kali
c) Pemberian sebaiknya dipertahankan selam 3bln sampai 1th
stlh semua gejala psikosis mereda sama sekali
Psikiatri komprehensif. EGC Jakarta.2009
25.Apa yang dimaksud diagnosis multiaksial?

26.Macam terapi psikososial?


1.

Psikofarmakologi
Penanganan penderita gangguan jiwa dengan cara ini adalah dengan memberikan terapi obatobatan yang akan ditujukan pada gangguan fungsi neuro-transmitter sehingga gejala-gejala
klinis tadi dapat dihilangkan. Terapi obat diberikan dalam jangka waktu relatif lama, berbulan
bahkan bertahun.

2.

Psikoterapi
Terapi kejiwaan yang harus diberikan apabila penderita telah diberikan terapi psikofarmaka dan
telah mencapai tahapan di mana kemampuan menilai realitas sudah kembali pulih dan
pemahaman diri sudah baik. Psikoterapi ini bermacam-macam bentuknya antara lain psikoterapi
suportif dimaksudkan untuk memberikan dorongan, semangat dan motivasi agar penderita tidak
merasa putus asa dan semangat juangnya.
Psikoterapi Re-eduktif dimaksudkan untuk memberikan pendidikan ulang yang maksudnya
memperbaiki kesalahan pendidikan di waktu lalu, psikoterapi rekonstruktif dimaksudkan untuk
memperbaiki kembali kepribadian yang telah mengalami keretakan menjadi kepribadian utuh
seperti semula sebelum sakit, psikologi kognitif, dimaksudkan untuk memulihkan kembali fungsi
kognitif (daya pikir dan daya ingat) rasional sehingga penderita mampu membedakan nilai- nilai
moral etika. Psikoterapi perilaku dimaksudkan untuk memulihkan gangguan perilaku yang
terganggu menjadi perilaku yang mampu menyesuaikan diri, psikoterapi keluarga dimaksudkan
untuk memulihkan penderita dan keluarganya (Maramis, 1990)

3.

Terapi Psikososial
Dengan terapi ini dimaksudkan penderita agar mampu kembali beradaptasi dengan lingkungan
sosialnya dan mampu merawat diri, mampu mandiri tidak tergantung pada orang lain sehingga
tidak menjadi beban keluarga. Penderita selama menjalani terapi psikososial ini hendaknya
masih tetap mengkonsumsi obat psikofarmaka( Hawari, 2007).

4.

Terapi Psikoreligius
Terapi keagamaan ini berupa kegiatan ritual keagamaan seperti sembahyang, berdoa,
mamanjatkan puji-pujian kepada Tuhan, ceramah keagamaan, kajian kitab suci. Menurut
Ramachandran dalam Yosep( 2007), telah mengatakan serangkaian penenelitian terhadap
pasien pasca epilepsi sebagian besar mengungkapkan pengalaman spiritualnya sehingga semua
yang dirasa menjadi sirna dan menemukan kebenaran tertinggi yang tidak dialami pikiran biasa
merasa berdekatan dengan cahaya illahi.

5.

Rehabilitasi
Program rehabilitasi penting dilakukan sebagi persiapan penempatan kembali kekeluarga dan
masyarakat. Program ini biasanya dilakukan di lembaga (institusi) rehabilitasi misalnya di suatu
rumah sakit jiwa. Dalam program rehabilitasi dilakukan berbagai kegiatan antara lain; dengan
terapi kelompok yang bertujuan membebaskan penderita dari stress dan dapat membantu agar
dapat mengerti jelas sebab dari kesukaran dan membantu terbentuknya mekanisme pembelaan
yang lebih baik dan dapt diterima oleh keluarga dan masyarakat, menjalankan ibadah
keagamaan bersama, kegiatan kesenian, terapi fisik berupa olah raga, keterampilan, berbagai
macam kursus, bercocok tanam, rekreasi (Maramis, 1990). Pada umumnya program rehabilitasi
ini berlangsung antara 3-6 bulan. Secara berkala dilakukan evaluasi paling sedikit dua kali yaitu
evaluasi sebelum penderita mengikuti program rehabilitasi dan evaluasi pada saat si penderita
akan dikembalikan ke keluarga dan ke masyarakat (Hawari, 2007). Selain itu peran keluarga
juga penting, keluarga adalah orang-orang yang sangat dekat dengan pasien dan dianggap
paling banyak tahu kondisi pasien serta dianggap paling banyak memberi pengaruh pada
pasien. Sehingga keluarga sangat penting artinya dalam perawatan dan penyembuhan pasien.
(Yosep, 2007).

Psikiatri komprehensif. EGC Jakarta.2009

a. Definisi
Skizofrenia berasal dari dua kata, yaitu “Skizo” yang
artinya retak atau pecah (split), dan “frenia” yang arinya
jiwa. Dengan demikian seseorang yang menderita skizofrenia adalah
seseorang yang mengalami keretakan jiwa atau keretakan kepribadian
(Hawari,2003).
Skizofrenia adalah sekelompok gangguan psikologi dengan
gangguan dasar pada kepribadian dan distorsi khas proses pikir yang
ditandai dengan proses pikir penderita yang lepas dari realita sehingga
terjadi perubahan kepribadian seseorang yang reversible dan menuju
kehancuran serta tidak berguna sama sekali ( Dep. Kes. , 1995 ).
Terjadinya serangan skizofrenia pada umumnya sebelum usia 45 tahun
dan berlangsung paling sedikit 1 bulan. Penderita skizofrenia banyak
ditemukan dikalangan golongan ekonomi rendah , sehingga hal ini
diperkirakan merupakan factor predisposisi penyebab timbulnya
skizofrenia (Dep. Kes., 1995 ).
SUMBER : Jurnal Universitas Muhamadyah Semarang
b. Klasifikasi
Jenis Skizofrenia
Skizofrenia Paranoid

Skizofrenia Hebefrenik

Gejala Khas/Menonjol
Halusinasi dan / waham harus menonjol
Suara-suara halusinasi yg
mengancam
pasien/memberi
perintah/halusinasi
auditoriktanpa
bentuk
verbal
berupa
bunyi
peluit(Whistling),menden
gung (humming0 atau
bunyi tawa (laughing)
Waham
dikendalikan
(delusion
of
control),dipengaruhi
(delusion of influence)
atau
passivity),
dan
keyakinan yang dikejarkejar yg beranekaragam
paling khas
Onset biasanya mulai 15-25 tahun
Pengamatan kontinu selama 2 atau 3
bulan
lamanya,menghasilkan
gambaran khas yang bertahan:
Perilaku tdk bertanggung jawab
& tdk dpt diramalkan serta
mennerisme,ada kecendrungan
untuk
selalu
menyendiri
(solitary),perilaku menunjukkan
hampa tanpa tujuan & hampa
perasaan
Afek pasient dangkal(shallow)

Skizofrenia Katatonik

Skizofrenia Undifferentiated
Depresi Pasca -Skizofrenia

&tak
wajar(inappropriate)
sering disertai oleh cekikikan
(giggling) atau perasaan puas
diri(self-satisfied),senyum
sendiri (self-absorbed smilling)
atau sikap tinggi hati(lofty
manner), tertawa menyeringai
(grimaces),mennerisme,
mengibuli
secara
bersendaugurau
(pranks),keluhan hipokondriakal
dan
ungkapan
kata
yang
diulang-ulang(reitared phrases)
Proses
pikir
mengalami
disorganisasi dan pembicaraan
tak menentu (rambling) serta
inkoheren
Gangguan afektif & dorongan
kehendak
serta
gangguan
proses pikir umumnya menonjol
Satu atau > perilaku berikut harus
mendominasi:
Stupor (amat berkurangnya dlm
reaktifitas terhadap lingkungan & dlm
gerakan serta aktifitas spontan0 atau
mutisme (tdk bicara)
Gaduh gelisah (tampak jelas aktifitas
motorik yang tak bertujuan, yg tdk
dipengaruhi oleh stimuli eksternal)
Menampilkan
posisis
tubuh
tertentu(secara sukarela mengambil &
mempertahankan
posisi
tubuh
tertentu yang tdk wajar atau aneh)
Negativisme
(tampak
jelas
perlawanan yg tdk bermotif terhadap
semua
perintah
/upaya
untuk
menggerakkan,/pergerakan kearah yg
berlawanan)
Rigiditas
(mempertahankan
posisi
tubuh yang kaku untuk melawan
upaya menggerakkan dirinya)
Fleksibilitas
cerea/waxy
flexibility
(mempertahankan anggota gerak &
tubuh dlm posisi yg dapat dibentuk
dari luar) dan
Gejala-gejala lain seperti Command
automatism
(kepatuhan
secara
otomatis terhadap perintah), dan
pengulangan kata-kata serta kalimat
Tdk
memenuhi
diagnosis
jenis
skizofrenia lainnya!!!
Pasient telah menderita skizofrenia
selama 12 bln terakhir & gjala

skizofrenia msh tetap ada (tp tdk


mendominasi gmbrn klinisnya)
Gejala depresif menonjol (memenuhi
kriteria
episode
depresif)
telah
berlangsung dlm kurun waktu min 2
mggu
Skizofrenia Residual
Gjala negatif dari skizofrenia yg
menonjol
yaitu
perlambatan
psikomotorik,aktivitas menurun,afek
yang
menumpul,sikap
pasif
&
ketiadaan inisistif, kemiskinan dlm
kuantitas
atau
isi
pembicaraan,
komunikasi nonverbal yg buruk sprti
ekspresi muka, kontak mata, modulasi
suara dan posisi tubuh,perawtan diri
dan kinerja sosial yang buruk
Ada riwayat 1 episode psikotik yg
memenuhi kriteria skizofrenia di masa
lalu
Sudah
melampaui
sedikitnya
1
thnwaham dan halusinasi tlah sngt
berkurang
Tdk
ada
demensia,penyakit/ggn
organik lain, depresi kronis atau
institusionalisasi lain
Skizofrenia Simpleks
Gjala
negatif
yang
khas
dari
skizofrenia
residual
tapi
tanpa
didahului
riwayat
halusinasi,waham/manfes lain dari
episode psikotik
Disertai
perubahan-perubahan
perilaku yg bermakna,bermanifestasi
sebagai
kehilangan
minat
yg
mencolok,tdk berbuat sesuatu tanpa
tujuan hidup dan penarikan diri secara
sosial
Gangguan psikotiknya kurang jelas
jika dibandingkan dengan sup tipe
jenis skizofrenia lainnya.
SUMBER : Jurnal Universitas Muhamadyah Semarang
c. Etiologi
Karema belum ada definisi yang pasti tentang skizofrenia , maka
sampai saat ini etiologi skizofrenia masih belum jelas dan masih dan
penelitian para sarjana. Kemungkinan besar skizofrenia adalah suatu
gangguan yang heterogen. Yang menonjol pada gangguan skizofrenia
adalah adanya stressor psikososial yang mendahuluinya. Seseorang yang
mempunyai kepekaan spesifik bila mendapat tekanan tertentu dari
lingkungan akan timbul gejala skizofrenia . Etiologi skizofrenia diuraikan
menjadi dua kelompok teori yaitu :
1). Teori Somatogenetik
Teori yang menganggap bahwa penyebab skizofrenia karena factor
kelainan organik atau badaniyah .

2). Teori Psikogenik


Teori yang menganggap skizofrenia disebabkan oleh suatu gangguan
fungsional. Dan penyebab utamanya adalah konflik , stres psikologik
dan hubungan antar manusia yang
mengecewakan . Selain itu banyak teori yang diajukan sebagai teori
etiologi skizofrenia. antara lain teori yang menyatakan bahwa skizofrenia
disebabkan oleh suatu interaksi beberapa gen penyebab skizofrenia . Dan
ada pula teori yang menyatakan bahwa skizofrenia disebabkan oleh
metabolisme yang disebut dengan inborn error of metabolissm
(Maramis, 1980).
SUMBER : Jurnal Universitas Muhamadyah Semarang
d. Gejala
Skizofrenia memiliki berbagai tanda dan gejala. Kombinasi kejadian
dan tingkat keparahan pun berbeda berdasarkan individu masing-masing.
Gejala-gejalanya dapat terjadi kapan saja. Pada pria biasanya timbul pada
akhir masa kanak-kanak atau awal usia 20-an, sedangkan pada wanita,
usia 20-an atau awal 30-an.
Skizofrenia dapat mempengaruhi cara berpikir, perasaan dan
tingkah laku. Dokter membedakan gejala skizofrenia dalam tiga kategori
sebagai berikut :
Gejala positif, terdiri dari :
- Delusi/waham, yaitu keyakinan yang tidak masuk akal. Contohnya
berpikir bahwa dia selalu diawasi lewat televisi, berkeyakinan bahwa dia
orang terkenal,
berkeyakinan bahwa radio atau televisi memberi pesan-pesan tertentu,
memiliki keyakinan agama yang berlebihan.
- Halusinasi, yaitu mendengar, melihat, merasakan, mencium sesuatu
yang sebenarnya tidak ada. Sebagian penderita, mendengar suara/
bisikan bersifat menghibur
atau tidak menakutkan. Sedangkan yanng lainnya mungkin menganggap
suara/bisikan tersebut bersifat negatif/ buruk atau memberikan perintah
tertentu.
- Pikiran paranoid, yaitu kecurigaan yang berlebihan. Contohnya merasa
ada seseorang yang berkomplot melawan, mencoba mencelakai atau
mengikuti, percaya
ada makhluk asing yang mengikuti dan yakin dirinya diculik/ dibawa ke
planet lain.
Gejala negatif
- Motivasi rendah (low motivation). Penderita akan kehilangan ketertarikan
pada semua aspek kehidupan. Energinya terkuras sehingga mengalami
kesulitan
melakukan hal-hal biasa dilakukan, misalnya bangun tidur dan
membersihkan rumah.
- Menarik diri dari masyarakat (social withdrawal). Penderita akan
kehilangan ketertarikan untuk berteman, lebih suka menghabiskan waktu
sendirian dan merasa
terisolasi.
Gejala kognitif
- Mengalami problema dengan perhatian dan ingatan. Pikiran mudah
kacau sehingga tidak bisa mendengarka n musik/ menonton televisi lebih
dari beberapa menit.

sulit mengingat sesuatu, seperti daftar belanjaan.


- Tidak dapat berkosentrasi, sehingga sulit membaca, menonton televisi
dari awal hingga selesai, sulit mengingat/ mempelajari sesuatu yang baru.
- Miskin perbendaharaan kata dan proses berpikir yang lambat. Misalnya
saat mengatakan sesuatu dan lupa apa yang telah diucapkan, perlu usaha
keras untuk
melakukannya.
SUMBER :Jurnal Psikomedial
Gejala pokok dari skizofrenia dapat dikelompokkan menjadi empat
gangguan pada :
1). Alam Pikiran
Gangguan alam pikiran pada penderita skizofrenia berupa gangguan
bentuk arus pikiran dan gangguan isi pikiran (Roan , 1997).
Pada penderita skizofrenia inti gangguan memang terdapat pada proses
pikiran dan yang terganggu terutama adalah proses asosiasi , yaitu :
a). Penderita kadang-kadang mempunyai satu ide yang belum selesai
diutarakan tetapi sudah timbul ide yang lainnya.
b). Penderita skizofrenia tidak jarang menggunakan arti simbolik ,
sehingga jalan pikiran penderita skizofrenia tidak dapat diikuti dan
dimengerti oleh orang lain.
d). Pada penderita skizofrenia sering juga ditemukan apa yang disebut
dengan bloking, yaitu isi pikiran yang kadang-kadang berhenti dan
tidak timbul ide lagi.
e). Gejala lain adalah halusinasi yaitu penderita merasa ada suara-suara
ditelinganya.
f). Cara berpikir yang aneh (ambivalensi).
g). Adanya waham yang menguasai dirinya .
h). Merasa dirinya tidak sakit dan merasa dirinya paling benar
(egosentris ). ( Yusuf dan Ismed, 1991 ).
2). Daya Tanggap ( Perseption )
Gangguan daya tanggap sebagai suatu pengelabuhan panca indra. Pada
gangguan ini dapat terjadi ilusi yaitu suatu peristiwa salah tanggap dari
suatu stimulus dari luar. Ataupun suatu tanggapan tanpa adanya rangsang
dari luar. Gangguan utama dari gangguan persepsi ini adalah berbagai
jenis halusinasi benar ( Roan , 1997 ).
3). Alam Perasaan
Pada awal dari gangguan suasana penderita, biasanya lebih peka dari
orang normal. Yang tampak adalah penderita mudah tersinggung, mudah
marah dan peka terhadap hal-hal yang kecil-kecil yang seharusnya tidak
perlu tersinggung atau marah. Pada keadaan gangguan lebih lanjut atau
lebih parah, suasana penderita justru akan acuh terhadap sekitarnya
(Yusuf dan
Ismed, 1991). Gangguan perasaan atau emosi pada penderita skizofrenia
dapat digolongkan dalam dua hal yaitu :
a). Gangguan alam perasaan.
b). Gangguan pengungkapan perasaan.
Pada kehidupan sehari-hari gangguan perasaan tersebut tampak dalam
tingkah laku., biasanya di ekspresikan sebagai :
a). Riang gembira ( nood elevasion ).
b). Sedih ( depression ).
c). Hilang akal ( perplekxity ).
d). Emosi berlebihan.

e). Hilangnya emosional rapport.


f). Ambivalaensi ( terpecah-pecahnya kepribadian ). ( Hardiman ,
1988 ).
4). Gangguan Tingkah Laku
Gangguan tingkah laku ( psikomotor ) yang beraneka ragam sering terlihat
, khususnya pada bentuk serangan akut dan nyata. Tingkah laku penderita
skizofrenia sering aneh dan tidak
dapat dimengerti . seperti :
a). Dapat terjadi pengurangan hebat dari reaktivitas terhadap
lingkungan yang berupa berkurangnya pergerakan dan aktivitas spontan,
penderita akan bersikap kaku dan menolak usaha-usaha untuk
menggerakkannya.
b). Gerakan motorik yang berlebihan ( exited ), dan nampak
tidak
bertujuan serta tidak dipengaruhi oleh stimulus luar ( seperti ada
kegaduhan / furor katatonik ). Banyak sekali tingkah laku yang dapat
ditemukan pada penderita skizofrenia, tetapi yang paling sering adalah :
a). Gaduh gelisah ( exitement ).
b). Stupor.
c). Tingkah laku impulsive.( Wibisono, S. 1998 )
SUMBER : Jurnal Universitas Muhamadyah Semarang
Kriteria diagnosis skizofrenia Mnrt PPDGJ-III
Ada 1 atau 2 gejala nyata dari:
Paling sedikit 2 harus ada:
a. Isi Pikiran:
e. Halusinasi menetap jenis apa saja:
Bergema (thought echo)
Terjadi setiap hari
Disisipi.ditarik (thought
Disertai ide berlebihan
Disertai waham tak lengkap
insertion/withdrawl)
f. Arus pikiran: inkoheren, irelevant
Disiarkan (thought
g. Perilaku katatonik, excitement,
broadcasting)
stupor, negatisme
b.Waham
h.Gejala
negatif: apatis, miskin
Dikendalikan (delusion of
pembicaraan,afek tumpul
control)

Waktu1
bulan atau lebih
Dipengaruhi (delusion of
Perubahan konsisten dan bermakna
influence)
menyeluruh aspek perilaku
Pasrah pada kekuatan luar
pribadihilang minat, hidup tak
(delusion of passivity)
bertujuan, tak berbuat sesuatu, larut
Pengalaman indrawi tak wajar
dalam dirinya sendiri, penarikan diri
(mistik) delusional perception
dari sosial
c.Halusinasi auditorik
d.waham menetap lain
Psikiatri komprehensif. EGC Jakarta.2009