Anda di halaman 1dari 42

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kanker payudara merupakan kanker yang paling umum terjadi pada wanita baik di negara maju maupun negara berkembang, meliputi 16% dari semua kanker yang diderita oleh wanita. Pada tahun 2004, 519.000 wanita meninggal karena kanker payudara, dan meskipun kanker payudara dianggap sebagai penyakit negara maju, mayoritas (69%) dari semua kematian akibat kanker payudara terjadi di negara berkembang. 1 Dari 600.000 kasus kanker payudara baru yang didiagnosis setiap tahunnya sebanyak 350.000 diantaranya ditemukan di negara maju, sedangkan sisanya ditemukan di negara yang sedang berkembang.

Seorang wanita yang hidup hingga usia 90 tahun memiliki satu dari delapan kemungkinan menderita kanker payudara. Pada tahun 2007 diperkirakan 178.480 perempuan didiagnosa menderita kanker payudara invasif, 62.030 dengan karsinoma in situ, dan lebih dari 40.000 wanita meninggal karena penyakit ini.

Survival rates kanker payudara sangat bervariasi di seluruh dunia, mulai dari 80% atau lebih di Amerika Utara, Swedia dan Jepang menjadi sekitar 60% di negara-negara berpenghasilan menengah dan di bawah 40% di negara-negara berpenghasilan rendah. 2 Tingkat kelangsungan hidup yang rendah di negara-negara kurang berkembang dapat dijelaskan oleh kurangnya program deteksi dini, sehingga proporsi perempuan dengan penyakit stadium akhir menjadi tinggi.

Pada tahun 2000 insiden kanker payudara di Indonesia berdasarkan ASR adalah sebesar 20,6 (20,6 per 100.000 penduduk) dengan mortalitas sebesar 10,1 (10,1 per 100.000 penduduk) atau se banyak 10.753 orang. Sedangkan pada tahun 2005 mortalitas akibat kanker payudara menurut ASR adalah sebesar 10,9 per 100.000 penduduk dengan jumlah kematian sebanyak 12.352 orang. Kanker payudara merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting, karena morbiditas dan mortalitasnya yang tinggi. 3

Insiden kanker payudara meningkat di negara-negara berkembang termasuk Indonesia karena meningkatnya angka harapan hidup, peningkatan urbanisasi dan adopsi gaya hidup Barat. Meskipun beberapa pengurangan risiko mungkin dicapai dengan pencegahan, strategi ini tidak dapat menghilangkan sebagian besar kanker payudara yang berkembang di negara berpenghasilan rendah dan menengah di mana kanker payudara didiagnosis pada tahap sangat terlambat. Oleh karena itu, deteksi dini untuk meningkatkan outcome kanker payudara dan kelangsungan hidup tetap menjadi landasan pengendalian kanker payudara. 4

Mammografi merupakan pemeriksaan radiologis khusus menggunakan sinar X dosis rendah untuk mendeteksi secara dini keganasan pada payudara, bahkan sebelum adanya perubahan yang terlihat pada payudara atau benjolan yang dirasakan pasien. Mammografi dianggap sebagai senjata yang paling efektif untuk mengidentifikasi dan mendeteksi adanya kanker pada payudara, hal ini disebabkan tingkat akurasi yang mencapai hampir 80%-90% dari semua kasus kanker payudara. Mammografi tidak mencegah atau bahkan mengobati, namun dapat mengurangi resiko terjadinya kematian dengan mengidentifikasi keberadaan tumor pada jaringan payudara dalam tingkat yang masih dapat ditangani dengan lebih mudah.

Sebelum tahun 1980, dimana pencitraan payudara belum banyak digunakan, pengobatan untuk kanker payudara dimulai pada tahap akhir dari penyakit dibandingkan dengan sekarang. Pencitraan Payudara telah meningkatkan deteksi tumor yang lebih kecil dari yang ditemukan pada pemeriksaan payudara secara klinis dan telah memungkinkan

pasien untuk menghindari operasi yang tidak perlu. Selain itu, manfaat kedua diagnosis dini adalah bahwa pasien dengan kanker payudara dapat diberikan lebih banyak pilihan pengobatan, seperti lumpectomy dengan terapi radiasi yang merupakan pilihan dibandingkan mastektomi pada pasien tertentu. 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Payudara

Payudara terletak pada bagian anterior dinding thorax, mulai dari costae 2 atau 3 sampai costae 6 atau 7, terletak diatas otot pektoralis mayor, otos pektoralis minor dan sebagian dari otot seratus anterior dan otot eksternus abdominal obliqua. Batas medial dari payudara menempati margo lateral dari sternum dan batas lateral dari payudara mengikuti garis anterior dari axila. Prosesus aksilaris dari payudara memanjang ke arah atas dan lateral menuju aksila dimana berhubungan dengan pembuluh darah aksila. Bagian payudara ini secara klinis signifikan karena tingginya insidens kanker payudara dalam drainase limfatik prosesus aksilaris.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anatomi Payudara Payudara terletak pada bagian anterior dinding thorax, mulai dari

Anatomi Payudara

Lobulus dan Duktus Laktiferus Payudara berbentuk kerucut, simetris, serta bervariasi dalam bentuk dan ukurannya yang dipengaruhi

Lobulus dan Duktus Laktiferus

Payudara berbentuk kerucut, simetris, serta bervariasi dalam bentuk dan ukurannya yang dipengaruhi oleh genetik, umur, persentase lemak tubuh dan kehamilan. Payudara terdiri dari papila, areola, kulit, lemak subkutis, jaringan parenkim dan jaringan ikat. Tiap payudara terdiri dari 15 sampai 20 lobus yang dipisahkan oleh jaringan lemak yang bervariasi jumlahnya. Jumlah jaringan lemak tersebut menentukan ukutan dan bentuk dari payudara. Setiap lobus dibagi menjadi lobulus yang berisi glandula mammae yang merupakan modifikasi dari kelenjar keringat. Diantara lobulus terdapat jaringan ikat yang disebut ligamentum Cooper yang memberi rangka untuk payudara. Tiap lobulus terdiri atas sejumlah asinus, atau kelenjar yang berada didalam jaringan ikat longgar dan berhubungan dengan duktus intralobularis. Tiap asinus tersusun atas dua tipe sel yaitu epitel dan mioepitel. Sel epitel merupakan sel sekresi. Sel epitel dikelilingi oleh sel mioepitel yang mengandung protein kontraktil yang mempunyai fungsi mekanik. Glandula mammae mensekresikan susu ke duktus mammaria yang bermuara ke duktus laktiferus. Lumen setiap duktus laktiferus meluas didekat puting membentuk sinus laktiferus. Puting payudara merupakan proyeksi silindris dari payudara yang mengandung jaringan erektil. Puting dikelilingi oleh areola yang

berbentuk sirkular dan berpigmen. Permukaan areola tampak tidak rata karena terdapat

kelenjar keringan yang letaknya dekat dengan permukaan. 6,7,8

Biasanya, perempuan muda cenderung memiliki jaringan kelenjar payudara yang lebih

padat. Pada wanita yang lebih tua, kepadatan mammographic cenderung menurun, dengan

penggantian jaringan kelenjar oleh jaringan lemak. Namun, ada wanita muda yang memiliki

jaringan lemak yang padat pada gambaran mamografinya. Klasifikasi sistem telah

dikembangkan untuk menggambarkan kepadatan jaringan payudara pada mamografi. Salah

satu yang paling dikenal adalah klasifikasi Wolfe. 9

Wolfe N1 pola mengacu pada payudara yang mengandung proporsi yang tinggi dari

jaringan lemak, tidak tampak bayangan duktus. Wolfe DY mengacu pada jaringan payudara yang sangat padat, jaringan kelenjar lebih

dominan disebut dysplastic breast . Wolfe P1 mengacu pada payudara didominasi jaringan lemak dengan jaringan

kelenjar terlihat di bagian anterior <25%. Wolfe P2 mengacu pada payudara dengan jaringan kelenjar lebih dominan terlihat >

25%.

Klasifikasi lain yang biasanya digunakan oleh American College of Radiology adalah

BI-RADS (Breast Imaging Reporting and Data System) : 10

BI-RADS tipe 1 = hampir seluruhnya lemak, jaringan kelenjar < 25% (disebut sebagai

densitas rendah) BI-RADS tipe 2 = kelenjar fibroglandular tersebar sekitar 25%-50% dari payudara

(densitas rata-rata) BI-RADS tipe 3 = kepadatan heterogen, kelenjar berkisar 51%-75% dari payudara

(densitas tinggi) BI-RADS tipe 4 = sangat padat, jaringan kelenjar > 75% dan fibrosa (kepadatan

sangat tinggi)

Representasi payudara berdasarkan klasifikasi BI-RADS. Keterangan: BI-RADS tipe 1 (A), BI-RADS tipe 2 (B), BI-RADS tipe

Representasi payudara berdasarkan klasifikasi BI-RADS. Keterangan: BI-RADS tipe 1

(A), BI-RADS tipe 2 (B), BI-RADS tipe 3 (C), BI-RADS tipe 4 (D)

2.2 Karsinoma Mamae

Karsinoma mammae merupakan proliferasi malignan dari sel epitel yang melapisi

duktus atau lobulus payudara, yang dapat disebabkan akibat interaksi dari faktor genetik dan

lingkungan yang menyebabkan akumulasi progresif dari perubahan genetik dan epigenetik

dari sel kanker payudara.

Di dunia, kanker payudara merupakan kanker tersering yang terjadi pada wanita dan

merupakan penyebab utama kematian pada wanita.

Pada tahap awal, kanker payudara biasanya tidak menimbulkan gejala. Kanker

payudara sering kali terdeteksi pertama kali sebagai abnormalitas pada pemeriksaan

mamogram sebelum timbul keluhan pada pasien. Pendekatan umum untuk evaluasi kanker

payudara telah diformulasikan sebagai tiga penilaian yaitu: pemeriksaan klinis, pencitraan

(mamografi dan/atau ultrasonografi) dan biopsi jarum.

2.10.1

Etiologi, Faktor Resiko dan Patofisiologi

Karsinoma invasif tumbuh melalui alterasi molekular pada level selular yang

menyebabkan terjadinya pertumbuhan dan penyebaran dari sel epitel payudara yang tidak

terkontrol.

Berbagai studi epidemiologi telah mengidentifikasi banyak faktor resiko yang

meningkatkan kemungkinan seorang wanita terkena kanker payudara. Kesamaan dari

beberapa faktor resiko tersebut adalah efeknya pada kadar dan durasi pajanan terhadap

estrogen endogen.

Faktor resiko tersebut antara lain adalah:

Menarche dini, nuliparitas, menopause lama yang meningkatkan lama pajanan

terhadap estrogen pada wanita premenopause Obesitas dan hormon replacement therapy yang meningkatkan pajanan estrogen pada

wanita postmenopause. Peningkatan resiko pada wanita obes mungkin disebabkan

karena konversi lemak menjadi estrogen.

Pajanan hormonal meningkatkan jumlah target sel potensial dengan menstimulasi

pertumbuhan payudara selama pubertas, siklus menstruasi dan kehamilan. Pajanan hormonal

juga merangsang proliferasi sel yang meningkatkan resiko terjadinya kerusakan dna. Setelah

sel prakanker atau sel kanker hadir, hormon estrogen dapat menstimulasi pertumbuhan

mereka, termasuk pertumbuhan normal sel epitel dan sel stroma yang dapat membantu

pertumbuhan sel kanker.

Estrogen juga memiliki peranan langsung dalam karsinogenesis. Metabolit dari

estrogen dapat menyebabkan mutasi dan menghasilkan radikal bebas yang menyebabkan

kerusakan dna pada sel. Selain itu, varian gen dalam sintesis estrogen dan metabolitnya dapat

meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara. Varian tersebut analog dengan alel sitokrom

p-450 yang mengganggu metabolisme tamoxifen

Selain faktor resiko diatas, riwayat keluarga juga merupakan salah satu faktor resiko

terjadinya kanker payudara. Memiliki hubungan keluarga derajat pertama dengan penderita

kanker payudara merupakan salah satu resiko terjadinya kanker payudara.

Resiko terkena kanker payudara meningkat 4x lipat bila memiliki ibu atau saudara

perempuan dengan kanker payudara. Resiko menjadi 5x lipat lebih besar bila memiliki 2 atau lebih keluarga derajat

pertama dengan kanker payudara. Riwayat keluarga dengan kanker ovarium pada keluaga derajat pertama, terutama

jika terjadi sebelum umur 50 tahun juga meningkatkan resiko terjadinya kanker

payudara.

Walaupun 20-30% wanita dengan kanker payudara memiliki paling tidak 1 keluarga

dengan riwayat kanker payudara, hanya 5-10% wanita dengan kanker payudara memiliki

predisposisi herediter yang teridentifikasi. BRCA1 dan BRCA2 bertanggungjawab terhadap

3-8% kasus kanker payudara dan 15-20% kasus keluarga.

Mutasi gen BRCA1 pada kromosom 17 dan BRCA2 pada kromosom 13,

bertanggungjawab terhadap mayoritas dominan autosomal kanker payudara. Kedua gen

tersebut diduga merupakan gen tumor supresor yang mempertahankan integritas DNA dan

regulasi transkripsional.

Mutasi BRCA1, paling sering terjadi pada wanita ashkenazi jewish (8,3%), diikuti oleh

wanita hispanik (3,5%), wanita berkulit putih non-hispanik (2,2%), wanita kulit hitam (1,3%)

dan wanita asia (0,5%). Wanita yang memiliki mutasi gen BRCA1 atau BRCA2 memiliki

resiko dengan estimasi sebesar 50-80% terkena kanker payudara.

.

2.10.2

Manifestasi Klinis

Kebanyakan kanker payudara pada stadium awal tidak menimbulkan gejala, terlebih

lagi jika ditemukan melalui skrining mamogram. Tumor yang besar dapat bermanifestasi

sebagai massa yang tidak nyeri. Nyeri bukanlah gejala yang biasa terjadi pada kanker

payudara. Hanya 5% dari pasien dengan keganasan payudara mengalami rasa nyeri.

Tanda dan gejala yang mengindikasikan kemungkinan terjadinya kanker payudara

antara lain adalah:

Benjolan pada payudara

Perubahan bentuk dan ukuran payudara

Perubahan dan retraksi kulit (penebalan, pembengkakan, kemerahan)

Perubahan dan abnormalitas puting (ulkus, retraksi, discharge)

Pembesaran kelenjar getah bening pada ketiak

  • 2.10.3 Klasifikasi

Lebih dari 95% dari keganasan payudara merupakan adenokarsinoma yang terbagi

menjadi karsinoma insitu dan karsinoma invasif. Karsinoma in situ merupakan proliferasi

neoplastik yang terbatas pada membran basalis duktus dan lobulus, sedangkan karsinoma

invasif telah menembus membran basalis hingga ke stroma. Pada karsinoma invasif, sel-sel

ganas berpotensi untuk menginvasi struktur vaskular hingga mencapai nodus limfe regional

dan menyebar ke tempat lain.

Karsinoma In Situ

  • a. Karsinoma Intraduktus In Situ Merupakan 15-30% karsinoma payudara pada populasi yang terskrining dengan

baik. Hampir setengah keganasan payudara yang terdeteksi dengan mamografi

merupakan karsinoma intraduktal. Sebagian besar karsinoma intraduktal terdeteksi

dengan ditemukannya kalsifikasi pada mamografi. Selain itu, juga dapat terlihat fibrosis

periduktus yang mengelilingi karsinoma intraduktus walaupun jarang terjadi. Terkadang,

karsinoma intraduktus juga menyebabkan keluarnya discharge dari puting payudara. Karsinoma intraduktus terdiri dari populasi sel klonal ganas yang terbatas pada

membran basalis duktus dan lobulus. Sel-sel mioepitelial tetap ada, walaupun dapat

berkurang jumlahnya. Karsinoma intraduktus dapat menyebar melalui duktus dan lobulus

dan menyebabkan lesi yang ekstensif dan melibatkan seluruh bagian payudara.

  • b. Karsinoma Lobular In Situ

Karsinoma

lobular

in

situ

terjadi

pada

1-6%

karsinoma

payudara

dan

tidak

menyebabkan kalsifikasi maupun reaksi stroma sehingga tidak terlihat gambaran

perubahan densitas pada mamografi. Oleh karena itu, karsinoma lobular in situ biasanya

terdeteksi melalui pemeriksaan biopsi.

Karsinoma Invasif

Karsinoma invasif hampir selalu menimbukan massa yang dapat diraba yang terjadi

akibat metastasis dari kelenjar getah bening aksila pada 50% pasien. Keganasan yang lebih

besar dapat terfiksasi pada dinding dada atau menyebabkan retraksi kulit payudara. Jika

keganasan terjadi pada bagian sentral dari payudara, dapat menyebabkan terjadinya retraksi

puting payudara. Saluran limfatik juga dapat terlibat sehingga dapat menghambat drainase

dari kulit dan menyebabkan limfeedema dan penebalan dari kulit. Pada kasus tersebut,

penarikan kulit oleh ligamentum cooper menyebabkan tampilan kulit seperti kulit jeruk. Pada wanita yang lebih tua yang menjalani mamografi, karsinoma invasif sering terlihat

sebagai massa radiodense. Kurang dari 20% pasien mengalami metastasis ke kelenjar getah

bening. Karsinoma inflamasi merupakan istilah untuk tumor yang disertai dengan payudara

eritem dan bengkak yang disebabkan karena invasi ekstensif dan obstruksi limfatik kulit oleh

sel tumor. Keganasan yang mendasari biasanya difus infiltratif dan tidak membentuk massa

yang dapat diraba. Terkadang keganasan payudara terlihat sebagai metastasis pada kelenjar getah bening

aksila maupun metastasis di tempat lain sebelum terdeteksi pada payudara itu sendiri.

  • a. Karsinoma Duktus Invasif Karsinoma duktus invasif merupakan 70-80% karsinoma invasif

  • b. Karsinoma Lobular Invasif Biasanya bermanifestasi sebagai massa yang dapat diraba dan perubahan densitas pada mamografi dengan batas ireguler. Namun, pada ¼ kasus, tumor menginfiltrasi

jaringan secara difus sehingga sulit terdeteksi dengan palpasi dan hanya menyebabkan

sedikit perubahan pada pemeriksaan mamografi.

  • c. Karsinoma Medularis Merupakan karsinoma yang paling sering terjadi pada wanita berusia sekitar 60 tahun dan bermanifestasi sebagai massa berbatas tegas. Karsinoma ini dapat menyerupai lesi jinak secara klinis dan radiologis, dan dapat juga bermanifestasi sebagai massa yang tumbuh dengan cepat.

  • d. Karsinoma Mucinous (Colloid) Karsinoma mucinous terjadi pada wanita dengan usia rata-rata 71 tahun dan biasanya tumbuh dengan lambat selama bertahun-tahun.

  • e. Karsinoma Tubular Biasanya terdeteksi sebagai gambaran densitas mamografi yang kecil dan ireguler pada wanita berusia 40an.

  • f. Karsinoma Invasif Papiler Jarang terjadi, hanya sekitar 1% dari seluruh karsinoma invasif

  • g. Karsinoma Metaplastik Terdiri dari beberapa tipe jarang karsinoma payudara (<1% kasus) seperti karsinoma yang mempoduksi matrix, karsinoma sel skuamosa, dan karsinoma dengan komponen sel spindle yang menonjol. 11

2.3 Mammografi

Mammografi merupakan pemeriksaan radiologis khusus pada payudara menggunakan

sinar X dosis rendah. Mamografi skrining atau pemeriksaan penyaring didefinisikan sebagai

evaluasi terhadap suatu populasi wanita 'normal', tanpa keluhan atau gejala yang mengarah ke

tumor payudara dalam usaha mendeteksi kanker dini, sedangkan pemeriksaan pada pasien

dengan tanda dan gejala kanker payudara disebut dengan mamografi diagnostik. 5

Penggunaan mamografi dalam prosedur diagnostik akan memperoleh nilai ketepatan

diagnostik sebesar 94%. Bila mamografi dan ultrasonografi dipakai bersama dalam prosedur

diagnostik, akan meningkatkan nilai ketepatan diagnostik menjadi 97%.

Mamografi lebih berperan pada payudara yang mempunyai jaringan lemak lebih

dominan dari jaringan fibroglandular yang biasanya ditemukan pada wanita dewasa diatas 40

tahun dimana kekerapan kejadian keganasan payudara meningkat pada usia tersebut. Peranan

mamografi berkurang pada payudara yang memiliki jaringan fibroglandular yang lebih padat

dimana keadaan biasanya ditemukan pada wanita muda dibawah 30 tahun.

Pada mamografi dapat dibedakan kepadatan jaringan tumor dengan jaringan sekitarnya,

hal ini disebabkan karena absorpsi sinar X oleh jaringan tumor akan lebih banyak daripada

jaringan sekitarnya.

Mammografi pada awalnya dikembangkan secara konvensional dengan gambar yang

dituangkan dalam film (film dalam kaset yang dirancang khusus). Namun semakin

berkembangnya zaman, produsen mengembang alat mamografi digital. Keuntungan utama

dari sistem mamografi digital adalah pemisahan gambar, pengolahan akuisisi dan tampilan,

yang memungkinkan masing-masing langkah yang harus dioptimalkan. Mamografi digital

juga banyak mengalami perkembangan, dari yang menggunakan Photostimulable Fosfor

Computed Radiografi (CR), kemudian “Charge Couple Device” (CCD) dengan tujuan

menghasilkan gambar dalam format digital yang dapat memanipulasi tampilan dari gambar

untuk mengoptimalkan kualitas gambar. Mammogram digital terbaik dilaporkan

menggunakan workstation dilengkapi dengan monitor resolusi tinggi. 5

Mesin mamografi digital Pembaca lebih suka film tampilan mammogram digital. Daerah anatomis yang berbeda seperti kulit,

Mesin mamografi digital

Pembaca lebih suka film tampilan mammogram digital. Daerah anatomis yang berbeda

seperti kulit, wilayah dan daerah parenkim retromamillary padat terlihat lebih baik digital

dari pada layar/mammogram film. Kelainan seperti microcalcifications dan massa mungkin

lebih mencolok pada mammogram digital. Hal ini penting untuk menentukan apakah

peningkatan dalam visualisasi struktur di payudara berkaitan peningkatan tingkat deteksi

kanker.

  • 2.3.1 Indikasi Pemeriksaan Mamografi

Indikasi pemeriksaan mamografi :

  • 1. Adanya benjolan pada payudara

  • 2. Adanya rasa tidak enak pada payudara

  • 3. Pada penderita dengan riwayat risiko tinggi untuk mendapatkan keganasan payudara

  • 4. Pembesaran kelenjar aksiler yang meragukan

5.

Penyakit paget pada puting susu

6.

Adanya penyebab metastasis tanpa diketahui asal tumor primer

7.

Pada penderita dengan cancer-phobia.

Menurut referensi lainya, indikasi mamografi adalah :

1.

Skrening pada wanita asimptomatik pada wanita usia 50 tahun atau lebih.

2.

Skrening pada wanita asimptomatik pada usia 35 tahun atau lebih yang mempunyai

resiko berkembangnya kanker payudara:

Wanita yang memiliki satu atau lebih saudara pada derajat pertama keluarga yang

didiagnosis menderita kanker payudara postmenopause. Wanita yang memiliki faktor resiko yang ditemukan secara histologik pada operasi

yang dilakukan sebelumnya contohnya hyperplasia duktal atipik.

3.

Investigasi pada wanita dengan gejala pada usia 35 tahun atau lebih dengan benjolan

di payudara atau bukti klinis lain dari kanker payudara.

4.

Pengawasan payudara setelah eksisi lokal kanker payudara.

5.

Evaluasi benjolan payudara pada wanita setelah mendapat mammoplasty.

6.

Investigasi benjolan payudara yang mencurigakan pada pria.

2.4 Skrining Kanker Payudara

Tujuan utama skrining dengan mamografi adalah untuk menurunkan angka mortalitas

dari kanker payudara dengan mendeteksi kanker ketika masih kecil, sebelum kanker tersebut

berkembang dan menyebar secara lebih luas dan prognosis dari terapi yang dilakukan akan

lebih baik dibandingkan tumor yang lebih besar.

Ketepatan mamografi bergantung pada banyak factor diantaranya teknik, kualitas

gambar, pengalaman ahli radiologi dalam membaca mamogram, namun ketepatan mamografi

ini berkisar antara 66-98%. Nilai ketepatan diagnostik mamografi berkisar antara 80-94%

untuk tumor ganas dan 90-93% untuk tumor jinak.

  • 2.5 Persiapan Pasien

Persiapan mammogram dimulai pada penjadwalan ketika pasien diberi petunjuk khusus

untuk mempersiapkan diri untuk melakukan pemeriksaan. Penjadwalan mammogram setelah

menstruasi akan mengurangi ketidaknyamanan yang mungkin terjadi saat menekan payudara.

Cara terbaik adalah untuk jadwal mammogram bagi perempuan yang tidak menopause 5

sampai 7 hari terakhir setelah mens.

Pasien akan melepas semua pakaian dari pinggang ke atas, sehingga disarankan untuk

memakai celana dan blus yang mudah dilepas. Pasien tidak boleh menggunakan deodoran,

parfum, atau bedak sebelum pemeriksaan karena dapat menghasilkan artefak pada

mammogram yang mengakibatkan salah tafsir. Riwayat penyakit pasien harus diketahui

karena dapat mengungkapkan apakah diperlukan proyeksi mammogram tambahan. Setiap

mammogram yang sudah dilakukan di tempat lain sebelumnya dibawa.

  • 2.6 Tehnik Pemeriksaan

Mammografi adalah foto rontgen payudara dengan mempergunakan peralatan khusus.

Cara ini sederhana dan dapat dipercaya untuk menemukan kelainan-kelainan di payudara,

tidak sakit dan memerlukan kontras. Mammografi mampu mendeteksi karsinoma payudara

ukuran kecil, lebih kecil dari 0,5 cm bahkan pada tumor yang tidak teraba (unpalpable

tumor). Cara ini dapat dipergunakan untuk scrining massal terutama golongan resiko tinggi.

Tujuan utama pemeriksaan mammografi adalah untuk mengenali secara dini keganasan

payudara.

Mamografi yang efektif membutuhkan gambar berkualitas tinggi dengan densitas film

dan kontras yang optimal, dengan resolusi tinggi dan dosis radiasi yang rendah. Hal ini sangat

penting untuk mendeteksi kanker kecil karena tanda-tanda radiologis mungkin sangat halus.

Peralatan mamografi dan teknik yang digunakan oleh karena itu harus memperhitungkan

variasi luas dalam ukuran payudara, variasi dalam jumlah relatif dari jaringan lemak, kelenjar

dan stroma jaringan, dan kontras rendah antara jaringan payudara yang normal dan lesi

patologis pada umumnya. Untuk menghasilkan gambar berkualitas tinggi alat Xray

mamografi harus dilengkapi dengan fitur sebagai berikut :

1. Generator. Generator modern dengan tegangan tinggi menghasilkan potensial output

yang konstan dengan output yang tinggi diharapkan dapat mengurangi waktu

paparan dan meminimalisasi ketidakjelasan gambar karena adanya pergerakan.

2. Tabung X-ray. Yang paling sering digunakan dengan kombinasi target-filter yaitu

target Molybdenum (Mo) dengan filter Mo 0,03 mm. Puncak kilovoltase antara 26-

30 kv dan tersering 28 kv. Energy yang lebih rendah antara 17-20 kv, dapat

menghasilkan kontras maksimum yang berasal dari jaringan lunak payudara.

3. Automatic exposure control (AEC). AEC secara otomatis mengontrol durasi

pemaparan densitas optimum dari mammogram dapat dipertahankan pada berbagai

ukuran dan kepadatan payudara yang berbeda. Biasanya perangakat AEC ini

diposisikan 3-5 cm posterior putting susu dimana diperkirakan jaringan kelenjar

yang paling padat.

4. Grid radiasi sekunder. Penggunaan system grid yang bergerak meningkatkan resolusi

dan kontras dengan menurunkan radiasi hambur.

5. Kompresi. Biasanya kompresi payudara diharapkan mencapai ketebalan 4cm. Efek

dari kompresi adalah :

Menurunkan dosis

Mengurangi sinar hambur, meningkatkan kontras

Mengurangi ketidakjelasan geometric

Mengurang ketidakjelasan karena gerakan

Mengurangi perbedaan ketebalan dari berbagai bagian payudara

Mengurangi overlapping jaringan, meningkatkan resolusi.

Mamografi menggunakan radiasi pengion untuk gambar payudara. Risiko radiasi

pengion sudah banyak diketahui, untuk itu dijaga agar dosis radiasi yang diberikan serendah

mungkin. Dosis radiasi untuk pemeriksaan dua tampilan standar dari kedua payudara adalah

sekitar 4,5 mGy. Dosis yang lebih tinggi dalam program screening, dapat merangsang

terjadinya kanker payudara setelah terkena radiasi. Diperkirakan bahwa risiko merangsang

kanker payudara pada wanita telah dpublikasikan di Inggris melalui National Health Service

Breast Screening Program (NHSBSP) yaitu 1 dari 100 000 per mGy. Perhitungan antara

risiko dan manfaat telah dipertimbangkan dan hasilnya menunjukan bahwa manfaat dari

skrining jauh lebih besar daripada risiko merangsang kanker, dengan rasio perbandingan

nyawa yang diselamatkan dan yang hilang kira-kira 100 : 1.

2.7 Proyeksi Mamografi Ada dua proyeksi standar mamografi yaitu : proyeksi obliq mediolateral (MLO) dan proyeksi

2.7 Proyeksi Mamografi

Ada dua proyeksi standar mamografi yaitu : proyeksi obliq mediolateral (MLO) dan

proyeksi kraniokaudal (CC). MLO diambil dengan sinar X-ray yang diarahkan dari

superomedial ke inferolateral, biasanya pada sudut 30-60°, dengan kompresi yang diterapkan

miring di dinding dada, tegak lurus dengan sumbu panjang dari otot pectoralis mayor.

Proyeksi MLO adalah proyeksi satu-satunya di mana semua jaringan payudara dapat

ditunjukkan pada gambar yang tunggal. Proyeksi MLO dengan posisi yang baik harus

menunjukkan sudut inframammary, puting diposisikan pada level batas bawah dari otot

pectoralis major, dengan otot melintasi batas posterior dari film pada sudut 25-30 ° ke

vertikal.

Untuk proyeksi CC, sinar X-ray diarahkan dari atas ke inferior. Posisi dicapai dengan

menarik payudara ke atas dan ke depan menjauh dari dinding dada, dengan kompresi yang

diterapkan dari atas. Kompresi yang dilakukan pada pemeriksaan mamografi memberikan

imobilisasi payudara selama eksposure dan dispersi dari bayangan jaringan payudara,

sehingga memungkinkan pemisahan visual yang lebih baik dari struktur payudara. Proyeksi

CC dengan posisi yang baik harus menunjukkan hampir semua jaringan medial dan mayoritas

dari jaringan lateral dengan pengecualian ekor aksiler payudara. Otot pektoralis major

terletak di tengah film CC pada sekitar sekitar 30% dari individu dan kedalaman jaringan

payudara harus didemonstrasikan dalam jarak 1 cm dari puting ke pectoralis major pada

proyeksi MLO. B A
proyeksi MLO.
B
A

Proyeksi MLO (A), proyeksi CC (B)

A B Proyeksi MLO (A). proyeksi CC (B)
A
B
Proyeksi MLO (A). proyeksi CC (B)
a. b. c. d.
a.
b.
c.
d.

Profil puting

Otot pektoralis mayor terlihat

sejajar sampai puting

Lipatan inframamary terlihat

Jaringan glandular terlihat

terkompresi dengan rata

Posisi Adekuat untuk Proyeksi Mediolateral

Untuk menampilkan jaringan pada bagian posterolateral payudara, dibutuhkan proyeksi

kraniokaudal tambahan dengan merotasi pasien kearah medial sehingga bagian lateral

payudara dan axillary tail dapat terlihat. Sebaliknya, jika ingin menampilkan jaringan pada

bagian posteromedial, dibutuhkan proyeksi kraniokaudal tambahan dengan merotasi pasien

ke arah lateral.

Proyeksi dengan pembesaran (magnifikasi) paling sering dilakukan untuk memeriksa

area mikrokalsifikasi dalam payudara, untuk menentukan ciri dan menetapkan luas dari

kalsifikasi tersebut. Proyeksi dengan magnifikasi biasanya dilakukan dalam proyeksi

kraniokaudal dan lateral.

Proyeksi dengan kompresi lokal diperoleh dengan menggunakan alat kompresi kecil

dan dapat digunakan bersamaan dengan magnifikasi. Proyeksi ini digunakan untuk

membedakan lesi nyata dari superimposisi jringan normal dan untuk menentukan batas dari

massa.

Untuk menampilkan jaringan pada bagian posterolateral payudara, dibutuhkan proyeksi kraniokaudal tambahan dengan merotasi pasien kearah medial

Proyeksi dengan kompresi lokal

2.8 Pembacaan Mamografi

Mammogram harus dilihat dalam kondisi pencahayaan yang optimal. Film-film harus

diperiksa apakah identifikasi label benar dan dinilai kualitas radiografi apakah optimal untuk

dilakukan penilaian. Mamografi payudara kiri dan kanan diletakkan berdampingan (back-to-

back) agar dapat dibandingkan. Penilaian yang dilakukan terdiri dari kesimetrisan payudara,

ukuran, densitas, dan distribusi glandular. Selanjutnya dilakukan penilaian sistematis untuk

tanda-tanda mammografi abnormal seperti massa, perubahan densitas, kalsifikasi, dan distorsi

arsitektural.

Evaluasi dari gambaran lesi pada mamogram harus terdiri dari tepi, bentuk, densitas,

lokasi dan jumlah massa. Yang paling penting dari penilaian ini adalah tepi. Proyeksi

magnifikasi dapat digunakan untuk mengoptimalkan evaluasi dari margin suatu lesi. Ada 5

kategori dari gambaran tepi suatu masa yaitu:

Berbatas tegas atau sirkumsrip (biasanya lesi jinak)

Mikrolobular

Batas kabur (biasanya dikarenakan terhalang jaringan payudara yang berdekatan)

Batas tidak jelas (kemungkinan infiltrat)

Berspikula (biasanya suatu keganasan)

Bentuk dari lesi bermacam-macam, mulai dari bulat, oval hingga ireguler atau terjadi

distorsi arsitektural. Densitas dari suatu massa juga dapat membedakan lesi jinak maupun

ganas. Biasanya jika suatu massa berdensitas rendah, menunjukkan bahwa massa tersebut

mengandung lemak, dan cendrung jinak (kista atau hamartoma), walaupun kemungkinan dari

terjadinya liposarcoma yang sangat jarang terjadi harus dipikirkan. Namun, tanda-tanda ini

tidak begitu berarti pada wanita dengan payudara yang besar yang memiliki massa sangat

kecil, yang dapat terlihat sebagai massa berdensitas rendah padahal merupakan suatu

keganasan.

Lesi pada kulit dan kista sebaseosa terletak pada jaringan subkutan. Kelenjar getah

bening payudara biasanya terletak di upper outer quadrant namun dapat juga terletak di lokasi

lain walaupun sangat jarang. Kecurigaan harus diberikan pada massa yang terletak dibagian

medial, karna bagian payudara ini memiki jaringan lemak yg lebih banyak, sehingga suatu

area densitas pada bagian ini bukanlah suatu jaringan fibroglandular dan harus dicurigai

sebagai suatu keganasan. Jumlah lesi yang multiple biasanya menunjukkan massa yang jinak

(kista, fibroadenoma). Namun, karsinoma multifokal juga dapat terjadi dan suatu metastasis

juga harus dipikirkan. 6,7,8

2.9 Gambaran Normal Mamogram

2.9.1

Parenkim

Jaringan fibroglandular payudara terlihat sebagai gambaran opak tidak jelas dengan

densitas medium dan ukuran bervariasi (>1mm). Densitas jaringan fibroglandular pada

mammogram sangat bervariasi. Pada wanita muda biasanya jaringan fibroglanduler sangat

padat, sedangkan dengan bertambahnya umur maka parenkim akan lebih banyak

mengandung jaringan lemak. A B
mengandung jaringan lemak.
A
B

Parenkim Payudara A) Dominasi jaringan lemak B) Dominasi jaringan fibroglandular

Pada tahun 1976, Wolfe mengajukan pola parenkim mamogram sebagai indikator

resiko kanker payudara. Klasifikasi gambaran mamografi payudara menurut Wolfe terbagi

menjadi empat pola yaitu: 9

N1 pola mengacu pada payudara dengan jaringan lemak berproporsi tinggi, sedikit

peningkatan densitas dan tidak tampak bayangan duktus.

DY pola mengacu pada jaringan payudara yang sangat padat, dengan jaringan

kelenjar yang lebih dominan dan disebut dengan dysplastic breast

P1 mengacu pada payudara didominasi jaringan lemak dengan jaringan kelenjar

terlihat di bagian anterior >25% volume payudara.

P2 mengacu pada payudara dengan pola jaringan kelenjar lebih dominan terlihat

>25% volume payudara

Resiko terkena kanker payudara berhubungan dengan pola wolfe ditemukan rendah

pada pola NI dan P1 dan tinggi pada pola P2 dan DY.

Tabar (1997)

mengklasifikasikan gambaran mamogram menjadi 5 pola berdasarkan

proporsi dari densitas nodular, linear, jaringan fibroglandular dan jaringan lemak, yaitu:

I : Proporsi seimbang dari seluruh komponen payudara dengan sedikit predominasi

dari jaringan fibroglandular.

 

II : Predominasi dari jaringan lemak

III

:

Predominasi

dari jaringan lemak

dengan jaringan fibroglandular

residual

retroareolar

 

IV : Predominasi densitas nodular

 

V : Predominasi jaringan fibroglandular

 V : Predominasi jaringan fibroglandular Pola I-V berdasarkan klasifikasi Tabar Pola I, II, III dianggap

Pola I-V berdasarkan klasifikasi Tabar

Pola I, II, III dianggap sebagai resiko rendah keganasan payudara sedangkan pola IV

dan V dianggap sebagai resiko tinggi terjadinya keganasan payudara

  • 2.9.2 Jaringan Ikat

Struktur trabekular yang merupakan kondensasi dari jaringan ikat, terlihat sebagai linea

opasitas tipis (< 1 mm) dengan densitas medium hingga tinggi. Ligamentum Cooper

merupakan jaringan penyokong payudara yang memberikan karakteristik bentuk pada

payudara, terlihat sebagai garis berlekuk di sekitar lobulus lemak sepanjang permukaan kulit

– parenkim di setiap payudara.

1

Lemak

Payudara disusun oleh lemak dalam jumlah yang besar, yang terlihat sebagai gambaran

lusen pada mamogram. Lemak terdistribusi pada lapisan subkutan, diantara jaringan

parenkim, dan di lapisan retromammary disebelah anterior otot pektoralis.

2.10.4

Nodus Limfe

Nodus limfe ditemukan di aksila dan terkadang di payudara.

  • 2.10.5 Vena

Vena terlihat melintasi payudara sebagai opasitas linear uniform, dengan diameter

sekitar 1-5 mm

  • 2.10.6 Arteri

Arteri terlihat sebagai densitas linear uniform yang tipis dan terlihat paling baik jika

terjadi kalsifikasi seperti pada pasien dengan atherosklerosis, diabetes atau penyakit ginjal.

2.10.4 Nodus Limfe Nodus limfe ditemukan di aksila dan terkadang di payudara. 2.10.5 Vena Vena terlihat

Gambaran Normal Proyeksi Mediolateral dan Sketsa Proyeksi Mediolateral

2.10

Gambaran Kelainan Payudara

  • 1 Kelainan Jinak Payudara

Massa jinak di payudara biasanya berbentuk bulat, oval, atau berlobus dan berbatas

tegas, kecuali bila terjadi superposisi dengan jaringan fibroglanduler di sekitarnya. Gambaran

halo sign yang merupakan garis tipis radiolusens di sekitar massa sering dikaitkan dengan

lesi jinak. Gambaran lemak dalam massa juga menunjukkan lesi jinak. Kalsifikasi pada lesi

jinak ukurannya relatif besar dengan bentuk kurviliner, popcorn atau eggshell, dan jarang

berupa mikrokalsifikasi. 12

2.10 Gambaran Kelainan Payudara 1 Kelainan Jinak Payudara Massa jinak di payudara biasanya berbentuk bulat, oval,

Kalsifikasi Eggshell

2.10 Gambaran Kelainan Payudara 1 Kelainan Jinak Payudara Massa jinak di payudara biasanya berbentuk bulat, oval,

Kalsifikasi Popcorn

Kalsifikasi Popcorn Kalsifikasi Kurvilinier a. Kista Kista merupakan massa berbatas tegas tersering yang teridentifikasi pada mamografi.

Kalsifikasi Kurvilinier

a. Kista

Kista merupakan massa berbatas tegas tersering yang teridentifikasi pada

mamografi. Kista tumbuh pada duktus lobularis terminal dan paling sering terjadi pada

wanita usia 30-50 tahun. Pada mamografi kista terlihat sebagai gambaran lesi dengan

batas yang tegas (terkadang disertai halo) berdensitas rendah, berdiameter 1-3 cm dan

terkadang multiple dan bilateral. Kalsifikasi dapat terjadi pada dinding kista. Diagnosis

kista dapat dikonfirmasi dengan ultrasound yang dapat membedakan kista dari lesi padat.

Kalsifikasi Popcorn Kalsifikasi Kurvilinier a. Kista Kista merupakan massa berbatas tegas tersering yang teridentifikasi pada mamografi.

Gambaran kista pada mamografi

b. Fibroadenoma

Fibroadenoma merupakan penyebab paling umum dari suatu massa padat jinak di

payudara, secara klinis masa halus, batas tegas, benjolan mobile. Paling sering ditemui

pada wanita muda dengan puncak kejadian pada dasawarsa ketiga. Fibroadenoma

merupakan massa padat payudara yang paling sering di evaluasi pada pemeriksaan

pencitraan payudara. Fibroadenoma biasanya tunggal namun dapat juga multiple dan

biasanya terjadi pada wanita muda dengan insidens puncak pada usia 30-an. Pada

pemeriksaan mamografi, fibroadenoma terlihat sebagai massa berbatas tegas dengan

ukuran yang beragam. Dengan pertambahan usia, fibroadenoma dapat mengalami

kalsifikasi sehingga terlihat area kalsifikasi tebal dan kasar pada mamografi. Namun,

fibroadenoma juga dapat menunjukkan kalsifikasi halus dengan gambaran pleomorfism

yang dapat meningkatkkan kecurigaan pada keganasan.

Gambaran kista pada mamografi b. Fibroadenoma Fibroadenoma merupakan penyebab paling umum dari suatu massa padat jinak

Fibroadenoma Dengan Kalsifikasi Ireguler dan Kasar

  • c. Tumor Jinak

Tumor jinak terdiri dari papilloma intraduktus dan tumor phyllodes. Papilloma

soliter biasanya terjadi pada bagian retroareolar pada payudara dan dapat membentuk

kalsifikasi seperti mulberi. Lesi ini berbeda dengan palpiloma multipel yang terjadi di

bagian perifer payudara. papilloma soliter biasanya tidak memiliki potensi keganasan,

sebaliknya papilloma multiple memiliki potensi untuk menjadi keganasan. Tumor

phyllodes bervariasi dari jinak hingga ganas dan biasanya ditemukan pada dekade ke 5

dan 6. Pada pemeriksaan mamografi, papilloma dan phyllodes tumor terlihat sebagai

massa bulat atau multilobular. A B C
massa bulat atau multilobular.
A
B
C

Gambaran tumor phyllodes, massa berbatas tegas dan mulilobular A) Proyeksi MLO B)

Proyeksi CC dan C) Papilloma Multiple

  • d. Lipoma dan Hamartoma

Lipoma adalah tumor jinak terdiri dari lemak secara klinis lembut, massa lobulated.

Lipoma besar mungkin terlihat pada mammografi sebagai massa radiolusen sedagkan

hamartoma adalah massa payudara jinak terdiri dari struktur lobular, stroma dan jaringan

adiposa, komponen yang membentuk jaringan payudara normal. Mereka terjadi pada

semua usia. Pada pencitraan mereka mungkin dibedakan dari massa jinak lainnya, seperti

fibroadenoma. Hamartomas kadang-kadang besar, dan mudah terdeteksi pada

pemeriksaan mammogram, massa berbatas tegas baik berisi campuran daerah padat dan

berkilau, yang mencerminkan komponen jaringan yang berbeda ini. Diagnostiknya sulit

karena spesimen biopsi perkutan dapat dilaporkan sebagai jaringan payudara normal.

A B Gambaran massa lusen pada lipoma B) Hamartoma
A
B
Gambaran massa lusen pada lipoma B) Hamartoma

2.10.7 Kelainan Ganas Payudara

Tanda keganasan pada mamogram dibagi menjadi 2 yaitu tanda primer dan tanda

sekunder. Tanda primer meliputi adanya massa dan kalsifikasi, sedangkan tanda sekunder

berupa penebalan dan retraksi kulit, areola, dan puting, perubahan arsitektur payudara,

gambaran duktus yang abnormal, perningkatan vaskularisasi dan limfadenopati.

a. Tanda Primer

1. Massa

Gambaran massa pada karsinoma payudara sangat bervariasi, cenderung berdensitas

tinggi dan biasanya di klasifikasikan dalam 3 kategori yaitu:

Stellata

Lesi stellata berhubungan dengan proliferasi jaringan fibrosa/jaringan ikat, bersifat

infiltratif dan disertai tanda sekunder berupa penebalan kulit, retraksi dan distorsi struktur

payudara dan kalsifikasi. Lesi stellata terdiri atas masa tumor jaringan lunak di sentral dan

spikula pada permukaan yang menyebar ke sekitarnya. Bagian sentral massa terlihat

radioopak tanpa disertai bagian-bagian yang lusens sedangkan spikulanya tipis, radioopak

dan menyebar ke segala arah terutama puting susu. Semakin besar tumor, akar spikula

akan semakin panjang disertai dengan kalsifikasi yang kasar.

a. Tanda Primer 1. Massa Gambaran massa pada karsinoma payudara sangat bervariasi, cenderung berdensitas tinggi dan

Stellata. Gambaran massa berspikula pada karsinoma duktus infiltratif

Nodular

Massa nodular atau Knobby lebih bersifat seluler, tumbuh sangat cepat dan biasanya

berbentuk massa kecil-kecil yang saling tumpang tindih sehingga membentuk lesi yang

padat dengan gambaran radioopak dengan batas tak tegas. Lesi ini dapat membentuk

gambaran spikula disertai penebalan dan retraksi kulit, juga dapat disertai kalisifikasi

yang bersifat malignan.

Berbatas tegas

Lesi radiopak berbatas tegas dapat berbentuk bulat, oval, atau berlobus-lobus dengan

batas tegas sebagian atau seluruhnya, kadang-kadang disertai halo sign. Halo sign

merupakan tanda patognoomonik untuk lesi jinak tetapi beberapa lesi ganas seperti

karsinoma papiler, meduler dan mucinous, sarkoma, limfoma, leukimia, mieloma,

metastasis juga sering disertai halo sign.

Stellata . Gambaran massa berspikula pada karsinoma duktus infiltratif  Nodular Massa nodular atau Knobby lebih

Karsinoma Intrakistik Non-invasif massa berbatas tegas dengan mikrokalsifikasi ireguler

2. Kalsifikasi

Mikrokalsifikasi dengan berbagai bentuk (pleomorfik) dan berkelompok dengan atau

tanpa suatu massa merupakan tanda mamografi primer dari kanker payudara. Gambaran

kalsifikasi terlihat pada lebih dari setengah kanker payudara. Sekitar 1/3 dari kanker

payudara hanya bermanifestasi dengan gambaran kalsifikasi saja tanpa disertai dengan

massa. Tanda kalsifikasi malignan sangat bervariasi baik distribusi ukuran, bentuk,

densitas maupun jumlahnya. Bentuk kalsifikasi cendrung berkelompok, dengan jumlah

dalam satu kelompok sangat bervariasi, dapat tunggal maupun multiple. Letaknya dapat

didalam maupun di dekat massa dengan distribusi yang acak dan kadang-kadang sesuai

dengan gambaran duktus mammaria.

Ukuran kalsifikasi ganas biasanya lebih kecil dari kalsifikasi jinak dengan ukuran

sekitar 0,08 – 5 mm dan rata-rata ukuran < 0,2 mm. Bentuk kalsifikasi pada keganasan

dapat linier, bercabang-cabang, bulat, bersudut, atau granuler dengan batas kontur yang

ireguler dan densitasnya lebih rendah dari kalsifikasi jinak.

Kalsifikasi pada keganasan disebabkan karena abnormalitas dari jaringan.

Kalsifikasi dapat terjadi pada debris tumor yang telah mengalami nekrosis, dan bisa juga

terjadi akibat cairan sekresi yang mengalami stagnansi karena terjebak diantara sel-sel

kanker. 12

Bentuk-Bentuk Mikrokalsifikasi Kalsifikasi linear 36

Bentuk-Bentuk Mikrokalsifikasi

Bentuk-Bentuk Mikrokalsifikasi Kalsifikasi linear 36

Kalsifikasi linear

Mikrokalsifikasi Malignan Pleomorfik Mikrokalsifikasi Bercabang, Tidak Teratur, Linier Pada Karsinoma Duktus In Situ b. Tanda Sekunder

Mikrokalsifikasi Malignan Pleomorfik

Mikrokalsifikasi Malignan Pleomorfik Mikrokalsifikasi Bercabang, Tidak Teratur, Linier Pada Karsinoma Duktus In Situ b. Tanda Sekunder

Mikrokalsifikasi Bercabang, Tidak Teratur, Linier Pada Karsinoma Duktus In Situ

b. Tanda Sekunder

Timbulnya

tanda

sekunder

pada

keganasan

payudara

disebabkan

karena

adanya

perubahan dalam struktur payudara karena massa tumor. tanda sekunder tersebut antara lain:

  • a. Penebalan dan retraksi kulit

Retraksi kulit disebabkan oleh fibrosis dan pemendekkan ligamentum Cooper.

Ketebalan kulit payudara normal bervariasi antara 1,5-3 mm dan simetris bilateral dengan

bagian inframamaria biasanya lebih tebal. Penebalan kulit yang terlokalisasi biasanya

terletak dekat tumor dan menunjukkan fase lanjut dari keganasan.

  • b. Penebalan dan retraksi areola dan puting

Retraksi puting unilateral yang terjadi secara akut harus dicurigai sebagai keganasan.

Retraksi ini disebabkan oleh perubahan dan pemendekkan duktus retroareolar sebagai

akibat kanker retroareolar.

  • c. Perubahan arsitektur payudara / distorsi struktur

Distorsi struktur parenkim disebabkan karena peningkatan jaringan kolagen,

periduktal dan sarkoma sehingga menyebabkan perubahan abnormal ligamentum cooper

dan duktus mammaria. Pada payudara yang sangat padat seringkali distorsi struktur

parenkim yang merupakan satu-satunya kelainan yang ditemukan dan harus tampak pada

dua proyeksi yang berbeda.

bagian inframamaria biasanya lebih tebal. Penebalan kulit yang terlokalisasi biasanya terletak dekat tumor dan menunjukkan fase

Distorsi Struktur Parenkim Akibat Sel Kanker Menarik Parenkim Ke Arah Sel Kanker

  • d. Gambaran duktus abnormal

Keganasan

menyebabkan

pemendekkan,

distorsi

dan

dilatasi

duktus

mamaria

dengan gambaran sebagian duktus-duktus yang menonjol dan berkelok-kelok atau

pelebaran tunggal dari duktus.

  • e. Peningkatan vaskularisasi

Terjadi peningkatan vaskularisasi baik dari segi ukuran maupun jumlah vena (1,5

kali vena normal)

  • f. Limfadenopati

Peningkatan jumlah, densitas, dan ukuran kelenjar limfe aksilar menunjukkan

adanya karsinoma metastasis. Kelenjar limfa abnormal biasanya ovoid, dan tidak ada

bayangan lemaknya. 12

d. Gambaran duktus abnormal Keganasan menyebabkan pemendekkan, distorsi dan dilatasi duktus mamaria dengan gambaran sebagian duktus-duktus

Limfadenopati Aksilaris

BAB III

KESIMPULAN

Mamografi merupakan pemeriksaan yang sangat penting untuk menilai payudara.

Mamografi dapat digunakan sebagai pemeriksaan skrining pada wanita tanpa keluhan dan

pemerikaan diagnostik pada wanita dengan keluhan pada payudara dan wanita beresiko

tinggi. Mamografi merupakan pemeriksaan yang sensitif dan akurat dalam menemukan

keganasan payudara secara dini. Mamografi sebagai pemeriksaan skrining telah terbukti

bermanfaat dalam menurunkan angka mortalitas kanker payudara. Mamografi dapat

mendeteksi tanda keganasan pada payudara sebelum timbul suatu keluhan. Dengan deteksi

dini, intervensi dapat dilakukan dengan cepat dan prognosisnya pun semakin baik sehingga

menurunkan angka mortalitas kanker payudara.

Pada pemeriksaan mamografi dinilai kesimetrisan payudara, ukuran, densitas, dan

distribusi glandular. Bila terdapat suatu massa, dapat dinilai tepi, bentuk, densitas, lokasi dan

jumlahnya.

Lesi yang jinak biasanya menunjukkan gambaran massa bulat atau oval berbatas tegas

dengan halo sign dan kalsifikasi yang kasar dan besar seperti kalsifikasi eggshell, popcorn

dan kurvilinier. Sedangkan lesi ganas biasanya menunjukkan gambaran massa berspikula,

bisa juga berlobus bahkan berbatas tegas dengan mikrokalsifikasi linier dan pleomorfik.

Selain itu pada lesi ganas juga biasanya disertai dengan tanda-tanda sekunder seperti

penebalan dan retraksi kulit dan puting, distorsi struktur payudara, gambaran duktus

abnormal, peningkatan vaskularisasi dan limfadenopati.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Anonim.

Breast

cancer

:

prevention

and

control.

Available

from:

  • 2. Coleman MP et al. Cancer survival in five continents: a worldwide population-based study

(CONCORD). Lancet Oncol. 2008. 9 : 730–56.

3. Anonim.

Jika

tidak

dikendalikan

26

juta

orang

di

dunia

menderita

kanker. Pusat

komunikasi publik, Sekretariat Jenderal Kementrian kesehatan RI. Available from:

4.

Boyle

P,

Levin

B.

Word

cancer

report

2008.

Available

from

:

  • 5. Makes D : Mamografi payudara. Radiologi Diagnostik edisi kedua. Jakarta. Departemen

Radiologi FK UI RSCM. 2005.

6.

James

JJ

et

al.

The

Breast in Women’s Imaging.

Grainger & Allison's Diagnostic

Radiology, 5th ed. Philadelpia. Churcill Livingstone. 2008.

  • 7. Meschan I, Bertrand ML. Radiologi of the breast. Roentgen Signs in Diagnostic Imaging

second edition. Philadelpia. W.B Saunders Company. 1987: 221-262.

  • 8. Joseph N. Breast Mammography: Correlated Ultrasound, MRI, CT, and SPECT-CT.2008.

  • 9. Brisson J, Diorio C, Masse B : Wolfe’s Parenchymal pattern and percentage of the breast

with mammographic densities: redundant or complementary classification? Cancer

Epidemiol Biomarkers. 2003. 12:728-732.

10. Kerlikowske K et al: Longitudinal Measurement of Clinical Mammographic Breast

Density to Improve Estimation of Breast Cancer Risk. J Natl Cancer Inst. 2007. 99: 386

– 95.

11. Steen VA, Tiggelen RV: Short History of Mammography: A Belgian Perspective. JBR-

BTR. 2007. 90: 151-153.

12. Michell MJ. The breast in Textbook of Radiology and Imaging Volume II seventh edition.

Philadlpia : Churchill Livingstone. 2003: 1451-86.