Anda di halaman 1dari 2

ALTERASI HIDROTERMAL DAN MINERALISASI

BIJIH PADA ENDAPAN SULFIDA MASIF


VULKANIGENIK (VMS) TIPE KUROKO DAERAH
SANGKAROPI, SULAWESI SELATAN
post date: 17-Jun-2013
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi zonasi alterasi hidrotermal dan studi
paragenesa mineralisasi bijih pada endapan sulfida masif
vulkanigenik (VMS) tipe Kuroko daerah Sangkaropi. Metoda utama yang diterapkan
adalah pengamatan lapangan dan conto setangan
(handspecimen) serta analisis petrografi dan mineragrafi terhadap conto terpilih. Secara
geologi, batuan Tersier di daerah penelitian terdiri
dari 7 (tujuh) satuan litostratigrafi yaitu satuan batuan granitoid, piroklastik dasit, tufa
andesitik, piroklastik riolitik, basalt dan lava andesit.
Mineralisasi dan alterasi hidrotermal tersingkap di sepanjang zona sesar dan mengisi urat
membentuk stockwork, breccia filling dan fissure
filling. Endapan bijih sulfida masif menyerupai lensa yang besar dengan panjang sekitar
100 m dan lebar 20 m pada batuan piroklastik dasit
dan tufa andesitik. Pada umumnya tubuh bijih masif berwarna hitam dengan
pencampuran mineral bijih (polimetalik), tetapi terdapat pula
mineral bijih dalam bentuk lapisan. Mineral bijih yang utama pada tubuh bijih adalah
pirit, kalkopirit, sfalerit dan galena, selain itu terdapat
mineral asesoris yaitu kovelit, kalkosit, tetrahedrit, hematit, magnetit, malakit dan azurit.
Lapisan sfalerit sekitar 15 cm dengan arah
perlapisan N 340E/14 menunjukkan struktur banded. Mineral barit terdapat pada lapisan
atas tubuh bijih. Zona ubahan disekitar tubuh bijih
berupa silisifikasi, serisitisasi dan argilik. Studi paragenesa berdasarkan komposisi dan
tekstur mineral sulfida, teridentifikasi 3 fasa
pembentukan mineralisasi hipogen. Fasa pertama pembentukan mineral pirit, pyrrhotit,
magnetit dan tetrahedrit yang berbentuk irregular dan
digantikan oleh kalkopirit. Fasa kedua, terbentuk mineral kalkopirit yang menggantikan
pirit dan sebagian mengandung eksolusi sfalerit dan
galena. Fasa ketiga, pembentukan mineral kalkopirit yang menggantikan mineral sfalerit.
Mineralisasi hipogen tersebut diikuti oleh proses
pengkayaan supergen (supergene enrichment) yang membentuk mineral kovelit, malakit
dan azurit, sedangkan hematit merupakan hasil
oksidasi terhadap magnetit yang terbentuk sebelumnya.