Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM

KARTOGRAFI
(DPJ P106)
ACARA III
SISTEM KOORDINAT PETA

Disusun Oleh :
Nama

: Alviana Noor F.

NIM

: 13/355975/SV/5326

Kelompok

:4

Hari / Jam

: Selasa, 23 okt -13/ 15.00-17.00

Asisten

: 1. Rivi Neritarani S.Si


2. Laila Binti Muslihah

PROGRAM DIPLOMA
PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS
SEKOLAH VOKASI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2013

ACARA I
I. JUDUL
Sistem Koordinat Peta
II. TUJUAN
1. Berlatih dalam memahami sistem koordinat dan sistem penomeran lembar
peta, mencari titik/lokasi dalam peta dari suatu koordinat
III. ALAT DAN BAHAN
1. Peta rupa bumi
2. Penggaris
3. Alat tulis
4. Kertas kalkir
5. Kertas HVS
IV. TINJAUAN PUSTAKA
SISTEM KOORDINAT

Sistem koordinat adalah sekumpulan aturan tentang bagaimana cara


mendefinisikan titik awal. Dalam konteks SIG, persyaratan yang harus dipenuhi
adalah :

Peta-peta thematik dari setiap layer yang mempunyai proyeksi peta yang
berbeda harus disamakan dengan melakukan transformasi sistem koordinat.

Transformasi koordinat dari bagian derajat yang satu dengan bagian derajat
lainnya.
Karakteristik data pada SIG harus :

Bereferensi geografis.

Dipresentasikan dengan koordinat-koordinat bumi yang standar (bukan


koordinat lokal).
Untuk mendefinisikan tentang sistem koordinat bumi, diperlukan suatu datum
(suatu besaran atau konstanta yang bertindak sebagai referensi untuk hitungan
besaran-besaran lainnya). Datum global yang digunakan diseluruh dunia adalah
datum ellipsoid karena paling sesuai dengan bentuk permukaan bumi (ellipsoid
global), yaitu :

WGS 60

WGS 66

WGS 72

WGS 84 (dipublikasikan oleh Department of Defence AS tahun 1984


dikembangkan oleh Defence Mapping Agency). Meridian referensinya (nol)
dihimpitkan dengan meridian nol BIH (Bureau International de IHeure). Saat
ini banyak digunakan oleh produk-produk GPS.

Sistem koordinat geografis


Sering disebut dengan sistem koordinat geodetis ini dikembangkan oleh
Greenwich (dari Inggris) yang membagi bumi menjadi dua bagian irisan yaitu irisan
melintang yang disebut dengan garis lintang mulai dari katulistiwa (equator),
membesar ke arah kutub (utara maupun selatan) sedangkan yang lain membujur
mulai dari garis Greenwich (dekat dengan Inggris) membesar ka arah barat dan timur.
Satuan skala koordinat dibagi dalam derajat lintang 0 sampai 90 dan bujur 0
sampai 180. Lintang berada di utara dan selatan equator, sedangkan bujur
memanjang dari timur ke barat dari bujur Greenwich. Koordinat ini biasanya ditulis
dalam satuan derajat, menit, dan detik, misalnya 1103532, dan seterusnya.

Koordinat geografi digunakan sebagai referensi peta dengan tujuan yang luas, tetapi
biasanya hanya untuk pemetaan skala kecil (1 : 1.000.000 atau lebih kecil) dengan
liputan daerah yang sangat luas. Koordinat ini banyak digunakan untuk terapan
operasional di udara ataupun perairan seperti ditunjukkan pada semua chart (peta-peta
navigasi).
Universal Tranverse Mercator (UTM)
UTM adalah proyeksi yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

Sistem proyeksi yang terkenal dan sering digunakan.

Menggunakan proyeksi silinder, transversal dan konform yang memotong


bumi pada dua meridian standar. Meridian standar ini diproyeksikan secara
equidistan.

Seluruh permukaan bumi dibagi menjadi 60 bagian yang disebut zone UTM

Seluruh zone dibatasi oleh 2 meridian selebar 6 dan memiliki meridian


tengah tersendiri.

Zona 1, 2, 3 ....dst dimulai ari 180-174 BB (bujur barat), 174-168 BB, ....
s/d .... 168-174 BT, 174-180 BT (bujur timur).

Batas lintang : 80 LS 84 LU, dimulai dari 80-72 LS, 72-64 LS ... s/d ... 6472 LU, 72-84 LU dengan notasi C, D, E, F ,G, H, J, K, L, M, N, P, ... s/d ... X (huruf I
dan O tidak digunakan).

Titik nol pada perpotongan antara meridian sentralnya dengan equator.

Untuk mmenghindari nilai negatif :

Dari absis (x), titik awalnya selalu ditambah nilai 500.000 meter.

Dari ordinat (y), untuk zone yang terletak LS, nilainya ditambah
dengan 10.000.000 meter.

Zone yang terletak di utara ekuator, ekuator tetap mempunyai ordinat 0 meter.

Untuk Indonesia (90 BT - 144 BT, 11LS - 6 LU), ada 9 zone (zone 46
54). (Surati Jaya, 2002 dalam Aplikasi Sistem Informasi Geografis Untuk Kehutanan)
.

Sistem Penomoran Indeks Peta


Sumber http://www.bakosurtanal.go.id/
Menurut PP 10 Tahun 2000 disebutkan bahwa peta adalah suatu gambaran
dari unsur-unsur alam dan atau buatan manusia, yang berada di atas maupun
di bawah permukaan bumi yang digambarkan pada suatu bidang datar dengan

skala tertentu.
Salah satu peta yang dihasilkan oleh BAKOSURTANAL adalah Peta
Rupabumi

Indonesia

(RBI).

BAKOSURTANALmeliputi

skala

Peta

RBI

1:1.000.000,

yang

dihasilkan

1:250.000,

oleh

1:100.000,

1:50.000, 1:25.000 dan 1:10.000 dimana seluruh wilayah Indonesia dibagi ke

dalam grid-grid ukuran peta yang sistematis.


Semua lembar peta tepat antara satu dengan lainnya, demikian pula ukurannya
sama untuk setiap lembar. Ukuran lembar peta tergantung dari skala peta yang
dibuat. Ukuran lembar Peta Rupabumi Indonesia mengacu pada sistem grid
UTM seperti pada Tabel 1.
Skala Peta
Ukuran Lintang (L) Ukuran Bujur (B)
1 : 1.000.000
4
6
1 : 500.000
2
3
1 : 250.000
1
1 30
1 : 100.000
30
30
1 : 50.000
15
15
1 : 25.000
7 30
7 30
1 : 10.000
2 30
2 30
Tabel 1. Ukuran lembar peta berdasarkan skala peta

Dari Tabel 1 dapat dilihat terjadi beberapa variasi luas cakupan area peta,
sehingga pembagian suatu nomor lembar peta (NLP) memberikan jumlah

matriks yang tidak seragam, misalnya berjumlah 4 atau 9. Sistematika


pembagian ukuran peta skala 1:1.000.000 hingga 1:10.000 seperti pada
Gambar 1.

Gambar 1. Sistematika Ukuran Peta (dari skala 1:1.000.000 sampai


1:10.000)

Setiap negara mempunyai sistem penomoran peta masing-masing. Oleh


karena itu nomor peta umumnya unik. Sistem penomoran Peta Rupabumi
Indonesia dalam bentuk kode numerik. Dari nomor tersebut dapat diketahui

lokasi dimana suatu daerah berada lengkap dengan skala petanya.


Sistematika penomoran indeks peta di Indonesia dimulai dari 90 o BT dan 15
o LS dan seterusnya hingga ke arah Utara dan ke arah Timur. Sistem
penomoran untuk lembar Peta Rupabumi Indonesia dimulai dari skala

1:250.000 (4 digit) lalu diturunkan sampai ke skala 1:10.000 (8 digit).


Urutan penomoran Peta Rupabumi yang diterbitkan BAKOSURTANAL
mengikuti aturan tertentu dimana secara skematis penomorannya tersaji pada
Gambar 2 dan keterangan untuk setiap pembagian wilayah dan sistematika
penomorannya tersaji pada Tabel 2. Gambar 2 adalah contoh untuk nomor
1209 yang merupakan nomor untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.

Gambar 2. Urutan Penomoran Peta Rupabumi Indonesia


Nomor NLP
1209

Keterangan
Nomor lembar peta skala 1 : 250.000, format 1 x 1 30. Satu
NLP dibagi menjadi 6 NLP pada skala 1 : 100.000 masing-masing
berukuran 30 x 30
Nomor lembar peta skala 1 : 100.000, format 30 x 30. Satu NLP

1209 1

dibagi menjadi 4 NLP pada skala 1 : 50.000 masing-masing


berukuran 15 x 15
Nomor lembar peta skala 1 : 50.000, format 15 x 15. Satu NLP

1209 43

dibagi menjadi 4 NLP pada skala 1 : 25.000 masing-masing


berukuran 7 30 x 7 30
Nomor lembar peta skala 1 : 25.000, format 7 30 x 7 30. Satu

1209 224

NLP dibagi menjadi 9 NLP pada skala 1 : 10.000 masing-masing

1209 6229

berukuran 2 30 x 2 30
Nomor lembar peta skala 1 : 10.000, format 2 30 x 2 30
Tabel 2. Seri Peta Rupabumi Indonesia

Pada lembar peta skala 1:250.000 sistem penomorannya mengikuti arah


besaran grid, yaitu semakin ke kanan dua angka di depan semakin
bertambah (lihat angka merah pada Gambar 3) dan semakin ke atas dua
angka di belakang yang semakin bertambah (lihat angka hitam pada

Gambar 3). Pada setiap nomor lembar tersebut juga terdapat nama lembar
peta.

V. LANGKAH KERJA
1

Memplot titik dan grid pada kertas kalkir


Grid geografis
Memilih objek lalu memplot grid geografisnya
Menulis titik derajat geografisnya
Mengukur jarak objek menuju derajat yang lebih kecil dengan penggaris
(1cm)
Grid UTM
Menentukan objek lalu memplot grid UTM dengan cara menarik garis
hitam yang ada di bawah atau di samping sampai membatasi objek

tersebut.
Menulis titik UTM nya
Mengukur jarak objek terhadap skala UTM yang lebih kecil
Menghitung penentuan posisi pada HVS
Koordinat geoografis
Menghitung penentuan posisi koordinat geografis dengan cara perbandingan
nilai derajat
Koordinat UTM
Menghitung penentuan posisi koordinat UTM dengan cara perbandingan

nilai
Rekonstruksi posisi nomor lembar peta
Menyiapkan kertas A3
Membagi dengan posisi yg sama besar
Melakukan penomoran pada peta