Anda di halaman 1dari 7

Salomo Galih Nugroho (41130042)

Abortus Imminens/Abortus Mengancam


Abortus imminens ialah peristiwa terjadinya perdarahan dari rahim pada kehamilan
sebelum 20 minggu, di mana hasil konsepsi masih dalam rahim dan tanpa adanya
pembesaran leher rahim.
Diagnosis abartus mengancam ditemukan apabila pada wanita hamil terjadi
perdarahan melalui milut rahim disertai mulas sedikit atau tidak sama sekali, rahim
membesar sebesar tuanya kehamilan, dan leher rahim belum membuka.

Abortus Insipien/ Abortus sedang berlangsung


Abortus Insipien ialah peristiwa perdarahan rahim pada kehamilan sebelum 20
minggu dengan adanya pembukaan leher rahim. Namun Hasil konsepsi masih ada.
Dalam Peristiwa ini, rasa mulas menjadi lebih sering dan kuat serta perdarahan
bertambah.

Abortus inkompletus/abortus yang tidak lengkap


Abortus inkompletus ialah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan
sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa konsepsi yang tertinggal didalam rahim.
Pada pemeriksaan Vaginal, leher rahim terbuka dan jaringan dapat diraba dalam
ruang rahim atau kadang-kadang sudah menonjol dari mulut rahim. Perdarahan
pada abortus yang tidak lengkap dapat banyak sekali sehingga
menyebabkan shock dan perdarahan tidak akan berhenti sebelum sisa hasil
konsepsi dikeluarkan.

Abortus kompletus/abortus lengkap


Abortus kompletus ialah semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan. Pada penderita
ditemukan perdaraha sedikit, mulut rahim telah mengatup, dan rahim sudah
semakin mengecil. Diagnosis dapat dipermudah apabila hasil konsepsi dapat
diperiksa dan dapat dinyatakan bahwa semuanya sudah keluar dengan lengkap.

Abortus Servikalis
Pada abortus servilakis, keluarnya hasil konsepsi dari rahim dihalangi oleh leher
rahim yang tidak membuka sehingga semuanya terkumpul dalam saluran leher
rahim. Oleh karena itu, leher rahim menjadi besar, berbentuk bundar, dengan
dinding menipis. Pada pemeriksaan ditemukan leher rahim membesar dan di atas
mulut teraba adanya jaringan.

Missed Abortion
Missed Abortion ialah kematian janin berusia sebelum 20 minggu. Namun, janin
yang mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih. Etiologi missed
abortion tidak diketahui, tetapi diduga pengaruh hormon progesteron.

Abortus habitualis/abortus berulang


Abortus habitualis ialah abortus spontan yang terjadi 3kali atau lebih berturut-turut.
Penyebab abortus habitus pada dasarnya sama dengan sebab-sebab abortus
spontan seperti yang telah dibicarakan. Namun, ditemukan penyebab lain yang
bersifat imunologik, yaitu kegagalan reaksi terhadap antigen tertentu.

Abortus Infeksious dan abortus septik


Abortus infeksious ialah abortus yang disertai infeksi pada alat kelamin. Adapun
abortus septik ialah abortus infeksious berat disertai penyebab kuman atau racun
ke dalam peredaran darah atau lapisan perut.

1|

Salomo Galih Nugroho (41130042)

1. Jenis-Jenis Abortus
a. Abortus Spontan adalah penghentian kehamilan sebelum janin mencapai
viabilitas (usia kehamilan 22 minggu). Tahap-tahap abortus spontan:
Abortus Imminens (Kehamilan dapat berlanjut)
Abortus Insipiens (Kehamilan tidak akan berlanjut dan akan berkembang
menjadi abortus incomplete/complete)
b. Abortus yang di sengaja adalah suatu proses dihentikannya kehamilah
sebelum janin mencapai viabilitas.
c. Abortus tidak aman adalah suatu prosedur yang dilakukan oleh orang
yang tidak berpengalaman atau dalam lingkungan yang tidak memenuhi
standar medis minimal atau keduanya.
d. Abortus Septik adalah abortus yang mengalami komplikasi yang
mengalami infeksi. Sepsis dapat berasal dari infeksi jika organisme
penyebab naik dari saluran kemih bawah setelah abortus sepontan atau
abortus tidak aman. Sebsis cendenrung akan terjadi jika terdapat sisa
hasil konsepsi atau terjadi penundaan dlam pengeluaran hasil konsepsi.
Sepsis merupakan komplikasi yang sering terjadi pada abortus tidak aman
dengn menggunakan peralatan.
e. Abortus Iminens
Tidak perlu pengobatan khusus atau tirah baring total
Jangan melakukan aktivitas fisik berlebihan atau hubungan seksual.
Jika perdarahan :
- Berhenti, lakukan asuhan antenatal seperti biasa. Lakukan
penilaian jika perdarahan terjadi lagi.
- Terus berlangsung, nilai kondisi janin (uji kehamilan atau
USG). Lakukan konfirmasi kemungkinan adanya penyebab
lain. Perdarahan berlanjut, khususnya jika ditemui ikterus
yang lebih besardari yang diharapkan, mungkin
menunjukkan kehamilan ganda atau mola.
f. Abortus Insipiens
Jika usia kehamilan kurang dari 16 minggu.
g. Abortus Incomplete
Jika perdarahan jika seberapa banyak dan kehamilan kurang dari 16
minggu. Evakuasi dapat dilakukan secara digital atau dengan
cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar
melalui servik.
h. Abortus Complete
terdapat perdarahan, tidak ada nyeri, tidak ada pembukaan, vundus uteri
lebih kecil karena janin sudah keluar.
Plasenta previa
Diagnosis

2|

Salomo Galih Nugroho (41130042)


Jika plasenta previa terdeteksi pada akhir tahun pertama atau trimester
kedua, sering kali lokasi plasenta akan bergeser ketika rahim membesar. Ini dapat
dilakukan pemeriksaan USG. Beerapa wanita mungkin bahkan tetap tidak
terdiagnosis sampai persalinan, terutama dalam kasus-kasus plasenta previa
sebagian (8).
1) Anamnesis
Pada anamnesis dapat dinyatakan beberapa hal yang berkaitan dengan
perdarahan antepartum seperti umur kehamilan saat terjadinya perdarahan, apakah
ada rasa nyeri, warna dan bentuk terjadinya perdarahan, frekuensi serta banyaknya
perdarahan.
Perdarahan jalan lahir pada kehamilan setelah 22 minggu berlangsung tanpa
rasa nyeri, tanpa alasan, terutama pada multigravida (4).
2) Pemeriksaan luar
a. Inspeksi
Dapat dilihat perdarahan yang keluar pervaginam: banyak atau sedikit, darah
beku dan sebagainya. Jika telah berdarah banyak maka ibu kelihatan anemis.
b. Palpasi
Janin sering belum cukup bulan, jadi fundus uteri masih rendah, sering
dijumpai kesalahan letak janin, bagian terbawah janin belum turun, apabila
letak kepala, biasanya kepala masih goyang atau terapung (floating) atau
mengolak di atas pintu atas panggul (6).
3) Ultrasonografi
Menegakkan diagnosa plasenta previa dapat pula dilakukkan dengan
pemeriksaan ultrasonografi. Penentuan letak plasenta dengan cara ini ternyata
sangat tepat, tidak menimbulkan bahaya radiasi bagi ibu dan janinnya, dan tidak
rasa nyeri (4).
USG abdomen selama trimester kedua menunjukkan penempatan plasenta
previa. Transvaginal Ultrasonografi dengan keakuratan dapat mencapai 100%
identifikasi plasenta previa. Transabdominal ultrasonografi dengan keakuratan
berkisar 95% (9).
Dengan USG dapat ditentukan implantasi plasenta atau jarak tepi plasenta
terhadap ostium. Bila jarak tepi kurang dari 5 cm disebut plasenta letak rendah. Bila
tidak dijumpai plasenta previa, dilakukan pemeriksaan inspekulo untuk melihat
sumber perdarahan lain (10).
4) Pemeriksaan inspekulo
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah perdarahan berasal dari
ostium uetri eksternum atau dari kelainan serviks dan vagina. Apabila perdarahan
berasal dari ostium uteri eksternum, adanya
plasenta previa harus dicurigai (9)

Kriteria
Perdarahan

Solusio Plasenta
Merah tua s/d coklat
hitam
Terus menerus
Disertai nyeri

Uterus
Tegang, Bagian janin
tak teraba, Nyeri
3|

Plasenta Previa
Merah segar, Berulang
, Tidak nyeri
Tak tegang
Tak nyeri tekan
Jarang

Salomo Galih Nugroho (41130042)

Syok/Anemia

Fetus
Pemeriksaan
dalam

tekan
Lebih sering
Tidak sesuai dengan
jumlah darah yang
keluar
40% fetus sudah mati
Tidak disertai kelainan
letak
Ketuban menonjol
walaupun tidak his

Sesuai dengan jumlah


darah yang keluar
Biasanya fetus hidup
Disertai kelainan letak
Teraba plasenta atau
perabaan fornik ada
bantalan antara
bagian janin dengan
jari pemeriksaan

KOMPLIKASI PLASENTA PREVIA


Komplikasi
Kemungkinan infeksi nifas besar karena luka plasenta lebih dekat pada
ostium dan merupakan porte dentre yang mudah tercapai. Lagi pula, pasien
biasanya anemis karena perdarahan sehingga daya tahannya lemah. 2
Bahaya plasenta previa adalah : 2,3
1. Anemia dan syok hipovolemik karena pembentukan segmen rahim
terjadi secara ritmik, maka pelepasan plasenta dari tempat melekatnya
diuterus dapat berulang dan semakin banyak dan perdarahan yang
terjadi itu tidak dapat dicegah.
2. Karena plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim dan
sifat segmen ini yang tipis mudahlah jaringan trofoblas dengan
kemampuan invasinya menorobos ke dalam miometrium bahkan
sampai ke perimetrium dan menjadi sebab dari kejadian plasenta
inkreta bahkan plasenta perkreta. Paling ringan adalah plasenta akreta
yang perlekatannya lebih kuat tetapi vilinya masih belum masuk ke
dalam miometrium. Walaupun tidak seluruh permukaan maternal
plasenta mengalami akreta atau inkreta akan tetapi dengan demikian
terjadi retensio plasenta dan pada bagian plasenta yang sudah
terlepas timbullah perdarahan dalam kala tiga. Komplikasi ini lebih
sering terjadi pada uterus yang yang pernah seksio sesaria. Dilaporkan
plasenta akreta terjadi sampai 10%-35% pada pasien yang pernah
seksio sesaria satu kali dan naik menjadi 60%-65% bila telah seksio
sesaria tiga kali.
3. Serviks dan segmen bawah rahim yang rapuh dan kaya pembuluh darah
sangat potensial untuk robek disertai dengan perdarahan yang banyak.
Oleh karena itu harus sangat berhati-hati pada semua tindakan manual
ditempat ini misalnya pada waktu mengeluarkan anak melalui insisi pada
segmen bawah rahim ataupun waktu mengeluarkan plasenta dengan
4|

4.
5.

6.
7.
8.
9.

Salomo Galih Nugroho (41130042)


tangan pada retensio plasenta. Apabila oleh salah satu sebab terjadi
perdarahan banyak yang tidak terkendali dengan cara-cara yang lebih
sederhana seperti penjahitan segmen bawah rahim, ligasi a.uterina, ligasi
a.ovarika, pemasangan tampon atau ligasi a.hipogastrika maka pada
keadaan yang sangat gawat seperti ini jalan keluarnya adalah melakukan
histerektomi total. Morbiditas dari semua tindakan ini tentu merupakan
komplikasi tidak langsung dari plasenta previa.
Kelainan letak anak pada plasenta previa lebih sering terjadi. Hal ini
memaksa lebih sering diambil tindakan operasi dengan segala
konsekuensinya.
Kehamila premature dan gawat janin sering tidak terhindarkan karena
tindakan terminasi kehamilan yang terpaksa dilakukan dalam kehamilan
belum aterm.
Pada kehamilan < 37 minggu dapat dilakukan
amniosintesis untuk mengetahui kematangan paru-paru janin dan
pemberian kortikosteroid untuk mempercepat pematangan paru janin
sebagai upaya antisipasi.
Solusio plasenta
Kematian maternal akibat perdarahan
Disseminated intravascular coagulation (DIC)
Infeksi sepsis

Abortus Imminens
Tindakan klinik yang dapat dilakukan untuk mengetahui terjadinya abortus antara
lain:
Terlambat haid atau amenorea kurang dari 20 minggu.
Pada pemeriksaan fisik yang terdiri dari keadaan umum tampak lemah, TD
normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu badan normal
atau meningkat.
Adanya perdarahan pervaginam yang dapat disertai keluarnya jaringan janin,
mual dan nyeri pinggang akibat kontraksi (rasa sakit atau kram perut diatas daerah
simpisis).
Pemeriksaan ginekologi meliputi inspeksi vulva dengan melihat perdarahan
pervaginam, ada / tidak jaringan janin, dan tercium/tidak bau busuk dari vulva
inspekulo.
Perdarahan dari kavum uteri, ostium uteri terbuka atau sudah tertutup, ada/tidak
jaringan keluar dari ostium, dan ada /tidak cairan atau jaringan yang busuk dari
ostium.
Pada pemeriksaan dalam, dengan melihat porsio masih terbuka atau sudah
tertutup, teraba atau tidak jaringan dalam kavum uteri, besar uterus sesuai atau
lebih keci dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyangkan, tidak nyeri
pada saat perabaan adneksa dan kavum douglas tidak menonjol dan tidak nyeri.
KEHAMILAN EKTOPIK
Diagnosis
a.Anamnesis dan gejala klinis
Riwayat terlambat haid, gejala dan tanda kehamilan muda, dapat ada atau tidak
5|

Salomo Galih Nugroho (41130042)


ada perdarahan per vaginam, ada nyeri perut kanan / kiri bawah. Berat atau
ringannya nyeri tergantung pada banyaknya darah yang terkumpul dalam
peritoneum.
b.Pemeriksaan fisik
i.Didapatkan rahim yang juga membesar, adanya tumor di daerah adneksa.
ii.Adanya tanda-tanda syok hipovolemik, yaitu hipotensi, pucat dan ekstremitas
dingin, adanya tanda-tanda abdomen akut, yaitu perut tegang bagian bawah, nyeri
tekan dan nyeri lepas dinding abdomen.
iii. Pemeriksaan ginekologis
Pemeriksaan dalam: seviks teraba lunak, nyeri tekan, nyeri pada uteris kanan dan
kiri.
c. Pemeriksaan Penunjang
i. Laboratorium : Hb, Leukosit, urine B-hCG (+).
Hemoglobin menurun setelah 24 jam dan jumlah sel darah merah dapat meningkat.
ii. USG : - Tidak ada kantung kehamilan dalam kavum uteri
- Adanya kantung kehamilan di luar kavum uteri
- Adanya massa komplek di rongga panggul
iii. Kuldosentesis : suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah dalam kavum
Douglas ada darah.
iv. Diagnosis pasti hanya ditegakkan dengan laparotomi.
v. Ultrasonografi berguna pada 5 10% kasus bila ditemukan kantong gestasi di
luar uterus
7. Diagnosis banding
a. Infeksi pelvik
b. Abortus iminens atau insipiens
c. Torsi kista ovarium
d. Ruptur korpus luteum
e. Appendisitis akut (Wibowo, 2007; Cunningham et al, 2005).

1.

Chalik, T. Perdarahan pada Kehamilan Lanjut & Persalinan. Dalam :


Saifuddin, A., Rachimhadi, T., dan Wiknjosastro, G. (Eds). Ilmu Kebidanan
Sarwono Prawirohardjo. Edisi Keempat. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo; 2008 : 493-521
2.
Cunningham FG. 2006. Obstetri William Vol. 1. Jakarta: EGC. pp: 6856|

Salomo Galih Nugroho (41130042)


704
3.

Sumapraja S dan Rachimhadi T. 2005. Perdarahan Antepartum dalam:


Wiknjosastro H. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. pp: 365-85..
4.
Johnson LG, Sergio F and Lorenzo G. 2003. The relationship of placenta
previa and history of induced abortion. International Journal of Gynaecology and
Obstetrics. 81(2): 191198.
5.
Usta IM, Hobeika E.M, Musa A.A, Gabriel G.E and Nassar A.H. 2005.
Placenta previa-acreta: risk factors and complications. Am. J. Obstet. Gynecol.
193: 1504-1059.

7|