Anda di halaman 1dari 6

1

Sakramen Krisma
http://pendalamanimankatolik.com/category/sakramen/sakramen-inisiasi-kristen/
Sakramen Krisma atau juga dikenal Sakramen Penguatan merupakan tanda kedewasaan iman seseorang. Penerimaan
Sakramen Krisma melengkapi rahmat pembaptisan dan menyempurnakan inisiasi. Melalui Sakramen Krisma,
seseorang diikat secara lebih kuat dan sempurna dengan Gereja serta diperkaya dengan daya kekuatan Roh Kudus.
Konsekuensi dari sakramen Krisma adalah tanggung jawab iman dan semakin wajib untuk menyebarluaskan dan
membela iman sebagai saksi Kristus.
Rahmat dalam Sakramen Krisma:
1.
Menjadikan kita sungguh Anak Allah.
2.
Menyatukan lebih teguh dengan Kristus.
3.
Menambahkan karunia Roh Kudus ke dalam diri kita.
4.
Mengikat kita lebih sempurna dengan Gereja.
5.
Menganugerahkan kepada kita kekuatan Roh Kudus.
Sakramen Baptis
Sakramen Baptis adalah sakramen pertama yang diterima oleh seseorang yang hendak menjadi anggota Gereja
Katolik. Sakramen Baptis adalah sakramen pertama dalam inisiasi Katolik. Inisiasi adalah penerimaan seseorang
masuk ke dalam atau menjadi anggota kelompok tertentu. Pembaptisan membebaskan penerimanya dari dosa asal
serta semua dosa pribadi dan dari hukum akibat dosa-dosa tersebut, dan membuat orang yang dibaptis itu mengambil
bagian dalam kehidupan Tritunggal Allah melalui rahmat yang menguduskan (rahmat pembenaran yang
mempersatukan pribadi yang bersangkutan dengan Kristus dan Gereja-Nya). Pembaptisan juga membuat
penerimanya mengambil bagian dalam imamat Kristus dan merupakan landasan komunio (persekutuan) antar semua
orang Kristen.
Sakramen Inisiasi dalam Gereja Katolik:
1.
Sakramen Baptis
2.
Sakramen Ekaristi
3.
Sakramen Krisma
3 Tahap Inisiasi Katolik:
1.
Masa pra-katekumenat/simpatisan menjadi Katekumen;
(Masa pemurnian motivasi calon, dituntut pertobatan dan iman)
2.
Masa katekumen menjadi calon baptis;
(Masa perkembangan iman calon baptis, merupakan masa pengajaran dan pembinaan iman)
3.
Masa calon baptis menjadi Baptisan Baru;
(Masa persiapan baptisan dan penerimaan menjadi anggota Gereja Katolik)
Sesudah dibaptis, para baptisan baru menerima atau mengalami masa pembinaaan iman sebagai baptisan baru yang
disebut mistagogi. Untuk dibaptis, seseorang harus percaya dan beriman kepada Kristus. Percaya kepada Kristus
berarti hidup sesuai dengan ajaran Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Melalui sakramen baptis seseorang
dilahirkan kembali dalam air dan roh. Lilin bernyala yang diterima oleh baptisan baru dalam upacara sakramen baptis
merupakan lambang baptisan baru yang sudah diterangi oleh Kristus dan harus senantiasa berusaha hidup dalam
terang Kristus.
Buah atau Rahmat Sakramen Baptis:
1.
Mendapat pengampunan dari segala dosa, baik dosa asal maupun dosa yang dibuatnya.
2.
Menjadi ciptaan baru dan dilantik menjadi anak Allah.
3.
Memperoleh rahmat pengudusan yang membuatnya sanggup semakin percaya kepada Allah, berharap
kepada-Nya, dan mencintai-Nya. Membuatnya hidup di bawah bimbingan dan dorongan Roh Kudus.
Membuatnya sanggup bertumbuh dalam kebaikan.
4.
Digabungkan menjadi Anggota Gereja, sebagai bagian dari Tubuh Mistik Kristus.
5.
Dimateraikan secara kekal dalam sebuah materai rohani yang tak terhapuskan, sebagai bagian dari Kristus.
Macam-macam Baptisan:
1.
Baptisan Bayi: Baptisan yang diterima saat masih bayi.
2.
Baptisan Dewasa: Baptisan yang diterima saat sudah dewasa.
3.
Baptisan Rindu: Saat seseorang ingin dibaptis dan ingin menjadi anggota Gereja Katolik, menjalani masa
katekumenat namun sebelum dibaptis, ia sudah meninggal. Maka ia sudah menerima Baptisan Rindu.
4.
Baptisan Darah: Saat seseorang ingin dibaptis dan ingin menjadi anggota Gereja Katolik, menjalani masa
katekumenat namun sebelum dibaptis, ia sudah meninggal karena membela imannya.

Peristiwa Paska dan Pentekosta


Perlu diperhatikan bahwa dalam sakramen Krisma orang beriman diperkaya dengan daya kekuatan Roh Kudus yang
istimewa (LG 11). Keistimewaan itu ditunjuk dengan pengkhususan Roh Kudus, yang pada hari Pentekosta diutus
Tuhan kepada para rasul. Pembaptisan dan Krisma dibedakan (dan berhubungan!) seperti Paska dan Pentekosta.
Pada hari Paska, Allah membangkitkan Kristus dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya
di surga (Ef 1:20). Kemudian pada hari Pentekosta, Kristus sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan
menerima Roh Kudus, maka mencurahkan-Nya kepada para rasul (Kis 2:33) dengan tujuan agar kalau Roh Kudus
turun ke atas kamu, kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem, di seluruh Yudea dan Samaria, dan sampai ke ujung
bumi (Kis 1:8). Paska berarti Yesus dengan ke-manusiaan-Nya masuk ke dalam kemuliaan ilahi. Pentekosta berarti
Roh Kudus, yang keluar dari Bapa (Yoh 15:27), diutus ke dalam dunia.
Perbedaan arah ini juga kentara dalam kedua kisah mengenai kenaikan Yesus ke surga. Pada akhir Injilnya Lukas
menceriterakan bagaimana Yesus memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari
mereka dan terangkat ke surga (Luk 24:50-51). Sebaliknya pada awal Kisah Para Rasul dikatakan: Kamu akan
menjadi saksi-Ku. Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia dan awan menutup-Nya dari pandangan
mereka (Kis 1:9). Masih ditambahkan teguran dua malaikat: Hai orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat
ke langit? (Kis 1:11). Mereka diutus ke dunia, maka harus melihat ke depan, tidak ke atas.
Begitu juga dengan Pembaptisan dan Krisma. Pembaptisan, yang disebut pintu (LG 11) untuk masuk menjadi
anggota umat Allah (PO 5), mengarahke dalam. Sebaliknya Krisma, yang mewajibkan orang menyebarluaskan dan
membela iman sebagai saksi Kristus yang sejati (LG 11), mengarah ke luar. Tentu saja dengan baptis dan
penguatan/krisma orang ditugaskan untuk kerasulan (LG 33; lih. AG 36). Dengan demikian, kelihatan bahwa inisiasi
merupakan proses: masuk kemudian diutus. Tentu saja, seseorang tidak masuk Gereja untuk mapan di situ,
melainkan supaya diutus. Oleh karena itu kedua sakramen bersama membuat orang menjadi anggota Gereja dalam
arti penuh. Tetapi karena arahnya yang berbeda, kedua sakramen ini pantas dibedakan,

Pembaptisan dan Krisma


Dalam buku Inisiasi Kristen dikatakan bahwa ketiga sakramen inisiasi (Pembaptisan, Krisma, dan Ekaristi) sebaiknya
dirayakan bersama-sama dalam satu upacara, sedapat-dapatnya pada malam Paska. Namun upacara Krisma boleh
juga dirayakan pada akhir masa mistagogi (pengantar ke dalam praktik kehidupan Kristiani), misalnya pada hari raya
Pentekosta. Ketetapan ini bukan hanya perkara praktis atau soal pembagian waktu. Masalah satu atau dua upacara
mencerminkan sejarah upacara Krisma, yang masih dapat dilihat pada upacara sekarang. Di atas sudah dikatakan
bahwa baptisan baru, sesudah pembaptisan, diurapi. Itu sudah menjadi kebiasaan kuno, barangkali mulai abad ketiga.
Tetapi ditetapkan bahwa pengurapan itu hanya dilakukan jika tidak mungkin sakramen Krisma dirayakan dalam
upacara ini. Rupa-rupanya ada hubungan antara pengurapan sesudah pembaptisan dan sakramen Krisma. Sejarah
ini tidak seluruhnya jelas.
Semula memang seluruh upacara inisiasi dilakukan oleh uskup (sebab pada waktu itu hampir setiap paroki dikepalai
oleh seorang uskup). Dalam abad-abad berikut tetap ada pengurapan oleh uskup, yang disebut Krisma, tetapi juga ada
pengurapan oleh imam (atau petugas lain) langsung sesudah pembaptisan. Krisma dipandang sebagai sakramen,
sedangkan pengurapan oleh imam merupakan sakramentali. Ketika semua itu masih dilakukan oleh uskup, terang ada
satu upacara, dan juga dipandang sebagai satu sakramen, yakni sakramen inisiasi. Dengan adanya dua upacara juga
timbul kesadaran bahwa ada dua sakramen, yakni Baptis dan Krisma. Maka sekarang timbul pertanyaan: dua
sakramen atau satu sakramen? Tidak ada jawaban yang jelas atas pertanyaan itu, lebih-lebih karena Perjanjian Baru
tidak mengenal upacara pengurapan dalam hubungan dengan pembaptisan, entah langsung sesudahnya entah lebih
kemudian.
Sering kali Kis 8:14-17 (Petrus dan Yohanes yang meletakkan tangan atas orang yang baru dibaptis oleh Filipus) dan
19:1-7 (Paulus yang meletakkan tangan atas orang yang hanya menerima pembaptisan Yohanes), dilihat sebagai
awal sakramen Krisma, karena yang melakukannya adalah rasul-rasul dan karena diberikan Roh Kudus. Tetapi
barangkali harus dikatakan bahwa dengan upacara itu para rasul mau melengkapi pembaptisan yang telah diterima.

3
Kalau orang yang dibaptis belum menerima Roh Kudus, pembaptisan belum lengkap. Kiranya di sini Pembaptisan
dan Krisma justru tidakdibedakan.
Kesadaran ini baru muncul pada zaman Tertulianus (160-220). Bersama dengan itu berkembang terus arti Pentekosta
sebagai saat Gereja mendapat perutusannya dari Tuhan yang mulia. Perkembangan dalam pemahaman akan arti
perutusan itu serta penguatan khusus untuk itu oleh Roh Kudus, terungkap juga dalam liturgi inisiasi. Dua upacara
dalam inisiasi memang baru dikenal sejak abad ketiga, tetapi kesadaran akan perbedaan antara Paska dan Pentekosta
sudah ada dalam Kitab Suci (lih. Yoh 7:39 Roh belum datang, karena Yesus belum dimuliakan). Menghubungkan
dua tahap dalam proses kelahiran Gereja dengan proses inisiasi, baru terjadi dalam perkembangan tradisi Gereja.
Tahap kedua inisiasi sekarang disebut Krisma, guna membedakan pengurapan itu dari pembaptisan. Kedua
sakramen ini dibedakan menurut kekhususan upacaranya. Lama sekali Krisma disebut sakramen penguatan. Nama
itu tidak ada sangkut-pautnya dengan upacara liturgisnya, tetapi menunjuk kepada isi dan artinya: dikuatkan untuk
tampil sebagai saksi Kristus, baik dengan perkataan maupun (terutama) dengan corak kehidupan.
Dari uraian di atas kiranya sudah jelas bahwa Pembaptisan bukan seluruh inisiasi Kristen. Pembaptisan merupakan
kesatuan yang erat, khususnya dengan Krisma. Namun kedua sakramen itu, lebih-lebih lagi Ekaristi, mempunyai
kekhasan dan maknanya sendiri, sehingga oleh Gereja dibedakan sebagai tiga sakramen.

Pembaptisan dalam Kitab Suci


Sama seperti Ekaristi dan pengurapan orang sakit, begitu juga pembaptisan bukanlah penemuan Tuhan Yesus.
Upacara pembaptisan berakar dalam adat-istiadat orang Yahudi. Agama Yahudi mengenal macam-macam upacara
permandian atau penyucian untuk membersihkan orang dari dosa atau dari kenajisan, sehingga ia boleh ikut upacara
agama (lih. Im 15:5.8.10.13.18.22; 16:4.24 dst.). Dalam agama-agama adat di sekitar lingkungan Yahudi, umumnya
juga dikenal upacara pembersihan semacam itu.
Pada zaman Yesus di kalangan Yahudi di sana-sini juga ada semacam inisiasi dengan upacara permandian, sebagai
pengenangan akan bangsa Yahudi yang melintasi Laut Merah. Dalam kerangka itu muncullah gerakan Yohanes
Pembaptis, yang membaptis orang sebagai tanda pertobatan (Mat 3:11). Dengan demikian Yohanes mau
mempersiapkan orang menghadapi murka yang akan datang (Mat 3:7). Yohanes sadar bahwa Allah akan
menghukum bangsa-Nya dalam waktu yang singkat. Satu-satunya jalan keluar adalah pertobatan, yang dinyatakan
dalam upacara pembaptisan: Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu (Mrk
1:4). Maka sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan (Mat 3:6).
Kiranya upacara pembaptisan diambil alih oleh Gereja dari Yohanes. Dalam Injil malah dikatakan bahwa Yesus pergi
ke tanah Yudea dan membaptis (Yoh 3:22; lih. ay. 26), maksudnya, bahwa Yesus sendiri tidak membaptis,
melainkan murid-murid-Nya (Yoh 4:2). Memang tidak ada berita tentang kegiatan Yesus yang membaptis. Tetapi
pada hari Pentekosta, sesuai dengan perintah Yesus (Mat 28:19; Mrk 16:16) Petrus berseru kepada orang:
Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk
pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus (Kis 2:38). Mencolok sekali kemiripan
antara pesan Petrus dan seruan Yohanes Pembaptis: Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan
mengampuni dosamu (Mrk 1:4; bdk. Kis 2:38). Tetapi justru dari perbandingan ini jelaslah pula perbedaannya.
Petrus menambahkan dua hal: dalam nama Yesus Kristus dan kamu akan menerima karunia Roh Kudus.
Pembaptisan Kristen bukan hanya tanda tobat (seperti pada Yohanes Pembaptis), melainkan tobat dalam kepercayaan
akan Yesus. Yang diterima pun bukan hanya pengampunan dosa, tetapi karunia Roh Kudus, yang bersaksi bersama
dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah (Rm 8:16). Pembaptisan bukan hanya permohonan akan belas
kasihan Allah. Dengan pembaptisan diungkapan iman akan Kristus Yesus, Juru Selamat kita (Tit 1:4), yang
memberikan Roh Kudus-Nya kepada kita sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah (Kis 2:33).
Menurut St. Paulus, mengambil bagian dalam wafat dan kebangkitan Kristus merupakan pokok sakramen
pembaptisan: Kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya sama seperti
Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa demikian juga kita akan hidup dalam hidup
yang baru (Rm 6:4). Atau dengan perkataan lain: Yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus (Gal
3:27). Dengan pembaptisan orang sungguh secara total dipersatukan dengan Kristus. Dalam surat Kolose hal itu
diterangkan lebih lanjut sebagai berikut: Bersama Kristus kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu

4
turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja-kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang
mati (Kol 2:12). Pengarang melihat itu sebagai inisiasi Kristen, yang dapat dibandingkan dengan sunat Yahudi (ay.
11).
Surat kepada Titus mengembangkan gagasan ini lebih jauh lagi: Allah menyelamatkan kita karena rahmat-Nya oleh
pembaptisan kelahiran kembali dan oleh pembaruan yang dikerjakan oleh Roh Kudus (Tit 3:5). Itulah yang oleh
Yohanes disebut dilahirkan dari air dan Roh (Yoh 3:6). Makin ditekankan hidup yang baru, bukan pengampunan
dosa. Unsur pembersihan dari noda dosa tentu tetap ada, tetapi yang lebih penting ialah kesatuan dengan Kristus
sebagai Anak Allah: Allah mengutus Anak-Nya, supaya kita diterima menjadi anak. Dan karena kita adalah anak,
maka Allah mengutus Roh . Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: Ya Abba, ya Bapa! (Gal 4:4-6).
Dalam 1Kor 12: 13 masih ada satu unsur lain lagi: Dalam satu Roh kita semua telah dibaptis menjadi satu tubuh dan
kita semua diberi minum dari satu Roh. Dengan pembaptisan orang tidak hanya menerima karunia Roh Kudus,
tetapi juga menjadi anggota tubuh Kristus, yaitu Gereja. Di sini dengan paling jelas terungkap sifat inisiasi, dan
langsung dapat ditarik kesimpulan: Tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang
merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu dalam Kristus Yesus (Gal 3:28). Dalam
Kristus dan oleh Pembaptisan, segala perbedaan dan pertentangan antara suku atau kelas terhapus dan tidak berlaku
lagi, termasuk perbedaan pria dan wanita sama, sebagai anggota tubuh Kristus. Dengan pembaptisan tidak hanya
diciptakan seorang manusia baru, tetapi umat manusia yang baru.

Pembaptisan dalam Tradisi Gereja


Yohanes Pembaptis membaptis orang dalam sungai Yordan, dan murid-murid Yesus juga begitu. Tempat
pembaptisan itu sebuah sungai atau kolam. Tetapi ketika umat Kristen mulai berkembang di kota-kota, jauh dari
tempat-tempat air, mereka membangun kolam-kolam dalam gereja dan membaptis orang di situ. Pembaptisan itu
tetap dilakukan dengan menenggelamkan orang ke dalam air. Lama kelamaan menjadi kebiasaan untuk menanyakan
kepada orang, sementara dia berada di dalam air, pertanyaan yang sekarang juga masih bergema di gereja pada
malam Paska:
Percayakah saudara akan Allah Bapa yang Mahakuasa, pencipta langit dan bumi?
Percayakah saudara akan Yesus Kristus, Putra-Nya yang tunggal, Tuhan kita, yang dilahirkan oleh Perawan Maria;
yang menderita sengsara, wafat dan dimakamkan; yang bangkit dari antara orang mati, dan naik ke surga duduk di
sisi kanan Bapa yang mahakuasa?
Percayakah saudara akan Roh Kudus, Gereja Katolik yang kudus, persekutuan para kudus, pengampunan dosa,
kebangkitan badan dan kehidupan kekal?
Sesudah setiap pertanyaan, orang yang ada di dalam kolam menjawab: Ya, saya percaya. Sesudah itu, ia
ditenggelamkan ke dalam air tiga kali. Dengan demikian sakramen Pembaptisan dengan jelas menjadi sakramen
iman, yang pusat-pokoknya adalah pengakuan iman Gereja atau syahadat. Untuk zaman sekarang buku Inisiasi
Kristen menetapkan:
Pemimpin upacara mengajak calon untuk mengakui imannya (dengan tiga pertanyaan tersebut di atas). Kalau
pembaptisan dilakukan dengan menenggelamkan calon dalam air, hendaknya kesopanan diperhatikan. Kalau
pembaptisan dilakukan dengan menuangkan air, pemimpin mengambil air dari bejana pembaptisan dan
menuangkannya tiga kali atas kepala calon, sambil mengucapkan rumus pembaptisan:
(disebut namanya) aku membaptis saudara demi nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.
Sementara itu calon baptis dipegang oleh wali baptis.
Lalu pemimpin upacara mengurapi ubun-ubun setiap baptisan baru dengan krisma tanpa mengatakan apa-apa. Bila
dianggap perlu, pemimpin upacara dapat menyerahkan pakaian putih (atau yang berwarna lain). Kemudian

5
pemimpin memegang lilin Paska; wali baptis maju dan menyalakan lilin pada lilin Paska, lalu menyerahkannya
kepada baptisan baru. .
Jadi, sesudah pembaptisan ada tiga upacara kecil (sakramentali), yang secara simbolis menunjuk pada arti
pembaptisan: Pengurapan berarti bahwa baptisan baru diserupakan dengan Kristus, yang diurapi oleh Roh Kudus
(lih. Kis 10:38) menjadi imam, nabi dan raja, pakaian putih juga menandakan Kristus, dan menunjuk kepada Gal 3:27,
mengenakan Kristus, Begitu juga lilin, yang dinyalakan dari lilin Paska, merupakan lambang Kristus: Karena telah
bersatu dengan Kristus, cahaya dunia, maka baptisan baru harus hidup sebagai putra-putri cahaya dan menghayati
iman dengan setia. Adapun pembaptisan sendiri, yang tetap dapat dilakukan dengan cara menenggelamkan, biasanya
dilakukan dengan menuangkan air atas kepala orang. Kedua cara itu sejak dahulu dipraktikkan dalam Gereja.
Ada sebuah dokumen dari zaman para rasul sendiri, yang disebutDidahke atau Pengajaran Kedua Belas Rasul. Di
dalamnya dikatakan mengenai pembaptisan: Ada pun baptisan, kamu harus membaptis sebagai berikut:
Setelah segala sesuatu itu tadi (yakni instruksi mengenai kehidupan Kristen) diberitahukan, maka kamu harus
melakukan pembaptisan demi nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, di dalam air yang hidup. Seandainya air yang
hidup tidak ada padamu, lakukanlah pembaptisan dalam air yang lain; jikalau tidak bisa dalam air dingin, boleh juga
di dalam air panas. Kalau juga air panas tidak ada, tuangkanlah air ke atas kepalanya tiga kali, demi nama Bapa dan
Putra dan Roh Kudus. Sebaiknya sebelum upacara pembaptisan baik yang membaptis maupun yang akan dibaptis,
berpuasa. Tetapi calon baptis harus berpuasa selama satu-dua hari sebelumnya.
Pada dasarnya upacara pembaptisan sekarang masih sama dengan zaman Tuhan Yesus sendiri. Hanya sekarang
pembaptisan ditempatkan dalam kerangka inisiasi, dan untuk itu ditambahkan beberapa upacara kecil yang
menjelaskan arti sakramen.
Mengenai arti pembaptisan, Konsili Vatikan II berkata:
Melalui pembaptisan orang dimasukkan ke dalam misteri Kristus: Mereka mati, dikuburkan dan dibangkitkan
bersama Dia; mereka menerima Roh pengangkatan menjadi anak, dan dalam Roh itu berseru: Abba, Bapa;
demikianlah mereka menjadi penyembah sejati, yang dicari oleh Bapa (SC 6).
Mereka menjadi penyembah sejati dalam Gereja, sebab dengan pembaptisan kaum beriman dimasukkan ke dalam
tubuh Gereja dan ditugaskan untuk menyelenggarakan ibadat agama Kristen (LG 11).

Pembaptisan Kanak-Kanak
Dalam Kitab Suci tidak ada berita mengenai pembaptisan kanak-kanak. Memang dalam Kis 16:33 dikatakan bahwa
kepala penjara Filipi memberi diri dibaptis, ia dan keluarganya (bdk. Kis 16:15; 18:8). Mungkin di antaranya juga
ada anak-anak, mungkin tidak. Dari Kitab Suci hal ini tidak jelas, dan tetap tidak jelas sampai akhir abad ke-2. Tetapi
sekitar tahun 250 membaptis anak sudah menjadi kebiasaan di Afrika Utara, dalam arti bahwa bersama dengan orang
dewasa juga anak-anak mereka ikut dibaptis. Namun kemudian ada juga orang yang menunda pembaptisan anakanak sampai mereka dewasa. Pada zaman St. Agustinus (354-430) baptis bayi sudah menjadi kebiasaan umum di
wilayah itu. Dan tidak lama kemudian menjadi praktik di mana-mana, karena waktu itu jarang ada orang dewasa yang
dibaptis. Semua keluarga sudah menjadi Kristen. Yang penting di sini ialah bahwa ada berbagai motivasi membaptis
kanak-kanak (dan juga untuk menunda baptis mereka). Pada zaman St. Agustinus ajaran mengenai dosa asal
mempunyai pengaruh yang sangat besar: Kalau anak-anak tidak dibaptis, mereka semua ke neraka (biarpun hanya ke
pinggir neraka saja).
Alasan yang sekarang dikemukakan dalam buku liturgi Upacara Pembaptisan Kanak-Kanak ialah mereka dibaptis
dalam iman Gereja yang diakui oleh para orangtua dan wali baptis serta semua hadirin. Mereka dibaptis sebagai
anak, bukan sebagai orang dewasa yang mandiri, melainkan sebagai anak yang dalam segala hal bergantung pada
orangtua mereka. Maka buku liturgi juga menambahkan: Sakramen ini baru mendapat arti sepenuhnya, kalau kanakkanak yang dibaptis dalam iman Gereja, kemudian dididik pula dalam iman itu.

6
Pembaptisan kanak-kanak sebetulnya berarti menerima seluruh keluarga, termasuk anak-anak, ke dalam lingkungan
Gereja. Hal itu kentara dalam Upacara Pembaptisan Kanak-Kanak sendiri, Dalam upacara pembaptisan kanakkanak, orangtua lebih dipentingkan daripada tugas wali baptis.
Wali baptis sebetulnya lebih berfungsi dalam kerangka pembaptisan orang dewasa. Dalam buku Inisiasi
Kristen (untuk pembaptisan orang dewasa) ditunjuk dua pembantu calon baptis: penjamin dan wali baptis.
Penjamin harus mengetahui watak dan kelakuan, iman dan niat simpatisan atau katekumen; ia ikut memberi
jaminan kepada Gereja bahwa calonnya itu pantas dilantik menjadi katekumen dan dipilih sebagai calon baptis.
Fungsi penjamin itu selesai sebelum upacara pemilihan', Penjamin sedikit banyak berfungsi sebagai sponsor atau
penanggung jawab. Terutama pada zaman penganiayaan, fungsi itu tidak hanya amat penting, tetapi sering kali sulit
juga dan berbahaya. Penjamin mengawasi si calon seolah-olah dari luar (dan zaman dahulu ia tidak dikenal oleh si
calon), untuk kemudian memberi laporan kepada pimpinan Gereja. Sebaliknya wali baptis mendampingi katekumen
pada hari pemilihan, dalam perayaan sakramen-sakramen inisiasi dan masa mistagogi, artinya ia menunjukkan
jalan kepada katekumen supaya menerapkan Injil dalam hidupnya sendiri dan dalam hubungannya dengan
masyarakat. Ia harus menolong dalam keragu-raguan dan kebimbangannya. Ia harus memberi kesaksian dan menjaga
perkembangan hidup Kristianinya. Untuk pembaptisan seorang anak, fungsi penjamin tidak perlu, dan fungsi wali
baptis lebih dipegang oleh orangtuanya.
Oleh karena itu, pada saat penolakan setan dan pengakuan iman pemimpin upacara menyapa para orangtua (dan
wali baptis). Pada saat anak mau dibaptis, orangtua (dan wali baptis) ditanyai lagi: Maukah saudara supaya anak ini
dipersatukan dengan Yesus Kristus dan diterima sebagai anggota umat Allah?. Yang ditanyai bukan anak itu sendiri
(yang belum tahu apa-apa). Wali juga tidak menjawab atas nama anak itu (seperti dahulu dilakukan). Yang ditanyai
dan yang menjawab adalah orangtua sendiri, bersama dengan wali baptis, Pembaptisan kanak-kanak, khususnya bayi,
tidak dapat dilepaskan dari iman serta tanggung jawab orangtuanya.

SAKRAMEN KRISMA (PENGUATAN)


http://www.imankatolik.or.id/sakramenkrisma.html

Sakramen Krisma adalah salah satu dari tiga sakramen inisiasi Kristen yaitu Baptis, Krisma dan Ekaristi. Sakramen
Krisma memiliki dasar Kitab Suci dari Kis 8:16-17 "Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorangpun di antara mereka,
karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu
mereka menerima Roh Kudus." dan dari Kis 19:5-6 "Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka
dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas
mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat". dari kedua kutipan ini jelas bahwa Sakramen
Krisma membutuhkan penumpangan tangan untuk mengundang Roh Kudus.
Didalam sakramen Krisma, kita menerima "Kepenuhan Roh Kudus" sehingga kita dapat secara penuh dan aktif berkarya
dalam Gereja. bandingkan dengan para rasul yang menerima Roh Kudus saat Pantekosta, sebelum peristiwa Pantekosta
mereka sudah menerima Roh Kudus (lihat Yoh 20:22) tetapi mereka baru 'aktif' sesudah Pantekosta. Demikian juga halnya
dengan kita karena sebenarnya Roh Kuduspun sudah kita terima saat Permandian, yaitu Roh yang menjadikan kita AnakAnak Allah, dan yang membersihkan kita dari Dosa Asal (lebih Jelasnya lihat tentang Sakramen Babtis). Itulah disebutkan
bahwa Sakramen Babtis adalah Sakramen Paskah dan Sakramen Krisma adalah Sakramen Pantekosta.
Dalam Sakramen Krisma juga ada Pengurapan dengan minyak Krisma yang berarti kita yang sudah menerima Krisma
Dikuduskan, Dikhususkan, dan menerima Kuasa untuk melakukan tugas perutusan kita sebagai umat beriman (bdk 1
Samuel 10:1;1Samuel 16:13; 1 Raj 1:39). Dengan menerima Sakramen Krisma, kita menerima Roh Kudus yang merupakan
meterai, Tanda bahwa kita ini milik Allah.