Anda di halaman 1dari 23

BAB I

STATUS PASIEN
1. PASIEN
1. Identitas Pasien
a. Nama/Kelamin/Umur : Ny.A /Perempuan/ 39 tahun
b. Pekerjaan/Pendidikan : IRT / SMA
c. Alamat
: Rt.33 Eka Jaya, Sentosa 10
2. Latar belakang sosial ekonomi-demografi-lingkungan keluarga
a. Status Perkawinan
: Kawin
b. Jumlah anak atau saudara
: Mempunyai satu orang anak
c. Status ekonomi keluarga
: Menengah
d. Riwayat KB
:e. Kondisi Rumah
:
Pasien tinggal dirumah permanen bertiga bersama anak dan
istri. Rumah pasien berisi 1 ruang tamu dan 2 kamar tidur. Dirumah
pasien terdapat 4 jendela kaca. Ventilasi dirumah pasien ini termasuk
cukup. Jendela rumah sering dibuka. Dibagian rumah bagian belakang
terdapat dapur, dapur dirumah pasien tertata dengan rapi. Dirumah
bagian belakang juga terdapat kamar mandi. Dirumah pasien sumber
air bersih berasal dari PDAM sedangkan sumber penerangan berasal
dari PLN.
f. Kondisi Lingkungan keluarga:
Pasien dirumah tinggal bertiga bersama istri dan anaknya. Hubungan
di dalam rumah baik-baik saja.
g. Aspek psikologis di keluarga

Hubungan dengan istri dan anak-anaknya baik.


3. Riwayat penyakit dahulu atau keluarga
a. Riwayat Penyakit Dahulu
:
Riwayat hipertensi (-)
Riwayat penyakit DM (-)
b. Riwayat penyakit Keluarga :

Riwayat keluhan yang sama (-)


4. Riwayat penyakit sekarang
a. Anamnesis
Keluhan utama :
Os datang dengan keluhan luka di bagian muka, tungkai, dan kaki
akibat kecelakaan lalu lintas.
Riwayat penyakit sekarang:
Beberapa saat sebelum masuk puskesmas os mengalami
kecelakaan di depan Puskesmas Talang Bakung. Os sebenarnya ingin
menjemput anaknya di sekolahan dengan motornya. Motor Os
keserempet mobil ketika mobil tersebut ingin mendahuluinya. Os tidak
menggunakan helm dan Os terjatuh dengan posisi tengkurap
nyelungsup. Setelah itu, os tidak menyadari lagi apa yang terjadi.
5. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum
Kesadaran
Tanda vital
T : 36,5C
Kepala
Mata
Telinga
Hidung
Mulut

: Baik
: Apatis
: TD : 120/80 mmHg, Nadi : 80x/I, RR 20x/I,
: Normocephal, edema (-).
: CA (-/-), SI (-/-) pupil isokor (+/+), reflek cahaya
(+/+), edema palpebra dekstra.
: Tidak nyeri, tidak bengkak, darah (-)
: Simetris, lendir (-/+) darah.
: Bibir kering (-), sianosis (-), darah (+) 20 CC,

bibir atas terbelah sedikit (+), vulnus laceratum


Tenggorok
Leher
Thorak
Pulmo
Inspeksi
Palpasi

panjangnya 1 cm, gigi I1 ,I2 retak.


: T1-T1, warna merah muda, hiperemis (-), faring
hiperemis (-)
: Pembesaran KGB (-), kaku kuduk (-)
: Pergerakan dinding dada simetris kiri dan kanan,
retraksi (-)
: Stem fremitus sama antara kiri dan kanan
2

Perkusi
Auskultasi
Cor
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Abdomen :
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Ektremitas

: Sonor
: vesikuler +/+, wheezing -/-, rhonki -/: Ictus cordis tidak terlihat
: Ictus cordis teraba
: Batas jantung dalam batas normal
: BJ I/II Reguler, murmur (-), gallop (-)
: Datar, sikatriks (-)
: Supel, nyeri tekan (-)
: Timpani
: Bising usus (+) normal
: Terdapat vulnus excoriation di lutut kiri, ukuran 3 x
1 cm, vulnus laceratum di lutut kanan ukuran 4 x 2 x
0,2 cm. Selain itu, di punggung kaki kanan juga terdapat
vulnus excoriation ukuran 1 x 1 cm, vulnus laceratum
ukuran 10 x 2 x 0,1 cm dan vulnus laceratum bentuk
lingkaran ukuran diameter 2 cm. Di setiap luka
terdapat pasir pasir yang menutupinya.

6. Laboratorium dan usulan pemeriksaan


Hasil Pemeriksaan:
Tidak ada yang diperiksa
Usulan Pemeriksaan :
Darah rutin
7. Diagnosis Kerja
Vulnus laceratum et excoriation et causa kecelakaan lalu lintas.
8. Manajemen
a. Promotif
- Memberitahu keluarga pasien apa yang terjadi dengan pasien.
- Memberitahu keluarga pasien cara perawatan luka.
- Memberitahu keluarga pasien komplikasi yang mungkin terjadi
-

terhadap lukanya dan robekan di mulut bagian atas.


Memberitahu keluarga pasien faktor risiko terjadinya kecelakaan.

Memberitahu keluarga pasien untuk menggunakan helm setiap

berkendaraan motor.
Memberitahu keluarga pasien untuk mematuhi aturan lalulintas.
Memberi tahu keluarga pasien untuk fokus ketika sedang
mengendarai kendaraan.

b. Preventif
- Menggunakan helm.
- Fokus ketika berkendaraan.
- Mematuhi aturan lalu lintas.
c. Kuratif
Non farmakologis
Istirahat yang cukup
Minum obat secara teratur
Cara perawatan luka
Farmakologis
- Membersihkan luka dan seluruh pasir-pasir yang menempel
-

sampai dengan larutan NaCl 0,9% sampai bersih.


Setelah luka bersih diberikan antiseptik povidon iodin di

atas luka.
Luka dibiarkan terbuka.
Luka robek pada bibir atas seharusnya di jahit namun os

menolak.
Darah yang mengalir dari hidung kiri di tampon dengan kasa

steril yang telah diberikan efineprin.


Lalu, os dirujuk ke RS. RP

Pengobatan Tradisional
(-)
Rehabilitataif
- Kontrol ulang setelah pasien sembuh.
- Latih pasien untuk berjalan.
- Edukasi pasien untuk tidak trauma berkendaraan.
DINAS KESEHATAN KOTA JAMBI

PUSKESMAS TALANG BAKUNG


Dokter : dr. Wahyuni Utami
SIP

: G1A213033
Jambi,

Mei 2015

R/

Pro :
Umur
Alamat :
Resep tidak boleh ditukar tanpa sepengetahuan dokter

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Manajemen Luka1-3,4-17


Dalam manajemen perawatan luka ada beberapa tahap yang dilakukan yaitu
evaluasi luka, tindakan antiseptik, pembersihan luka, penjahitan luka, penutupan luka,
pembalutan, pemberian antiboitik dan pengangkatan jahitan.

Gambar Dasar-dasar Manajemen Luka


a) Evaluasi luka meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik (lokasi dan
eksplorasi).

b) Tindakan Antiseptik, prinsipnya untuk mensucihamakan kulit. Untuk


melakukan pencucian/pembersihan luka biasanya digunakan cairan atau
larutan antiseptic seperti:
1. Alkohol, sifatnya bakterisida kuat dan cepat (efektif dalam 2 menit).
2. Halogen dan senyawanya.
Yodium, merupakan antiseptik yang sangat kuat, berspektrum luas
dan dalam konsentrasi 2% membunuh spora dalam 2-3 jam.
Povidon Yodium (Betadine, septadine dan isodine), merupakan
kompleks

yodium

dengan

polyvinylpirrolidone

yang

tidak

merangsangkulit dan mukosa, mudah dicuci karena larut dalam air


dan stabil karena tidak menguap.
3. Yodoform, sudah jarang digunakan. Penggunaan biasanya untuk
antiseptik borok.
4. Klorhesidin (Hibiscrub, savlon, hibitane), merupakan senyawa
biguanid dengan sifat bakterisid dan fungisid, tidak berwarna, mudah
larut dalam air, tidak merangsang kulit dam mukosa, dan baunya
tidak menusuk hidung.
5. Oksidansia
Kalium permanganat, bersifat bakterisid dan funngisida agak

lemah berdasarkan sifat oksidator.


Perhidrol (Peroksida air, H2O2), berkhasiat untuk mengeluarkan

kotoran dari dalam luka dan membunuh kuman anaerob.


6. Logam berat dan garamnya
Merkuri
klorida
(sublimat),
berkhasiat
menghambat

pertumbuhan bakteri dan jamur.


Merkurokrom (obat merah) dalam larutan 5-10%. Sifatnya
bakteriostatik lemah, mempercepat keringnya luka dengan cara

merangsang timbulnya kerak (korts).


7. Asam borat, sebagai bakteriostatik lemah (konsentrasi 3%).
Derivat fenol

Trinitrofenol (asam pikrat), kegunaannya sebagai antiseptik

wajah dan genitalia eksterna sebelum operasi dan luka bakar.


Heksaklorofan (pHisohex), berkhasiat untuk mencuci tangan.

8. Basa

ammonium

kuartener, disebut

juga

etakridin

(rivanol),

merupakan turunan aridin dan berupa serbuk berwarna kuning dam


konsentrasi 0,1%. Kegunaannya sebagai antiseptik borok bernanah,
kompres dan irigasi luka terinfeksi.
c) Pembersihan Luka
Tujuan dilakukannya pembersihan luka adalah meningkatkan,
memperbaiki dan mempercepat proses penyembuhan luka; menghindari
terjadinya infeksi; membuang jaringan nekrosis dan debris.
Dalam proses pencucian/pembersihan luka yang perlu diperhatikan
adalah pemilihan cairan pencuci dan teknik pencucian luka. Penggunaan
cairan pencuci yang tidak tepat akan menghambat pertumbuhan jaringan
sehingga memperlama waktu rawat dan meningkatkan biaya perawatan.
Pemelihan cairan dalam pencucian luka harus cairan yang efektif dan
aman terhadap luka. Selain larutan antiseptik yang telah dijelaskan diatas
ada cairan pencuci luka lain yang saat ini sering digunakan yaitu Normal
Saline.
Normal saline atau disebut juga NaCl 0,9%. Cairan ini merupakan
cairan yang bersifat fisiologis, non toksik dan tidak mahal. NaCl dalam
setiap liternya mempunyai komposisi natrium klorida 9,0 g dengan
osmolaritas 308 mOsm/l setara dengan ion-ion Na+ 154 mEq/l dan Cl154 mEq/l.
Beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam pembersihan
luka yaitu :
1. Irigasi dengan sebanyak-banyaknya dengan tujuan untuk membuang
jaringan mati dan benda asing.
2. Hilangkan semua benda asing dan eksisi semua jaringan mati.
3. Berikan antiseptic
4. Bila diperlukan tindakan ini dapat dilakukan dengan pemberian
anastesi lokal. Bila perlu lakukan penutupan luka.

a. Penjahitan luka
Luka bersih dan diyakini tidak mengalami infeksi serta berumur
kurang dari 8 jam boleh dijahit primer, sedangkan luka yang
terkontaminasi berat dan atau tidak berbatas tegas sebaiknya dibiarkan
sembuh per sekundam atau per tertiam.
Penjahitan luka membutuhkan beberapa persiapan baik alat, bahan
serta beberapa peralatan lain. Urutan teknik juga harus dimengerti oleh
operator serta asistennya.
b. Penutupan Luka
Adalah mengupayakan kondisi lingkungan yang baik pada luka sehingga
proses penyembuhan berlangsung optimal.
c. Pembalutan
Pertimbangan dalam menutup dan membalut luka sangat tergantung pada
penilaian kondisi luka. Pembalutan berfungsi sebagai pelindung terhadap
penguapan, infeksi, mengupayakan lingkungan yang baik bagi luka dalam
proses penyembuhan, sebagai fiksasi dan efek penekanan yang mencegah
berkumpulnya rembesan darah yang menyebabkan hematom.

Gambar Fungsi Pembalutan


Jenis Jenis Balutan
1. Balut Absorbent
Akumulasi cairan luka dapat menyebabkan maserasi dan pertumbuhan
bakteri yang berlebihan. Oleh karena itu, idealnya balutan harus dapat
menyerap cairan, namun tetap kering. Balutan harus dirancang agar
sesuai dengan sifat eksudatif dan mungkin berbahan kapas, wol, dan
spons.
2. Balut Nonadherent
Pembalut nonadherent mengandung parafin, jelly petroleum, atau jeli
larut air lainnya. Balutan ini adalah balutan sekunder untuk menutup
tepi dan mencegah pengeringan dan infeksi.

3. Balut Occlusive dan Semiocclusive

10

Balutan oklusif dan semioklusif hanya diperuntukkan untuk luka yang


bersih dan sedikit eksudat. Pembalut ini bersifat tahan air dan tahan
untuk mikroba, tetapi permeabel terhadap uap air dan oksigen.
4. Balut Hidrokoloid dan Hidrogel
Hydrocolloids dan hidrogel dapat membentuk struktur kompleks
dengan air yang dapat mengurangi efek traumatik tambahan pada luka.
Penyerapan eksudat oleh hidrokoloid dapat meninggalkan massa
seperti agar-agar coklat kekuningan yang bisa dicuci dengan air.
Hidrogel memiliki kandungan air yang tinggi. Hal ini menyebabkan
hidrogel

memungkinkan

tingginya

tingkat

penguapan

tanpa

mengorbankan hidrasi luka.


5. Alginat
Alginat berasal dari ganggang coklat dan mengandung rantai panjang
polisakarida mengandung asam mannuronic dan glukuronat. Setelah
diproses, alginat berubah menjadi natrium alginat yang dapat larut
melalui pertukaran ion saat adanya eksudat. Gel kemudian
berpolimerasi, membengkak, dan menyerap banyak cairan. Alginat
digunakan dalam luka bedah terbuka dengan eksudat medium dan luka
kronik full-thickness .
6. Balut medicated
Balutan medicated telah lama digunakan sebagai sistem drug-delivery.
Agen obat yang diberikan pada balutan termasuk benzoil peroksida,
seng oksida, neomisin, dan bacitracin-seng. Agen ini telah
menunjukkan dapat meningkatkan epithelialization sebesar 28%.
Jenis balutan yang digunakan tergantung pada jumlah drainase luka.
Luka nondraining bisa ditutupi dengan balutan semiocclusive.
Drainase kurang dari 1-2 hari mL / mungkin memerlukan balutan
semiocclusive dan absobent-nonadherent. Drainase moderate (3-5
mL / hari) dapat menggunakan balutan nonadherent sebagai lapisan
11

primer ditambah lapisan sekunder berupa balutan occlusive untuk


melindungi jaringan normal. Luka drainase berat (> 5 ml / hari)
memerlukan balutan yang serupa dengan luka drainase moderat,
namun ditambah lapisan sekunder highly absorbent.
7. Perangkat mekanis
Sistem VAC (Vacuum Assisted Closure) membantu dalam penutupan
luka dengan menerapkan tekanan negatif lokal ke permukaan dan tepi
luka. Terapi tekanan negatif ini diterapkan pada balutan khusus dan
diposisikan dalam rongga luka. Tekanan negatif terus menerus ini
sangat efektif dalam menghilangkan eksudat dari luka. Bentuk terapi
ini telah ditemukan efektif untuk chronic open wounds (diabetic ulcers
dan pressure ulcers), acute dan traumatic wound, dan subacute wound.

12

13

14

d. Pemberian Antibiotik
Prinsipnya pada luka bersih tidak perlu diberikan antibiotik dan pada luka
terkontaminasi atau kotor maka perlu diberikan antibiotik.
e. Pemasangan drain
Drain adalah selang yang digunakan untuk mengeluarkan darah,
pus, dan berbagai cairan lainnya luka. Drain yang dipasang setelah
operasi pembedahan tidak mengakibatkan penyembuhan luka yang lebih
cepat atau mencegah infeksi tetapi terkadang diperlukan untuk
mengalirkan cairan tubuh yang mungkin dapat berakumulasi dan

15

menyebabkan focus infeksi. Penggunaan rutin drain untuk prosedur bedah


berkurang seiring pemeriksaan radiologis yang lebih baik dan keyakinan
dalam teknik bedah. Drain dapat menghalangi pemulihan paska operasi
dengan bertindak sebagai 'jangkar' yang membatasi mobilitas pasen
setelah operasi dan drain itu sendiri dapat memungkinkan infeksi ke
dalam luka. Tetapi dalam situasi tertentu penggunaannya tidak dapat
dihindari. Drain memiliki kecenderungan untuk menimbulkan oklusi atau
tersumbat,

mengakibatkan

cairan

yang

terkumpul

yang

dapat

berkontribusi untuk timbulnya infeksi atau komplikasi lainnya.


Drain dapat tersambung ke dinding suction, perangkat suction
portabel, atau dapat dibiarkan mengalir secara alami. Rekaman yang
akurat dari volume drainase serta isi sangat penting untuk memastikan
secara tepat tentang penyembuhan dari luka dan monitor untuk
pendarahan yang berlebihan.
Tanda-tanda infeksi baru atau jumlah drainase yang berlebihan
harus dilaporkan kepada penyedia perawatan kesehatan segera.
Indikasi pemasangan drain :

Mencegah terjadinya akumulasi cairan (darah, pus, cairan terinfeksi)


Mencegah terjadinya akumulasi udara (dead space)
Identifikasi jenis cairan

Pelepasan Drain
Secara umum, drain harus dilepas ketika cairan drainase sudah berhenti
atau di bawah 25 ml/hari.

Peringatkan pasien bahwa akan terjadi ketidaknyamanan ketika drain

dilepaskan
Siapkan analgetik
Tempat bekas pemasangan drain ditutup oleh kassa kering

16

Pelepasan drain yang terlalu dini meningkatkan kemungkinan terjadinya


komplikasi infeksi
f. Pengangkatan Jahitan
Jahitan diangkat bila fungsinya sudah tidak diperlukan lagi. Waktu
pengangkatan jahitan tergantung dari berbagai faktor seperti, lokasi, jenis
pengangkatan luka, usia, kesehatan, sikap penderita dan adanya infeksi.
Berdasarkan lokasi dan hari tindakan:

Muka atau leher hari ke 5


Perut hari ke 7-10
Telapak tangan 10
Jari tangan hari ke 10
Tungkai atas hari ke 10
Tungkai bawah 10-14
Dada hari ke 7
Punggung hari ke 10-14

2.2. Pencegahan dan Manajemen Infeksi Luka18


Luka terbuka berpotensi terjadinya infeksi bakterial luka, termasuk gangrene
gas dan tetanus, dan bisa menyebabkan disabiliti jangka panjang, luka kronis atau
infeksi tulang dan kematian. Oleh karena itu, sangat penting diperlukan pencegahan
dan manajemen yang baik untuk infeksi luka.
Protokol dalam manajemen infeksi luka:

17

Gambar Protokol 1: Lakukan pembersihan luka dan debridement

18

Gambar Protokol 2: Manajemen Pencegahan Tetanus

19

Gambar Protokol 3 Tatalaksana Antibiotik dan Profilaksis

20

BAB III
ANALISIS KASUS
a. Hubungan diagnosis dengan keadaan rumah dan lingkungan sekitar
Tidak ada hubungan diagnosis dengan keadaan rumah.
b. Hubungan diagnosis dengan keadaan keluarga dan hubungan keluarga
Tidak ada hubungan diagnosis dengan keadaan keluarga dan hubungan
keluarga.
c. Hubungan diagnosis dengan perilaku kesehatan dalam keluarga dan lingkungan
sekitar.
Tidak ada hubungan diagnosis dengan perilaku kesehatan dalam keluarga dan
lingkungan sekitar.
d. Analisis kemungkinan berbagai faktor risiko atau etiologi penyakit pada pasien
ini.
Kemungkinan faktor risiko yang menyebabkan kecelakaan lalu lintas adalah
kurang fokusnya pasien ketika mengendarai motor karena memikirkan ananknya
yang berada di sekolahan. Selain itu, pengendara mobil yang menyerempet motor
pasien juga tidak berhati-hati dalam berkendaraan.
e. Analisis untuk mengurangi paparan atau memutuskan rantai penularan dengan
faktor risiko atau etiologi pada pasien ini
Sebaiknya Os menggunakan helm, fokus ketika berkendaraan dan lebih
mematuhi aturan lalu lintas agar kecelakaan tidak terjadi lagi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Bachsinar B. Bedah Minor. Jakarta: Hipokrates. 1995. Hal. 18-37
2. Monaco JL, Lawrence WT. Acute wound healing: an overview. ClinPlastic
Surg. 2003. 30: 1-12

21

3. Yusuf S. A Time Concept Approach: Paradigma Terkini Dalam Perawatan


Luka.
4. David LD. Ethicon: Wound Closure Manual. Minnesota: Ethicon Inc; 1994. p:
3-11
5. Falanga. In: European wound Management Association (EWMA). Position
Document: Wound Bed Praparation in Practice. London:MEP Ltd 2004.
6. Simonsen H, Coutts P, Jansen SV, Knight S. Pocket Guide: Assessing and
Managing Chronic Wounds, Wound Care Reference Guide. Denmark:
Coloplast. 2007.
7. Gabriel A. Wound Healing and Growth Factors. In: Medscape reference.
Aug 2011. Downloaded from:
URL: http://emedicine.medscape.com/article/1298196-overview#a1
8. NHS. Guidelines for The Assessment and Management of Wounds. South
Gloucestershie Primary Care Trust NHS. 2006.
9. National Best Practice and Evidence Based Guidelines for Wound
Management. Ireland: Health Service Executive. 2009
10. NHS. Wound Management and Dressing Selection. In: Wound Essential vol 1.
2006
11. NHS. Wound Care Guidelines Bolton Primary Care Trust NHS. 2008
12. Romo T. Skin Wound Healing. In: Medscape Referance. Jun 2012.
Downloaded from: URL: http://emedicine.medscape.com/article/884594overview#a1
13. Stillman RM. Wound Care. In: Medscape reference. Apr 2010. Downloaded
from: URL: http://emedicine.medscape.com/article/194018-overview#a0101
14. Galli SKD. Wound Closure Technique. In: Medscape reference. May 2011.
Downloaded from: URL: http://emedicine.medscape.com/article/1836438overview#a01
15. Mercandetti M. Wound Healing and Repair. In: Medscape reference.
Aug
2011. Downloaded from:
URL:
http://emedicine.medscape.com/article/1298129overview#a1
16. WHO. Wound Management, Best Practice
Guidelines in Disaster Situation. 2009.
17. Gabriel A. Wound Irrigation. In: Medscape
Refeerance. May 2011. Downloaded from: URL:
http://emedicine.medscape.com/article/1895071overview#a1
18. WHO. Prevention and Management of Wound
Infection. 2009
LAMPIRAN

22

23