Anda di halaman 1dari 11

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Manggis (Garcinia mangostana Linn)
2.1.1 Karakteristik Manggis
Klasifikasi buah manggis (Garcinia mangostana L) berdasarkan hasil identifikasi
MEDA (2013) memiliki sistematika tanaman sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Clusiales
Famili : Clusiaceae
Genus : Garcinia
Spesies : Garcinia mangostana L.

Gambar 2.1 Manggis (Wiyarno,2011)


Manggis merupakan salah satu buah yang digemari oleh masyarakat Indonesia.
Tanaman manggis berasal dari hutan tropis yang teduh di kawasan Asia Tenggara, yaitu hutan
belantara Indonesia atau Malaysia. Dari Asia Tenggara, tanaman ini menyebar ke daerah
Amerika Tengah dan daerah tropis lainnya seperti Filipina, Papua New Guinea, Kamboja,
Thailand, Srilanka, Madagaskar, Honduras, Brazil dan Australia Utara. Manggis merupakan
salah satu buah unggulan Indonesia yang memiliki peluang ekspor cukup menjanjikan. Dari
tahun ke tahun permintaan manggis meningkat seiring dengan kebutuhan konsumen terhadap
buah yang mendapat julukan ratu buah (Queen of Fruits). (Prihatman, 2000; ICUC, 2003).
Di Indonesia manggis mempunyai berbagai macam nama lokal seperti manggu (Jawa
Barat), manggus (Lampung), Manggusto (Sulawesi Utara), manggista (Sumatera Barat).

Pohon manggis dapat tumbuh di dataran rendah sampai di ketinggian di bawah 1.000 m dpl.
Pertumbuhan terbaik dicapai pada daerah dengan ketinggian di bawah 500-600 m dpl. Pusat
penanaman pohon manggis adalah Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Jawa Barat
(Jasinga, Ciamis, Wanayasa), Sumatera Barat, Sumatera Utara, Riau, Jawa Timur dan
Sulawesi Utara (Prihatman, 2000; ICUC,2003).
2.1.2 Morfologi Tanaman Manggis
Morfologi Tumbuhan Tumbuhan manggis berasal dari biji yang umumnya
membutuhkan waktu 10-15 tahun untuk mulai berbuah. Tinggi batang mencapai 10-25 meter
serta tajuk yang rindang berbentuk piramida. Diameter batang 25-35 cm dan kulit batang
biasanya berwarna coklat gelap atau hampir hitam, kasar dan cenderung mengelupas. Getah
manggis berwarna kuning dan terdapat pada semua jaringan utama tanaman (Liska, 2011).
Sistem akar pada manggis mudah patah, lambat tumbuh, dan mudah terganggu karena
tidak dijumpai akar rambut pada akar utama maupun akar lateral. Letak daun berhadapan,
merupakan daun sederhana dengan tangkai daun pendek yang berhubungan dengan tunas,
panjang tangkai daun 1,5-2 cm dengan helaian daun berbentuk bulat telur, bulat panjang atau
elips dengan panjang 15-25 cm, lebar 7-13 cm, mengkilap, tebal dan kaku, ujung daun
meruncing dan licin. Bunganya bersifat uniseksual. Bunga betina terdapat pada 25 pucuk
ranting dan muda dengan diameter 5-6 cm. Tangkai bunga pendek dan tebal berwarna merah
kekuningan (Liska, 2011).
Buah manggis dihasilkan secara partenogenesis (tanpa penyerbukan), berbentuk bulat
atau agak pipih dengan diameter 3,5-8 cm. Berat buah bervariasi, yakni sekitar 75-150 gram,
tergantung pada umur pohon dan daerah geografisnya. Tebal kulit buah berkisar antara 0,8-1
cm, berwarna keunguan dan biasanya mengandung cairan kuning yang rasanya pahit. Buah
manggis mengandung 2-3 biji. Segmen-segmen umumnya berukuran tidak sama dan
biasanya 1-2 segmen besar mengandung biji. Biji-biji besar berbentuk pipih berwarna ungu
gelap atau cokelat dengan panjang 2-2,5 cm, lebar 1,5-2,0 cm dan tebalnya antara 0,7-1,2 cm
tertutup oleh serat lunak yang menyebar sampai ke dalam daging buah. Berat biji bervariasi
antara 0,1-2,2 gram (Liska, 2011).

2.1.3 Kandungan Kimia Ekstrak Kulit Buah Manggis

Secara umum, kandungan kimia yang terdapat dalam kulit manggis adalah xanthone,
mangostin, garsinon, flavonoid, dan tanin (Miryanti, Sapei, Budiono dan Indra, 2011).
Xanthone merupakan substansi kimia alami yang tergolong senyawa polyphenolic.
Xanthone sangat bermanfaat untuk kesehatan tubuh sebagai antioksidan, antiproliferatif,
antiinflamasi dan antimikroba (Mardiana, 2012).
Senyawa xanthone yang telah teridentifikasi diantaranya adalah 1,3,6-trihidroksi-7metoksi-2.8-bis(3-metil-2-butenil)-9H-xanten-9-on dan 1,3,6,7-tetrahidroksi-2,8-bis(3-metil2-butenil)-9Hxanten-9-on. Keduanya lebih dikenal dengan nama alfamangostin dan gammamangostin (Jinsart, 1992).
Tabel 1. Komposisi Tepung Kulit Manggis
Komponen
Air
Abu
Gula Total
Protein
Serat Kasar
Lainnya (tannin, lemak,dll)
Sumber : Mertiva, 1995

Kadar (% bk)
9
2,58
6,92
2,69
30,05
48,76

2.2 Ekstrak
2.2.1 Pengertian
Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari
simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua
atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan
sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan (Depkes RI, 1995).
Sebagian besar ekstrak dibuat dengan mengekstraksi bahan baku obat secara
perkolasi. Seluruh perkolat biasanya dipekatkan dengan cara destilasi dengan pengurangan
tekanan, agar bahan utama obat sesedikit mungkin terkena panas (Depkes RI, 1995).
Ekstraksi adalah suatu proses yang dilakukan untuk memperoleh kandungan senyawa
kimia dari jaringan tumbuhan maupun hewan. Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair
dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok, di luar
pengaruh cahaya matahari langsung, ekstrak kering harus mudah digerus menjadi serbuk.
Cairan penyari yang digunakan air, etanol dan campuran air etanol (Depkes RI, 1979).
2.2.2 Metode Ekstraksi

Menurut Ditjen POM (2000) beberapa metode ekstraksi:


1. Cara dingin
Maserasi, adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan pelarut
dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan
(kamar).
Perkolasi, adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai sempurna
(exhaustive extraction) yang umumnya dilakukan pada temperatur ruangan.
2. Cara panas
Refluks, adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya, selama
waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya
pendingin balik.
Soxhlet, adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya
dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinu dengan jumlah
pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik.
Digesti, adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu) pada temperatur
yang lebih tinggi dari temperatur ruangan, yaitu secara umum dilakukan pada
temperatur 40-50o C.
Infus, adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur penangas air (bejana
infus tercelup dalam penangas air mendidih, temperatur terukur 96- 98o C) selama
waktu tertentu (15-20 menit).
Dekok, adalah infus pada waktu yang lebih lama dan temperatur sampai titik didih
air.
2.3 Tikus Wistar (Rattus norvegicus)
Klasifikasi tikus Putih menurut Armitage (2006) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Fillum

: Chordata

Klas

: Mammalia

Ordo

: Rodentia

Famili

: Muridae

Genus

: Rattus

Species

: Rattus norvegicus

Tikus putih lebih besar dari famili tikus umumnya dimana tikus ini panjangnya dapat
mencapai 40 cm diukur dari hidung sampai ujung ekor, dan berat 140-500 gr. Tikus
jantan biasanya memiliki ukuran yang lebih besar dari tikus betina, berwarna putih,
memiliki ukuran ekor yang lebih panjang dari tubuhnya.

Data biologi tikus disajikan pada tabel berikut (Kusumawati 2004) :


Tabel 2.3.1. Data Biologi Tikus Putih
No Kondisi Biologis
1
Berat Badan

2
3
4

5
6
7

8
9
10

Jumlah

Jantan

300-400 gr

Betina
Lama Hidup
Temperatur tubuh
Kebutuhan Air

250-300 gr
2,5-3 tahun
37,5 C
8-11
ml/100

Kebutuhan Makanan

grBB

Umur Dewasa
Volume darah
Tekanan Darah

5 gr/100 grBB
50-60 hari
57-70 ml/kg

Sistolik

84-174 mmHg

Diastolik
Frekuensi jantung
Frekuensi respirasi
Tidal volume

54-145 mmHg
330-480 / menit
66-114 / menit
0,6 1,25 mm

Dibandingkan dengan tikus liar, tikus laboratorium lebih cepat menjadi dewasa, tidak
memperlihatkan perkawinan musiman, dan umumnya lebih mudah berkembang biak. Jika
tikus liar dapat hidup selama 4-5 tahun, tikus laboratorium jarang hidup lebih dari 3 tahun
(Smith dan Mangkoewidjojo, 1988).
Ada dua sifat yang membedakan tikus dari hewan percobaan lain. Tikus tidak dapat
muntah karena struktur anatomi yang tidak lazim di tempat esofagus bermuara ke dalam
lambung dan tikus tidak mempunyai kandung empedu (Smith dan Mangkoewidjojo,1988).

2.4Ginjal
Ginjal terletak retroperitoneal pada dinding abdomen, masing-masing terdapat di
kanan dan kiri columna vertebralis setinggi vertebra torakal 12 sampai vertebra lumbal 3.
Ginjal diperdarahi oleh arteri renalis yang letaknya setinggi diskus intervertebralis vertebra
lumbal 1 dan vertebra lumbal 2. Arteri renalis memasuki ginjal melalui hilum dan kemudian
bercabang-cabang membentuk arteri interlobaris, arteri arkuata, arteri interlobularis dan
arteriol aferen yang menuju ke kapiler glomerulus. Bila ginjal dibagi dua dari atas ke bawah,

dua daerah utama yang dapat digambarkan yaitu korteks dibagian luar dan medulla di bagian
dalam (Guyton & Hall, 2007).
Setiap ginjal terdiri atas 1-4 juta nefron yang merupakan satuan fungsional ginjal,
nefron terdiri atas korpuskulum renal, tubulus kontortus proksimal, ansa henle dan tubulus
kontortus distal seperti yang terlihat pada Gambar 1 (Junqueira et al, 2007).

Nefron Renal (tubulus ginjal) (Junqueira et al, 2007)


2.4.1 Fisiologi Ginjal
Ginjal menjalankan fungsi yang vital sebagai pengatur volume dan komposisi kimia
darah dengan mengekskresikan zat terlarut dan air secara selektif. Fungsi utama ginjal
ada dua, yaitu fungsi ekskresi dan fungsi non ekskresi (Price SA, 2006).
Komposisi dan volume cairan ekstrakseluler ini dikontrol oleh filtrasi glomerulus,
reabsorbsi dan sekresi tubulus (Guyton & Hall, 2007).
12.4.2 Mekanisme Filtrasi
Glomerolus adalah bagian kecil dari ginjal yang melalui fungsi sebagai saringan yang
setiap menit kira-kira 1 liter darah yang mengandung 500ml plasma, mengalir melalui
semua glomeruli dan sekitar 100 ml (10 %) disaring keluar (Guyton & Hall, 2007).
Cairan yang disaring yaitu filtrasi glomerolus, kemudian mengalir melalui tubulus
renalis dan sel-selnya menyerap semua bahan yang diperlukan tubuh dan meninggalkan
yang tidak diperlukan. Keadaan normal semua glukosa diabsorpsi kembali, kebanyakan
produk sisa buangan dikeluarkan melalui urine, diantaranya kreatinin dan ureum.
Kreatinin sama sekali tidak direabsorpsi di dalam tubulus, akan tetapi sejumlah kecil
kreatinin benar-benar disekresikan ke dalam tubulus oleh tubulus proksimalis sehingga
jumlah total kreatinin meningkat kira-kira 20 % (Guyton & Hall, 2007).
Jumlah filtrasi glomerolus yang dibentuk setiap menit pada orang normal rata-rata
125 ml per menit, tetapi dalam berbagai keadaan fungsional ginjal normal dapat berubah

dari beberapa mililiter sampai 200 ml per menit, jumlah total filtrat glomerolus yang
terbentuk setiap hari rata-rata sekitar 180 liter, atau lebih dari pada dua kali berat badan
total, 90 persen filtrat tersebut biasanya direabsorpsi di dalam tubulus, sisanya keluar
sebagai urin (Guyton & Hall, 2007). 15 4.
2.4.2 Mekanisme Reabsorbsi Tubulus
Reabsorbsi tubulus merupakan proses penyerapan zat-zat yang diperlukan tubuh dari
lumen tubulus ke kapiler peritubulus. Proses ini merupakan transport transepitel aktif dan
pasif karena sel-sel tubulus yang berdekatan dihubungkan oleh tight junction. Glukosa
dan asam amino direabsorbsi seluruhnya di sepanjang tubuus proksimal melalui transport
aktif. Kalium dan asam urat hampir seluruhnya direabsorbsi secara akif dan disekresi ke
dalam tubulus distal. Reabsorbsi natrium terjadi secara aktif disepanjang tubulus kecuali
pada ansa henle pars desenden. H2O, Cl-, dan ureum direabsorpsi dalam tubulus
proksimal melalui transpor pasif (Guyton & Hall, 2007).
2.4.3 Mekanisme Sekresi Tubulus
Sekresi adalah proses perpindahan zat dari kapiler peritubulus kembali ke lumen tubulus.
Proses sekresi yang terpenting adalah sekresi , dan ion-ion organik. Proses sekresi ini
melibatkan transportasi transepitel. Di sepanjang tubulus distal, ion akan disekresi ke
dalam cairan tubulus sehingga dapat tercapai keseimbangan asam basa. Asam urat dan
disekresi ke dalam tubulus distal. Sekitar 5 % dari kalium yang terfiltrasi akan
dieksresikan dalam urine dan kontrol sekresi ion tersebut diatur oleh hormon antidiuretik
(ADH) (Guyton & Hall, 2007).

2.4.4 Ureum
Ureum disintesis dalam hati sebagai produk sampingan metabolisme makanan dan
protein endogen (Saraswati 2011). Reaksi dimulai dengan derivat asam amino oritin yang
bergabung dengan satu molekul karbondioksida dan satu molekul amonia untuk
membentuk zat kedua, yaitu sitrulin. Sitrulin kemudian bergabung dengan molekul
amonia lain untuk membentuk arginin, yang kemudian dipecah menjadi oritin dan ureum.
Ureum berdifusi dari sel hati ke cairan tubuh dan di keluarkan melalui ginjal. Oritin
dipakai kembali dalama siklus berulang-ulang (Guyton & Hall, 2007).

Ureum dihidrolisis di dalam air dengan bantuan urease sehingga dihasilkan amonia
dan karbondioksida. Kadar ureum dalam darah bergantung pada katabolisme
(pemecahan) protin dalam hati yyang diekskresikan ke dalam urin melalui ginjal. Ketika
air direabsorbsi dari tubulus, konsentrasi ureum dalam lumen tubulus meningkat sehingga
muncul gradient konsentrasi yang menyebabkan reabsorbsi ureum (Fuadi, 2009).
Ureum tidak bisa memasuki tubulus sebanyak air, sehingga ureum direabsorbsi
secara pasif dari tubulus. Kadar ureum yang tinggi dalam tubuh akan bersifat toksik
karena sifatnya yang mendenaturasikan protein (Price, 2005). Pada tikus putih jantan
ureum diekskresikan rata-rata 30 gr/hari dan dalam darah yang normal adalah 1530
mg/dL, tetapi hal ini tergantung dari jumlah normal protein yang dimakan dan fungsi hati
dalam pembentukan 17 ureum (Fuadi, 2009; Kee, 2008).
Ureum dalam darah atau biasa disebut blood urea nitrogen (BUN). Nilai BUN
mungkin akan meningkat jika seseorang secara berkepanjangan memakan makanan yang
mengandung banyak protein. Jarang sekali ada kondisi yang menyebabkan kadar BUN
dibawah normal. Membesarnya volume plasma yang paling sering menjadi penyebab.
Kerusakan hati harus berat sekali sebelum terjadi BUN karena sintesis melemah (Lab
Technologist, 2010). Konsentrasi BUN juga dapat digunakan sebagai petunjuk laju filtrasi
glomelurus (LFG). Ureum dalam darah cepat meninggi daripada kreatinin bila fungsi
ginjal menurun. Jika kerusakan ginjal berat dan permanen, kadar ureum terus-menerus
meningkat, sedangkan kadar kreatinin cenderung mendatar (LabTechnologist, 2010). 7.
2.4.5 Kreatinin
Kreatinin adalah produk akhir dari metabolisme kreatin fosfat otot yang merupakan
produk sampingan katabolisme otot dilepaskan dari otot dengan kecepatan yang hampir
konstan dan difiltrasi oleh glomerulus diekskresi dalam urin dengan kecepatan yang sama
disana terikat secara reversibel dengan fosfat dalam bentuk fosfokreatin, yakni senyawa
penyimpan energi (Kee J.L., 2008).
Kreatin disintesis di dalam hati dari metionin, glisisn dan arginin. Dalam otot rangka,
kreatin difosforilasi membentuk fosforil kreatin, merupakan simpanan tenaga penting
bagi sintesis ATP. ATP yang dibentuk oleh glikolisis dan fosforlasi oksidatif 18 bereaksi
dengan kreatinin membentuk ADP dan fosfokreatin yang mengandung ikatan fosfat
energi tinggi, lebih tinggi dari ATP. Fosfokreatin dapat saling memindahkan energi dalam
ATP. Bila ATP banyak dalam sel, sebagian besar energinya digunakan untuk mensintesis
fosfokreatin, sehingga terbentuk cadangan energi. Jika ATP mulai habis, energi dalam
fosfokreatin ditransfer kembali menjadi ATP (Fuadi, 2009).

Hasil buangan kreatin adalah kreatinin yang sangat bergantung pada filtrasi
glomerulus yang akan di eksresikan seluruhnya di dalam urin (Guyton & Hall, 2007).
Jumlah kreatinin yang diproduksi sebanding dengan massa otot. Kenaikan kadar
kreatinin tidak dipengaruhi oleh asupan makanan atau minuman (Saraswati, 2011).
Kadar normal kreatinin pada tikus putih, yaitu 0,20,8 mg/dL. Kadar yang lebih besar
dari nilai normal mengisyaratkan adanya gangguan fungsi ginjal (Corwin J.E, 2009).
Berkurang aliran darah dan urin tidak banyak mengubah ekskresi kreatinin, karena
perubahan singkat dalam pengaliran darah dan fungsi glomerulus dapat diimbangi oleh
meningkatnya seksresi kreatinin oleh tubulus. Jika pengurangan fungsi ginjal terjadi
secara lambat dan disamping itu massa otot juga menyusun secara perlahan, maka ada
kemungkinan kadar kreatinin dalam serum tetap sama, meskipun ekskresi per 24 jam
kurang dari normal biasanya ini menjadi petunjuk ke arah sebab ureumnya tidak normal
(LabTechnologist, 2010).
Aktifitas fisik yang berkebihan dapat meningkatkan kadar kreatinin darah dan
kenaikan sekresi tubulus dan destruksi kreatinin internal dapat mempengaruhi kadar
kreatinin (Guyton & Hall, 2007).

DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. (1995). Farmakope Indonesia. Edisi V. Jakarta : Depkes RI.
Ditjen POM. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Cetakan Pertama.
Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.
ICUC, 2003, Fruit to the Future Mangosteen, Factsheet, No 8, International Centre for
Underutilized
Crops.
Jinsart, W., Ternai, B., Buddhasukh, D., dan Polya G.M. 1992. Inhibition of wheat embryo
calciumdependent protein kinase and other kinases by mangostin and gamma-mangostin.
Phytochemistry. 31(11):3711-3713.
Kusumawati, D., 2004. Bersahabat dengan Hewan Coba, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Liska-Yunitasari. 2011. Gempur 41 Penyakit dengan Buah Manggis : Khasiat dan Cara
Pengolahannya
untuk Pengobatan. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Mangkoewidjojo S, Smith JB. 1988. Pemeliharaan, Pembiakan, dan Penggunaan Hewan
Percobaan di daerah Tropis. Jakarta: Universitas Indonesia.
Mardiana, L. 2012. Ramuan dan khasiat kulit manggis. (B. P. W., Ed.) Jakarta: Penebar
Swadaya.
Miryanti, A., Sapei, L., Budiono, K., & Indra, S. 2011. Ekstraksi. Bandung: Lembaga
Penelitian dan
Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Katolik Parahyangan.
Nugroho, A. E. 2007. Manggis (Garcinia mangostana L.) : Dari Kulit Buah yang Terbuang
Hingga Menjadi Kandidat Suatu Obat
Prihatman, K., 2000, Manggis (Garcinia mangostana L.), Kantor Deputi Menegristek Bidang
Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi BPP
Teknologi, Jakarta.