Anda di halaman 1dari 121

BAB I

EIGENRICHTING
(TINDAKAN MAIN HAKIM SENDIRI)

Hukum materiil (sebagaimana terjelma dalam undang-undang atau yang


bersifat tidak tertulis, merupakan pedoman bagi warga masyarakat tentang
bagaimana orang selayaknya berbuat atau tidak berbuat dalam masyarakat
(Sudikno Mertokusumo, 1985: 1). Ini berarti hukum itu bukan sekadar sebagai
pedoman, yang hanya untuk dibaca, dilihat atau diketahui saja. Melainkan hukum
itu untuk dijalankan, dilaksanakan. Kemudian timbul suatu pertanyaan, siapakah
yang melaksanakan hukum? Jawabannya adalah setiap orang yang melaksanakan
hukum. Adalah salah besar kalau ada anggapan bahwa yang melaksanakan hukum
itu hanya orang-orang tertentu saja seperti sarjana hukum, pejabat ataupun
para penegak hukum serta masyarakat hukum sendiri.
Apakah benar masyarakat awam pun melaksanakan hukum ? Benar!
Bahkan tanpa sesadarnya mereka itu telah melaksanakan hukum, contohnya:
Seorang pemuda akan apel ke rumah pacarnya, si pemuda berkata, Nanti aku datang
ke rumah jam 19.00, kamu sudap siap ya, dan sang pacar menjawab, "Ya, aku nanti
sudah siap." Dengan contoh ini saja, mereka tanpa sadar telah melakukan hukum
perjanjian.
Dari contoh tersebut, bagaimana kalau salah satu dari mereka itu ingkar janji?
Hukum materiil tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk itu diperlukan hukum formal, atau
yang sering disebut Hukum Acara Perdata. Di sinilah peran hukum acara perdata,
kalau salah satu mereka itu wanprestasi, maka hukum acara perdata dapat
diberlakukan.
Atau dengan kata lain, Hukum Acara Perdata ini dapat digunakan untuk
menjamin ditaatinya hukum materiil perdata. Hukum Acara Perdata memang diadakan
untuk mengatur bagaimana caranya menjamin ditaatinya hukum perdata materiil
dengan perantara hakim.
Kata hakim di sini perlu digarisbawahi. Hakim di sini berarti pengadilan yang
berwenang. Bukan nama seseorang seperti misalnya Christine Hakim ataupun bukan
pula seorang yang berprofesi sebagai hakim, akan tetapi di luar pengadilan. Juga
pengadilan yang tidak berwenang-memeriksa.
1

Jadi lebih jelasnya, tuntutan hak itu tidak dapat diajukan di rumah seorang
hakim yang kebetulan menjadi tetangga, ataupun diajukan ke pengadilan yang tidak
berwenang. Sebab tidak semua pengadilan berwenang untuk memeriksa perkara yang
diajukan, Contohnya: Gugatan utang piutang diajukan ke Pengadilan Agama. Ataupun
gugatan utang piutang yang ke semua para pihaknya berdomisili di Yogyakarta, akan
tetapi gugatannya diajukan ke Pengadilan Negeri Bantul.
Hukum Acara Perdata ini diadakan dengan tujuan untuk memperoleh
perlindungan hukum yang diberikan oleh pengadilan untuk mencegah eigenrichting
atau tindakan menghakimi sendiri, karena eigenrichting itu merupakan tindakan untuk
melaksanakan hak menurut kemauannya sendiri yang bersifat sewenang-wenang,
tanpa persetujuan dari pihak lain yang berkepentingan, hingga akan menimbulkan
kerugian. Maka tindakan menghakimi sendiri itu tidaklah dibenarkan.
Contoh eigenrichting yang merugikan; A utang kepada setelah jatuh tempo A
belum dapat membayar, B lalu menyuruh C seorang debt collector untuk menyita
barang-barang milik A. Atau bahkan mungkin B menyuruh C untuk menculik dan
memukuli A.
Membicarakan eigenrichting, ada tiga pendapat dari para pakar, yaitu:
1. Van Boneval Faure mengatakan:
Tindakan menghakimi sendiri itu sama sekali tidak dibenarkan. Alasannya,
karena hukum acara telah menyediakan upaya-upaya untuk memperoleh
perlindungan hukum bagi para pihak melalui pengadilan, maka tindakantindakan menghakimi sendiri di luar pengadilan yang bisa merugikan pihak lain
itu dilarang.
2. Clavoringa berpendapat:
Tindakan menghakimi sendiri pada asasnya diperbolehkan atau dibenarkan.
Namun pengertiannya, bahwa yang melakukannya dianggap melakukan
perbuatan melawan hukum.
Catatan: dari kedua pendapat itu, pada hakikatnya baik Van Bonevall Faure
maupun Cteveringa, adalah sama. Main hakim sendiri tidak dibenarkan,
karena perbuatan itu mempunyai konsekuensi hukum tersendiri.
3. Rutten mengungkapkan sebagai berikut:

Tindakan menghakimi sendiri pada asasnya tidak dibenarkan, akan tetapi apabila
peraturan yang ada tidak cukup memberikan perlindungan, maka tindakan
menghakimi sendiri itu secara tidak tertulis dibenarkan.
Akan tetapi, kalau dilihat dari hukum acara perdata, tidak ada aturan yang secara tegas
melarang tindakan eigenrichting itu merupakan perbuatan melawan hukum, juga dapat di
hukum (lihat a.l. pasal 167 dan 406 KBHP).
Tuntutan hak yang bertujuan memperoleh perlindungan hukum yang diberikan oleh
pengadilan untuk mencegah eigenrichting, ada dua macam:
1. Tuntutan hak mengandung sengketa, tuntutan ini biasa disebut gugatan. Adapun para
pihaknya sekurang-kurangnya ada dua. Pihak yang merasa dirugikan dan menggugat
disebut PENGGUGAT. Sedangkan pihak yang digugat disebut TERGUGAT.
2. Tuntutan hak yang tidak mengandung sengketa, pihaknya hanya ada satu. Pihak
tersebut biasa disebut PEMOHON dan tuntutannya biasa disebut PERMOHONAN.
Kemudian kalau kita membicarakan tentang peradilan, lazimnya peradilan itu dibagi menjadi
dua, yaitu:
1. Peradilan volunter (voluntaire jurisdictie) yang juga sering disebut dengan kata
peradilan sukarela atau peradilan yang tidak sesungguhnya. Peradilan ini memeriksa
perkara Permohonan, perkara yang tidak mengandung sengketa.
2. Peradilan contentieus, yaitu peradilan sesungguhnya. Peradilan yang memeriksa
perkara yang mengandung sengketa.
Namun demikian sebenarnya tidak mudah kita membedakan antara peradilan volunter
dan peradilan contentious. Bandingkan pada putusan akhir dari kedua pengadilan tersebut.
Volunter menghasilkan penetapan dan contentieus menghasilkan putusan.
Perikatan
1233 BW bersumber dari

Perjanjian
1313 BW

Undang-Undang saja

Undang-undang
1352 BW

Undang-Undang Karena Perbuatan


Manusia 1353 BW

Perbuatan yang sesuai dengan hukum (rechtmatige) Perbuatan yang melawan hukum
1354 & 1359
(onrechtmatige) 1365 s/d 1380

Gambar 1. Skema Sumber Perikatan dan Pembedaannya


3

BAB II
PENGERTIAN DAN SIFAT HUKUM ACARA PERDATA

1. PENGERTIAN HUKUM ACARA PERDATA


Hukum materiil di negara kita, baik yang termuat dalam suatu Perundang-undangan
maupun yang tidak tertulis, merupakan pedoman atau pegangan ataupun penuntun bagi
seluruh warga masyarakat dalam segala tingkah lakunya di dalam pergaulan hidup, baik itu
perseorangan, masyarakat maupun dalam bernegara, apakah yang dapat dilakukan dan apa
yang tidak boleh dilakukan. Ketentuan-ketentuan tersebut misalnya antara lain, "tidak boleh
mencuri barang orang lain, tidak boleh mengganggu hak orang lain, ataupun tidak oleh kita
berbuat dalam melaksanakan hak kita secara sewenang-wenang tanpa memperhatikan hak
orang lain, dan sebagainya."
Semua ketentuan-ketentuan tersebut tidaklah cukup hanya untuk dibaca, dilihat atau
diketahui saja, melainkan untuk ditaati dan tapi di sini siapakah yang harus melaksanakan
atau menerapkan kaidah-kaidah tersebut bila ada hukum materiil yang dilanggar. Apakah kita
berhak secara sendiri-sendiri saja yang akan melaksanakan aturan tersebut ataukah harus oleh
suatu badan tertentu yang telah ditunjuk secara resmi.
Jika kita melaksanakan hukum materiil itu sendiri menurut kehendak pihak yang
bersangkutan, maka dalam hal ini akan timbullah apa yang dikenal dengan istilah "Main
Hakim Sendiri". Inilah yang justru sangat dikhawatirkan oleh kita semua, sebab dengan
keadaan demikian itu tentu saja ketertiban dalam masyarakat tidak akan terjamin lagi,
sedangkan ketertiban ini merupakan salah satu tujuan daripada hukum. Jika ada suatu badan
atau lembaga, maka badan atau lembaga apakah atau yang manakah yang berwenang untuk
melaksanakan hukum materiil ini.
Oleh karena itulah maka dalam hal ini diperlukan sekali suatu bentuk perundangundangan yang akan mengatur dan menetapkan tentang cara bagaimanakah melaksanakan
hukum materiil ini. Sebab tanpa adanya aturan tersebut, maka hukum materiil ini hanya
merupakan rangkaian kata-kata yang indah dan enak dibaca saja, tapi tidak dapat dinikmati
oleh warga masyarakat.

Hukum yang mengatur tentang cara mempertahankan dan menerapkan hukum


materiil ini, dalam istilah hukum sehari-hari dikenal dengan sebutan Hukum Formil atau
Hukum Acara.
Hukum acara perdata bertujuan untuk menjamin ditaatinya hukum perdata materiil.
Dengan demikian hukum acara perdata pada umumnya tidaklah membebani hak dan
kewajiban seperti yang termuat dalam hukum perdata materiil, tapi memuat aturan tentang
cara melaksanakan dan mempertahankan atau menegakkan kaidah-kaidah yang termuat
dalam hukum perdata materiil, atau dengan perkataan lain untuk melindungi hak
perseorangan.
Menurut Prof. Dr. Sudikno Mertokusumo, S.H., hukum acara perdata adalah
peraturan hukum yang mengatur bagaimana caranya menjamin ditaatinya hukum perdata
materiil dengan perantaraan hakim.1
Dengan demikian dapatlah disimpulkan di sini, bahwa hukum acara perdata adalah
rangkaian peraturan-peraturan yang membuat cara bagaimana orang harus bertindak terhadap
dan di muka Pengadil an dan cara bagaimana Pengadilan itu harus bertindak, satu sama lain
untuk melaksanakan berjalannya peraturan-peraturan hukum perdata. 2
Dengan melihat pengertian di atas maka jelaslah bahwa hukum perdata tersebut dapat
pula diartikan sebagai rangkaian aturan-peraturan hukum tentang cara-cara memelihara dan
mempertahankan hukum perdata materiil. Perkataan hukum perdata ini haruslah diberi
pengertian yang luas, artinya di sini meliputi pula hukum

dagang.

Penulis

memberikan

pengertian hukum perdata dalam arti luas ini, dengan maksud untuk mempermudah dalam
pembahasan selanjutnya, sehingga tidak perlu lagi menyebutkan hukum dagang secara
khusus di samping hukum perdata.
Jadi tampaklah di sini, bahwa terdapat hubungan yang erat hukum perdata (hukum
formil) dengan hukum acara perdata (hukum materiil), di mana secara garis besarnya
dapatlah dikemukakan di sini bahwa hukum acara perdata berfungsi untuk mempertahankan
atau menegakkan hukum perdata, sehingga dengan adanya hukum acara perdata ini, maka
hukum perdata benar-benar akan dian manfaatnya oleh semua orang.
Dengan adanya hukum acara perdata ini, maka diharapkan tindakan menghakimi
sendiri (eigenrichting) akan dapat dicegah, setidak-tidaknya bisa dikurangi. Oleh karena bila
1

Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, (Yogyakarta: Penerbit Liberty, 1985), hlm.

2.
2

Wirjono Prodjodikoro, Hukum Acara Perdata di Indonesia, (Bandung: Penerbit Sumur Bandung,
1984), hal. 13.

kita perhatikan kenyataan dalam kehidupan masyarakat kita masih banyak orang
menyelesaikan suatu perkara dengan caranya sendiri (misalnya dengan jalan kekerasan atau
ancaman). Negara kita yang dikenal sebagai negara hukum, tentu tidak akan membenarkan
tindakan menghakimi sendiri ini, karena ini jelas akan menimbulkan keresahan dalam
masyarakat.
Memang dalam hukum acara perdata itu sendiri tidak ada kita jumpai ketentuan yang
dengan tegas melarang tindakan menghakimi sendiri. Tapi hukum acara perdata ini
memberikan jalan atau petunjuk pada orang-orang (pihak) bagaimana cara menyelesaikan
suatu perkara yang sedang ia hadapi dengan melalui jalur hukum. Sehingga dengan
pengetahuan tentang acara ini, maka diharapkan para pihak akan menyelesaikan perkaranya
dengan melalui jalur hukum sesuai dengan cara yang telah ditentukan dalam hukum acara
yang bersangkutan.
Dengan demikian dapat dikatakan di sini, bahwa hukum acara perdata ini
menunjukkan jalan yang harus dilakukan oleh orang (pihak) agar soal yang sedang dihadapi
dapat diperiksa dan diselesaikan oleh Pengadilan.
Akhirnya dapatlah disimpulkan di. sini, bahwa objek daripada ilmu pengetahuan
hukum acara perdata ialah keseluruhan peraturan yang bertujuan melaksanakan dan
mempertahankan atau menegakkan hukum perdata materiil dengan perantaraan kekuasaan
negara.3 Perantaraan kekuasaan negara di sini maksudnya dengan melalui badan atau
lembaga peradilan, yaitu suatu badan yang berdiri sendiri diadakan oleh negara yang bebas
dari pengaruh siapa pun atau lembaga apa pun juga, yang memberikan putusan yang
mengikat bagi semua pihak yang bertujuan mencegah eigenrichting.
Lembaga peradilan ini berdiri sendiri dan tidak bisa dipengaruhi oleh lembaga lain,
sehingga nantinya benar-benar diharapkan memberikan keputusan yang seadil-adilnya, sesuai
dengan salah satu tujuan dari hukum itu sendiri.

Wirjono Prodjodikoro, Hukum Acara Perdata di Indonesia, (Bandung: Penerbit Sumur Bandung,
1984), hal. 13.

BAB III
SUMBER HUKUM DAN SEJARAH HUKUM ACARA
PERDATA
Hukum Acara Perdata bisa juga disebut dengan Hukum Perdata Formil, namun
sebutan Hukum Acara Perdata. lebih fazim dipakai daripada Hukum Perdata Formil. Hukum
Acara Perdata atau Hukum Perdata Formil sebetulnya merupakan bagian daripada Hukum
Perdata. Sebab, di samping Hukum Perdata Formil, juga ada Hukum Perdata Materiil.
Hukum Perdata Materiil ini Iazimnya hanya disebut Hukum Perdata saja.
Apa yang dimaksud dengan Hukum Acara Perdata? 4
Kalau kita membaca literatur-literatur Hukum Acara Perdata, maka kita akan
menemui berbagai macam definisi Hukum Acara Perdata ini dari para ahli (sarjana), yang
satu sama lain merumuskan berbeda-beda, namun pada prinsipnya mengandung tujuan yang
sama.
Prof. Dr. R: Wirjono Prodjodikoro, S.H., dalam bukunya yang berjudul Hukum
Acara Perdata di Indonesia menyatakan:
"Hukum Acara Perdata adalah rangkaian peraturan-peraturan yang memuat cara
bagaimana orang harus bertindak terhadap dan di muka pengadilan dan bagaimana cara
pengadilan itu harus bertindak, satu sama lain untuk melaksanakan berjalannya
peraturan-peraturan Hukum Perdata.5
Prof. Dr. Sudikno Mertokusumo, S.H., dalam karyanya yang berjudul Hukum Acara Perdata
Indonesia menyatakan, bahwa:
Hukum Acara Perdata adalah peraturan hukum yang mengatur bagaimana caranya
menjamin ditaatinya Hukum Perdata Materiil dengan perantaraan hakim. 6
Prof. Dr. R. Supomo,-S.H., dalam bukunya Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri,
meskipun tidak memberikan batasan, tetapi dengan menghubungkan tugas hakim,
menjelaskan:

Harus disadari bahwa Hukum Acara Perdata dapat dibedakan atas 2 (dua), macam, yaitu Hukum
Acara Perdata di pengadilan dalam Iingkungan Peradilan Umum dan Hukum Acara Perdata dalam Iingkungan
Peradilan Agama. Yang diuraikan dalam buku ini adalah Hukum Acara Perdata di lingkungan peradilan umum,
yang juga berlaku pada pengadilan dalam Iingkungan Peradilan Agama, sepanjang tidak diatur secara khusus
(Pasal 54 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama).
5
Z Prof. Dr. R. Wirjono Prodjodikoro, S.H., Hukum Acara Perdata di Indonesia, Sumur Bandung,
Bandung, cet. VI, 1975, hal. 13.
6
Prof. Dr. Sudikno Mertokusumo, S.H., Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty, Yogyakarta, cet. II,
1979, hal. 2.

Dalam peradilan perdata tugas hakim ialah mempertahankan tata hukum perdata
(burgerlijke rechts orde), menetapkan apa yang ditentukan oleh hukum dalam suatu
perkara. 7
Inti dari berbagai macam definisi (rumusan) Hukum Acara Perdata di atas agaknya
tidak berbeda dengan apa' yang telah dirumuskan dalam Laporan Hasil Simposium
Pernbaharuan Hukum Perdata Nasional yang diselenggarakan oleh BPHN Departemen
Kehakiman tanggal 21 -23 di Yogyakarta, bahwa Hukum Acara Perdata adalah hukum yang
mengatur bagaimna caranya menjamin ditegakkannya atau dipertahankannya Hukum Perdata
Materiil.
Hukum Perdata (Materiil) yang ingin ditegakkan atau dipertahankan dengan Hukum
Acara Perdata tersebut meliputi peraturan hukum yang tertulis dalam bentuk peraturan
perundang-undangan (seperti BW, WVK, Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA), UndangUndang Perkawinan, dan sebagainya) dan hukum yang tidak tertulis berupa Hukum Adat
yang hidup dalam masyarakat. Hukum Perdata ini harus ditaati oleh setiap orang agar tercipta
ketertiban dan ketenteraman dalam masyarakat.
Beracara Perdata Dikenakan Biaya
Untuk beracara perdata pada asasnya dikenakan biaya (Pasal 121 ayat (4), Pasal 182,
Pasal 183 HIR/Pasal 145 ayat (4), Pasal 192, dan Pasal 194 RBg). Biaya perkara ini meliputi
biaya kepaniteraan, pemanggilan-pemanggilan, dan pemberitahuan-pemberitahuan, serta bea
meterai. Namun, semua biaya ini harus ditetapkan serendah mungkin, sehingga dapat terpikul
oleh rakyat.
Bagi mereka yang benar-benar tidak mampu untuk membayar biaya perkara, dapat
mengajukan permohonan beracara dengan cura-cuma (prodeo), yaitu dengan menyampaikan
surat

keterangan

tidak

mampu

yang

dibuat

oleh

Kepala

Desa/Lurah

serta

diketahui/dibenarkan oleh Camat dalam wilayah di mana yang bersangkutan bertempat


tinggal. Ketentuan ini dimaksudkan untuk pemerataan kesempatan memperoleh keadilan
kepada seluruh lapisan masyarakat.
Selanjutnya, bagi mereka yang benar-benar tidak mampu dan kurang mengerti tentang
hukum, pada waktu sekarang dapat pula meminta bantuan hukum dengan cuma-cuma kepada
Lembaga-lembaga/Biro-biro Bantuan Hukum yang ada di lingkungan Fakultas Hukum
Universitas-universitas Negeri/Swasta, serta yang bernaung di bawah organisasi-organisasi
7

Prof. Dr. R. Supomo, S.H., Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri, Pradnya Paramita, Jakarta, cet.
V, 1972, hal. 12.

sosial dan politik; seperti Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Peradin, Lembaga Pelayanan dan
Penyuluhan Hukum (LPPH) di bawah naungan Golkar, Lembaga Bantuan dan
Pengembangan Hukum (LBPH) di bawah naungan Kosgoro, Lembaga Konsultasi dan
Bantuan Hukum (LKBH) Trisula di bawah naungan Soksi, Lembaga Bantuan Hukum (LBH)
MKGR, dan lain-lain. Advokat, menurut Pasal 22 ayat (1) Undang-Undang Nornor 18 Tahun
2003, malah wajib memberikn bantuan hukum secara cuma-cuma kepada pencari keadilan
yang tidak mampu.
Apabila dalam pergaulan hukum di tengah-tengah masyarakat ada yang melakukan
pelanggaran terhadap normal kaidah Hukum Perdata tersebut, penjual tidak menyerahkan
barang yang dijualnya misalnya, maka hal itu jelas menimbulkan kerugian terhadap pihak
lain. Untuk memulihkan hak perdata pihak lain yang telah dirugikan ini, maka Hukum
Perdata Materiil yang telah dilanggar itu harus dipertahankan atau ditegakkan, yaitu dengan
cara mempergunakan Hukum Acara Perdata. Jadi, pihak lain yang hak perdatanya dirugikan
karena pelanggaran terhadap hukum perdata tersebut, tidak boleh memulihkan hak
perdatanya itu dengan cara main hakim sendiri (eigenrichting), tetapi harus menurut
ketentuan yang termuat dalam Hukum Acara Perdata.
Dari sisi lain dapat dikatakan, bahwa pelanggaran terhadap Hukum Perdata itu akan
menimbulkan perkara perdata, yakni perkara dalam ruang lingkup Hukum Perdata.
Bagaimana caranya menyelesaikan perkara perdata ini di dalam negara yang berdasarkan
hukum, tidak boleh dengan cara main hakim sendiri, tetapi harus dengan cara yang diatur
dalam Hukum Acara Perdata. Oleh karena itu, juga dapat dikatakan, bahwa yang dimaksud
dengan Hukum Acara Perdata adalah peraturan hukum yang menentukan bagaimana caranya
menyelesaikan perkara perdata melalui badan peradilan.
Seluk-beluk bagaimana caranya menyelesaikan perkara perdata melalui badan
peradilan, semuanya diatur dalam Hukum Acara Perdata. Dengan adanya Hukum Acara
Perdata masyarakat merasa ada kepastian hukum, bahwa setiap orang dapat mempertahankan
hak perdatanya dengan sebaik-baiknya dan setiap orang yang melakukan pelanggaran
terhadap Hukum Perdata yang mengakibatkan kerugian terhadap orang lain dapat dituntut
melalui pengadilan. Dengan Hukum Acara Perdata diharapkan ketertiban dan kepastian
hukum (perdata) dalam masyarakat.
Untuk dapat mencapai apa yang menjadi tujuan dari Hukum Acara Perdata
sebagaimana disebutkan di atas ini, maka pada umumnya peraturan-peraturan Hukum Acara
Perdata itu bersifat memaksa (dwingend recht), karena dianggap menyelenggarakan
9

kepentingan umum, 8 sehingga peraturan Hukum Acara Perdata yang bersifat memaksa ini
tidak dapat dikesampingkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan, dan pihak-pihak yang
berkepentingan mau tidak mau harus tunduk dan menaatinya. Meskipun demikian, ada juga
bagian dari peraturan Hukum Acara Perdata yang bersifat pelengkap (aanvullend recht),
karena dianggap mengatur penyelenggaraan kepentingan khusus dari yang bersangkutan,9
sehingga peraturan Hukum Acara Perdata yang bersifat pelengkap ini dapat dikesampingkan
atau disimpangi oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Misalnya mengenai alat-alat bukti
yang dipakai dalam pembuktian sesuatu perkara, pihak-pihak yang berkepentingan dapat
mengadakan perjanjian yang menetapkan bagi mereka hanya dapat mempergunakan 1 (satu)
macam alat bukti, umpamanya tulisan, sedangkan pembuktian dengan alat bukti lain tidak
diperkenankan. Perjanjian yang mengatur tentang pembuktian yang berlaku bagi orang-orang
yang mengadakan perjanjian tersebut dinamakan "perjanjian pembuktian", yang menurut
hukum memang dibolehkan dalam batas-batas tertentu.10

B. SUMBER-SUMBER HUKUM ACARA PERDATA


Hukum Acara Perdata pada pengadilan dalam lingkungan Peradilan umum yang
berlaku sekarang di negara kita, masih belum terhimpun dalam 1 (satu) kodifikasi, tetapi
tersebar dalam berbagai peraturan perundang-undangan, baik yang dibuat negara kita sendiri
setelah merdeka maupun peninggalan kolonial Hindia Belanda dulu, yang belum bisa diganti
hingga kini dengan Hukum Acara Perdata nasional.
Berbagai macam peraturan perundang-undangan yang memuat Hukum Perdata
tersebut, akan disebutkan satu per satu berikut ini, dimulai dengan peraturan perundangundangan peninggalan zaman kolonial Belanda, kemudian peraturan perundang-undangan
yang dibuat setelah kemerdekaan.
1. Herziene Inlandsch Reglement (HIR)
HIR adalah Hukum Acara Perdata yang berlaku untuk daerah Pulau Jawa dan
Madura. Sebetulnya HIR tidak hanya memuat ketentuan-ketentuan Hukum Acara Perdata
saja, tetapi juga memuat ketentuan-ketentuan Hukum Acara Pidana, sebagaimana termuat
dalam Pasal 1 sampai dengan Pasal 114 dan Pasat 246 sampai dengan Pasal 371 serta
8

I. Rubini, S.H. dan Chidir All, S.H., Pengantar Hukum Acara Perdata, Alumni, Bandung, 1974, hal.

Ibid.
Prof. R. Subekti,, S.H., Hukum Pembuktian, Pradnya Paramita, Jakarta, Cet. III, 1975, hal. 63.

12.
10

10

beberapa pasal yang tersebar antara Pasal 372 sampai dengan Pasal 394. Namun, setelah
adanya KUHAP (Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981) yang diundangkan tanggal 31
Desember 1981, maka ketentuan-ketentuan Hukum Ilmu Acara Pidana yang termuat dalam
HIR tidak berlaku lagi.
Ketentuan Hukum Acara Perdata dalam HIR dituangkan pada Pasal 115 sampai
dengan Pasal 245 serta beberapa pasal yang tersebar antara Pasal 372 sampai dengan Pasal
394, sebab rangkaian pasal-pasal yang terakhir ini mengatur hal-hal yang berkenaan dengan
Hukum Acara Perdata dan Hukum Acara Pidana.
Keseluruhan pasal-pasal HIR mengenai Hukum Acara Perdata sebagaimana
disebutkan di atas, yakni Pasal 115 sampai dengan Pasal 245 tersebut, terhimpun dalam 1
(satu) bab, yaitu Bab IX dengan judul "Perihal mengadili Perkara dalam Perkara Perdata,
yang Diperiksa oleh Pengadilan Negeri". Bab yang memuat ketentuan Hukum Acara Perdata
ini terdiri dari beberapa bagian, yaitu:

Bagian I (Pasal 115 sampai dengan Pasal 161) tentang Pemeriksaan Perkara dalam
Persidangan; 11

Bagian II

(Pasal 162 sampai dengan Pasal 177) tentang Bukti;

Bagian III (Pasal 178 sampai dengan Pasal. 187) tentang Musyawarah dan Putusan;

Bagian IV (Pasal 188 sampai dengan Pasai 194) tentang Banding;

Bagian V (Pasal 195 sampai dengan Pasai 224) tentang Menjalankan Putusan;

Bagian VI (Pasal 225 sampai dengan Pasal 236) tentang Beberapa Mengadili PerkaraPerkara Istimewa; dan

Bagian VII (Pasal 237 sampai dengan Pasal 245) tentang Izin Berperkara Tanpa
Ongkos Perkara.

2. Rechtsreglement voor de Buitengewesten (RBg)


RBg adalah Hukum Acara Perdata yang berlaku untuk daerah-daerah luar Pulau Jawa
dan Madura. RBg terdiri dari 5 (lima) bab yang memuat 723 (tujuh ratus dua puluh tiga)
pasal. Bab I, Bab III, Bab IV, dan Bab V yang mengatur tentang pengadilan pada umumnya
dan acara pidana tidak berlaku lagi dengan adanya Undang-Undang Darurat Nomor 1 Tahun
1951.

11

Pasal 115 sampai dengan Pasal 117 HIR tidak berlaku lagi berhubung dihapuskannya Pengadilan
Kabupaten oleh Undang-Undang Darurat Nomor 1 Tahun 1951.

11

Ketentuan Hukum Acara Perdata termuat dalam Bab II yang terdiri dari 7 (tujuh) dari
Pasal 104 sampai dengan Pasal 323. Titel I, titel II, titel III, titel VI dan titel VII tidak berlaku
lagi `karena Pengadilan Districtgerecht, Districraad, Magistraadgerecht, Residentigerecht,
dan Raad Justitie sudah tidak ada lagi. Yang berlaku hingga sekarang adalah titel IV dan titel
V bagi Landraad (sekarang Pengadilan Negeri).
Titel IV tersebut terdiri dari 6 (enam) bagian, yaitu:

Bagian I (Pasal 142 sampai dengan Pasal 188) tentang Pemeriksaan Perkara dalam
Persidangan;

Bagian II (Pasal 189 sampai dengan Pasal 198) tentang Musyawarah dan Putusan;

Bagian III (Pasal 199 sampai dengan Pasal 205) tentang Banding;

Bagian IV (Pasal 206 sampai dengan Pasal 258) tentang Menjalankan Putusan;

Bagian V (Pasal 259 sampai dengan Pasal 272)-tentang Beberapa Hal Mengadili
Perkara yang Istimewa; dan

Bagian VI (Pasal 273 sampai dengan Pasal 281) tentang Izin Berperkara Tanpa
Ongkos Perkara.

Sedangkan titel V (Pasal 282 sampai dengan Pasal 314) berisi tentang Bukti.

3. Bungerlijk Wetboek (BW) 12


Bungerlijk Wetboek (Kitab Undang-Undang Hukum Perdata) meskipun sebagai
kodifikasi Hukum Perdata Materiil, narnun juga memuat Hukum Acara Perdata, terutama
dalam Buku IV tentang Pembuktian dan Daluwarsa (Pasal 1865 sampai dengan Pasal 1993).
Selain itu, juga terdapat dalam beberapa pasal Buku I, misalnya, tentang tempat tinggal atau
domisili (Pasal 17 sampai dengan Pasal 25), serta beberapa pasal Buku II dan buku III
(misalnya Pasal 533, Pasal 535, Pasal 1244, dan Pasal 1365).
4. Ordonansi Tahun 1867 Nomor 29
Ordonansi Tahun 1867 Nomor 29 ini memuat ketentuan Hukum Acara Perdata
tentang kekuatan pembuktian tulisan-tulisan di bawah tangan dari orang-orang Indonesia
(Bumiputera) atau yang dipersamakan dengan mereka. Pasal-pasal ordonansi ini diambil oper
dalam menyusun Rechts-Reglement voor de Buitengewesten (RBg). 13

12

Prof. Dr. R. Supomo, S.H., op.cit., hal, 70.


Sehubungan dengan Burgerlijk Wetboek sebagai sumber Hukum Acara Perdata perlu dicatat apa
yang dikemukakan Prof. Dr. Supomo, S.H. dalam buku Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri yang
menyatakan: "Mr. Wichers, perancang Reglemen tersebut menulis dalam laporannya, tanggal 6 Juni 1848 (T.13
13

12

5. Wetboek van Koophandel (WvK)


Wetboek van Koophandel (Kitab Undang-Undang Hukum Dagang) meskipun juga
sebagai kodifikasi Hukum Perdata Materiil, namun di dalamnya ada beberapa pasal yang
memuat ketentuan Hukum Acara Perdata (misalnya Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 22, Pasal
23, Pasal 32, Pasal 255, Pasal 258. Pasal 272, Pasal 273, Pasal 274, dan Pasal 275).
6. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1947
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1947 adalah Undang-Undang tentang Peradilan
Ulangan di Jawa dan Madura. Undang-undang ini mulai berlaku sejak tanggal 24 Juni 1947.
Dengan adanya undang-undang ini, maka peraturan mengenai banding dalam Herziene
Inlandsch Reglement (HIR) Pasal 188 sampai dengan Pasal 194 tidak berlaku lagi.
7. Undang-Undang Darurat Nomor 1 Tahun 1951
Undang-Undang Darurat Nomor 1 Tahun 1951 adalah Undang-Undang tentang
Tindakan-Tindakan Sementara untuk Menyelenggarakan Kesatuan Susunan, Kekuasaan, dan
Acara Pengadilan-pengadiIan Sipil. Undang-undang ini mulai berlaku sejak diundangkan
tanggal 14 Januari 1951.
Dalam pasal 1 Undang-Undang Darurat ini dinyatakan bahwa beberapa pengadilan
peninggalan Hindia Belanda, seperti Magistraad, Pengadilan Kabupaten, Raad District,
Pengadilan Negorij, Pengadilan Swapraja, dan Pengadilan Adat dihapuskan. Selanjutnya,
dalam Pasal 3 ayat (3)a dinyatakan bahwa perkara-perkara perdata dan/atau perkara-perkara
pidana sipil yang diperiksa dan diputuskan oleh Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya
meliputi daerah-daerah hukum pengadilan-pengadilan yang dihapuskan itu.
Selebihnya Undang-Undang Darurat ini tidak ada mengatur tentang Hukum Acara Perdata,
tetapi hanya menyinggung Hukum Acara Pidana, dimana Pasal 6-nya disebutkan bahwa HIR
harus dipakai sebagai pedoman bagi acara pidana sipil oleh segala Pengadilan Negeri dan
hal. 370) bahwa ia membuat peraturan-peraturan tentang pembuktian dalam reglemen itu untuk menghindarkan
kemungkinan bahwa hakim berbuat sekehendaknya atau untuk menjaga supaya hakim tidak rnemakai pasalpasal BW tentang pembuktian untuk Pengadilan Negeri. Akan tetapi, apa yang dimuat dalam Reglemen
Indonesia tidak lain ialah peraturan-peraturan pembuktian yang terdapat di BW hanya dengan sekadar
perubahan-perubahan yang perlu."
Rechtsreglement Buitengewesten 1927 mengoper peraturan Reglemen Indonesia dan pasal-pasal dari
Staatsblad 1867 Nomor 29 (St. 1916 No. 44) tentang kekuatan pembuktian dari surat-surat di bawah tangan,
ditambah dengan sebagian dari Buku IV dar BW. (Prof. Dr. Supomo, S.H., op.cit., hal. 70).
Prof. Dr. R. Wirjono Prodjodikoro, S.H. menyatakan: Pengadilan Negeri pada prinsipnya harus menurut
hukum pembuktian dari BW sebagai pedoman, di mana perlu, yaitu apabila dalam suatu perkara perdata harus
dilaksanakan 'suatu peraturan Hukum Perdata yang termuat dalam BW dan pelaksanaannya ini hanyadapat
terjadi secara tepat jika hukum pembuktian dari BW yang bersangkutan diturut. (Prof. Dr. Wirjono
Prodjodikoro, S.H., op.cit., hal. 101 -102).

13

segala kejaksaan padanya. Justru karena Undang-Undang Darurat ini tidak menyebut acara
perdata, maka berarti peraturan-peraturan Hukum Acara Perdata yang berlaku sebelumnya
seperti HIR dan RBg masih tetap berlaku dan mengikat.
8. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 14
Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 adalah undang-undang tetap kekuasaan
Kehakiman yang mulai berlaku sejak ditetapkan tanggal 29 Oktober 2009. Undang-undang
ini memuat beberapa pasal hukum acara pada umumnya dan beberapa pasal Hukum Acara
Perdata. Ketentuan Hukum Acara pada umumnya tertuang dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4,
Pasal 5, Pasal 10, Pasal 11, Pasal 13, Pasal 14, Pasal 15, Pasal 17, Pasal 50, Pasal 51, dan
Pasal 52. Sedangkan ketentuan Hukum Acara Perdata termuat dalam Pasal 10, Pasaf 50,
Pasal 51, Pasal 52, Pasal 53, dan Pasal 54.
9. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986.
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 adalah Undang-Undang tentang Peradilan
Umum yang mulai berlaku sejak diundangkan tanggal 8 Maret 1986. Dalam undang-undang
ini diatur mengenai kedudukan, susunan, dan kekuasaan pengadilan dalam lingkungan
Peradilan Urnum. Peraturan Hukum Acara Perdata, antara lain, termuat dalam Pasal 50, Pasal
51, Pasal 60 dan Pasal 61. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 ini telah mengalami dua
kali perubahan. Perubahan pertama dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2004, kemudian
perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 49 Tahun 2009.
10. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 15
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 adalah Undang-Undang tentang Mahkamah
Agung yang mulai berlaku sejak diundangkan tanggal 30 Desember 1985; yang kemudian
diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UndangUndang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung, yang mulai berlaku pada tanggal
diundangkan 15 Januari 2004.

14

Sejak Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman ini yang berlaku
sebelumnya. Organisasi, administrasi, dan finansial badan-badan peradilan di Indonesia berada di bawah
kekuasaan dan pembinaan Mahkamah Agung, sehingga kekuasaan kehakiman menjadi benar-benar mandiri
terlepas dari kekuasaan pemerintah.
15
Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 tercantum Pasal 45A yang berisi pembatasan kasasi
dalam kasus pidana, di mana permohonan kasasi tidak bisa dilakukan atas putusan praperadilan, perkara pidana
yang diancam dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau diancam pidana denda, dan perkara
tata usaha negara yang objek gugatannya berupa keputusan pejabat daerah yang jangkauan keputusannya
berlaku di wilayah daerah yang bersangkutan.

14

11. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011


Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum yang mulai berlaku
sejak diundangkan tanggal

2 November 2011. Undang-undang ini mengatur bantuan

hukum bagi orang atau kelompok orang miskin yang diselenggarakan oleh pemerintah
dengan menggunakan dana yang dibebankan kepada APBN.
Dalam Undang-undang ini diatur asas-asas bantuan hukum (Pasal 2), tujuan
penyelenggaraan bantuan hukum (Pasal 3), penyelenggara bantuan hukum (Pasal 6), pemberi
bantuan hukum (Pasal 8), hak pemberi bantuan hukum (Pasal 9, Pasal 10, dan Pasal 11), hak
dan kewajiban penerima bantuan hukum (Pasal 12 dan Pasal 13), syarat dan tata cara pemberi
bantuan hukum (Pasal 14 dan Pasal 15), dan pendanaan bantuan hukum (Pasal 16, Pasal 17,
Pasal 18, dan Pasal 19).
12. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 adalah Undang-Undang tentang advokat
yang mulai berlaku sejak diundangkan pada tanggai 5 April 2003. Dalam undang-undang ini,
antara lain, diatur tentang pengangkatan sumpah, status, penindakan, dan pemberhentian
advokat. Selain itu juga, tentang hak dan kewajiban advokat, bantuan hukum cuma-cuma,
kode etik, organisasi, dan Dewan Kehormatan Advokat.
13. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan memuat ketentuanketentuan Hukum Acara Perdata (khusus) untuk memeriksa, mengadili dan memutuskan serta
menyelesaikan perkara-perkara perdata mengenai perkawinan, pencegahan perkawinan,
pembatalan perkawinan, dan putusnya perkawinan (perceraian) (Pasal 4, Pasal 5, Pasal 6,
Pasal 7, Pasal 9, Pasal 17, Pasal 18, Pasal 25, Pasal 28, Pasal 38, Pasal 39, Pasal 40, Pasal 55.
Pasal 60, Pasal 63, Pasal 65, dan Pasal 66). Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 ini diatur
lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah .Nomor 9 Tahun 1975 yang mengatur

secara

lebih terperinci pasal-pasal yang memuat Hukum Acara Perdata tersebut.


14. Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang. Undang-undang ini mengatur Hukum Acara Perdata Khusus untuk
memeriksa, mengadili, dan menyelesaikan perkara kepailitan.

15

15. Yurisprudensi16
Beberapa yurisprudensi terutama dari Mahkamah Agung juga memuat ketentuan
Hukum Acara Perdata. Bahkan, yurisprudensi Mahkamah Agung menjadi sumber Hukum
Acara Perdata yang sangat penting di negara kita sekarang terutama untuk mengisi
kekosongan, kekurangan, dan ketidaksempurnaan yang banyak terdapat dalam peraturan
perundang-undangan Hukum Acara Perdata peninggalan zaman Hindia Belanda.
Pada waktu sekarang sudah banyak beredar buku-buku dari berbagai penerbit yang
berisi himpunan yurisprudensi ini, bahkan Mahkamah Agung sendiri secara periodik telah
menerbitkannya.
16. Peraturan Mahkamah Agung
Peraturan Mahkamah Agung juga merupakan sumber Hukurn Acara Perdata. Dasar
hukum Mahkamah Agung untuk mengeluarkan Peraturan Mahkamah Agung ini termuat
dalam Pasal 79 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 yang menyatakan:
Mahkamah Agung dapat mengatur lebih lanjut hal-hal yang diperlukan bagi
kelancaran penyelenggaraan peradilan apabila terdapat hal-hal yang belum cukup
diatur dalam undang-undang ini.
Dalam penjelasannya disebutkan:
Apabila dalam jalannya peradilan terdapat kekurangan atau kekosongan hukum
dalam suatu hal, Mahkamah Agung berwenang membuat peraturan sebagai pelengkap
untuk mengisi kekurangan atau kekosongan tadi. Dengan undang-undang ini
Mahkamah Agung berwenang menentukan pengaturan tentang cara penyelesaian suatu
soal yang belum atau tidak diatur dalam undang-undang ini. Dalam hal ini peraturan
yang dikeluarkan oleh Mahkamah Agung dibedakan dengan peraturan yang disusun
oleh pembentuk undang-undang. Penyelenggara peradilan yang dimaksudkan undangundang ini hanya merupakan bagian dari hukum acara secara keseluruhan. Dengan
demikian, Mahkamah Agung tidak mencampuri dan melampaui pengaturan tentang
hak dan kewajiban warga negara pada umumnya dan tidak pula mengatur sifat, alat
pembuktian, serta penilaian, ataupun pembagian beban pembuktian.
C. SEJARAH SINGKAT HUKUM ACARA PERDATA
1. Sejarah Singkat Herziene Inlandsch Reglement (HIR)
Herziene Inlandsch Reglement (HIR) merupakan salah satu sumber Hukum Acara
Perdata peninggalan kolonial Hindia Belanda yang masih berlaku di negara kita hingga kini.

16

Yurisprudensi mengenai Hukum Acara Perdata dapat dilihat pada lampiran buku ini.

16

Herziene Inlandsch Reglement (HIR) sebenarnya berasal dari Inlandsch Reglement


(IR) atau Reglement Bumiputera), yang termuat dalam Stb. 1848 Nomor 16 dengan judul
(selengkapnya) Reglement op de uit oefening van de politie de Burgerlijke Rechtspleging en
de strafvordering onder de Inlanders en de Vreemde Oosterlingen op Java en Madura
(Reglement tentang pelaksanaan tugas kepolisian, peradilan perkara perdata dan penuntutan
perkara pidana terhadap golongan Bumiputera dan Timur

Asing di Jawa dan Madura).17

IR pertama kali diundangkan tanggai 5 April 1848 (Stb. 1848 Nomor 16) merupakan
hasil rancangan JHR. Mr. HL. Wichers, President hooggerechtshof (Ketua Pengadilan
Tertinggi di Indonesia pada zaman Hindia Belanda) di Batavia. Beliau adalah seorang jurist
bangsawan kenamaan pada waktu itu. Dasar wewenang Mr. Wichers membuat rancangan IR
tersebut adalah Surat Keputusan Gubernur Jenderal J.J. Rochussen tanggal 5 Desember
1846 Nomor 3 yang memberikan tugas kepadanya untuk merancang sebuah reglement
(peraturan) tentang administrasi, polisi, dan proses perdata serta proses pidana bagi golongan
Bumiputera. 18
Pada waktu itu peraturan Hukurn Acara Perdata yang dipakai oleh pengadilan yang
berwenang mengadili golongan Bumiputera dalam perkara perdata adalah peraturan Hukum
Acara Perdata yang termuat dalam Stb. 1819 Nomor 20 yang hanya memuat 7 (tujuh) pasal
tentang acara Perdata. Dalam menyusun rancangan IR, Wichers mempelajari lebih dahulu
terhadap reglement tahun 1819 tersebut dan rencana tahun 1841 yang pernah dibuatnya atas
dasar reglement 1819, di mana pada akhirnya ia berpendapat bahwa keduanya (reglement
tahun 1819 dan rancangan tahun 1841 tersebut) tidak dapat dijadikan dasar untuk menyusun
reglement yang akan dikerjakannya. 19
Dalam waktu yang relatif singkat - belum sampai 1 (satu) tahun - tanggal 6 Agustus
1847 Mr. Wichers telah berhasil membuat sebuah rencana peraturan Hukum Acara Perdata
dan Pidana, yang terdiri dari 432 (empat ratus tiga puluh dua) pasal lengkap dengan
penjelasan-penjelasannya. Rencana Wichers ini disambut berlainan oleh pihak-pihak yang
dimintakan pertimbangannya. Ada yang tidak setuju seperti Mr. Hultman yang berpendapat
bahwa rencana itu sangat berliku-Iiku dan terlalu mengikat, sehingga perlu disederhanakan.
Akan tetapi, keberatan Hultman tidak dapat diterima oleh Hooggerechtshot. Pengadilan
Tertinggi ini menilai rencana Wichers itu sebagai suatu kemajuan dibandingkan dengan
17

K. Wantjik Saleh, S.H., Hukum Acara Perdata, Ghalia Indonesia, cet. III, 1977, hlm 11.
Ny. Retnowulan Sutantio, S.H., Hukum Acara Perdata dalam Teori dan Praktek, Alumni, Bandung,
cet. I, 1979, hal. 16.
19
Mr. R. Tresna, Komentar HIR, Pradnya Paramita, Jakarta, 1976, hal. 10.
18

17

peraturan tahun 1819. Kemudian, 2 (dua) orang dari Hooggerechtshof menghendaki supaya
rencana itu dilengkapi dengan peraturan tentang vrijwaring, voeging, tussenkomst,
reconventie, request civiel, dan sebagainya seperti halnya dengan Hukum Acara Perdata
untuk golongan Eropa yang termuat dalam Reglement op de Burgerlijke Rechtsvordering
yang sering disingkat dengan Rv atau BRv. Namun, Wichers tidak bersedia untuk mengubah
rencananya dengan usul-usul tambahan tersebut, dengan alasan, kalau orang sudah mulai
menambah berbagai ketentuan terhadap rencana tersebut, akhirnya akan tidak terang lagi
sampai di mana batasnya yang dianggap perlu atau patut ditambahkan itu. Jika demikian, kata
Wichers, lebih baik memberlakukan saja hukum acara untuk golongan Eropa terhadap
golongan Bumiputera.20
Kendatipun demikian, Mr. Wichers sedikit banyak rupanya mendekati juga
keinginan pengusul-pengusul tersebut. Akan tetapi, dengan pembatasan. Sesuai dengan itu ia
memuat suatu ketentuan penutup yang bersifat umum. Ketentuan mana setelah diubah dan
ditambah kini menjadi pasal yang penting sekali dari HIR, yaitu Pasal 393 yang berbunyi
sebagai berikut:
(1) Dalam hal mengadili di muka pengadilan bagi golongan Bumiputera tidak boleh
dipakai bentuk-bentuk acara yang melebihi atau lain daripada apa yang telah
ditetapkan dalam reglement ini.
(2) Namun demikian, Gubernur Jenderal berhak, apabila berdasarkan pengalaman
ternyata bahwa dalam hal yang demikian itu sangat diperlukan, setelah meminta
pertimbangan Hooggerechtshof, untuk pengadilan-pengadilan di Jakarta, Semarang,
dan Surabaya dan lain-lain pengadilan seperti itu yang juga memerlukannya,
menetapkan lagi ketentuan lainnya yang Iebih mirip dengan ketentuan-ketentuan
hukum acara bagi pengadilan-pengadilan Eropa.
Akhirnya rancangan Wichers diterima oleh Gubernur Jenderal dan diumumkan pada
tanggal 5 April 1848 (Stb. 1848 Nomor 16) dengan sebut Reglement op de uit oefening van
de politie de Burgerlijke Rechtspleging en de strafvordering onder de Inlanders en de
Vreemde Oosterlingen op Java en Madura, yang sering disingkat dengan Inlandsch
Reglement (IR) yang dinyatakan mulai berlaku sejak.tanggal 1 Mei 1848. IR ini kemudian
disahkan dan dikuatkan dengan Firman Raja tanggal 29 September 1849 Nomor 93 yang

20

Ibid., hal. 11.

18

diumumkan dalam Stb. 1849 Nomor 63; dan oleh karena dengan pengesahan ini sifat IR
menjadi Koninklijkbesluit.21
Sejak diumumkan pertama kali tanggal 5 April 1848, IR telah mengalami beberapa
kali perubahan. Perubahan pertama dilakukan pada tahun 1926 Stb. 1929 Nomor 559 jo.
Pasal 496). Perubahan terakhir dilakukan pada tahun 1941 (Stb. 1941 Nomor 44) yang
dikatakan sebagai perubahan yang memperbarui (Herziene) terhadap lnlandsch Reglement,
sehingga sejak itulah IR berubah menjadi HIR singkatan dari Herziene lnlandsch Reglement
yang berarti Reglement Indonesia yang diperbaharui (yang sering pula disingkat RIB).
Sekedar untuk diketahui, bahwa pembaharuan yang dilakukan terhadap IR menjadi
HIR pada tahun 1941 itu sebetulnya hanya dilakukan terhadap acara pidana saja, yaitu
mengenai pembentukan aparatur Kejaksaan atau Penuntut Umum (Openbaar Ministerie) yang
berdiri sendiri, di mana anggota-anggotanya - Para jaksa - yang dulu ditempatkan di bawah
pamong praja diubah menjadi di bawah Jaksa Tinggi atau Jaksa Agung. Perubahan IR pada
tahun 1941 tersebut sama sekali tidak mengenai acara perdata.
2. Sejarah Singkat Reehtsreglement voor de Buitengewesten (RBg)
Sebagaimana telah dikemukakan, HIR adalah Hukum Acara Perdata bagi daerah
Pulau Jawa dan Madura, sedangkan RBg adalah Hukum Acara Perdata bagi daerah-daerah
luar Pulau Jawa dan Madura.
RBg adalah singkatan dari Rechtsreglement voor de Buitengewesten (Reglement
untuk daerah seberang) yang merupakan singkatan pula dari Reglement tot Regeling van het
Rechtswezen in de Gewesten buiten Java en Madura", suatu ordonansi yang dibuat Gubernur
Jenderal Hindia pada pada tanggal 11 Mei 1927 (Stb. 1927 Nomor 227) yang seluruhnya
terdiri dari 8 (delapan) pasal. Gubernur Jenderal Hindia Belanda sendiri mempunyai
wewenang untuk membuat peraturan Hukum Acara Perdata bagi daerah-daerah luar Pulau
Jawa dan Madura ini berdasarkan Koninklijk Besluit tanggal 4 Januari 1927 Nomor 53.
RBg yang dinyatakan Pasal VIII ordonansi tanggal 11 Mei 1927 Nomor 27 mulai
berlaku sejak tanggal 1 Juli 1927, merupakan pengganti peraturan-peraturan Hukurn Acara
Perdata yang lama yang tersebar dan berlaku bagi daerah-daerah tertentu saja. Yaitu
ordonansi-ordonansi bagi daerah-daerah Bengkulu, Lampung, Palembang, Jambi, Sumatra

21

Ny. Retnowulan Sutantio, op.cit., hal. 17.

19

Timur, Aceh, Riau, Bangka, Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan
Timur, Manado, Sulawesi, Ambon, Ternate, Timor, Bali dan Lombok (Pasal I ordonansi). 22
Meskipun pada saat ordonansi tanggal 11 Mei 1927 Nomor 227 itu dicadangkan,
masih ada beberapa peraturan lama yang dinyatakan tetap berlaku bagi daerah tertentu seperti
bagi daerah Gorontalo (Pasal IV Ordonansi). Kecuali itu masih ada beberapa daerah yang
dikecualikan dari berlakunya RBg, seperti daerah Irian Barat bagian selatan (Pasal III
ordonansi).23
RBg yang merupakan lampiran Pasal II ordonansi Tahun 1927 Nomor 227 dibuat oleh
Gubernur Jenderal Hindia Belanda dengan mencontoh pada IR dan pasal-pasal Stb. 1867
Nomor 29 tentang kekuatan pembuktian dari surat-surat di bawah tangan dari orang-orang
Indonesia (Bumiputera) ditambah dengan sebagian dari BW Buku IV tentang pembuktian.24
Dengan demikian, apabila pasal-pasal RBg dibandingkan dengan pasal-pasal HIR dan BW,
akan terlihat banyak persamaan. Hanya beberapa pasal saja yang berbeda yang disesuaikan
dengan keadaan khusus daerah-daerah luar Pulau Jawa dan Madura.
Bagaimana kedudukan HIR dan RBg pada zaman Jepang? Sehubungan dengan ini
Pemerintah Balatentara Dai Nippon pada tanggal 7 Maret 1942 telah mengeluarkan UndangUndang Nomor 1 Tahun 1942 yang berlaku untuk Pulau Jawa dan Madura. Pasal 3 undangundang ini menyatakan:
Semua badan-badan Pemerintah dan kekuasaannya, hukum dan undang-undang dari
Pemerintah yang dulu, tetap diakui sah buat sementara waktu, asal saja tidak
bertentangan dengan peraturan Pemerintah Militer.
Dengan adanya undang-undang ini maka HIR pada zaman Jepang masih tetap berlaku
di Indonesia. Untuk daerah-daerah di luar Pulau Jawa dan Madura, ada badan-badan
kekuasaan lain selain Balatentara Dai Nippon, yang tindakan-tindakannya tentangg hal ini
boleh dikatakan sama. Dengan demikian, pada zaman Jepang, RBg juga masih tetap berlaku
di Indonesia.25
22

K. Wantjik Saleh, S.H., op.cit., hal. 12.


Pada waktu sekarang untuk daerah Irian Barat, ada Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 1963 tentang
Tindakan-tindakan Sementara untuk Menyelenggarakan Kesatuan Susunan, Kekuasaan, Acara, dan Tugas
Pengadilan-pengadilan Sipil dan Kejaksaan di Provinsi Irian Barat (LNRI 1963 Nomor 42). Pasal 4-nya
menyatakan, bahwa susunan, kekuasaan, acara, dan tugas Pengadilan Tinggi di Kotabaru dan Pengadilanpengadilan Negeri di Provinsi Irian Barat dilakukan menurut ketentuan-ketentuan yang ditetapkan untuk
Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Negeri dalam Undang-Undang Nomor 1 Drt. Tahun 1951 (LN Tahun 1951
Nomor 9 dan Tambahan LN Nomor 81). Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969, Peraturan
Presiden Nomor 12 Tahun 1963 ini dinyatakan sebagai undang-undang.
24
Prof. Dr. R. Supomo, S.H., op.cit., hal. 70.
25
Prof. Dr. R. Wirjono Prodjodikoro, S.H., op.cit., hal. 10.
23

20

Kemudian, HIR dan RBg masih tetap berlaku sampai Indonesia merdeka (1945) dan
terus berlaku hingga sekarang berdasarkan aturan peralihan dalam Undang-Undang Dasar
1945, Konstitusi RIS 1949, dan Undang-Undang Dasar Sementara 1950.
HIR dan RBg di atas menunjukkan, kedua hukum acara peninggalan kolonial Hindia
Belanda itu usianya sudah sangat tua, lebih dari 1,5 (satu setengah) abad.
HIR yang berasal dari IR yang mulai berlaku sejak 1 Mei
ditiru dalam menyusun RBg yang berlaku sejak 1

1848,

yang

kemudian

Juli 1927, tentu saja disusun sesuai

dengan kondisi masyarakat Indonesia masa itu, yang sebagian besar tidak bisa membaca dan
menulis, sehingga bentuk-bentuk acaranya sangat sederhana dan tidak formalistis.
Ketentuan-ketentuan HIR dan RBg itu sekarang tentu saja sudah ketinggalan zaman
dan tidak bisa diandalkan untuk melaksanakan peradilan yang baik. Karenanya, para ahli
sering menganjurkan agar hukum acara peninggalan kolonial Hindia Belanda itu segera
diganti dengan Hukum Acara Perdata Nasional, yang dapat memenuhi kebutuhan praktek
peradilan dan sesuai dengan asas sederhana, cepat, dan biaya ringan.
Namun harapan tetap saja harapan. Kenyataannya Hukum Acara Nasional untuk
menggantikan HIR dan RBg itu belum juga terwujud hingga kini kendatipun sudah lama
didambakan.
D. ASAS-ASAS HUKUM ACARA PERDATA
Seperti halnya hukum-hukum pada bidang yang lain , Hukum Acara Perdata juga
mempunyai beberapa asas, yang menjadi dasar dari ketentuan-ketentuan dalam Hukum Acara
Perdata tersebut. Berikut ini akan diuraikan beberapa asas yang penting dalam Hukum Acara
Perdata tersebut.
1. Hakim Bersikap Pasif
Asas ini mengandung beberapa makna:
a. Inisiatif untuk mengadakan acara perdata ada pada pihak-pihak yang berkepentingan
dan tidak pernah dilakuian oleh hakim. Hakim hanyalah membantu para pencari
keadilan dan berusaha mengatasi segala hambatan dan rintangan untuk dapat
tercapainya peradilan yang sederhana, cepat, dan biaya ringan (Pasal 5 UndangUndang Nomor 14 Tahun 1970). Hal ini disebabkan Hukum Acara Perdata justru
hanya mengatur cara-cara bagaimana pihak-pihak mempertahankan kepentingan
pribadi. Berbeda dengan Hukum Acara Pidana yang mengatur cara bagaimana
mempertahankan kepentingan publik, maka inisiatif dalam acara pidana dilakukan
21

oleh pemerintah yang diwakili oleh jaksa sebagai penuntut umum serta alat-alat
perlengkapan negara yang lain (Kepolisian). Kalau di dalam perkara perdata pihakpihak yang berhadapan adalah pihak-pihak yang berkepentingan, yaitu penggugat dan
tergugat, di dalam perkara pidana.pihak-pihak yang berhadapan bukan orang yang
melakukan tindak pidana (terdakwa) dengan orang yang jadi korban, melainkan
terdakwa berhadapan dengan jaksa/penuntut umum selaku wakil negara. Selanjutnya,
dalam perkara perdata para pihak yang berperkara dapat secara bebas mengakhiri
sendiri perkara mereka yang telah diajukan dan diperiksa di pengadilan dan hakim
tidak bisa menghalanginya. Pengakhiran perkara perdata ini dapat dilakukan dengan
pencabutan gugatan atau dengan perdamaian pihak-pihak yang berperkara (Pasal 178
HIR/Pasal 189 RBg). Sedangkan dalam perkara pidana, kalau perkara sudah diperiksa
oleh pengadilan (hakim), perkara pidana tersebut tidak dapat dicabut lagi, tetapi harus
diperiksa terus sampai selesai (ada putusan pengadilan). Hakim wajib mengadili
seluruh tuntutan dan dilarang menjatuhkan putusan terhadap sesuatu yang tidak
dituntut atau mengabulkan lebih daripada yang dituntut (Pasal 178 HIR/Pasal 189
RBg).
b. Hakim mengejar kebenaran formil, yakni kebenaran yang hanya didasarkan pada
bukti-bukti yang diajukan di depan sidang pengadilan tanpa harus disertai keyakinan
hakim. Jika salah satu pihak yang berperkara mengakui kebenaran sesuatu hal yang
diajukan oleh pihak lain, hakim tidak perlu menyelidiki lebih lanjut apakah yang
diajukan itu sungguh-sungguh benar atau tidak. Berbeda dengan perkara pidana, di
mana hakim dalam memeriksa dan mengadili perkara pidana ini mengejar kebenaran
materiil, yaitu kebenaran yang harus didasarkan pada alat-alat bukti yang sah menurut
undangundang dan harus ada keyakinan hakim.
c. Para pihak yang berperkara bebas pula untuk mengajukan atau untuk tidak
mengajukan upaya hukum, bahkan untuk mengakhiri perkara di pengadilan dengan
perdamaian.
Dari uraian di atas jelaslah bahwa makna dari hakim bersikap pasif dalam perkara
perdata adalah bahwa hakim tidak menentukan luasnya pokok perkara. Hakim tidak boleh
menambah atau menguranginya, namun tidak berarti hakim tidak berbuat apa-apa. Sebagai
pimpinan sidang pengadilan, hakim harus aktif memimpin persidangan, sehingga berjalan
lancar. Hakimlah yang menentukan pemanggilan, menetapkan hari persidangan, mendengar
sendiri kedua belah pihak yang berperkara, serta memerintahkan supaya alat-alat bukti yang
22

diperlukan disampaikan ke depan persidangan. Bahkan jika perlu hakim karena jabatan (ex
officio) memanggil sendiri saksi-saksi yang diperlukan. Selain itu, hakim

juga berhak untuk

memberikan nasihat, menunjukkan upaya-upaya hukum, dan memberikan keterangan kepada


pihak-pihak yang berperkara (Pasal 132 HIR/Pasal 156 RBg). Karenanya,sering dikatakan
oleh sementara ahli, bahwa hakim dalam sistem HIR adalah aktif sedang dalam sistem Rv
adalah pasif.

2. Sidang Pengadilan Terbuka untuk Umum


Sidang pengadilan dalam pemeriksaan perkara perdata pada Pengadilan dalam
pemeriksaan perkara perdata pada asasnya terbuka untuk umum (Pasal 19 UndangUndang Nomor 4 Tahun 2004). Ini berarti bahwa setiap orang boleh hadir, mendengar,
dan menyaksikan jalannya pemeriksaan perkara perdata itu di pengadilan. Tujuan asas
ini adalah untuk menjamin pelaksanaan Peradilan yang tidak memihak, adil, dan benar
sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku, yakni dengan meletakkan Peradilan di
bawah pengawasan umum. di bawah Untuk kepentinan kesusilaan hakim memang dapat
menyimpang dari asas ini. Misalnya, dalam perkara perceraian karena perzinahan. Akan
tetapi, walaupun pemeriksaan suatu perkara dilakukan secara tertutup, tetapi putusannya
harus tetap dibacakan dalam sidang pengadilan yang tidak unntuk umum. Putusan yang
dibacakan dalam sidang penghajian ng tidak tberuka untukumum adalah tidak sah
karenanya, tidak mempunyai kekuatan hukum dan putusan tersbeut batal dan putusan
tersebut Batal Demi Hukum.
3. Mendengar Kedua Belah Pihak
Mendengar Hukum Acara, pihak-pihak yang berperkara harus diperlukan dan diberikan
kesempatan yang sama untuk membela kepentingan mereka. Pendeknya pihak-pihak.
yang berperkara harus diperlakukan secara adil.
Hakim tidak boleh menerima keterangan dari salah satu pihak sebagai suatu yang benar
tanpa mendengar atau memberi kesempatan kepada pihak yang lain untuk
mengemukakan/menyampaikan pendapatnya. Hal ini juga berarti bahwa pengajuan alatalat bukti harus dilakukan di muka sidang pengadilan yang dihadiri oleh pihak-pihak
yang berperkara (Pasal 121, Pasal 132 HIR/Pasal 145, non Pasal 157 RBg).
Hakim tidak boleh mernberikan putusan dengan tidak memberikan kesempatan untuk
kedua belah pihak yang berperkara. Putusan verstek bukanlah merupakan pengecualian
23

asas ini karena putusan verstek dijatuhkan justru karena tergugat tidak hadir dan ia juga
tidak mengirimkan kuasanya, padahal ia sudah dipanggil dengan patut. Jadi, pihak
tergugat yang tidak hadir telah mendapat kesempatan untuk didengar, tetapi ia tidak
mempergunakan kesempatan itu.
4. Tidak Ada Keharusan Mewakilkan
Hukum Acara Perdata yang berlaku sekarang, baik yang termuat dalam HIR maupun
RBg tidak mengharuskan kepada pihak-pihak yang berperkara untuk mewakilkan
pengurusan perkara mereka kepada ahli hukum, sehingga pemeriksaan di persidangan
dilakukan secara langsung terhadap pihak-pihak yang berkepentingan. Walaupun
demikian, para pihak yang berperkara -apabila menghendaki-boleh mewakilkan kepada
kuasanya (Pasal -123 HIR/Pasal 147 RBg).
Sistem Hukum Acara Perdata dalam HIR dan RBg ini berbeda dengan sistem Hukum
Acara Perdata dalam Reglement op de Burgerlijke Rechtsvordering (Rv) yang
mewajibkan para pihak yang berperkara untuk mewakilkan kepada seorang ahli hukum
(procureur) dalam beracara di muka pengadilan. Perwakilan ini merupakan keharusan
yang mutlak dengan akibat batalnya tuntutan (Pasal 106 ayat (1) Rv) atau diputuskan di
luar hadirnya tergugat (Pasal 109 Rv) apabila Para pihak ternyata tidak diwakili. Sistem
yang mewajibkan bantuan dari seorang ahli hukum dalam Rv ini didasarkan atas
pertimbangan, bahwa di dalam suatu proses yang memerlukan pengetahuan hukum dan
kecakapan teknis, maka para pihak yang berperkara perlu dibantu oleh seorang ahli
hukum agar segala sesuatunya dapat berjalan lancar dan putusan dijatuhkan dengan
seadil-adilnya.26
5. Putusan Harus Disertai Alasan-alasan
Semua putusan pengadilan harus memuat alasan-alasan yang dijadikan dasar untuk
mengadili (Pasal 25 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004, Pasal 84 ayat (1), Pasal 319
HIR/Pasal 195, dan Pasal 618 RBg). Asas ini dimaksudkan untuk menjaga agar jangan
sampai terjadi perbuatan sewenang-wenang dari hakim. Putusan yang tidak lengkap atau
kurang cukup pertimbangannya merupakan alasan untuk kasasi dan putusan tersebut
harus dibatalkan (MA tanggal 22-7-1970 Nomor 638 K/Sip/1969 dan tanggal 16-121970 Nomor 492 K/Sip/1970).

26

Prof. Dr. R. Wirjono Prodjodikoro, S.H., Op.cit., hal. 29; Prof. Dr. Sudikno Mertokusumo, S.H.,
Op.cit., hal. 14.

24

Untuk lebih dapat mempertanggungjawabkan putusan, sering juga alasan-alasan yang


dikemukakan dalam putusan tersebut didukung yurisprudensi dan doktrin. Hal ini bukan
berarti bahwa hakim yang bersangkutan terikat pada putusan hakim sebelumnya. Akan
tetapi, sebaliknya karena hakim wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai
hukum yang hidup dalam masyarakat. Karena itu, hakim harus berani meninggalkan
yurisprudensi atau undang-undang yang sudah tidak sesuai lagi dengan rasa keadilan
masyarakat. Contoh klasik yang dapat dikemukakan di sini misalnya putusan Hoge Raad
tanggal 31-1-1919 tentang perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad) yang
meninggalkan pendapat Hoge Raad sebelumnya.27

27

Ibid., hlm. 13..

25

BAB IV

PERMOHONAN DAN GUGATAN

Biasa dipergunakan istilah permohonan, tetapi sering juga disebut gugatan voluntair.
Sebutan ini dapat dilihat dahulu dalam penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU Nomor 14 Tahun 1970
(sebagaimana diubah dengan UU No. 35 Tahun 1999) yang menyatakan:
Penyelesaian setiap perkara yang diajukan kepada badan-badan peradilan mengandung
pengertian di dalamnya penyelesaian masalah yang bersangkutan dengan yurisdiksi voluntair.
Ketentuan Pasal 2 maupun penjelasan tersebut tidak diatur lagi dalam UU No. 4
Tahun 2004 sebagai pengganti UU No. 14 Tahun 1970, namun ketentuan itu merupakan
penegasan, di samping kewenangan badan peradilan penyelesaian masalah atau perkara yang
bersangkutan dengan yurisdiksi contentiosa, yaitu perkara sengketa yang bersifat partai (ada
pihak penggugat dan tergugat), juga memberi kewenangan penyelesaian masalah atau perkara
voluntair, yaitu gugatan permohonan secara sepihak tanpa ada pihak lain yang ditarik sebagai
tergugat. Jika undang-undang tersebut mempergunakan sebutan voluntair, MA memakai
istilah permohonan. Istilah itu, dapat dilihat dalam "Pedoman Pelaksanaan Tugas dan
Administrasi Pengadilan".28 Pada halaman 110 angka 15, dipergunakan istilah permohonan,
namun pada angka 15 huruf (e) dipergunakan juga istilah voluntair; yang menjelaskan
bahwa: "Perkara permohonan termasuk dalam pengertian yurisdiksi voluntair: Berdasarkan
permohonan yang diajukan itu, hakim akan memberi suatu penetapan." 29 Dari penjelasan di
atas, ditemui dua istilah yang sering dipergunakan, baik dalam literatur dan praktik, yaitu
permohonan atau voluntair: Oleh karena itu, antara keduanya dapat saling dipertukarkan atau
interchangeable.
A. PENGERTIAN YURIDIS
Permohonan atau gugatan voluntair adalah permasalahan perdata yang diajukan
dalam bentuk permohonan yang ditandatangani pemohon atau kuasanya yang ditujukan
kepada Ketua Pengadilan Negeri. 30 Ciri khas permohonan atau gugatan voluntair:

28

Pedoman Pelakasanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan, Buku II, MA RI: Jakarta, April 1994,

hlm. 110.
29
30

Ibid., hlm. 111.


Lihat juga, Ibid, Buku II MA RI, hlm. 110, angka 5 huruf (a).

26

1. Masalah yang diajukan bersifat kepentingan sepihak semata (for the benefit of one
party only) 31
Benar-benar murni untuk menyelesaikan kepentingan pemohon tentang sesuatu
permasalahan perdata yang memerlukan kepastian hukum, misalnya permintaan izin
dari pengadilan untuk melakukan tindakan tertentu;
Denagan demikian pada prinsipnya, apa yang dipermasalahkan pemohon, tidak
bersentuhan dengan hak dan kepentingan orang lain.
2. Permasalahan yang dimohon penyesuaian kepada PN, pada prinsipnya tanpa sengketa
dengan pihak lain (without disputes or differences with another party)
Berdasarkan ukuran ini, tidak dibenarkan mengajukan permohonan tentang
penyelesaian sengketa hak atau pemilikan maupun penyerahan serta pembayaran
sesuatu oleh orang lain atau pihak ketiga.
3. Tidak ada orang lain atau pihak ketiga yang ditarik sebagai lawan, tetapi bersifat exparte.
Benar-benar murni dan mutlak satu pihak atau bersifat ex-parte. Permohonan unt uk
kepentingan sepihak (on behalf of one party) atau yang terlibat dalam permasalahan
hukum (involving only one party to a legal matter) yang diajukan dalam kasus itu
hanya satu pihak.32
B. LANDASAN HUKUM YURISDIKSI VOLUNTAIR
1. Berdasarkan Pasal 2 dan Penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU No. 14 Tahun 1970
Landasan hukum kewenangan pengadilan menyelesaikan permohonan atau yurisdiksi
voluntair, merujuk kepada ketentuan Pasal 2 dan Penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU No. 14
Tahun 1970 (sebagaimana telah diubah dengan UU No. 35 Tahun 1999). Meskipun UU No.
14 Tahun 1970 tersebut telah diganti oleh UU No. 4 Tahun 2004, apa yang digariskan Pasal
2 dalam Penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU No. 14 Tahun 1970 itu, masih dianggap relevan
sebagai landasan gugatan voluntair. Ketentuan tersebut menegaskan:
Pada prinsipnya; penyelenggaraan Kekuasaan Kehakiman (judicial power) melalui
badan-badan peradilan bidang perdata tugas pokoknya menerima, memeriksa, dan

31

Lihat juga. Henry Campbell Black, Black's Law Dictionary, West Publishing, St. Paul Minn, 1974,

hlm. 517.
32

Bandingkan, Merriam Websters Dictionary of Law, Merriam Webster, Springfield Massachussetts,


1996, hlm. 197

27

mengadili serta menyelesaikan setiap perkara (dalam pengertian sengketa = diputus)


yang diajukan kepadanya
Berdasarkan pada ketentuan ini, pada prinsipnya, fungsi dan kewenangan pengadilan
di bidang perdata adalah memeriksa, mengadili, dan menyelesaikan perkara sengketa atau
kasus yang bercorak persengketaan antara dua pihak atau lebih. Berarti yurisdiksi PN
(pengadilan) di bidang perdata, adalah yurisdiksi contentiosa atau contentiuse rechtstaat yang
bermakna proses peradilan sanggah-menyanggah antara pihak penggugat dengan tergugat.
Jadi, ada yang bertindak sebagai penggugat dan ada pihak lain yang ditarik sebagai tergugat;
Sistem dari yurisdiksi contentiosa inilah yang disebut peradilan biasa (ordinary court) atau
judicature, yaitu: ada pihak penggugat dan tergugat serta di antara mereka ada kasus yang
disengketakan.
Secara eksepsional (exceptional). Penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU No. 14 Tahun 1970,
memberi kewenangan atau yurisdiksi voluntair kepada Pengadilan.
Hal itu ditegaskan juga dalam Putusan MA No. 3139 K/Pdt/1984.33 Dikatakan, sesuai
dengan ketentuan Pasal 2 UU No. 14 Tahun 1970, tugas pokok pengadilan adalah memeriksa
dan memutuskan perkara yang bersifat sengketa atau yurisdiction. Akan tetapi di samping itu,
berwenang juga memeriksa perkara yang termasuk ruang

lingkup

yurisdiksi

voluntair

(voluntary jurisdiction) yang lazim disebut perkara permohonan. Namun kewenangan itu
terbatas pada hal-hal yang tegas ditentukan oleh peraturan perundang-undangan. Memang
yurisdiksi memperluas kewenangan itu sampai pada hal-hal yang ada urgensinya. Itu pun
dengan syarat, jangan sampai memutus perkara voluntair yang mengandung sengketa secara
partai yang harus diputus secara contentious.
Bertitik tolak dari ketentuan ini, kepada PN diberi kewenangan voluntair (yurisdiksi
voluntair) untuk menyelesaikan masalah perdata yang bersifat sepihak atau ex-parte dalam
keadaan:

Sangat terbatas atau sangat eksepsional dalam hal tertentu saja;

Dengan syarat: hanya boleh terhadap masalah yang disebut dan yang ditentukan
sendiri oleh undang-undang, yang menegaskan tentang masalah yang bersangkutan
dapat atau boleh diselesaikan secara voluntair melalui bentuk permohonan.

2. Berbagai Pendapat Mengenai Yurisdiksi Voluntair

33

Tanggal 25-11-1987, Beberapa Yurisprudensi Perdata yang Penting, MA RI, 1992, hlm. 45.

28

Untuk lebih memahami landasan yurisdiksi voluntair yang dikemukakan di atas ada
baiknya diperhatikan berbagai penjelasan dan pendapat yang diuraikan di bawah ini:
a. Penetapan MA No. 5 Pen/Sep/1975 (Juni 1973) dalam Kasus Forest Product
Corp Ltd.
Penetapan ini merupakan penegasan dan pendapat resmi MA yang diterbitkan R.
Subekti dalam kapasitasnya sebagai Ketua MA RI. Pendapat ini bersumber dari kasus
Forest Products Corp Ltd.
PN Jakarta Pusat telah menjatuhkan putusan voluntair dalam perkara permohonan No.
274/1972:
Putusan dijatuhkan pada tanggal 27 Juni 1972;
Isi putusan:
1) Menyatakan sah RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham).
2) Menyatakan perjanjian yang dibuat tidak mengikat Forest Products Corp Ltd.
Atas permintaan pihak yang merasa dirugikan atas putusan voluntair PN Jakarta
Pusat tersebut, MA mengeluarkan penetapan No. 5 Pen/Sep/1975 yang berisi
pertimbangan dan penegasan, antara lain:
Pernyataan secara deklatoir tentang sahnya RUPS dan susunan pengurus serta tidak
mengikatnya perjanjian melalui gugatan voluntair, bertentangan dengan asas prosesual;
Secara prosesual, ketetapan voluntair yang dijatuhkan PN dalam kasus ini, harus
berdasarkan gugatan contentiosa;
Yurisdiksi voluntair, hanya sah apabila hal itu ditentukan oleh undang-undang.34
b. Putusan Peninjauan Kembali (PK) No/PK/AG/1990, Tanggal 22 Januari 1991
PA (Pengadilan Agama) Pandeglang telah menjatuhkan penetapan ahli waris dan
pembagian harta warisan yang diajukan salah seorang ahli waris dalam bentuk
permohonan atau gugatan voluntair;
Terhadap penetapan itu, ahli warts yang lain mengajukan PK kepada MA, dan atas
permohonan itu, MA menjatuhkan putusan, antara lain menegaskan:
1) Gugatan voluntair hanya dapat diterima pengadilan apabila untuk itu ada ketentuan
UU yang mengatumya secara khusus;
2) Dalam kasus penetapan ahli waris dan pembagian harta warisan, tidak ada dasar
hukumnya35 untuk diperiksa secara voluntair.
34

Lihat M. Yahya Harahap, Beberapa Tinjauan tentang Permasalahan Hukum, Citra Aditya Bakti,
1997, hlm. 193.

29

c. Catatan Prof. Asikin Kusuma Atmadja pada Putusan MA No. 3139 K/Pdt/1984,
tanggal 25 November 1987
Catatan Prof. Asikin Kusuma Atmadja pada Putusan MA No. 3139 K/Pdt/1984, tanggal
25 November 1987, antara lain mengatakan:

Masalah pokok pengadilan, memeriksa, dan mengadili perkara-perkara yang


sengketa (contentience jurisdictie);

di samping itu, juga berwenang memeriksa dan mengadili perkara-perkara yang


termasuk ruang lingkup voluntair jurisdictie, akan tetapi kewenangan itu hanya
terbatas sampai pada hal-hal yang ditentukan oleh peraturan perundang-undangan
yang bersangkutan. 36

d. Pendapat Prof. Sudargo Gautama


Pendapat Prof. Sudargo Gautama, antara lain mengatakan:
Dalam hal terjadi penyelesaian secara voluntair mengenai suatu perkara, yang mengandung
sengketa:

Telah terjadi proses ex-parte;

berarti penyelesaian sengketa melanggar tata tertib beracara yang baik (goede process
orde), dan sekaligus melanggar asas audi alteram partem (hak pihak lain untuk
membela dan hak mempertahankan kepentingannya);

padahal semestinya, pihak yang terkena dalam permohonan voluntair dalam kasus ini,
harus didengar sebagai pihak.37

e. Berdasarkan Putusan MA
Berdasarkan putusan MA, antara lain:

Putusan MA No. 1210 K/Pdt/1985, 30 Juni 1987, antara lain menegaskan:


PN telah memeriksa dan memutus permohonan secara voluntair, padahal di dalamnya
terkandung sengketa, tidak ada dasar hukumnya.

Putusan MA No. 130 K/Sep/1957, 5 November 1957, antara lain menyatakan:


Permohonan atau voluntair yang diajukan meminta agar pengadilan memutuskan
siapa ahli waris dan pembagian waris, sesudah melampaui batas kewenangan.

Putusan MA No. 1391 K/Sep/1974, 6 April 1978, antara lain berbunyi:

35

Ibid, hlm. 193.


Ibid.
37
Ibid.
36

30

Pengadilan tidak berwenang memeriksa dan mengadili permohonan penetapan


(voluntair) hak atas tanah tanpa adanya sengketa atas tanah tersebut.
Demikian landasan aturan umum (general regulatory) yang digariskan Pasal UU No. 14
Tahun 1970 maupun yang ditegaskan oleh MA yang harus diterapkan dalam permohonan
atau voluntair. Salah satu hal yang penting diperingatkan, yurisdiksi voluntair tidak meliputi
penyelesaian sengketa hak. Tentang hal ini ditegaskan dalam Putusan MA No. 10
K/Pdt/1985.38 Ditegaskan, putusan PN yang ditetapkan status hak atas tanah melalui gugatan
voluntair, tidak sah tidak mempunyai dasar hukum, karena tidak ada ketentuan undangundang yang memberi wewenang kepada PN untuk memeriksa permohonan yang seperti itu,
sehingga sejak semula permohonan itu harus dinyatakan tidak dapat diterima.

C. FUNDAMENTUM PETENDI DAN BEBERAPA PASAL KETENTUAN UU YANG


DAPAT DIJADIKAN LANDASAN PERMOHONAN
Fundamentum petendi atau posita (disebut juga positum) permohonan, tidak rumit
dalam gugatan perkara contentiosa. Landasan hukum dan peristiwa yang menjadi dasar
permohonan, cukup memuat dan menjelaskan hubungan hukum (rechtsver houding) antara
diri pemohon dengan permasalahan hukum yang dipersoalkan. Sehubungan dengan itu,
fundamentum petendi atau posita permohonan pada prinsipnya didasarkan pada ketentuan
pasal undang-undang menjadi alasan permohonan, dengan menghubungkan ketentuan itu
dengan peristiwa yang dihadapi pemohon.
Untuk mendapat gambaran yang lebih jelas, dideskripsi berbagai ketentuan pasal
undang-undang yang dapat dijadikan dasar hukum (rechtsgrond, basic law) permohonan
scara voluntair. Namun apa yang dideskripsi tersebut, belum meliputi seluruh permasalahan,
tetapi baru sebagian dan jumlah yang ada, antara lain sebagai berikut:
1. Bidang Hukum Keluarga
Diatur dalam UU No. 1 Tahun 1974, tentang Perkawinan, maupun peraturan perundangundangan yang berkaitan dengan hukum keluarga.
a. Permohonan izin poligami berdasarkan Pasal 5 UU No. 1 Tahun 1974:
Dalil permohonan berdasar ketentuan yang digariskan Pasal 4 ayat (1);
Diikuti dengan pemenuhan syarat-syarat yang disebut Pasal 5 ayat (1).

38

Tanggal 30-6-1987, Yurisprudensi Indonesia, MA RI, 1993, hlm. 7.

31

b. Permohonan izin melangsungkan perkawinan tanpa izin orang tua, berdasarkan iWat
(5) UU No. 1 Tahun 1974:
Dalam hal orang tua berbeda pendapat memberi izin perkawinan bagi yang
berumur 21 tahun atau mereka yang tidak memberi pendapat;
Dalam peristiwa yang seperti itu, yang bersangkutan dapat mengajukan
permohonan izin kepada Pengadilan untuk melangsungkan perkawinan tanpa izin
orang tua.
c. Permohonan pencegahan perkawinan berdasarkan Pasal 13 jo. Pasal 17 ayat (1) UU
No. 14 Tahun 1970:
Apabila dalam perkawinan yang dilangsungkan ada pihak yang tidak memenuhi
syarat;
Maka keluarga garis lurus ke atas dan ke bawah, saudara, wali, dan pengampu
dapat mengajukan permohonan pencegahan kepada Pengadilan.
d. Permohonan dispensasi nikah bagi calon mempelai pria yang belum berumur 16 tahun
berdasarkan Pasal 7 UU No. 1 Tahun 1974.
e. Permohonan pembatalan perkawinan, berdasarkan Pasal 25, 26 dan 27 UU No. 1
Tahun 1974.
f. Permohonan pengangkatan wali berdasarkan Pasal 23 ayat (2) Kompilasi Hukum
Islam, Keppres No. 1 Tahun 1991 jo. Peraturan Menteri Agama No. 2 Tahun 1987.
g. Permohonan penegasan pengangkatan anak berdasarkan penggarisan yang diatur
dalam SEMA No. 6 Tahun 1983 tanggal 30 September 1983 tentang Penyempurnaan
SEMA No. 2 Tahun 1979.39
2. Bidang Paten yang Diatur dalam UU No. 14 Tahun 2000
Permohonan kepada Pengadilan Niaga agar menerbitkan penetapan segera dan efektif,
berdasarkan Pasal 125, untuk:
a. Mencegah berlanjutnya pelanggaran paten, khususnya:
Mencegah masuknya barang yang diduga melanggar paten;
Termasuk tindakan importasi.
b. Menyimpan bukti yang berkaitan dengan pelanggaran paten dan menghindari terjadinya
penghilangan barang bukti.

39

Lihat Himpunan SEMA dan PERMA tahun 1951-1991, MA RI, Februari 1999, h1m. 466 et seqq.

32

c. Meminta kepada pihak yang merasa dirugikan agar memberitahukan bukti yang
menyatakan pihak tersebut memang berhak atas paten itu.
3. Bidang Perlindungan Konsumen Berdasarkan UU No 8. Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen
a. Permohonan penetapan eksekusi kepada PN atas putusan Majelis Badan Penyelesaian
Sengketa Konsumen berdasarkan Pasal 57.
b. Yurisdiksinya diajukan kepada PN di tempat kediaman konsumen yang dirugikan,
jadi kepada PN tempat kediaman permohonan eksekusi, bukan di tempat kediaman
termohon eksekusi.
4. Permohonan Berdasarkan UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik
Monopoli dan Persaingan
Permohonan atau permintaan penetapan eksekusi kepada PN atas putusan Komisi
Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang telah berkekuatan hukum tetap, berdasarkan
Pasal 46 ayat (2).
Menurut Pasal 46 ayat (1) keputusan KPPU dianggap berkekuatan tetap, apabila pelaku
usaha yang bersangkutan, telah mengajukan keberatan kepada PN paling lambat 14 hari
dari tanggal penerimaan pemberitahuan keputusan KPPU.
5. Permohonan Berdasarkan UU No.16 Tahun 2001 tentang Yayasan
Permohonan pemeriksaan yayasan berdasarkan Pasal 53 kepada Ketua PN, untuk
mendapatkan data dan keterangan atas dugaan organ yayasan:

melakukan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) atau perbuatan yang bertentangan


dengan Anggaran Dasar Yayasan;

melakukan perbuatan yang merugikan yayasan serta pihak ketiga;

lalai melaksanakan tugas;

melakukan perbuatan yang merugikan negara.

Yang dapat atau berhak mengajukan permohonan:


a. oleh pihak ketiga atas huruf a, b, dan c;
b. oleh Kejaksaan atas huruf d, mewakili kepentingan umum.
Permohonan dituangkan dalam bentuk penetapan oleh PN berdasarkan Pasal 54:
dapat menolak,
33

dapat juga mengabulkan, dengan menyebutkan penetapan pemeriksaan serta


mengangkat paling banyak 3 orang ahli,
Pasal 56 mewajibkan ahli menyampaikan laporan hasil pemeriksaan laporan kepada
Ketua PN, paling lambat 30 hari, dan
Selanjutnya Ketua PN memberikan salinan laporan pemeriksaan kepada pemohon
atau Kejaksaan dan Yayasan.
6. Permohonan Berdasarkan UU No.1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas
Permohonan pembubaran Perseroan Terbatas berdasarkan Pasal 7 ayat (4)
Orang yang berkepentingan dapat mengajukan permohonan pembubaran ke PN;
Atas alasan, apabila lewat 6 bulan, pemegang saham kurang dari dua orang.
Permohonan izin melakukan sendiri pemanggilan RUPS kepada Ketua PN Pasal 67 ayat (1) :
Apabila direksi atau komisaris tidak menyelenggarakan RUPS tahunan pada waktu
yang ditentukan, atau
melakukan sendiri pemanggilan RUPS lainnya, apabila direksi atau komisaris setelah
lewat 30 hari terhitung sejak permintaan, tidak melakukan pemanggilan RUPS lainnya
tersebut.
Penetapan Ketua PN mengenal pemberian izin dalam kasus ini, merupapenetapan
instansi pertama dan terakhir.
c. Permohonan kepada ketua PN untuk menetapkan korum RUPS, apabila korum RUPS
kedua tidak tercapai, berdasarkan Pasal 73 ayat (6).
d. Permohonan pailit oleh direksi secara voluntary petition (atas permohonan sendiri) berdasarkan Pasal 90 ayat (1) dan ayat (2) asalkan permohonan itu berdasarkan putusan
RUPS.
e. Permohonan pemeriksaan oleh PN mengenai perbuatan melawan hukum (PMH) yang
dilakukan perseroan atau yang dilakukan direksi maupun komisaris yang merugikan
perseroan, berdasarkan Pasal 110 ayat (2)
Yang dapat atau yang berhak mengajukan permohonan:
1) pemegang saham atas nama sendiri atau atas nama perseroan yang mewakili paling
sedikit 1/10 dari seluruh saham;
2) pihak lain yang dalam anggaran dasar atau berdasarkan perjanjian diberi
wewenang untuk mengajukan permohonan pemeriksaan;
3) kejaksaan dalam hal mewakili kepentingan umum.
34

PN berwenang:
1) menolak permohonan, apabila tidak ada dasar;
2) mengabulkan dengan jalan mengeluarkan penetapan pemeriksaan, dan mengangkat
paling banyak tiga orang ahli untuk melakukan pemeriksaan;
3) laporan hasil pemeriksaan, disampaikan kepada Ketua PN;
4) Ketua PN memberikan salinan laporan kepada pemohon dan Perseroan yang
bersangkutan.
f. Permohonan kepada Ketua PN untuk menetapkan penggantian seluruh atau mebasian
biaya pemeriksaan kepada pemohon, direksi, atau komisaris Owdasarkan Pasal 113
ayat (3).
g. Permohonan pembubaran perseroan kepada PN berdasarkan Pasal 117 ayat (1)
adalah:
1) Kejaksaan berdasarkan alasan kuat, bahwa perseroan melakukan pelanggaran
kepentingan umum;
2) Seorang pemegang saham atau lebih tepat yang memiliki 1/10 bagian dari jumlah
seluruh saham;
3) Kreditur berdasar alasan:
a) perseroan tidak mampu membayar utang setelah dinyatakan pailit,
b) harta kekayaan perseroan tidak cukup melunasi seluruh utang setelah pernyataan
pailit dicabut.
Permohonan kepada Ketua PN mengangkat likuidator baru dan menghentikan likuidar lama
berdasarkan Pasal 123 atas alasan tidak melaksanakan tugas.
7. Permohonan Berdasarkan UU No. 15 Tahun 2001 tentang Merek
Berdasarkan Pasal 85 dapat diajukan permohonan voluntair kepada pengadilan negeri agar
diterbitkan penetapan sementara, mengenai:
a. Pencegahan masuknya barang yang berkaitan melanggar hak merek;
b. Penyimpanan alat bukti yang berkaitan dengan pelanggaran merek.
Demikian gambaran sepintas, permasalahan yang dapat diajukan penyelesaian melalui
permohonan atau gugatan voluntair yang diatur dalam berbagai pasal peraturan perundangundangan. Akan tetapi, deskripsi di atas belum meliputi seluruh permasalahan.
Permasalahan yang dijelaskan hanya bersifat random atau acak dari sebagian kecil peraturan
perundang-undangan. Sehubungan dengan itu, masih banyak lagi permasalahan yang dapat
35

diselesaikan pengadilan melalui gugatan permohonan di berbagai peraturan perundangundangan yang lain.
D. PETITUM PERMOHONAN
Sudah dijelaskan, pada kasus permohonan, pihak yang ada hanya pemohon sendiri.
Tidak ada pihak lain yang ditarik sebagai lawan atau tergugat. Pada prinsipnya, tujuan
permohonan untuk menyelesaikan kepentingan pemohon sendiri tanpa melibatkan pihak
lawan. Dalam kerangka yang demikian, petitum permohonan harus mengacu pada
penyelesaian kepentingan pemohon secara sepihak.
Sehubungan dengan itu, petitum permohonan tidak boleh melanggar atau melampaui hak
orang lain. Harus benar-benar murni merupakan permintaan penyelesaian kepentingan
pemohon, dengan acuan sebagai berikut:
1. Isi petitum merupakan permintaan yang bersifat deklaratif
Pemohon meminta agar dalam diktum penetapan pengadilan, memuat pernyataan
dengan kata-kata: menyatakan bahwa pemohon adalah orang yang berkepentingan
atas masalah yang dimohon.
2. Petitum tidak boleh melibatkan pihak lain yang tidak ikut sebagai pemohon.
Ukuran ini merupakan konsekuensi dari bentuk permohonan, yang bersifat ex-parte
atau sepihak saja.
3. Tidak boleh memuat petitum yang bersifat condemnatoir (mengandung hukum)
Ukuran ini, merupakan konsekuensi lebih lanjut dari sifat ex-parte yang benar-benar
melekat (inherent) dalam permohonan. Oleh karena tidak ada pihak lawan atau
tergugat, dengan sendirinya tidak ada pihak yang dapat ditimpakan hukuman.
4. Petitum permohonan, harus dirinci satu per satu tentang hal-hal yang dikehendaki
pemohon untuk ditetapkan Pengadilan kepadanya
5. Petitum tidak boleh bersifat compositur atau ex aequo et bono
Seperti yang dikatakan di atas, petitum permohonan harus dirinci, jadi bersifat
enumeratif. Oleh karena itu, tidak dibenarkan petitum yang berbentuk mohon keadilan
saja.
E. PROSES PEMERIKSAAN PERMOHONAN
1. Jalannya Proses Pemeriksaan secara Ex-Parte
Oleh karena yang terlibat dalam permohonan hanya sepihak, yaitu pemohon sendiri ,
proses pemeriksaan permohonan hanya secara sepihak atau bersifat ex-parte, sedangkan yang
36

hadir dan tampil dalam pemeriksaan persidangan, hanya pemohon atau kuasanya. Tidak ada
pihak lawan atau tergugat pemeriksaan sidang benar-benar hadir untuk kepentingan
pemohon. Oleh karena itu, yang terlibat dalam penyelesaian permasalahan hukum, hanya
sepihak yaitu pemohon.
Pada prinsipnya proses ex-parte bersifat sederhana:

mendengar keterangan pemohon atau kuasanya sehubungan dengan permohonan,

memeriksa bukti surat atau saksi yang diajukan pemohon, dan

tidak ada tahap replik-dublik dan kesimpulan.

2. Diperiksa di Sidang hanya Keterangan dan Bukti Pemohon


Di dalam proses yang bercorak ex parte, hanya keterangan dan bukti-bukti pemohon
yang diperiksa pengadilan. Pemeriksaan tidak berlangsung secara (contradictory) atau op
tegenspraak. Maksudnya, dalam proses pemeriksaan, tidak ada bantahan pihak lain. Hanya
dalam proses pemeriksaan gugatan contentiosa (gugatan yang bersifat partai di mana ada
penggugat dan tergugat) yang berlangsung secara contradictoir. Dalam hal ini, keterangan
dan bukti-bukti yang diajukan penggugat dapat dibantah dan dilumpuhkan tergugat, dan
sebaliknya.
3. Dipermasalahkan Penegakan Seluruh Asas Persidangan
Pada proses pemeriksaan permohonan yang bersifat ex parte, tidak ditegakkan seluruh
asas pemeriksaan persidangan. Namun tidak pula sepenuhnya disingkirkan.
a. Yang Tetap Ditegakkan
1) Asas kebebasan peradilan (judicial independency)
-

Tidak boleh dipengaruhi siapa pun.

Tidak boleh ada direktiva dari pihak mana pun.

2) Asas fair trial (peradilan yang adil)


-

Tidak bersifat sewenang-wenang (arbitrary),

Pemeriksaan sesuai dengan asas due process of law (sesuai dengan ketentuan
hukum acara yang berlaku),

Memberi kesempatan yang layak (to give an appropriate opportunity) kepada


pemohon untuk membela dan mempertahankan kepentingannya.

b. Yang Tidak Perlu Ditegakkan


1) Asas audi alteram partem
37

Tidak mungkin dalam proses ex-parte ditegakkan asas mendengar jawaban atau
bantahan pihak lawan, karena memang tidak ada pihak tergugat. Oleh karena itu,
asas to hear other side (mendengar pihak lain), tidak relevan dalam proses
permohonan. Dalam penyelesaian permohonan, tidak mungkin ditegakkan asas both
sides be heard before a decision is given. Karena untuk mengambil keputusan atau
penetapan, yang didengar semata-mata pemohon saja.
2) Asas memberi kesempatan yang lama
Demikian juga halnya asas pemberian kesempatan yang sama (to give the same
opportunity) kepada para pihak, tidak mungkin ditegakkan, karena pihaknya terdiri
atas pemohon saja.
F. PENEGAKAN PRINSIP PEMBUKTIAN
Prinsip ajaran dan sistem pembuktian, harus ditegakkan dan diterapkan sepenuhnya
dalam proses pemeriksaan dan penyelesaian permohonan. Mengabaikan penegakan dan
penerapan ajaran dan sistem pembuktian dalam pemeriksaan permohonan, dapat
menimbulkan akibat yang sangat fatal. Misalnya, permohonan izin poligami. Ternyata bukti
yang diajukan pemohon adalah surat keterangan persetujuan dari wanita lain, bukan dari istri
pertama pemohon. Jika pengadilan hanya bersikap formil, bukti itu dianggap sudah cukup
bagi hakim memberi izin poligami. Akan tetapi, apabila ditegakkan ukuran batas minimal
pembuktian, surat dimaksud belum cukup memenuhi batas minimal. Oleh karena itu, harus
ditambah lagi dengan alat bukti lain, seperti alat bukti keterangan saksi. Dalam kasus ini,
yang sangat relevan didengar sebagai saksi ialah istri pertama pemohon itu sendiri, apakah
memang benar surat persetujuan poligami yang disampaikan pemohon dalam persidangan di
buat sendiri olehnya.
Seandainya hakim tidak benar-benar menegakkan ukuran batas minimal pembuktian,
berarti bisa saja hakim dengan ceroboh mengabulkan pemberian izin poligami, padahal
ternyata surat keterangan itu dibuat oleh calon istri kedua. Dalam hal yang seperti itu, hakim
telah terjerumus memberi izin poligami disebabkan kecerobohan penegakan penerapan
prinsip dan sistem pembuktian.
Memperhatikan contoh di atas, tidak ada alasan untuk mengesampingkan prinsip dan
sistem pembuktian dalam penyelesaian permohonan. Prinsip dan sistem pembuktian yang
harus ditegakkan dan diterapkan, adalah sebagai berikut.
1. Pembuktian harus berdasarkan alat bukti yang ditentukan Undang-Undang.
38

Sesuai yang dirinci secara enumeratif dalam Pasal 164 HIR (Pasal 284 RGB) atau Pasal
1866 KUH Perdata, alat bukti yang sah terdiri atas:
a) Tulisan (akta)
b) Keterangan saksi,
c) Persangkaan,
d) Pengakuan, dan
e) Sumpah.
2. Ajaran pembebanan pembuktian berdasarkan Pasal 163 HIR (Pasal 203 RGB) atau
Pasal 1865 KUH Perdata
Dalam hal ini, sepenuhnya beban wajib bukti (bewijslast, burden of proof) dibebankan
kepada pemohon.
3. Nilai kekuatan pembuktian yang sah, harus mencapai batas minimal pembuktian.
Apabila alat bukti yang diajukan pemohon hanya bernilai sebagai alat bukti permulaan
atau alat bukti yang diajukan hanya satu saksi (unus testis) tanpa alat bukti yang lain,
dalam hal seperti ini, alat bukti yang diajukan pemohon belum mencapai batas minimal
(minimal limit) untuk membuktikan dalil permohonan.
4. Yang sah sebagai alat bukti, hanya terbatas pada alat bukti yang memenuhi syarat
formil dan materiil
Paling tidak asas dan sistem pembuktian yang jelas di atas, harus ditegakkan dan
diterapkan pengadilan dalam memutus dan menyelesaikan permohonan.
G. PUTUSAN PERMOHONAN
1. Bentuk Penetapan
Putusan yang berisi pertimbangan dan diktum penyelesaian permohonan dituangkan
dalam bentuk penetapan, dan namanya juga disebut penetapan atau ketetapan
(beschikking; decree). Bentuk ini membedakan penyelesaian yang dipengadilan dalam
dijatuhkan pengadilan dalam gugatan contentiosa. Dalam gugatan perdata yang bersifat
partai, penyelesaian yang dijatuhkan berbentuk putusan atau vonis (award).
2. Diktum Bersifat Deklarator
Diktumnya hanya berisi penegasan pernyataan atau deklarasi hukum tentang hal
yang diminta.
Pengadilan tidak boleh mencantumkan diktum condemnatoir (yang mengandung
hukuman) terhadap siapa pun.
39

Juga tidak dapat memuat amar konstitutif, yaitu yang menciptakan suatu keadaan
baru, seperti membatalkan perjanjian, menyatakan sebagai pemilik atas sesuatu
barang, dan sebagainya.

H. PEMBUKTIAN PENETAPAN
1. Penetapan sebagai Akta Otentik
Setiap produk yang diterbitkan hakim atau pengadilan dalam menyelesaikan
permasalahan yang diajukan kepadanya, dengan sendirinya merupakan akta otentik40,
yaitu merupakan akta resmi yang dibuat oleh pejabat yang berwenang untuk itu. Bertolak
dari doktrin yang dikemukakan di atas, setiap penetapan atau putusan yang dijatuhkan
pengadilan bernilai sebagai akta otentik. 41 Doktrin ini pun sesuai dengan ketentuan yang
digariskan Pasal 1868 KUH Perdata:
Suatu akta otentik ialah suatu akta yang dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh
undang-undang, oleh atau di hadapan pegawai umum yang berkuasa untuk itu di
tempat akta itu dibuat.
Memperhatikan ketentuan yang mengatakan bahwa putusan pengadilan merupakan akta
otentik, berarti sesuai dengan Pasal 1870 KUH Perdata, pada keputusan itu melekat nilai
ketentuan pembuktian yang sempurna dan mengikat (lledig bindende bewijskracht).
2. Nilai Kekuatan Pembuktian yang Melekat pada Penetapan Permohonan Hanya
Terbatas kepada Diri Pemohon
Meskipun penetapan yang dijatuhkan pengadilan berbentuk akta autentik, namun nilai
kekuatan pembuktian yang melekat padanya, berbeda dengan yang mendapat putusan
yang bersifat contentiosa. Dalam putusan yang bersifat partai (contentiosa), nilai
kekuatan pembuktiannya, adalah:
a. Benar-benar sempurna dan mengikat;
b. Kekuatan mengikatnya meliputi:
- Para pihak yang terlibat dalam perkara dan ahli waris mereka;
- Kepada orang atau pihak ketiga yang mendapat hak dari mereka.42

40

Lihat Setiawan, Aneka Masalah Hukum dan Hukum Acara Perdata, Alumni, Bandung, 1992, hlm 399
Lihat Subekti, Hukum Acara Perdata, Bina Cipta, Jakarta, 1977, hlm 126
42
Ibid, hlm. 126.
41

40

Tidak demikian halnya dengan penetapan. Sesuai dengan sifat proses, pemeriksaannya
yang bercorak ex-parte atau sepihak, nilai kekuatan pembuktian yang melekat dalam
penetapan sama dengan sifat ex-parte itu sendiri, dalam arti:
Nilai kekuatan pembuktiannya hanya mengikat pada diri pemohon saja,
Tidak mempunyai kekuatan mengikat kepada orang lain atau kepada pihak ketiga.
3. Pada Penetapan Tidak Melekat Asas Ne bis In Idem
Sesuai dengan ketentuan Pasal 1917 KUH Perdata, apabila putusan yang dijatuhkan
pengadilan bersifat posittf (menolak untuk mengabulkan), kemudian putusan tersebut
memperoleh kekuatan hukum tetap, maka dalam putusan melekat nebis en idem. Oleh karena
itu, terhadap kasus dan pihak yang sama, tidak boleh diajukan untuk kedua kalinya.43
Tidak demikian halnya dengan penetapan. Pada dirinya hanya melekat kekuatan
mengikat secara sepihak, yaitu pada diri pemohon, jadi tidak mengikat dan tidak mempunyai
kekuatan pembuktian pada pihak mana pun. Oleh karena itu, pada penetapan tidak melekat ne
bis in idem. Setiap orang yang merasa dirugikan oleh penetapan itu, dapat mengajukan
gugatan atau perlawanan terhadapnya.

I. UPAYA HUKUM TERHADAP PENETAPAN


Apabila permohonan ditolak oleh Pengadilan, apa upaya hukum yang dapat dilakukan
pemohon? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, akan dijelaskan hal-hal sebagai berikut.
1. Penetapan atas Permohonan Merupakan Putusan Tingkat Pertama dan Terakhir
Sesuai dengan doktrin dan praktik yang berlaku, penetapan yang dijatuhkan dalam
perkara yang berbentuk permohonan atau voluntair, pada umumnya merupakan putusan yang
bersifat tingkat pertama dan terakhir. 44
2. Terbadap Putusan Peradilan Tingkat Pertama yang Bersifat Pertama dan
Terakhir, Tidak Dapat Diajukan Banding
Terkadang undang-undang sendiri secara tegas mengatakan, bahwa penetapan atas
permohonan itu, bersifat tingkat pertama dan terakhir. Namun ada kalanya tidak dinyatakan
secara tegas. Akan tetapi, ada juga yang secara tegas mengatakan terhadap penetapan yang

43

Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty, Yogyakarta, 1998, hlm. 173.
M. Yahya Harahap, Beberapa Permasalahan Hukum Acara pada Peradilan Agama, Sinar Grafika,
Jakarta, 1993, hlm. 46.
44

41

dijatuhkan atas permohonan tidak tunduk pada peradilan yang lebih tinggi. Salah satu contoh
dapat dikemukakan Pasal 360 jo. Pasal 364 KUHPerdata.

Menurut Pasal 360 KUHPerdata, permohonan pengangkatan wali dilakukan oleh PN,
atas permintaan keluarga sedarah dan semenda.
Selanjutnya Pasal 363 KUH Perdata menegaskan:
Permohonan banding atas Putusan PN mengenai pengangkatan wali, tidak tunduk pada
Peradilan lebih tinggi kecuali ada ketentuan tentang sebaliknya.45
Mengenai penetapan yang disebut Pasal 360 KUH Perdata tersebut diperhatikan Putusan

PT Medan tanggal 1 Maret 1952, No. 120 Tahun 1950 yang menegaskan antara lain:
Permohonan banding atas Putusan PN tentang pengangkatan perwalian berdasarkan
Pasal 360 BW, harus dinyatakan niet ontvankelijke veerklaard (tidak dapat diterima),
karena menurut Pasal 364 BW, sendiri dengan tegas mengatakan, bahwa banding atas
pengangkatan wali tidak dimohon banding.46
Contoh lain, dapat dilihat pada Pasal 67 UU No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan
Terbatas. Pasal itu menegaskan Penetapan PN tentang pemberian izin melakukan sendiri
pemanggilan RUPS, merupakan penetapan instansi pertama dan terakhir.
3. Hukum yang Dapat Diajukan, Kasasi
Kebolehan mengajukan kasasi terhadap penetapan atas permohonan merujuk secara analogis
kepada penjelasan Pasal 43 ayat (1) UU No. 14 Tahun 1985, tentang Mahkamah Agung,
sebagaimana diubah dengan UU No. 5 Tahun 2004. Pasal 43 ayat (1) mengatakan,
permohonan kasasi dapat diajukan hanya jika permohonan terhadap perkara telah
menggunakan upaya hukum banding, kecuali ditentukan lain oleh undang-undang. Terhadap
kalimat terakhir pasal ini dirumuskan, penjelasan yang berbunyi:
Pengecualian dalam ayat (1) pasal ini diadakan karena adanya putusan Pengadilan
tingkat pertama yang oleh UU tidak dapat dimohon banding.
Memperhatikan penegasan penjelasan Pasal 43 ayat (1) tersebut,.oleh karena penetapan yang
dijatuhkan tehadap permohonan tidak dapat dibanding, maka upaya hukum dapat ditempuh
adalah kasasi berdasarkan Pasal 43 ayat (1) Penjelasan Pasal 43 ayat (1) dimaksud.

45

R. Subakti, R. Tjitrosubio, Kitab Undang-undang Hukum Perdata, Pradnya Paramita, Jakarta, hlm. 110-

46

Lihat M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata Peradilan Indonesia, Zahir, Medan, 1977, hlm. 432.

111.

42

J. UPAYA MELURUSKAN ATAU KOREKSI TERHADAP PERMOHONAN YANG


KELIRU
Apabila terjadi peristiwa pengajuan permohonan atau gugatan voluntair yang keliru,
upaya hukum apa yang dapat diajukan pihak yang berkepentingan atau yang dirugikan untuk
mengoreksi atau meluruskannya? Misalnya, A mengajukan permohonan ke PN agar tanah
yang dimiliki dan dikuasai B, dinyatakan hak miliknya. Atas permohonan itu, PN
mengabulkan dan menyatakan tanah itu milik A dalam penetapan. Baik permohonan maupun
penetapan yang diterbitkan PN dalam kasus ini, jelas keliru dan melampaui batas yurisdiksi
voluntair jika merujuk kepada yang digariskan penjelasan ayat (2) UU No. 14 Tahun 1970
(sebagaimana diganti dengan UU No. 4 Tahun 2004). Atau lihat kembali Putusan PN Jakarta
Pusat No. 274/972, tanggal 27 Juni 1973 yang telah mengabulkan permohonan secara
voluntair pengesahan RUPS serta mengatakan perjanjian yang dibuat tidak mengikat First
Products Corp Ltd. Permohonan dan penetapan PN dalam kasus ini, jelas melanggar dan
melampaui batas yurisdiksi voluntair, karena kasus yang dipermasalahkan selain tidak diatur
dalam undang-undang, juga perkara yang dipersoalkan jelas mengandung sengketa antara
permohonan dengan pihak lain (pemegang saham yang lain).
Cara yang dapat ditempuh dan dilakukan oleh orang yang berkepentingan atau orang
merasa dirugikan atas penetapan voluntair adalah sebagai berikut:
1. Mengajukan Perlawanan terhadap Permohonan selama Proses Pemeriksaan Berlangsung
Landasan upaya perlawanan terhadap permohonan yang merugikan kepentingan orang
lain, merujuk secara analogis kepada Pasal 378 Rv, atau Pasal 195 ayat (6) HIR. Perlawanan
itu sangat bermanfaat untuk menghindari terbitnya penetapan yang keliru. Dengan demikian,
memberi hak kepada orang yang merasa dirugikan kepentingannya untuk:

Mengajukan perlawanan pihak ketiga (derden verzet) yang bersifat semu atau qu asi
derden verzet, selama proses pemeriksaan permohonan berlangsung;

Pihak yang merasa dirugikan tersebut bertindak:


- sebagai pelawan
- sedang pemohon, ditarik sebagai terlawan;

dasar perlawanan, ditujukan kepada pengajuan permohonan gugatan voluntair


tersebut;

pelawan meminta agar permohonan ditolak serta perkara diselesaikan secara


contradictoir.
43

Tindakan dan upaya perlawanan yang disebut di atas dapat dilakukan pihak merasa
dirugikan, apabila ia mengetahui adanya permohonan yang sedang berlangsung proses
pemeriksaannya.
2. Mengajukan Gugatan Perdata
Apabila isi penetapan mengabulkan permohonan dan pihak yang merasa dirugikan baru
mengetahui setelah pengadilan menjatuhkan penetapan tersebut, yang bersangkutan dapat
mengajukan gugatan perdata biasa. Dalam hal ini:
- Pihak yang merasa dirugikan bertindak sebagai penggugat dan pemohon ditarik sebagai
tergugat,
- Dalil gugatan bertitik tolak dari hubungan hukum yang terjalin antara diri penggugat
dengan permasalahan yang diajukan pemohon dalam permohonan.
- Mengajukan Permintaan Pembatalan kepada MA atas Penetapan
Tentang upaya ini, dapat dipedomani Penetapan MA No. 5 Pen/Sep/1975 sebagai preseden.
Seperti telah dijelaskan dahulu, pihak yang merasa dirugikan atas Penetapan PN Jakarta
Pusat No. 274/1972, mengajukan permohonan kepada MA agar MA mengeluarkan penetapan
untuk membatalkan penetapan PN. Ternyata permohonan dikabulkan MA dengan jalan
menerbitkan Penetapan No 5 Pen /Sep/1975 (lihat kembali uraian t entang ini).
- Upaya Peninjauan Kembali (PK)
Upaya PK dapat juga ditempuh untuk mengoreksi dan meluruskan kekeliruan atas
permohonan dengan mempergunakan Putusan PK No. 1 PK/Ag/1990 tanggal Januari 1991
sebagai pedoman preseden.
Dalam kasus ini, PA Pandeglang telah mengabulkan status ahli waris dan sebagian harta
warisan melalui permohonan secara sepihak. Terhadap penetapan tersebut yang dirugikan
mengajukan PK kepada MA. Ternyata MA mengabulkan

permohonan PK dan bersamaan

dengan itu, MA membatalkan penetapan PA dimaksud (lihat kembali uraian tentang hal ini).

44

PERIHAL GUGATAN

A. PENGERTIAN
Telah dijelaskan, sesuai dengan Pasal 2 ayat (1) UU No. 14 Tahun 1970 sebagaimana
diubah dengan UU No. 35 Tahun 1999), dan sekarang diatur dalam Pasal 16 ayat(1) UU No.
4 Tahun 2004 sebagai pengganti UU No. 14 Tahun 1970. Tugas dan kewenangan badan
peradilan di bidang perdata adalah menerima, memeriksa, dan mengadili serta menyelesaikan
sengketa di antara para pihak yang berperkara. Hal inilah yang menjadi tugas pokok
peradilan. Wewenang pengadilan menyelesaikan perkara diantara pihak yang bersengketa,
disebut yurisdiksi contentiosa. Denagan demikian yurisdiksi dan gugatannya berbentuk
gugatan contentiosa atau disebut juga contentious

Dengan demikian yurisdiksi dan gugatan

contentiosa, merupakan hal yang berbeda atau berlawanan dengan yurisdiksi gugatan
voluntair yang bersifat sepihak (ex-parte), yaitu permasalahan yang diajukan untuk
diselesaikan pengadilan tidak mengandung sengketa (undisputed matters), tetapi semata-mata
untuk kepentingan pemohon.
Lain halnya dengan gugatan contentiosa, gugatannya mengandung sengketa di antara dua
pihak atau lebih. Permasalahan yang diajukan dan di minta untuk diselesaikan dalam gugatan
merupakan sengketa atau perselisihan di antara para pihak (between contending parties). Di
masa yang lalu bentuk ini disebut contentiosa rechtspraak. Artinya penyelesaian sengketa di
pengadilan melalui proses sanggah-menyanggah dalam bentuk replik (jawaban dari suatu
jawaban), dan duplik (jawaban kedua kali). Atau disebut juga op tegenspraak, yaitu proses
peradilan sanggah-menyanggah.
Perkataan contentiosa atau contentious, berasal dari bahasa Latin. Salah satu arti
perkataan itu, yang dekat kaitannya dengan penyelesaian sengketa perkara adalah penuh
semangat bertanding atau berpolemik. 47 Itu sebabnya penyelesaian perkara yang mengandung
sengketa, disebut yurisdiksi contentiosa atau contentious jurisdiction, yaitu kewenangan
peradilan yang memeriksa perkara yang berkenaan dengan masalah persengketaan
(jurisdiction of court that is concerned with contested mattters) antara pihak yang
bersengketa (between contending parties).48
Gugatan contentiosa inilah yang dimaksud dengan gugatan perdata dalam praktik. Sedang
penggunaan gugatan contentiosa, lebih bercorak pengkajian teoritis untuk membedakannya
47

K. Prent. CM, dkk, Kamus Latin Indonesia, Kanisius, Jakarta, 1969, hlm. 188.
Lihat Henry Campbell Black, Black's Law Dictionary, West Publishing, St Paul Minn, Fifth Edition,
1978, hlm. 189.
48

45

dengan gugatan voluntair. Dalam perundangan-undangan dipergunakan adalah gugatan


perdata atau gugatan saja.
Pasal 118 ayat (1) HIR mempergunakan istilah gugatan perdata.49 Akan tetapi, dalam
pasal-pasal selanjutnya, disebut gugatan atau gugat saja (seperti dalam Pasal 119, 120, dan
sebagainya.
Pasal 1 Rv menyebut gugatan (tiap-tiap proses perkara perdata ..., dimulai dengan
sesuatu pemberitahuan gugatan ...).50 Namun jika pasal itu dibaca keseluruhan, yang
dimaksud dengan gugatan adalah gugatan perdata.
Prof. Sudikno Mertokusumo, juga mempergunakan istilah gugatan, berupa tuntutan
perdata (burgerlijke vordering) tentang hak yang mengandung sengketa dengan pihak lain.
Begitu juga Prof. R. Subekti, mempergunakan sebutan gugatan, yang dituangkan dalam surat
gugatan. Dengan demikian setiap perkara perdata, diajukan ke PN dalam bentuk Surat gugatan.51 Begitu juga halnya dalam praktik pengadilan. Selamanya dipergunakan istilah gugatan.
Penyebutan ini dianggap langsung diadakannya dengan permohonan yang bersifat voluntair.
Salah satu contoh putusan MA yang mengatakan: selama proses perkara belum diperiksa
persidangan, penggugat berhak mencabut gugatan tanpa persetujuan penggugat.52
Bertitik tolak dari penjelasan di atas, yang dimaksud dengan gugatan perdata adalah gugatan
contentiosa yang mengandung sengketa di antara pihak yang berperkara yang pemeriksaan
penyelesaiannya diberikan dan diajukan kepada pengadilan dengan posisi para pihak:
Yang mengajukan penyelesaian sengketa disebut dan bertindak sebagai penggugat
(plaintiff = planctus, the party who institutes a legal action or claim),53
Sedangkan yang ditarik sebagai pihak lawan dalam penyelesaian, disebut dan
berkedudukan sebagai tergugat (defendant, the party against whom a civil action is
brought)54
Dengan demikian, ciri yang melekat pada gugatan perdata:

Permasalahan hukum yang diajukan ke pengadilan mengandung sengketa (disputes,


differences),

Sengketa terjadi di antara para pihak, paling kurang di antara dua pihak,

49

Lihat R. Soesilo, RIB/HIR dengan Penjelasan, Politeia, Bogor, 1985.


Lihat Himpunan Peraturan Perundang-undangan RI. Jehtian Baru Van Hoeve, Jakarta, hlm. 599
50
Ibid., hlm. 34.
51
Ibid., hlm. 28.
52
No. 1841 K/Pdt/1984, 23-11-1985 (belum dipublikasi) jo. PT Ujung Pandang No. 361/1981, 11-4-1984
Pekan Baru No. 31/1981, 23-3-1982.
53
Merriam Webster 'S Dictionary of Law, Merriam Webster, Springfield Massachussetts, hlm. 365.
54
Ibid., hlm. 128.

46

Berarti gugatan perdata bersifat partai (party), dengan komposisi, pihak yang satu
bertindak dan berkedudukan sebagai penggugat dan pihak yang lain berkedudukan
sebagai tergugat.

B. BENTUK GUGATAN
Bentuk gugatan perdata yang dibenarkan undang-undang dalam praktik, dapat dijelaskan
sebagai berikut.
1. Berbentuk Lisan
Bentuk gugatan lisan, diatur dalam Pasal 120 HIR (Pasal 144 RBG) yang menegaskan:
Bilamana penggugat buta huruf, maka surat gugatannya dapat dimasukkan dengan lisan
kepada Ketua Pengadilan Negeri, yang mencatat gugatan itu atau menyuruh
mencatatnya.
Pada saat undang-undang (HIR) ini dibuat tahun 1941 (St.1941, No. 44), ketentuan Pasal
120 ini benar-benar realistis, mengakomodasi kepentingan anggota masyarakat buta huruf
yang sangat besar jumlahnya pada saat itu. Ketentuan ini sangat bermanfaat membantu
masyarakat buta huruf yang tidak mampu membuat dan memformulasi gugatan tertulis.
Mereka dapat mengajukan gugatan dengan lisan kepada Ketua PN, yang oleh undang-undang
diwajibkan untuk mencatat dan menyuruh catat gugat lisan, dan selanjutnya Ketua PN
memformulasinya dalam bentuk tertulis. Selain itu, ketentuan ini melepaskan rakyat kecil
yang tidak mampu menunjuk seorang kuasa atau pengacara, karena tanpa bantuan pengacara
dapat memperoleh bantuan pertolongan dari Ketua PN untuk membuat gugatan yang
diinginkannya.
Tanpa mengurangi penjelasan di atas, ada pihak yang berpendapat, ketentuan ini tidak
relevan lagi. Bukankah tingkat kecerdasan masyarakat sudah jauh meningkat dibanding masa
lalu. Apalagi, perkembangan jumlah pengacara yang sudah mencapai kota kabupaten,
memperkuat alasan tentang tidak relevannya gugatan secara lisan. Namun demikian,
memerhatikan luasnya Indonesia serta tingkat kecerdasan yang tidak merata terutama di
pelosok pedesaan, dihubungkan dengan mahalnya biaya jasa pengacara, ketentuan Pasal 120
HIR, dianggap masih perlu diperhankan dalam pembaruan hukum acara perdata yang akan
datang.
Terlepas dari hal di atas, terdapat beberapa segi yang perlu dibicarakan mengenai
pengajuan gugatan secara lisan. Yang terpenting di antaranya adalah sebagai berikut.
47

a. Syarat Formil Gugatan Lisan


Penggugat tidak bisa membaca dan menulis. Dengan kata lain, penggugat buta aksara.
Dalam Pasal 120 HIR, hanya disebut buta aksara. Tidak termasuk orang yang buta hukum atau
yang kurang memahami hukum. Juga tidak disyaratkan orang yang tidak mampu secara
finansial. Tidak dimasukkan syarat kemampuan finansial sebagai syarat yang diakumulasi
dengan buta aksara, membuat ketentuan yang kurang adil. Alasannya orang yang kaya tetapi
buta aksara, pada dasarnya kuat membiayai pengacara, sehingga kurang layak mendapat
bantuan dari Ketua
b. Cara Pengajuan Gugatan Lisan
Pengajuan gugatan dilakukan dengan:
- Diajukan dengan lisan,
- Kepada ketua PN, dan
- Menjelaskan atau menerangkan isi dan maksud gugatan.
Pengajuan atau pemasukan gugatan secara lisan, disampaikan sendiri oleh pengguga.
Tidak boleh diwakilkan oleh kuasa atau pengacara yang ditunjuknya. Dengan menunjuk
pengacara sebagai kuasa yang akan mewakili kepentingannya, menurut hukum dianggap
telah melenyapkan syarat buta aksara. Kecuali yang ditunjuk sebagai kuasa terdiri dari
anggota keluarga yang juga buta aksara, pada kuasa dianggap melekat syarat tersebut.
Mengenai larangan ini, tertera juga dalam satu putusan MA yang menegaskan, 55 orang yang
diberi kuasa, tidak berhak mengajukan gugatan secara lisan.
c. Fungsi Ketua PN
Ketua PN wajib memberi layanan,
Pelayanan yang harus diberikan Ketua PN:
- mencatat atau menyuruh catat gugatan yang disampaikan penggugat, dan
- merumuskan sebaik mungkin gugatan itu dalam bentuk tertulis sesuai yang diterangkan
penggugat.
Sehubungan dengan kewajiban mencatat dan merumuskan gugatan sebaik mungkin, Ketua
PN perlu memerhatikan Putusan MA tentang ini yang menegaskan,56 Adalah tugas Hakim
Pengadilan Negeri untuk menyempurnakan gugatan tulisan tersebut dengan jalan
melengkapinya dengan petitum, sehingga dapat mencapai apa sebetulnya yang dimaksud
oleh penggugat.
55
56

No. 369 K/Sip/1973, 4-12-1975.


No. 195 K/Sip/1955, 28-11-1956, Majalah Hukurn 1957 No. 7-8, hlm. 29.

48

d. Bentuk Tertulis
Gugatan yang paling diutamakan adalah gugatan dalam bentuk tertulis. Hal ini ditegaskan
dalam Pasal 118 ayat (1) HIR (Pasal 142 RBG). Menurut pasal ini, gugatan perdata harus
dimasukkan kepada PN dengan surat permintaan yang ditandatangani oleh penggugat atau
kuasanya. Memerhatikan ketentuan ini, yang berhak dan berwenang membuat dan
mengajukan gugatan perdata adalah sebagai berikut:
1) Penggugat Sendiri
Surat gugatan dibuat dan ditandatangani oleh penggugat sendiri. Kebolehan penggugat
membuat, menandatangani, dan mengajukan sendiri gugatan ke PN, adalah karena HIR
maupun RBG, tidak menganut sistem Verplichte Procureur Stelling, yang mewajibkan
penggugat harus memberi kuasa kepada yang berpredikat pengacara advokat untuk
mewakilinya, sebagaimana hal itu dahulu dianut oleh Reglement op de Rechtvordering (Rv).
Kebolehan ini dengan tegas disebut dalam Pasal 118 ayat (1) HIR, dengan demikian:
Tidak ada keharusan atau kewajiban hukum bagi penggugat untuk menguasakan atau
memberi kuasa dalam pembuatan, penandatanganan, serta pengajuan gugatan kepada
seseorang yang berpredikat pengacara atau advokat;57
Akan tetapi, hal itu tidak mengurangi haknya untuk menunjuk seseorang atau beberapa orang
kuasa, yang akan bertindak mengurus kepentingannya dalam pembuatan dan pengajuan
gugatan.58
2) Kuasa
Selanjutnya, Pasal 118 ayat (1) HIR, memberi hak dan kewenangan kepada kuasa atau
wakilnya untuk membuat, menandatangani, mengajukan atau menyampaikan surat gugatan
kepada PN. Ketentuan ini, sejalan dengan yang digariskan pada Pasal 123 ayat (1) HIR yang
mengatakan, baik penggugat dan tergugat (kedua belah pihak):

Dapat dibantu atau diwakili oleh kuasa yang dikuasakan untuk melakukan tindakan di
depan pengadilan, dan

Kuasa itu diberikan dengan surat kuasa khusus (special power of attorney).
Supaya pembuatan dan penandatanganan serta pengajuan surat gugatan yang
dilakukan kuasa sah dan tidak cacat hukum, harus ditempuh prosedur berikut.

Sebelum membuat dan menandatangani surat gugatan, kuasa yang akan bertindak
mewakili penggugat, harus lebih dahulu diberi surat kuasa khusus.

57
58

Subekti, Hukum Acara Perdata, Bina Cipta, Jakarta, 1977, hlm. 11.
Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty, Yogyakarta, 1998, hlm. 11.

49

Berdasarkan surat kuasa, kuasa bertindak membuat, menandatangani dan mengajukan


surat gugatan atas nama dan kepentingan penggugat atau pemberi kuasa (lastgever,
mandate).

Apabila

kuasa

atau

penerima

kuasa

(lasthebber;

mandataris),

membuat,

menandatangani dan mengajukan gugatan sebelum mendapat kuasa atau lebih..

50

BAB V
KEKUASAAN MENGADILI DAN STRUKTUR
KEKUASAAN KEHAKIMAN

A. KEKUASAAN MENGADILI MERUPAKAN SYARAT FORMIL


Keberadaan peradilan perdata bertujuan untuk menyelesaikan sengketa yang timbul di
antara anggota masyarakat. Sengketa yang terjadi, berbagai ragam. Ada yang berkenaan
dengan pengingkaran atau pemecahan perjanjian (breach of contract), perbuatan melawan
hukum (onrechtmatige daad), sengketa hak milik (property right), perceraian, pailit,
penyalahgunaan wewenang oleh penguasa yang merugikan pihak tertentu, dan sebagainya.
Timbulnya sengketa-sengketa tersebut dihubungkan dengan keberadaan peradilan perdata,
menimbulkan permasalahan kekuasaan mengadili, yang disebut yurisdiksi (jurisdiction)
atau kompentensi maupun kewenangan mengadili, yaitu pengadilan yang berwenang
mengadili sengketa tertentu sesuai dengan ketentuan yang digariskan peraturan perundangundangan. 59
Permasalahan kekuasaaan atau yurisdiksi mengadili timbul disebabkan berbagai
faktor seperti instansi peradilan yang membedakan eksistensi antara peradilan banding dan
kasasi sebagai peradilan yang lebih tinggi (superior court) berhadapan dengan peradilan
tingkat pertama (inferior court). Faktor ini dengan sendirinya menimbulkan masalah
kewenangan mengadili secara instansional. Perkara yang menjadi kewenangan peradilan
yang lebih rendah, tidak dapat diajukan langsung kepada peradilan yang lebih tinggi.
Sengketa yang harus diselesaikan lebih dahulu oleh peradilan tingkat pertama, tidak dapat
diajukan langsung kepada peradilan banding atau kasasi dan sebaliknya. Apa yang menjadi
kewenangan atau yurisdiksi peradilan yang lebih tinggi, tidak dapat diminta penyelesaiannya
kepada peradilan yang lebih rendah. Ada juga faktor perbedaan atau pembagian yurisdiksi
berdasarkan lingkungan peradilan, yang melahirkan kekuasaan atau kewenangan absolut bagi
masing-masing lingkungan peradilan yang disebut juga atribusi kekuasaan (attributive
competentie, attributive jurisdiction).60 Selain perbedaan lingkungan, ditambah lagi dengan
faktor kewenangan khusus (specific jurisdiction) yang diberikan undang-undang kepada
badan extra judicial, seperti Arbitrase atau Mahkamah Pelayaran. Bahkan masalah yurisdiksi
ini, dapat juga timbul dalam satu lingkungan peradilan, disebabkan faktor wilayah (locality)
59
60

Terrence Ingman, The English Legal Process, Blackstone, London, 1996, hlm.1.
Subekti, Hukum Acara Perdata, Bina Cipta, Jakarta, 1977, hlm.28.

51

yang membatasi kewenangan masing-masing pengadilan dalam lingkungan wilayah hukum


atau daerah hukum tertentu, yang disebut kewenangan relatif atau distribusi kekuasaan
(distributive jurisdiction).
Pada bagian ini fokus pembahasan berkenaan dengan kewenangan mengadili ditinjau
dari segi absolut dan relatif. Sedangkan yang menyangkut kewenangan ditinjau dari faktor
peradilan yang lebih tinggi (superior court) dan yang lebih rendah (inferior court), dibahas
secara singkat.
Tujuan utama membahas yurisdiksi atau kewenangan mengadili, adalah untuk
memberi penjelasan mengenai masalah pengadilan many yang benar dan tepat berwenang
mengadili suatu sengketa atau kasus yang timbul, agar pengajuan dan penyampaiannya
kepada pengadilan tidak keliru. Sebab apabila pengajuannya keliru, mengakibatkan gugatan
tidak dapat diterima atas alasan pengadilan yang dituju, tidak berwenang mengadilinya. Atau
dengan kata lain, gugatan yang diajukan berada di luar yurisdiksi pengadilan tersebut.
Dapat dilihat, permasalahan yurisdiksi mengadili merupakan syarat formil keabsahan
gugatan. Kekeliruan mengajukan gugatan kepada lingkungan peradilan atau pengadilan yang
tidak berwenang, inengakibatkan gugatan salah alamat, sehingga tidak sah dan dinyatakan
tidak dapat diterima atas alasan gugatan yang diajukan tidak termasuk yurisdiksi absolut atau
relatif pengadilan yang bersangkutan.

B. KEKUASAAN ABSOLUT MENGADILI


Ditinjau dari segi kekuasaan absolut atau yurisdiksi absolut mengadili, kedudukan PN
dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Berdasarkan Sistem Pembagian Lingkungan Peradilan, PN Berhadapan dengan
Kewenangan Absolut Lingkungan Peradilan Lain
Menurut amendemen Pasal 24 ayat (2) UUD 1995 dan Pasal 10 ayat (1) UU No. 14
Tahun 1970 sebagaimana diubah dengan UU No. 35 Tahun 1999 dan sekarang diganti
dengan Pasal 2 jo. Pasal 10 ayat (2) UU No. 4 Tahun 2004; Kekuasaan Kehakiman (Judicial
Power) yang berada di bawah Mahkamah Agung (MA), dilakukan dan dilaksanakan oleh
beberapa lingkungan peradilan yang terdiri dari:
a. Peradilan Umum,
b. Peradilan Agama,
c. Peradilan Militer, dan
52

d. Peradilan Tata Usaha Negara.


Keempat lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung ini,
merupakan penyelenggara kekuasaan negara di bidang yudikatif. Oleh karena itu, secara
konstusional bertindak menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan
(to enforce the truth and justice), dalam kedudukannya sebagai pengadilan negara (state
court). Dengan demikian, Pasal 24 ayat (2) UUD dan Pasal 2 jo. Pasal 10 ayat (2) UU No. 4
Tahun 2004 merupakan landasan hukum peradilan negara (state court system) di Indonesia,
yang dibagi dan terpisah berdasarkan yurisdiksi atau separation court system based on
jurisdiction.61
Mengenai sistem pemisahan yurisdiksi dianggap masih relevan dasar-dasar yang
dikemukakan dalam penjelasan Pasal 10 ayat (1) UU No. 14 Tahun 1970:
- didasarkan pada lingkungan kewenangan,
- masing-masing lingkungan memiliki kewenangan mengadili tertentu atau diversity
jurisdiction,
- kewenangan tertentu tersebut, menciptakan terjadinya kewenangan absolut atau
yurisdiksi absolut pada masing-masing lingkungan sesuai dengan subject matter of
jurisdiction,
Oleh karena itu, masing-masing lingkungan hanya berwenang mengadili sebatas kasus
yang dilimpahkan undang-undang kepadanya.
Sepintas lalu, kewenangan masing-masing lingkungan adalah sebagai berikut.
Peradilan Umum sebagaimana yang digariskan Pasal 50 dan Pasal 51 UU No. 2 6Tahun
1986 (Tentang Peradilan Umum) hanya berwenang mengadili perkara:
- pidana (pidana umum dan khusus) dan
- perdata (perdata umum dan niaga).
Peradilan Agama berdasarkan Pasal 49 UU No.7 Tahun 1989 (tentang Peradilan Agama),
hanya berwenang mengadili perkara bagi rakyat yang beragama Islam mengenai:
- perkawinan,
- pewarisan (meliputi wasiat, hibah yang dilakukan berdasarkan hukum Islam),
- wakaf dan shadaqah.
Peradilan TUN, menurut Pasal 47 UU No. 5 Tahun 1986 (tentang Peradilan TUN),
kewenangannya terbatas dan tertentu untuk mengadili sengketa Tata Usaha Negara.
61

M. Yahya Harahap S.H., Beberapa Tinjauan Reformasi Kekuasaan Kehakiman, makalah disampaikan
pada seminar yang diselenggarakan PP IKAHI DKI dan Bandung, Jakarta, 5 Agustus 2002, hlm. 13.

53

Peradilan Militer, sesuai dengan ketentuan Pasal 40 UU No. 31 Tahun 1997, hanya
berwenang mengadili perkara pidana yang terdakwanya terdiri dari prajurit TNI
berdasarkan pangkat tertentu.
Memperhatikan uraian di atas, ditinjau dari segi pembagian lingkungan kekuasaan
kehakiman, undang-undang telah menentukan batas yurisdiksi masing-masing. Sengketa atau
perkara yang dapat diajukan kepada PN sesuai keberadaan dan kedudukannya sebagai
Lingkungan Peradilan Umum, hanya terbatas pada perkara pidana dan perdata. Dalam bidang
perdata, terbatas perdata umum dan niaga, sedang perkara perdata lain mengenai perkawinan
dan warisan bagi yang beragama Islam jatuh menjadi yurisdiksi absolut lingkungan Peradilan
Agama. Begitu juga perkara perdata TUN, tidak termasuk kewenangannya, tetapi menjadi
yurisdiksi absolut lingkungan Peradilan TUN.
Dalam praktik, sering terjadi kekaburan menentukan batas yang jelas dan terang
tentang yurisdiksi absolut, terutama antara peradilan umum pada satu pihak dengan peradilan
agama atau peradilan TUN pada pihak lain. Dapat terjadi, suatu perkara dianggap memenuhi
kategori tertentu, sehingga berdasarkan pembagian kewenangan termasuk yurisdiksi
peradilan agama, namun temyata keliru. Salah satu contoh, putusan MA No. 613K/Sip/197262
yang menyatakan, gugatan atas penguasaan tanpa hak harta-harta Baitulmal adalah yurisdiksi
lingkungan peradilan umum, bukan lingkungan peradilan agama, sebab yang disengketakan
adalah penguasaan tanpa hak, bukan pengurusan harta oleh Baitulmal. Titik singgung
yurisdiksi antara Peradilan Umum dengan Peradilan Agama, disebabkan ketentuan Pasal 50
UU No.7 Tahun 1989. Berdasarkan pasal ini, dalam hal terjadi sengketa milik atau
keperdataan lain dalam perkara harta warisan maupun harta bersama sebagaimana yang
dimaksud Pasal 49, maka khusus mengenai objek yang menjadi sengketa milik tersebut,
harus diputus lebih dahulu oleh pengadilan dalam Lingkungan Peradilan Umum. Begitu juga
halnya dengan Lingkungan Peradilan TUN. Dalam praktik, sering terjadi titik singgung
dengan Peradilan Umum. Zakir A.,63 antara lain mengatakan, sulit memberikan batasan yang
lengkap mengenai keputusan TUN yang dapat menjadi objek gugatanpada PERATUN.
Maksudnya, sangat sulit menentukan keputusan TUN mana, yang masuk yurisdiksi Peradilan
TUN dan yang mana yang tidak. Selanjutnya dikatakan seiring dengan itu, masih sering pula
terjadi permasalahan titik singgung kompetensi antara PERATUN dengan Peradilan Umum,
62

Tanggal 5-3-1973.
Ketua Muda ULDATUN MA RI, dikemukakan dalain Rapat Kerja Teknis MA RI, di Denpasar 2-61997, bejudul "Keputusan TUN Sebagai Objek Gugatan," Himpunan Materi Rapat Kerja Teknis Tahunan 1997,
MA, 1998, hlm. 145.
63

54

yang merupakan problematik tersendiri yang perlu terlebih dahulu dipecahkan sebelum
hakim memeriksa perkara. Bagaimana dengan Lingkungan Peradilan Militer? Sepanjang
mengenai perkara perdata, tidak ada titik singgung antara PN (Peradilan Umum) dengan
Peradilan Militer, sebab yurisdiksi Peradilan Militer hanya terbatas mengenai pidana, tidak
ada di dalamnya bidang perdata. Oleh karena itu, tidak mungkin terjadi titik singgung.
Sehubungan dengan penjelasan di atas dikaitkan dengan titik singgung yang terdapat antara
yurisdiksi Peradilan Umum dengan Peradilan Agama dan Peradilan TUN. Sebelum
mengajukan gugatan harus diteliti lebih dahulu apakah perkara itu termasuk yurisdiksi
absolut PN (Peradilan Umum) atau tidak. Hal itu perlu dilakukan agar pengajuan gugatan
tidak, melanggar batas kompetensi absolut yang digariskan undang-undang. Pelanggaran
batas wewenang yurisdiksi, mengakibatkan gugatan dinyatakan tidak dapat diterima, atas
alasan tidak berwenang mengadili.
2. Kewenangan Absolut Extra Judicial Berdasarkan Yurisdiksi Khusus (Specific
Jurisdiction) oleh Undang-Undang
Selain pengadilan negara yang berada dalam lingkungan kekuasaan kehakiman yang
digariskan amendemen Pasal 24 ayat (2) UUD 1945 dan Pasal 2 jo. Pasal 10 ayat (2) UU
No.4 Tahun 2004, terdapat juga sistem penyelesaian sengketa berdasarkan yurisdiksi khusus
(specific jurisdiction) yang diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan. Sistem dan
badan yang bertindak melakukan penyelesaian itu, disebut peradilan semu atau extra judicial.
Kedudukan dan oraganisasinya berada di luar kekuasaan kehakiman. Meskipun antara badan
itu dengan PN (Peradilan Umum) terdapat koneksitas, tidak menimbulkan hilangnya
pemisahan kewenangan absolut yang dimaksud. Salah satu koneksitas yang paling nyata dan
mendasar, ialah berkenaan dengan pelaksanaan atau eksekusi putusan. Badan-badan tersebut
tidak memiliki kewenangan mengeksekusi putusan yang dijatuhkannya, tetapi diminta
bantuan (judicial assistance) kepada PN. Misalnya, putusan yang dijatuhkan Arbitrase
menurut Pasal 59 UU No. 30 Tahun 1999, harus diminta eksekusinya melalui PN. Namun
demikian, sepanjang mengenai pemeriksaan dan penyelesaian sengketa menjadi yurisdiksi
absolut arbitrase.
Di dalam perundang-undangan, dijumpai beberapa extra judicial yang memiliki
yurisdiksi absolut menyelesaikan jenis sengketa tertentu, seperti yang dijelaskan di bawah ini:
a) Arbitrase
Kedudukan arbitrase dalam sistem hukum Indonesia, telah dikenal sejak masa lalu. Pasal
377 HIR dan Pasal 705 RBG, mengakui eksistensi arbitrase. Menurut ketentuan ini jika orang
55

Indonesia atau Timur Asing menghendaki perselisihan mereka diselesaikan atau diputus oleh
arbitrase (juru pisah), mereka wajib tunduk kepada Rv (Reglement of de Burgerlijke Rechts
Vordering, St. 847-52, jo St. 849-63), sebagaimana yang diatur dalam Buku Ketiga, yang
terdiri dari Pasal 15 s.d. Pasal 651. 64 Selama ini ketentuan Rv tersebut, dianggap sebagai
Undang-Undang Arbitrase Nasional.
Selain itu, Indonesia telah meratifikasi beberapa konvensi arbitrase internasional seperti
berikut.
1) CSID (Convention on the Settlement of Investment Disputes between States and
National of Other States)
Konvensi ini disebut Konvensi Bank Dunia, yang mengatur penyelesaian perselisihan
antar negara dan warga negara asing mengenai penanaman modal. Konvensi ini
diratifikasi Indonesia berdasarkan UU No.5 Tahun 1968.65
2) New York Convention, 1958 (Convention on the Recognition and Enforcement of
Foreign Arbitral Award)
Konvensi ini mengatur pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase asing. Dengan
diratifikasi Konvensi New York 1958 melalui Keppres No. 34 Tahun 1983,
Indonesia wajib mengakui dan mengeksekusi putusan arbitrase yang dijatuhkan di
luar negeri. 66
Pada saat sekarang, kedudukan dan keberadaan Arbitrase dalam sistem hukum
Indonesia diperkokoh oleh UU No. 30 Tahun 1999.67 Undang-undang ini dengan
tegas mengatur yurisdiksi absolut arbitrase:
a. Pasal 3 menyatakan, PN tidak berwenang untuk mengadili sengketa para pihak
yang telah terikat dalam perjanjian arbitrase.
Dalam penjelasan umum (alinea kelima) dikatakan, arbitrase yang diatur dalam
undang-undang ini merupakan cara penyelesaian sengketa di luar peradilan
umum yang didasarkan atas perjanjian tertulis dari pihak yang bersengketa.
b. Pasal 11 mempertegas yurisdiksi absolut arbitrase yang disebut dalam Pasal 3,
yang menyatakan:
-

adanya klausul arbitrase dalam perjanjian, meniadakan hak para pihak untuk
mengajukan penyelesaian sengketa yang termuat dalam perjanjian ke PN,

64

M. Yahya Harahap, Arbitrase, Sinar Grafika, Jakarta, 2001, hlm. 2.


Ibid., hlm. 8.
66
Ibid., hlm. 18.
67
UU tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, 12 Agustus 1999.
65

56

- PN wajib menolak dan tidak campur tangan di dalam penyelesaian sengketa


yang telah ditetapkan melalui arbitrase, kecuali dalam hal tertentu yang
ditetapkan dalam undang-undang ini (misalnya pelaksanaan putusan arbitrase
yang diatur dalam BAB VI (Pasal 59-Pasal 69) dapat diminta kepada PN.
Sebelum UU No. 30 Tahun 1999 keluar, yurisprudensi telah menegaskan, klausul
arbitrase merupakan pacta sunt servanda yang melahirkan yurisdiksi absolut arbitrase.
Alasannya, para pihak sepakat untuk menyelesaikan sengketa yang timbul dari perjanjian
melalui arbitrase, maka berdasarkan Pasal 1338 KUH Perdata kesepakatan itu mutlak
mengikat kepada mereka, sehingga penyelesaiannya tidak dapat dilakukan oleh badan lain,
selain arbitrase. Sikap MA yang menonjolkan doktrin pacta sunt servanda pada klausul
arbitrase, dikemukakan dalam kasus maskapai Asuransi Ramayana.68 Dalam Putusan No. 225
K/Sip/1976,69 MA mengatakan, polis tanggal 10-8-1978 memuat klausul arbitrase yang
menjelaskan sengketa yang timbul dari polis diselesaikan oleh arbitrase. Dengan adanya
klausul tersebut, PN tidak berwenang untuk memeriksa dan mengadilinya. Selanjutnya
dikatakan meskipun klausul arbitrase itu tidak diajukan sebagai eksepsi oleh tergugat, namun
berdasarkan Pasal 134 HIR, hakim berwenang menambah pertimbangan dan alasan hukum
secara ex-officio. Penegasan yang sama dijumpai dalam Putusan MA No. 3179 K/pdt/1984:70
Dalam hal ada klausul arbitrase, PN tidak berwenang memeriksa dan mengadili gugatan
baik dalam konvensi maupun dalam rekonvensi.
Bahwa melepaskan klausul arbitrase harus dilakukan secara tegas dengan suatu
persetujuan yang ditandatangani oleh kedua belah pihak.
Pada dasarnya apa yang disengketakan secara materiil, termasuk yurisdiksi Peradilan
Umum (PN). Akan tetapi secara formil, jatuh menjadi yurisdiksi absolut arbitrase
berdasarkan kesepakatan para pihak. Atas landasan kesepakatan penyelesaian yang
dituangkan para pihak dalam klausul Pasal 3 dan Pasal 11 UU Nomor 30 Tahun 1999
menetapkan secara formil, kewenangan penyelesaiannya ke dalam forum arbitrase. Seperti
yang dikatakan, jauh sebelum lahirnya undang-undang ini, yurisprudensi sendiri telah
menegaskan pendirian yang sama yang menyatakan bahwa: klausul arbitrase menyangkut
kekuasaan absolut untuk menyelesaikan sengketa yang timbul dari perjanjian.71 Dengan
demikian, meskipun secara substansial masalah yang disengketakan merupakan bidang
68

M. Yahya Harahap, Arbitrase, op. cit., hlm. 89.


Tanggal 30-9-1983.
70
Tanggal 4-5-1988, Yurisprudensi Indonesia, 3 MA RI, 1990, hlm. 103.
71
MA No. 225 K/Sip/1976, 30-9-1983, Beberapa Yurisprudensi Perdata yang Penting, MA RI, hlm. 4.
69

57

perdata yang termasuk dalam yurisdiksi PN, namun haknya untuk mengadili sengketa itu,
disingkirkan oleh klausul arbitrase.
b) Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan
Badan ini disingkat P4, keberadaannya dalam sistem hukum Indonesia berdasarkan
UU Nomor 22 Tahun 1957.72 UU ini mengatur yurisdiksi absolut P4. Secara spesifik Pasal 1
huruf c menjelaskan yurisdiksi P4, terbatas mengenai:
- perselisihan perburuhan berupa pertentangan antara majikan atau perkumpulan majikan
dengan serikat buruh atau gabungan serikat buruh,
- pertentangan itu berkenaan dengan tidak adanya persesuaian paham mengenai
hubungan kerja, syarat-syarat kerja, dan/atau keadaan perburuhan.
Sebenarnya, P4 sama dengan arbitrase. Penyelesaian sengketa yang terjadi antara
buruh dan majikan dilakukan di luar pengadilan biasa (ordinary court).
Hanya kedudukan P4, bersifat memaksa (compulsory). Itu sebabnya menurut hukum,
P4 tergolong compulsory arbitration. Apabila terjadi sengketa perburuhan, penyelesaiannya
mesti melalui P4 sebagai Badan Tripartit dengan komposisi, terdiri dari:
- wakil buruh,
- wakil pengusaha, dan
- wakil pemerintah.
Mengenai keberadaan dan yurisdiksi P4 sebagai salah satu extra judicial, ditegaskan
dalam Putusan MANo. 1103K/Sip/1974, 73 bahwa P4D/P4P merupakan badan pengadilan
khusus (specific jurisdiction) yang berwenang memutuskan sengketa perselisihan
perburuhan, sedangkan putusan P4D hanya dapat dibatalkan Menteri Perburuhan (Menteri
Tenaga Kerja), bukan oleh pengadilan. Tidak berwenangnya PN menerima dan
menyelesaikan

sengketa

perburuhan,

dikemukakan

juga

dalam

Putusan

MA

No.592/Sip/1973. 74 Berdasarkan putusan ini, pihak yang kalah dalam forum P4, tidak dapat
meminta kepada PN agar putusan itu dibatalkan atau dinyatakan tidak dapat dilaksanakan.
Selain itu, menurut Pasal 10 UU Nomor 22 Tahun 1957, PN hanya berwenang untuk
menyatakan putusan P4 dapat dijalankan. Dalam Pasal 10 itu telah digariskan batas
kewenangan P4 hanya meliputi:

72

UU tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan, 8 April 1957, LN. 1957.


Tanggal 29-6-1977, Rangkuman Yurisprudensi (RY) MA Indonesia, 11, Hukum Perdata dan Acara
Perdata, Proyek Yurisprudensi MA, 1997, hlm. 297.
74
Tanggal 31-1-1980, Ibid., Rangkuman Yurisprudensi, hlm. 197.
73

58

- pemberian pernyataan, bahwa putusan P4D dapat dijalankan, apabila putusan P4 itu
telah berkekuatan mengikat;
- suatu putusan P4D dianggap mengikat menurut hukum, apabila dalam tempo 14 hari
setelah putusan dijatuhkan, tidak diminta pemeriksaan lelang kepada P4P (Panitia
Pusat);
- pemberian pernyataan dapat dijalankan putusan P4D oleh PN, dilakukan atas
permintaan pihak yang bersangkutan sesuai dengan kompetensi relatif PN tersebut.
Akan tetapi perlu diingat, sengketa mengenai PHK (pemutusan hubungan kerja) yang
dilakukan majikan yang tidak sesuai dengan ketentuan undang-undang dianggap perbuatan
melawan hukum (PMH). Misalnya PHK dilakukan bertentangan dengan UU Nomor 12
Tahun 1964 (Tentang PHK perusahaan swasta) adalah PMH, oleh karena itu jatuh menjadi
yurisdiksi PN. Salah satu contoh, Putusan MA Nomor 981 K/pdt/198375 yang mempertimbangkan, gugatan dalam perkara ini adalah PHK yang dilakukan majikan tanpa izin P4D.
Dengan demikian kasus perkaranya adalah PMH, oleh karena itu, sesuai dengan asas umum,
gugatan perdata mengenai PMH adalah yurisdiksi peradilan umum. Sesuai dengan UndangUndang Nomor 12 Tahun 1964, setiap PHK yang dilakukan majikan, harus lebih dahulu
mendapat izin P4. Ternyata PHK yang dilakukan tanpa izin P4, berarti tindakan itu
merupakan PMH yang tunduk menjadi kewenangan PN. Begitu juga mengenai sengketa uang
lembur, bukan sengketa perburuhan sebagaimana yang dimaksud UU No. 22 Tahun 1957,
tetapi murni PMH. Demikian pertimbangan yang tercantum dalam Putusan MA Nomor
807K/Pdt/1988.76 Dikatakan, masalah yang di sengketakan adalah mengenai uang lembur,
dan pihak pengusaha mengakui adanya uang lembur yang belum dibayar. Dengan demikian
sengketa yang terjadi bukan perselisihan perburuhan yang diatur dengan UU Nomor 22
Tahun 1957 jo. UU Nomor 12 Tahun 1964 tetapi murni PMH, karena itu yang

disengketa-

kan bukan yurisdiksi P4 tetapi kewenangan PN.


Akan tetapi, uraian di atas hanya tinggal sejarah karena dengan diterbitkannya UU
Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial pada tanggal 14
Januari 2004, kewenangan menyelesaikan perselisihan yang timbul antara pengusaha dengan
pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh, jatuh menjadi yurisdiksi absolut Pengadilan
Hubungan Industrial yang bertindak:
- sebagai pengadilan khusus;
75
76

Tanggal 29-12-1984, Varia Peradilan, Tahun III, No. 26, November 1987, hlm. 61.
Tanggal 28-5-1981, Varia Peradilan, Tahun VII, No. 81, Juni 1992, hlm. 8.

59

- kewenangannya memeriksa, mengadili, dan memberikan putusan terhadap perselisihan


hubungan industrial;
- organisasinya dibentuk di Lingkungan Pengadilan Negeri.
Hal itu ditegaskan dalam Pasal 1 angka 17 yang selengkapnya berbunyi:
Pengadilan Hubungan Industrial adalah pengadilan khusus yang di bentuk di
lingkungan pengadilan negeri yang berwenang memeriksa, mengadili, dan memberi
putusan terhadap perselisihan hubungan industrial.
Berdasarkan ketentuan ini, penyelesaian sengketa perselisihan pengusaha dengan
pekerja tidak lagi ditangani P4, tetapi dilakukan oleh Pengadilan Negara (state court) yang
digariskan Pasal 3 UU Nomor 4 Tahun 2004, dengan cara pendudukannya dalam Lingkungan
Peradilan Umum. Dan sesuai dengan ketentuan Pasal 125 UU Nomor 2 Tahun 2004
ditegaskan, dengan berlakunya undang-undang ini, maka UU Nomor 22 Tahun 1957 tentang
Penyelesaian Perselisihan Perburuhan dan UU No. 12 Tahun 1964 tentang Pemutusan
Hubungan Kerja di Perusahaan Swasta, dinyatakan tidak berlaku. Meskipun menurut Pasal
..6, UU Nomor 2 Tahun 2004 ini baru efektif berlaku satu tahun setelah diundangkan
(diundangkan tanggal 14 Januari 2004), hal itu tidak mengurangi makna tentang hapusnya
eksistensi P4 kelak dari sistem hukum nasional pada tanggal 14 Januari 2005.
c) Pengadilan Pajak
Peradilan lain yang memilik1 yurisdiksi khusus adalah Pengadilan Pajak. Semula
diatur dalam UU No. 17 Tahun 1997. Diberi nama Badan Penyelesaian Sengketa Pajak
(BPSP).
Berdasarkan UU Nomor 14 Tahun 2002 (Tentang Pengadilan Pajak):
BPSP dirubah menjadi Pengadilan Pajak,
dengan demikian, Pengadilan Pajak, merupakan lanjutan dari BPSP.
Pada konsiderans huruf d dan e UU Nomor 14 Tahun 2002, dikemukakan alasan
perubahan BPSP menjadi Pengadilan Pajak, antara lain:
keberadaan dan kedudukan BPSP belum merupakan badan peradilan yang berpuncak
kepada MA,
atas alasan itu, perlu dibentuk Pengadilan Pajak yang sesuai dengan Kekuasaan
Kehakiman (judicial power) yang berlaku di Indonesia.
Bertitik tolak dari penjelasan konsiderans ini, pengadilan pajak, termasuk ke dalam
lingkungan kekuasaan kehakiman sebagaimana halnya Peradilan Umum, Peradilan Agama,
Peradilan Militer, dan TUN. Bukan peradilan khusus seperti halnya arbitrase, Panitia
60

Penyelesaian Perselisihan Perburuhan dan Mahkamah Pelayaran. Akan tetapi, oleh karena
dalam amendemen Pasal 24 UUD 1945 maupun dalam Pasal 10 ayat (2) UU Nomor 14
Tahun 2004, tidak dimasukkan sebagai peradilan dalam lingkup kekuasaan kehakiman maka
secara teoretis, dianggap peradilan khusus.
Untuk menempatkan Pengadilan Pajak yang benar-benar berada dalam sistem
kekuasaan kehakiman yang berpuncak kepada MA, BAB III, Bagian Kesepuluh UU ini
mengatur keterkaitan pengadilan pajak dengan MA dalam bentuk pengajuan peninjauan
kembali (PK) terhadap putusan pengadilan pajak:

Pasal 69 jo. Pasal 77 ayat (3), memberi hak kepada para pihak mengajukan peninjauan
kembali kepada MA terhadap putusan Pengadilan Pajak,

Hukum acaranya, berlaku ketentuan yang digariskan dalam UU Nomor 14 Tahun 1985,
sebagaimana di ubah dengan UU No. 5 Tahun 2004.
Mengenai yurisdiksi khusus Pengadilan Pajak diatur dalam Pasal 31 ayat (1). Menurut

pasal ini, pengadilan pajak mempunyai tugas dan wewenang memeriksa dan memutuskan
sengketa pajak. Dengan demikian, yurisdiksi absolut Pengadilan Pajak, hanya sebatas
mengenai sengketa pajak.
Di atas dikatakan, undang-undang ini bertujuan menempatkan pengadilan pajak
berada dalam sistem kekuasaan kehakiman yang berpuncak kepada MA. Ternyata tidak
sepenuhnya keinginan itu diminati secara sungguh-sungguh, tetapi hanya setengah hati.
Berdasarkan Pasal 5, keberadaan dan kedudukan Pengadilan Pajak di bawah MA tidak
bersifat total, sebagaimana yang digariskan Pasal 13 ayat (1) UU No. 4 Tahun 2004, atas
alasan: menurut Pasal 5 ayat (1) UU Nomor 14 Tahun 2002, keberadaan Pengadilan Pajak di
bawah MA, hanya terbatas pada pembinaan dan pengurusan teknis yustisial, sedang menurut
Pasal 5 ayat (2) yang menyangkut pembinaan organisasi, administrasi dan finansial dilakukan
Departemen Keuangan, padahal Pasal 13 ayat (1) UU Nomor 4 Tahun 2004, telah menghapus
sistem dualistik yang diatur Pasal 11 UU Nomor 14 Tahun 1970, dan menempatkan
pembinaan dan pengawasan semua badan peradilan berada secara total di bawah MA,
meliputi pembinaan dan pengawasan teknis yustisial maupun organisasi, administrasi dan
finansial. Kalau begitu, kembalinya dianut sistem dalam UU Nomor 14 Tahun 2002, yang
menempatkan cap dan simbol eksekutif (dalam hal ini Departemen Keuangan) pada
Pengadilan Pajak, dapat dinilai sebagai langkah mundur.
d) Mahkamah Pelayaran
61

Badan ini diatur dalam Ordonansi Majelis Pelayaran, St. 1934-215 (27 April 1934),
jo. St. 1938-2. Yurisdiksi khususnya diatur dalam Pasal

1, meliputi kewenangan:

memeriksa dan memutus perkara yang timbul dari Pasal 25 ayat (4),(7),(8) dan (11)
Ordonansi Kapal 1935 (St. 1939-66),

memeriksa dan memutus peristiwa yang disebut Pasal 373 a KUHD yaitu nakhkoda
yang melakukan tindakan yang tidak senonoh terhadap kapal, muatan atau
penumpang;

memeriksa dan/atau memutus semua hal yang oleh suatu peraturan perundangundangan dibebankan kepada mahkamah pelayaran.
Susunan mahkamah pelayaran, semula diatur dalam Pasal 2 Ordonansi dimaksud.

Terakhir, berdasar Keputusan Menteri Perhubungan Laut (Menperla) Tanggal 18 Februari


1964, Nomor Kab 4/4/24, terdiri dari:

4 nakhoda atau bekas nakhoda pelayaran niaga atau perwira TNI AL sebagai anggota,

Seorang ahli mesin kapal atau perwira teknik AL sebagai anggota,

Seorang Sarjana Hukum sebagai anggota,

Seorang sekretaris, bukan anggota,

Ketua diangkat Menteri dan anggota Mahkamah Pelayaran.

Demikian gambaran singkat yurisdiksi absolut yang berada di sekitar Peradilan Umum
(PN) dalam menyelesaikan perkara perdata. Segala sesuatu sengketa yang masuk dalam
yurisdiksi absolut lingkungan peradilan lain maupun yang menjadi yurisdiksi absolut badan
extra judicial, berada di luar kewenangan PN untuk memeriksa dan mengadilinya. Oleh
karena itu, secara absolut PN harus menyatakan diri tidak berwenang untuk mengadilinya.
3. Kewenangan Absolut Berdasar Faktor Instansional
Faktor lain yang menjadi dasar terbentuk kewenangan absolut mengadili, adalah faktor
instansional77 Pasal 10 ayat (3), Pasal 19 dan Pasal 20 UU No.14 Tahun 1970 (sebagaimana
diubah dengan UU Nomor 35 Tahun 1999), dan sekarang berdasar Pasal 21 dan Pasal 22 UU
No.4 tahun 2004 memperkenalkan sistem instansional penyelesaian perkara:
a. Pengadilan Tingkat Pertama
Menurut Pasal 3 UU No.2 Tahun 1986, kekuasaan kehakiman di lingkungan Peradilan
Umum, terdiri dari :

77

Subekti, op. cit., hlm. 28.

62

1) Pengadilan Negeri (PN), dan


2) Pengadilan Tinggi (PT).
Selanjutnya Pasal 6 Pasal 50 mengatakan:
PN merupakan pengadilan tingkat pertama;
PN sebagai pengadilan tingkat pertama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus
dan menyelesaikan perkara pidana dan perdata di tingkat pertama,
PN berkedudukan di Kotamadya atau ibukota Kabupaten.
Dengan demikian secara instansional, PN sebagai pengadilan tingkat pertama, secara
absolut hanya berwenang memeriksa dan menyelesaikan perkara perdata pada tingkat
pertama. Dalam kedudukan itu, semua penyelesaian perkara, berawal dari PN sebagai
pengadilan tingkat pertama.78
b. Pengadilan Tingkat Banding
Menurut Pasal 19 UU No.14 Tahun 1970 sebagaimana diubah dengan UU No. Tahun
1999 dan sekarang berdasarkan Pasal 21 ayat (1) UU No. 4 Tahun 2004, semua putusan
pengadilan pertama dapat diminta banding. Pasal tersebut memperkenalkan adanya instansi
pengadilan tingkat banding. Selanjutnya Pasal 6 UU No. 2 Tahun 1986 mengatur, yang
bertindak sebagai instansi pengadilan tingkat banding adalah Pengadilan Tinggi, yang
berkedudukan di ibukota provinsi (P4 ayat (2)). Kekuasaan PT sebagai pengadilan tingkat
banding menurut Pasal 15 ayat (1) UU No.2 Tahun 1986, bertugas dan berwenang mengadili
perkara pidana dan perdata tingkat banding atas segala putusan yang dijatuhkan PN dalam
tingkat pertama. Dengan demikian, fungsi dan kewenangan PT sebagai pengadilan tingkat
banding melakukan koreksi terhadap putusan PN apabila terhadap putusan itu dimintakan
banding oleh pihak yang berperkara.
Fungsi dan kewenangan mengadili perkara atas putusan PN pada tingkat pertama oleh
PT pada tingkat banding, secara instansional merupakan kewenangan absolut PT.
c. Pengadilan Kasasi
Pengadilan kasasi atau tingkat kasasi menurut Pasal 22 UU No. 4 Tahun 2004 dilakukan
oleh MA. Pasal ini mengatakan, terhadap putusan pengadilan dalam tingkat banding, dapat
dimintakan kasasi kepada MA oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Ketentuan ini sama
dengan yang digariskan Pasal 11 ayat (2) huruf a UU tersebut yang mengatakan, terhadap
putusan-putusan yang diberikan tingkat terakhir oleh pengadilan-pengadilan lain dari MA,
kasasi dapat dimintakan pada MA. Apa yang diatur dalam UU itu, dipertegas lagi dalam UU
78

Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty, Yogyakarta, 1998, hlm. 57.

63

No.14 Tahun 1985 sebagaimana diubah dengan UU No. 5 Tahun 2004. Pada Pasal 28 ayat
(1) huruf a mengatakan, salah satu kekuasaaan MA, bertugas dan berwenang memeriksa dan
memutuskan permohonan kasasi. Selanjutnya Pasal 29

mengatakan, memutuskan

permohonan kasasi terhadap putusan pengadilan tingkat banding pada tingkat terakhir dari
semua lingkungan peradilan.
Dari uraian tersebut, UU sendiri telah menentukan batas kewenangan absolut masingmasing pengadilan secara instansional. PN sebagai pengadilan instansi pertama, hanya
berwenang mengadili perkara pada pengadilan tingkat pertama, dan PT terbatas mengadili
pada tingkat banding, sedangkan MA hanya berwenang mengadili pada tingkat kasasi.
C. KEWENANGAN RELATIF PN
Setiap PN terbatas daerah hukumnya. Hal itu sesuai dengan kedudukan PN, hanya
berada pada wilayah tertentu. Menurut Pasal 4 ayat (1) UU No.2 Tahun 1986:

PN berkedudukan di Kotamadya atau di ibukota Kabupaten, dan

Daerah hukumnya, meliputi wilayah Kotamadya atau Kabupaten yang bersangkutan.


Berdasarkan pasal itu, kewenangan mengadili PN hanya terbatas pada daerah

hukumnya, di luar itu tidak berwenang. Daerah hukum masing-masing PN hanya meliputi
wilayah Kotamadya atau Kabupaten, tempat dia berada dan berkedudukan. PN yang
berkedudukan di Kabupaten Bekasi, daerah hukumnya terbatas meliputi wilayah Kabupaten
Bekasi. Tegasnya, daerah hukum yang menjadi kewenangan setiap PN mengadili perkara,
sama dengan wilayah Kotamadya atau Kabupaten, di tempat dia berada atau berkedudukan.
Tempat kedudukan daerah hukum, menentukan batas kompetensi relatif mengadili
bagi setiap PN. Meskipun perkara yang disengketakan termasuk yurisdiksi absolut
lingkungan Peradilan Umum, sehingga secara absolut PN berwenang mengadilinya, namun
kewenangan absolut itu, dibatasi oleh kewenangan mengadili secara relatif. Jika perkara yang
terjadi berada di luar daerah hukumnya, secara relatif PN tersebut tidak berwenang
mengadilinya. Apabila terjadi pelampauan batas daerah hukum, berarti PN yang
bersangkutan melakukan tindakan melampaui batas kewenangan (exceeding its power).
Tindakan itu berakibat periksaan dan putusan yang dijatuhkan dalam perkara itu tidak sah.
Oleh karena itu, harus dibatalkan atas alasan pemeriksaan dan putusan yang dijatuhkan
dilakukan oleh PN yang tidak berwenang untuk itu.
Patokan menentukan kewenangan mengadili dihubungkan dengan batas daerah
hukum PN, merujuk kepada ketentuan Pasal 118 HIR (Pasal 142 RBG). Akan tetapi, untuk
64

memperjelas pembahasannya, sengaja berorientasi juga kepada Pasal 99 Rv. Berdasarkan


ketentuan-ketentuan itu dapat dijelaskan beberapa patokan menentukan kompetensi relatif.
Sehubungan dengan itu agar pengajuan gugatan tidak salah dan keliru, harus diperhatikan
patokan yang ditentukan undang-undang seperti yang dijelaskan berikut ini.
1. Actor Sequitur Forum Rei (Actor Rei Forum Sequitur)
Patokan ini digariskan Pasal 118 ayat (1) HIR yang menegaskan:

yang berwenang mengadili suatu perkara adalah PN tempat tinggal tergugat

oleh karena itu, agar gugatan yang diajukan penggugat tidak melanggar batas kompetensi
relatif, gugatan harus diajukan dan dimasukkan kepada PN yang berkedudukan di
wilayah atau daerah hukum tempat tinggal tergugat.
Mengajukan gugatan kepada PN di luar wilayah tempat tinggal tergugat, tidak

dibenarkan. Dianggap sebagai pemerkosaan hukum terhadap kepentingan tergugat dalam


membela diri. Rasio penegakan patokan actor sequitur forum rei atau forum domisili,
bertujuan untuk melindungi tergugat. Siapa pun tidak dilarang menggugat seseorang, tetapi
kepentingan tergugat harus dilindungi denga n cara melakukan pemeriksaan di PN tempat
tinggalnya, bukan di tempat tinggal penggugat. Kalau patokannya tempat tinggal penggugat,
dapat menimbulkan kesengsaraan dan kesulitan kepada tergugat, apabila tempat tinggal
penggugat jauh dari tempat tinggal tergugat. Misalnya, penggugat bertempat

tinggal

di

Medan, menggugat seseorang yang bertempat tinggal di Surabaya. Jika patokan kompetensi
relatif didasarkan pada tempat tinggal penggugat, berarti tergugat yang berdomisili di
Surabaya, harus tampil dan hadir menghadap di PN Medan. Hal ini dianggap tidak adil. Yang
wajar, seseorang yang mengajukan gugatan kepada orang lain, harus berani berhadapan
dengan orang itu di tempat kediaman tergugat.
a. Yang Dimaksud Tempat Tinggal Tergugat
Menurut hukum, yang dianggap sebagai tempat tinggal seseorang meliputi:
tempat kediaman, atau
tempat alamat tertentu, atau
tempat kediaman sebenarnya.
Yang dimaksud kediaman sebenarnya atau sebenarnya berdiam adalah tempat secara
nyata tinggal. Ketentuan ini perlu untuk mengantisipasi ahli waris yang tidak diketahui
tempat tinggalnya. Dalam hal yang demikian gugatan cukup ditujukan kepada PN tempat
tinggal sebenarnya dari pewaris.
b. Sumber Menentukan Tempat Tinggal Tergugat
65

Yang sah dan resmi dijadikan sumber menentukan tempat tinggal tergugat, terdiri dari
beberapa jenis akta atau dokumen. Yang terpenting diantaranya:
berdasarkan KTP,
Kartu Rumah Tangga,
Surat Pajak, dan
Anggaran Dasar Perseroan.
c. Perubahan Tempat Tinggal Setelah Gugat Diajukan
Apabila terjadi perubahan tempat tinggal, setelah gugatan diajukan:
Tidak mempengaruhi keabsahan gugatan ditinjau dari segi

kompetensi relatif,

Hal ini demi menjamin kepastian hukum (legal certainty) dan melindungi kepentingan
penggugat dari kesewenangan dan iktikad buruk tergugat.
Apabila hukum membenarkan bahwa perubahan alamat mempengaruhi keabsahan
gugatan secara relatif, hal itu dapat dimanfaatkan tergugat dengan berpindah tempat tinggal
ke wilayah PN lain, agar gugatan tidak sah. Tindakan ini mengandung kesewenangan, dan
tidak dapat dibenarkan. Oleh karena itu, perubahan tempat tinggal setelah gugatan diajukan,
tidak mengubah kompetensi relatif semula.
d. Diajukan kepada Salah Satu Tempat Tinggal Tergugat
Apabila tergugat memiliki dua atau lebih tempat tinggal yang jelas dan resmi, gugatan
dapat diajukan penggugat kepada salah satu PN, sesuai dengan daerah hukum tempat tinggal
tersebut. Penerapan kompetensi relatif dalam hal tergugat memiliki dua atau lebih tempat
tinggal atau kediaman yang jelas, dapat diajukan kepada salah satu PN, ditegaskan dalam
Putusan MA No. 604 K/pdt/1984 (28-9-1985). Dikatakan, bahwa berdasarkan bukti yang
diajukan penggugat dan tergugat, ditemukan fakta yang membuktikan tergugat mempunyai
dua tempat kediaman yang jelas. Sehubungan dengan itu, tidak ada larangan bagi penggugat
memilih salah satu tempat tinggal tergugat yang paling menguntungkan baginya. Oleh karena
itu, gugatan yang diajukan penggugat pada salah satu PN tersebut, tidak melanggar asas actor
sequitur forum rei yang digariskan Pasal 118 ayat (1) HIR.
e. Detensi Relatif Tidak Didasarkan Atas Kejadian Peristiwa yang Disengketakan
Seperti yang sudah dijelaskan, Pasal 118 ayat (1) HIR telah menetapkan kompetensi
relatif PN mengadili suatu perkara, berdasarkan tempat tinggal (actor sequitur forum rei)
Patokannya bukan locus delicti seperti yang diterapkan dalam perkara pidana. Dalam perkara
pidana, patokan kompetensi relatif berdasarkan Pasal 84(1) KUHAP, bukan tempat tinggal
terdakwa, tetapi di PN yang meliputi daerah hukum tempat terjadinya peristiwa pidana (locus
66

delicti). Dengan demikian, sangat keliru penerapan yang mendasarkan patokan kompetensi
relatif PN mengadili perkara perdata, bertitik tolak dari tempat terjadinya peristiwa yang
disengketakan. Kesalahan itu ditegaskan dalam Putusan MA No. 312 K/Sip/1974.79
Dikatakan pertimbangan pengadilan tingkat pertama (PN) yang mengatakan secara relatif
berwenang mengadili perkara atas dasar karena peristiwa-peristiwa yang menjadi dasar
gugatan terjadi di daerah hukum PN Bandung, tidak sesuai dengan ketentuan yang digariskan
Pasal 118 HIR.
Namun, jika ditinjau dari doktrin appropriate forum, putusan di atas dianggap bersikap
sempit (strict law). Menurut doktrin appropriate forum, jika terdapat faktor-faktor koneksitas
(connecting factors) yang menimbulkan keadaan PN tempat terjadinya peristiwa perkara
dianggap lebih layak (most appropriate) dengan PN tempat tinggal tergugat, maka PN tempat
terjadinya peristiwa dianggap lebih berwenang mengadilinya. Tentang hal ini akan
dibicarakan pada bagian lain dalam bab ini.
f. Penerapan Asas Actor Sequitur Forum Rei Apabila Objek Sengketa Benda
Bergerak dan Tuntutan Ganti Kerugian Atas Perbuatan Melawan Hukum
Memang hal ini tidak disebut secara tegas dalam Pasal 118 ayat (1) HIR, hal itu
disimpulkan jika ketentuan ini dihubungkan dengan Pasal 118 ayat (3) yang menegaskan,
apabila objek gugatan barang tidak bergerak, PN yang berwenang mengadili adalah PN yang
di daerah hukumnya barang tersebut terletak. Sehubungan dengan itu, penerapan yurisdiksi
relatif berdasarkan tempat tinggal tergugat (actor sequitur forum rei), terbatas dalam perkara
yang menyangkut objek barang bergerak. Di dalam Rv, hal itu disebut dengan tegas dalam
Pasal 99 ayat (1) yang berbunyi:
Seorang tergugat dalam perkara pribadi yang murni mengenai benda-benda -_: dituntut
di hadapan hakim di tempat tinggalnya 80
Penerapan asas ini dihubungkan dengan objek benda bergerak, tidak ditafsirkan secara
sempit. Penerapannya meliputi tuntutan ganti kerugian yang timbul dari Perbuatan Melawan
Hukum (PMH) berdasarkan Pasal 1365 KUH Perdata. Meskipun perbuatan melawan hukum
itu timbul dari objek benda tidak bergerak, yurisdiksi relatif penyelesaian sengketa, tetap
berdasarkan actor sequitur forum rei yang digariskan Pasal 118 ayat (1) HIR, bukan
berdasarkan tempat terletak barang (forum rei sitae) yang diatur dalam Pasal 118 ayat (3)

79
80

Tanggal 19-8-1975, Rangkuman Yurisprudensi, op. cit., h1m. 174.


Engelbrecht, Himpunan Perundang-undangan RI, Internusa, Jakarta, hlm. 614.

67

HIR. Penerapan yang demikian, ditegaskan dalam Putusan MA No.2558 K/Pdt/1984.81


Menurut putusan ini, oleh karena yang disengketakan bukan mengenai benda tetap (barang
tidak bergerak), melainkan tentang ganti kerugian atas dasar perbuatan melawan hukum
(PMH) kebun penggugat terbakar, maka sesuai dengan ketentuan Pasal 42 ayat (1) RBG
(sama dengan Pasal 118 ayat (1) HIR), kompetensi relatif yang harus ditegakkan dalam
penyelesaian perkara, berdasarkan asas actor sequitur forum rei, bukan asas forum rei sitae
(letak barang) yang digariskan Pasal 142 (4) RBG (Pasal 118 ayat (3) HIR).
2. Actor Sequitur Forum Rei dengan Hak Opsi
Ketentuan penerapan asas actor sequitur forum rei yang memberi hak opsi pada
penggugat memilih salah satu PN, diatur dalam Pasal 118 ayat (2) HIR, kalimat pertama,
yang menegaskan:
Jika tergugat lebih dari seorang, sedangkan mereka tidak tinggal di dalam itu,
dimajukan kepada ketua pengadilan negeri di tempat salah seorang dari tergugat itu,
yang dipilih oleh penggugat.82
Ketentuan tersebut sama dengan Pasal 99 ayat (6) Rv. Bahkan rumusan Rv lebih jelas,
yang berbunyi:
Dalam hal ada beberapa tergugat, di hadapan hakim di tempat tinggal salah satu
tergugat atas pilihan penggugat.83
Bertitik dari ketentuan itu, kepada penggugat diberi hak opsi pengajuan gugatan berdasarkan
asas actor sequitur forum rei dengan acuan penerapan:
Tergugat yang ditarik sebagai pihak, terdiri dari beberapa orang (lebih dari satu orang);
Masing-masing tergugat, bertempat tinggal di daerah hukum PN yang berbeda.
Misalnya, A bertempat tinggal di daerah hukum PN Bogor, B di daerah hukum PN
Sukabumi, dan C di daerah hukum PN Yogyakarta;
Dalam kasus yang seperti ini, undang-undang memberi hak opsi kepada penggugat untuk
memilih salah satu PN yang dianggapnya paling menguntungkan. Gugatan dapat
diajukan ke PN Bogor, PN Sukabumi, atau Yogyakarta.
Menghadapi kasus yang seperti ini, penggugat tidak diharuskan mengajukan gugatan
kepada masing-masing tergugat secara terpisah dan berdiri sendiri kepada setiap PN sesuai
dengan asas actor sequitur forum rei. Gugatan sah diakumulasi kepada semua tergugat, dan

81

Tanggal 20-1-1986, Varia Peradilan, Tahun II, No. 16, Januari 1987, hlm. 25.
R. Soesilo, RIB/HIR dengan Penjelasan, Politeia, Bogor, 1985, hlm. 77.
83
Op. Cit., Engelbrecht, hlm. 614.
82

68

kompetensi relatifnya dapat diajukan kepada salah satu PN yang dipilih penggugat.
Penerapan yang demikian ditegaskan dalam Putusan MA No. 261 K/Sip/1973. 84 Dikatakan,
apabila tergugat lebih dari satu orang, dan masing-masing bertempat tinggal di daerah hukum
PN yang berbeda, Pasal 11 ayat (2) HIR memberi hak kepada penggugat untuk mengajukan
gugatan di salah satu PN tempat tinggal para tergugat.
Ketentuan ini sangat mendukung asas peradilan sederhana, cepat, dan biaya murah.
Sekiranya undang-undang tidak membolehkan penerapan hak opsi menghadapi beberapa
tergugat yang bertempat tinggal di daerah hukum PN yang berbeda, penggugat terpaksa
menempuh penyelesaian perkara yang berbelit. Bahkan dalam kasus tertentu, tidak mungkin
diselesaikan. Misalnya dalam perjanjian jual-beli. Pembelinya A, sedangkan pihak penjual
terdiri dari B, C, dan D di mana mereka bertempat tinggal di daerah kabupaten yang berbeda.
Apabila timbul sengketa dalam jual-beli itu, B, C, dan D mutlak harus ditarik sebagai pihak
sesuai dengan prinsip kontrak partai (party contract) yang digariskan Pasal 1340 KUH
Perdata. Jika A menggugat B, C, dan D secara terpisah pada masing-masing PN sesuai
dengan tempat tinggal mereka, setiap PN dapat menyatakan gugatan tidak dapat

diterima

atas alasan kurang pihak yang ditarik sebagai tergugat (plurium litis consortium). Selain itu,
penyelesaian suatu perjanjian yang pihaknya terdiri dari beberapa orang, tidak mungkin
diselesaikan secara terpisah berdiri sendiri satu-persatu. Sesuai dengan sifatnya, perjanjian
apa pun bentuknya, hanya dapat diselesaikan secara menyeluruh oleh pihak yang terlibat
secara bersama dan serentak oleh semua pihak.
3. Actor Sequitur Forum Rei Tanpa Hak Opsi, tetapi Berdasarkan Tempat Tinggal
Debitur Principal
Kebalikan dari penerapan actor sequitur forum rei dengan hak opsi adalah tanpa opsi.
Undang-undang tidak memberi hak opsi kepada penggugat, meskipun pihak tergugat terdiri
dari beberapa orang. Ketentuannya diatur pada kalimat kedua Pasal 118

ayat (2) HIR dan

Pasal 99 ayat (6) Rv yang menjelaskan:

dalam hal para tergugat satu sama lain mempunyai hubungan:


-

yang satu berkedudukan sebagai debitur pokok atau debitur principal,

sedangkan yang selebihnya, berkedudukan sebagai penjamin (borgtocht,


guarantor) berdasarkan Pasal 1820 KUH Perdata;

maka dalam kasus yang demikian, kompetensi relatif PN yang berwenang mengadili
perkara adalah:

84

Tanggal 19-8-1975, Rangkuman Yurisprudensi, op. cit., hlm. 174.

69

PN yang daerah hukumnya meliputi tempat tinggal debitur pokok (principal),

kepada penggugat tidak diberi hak mempergunakan hak opsi untuk memilih PN
berdasarkan daerah hukum tempat tinggal penjamin.

Menghadapi kompetensi relatif yang berkenaan dengan sengketa yang timbul antara
kreditur dengan debitur serta penjamin, undang-undang tetap mempertahankan sifat asesor
perjanjian penjaminan, sehingga untuk menentukan kompetensi relatif dalam penyelesaian
sengketa, mutlak berpatokan pada tempat tinggal debitur pokok (principal). Oleh karena itu,
hukum tidak membenarkan pengajuan gugatan kepada PN berdasarkan daerah hukum tempat
tinggal penjamin.
4. PN di Daerah Hukum Tempat Tinggal Penggugat
Pasal 118 ayat (3) HIR kalimat pertama, memberi hak kepada penggugat mengajukan
gugatan kepada PN tempat tinggal penggugat. Kebolehan menerapkan kompentensi relatif
berdasarkan tempat tinggal penggugat, dengan syarat sebagai berikut.
Apabila tempat tinggal atau kediaman tergugat tidak diketahui.
Maksudnya, tempat tinggal atau kediaman tergugat tidak diketahui. Rumusan Pasal 118
ayat (3) HIR mempergunakan juga kata-kata tempat tinggal tergugat tidak dikenal
dianggap tidak rasional. Maksud yang sebenarnya, tempat tinggal tidak diketahui.
Sebab seperti yang dikatakan Subekti, tidak mungkin menggugat orang yang tidak
dikenal.85 Sedangkan menggugat orang yang tidak diketahui tempat tinggalnya dapat
dilakukan. Pasal 390 ayat (3) HIR, telah mengatur tata cara pemanggilannya melalui
panggilan umum oleh walikota atau bupati.
Penerapan ketentuan ini, tidak boleh dimanipulasi penggugat.
Agar penerapan yang memberi hak bagi penggugat mengajukan gugatan PN, di tempat
tingal penggugat, perlu diikuti dengan Surat keterangan dari pejabat yang berwenang, yang
menyatakan tempat tinggal tergugat tidak diketahui. Yang dianggap paling objektif dan
kompeten mengeluarkan surat keterangan tentang itu adalah kepala desa tempat terakhir
tergugat bertempat tinggal.
Ketentuan mengenai kebolehan penerapan ini, lebih jelas diatur dalam Pasal 9 ayat (3)
Rv, yang berbunyi: Jika ia (tergugat) tidak mempunyai tempat tinggal yang diakui, di
hadapan hakim di tempat tinggal penggugat.86

85
86

Ibid., hlm. 31.


Engelbrecht, op. cit., hlm. 614.

70

Penerapan ketentuan ini beralasan, dan efektif mengatasi tergugat yang beriktikad untuk
menghilangkan jejak tempat tinggalnya. Karena dengan ketentuan ini, undang-undang
membuka jalan bagi penggugat membela dan mempertahankan haknya melalui pengadilan,
meskipun tergugat tidak diketahui tempat tinggalnya, berpatokan pada yurisdiksi relatif PN di
daerah hukum tempat tinggal penggugat. Dengan demikian dalam kasus tempat tinggal
tergugat tidak diketahui pasti, kompetensi relatif didasarkan asas actor sequitur forum rei
yang digariskan Pasal 118 ayat (1) HIR, disingkirkan oleh Pasal 118 ayat (3) HIR.
Penerapan kompetensi relatif berdasarkan tempat tinggal penggugat, dapat diikuti dengan
hak opsi. Apabila pihak penggugat terdiri dari beberapa orang dan mereka bertempat tinggal
dalam beberapa wilayah hukum PN yang berbeda, para penggugat dapat memilih salah satu
PN yang mereka anggap paling efektif dan efisien.
5. Forum Rei Sitae (Tempat Barang Sengketa)
Makna forum rei sitae, gugatan diajukan kepada PN berdasarkan patokan tempat terletak
benda tidak bergerak yang menjadi objek sengketa. Penggarisan forum ini, diatur dalam Pasal
118 ayat (3) HIR kalimat terakhir, yang berbunyi:
atau kalau tuntutan itu tentang barang tetap (tidak bergerak), maka tuntutan itu diajukan
kepada ketua pengadilan negeri yang dalam daerah hukumnya terletak barang itu.87
Ketentuan pasal ini sama dengan Pasal 142 ayat (5) RBG yang menjelaskan:
Dalam gugatannya mengenai barang tetap maka gugatan diajukan kepada ketua pengadilan
negeri di wilayah letak barang tetap tersebut, jika barang tetap itu terletak di dalam wilayah
beberapa pengadilan negeri, gugatan diajukan kepada salah satu ketua pengadilan negeri
tersebut atas pilihan penggugat.88
Apa yang digariskan dalam Pasal 142 ayat (5) RBG, diatur dalam Pasal 99 ayat (8) dan
(9) Rv:

apabila gugatan mengenai sengketa hak atas benda tetap, gugatan diajukan
berdasarkan forum rei sitae yakni kepada PN meliputi daerah hukum tempat terletak
barang tersebut;

apabila benda tetap yang digugat terletak di beberapa wilayah hukum PN yang
berbeda, gugatan dapat diajukan kepada salah satu PN atas pilihan menggugat.

Memperhatikan ketentuan pasal-pasal di atas, dapat disimpulkan:

87
88

Ibid., hlm.715.
Ibid., hlm.739.

71

menentukan yurisdiksi relatif atau kompetensi relatif sengketa atas benda tetap
berpatokan pada letak benda yang bersangkutan. Berdasarkan patokan itu, PN yang
berwenang mengadilinya, adalah PN yang meliputi daerah hukum tempat terletak
benda itu;
apabila benda tetap yang disengketakan terdiri dari beberapa buah, dan masingmasing terletak di daerah hukum PN yang berbeda, penggugat mempunyai hak opsi
untuk mengajukan gugatan pada salah satu PN yang dianggapnya paling
menguntungkan.
Penerapan yang dikemukakan tersebut, dijelaskan dalarn putusan MA No. 1382
K/sip/97189 yang memuat pertimbangan, karena sawah dan kebun yang menjadi objek
gugatan terletak di luar wilayah hukum PN Takalar, maka PN tersebut tidak berwenang
mengadilinya, oleh karena itu gugatan harus dinyatakan tidak dapat diterima. Mengenai
penerapan kalimat terakhir Pasal 118 ayat (3) HIR, telah menimbul perbedaan penafsiran.
Ada yang berpendapat, penerapan kompetensi relatif berdasarkan letak Benda tetap,
tergantung pada syarat:
-

Tempat tinggal tergugat tidak diketahui, dan

objek sengketa terdiri dari benda tetap.

Hanya dalam keadaan yang demikian dapat dibenarkan penerapan kompetensi relatif
berdasarkan forum rei sitae (PN yang berwenang didasarkan pada letak (anda tetap). Jika
tempat tinggal tergugat diketahui, patokan menentukan kompetensi relatif, tetap berdasarkan
actor sequitur forum rei, meskipun objek sengketa yang diperkarakan terdiri dari benda tetap.
Pendapat ini dikemukakan oleh MA dalam Buku Pedoman Pelaksanaan Tugas.90
Pendapat kedua, memisahkan patokan yang tegas antara kompetensi relatif berdasarkan
tempat tinggal tergugat tidak diketahui dengan objek benda tetap, dengan acuan penerapan:
apabila tempat tinggal tergugat tidak diketahui, PN yang berwenang didasarkan:
pada letak tempat tinggal penggugat, dan
apabila objek sengketa terdiri dari benda tetap, menentukan PN yang berwenang mengadili
didasarkan pada tempat letak benda tetap tersebut tanpa mengaitkan dengan syarat tempat
tinggal tergugat.

89
90

tanggal 4-11-1975, op. cit., Rangkuman Yurisprudensi, hlm. 174.


Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan, Buku II, MA RI, Jakarta, April 1994, hlm.

116.

72

Oleh karena itu, meskipun tempat tinggal tergugat diketahui, jika objek gugatan benda
tetap, gugatan harus diajukan kepada PN berdasarkan asas forum rei sitae.
Pendapat yang kedua ini dianggap Subekti lebih rasional.91

Kalau tidak keliru,

Soepomo berpendapat demikian. Hal itu dapat disimpulkan dari kalimat:


Jika gugatannya mengenai barang tak bergerak (misalnya tanah), maka gugatan diajukan
kepada Ketua Pengadilan Negeri dalam daerah hukumnya barang itu terletak.92
Perbedaann penafsiran ini, dapat menimbulkan ketidakpastian. Jika berpegang pertama,
kalau tempat tinggal tergugat diketahui, mutlak diterapkan kompentensi relatif berdasarkan
actor sequitur forum rei meskipun objek sengketa terdiri dari benda tetap. Bila penggugat
mengajukan gugatan kepada PN berdasarkan forum rei sitae, gugatan terancam tidak dapat
diterima atas alasan melanggar kewenangan relatif. Sebaliknya diajukan, ketua pengadilan
gugatan terancam tidak dapat diterima atas alasan melanggat kewenangan relatif. Sebaliknya,
jika berpegang pada pendapat kedua, objek gugatan benda tetap, mutlak ditegakkan asas
forum rei sitae, meskipun tempat tinggal tergugat diketahui. Akibatnya, jika gugatan diajukan
kepada PN di daerah hukum tempat tinggal tergugat, gugatan dinyatakan tidak dapat diterima
atas alasan melanggar kompetensi relatif. Untuk menghindari cara mengadili yang seperti itu,
perlu dibina keseragaman opini hukum (unified legal opinion) di kalangan praktisi hukum.
6. Kompetensi Relatif Berdasarkan Pemilihan Domisili
Menurut Pasal 118 ayat (4) HIR, para pihak dalam perjanjian dapat menyepakati domisili
pilihan yang berisi klausul, sepakat memilih YIN tertentu yang akan berwenang
menyelesaikan sengketa yang timbul dari perjanjian. Pencantuman klausul harus berbentuk
akta tertulis:
dapat langsung dicantumkan sebagai klausul dalam perjanjian pokok, atau
dituangkan dalam akta tersendiri yang terpisah dari perjanjian pokok.
Mengenai penerapan domisili pilihan harus benar-benar didasarkan pada rumusan 18 ayat (4)
HIR itu sendiri, seperti yang dijelaskan di bawah ini.
a. Domisili Pilihan Tidak Mutlak Menyingkirkan Asas Actor Sequitur Forum Rei
Persetujuan para pihak mengenai pilihan domisili, pada prinsipnya tunduk keada asas
kebebasan berkontrak (freedom of contract) yang digariskan Pasal 1338 KUH Perdata. Oleh
karena itu, kesepakatan tersebut mengikat (binding) kepada para pihak untuk menaati dan
melaksanakan. Namun demikian, ketentuan Pasal 118 ayat (4) HIR itu sendiri, membatasi
91
92

Subekti, op.cit., hlm. 37.


Soepomo, op. cit., hlm. 23.

73

tingkat derajat kekuatannya. Tidak bersifat mutlak, tetapi bersifat sukarela. Para pihak, dalam
hal ini pihak yang bertindak sebagai penggugat:

jika ia suka atau jika mau dan menghendaki, dapat mengajukan gugatan kepada PN
yang telah dipilih dan disepakati,

dengan demikian, jika penggugat mau atau menghendaki, PN yang memiliki


kompetensi relatif mengadili, didasarkan pada domisili pilihan.
Hal itu dapat ditarik dari bunyi kalimat Pasal 118 ayat (4) HIR yang mengatakan:
...maka penggugat, jika ia suka, dapat memasukkan surat gugatan itu kepada ketua
pengadilan negeri dalam daerah hukum siapa terletak kedudukan yang dipilih itu.
Barangkali tentang hal ini lebih jelas dalam rumusan Pasal 99 ayat (16) Rv93 yang

berbunyi:
Jika ada tempat tinggal pilihan, di hadapan hakim di tempat tinggal pilihan itu atau di
hadapan hakim di tempat tinggal nyata tergugat, atas pilihan penggugat.
b. Kebebasan Memilih pada Pihak Penggugat
Pemilihan domisili kompetensi relatif yang digariskan Pasal 118 ayat (4) HIR, Pasal 142
ayat (4) RBG atau Pasal 99 ayat (16) Rv, berkaitan dengan Pasal 24 KUH Perdata. Substansi
pasal-pasal itu pada dasarnya sama. Bahkan lebih jelas ketentuan yang diatur Pasal 24 KUH
Perdata, yang mengatakan:
Dalam sengketa perdata di muka hakim, kedua belah pihak yang beperkara, bahakan
salah satu pihak berhak dan bebas memilih tempat tinggal lain dari tempat tinggal
mereka yang sebenarnya;
Hak dan kebebasan memilih itu, dituangkan dalam akta:

boleh akta otentik (akta notaris), atau

bisa juga berbentuk akta di bawah tangan (onderhands akta);

sifat pemilihan domisili tersebut:

dapat secara mutlak kekuatan berlakunya mulai dari gugatan sampai dengan
pelaksanaan putusan, atau

dapat juga secara terbatas sesuai dengan yang dikehendaki dan disepakati para pihak;

Dalam hal ada pemilihan domisili, kepada para pihak tetap terbuka pilihan:

untuk memilih PN yang disepakati, atau

memilih PN di tempat mana tergugat bertempat tinggal (actor sequitur forum rei).

93

Engelbrecht, op. cit., hlm. 615.

74

Memperhatikan penjelasan pasal-pasal itu, kesepakatan atas pemilihan domisili, tidak


menyingkirkan prinsip kompetensi relatif berdasarkan tempat tinggal tergugat (actor sequitur
forum rei) yang digariskan Pasal 118 ayat (1) HIR. Bahkan patokan yang digariskan Pasal
118 ayat (1), tetap lebih unggul (prevail) tanpa mengurangi kebolehan mengajukan gugatan
kepada PN menurut pasal-pasal tersebut, atas pilihan penggugat. Jika penggugat mau, dapat
memilih kompetensi relatif berdasarkan domisili pilihan atau berdasarkan tempat tinggal
tergugat.
Kebebasan memilih kompetensi relatif dalam hal ada kesepakatan pilihan domisili,
menurut undang-undang sepenuhnya berada pada pihak penggugat, bukan pada pihak
tergugat. Terserah kepada penggugat untuk menentukan apakah gugatan diajukan kepada PN
di daerah hukum tempat tinggal tergugat atau kepada PN yang disepakati.
c. Terhadap Pilihan Penggugat Tidak Dapat Diajukan Eksepsi
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, kesepakatan atas domisili pilihan yang digariskan
Pasal 118 ayat (4) HIR, tidak -menyingkirkan secara mutlak patokan kompetensi relatif yang
diatur Pasal 118 ayat (1) HIR. Kepada pihak yang bertindak dan mengambil inisiatif sebagai
penggugat, undang-undang memberi kebebasan memilih di antara kompetensi relatif
berdasarkan domisili atau tempat tinggal tergugat.
Bertitik tolak dari kebebasan tersebut, tidak ada dasar hukum bagi tergugat, mengajukan
eksepsi terhadap kompetensi relatif yang dipilih penggugat. Pengadilan tegas menolak
eksepsi yang demikian, atas dasar pengajuan gugatan tidak melanggar. Asas dan sistem
kompetensi relatif yang digariskan Pasal 118 ayat (4) HIR. Oleh karena itu, hakim yang
bersikap menerapkan kompetensi relatif berdasarkan domisili pilihan secara mutlak,
bertentangan dengan undang-undang.
7. Negara atau Pemerintah Dapat Digugat pada Setiap PN
HIR maupun RBG tidak mengatur forum kompetensi relatif suatu perkara, apabila
pemerintah Indonesia bertindak sebagai penggugat atau tergugat mewakili negara. Oleh
karena itu, tidak jelas PN mana yang berwenang mengadilinya, apakah PN Jakarta Pusat atau
dapat diajukan pada setiap PN.
Pada masa yang lalu, Pasal 99 ayat (18) Rv mengatur secara khusus kompentensi relatif
penyelesaian sengketa yang melibatkan negara sebagai pihak atau tergugat. Ketentuan itu
berbunyi:

75

Dalam hal Pemerintah Indonesia mewakili Negara bertindak sebagai penggugat atau
tergugat maka Jakarta dianggap sebagai tempat tinggalnya.94
Apabila berpedoman pada ketentuan tersebut, dikaitkan dengan patokan kompetensi
relatif berdasarkan tempat tinggal tergugat yang digariskan Pasal 118 ayat (1) HIR, jika yang
ditarik sebagai tergugat Pemerintah Indonesia dalam kapasitasnya mewakili negara maka PN
yang berwenang mengadilinya adalah PN Jakarta Pusat.
Apakah ketentuan Pasal 99 ayat (18) Rv, dapat diterapkan? Dapat, berdasarkan process
doelmatigheid ! Akan tetapi, jika ketentuan ini diterapkan secara mutlak dan imperatif pada
masa sekarang, sangat bertentangan dengan asas peradilan sederhana, cepat, dan biaya ringan
yang digariskan Pasal 4 ayat (2) UU No. 4 Tahun 2004. Oleh karena itu dapat didukung
pendapat Subekti,95 bahwa ketentuan Pasal 99 ayat (18) Rv itu "dapat diberlakukan." Akan
tetapi, untuk memberi keleluasaan kepada pencari keadilan mungkin lebih tepat negara
dapat digugat di setiap Pengadilan Negeri di mana perwakilan Departemen yang
bersangkutan berada.
Pendapat itu sangat berdasar, mengingat praktik peradilan sendiri telah mengakui
kedudukan cabang atau perwakilan perseroan atau pemerintahan di daerah sebagai persona
standi in judicio dalam kepastiannya sebagai perwakilan atau kuasa menurut hukum (legal
mandatory, legal representative) dari Kantor Pusat atau Pemerintah Pusat. Dengan demikian
gugatan dapat diajukan kepada PN tempat kedudukan Gubernur, Bupati, Walikota atau
Kanwil, Kepala Dinas.

94
95

Ibid.
Subekti, op. cit., hlm. 38.

76

BAGAN STRUKTUR KEKUASAAN KEHAKIMAN


DI INDONESIA
DEP.
KEHAKIMAN

DEP.
AGAMA

MAHKAMAH AGUNG
(UU. No. 14/1985)

PANGLIMA
ABRI

DEP.
HANKAM

LINGKUNGAN
PERADILAN
UMUM

LINGKUNGAN
PERADILAN
T.U.N

LINGKUNGAN
PERADILAN
AGAMA

LINGKUNGAN
PERADILAN
MILITER

PENGADILAN
TINGGI

PENGADILAN
TINGGI
T.U.N

PENGADILAN
TINGGI
AGAMA

LAKSA
MAHMILGUNG

MAHMILTI
PENGADILAN
NEGERI

(UU No. 2/1986)

PENGADILAN
T.U.N

PENGADILAN
AGAMA

(UU. No. 5/1986)

(UU. No. 7/1989)

MAHKAMAH
MILITER
(UU. No. 28/1997)

Keterangan :
1. DASAR HUKUM : PS. 24 UUD 1945
UU. No. 14/1970
2.

: JALUR TEKNIS JUSTISIAL


: JALUR ORGANISASI

3.

: ADMINISTRASI,
: DAN FINANSIAL.

4. MAHKAMAH AGUNG MEMPUNYAI ORGANISASI, ADMINISTRASI DAN


KEUANGAN SENDIRI.
Menurut No. 35 th 1999, nantinya organisasi, administrasi dan finansial Pengadilan
berada di bawah MA, terlepas dari Departemen masing-masing.

77

Lampiran: Keputusan Pan/Sekjen Mahkamah Agung RI


Nomor : MA/PANSEK/02/SK/ TAHUN 1986
Tanggal : 1 April 1986
BENTUK DAN STRUKTUR ORGANISASI
MAHKAMAH AGUNG - RI
KETUA MAHKAMAH AGUNG - RI

MAJELIS
ULDILMIL/ABRI

TUADA

TUADA
ULDILTUN

TUAD A
U LD ILA G

TUAD A
P ID U M

TUADA
D A T LIS
TUADA
D ATAT

WAKIL KETUA MAHKAMAH AGUNG - RI

PAN/SEKJEN

WAKIL PAN

DIT
PERDATA

DIT
PERDATA
AGAMA

DIT
TUN

DIT
PIDANA

WAKIL SEKJEN

DIT
HUKUM DAN
PERADILAN

BIRO
HUKUM

BIRO
KEU

BIRO
KEPEG
TENAGA
AHLI

Keterangan
: garis koordinasi.
: garis tanggung jawab.
78

HAKIM

YUSTISIAL

BAB VI
PEMERIKSAAN PERKARA DI PERSIDANGAN

A. TUGAS PEJABAT PENGADILAN


1. Hakim
Kekuasaan Kehakiman dalam Lingkungan peradilan umum dilaksanakan oleh
Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung. Hakim diangkat dan
diberhentikan oleh Kepala Negara/Presiden dengan demikian kebebasan kedudukannya
diharapkan terjamin. Asas di lingkungan peradilan umum adalah peradilan oleh ahli-ahli
dalam bidang hukum.
Ingat, pasal 3 ayat (1) UU No. 13/1965 menentukan

bahwa

hakim

adalah

sarjana

hukum. Walaupun dalam UU No. 14/1970 tidak ada ketentuan semacam itu, akan tetapi asas
yang ada dalam pasat 3 ayat (1) UU No. 13/1965 sampai sekarang tetap dipertahankan. Asas
lus curia novit, hakim dianggap tahu akan hukumnya.
Lalu apa yang dimaksud dengan perkara perdata?
Yaitu perkara perdata baik yang mengandung sengketa ataupun yang tidak mengandung
sengketa. Kekuasaan peradilan di perkara perdata meliputi semua sengketa tentang hak milik
atau hak-hak yang timbul karenanya.
Tugas hakim di sini adalah:
a. Mengkonstatroir, yang artinya harus melihat peristiwa hingga dengan demikian hakim
tahu kalau memang ada peristiwa hukum.
b. mengkualifisir, yang artinya hakim harus bisa menggolong-golongkan peristiwanya.
Apakah peristiwa hukum ini masuk ranah perdata atau pidana. Kalau perdata maka
masuk yang mana, apakah perjanjian ataupun sewa-menyewa, atau jual beli dan
sebagainya.
c. mengkonstitoir, yang artinya hakim harus memberikan hukum atau hak. Hingga dengan
demikian hakim tidak boleh menolak perkara yang masuk dan ditanganinya hanya
dengan alasan tidak tahu ataupun tidak ada hukumnya, karena hakim dianggap tahu akan
hukumnya dan ia diharuskan menggali hukum ataupun menemukan hukumnya, dengan
mempertimbangkan bahan hukum yang ada.

79

2. PANITERA
Selain hakim yang memeriksa dan mengadili perkara dalam persidangan, maka ada
pejabat penting lainnya, yaitu panitera (griffer) yang memimpin kepaniteraan. Lain dengan
hakim yang diangkat oleh Presiden. Panitera diangkat oleh Menteri Kehakiman (sekarang
Menkumham). Di dalam menjalankan tugasnya panitera dibantu dengan beberapa panitera
pengganti. Jabatan panitera pengganti ini diangkat Ketua Pengadilan.
Adapun tugas-tugas panitera adalah, mengikuti semua jalannya persidangan dan
mencatat dengan teliti semua kejadian-kejadian di persidangan, hingga dengan demikian
maka akan mempermudah pembuatan proces verbaal atau sering disebut berita acara
persidangan.
Proces verbaal (atau berita acara ini harus ditandatangani oleh Panitera/panitera
pengganti bersama-sama dengan ketua majelis hakim yang memimpin persidangan.
Berita acara ini mempunyai fungsi yang amat penting, kalau saja berita acara ini tidak
ada atau mungkin sangat singkat, maka akan mengganggu jalannya persidangan. Mengapa?
Karena berita acara ini yang nantinya akan dipakai oleh hakim dan atau majelis hakim untuk
membuat dasar-dasar putusan. Apalagi kalau salah satu pihaknya mengajukan banding, maka
selain putusan juga berita acara ini harus dilampirkan dan ikut dikirim ke PengadilanTinggi.
Sesuatu yang harus diingat, bahwa penyelesaian berkas atau minutering yang cepat oteh
panitera akan sangat membantu mengurangi atau mencegah adanya tunggakan perkara.
3. Juru Sita
Selain panitera juga ada pejabat di pengadilan yang disebut deurwaarder atau lebih
dikenal dengan sebutan juru sita. Juru sita inipun diangkat oleh Menkumham (dulu: Menteri
Kehakiman). Pada persidangan juru sita bertugas melaksanakan semua tugas yang diberikan
oleh ketua sidang. Selain itu juga bertugas melakukan pemberitahuan, panggilan, membuat
pengumuman yang berhubungan ataupun tidak berhubungan dengan perkara yang sedang
disidangkan dalam hal-hal yang ditetapkan oleh undang-undang dan menurut acara. Selain itu
Juru sita ini juga bertugas untuk metakukan penyitaan serta membuat berita acara
petaksanaan penyitaan yang dilakukannya. Exploit oleh juru sita harus dari sechrif telijkrelaas, pemberitahuan ini harus disampaikan oleh juru sita kepada yang bersangkutan
pribadi. Namun bila bersangkutan tidak dapat ditemui, maka juru sita menyampaikan
pemberitahuan itu kepada Kepala Desa/Lurah setempat. Kemudian kepada Kepala
Desa/Lurah setempat itu berkewajiban untuk menyampaikan kepada yang bersangkutan.
Walaupun disebutkan berkewajiban, akan tetapi tidak ada sanksinya. Artinya kalau Kepala
80

Desa/Lurah lupa menyampaikan maka kepadanya tidak dikenakan sanksi dan ini akan sangat
merugikan kepada yang bersangkutan, karena ada kemungkinan yang bersangkutan akan
dikalahkan dalam perkara tersebut. Kemudian yang lebih penting lagi, kalau yang
bersangkutan itu telah meninggal dunia, maka pemberitahuan itu harus disampaikan kepada
ahli warisnya.
B. ACARA-ACARA PERSIDANGAN
1. MEDIASI
Pada sidang pertama hakim berkewajiban untuk berusaha mendamaikan para pihak yang
bersengketa. Untuk keperluan ini, maka Ketua Majelis Hakim menunjuk seorang hakim
berusaha mendamaikan dengan cara mediasi. Hakim yang ditunjuk harus melaporkan hasil
kerjanya kepada majelis hakim, apakah perdamaian itu terlaksana atau tidak. Waktu mediasi
ini biasanya diberikan (tiga) minggu atau paling lama sebulan.
Bila perdamaian itu dapat terlaksana, maka majelis hakim akan memberikan putusan
perdamaian. Putusan yang intinya dibuat oleh para pihak sendiri. Untuk putusan perdamaian
ini tidak dapat diajukan banding ataupun kasasi, karena isi putusan itu yang membuat adalah
para pihak sendiri. Namun demikian, andaikan terdapat kebohongan, wanprestasi ataupun
adanya unsur-unsur penipuan yang diketahui pada kelak kemudian hari, maka putusan
perdamaian ini dapat dimintakan banding ataupun perkara dibuka kembali. Tetapi bila
mediasi tidak berhasil, maka hakim mediasi akan mengembalikan perkara ini kepada majelis
hakim, dan tersebut akan diteruskan dalam persidangan, hingga dengan demikian
pemeriksaan perkara dimulai.
2. Pembacaan Gugatan
Walaupun acara ini resmi bernama Pembacaan Gugatan, akan tetapi dalam praktik
Pengadilan Perdata, gugatan jarang sekali dibacakan. Gugatan tertulis hanya diperbanyak
(baca: fotokopi) kemudian dibagi-bagikan kepada Majelis hakim sebanyak hakim pemeriksa,
dan asli dari gugatan tersebut diserahkan kepada ketua majelis hakim. Kemudian juga
dibagikan kepada pengacara/advokat Tergugat atau Tergugat sendiri kalau tidak memakai
kuasa hukum, juga diberikan kepada panitera dan dipakai sendiri untuk pegangan dan arsip
penggugat. Sebenarnya dengan cara praktik yang seperti ini jelas sekali melanggar asas
terbukanya persidangan. Sebab selain mereka-mereka yang berkepentingan, para pengunjung
tidak tahu apa sebenarnya yang tersurat dan tersirat dalam gugatan, hingga demikian
melemahkan kontrol dari publik.
81

Sebelum acara pembacaan gugatan ini, majelis hakim selalu menanyakan kepada
Penggugat/Advokat Penggugat, apakah dalam surat gugatan itu ada ralat atau perubahan
gugatan? Ralat biasanya hanya bertujuan memperbaiki kesalahan ketik hingga tak
mengganggu pengertian.
Sedangkan perubahan gugatan ini, harus memenuhi persyaratan yang berlaku. Gugatan
yang belum dijawab oleh tergugat masih bisa diubah asalkan tidak mengubah petitum atau
menambahkan petitum ataupun fundamentum petendi. Akan tetapi, kalau gugatan telah
dijawab oleh Tergugat, maka perubahan haruslah seijin Tergugat. Apakah perubahan
diperbolehkan atau tidak tergantung dari Tergugat. Sebab dalam

hal ini Tergugat telah

terserang hak-haknya/kehormatannya.
Dengan adanya acara pembacaan gugatan ini, berarti majelis telah memberi kesempatan
sekali kepada Penggugat. Tentang dipergunakan atau tidaknya kesempatan yang telah
diberikan oleh majelis ini terserah kepada Penggugat/kuasanya. Adapun gugatan harus
memenuhi 3 hal yang menjadi isi dari gugatan tersebut:
a. identitas para pihak;
b. fundamentum Petendi; dan
c. petitum.
Tentang contoh gugatan lihat halaman depan, yang telah dicontohkan panjang-lebar
tentang gugatan yang cukup rumit.
3. Jawaban/Eksepsi
Kalau mengacu pada HIR tidak ada ketentuan bagi tergugat untuk menjawab gugatan,
hanya saja ada ketentuan bahwa Tergugat dapat menjawab gugatan Penggugat baik secara
lisan maupun tertulis. Adapun jawaban Tergugat ini dapat berupa pengakuan, akan tetapi
dapat juga berupa bantahan (vorweer). Jawaban yang berupa pengakuan ini, berarti
membenarkan gugatan dari Penggugat, apakah itu pengakuan keseluruhan ataupun
pengakuan sebagian. Ada pula pengakuan dengan klausul. Akan tetapi kalau tergugat
membantah, maka baik Penggugat maupun Tergugat haruslah membuktikan, karena barang
siapa mendalilkan maka kepadanya dibebankan beban pembuktian. Kalau saja Tergugat
membantah atau mengakui sebagian, maka kedua belah pihak harus membuktikan. Jawaban
ini bisa bermacam, yaitu:
Jawaban yang hanya menjawab kompetensi; jawaban yang berupa jawaban kompetensi
dan jawaban pokok perkara; dan juga jawaban yang berisikan kompetensi, pokok perkara,
dan disertai gugat balik (Rekonvensi).
82

Jawaban ataupun Eksepsi Tergugat ini haruslah disertai alasan-alasan, karena dengan
demikian maka akan memperjelas duduknya perkara. Karena sangkalan atau jawaban yang
tidak cukup beralasan akan mengakibatkan dapat dikesampingkannya jawaban tersebut.
Sangkalan atau Eksepsi ini dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu:
a. Eksepsi Prosesuil, yang berarti eksepsi yang berhubungan dengan proses/ acaranya.
b. Eksepsi Materiil, yang berarti eksepsi yang didasarkan ketentuan hukum materiil.
Sedangkan eksepsi prosesuil sendiri juga bisa dibagi 2 (dua), yaitu:
a. Eksepsi declinatoir, sifatnya mengelak data.
b. Eksepsi discualificatoir, yang berarti memandang Penggugat tidak punyai kedudukan
sebagai Penggugat.
Kemudian eksepsi materiil juga dapat dibagi menjadi (dua):
a. Eksepsi dilatoir, yang berarti bersifat menunda.
b. Eksepsi peremptoir, eksepsi yang telah mengenai pokok perkara.
Untuk jelasnya, maka berikut ini dicontohkan pembuatan eksepsi yang membantah dan
sekaligus menjawab pokok perkara/gugat conventie.

83

BAB VII
PEMBUKTIAN

Salah satu tugas Hakim ialah menyelidiki apakah hubungan yang menjadi dasar
perkara benar-benar ada atau tidak. Hubungan inilah yang harus terbukti di muka Hakim
dan tugas kedua belah pihak yang berperkara ialah memberi bahan-bahan bukti yang
diperlukan oleh Hakim.
Yang dimaksud dengan membuktikan ialah meyakinkan Hakim yang kebenaran dalildalil yang dikemukakan dalam suatu persengketaan.
Tidak semua dalil yang menjadi dasar gugatan harus dibuktikan kebenarannya. Sebab
dalil-dalil yang tidak disangkal, apalagi diakui sepenuhnya oleh pihak lawan, tidak perlu
dibuktikan lagi. Selain itu, yang tidak perlu dibuktikan lagi adalah yang dalam hukum acara
perdata disebut fakta notoir, yaitu hal yang sudah lazimnya diketahui oleh umum. Misalnya,
bahwa negara Republik Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, atau
bahwa pada hari Minggu semua kantor-kantor pemerintah tutup.
Tentang siapa yang harus membuktikan, maka di sini Hakim yang memeriksa perkara
itu yang akan menentukan siapa di antara para pihak yang berperkara akan diwajibkan untuk
memberikan bukti apakah itu pihak penggugat atau tergugat. Di dalam soal menjatuhkan
beban pembuktian, Hakim harus bertindak a rif dan bijaksana serta tidak boleh berat sebelah.
Semua peristiwa dan keadaan yang kongkret harus diperhatikan secara saksama olehnya.
Dilihat dari ketentuan di atas, bahwa soal membuktikan suatu peristiwa mengenai
adanya suatu hubungan hukum, adalah suatu cara untuk meyakinkan Hakim akan kebenaran
dalil-dalil yang menjadi dasar gugatan, atau dalil-dalil yang dipergunakan untuk menyanggah
tentang kebenaran dalil-dalil yang telah dikemukakan pihak lawan.
Hal-hal yang harus dibuktikan hanyalah hal-hal yang menjadi perselisihan
(peristiwanya), yaitu segala apa yang diajukan oleh pihak yang satu tetapi disangkal oleh
pihak yang lain. Sedangkan masalah hukumnya tidak usah dibuktikan oleh para pihak, tetapi
secara ex officio dianggap harus diketahui dan diterapkan oleh Hakim. Dalam acara perdata di
Indonesia, Hakim adalah terikat di dalam acara mencapai putusannya. Hanya berdasar pada
alat-alat bukti yang sah, Hakim diperbolehkan mengambil keputusan.
Pada umumnya, sepanjang undang-undang tidak mengatur sebaiknya Hakim bebas
untuk menilai pembuktian. Jadi yang berwenang menilai pembuktian, yang tidak lain
penilaian suatu kenyataan, adalah hakim dan hanyalah Judex factie saja. Dengan demikian
84

bukti itu dinilai lengkap dan sempurna, apabila Hakim berpendapat bahwa berdasarkan bukti
yang telah diajukan, peristiwa yang harus dibuktikan itu dianggap sudah pasti dan benar.
Pasal 164 HIR menyebutkan bahwa alat bukti dalam perkara perdata terdiri atas:
Bukti surat/tulisan
Bukti saksi
Persangkaan
Pengakuan
Sumpah
Dalam praktek masih ada satu macam alat bukti lain yang sering dipergunakan, yaitu
pengetahuan Hakim, adalah hal atau keadaan yang diketahuinya sendiri oleh Hakim dalam
sidang, misalnya Hakim melihat sendiri pada waktu melakukan pemeriksaan setempat.
Untuk lebih jelasnya masalah alat bukti ini, maka di bawah ini akan dicoba untuk
membahasnya satu persatu sebagaimana susunan yang disebutkan di atas.
1. ALAT BUKTI SURAT/TERTULIS (Pasal 165-167 HIR)
Alat bukti tertulis atau surat ialah segala sesuatu yang memuat tanda-tanda bacaan yang
dimaksudkan untuk mencurahkan isi hati atau untuk menyampaikan buah pikiran seseorang
dan dipergunakan sebagai pembuktian.96
Bukti tulisan ini dalam perkara perdata merupakan bukti yang utama, karena dalam lalu
lintas keperdataan seringkali orang dengan sengaja menyediakan suatu bukti yang dapat
dipakai kalau timbul suatu perselisihan, dan bukti yang disediakan pada lazimnya berupa
tulisan.
Ada tiga (3) macam surat sebagai alat bukti, yaitu:
a) akta autentik;
b) akta di bawah tangan;
c) surat biasa.
Akta autentik adalah surat yang dibuat oleh atau di hadapan pejabat umum yang
mempunyai wewenang untuk membikin surat itu, dengan maksud untuk menjadikan surat itu
sebagai alat. Pejabat umum itu adalah Notaris, Pegawai Catatan Sipil, Juru Sita, Panitera
Pengadilan, dan sebagainya.
Akta autentik merupakan bukti yang sempurna bagi kedua belah pihak dan ahli warisnya
serta sekalian orang yang mendapatkan hak daripadanya. Dengan demikian ini berarti bahwa
96

Ibid., hlm. 120.

85

isi akta tersebut oleh hakim dianggap benar, selama ketidakbenarannya tidak dapat
dibuktikan.
Terhadap pihak ketiga, akta tersebut tidak mempunyai kekuatan bukti yang sempurna,
melainkan hanya bersifat alat pembuktian yang penilaiannya diserahkan kepada
kebijaksanaan Hakim, dengan kata lain hanya bersifat bukti bebas saja.
Akta autentik mempunyai 3 (tiga) macam kekuatan pembuktian, yaitu:
1) kekuatan pembuktian formil
Membuktikan antara para pihak, bahwa mereka sudah menerangkan apa yang ditulis
dalam akta tersebut.
2) kekuatan pembuktian materiil
Membuktikan antara para pihak, bahwa benar-benar peristiwa yang tersebut dalam akta
tersebut telah terjadi.
3) kekuatan mengikat
Membuktikan antara para pihak dan pihak ketiga, bahwa pada tanggal tersebut dalam
akta yang bersangkutan telah menghadap pegawai umum tadi dan menerangkan apa yang
ditulis akta tersebut.
Oleh karena menyangkut pihak ketiga, maka disebutkan bahwa pada akta autentik
mempunyai kekuatan bukti ke luar.
Akta di bawah tangan adalah suatu surat yang ditandatangani dan dibuat dengan maksud
untuk dijadikan bukti dari suatu perbuatan hukum.
Akta di bawah tangan mempunyai kekuatan bukti yang sempurna seperti akta autentik,
apabila isi dan tanda tangan dari akta tersebut diakui oleh orang yang bersangkutan. Dalam
soal pengakuan ini terletak perbedaan antara akta autentik dengan akta di bawah tangan. Akta
autentik tidak memerlukan pengakuan dari pihak yang bersangkutan, agar mempunyai
kekuatan pembuktian.
Dalam akta autentik tanda tangan tidak merupakan persoalan, akan tetapi dalam akta di
bawah tangan pemeriksaan tentang benar tidaknya akta yang bersangkutan telah
ditandatangani oleh yang bersangkutan merupakan acara pertama.
Terhadap pihak ketiga, suatu akta di bawah tangan (seperti juga akta autentik)
merupakan suatu bukti bebas, yang berarti bukti belum lengkap.97

97

Supomo, op. cit., hlm. 78.

86

Tentang surat-surat lainnya yang bukan merupakan akta, dalam pembuktian mempunyai
nilai pembuktian bebas yang sepenuhnya diserahkan kepada kebijaksanaan Hakim. Dalam
praktek, surat-surat semacam itu sering dipergunakan untuk menyusun per2. ALAT BUKTI SAKSI (Pasal 139-152, 168-172 HIR)
Kesaksian adalah kepastian yang diberikan kepada Hakim di persidangan tentang
peristiwa yang disengketakan, dengan jalan pembuktian secara lisan pribadi oleh orang yang
bukan salah satu pihak dalam perkara, yang dipanggil di persidangan.
Dalam hukum acara perdata, pembuktian dengan saksi ini sangat penting artinya oleh
karena di dalam masyarakat desa perbuatan-perbuatan hukum yang dilakukan biasanya tidak
tertulis, melainkan dilakukan dengan dihadiri saksi-saksi, hal ini terjadi karena dalam
masyarakat pada umumnya perbuatan-perbuatan hukum tersebut dilakukan dengan dasar
saling mempercayai tanpa ada sehelai pun surat bukti.
Yang dapat diterangkan oleh saksi hanyalah apa yang ia lihat, dengar atau rasakan
sendiri dengan disertai alasan-alasan apa sebabnya atau bagaimana ia sampai mengetahui halhal yang diterangkannya itu. Perasaan atau sangka yang istimewa yang terjadi karena akal,
tidak dipandang sebagai penyaksian.
Seorang saksi dilarang untuk menarik kesimpulan, karena hal itu adalah tugas Hakim.
Saksi yang akan diperiksa, sebelurnnya harus disumpah menurut cara agamanya atau berjanji
bahwa ia akan menerangkan yang sebenarnya. Apabila ia dengan sengaja memberi
keterangan palsu, saksi dapat dituntut dan dihukum untuk sumpah palsu menurut Pasal 242
KUHP.
Pasal 172 HIR memberi petunjuk kepada Hakim supaya is dalam mempertimbangkan
nilai kesaksian, memperhatikan benar cocok tidaknya keterangan-keterangan para saksi satu
dengan yang lainnya, cocoknya keterangan saksi dengan apa yang diketahui dari sumber lain
tentang perkara yang diadilinya.
Dengan melihat ketentuan di atas, maka keterangan dari seorang saksi saja dengan tidak
ada sesuatu pun alat bukti lain, maka tidak dikatakan sebagai alat pembuktian yang cukup.
Hal ini sesuai dengan asas yang berlaku yang dikenal dengan sebutan Unus Testis Nullus
Testis, yaitu satu saksi berarti bukan saksi.
Maksud ketentuan ini bukanlah mengharuskan supaya tiap-tiap peristiwa harus
dibuktikan dengan beberapa orang saksi, melainkan bagi perkara seluruhnya seorang saksi
saja dengan tidak ada alat bukti lain adalah tidak cukup.
87

Dengan demikian apabila hanya satu orang saksi, janganlah hal ini disamakan dengan
sama sekali tidak ada bukti, hanya saja apabila hanya ada satu orang saksi, maka pembuktian
belum cukup sehingga harus ditambah dengan alat bukti lain.
Di dalam acara perdata di Pengadilan Negeri, Hakim dapat membebankan sumpah
kepada salah satu yang berperkara, apabila hanya dapat mengajukan satu saksi, yang
keterangannya dapat dipercayai sepenuhnya oleh Hakim.
Di dalam kesaksian ini ada pula dikenal istilah Testimonium de auditu, yaitu keterangan
saksi yang diperoleh dari orang lain. Jadi dalam hal ini (saksi) tidak mendengar, melihat, atau
merasakan sendiri, hanya ia dengar dari orang lain saja.
Terhadap kesaksian semacam ini, pendapat lama menyatakan bahwa sama sekali tidak
ada harganya. Memang sebagai kesaksian, keterangan yang didengar dari orang lain tidak
mempunyai nilai pembuktian, akan tetapi keterangan yang demikian itu dapat dipergunakan
untuk menyusun persangkaan atau untuk memperlengkapi saksi-saksi yang bisa dipercayai.
Berdasarkan hal, ini maka pendapat yang menyatakan bahwa saksi de Auditu sama sekali
tidak berarti adalah keliru.
Pada asasnya setiap orang yang bukan salah satu pihak, dapat didengar sebagai saksi, dan
apabila telah dipanggil oleh Pengadilan wajib memberi kesaksian. Kewajiban untuk memberi
kesaksian ini dapat dilihat dalam ketentuan-ketentuan baik dalam HIR maupun BW, di mana
saksi itu dapat dipaksa dan diancam dengan sanksi-sanksi apabila mereka tidak
memenuhinya.
Terhadap asas bahwa setiap orang dapat bertindak sebagai saksi serta wajib memberi
kesaksian ini, ada beberapa pengecualiannya, yaitu:
a. Ada segolongan yang tidak mampu (tidak dapat) untuk bertindak sebagai saksi. Mereka
ini dibedakan antara yang dianggap tidak mampu secara mutlak dan yang tidak mampu
secara relatif.
1) Yang termasuk tidak mampu secara mutlak
Di sini Hakim dilarang untuk mendengar mereka ini sebagai saksi, yaitu:
-

Keluarga sedarah dan keluarga semenda menurut keturunan yang lurus dari salah
satu pihak.

Suami/istri dari salah satu pihak, meskipun sudah bercerai.

2) Yang termasuk tidak mampu secara relatif


Mereka ini boleh didengar, akan tetapi tidak sebagai saksi, yaitu:
-

Anak-anak yang belum mencapai umur 15 tahun.


88

Orang gila, meski kadang-kadang ingatannya terang atau sehat.

Keterangan mereka ini hanyalah boleh dianggap sebagai penjelasan belaka. Untuk
memberi keterangan tersebut mereka tidak perlu disumpah.
Ada segolongan orang yang atas permintaannya sendiri dibebaskan dari kewajibannya
untuk memberi kesaksian. Mereka yang boleh mengundurkan diri ini adalah:
1) Saudara laki-laki dan perempuan, ipar laki-laki dan perempuan, dari salah satu pihak.
2) Keluarga sedarah menurut keturunan yang lurus, dan saudara laki-laki dan perempuan
dari suami atau istri salah satu pihak.
3) Sekalian orang yang karena martabatnya, pekerjaan, atau jabatan yang sah diwajibkan
menyimpan rahasia, akan tetapi hanya semata-mata mengenai pengetahuan yang
diserahkan kepadanya karena martabat, pekerjaan, atau jabatannya itu.
3. ALAT BUKTI PERSANGKAAN (Pasal 173 HIR)
Persangkaan adalah kesimpulan yang ditarik dari suatu peristiwa yang telah dianggap
terbukti, atau peristiwa yang dikenal, ke arah suatu peristiwa yang belum terbukti. Yang
menarik kesimpulan ini adalah Hakim atau undang-undang.
Tapi dalam hukum acara perdata, tentang menarik persangkaan menurut undang-undang
ini harus dianggap sebagai perbandingan saja, yang oleh Hakim masih harus dipertimbangkan
apakah dalam suatu kasus tertentu, berlaku ketentuan tersebut.
Menurut Pasal 173 HIR, bahwa persangkaan-persangkaan itu boleh diperhatikan oleh
Hakim, apabila persangkaan itu penting, seksama, tentu dan sesuai satu dengan yang lainnya.
Dalam ketentuan di atas dikatakan persangkaan-persangkaan, oleh karena satu
persangkaan saja tidak cukup untuk membuktikan sesuatu, jadi harus banyak persangkaanpersangkaan yang satu sama lain saling berhubungan/saling menutupi. Oleh karena itulah
dalam hal ini Hakim harus berhati-hati dalam menarik kesimpulan tersebut.
Oleh karena persangkaan itu merupakan kesimpulan belaka, maka dalam hal ini yang
dipakai sebagai alat bukti sebetulnya bukan persangkaan itu, melainkan alat-alat bukti lain,
yaitu misalnya kesaksian atau surat-surat, atau pengakuan salah satu pihak, yang
membuktikan bahwa suatu peristiwa adalah terang ternyata. Baru kemudian disimpulkan
adanya suatu peristiwa tertentu.98

98

Wirjono Prodjodikoro, op. cit., hal. 116-117.

89

Persangkaan-persangkaan Hakim sebagai alat bukti mempunyai kekuatan bukti bebas,


yaitu terserah kepada kebijaksanaan Hakim, seberapa jauh ia akan memberi kekuatan bukti
kepada persangkaan-persangkaan yang didapat pada pemeriksaan perkara.

4. ALAT BUKTI PENGAKUAN (Pasal 174, 175, 176 HIR)


Pengakuan yang dilakukan di depan sidang (di muka Hakim) memberikan suatu bukti
yang sempurna terhadap siapa yang melakukannya, artinya ialah bahwa Hakim harus
menganggap dalil-dalil yang telah dikemukakan dan diakui itu adalah benar dan
mengabulkan segala tuntutan atau gugatan yang didasarkan pada dalil-dalil tersebut.
Sedangkan pengakuan yang dilakukan di luar sidang, perihal penilaian terhadap kekuatan
pembuktiannya diserahkan kepada kebijaksanaan Hakim atau dengan kata lain merupakan
bukti bebas.
Pengakuan yang disebutkan di atas adalah pengakuan murni. Tapi selain pengakuan
murni, ada pula pengakuan tambahan atau pengakuan berembel-embel. Tentang pengakuan
tambahan ini dapat dibedakan ke dalam 2 (dua) macam, yaitu:
a) Pengakuan dengan klausula
Adalah suatu pengakuan yang disertai dengan keterangan tambahan yang bersifat
membebaskan, misalnya "benar saya berutang, akan tetapi utang tersebut telah saya
bayar."
b) Pengakuan dengan kualifikasi
Adalah pengakuan yang disertai dengan sangkalan terhadap sebagian dari tuntutan.
Sebagai contoh, misalnya, "penggugat menyatakan bahwa tergugat telah membeli rumah dari
penggugat seharga Rp 5.000.000,- Tergugat mengakui telah membeli rumah tersebut, tapi
bukan seharga Rp Rp. 5.000.000,- melainkan Rp. 3.000.000,-.
Baik pengakuan dengan kualifikasi maupun dengan klausula harus diterima bulat dan
tidak boleh dipisah-pisahkan dari keterangan tambahannya. Pengakuan semacam itulah yang
disebut sebagai pengakuan, yang tidak boleh dipisah-pisahkan (onsplitsbar aveu) yang diatur
dalam Pasal 176 HIR.
Menurut Prof. Wirjono Prodjodikoro, ajaran pengakuan yang tidak dapat dipisahpisahkan ini sangat mengecewakan oleh karena tidak nasuk akal dan tidak dapat dimengerti
oleh khalayak ramai. 99 Selanjutnya beliau mengatakan, bahwa sebaiknya dalam menghadapi
99

Ibid., hal. 121.

90

pengakuan dengan tambahan ini, Hakim diberi kebebasan untuk menetapkan seberapa jauh
dalam memberi kekuatan terhadap pengakuan semacam itu, seperti halnya dengan pengakuan
di luar sidang.
Sedangkan menurut Ny. Retnowulan S, S.H., kalau tergugat menyatakan bahwa ia benar
berutang akan tetapi sudah dibayarnya, tidak ada salahnya untuk memerintahkan kepada
tergugat untuk membuktikan bahwa ia benar-benar telah membayarnya.100 Selanjutnya beliau
mengatakan bahwa adalah merupakan kelalaian dari tergugat apabila sudah membayarnya,
tapi lalai dan tidak manta tanda apabila penerimaan uang sebagai bukti adanya pelunasan
utangnya itu.
Selanjutnya pada bagian terakhir dari Pasal 176 HIR disebutkan bahwa larangan
memisah-misahkan suatu pengakuan ini tidak berlaku lagi apabila tergugat dalam
pengakuannya tadi guna membebaskan dirinya, telah mengajukan peristiwa yang ternyata
palsu. Hal ini berarti bahwa apabila penggugat bisa membuktikan bahwa dalil-dalil yang
dikemukakan oleh tergugat sebagai pembebasan adalah palsu, maka pengakuan berembelembel tadi oleh Hakim dianggap sebagai pengakuan murni.
4. ALAT BUKTI SUMPAH (Pasal 155 s.d 158 HIR)
Sumpah adalah suatu pernyataan yang khidmat yang diberikan atau diucapkan pada
waktu memberi janji dan keterangan dengan mengingat akan sifat Maha Kuasa daripada
Tuhan, dan percaya bahwa siapa yang memberi keterangan atau janji yang tidak benar akan
dihukum oleh-Nya.101
HIR menyebutkan 3 (tiga) sumpah sebagai alat bukti, yaitu:
A. Sumpah Supletoir/Pelengkap (Pasal 155 HIR)
Sumpah supletoir adalah sumpah yang diperintahkan oleh Hakim karena jabatannya
kepada salah satu pihak untuk melengkapi pembuktian peristiwa yang menjadi sengketa
sebagai dasar keputusannya.
Jadi, untuk dapat diperintahkan melakukan sumpah ini, harus ada pembuktian permulaan
lebih dahulu, tapi bukti yang telah ada tersebut belum cukup/sempurna, sehingga dengan
melakukan sumpah ini pemeriksaannya menjadi selesai sehingga Hakim dapat menjatuhkan
putusannya.

100
101

Retnowulan Sutantio dan Iskandar Oeripkartawinata, op. cit., hal. 62.


Sudikno Mertokusumo. op. cit.. hal. 154.

91

Tanpa adanya bukti sama sekali, Hakim tidak boleh memeri ma atau membebani sumpah
supletoir ini, demikian pula apabila alat buktinya telah cukup lengkap.
B. Sumpah Aestimatoir/Penaksir (Pasal 155 HIR)
Sumpah penaksir yaitu sumpah yang diperintahkan oleh Hakim karena jabatannya
kepada penggugat untuk menentukan jumlah uang ganti kerugian.
Sumpah penaksir ini barulah dapat dibebankan oleh Hakim kepada penggugat apabila
penggugat telah dapat membuktikan haknya atas ganti kerugian, tapi jumlahnya belum pasti.
Maka cara untuk menentukan jumlah kerugian tersebut, ditaksir dengan melalui sumpah ini.
Kekuatan pembuktian sumpah ini sama dengan sumpah supletoir, yaitu bersifat
sempurna dan masih dimungkinkan diterobos oleh bukti lawan.
C. Sumpah Decisoir/Pemutus (Pasal 156 HIR)
Sumpah decisoir adalah sumpah yang dibebankan atas permintaan salah satu pihak
kepada lawannya.
Berlainan dengan sumpah supletoir, maka sumpah decisoir, ini dapat dibebankan
meskipun tidak ada pembuktian sama sekali, sehingga sumpah decisoir, ini dapat dilakukan
setiap saat selama pemeriksaan di persidangan.
Ada tidaknya sumpah decisoir ini diserahkan sepenuhnya kepada pihak-pihak yang
bersengketa, apakah mereka mau mempergunakan sumpah ini atau tidak.
Sumpah decisoir ini dapat diumpamakan sebagai pedang bermata dua yang tajam sekali,
harus hati-hati mempergunakannya karena akan menimbulkan suatu akibat yang berupa
kemenangan atau sebaliknya, yaitu suatu kekalahan total. Siapa yang mengucapkan sumpah
ini, maka ia akan dimenangkan dalam perkaranya. Sumpah ini dapat berupa sumpah pocong,
sumpah mimbar (di gereja), atau sumpah Klenteng.
6. PEMERIKSAAN SETEMPAT
Pemeriksaan barang bergerak oleh Hakim pada umumnya tidak mengalami kesukaran,
karena ia mudah dibawa atau diajukan ke persidangan. Tapi kalau yang akan diperiksa oleh
Hakim itu barang tetap, maka akan sukarlah untuk mengajukan barang tetap ini ke muka
persidangan.
Dalam hal ini, jika Hakim ingin memperoleh kepastian dan tidak hanya menggantungkan
kepada pendengaran saksi atau surat, maka persidangan haruslah dipindahkan ke tempat
barang tetap tersebut untuk mengadakan pemeriksaan setempat.
92

Yang dimaksud pemeriksaan setempat adalah pemeriksaan mengenai perkara oleh


Hakim karena jabatannya yang dilakukan di luar gedung Pengadilan, agar Hakim dengan
melihat sendiri memperoleh gambaran atau keterangan yang memberi kepastian tentang
peristiwa-peristiwa yang menjadi sengketa. Di dalam praktek, pemeriksaan setempat ini
dilakukan sendiri oleh Hakim dengan dibantu Panitera.
Meskipun pemeriksaan setempat ini tidak dimuat di dalam Pasal 64 HIR sebagai alat
bukti, tetapi oleh karena tujuan pemeriksaan setempat ialah agar Hakim memperoleh
kepastian tentang peristiwa yang menjadi sengketa, maka pemeriksaan setempat ini, sekarang
nyatanya oleh Hakim sudah dipakai sebagai alat bukti.
7. KERANGAN AHLI/EXPERTISE
Keterangan dari pihak ketiga untuk memperoleh kejelasan bagi hakim dari suatu
peristiwa yang disengketakan, kecuali dari saksi, juga diperoleh dari keterangan ahli, yang
dalam praktek Pengadilan sering juga disebut saksi ahli.
Keterangan ahli adalah keterangan pihak ketiga yang objektif dan persetujuan untuk
membantu Hakim dalam pemeriksaan guna menambah pengetahuan Hakim sendiri.
Laporan seorang ahli yang telah diangkat dapat diberikan baik secara lisan maupun
tertulis yang diperkuat dengan sumpah. Selanjutnya, siapa yang tidak boleh didengar sebagai
saksi, tidak boleh pula didengar sebagai ahli.
Menurut Prof. Wirjono Prodjodikoro, bahwa keterangan seorang ahli tidak dianggap
sebagai alat bukti, karena keterangan seorang ahli hanya merupakan pendapat seseorang
tentang sesuatu hal yang memerlukan keahlian.

93

BAB VIII
PUTUSAN

A. Menemukan hukum
Dari hakim diharapkan sikap tidak memihak dalam menentukan siapa yang benar dan
siapa yang tidak dalam suatu perkara dan mengakhiri sengketa atau perkaranya.
Bagi hakim dalam men adili suatu perkara terutama dipentingkan adalah fakta atau
peristiwanya dan bukan hukumnya. Peraturan hukumnya hanyalah alat, sedangkan yang
bersifat menentukan adalah peristiwanya. Ada kemungkinannya terjadi suatu peristiwa, yang
meskipun sudah ada peraturan hukumnya, justru lain penyelesaiannya. Contohnya : sebuah
mobil tabrakan, dengan sepeda motor. Pengendara mobil dan sepeda motor saling
menyalahkan. "Saudara tidak menurut peraturan" kata yang satu. Yang lain menjawab:
"Mungkin, tetapi saya tidak dapat menurut peraturannya. Karena perbuatan saudara saya
terpaksa berbuat apa yang telah saya lakukan ". Hakim akhirnya akan menemukan kesalahan
dengan menilai peristiwa itu keseluruhannya. Di dalam peristiwa itu sendiri tersimpul
hukumnya.
Untuk dapat menyelesaikan atau mengakhiri suatu perkara atau sengketa setepattepatnya hakim harus terlebih dahulu mengetahui secara obyektif tentang duduknya perkara
sebenarnya sebagai dasar putusannya dan bukan secara a priori menemukan putusannya
sedang pertimbangannya baru kemudian dikonstruir. Peristiwa yang sebenarnya akan
diketahui hakim dari pembuktian.
Setelah hakim menganggap terbukti peristiwa yang menjadi sengketa yang berarti bahwa
hakim telah dapat mengconstatir peristiwa yang menjadi sengketa, maka hakim harus
menentukan peraturan hukum apakah yang menguasai sengketa antara kedua belah pihak. la
harus menemukan hukumnya : ia harus mengkwalifisir peristiwa yang telah dianggapnya
terbukti.
Hakim dianggap tahu akan hukuman (ius curia novit). Soal menemukan hukumnya
adalah urusan hakim dan bukan soalnya kedua belah pihak. Maka oleh karena itu hakim
dalam mempertimbangkan putusannya wajib karena jabatannya melengkapi alasan-alasan
hukum yang tidak dikemukan oleh para pihak (ps. 178 ayat 1 HIR, 189 ayat 1 Rbg).
Sumber-sumber untuk menemukan hukum bagi hakim ialah: perundang-undangan,
hukum yang tidak tertulis, putusan desa, yurisprudensi dan ilmu pengetahuan.
94

Sekalipun kadang-kadang sukar untuk menemukan hukumnya, tetapi menerapkan


ketentuan undang-undang pada peristiwa yang telah dikemukakan pada umumnya dapat
dikatakan mudah.
Hukum yang tidak tertulis yang hidup di dalam masyarakat merupakan sumber bagi
hakim untuk menemukan hukum. Hakim sebagai penegak hukum dan keadilan wajib
menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat, (ps. 27
ayat 1 UU. 14/1970). Hakim harus memahami kenyataan sosial yang hidup dalam masyarakat
dan ia harus memberi putusan berdasar atas kenyataan sosial yang hidup dalam masyarakat
itu. Dalam hal ini hakim dapat minta keterangan dari para ahli, kepala adat dan sebagainya.102
Bahwa putusan desa merupakan sumber untuk menemukan hukum bagi hakim
diletakkan secara tertulis dalam asal 120a HIR(ps. 143a Rbg). Putusan desa ini merupakan
penetapan administratif oleh hakim perdamaian desa yang bukan merupakan lembaga
peradilan yang sesungguhnya, melainkan merupakan lembaga eksekutif, sehingga hakim
dalam lingkungan peradilan umum tidak berwenang untuk menilai putusan desa dengan
membatalkan atau mengesahkannya.103
Yurisprudensi merupakan sumber hukum juga. Ini tidak berarti bahwa hakim terikat pada
putusan mengenai perkara yang sejenis yang pernah diputuskan. Suatu Putusan itu hanyalah
mengikat para pihak (ps. 1917 BW). Lain halnya dengan di sementara negara, yang menganut
azas "the binding force of precedent" atau stare decisis, maka putusan pengadilan tidak
hanya mengikat para pihak, tetapi juga Hakim. Di Indonesia pada azasnya tidak dikenal azas
the binding force of precedent (ps. 1917).
Sifat terikatnya pada precedent pada hakekatnya adalah sifat setiap peradilan. Tepatlah
kata Blackstone bahwa azas tersebut bertujuan to keep the scale of justice even and steady
and not liable to waver with every new judge's opinion.104 Memang

janggallah

rasanya

kalau peristiwa yang serupa diputus berlainan, kalau pengadilan rendahan atau katakanlah
Pengadilan Negeri misalnya menjatuhkan putusan yang berlainan atau bertentangan dengan
putusan Mahkamah Agung atau Pengadilan Tinggi atau putusannya sendiri mengenai perkara
yang sejenis. Apabila terjadi suatu perkara diputuskan berlainan atau bertentangan dengan
putusan yang mendahuluinya mengenai perkara yang serupa, maka akan timbullah reaksi atau

102

Supomo menyebutkan beberapa putusan pengadilan yang mendasarkan pada kenyataan sosial, op. cit.,
hal. 128.
103
M.A. 3 Mei 1969 no. 350 K/Sip/1968, J.I. Pen. VI/69, hal. 128, M.A. 11 Maret 1970 no. 319
K/Sip/1968, J.I. Pen. 111/70, hal. 66, M.A. 3 Nop. 1971 no. 383 K/Sip/1971, J.1. Pen.11/72, hal. 39.
104
Sir Alfred Denning, The road to justice, hal. 65.

95

sekurang-kurangnya rasa kecewa atau celaan dari

masyarakat,

kecuali

masyarakatnya atau panggilan zaman menghendaki putusan yang

tentunya

kalau

berlainan dengan putusan

yang telah ada mengenai perkara yang sejenis.105 Bahwa perkembangan masyarakat atau
zaman mempunyai pengaruhnya pada putusan pengadilan oleh Cardozo dikatakan sebagai
berikut: "My duty as judge may be to obyectify in law, not my own aspirations and
convictions and philosophies, but the aspirations and convictions and philosophies of the
men and women of my time. Hardly shall I do this well if my own symphaties and beliefs and
passionate devotions are with a time that is past.106
Kalau tiap kali ada putusan yang berlainan mengenai perkara yang sejenis, maka tidak
ada kepastian hukum. Tetapi sebaliknya kalau hakim terikat mutlak pada putusan mengenai
perkara yang sejenis yang pernah diputuskan maka hakim tidak bebas untuk mengikuti
perkembangan masyarakat melalui putusan-putusannya.
Ilmu pengetahuan merupakan sumber pula untuk menemukan hukum. Kalau perundangundangan tidak memberi jawaban dan tidak pula ada putusan pengadilan mengenai perkara
sejenis yang akan diputuskan, maka hakim akan mencari jawabannya pada pendapat para
sarjana hukum. Oleh karena ilmu pengetahuan itu obyektif sifatnya, lagi pula mempunyai
wibawa karena diikuti atau didukung oleh pengikut-pengikutnya, sedangkan putusan hakim
itu harus obyektif dan berwibawa pula, maka ilmu pengetahuan merupakan sumber untuk
mendapatkan bahan guna mendukung atau mempertanggung jawabkan putusan hakim.
Tugas hakim adalah mengambil atau menjatuhkan keputusan yang mempunyai akibat
hukum bagi pihak lain. la tidak dapat menolak menjatuhkan putusan apabila perkaranya
sudah mulai diperiksa. Bahkan perkara yang telah diajukan kepadanya tetapi belum mulai
diperiksa tidak wenang ia menolaknya.
Kalau seorang hakim hendak menjatuhkan keputusan, maka ia akan selalu berusaha agar
putusannya nanti seberapa mungkin dapat diterima oleh masyarakat, setidak-tidaknya
berusaha agar lingkungan orang yang akan dapat menerima putusannya itu seluas mungkin.
Hakim akan merasa lebih lega apabila ia dapat memuaskan semua pihak dengan putusannya.
Untuk dapat memuaskan pihak lain dengan putusannya atau agar putusannya dapat
diterima oleh pihak lain, maka ia harus meyakinkan pihak lain dengan alasan-alasan atau
pertimbangan-pertimbangan bahwa putusannya itu tepat atau benar.

105
106

Lihat selanjutnya Sudikno Mertokusumo, op. cit., hal. 3.


op. cit., hal. 173.

96

Siapakah pihak lain itu? Dalam hal ini ada beberapa pihak yang menjadi sasaran hakim
(lihat juga Algra, Rechtsaanvang, hal. 215).
1. Para pihak
Dengan sendirinya para pihak yang berperkaralah yang terutama mendapat perhatian
dari hakim, karena ia harus menyelesaikan atau memutuskannya. Hakim harus
memberi tangapan terhadap tuntutan para pihak. la akan berusaha agar p

utusannya

itu tepat dan tuntas. Secara obyektif putusan yang tepat dan tuntas berarti akan dapat
diterima bukan hanya oleh penggugat melainkan juga oleh tergugat. Hakim akan lebih
puas apabila putusannya memenuhi keinginan dan dapat diterima oleh kedua belah
pihak yang berperkara. Hal ini pada umumnya tidak mungkin terjadi, kecuali dalam
hal putusannya itu merupakan putusan perdamaian, di mana tidak ada yang
dimenangkan.
B. Dalam menemukan hukum oleh hakim dikenal beberapa aliran Legisme.
Pada abad pertengahan timbullah aliran yang berpendapat bahwa satu-satunya sumber
hukum adalah undang-undang, sehingga hakim terikat pada undang-undang, sedangkan
peradilan berarti semata-mata penerapan undang-undang pada peristiwa yang konkrit (ps. 20,
21 AB). Hakim hanyalah subsumptie automaat, sedangkan metode yang dipakai adalah
geometri yuridis (van Apeldoorn, hal. 301). Kebiasaan hanya mempunyai kekuatan hukum
apabila ditunjuk oleh undang-undang (ps. 3 AB). Hukum dan undang-undang adalah identik.
Yang dipentingkan di sini adalah kepastian hukum.
Ajaran ini sesuai dengan ajaran hukum kodrat yang rasionalistis dari abad ke 17 dan
18.
Ajaran Trias Politica (Montesqieu) mengatakan bahwa pembentukan hukum sematamata adalah hak istimewa dari pembentuk undang-undang, sedang kebiasaan bukanlah
sumber hukum.
Senada dengan pandangan ajaran Trias Politica adalah pandangan ajaran Kedaulatan
Rakyat dari Rousseau, yang mengatakan bahwa kehendak rakyat bersama (volonte generale
adalah kekuasaan tertinggi. Undang-undang sebagai pernyataan kehendak rakyat adalah satusatunya sumber hukum. Hukum kebiasaan tidak mempunyai kekuatan hukum. Sedangkan
menurut ajaran Kedaulatan Negara satu-satunya sumber hukum adalah kehendak negara.
Menurut ajaran Kedaulatan Hukum (Krabbe), maka satu-satunya sumber hukum adalah

97

kesadaran hukum. Dan yang disebut hukum hanyalah yang memenuhi kesadaran hukum
orang banyak (van Apeldoorn, hal. 93).
C. Begriffsjurisprudenz
Menurut aliran ini undang-undang sekalipun tidak lengkap mempunyai peranan penting,
tetapi hakim mempunyai peranan yang lebih aktif. Di samping undang-undang masih ada
sumber hukum lain antara lain kebiasaan.
Aliran ini melihat hukum sebagai satu sistem atau kesatuan tertutup yang menguasai
semua tingkah laku sosial. Dasar dari hukum adalah suatu sistem azas-azas hukum serta
pengertian dasar yang menyediakan kaidah yang sudah pasti untuk setiap peristiwa kongkrit.
Hakim memang bebas dari ikatan undang-undang tetapi harus bekerja dalam sistem hukum
yang tertutup (baca juga Algra, hal. 222, Achmad Sanusi, hal. 53). Menurut aliran ini
pengertian hukum tidaklah sebagai sarana, tetapi sebagai tujuan, sehingga ajaran hukum
menjadi ajaran tentang pengertian (Begriffsjurisprudenz), suatu permainan pengertian.
Begriffssprudenz ini mengultuskan ratio dan logika : pekerjaan hakim semata-mata bersifat
logis ilmiah.
Sebagai reaksi terhadap aliran legisme lahirlah pada akhir abad ke 19 dan awal abad ke
20 di mana-mana suatu ajaran baru: ajaran tentang kebebasan hakim (Freirechtslehre) yang
berpendapat bahwa hukum lahir karena peradilan. Titik tolak pandangan ini ialah bahwa
undang-undang bukanlah satu-satunya sumber hukum. Masih ada sumber hukum lain tempat
hakim menemukan hukumnya. Undang-undang, kebiasaan dan sebagainya hanyalah sarana
bagi hakim dalam menemukan hukumnya. Yang dipentingkan di sini bukanlah kepastian
hukum, melainkan kemanfaatannya bagi masyarakat.
Aliran ini sangatlah berlebih-lebihan karena berpendapat bahwa hakim tidak hanya boleh
mengisi kekosongan undang-undang saja, tetapi bahkan boleh menyimpang.
Freirechtslehre ini terpecah menjadi dua aliran, yaitu aliran Sosiologis, yang berpendapat
bahwa untuk menemukan hukum hakim harus mencarinya dalam kebiasaan-kebiasaan dalam
masyarakat dan aliran Hukum Kodrat, yang berpendapat bahwa untuk menemukan
hukumnya harus dicari dalam hukum kodrat.
Walau bagaimanapun juga aliran bebas tersebut di atas telah menanamkan dasar bagi
pandangan yang sekarang berlaku tentang undang-undang dan fungsi hukum.

98

D. Aliran yang berlaku sekarang.


Pandangan-pandangan ekstrim tersebut di atas ternyata tidak dapat bertahan. Timbullah
kemudian aliran baru yang berpendapat bahwa sumber hukum tidak hanya undang-undang
atau peradilan saja. Undang-undang yang merupakan peraturan umum yang diciptakan oleh
pembentuk undang-undang itu tidaklah lengkap karena tidak mungkin mencakup segala
kegiatan kehidupan manusia. Banyak hal-hal yang tidak sempat diatur oleh undang-undang
banyak kekosongannya. Kekosongan ini diisi oleh peradilan.
Dengan jalan penafsiran hakim mengisi kekosongan undang-undang itu. Disamping
undang-undang dan peradilan masih terdapat hukum yang tumbuh di dalam masyarakat, yaitu
hukum kebiasaan.
Pekerjaan hakim kecuali bersifat praktis routine, juga ilmiah, sifat pembawaan tugasnya
menyebabkan ia harus selalu mendalami ilmu pengetahuan hukum untuk memantapkan
pertimbangan-pertimbangan sebagai dasar dari putusannya.107
E. Definisi putusan
Setelah hakim mengetahui duduknya perkara yang sebenarnya, maka pemeriksaan
terhadap perkara dinyatakan selesai. Kemudian dijatuhkan putusan.
Putusan hakim adalah suatu pernyataan yang oleh hakim, sebagai pejabat negara yang
diberi wewenang untuk itu, diucapkan di persidangan dan bertujuan untuk mengakhiri atau
menyelesaikan suatu perkara atau sengketa antara para pihak. Bukan hanya yang diucapkan
saja yang disebut putusan, melainkan juga pernyataan yang dituangkan dalam bentuk tertulis
dan kemudian diucapkan oleh hakim di persidangan. Sebuah konsep putusan (tertulis) tidak
mempunyai kekuatan sebagai putusan sebelum diucapkan di persidangan oleh hakim.
Putusan yang diucapkan di persidangan (uitspraak) tidak boleh berbeda dengan yang tertulis
(vonnis). Mahkamah Agung dengan surat edarannya no. 5/1959 tanggal 20 April 1959 dan
no. 1/1962 tanggal 7 Maret 1962 menginstruksikan antara lain agar pada waktu putusan
diucapkan konsep putusan harus sudah selesai. Sekalipun maksud surat edaran tersebut ialah
untuk mencegah hambatan dalam penyelesaian perkara, tetapi dapat dicegah pula adanya
perbedaan isi putusan yang diucapkan dan yang tertulis. Kalau ternyata ada perbedaan antara
yang diucapkan dengan yang tertulis, maka yang sah adala yang diucapkan: lahirnya putusan
itu sejak diucapkan. Tetapi sulitnya di sini ialah pembuktian bahwa yang diucapkan berbeda
107

Sudikno Mertokusumo, Tugas hakim dan pembangunan, ceramah dalam pekan ceramah Fakultas
Hukum UGM, 13 Agustus 1975.

99

dengan yang ditulis. Oleh karena itu, setiap berita acara sidang seyogyanya harus sudah
selesai sehari sebelum sidang berikutnya atau paling lama satu minggu sesudah sidang dan
setiap putusan yang akan dijatuhkan sudah harus ada konsepnya.
Akan tetapi putusan hakim bukanlah satu-satunya bentuk untuk menyelesaikan perkara.
Di samping putusan hakim masih ada penetapan hakim.
Penyelesaian perkara dalam peradilan contentieus disebut putusan, sedangkan
penyelesaian perkara dalam peradilan voluntair disebut penetapan. Mengenai pengangkatan
anak Mahkamah Agung dengan SEMA 2/1979 membedakan antara penetapan, yaitu
penyelesaian permohonan pengangkatan antara WNI dan keputusan, yaitu penyelesaian
permohonan pengangkatan anak dalam hal anak yang diangkat oleh WNI berstatus WNA
atau dalam hal anak yang diangkat tersebut berstatus WNI diangkat anak oleh WNA.
Jadi putusan adalah perbuatan hakim sebagai penguasa atau pejabat negara. Tidak
mustahil bahwa salah satu pihak akan dirugikan oleh putusan hakim karena putusannya tidak
tepat disebabkan misalnya hakim yang bersangkutan kurang teliti memeriksanya. Maka akan
timbul pertanyaan apakah sekiranya negara dapat dipertanggungjawabkan atas kerugian yang
diderita oleh salah satu pihak karena putusan keliru. Pada umumnya negara dalam hal ini
tidak dapat dipertanggungjawabkan, karena bagi setiap pihak yang merasa dirugikan oleh
suatu putusan yang tidak tepat dapat menggunakan upaya-upaya hukum, kecuali apabila azasazas hukum acara dilanggar oleh hakim barulah negara dapat dipertanggungjawabkan.
Mahkamah Agung dalam hal ini mempunyai pendapat lain yang dijadikan petunjuk bagi
Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi seluruh Indonesia dan dimuat dalam S.E.M.A.
9/1976 tertanggal 16 Desember 1976.
Persoalan pokok dalam S.E.M.A. 9/1976 tersebut ialah tentang pertanggungan jawab
berdasarkan pasal 1365 BW mengenai kesalahan hakim dalam pelaksanaan tugasnya dan
apakah negara dapat dipertanggungjawabkan secara perdata untuk kesalahan yang dilakukan
oleh hakim.
Karena undang-undang tidak memberi ketentuannya, maka Mahkamah Agung
mendasarkan pengembangan hukum mengenai persoalan tersebut di atas melalui ilmu hukum
dan yurisprudensi yang inherent dengan kebebasan pengadilan dan hakim dalam
melaksanakan tugasnya.
Mahkamah Agung mendasarkan pendapatnya pada pandangan beberapa sarjana yang
mengatakan bahwa pada azasnya dan pada umumnya pasal 1365 BW tidak dapat diterapkan
terhadap hakim yang salah dalam melaksanakan tugasnya dalam bidang peradilan dan bahwa
100

Negara tidak dapat dipertanggungjawabkan atas kesalahan hakim dalam melaksanakan


tugasnya dalam bidang peradilan serta juga pada yurisprudensi HR tanggal 3 Desember 1971
(NJ 1972, 137) yang memutuskan bahwa peraturan perundang-undangan yang menyediakan
sarana sarana hukum ("rechtsmid-delen) terhadap putusan-putusan hakim harus dipandang
telah mengatur secara tuntas perlindungan terhadap kepentingan bagi pihak-pihak yang
berkepentingan untuk memperoleh suatu keputusan hakim yang tepat.
Mahkamah Agung berkesimpulan bahwa pada azasnya dan umumnya kesalahan hakim
dalam melakukan tugasnya dalam bidang peradilan seperti yang dinyatakan oleh pasal 1 dan
2 UU. 14/1970 tidaklah merupakan alasan untuk mengajukan gugatan perdata terhadapnya,
sehingga pasal 1365 BW tidak dapat diterapkan untuk kesalahan-kesalahan hakim dalam
menjalankan tugas peradilannya. Ditambahkannya bahwa hal demikian lebih-lebih tidak
dapat diperlakukan terhadap hakm yang tidak salah dalam pelaksanaan tugas justiciabelnya.
Demikian pula Negara tidak dapat dipertanggungjawabkan terhadap kesalahan dalam
perbuatan hakim, yang secara murni merupakan perbuatan hakim dalam melakukan tugas
peradilannya termasuk juga segala tindakan-tindakan hakim (rechterlijke handelingen).
Kesemuanya itu bergandengan dengan azas kebebasan hakim.
Perlu mendapat perhatian putusan Mahkamah Agung tanggal 31 Oktober 1974 No. 981
K/Sip/1972 yang berpendapat bahwa berdasarkan yurisprudensi, perbuatan melanggar hukum
yang dilakukan oleh pejabat negara tunduk pada yurisdiksi Pengadilan Negeri (Y.I. Pen.1975
hal. 488).
Sebagai penutup Mahkamah Agung dalam S.E.M.A. 9/1976 minta kepada Pengadilan
Tinggi dan Pengadilan Negeri seluruh Indonesia dalam menghadapi gugatan terhadap
pengadilan-pengadilan ataupun terhadap hakim di dalam pelaksanaan tugas peradilannya
menolak permohonan tersebut.
Mahkamah Agung tidak menjelaskan apa pada hakekatnya yang dimaksudkan dengan
kebebasan hakim yang selalu ditekankan dalam S.E.M.A. 9/1976: bebas dari campur tangan
extra judiciil, bebas untuk bertindak dalam mengadili, bebas dari gugatan.
Mengingat akan kebebasan hakim yang justru selalu ditekankan oleh Mahkamah Agung,
lepas dari argumentasi pendapat Mahkamah Agung yang tidak dapat menerima gugatan
perdata terhadap hakim apakah S.E.M.A. 9/1976 itu tidak justru mengurangi kebebasan
hakim? Mahkamah Agung memang mempunyai fungsi memimpin dan mengarahkan hakim
bawahannya (leidende functie), akan tetapi apakah dengan S.E.M.A. 9/1976 tersebut
Mahkamah Agung tidak terlalu jauh langkahnya?
101

Senada dengan isi S.E.M.A. 9/1976 adalah surat Mahkamah Agung kepada semua Ketua
Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Negeri serta semua hakim Pengadilan Tinggi dan
Pengadilan Negeri seluruh Indonesia tanggal 25 Pebruari 1977 No. MA/Pemb/0159/77
perihal Perbuatan melanggar hukum oleh penguasa.
Mahkamah Agung dengan surat tersebut minta perhatian agar dalam perkara-perkara
perdata di mana Pemerintah digugat dengan dasar perbuatan melanggar hukum, para hakim
perlu diingatkan untuk melihat perumusan dalam putusan Mahkamah Agung tanggal 3 Maret
1971 No. 838K/Sip/1970 (W. Josopandojo lawan Pemerintah DKI Jakarta) dalam konteks
pembangunan yang perlu disesuaikan dengan jiwa dan kesadaran hukum Indonesia.
Mahkamah Agung menyarankan agar putusan Mahkamah Agung tersebut disempurnakan
dan agar tidak hanya melihat pada perbuatan materiil yang dilakukan oleh Pemerintah tetapi
terutama yang harus ternyata bahwa keadaan di mana perbuatan tersebut terjadi mempunyai
sifat hukum publik yang tertentu.
Di dalam literatur Belanda dikenal istilah "vonnis" dan gewijsde. Yang dimaksudkan
dengan vonnis adalah putusan yang belum mempunyai kekuatan hukum yang pasti, sehingga
masih tersedia upaya hukum biasa, sedangkan gewijsde adalah putusan yang sudah
mempunyai kekuatan hukum yang pasti, sehingga hanya tersedia upaya hukum khusus.
Vonnis sering disebut juga voorlopig gewijsde, sedangkan gewijsde disebut uiterlijk
gewijsde.108
F. Kekuatan putusan
HIR tidak mengatur tentang kekuatan putusan hakim. Putusan mempunyai 3 macam
kekuatan : kekuatan mengikat, kekuatan pembuktian dan kekuatan eksekutorial atau kekuatan
untuk dilaksanakan.
1. Kekuatan mengikat
Untuk dapat melaksanakan atau merealisir suatu hak secara paksa diperlukan suatu
putusan pengadilan atau akta otentik yang menetapkan hak itu. Suatu putusan pengadilan
dimaksudkan untuk menyelesaikan suatu persoalan atau sengketa dan menetapkan hak atau
hukumnya. Kalau pihak yang bersangkutan menyerahkan dan mempercayakan sengketanya
kepada pengadilan atau hakim untuk diperiksa atau diadili, maka hal ini mengandung arti
bahwa pihak-pihak yang bersangkutan akan tunduk dan patuh pada putusan yang dijatuhkan.

108

John Z. Loudoe, menterjemahkannya dengan "putusan sementara" dan "putusan terakhir", Hukum
acara perdata, hal. 32.

102

Putusan yang telah dijatuhkan itu haruslah dihormati oleh kedua belah pihak. Salah satu
pihak tidak boleh bertindak bertentangan dengan putusan.
Jadi, putusan hakim mempunyai kekuatan mengikat: mengikat kedua belah pihak (ps.
1917 BW). Terikatnya para pihak kepada putusan menimbulkan beberapa teori yang hendak
mencoba memberi dasar tentang kekuatan mengikat daripada putusan.109
a. Teori hukum materiil
Menurut teori ini maka kekuatan mengikat daripada putusan yang lazimnya disebut
"gezag van gewijsde" mempunyai sifat hukum materiil oleh karena mengadakan
perubahan terhadap wewenang dan kewajiban keperdataan : menetapkan, menghapuskan
atau mengubah. Menurut teori ini putusan itu dapat menimbulkan atau meniadakan
hubungan hukum. Jadi putusan merupakan sumber hukum materiil. Suatu tuntutan
pembayaran atau pelunasan, hutang dari penggugat yang dikabulkan oleh pengadilan
menyebabkan penggugat menjadi kreditur, sekalipun putusannya belum tentu benar.
Demikian pula kalau pengadilan mengabulkan tuntutan tentang hak milik, maka karena
putusan tersebut penggugat menjadi pemilik. Sebaliknya kalau tuntutan untuk membayar
sejumlah uang ditolak oleh pengadilan itu berarti bahwa tuntutannya batal.
Disebut sebagai ajaran hukum materiil karena memberi akibat yang bersifat hukum
materiil pada putusan.
Mengingat bahwa putusan itu hanya mengikat para pihak dan tidak mengikat pihak
ketiga, kiranya teori ini tidaklah tepat. Ajaran ini tidak, memberi wewenang untuk
mempertahankan hak seseorang terhadap pihak ketiga. Ajaran ini sekarang telah
ditinggalkan.
b. Teori hukum acara
Menurut teori ini putusan bukanlah sumber hukum materiil, melainkan sumber daripada
wewenang prosesuil. Siapa yang dalam suatu putusan diakui sebagai pemilik, maka ia dengan
sarana prosesuil terhadap lawannya capat bertindak sebagai pemilik. Baru apabila undangundang mensyaratkan adanya putusan untuk timbulnya keadaan hukum baru, maka putusan
itu mempunyai arti hukum materiil. Akibat putusan itu bersifat hukum acara, yaitu
diciptakannya atau dihapuskannya wewenang den kewajiban prosesuil. Ajaran ini sangat
sempit, sebab suatu putusan bukanlah semata-mata hanyalah sumber wewenang prosesuil,
karena menuju kepada penetapan yang merupakan pokok sengketa.

109

lihat selanjutnya Asser-Anema-Verdam, op. cit., hal. 306 311, P.A. Stein, op. cit., hal. 160.

103

c. Teori hukum pembuktian


Menurut teori ini putusan merupakan bukti tentang apa yang ditetapkan di dalamnya,
sehingga mempunyai kekuatan mengikat oleh karena menurut teori ini pembuktian lawan
terhadap isi suatu putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang pasti tidak
diperkenankan. Teori ini termasuk teori kuno yang sudah tidak banyak penganutnya.
d. Terikatnya para pihak pada putusan
Terikatnya para pihak kepada putusan dapat mempunyai, arti positif dan dapat pula
mempunyai arti negatif.
Arti positif
Arti positif daripada kekuatan mengikat suatu putusan ialah bahwa apa yang telah
diputus di antara para pihak berlaku sebagai positif benar. Apa yang telah diputus oleh hakim
harus dianggap benar: res iudicata pro veritate habetur. Pembuktian lawan tidak
dimungkinkan. Terikatnya para pihak ini didasarkan pada undang-undang (ps. 1917, 1920
BW).
Arti negatif
Arti negatif daripada kekuatan mengikat suatu putusan ialah bahwa hakim tidak boleh
memutus perkara yang pernah diputus sebelumnya antara para pihak yang sama serta
mengenai pokok perkara yang sama. Ulangan dari tindakan itu tidak akan mempunyai akibat
hukum: nebis in idem (ps. 134 Rv). Kecuali didasarkan atas pasal 134 Rv kekuatan mengikat
dalam arti negatif ini juga didasarkan pada azas "litisniri oportet", yang menjadi dasar
ketentuan tentang tenggang waktu untuk mengajukan upaya hukum: Apa yang pada suatu
waktu telah diselesaikan oleh hakim tidak boleh diajukan lagi kepada hakim.
Di dalam hukum acara kita putusan mempunyai kekuatan mengikat baik dalam arti
positif maupun negatif (ps. 1917, 1920 BW,134 Rv).
e. Kekuatan hukum yang pasti
Suatu putusan memperoleh kekuatan hukum yang pasti atau tetap (kracht van gewijsde),
apabila tidak ada lagi upaya hukum biasa tersedia. Termasuk upaya hukum biasa ialah
perlawanan, banding dan kasasi. Dengan memperoleh kekuatan hukum yang pasti maka
putusan itu tidak lagi dapat diubah, sekalipun oleh pengadilan yang lebih tinggi, kecuali
dengan upaya hukum yang khusus, yaitu request civil dan perlawanan oleh pihak ketiga.
Ada sementara penulis berpendapat bahwa suatu putusan mempunyai kekuatan mengikat
yang negatif kalau belum mempunyai kekuatan hukum yang pasti dan sejak mempunyai

104

kekuatan hukum yang pasti memperoleh kekuatan mengikat yang positif.110 Menurut
pendapat penulis, maka putusan yang belum memperoleh kekuatan hukum yang pasti sudah
mempunyai kekuatan memikat yang positif. Putusan yang telah dijatuhkan harus dianggap
benar dan sejak diputuskan para pihak harus menghormati dan mentaatinya.
Pasal 1917 ayat 1 BW berbunyi, bahwa kekuatan mengikat daripada putusan itu terbatas
pada pokok putusan (onderwerp van het vonnis).
Suatu putusan itu terdiri dari ada bagian yang merupakan dasar daripada putusan dan
bagian yang merupakan putusan itu sendiri atau yadg lazim disebut sebagai amar (dictum).
Timbullah pertanyaan, apakah dan sampai berapa jauhkah masing-masing bagian daripada
putusan itu mempunyai kekuatan mengikat?
Suatu putusan hakim sekalipun terdiri daripada dasar putusan dan dictum, namun
merupakan suatu kesatuan, sehingga kesatuan mengikat daripada putusan itu pada umumnya
tidak terbatas pada dictum saja, tetapi meliputi juga bagian daripada putusan yang merupakan
dasar daripada putusan.
Kekuatan mengikat dari pada putusan itu tidak meliputi penetapan-penetapan mengenai
peristiwa. Apabila hakim dalam suatu putusan telah mengconstatir suatu peristiwa tertentu
berdasarkan alat-alat bukti tertentu, maka dalam sengketa lain peristiwa tersebut masih dapat
disengketakan.111
Kekuatan mengikat daripada putusan tidak pula meliputi hukum obyektif. Sebagai
contoh misalnya: putusan hakim yang menetapkan apa yang dimaksudkan dengan alas hak
dalam pasal 584 BW, sedangkan mengenai peristiwanya sendiri tidak disengketakan.112
Pasal 1917 ayat 2 BW mensyaratkan bahwa untuk dapat mengajukan kekuatan mengikat
itu hal yang dituntut harus sama dan bahwa tuntutan didasarkan atas alasan yang sama, lagi
pula diajukan oleh dan terhadap pihak-pihak yang sama di dalam hubungan yang sama pula.
Dengan perkataan lain, untuk dapat mengajukan tangkisan bahwa suatu putusan mempunyai
kekuatan mengikat (exceptie van gewijsde zaak), maka perkara yang kedua yang diajukan
harus menyangkut hal yang sama dan alasan yang sama. Apa yang dimaksudkan dengan soal
yang lama dan alasan yang sama tidak lain ialah identitas daripada persoalan hukum. Jadi

110

P.A. Stein, op. cit., hal. 163.

111

Lihat a.l. Pitlo, op. cit., hal. 125.


Asser - Anema -Verdam, op. cit., hal. 348.

112

105

kriteriumnya ialah apakah persoalan hukum yang diajukan kepada hakim jumbuh atau identik
dengan persoalan hukum yang telah diputus oleh Hakim.113
Oleh siapakah dan terhadap siapakah kekuatan mengikat daripada putusan itu dapat
diajukan?
Telah diketengahkan di muka bahwa pada azasnya putusan hakim hanyalah mengikat
para pihak (ps. 1917 BW). Yang dimaksudkan dengan pihak bukanlah hanya penggugat dan
tergugat saja, tetapi juga pihak ketiga yang ikut serta dalam suatu sengketa antara penggugat
dan tergugat, baik dengan jalan interventie maupun pembebasan (vrijwaring) atau mereka
yang diwakili dalam proses. Mahkamah Agung dalam putusannya tanggal 9 Nopember 1955
berpendapat bahwa suatu putusan hakim tidak hanya mempunyai kekuatan terhadap pihak
yang kalah, melainkan juga terhadap pihak yang kalah, melainkan juga terhadap seorang
yang kemudian mendapat hak dari pihak yang kalah tadi.114
Jadi yang dapat mengajukan atau menggunakan kekuatan mengikat daripada putusan
adalah para pihak.
Terhadap pihak ketiga putusan tidak mempunyai kekuatan mengikat. Tetapi pihak ketiga
ini dapat mengajukan perlawanan terhadap putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum
yang pasti (ps. 378 Rv). Dalam hal ini perlu mendapat perhatian bahwa hanya pihak ketiga
oleh dirugikan oleh putusan itulah yang dapat mengajukan perlawanan.
HIR tidak mengenal ketentuan seperti pasal 378 Rv. Demikian pula mengenai kekuatan
mengikat daripada putusan tidak diatur HIR, sehingga hal itu diserahkan kepada praktek
peradilan.
Menurut

yurisprudensi kekuatan hukum

yang

pasti daripada putusan dapat

dilumpuhkan.115
2. Kekuatan pembuktian
Dituangkannya putusan dalam bentuk tertulis, yang merupakan akta otentik, tidak lain
bertujuan untuk dapat digunakan sebagai alat bukti bagi para pihak, yang mungkin
diperlukannya untuk mengajukan banding, kasasi atau pelaksanaannya.
Arti putusan itu sendiri hukum pembuktian ialah bahwa dengan putusan itu telah
diperoleh suatu kepastian tentang sesuatu. Bukankah setiap sarana yang memberi kejelasan
atau kepastian tentang sesuatu peristiwa mempunyai kekuatan pembuktian?
113

Pitlo, loc. cit.


H 1956 no. 3 - 4, hal. 56.
115
Supomo menyebutkan beberapa putusan yang melumpuhkan putusan yang telah mempunyai kekuatan
hukum yang pasti, op. cit., hal. 140.
114

106

Sekalipun putusan tidak mempunyai kekuatan mengikat terhadap pihak ketiga, namun
mempunyai kekuatan pembuktian terhadap pihak ketiga.
Pasal 1918 dan 1919 BW mengatur tentang kekuatan pembuktian daripada putusan
pidana. Putusan pidana yang isinya menghukum dan telah memperoleh kekuatan hukum yang
pasti, dapat digunakan sebagai bukti dalam perkara perdata mengenai peristiwa yang telah
terjadi, kecuali apabila ada bukti lawan : kekuatan pembuktiannya mengikat (ps. 1918 BW).
Apabila seseorang dibebaskan dari segala tuduhan, maka putusan pembebasan itu tidak dapat
digunakan sebagai bukti dalam perkara perdata untuk minta ganti kerugian (ps. 1919 BW).
Kalau kekuatan pembuktian putusan pidana diatur dalam pasal 1918 dan 1919 BW, maka
tentang kekuatan pembuktian putusan perdata tidak ada ketentuannya. Putusan perdatapun
mempunyai kekuatan pembuktian. Menurut pasal 1916 ayat 2 no. 3 BW maka putusan hakim
adalah persangkaan. Putusan hakim merupakan persangkaan bahwa isinya benar: apa yang
telah diputus oleh hakim harus dianggap benar (res judicata pro veritate habetur). Adapun
kekuatan pembuktian daripada putusan perdata diserahkan kepada pertimbangan hakim. 116
3. Kekuatan eksekutorial
Suatu putusan dimaksudkan untuk menyelesaikan suatu persoalan atau sengketa dan
menetapkan hak atau hukumnya.

116

HR 30 Juni 1938, NJ 1938, 1055.

107

BAB IX
PELAKSANAAN PUTUSAN

A. PENGERTIAN PELAKSANAAN PUTUSAN


Tujuan pihak-pihak yang berperkara menyerahkan perkara perdatanya kepada pengadilan
adalah untuk menyelesaikan perkara mereka secara tuntas dengan putusan pengadilan. Akan
tetapi, adanya putusan pengadilan saja belum berarti sudah menyelesaikan perkara mereka
secara tuntas, melainkan kalau putusan tersebut telah dilaksanakan.
Putusan pengadilan yang dapat dilaksanakan (eksekusi) adalah putusan yang sudah
mempunyai kekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde), yaitu putusan yang sudah tidak
mungkin lagi dilawan dengan upaya hukum verzet, banding, dan kasasi. Putusan pengadilan
mengenai perkara di mana pihak tergugat lebih dari seorang dan di antaranya ada yang tidak
menyatakan banding dan kasasi, pelaksanaannya harus menunggu sampai keseluruhan
putusan mempunyai kekuatan hukum tetap (MA tanggal 3-12-1974 Nomor 1043
K/Sip/1971).
Semua putusan pengadilan mempunyai kekuatan eksekutorial, yaitu kekuatan untuk
dilaksanakan secara paksa oleh alat-alat negara. Adanya kekuatan eksekutorial pada putusan
pengadilan adalah karena kepalanya berbunyi:
Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Akan tetapi, tidak semua putusan pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum
tetap memerlukan pelaksanaan secara paksa oleh alat-alat negara, tetapi hanyalah putusan
pengadilan yang diktumnya bersifat condemnatoir. Sedangkan putusan yang diktumnya
bersifat declaratoir dan constitutief tidak memerlukan sarana-sarana untuk melaksanakannya.
Sebab putusan yang bersifat declaratoir dan constitutief tidak memuat adanya hak atas
suatu prestasi. Akibat hukum yang terjadi karena putusan pengadilan yang bersifat
declaratoir dan constitutief berupa suatu keadaan yang sah menurut hukum dan perubahan
keadaan hukum dengan sendirinya terjadi pada saat putusan tersebut diucapkan. Jadi, akibat
hukumnya atau pelaksanaannya tidak memerlukan bantuan pihak lawan yang dikalahkan,
sehingga tidak memerlukan upaya pemaksa.
Putusan pengadilan yang bersifat condemnatoir juga tidak selalu harus dilaksanakan
dengan paksaan, tetapi hanya jika putusan tersebut tidak dilaksanakan secara sukarela oleh
pihak yang dihukum. Apabila putusan pengadilan tersebut dilaksanakan dengan sukarela oleh

108

pihak yang dihukum sesuai dengan bunyi diktum putusan, selesailah perkaranya tanpa perlu
bantuan alat negara untuk melaksanakannya.
Jadi, pelaksanaan putusan pengadilan tidak lain adalah realisasi dari apa yang merupakan
kewajiban dari pihak yang dikalahkan untuk memenuhi suatu prestasi, yang merupakan hak
dari pihak yang dimenangkan, sebagaimana tercantum dalam putusan pengadilan.

B. PIHAK YANG MEMOHON DAN MELAKSANAKAN PUTUSAN


Putusan pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap yang tidak mau
dilaksanakan dengan sukarela oleh pihak yang dihukum (kalah perkara), karenanya harus
dilaksanakan secara paksa, yang dilakukan oleh panitera dan juru sita dipimpin oleh Ketua
Pengadilan Negeri (Pasal 60 dan Pasal 65 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986, Pasal 195
ayat (1) HIR/Pasal 206 ayat (1) RBg).
Namun, sesuai dengan sifat perkara perdata yang lebih banyak menyangkut kepentingan
pribadi pihak-pihak yang berperkara, Ketua Pengadilan Negeri hanyalah memerintahkan
panitera dan juru sita untuk melaksanakan putusan pengadilan, jika ada permohonan
pelaksanaan putusan dari pihak yang menang perkara. Selama permohonan pelaksanaan tidak
ada, selama itu pula Ketua Pengadilan Negeri tidak akan memerintahkan panitera dan juru
sita untuk melaksanakan sesuatu putusan meskipun putusan tersebut sudah mempunyai
kekuatan hukum tetap. Jadi, inisiatif untuk melaksanakan putusan pengadilan ada pada pihak
yang menang perkara yang mempunyai kepentingan secara langsung terhadap pelaksanaan
putusan pengadilan tersebut.
Jika ada permohonan pelaksanaan putusan dari pihak yang menang perkara, baik secara
tertulis maupun secara lisan, atas dasar permohonan tersebut Ketua Pengadilan Negeri
memanggil pihak yang kalah perkara untuk diperingatkan agar melaksanakan putusan dalam
waktu 8 (delapan) dari setelah peringatan itu disampaikan (Pasal 196 HIR/Pasal 207 RBg).
Apabila waktu 8 (delapan) hari itu sudah lewat, ternyata pihak yang kalah perkara belum
juga melaksanakan putusan, atau jika orang yang kalah sesudah dipanggil dengan patut tidak
juga datang menghadap, barulah Ketua Pengadilan Negeri memerintahkan panitera dan juru
sita melaksanakan putusan pengadilan tersebut.
Untuk melaksanakan putusan pengadilan secara paksa, Pengadilan Negeri dapat meminta
bantuan kepada Polri atau ABRI untuk menjaga ketertiban dan keamanan di tempat putusan
dilaksanakan.
109

Apabila pelaksanaan putusan tersebut sebagian atau seluruhnya harus dilaksanakan di


luar daerah hukum Pengadilan Negeri yang melaksanakan, Ketua Pengadilan Negeri tersebut
meminta bantuan Ketua Pengadilan Negeri yang bersangkutan untuk melaksanakan putusan
itu. Ketua Pengadilan Negeri yang diminta bantuannya itu memberitahukan sesegeranya
tentang tindakan-tindakan yang diperintahkannya serta hasilnya kepada Ketua Pengadilan
Negeri yang meminta bantuan dalam melaksanakan putusan pengadilan.
Barangsiapa yang menentang dengan kekerasan atau ancaman kekeran terhadap panitera
dan juru sita yang diperintahkan Ketua Pengadilan Negeri untuk melaksanakan putusan dapat
dihukum pidana menurut

Pasal 211 jo. Pasal 214 KUHPidana. Lebih dahulu, menurut

ketentuan dalam Pasal 197 ayat (1) HIR/Pasal 208 RBg, penyitaan itu harus lebih dahulu
dilakukan terhadap barang-barang bergerak. Jika barang-barang bergerak tidak ada atau tidak
mencukupi, barulah dilakukan terhadap barang-barang tidak bergerak. Untuk daerah-daerah
luar Jawa dan Madura yang mempergunakan hukum acara dalam RBg disebutkan bahwa:
"bagi daerah-daerah Bengkulu, Sumatra Barat .(daerah Minangkabau) dan Tapanuli,
barang-barang harta pusaka keluarga hanya boleh disita apabila harta pencaharian
sendiri pihak yang kalah perkara tidak mencukupi."
Menurut yurisprudensi harta pusaka hanya dapat disita untuk pelunasan hutang biaya
perkawinan seorang kemenakan perempuan, hutang angkat penghulu, atau h.utang menurut
adat misalnya untuk biaya mendirikan balai, membangun tempat pekuburan famili, dan
hutang untuk membiayai penguburan seorang anggota famili.117
Oleh karena hukum adat tidak mengenal perbedaan antara barang bergerak dan barang
tidak bergerak, rnaka ketentuan dalam pasal HIR/RBg tersebut menurut Supomo harus
diartikan menurut rasio, yaitu tanah dan rumah permanen adalah barang-barang tidak
bergerak, sedangkan perabot rumah, hewan, dan pakaian adalah barang-barang bergerak.118
Dalam praktek peradilan mengenai penyitaan barang bergerak dan barang tidak bergerak ini
tampaknya tidak menimbulkan kesukaran, cara membedakan barang bergerak dan barang
tidak bergerak menurut sistem hukum perdata Barat tampaknya diikuti.
Penyitaan untuk melaksanakan putusan pengadilan (executoir beslag) menurut Pasal 197
HIR/Pasal 208 - Pasal 212 RBg dilakukan oleh panitera atau penggantinya dengan dibantu
oleh 2 (dua) orang saksi yang mernenuhi persyaratan menurut undang-undang. Panitera atau
penggantinya yang telah melakukan penyitaan membuat berita acara tentang penyitaan itu
117

Prof. R. Subekti, S.H., Hukum Acara Perdata, Binacipta, Jakarta, cet. I, 1977, hal. 133.
Prof. Dr. R. Supomo, S.H., Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri, Pradnya Paramita, Jakarta, cet.
V, 1972, hal. 138.
118

110

dan memberitahukan maksudnya kepada orang yang barangnya tersita apabila ia hadir pada
waktu itu. Penyitaan barang-barang bergerak juga dapat dilakukan terhadap uang dan suratsurat berharga serta barang bergerak yang berwujud yang berada dalam tangan orang lain,
kecuali ternak dan barang-barang yang dipergunakan untuk menjalankan usahanya seharihari. Panitera atau penggantinya dengan mengingat keadaan, dapat membiarkan barangbarang bergerak atau sebagian daripadanya yang telah disita itu untuk tetap disimpan oleh
orang yang tersita, atau menyuruh membawa barang-barang itu atau sebagian daripadanya ke
suatu tempat penyimpanan yang baik. Jika barang-barang bergerak yang disita itu dibiarkan
tetap disimpan oleh orang yang tersita, panitera atau penggantinya memberitahukan kepada
polisi setempat yang harus menjaga jangan sampai barang-barang tersebut dibawa pergi.
Jika yang disita eksekusi tersebut adalah barang-barang tidak bergerak, berita acara
penyitaan itu diumumkan. Jika barang tidak bergerak tersebut berupa tanah yang sudah
didaftarkan di Kantor Pertanahan (Kotamadya/Kabupaten), berita acara penyitaan itu
diberitahukan kepada Kepala Kantor Pertanahan yang bersangkutan. Akan tetapi, jika tanah
yang disita tersebut belum didaftarkan, berita acara penyitaan itu diumumkan oleh panitera
atau penggantinya. Di samping itu, panitera atau penggantinya meminta kepada Kepala
Desa/Lurah untuk mengumumkan seluas-luasnya di tempat itu dengan cara yang lazim
digunakan di daerah tersebut.
Selanjutnya, dalam Pasal 55 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997
tentang Pendaftaran Tanah ditentukan bahwa Panitera Pengadilan Negeri wajib
memberitahukan kepada Kepala Kantor Pertanahan yang bersangkutan mengenal isi semua
putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang mengakibatkan terjadinya
perubahan pada data mengenai bidang tanah yang sudah didaftar atau satuan rumah susun
untuk dicatat pada buku tanah yang bersangkutan dan sedapat mungkin pada sertifikatnya dan
daftar-daftar lainnya.
Terhitung mulai hari pengumuman berita acara penyitaan itu, pihak yang barangnya
tersita tidak boleh memindahtangankan, menjaminkan, atau menyewakan benda tersebut
kepada pihak lain. Perjanjian-perjanjian yang bertentangan dengan larangan ini tidak dapat
dipergunakan untuk melawan terhadap pejabat yang melakukan penyitaan itu.
Kadang-kadang barang milik pihak yang kalah perkara yang akan dilelang sudah disita
jaminan (conservatoir beslag) pada waktu pemeriksaan perkara di Pengadilan Negeri. Jika
demikian, penyitaan untuk melaksanakan putusan pengadilan (executoir beslag) tidak perlu
lagi dilakukan sebab sita jaminan yang sudah ada itu telah berubah menjadi sita eksekusi.
111

Pelelangan barang-barang milik pihak yang kalah perkara atau yang dihukum untuk
membayar sejumlah uang, seperti telah dikemukakan, dapat dilakukan sendiri oleh Ketua
Pengadilan Negeri dengan menunjuk panitera atau juru sita maupun dengan perantaraan atau
bantuan Kantor Lelang yang ada di daerah (kota) yang bersangkutan. Jadi, ada 2 (dua)
kemungkinan petugas yang melakukan pelelangan, yaitu panitera atau juru sita dan Kepala
Kantor Lelang. Pelelangan harus mengindahkan ketentuan-ketentuan yang termuat dalam
Pasal 200 HIR/Pasal 215 - Pasal 218 RBg maupun ketentuan perundang-undangan lain yang
berhubungan.
Sebelum pelelangan dilakukan harus diumumkan lebih dahulu kepada khalayak menurut
kebiasaan setempat dan pelelangan baru dapat dilakukan 8 (delapan) hari setelah penyitaan.
Apabila yang hendak dilelang termasuk barang tidak bergerak, pengumuman itu harus
dilakukan 2 (dua) kali dengan selang waktu 15 (lima belas) hari. Apabila harganya lebih dari
Rp 1.000,00 (seribu rupiah), pengumuman tersebut harus dimuat dalam surat kabar yang
terbit di kota itu atau dekat kota itu, paling kurang 14 (empat belas) hari sebelum pelelangan
dilakukan.
Jika pelelangan dilakukan oleh Kepala Kantor Lelang, menurut Pasal 41 Peraturan
Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997, selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sebelum suatu
bidang tanah atau satuan rumah susun dilelang, Kepala Kantor Lelang wajib meminta
keterangan kepada Kepala Kantor Pertanahan mengenai bidang tanah atau satuan rumah
susun yang akan dilelang. Kepala Kantor Pertanahan mengeluarkan keterangan dimaksud
selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja setelah diterimanya permintaan dari Kepala Kantor
Lelang.
Jika suatu bidang tanah yang telah terdaftar atau satuan rumah susun dilelang, untuk
pendaftaran peralihan hak yang diperoleh melalui Ielang disampaikan kepada Kepala Kantor
Pertanahan:
a. Kutipan risaiah Ielang yang bersangkutan,
b. Sertifikat hak mink atas satuan rumah susun atau hak atas tanah yang dilelang, jika
tidak, surat keterangan dari Kepala Kantor Lelang mengenai alasan tidak
diserahkannya sertifikat tersebut,
c. Bukti identitas pembeli lelang, dan
d. bukti pelunasan harga pembelian.
Jika yang dilelang suatu bidang tanah yang belurn terdaftar, yang harus disampaikan
kepada Kepala Kantor Pertanahan selain kutipan risaiah leiang, juga bukti identitas pembeli
112

Ielang dan bukti pelunasan harga pembelian adalah bukti-bukti tulisan yang menerangkan
hak atas tanah berasal dari konversi hak-hak lama, atau surat keterangan Kepala
Desa/Kelurahan yang menyatakan bahwa yang bersangkutan telah menguasai tanah selama
20 (dua puluh) tahun atau lebih secara berturut-turut dengan itikad balk, atau surat keterangan
dari pemegang hak yang bersangkutan yang dikuatkan oleh Kepala Desa/Kelurahan bahwa
tanahnya terletak di daerah yang jauh dari kedudukan Kantor Pertanahan (Pasal 41 Peraturan
Pemerintah Nommor 24 Tahun 1997).
Jika pelelangan dilakukan oleh panitera atau juru sita, panitera atau juru sita tersebut
melaporkan secara tertulis kepada Ketua Pengadilan Negeri tentang hasil pelelangan tersebut.
Dalam pelelangan pihak yang kalah perkara berhak untuk menunjuk atau menentukan
barang-barang apa yang ingin lebih dahulu dilelang. Apabila jumlah uang yang harus dibayar
menurut putusan pengadilan (dan biaya-biaya pelaksanaan putusan) telah dicapai, pelelangan
pun dihentikan. Barang-barang selebihnya segera diangkat dari sitaan dan dikembalikan
kepada pihak yang kalah perkara. Demikian pula apabila uang hasil pelelangan itu setelah
dibayarkan kepada pihak yang menang perkara dan biaya-biaya perkara masih ada sisanya,
sisa uang hasil pelelangan ini pun diserahkan kepada pihak yang kalah perkara.
Dalam hal pelelangan barang-barang tidak bergerak, hak-haknya berpindah kepada
pembeli setelah pembeli yang bersangkutan memenuhi syarat-syarat pembelian. Seteiah
syarat-syarat pembelian ini dipenuhi, kepadanya diberikan tanda bukti pembelian oleh
petugas yang melakukan pelelangan.
Jika pihak yang kalah perkara tidak mau meninggalkan barang tidak bergerak tersebut,
Ketua Pengadilan Negeri mengeluarkan surat perintah kepada petugas eksekusi supaya kalau
perlu dengan bantuan polisi mengosongkan barang tidak bergerak yang dilelang itu dari pihak
yang kalah perkara, keluarganya, sanak saudaranya, dan barang-barang lainnya.
Mengapa barang-barang milik pihak yang kalah perkara harus dijual dengan cara
pelelangan umum? Maksudnya tidak lain adalah agar barang-barang itu dapat terjual dengan
harga yang tinggi karena adanya persaingan dari para calon pembeli yang mengikuti
pelelangan. Namun, dalam praktek maksud diadakannya pelelangan ini tidak selalu tercapai.
Malahan, barang-barang yang dilelang di depan umum kadang kala harganya cenderung lebih
rendah dibandingkan dengan dijual tanpa pelelangan atau dijual secara biasa. Oleh karena itu,
sebaiknya Ketua Pengadilan Negeri dapat mempertimbangkan buat memberi kesempatan
kepada pihak yang kalah perkara untuk mencari sendiri calon pembeli barangnya yang
bersedia untuk mernbeli dengan harga yang layak, sehingga pihak yang kalah perkara tidak
113

terlalu dirugikan, di samping hak, dari pihak yang menang perkara untuk mendapatkan
pernbayaran, dapat dipenuhi semuanya.
Kemudian, jika nilai uang pada waktu ditetapkan Pengadilan Negeri sangat berbeda
dengan nilai uang pada waktu putusan dilaksanakan, jumlah yang harus dibayar dalam
putusan tersebut harus dinilai dengan mempergunakan harga emas pada waktu jumlah itu
ditetapkan Pengadilan Negeri dan harga emas pada waktu putusan dilaksanakan, dengan
membebankan risiko karena penilaian itu kepada kedua belah pihak yang berperkara.119`

2. Pelaksanaan Putusan yang Menghukum Seseorang untuk Melakukan Suatu


Perbuatan
Pelaksanaan putusan ini diatur pada Pasal 225 HIR/Pasal 259 RPg yang menentukan
bahwa apabila seseorang yang dihukum, untuk melakukan suatu perbuatan, tidak melakukan
perbuatan itu dalam tenggang waktu yang ditentukan, pihak yang dimenangkan dalam
putusan itu dapat meminta kepada Ketua Pengadilan Negeri agar perbuatan yang sedianya
dilakukan/dilaksanakan oleh pihak yang kalah perkara itu dinilai dengan sejumlah uang.
Dengan demikian, putusan pengadilan yang semula menghukum tergugat untuk
melaksanakan suatu perbuatan tidak berlaku lagi. Dengan kata lain, putusan semula ditarik
kembali, dan Ketua Pengadilan Negeri mengganti putusan tersebut dengan putusan yang lain.
Perubahan putusan di sini dilakukan atas kebijaksanaan Ketua Pengadilan Negeri saja yang
sedang memimpin eksekusi tersebut jadi tidak dalam sidang yang terbuka untuk umum.
Sedangkan putusan yang diubah bukan hanya putusan Pengadilan Negeri, melainkan juga
putusan Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung yang sedang dilaksanakan.120
Sebenarnya hakim yang mengabulkan gugatan dengan menghukum tergugat untuk
melakukan suatu perbuatan yang disebutkan dalam diktum putusan. Menurut Prof. R.
Subekti, S.H.:
"sudah harus memperhitungkan kemungkinan tentang tidak akan dilaksanakannya
secara sukarela perbuatan tersebut dan di dalam diktum putusan tersebut sudah harus
memberikan pula penghukuman membayar sejumlah uang sebagai gantinya, sekadar hai
itu dirninta oleh penggugat.121
119

Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 04 Tahun 1970 tanggal 2 Maret 1970 dan Surat tanggal 20
Oktober 1969 kepada Ketua Pengadilan Tinggi di Menado tentang pelaksanaan putusan-putusan perkara perdata
yang di dalamnya berisi pembayaran uang menurut nilai uang lama.
120
Ny. Retnowulan Sutantio, S.H., Hukum Acara Perdata dalam Teori dan Praktek, Alumni, Bandung,
1979, hal. 116.
121
Prof. R. Subekti, S.H., op.cit., hal. 130.

114

Apabila perbuatan yang harus dilaksanakan dalam putusan semula sudah diganti dengan
kewajiban untuk membayar sejumlah uang dan pihak yang kalah perkara tetap tidak mau
melaksanakannya dengan sukarela, pelaksanaannya pun sama dengan melaksanakan putusan
pengadilan yang menghukum seseorang untuk membayar sejumlah uang, yaitu dengan
melakukan penyitaan eksekusi dan pelelangan barang-barang harta kekayaan pihak yang
kalah perkara yang seyogyanya melaksanakan putusan tersebut.
Jadi, putusan pengadilan yang menghukum seseorang untuk melaksanakan sesuatu
perbuatan, seperti memperbaiki pagar, menyelesaikan bangunan yang masih terbengkalai,
dan sebagainya, tidak dapat dilaksanakan dengan memaksa yang bersangkutan untuk
melakukan perbuatan itu, tetapi dengan melakukan penilaian terhadap perbuatan yang
sedianya harus dilaksanakan oleh pihak yang kalah perkara itu dengan sejumlah uang.
3. Pelaksanaan

Putusan

Pengadilan

yang

Menghukum

Seseorang

untuk

Mengosongkan Barang Tetap


Pelaksanaan putusan ini sering disebut dengan istilah eksekusi rill. Eksekusi riil, ini tidak
diatur dalam HIR maupun RBg, tetapi banyak dilakukan dalam praktek.
Dalam HIR (Pasal 200 ayat (11) dan RBg (Pasal 218 ayat (2)) hanya diatur mengenai
eksekusi riil dalam penjualan lelang, di mana disebutkan bahwa jika pihak yang kalah perkara
yang tidak mau meninggalkan/mengosongkan barang tidak bergerak yang telah dilelang,
Ketua Pengadilan Negeri mengeluarkan surat perintah kepada petugas eksekusi kalau perlu
dengan bantuan polisi untuk mengosongkan barang tidak bergerak yang dilelang itu dari
pihak yang kalah perkara, keluarganya, sanak saudaranya, dan barang-barang lainnya.
Ketentuan dalam Pasal 200 ayat (11) HIR/Pasal 218 ayat (2) RBg di atas ini memberikan
petunjuk tentang bagaimana eksekusi riil harus dilaksanakan, di mana pengosongarn barang
tidak bergerak dilakukan oleh petugas eksekusi (panitera atau juru sita), kalau perlu dengan
bantuan polisi atau polisi militer jika yang dihukum untuk mengosongkan, barang tidak
bergerak itu anggota ABRI.
Pasal 1033 Rv memberikan pengaturan yang lebih jelas mengenai pelaksanaan eksekusi
riii ini sebagai berikut:
"Apabila putusan pengadifan yang memerintahkan pengosongan barang tidak bergerak
tidak dipenuhi oieh orang yang dihukum, maka Ketua akan memerintahkan dengan surat
kepada juru sita supaya dengan bantuan alat kekuasaan negara, barang tidak bergerak

115

itu dikosongkan oieh orang yang dihukum serta keluarganya dan segala barang
kepunyaannya."
Prof. Dr. R. Supomo, S.H., dalam bukunya Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri
menyatakan:
"meskipun eksekusi riil dari putusan pengadilan tidak diatur dalam HIR/RBg, namun
eksekusi riii tersebut sudah lazim dijalankan oleh Pengadilan Negeri berdasarkan
kebutuhan praktik." 122
Tentunya perlawanan terhadap eksekusi riil pun tidak diatur dalam HIR/RBg, tetapi
berdasarkan hukum acara tidak tertulis, perlawanannya pun dapat diajukan kepada
Pengadilan Negeri. 123
Dalam eksekusi riil yang harus meninggalkan barang tetap yang dikosongkan itu adalah
pihak yang kalah perkara beserta keluarga dan sanak saudaranya, bukan pihak penyewa
rumah tersebut, ,misalnya pihak yang telah mendiami rumah itu lebih dahulu sebelum rumah
itu disita berdasarkan perjanjian sewa-menyewa. Pihak penyewa semacam itu akan tetap
diperkenankan untuk mendiami rumah tersebut meskipun pihak pembelinya telah membeli
rumah itu melalui pelelangan karena ada ketentuan dalam hukum perdata (Pasal 1576 BW)
yang menentukan. bahwa jual-beli tidak menghapuskan sewa-menyewa. Lain halnya jika
rumah dan tanah tersebut disewakan setelah berita acara penyitaan diumumkan, pihak yang
barangnya disita telah melanggar ketentuan dalam Pasal 199 HIR/Pasal 214 RBg, Pasal 1337
BW, dan Pasal 231 ayat 1) KUHP, sehingga perjanjian sewa-menyewa yang dibuatnya
dengan penyewa batal demi hukum. Meskipun demikian, apabila ternyata orang lain bukan
pihak tersita dan keluarganya mendiami rumah tersebut sewaktu dilelang, rumah tersebut
tidak dapat langsung dikosongkan, tetapi perjanjian sewa-menyewa termaksud harus Iebih
dahulu dibatalkan.124

C. PENYANDERAAN
Penyanderaan (gijzeling) adalah memasukkan ke dalam penjara orang yang telah
dihukum oleh putusan pengadilan untuk membayar sejumlah uang, tetapi tidak melaksanakan
putusan tersebut dan tidak ada atau tidak cukup mempunyai barang yang dapat disita
eksekusi.

122

Prof. R. R. Supomo, S.H., op.cit., hal. 152.


ibid.
124
Ny. Retnowulan Sutantio, op.cit., hal. 117.
123

116

Penyanderaan terhadap seseorang yang tidak mempunyai sesuatu apa pun lagi,
dimaksudkan untuk memaksa sanak keluarganya untuk memDayarkan apa yang harus dibayar menurut putusan pengadilan tersebut.10
Penyanderaan dalam perkara perdata ini diatur dalam Pasal 209 sampai dengan Pasal 224
HIR/Pasal 242 sampai dengan Pasal 257 RBg.
Menurut ketentuan dalam Pasal 210 ayat (1) HIR/Pasal 243 ayat (1) RBg orang dapat
disandera 6 (enam) bulan jika dihukum untuk membayar uang sampai Rp 100,00 (seratus
rupiah), 1 (satu) tahun jika dihukum untuk membayar uang lebih dan Rp 100,00 (seratus
rupiah), 2 (dua) tahun. Jika dihukum untuk membayar uang Iebih dari Rp 300,00 (tiga ratus
rupiah), dan 3 (tiga) tahun jika dihukum untuk membayar uang lebih dari Rp 500,00 (lima
ratus rupiah).
Segala biaya pemeliharaan orang yang disandera ditanggung oleh pihak yang menang
perkara yang meminta penyanderaan itu (Pasal 216 ayat (1) HIR/Pasal 250 ayat (1) RBg).
Meskipun orang yang dihukum membayar sejumlah uang tersebut telah disandera, tidak
berarti lalu dibebaskan dari kewajibannya untuk membayar hutangnya (Pasal 221 HIR/Pasal
256 RBg).
Dari ketentuan di atas ini jelaslah bahwa penyanderaan itu dirasakan tidak adil. Orang
yang kalah perkara sudah dipenjarakan/dikurung/dirampas kebebasannya (walaupun atas
biaya pihak yang menang perkara), tetapi tidak membawa akibat lunasnya hutang yang harus
dibayarnya. Walaupun penyanderaan itu bukan hukuman penjara menurut pengertian hukum
pidana, merampas kemerdekaan orang dengan mengurung dalam penjara itu adalah suatu
perbuatan yang bertentangan dengan peri kemanusiaan. 125
Oleh karena itu, Mahkamah Agung dengan Surat Edaran Nomor 2 Tahun 1964 tanggal
22 Januari 1964 menginstruksikan kepada semua Ketua Pengadilan Tinggi dan Ketua
Pengadilan Negeri seluruh Indonesia. untuk nempergunakan lagi peraturan-peraturan
mengenai sandera (gij-zeling) sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 209 sampai dengan
224 HIR/Pasal 242 sampai dengan Pasal 257 RBg karena penyataan seseorang dipandang
bertentangan dengan peri kemanusiaan. Pendirian ini tetap dipegang oleh Mahkamah Agung
ketika memutuskan perkara perdata Nomor 951 K/Sip/1974 tanggal 28 Januari 1975 antara
mardjuki bin H. Mardjuki Dulkiran vs Jr. Bahaluddin Harahap. Dalam putusan tersebut
Mahkamah Agung membatalkan penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Utara-Timur Nornor
1/1974/Gijz. tanggal 27 Mei 1974 yang telah mengabulkan penyanderaan terhadap Mardjuki
125

Abdulkadir Muhammad, S.H., Hukum Acara Perdata Indonesia, Alumni, Bandung, 1978, hal. 247.

117

bin H. Dulkiran yang memenuhi putusan Nomor 142/1972.G. yang menghukum untuk
membayar ganti rugi sebesar Rp 1.700.000,00 (satu juta tujuh ratus ribu rupiah) kepada Ir.
Bahaluddin Harahap.
Dalam pertimbangan hukum putusan Mahkamah Agung itu antara lain akan menyatakan:
Bahwa dahulu dalam Hukum Adat dikenal lembaga "peruluran" (pandelingschap) yang
oleh Pemerintah Hindia Belanda dihapuskan karena dianggap bertentangan dengan peri
kemanusiaan dan martabat manusia yang beradab. Pemerintah Hindia Belanda
melarang untuk memperulur orang yang tidak dapat membayar hutangnya, tetapi
dengan lembaga gijzeling dalam HIR/RBg dibuka kemungkinan untuk merampas
kebebasan bergerak seorang miskin yang tidak mampu membayar hutangnya"
"Bahwa merampas kebebasan bergerak seseorang dengan penyanderaan adalah lebih
tidak berperikemanusiaan daripada peruluran, karena dalam peruluran kebebasan
bergerak masih tetap ada."
"Di Samping itu, hakim dalam menjalankan putusan harus selalu mengindahkan peri
kemanusiaan dan peri keadilan, sebagaimana ditentukan dalam Pasal 33 ayat (4)
Undang-Undang Pokok Kekuasaan Kehakiman Nomor 14 Tahun 1970, sedangkan suatu
pelaksanaan putusan pengadilan dengan mempergunakan pasal-pasal tentang Gijzeling
(HIR Pasal 209 dan seterusnya) akan menyimpang dari ketentuan tersebut di atas.
Kemudian, dengan Surat Edaran Nomor 04 Tahun 1975 tanggal 1 Desember 1975
Mahkamah Agung menegaskan kembali isi Surat Edaran Nomor 2 Tahun 1964 tanggal 22
Januari 1964 untuk tidak menggunakan lembaga gijzeling, mengingat Pasal 33 UndangUndang Pokok Kekuasaan Kehakiman yang menghendaki pelaksanaan putusan dengan tidak
meninggalkan peri kemanusiaan.
Namun, sementara ahli hukum masih menghendaki penerapan lembaga sandera itu
meskipun harus dilakukan dengan sangat hati-hati, dengan memperhatikan sungguh-sungguh
situasi dan kondisi tertentu. Prof. Dr. Sudikno Mertokusumo, S.H., dalam bukunya Hukum
Acara Perdata Indonesia mengemukakan:
"Di dalam praktek tidak jarang terjadi, debitur yang dikalahkan atau akan dikalahkan
dalam perkara di pengadilan, jauh sebelumnya telah mengalihkan harta kekayaannya
kepada saudaranya atau orang lain dengan, maksud untuk menghindarkan harta
kekayaan tersebut dari penyitaan. Dengan demikian, si debitur tampaknya sebagai

118

orang yang miskin, tetapi sesungguhnya tidak. Mengingat hal semacam ini lembaga
sandera kiranya masih perlu dipertahankan, namun penerapannya harus hati-hati.126
Sejalan dengan pikiran Prof. Dr. Sudikno Mertokusumo, S.H. tersebut Mahkamah Agung
kemudian mengeluarkan Peraturan Nomor 1 Tahun 2000 tentang Lembaga Paksa Badan
tanggal 30 Juni 2000 yang mencabut Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 1964
dan Nomor 4 Tahun 1975. Berdasarkan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2000
ini, debitur (dan ahli waris yang telah menerima warisan dari debitur), penanggung, atau
penjamin hutang yang mampu, tetapi tidak mau memenuhi kewajibannya untuk membayar
hutang-hutangnya (minimal Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)) dapat dikenakan
paksa badan.
Putusan tentang paksa badan ditetapkan bersama-sama dengan putusan pokok perkara.
Sedangkan pelaksanaannya dilakukan dengan Penetapan Ketua Pengadilan Negeri (Pasal 6),
yang dijalankan berdasarkan ketentuan sebagaimana tercantum dalam Pasal 209 sampai
dengan Pasal 224 HIR dan Pasal 242 sampai dengan Pasal 258 RBg (Pasal 2). Paksa badan
ditetapkan untuk 6 (enam) bulan lamanya dan dapat diperpanjang setiap 6 (enam) bulan
dengan jumlah keseluruhan maksimum selama 3 (tiga) tahun (Pasal 5). Namun, paksa badan
tidak dikenakan terhadap debitur yang telah berusia 75 (tujuh puluh lima) tahun (Pasal 3).

D. PERLAWANAN TERHADAP PELAKSANAAN PUTUSAN


Putusan pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap tidak berarti dapat
dilaksanakan dengan semena-mena, tetapi harus tetap mengindahkan ketentuan hukum yang
berlaku, yang mengatur bagaimana pelaksanaan putusan pengadilan tersebut harus
dijalankan. Pelaksanaan putusan pengadilan yang melanggar peraturan hukum itu dapat
dilakukan perlawanan, baik oleh pihak yang kalah perkara maupun oleh pihak ketiga, yang
merasa dirugikan akibat pelaksanaan putusan yang tidak benar tersebut.
Pihak yang kalah perkara dapat rengajukan perlawanan terhadap pelaksanaan putusan
yang tidak benar, misalnya: putusan yang dilaksanakan tersebut belum pernah disampaikan
kepada pihak yang kalah perkara; Pihak yang kalah perkara belum pernah dipanggil untuk
menerima teguran (sommatie) agar melaksanakan putusan itu: waktu yang diberikan untuk
melaksanakan putusan belum habis, sedangkan pelaksanaan secara paksa dijalankan;
penyitaan eksekusi dilakukan terhadap hewan atau alat-alat yang benar-benar dipergunakan

126

Prof. Dr. Sudikno Mertokusumo, S.H., op.cit., hal. 186.

119

untuk mata pencaharian oleh pihak yang kalah perkara; penyitaan eksekusi dilakukan tanpa
mengindahkan prosedur hukum yang berlaku; pelelangan Iebih dahulu dilakukan terhadap
barang-barang tidak bergerak; putusan yang dilaksanakan terhadap barang-barang tidak
bergerak; putusan yang dilaksanakan sesungguhnya sudah dipenuhi secara sukarela oleh
pihak yang kalah perkara, dan sebagainya.
Pihak ketiga dapat mengajukan perlawanan jika ternyata barang-barang yang disita
eksekusi adalah miliknya, bukan milik pihak yang kalah.

120

DAFTAR PUSTAKA

Hari Sasangka,SH MH & Ahmad Rifai, SH - Perbandingan HIR dengan RBG, Mandar
Maju 2005.
Drs Mukti Arto, SH - Praktek Perkara Perdata, Pada Pengadilan Agama, Pustaka
Pelajar, 2008
M. Nurhadi Said, SH - Hukum Acara Perdata, Penerbit Sinar Grafika, Jakarta, 2013
M. Yahya Harahap, SH - Hukum Acara Perdata, Penerbit Sinar Grafika, Cetakan Ketiga
Belas 2013
Riduan Syahrani .SH- Buku Materi Dasar Hukum Acara Perdata, Citra Aditya lakti,
Bandung, 2013.
Prof. Dr. Sudikno Mertokusumo, SH - Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty
Jogyakarta, 1982.
Dr. Wahyu Moelyono, Teori & Praktek Peradilan Perdata, Pustaka Yustitia,
Yogyakarta, 2012

121