Anda di halaman 1dari 50

1

ANALISIS ANGKA KEJADIAN DISMENORHOE PRIMER PADA


REMAJA PUTRI DI SMP NEGERI 1 SUNGGUMINASA
KABUPATEN GOWA

KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Menyelesaikan


Pendidikan Di Akademi Kebidanan Syekh Yusuf Gowa

Oleh :
NAMA
NIM

: MIRDAWATI
: BD. 0802022

SYAYASAN SANRE KARE BANGUN


AKADEMI KEBIDANAN SYEKH YUSUF GOWA
TAHUN 2010

PERNYATAAN PERSETUJUAN KARYA TULIS ILMIAH

ANALISIS ANGKA KEJADIAN DISMENORHOE PADA


REMAJA PUTRI DI SMP NEGERI 1 SUNGGUMINASA
KABUPATEN GOWA

oleh :
MIRDAWATI
karya tulis ilmiah ini diterima dan disetujui, untuk diuji dan
dipertahankan didepan Tim Penguji karya tulis ilmiah
Akademi kebidanan Syekh yusuf Gowa

Sungguminasa, September 2010

Pembimbing I
(Xxxxxxxxxxxxxxxxx)
Pembimbing II
(Yyyyyyyyyyyyyyyyy)
Mengetahui
Direktur Akbid Syekh Yusuf

(Aaaaaaaaaaaaaaa)
NIDN. 0913045201

HALAMAN PENGESAHAN

ANALISIS ANGKA KEJADIAN DISMENORHOE PADA


REMAJA PUTRI DI SMP NEGERI 1 SUNGGUMINASA
KABUPATEN GOWA
yang disusun dan diajukan oleh :
MIRDAWATI
Telah dipertahankan Di Hadapan Tim Penguji
Pada hari

: senin

Tanggal

: 20 september 2010

Telah diperbaiki dan dinyatakan telah memenuhi syarat


Pembingbing :
1. Xxxxxxxxx
2. Yyyyyyyyy
Penguji
1. Aaaaaaaaaa
Diketahui
Pembantu Direktur Bidang Akademi
AKBID Syekh Yusuf Gowa

Zzzzzzzzzzzzzzz
Xxxxxxxxxxxxxx
NIDN. 122567

Disahkan Oleh :
Direktur Akademi Kebidanan
AKBID Syekh yusuf Gowa

NIDN.122567

PERNYATAAN

Dengan ini menyatakan bahwa dalam karya tulis ini tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh kesarjanaan di suatu perguruan tinggi
dan sepanjang pengetahuan saya juga terdapat karya atau pendapat yang
pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis
diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka
Sungguminasa, September 2010

BIODATA PENULIS

A. IDENTITAS PENULIS
1. nama
: Mirdawati
2. NIM
: BD.0802022
3. Tempat / Tanggal Lahir : Limbung, 29 Oktober 1989
4. Jenis Kelamin : Perempuan
5. Agama
: Islam
6. Alamat
: Pannyangkalang
B. RIWAYAT PENDIDIKAN
1. Tamat SDI parangrea tahun 2001
2. Tamat SMP Negeri 1 Bajeng tahun 2004
3. Tamat SMA Negeri 1 Bontonompo Tahun 2007
C. RIWAYAT PEKERJAAN

AKADEMI KEBIDANAN
SYEKH YUSUF GOWA
KARYATULISILMIAH
SEPTEMBER 2010
ABSTRAK
MIRDAWATI NIM: 0802022 Judul penelitian : (Analisis Angka Kejadian
dismenorhea Primer Pada Remaja di SMP NEG.I Sungguminasa periode
I sampai 30 september 2010) Di bombing oleh : Abd. Haris M dan
Hj.Sudarmi.
Kejadian dismenorhoe primer pada remaja putrid di pandang sebagai
masalah kesehatan yang penting diperhatikan pada remaja putrid karena
merupakan suatu keadaan yang tidak dapat dihindari oleh semua wanita
yang telah mengalami menstruasi. masalah dismenorhoe sangat menganngu
aktifitas remaja putrid dalam melakukan proses belajar dan aktifitas seharihari.
Masa depan suatu bangsa tergantung pada generasi mudanya, oleh
karena rtu perlu diperhatikan masalah yang mungkin timbul pada masa
remaja dan beranjak dewasa.
Terjadinya nyeri haid pada saat menstruasi dipengaruhi oleh berbagai factor
penyebab. Seperti aktivitas otot uterus, factor psikogenetik dan kejiwaan ,
factor endokrin dan hormonal dll.
Oleh karena itu setelah dilakukan penelitian dengan judul" analisis
angka kejadian dismenorhoe primer pada remaja putrid di SMP.NEG.I
SUNGGUMINASA pada periode tanggal 1 september 2010 s/d tanggal 30
september 2010 yang dimaksudkan untuk mendapatkan informasi mengenai
kejadian. Dismenorhoe primer pada remaja putrid di SMP.NEG.I
Sungguminasa, khususnya derajat dan klasifikasi dismenorhoe primer
berdasarkan tingkat umur remaja putrid.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriftif Analitik dengan populasi
adalah semua remaja putrid SMP.NEG.I SUNGGUMINASA pada tahun 2010
dan
sampel
adalah
semua
remaja
putrid
kelas
III
di
SMP.NEG.I.SUNGGUMINASA pada tahun 2010 Hasil penelitian ini di
dapatkan gambaran kejadian dismenorhoe primer di SMP.NEG.I
Sungguminasa adalah kebanyakan hanya mengalami dismenorhoe ringan
yang dipengaruhi oleh factor- factor psikogenik dan hormonal.
Kata kunci: Dismenorhoe primer
Daftar pustaka : 19 (tahun 1990-2009)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas
berkat rahmat-Nyalah sehingga penyusunan Karya lulls llmiah ini dapat
diselesaikan tepat pada waktunya.
Salam dan Salawat. kepada Rasulullah SAW, karena beliau di utus
oleh Allah SWT kedunia ini sebagai pembawa Rahmat bagi sekalian alam
dan reformis yang mengangkat derajat dan martabat kaum wanita
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Karya Tulis ilmiah ini
masih ditemukan banyak kekurangan dan kesalahan, oleh sebab itu dengan
rendah hati penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun guna kesempumaan Karya Tulis llmiah ini.
Karya tulis ini dapat terselesaikan berkat bantuan dan bimbtngan
berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :
1. Bapak Xxxxxxxxxx selaku pembimbing I dan ibu Yyyyyyyyy, selaku
pembimbing

II

dalam

penyusunan

karya

tulis

yang

banyak

memberikan bantuan, arahan, dan masukan-masukan yang sangat


membantu dalam menyelesaikan karya tulis ini.
2. Zzzzzzzzz, selaku Direktur Akademi Kebidanan Syekh Yusuf Gowa
atas arahan dan bimbingan selama penulis menjalani pendidikan di
3.

Akademi Kebidanan Syekh Yusuf Gowa


Segenap dosen dan seluruh staf akademi kebidanan syekh yusuf
yang telah membenkan ilmu pengetahuan dan keterampilan selama

penulis mengikuti pendidikan.


4. Bapak Yyyyyyyyy selaku kepala sekolah SMP.NEGJ Sungguminasa
Kab. Gowa beserta dengan stafnya.
5. Teristimewa kepada kedua orang tua dan anak-anakku tercinta yang
telah membenkan semangat dan pengorbanan baik berupa materi

maupun spiritual selama mengikuti perkuliahan sampai akhimya karya


tulis ini terselesaikan.
Akhir kata penulis mengucapkan semoga Allah SWT membenkan imbalan
yang setimpal atas jerih payah dan semua pihak yang telah membenkan
bantuan kepada penulis, dan semoga Karya Tulis llmiah ini bermanfaat bagi
kita semua Amin.
Sungguminasa, September 2010

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman

sampul

..
Halaman

pengesahan

.... ii
Biodata

penulis

. iii
Abstrak

...

iv

Kata

pengantar

. v
Daftar

isi

vi

Daftar

tabel

.
vii
BAB I PENDAHULUAN
a. Latar

belakang

. 12
b. Rumusan

masalah
masalah

. 14
c. Tujuan
penelitian
14
d. Manfaat

penelitian

. 14

10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


a. Tinjauan

umum

tentang

menstruasi

15
b. Tinjauan umum tentang dismenore primer
17
1. Pengertian

dismenore

17
2. Klasifikasi
dismenore...
3. Etiologi

18

. 18
4. Tanda

dan

gejala

... 20
5. Mekanismen
terjadinya

6. Patofisiologi

21

.
7. Diagnosa

22

25
8. Penatalaksanaan
.. 26
c. Tinjauan

umum

tentang

1. Pengertian

remaja

27

...
27
2. Perubahan

fidiologis

... 28
3. tugas
perkembangan
... 32

remaja
remaja

11

4. Masalah
pada
remaja
....
33
d. Kerangka
konsep
.
34
BAB
III
METODOLOGI
36

PENELITIAN

a. Rancangan
penelitian

36
b. Tempat
dan
waktu
penelitian
.. 36
c. Populasi
dan
sampel... 36
1. Populasi

. 36
2. Sampel

36
3. Besar
sampel
.. 36
4. Kriteria
inklusi
dan
ekslusi.
38
d. Alur
penelitian
.. 39
e. Variabel
penelitian
40
1. Identifikasi
variabel
..
40
2. Defenisi operasional dan kriteria objektif..
41
f. Tehnik
pengumpulan
data
...
42
g. Pengelolaan
dan
analisis
data
42
h. Masalah
etika
43
BAB
IV
HASIL
.............

PENELITIAN
44

DAN

PEMBAHASAN

12

a. Hasil
penelitian
.. 44
b. Pembahasan

45
BAB
V
KESIMPULAN
SARAN..

DAN
47

a. Kesimpulan
..
47
b. Saran

48
Daftar
pustaka
.. 49
Lampiran
Lembar konsioner
Lembar pernyata
DAFTAR TABEL
Tabel I : Distribusi Jumlah Golongan Umur Responden
Di SMP Negeri I Sungguminasa Kab. Gowa Tahun 2010
..34
Tabel II: Distribusi Penggolongan Tingkat Dismenore Primer
Pada Siswa SMP Negeri I Sungguminasa Kab.Gowa Tahun 2010 34

13

14

BAB I
sssPENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bobak (2004) menjelaskan bahwa masa remaja atau masa
pubertas merupakan masa peralihan dari fase anak ke fase dewasa
dengan batasan usia 12-19 tahun. Pada masa ini terjadi beberapa I
perubahan seperti perubahan fisik, perubahan psikis serta perubahan
pada pematangan fungsi seksual. Perubahan-perubahan tersebut
merupakan sesuatu hal yang wajar dan tidak perlu dikhawatirkan.
Namun, seringkali para remaja mengalami masalah dan kesulitan
ketika mengalami perubahan-perubahan itu. Masalah kesehatan
remaja khususnya pada remaja putri sejak pubertas sampai usia 18
tahun adalah masalah gangguan haid, jerawat, berat badan, dan
seksualitas. Masalah gangguan haid seperti dismenore merupakan
masalah yang paling seeing dan paling umum dialami remaja putri
sejak ia memasuki masa pubertas.
Dismenorhoe merupakan nyeri yang terjadi saat menstruasi.
(Linardakis,

2001)

menyatakan

bahwa

biasanya

remaja

putri

cenderung mengalami dismenorhoe primer dibandingkan dengan


dismenorhoe sekunder. Hal ini diakibatkan karena dismenorhoe primer
biasanya terjadi setelah seorang remaja putri mengalami menarche
atau haid pertama. Rasa nyeri tersebut tidak diserati dengan kelainan
ginekologik, tetapi disebabkan oleh peningkatan kadar prostaglandin
yang berlebihan oleh endometrium pada fase sekresi sehingga
menyebabkan terjadinya kontraksi otot uterus secara disritmik
sehingga timbul rasa nyeri saat mentsruasi. Sedangkan dismenorhoe
sekunder biasaya terjadi pada wanita dewasa sekitar 25-30 tahun dan
disebabkan oleh kelainan ginekologik seperti endometriosis, mioma

15

uteri, stenosis serviks, malposisi uterus, dan adanya kontrasepsi


dalam rahim. (Baziad.et al 1990 dikutip dalam Nelwati 2005)
menjelaskan menganai beberapa gejala pada dismenorhoe primer
yaitu rasa nyeri berupa kram pada perut bagian bawah, kemudian
nyeri kadang-kadang dapat meluas ke pinggul, punggung bagian
bawah, dan ke paha disertai gejala lain berupa mual, muntah, diare,
lesu, nyeri kepala, pingsan, emosi yang labil, dan sering berkemih.
Timbulnya beberapa gejala tersebut menyebabkan para remaja putri
mengalami gangguan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Anurogo (2008) melaporkan bahwa angka kejadian nyeri haid di
dunia sangat besar. Rata-rata lebih dari 50 persen perempuan di
setiap negara mengalaminya. Di Amerika angka prosentasenya sekitar
60 persen dan di Swedia 72 persen. Sementara di Indonesia
angkanya diperkirakan mencapai 55 persen pada prempuan usia
produktif (Gunawan, 2002 dikutip dalam Anurogo 2008) menjelaskan
bahwa angka kejadian dismenore primer di empat SLTP di Jakarta
sebesar 76,6%. Pada 56,5% siswa, awitan nyeri haid tidak menentu,
dimana 23,6% terjadi bersamaan dengan datangnya haid, 13,6%
terjadi sebelum datangnya haid, dan pada 6,2% terjadi setelah
datangnya haid. Di Makassar, angka kejadian dismenorhoe belum
dapat dikemukakan secara signifikan. Hal ini diakibatkan oleh
kurangnya penderita dismenorhoe yang melaporkan masalahnya ke
rumah sakit atau poliklinik ginekologi. Dari pengambilan data awal di
SMP Negeri 1 Sungguminasa di dapatkan jumlah remaja puti
hsebanyak 104 orang dan berdasarkan hasil wawancara dengan
beberapa remaja putri ternyata lebih dari 50% dismenorhoe primer
merupakan penyebab utama absennya para remaja putri pada jamjam sekolah.

16

Dengan melihat masih tingginya angka kejadian dismenorhoe


primer pada remaja putri di Indonesia, khususnya di SMP Negeri 1
Sungguminasa maka peneliti termotivasi untuk melakukan penelitian
untuk dapat menganalisis angka kejadian dismenorhoe di SMP Negeri
1 Sungguminasa sehingga kedepannya para remaja putri dapat
melakukan antisipasi terhadap gejala-gejala yang ditimbulkan dari
dismenorhoe primer.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan masalah sebagai
berikut : Bagaimana gambaran dari gejala-gejala dismenorhoe ringan,
dismenorhoe sedang, dan dismenorhoe berat pada remaja putri di
SMP Negeri 1 Sungguminasa.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Tujuan umum : untuk menganalisis

angka

kejadian

dismenorhoe primer pada remaja putri di SMP Negeri 1


Sungguminasa.
2. Tujuan khusus:
- untuk mengetahui gejala-gejala dari dismenorhoe ringan
-

pada remaja putri di SMP Negeri 1 Sungguminasa.


Untuk mengetahui gejala-gejala dari dismenorhoe sedang

pada remaja putri di SMP Negeri 1 Sungguminasa.


Untuk mengetahui gejala-gejala dari dismenorhoe berat

pada remaja putri di SMP Negeri 1 Sungguminasa.


D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat bagi ilmu pengetahuan : Hasil penelitian ini diharapkan
dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan khususnya dalam
penanganan dismenorhoe berdasarkan tingkatan nyerinya serta
dapat menjadi bahan bacaan bagi tenaga keperawatan atau
tenaga kesehatan lainnya.

17

2. Manfaat

praktek Asuhan

Kebidanan

Hasil

penelitian

ini

diharapkan dapat menjadi titik tolak untuk tindakan pencegahan


ataupun mengurangi angka kejadian dismenorhoe.
3. Manfaat untuk pengembangan institusi : Penelitian ini diharapkan
dapat meminimalkan angka kejadian dismenorhoe primer pada
remaja putri di SMP Negeri 1 Sungguminasa.
4. Manfaat untuk Profesi Kebidanan : Dapat menjadi bahan acuan
bagi pengembangan profesi kebidanan, khususnya di bidang ilmu
pelayanan kebidanan maternitas dan komunitas dalam
penanganan kejadian dismenorhoe
5. manfaat bagi penelitian selanjutnya : dapat

menjadi data awal

untuk penelitian berikutnya yang berhubungan dengan penelitian


ini.

18

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Menstruasi


Wijayakusuma (2008) menyatakan

bahwa

menstruasi

merupakan peristiwa pendarahan secara periodik dan siklik (bulanan)


dari rahim disertai pelepasan selaput lendir rahim (endometrium)
melalui vagina pada wanita yang seksual dewasa. Setiap wanita sehat
yang tidak sedang hamil dan belum menopause akan mendapat
menstruasi pada setiap bulannya. Dalam keadaan normal lamanya
haid berkisar antara 3-7 hari dan rata-rata berulang setiap 28 hari.
Selain itu, menstruasi biasanya dimulai antara umur 10 dan 16 tahun,
tergantung pada berbagai faktor, termasuk kesehatan wanita, status
nutrisi, dan berat tubuh relatif terhadap tinggi tubuh.
Guyton (1990) mengemukakan bahwa menstruasi memiliki
beberapa siklus seperti fase ploriferasi endometrium uterus, fase
perubahan sekresi pada endometrium, dan fase deskuamasi
endometrium (menstruasi). Fase-fase tersebut dapat dikendalikan oleh
interaksi hormon yang dikeluarkan oleh hipotalamus, kelenjar dibawah
otak depan, indung telur. Pada permulaan siklus menstruasi. Lapisan
sel rahim mulai berkembang dan menebal. Lapisan ini berperan
sebagai penyokong bagi janin berkembang dan menebal. Lapisan ini
berperan sebagai penyokong bagi janin yang sedang tumbuh bila
wanita tersebut hamil. Mormon memberi sinyal pada sel telur di dalam
indung telur wanita dan mulai bergerak menuju tuba Falopi menuju ke
rahim. Bila telur tidak dibuahi oleh sperma pada saat berhubungan
intim (atau saat inseminasi buatan), lapisan rahim akan berpisah dari
dinding uterus dan mulai luruh serta akan dikeluarkan melalui vagina.

19

Periode pengeluaran darah, dikenal sebagai periode menstruasi


berlangsung selama tiga tujuh hari dan berlangsung sekali sebulan
sampai wanita mencaapi usia 45-50 tahun, hal tersebut tergantung
pada

kesehatan

dan

pengaruh-pengaruh

lainnya.

Akhir

dari

kemampuan wanita untuk bermenstruasi disebut monopouse dan


menandai akhir dari masa-masa kehamilan seorang wanita. Panjang
rata-rata daur menstruasi adalah 28 hari, namun berkisar antara 21
hingga 40 hari. Panjang daur dapat bervariasi pada satu wanita
selama saat-saat yang berbeda dalam hidupnya, dan bahkan dari
bulan ke bulan tergantung pada berbagai hal, termasuk kesehatan fisik
, emosi, dan nutrisi wanita tersebut.
Masalah-masalah

gangguan

haid

seperti

dismenore,

premenstruasi sindrom, dan amenore dapat terjadi akibat perubahan


hormonal yang umum selama seorang remaja putri memasuki masa
pubertas. Dari ketiga jenis gangguan haid, dismenorhoe merupakan
masalah yang paling seeing dan paling umum dialami remaja putri
sejak ia memasuki masa pubertas. Biasanya para remaja putri
mengalami tingkat kram yang bervariasi dimana pada beberapa
remaja putri, hal itu muncul dalam bentuk rasa tidak nyaman ringan
dan letih dan beberapa remaja putri, hal itu muncul dalam bentuk
rasa tidak nyaman

ringan

dan

letih dan beberapa yang lainnya

menderita rasa sakit yang mempu menghentikan aktifitas sehari-hari.


Prinsip pada gangguan haid adalah gangguan haid merupakan suatu
gejala, bukan penyakit sesungguhnya. Diagnosis tidak boleh berhenti
hanya pada jenis kelainan haidnya. Penyakit atau kelainan yang
menjadi dasar atau

penyebabnya

harus dicari,

kemudian diterapi dengan sesuai indikasi.

di diagnosis

20

B. Tinjauan Umum Tentang Dismenorhoe Primer


1. Pengertian
Rasa nyeri saat menstruasi atau dalam istilah medisnya dikenal
dengan nama dismenorhoe, merupakan suatu keadaan yang tidak
dapat dihindari oleh semua wanita yang telah mengalami menstruasi.
pada saat seorang wanita mengalami menstruasi terjadi peningkatan
kadar

prostaglandin

yang

berlebihan

menyebabkan

terjadinya

kontraksi otot uterus secara disritmimik sehingga timbul rasa nyeri saat
menstruasi. Rayburn (2001) menjelaskan bahwa dismenorhoe adalah
menstruasi yang menimbulkan rasa nyeri dimana keadaan ini
mengenai 60-70% dari wanita yang mengalami menstruasi. Biasanya
rasa nyeri tersebut berupa kram pada perut bagian bawah dapat
menjalar ke punggung, pinggul, dan paha. Bahkan ada yang merasa
lesu, mual, muntah, diare, nyeri kepala sampai pingsan serta dapat
mengalami kesulitan berjan dan mengganggu aktifitas sehari-hari .
rasa nyeri saat menstruasi biasanya juga dapat timbul sebelum,
selama, atau sesudah menstruasi dan berlangsung untuk beberapa
jam, meskipun pada sebagian wanita nyeri tersebut pada

hari

pertama hingga terakhir menstruasi, yaitu sekitar 5-7 hari.


2. Klasifikasi
Lestia

(2008)

melaporkan

bahwa

dismenorhoe

dapat

dikelompokkan menjadi dua, yaitu dismenore primer yang biasanya


dialami wanita normal yang menstruasi, dan dismenorhoe sekunder
yang dialami wanita penderita kelainan anatomis genitalis. Brunner
dan Suddarth (2001) menjelaskan bahwa dismenorhoe primer
merupakan menstruasi yang sangat nyeri dan tanpa disertai kelainan
pada pelvis. Biasanya dismenorhoe primer terjadi pada waktu
menarke atau segera setelahnya dan serhg ditandai dengan nyeri
berupa kram pada bagian bawah perut yang dimulai sebelum atau

21

setelah awitan aliran menstruasi dan berlanjut.selama 46 sampai 72


jam.
Manuaba

(2001)

menyajikan

pembagian

klinis

tentang

dlbinoiiofhoc yang lerdiri atas 3 kelornpok, antara lain :


1. Dismenorhoe ringan, nyeri haid pada bagian bawah perut dan
dapat disertai dengan gangguan emosi yang labil, kelemahan
dan masih bisa melakukan kegiatan sehari-hari serta tidak
memerlukan obat pelindung rasa nyeri.
2. Dismenorhoe sedang, nyeri haid yang diserta dengan sakit
kepala yang serius, sering berkemih, tidak bisa melakukan
kegitan sehari-hari, dan memerlukan obat pelindung rasa nyeri
3. Dismenorhoe berat, nyeri haid yang disertai mual dan muntah,
diare, gangguan tidur, dan memerlukan istirahat selama lebih
dari 3 hari.
3. Etiologi
Taber (1994) mengemukakan tentang faktor-faktor penyebab dari
dismenorhoe primer, antara lain :
a. Aktivitas otot uterus
Bila endometrium mengalami kerusakan pada saat haid maka
prostaglandin diproduksi
dari

dari

asam

arakidonat

melalui

aksi

enzim prostaglandin. Peningkatan kontaksi miometrium

bersama dengan aliran

darah

uterus menyebabkan

iskemia.

Nyeri berasa dari aktifitas uterus yang abnormal, iskemia uterus,


dan aktivitas ujung- ujung saraf oleh prostaglandin.
b. Faktor Psikogenik atau kejiwaan
Stres emosional dan ketegangan yang dihubungkan dengan
aktivitas sehari-hari dapat memperjelas beratnya nyeri. Gad is
remaja yang secara emosional tidak stabil, apalagi jika mereka
tidak mendapat penerangan yang baik tentang proses menstruasi,
mudah

mengalami

dismenore

primer.

Faktor

ini,

bersama

22

dismenorhoe merupakan kandidat terbesar penyebab gangguan


insomnia.
c. Faktor Konstitusi
Faktor ini erat hubungannya dengan faktor kejiwaan yang
dapat juga menurunkan ketahanan terhadap nyeri. Faktor-faktor
ini adalah anemia, penyakit menahun dan sebagainya.
d. Faktor obstruksi kanalis servikalis (leher rahim) Salah satu teori
yang paling tua untuk menerangkan dismenorhoe primer adalah
stenosis kanalis servikalis. Sekarang hal tersebut tidak lagi
dianggap sebagai faktor penting sebagai penyebab dismenorhoe
primer

tanpa

stenosis

dalam hiperantefieksi,
submukosum

servikalis

begitu

bertangkai

atau

juga
polip

dan

tanpa

sebaliknya.
endometrium

uterus
Mioma
dapat

menyebabkan dismenorhoe kare otot-otot uterus berkontaksi kuat


untuk mengeluarkan kelainan tersebut.
e. Faktor endokrin
Umumnya ada anggapan bahwa kejang yang terjadi pada
dismenorhoe primer disebabkan oleh kontraksi uterus yang
berlebihan. Hal itu dapat disebabkan karena endometrium dalam
fase sekresi akan memproduksi prostaglandin F2 alfa yang
menyebabkan kontraksi otot polos. Jika jumlah prostaglandin F2
alfa berlebih dilepaskan daiam peredaran darah, maka selain
dismenorhoe, dijumpai pula efek umum seperti diare, mual, dan
muntah.

23

4. Tanda dan gejala


Wijayakusuma (2008) melaporkan bahwa gejala-gejala dari
dismenorhoe primer adalah rasa sakit yang datang secara teratur,
nyeri tajam dan kram di bagian bawah perut yang biasanya
menyebar ke bagian belakang, kemudian menyerang bagian kaki,
pangkal paha dan vulva (bagian luar alat kelamin wanita). Nyeri
tersebut biasanya timbul sesaat sebelum atau selama menstruasi,
mencapai puncaknya dalam waktu 24 jam dan setelah 2 hari akan
menghilang. Dismenorhoe primer juga sering disertai oleh kepala,
mual, sembelit atau diare dan sering berkemih. Kadang sampai
terjadi muntah.
Rasa sakit menstruasi juga diikuti dengan premenstruasi
sindrom yaitu sekumpulan gejala bervariasi yang muncul antara 7
hingga 14 hari sebelum masa haid dimulai dan biasanya berhenti
saat haid mulai. Gejala-gejala tersebut meliputi tingkah laku seperti
kegelisahan,

depresi,

iritabilitas/sensitif,

mudah

tersinggung,

gangguan tidur, kelelahan, lemah mengidam makanan dan kadangkadang perubahan suasana hati yang sangat cepat. Selain itu,
terdapat pula nyeri pada perut bagian bawah, yang bisa menjalar
ke punggung bagian bawah dan tungkai. Nyeri dirasakan sebagai
kram yang hilang-timbul atau sebagai nyeri tumpul yang terus
menerus ada.

24

5. Mekanisme terjadinya
Manuaba

(2001)

mengemukakan

bahwa

skema

terjadinya dismenorhoe primer adalah sebagai berikut:


permebealitas membran lisisim
pelepasan enzim hidrolik

kerusakan sel

lisosom ke dalam sitoplasma

sintesis prostaglandin akibat


proses intra seluler

kontraksi uterus

pengeluaran prostaglandin

6. Patofisiologi
Sriwidodo (2001) mengemukakan bahwa patofisiologi terjadinya
dismenorhoe primer hingga kini masih belum jelas. Beberapa faktor
diduga berperan dalam timbulnya dismenore primer yaitu :
a. Faktor psikis dan konstitusi
Pada wanita yang secara emosional tidak stabil, dismenorhoe primer
mudah terjadinya. Faktor konstitusi erat kaitannya dengan faktor
psikis, faktor ini dapat menurunkan ketahanan terhadap rasa nyeri.
Seringkali segera setelah perkawinan dismenorhoe hilang, dan jarang
sekali dismenorhoe menetap seteiah melahirkan Mungkin kedua
keadaan tersebut (perkawinan dan melahirkan) membawa perubahan
fisiologis pada genitalia maupun perubahan psikis. Disamping itu,
psikoterapi terkadang mampu menghilangkan dismenorhoe primer.

25

b. Faktor obstruksi canalis cervicalis


Teori ini dikemukakan seteiah memperhatikan adanya hubungan
antara dismenorhoe dengan urtikaria, migrain atau asma bronkiale.
c. Faktor alergi
Teori ini dikemukakan seteiah mempematikan adanya hubungan
antara dismenorhoe dengan urtikaria, migrain atau asma bronkiale
d. Faktor neurologis
Uterus dipersyarafi oleh sistem syaraf otonom yang terdiri dari
syaraf simpatis dan parasimpatis. Jeffcoate mengemukakan bahwa
dismenorhoe ditimbulkan oleh ketidakseimbangan pengendalian
sistem syaraf otonom terhadap miometrium. Pada keadaan ini
terjadi perangsangan yang berlebihan oleh syaraf simpatis
sehingga serabut-serabut sirkalus pada istmus dan ostium uteri
internum menjadi hipertonik.
e. Kadar vasopresin pada wanita dengan dismenore primer sangat
tinggi dibandingkan dengan wanita tanpa dismenorea. Pemberian
vasopresin pada saat menstruasi menyebabkan meningkatnya
kontraksi uterus, menurunnya aliran darah pada uterus, dan
menimbulkan nyeri. Namun hingga kini peranan pasti vasopresin
dalam mekanisme terjadinya dismenorhoe masih belum jelas.
f. Prostaglandin
Penelitian pada beberapa tahun terkhir menunjukkan bahwa
prostaglandin memegang peranan penting dalam terjadinya
dismenorhoe.

Prostaglandin

prostaglandin

E2

(PGE2)

yang
dan

berperan

F2a

(PGF2a).

disini

yaitu

pelepasan

prostaglandin diinduksi oleh adanya lisis endometrium dan


rusaknya membran sel akibat pelepasan lisosim. Prostaglandin
menyebabkan peningkatan aktivitas uterus dan serabut-serabut

26

syaraf terminal rangsang nyeri. Kombinasi antara peningkatan


kadar prostaglandin dan peningkatan kepekaan miometrium
menimbulkan

tekanan

intrauterus

hingga

400

mmHg

dan

menyebabkan kontraksi miometrium yang hebat. Selanjutnya,


kontarksi miometrium yang disebabkan oleh prostaglandin akan
mengurangi

aliran

darah,

sehingga

terjadi

iskemia

sel-sel

miometrium
yang mengakibatkan timbulnya nyeri spasmodik. Jika prostaglandin
dilepaskan dalam jumlah berlebihan ke dalam peredaran darah,
maka selain dismenorhoe timbul pula diare, mual, dan muntah.
g. Faktor hormonal
Umumnya kejang yang terjadinya pada dismenorhoe primer
dianggap terjadinya akibat kontraksi uterus yang berlebihan. Dalam
penelitian Novak dan Reynolds terhadap uterus yang berlebihan.
Dalam penelitian Novak dan Reynolds terhadap uterus kelinci
didapatkan kesimpulan bahwa kormon estrogen merangsang
kontraktilitas uterus, sedang hormon progesteron menghambatnya.
Tetapi teori ini tidak menerangkan mengapa dismenoera tidak
terjadi pada perdarahan disfungsi anovulator, yang biasanya
disertai tingginya kadar estrogen tanpa adnya progesteron. Kadar
progesteron yang rendah menyebabkan ter bentuknya PGF2a
dalam jumlah banyak. Kadar progestron yang rendah akibat regresi
korpus luteum menyebabkan terganggunya stabilitas membran
lisosom dan juga meningkatkan pelepasan enzim fosfolipase-A2
yang berperan sebagai katalisator dalam sintesis prostaglandin
pada endometrium yang mengikuti tonus miometrium dan kontraksi
uterus,
h. Leukotren

27

Penelitian yang dilakukan oleh Helsa (1992) menyatakan bahwa


leukotren meningkatkan sensitivitas serabut nyeri pada uterus.
Leukotren dalam jumlah besar ditemukan dalam uterus wanita
dengan dismenorhoe primers yang tidak memberi respon terhadap
pemberian antagonis prostaglandin. Sama seperti dismenoera
primer, penyebab dismenorhoe sekunder juga belum diketahui
dengan pasti. Dismenore sekunder diduga disebabkan oleh
penigkatan prostaglandin yang merupakan mediator dalam reaksi
radang yang jumlahnya akan tinggi pada keadaan adanya penyakit
radang panggul seperti endometriosis, fibromioma, serta kelainan
ginekkologis iainnya. Namun, pemberian obat anti-inflamasi
nonsteroid dan kontrasepsi oral

untuk mengatasi dismenorhoe

sekunder kurang memberi respon yang memuaskan


Manuaba (2001) menambahkan bahwa adanya infeksi, nekrosis
endometrium, dan

pemakaian

IUCD dapat

memicu

terjadinya

peningkatan pembentukan prostaglandin. Dengan meningkatnya kadar


prostaglandin. Menyebabkan terjadinya peningkatan perangsangan
sensitivitas serat saraf, perangsangan sensitivitas terhadap nyeri,
memicu perasaan psikis atau emosi yang labil, dan terjadi kontraksi
disritmik pada otot uterus yang pada akhirnya terjadilah dismenoare
primer.
7. Diagnosa
Callahan (2004) menginformasikan bahwa diagnosa pada
dismenorhoe

primer

didasari

atas

ketidaknyamanan

saat

menstruasi dimana terasa nyeri pada bagian bawah perut dan


berlangsung pada siklus menstruasi yaitu pada 1-2 hari saat
menstruasi. selanjutnya dapat disertai gejala penyerta seperti sakit
kepala emosi yang labil, lesu, muntah, diare, dan sering berkemih.

28

8. Penatalaksanaan
Bobak (2004) menjelaskan bahwa pertambahan umur dan
kehamilan

akan

menyebabkan

menghilangnya

dismenorhoe

primer. Hal ini diduga ter jadinya karena adanya kemunduran saraf
rahim akibat penuaan serta hilangnya sebagian saraf pada
akhirnya kehamilan. Brunner and Suddarth (2003) mengemukakan
bahwa para remaja putri tidak perlu

khawatir dalam mengatasi

dismenoare primer sebab terdapat manajemen

sederhana untuk

menangani dismenorhoe primer, antara lain :


a. Obat-obatan
Wanita dengan dismenorhoe primer banyak yang dibantu
dengan mengkonsumsi obat anti peradangan bukan steroid
(NSAID) yang menghambat produksi dan kerja prostaglandin. Obat
itu termasuk aspirin, formula ibuprofen (motrin), naproksen (aleve,
anaprox, naprosyn), dan asam mefenamat (ponstel), refocoxib
(vioxx)

yang

merupakan

penghambat

COX-2

juga

dapat

digunakan. Untuk kram yang berat, pemberian NSAID seperti


naproksen atau piroksikan dapat membantu. Tidak ada satu pun
NSAID yang superior. Beberapa dokter meresepkan pil KB untuk
meredakan dismenorhoe, tetapi hal itu tidak dianggap sebagai
penggunaan yang tepat. Namun, hal itu dapat menjadi pengobatan
yang sesuai bagi wanita yang ingin menggunakan alat KB berupa
pil. Adapun kontraindikasi dan pemberian NSAID adalah pada klien
yang sedang hamil, ada riwayat alergi, ulkus peptikum, dan asma.
Sedangkan untuk mengatasi mual dan muntah dapat diberikan
obat antiemetik, tetapi mual dan muntah biasanya menghilang jika
kramnya telah teratasi.
b. Rileksasi

29

Tubuh manusia bereaksi saat stres maupun dalam keadaan


rileks. Saat seseorang terancam atau takut, tubuh memberikan 2
macam reaksi, fight or fight yang dicetuskan oleh hormon
adrenalin. Otot tubuh menjadi tegang, napas lebih cepat, jantung
berdenyut iebih cepat, tekanan darah meninggi untuk menyediakan
oksigen bagi otot tubuh, glukosa dilepaskan dalam jumlah yang
banyak dari hati untuk memberikan "bahan bakar" bagi otot.
Keseimbangan natrium dan kalium berubah, dan keringat mulai
bercucuran. Tanda pertama yang menunjukkan keadaan sires
adalah adanya reaksi yang muncul yaitu menegangnya otot. Dalam
kondisi rileks tubuh juga dapat menghentikan produksi hormon
adrenalin dan semua hormon yang diperlukan saat stres. Karena
hormon seks esterogen dan progesteron serta hormon adrenalin
diproduksi dari blok bangunan kimiawi yang sama, maka pada saat
mengurangi stres berarti secara tidak langsung juga telah
mengurangi produksi kedua hormon seks tersebut. Jadi, rileksasi
diperlukan untuk memberikan kesempatan bagi tubuh untuk
memproduksi hormon yang penting untuk mendapatkan haid yang
bebas dari nyeri.
C. Tinjauan Umum tentang Remaja
1. Pengertian
Setiono

(2002)

menjelaskan

bahwa

masa

remaja

merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia yang


batasannya usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas.
Robertas yang dahulu dianggap sebagai tanda awal keremajaan
ternyata tidak lagi valid sebagai patokan atau batasan untuk
pengkategorian remaja sebab usia pubertas yang dahuiu terkjadi
pada kahir usia belasan (15-16) kini terjadi pada awal belasan

30

bahkan sebelum usia 11 tahun. Seorang anak berusia 10 tahun


mungkin saja sudah (atau sedang) mengalami pubertas namun
tidak berarti ia sudah bisa dikatakan sebagai remaja dan sudah
siap menghadapi dunia orang dewasa, meski disaat yang sama ia
juga

bukan

anak-anak

lagi.

Berbeda

dengan

balita

yang

perkembangannya dengan jelas dapat diukur, remaja hampir tidak


memiliki pola perkembangan yang pasti. Dalam perkembangannya
seringkali

mereka

menjadi

bingung

karena

kadang-kadang

diperlukan sebagai anak-anak tetapi di lain waktu mereka dituntut


untuk bersikap mandiri dan dewasa.
2. Perubahan Fisilogis Remaja
Setiono (2002) menjelaskan bahwa terdapat beberapa
perubahan fisiologis yang tejadi pada remaja, diantaranya :
a. Perubahan Biologis Pada saat seorang anak memasuki masa
pubertas yang ditandai dengan menstruasi pertama pada remaja
putri dan perubahan suara pada remaja putra, secara biologis
mereka mengalami perubahan yang sangat besar. Pubertas
menjadikan seorang anak tiba-tiba memiliki kemampuan untuk
berproduksi. Pada masa pubertas, hormon seseorang menjadi aktif
dalam memproduksi dua jenis hormon (gonadotrophis atau
gonadotrophic

hormones)

yang

berhubungan

dengan

pertumbuhan, yaitu : 1) Follicle Stimulating Hormone (FHS); 2)


Luteinizing Hormone (LH). Pada remaja putri, kedua hormon
tersebut merangsang pertumbuhan estrogen dan progesterone]
dua jenis hormon kewanitaan. Pada remaja putra, Leteinizing
Hormone
Hormone

yang

juga

(ICSH)

dinamakan

merangsang

Interstitial-Cell

Stimulating

pertumbuhan

testosteron.

Pertumbuhan secara cepat dari hormon-hormon diatas dapat


merubah sistem biologis para remaja. Remaja putri akan mendapat

31

mensutruasi, sebagai pertanda bahwa sistem reproduksinya sudah


aktif. Perubahan fisik yang nampak pada remaja putri meliputi
pertumbuhan payudara, panggul mulai melabar dan membesar,
mulai tumbuh bulu-bulu halus disekitar ketiak dan vagina,
tumbuhnya jerawat, lengan dan tungkai kaki bertambah panjang,
tangan dan kaki bertambah besar, tulang-tulang wajah mulai
memanjang dan membesar, vagina muiai mengeluarkan cairan,
bokong akan berkembang lebih besar, kulit dan rambut mulai
berminyak serta keringat bertambah banyak. Selain perubahan fisik
pada remaja, dapat terjadi pula perubahan emosi, pikiran,
perasaan, dan lingkungan pergaulan.
b. Perubahan Psikologis
Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak. Pada
masa ini mood (suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat.
Hasil penelitian di Chicago oleh Mihalyi Csikzenmihalyi dan Reed
Larson (1984) menemukan bahwa remaja rata-rata memerlukan
hanya 45 menit untuk berubah dari mood "senang luar biasa" ke
"sedih luar biasa", sementara orang dewasa memerlukan beberapa
jam untuk hal sama. Perubahan mood (swing) yang drastis pada
remaja ini seringkali dikarenakan beban pekerjaan rumah,
pekerjaan sekolah, atau kegiatan sehari-hari di rumah. Meski mood
remaja yang mudah berubah-ubah dengan cepat, hal tersebut
belum tentu merupakan gejafa atau masalah psikofogi. Dalam hal
kesadaran diri, pada masa remaja para remaja mengalami
perubahan yang dramatis dalam kesadaran diri mereka (selfawareness). Mereka sangat rentan terhadap pendapat orang lain
karena mereka menganggap bahwa orang lain sangat mengagumi
atau selalu mengkritik mereka seperti mereka mengagumi atau
mengkritik diri mereka sendiri. Anggapan itu membuat remaja

32

sangat memperhatikan diri mereka dan citra yang direfleksikan


(self-image).

Remaja

yang

diberi

kesempatan

untuk

mempertanggung jawabkan perbuatan mereka, akan tumbuh


menjadi orang dewasa yang lebih berhati-hati, lebih percaya diri,
dan mampu bertanggung jawab. Rasa percaya diri dan rasa
tanggung jawab inilah yang sangat dibutuhkan sebagai dasar
pembentukan jati diri positif pada remaja. Sehingga nantinya
remaja tersebut akan tumbuh dengan penilaian positif pada diri
sendiri dan rasa hormat pada orang lain dan lingkungan.
c. Perubahan Kognitif
Perkembangan kognitif remaja, dalam pandangan Jean
Piaget (seorang ahli perkembangan kognitif) merupakan periode
terakhir dan tertinggi dalam hidup pertumbuhan operasi normal
(period of formal operations). Pada periode ini, idealnya para
remaja

sudah

memiliki

pola

pikir

sendiri

dalam

usaha

memecahkan masalah-masalah yang kompleks dan abstrak.


Kemampuan berpikir para remaja berkembang sedemikian rupa
sehingga mereka dengan mudah dapat membayangkan banyak
alternatif pemecahan masalah beserta kemungkinan akibat atau
hasilnya. Kapasitas berpikir secara logis dan abstrak mereka
berkembang sehingga mereka mampu berpikir multi-dimensi
seperti ilmuwan. Para remaja tidak lagi menerima informasi apa
adanya, tetapi mereka akan memproses informasi itu serta
mengadaptasikannya dengan pemikiran mereka sendiri. Mereka
juga mampu mengintegrasikan pengalaman masa laiu dan
sekarang untuk ditransformasikan menjadi konklusi, prediksi, dan
rencana untuk masa depan. Dengan kemampuan operasional
formal ini, para remaja mampu mengadaptasikan diri dengan
lingkungan sekitar mereka.

33

d. Perubahan Nilai Moral


Masa remaja adalah periode dimana seseorang mulai bertanyatanya mengenai berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan
sekitarnya sebagai dasar bagi pembentukan nilai diri mereka. Para
remaja mulai membuat penilaian tersendiri dalam menghadapi
masalah-masalah popular yang berkenaan dengan lingkungan
mereka, misalnya; politik, kemanusiaan, perang, keadaan sosial,
dan sebagainya. Remaja tidak lagi menerima hasil pemiklran yang
kaku, sederhana, dan absolut yang diberikan pada mereka selama
ini tanpa bantahan. Remaja mulai mempertayakan keabsahan
pemikiran yang ada dan mempertimbangkan lebih banyak
alternatif lainnya. Secara kritis, remaja akan lebih banyak
melakukan pengamatan keluar dan membandingkannya dengan
hal-hal yang selama ini diajarkan dan ditanamkan kepadanya.
3. Tugas Perkembangan Remaja
(Kimmel
mengemukakan

1995,
bahwa

dikutip

dalam

tugas-tugas

Havighurst,

perkembangan

n.d)
seorang

remaja adalah sebagai berikut:


a. Mencapai suatu hubungan yang baru dan lebih matang antara I
awan jenis yang seusianya.
b. Dapat menjalankan peran sosial maskulin dan fern inim,
menerima keadaan fisik dirinya sendiri dan menggunakan
tubuhnya secara lebih efektif.
c. Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung
jawab.
d. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orangorang dewasa lainnya.
e. Mempersiapkan karir ekonomi.
f. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga
g. Memperoleh perangkat niiai dan sistem etis sebagai pegangan

34

untuk berperilaku dan mengembangkan edeologi.


Seorang

remaja

dalam

mencapai

tugas-tugas

perkembangannya dapat dipisahkan ke dalam tiga tahap secara


berurutan, antara lain; Tahap yang pertama adalah remaja awal,
dimana tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikannya
sebagai remaja adalah pada penerimaan terhadap keadaan fisik
drrinya dan menggunakan tubuhnya secara lebih efektif. Hal ini karena
remaja pada usia tersebut mengalami perubahan-perubahan fisik yang
sangat drastis, seperti pertumbuhan tubuh yang meliputi tinggi badan,
berat badan, panjang organ-organ tubuh, dan perubahan bentuk fisik
seperti tumbuhnya rambut, payudara, panggul, dan sebagainya.
Tahapan

yang

kedua

adalah

remaja

madya,

dimana

tugas

perkembangan yang utama adalah mencapai kemandirian dan


otonomi dari orang tua, terlibat dalam perluasan hubungan dengan
kelompok

baya

pertemanan;

dan

dan

mencapai

belajar

kapasitas

menangani

keintiman

hubungan

hubungan

heteroseksual,

pacaran dan masalah seksualitas. Tahapan yang ketiga adalah remaja


akhir, dimana tugas perkembangan utama bagi individu adalah
mencapai kemandirian seperti yang dicapai pada remaja madya,
namun berfokus pada persiapan diri untuk benar-benar terlepas dari
orang tua, membentuk pribadi yang bertanggung
jawab, mempersiapkan karir ekonomi, dan membentuk ideologi pribadi
yang didalamnya juga meliputi penerimaan terhadap nilai dan sistem
etik.

4. Masalah Pada Remaja

35

Arifin (n.d) menjelaskan bahwa masalah remaja adalah masa


datangnya pubertas (sebelas sampai empat belas tahun) sampai usia
sekitar delapan belas masa transisi dari kanak-kanak ke dewasa.
Masa
ini hampir selalu merupakan masa-masa sulit bagi remaja maupun
orang tuanya. Ada sejumlah alasan untuk ini:
a. Remaja mulai menyampaikan kebebasannya dan haknya untuk
mengemukakan pendapatnya sendiri. Tidak terhindarkan, ini bisa
menciptakan ketegangan dan perselisihan, dan bisa menjauhkan ia
dari keluarganya.
b. la lebih mudah dipengaruhi teman-temannya dari pada ketika
masih lebih muda. Ini berarti pengaruh orang tua pun melemah.
Anak remaja berperilaku dan mempunyai kesenangan yang
berbeda bahkan bertentangan dengan perilaku dan kesenangan
keluarga. Contoh-contoh yang umum adalah mode pakaian,
potongan rambut, atau musik, yang semuanya harus mutakhir.
c. Remaja mengalami perubahan fisik yang luar biasa, baik
pertumbuhan maupun seksualitasnya. Perasaan seksual yang
muiai muncul bisa menakutkan, membingungkan dan menjadi
sumber Perasaan salah dan frustasi. salah satu contohnya jika
terjadi dismenorhoe primer pada remaja putri.
d. remaja sering menjadi terlalu percaya diri dan ini bersama-sama
dengan emosi nya yang biasanya meningkat, mengakibatkan ia
sukar menerima nasihat orang tua.

D. Kerangka Konsep

36

Kerangka konsep penelitian ini dikembangkan berdasarkan


tinjauan pustaka, yaltu bahwa dismenorhoe merupakan menstruasi
yang menimbulkan rasa nyeri dimana keadaan ini mengenai 60-70%
dari wanita yang mengaiami menstruasi. Biasanya rasa nyeri tersebut
berupa kram pada perut bagian bawah dapat menjalar ke punggung,
pinggul, dan paha. Dan bahkan ada yang merasa lesu, mual, muntah,
diare, nyeri kepala sampai pingsan serta dapat mengaiami kesulitan
berjalan sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Adapun kerangka konsep penelitian adalah sebagai berikut:

Usia remaja
Putri

Riwayat
Keluarga

= diteliti

= tidak diteliti

Derajat
dismenorhoe
primer
dismenorhoe ringan
dismenorhoe sedang
dismenorhoe berat

37

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskripstif analitik yang
bertujuan untuk mendapatkan gambaran terjadinya dismenorhoe
primer pada remaja putri di SMP Negeri 1 Sungguminasa Kabupaten
Gowa Provinsi Sulawesi Selatan.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini di lakukan di SMP Negeri 1 Sungguminasa
Kabupaten Gowa pada minggu I Maret sampai dengan minggu IV
Maret tahun 2010
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Hidayat (2007) menjelaskan bahwa populasi merupakan seluruh I
subjek dengan karakteristika tertentu yang akan diteliti.

Populasi

dalam penelitian ini adalah seluruh remaja putri kelas 3 di SMP Negeri
1 Sungguminasa Kabupaten Gowa yang berjumlah 162 orang.
2. Sampel
Hidayat (2007) menjelaskan bahwa populasi merupakan seluruh I
subjek dengan karakteristika tertentu yang akan diteliti.

Populasi

dalam penelitian ini adalah seluruh remaja putri kelas 3 di SMP Negeri
1 Sungguminasa Kabupaten Gowa yang berjumlah 162 orang.
3. Besar sampel
Jumlah sampel dalam penelitian
sebagai berikut:

ini menggunakan

rumus

38

n=

N
1+(d )2

Keterangan :
N

= Besar populasi

= Besar sampel

= Tingkat kepercayaan (0,05)


Pada penelitian ini diketahui jumlah remaja putri di tempat penelitian

(september 2010) adaiah sebanyak 8 kelas dengan jumlah remaja putri


sebanyak 162 orang, dengan estimasi proporsi populasi adaiah 50% dengan
tingkat kepercayaan 0,05. teknik sampel dalam penelitian ini menggunakan
cluster sampling yaitu suatu cara pengambilan sampel bila objek yang diteliti
atau sumber data sangat luas dan besar yang dilakukan dengan cara
melakukan randomisasi dalam dua tahap, yaitu pertama randomisasi dalam
dua tahap, yaitu pertama randomisasi untuk menentukan sampel daerah
kemudian randomisasi untuk menentukan orang/unit yang ada pada populasi
cluster yang terpilih. Berdasarkan teknik sampling diatas, maka rumus
randomisasi yang pertama adaiah :

n=

8
=7 kelas
1+(0, 05)2

Jadi, ada 1 kelas yang tidak diteliti kemudian dalam 7 kelas tersebut
terdapat jumlah remaja putri sebanyak 142 orang. Jadi, rumus randomisasi
yang kedua adalah :

39

n=

142
=104 orang
1+142( 0,05)2

Jadi, jumlah sampel yang diteliti adalah sebanyak 104 orang remaja putri di
SMP Negeri 1 Sungguminasa.

4. Kriteria Inklusi dan Ekslusi


a. Kriteria Inklusi
- remaja putri umur 13-15 tahun
- remaja putri yang bersedia untuk berpartisipasi dalam
penelitian ini
- remaja putri yang hadir pada saat penelitian ini sedang
dilakukan
b. Kriteria ekslusi
- remaja putri yang menolak untuk berpartisipasi dalam
penelitian ini
- remaja putri yang tidak hadir pada saat penelitian ini sedang
dilakukan
-

sakit

40

D. Alur penelitian
pemilihan
tempat
penelitian

pengambilan
surat izin
penelitian

pengambilan
Data
Awal
penyelesaian
Proposal
Penelitian
seminar Proposal

Perbaikan
Proposal
penelitian
Pembuatan Persetujuan responden
Penelitian

Penyebaran
Kuesioner

Analisis
Data

Penyajian Hasil
Penelitian
perbaikan dan
Penggandaan

41

E. Variabel Penelitian
1. Identifikasi variabel
Variabel yang akan diteliti terdiri dari:
a. Derajat dismenorhoe primer
- dismenorhoe ringan
- dismenorhoe sedang
- dismenorhoe berat
b. Usia remaja putri
2. Defenisi operasional dan kriteria objektif
Dismenorhoe primer adalah nyeri saat menstruasi dan biasanya
terjadi setelah seorang remaja putri mengalami menarche atau haid
pertama.

Rasa

nyeri

tersebut

tidak

disertai

dengan

kelainan

ginekologik, tetapi disebabkan oleh peningkatan kadar prostaglandin


yang berlebihan oleh endometrium pada fase sekresi sehingga
menyebabkan terjadinya kontraksi otot uterus secara disritmik
sehingga timbul rasa nyeri saat menstruasi. Dibawah ini klasifikasi dari
dismenorhoe primer, antara lain :
a. Dismenorhoe ringan adalah nyeri haid pada bagian bawah perut
dan dapat disertai dengan gangguan emosi yang labil, kelemahan,
dan masih bisa melakukan kegiatan sehari-hari serta tidak
memerlukan obat pelindung rasa nyeri.
Kriteria objektif:
ya

Jika > 3 Gejala

Tidak

Jika < 3 gejala

b. Dismenorhoe sedang adalah dismenorhoe sedang, nyeri haid yang


disertai dengan sakit kepala yang serius, sering berkemih, tidak
bisa melakukan kegiatan sehari-hari, dan memerlukan obat
pelindung rasa nyeri.
KriterJa objektif:
Ya > jika 3 gejala

42

Tidak > jika < 3 gejala


c. Dismenorhoe berat adalah nyeri yang disertai dengan sakit kepala
yang serius, sering berkemih, tidak bisa melakukan kegiatan
sehari-hari, dan memerlukan obat pelindung rasa nyeri.
Kriteria objektif:
Ya > jika 3 gejala
Tidak jika < 3 gejala
F. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengolahan data adalah menggunakan kuesioner yang
dibuat berdasarkan teori yang berpedoman pada keperawatan
maternitas dan metodologi penelitian yang digunakan adalah skala
Guttaman, dimana setiap pertanyaan dibagi atas 2 jawaban ya diberi
skor 2 dan jawaban tidak diberi skor 1, dengan jumlah keseluruhan
sebanyak 13 pertanyaan.
Kuesioner ini akan diisi oleh remaja putri sebagai responden.
Kuesioner yang akan diisi terlebih dahulu diedit untuk melihat
kelengkapan isi kuesioner dan selanjutnya dilakukan uji validasi pada
beberapa sampel secara acak sebelum diberikan pada sampel yang
sesuai dengan kriteria inklusi sehingga dapat dinilai kelayakan dari
kuesioner yang akan diberikan.

G. Pengolahan dan Analisa Data


1. Pengolahan Data

43

a. Editing
Melakukan pemeriksaan ulang atau pengecekan jumlah dan
kelengkapan pengisian kuesioner, apakah setiap pertanyaan
sudah dijawab dengan lengkap.
b. Koding
Dilakukan

untuk

kemudahan

pengolahan

data

yaitu

memberikan simbol-simbol dari setiap jawaban responden.


c. Tabulasi data
Tabulasi data dilakukan untuk memudahkan pengolahan data
kedalam suatu tabel menurut sifat-sifat yang dimiliki sesuai
dengan tujuan penelitian. Tabel mudah dianalisa, dapat berupa
tabel sederhana atau tabel silang.
2. Analisa Data
Setelah memperoleh nilai skor dari tiap variabel penelitian,
dilakukan analisis untuk melihat tampilan distribusi frekuensi dan
persentase dari tiap variabel, kemudian hasil data yang didapat
dimasukkan dalam program software komputer SPSS versi 11,5 yang
meliputi: Analisis univariat Analisis univariat adalah analisa yang
dilakukan terhadap setiap variabel dari hasii penelitian, analisa ini
menghasilkan distribusi dan presentase dari tiap variabel yang diteliti.
H. Masalah Etika
Dalam melakukan penelitian, peneliti merasa perlu adanya
rekomendasi dari institusi akademik untuk mengajukan permohonan
untuk mengadakan penelitian di instansi atau lembaga penelitian yang
terkait. Setelah mendapatkan persetujuan dari instansi terkait, barulah
peneliti dapat melakukan penelitian dengan menekankan masalah
etika yang meliputi:
a. Informed Consent

44

Lembar persetujuan ini diberikan kepada responden yang akan


diteliti yang memenuhi kriteria inklusi dan disertai judul penelitian dan
manfaat penelitian, apabila subjek menolak maka peneliti tidak akan
memaksa dan tetap menghormati hak-hak subjek.
b. Anonimity (tanpa nama)
Untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak akan mencantumkan
nama responden, tetapi hanya dengan menggunakan pengkodean.
c. Confidentiality (kerahasiaan)
Peneliti menjamin hak-hak responden dengan cara menjamin
kerahasiaan identitas responden.

45

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan di SMP Negeri 1
Sungguminasa

Kabupaten

Gowa,

didapatkan

siswa

96

yang

mengalami dismenorhoe ringan dari 104 siswa yang diteliti peroide


September 2010.
Tabel 1
Distribusi Jumlah Golongan Umur Responden
Di SMP Negeri 1 Sungguminasa Kab. Gowa Tahun 2010

NO

Golongan Umur
< 13 Thn
13 15 Thn
> 15 Thn

F
12
78
14

%
1,5
75
13,5

berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa dari 104 jumlah siswa yang
diteliti terdapat 78 siswa yang umur 13 15 Thn (75 %) yang diteliti, 14
Orang siswa > 15 tahun (13,5 %) dan 12 orang siswa yang haid dibawah
umur 13 tahun.

46

Tabel II
Distribusi Penggolongan Tingkat Dismenorhoe Primer
Pada siswa SMP Negeri 1 Sungguminasa Kab. Gowa Tahun 2010
NO

Golongan Umur
Ringan
Sedang

F
96
8
0

%
92,3
7,7
-

Berat
Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa dari 104 siswa yang diteliti terdapat
96 orang siswa yang mengalami dismenorhoe ringan dan sisanya adalah 8
orang yang mengalami disrnenore sedang dan tidak ada siswa yang
mengalami dismenore berat.
B. Pembahasan
Setelah melakukan penelitian analisis angka kejadian dismenorhoe
primer pada remaja putri di SMP Negeri 1 Sungguminasa periode
Maret 2009, maka hasil yang diperoleh sebagai berikut:
1. Analisis angka kejadian umur dismenorhoe primer berdasarkan umur
remaja putri.
Pada hasil penelitian di SMP Negeri 1 Sungguminasa Kab.
Gowa tingkat data sekunder yang didapatkan 104 orang, dimana umur
<13-15 tahun 96 orang mengalami dismenorhoe ringan (92,3%) >15
tahun 8 (8,7 %) orang mengalami nyeri sedang, , dan tidak terdapat
anak yang mengalami dismenorhoe berat. Dari data tersebut terlihat
bahwa angka kejadian dismenorhoe ringan pada remaja putri tertinggi
pada umur 13-15 tahun yang umumnya mungkin dipengaruhi faktor
kejiwaan pada remaja putri yang secara emosional tidak stabil, apalagi

47

jika mereka tidak mendapat penerangan yang baik tentang proses


haid, mudah timbul dismenorhoe.
Faktor lain yang sering timbul adalah faktor konstitusi, faktor ini
dapat juga menimbulkan ketahanan terhadap rasa nyeri. Faktor-faktor
lain seperti anemia, penyakit menahun, dan sebagainya dapat
mempengaruhi timbulnya dismenorhoe.
2. analis anhka kejadian dismenorhoe primer menurut tingkat nyeri haid.
ditinjau dari jumlah kejadian dismenorhoe dari tingkat nyeri haid
didapatkan bahwa dari 104 responden yang diteliti terbanyak
ditemukan remaja putri hanya mengalami nyeri haid yang ringan
(dismenorhooe ringan) yaitu 96 orang (92, 3 %).

48

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian mengenai "Analisis angka kejadian dismenorhoe
primer di SMP Negeri 1 Sungguminasa Kab. Gowa periode September
2010 maka dapat ditarik beberapa kesimpulan bahwa :
1. Dari hasil pengisian koesioner pada bulan September 2010 oleh 104
remaja putri di SMP Negeri 1 Sungguminasa yang terbanyak
ditemukan mengalami dismenorhoe pada umur 13-15 tahun yaitu 78
orang (75%) artinya kebanyakan kejadian nyeri haid (dismenorhoe
primer) terjadi beberapa waktu setelah menorche biasanya setelah 12
bulan atau lebih, oleh karena siklus haid pada bulan pertama, setelah
menarche umumnya terjadi an ovulatoar yang tidak disertai dengan
rasa nyeri.
2. Gambaran kejadian dismenorhoe primer menurut tingkat nyeri haid
diperoleh bahwa dari pengisian koesioner sebanyak 104 sampel,
terbanyak yang mengalami dismenore ringan yaitu 96 orang (92,3 %)
artinya bahwa kejadian haid tiap bulan tidak mempengaruhi aktivitas
remaja putri dalam proses belajar mengajar dan beraktivitas dalam
kehidupan sehari-harinya karena hanya mengalami nyeri perut bagian
bawah dan dapat disertai gamgguan emosi yang labil, kelemahan, dan
nyeri haid tersebut tidak memerlukan obat pelindung rasa nyeri bawah
dan dapat disertai gamgguan emosi yang labil, kelemahan, dan nyeri
haid tersebut tidak memerlukan obat pelindung rasa nyeri.
3. Kesimpulan utama dari hasil penelitian ini adalah : antara variabel usia
remaja putri dengan variabel derajat dismenorhoe primer sangat erat

49

hubungannya karena dismenorhoe primer paling banyak terjadi pada


umur 13-15 tahun, yiatu tahun kedua setelah haid pertama (menarche)
B. Saran
1. Bagi institusi diharapkan menjadi bahan masukan untuk meningkatan
mutu pendidikan.
2. Penulis mengharapkan bagi orang tua dan guru sekaligus pendidik
bagi remaja putri dapat memberikan arahan pada remaja putri tentang
masalah-masalah yang sering timbul pada masa remaja contohnya
dismenorhoe primer.
3. Bagi petugas kesehatan khususnya bidan, agar sesering mungkin
melakukan penyuluhan yang intensif pada semua remaja putri yang
beranjak remaja tentang apa itu dismenorhoe, gejala dan dampakdampak yang mungkin timbul sehingga mereka dapat mengantisipasi
apabila terjadi kejadian tersebut.
4. Bagi peneliti selajutnya, supaya dapat diteliti faktor lain yang
berhubungan dengan dismenorhoe atau meneliti faktor-faktor yang
sama tetapi dengan metode penelitian yang lain.
5. Dianjurkan kepada remaja putri supaya apabila mengalami kejadian
tersebut dan masih dalam tingkat ringan supaya istirahat yang cukup,
makan makanan bergizi dan sehat, olahraga berguna untuk mengatasi
rasa nyeri, dan apabila berat supaya secepatnya memeriksakan diri
pada petugas kesehatan yang terdekat .

50

DAFTAR PUSTAKA
Anurogo, D (2008), Segala Sesuatu tentang Nyeri Otot Raid, Diakses 7
Februari 2009,<http://www.kabarindonesia.com/berita.php/pil=3%dn=200806
1 9 1 6480
Arifin, S (n.d), Perkembangan Masa Remaja, Diakses 4 Februari
2009, <http://www.ipin4u.esmartstudent.com./psiko.htm>.
Bobak (2004), Buku Ajar Keperawatan Maternitas, Edisi 4, Jakarta : EGC
Brunner dan Suddarth (2001), Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi
8, Jakarta : EGC
Brunner dan Suddarth (2003), Textbook Of Medical Surgical Nu rsing, 10th
Edition, Lippincott Williams & Wilkins
Callahan, T (2004), Blueprints Obstetrics & Gynecology, 3rd Edition, Boston :
Blaewell Publishing
Guyton, A (1990), Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit, Edisi III,
Jakarta : EGC
Havighurst (n.d), Tugas-Tugas Perkembangan Remaja, Diakses 4 Februari
2009, <http ://www.geocities.com/sebayaO 1 /perkembangan.htm>.
Hidayat, A.A.A (2007), Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan flmiah, Edisi
Kedua, Jakarta : Salemba Medika.
Lestia, L (2008), Dismenore Alias Nyeri Menstruasi (Health Ed-1), Diakses 17
Januari 2009, <http://situs.kesrepro.info/kia/mei/2002/kia02.htm>.
Lindarkis, N (2001), Obstetrics And Ginecology, New York : McGraw-Hill
Manuaba; I (2001), Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri
Ginekologi dan KB, Jakarta : EGC
Nelwati (2005), Jurnal Keperawatan Indonesia, Vol.10, No. 1 Maret 2006,
Jakarta : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.
Raybum, W (2001), Obstetri dan Ginekologi, Jakarta : Widya Medika.
Setiono, L (2002), Beberapa Permasalahan Remaja, Diakses 4
Februari 2009, <http://www.e-psikologi.eom/remaja/l 30802/htm>.