Anda di halaman 1dari 41

Resistive load

Inductive Load
Power balance
Over volt per hertz

Kurva tanpa beban generator sinkron

Kurva tanpa beban


Generator 3 fase, 36 MW
12 kV fase ke netral

Reaktans sinkron dan untai ekivalen


generator sinkron

Untai ekivalen generator sinkron 3 fase

X s 2fL
Xs=synchronous reactance, per phase ()
f= generator frequency (Hz)
L=apparent inductance of stator winding, per
phase (H)

Penentuan nilai Xs
En
Xs
I sc
Xs=synchronous
reactance, per phase
()
En= rated open-circuit
line-to-neutral voltage
(V)
Isc=short-circuit current,
per phase, using the
same exciting current
Ixn that was required to
produce En (A)

EB
ZB
SB

ZB= base impedance (line-to-neutral) of the


generator ()
EB= base voltage (line-to-neutral) (V)
SB= base power per phase (VA)
In general Xs (pu) lies between 0,8 and 2,
depending upon design of the machine.

I x1
short - circuit ratio
I x2
Ix1= the field current needed to generate rated
open-circuit armature voltage (A)
Ix2= the field current needed to produce rated
current on a sustained short-circuit (A)
The short-circuit ratio is exactly equal to the
reciprocal of the per unit value of Xs

Suatu generator sinkron menghasilkan tegangan tanpa beban 6928 V


fase-fase dengan arus eksitasinya 50 A. Saat terminal generator
dihubungsingkat, arus yang mengalir 800 A.
a.Hitung reaktans sinkron
b.Hitung tegangan terminal jika tiga resistor 12 dihubungkan ke
terminal secara bintang/wye.
E 6928
E0

4000V
3
3

E0 4000
Xs

5
Isc 800
2

Z R 2 X s 12 2 52 13
I

E0 4000

308 A
Z
13

E IR 308 x12 3696V

E L 3E 3 x 3696 6402V

Generator berbeban, Isolated loads,


supplied by a single generator 1

Beban resistif
Arus I sefase dengan E
Ex pada reaktans sinkron leading
tehadap arus I. Ex=jIXs
Tegangan E0 dibangkitkan oleh flux
sama dengan E ditambah Ex
E dan Ex merupakan tegangan
tegangan yang berada dalam belitan
dan tidak dapat diukur langsung
Flux dihasilkan oleh arus eksitasi

Generator berbeban, Isolated loads,


supplied by a single generator 2

Arus I tertinggal terhadap


E sebesar o
Cos o = faktor daya beban

Arus I mendahului E
sebesar o

Cos o = faktor daya beban

Regulasi tegangan
E NL E B
% regulation
EB

ENL= no-load voltage (V)


EB= rated voltage (V)

Kurve regulasi

PEMBEBANAN GENERATOR (1)


Daya yang dibangkitkan generator dinyatakan dalam satuan
VA, misal 1000 kVA, 10 MVA, Daya keluaran generator dapat
dinyatakan sebagai fungsi tegangan terminal V dan arus I yang
dihasilkan, sesuai rumus berikut :
SG = V.I VA
(1)
2.
Tegangan induksi yang dibangkitkan oleh belitan jangkar pada
stator sebesar :
E = 4,44 kc. kd. f. .N volt/fase .......... (2)
dengan :
1.

kc
kd
f

= faktor kisar
= faktor distribusi
= frekuensi (Hz)
= fluks/kutub (weber)
= jumlah lilitan

05/28/15

PEMBEBANAN GENERATOR (2)


1.

2.
3.

4.
5.

Dari rumus di atas tampak bahwa tegangan yang dibangkitkan


sebanding dengan kecepatan poros penggerak mula dan fluks per
kutub, sehingga dapat dituliskan :
V E = f (n,)
(3)
Putaran poros n sebanding dengan frekuensi sistem listrik jangkar f
dan fluks sebagai fungsi arus eksitasi medan If.
Sementara itu nilai arus yang diserap beban sangat ditentukan oleh
total impedans yang dirasakan oleh terminal generator (impedans
dalam, impedans beban, impedans saluran, impedans regulator, dll).
Arus yang diserap beban dirumuskan :
I = V/Z
(4)
Berkaitan dengan jenis beban, daya yang dibangkitkan S dapat
dirumuskan :
S = P + jQ VA ..
(5)
dengan :
1.
2.

P
Q

= daya riil
= daya reaktif

05/28/15

PEMBEBANAN GENERATOR (3)


6.

Daya riil P yang dapat dimanfaatkan oleh beban, diubah menjadi


kerja atau panas.

7.

Sementara itu daya reaktif Q dipergunakan untuk pembangkitan


fluks pada belitan (trafo, generator) untuk keperluan pembangkitan
tegangan induksi.

8.

Daya reaktif ini di generator sangat diperlukan untuk mengatur


tegangan pendorong arus ke beban, tetapi di pihak beban dapat
timbul daya reaktif karena beban induktif atau saluran induktif,
sehingga perlu dibatasi atau ditiadakan, misalnya dengan
kompensasi kapasitif.

05/28/15

HUBUNGAN VA, WATT DAN VAR


ARUS MEDAN / FLUKS PENENTU DAYA REAKTIF
Hubungan daya semu S(VA), daya riil P(WATT) dengan daya reaktif Q
(VAr) dapat dinyatakan dengan adanya pengertian sudut pergeseran
daya dalam segitiga daya sebagai berikut :

VA
VAr

Daya P (Watt) yang dapat diserap


beban dan Q (Var) yang timbul
pada batas VA tertentu tergantung
faktor daya beban, dengan
hubungan :
WATT = VA cos ... 6)

WATT

VAr

Gambar Segitiga daya

05/28/15

= VA Sin ... (7)

Generator berbeban, Infinite bus 1

An infinite bus is a system so powerful that it imposes its own


voltage and frequency upon any apparatus connected to its
terminal.

Once connected to large system (infinite bus), a synchronous


generator becomes part of a network. It is impossible,
therefore, to specify the nature of the load (resistive, inductive
or capacitive) connected to the terminal of this particular
generator.

There are only two machine parameters:


- The exciting current
- The mechanical torque exerted by the turbine

Generator berbeban, Infinite bus

Generator floating on an infinite bus

Over-excited generator on an infinite bus

Under-excited generator on an infinite bus

Generator berbeban, Infinite bus

Keseimbangan daya
EE
P 0 sin
Xs

P = active power, per phase (W)


E0 = induced voltage, per phase (V)
E = terminal voltage, per phase (V)
Xs = synchronous reactance per phase ()
= torque angle between E0 and E (o)
= 30o (typically at rated power)

Over volt per hertz 1

Generator didisain sehingga saat dibebani temperatur generator


berada dalam batas-batas aman.
Temperatur dipengaruhi oleh

pembebanan (listrik)
sistem pendinginan
kerapatanfluks
tekanan mekanik
gaya mekanis
tekanan dielektik

Over volt per hertz 2


E Blv
E = tegangan induksi [V]
B = kerapatan fluks [T]
l = panjang penghantar aktif dalam medan
magnet [m]
v = kecepatan relatif penghantar [m/s]

120 f
v
n

60 rpm
p
2r

2r120 f
E Bl
60 p

2r120 f
v
60 p

E
B~
f

Over volt per hertz 3

Generator dioperasikan pada keadaan


over volt per hertz dapat menyebabkan:

oversaturation pada inti stator


stray flux induced pada komponen metal
pemanasan lebih

Generator dioperasikan pada tegangan


5% di atas rating harus di derating.

KERJA PARALEL
GENERATOR

OPERASI SISTEM DAYA

Di dalam rangkaian beberapa generator dimungkinkan beroperasi paralel.

Tiap generator beroperasi pada kecepatan sama.

Penambahan beban dilakukan dengan menaikkan daya input, yang akan


memperbesar sudut daya Kecepatan dipertahankan konstan.
Sudut daya saat beroperasi harus kurang dari 90 derajad. Pembebanan
harus dipertahankan pada sudut daya 30-20% lebih rendah dari sudut daya
maksimum ( = 90o)

21

Daya reaktif diatur degan mengatur arus eksitasi yang menvariasikan


tegangan induksi.

05/28/15

OPERASI SISTEM DAYA

Ketika tegangan induksi :

Lebih besar dari tegangan terminal, generator menghasilkan daya


reactive (capacitance).
Lebih kecil dari tegangan terminal, generator menyerap daya
reactive (inductance).

Generator sinkron mempunyai starting torque nol, mesin harus diputar


oleh penggerak mula (turbine, recipricating engine, etc).

Proses menyambungan generator paralel antar generator maupun


jaringan disebut synchronization.

22

05/28/15

SYNCHRONIZATION (1)

23

The steps are:

Verify that the phase sequence of the two systems are the same.

Adjust the machine speed with the turbine that drive the
generator until the induced voltage and network frequency are
nearly the same.

Adjust the terminal voltage of the generator by changing the field


current until the terminal voltage is almost equal to the network
voltage. Acceptable limit is 5%

Adjust the phase angle of the generator to be nearly equal with


the phase angle of the network voltage.

05/28/15

SYNCHRONIZATION (2)

The voltages between the terminals of the circuit breaker are measured,
when this voltages are small, about 5% and the two frequencies are nearly
equal the circuit breaker is closed.

In the past lamps, connected across the open breaker, were used to detect
the voltage differences.

Today electronic circuits compare the voltages and control the generator.
However some operators still prefers to synchronize the generator manually
with an out of range synchronizer overriding..

24

05/28/15

Speed Control

SYARAT SYNCHRON
1. FREKUENSI SAMA
(ANTAR GENERATOR PARALEL)

2. TEGANGAN SAMA
(ANTAR GENERATOR PARALEL)

3. FASE SAMA
(ANTAR GENERATOR PARALEL

SYARAT INSTALASI : URUTAN FASE SAMA

25

05/28/15

Speed Control

FREKUENSI SAMA
V

Fase R
Fase R'
t

T
T'

26

05/28/15

Speed Control

TEGANGAN SAMA
V
Fase R'

V1
V2

Fase R
t

27

05/28/15

Speed Control

FASE SAMA
V

Fase R
Fase R'

28

< 20

05/28/15

Speed Control

INDIKATOR SINKRON

29

05/28/15

Speed Control

TES URUTAN FASE

30

05/28/15

OPERATION GENERATOR

05/28/15

PRINSIP PENGENDALIAN BEBAN


Ditinjau dari sisi generator pengendalian beban, Prinsipnya
pengendalian daya aktif dengan :
pengendalian governor pengatur pemasukan bahan bakar ke
penggerak mula dan
pengendalian daya reaktif dengan cara pengendalian arus
medan lewat peralatan AVR (Automatic Voltage Regulator).

05/28/15

32

PERUBAHAN BEBAN (1)


Penambahan beban mendadak akan menyerap daya poros
mendadak. Jika serapan beban tidak bisa dipenuhi oleh poros maka
poros menunggu pasokan daya dari penggerak mula, yaitu setelah
penggerak mula mendapat pasokan tambahan bahan bakar. Indikasi
yang tampak pada poros, terjadinya penurunan kecepatan atau
putaran. Indikasi yang terjadi pada sistem listrik, adanya penurunan
frekuensi. Pada masa peralihan, sambil menunggu pasokan daya
dari poros, AVR aktif menaikkan tegangan agar mampu mendorong
arus menuju beban, sesuai permintaan beban, meskipun frekuensi
turun, sambil menunggu daya atau kenaikan frekuensi mencapai
nominalnya. Jika penggerak mula tidak mampu memberikan
pasokan daya, maka generator tetap akan mencatu daya dengan
frekuensi rendah atau tegangan lebih rendah dari nominalnya.
sambil putaran menuju nominal, AVR mengurangi arus medan,
sehingga dalam kondisi apapun tegangan keluaran diupayakan
stabil oleh AVR. Perhatikan gambar 2. Untuk pengoperasian
manual, arus medan dan governor harus diatur oleh operator.
05/28/15

33

PERUBAHAN BEBAN (2)

Gambar 2. Contoh rekaman daya pada furnace

05/28/15

34

PELEPASAN BEBAN (Load Shedding)


Kadangkala diperlukan pelepasan beban, baik atas permintaan
beban maupun keperluan generator. Perlu diperhatikan jika
pelepasan beban mencapai di atas 50% kapasitas generator,
akan menyebabkan ayunan tegangan diakibatkan ayunan
frekuensi atau putaran. Pembebanan listrik pada Prinsipnya
pengereman poros generator. Jika beban besar dilepas
mendadak, maka torsi rem pada poros seolah-olah dilepas,
sementara itu pasokan bahan bakar atau pasokan daya
mekanik lewat poros tetap, sehingga akan terjadi ayunan
frekuensi ke atas, yang menyebabkan tegangan naik. hal ini
dapat membahayakan beban lain yang belum lepas dari
generator, misalnya belitan peralatan terbakar.

05/28/15

35

FENOMENA PEMBEBANAN
Secara umum fenomena pembebanan dapat ditinjau dari dua
keadaan :

36

1.

Keadaan mantap / kuasistatik : Nilai beban riil dan reaktif sebagai


fungsi tegangan, sementara itu frekuensi dianggap tetap.

2.

Keadaan dinamis / peralihan : Nilai daya riil dan reaktif tidak hanya
fungsi tegangan, dan frekuensi, tetapi juga fungsi derivatifnya.

05/28/15

OPERASI KEADAAN MANTAP

Ef

Xs

One line diagram distriibuted generator


V = Ef j IXs

Untai ekivalen
37

05/28/15

BAGAN OPERASI GENERATOR


terhubung bus infinite
EfV/Xs

Ef

IXs

V2/Xs

Multiplying by V/Xs
P
prime mover limit

Under-excitation limit

rotor limit

y
z

Under-excited
Absorbing VArs
38

VI

VI

0 Over-excited
Exporting VArs
05/28/15

stator limit
Q

BATAS OPERASI
i.
ii.
iii.
iv.

The maximum power available from the prime over


The maximum current rating of the stator
The maximum excitation
The minimum excitation for stability and or stator end
winding heating

The operating chart ilustrated that sg connected to an infinite bus bar of


fixed voltage and frequency has essentially independent control over real
and reactive power.
Real power is varied by adjusting the torque on the shaft and hence rotor angle.
Reactive power is adjusted by varying the filed current and hence the magnitude Ef.
39

05/28/15

KONTROL OPERASI
Turbine

Generator

Xs

C
V

V = 1pu
f = 50 Hz

V,I
MVAr/
cos

AVR

speed

Infinite busbar

Total source
impedance

MVAr/cos
Set point

MW

Governor
MW set point

Control of an Embeded Generator


40

05/28/15

Transducers

SELESAI