Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH TENTANG

MATA UANG DINAR DAN DIRHAM


A.

LATAR BELAKANG MASALAH


Sistem moneter dalam perekonomian merupakan salah satu pilar terbesar dalam
memajukan pemerintahan. Mustahil sebuah bangsa dapat mengembangkan diri tanpa didasari
perkembangan sistem moneter ekonomi yang memadai pula. Namun sistem yang digunakan
harus sesuai dengan tuntutan syariah dan tentunya ditujukan hanya untuk mendapat ridha illahi
semata.
Dewasa ini, kesenjangan semakin melebar ketika krisis ekonomi datang bertubi-tubi.
Bencana ekonomi seolah menjadi kemestian. Era baru ekonomi dan keuangan dunia yang
ditandai oleh kemapanan fiat money, fractional reserve requirement, dan interest dianggap
sebagai tiga pilar penting dalam sistem moneter konvensional. Disebut era baru karena
penggandaan uang begitu dahsyatnya sehingga pertumbuhan sektor riil akan selau tertinggal dari
lompatan pertumbuhan sektor moneter.
Salah satu dari pilar yang menjadi kekuatan sistem moneter konvensional yaitu: uang
kertas, dengan cara dibolehkannya bank melakukan pencetakan uang dan sistem riba. Uang
kertas yang sekarang menjadi alat tukar kita, sebenarnya uang yang dipaksakan karena tidak
mempunyai nilai dari uang itu sendiri.
Maka dari itu untuk menggugah kesadaran baru betapa krusialnya peran dinar dan dirham
dalam menstabilkan sekaligus memakmurkan ekonomi umat, maka uang hampa dianggap
sebagai musuh asasi ekonomi Islam. Operasional institusi keuangan Islam tanpa kehadiran dinar
dan dirham sangat sukar membebaskan dirinya dari praktek-praktak riba, gharar, dan gambling.
Itulah sebabnya, upaya pendaulatan dinar dan dirham sebagai mata uang tunggal harus segera
diwujudkan. Pada saat itulah Bangsa Indonesia harus sudah siap dengan Dinar dan Dirham. Jika
tidak, ekonomi Bangsa ini akan terus terpuruk.

Semua akan diungkap secara lugas dan

transparan melalui tulisan yang sederhana ini.


B.

RUMUSAN MASALAH
Berangkat dari latar belakang masalah yang telah dipaparkan sebelumnya, adapun rumusan
masalahnya adalah Bagaimana penerapan dinar dan dirham sebagai solusi pengganti sistem
moneter konvensional dalam mewujudkan kemakmuran bangsa.

C.

TUJUAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui formulasi penerapan
dinar dan dirham sebagai solusi pengganti sistem moneter konvensional dalam mewujudkan
kemakmuran bangsa.

D.

MANFAAT
Adapun manfaat dari penulisan karya tulis ini adalah:
1. Hasil penulisan makalah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pemerintah, akademisi,
praktisi maupun masyarakat umum sebagai fasilitator sekaligus pelaku dalam penerapan
dinar dan dirham sebagai solusi pengganti sistem moneter konvensional dalam
mewujudkan cita-cita founding father Bangsa Indonesia.
2. Penulisan makalah ini diharapkan sebagai sumbangan pemikiran dan referensi yang
diharapkan dapat berguna bagi penulisan karya tulis selanjutnya.

BAB II
ANALISIS PERMASALAHAN
A.

PERJALANAN UANG DARI WAKTU KE WAKTU


Sejarah perkembangan uang dalam dunia Islam. Bagaimana sebenarnya Rasulullah SAW,
generasi sahabat dan generasi sesudahnya yang menggunakan uang.
Pada zaman Rasulullah SAW dikenal dua jenis uang yaitu uang yang berupa komoditi
logam dan koin yang berasal dari kekaisaran Roma (Byzantine). Dua jenis uang logam yang
digunakan adalah emas (Dinar) dan perak (Dirham). Logam tembaga juga digunakan secara
terbatas dan tidak sepenuhnya dihukumi sebagai uang, disebut fulus.
Tercatat bahwa Dirham dicetak pertama kali oleh Kekalifahan Umar bin Khattab pada
sekitar abad 18 H, meskipun demikian koin logam emas dan perak dari Byzantine tetap juga
diterima oleh masyarakat Islam. Dinar dicetak pertama kali pada zaman Kekalifahan Muawiya
bin Abu Sufyan (41-60H), meskipun juga koin emas dan perak dari Byzantine tetap dipakai
sampai sekitar tahun 75H-76 H pada zaman Kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan, ketika yang
terakhir ini melakukan reformasi finansialnya dan mulai saat itu hanya Dinar dan Dirham yang
dicetak sendiri oleh Kekhalifan Islam yang berlaku.
Usaha memaksakan uang tanpa nilai intrinsik (uang kertas) pada dunia Islam sebenarnya
juga pernah dilakukan oleh kekaisaran Mongol pada tahun 1294, namun gagal total hanya dalam
dua bulan karena masyarakat Islam menolaknya.
Abad berikutnya tepatnya mulai abad ke 19 uang kertas mulai diperkenalkan lagi ke dunia
Islam (tentu juga dunia di luar Islam) melalui dua tahap. Tahap pertama masih didukung penuh
dengan cadangan emas yang dikenal dengan Gold Standard atau Gold Exchange Standard. Tahap
kedua adalah uang kertas atau uang fiat yang kita kenal sampai sekarang yang tidak didukung
dengan cadangan emas.
Uang kertas terakhir ini sebenarnya mengandung ketidak pastian yang sangat tinggi
terhadap nilainya (gharar) seperti yang sudah terbukti di Indonesia melalui dua kejadian yaitu
Sanering Rupiah 1965 dan Krisis Moneter 1997-1998. Peningkatan risiko ini disebabkan pertama
karena uang kertas atau uang fiat yang tidak memiliki nilai intrinsik, dan kedua karena
perdagangan internasional sudah semakin luas sehingga keterikatan sosial antar pelaku pasar
sudah semakin renggang. Sedikit saja kepercayaan pasar menurun terhadap suatu mata uang,
maka hancurlah mata uang tersebut.

B.

HAKIM YANG ADIL BERNAMA DINAR DAN DIRHAM


Ulama besar Imam Ghazali (1058M-1111M) dalam bukunya yang legendaris Ihya
Ulumuddin mengungkapkan bahwa Allah menciptakan Emas dan Perak agar keduanya menjadi
`Hakim` yang adil dalam memberikan nilai atau harga, dengan Emas dan Perak pula manusia
bisa memperoleh barang-barang yang dibutuhkannya.
Yang dimaksud oleh Imam Ghazali dengan Emas dan Perak dalam bukunya tersebut adalah
Dinar yaitu uang yang dibuat dari emas 22 karat dengan berat 4.25 gram, dan Dirham yaitu uang
yang dibuat dari perak murni seberat 2.975 gram. Standar berat mata uang Dinar dan Dirham ini
ditentukan oleh Khalifah Umar Bin Khattab sekitar 400 tahun sebelum Imam Ghazali menulis
buku tersebut.
Wujud keseimbangan lainya dari dinar dan dirham yakni akan menimbulkan kestabilan
moneter. Tidak seperti uang kertas, uang cenderung membawa instabilitas dunia dikarenakan
penambahan uang kertas yang secara tiba-tiba. Emas biasanya tidak mudah ditemukan dalam
jumlah yang berlimpah. Dalam perkiraan terbaik, persediaan emas global dalam 300 tahun
terakhir hanya bertambah rata-rata 2% per tahun. Tingkat pertumbuhan ini jauh di bawah
pertumbuhan uang beredar berdasarkan perbankan modern yang menggunakan uang kertas.
Kemudian dua mata uang itu akan menciptakan keseimbangan neraca pembayaran antar
Negara-negara secara otomatis, untuk mengoreksi defisit dalam pembayaran tanpa intervensi
bank sentral. Mekanisme ini disebut dengan automatic adjustment yang akan bekerja
menyelesaikan defisit pada perdagangan antar Negara.
Yang tidak kalah pentingnya, dinar dan dirham akan memiliki kurs yang stabil antar
Negara. Ini karena mata uang masing-masing Negara akan mengambil posisi tertentu terhadap
emas dan perak. Dengan demikian pada hakikatnya di seluruh dunia hanya terdapat satu mata
uang, yaitu emas dan perak, meski mata uang yang beredar akan bermacam-macam di berbagai
Negara.

C.

SOLUSI UNTUK MENINGGALKAN SISTEM FIAT MONEY,

FRACTIONAL

RESERVE REQUIREMENT DAN INTEREST


Sering kita dengar istilah three pilars of evil dari sistem perbankan konvensional modern
yakni Fiat Money (uang kertas), Fractional Reserve Requirement (cadangan minimal uang di
Bank), dan Interest (Bunga atau Riba). Ketiga hal inilah yang memperkokoh sistem perbankan
yang sangat merusak hidup banyak manusia, oleh karena itu disebut three pilars of evil (tiga pilar
setan).
1.

Fiat Money
Dulu orang mengenal uang dalam berbagai bentuk, diantaranya adalah kulit kerang, garam
dll. Alat tukar ini pada prakteknya mudah mengalami kerusakan dan tidak tahan lama. Akhirnya
setelah ditemukan emas, maka emas menjadi alat tukar yang paling sempurna dan dipakai lebih
dari 14 abad. Fakta yang mengejutkan adalah bahwa emas adalah material yang langka sehingga
sangat sesuai menjadi alat tukar dan produksinya selalu mengikuti produksi sektor riil sehingga
nilainya stabil.
Dari dulu uang kertas berfungsi untuk menjamin bahwa seseorang memiliki emas dengan
jumlah tertentu, namun ketamakan segelintir manusia yang memegang kekuasaan atas
pencetakan uang mulai mencetak uang dengan seenaknya tanpa memiliki jaminan emas. Artinya
uang bisa dihasilkan dari ruang hampa hanya perlu bermodalkan mesin pencetak. Inilah
penyebab inflasi karena uang terlalu banyak beredar di masyarakat.
Perlu diketahui bahwa setiap kali bank sentral suatu negara mencetak sejumlah uang, maka
pada saat itu juga masyarakat suatu negara bertambah miskin akibat inflasi, sedangkan pihak
yang mencetak uang dapat semaunya membeli barang atau jasa tanpa perlu bersusah payah.
Bayangkan hasil bumi suatu negara yang sulit diproduksi dapat dibeli hanya dengan kertas
jaminan (utang) yang tidak bernilai. Sungguh ini merupakan sistem setan yang menyengsarakan
umat manusia.
Pada awal kemunculan uang kertas, masyarakat menyimpan emasnya dengan surat jaminan
dapat menukarkan surat jaminan itu setiap saat, sehingga masyarakat percaya akan kertas surat
jaminan yang tidak bernilai secara intrinsik tersebut. Setelah masyarakat menjadi lebih percaya,
emas yang mereka simpan menjadi sangat jarang mereka ambil karena yakin emasnya akan
dapat diambil bila sewaktu-waktu dibutuhkan.

Para bankir yang tamak dan jahat melihat suatu peluang untuk melipat gandakan hartanya
dengan suatu taktik licik yang sekarang menjadi kurikulum yang dipelajari oleh semua
mahasiswa ekonomi dan perbankan. Taktik ini disebut fractional reserve requirement.
2.

Fractional Reserve Requirement


Fractional reserve requirement adalah suatu peraturan pada perbankan yang mengharuskan
setiap bank memiliki minimal 10% dari uang yang dikreditkan/dipinjamkan, artinya bila jumlah
yang dikreditkan sebesar 100 juta, maka bank harus tetap memiliki dana cadangan yang dapat
dicairkan sewaktu-waktu sebesar 10 juta (10%).
Apa yang salah dari sistem ini? bukankah benar tujuannya agar bila ada nasabah yang ingin
mencairkan uangnya dapat mengambil dari cadangan tersebut. Maksudnya untuk berjaga-jaga.
Semua orang akan terkejut bila mengetahui latar belakang dari salah satu pilar setan perbankan
konvensional modern ini.
Menyambung dari bagian sebelumnya dimana para bankir mengetahui dari pengalaman dan
statistik sebagai pengelola uang yaitu bahwa setiap bulannya, ternyata hanya sekitar 10% saja
dari seluruh emas ini yang ditukarkan kembali menjadi emas, ini terjadi akibat kepercayaan
masyarakat terhadap uang kertas semakin tinggi dan betapa praktisnya menggunakan uang kertas
sehingga masyarakat mulai menganggap uang kertas sebagai uang yang sebenarnya.
Masih ada satu pilar setan lagi yang mendukung kedua pilar lainnya yaitu interest alias
bunga alias riba.

3.

Interest
Interest atau riba dikatakan oleh Albert Einstein sebagai keajaiban dunia ke 8. Sebenarnya
pernyataan ini menyatakan bahwa efek dari compunding interest yang diaplikasikan oleh
perbankan konvensional modern sungguh dahsyat implikasinya terhadap dunia. Bahkan sistem
riba ini dapat dijadikan suatu strategi untuk mengambil alih aset seseorang bahkan aset suatu
negara.
Setelah bank memberi kredit atau pinjaman yang jauh melebihi jumlah emas yang
dimilikinya, mereka akan memungut suatu bayaran atas modalnya dengan interest tertentu.
Mereka berdalih bahwa tambahan bayaran ini sebagai kompensasi dari uang mereka yang tidak
produktif. Teori ini disebut NPV (net present value) yang semua ekonom bahkan orang awam
juga mengetahuinya. Apa yang berikutnya terjadi? karena uang kertas yang dikreditkan sangat
besar, sedangkan uang aslinya yaitu emas tidak sebanyak itu, maka yang terjadi adalah sebagian

orang dapat membayar hutang sekaligus bunganya tapi juga banyak yang tidak mampu melunasi
hutangnya, uang untuk melunasi hutangnya darimana? toh jumlah emasnya saja tidak
mencukupi. Perbandingan emas dan uang kertas adalah 10:90 (akibat sistem fractional reserve
requirement). Akhirnya terjadilah penyitaan aset seperti rumah dan properti lainnya. Dapat
dilihat bahwa tiga pilar ini saling menyokong satu sama lain untuk menyengsarakan orang
banyak dan sistem inilah yang sekarang disebut kapitalis.
Perlu kita ketahui bersama bahwa 3 pilar setan keuangan ini saling mendukung satu sama
lain dan didesain dengan sempurna untuk para kapitalis. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah
untuk menguasai emas dunia yang merupakan harta dan uang yang sejati.
D. TAHAPAN IMPLEMENTASI DINAR DAN DIRHAM
Telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya problem yang dihadapai oleh uang kertas,
problem tersebut sudah terjadi di berbagai belahan dunia dari berbagai rentang waktu. Kitapun di
Indonesia pernah mengalaminya secara pahit di tahun 1965 ketika harus ada pemotongan uang
kertas atau Sanering Rupiah, juga di tahun 1997-1998 ketika kita harus kehilangan kedaulatan
ekonomi kita dengan menyerah kepada seluruh kemauan IMF.
Disisi lain kita juga menyadari bahwa kembali ke Dinar dan Dirham tidaklah semudah
membalik telapak tangan. Meskipun demikian apabila kita memiliki niat yang lurus untuk
mencari solusi dari problematika umat zaman ini dengan meneladani Uswatun Hasanah kita
Rasulullah SAW, kemudian kita beristiqomah dijalan ini, insyaallah umat ini akan kembali
berjaya seperti yang pernah ditunjukkannya selama 14 abad lamanya mulai dari zaman
Kenabian, jaman Kalifah ur-Rasyidin sampai kejatuhan kekalifahan Usmaniah di Turki.
Yang kita lakukan ini mungkin nampak kecil di mata para ekonom dan ahli moneter,
mungkin tidak ada artinya bagi mereka atau bahkan akan menjadi bahan cemoohan, namun
dengan niat yang lurus, niat yang ikhlas untuk kembali kepada solusi Islam, maka insyaallah
Allah pulalah yang meneruskan ikhtiar ini. Berikut adalah ikhtiar yang berupa langkah-langkah
penggunaan Dinar dan Dirham tahap demi tahap dari posisi kita sekarang:

Pertama, penggunaan Dinar dan Dirham pada saat belum dikenal luas dan belum diakui
sebagai uang.
Inilah situasi dimana kita mulai memperkenalkan kembali Dinar bagi kaum muslimin di
Indonesia. Perlu diperkenalkan kembali karena bahkan di kalangan umat Islam sendiri banyak

yang belum mengetahui tentang Dinar dan Dirham, padahal perhitungan zakat maal di qiyaskan
dengan Dinar dan Dirham. Lebih banyak lagi yang belum mengetahui bahwa Dinar dan Dirham
adalah hal yang nyata yang saat ini pun bisa dibeli bebas di berbagai tempat di negeri ini.
Pada tahap ini kita juga belum berharap banyak terhadap pemerintah untuk mengakui bahwa
Dinar dan Dirham adalah mata uang resmi yang diakui sebagai mata uang disamping Rupiah.
Lalu apa yang bisa kita lakukan dengan mata uang yang belum diakui sebagai uang oleh
1.

pemerintah dan belum dikenal pula oleh masyarakat luas? jawabannya adalah sbb :
Dinar dan Dirham saat ini memang belum diakui oleh pemerintah sebagai mata uang, namun
karena mata uang ini berharga bukan karena pengakuan pemerintah sebagaimana mata uang
kertas, melainkan karena bendanya sendiri memang berharga (emas 22 karat atau perak murni)
maka pemegang mata uang ini memegang nilai tukar yang sesungguhnya, yang dia bisa tukarkan

2.

dengan barang berharga lain apapun dan kapanpun dia mau.


Karena nilai mata uang Dinar dan Dirham melekat pada barangnya sendiri, tidak ada pihak luar
yang bisa merusak atau menghancurkan nilainya. Oleh karenanya mata uang Dinar dan Dirham
dapat digunakan sebagai simpanan yang paling aman nilainya dibandingkan dengan nilai mata
uang Rupiah, Dollar AS dan uang fiat lainnya di seluruh dunia. Nilainya yang terus terappresiasi

3.

terhadap mata uang kertas yang membuktikan keperkasaan Dinar selama ini.
Karena daya belinya yang tetap tinggi sepanjang masa, Dinar dan Dirham sangat cocok untuk
transaksi muamalat yang bersifat jangka menengah sampai panjang di kala mata uang kertas
tidak bisa digunakan sebagai alat transaksi yang adil karena nilainya yang terus berubah. Pinjam
meminjam, invetasi bagi hasil (Qirad dan Mudharabah) ataupun kerjasama usaha (musyarakah)
dengan berbasis Dinar dan Dirham akan bisa lebih adil baik bagi yang menyediakan modal
maupun yang menjalankan usaha. Umat Islam tidak dianjurkan untuk menumpuk harta yang
tidak produktif, oleh karenanya investasi yang aman dan adil sesuai syariah akan menjadi solusi

4.

yang efektif bagi surplus pendapatan yang ada di kaum muslimin.


Dinar dan Dirham dapat digunakan untuk perencanaan keuangan yang aman, misalnya untuk
merencanakan biaya pendidikan anak, pengobatan kesehatan di hari tua, persiapan pensiun dsb.
Perlunya dana ini diinvestasikan adalah untuk menjaga minimal agar Dinar tidak hanya disimpan
sehingga tidak produktif dan tergerus oleh zakat, itulah sebabnya dalam Islam bahkan ketika kita
mendapat amanah untuk mengelola anak yatimpun sangat dianjurkan untuk mengelola dana
tersebut untuk kepentingan yang produktif agar tidak habis terkena zakat.

5.

Secara fisik Dinar dan Dirham untuk kepentingan tabungan, investasi, muamalah atau bahkan
untuk ibadah (membayar zakat misalnya) dapat dibeli di berbagai tempat penjualan dinar yang
tersebar di berbagai kota di seluruh Indonesia.
Kedua, penggunaan Dinar dan Dirham pada saat mulai dikenal luas tetapi belum diakui
sebagai uang.
Dalam tahap ini ketika Dinar dan Dirham sudah mulai dikenal secara luas, maka
penggunaannya untuk kepentingan transaksi antara sesama pengguna dinar dapat dioptimalkan.
Saat ini dapat menggunakan mobile dinar (www.m-dinar.com) untuk saling bertransaksi antar
pengguna dinar. Kemudian di Dubai ada pula E-Dinar yang memfasilitasi antara pemegang
account E-Dinar dengan pedagang atau penjual jasa yang juga sudah melayani pembayaran
dengan menggunalan E-Dinar.
Contoh lain dari penggunaan Dinar di zaman modern ini adalah menggunakannya sebagai
kartu tagih (Charge Card) yang berbasis Dinar sebut saja Dinar Card. Cara beroperasinya mirip
dengan kartu sejenis yang berbasis uang kertas, hanya setiap ada transaksi ditagihkan ke account
dinar dari pemegang kartu yang bersangkutan.
Contoh berikutnya yang juga bisa diperkenalkan pada tahap ini adalah penggunaan Dinar
sebagai basis Mobile Payment System (MPS) yang teknologinya sedang diperebutkan secara
ketat oleh para pemain MPS dunia. Dengan teknologi MPS ini, telepon genggam yang saat ini
sudah dimiliki ratusan juta penduduk dunia dapat berubah menjadi alat pembayaran yang efektif
dari pengguna yang satu ke pengguna lainnya. Dengan teknologi MPS ini, uang Dinar dapat
digunakan sepraktis uang manapun di dunia, namun tetap dengan keunggulannya yang hakiki
yaitu nilai yang tidak bisa rusak atau dirusak oleh spekulan mata uang, Dinar juga akan selalu
bisa diklaim kembali uang fisiknya sehingga akan tetap paling aman dari sisi resiko kejahatan
penjahat-penjahat era cyber yang semakin canggih.
Ketiga, penggunaan Dinar & Dirham secara luas dan siap bersaing dengan mata uang
masa depan
Sebenarnya sudah beberapa dasawarsa terakhir ini terjadi persaingan yang sangat keras
antar para pelaku perbankan dan pelaku teknologi informasi dunia untuk bersaing
mendefinisikan uang masa depan. Berikut adalah contoh-contoh persaingan tersebut.
Beberapa nama perusahaan yang relatif belum terkenal, telah melahirkan berbagai uang
untuk zaman cyber ini dengan nama-nama seperti Mondex, E-Cash, Digi Cash, Cyber Cash,
Gold Money, E-Gold, E-Dinar, dan M-Dinar. Uang-uang cyber ini telah menemukan pasarnya

sendiri-sendiri namun belum dikenal secara luas oleh masyarakat kebanyakan. Sementara itu
perusahaan dengan nama global seperti Microsoft, Visa & Citicorp tentu tidak mau ketinggalan.
Mereka tentu sudah lama juga melihat fenomena dan peluang ini, Citicorp bahkan telah
menggagas

apa

yang

mereka

sebut

sebagai

Electronic

Monetary

System.

Namun apapun nantinya yang berjaya di dunia cyber, mungkin bukan Rupiah, bukan juga US$
atau Euro. Mata uang yang akan lahir untuk dunia masa depan ini akan berlaku universal tidak
mengenal batas Negara dan mungkin juga bisa lepas dari pengawasan bank sentral dari masingmasing negara. Bahkan untuk transaksi dengan uang masa depan tersebut bisa jadi tidak lagi
membutuhkan perantaraan institusi perbankan.
Sampai sejauh ini persaingan melahirkan icon uang masa depan tersebut belum melahirkan
pemenang. Sejumlah masalah masih harus diselesaikan sebelum persaingan ini berakhir.
1
2
3
4
5
6
7

Masalah-masalah tersebut antara lain menyangkut:


Akan diberi nama apa uang ini, apa satuannya dan bagaimana mengukur nilainya?
Siapa yang mau menggunakan uang ini secara luas?
Negara mana atau perusahaan mana yang berhak mengeluarkan uang masa depan ini?
Bagaimana membedakan yang uang cyber sesungguhnya dengan yang palsu?
Bagaimana melindungi kekayaan dalam bentuk uang cyber dari jarahan orang yang tidak
berhak?
Bagaimana bentuk konversinya ke uang fisik seperti yang kita gunakan sekarang?
Dan sederet daftar pertanyaan lain yang perlu dicarikan jawabannya dari waktu ke waktu.
Terlepas dari kemungkinan berbagai masalah yang perlu diantisipasi, dari daftar
pertanyaan atau permasalahan tersebut. Dinar dan Dirham akan paling siap menjawab pertanyaan

dan permasalahan yang ada, kita lihat jawaban tersebut adalah sbb :
1. Akan diberi nama apa uang ini, apa satuannya dan bagaimana mengukur nilainya?
Namanya tentu Dinar atau Dirham, satuan dan ukurannya mengikuti contoh Rasulullah SAW
berdasarkan timbangan penduduk Makkah waktu itu yaitu 1 Mitsqal sama dengan timbangan
sekarang 4,25 gr emas untuk 1 Dinar. Perbandingan berat Dinar & Dirham mengikuti ketentuan
khalifah Umar bin Khattab yaitu 7 Dinar sama dengan 10 Dirham, berarti berat 1 Dirham adalah
2,975 gram. Nilainya mengikuti pergerakan permintaan dan penawaran di pasar.
2. Siapa yang mau menggunakan uang ini secara luas?
Umat Islam di seluruh dunia tentu siap menggunakannya, dan ini berarti sekitar 2,5 milyar
penduduk.
3. Negara mana atau perusahaan mana yang berhak mengeluarkan uang masa depan ini?
Negara-negara atau bahkan juga mungkin institusi yang memenuhi syarat yg ditunjuk dapat
menerbitkan uang Dinar dan Dirham toh ini harus dibuat dari bahan emas 22 karat seberat 4,25

gram dan perak murni seberat 2,975 gram. Siapapun yang membuat tidak terlalu masalah asal
memenuhi kriteria standar dan diberi wewenang tersebut.
4. Bagaimana membedakan yang uang cyber sesungguhnya

dengan

yang

palsu?

Uang Dinar & Dirham yang asli selalu bisa diambil secara fisik dimanapun account tersebut
berada.
5. Bagaimana melindungi kekayaan dalam bentuk uang cyber dari jarahan orang yang tidak berhak?
Dukungan uang fisik Dinar dan Dirham akan membuat uang ini tidak mudah dibobol oleh
kejahatan cyber yang paling canggih sekalipun.
6. Bagaimana bentuk konversinya ke uang fisik seperti yang kita gunakan sekarang?
Uang Dinar dan Dirham esensinya adalah uang fisik, teknologi hanya sebagai alat bantu untuk
memudahkan transaksi tetapi tidak menggantikan kedudukan uang fisik tersebut. Jadi cyber
Dinar & cyber Dirham akan selalu convertible ke Dinar dan Dirham yang sesungguhnya.
7. Dan sederet daftar pertanyaan lain yang perlu dicarikan jawabannya dari waktu ke waktu.Islam
sebagai agama akhir zaman, insya Allah selalu siap menjawab semua tantangan kehidupan
manusia akhir zaman.
Maka dengan melalui tahapan-tahapan tersebut di atas dan peluang-peluang yang akan
selalu muncul dalam kembalinya Dinar & Dirham sebagai alat tukar dalam sistem moneter
internasional adalah sebuah keniscayaan seperti Hadits dalam Musnad Imam Ahmad
Diriwayatkan oleh Abu Bakar ibnu Abi Maryam bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW
bersabda, Masanya akan tiba pada umat manusia, ketika tidak ada apapun yang berguna selain
Dinar dan Dirham.
E. OPTIMISME YANG HARUS DIMILIKI OLEH BANGSA
Penerapannya di Indonesia sebenarnya memiliki kesempatan yang besar, karena Indonesia
sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia memiliki potensi yang sangat luar biasa.
Dalam penerapannya, sebenarnya mudah saja untuk penerapannya, namun masih perlu waktu
untuk memproses implementasi kedua mata uang Islam ini.
Dinar sebagai mata uang yang berfisik emas, memiliki banyak kelebihan, tentu saja lebih
banyak dari emas lantakan yang telah disadur di atas, karena Dinar telah memiliki nilai yang
lebih berharga akibat beberapa faktor, seperti biaya pencetakan yang tinggi. Dinar memiliki
kelebihan-kelebihan, seperti memiliki sifat unit account, yakni mudah dijumlahkan dan dibagi.
Kemudian memiliki nilai dakwah Islamiyah yang tinggi, karena nishab zakat pun bergantung
pada Dinar hakikatnya. Selain itu nilai jualnya kembali tinggi mengikuti harga emas
internasional; hanya dikurangi biaya administrasi dan penjualan sekitar 4 persen dari harga pasar,

jadi jika sepanjang tahun lalu Dinar mengalami kenaikan sebesar 31 persen, maka setelah
dipotong biaya 4 persen, hasil investasi kita masih sekitar 27 persen. Yang terakhir adalah mudah
diperjualbelikan karena tidak ada kendala model dan ukuran.
Di balik itu, Dinar pun juga memiliki kelemahan seperti ongkos cetak yang relatif tinggi,
yaitu berkisar antara 3-5 persen dari nilai barang tergantung dari jumlah pesanan. Selain itu, di
Indonesia Dinar masih dianggap sebagai perhiasan. Penjualnya terkena PPN sebesar 10 persen
sesuai Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 83/KMK.03/2002, bisa
diperhitungkan secara netto antara pajak keluaran dan pajak masukan toko emas maka yang
harus dibayar toko emas penjual Dinar adalah 2 persen.
Dengan segala keunggulannya yang melebihi kekurangannya, Dinar dan Dirham
diharapkan dapat diimplementasikan secara riil di tengah masyarakat. Prosesnya memang masih
panjang, namun tak menutup kemungkinan yang sangat besar bahwa Dinar dan Dirham akan
dijadikan sebuah mata uang umat Islam beberapa masa ke depan. Wakalah, yakni pusat
penukaran uang kertas dengan Dinar dan Dirham masih hanya terdapat satu buah di Indonesia.
Sudah seharusnya institusi ini diperbanyak dan dimeratakan di daerah, sehingga implementasi
Dinar dan Dirham secara riil dapat segera terlaksana. Semuanya takkan pernah berkembang, jika
umat Islam hanya diam saja dan terus terlena menggunakan uang kertas yang sejatinya tak
bernilai.
Sekedar menyitir perkataan seorang pengamat ekonomi kapitalistik Amerika, era uang
kertas perlahan akan berakhir; Dunia tidak punya pilihan lain kecuali kembali ke hard currency.
Manfaat dari hard currency sungguh dahsyat. Sistem ini di masa depan akan berdasarkan emas,
sama persis dengan yang terjadi dulu kala.
Ini merupakan sebuah isyarat dari seorang pelaku ekonomi konvensional bahwa era
penerapan uang kertas (fiat money) akan berakhir dalam waktu dekat. Semuanya akan berkiblat
pada uang yang berfisikkan emas dan perak. Kita tinggal menunggu waktunya saja sembari tetap
istiqomah melancarkan implementasi kedua mata uang mulia ini.
BAB III
PENUTUP
A.

KESIMPULAN
Uang sebagai alat tukar telah dikenal orang dan berkembang selama ribuan tahun.
Sementara di dunia barat rezim uang silih berganti dan penuh cerita kegagalan, Islam memiliki

konsep yang sangat baku tentang uang dan segala bentuk transaksi yang melibatkan uang. Bukan
hanya sebatas teori tetapi blue print kuangan Islam memang pernah diwujudkan dalam bentuk
nyata di awal-awal Kekhalifahan Islam dan terbukti hasilnya berupa kemakmuran bagi seluruh
rakyat.
Namun umat Islam justru terperosok kedalam keterpurukan ekonomi di berbagai negara di
zaman modern ini karena kita tidak berpegang pada sistem ekonomi dan moneter yang menjadi
tuntunan agama yang mulia ini. Dengan melihat potrer realita yang menunjukan semakin
lebarnya kesenjangan antara si miskin dan si kaya, maka sudah terjawablah kerapuhan dari
sistem Fiat Money, Fractional Reserve Requirement dan Interest yang selama ini diterapkan.
Kini dibutuhkanlah sebuah langkah yang jitu demi mengganti tiga pilar setan itu.
Ikhtiar yang menjadi bargaining position yakni memunculkan kembali mata uang dinar
dan dirham, dimana mata uang ini mempunyai nilai stabil dan universal. Sementara yang
diterapkan saat ini adalah mata uang saat yang sangat fluktuatif karena dicetak tanpa memiliki
jaminan selain itu juga karena menjadikan uang sebagai komoditi. Sehingga mudah sekali
digunakan untuk aktifitas yang sifatnya spekulatif di pasar uang.
Mata uang dinar merupakan mata uang yang aman untuk dimiliki. Mata uang dinar pernah
diterapkan pada masa Rasulullah dan Khilafah. Karena itu dinar merupakan solusi atas
permasalahan mata uang dan untuk menerapkannya kita harus memiliki sistem yang menerapkan
ekonomi Islam secara menyeluruh dan ini hanya bisa diterapkan dalam Negara yang menjadikan
Islam sebagai porosnya. Indonesia merupakan salah satu Negara yang mayoritas beragama islam
dan sumberdaya alamnya pun besar, sehingga ini memiliki potensi luar biasa dan dapat dijadikan
pijakan awal dalam menerapkan dinar dan dirham ditengah masyarakat demi mewujudkan
kemakmuran bangsa. Yang lebih penting adalah dapat mengundang barakah Allah Swt. Maha
Suci Allah atas ajaran-ajaran Islam yang tidak usang oleh zaman.
B.

SARAN
Melihat kesimpulan di atas, maka dapat dikemukakan sebuah saran yang kiranya dapat
bermanfaat bagi birokrasi pemerintah sebagai eksekutor kebijakan, akademisi maupun
masyarakat pada umumnya, yaitu sudah saatnya kita bersama-sama membuka mata dan hati
(sadar) untuk melihat betapa carut marutnya tatanan perekonomian bangsa. Tentu ini bukan
hanya tugas rumah pemerintah , namun kita kaum elit intelektual sudah menjadi sebuah

keniscayaan untuk mewujudkan misi bangsa, dan bersinergi bersama masyarakat guna
mewujudkan indonesia makmur dan sejahtera.

DAFTAR PUSTAKA
Adi Suryanto, 1001 Wacana Ekonomi Islam Mata Uang Dinar dan Dirham Klimaks Kemakmuran
Bangsa.htm blogspot.com
El-Diwany, Tarek.The Problem With Interest, Sistem Bunga Dan Prmasalahanya. Jakarta: Akbar.2003
Fitri Azizah, Irfani. Dinar dan Dirham Sebagai Mata Uang Tunggal Blok Perdagangan Negaranegara Islam. Yogyakarta: Jurnal Muamalah. 2003
Karim, Adiwarman. Ekonomi Islam Suatu Kajian Kontemporer. Jakarta : Gema Insani Press. 2001
Iqbal, M. Mengembalikan Kemakmuran Islam Dengan Dinar Dan Dirham. Jakarta: Spiritual Learning
Club. 2009 ,dll.

TUGAS MAKALAH KELOMPOK


EKONOMI POLITIK ISLAM
TEMA : MATA UANG

DISUSUN OLEH :
-

HUBUNGAN INTERNASIONAL
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA