Anda di halaman 1dari 15

GEOKIMIA

Tujuan dari analisis Geokimia yaitu mengetahui asal fluida panas bumi dan proses yang
terjadi di bawah permukaan, , menghitung hilang panas alamiah, mengetahui karakteristik fluida
panasbumi di reservoir dan menduga hubungan antara sistem panasbumi di daerah penelitian
dengan aktivitas volkanisme di sekitarnya.
Lokasi studi khusus
Lokasi untuk manifestasi permukaan berada lebih luas dari daerah pemetaan
geologi, yaitu pada koordinat 70 0900 - 701600LS dan 10903900 10905600BT, secara
geografis daerah ini terletak di daerah yang meliputi 3 kabupaten yaitu Wonosobo, Banjarnegara,
dan Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah ( gambar 4.1).

Gambar 4.1 Lokasi serta pengamatan lapangan dari manifestasi permukaan


(modifikasi dari http://maps.google.com)

Manifestasi Permukaan
Kegiatan yang dilakukan berupa pengamatan manifestasi, perekaman data, pengambilan
sampel air untuk selanjutnya dianalisis kimia airnya. Hasil yang didapatkan dari pengamatan di
lapangan terdapat 11 manifestasi panasbumi yang diidentifikasi dari daerah penelitian, terdiri
dari 6 mata air panas, 3 fumarola, dan 2 kolam lumpur yang terangkum dalam tabel 4.1.

Gambar 4.2 Mata air panas di (a) Bitingan, (b) Sileri, (c) Siglagah, (d) Pulosari,
(e) Kaliputih, (f) Sikidang. Anak panah di (c) menunjukan mata air panas yang tidak
terlihat, anak panah di (f) menunjukan lokasi mata air panas.

Gambar 4.4 Fumarola di (a) Kawah Pagerkandang, (b) Kawah Siglagah, (c) Kawah
Candradimuka.
Gambar

Gambar 4.5 Kolam lumpur di (a) Sikidang, (b) Sileri.

Geokimia air panas


Analisa kimia dilakukan terhadap 6 sampel air panas. Analisa dilakukan melaluidua tahap
yaitu pengukuran di lapangan secara langsung untuk mengetahui suhu, pHair, konduktivitas.
Kandungan (CaCO3), dan 16 unsur yang meliputi anion utama Cl-, SO42- dan HCO3 -, dan
kation seperti Ca2+, Na+, K+ danMg2+. Analisa juga dilakukan terhadap unsur-unsur netral,
seperti SiO2, NH3, dan F, serta unsur kontaminan yang umum dijumpai pada system panasbumi,
seperti As3+ dan B. Hasil analisa kimia bisa dilihat pada tabel 4.2 dan 4.3
.
Karakteristik umum air panas
Dari 6 sampel air panas yang diteliti secara umum mempunyai temperatur 44 -65 0C,
derajat keasaman (pH) berkisar dari 6 -7 ( netral ) untuk di lapangan dan 3 8 (asam basa)
untuk hasil analisa laboratorium, konduktivitas yang terukur mempunyai kisaran dari 35 78
Mev, serta nilai kesadahan CaCO3 yang terukur berdasarkan analisa di laboratorium memiliki
nilai 106 527 mg/kg (tabel 4.1 dan 4.2).

Kesetimbangan Ion
Sebelum dilakukan pengolahan dan analisis data perlu dilakukan uji kualitas terhadap
data yang diperoleh sehingga terjamin kelayakan data tersebut dan dapat diintrepetasikan lebih
lanjut. Menurut Nicholson (1993), salah satu metoda yang digunakan untuk menguji kelayakan
data adalah dengan mengunakan kesetimbangan ion, metoda ini dilakukan dengan cara
menghitung jumlah Meq antara kation dan anion yang ada pada sampel. Data yang diuji
dikatakan baik jika nilai kesetimbangan ion tidak lebih dari 5 % (Nicholson, 1993) (tabel 4.1).
Perhitungan keseimbangan ion dilakukan dengan menggunakan persamaan berikut (Nicholson,
1993) :

Anion/Kation (meq) = ( konsentrasi (mg/L) / massa atom ) x bilangan oksidasi

Setelah mengubah satuan mg/kg ke meq, berikutnya data tersebut diformulasikan ke dalam
persamaan keseimbangan ion di bawah ini (Nicholson, 1993)
anion (meq) = kation (meq)
anion (meq) / kation (meq)
[( anion kation) / ( anion + kation)]
(Atom yang dibedakan menjadi anion, kation dan netral )
Anion : Cl-, HCO3
-, SO4
-2, F-, Br-, IKation
: Na+, K+, Li+, Ca+2, Mg+2, Rb+, Cs+, Mn+, Fe+
Netral : SiO2, NH3, As, B, gas Nobel

Hasil dari perhitungan ion balance memiliki nilai 4 11 %. Daerah yang memiliki nilai
kurang hingga sama dengan 5% terletak di Kaliputih, Bitingan dan Sikidang, sedangkan sisanya
memiliki nilai lebih dari 5%. Hasil analisa dikatakan layak jika mempunyai nilai ion balance
kurang hingga sama dengan 5 %. Hasil analisa ini ditunjukan oleh air panas yang keluar di
Kaliputih, Bitingan dan Sikidang. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa hasil analisa air panas
lain yang mempunyai kesetimbangan ion di atas 5% tidak layak digunakan dalam interpretasi,
kesetimbangan ion yang tinggi dipengaruhi juga oleh tipe dan proses yang dialami air panas
(Nicholson, 1993). Nilai kesetimbangan ion di atas 5% diperkirakan akibat adanya pencampuran
dengan air meteorik di permukaan atau dengan batuan sekitarnya.
Tipe air panas ditentukan berdasarkan kandungan relatif anion Cl, SO4, dan HCO3
seperti pada gambar 4.6. Pada daerah penelitian, air panas yang merupakan tipe campuran
klorida dan sulfat keluar sebagai mata air panas Pulosari, sedangkan air yang telah mengalami
pelarutan dengan bikarbonat ada di mata air panas Kaliputih. Air panas Sikidang memiliki tipe
air sulfat dan air panas lainnya memiliki tipe bikarbonat. Meskipun air panas tersebut
dipengaruhi oleh asam bikarbonat dan sulfat, derajat keasaman air panas di daerah penelitian
menunjukkan pH di lapangan memiliki nilai sekitar 6 7 (tabel 4.1), tetapi menjadi sedikit basa

(7,99-8,37) pada temperature 25C kecuali pada Mata air panas Pulosari yang memiliki pH 4,54
dan pada Mata air panas Sikidang yang memiliki pH 3,88 pada temperatur 25C.

Gambar 4.6 diagram Cl-HO3-SO4, umumnya mempunyai tipe bikarbonat


Air bikarbonat yang terdapat di mata air panas Bitingan, Sileri, Siglagah menandakan
terbentuk pada kondisi daerah yang dangkal, air tersebut terbentuk akibat absorbsi gas CO2 serta
kondensasi uap air ke dalam air tanah (steam heated water). Air sulfat yang terdapat pada mata
air panas Sikidang menandakan terbentuk di bagian paling dangkal dari permukaan, air tersebut
terbentuk akibat kondensasi uap air kedalam air meteorik (steam heated water) atau akibat
oksidasi H2S pada zona oksidasi dan membentuk H2SO4. Sedangkan untuk air campuran
klorida sulfat yang terdapat di mata air panas Pulosari diduga berasal dari campuran air reservoir
dengan kondensat. Air yang berasal dari pelarutan klorida bikarbonat pada mata air panas
Kaliputih terbentuk pada kondisi campuran air meteorik yang mengalami kondensasi uap air ke
dalam air tanah (steam heated water).

Sumber air panas dan reservoir


Sumber air yang keluar sebagai mata air panas ditentukan berdasarkan kandungan relatif
anion Cl, Li, dan B seperti pada gambar 4.7. Berdasarkan diagram Cl- Li-B, daerah penelitian
terbagi atas 4 sumber/reservoir yang berbeda. Reservoir yang pertama adalah yang membentuk
mata air panas Pulosari. Mata air ini memiliki nilai Cl yang relatif lebih tinggi dibandingkan
dengan B dan Li, hal ini menandakan pengaruh dari proses vulkanomagmatik. Air dari reservoir
yang kedua keluar sebagai mata air panas Kaliputih. Mata air panas ini memiliki rasio B/Cl
sekitar 0,02 yang menandakan adanya pengaruh dari proses volkanomagmatik tetapi kurang
dominan bila dibandingkan dengan air panas Pulosari. Air dari reservoir yang ketiga keluar
sebagai mata air panas Bitingan, Sileri, dan Siglagah yang termasuk ke dalam satu kelompok.
Mata air panas ini apabila dilihat dari kesamaan nilai Li/B sekitar 0,1- 0,2 menandakan adanya
kesamaan reservoir dilihat dari trend steam heating. air dari reservoir yang keempat keluar
sebagai mata air panas Sikidang. Mata air panas ini memiliki nilai B/Cl sekitar 0,3 dan dilihat
pada gambar 4.7 memiliki reservoir yang berbeda dengan mata air panas lainnya. Perbedaan
reservoir air panas juga diperkuat dari pola hidrologi dan perbedaan satuan geologi.
Mata air panas Bitingan, Sileri, Siglagah, Pulosari, dan Sikidang mengandung Li kurang
dari 0,1. Hal ini menurut Nicholson (1993) menandakan bahwa air panas tersebut berada di zona
Upflow. Sedangkan mata air panas Kaliputih memiliki nilai Li 0,88. Hal ini menurut Nicholson
(1993) menandakan bahwa air panas tersebut berada di zona Outflow.

Gambar 4.7 Diagram Cl-Li-B, menunjukan adanya 4 reservoir air panas yang berbeda.

Isotop stabil 18O dan D


Kandungan isotop stabil oksigen-18 (18O) dan hidrogen-2 / deuterium (D) dalam
penelitian ini digunakan untuk mengetahui asal air panas dan proses yang berlangsung di bawah
permukaan. Menurut Nicholson (1993) asal air panas ditentukan oleh faktor dari air meteorik,
campuran fluida magmatik, dan proses bawah permukaan meliputi boiling, konduksi,
pencampuran, evaporasi dan lain-lain. Craig (1963) op. cit. Nicholson (1993) menyebutkan,
bahwa kandungan D dalam air panas umumnya sama dengan kandungannya dalam air meteorik
lokal, sedangkan kandungan 18O dalam air panas umumnya lebih positif dibanding air
meteorik. Meskipun demikian, adanya pencampuran dengan air magmatik, proses boiling dan
proses lainnya dapat mengakibatkan kandungan isotop stabil D dan 18O berubah dan tidak
seperti yang disebutkan oleh Craig (1963) op. cit. Nicholson (1993). Enam sampel air panas
yang diteliti dengan menggunakan kandungan isotop stabil D dan 18O terdiri dari enam
sampel dari dari mata air panas. Hasil analisa dapat dilihat pada tabel 4.5 dan diplot pada gambar
4.8.

Tabel 4.5 komposisi isotop stabil deuterium (D ) dan oksigen-18 (18O) ( dalam )

Kandungan Isotop 18O dan D air panas


Air panas yang diteliti mempunyai kandungan isotop stabil D antara -30,87 dan -49,57
dan isotop stabil 18O antara -2,46 dan -7,62 ( tabel 4.5). Kandungan isotop stabil
terendah terletak di Kaliputih. Sedangkan kandungan isotop tertinggi terletak di Siglagah dan
Sileri (gambar 4.8).

Asal air panas


Grafik hubungan antara isotop stabil D dan 18O seperti yang ditunjukan pada gambar
4.8 memperlihatkan bahwa air panas di daerah penelitian umumnya mempunyai kandungan
isotop D dan 18O yang menyerupai kandungan isotop stabil air metorik (garis air metorik
global). Sedikit pergeseran kandungan isotop 18O antara air meteorik dan air panas
menunjukan bahwa sistem panasbumi telah berinteraksi dengan batuan sekitannya dan mencapai
kesetimbangan (Nicholson,1993). Mata air Kaliputih memiliki nilai 18O -30,840,4 dan D
-5,030,1 menunjukan adanya perbedaan daerah resapan dari mata air panas lainnya (gambar
4.8). Air panas Sikidang memiliki nilai 18O paling besar (-2,46 0,4 ). Hal ini menunjukan,
bahwa air panas Sikidang telah mengalami pemanasan oleh uap dan atau evaporasi di dekat
permukaan. Hal ini juga ditunjukan oleh tipe air panas Sikidang yang berupa air sulfat. Dilihat
dari kandungan isotop stabil 18O dan D yang bergeser mengarah ke komposisi isotop fluida
magmatik (gambar 4.8) diduga terdapat campuran fluida magmatik pada air panas Pulosari dan
Sikidang.

Gambar 4.8 Grafik yang menunjukan hubungan antara isotop stabil 18O dan D air
panas di daerah penelitian, menunjukan air panas memiliki nilai yang hampir sama
dengan air meteorik permukaan.

Proses bawah permukaan


Interaksi dengan batuan sekitarnya hingga mencapai kesetimbangan menjadi
proses bawah permukaan yang mempengaruhi kandungan mata air panas yang keluar
di daerah penelitian. Hal ini mengakibatkan kandungan isotop stabil 18O dan D
cenderung tidak berubah (Nicholson, 1993). Hanya pada mata air panas Sikidang yang
dipengaruhi oleh evaporasi (steam heating).

Geotermometer

Geotermometer digunakan untuk menghetaui temperatur reservoir atau bawah


permukaan. Perhitungan geotermometer ditentukan dengan dua metoda, yaitu :

a) Dengan melihat manifestasi fumarola kering


Manifestasi berupa fumarola kering (dry fumarol) yang memiliki ciri-ciri kering dan
mengeluarkan suara gemuruh terdapat pada Fumarola Pagerkandang dan Sipandu. Menurut
Hochstein dan Browne (2000), fumarola kering (dry fumarol) menunjukan temperatur reservoir
panasbumi 225 0C. Dengan demikian dapat diinterpretasikan, bahwa daerah panasbumi di
Pagerkandang dan Sipandu memiliki temperature reservoir 225 0C.
b) Dengan menggunakan geotermometer Na-K-Ca
Geotermometer Na-K-Ca digunakan untuk menghitung temperature reservoir pada
daerah penelitian, karena air panas pada daerah ini telah mengalami interaksi dengan batuan
sekitar dan memiliki kandungan Ca yang tinggi. Perhitungan geotermometer Na-K-Ca
menggunakan rumus sbb:
TNa-K-Ca (oC)Fournier (1979) = (1647/(log(Na/K) + [ x log (Ca/Na)] + 2.24))
273
Keterangan:
Na, K, dan Ca = konsentrasi Na, K, Ca dalam mg/kg
= 4/3 apabila ToC < 100 0C
= 1/3 apabila ToC > 100 0C
Air panas yang digunakan untuk perhitungan geotermometer adalah tipe air klorida (Cl),
karena air klorida yang memiliki pH sekitar netral merupakan air yang berasal dari reservoir.
Pada daerah penelitian, air panas yang bertipe klorida hanyalah air panas Pulosari yang
mengalami campuran dengan air sulfat (Gambar 4.6). Berdasarkan perhitungan geotermometer
Na-K-Ca, reservoir air panas daerah penelitian mempunyai temperatur sekitar 295C
Berdasarkan kedua metoda pendugaan di atas didapatkan, bahwa temperature panasbumi di
daerah penelitian adalah diatas 225 0C, mungkin mencapai 300 0C
Kehilangan panas alamiah total (total natural heat loss)
Kehilangan panas alamiah total (total natural heat loss) digunakan untuk mengetahui
seberapa besar potensi cadangan panasbumi di daerah penelitan. Perhitungan untuk kehilangan
panas alamiah total adalah penjumlahan dari perhitungan yang berdasarkan kenampakan
manifestasi berupa mata air panas, kolam air panas, fumarola, dan kolam lumpur.
Q = m (hfT hfT0) ~ m c (T
dengan :
m =mass flow rate (kg/s) = V.f c = specific heat capacity (kJ/kg K)= 4,2 kJ/kg K
f = densitas fluida (kg/m3) T = temperatur mata air panas (0C)
V = volume flowrate (m3/s) T0 = temperatur udara rata-rata = 200C
hfT, hfT0 = entalpi fluida (kJ/kg)

Tabel 4.6 Hasil perhitungan kehilangan panas alamiah

Sehingga kehilangan panas alamiah totalnya (total natural heat loss) = 2445,02 kW 2,4
MW. Menurut Hochstein (1994), kehilangan panas alamiah yang menunjukan sistem temperatur
tinggi adalah 30 -300 MW. Meskipun hilang panas alamiah daerah penelitian sekitar 2,4 MW,
sistem ini termasuk ke dalam sistem temperatur tinggi dilihat dari kenampakan manifestasi
fumarol yang hanya hadir pada sistem panasbumi temperatur tinggi.

Model Sistem Panasbumi


Berdasarkan dari tipe air panas, asal air panas serta geotermometer yang didapatkan dan
dikorelasikan dengan peta geologi maka akan didapatkan system panasbumi seperti pada gambar
4.10, berdasarkan kenampakan manifestasi yang ada diperkirakan resevoir dan sumber panas
berada di bawah dari manifestasi fumarol yang berada di Gunung Pagerkandang.

Gambar 4.10 Tentative model of Dieng geothermal the geology is based on Condon
et al .(1996) and field observation.