Anda di halaman 1dari 12

UNIVERSITAS INDONESIA

AKIBAT PENINJAUAN KEMBALI TERHADAP PUTUSAN


PERCERAIAN PADA PENGADILAN AGAMA
(STUDI KASUS PUTUSAN NO. 54 PK/AG/2008)

PROPOSAL SKRIPSI

MULYA HARYADI
1006661790

FAKULTAS HUKUM
PROGRAM STUDI ILMU HUKUM
KEKHUSUSAN HUKUM TENTANG PRAKTISI HUKUM
DEPOK
FEBRUARI 2013

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Undang-Undang

Dasar

Negara

Republik

Indonesia

Tahun

1945

menegaskan bahwa Indonesia adalah negara hukum, yang bertujuan mewujudkan


tata kehidupan bangsa yang aman, tertib dan tenteram. Dalam mewujudkan tata
kehidupan tersebut diperlukan adanya upaya untuk menegakkan keadilan,
kebenaran dan ketertiban yang dilakukan oleh kekuasaan kehakiman 1. Dengan
jaminan bahwasannya kekuasan kehakiman tersebut merdeka atau bebas dari
pengaruh kekuasaan lainnya untuk menyelenggarakan peradilan2.
Pada hakikatnya penegakkan hukum merupakan titik krusial dalam
supremasi hukum dan keadilan sekarang ini. Namun, ternyata penegasan dalam
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia setelah perubahan keempat,
dalam pelaksanaannya masih menemui kendala di lapangan. Sehingga makna
proses penegakan hukum mulai sirna, dan mungkin saja pada akhirnya warga
masyarakat menjadi apatis tentang penegakan hukum (khususnya terkait proses
penyelesaian perkara di peradilan, karena proses yang berbelit-belit), yang
membuat indentitas negara Republik Indonesia sebagai negara hukum pelan-pelan
akan hilang kewibawaannya.
Perlu diketahui bahwa jajaran peradilan adalah institusi terakhir dalam
penegakan hukum3. Adapun jajaran peradilan tersebut dinyatakan dalam Pasal 24
ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 bahwa
kekuasaan kehakiman (secara tersirat adalah institusi peradilan) dilakukan oleh
1 H. A. Mukti Arto, Praktek Perkara Perdata Peradilan Agama,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hlm. viii.

2 Indonesia, Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman, UU No. 48 Tahun


2009, LN No. 157 Tahun 2009, TLN No. 5076, Penjelasan Umum.

3 Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Hukum dan HAM,


Laporan Akhir Tim Penelitian Hukum Tentang Masalah Hukum
Pelaksanaan Putusan Peradilan Dalam Penegakan Hukum, (Jakarta:
Badan Pembinaan Hukum Nasional, 2005), hlm. iii.

Universitas Indonesia

sebuah Mahkamah Agung dan Badan Peradilan yang berada di bawahnya dalam
lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan
militer, dan lingkungan peradilan tata usaha negara dan oleh sebuah Mahkamah
Konstitusi.
Terlepas bagaimana bekerjanya suatu proses penegakkan hukum,
sebenarnya pada setiap manusia terjadi perubahan, baik itu berupa perubahan ke
arah yang positif atau ke arah yang negatif. Hal ini dapat didasarkan atas
kenyataan manusia yang mempunyai sifat, watak dan kehendak sendiri-sendiri.
Seringkali keperluan penegakan hukum searah serta berpadanan satu sama lain,
sehingga kerjasama tujuan manusia untuk memenuhi keperluan itu akan lebih
mudah dan lekas tercapai. Akan tetapi, seringkali kepentingan-kepentingan itu
berlainan bahkan ada juga yang bertentangan, sehingga menimbulkan pertikaian
yang mengganggu keserasian hidup bersama4. Dalam hal ini orang atau golongan
yang kuat menindas orang atau golongan yang lemah untuk menekankan
kehendaknya5.
Dari ketidakserasian tersebut, keberadaan hukum sangat diperlukan untuk
mengatur kehidupan masyarakat. Karena hukum berfungsi sebagai perlindungan
kepentingan manusia, yang harus memperhatikan kepastian hukum, kemanfaatan,
dan keadilannya6. Bukan semata-mata mementingkan kehendak pribadi di atas
kepentingan umum. Maka untuk menghindarkan gejala tersebut, masyarakat
mencari jalan untuk mengadakan tata tertib, yaitu dengan membuat ketentuan atau

4 Taufik Rahayu S., Problematika Upaya Hukum Luar Biasa Peninjauan


Kembali
(PK)
Pada
Perkara
Perceraian
di
Peradilan
Agama
http://badilag.net/artikel/9658--problematika-upaya-hukum-luar-biasapeninjauan-kembali-pk-pada-perkara-perceraian-di-peradilan-agama--oleh-taufik-rahayu-syam--311.html, diunduh 27 Januari 2014.

5 CST. Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia,


(Jakarta: Balai Pustaka, 1989), hlm. 33.

6 Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum (Suatu Pengantar), cet. 2,


(Yogyakarta: Liberty, 2005), hlm. 160

Universitas Indonesia

kaidah hukum, yang harus ditaati oleh setiap anggota masyarakat, agar dapat
mempertahankan hidup bermasyarakat7.
Pada umumnya kita semuanya melaksanakan hukum, baik itu yang
disadari atau yang tidak disadari untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Hanya dalam hal terjadi pelanggaran hukum atau sengketa, pelaksanaan atau
penegakkan hukum itu diserahkan kepada penguasa, dalam hal ini kekuasaan
kehakiman. Karena dalam hal ada perselisihan atau pelanggaran, hukum
pelaksanaan atau penegakkannya merupakan monopoli kekuasaan kehakiman.
Kekuasaan kehakiman melalui lembaga peradilannya, merupakan tempat
orang-orang mencari keadilan. Dalam sebuah negara hukum, diharuskan adanya
lembaga peradilan yang tidak memihak supaya sendi-sendi hukum yang ada dapat
ditegakan secara adil. Masyarakat yang merasa dilanggar hak-nya oleh orang lain,
dapat mengajukan gugatan kepada lembaga peradilan untuk mendapatkan hakhaknya itu kembali.
Salah satu lembaga peradilan adalah Badan Peradilan yang berada di
bawah lingkungan Peradilan Agama, yang utuh ditandai dengan dapat
mengeksekusi putusannya sendiri8. Sebagai sub sistem pelaksana kekuasaan
kehakiman, Peradilan Agama hanya menyelenggarakan penegakan hukum dan
keadilan dalam perkara tertentu bagi orang yang beragama Islam.
Upaya perbaikan dari pihak yang merasa tidak terima atas suatu putusan
yang dijatuhkan Peradilan Agama, karena putusannya tersebut dirasa tidak benar,
sehingga berakibat merugikan dirinya, dalam praktek hukum acara peradilan
agama dikenal dengan istilah upaya hukum. Upaya hukum merupakan upaya yang
diberikan oleh undang-undang kepada seseorang atau badan hukum untuk hal
tertentu, untuk mencegah atau memperbaiki kekeliruan dalam suatu putusan 9,
dan/atau untuk melawan putusan hakim (sebagai tempat bagi pihak-pihak yang
7 Retnowulan Sutantion dan Iskandar Oeripkartawinata, Hukum Acara
Perdata dalam Teori dan Praktek, cet. 11, (Bandung: Mandar Maju,
2009), hlm. 1.
8 H. A. Mukti Arto, Loc. Cit.

9 Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, (Yogyakarta:


Liberty, 1988), hlm. 186.

Universitas Indonesia

tidak puas dengan putusan hakim dan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan,
tidak memenuhi rasa keadilan), karena hakim juga seorang manusia yang dapat
melakukan kesalahan/kekhilafan sehingga salah memutuskan atau memihak salah
satu pihak. K. Wantjik Saleh menyatakan pendapat bahwa:
Hakim adalah manusia biasa yang lemah yang tidak dapat terhindar
dari kekeliruan/kesalahan. Selain itu, mungkin pula terjadi hal-hal yang
berada di luar kemampuan hakim, baru kemudian muncuk sesuatu yang
beru yang dapat dijadikan sebagai bukti10.
Perihal upaya hukum ini, dalam prakteknya tergolong kepada upaya
hukum biasa dan upaya hukum luar biasa. Upaya hukum biasa adalah upaya
hukum yang dilakukan atas putusan yang belum berkekuatan hukum tetap.
Sedangkan upaya hukum luar biasa, adalah upaya hukum yang dilakukan atas
putusan yang dalam keadaan sebaliknya, yakni atas putusan yang telah
berkekuatan hukum tetap11. Contoh upaya hukum luar biasa adalah uapaya hukum
peninjauan kembali.
Letak sifat luar biasa upaya Peninjauan Kembali, karena memeriksa dan
mengadili atau memutus putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan
hukum tetap. Padahal pada asasnya, setiap putusan yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap, mutlak bersifat final. Tidak bisa diganggu gugat lagi. Pada
diri putusan sudah terkandung segala macam kekuatan hukum yang mutlak
kepada para pihak, serta telah mempunyai kekuatan eksekutorial yang mutlak
pula12.
Pemeriksaan peninjauan kembali putusan pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap dalam perkara perdata (termasuk lingkungan
10 K. Wantjik Saleh, Peninjauan Kembali Putusan yang Telah
Memperoleh Kekuatan Hukum Yang Tetap, cet. 1, (Bandung: PT. Alumni, 2007),
hlm. 13.

11 Taufiq Hamami, Hukum Acara Perdta Agama, (Jakarta: PT Tatanusa,


2004), hlm. 279.

12 Yahya Harahap, Kedudukan Kewenangan dan Acara Peradilan


Agama, ed. 2, cet. 2, (Jakarta: Sinar Grafika, 2003), hlm. 362.

Universitas Indonesia

peradilan agama) diatur dalam Pasal 66-77 Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 jo
Undang-Undang No. 5 Tahun 2004 jo Undang-Undang No. 3 Tahun 2009 Tentang
Mahkamah Agung. Sedangkan dalam Pasal 24 ayat (1) Undang-Undang No. 48
Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman, menentukan bahwa terhadap putusan
pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, pihak-pihak yang
bersangkutan dapat mengajukan peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung,
apabila terdapat hal atau keadaan tertentu, yakni bukti baru dan/atau kekhilafan
atau kekeliruan hakim dalam menerapkan hukum.
Upaya hukum peninjauan kembali tersebut berlaku pada semua perkara
baik dalam sengketa perkara perdata (maupun pidana). Tentu dalam perkara
perdata termasuk di dalamnya sengketa perkawinan dalam hal perceraian, baik
putusan perceraian yang diputus oleh pengadilan dalam lingkungan peradilan
umum maupun oleh pengadilan dalam lingkungan peradilan agama. Namun,
walaupun pihak berperkara mengajukan upaya hukum peninjauan kembali,
menurut ketentuan yang berlaku pada Pasal 66 ayat (2) Undang-Undang Nomor
14 Tahun 1985 (sebagaian telah diubah dengan Undang-Undang No. 3 Tahun
2009) tentang Mahkamah Agung bahwa: Permohonan peninjauan kembali tidak
menangguhkan atau menghentikan pelaksanaan putusan pengadilan.
Ketentuan tersebut menunjukkan bahwa jika seorang suami telah
mendapatkan keputusan Pengadilan Agama yang amarnya mengizinkan suami
untuk mengucapkan ikrar thalak di muka sidang, maka suami tersebut tidak
terhalang untuk mengucapkan ikrar thalak terhadap isterinya meskipun isterinya
melakukan upaya hukum peninjauan kembali. Sementara jika seorang isteri telah
diputuskan hubungan perkawinannya dengan suaminya oleh pengadilan dan
putusannya telah mempunyai kekuatan hukum tetap maka tentu tidak ada
halangan bagi bekas isteri untuk menikah lagi dengan pasangan baru, tentu akan
sulit mengembalikan bahwa kedua belah pihak harus kembali rukun sebagai
suami isteri akibat dari adanya putusan peninjauan kembali yang diajukan oleh
suaminya. Dalam kenyataan dapat ditemukan suatu fakta bahwa seorang isteri
yang gugatan cerainya dikabulkan kemudian setelah putusan mempunyai
kekuatan hukum tetap dan selesai masa iddahnya, ia menikah lagi dengan laki-laki
lain dan bahkan ia telah hamil; jika mantan suami mengajukan permohonan
peninjauan kembali dan permohnannya tersebut dikabulkan maka berarti mantan

Universitas Indonesia

isteri pemohon peninjauan kembali harus kembali menjadi isterinya dalam status
isteri orang lain dan telah mengandung dengan suami barunya itu13.
Dalam perkara perceraian di pengadilan, pasangan suami isteri yang
diputuskan perkawinannya merupakan pihak dalam perkara sehingga mereka
dapat membela dan mempertahankan hak-haknya sampai upaya hukum luar biasa
berupa Peinjauan Kembali. Adapun putusan Peninjauan Kembali mempunyai dua
alternatif utama yaitu: permohonan peninjauan kembali dikabulkan atau ditolak.
Jika permohonan peninjauan kembali ditolak maka putusan yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap tidak menimbulkan persoalan. Namun jika
permohonan peninjauan kembali dikabulkan, akan terjadi persoalan yang akan
berbenturan tidak hanya dengan fakta sebagaimana dijelaskan di atas, namun juga
akan berbenturan dengan hukum Islam. Dalam hukum Islam maupun ketentuan
lainnya tidak pernah memaksakan pasangan suami isteri telah bercerai dibatalkan
perceraiannya dan bekas pasangan suami isteri yang sudah tidak saling mencintai
dipaksakan untuk tetap sebagai pasangan suami isteri.
Persoalan tersebut adalah akibat hukum daripada konsekuensi putusan
peninjauan kembali yang membatalkan putusan perceraian yang telah berkekuatan
hukum tetap. Akibat hukum tersebut bertentangan dengan peraturan perundangundangan yang ada, misalnya terkait asas monogami, terkait pemaksaan terhadap
sepasang suami isteri yang tidak saling cinta untuk dipaksakan bersatu kembali,
terkait pembatalan perkawinan bagi suami atau isteri yang telah menikah lagi
setelah bercerai, namun perceraiannya itu batal karena putusan peninjauan
kembali, dan terkait masalah mekanisme rujuk antara suami dan isteri yang telah
bercerai sesuai peraturan yang ada, terutama mengenai adanya pelangkah.
1.2

Pokok Permasalahan
Berdasarkan uraian mengenai latar belakang tersebut sebelumnya, maka

yang menjadi pokok permasalahan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:
13 Susilawetty, Problematika Pelaksanaan Upaya Hukum, Peninjauan
Kembali Perkara Perceraian Pada Peradilan Agama http://www.papekalongan.go.id/index.php/component/content/article/13-halamanmuka/kabar-gembira1/212-problematika-pelaksanaan-upaya-hukumpeninjauan-kembali-perkara-perceraian-pada-peradilan-agama,
diunduh 27 Januari 2014.

Universitas Indonesia

1.2.1

Bagaimana ketentuan hukum tentang perceraian yang sudah sah


dilaksanakan menurut hukum yang berlaku di Indonesia, dibatalkan

1.2.2

berdasarkan upaya hukum penijauan kembali?


Bagaimana akibat hukum yang timbul dengan adanya putusan peninjauan
kembali yang membatalkan suatu putusan pada perkara perceraian?

1.3
1.3.1

Tujuan Penulisan
Tujuan Umum
Secara umum penulisan skripsi ini bertujuan untuk mengkaji
hukum acara peradilan agama terutama pada bagian upaya hukum luar
biasa peninjauan kembali, mengenai akibat hukum dari pelaksanaan

1.3.2

putusan yang membatalkan putusan yang telah berkekuatan hukum tetap.


Tujuan Khusus
Secara khusus penulisan ini bertujuan untuk:
1. Menjelaskan upaya hukum luar biasa dalam hukum acara peradilan
agama khusus mengenai peninjauan kembali;
2. Mendeskripsikan akibat perceraian setelah adanya putusan yang telah
berkekuatan hukum tetap;
3. Menjelaskan akibat hukum yang terjadi apabila terdapat putusan
peninjauan kembali yang membatalkan putusan sebelumnya yang telah
berkekuatan hukum tetap;
4. Memberikan informasi kepada Mahakamah Agung sebagai bahan
pertimbangan, bahwa peninjauan kembali terhadap perkara perceraian
sulit untuk diterapkan apabila permohonan tersebut dikabulkan.

1.4

Definisi Operasional
Untuk menghindari terjadinya multitafsir maupun kerancuan definisi, dan

untuk menyelaraskan pandangan, maka dijelaskan definisi operasional terhadap


istilah-istilah yang ada dalam penulisan skripsi ini. Definisi tersebut antara lain
untuk istilah:
1.4.1 Akibat hukum adalah akibat yang diberikan oleh hukum atas suatu
peristiwa hukum atau perbuatan dari subjek hukum.14
14 Marwan Mas, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta: Ghalia Indonesia,
2004), hlm. 39

Universitas Indonesia

1.4.2
1.4.3

Peradilan agama adalah peradilan bagi orang-orang yang beragama Islam15


Upaya hukum peninjauan kembali adalah upaya hukum luar biasa (request
civil) yang merupakan upaya untuk memeriksa atau memerintahkan
kembali

1.4.4

suatu

putusan

yang

berkekuatan

hukum

tetap,

guna

membatalkannya16.
Perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang
wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah

1.4.5

tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa17.
Perceraian dalam istilah ahli Figh disebut talak atau furqah, yang jika

1.4.6

disimpulkan artinya adalah membuka ikatan membatalkan perjanjian18.


Monogami adalah sistem yang hanya memperbolehkan seorang laki-laki

1.4.7

mempunyai satu istri pada jangka waktu tertentu19.


Rujuk adalah kembali hidup sebagai suami isteri antara laki-laki dan
wanita yang melakukan perceraian dengan jalan talak raji selama masih
dalam masa iddah tanpa pernikahan bain20.

1.5

Metode Penelitian

15 Indonesia, Undang-Undang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang


Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama, UU No. 50 Tahun 2009, LN No.
159 Tahun 2009, TLN No. 5078, Pasal 1 angka 1.

16 Abdul Manan, Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan


Peradilan Agama, (Jakarta: Kencana, 2008), hlm. 359-360.

17 Indonesia, Undang-Undang Perkawinan, UU No. 1 Tahun 1974, LN


No. 1 Tahun 1974, TLN No. 3019, Pasal 1.

18 Soemiyati, Hukum Perkawinan Islam


Perkawinan, (Yogyakarta: Liberty, 1982), hlm. 103.

dan

Undang-Undang

19 Kamus Besar Bahasa Indonesia, http://kbbi.web.id/monogami


diunduh 14 Februari 2014
20 Soemiyati, Op.Cit., hlm. 125.

Universitas Indonesia

10

Bentuk metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini


adalah metode penelitian yuridis normatif21 yaitu, penelitian yang dilakukan
terhadap hukum positif tertulis maupun tidak tertulis, yang difokuskan terhadap
pemaparan akibat peninjauan kembali terhadap perkara perceraian, terutama
terkait kemungkinan yang terjadi apabila dilangsungkannya upaya hukum luar
biasa, mengingat adanya ketentuan bahwa harus berkekuatan hukum tetap dan
ketentuan tidak menangguhkan eksekusi. Apabila dilihat dari sifatnya, penelitian
untuk skripsi ini bersifat eksplanatoris, yakni penelitian yang mana pengetahuan
tentang suatu masalah sudah cukup, namun pengetahuan tersebut digunakan untuk
menguji hipotesa-hipotesa tertentu.
Dalam penelitian kepustakaan yang menjadi alat pengumpulan data yang
utama adalah studi dokumen. Studi dokumen dilakukan dengan mengkaji datadata sekunder. Data sekunder adalah data yang pada umumnya telah ada dalam
keadaan siap terbuat (ready-made), bentuk maupun isinya telah ditetapkan oleh
peneliti-peneliti terdahulu, dan dapat diperoleh tanpa terikat waktu dan tempat22.
Jenis data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini dapat
digolongkan dalam:
1.5.1 Bahan hukum primer, yaitu bahan hukum yang mempunyai kekuatan
mengikat berupa peraturan perundang-undangan Indonesia. Di dalam
penelitian ini, peraturan perundang-undangan yang akan digunakan
diantaranya Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan
Kehakiman, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 jo Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 2004 jo Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang
Mahkamah Agung, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 jo UndangUndang Nomor 3 Tahun 2006 jo Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009
tentang Peradilan Agama, HIR (Het Herziene Indonesisch Reglement), RV
(Reglement op de Rechtsvordering), Undang-Undang Nomor 1 Tahun

21 Sri Mamudji et.al., Metode Penelitian dan Penulisan Hukum,


(Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2005),
hlm. 9-10.
22 Soejono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, ed.
1, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007), hlm. 24.

Universitas Indonesia

11

1974 tentang Perkawinan, Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975


1.5.2

tentang Pelaksanaan UU Perkawinan, dan Kompilasi Hukum Islam (KHI).


Bahan hukum sekunder, yaitu bahan hukum yang erat kaitannya dengan
bahan hukum primer dan dapat membantu menganalisa, memahami, dan
menjelaskan bahan hukum primer, yang antara lain adalah teori para
sarjana, buku, penelusuran internet, artikel ilmiah, jurnal, tesis, surat

1.5.3

kabar, dan makalah;


Bahan hukum tersier, yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk
maupun penjelasan atas bahan hukum primer dan sekunder, misalnya
ensiklopedia, atau kamus.
Alat pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti adalah studi

dokumen ditambah wawancara dengan narasumber untuk melengkapi data yang


terkumpul. Metode pengolahan dan analisis data yang digunakan dalam penelitian
ini adalah metode kualitatif, yaitu tata cara penelitian yang menghasilkan data
deskriptif analitis, apa yang dinyatakan oleh sasaran penelitian yang bersangkutan
dinyatakan secara tertulis atau lisan dan perilaku nyata.23

1.6

Sistematika Penulisan
Penulisan skripsi ini dibagi ke dalam lima bab dengan pokok bahasannya

masing-masing. Bab-bab tersebut adalah sebagai berikut:


BAB 1: PENDAHULUAN
Bab ini membahas mengenai latar belakang penulisan, pokok permasalahan,
tujuan penulisan, definisi operasional, metode penelitian, dan sistematika
penulisan.
BAB 2: UPAYA HUKUM PENINJAUAN KEMBALI PADA HUKUM ACARA
PERADILAN AGAMA
Bab ini membahas mengenai tinjauan umum hukum acara peradilan agama, upaya
hukum luar biasa peninjauan kembali, asas-asas dalam upaya hukum peninjauan

23 Mamudji, op.cit., hlm. 67.

Universitas Indonesia

12

kembali, ketentuan formil dan materiil upaya hukum peninjauan kembali, dan
putusan peninjauan kembali serta eksekusinya.

BAB 3: PUTUSNYA PERKAWINAN KARENA PERCERAIAN


Bab ini membahas mengenai ketentuan perkawinan secara umum, putusnya
perkawinan menurut peraturan perundang-undangan khusus pada perceraian, arti
perceraian, sebab-sebab perceraian, tata cara perceraian, akibat perceraian, dan
mekanisme rujuk.
BAB 4: AKIBAT PENINJAUAN KEMBALI TERHADAP PUTUSAN
PERCERAIAN
Bab ini membahas mengenai putusan peninjauan kembali yang membatalkan
perceraian ditinjau dari asas-asas peninjauan kembali, asas-asas perkawinan, dan
eksekusi putusan perceraian. Bab ini juga membahas mengenai kasus yang ada
dalam putusan No. 54 PK/AG/2008, mengenai dikabulkannya permohonan
peninjauan kembali yang membatalkan putusan percerian terhadap para pihak.
BAB 5: PENUTUP
Bab ini berisi kesimpulan mengenai pembahasan-pembahasan dalam bab-bab
sebelummnya. Bab ini juga berisi saran-saran penulis berkaitan dengan hasil
penelitian yang dituliskan dalam skripsi ini.

Universitas Indonesia