Anda di halaman 1dari 62

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker

Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Etikolegal
1. Sumpah Apoteker
Seorang apoteker sebelum melakukan jabatan, maka ia harus
mengucapkan

sumpah

menurut

cara

agama

yang

diyakini,

atau

mengucapkan janji. Ucapan sumpah dimulai dengan kata-kata "Demi Allah"


bagi mereka yang beragama Islam, dan sumpah untuk agama lain,
pemakaian kata-kata "Demi Allah" disesuaikan dengan agama masingmasing(4).
Sumpah/janji tersebut berbunyi sebagai berikut(4):
a. Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan,
terutama dalam bidang kesehatan,
b. Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena
pekerjaan saya dan keilmuan saya sebagai apoteker,
c. Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan
kefarmasian saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum
perikemanusiaan,
d. Saya akan menjalankan tugas saya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan
martabat dan tradisi luhur jabatan kefarmasian,
e. Dalam menunaikan kewajiban saya, saya akan berihktiar dengan
sungguh-sungguh

supaya

tidak

terpengaruh

oleh

pertimbangan

keagamaan, kebangsaan, kesukuan, politik, kepartaian atau kedudukan


sosial,
f. Saya ikrarkan sumpah/janji ini dengan sungguh-sungguh dan dengan
penuh keinsyafan.

2. Kode Etik Apoteker Indonesia


Kode etik adalah panduan sikap dan perilaku tenaga profesi dalam
menjalankan profesinya, sebagai aturan/norma yang menjadi ikatan moral

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

profesi. Kode etik apoteker/farmasis merupakan salah satu pedoman untuk


membatasi, mengatur dan sebagai petunjuk bagi apoteker dalam
menjalankan profesinya secara baik dan benar, serta tidak melakukan
perbuatan tercela.
Ketentuan ini telah termuat dalam Peraturan Menteri Kesehatan
Nomor 184 tahun 1995 Pasal 18 menyebutkan bahwa Apoteker dilarang
melakukan perbuatan yang melanggar Kode Etik Apoteker. Seorang
apoteker perlu memahami isi dari Kode Etik Apoteker(5).
Etika profesi adalah suatu aturan yang mengatur suatu pekerjaan
boleh atau tidak dilakukan oleh pelaku profesi sewaktu menjalankan praktek
profesi. Filosofi profesi farmasi adalah pharmaceutical care yang perlu
diterjemahkan ke dalam visi, misi dan seterusnya. Misi dari praktek farmasi
adalah menyediakan obat dan alat-alat kesehatan lain, dan memberikan
pelayanan yang membantu orang atau masyarakat untuk menggunakan obat
maupun alat kesehatan dengan cara yang benar(3).
Apoteker di dalam pengabdian profesi berpedoman pada satu ikatan
moral, yaitu Kode Etik Apoteker Indonesia sesuai dengan Keputusan
Kongres Nasional XVIII/2009 ISFI Nomor: 006/KONGRES XVIII/2009
tentang Kode Etik Apoteker Indonesia yaitu sebagai berikut(6):

KODE ETIK APOTEKER INDONESIA


MUKADDIMAH
Bahwasanya seorang Apoteker di dalam menjalankan tugas kewajibannya,
serta dalam mengamalkan keahliannya harus senantiasa mengharapkan
bimbingan dan keridhoan Tuhan Yang Maha Esa.
Apoteker di dalam pengabdiannya serta dalam mengamalkan keahliannya
selalu berpegang teguh kepada Sumpah/Janji Apoteker.
Menyadari akan hal tersebut, apoteker di dalam pengabdian profesinya
berpedoman pada satu ikatan moral, yaitu:

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

KODE ETIK APOTEKER INDONESIA


BAB I
KEWAJIBAN UMUM
Pasal 1
Seorang Apoteker harus menjunjung tinggi, menghayati, dan mengamalkan
Sumpah/Janji Apoteker.
Pasal 2
Seorang Apoteker harus berusaha dengan sungguh-sungguh menghayati dan
mengamalkan Kode Etik Apoteker Indonesia.
Pasal 3
Seorang Apoteker harus senantiasa menjalankan profesinya sesuai
Kompetensi Apoteker Indonesia, serta selalu mengutamakan dan berpegang
teguh pada prinsip kemanusiaan dalam melaksanakan kewajibannya.
Pasal 4
Seorang Apoteker harus selalu aktif mengikuti perkembangan di bidang
kesehatan pada umumnya dan di bidang farmasi pada khususnya.
Pasal 5
Di dalam menjalankan tugasnya, Apoteker harus menjauhkan diri dari usaha
mencari keuntungan diri semata yang bertentangan dengan martabat dan
tradisi luhur kefarmasian.
Pasal 6
Seorang Apoteker harus berbudi luhur dan menjadi contoh yang baik bagi
orang lain.
Pasal 7
Seorang Apoteker harus menjadi sumber informasi sesuai dengan
profesinya.
Pasal 8
Seorang Apoteker harus aktif mengikuti

perkembangan peraturan

perundang-undangan di bidang kesehatan pada umumnya dan di bidang


farmasi pada khususnya.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

BAB II
KEWAJIBAN APOTEKER TERHADAP PASIEN
Pasal 9
Seorang Apoteker dalam melakukan pekerjaan kefarmasian harus
mengutamakan kepentingan masyarakat dan menghormati hak asasi pasien,
dan melindungi makhluk hidup insani.

BAB III
KEWAJIBAN APOTEKER TERHADAP TEMAN SEJAWAT
Pasal 10
Seorang Apoteker harus memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia
sendiri ingin diperlakukan.
Pasal 11
Sesama Apoteker harus selalu saling mengingatkan dan saling menasehati
untuk memenuhi ketentuan-ketentuan Kode Etik.
Pasal 12
Seorang Apoteker harus mempergunakan setiap kesempatan untuk
meningkatkan kerja sama yang baik sesama Apoteker dalam memelihara
keluhuran martabat jabatan kefarmasian, serta mempertebal rasa saling
mempercayai dalam menunaikan tugasnya.

BAB IV
KEWAJIBAN APOTEKER TERHADAP
SEJAWAT PETUGAS KESEHATAN LAIN
Pasal 13
Seorang Apoteker harus mempergunakan setiap kesempatan untuk
membangun dan meningkatkan hubungan profesi, saling mempercayai,
menghargai dan menghormati teman sejawat petugas kesehatan lain.

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

Pasal 14
Setiap Apoteker hendaknya menjauhkan diri dari tindakan atau perbuatan
yang dapat mengakibatkan berkurangnya atau hilangnya kepercayaan
masyarakat kepada sejawat petugas kesehatan lain.

PENUTUP
Pasal 15
Seorang Apoteker bersungguh-sungguh menghayati dan mengamalkan
kode etik Apoteker Indonesia dalam menjalankan tugas kefarmasiannya
sehari-hari.
Jika seorang Apoteker baik dengan sengaja maupun tak sengaja melanggar
atau tidak mematuhi kode etik Apoteker Indonesia, maka dia wajib
mengakui dan menerima sanksi dari pemerintah, ikatan/organisasi profesi
farmasi yang menanganinya (IAI) dan mempertanggungjawabkannya
kepada Tuhan Yang Maha Esa.

3. Undang-undang Perapotekan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009
Tentang Pekerjaan Kefarmasian, dengan ketentuan sebagai berikut(7):
a. Pekerjaan Kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu
sediaan

farmasi,

pengamanan,

pengadaan,

penyimpanan

dan

pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat


atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat,
bahan obat, dan obat tradisional.
b. Sediaan Farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional, dan
kosmetika.
c. Tenaga

Kefarmasian

adalah

tenaga

yang melakukan

pekerjaan

kefarmasian yang terdiri dari atas Apoteker dan Tenaga Teknis


Kefarmasian.
d. Pelayanan

Kefarmasian

adalah

suatu

pelayanan

langsung

dan

bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu


kehidupan pasien.
e. Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan
telah mengucapkan Sumpah Jabatan Apoteker.
f. Tenaga Teknis Kefarmasian adalah tenaga yang membantu apoteker
dalam menjalani Pekerjaan Kefarmasian yang terdiri atas Sarjana
Farmasi, Ahli Madya, Analisis Farmasi, dan Tenaga Menengah
Farmasi/Asisten Apoteker.
g. Fasilitas

Kesehatan

adalah

sarana

yang

digunakan

untuk

menyelenggarakan pelayanan kesehatan.


h. Fasilitas Kefarmasian adalah sarana yang digunakan untuk melakukan
Pekerjaan Kefarmasian.
i. Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek
kefarmasian oleh Apoteker.
j. Standar Profesi adalah pedoman untuk menjalankan praktek profesi
kefarmasian secara baik.
k. Standar Prosedur Operasional adalah prosedur tertulis berupa petunjuk
operasional tentang Pekerjaan Kefarmasian.
l. Standar Kefarmasian adalah pedoman untuk melakukan Pekerjaan
Kefarmasian pada fasilitas produksi, distribusi atau penyaluran, dan
pelayanan kefarmasian.
m. Surat Tanda Registrasi Apoteker selanjutnya disingkat STRA adalah
bukti tertulis yang diberikan oleh Menteri kepada Apoteker yang telah
diregistrasi.
n. Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis Kefarmasian selanjutnya disingkat
STRTTK adalah bukti tertulis yang diberikan Menteri kepada Tenaga
Teknis Kefarmasian yang telah diregistrasi.
o. Surat Izin Praktek Apotek selanjutnya disingkat SIPA adalah surat izin
yang diberikan kepada Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian untuk
dapat melaksanakan Pekerjaan Kefarmasian pada fasilitas produksi dan
fasilitas distribusi atau penyaluran.

10

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 Pasal 1 menyebutkan


kembali bahwa Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat
dilakukan praktek kefarmasian oleh Apoteker (7).
Persyaratan apotek berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
922/MenKes/Per/X/1993 (Pasal 6) adalah sebagai berikut(26):
a. Untuk mendapatkan izin apotek, apoteker atau apoteker yang bekerja
sama dengan Pemilik Sarana Apotek (PSA) yang telah memenuhi
persyaratan harus siap dengan tempat, perlengkapan termasuk sediaan
farmasi dan perbekalan lainnya yang merupakan milik sendiri atau milik
pihak lain.
b. Sarana apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan kegiatan
pelayanan komoditi lain di luar sediaan farmasi.
c. Apotek dapat melakukan kegiatan pelayanan komoditi lain di luar
sediaan farmasi.
d. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 922/MenKes/Per/X/1993 (Pasal 5),
persyaratan untuk menjadi Apoteker Pengelola Apotek, yaitu sebagai
berikut:
1) Ijazah telah terdaftar pada Departemen Kesehatan RI,
2) Telah mengucapkan sumpah atau janji sebagai Apoteker,
3) Memiliki Surat Ijin Kerja (SIK) dari Menteri Kesehatan,
4) Memenuhi

syarat-syarat

kesehatan

fisik

dan

mental

untuk

melaksanakan tugas sebagai Apoteker,


5) Tidak bekerja di suatu Perusahaan Farmasi dan tidak menjadi
Apoteker Pengelola Apotek di Apotek lain.
Apoteker Pengelola Apotek terkena ketentuan seperti dimaksud pada
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1332/MenKes/SK/X/2002 (Pasal 19
ayat 1) yang menyatakan bahwa Apabila Apoteker Pengelola Apotek
berhalangan melakukan tugas pada jam buka Apotek, Apoteker Pengelola
Apotek harus menunjuk Apoteker Pendamping(25).

11

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 922/MenKes/Per/1993 tentang


Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek (Pasal 10) menyatakan
pengelolaan apotek, meliputi(8):
a. Pembuatan, pengolahan, peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran,
penyimpanan, dan penyerahan obat atau bahan obat.
b. Pengadaan, penyimpanan, penyaluran, dan penyerahan perbekalan
farmasi lain.
c. Pelayanan informasi mengenai perbekalan farmasi.
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1332/MenKes/SK/X/2002
Pasal 25, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat mencabut Surat
Ijin Apotek, apabila:
a. Apoteker sudah tidak lagi memenuhi ketentuan yang dimaksud Pasal 5
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1332/MenKes/SK/X/2002.
b. Apoteker tidak memenuhi kewajiban dimaksud dalam Pasal 12
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1332/MenKes/SK/X/2002, yang
menyatakan:
1) Apoteker berkewajiban menyediakan, menyimpan dan menyerahkan
sediaan farmasi yang bermutu baik dan keabsahan terjamin.
2) Sediaan farmasi yang karena sesuatu hal tidak dapat digunakan lagi
atau dilarang digunakan, harus dimusnahkan dengan cara dibakar atau
ditanam atau dengan cara lain yang ditetapkan oleh Menteri.
c. Apoteker tidak memenuhi kewajiban dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2)
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1332/MenKes/SK/X/2002 yang
menyatakan Apoteker tidak diijinkan untuk mengganti obat generik
yang ditulis di dalam resep dengan obat paten.
d. Apoteker Pengelola Apotek terkena ketentuan dimaksud dalam Pasal 19
ayat (5) Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1332/MenKes/SK/X/2002
yang menyatakan Apabila Apoteker Pengelola Apotek berhalangan
melakukan tugas lebih dari dua tahun secara terus menerus, Surat Ijin
Apotek atas nama Apoteker bersangkutan dicabut.

12

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

e. Terjadi pelanggaran terhadap ketentuan peraturan perundangundangan


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31, yaitu pelanggaran obat keras
Nomor St. 1937 No.541, Undang-undang Nomor 23 tahun 1992 tentang
Kesehatan, Undang-undang Nomor 5 tahun 1997 tentang Psikotropika,
Undang-undang Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika, serta ketentuan
peraturan perundang-undangan lain yang berlaku.
f. Surat Ijin Kerja Apoteker Pengelola Apotek dicabut.
g. Pemilik Sarana Apotek terbukti terlibat dalam pelanggaran perundangundangan di bidang obat.
h. Apotek tidak lagi memenuhi persyaratan dimaksud dalam Pasal 6,
menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1332/MenKes/SK/X/2002
(Pasal 19 ayat 1), apabila Apoteker Pengelola Apotek berhalangan
melakukan tugas pada jam buka apotek, Apoteker Pengelola Apotek
harus menunjuk Apoteker Pendamping.
Peraturan-peraturan lain yang mengatur tentang apotek antara lain:
a. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1332 tahun 2002 tentang
Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 922 tentang
Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek,.
b. Peraturan Pemerintah RI Nomor 41 Tahun 1990 Tentang Masa Bakti dan
Ijin Kerja Apoteker.
c. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 347/Menkes/SK/VII/1990
Tentang Obat Wajib Apotek I.
d. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 919/Menkes/Per/X/1993
Tentang Kriteria Obat yang dapat Diberikan Tanpa Resep.
e. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 925/Menkes/Per/X/1993
Tentang Daftar Perubahan Golongan Obat Nomor 1.
f. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 924/Menkes/Per/X/1993
Tentang Daftar Obat Wajib Apotek Nomor 2.
g. Peraturan Pemerintah RI Nomor 32 Tahun 1996 Tentang Tenaga
Kesehatan.

13

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

h. Peraturan Pemerintah RI Nomor 72 Tahun 1996 Tentang Pengamanan


Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan.
i. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 688/Menkes/Per/VII/1997
Tentang Peredaran Psikotropika.
j. Peraturan Pemertintah Republik Indonesia Nomor 899 Tahun 2011
Tentang Registrasi, Ijin Praktek dan Ijin Kerja Tenaga Kefarmasian
k. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1997 Tentang
Psikotropika.
l. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1176/Menkes/SK/X/1999
Tentang Daftar Obat Wajib Apotek No.3.
m. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 Tentang
Perlindungan Konsumen.
n. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Apotek.
o. Undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.
p. Undang-undang RI Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.
q. Keputusan

Kongres

Nasional

XVIII

ISFI

Nomor

006/Kongres

XVIII/ISFI/2009 Tentang Kode Etik Apoteker Indonesia.

B. Pelayanan Kefarmasian
1. Pelayanan Resep
Resep adalah permintaan tertulis dari dokter atau dokter gigi, kepada
apoteker, baik dalam bentuk paper maupun electronic untuk menyediakan
dan menyerahkan obat bagi pasien sesuai peraturan yang berlaku.
a. Skrining Resep
Kegiatan pengkajian resep meliputi administrasi, kesesuaian farmasetik
dan pertimbangan klinis(10).
1) Kajian administratif meliputi: nama pasien, umur, jenis kelamin dan
berat badan; nama dokter, nomor surat izin praktik (sip), alamat,
nomor telepon dan paraf; dan tanggal penulisan resep.

14

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

2) Kesesuaian farmasetik: bentuk dan kekuatan sediaan; stabilitas; dan


kompatibilitas (ketercampuran obat).
3) Pertimbangan klinis: ketepatan indikasi dan dosis obat; aturan, cara
dan lama penggunaan obat; duplikasi dan/atau polifarmasi; reaksi
obat yang tidak diinginkan (alergi, efek samping obat, manifestasi
klinis lain); kontra indikasi; dan interaksi.
b. Penyiapan obat
Setelah melakukan pengkajian resep dilakukan hal sebagai berikut:
1) Menyiapkan obat sesuai dengan permintaan resep: menghitung
kebutuhan jumlah obat sesuai dengan resep; mengambil obat yang
dibutuhkan pada rak penyimpanan dengan memperhatikan nama obat,
tanggal kadaluwarsa dan keadaan fisik obat.
2) Melakukan peracikan obat bila diperlukan
3) Memberikan etiket sekurang-kurangnya meliputi: warna putih untuk
obat dalam/oral; warna biru untuk obat luar dan suntik; menempelkan
label kocok dahulu pada sediaan bentuk suspensi atau emulsi.
4) Memasukkan obat ke dalam wadah yang tepat dan terpisah untuk obat
yang berbeda untuk menjaga mutu obat dan menghindari penggunaan
yang salah
c. Penyerahan Obat
1) Sebelum obat diserahkan kepada pasien harus dilakukan pemeriksaan
kembali mengenai penulisan nama pasien pada etiket, cara
penggunaan serta jenis dan jumlah obat (kesesuaian antara penulisan
etiket dengan resep);
2) Memanggil nama dan nomor tunggu pasien;
3) Memeriksa ulang identitas dan alamat pasien;
4) Menyerahkan obat yang disertai pemberian informasi obat;
5) Memberikan informasi cara penggunaan obat dan hal-hal yang terkait
dengan obat antara lain manfaat obat, makanan dan minuman yang
harus dihindari, kemungkinan efek samping, cara penyimpanan obat
dan lain-lain;

15

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

6) Penyerahan obat kepada pasien hendaklah dilakukan dengan cara


yang baik, mengingat pasien dalam kondisi tidak sehat mungkin
emosinya tidak stabil;
7) Memastikan bahwa yang menerima obat adalah pasien atau
keluarganya;
8) Membuat salinan resep sesuai dengan resep asli dan diparaf oleh
Apoteker (apabila diperlukan);
9) Menyimpan resep pada tempatnya;
10) Apoteker membuat catatan pengobatan pasien dengan menggunakan
Formulir 5 pada lampiran 26.
Apoteker di Apotek juga dapat melayani Obat non Resep atau
pelayanan swamedikasi. Apoteker harus memberikan edukasi kepada pasien
yang memerlukan Obat non Resep untuk penyakit ringan dengan
memilihkan obat bebas atau bebas terbatas yang sesuai(10).

2. Swamedikasi
Pemeliharaan kesehatan dan pengobatan sendiri merupakan upaya
pertama, serta yang terbanyak dilakukan masyarakat untuk mengatasi
keluhan kesehatan yang diderita, sehingga peranan swamedikasi tidak dapat
diabaikan begitu saja. Pengobatan sendiri dilakukan masyarakat untuk
mengatasi gangguan kesehatan ringan, misal sakit kepala, diare, batuk, dan
sebagainya(11).
Salah satu tanggung jawab apoteker dalam pengobatan sendiri
adalah memberikan jaminan kepada masyarakat bahwa obat yang digunakan
tersebut aman, efektif, dan terjangkau agar pengobatan sendiri yang
dilakukan masyarakat dapat memberikan hasil sesuai yang diharapkan.
Pengobatan sendiri yang berkualitas dapat dilihat dari indikator rasionalitas
terapi, yaitu tepat obat, tepat penderita, tepat dosis, tepat waktu pemberian,
dan waspada efek samping(12).
Obat untuk swamedikasi meliputi obat-obat yang dapat digunakan
tanpa resep yang meliputi obat wajib apotek (OWA), obat bebas terbatas

16

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

(OBT) dan obat bebas (OB). Obat wajib apotek terdiri dari kelas terapi oral
kontrasepsi, obat saluran cerna, obat mulut serta tenggorokan, obat saluran
nafas, obat yang mempengaruhi sistem neuromuskular, anti parasit dan obat
kulit topikal. Apoteker dalam melayani OWA diwajibkan memenuhi
ketentuan dan batasan tiap jenis obat per pasien yang tercantum dalam
daftar OWA 1 dan OWA 2. Wajib pula membuat catatan pasien serta obat
yang diserahkan. Apoteker hendaknya memberikan informasi penting
tentang dosis, cara pakai, kontra indikasi, efek samping dan lain-lain yang
perlu diperhatikan oleh pasien(13).
Menurut PerMenKes No. 919/MENKES/Per/X/1993 pasal 2, obat
yang dapat diserahkan tanpa resep harus memenuhi kriteria sebagai
berikut(8):
a. Tidak dikontraindikasikan penggunaannya pada wanita hamil, anak di
bawah umur 2 (dua) tahun dan orang tua diatas 65 tahun.
b. Pengunaannya tidak memerlukan alat khusus yang harus dilakukan oleh
tenaga kesehatan
c. Pengobatan dengan obat yang dimaksud tidak memberikan resiko pada
kelanjutan penyakit
d. Obat yang dimaksud memiliki rasio khasiat dan keamanan yang dapat
dipertanggungjawabkan untuk pengobatan sendiri
e. Penggunaannya untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia.
Kriteria obat yang dapat diserahkan di apotek tanpa resep dokter
adalah sebagai berikut:
a. Obat Wajib Apotek (OWA)
Obat Wajib Apotek (OWA) adalah obat keras yang dapat diserahkan
apoteker kepada pasien di apotek tanpa resep dokter, dengan syarat
sebagai berikut(14):
1) Memenuhi ketentuan dan batasan tiap jenis obat per pasien
2) Membuat catatan pengobatan pasien serta obat yang telah diberikan
3) Memberikan informasi meliputi dosis dan aturan pemakaian, kontra
indikasi, serta efek samping.

17

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

Obat Wajib Apotek (OWA) ditetapkan berdasarkan Surat


Keputusan Menteri Kesehatan No. 347/MenKes/SK/VII/1990 (OWA 1),
Peraturan Menteri Kesehatan No. 924/MenKes/Per/X/1993 (OWA 2) dan
Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 1176/MenKes/Sk/X/1999
(OWA 3).
b. Obat Bebas
Obat bebas adalah obat yang diserahkan kepada pasien tanpa
resep yang pada wadah dan bungkus luar/kemasan terkecil dicantumkan
secara jelas tanda khusus yang mudah dikenali. Tanda khusus tesebut
yaitu lingkaran berwarna hijau dengan garis tepi berwarna hitam(15).
c. Obat Bebas Terbatas
Obat Bebas Terbatas adalah obat yang penggunaannya cukup
aman tetapi apabila berlebihan dapat menyebabkan efek samping yang
kurang menyenangkan. Obat yang pemakaiannya tidak perlu di bawah
pengawasan dokter, namun penggunaannya terbatas sesuai dengan aturan
yang tertera dalam kemasan. Selain itu juga terdapat tanda lingkaran biru
dan salah satu dari enam tanda peringatan(15).
Menurut SK Menkes No. 2380/A/SK/VI/83 tentang Tanda
Khusus Obat Bebas/Obat Bebas Terbatas, pada kemasan obat bebas
diberi tanda lingkaran berdiameter minimal 1 cm dengan warna hijau dan
garis tepi lingkaran berwarna hitam. Sedangkan pada kemasan obat bebas
terbatas diberi tanda lingkaran berdiameter minimal 1 cm dengan warna
biru dan garis tepi lingkaran berwarna hitam disertai dengan tanda
peringatan P1 sampai P6(15).
P-1 : Awas obat keras, bacalah aturan pemakaian
P-2 : Awas obat keras, hanya untuk kumur, jangan ditelan
P-3 : Awas obat keras, hanya untuk bagian luar
P-4 : Awas obat keras, hanya untuk dibakar
P-5 : Awas obat keras, tidak boleh ditelan
P-6 : Awas obat keras, obat wasir, jangan ditelan

18

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014


Langkah-langkah dalam melakukan swamedikasi, yaitu(16):
a. Mendengarkan keluhan

penyakit

pasien

yang ingin

melakukan

swamedikasi
b. Menggali informasi dari pasien meliputi: Tempat timbulnya gejala
penyakit. Seperti apa rasanya gejala penyakit. Kapan mulai timbul gejala
dan apa yang menjadi pencetusnya. Sudah berapa lama gejala dirasakan.
Ada tidaknya gejala penyerta. Pengobatan yang sebelumnya sudah
dilakukan
c. Memilihkan obat sesuai dengan kerasionalan dan kemampuan ekonomi
pasien dengan menggunakan obat bebas, bebas terbatas dan obat wajib
apotek
d. Memberikan informasi tentang obat yang diberikan kepada pasien
meliputi: nama obat, tujuan pengobatan, cara pakai, lamanya pengobatan,
efek samping yang mungkin timbul, serta hal-hal lain yang harus
dilakukan maupun yang harus dihindari oleh pasien dalam menunjang
pengobatan. Bila sakit berlanjut/lebih dari 3 hari hubungi dokter.
e. Mendokumentasikan data pelayanan swamedikasi yang telah dilakukan

3. PIO (Pelayanan Informasi Obat)


PIO merupakan kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh apoteker
untuk memberikan informasi secara akurat, tidak bias, dan terkini kepada
dokter, apoteker, perawat, profesi kesehatan lain dan pasien. Informasi yang
akurat dapat diperoleh dengan EBM. Evidance based medicine (EBM)
adalah proses sistematis meninjau, menilai, dan menggunakan temuan
penelitian klinis untuk membantu pemberian perawatan klinis yang optimal
bagi pasien(17).
Aplikasi EBM dalam PIO(18).
a. Merumuskan atau memformulasi pertanyaan yang harus dijawab
menggunakan

metode

PICO

(Population,

Intervention,

Outcome),
b. Melakukan pencarian untuk mendapatkan bukti terbaik,

19

Control,

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

c. Melakukan critical appraisal dari jurnal penelitian controlled trials,


d. Menerapkan atau mengaplikasikan bukti yang telah didapat untuk
menjawab pertanyaan,
e. Mengevaluasi perihal proses efektifitas dan efisiesi bukti ilmiah.
Pemberian informasi obat kepada pasien merupakan kewajiban
seorang Apoteker. Hal ini dinyatakan dalam Kode Etik Apoteker Indonesia
dan peraturan perundang-undangan lainnya. Dalam Kode Etik Apoteker
Indonesia pasal 7 disebutkan bahwa apoteker harus menjadi sumber
informasi sesuai dengan profesinya.
Peraturan Menteri Kesehatan No. 35 Tahun 2014 mengenai Standar
Pelayanan Kefarmasian di apotek menyebutkan Pelayanan Informasi Obat
merupakan kegiatan yang dilakukan oleh Apoteker dalam pemberian
informasi mengenai obat yang tidak memihak, dievaluasi dengan kritis dan
dengan bukti terbaik dalam segala aspek penggunaan obat kepada profesi
kesehatan lain, pasien atau masyarakat. Informasi mengenai obat termasuk
obat resep, obat bebas dan herbal(10).
Informasi meliputi dosis, bentuk sediaan, formulasi khusus, rute dan
metode pemberian, farmakokinetik, farmakologi, terapeutik dan alternatif,
efikasi, keamanan penggunaan pada ibu hamil dan menyusui, efek samping,
interaksi, stabilitas, ketersediaan, harga, sifat fisika atau kimia dari obat dan
lain-lain(10).
Kegiatan Pelayanan Informasi Obat di Apotek meliputi(10):
a. Menjawab pertanyaan baik lisan maupun tulisan;
b. Membuat

dan

menyebarkan

buletin/brosur/leaflet,

pemberdayaan

masyarakat (penyuluhan);
c. Memberikan informasi dan edukasi kepada pasien;
d. Memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada mahasiswa farmasi
yang sedang praktik profesi;
e. Melakukan penelitian penggunaan obat;
f. Membuat atau menyampaikan makalah dalam forum ilmiah;
g. Melakukan program jaminan mutu.

20

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

Pelayanan Informasi Obat harus didokumentasikan untuk membantu


penelusuran kembali dalam waktu yang relatif singkat dengan menggunakan
Formulir 6 pada lampiran 27. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam
dokumentasi Pelayanan Informasi Obat(10):
a. Topik Pertanyaan;
b. Tanggal dan waktu Pelayanan Informasi Obat diberikan;
c. Metode Pelayanan Informasi Obat (lisan, tertulis, lewat telepon);
d. Data pasien (umur, jenis kelamin, berat badan, informasi lain seperti
riwayat

alergi,

apakah

pasien

sedang

hamil/menyusui,

data

laboratorium);
e. Uraian pertanyaan;
f. Jawaban pertanyaan;
g. Referensi;
h. Metode pemberian jawaban (lisan, tertulis, per telepon) dan data
Apoteker yang memberikan Pelayanan Informasi Obat.
Langkah-langkah dalam melakukan pelayanan informasi obat,
yaitu(16):
a. Memberikan informasi obat kepada pasien berdasarkan resep atau kartu
pengobatan pasien (medication record) atau kondisi kesehatan pasien
baik lisan maupun tertulis
b. Melakukan penelusuran literatur bila diperlukan, secara sistematis untuk
memberikan informasi
c. Menjawab pertanyaan pasien dengan jelas dan mudah dimengerti, tidak
bias, etis dan bijaksana baik secara lisan maupun tertulis
d. Mendisplai brosur, leaflet, poster atau majalah kesehatan untuk informasi
pasien.
e. Mendokumentasikan setiap kegiatan pelayanan informasi obat
Informasi minimal yang harus disampaikan kepada pasien antara
lain(16):
a. Senyawa aktif yang terkandung dalam sediaan yang diberikan
b. Efek terapi dari senyawa aktif

21

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

c. Aturan pakai, cara pemakaian, termasuk jumlah, frekuensi dan lama


pemakaian obat
d. Efek samping yang ditimbulkan dari penggunaan obat tersebut baik
ringan, berat, maupun fatal serta efek samping obat yang dapat
ditanggulangi oleh pasien atau yang harus ditangani oleh dokter
e. Pantangan dan kontra indikasi dari obat yang diberikan tersebut
f. Alternatif pengobatan yang tersedia selain obat yang diberikan tersebut
g. Anjuran-anjuran khusus pada pemakaian obat
h. Cara penyimpanan yang sesuai

4. Promosi Kesehatan
Promosi kesehatan adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan
masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk, dan bersama
masyarakat,

agar

mereka

dapat

menolong

diri

sendiri,

serta

mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai dengan


kondisi sosial budaya setempat dan didukung kebijakan publik yang
berwawasan kesehatan(19).
Strategi yang dapat dilakukan untuk melakukan promosi kesehatan,
yaitu

(19)

a. Pemberdayaan masyarakat, yaitu upaya untuk menumbuhkan dan


meningkatkan pengetahuan, kemauan dan kemampuan individu, keluarga
dan masyarakat untuk mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya,
menciptakan

lingkungan

sehat

serta

berperan

aktif

dalam

penyelenggaraan setiap upaya kesehatan.


b. Bina suasana, yaitu upaya menciptakan suasana/lingkungan sosial yang
mendorong individu, keluarga dan masyarakat untuk mencegah penyakit
dan meningkatkan kesehatannya serta menciptakan lingkungan sehat dan
berperan

aktif

dalam

setiap

upaya

penyelenggaraan

kesehatan.

Contohnya yaitu pelatihan, konferensi pers, dialog terbuka, promosi,


lokakarya mini, pertunjukan tradisional, studi banding.

22

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

c. Advokasi, yaitu upaya yang terencana untuk mendapatkan komitmen dan


dukungan dari pihak-pihak yang terkait (tokoh masyarakat informal dan
fomal) agar masyarakat berdaya untuk mencegah serta meningkatkan
kesehatannya serta menciptakan lingkungan sehat.
Apoteker berkontribusi dalam upaya preventif dan promotif
kesehatan masyarakat dan bekerjasama dengan pelayanan kesehatan dasar.
Hal ini sesuai dengan salah satu isi dalam 9 Standar Kompetensi Apoteker
Indonesia poin ke-enam, yaitu: Mampu Berkontribusi dalam Upaya
Preventif dan Promotif Kesehatan Masyarakat(20).
Elemen-elemen yang meliputi unit kompetensi poin ke-enam Standar
Kompetensi Apoteker Indonesia antara lain adalah(20):
a. Bekerjasama dengan tenaga kesehatan lain dalam menangani maslaah
kesehatan di masyarakat.
b. Melakukan survei masalah di masyarakat.
c. Melakukan identifikasi dan prioritas masalah kesehatan di masyarakat
berdasarkan data.
d. Melakukan upaya promotif dan preventif promosi kesehatan denagn
membuat program promosi kesehatan berdasarkan urutan prioritas
kesehatan yang ada.
e. Melakukan evaluasi pelaksanaan program promosi kesehatan.
f. Membuat dokumentasi pelaksanaan program promosi kesehatan.

C. Manajemen Kefarmasian
1. Drug Management Cycle
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 35 Tahun
2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek menyebutkan,
bahwa Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai dilakukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku meliputi perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan,
pemusnahan, pengendalian, pencatatan dan pelaporan. Pengeluaran obat
menggunakan sistem FIFO (First In First Out) dan FEFO (First Expired

23

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

First Out). Pengelolaan obat tersebut diharapkan memberikan jaminan yang


bermutu, jumlah, jenis, dan waktu yang tepat kepada pasien. Pengelolaan
obat meliputi:
a. Selection
Seleksi adalah pemilihan obat-obat yang harus ada di apotek.
Fungsi seleksi (pemilihan) obat adalah untuk menentukan apakah obat
benar-benar diperlukan sesuai dengan kebutuhan dan anggaran. Seleksi
obat di apotek berdasarkan pada obat-obat yang tertera di dalam DOEN,
Rencana Anggaran Belanja (RAB), pola peresepan, dan pola konsumsi.
adapun kegiatan seleksi untuk pengadaan, yaitu(3):
1) Melakukan tinjauan terhadap masalah-masalah kesehatan yang sering
terjadi di sekitar lingkungan apotek,
2) Mengidentifikasi pemilihan terapi, bentuk, dan dosis obat,
3) Menentukan kriteria seleksi obat,
4) Melakukan standarisasi obat sesuai kriteria seleksi obat dalam rangka
memutuskan macam-macam obat yang akan digunakan di apotek,
5) Menentukan daftar obat yang disediakan di apotek,
6) Menjaga dan memperbaharui daftar obat yang berlaku pada periode
tertentu
Pedoman seleksi obat yang dikembangkan dari WHO, yaitu(21):
1) Pemilihan obat yang secara ilmiah, medik, dan statistik memberikan
efek terapeutik yang jauh lebih besar dibandingkan dengan resiko efek
samping.
2) Diusahakan jangan terlalu banyak jenis obat yang diseleksi (boros
biaya), khusus obat-obat yang memang bermanfaat untuk jenis
penyakit yang banyak diderita masyarakat. Hindari duplikasi dan
kesamaan jenis obat yang diseleksi.
3) Jika memasukkan obat-obat baru, harus ada bukti yang spesifik bahwa
obat baru yang akan dipilih tersebut memang memberikan efek
terapeutik yang lebih baik dibanding obat pendahulu.

24

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

4) Sediaan kombinasi hanya dipilih jika memang benar berpotensi lebih


baik daripada sediaan tunggal.
5) Jika alternatif pilihan obat banyak, pilih drug of choice dari penyakit
yang prevalensi tinggi.
6) Pertimbangan administratif dan biaya yang dibutuhkan.
7) Kontraindikasi, peringatan dan ESO (Efek Samping Obat) harus
dipertimbangkan.
8) Dipilih obat yang standar mutu tinggi.
9) Didasarkan pada nama generik.
Kriteria dalam melakukan seleksi obat diantaranya(21):
1) Relevan dengan pola penyakit yang ada,
2) Tetapkan efikasi dan keamanan,
3) Kinerja obat di beberapa kenyataan,
4) Memiliki kualitas termasuk bioavaililibitas dan stabilitas,
5) Cost-benefit ratio dalam keseluruhan pengobatan,
6) Obat yang sudah dikenal dengan farmakokinetika yang baik,
7) Dalam bentuk senyawa tunggal,
8) Pertimbangan diskon,
9) Keberlangsungan keberadaan obat di pasaran.
b. Procurement
Procurement

merupakan

kegiatan

untuk

merealisasikan

kebutuhan yang telah direncanakan, yaitu dengan perencanaan dan


pengadaan(10).
1) Perencanaan
Pengertian

perencanaan

berdasarkan

Peraturan

Menteri

Kesehatan Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014, adalah dalam


membuat perencanaan pengadaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan
bahan medis habis pakai perlu diperhatikan pola penyakit, pola
konsumsi, budaya dan kemampuan masyarakat.
Pengumpulan data obat-obatan yang akan dipesan dalam
perencanaan pengadaan sediaan farmasi perlu dilakukan, seperti obat-

25

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

obatan dan alat kesehatan. Data-data obat tersebut ditulis dalam buku
defecta, yaitu jika barang habis atau persediaan menipis berdasarkan
jumlah barang yang tersedia pada bulan-bulan sebelumnya(9).
Tujuan perencanaan antara lain(3):
a) Efisiensi penggunaan dana, dengan memilih obat yang sangat
dibutuhkan tetapi harga relatif murah.
b) Estimasi kebutuhan obat yang akurat (tidak berlebih tetapi juga
jangan sampai kurang).
c) Menyamakan persepsi anatara pihak pengguna (provider) dengan
penyedia obat.
Beberapa pertimbangan yang harus dilakukan Apoteker
Pengelola Apotek (APA) di dalam melaksanakan perencanaan
pemesanan barang, yaitu memilih Pedagang Besar Farmasi (PBF)
yang memberikan keuntungan dari segala segi, misalnya harga yang
ditawarkan sesuai (murah), ketepatan waktu pengiriman, diskon dan
bonus yang diberikan sesuai (besar), jangka waktu kredit yang cukup,
serta kemudahan dalam pengembalian obat-obatan yang hampir
kadaluarsa(9).
Metode yang sering digunakan dalam perencanaan pengadaan
ada 4 (empat), yaitu(9):
a) Metode Epidemiologi
Perencanaan dengan metode tersebut dibuat berdasarkan pola
penyebaran penyakit dan pola pengobatan penyakit yang terjadi
dalam masyarakat sekitar.
b) Metode Konsumsi
Perencanaan dengan metode tersebut dibuat berdasarkan data
pengeluaran

barang periode

lalu,

kemudian

data

tersebut

dikelompokan dalam kelompok fast moving (cepat beredar)


maupun slow moving (lambat beredar).

26

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

c) Metode Kombinasi
Metode tersebut merupakan gabungan dari metode epidemiologi
dan metode konsumsi. Perencanaan pengadaan barang dibuat
berdasarkan pola penyebaran penyakit dan melihat kebutuhan
sediaan farmasi periode lalu.
d) Metode Just In Time
Perencanaan tersebut dilakukan saat obat dibutuhkan dan obat yang
ada di apotek dalam jumlah terbatas. Perencanaan tersebut untuk
obat-obat yang jarang dipakai atau diresepkan dan dengan harga
mahal, serta memiliki waktu kadaluarsa yang pendek.
2) Pengadaan
Pengadaan adalah suatu proses kegiatan yang bertujuan agar
sediaan farmasi tersedia dengan jumlah dan jenis yang cukup sesuai
dengan

kebutuhan

pelayanan.

Pengadaan

barang

dilakukan

berdasarkan perencanaan yang telah dibuat dan disesuaikan dengan


anggaran keuangan yang ada. Pengadaan barang meliputi pemesanan,
pembelian, dan penerimaan barang.
Pengadaan sediaan farmasi harus melalui jalur resmi sesuai
peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk menjamin kualitas
pelayanan kefarmasian. Tiga macam pengadaan yang biasa dilakukan
di apotek, yaitu pengadaan jumlah terbatas, pengadaan secara
berencana, dan pengadaan spekulatif(9).
a) Pengadaan dalam jumlah terbatas
Pengadaan dalam jumlah yang terbatas dimaksudkan, yaitu
pembelian dilakukan apabila persediaan barang dalam hal tersebut
adalah obat-obatan sudah menipis. Barang-barang yang dibeli
hanya obat-obatan yang dibutuhkan saja, dalam waktu satu sampai
dua minggu. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi stok obat
dalam jumlah besar dan pertimbangan masalah biaya yang
minimal. Pertimbangan pengadaan obat dalam jumlah terbatas

27

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

tersebut dilakukan apabila PBF tersebut ada di dalam kota dan


selalu siap mengirimkan obat dalam waktu cepat.
b) Pengadaan secara berencana
Pengadaan secara berencana adalah perencanaan pembelian obat
berdasarkan penjualan perminggu atau perbulan. Sistem tersebut
dilakukan dengan pendataan obat-obat yang banyak terjual dan
tergantung pula kondisi cuaca, misal saat pergantian musim banyak
orang yang menderita penyakit batuk dan pilek. Hasil pendataan
tersebut diharapkan dapat memaksimalkan prioritas pengadaan
obat. Cara tersebut biasa dilakukan apabila supplier atau PBF
berada di luar kota.
c) Pengadaan secara spekulatif
Pengadaan ini dilakukan apabila akan ada kenaikan harga serta
bonus yang ditawarkan jika mengingat kebutuhan, namun resiko
tersebut terkadang tidak sesuai rencana, karena obat dapat rusak,
apabila stok obat di gudang melampaui kebutuhan. Di sisi lain
(obat-obat yang mempunyai kadaluarsa) akan menyebabkan
kerugian besar, namun apabila spekulasi benar dapat mendatangkan
keuntungan yang besar.
Pembayaran pengadaan barang dapat dikelompokkan menjadi:
a) Cash/ Tunai, terbagi atas dua, yaitu :
1) COD (Cash On Delivery) adalah pembayaran yang dilakukan
secara tunai berdasarkan pemesanan barang.
2) Cash adalah pembayaran yang dilakukan secara tunai dengan
tempo 1-2 minggu.
b) Tempo/kredit
Tempo/kredit adalah pembayaran yang dilakukan secara kredit
dalam jangka waktu yang ditetapkan pada masing-masing faktur
jatuh tempo, biasanya 1-2 bulan setelah pembelian.

28

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

c) Konsinyasi
Sistem pengadaan barang dimana pemilik barang menitipkan
barang di apotek. Apotek hanya membayar sejumlah barang yang
terjual, sedangkan sisa barang konsinyasi dapat dikembalikan atau
diperpanjang.
Kegiatan pengadaan barang perlu memperhatikan beberapa hal
diantaranya::
a) Buku defecta (buku obat habis),
b) Rencana anggaran belanja,
c) Daftar harga obat terakhir,
d) Pemilihan PBF yang sesuai, dengan mempertimbangkan diskon
yang ditawarkan, bonus, jangka waktu pembayaran, pelayanan
yang baik dan cepat, kuantitas dan kualitas barang, serta prosedur
pengembalian barang.
Prosedur

pembelian

barang

untuk

kebutuhan

apotek

dilaksanakan dengan tahapan sebagai berikut(22):


a) Persiapan
Pengumpulan data obat-obat yang akan dipesan, dari buku defecta,
peracikan, maupun gudang, termasuk obat-obat baru yang
ditawarkan supplier.
b) Pemesanan
Pemesanan disiapkan untuk setiap supplier Surat Pesanan (SP),
minimal 2 rangkap, yang satu untuk supplier yang harus
dilampirkan dengan faktur pada waktu mengirim barang, dan satu
lagi untuk petugas gudang untuk mengontrol kesesuaian kiriman
barang dengan yang telah dipesan.
c) Penerimaan
Petugas gudang yang menerima, harus mencocokkan barang
dengan faktur dan SP lembaran kedua dari gudang.

29

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

d) Penyimpanan
Barang disimpan dalam tempat yang aman, tidak terpapar sinar
matahari langsung, bersih, dan tidak lembab.
e) Pencatatan
Faktur disalin dalam buku penerimaan barang, ditulis nomor urut
dan tanggal, nama supplier, nama obat, nomor batch, tanggal
kadaluwarsa, jumlah, harga satuan, potongan harga, dan jumlah
harga. Setiap hari dilakukan pencatatan penerimaan barang
sehingga dapat diketahui beberapa jumlah barang di setiap
pembelian. Catatan tersebut harus diwaspadai jangan sampai
jumlah pembelian tiap bulan melebihi angggaran yang telah
ditetapkan, kecuali bila ada kemungkinan kenaikan harga
(spekulasi memborong obat-obat yang fast moving). Faktur-faktur
kemudian diserahkan ke bagian administrasi untuk diperiksa sekali
lagi, lalu dikumpulkan dalam map, menunggu waktu pelunasan.
f) Pembayaran
Bila sudah jatuh tempo, tiap faktur dikumpulkan perdebitur,
masing-masing dibuatkan bukti kas keluar, serta cek atau giro,
kemudian diserahkan ke bagian keuangan untuk ditandatangani
sebelum dibayarkan ke supplier.
Pengadaan/pembelian

obat

harus

direncanakan

dan

dikoordinasikan dengan baik. Perencanaan yang dilakukan termasuk


jenis-jenis obat yang akan dibeli, cara pemesanan dan pemilihan PBF.
Pemesanan obat di apotek dilakukan sebagai berikut:
a) Undang-undang

Nomor

tahun

1976

tentang

Narkotika

menyebutkan, bahwa Pemesanan narkotika menggunakan surat


pesanan model N-9 yang terdiri dari 5 (lima) rangkap dan setiap 1
(satu) lembar surat pesanan berisikan 1 (satu) macam obat
narkotika. Format sudah ditentukan oleh PT. Kimia Farma sebagai
distributor tunggal, 1 (satu) lembar untuk apotek (arsip) dan 4

30

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

(empat) lembar diserahkan untuk Kimia Farma untuk diserahkan


kepada PBF, Balai POM, dan DinKes.
b) Undang-undang Nomor 5 tahun 1997, menyatakan bahwa
Pemesanan psikotropika menggunakan surat pesanan, dapat
dipesan apotek melalui PBF atau pabrik obat. Surat pesanan
ditandatangani

oleh

apoteker

kemudian

dikirim

ke

PBF.

Penyerahan psikotropika oleh apoteker hanya dapat untuk apotek


lain, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter, dan
pelayanan resep dokter.
c) Surat Pesanan untuk obat ethical (obat keras) dan obat bebas.
Setiap SP bisa memuat beberapa item obat. SP dibuat rangkap 3
(tiga), yaitu 1 (satu) lembar (asli) untuk PBF, 2 (dua) lembar
tembusan SP lain untuk apotek sebagai arsip yang digunakan
pengecekan barang datang dan sebagai arsip pembelian di apotek.
Setiap SP dibuatkan nomor untuk menghindari penyalahgunaan(22).
Sistem pengadaan barang dapat dikatakan baik apabila
pembelian memenuhi ketentuan, yaitu komposisi produk sesuai
dengan kebutuhan, mampu melayani jenis produk yang diperlukan
pasien dan jumlah pembelian untuk keperluan rutin sebulan telah
menunjukkan keseimbangan dengan penjualan secara proporsional.
Faktor yang perlu diperhatikan dalam pengadaan barang, yaitu:
a) Waktu pembelian
Waktu pembelian perlu diketahui penentuan untuk dapat menjaga
keseimbangan

antara

persediaan

dengan

permintaan

agar

kemampuan pelayanan produk untuk konsumen dapat berlanjut.


Kemampuan pelayanan dapat terputus dikarenakan persediaan
habis, oleh karena itu sebelum persediaan habis pembelian sudah
harus dilakukan, agar pelayanan tetap dapat dilaksanakan.
b) Lokasi apotek
Lokasi yang banyak terdapat PBF, seperti kota-kota besar sangat
memudahkan untuk melakukan pembelian dibandingkan dengan

31

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

lokasi apotek di daerah terpencil. Perbedaan terletak pada lama


waktu yang diperlukan antara pemesanan dan penerimaan barang,
sehingga perlu diperhatikan stok obat yang ada dengan lama
pemesanan.
c) Volume pembelian
Volume pembelian yang semakin kecil, maka frekuensi dalam
melakukan pembelian makin tinggi, sebaliknya bila volume
pembelian barang besar, maka frekuensi pembelian jadi rendah.
Bila frekuensi pembelian tinggi akan menyebabkan makin banyak
volume pekerjaan, seperti menerima dan memeriksa barang yang
datang, pencatatan perincian barang atau pembelian, mengatur
barang di lemari gudang, mencatat dalam kartu stok, peningkatan
pekerjaan administrasi dan peningkatan pembayaran tagihan.
c. Distribusi, Penyimpanan, dan Pengendalian Persediaan
1) Distribusi dan Penyimpanan
Apotek merupakan sarana pendistribusian obat yang sangat
penting dalam rangka penyaluran obat ke pasien. Obat maupun
perbekalan farmasi lain harus tersedia dengan cepat, efektif, dan
merata dengan harga terjangkau sampai ke tangan konsumen. Jalur
distribusi pembelian dari sumber resmi harus memiliki stok obat
generik(22).
Obat dan sediaan farmasi yang dibeli tidak langsung dijual,
tetapi ada yang disimpan di gudang sebagai persediaan. Obat dan
bahan obat harus disimpan dalam wadah yang cocok dan harus
memenuhi ketentuan pengemasan dan penandaan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku. Obat yang disimpan harus terhindar dari
cemaran dan peruraian, terhindar dari pengaruh udara, kelembaban,
panas, dan cahaya(9). Tujuan penyimpanan tersebut, antara lain
sebagai berikut(13):
a) Agar persediaan aman, tidak mudah hilang,
b) Tidak mudah rusak,

32

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

c) Memudahkan pengawasan jumlah persediaan, khusus bagi obat


yang mempunyai waktu kadaluarsa yang cepat,
d) Menjaga stabilitas obat,
e) Mempermudah dan mempercepat pelayanan, karena penyimpangan
dilakukan menurut sistem tertentu.
Tata cara penyimpanan obat yang dilakukan di apotek menurut
PMK RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Apotek. Penyimpanan obat dilakukan dengan cara
sebagai berikut(10):
a) Obat/bahan Obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik.
Dalam hal pengecualian atau darurat dimana isi dipindahkan pada
wadah lain, maka harus dicegah terjadinya kontaminasi dan harus
ditulis informasi yang jelas pada wadah baru. Wadah sekurangkurangnya memuat nama Obat, nomor batch dan tanggal
kadaluwarsa.
b) Semua Obat/bahan Obat harus disimpan pada kondisi yang sesuai
sehingga terjamin keamanan dan stabilitasnya.
c) Sistem penyimpanan dilakukan dengan memperhatikan bentuk
sediaan dan kelas terapi Obat serta disusun secara alfabetis.
d) Pengeluaran Obat memakai sistem FEFO (First Expire First Out)
dan FIFO (First In First Out)
Sistem penyimpanan obat di gudang dapat digolongkan,
sebagai berikut(3):
a) Sifat obat (sifat fisika kimia) yang akan menentukan kondisi
penyimpanan, misal obat-obat yang butuh penyimpanan pada suhu
rendah, lembab, suhu kamar, obat-obatan yang mudah rusak atau
mudah meleleh pada suhu kamar disimpan dalam lemari es.
b) Sesuai dengan peraturan perundang-undangan, misal penyimpanan
obat narkotika dilakukan di dalam lemari khusus berdasarkan
persyaratan PMK Nomor 28/Menkes/Per/I/1978, hal tersebut
bertujuan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan

33

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

terhadap penyalahgunaan narkotika. Undang-undang Nomor 35


tahun 2009 tentang Narkotika Pasal 14 menyatakan, bahwa
Narkotika yang berada dalam penguasaan industri farmasi,
pedagang besar farmasi, sarana penyimpanan sediaan farmasi
pemerintah, apotek, rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat, balai
pengobatan, dokter dan lembaga ilmu pengetahuan wajib disimpan
secara khusus.
c) Penyusunan obat bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti
dikelompokkan menurut bentuk sediaan, secara FIFO, FEFO,
alphabetis,

sesuai

kelompok

farmakologi

(kelas

terapi),

pabrik/produsen, atau sifat sediaan.


Langkah-langkah untuk memudahkan pengendalian stok
adalah, sebagai berikut(3):
a) Gunakan prinsip FIFO dalam penyusunan obat, yaitu masa
kadaluarsa lebih awal atau yang diterima lebih awal harus
digunakan lebih awal sebab obat yang datang lebih awal juga
diproduksi lebih awal dan masa kadaluarsa lebih awal.
b) Obat dalam kemasan besar disusun di atas pallet secara rapi dan
teratur.
c) Lemari khusus digunakan untuk menyimpan narkotika.
d) Nama masing-masing obat dicantumkan pada rak dengan rapi.
e) Obat yang dapat dipengaruhi oleh temperatur, udara, cahaya dan
kontaminasi bakteri disimpan pada tempat yang sesuai.
f) Obat dalam rak disimpan dan berikan nomor kode, dipisahkan
antara obat dalam dengan obat-obatan untuk pemakaian luar.
g) Apabila persediaan obat cukup banyak, maka obat dibiarkan tetap
dalam kardus (box) masing-masing dan diambil sesuai kebutuhan.
h) Obat-obatan yang mempunyai batas waktu pemakaian perlu
dilakukan rotasi stok agar obat tersebut tidak selalu berada di
gudang, sehingga obat dapat dimanfaatkan sebelum masa
kadaluarsa habis.

34

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

Pengeluaran barang di apotek menggunakan sistem FIFO,


demikian pula obat-obat yang mempunyai waktu kadaluarsa lebih
singkat disimpan paling depan yang memungkinkan diambil terlebih
dahulu atau FEFO(3).
Obat atau barang yang telah dibeli tidak semua langsung
dijual, maka perlu disimpan dalam gudang dengan tujuan agar aman
(tidak hilang), tidak mudah rusak, dan mudah terawat.
Persyaratan dari gudang harus memenuhi beberapa ketentuan,
antara lain:
a) Merupakan ruang tersendiri dalam apotek,
b) Cukup aman, kuat dan dapat dikunci dengan baik,
c) Tidak terpapar sinar matahari langsung,
d) Tersedia rak yang cukup baik,
e) Dilengkapi dengan alat pemadam kebakaran.
Apotek yang langsung menyimpan obat di ruang sirkulasi
memisahkan penyimpanan untuk:
a) Obat bebas dan bebas terbatas,
b) Obat keras (tablet, kapsul, salep, sirup),
c) Obat generik berlogo,
d) Obat narkotika dan psikotropika,
e) Obat suppositoria dan obat yang lain yang harus disimpan pada
suhu rendah,
f) Alat kesehatan dan peralatan laboratorium dalam tempat tersendiri.
Pengelolaan barang di gudang meliputi proses pemasukan
barang ke gudang, pengeluaran barang dari gudang, dan administrasi
persediaan barang yang dikerjakan oleh petugas gudang yang ditunjuk
oleh APA. Barang yang masuk gudang diperiksa sesuai surat pesanan,
dicatat dalam buku pemasukan gudang, kartu stok, dan kartu stelling
untuk masing-masing obat. Penyimpanan obat atau barang yang ada
di apotek dilakukan di 2 (dua) tempat, yaitu gudang (untuk

35

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

penyimpanan dalam jumlah besar) dan di etalase bagian penjualan


(untuk penyimpanan dalam jumlah kecil)(22).
2) Pengelolaan Psikotropika
Undang-undang Nomor 5 tahun 1997 Pasal 14 tentang
Psikotropika ayat 2 menyebutkan, bahwa Penyerahan psikotropika
oleh apotek hanya dapat dilakukan kepada apotek lain, rumah sakit,
puskesmas, balai pengobatan, dokter, pasien dengan resep dokter.
Pencatatan dan pelaporan terhadap pengelolaan psikotropika
diatur dalam Pasal 33 UU Nomor 5 tahun 1997, yakni Pabrik obat,
PBF, sarana penyimpanan sediaan farmasi, pemerintah, apotek, rumah
sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter, lembaga penelitian
dan/atau lembaga pendidikan wajib membuat dan menyimpan catatan
mengenai kegiatan masing-masing yang berhubungan dengan
psikotropika.
Pemusnahan psikotropika terdapat pada Pasal 53 ayat 1 UU
Nomor 5 tahun 1997, yakni Pemusnahan psikotropika dilaksanakan
dalam hal berhubungan dengan tindak pindana dan diproduksi tanpa
memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku, kadaluarsa, dan tidak
memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan dan/atau
untuk kepentingan ilmu pengetahuan.
Undang-undang Nomor 5 tahun 1997 tidak mengatur secara
detail tentang Cara Pemusnahan Psikotropika. Pasal 12 ayat 2 PMK
Nomor 922 tahun 1993 menyebutkan bahwa Sediaan farmasi yang
karena suatu hal tidak dapat digunakan lagi atau dilarang digunakan,
harus dimusnahkan dengan cara dibakar atau ditanam atau dengan
cara lain yang ditetapkan oleh Menteri.
3) Pengelolaan Narkotika
Berdasarkan UU RI No.35 Tahun 2009 tentang narkotika,
penyimpanan dan pelaporan diatur dalam pasal 14 menyebutkan
bahwa sarana penyimpanan sedian farmasi pemerintah, apotek, rumah
sakit, pusat kesehatan masyarakat, balai pengobatan, dokter, dan

36

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

lembaga ilmu pengetahuan wajib membuat, menyampaikan dan


menyimpan

laporan

berkala

mengenai

pemasukan

dan/atau

pengeluaran narkotika yang dalam penguasaanya(1).


Penyimpanan narkotik diatur dalam Pasal 5 PMK Nomor 28
tahun 1978 tentang Penyimpanan Narkotik, yaitu:
a) Apotek dan rumah sakit harus memiliki tempat khusus untuk
menyimpan narkotika.
b) Tempat khusus pada ayat 1 harus memenuhi persyaratan, sebagai
berikut:
1) Harus terbuat dari kayu atau bahan lain yang kuat,
2) Harus mempunyai kunci yang kuat,
3) Dibagi dua masing-masing dengan kunci yang berlainan, bagian
pertama dipergunakan untuk menyimpan morfin, petidin dan
garam-garam,

serta

persediaan

narkotika,

bagian

kedua

dipergunakan untuk menyimpan narkotika lain yang dipakai


sehari-hari,
4) Apabila tempat khusus tersebut berupa lemari berukuran kurang
dari 40 x 80 x 100 cm, maka lemari tersebut harus dibaut pada
tembok atau lemari.
Pemusnahan narkotika diatur dalam UU Nomor 22 tahun 1997
Pasal 60 dan 61.
Pasal 60: Pemusnahan dilakukan dalam hal diproduksi tanpa
memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku dan atau tidak dapat
digunakan dalam proses produksi, kadaluarsa, tidak memenuhi syarat
untuk digunakan dalam pelayanan kesehatan dan atau untuk
pengembangan ilmu pengetahuan, atau berkaitan dengan tindak
pidana.
Pasal 61: Pemusnahan narkotika sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 60 dilaksanakan oleh pemerintah, orang atau badan yang
bertanggung jawab atas produksi dan/atau peredaran narkotika, sarana

37

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

kesehatan tertentu, serta lembaga ilmu pengetahuan tertentu serta


disaksikan oleh pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Kesehatan.
Pemusnahan sebagaimana dimaksud ayat (1) dilakukan
dengan pembuatan berita acara, minimal memuat: nama, jenis, sifat,
dan jumlah, keterangan tempat, jam, hari, tanggal, bulan, dan tahun
dilakukan pemusnahan, dan tanda tangan dan identitas lengkap
pelaksana dan pejabat yang menyaksikan pemusnahan. Ketentuan
lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara pemusnahan narkotika
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Keputusan
Menteri Kesehatan.
4) Pengendalian Persediaan ( Inventory Control)
Pengendalian

persediaan

pengendalian pemesanan, melalui

dapat

dilakukan

dengan

cara

(21)

a) EOQ (Economic Order Quantity)


Pemesanan dengan cara menghitung jumlah kebutuhan pemesanan
berdasarkan pengeluaran obat atau alkes bulanan, sehingga dapat
menentukan jumlah yang tepat untuk pemesanan.
b) EOI (Economic Order Interval)
Waktu yang diperlukan untuk setiap kali pemesanan obat atau alat
kesehatan, sehingga dapat menentukan waktu yang tepat untuk
kembali memesan.
c) Safety Stock
Stok aman minimal yang digunakan untuk menghindari stock out,
yaitu jumlah stok rata-rata yang digunakan selama waktu tunggu
rata-rata dari supplier.
Pengendalian persediaan/inventory control dapat dilakukan
dengan beberapa cara:
a) Membandingkan jumlah pembelian dengan jumlah penjualan setiap
bulan. Agar stok obat di gudang tetap, maka penentuan pembelian
diatur, supaya stok obat tidak berkurang dan tidak terjadi
penumpukan.

38

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

b) Kartu gudang; digunakan untuk mencatat mutasi barang per item,


dan berfungsi sebagai kontrol. Kartu gudang disimpan dalam
gudang. Dengan melihat dan mengetahui mutasi obat pada kartu
gudang, maka pembelian barang dapat direncanakan, sehingga
dapat dilihat hubungan antara pengawasan obat di gudang dengan
pembelian yang dilakukan, serta dapat dilakukan pengawasan
dengan cara, sebagai berikut(23):
1) Cara intuisi,
2) Cara defekta yang sistematis,
3) Cara pembelian yang ekonomis dengan menggunakan rumus
EOQ.
c) Cara defekta yang sistematis; agar ketersediaan obat/barang dan
stok dapat terpenuhi, buku tersebut mencatat nama obat/barang
yang habis atau yang harus segera dipesankan.

2. Supporting Management: Organisasi, SIM, SDM, dan Keuangan


Manajemen pendukung yang dibutuhkan agar pengelolaan obat
menjadi efektif dan efisien terdiri dari 4 (empat) komponen, yaitu(21):
a. Manajemen organisasi,
b. Manajemen sumber daya manusia,
c. Manajemen financial,
d. Manajemen sistem informasi.
Perbekalan farmasi yang tersedia di apotek berjumlah banyak,
dengan jumlah yang demikian banyak mengharuskan suatu apotek memiliki
sistem pengelolaan yang baik. Segala sesuatu harus dipersiapkan dahulu
agar obat dapat dikelola dengan baik. Persiapan yang harus dilakukan
adalah menyiapkan organisasi dengan kelengkapan, termasuk mengelola
manusia bersumber daya, kemudian financial dan sistem informasi(23).

39

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

Uraian dari komponen-komponen manajemen pendukung, yaitu:


a. Struktur Organisasi
Struktur organisasi didefinisikan sebagai mekanisme formal suatu
pengelolaan organisasi. Struktur organisasi menunjukkan kerangka dan
susunan perwujudan pola tetap hubungan-hubungan diantara fungsifungsi,

bagian-bagian,

maupun

orang-orang

yang

menunjukkan

kedudukan, tugas dan tanggung jawab yang berbeda dalam suatu


organisasi(9).
Organisasi yang mapan dalam pengelolaan apotek yang baik
merupakan salah satu faktor yang dapat mendukung suatu apotek.
Dibutuhkan garis wewenang dan tanggung jawab yang jelas dan saling
mengisi, disertai dengan job description yang jelas pada masing-masing
bagian di dalam struktur tersebut(9).
Tujuan yang telah ditetapkan oleh apotek agar dapat tercapai,
maka secara umum sebuah apotek harus mempunyai struktur organisasi,
yaitu:
Pemilik Sarana
Apotek (PSA)

Apoteker Pengelola Apotek (APA)


Apoteker Pendamping

Tata Usaha

Karyawan
Pembantu

AA pelayanan dan
pemberian resep

Petugas
Gudang

Bendahar
a
Kasir-kasir
Muka

Juru Resep

Gambar 1. Struktur Organisasi Apotek(23).


b. Sistem Informasi Manajemen Apotek
Sistem Informasi Manajemen (SIM) adalah sistem yang
terintegrasi antara user dengan mesin yang memberikan informasi untuk
mendukung operasional, manajemen dan fungsi pembuatan keputusan di
dalam organisasi. SIM apotek dibuat untuk menangani bagian point of

40

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

sales kasir dan inventori dari suatu apotek, yaitu dengan cara
menyediakan kemampuan untuk menangani transaksi jual-beli secara
resep dan non resep yang dibayar tunai ataupun kredit, dan juga untuk
menyajikan laporan-laporan, sehingga keputusan yang diambil oleh
Apoteker Pengelola Apotek dapat tepat sasaran. Kelancaran pengelolaan
apotek diperlukan sistem administrasi yang baik dan teratur.
Kegiatan yang dilakukan oleh bagian administrasi diantaranya:
1) Kesekretariatan
Tugas tersebut meliputi surat-menyurat dan pembuatan
laporan. Laporan yang dibuat meliputi penerimaan dan pengeluaran
obat narkotika dan psikotropika, penggunaan OWA, penggunaan obat
generik berlogo, dan laporan tenaga kerja yang ada. Kelengkapan
yang diperlukan adalah buku agenda, buku ekspedisi, blanko suratmenyurat, dan lain-lain.
2) Pembuatan dan Pengiriman Laporan
Bagian administrasi bertugas membuat laporan, meliputi:
a) Laporan statistik resep dan obat generik berlogo,
b) Laporan penggunaan narkotika,
c) Laporan penggunaan psikotropika,
d) Laporan ketenagakerjaan tenaga farmasi setiap 3 bulan.
3) Inventarisasi
Inventarisasi bertujuan untuk mengetahui kekayaan apotek
yang tertanam pada barang tetap. Nilai barang-barang inventaris akan
berkurang tiap tahun karena penyusutan besar. Besar penyusutan
tergantung jenis barang berdasarkan manfaat dan lama waktu
pemakaian. Catatan inventarisasi, meliputi tanggal pembelian, nama
barang, dan spesifikasi, jumlah, harga pembelian per unit serta nilai
penyusutan.

41

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

4) Administrasi Kepegawaian
Administrasi kepegawaian mencatat biodata masing-masing
pegawai apotek, meliputi nama, tempat dan tanggal lahir, alamat,
tanggal mulai bekerja, cuti, serta absensi.
5) Administrasi Pengadaan atau Pembelian
Kelengkapan administrasi pengadaan atau pembelian adalah
bukti-bukti pembelian, blanko pemesanan dan buku defekta.
6) Administrasi Pergudangan
Kelengkapan administrasi pergudangan meliputi kartu stock
dan kartu stelling.
7) Administrasi Penjualan dan Pembukuan
Administrasi penjualan mengatur penetapan harga jual,
mengajukan harga penawaran, mengatur penagihan dan penerimaan
piutang. Kelengkapan administrasi adalah nota penjualan tunai, faktur,
daftar harga dan harga penjualan harian yang mencatat penjualan
setiap hari baik melalui resep maupun penjualan bebas.
Administrasi

pembukuan

diperlukan

untuk

menampung

seluruh kegiatan perusahaan dan mencatat transaksi-transaksi yang


telah dilaksanakan.
Bagian administrasi mempunyai tugas membuat laporan dan
pembukuan sebagai berikut:
a) Buku Kas
Buku kas digunakan untuk mencatat semua transaksi
dengan uang tunai, penerimaan sebelah kiri dan pengeluaran di
sebelah kanan. Pembukuan kas dibuat dalam 3 (tiga) macam, yaitu
harian, bulanan dan tahunan.
1. Penerimaan meliputi:
1) Penjualan obat dengan resep dan tanpa resep,
2) Diskon pembelian barang dari PBF,
3) Retur obat,
4) Pajangan iklan/display,

42

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

5) Tagihan piutang.
2. Pengeluaran meliputi:
1) Administrasi; pembelian buku-buku, blanko, tinta print dan
alat-alat tulis.
2) Rumah tangga; keperluan rumah tangga seperti: beras, gula,
teh, sumbangan dan lain-lain.
3) Pemeliharaan inventaris; perbaikan AC (Air Conditioner),
komputer, motor, plangisasi gedung, dan lain-lain.
4) Pembelian barang dagangan; pembelian ke PBF ataupun beli
ke apotek lain.
5) Kesejahteraan dan upah; gaji karyawan, tunjangan dan lainlain.
6) Pembayaran listrik, penerangan dan komunikasi telepon
7) Pajak; pajak umum dan khusus yang harus dibayar oleh
apotek sebagai salah satu badan usaha swasta.
b) Buku Bank
Buku Bank digunakan untuk mencatat semua transaksi
lalulintas per giro, termasuk nomor-nomor cek dan giro bilyet.
Buku tersebut digunakan untuk mencatat kekayaan apotek yang
disimpan di bank, serta mencatat uang keluar-masuk di bank.
c) Buku Permintaan Barang Apotek
Buku permintaan berisi catatan barang yang diperlukan,
sehingga bagian pemesanan dapat membuat surat pesanan untuk
keperluan pengadaan, dengan pertimbangan barang apa yang paling
mendesak untuk pengadaan.
d) Buku Pembelian Barang
Buku tersebut digunakan untuk mengetahui dan mencatat
jumlah uang yang dikeluarkan untuk pembayaran obat.
e) Buku Penerimaan Barang
Barang yang diterima dan telah sesuai dengan pesanan dan
faktur, dimasukkan dalam catatan penerimaan barang kemudian

43

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

dikelompokkan menurut PBF (Pedagang Besar Farmasi). Faktur


disalin dalam buku penerimaan barang, dimana ditulis selain nama
supplier, nama obat, jumlah, harga satuan, potongan harga, nomor
urut, dan tanggal. Tiap hari dijumlahkan sehingga diketahui berapa
banyak hutang setiap hari. Catatan tersebut dapat membantu untuk
mengetahui apakah jumlah pembelian sesuai dengan anggaran yang
telah ditetapkan atau tidak, kecuali jika ada kemungkinan kenaikan
harga barang (spekulasi membeli secara besar-besaran obat-obat
fast moving). Faktur-faktur tersebut kemudian diserahkan ke bagian
administrasi untuk diperiksa, lalu disatukan dalam map tunggu,
menunggu jatuh tempo waktu pembayaran(22).
Administrasi yang biasa dilakukan secara manual di apotek,
meliputi antara lain(23):
a) Administrasi
Agenda/mengarsipkan surat masuk dan surat keluar, pengetikan
laporan-laporan, seperti laporan narkotika, AA yang bekerja,
jumlah resep dengan harga, omset, alat dan obat KB, obat generik,
dan lain-lain.
b) Pembukuan
Arus keluar dan masuk uang disertai bukti-bukti pengeluaran dan
pemasukan.
c) Administrasi penjualan
Penjualan obat lewat resep, obat bebas, langganan, dan pembayaran
secara tunai atau kredit.
d) Administrasi pergudangan
Penerimaan dan pengeluaran barang dicatat untuk apa dan bagian
mana.

Masing-masing barang diberi kartu stok, dan membuat

defekta.

44

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

e) Administrasi pembelian
Pembelian harian secara tunai atau kredit dan dicatat, nota-nota
dikumpulkan secara teratur. Selain itu dicatat kepada siapa
berhutang dan masing-masing dihitung berapa hutang apotek.
f) Administrasi piutang
Penjualan kredit pada siapa, pelunasan piutang, dan penagihan sisa
piutang.
g) Administrasi kepegawaian
Administrasi kepegawaian dilakukan dengan mengadakan absensi
karyawan, mencatat kepangkatan, gaji, dan pendapatan lain dari
karyawan.
c. Sumber Daya Manusia (SDM)
Sumber daya manusia merupakan sumber daya yang paling
penting dan paling sulit untuk dikelola. Sumber daya manusia
memberikan sumbangan tenaga, bakat, kreativitas, dan usaha kepada
organisasi. Pengelolaan SDM dapat dilakukan dengan menetapkan hak
dan kewajiban tiap karyawan dengan jelas (menetapkan job description)
sesuai dengan tugas, tanggung jawab, dan wewenang. Inti manajemen
sumber daya manusia adalah masalah tenaga kerja yang diatur menurut
fungsi agar efektif dan efisien membantu tujuan apotek terwujud.
Karyawan yang bekerja di apotek dipilih sesuai bidang keahlian,
sehingga diharapkan dapat bekerja secara maksimal(23).
Struktur

organisasi

adalah

bagan

yang

menggambarkan

pembagian tugas, koordinasi, kewenangan, dan fungsi, yang dapat


menentukan hubungan wewenang antara kedudukan seseorang dengan
kewajiban untuk

melaksanakan tugas-tugas tertentu dalam rangka

mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Jumlah tenaga kerja suatu
apotek sangat tergantung pada besar kecil apotek dan jam buka apotek.
Tenaga yang umum dibutuhkan apotek, adalah:
1) Tenaga ahli di bidang farmasi (profesional), yaitu apoteker,
2) Tenaga administrasi,

45

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

3) Tenaga pembantu (pendidikan umum).


Kerjasama yang baik antara tenaga kerja perlu diciptakan untuk
terwujud suasana kerja yang aman dan nyaman. Rasa ikut memiliki juga
perlu ditumbuhkan, sehingga karyawan akan merasa terpanggil untuk
memajukan apotek. Pembagian tugas yang jelas diperlukan, agar setiap
karyawan tahu akan tugas dan tanggung jawab yang diberikan, serta rasa
saling mempercayai juga diperlukan pada setiap karyawan, sehingga
tugas dan tanggung jawab dapat dilaksanakan dengan baik

(23)

. Sumber

daya manusia di apotek dan tugas masing-masing, adalah sebagai


berikut:
1) Apoteker
Apoteker di apotek senantiasa harus memiliki kemampuan
menyediakan dan memberikan pelayanan yang baik, mengambil
keputusan yang tepat, kemampuan berkomunikasi antar profesi,
menempatkan diri sebagai pimpinan dalam situasi multi disipliner,
kemampuan mengelola SDM secara efektif, selalu belajar sepanjang
karier dan membantu memberikan pendidikan serta peluang untuk
meningkatkan pengetahuan(3).
Apoteker dapat bertugas sebagai:
a) Apoteker Pengelola Apotek (APA)
Apoteker yang telah diberi Surat Izin Apotek (SIA). Setiap satu
apotek harus memiliki 1 (satu) orang APA dan seorang apoteker
hanya dapat menjadi APA di satu apotek saja.
b) Apoteker Pendamping (Aping)
Apoteker yang bekerja di apotek disamping APA dan atau
menggantikan pada jam-jam tertentu pada hari buka apotek. KMK
Nomor 1332 tahun 2002 Pasal 19: Apabila APA berhalangan
hadir pada jam buka apotek, maka harus menunjuk Apoteker
Pendamping. Apabila APA tidak dapat selalu ada di apotek selama
jam

buka

apotek,

maka

menggantikan.

46

apoteker

pendamping

dapat

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

c) Apoteker pengganti
Apoteker yang menggantikan APA selama APA tersebut tidak
berada di tempat lebih dari 3 (tiga) bulan secara terus-menerus,
telah memiliki SIK dan tidak bertindak sebagai APA di apotek lain.
Tugas dan kewajiban Apoteker Pengelola Apotek(9):
a) Memimpin seluruh kegiatan apotek, termasuk mengkoordinasi dan
mengawasi kerja bawahan, mengatur jadwal kerja, pembagian
tugas dan tanggung jawab, serta bertanggung jawab mengenai
pajak.
b) Secara aktif berusaha dalam bidang tugas untuk meningkatkan dan
mengembangkan hasil usaha apotek.
c) Mengatur dan mengawasi penyimpanan serta kelengkapan sesuai
dengan persyaratan farmasi terutama dalam bidang peracikan.
d) Memelihara buku harga dan kalkulasi harga obat yang akan dijual
sesuai dengan kebijaksanaan harga yang ditetapkan.
e) Membina dan memberi petunjuk teknis farmasi kepada asisten
apoteker dalam pemberian informasi kepada pasien.
f) Bersama dengan administrasi menyusun laporan manajerial dan
pertanggungjawaban.
g) Mempertimbangkan usul-usul dan saran-saran baik dari bawahan
maupun dari rapat pemegang saham, untuk memperbaiki pelayanan
dan kemajuan apotek.
h) Mengatur dan mengawasi pengamanan hasil penjualan (transaksi)
tunai setiap hari.
Seorang Apoteker Pengelola Apotek (APA) bertanggung
jawab dalam(9):
a) Bidang keuangan; penggunaan secara efisien, pengamanan dan
kelancaran.
b) Bidang

persediaan

barang;

pengadaan

penyimpanan dan kelancaran distribusi.

47

barang,

ketertiban

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

c) Bidang inventaris; penggunaan secara efisien, pemeliharaan dan


pengamanan.
d) Bidang personalia; kenyamanan kerja dan efisiensi.
e) Bidang umum;

kelancaran, penyimpanan dan pengamanan

dokumen.
Apoteker Pengelola Apotek mempunyai wewenang untuk
memimpin seluruh kegiatan apotek, antara lain mengelola kegiatan
pelayanan kefarmasian dan karyawan yang menjadi bawahan di
apotek, sesuai petunjuk dari pimpinan apotek dan peraturan
perundang-undangan.
Apoteker pendamping (Aping) bertugas dan berwewenang
melakukan tugas-tugas dari APA selama APA tidak berada ditempat
pada jam buka apotek, dan mengerjakan pekerjaan sesuai dengan
profesi, memberikan informasi obat kepada pasien maupun pada
petugas apotek yang lain, mengelola penggunaan narkotika dan
psikotropika termasuk pembuatan laporan.
Tanggung jawab Aping adalah(9):
a) Bertanggung jawab kepada APA sesuai dengan tugas yang
diserahkan kepada Aping.
b) Bertanggung jawab terhadap penjualan obat bebas, OWA,
psikotropika dan narkotika.
c) Bertanggung

jawab

terhadap

penyimpanan

mengelompokkan resep tiap bulan dan

resep

dengan

membuat

laporan

penggunaan obat kepada APA setiap bulan.


d) Bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan kefarmasian yang
dilakukan di apotek dan bertanggung jawab untuk menyelesaikan
tugas pelayanan kefarmasian sesuai dengan batas pekerjaan yang
ditugaskan.
2) Asisten Apoteker (AA)
Asisten Apoteker menurut PMK Nomor 889 tahun 2011
tentang Registrasi dan Izin Kerja Asisten Apoteker, Asisten Apoteker

48

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

adalah

tenaga

kesehatan

yang

berijazah

Sekolah

Asisten

Apoteker/Sekolah Menengah Farmasi, Akademi Farmasi Jurusan


Farmasi, Politeknik Kesehatan, Akademi Analis Farmasi dan
Makanan Jurusan Analis Farmasi dan Makanan Politeknik Kesehatan
sesuai

peraturan

perundang-undangan

yang

berlaku.

Asisten

Apoteker tidak harus ada di apotek, yang harus ada adalah APA. Pasal
22 ayat 2 Undang-undang Nomor 922 tahun 1993, Asisten Apoteker
melakukan pekerjaan kefarmasian di apotek di bawah pengawasan
Apoteker.
Tenaga Teknis Kefarmasian (Asisten Apoteker) mempunyai
wewenang untuk melakukan Pekerjaan Kefarmasian dibawah
bimbingan dan pengawasan Apoteker yang telah memiliki STRA
sesuai dengan pendidikan dan keterampilan yang dimiliki(7).
Tanggung

jawab

AA

adalah

mempertanggungjawabkan

seluruh tugas yang diserahkan tanpa ada kesalahan, kehilangan,


kerusakan, dan kekeliruan kepada APA. Asisten Apoteker berwenang
menyelesaikan tugas pelayanan kefarmasian sesuai dengan batas
pekerjaan yang ditugaskan.
3) Bagian Administrasi
Tugas dan kewajiban bagian administrasi:
a) Membuat laporan harian, yaitu pencatatan penjualan kredit,
pencatatan pembelian yang dicocokkan dengan buku penerimaan
barang di gudang, pencatatan hasil penjualan dan tagihan serta
pengeluaran setiap hari.
b) Membuat laporan bulanan, yaitu realisasi data untuk pimpinan
apotek, membuat daftar gaji dan pajak.
c) Membuat laporan tahunan tutup tahun (membuat neraca laba-rugi).
d) Surat-menyurat.
Bagian administrasi bertanggung jawab kepada APA sesuai
tugas yang diberikan. Wewenang bagian administrasi adalah

49

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

melaksanakan semua kegiatan administrasi pembukuan dengan


petunjuk dari APA dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
4) Bagian Keuangan
Tugas dan kewajiban bagian keuangan:
a) Mencatat pengeluaran uang setelah dihitung terlebih dahulu, juga
pengeluaran uang yang harus dilengkapi dengan kuitansi, nota, dan
tanda setoran yang sudah diparaf oleh APA.
b) Menyetorkan dan atau mengambil uang, baik dari kasir atau dari
bank.
c) Bagian keuangan bertanggung jawab kepada APA atas kebenaran
jumlah uang yang dipercayakan. Wewenang bagian keuangan
adalah untuk melaksanakan kegiatan arus uang sesuai dengan
petunjuk APA.
5) Juru Resep (Reseptir)
Juru resep bertugas membantu Asisten Apoteker dalam
menyelesaikan resep racikan sesuai petunjuk Asisten Apoteker atau
APA. Juru resep mempunyai wewenang untuk menyelesaikan resep
racikan sesuai dengan prosedur yang benar(24).
6) Pembantu Umum
Tugas dan kewajiban pembantu umum adalah:
a) Membantu asisten apoteker dalam menyiapkan resep obat racikan
termasuk membeli obat ke apotek lain.
b) Menyusun, menata, dan membersihkan obat-obatan yang ada di
etalase dari debu dan kotoran setiap hari.
c) Membantu dalam segala bidang yang memerlukan bantuan dan
membersihkan lingkungan yang ada di sekitar apotek.
d) Membuka dan menutup apotek setiap pagi dan malam, tidak lupa
untuk mengecek dan memastikan semua pintu rolling door sudah
terkunci dengan baik.

50

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

d. Keuangan (Finance)
Kegiatan keuangan merupakan salah satu faktor penentu
kesuksesan suatu bisnis begitu pula dengan bisnis apotek. Suatu badan
usaha dikatakan efisien, sehat atau tidak, dapat dilihat dari laporan
keuangan, sehingga perlu ada sistem kontrol dan pembagian tugas yang
jelas. Analisis keuangan sudah harus dilakukan sejak rencana pendirian
apotek dibuat. Hal tersebut dilakukan untuk memantau perputaran modal
di apotek, sekaligus untuk mengetahui perkembangan apotek ketika
operasional apotek telah dijalankan. Analisis keuangan yang kuat dapat
memperkirakan target keuntungan tiap periode tertentu, serta strategi
untuk mencapai target tersebut.
Bagian keuangan mengontrol dan menerima laporan dari kasir
mengenai hasil penjualan tunai dan dibukukan untuk laporan harian,
bulanan, dan tahunan. Pemasukan uang di apotek bersumber dari hasil
penjualan obat (resep dan non resep), alat kesehatan, kosmetik, dan
makanan. Pembayaran obat oleh konsumen baik obat yang dibeli dengan
resep ataupun bukan selalu masuk ke bagian kasir. Setiap hari pemasukan
uang dilaporkan dan disetorkan ke bagian keuangan.
Pengeluaran apotek meliputi pembelian obat dan barang lain,
pembayaran inkaso, dan pengeluaran rutin. Pembayaran inkaso, yaitu
penagihan hutang oleh PBF apabila apotek membeli barang secara kredit.
Pengeluaran rutin untuk biaya tetap meliputi pembayaran pajak, gaji
karyawan, telepon, listrik, dan biaya lain-lain.
Hal yang harus dilakukan dilaporkan oleh bagian keuangan, yaitu:
a) Laporan Laba-Rugi
Laporan Laba-Rugi (income statement), yaitu laporan yang
menyajikan informasi tentang pendapatan, biaya, laba atau rugi yang
diperoleh perusahaan selama periode tertentu. Laporan rugi-laba berisi
hasil penjualan, pembelian, HPP (Harga Pokok Penjualan), biaya
operasional, laba kotor, laba bersih usaha, laba bersih sebelum pajak,
laba bersih setelah pajak, pendapatan non usaha, dan pajak.

51

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

b) Laporan Neraca Akhir Tahun


Neraca (balance sheet) adalah laporan yang menyajikan
informasi tentang posisi aktiva, utang, dan modal pada waktu tertentu.
Neraca adalah laporan kondisi keuangan perusahaan yang disusun
secara sistematis. Komponen neraca terdiri dari aktiva dan pasiva.
Nilai aktiva dan pasiva selalu dalam keadaan seimbang. Kolom aktiva
terdiri dari semua barang dan kekayaan yang dimiliki perusahaan,
yaitu aktiva lancar (kas dan bank, surat berharga, piutang dagang,
persediaan, dan biaya dibayar dimuka), investasi (penanaman modal
dalam jangka waktu panjang), aktiva tetap (gedung, tanah, mobil,
mesin, dan peralatan kantor), aktiva yang tidak terwujud (hak paten
yang dimiliki oleh suatu perusahaan, merk dagang, dan hak cipta).
Kolom pasiva terdiri dari kewajiban lancar (hutang, pajak penghasilan
yang belum dibayar, dan lain-lain), kewajiban jangka panjang, modal
sendiri, dan kewajiban lain.
c) Laporan Hutang Piutang
Buku yang berisi laporan utang yang dimiliki apotek selama 1
(satu) tahun dan berisikan laporan piutang yang ditimbulkan karena
transaksi yang belum lunas dari pihak lain kepada apotek selama 1
(satu) tahun. Laporan hutang adalah laporan yang berisi tentang
kewajiban apotek terhadap pihak lain (misalnya terhadap PBF).
Laporan piutang adalah suatu laporan yang berisi tentang kewajiban
langganan atau konsumen kepada apotek. Barang sudah dibawa oleh
pelanggan atau konsumen tetapi dibayar secara kredit. Pelanggan
biasa diberi waktu pembayaran selama 30, 60, atau 90 hari.
d) Laporan Kas
Laporan kas adalah laporan semua transaksi dengan uang
tunai, penerimaan dan pengeluaran. Pembukuan kas dibuat dalam 3
(tiga) macam, yaitu: harian, bulanan dan tahunan.Peneriman meliputi
penjualan obat dengan resep dan tanpa resep, diskon pembelian
barang dari PBF, retur obat, pajang iklan, tagihan piutang.

52

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

Pengeluaran meliputi administrasi (pembelian buku, blanko, tinta


print, dan alat-alat tulis), rumah tangga, pemeliharaan inventaris:
misal service AC (Air Conditioner), komputer, motor, plangisasi
gedung, pembelian barang dagangan: pembelian obat dan alkes ke
PBF ataupun pembelian ke apotek lain, kesejahteraan dan upah (gaji
karyawan, tunjangan dan lain-lain), penerangan (pembayaran listrik
dan telepon), embalase (barang-barang untuk keperluan membungkus,
etiket, salinan resep dan kuitansi).
e) Laporan Perubahan Modal
Laporan perubahan modal adalah laporan keuangan yang
menyajikan informasi mengenai perubahan modal perusahaan akibat
operasi perusahaan satu periode akuntansi tertentu. Laporan
perubahan modal merupakan pelengkap dari laporan laba-rugi.
f) Perpajakan
Pembayaran pajak berdasarkan system self assessment, wajib
pajak mempunyai kewajiban yang perlu dilakukan yaitu(9):
1) Mendaftarkan sebagai wajib pajak ke kantor pelayanan pajak
dimana wajib pajak berkedudukan atau bertempat tinggal.
2) Penyetoran pajak dilakukan dengan menggunakan Surat Setoran
Pajak (SSP) ke kantor pos atau bank yang ditunjuk paling lambat
tanggal 15 setiap bulan.
3) Wajib melaporkan sekalipun nihil dengan menggunakan SPT masa
(Surat Pemberitahuan) ke kantor pelayanan pajak atau kantor
penyuluhan setempat paling lambat tanggal 20 setiap bulan.
Pajak dikelompokkan menjadi dua, yaitu(9):
1) Pajak langsung; adalah pajak yang harus dipikul sendiri oleh wajib
pajak yang bersangkutan.
2) Pajak tak langsung; adalah pajak yang dilimpahkan pada pihak lain,
misal PPN dan materai.
Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) mutlak diperlukan dalam
pendirian apotek. Ketika seorang APA akan mencari NPWP, maka

53

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

terlebih dahulu harus memperoleh ijin tempat usaha, setelah diperoleh


ijin tempat usaha, baru bisa memperoleh Surat Ijin Usaha
Perdagangan (SIUP) di Departemen Perdagangan dan kemudian diberi
NPWP maka perusahaan wajib membayar pajak dan melapor setiap
bulan ke kantor pajak(9).
Dasar hukum ketentuan umum dan tata cara perpajakan apotek
mengacu kepada Undang-undang RI Nomor 6 tahun 1983
sebagaimana telah dirubah terakhir dengan Undang-undang RI Nomor
17 tahun 2000. Ketentuan yang dimaksud, adalah sebagai berikut:
1) Tahun pajak; tahun pajak sama dengan tahun takwim atau tahun
kalender.
2) Nomor

Pokok

Wajib

Pajak

(NPWP);

Merupakan

sarana

administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal


identitas diri atau identitas wajib pajak.
3) Surat Pemberitahuan (SPT); Merupakan surat yang digunakan
untuk melaporkan perhitungan dan pembayaran pajak yang
terutang menurut perundang-undangan perpajakan.
4) Surat Setoran Pajak (SSP); Merupakan surat yang oleh wajib pajak
digunakan untuk melakukan pembayaran atau penyetoran pajak
yang terutang ke kas negara melalui Kantor Pos dan atau Bank
Badan Usaha Milik Pemerintah atau tempat pembayaran yang
ditunjuk Menteri Keuangan.
5) Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21; Undang-undang Perpajakan
Nomor 17 tahun 2000 Pasal 21 menyatakan, bahwa Pajak tersebut
merupakan pajak gaji karyawan setiap tahun dikurangi penghasilan
tidak kena pajak (PTKP). Pajak tersebut dikenakan pada karyawan
yang berpenghasilan lebih besar dari PTKP sesuai Pasal 21 yang
dibayarkan sebelum tanggal 15 setiap bulan. Keterlambatan
pembayaran dikenai denda Rp. 50.000,00 ditambah 2% dari nilai
pajak yang harus dibayar. PMK Nomor 162/PMK. 011/2012

54

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

mengatur PTKP mulai tanggal 1 Januari 2013 adalah sebagai


berikut:
Tabel 1. Tarif PTKP
Jenis PTKP
Diri pegawai
Tambahan untuk pegawai
kawin

Setahun

Sebulan

Rp 24.300.000,00

Rp 2.025.000,00

Rp 2.025.000,00

Rp 168.750,00

Rp 24.300.000,00

Rp 2.025.000,00

Rp. 2.025.000,00

Rp. 168.750,00

Tambahan untuk istri yang


penghasilan digabung dengan
penghasilan suami
Tambahan untuk setiap anggota
keluarga sedarah dan keluarga
semenda dalam garis keturunan
lurus serta anak angkat, yang
menjadi tanggungan
sepenuhnya, paling banyak 3
(tiga) orang untuk setiap
keluarga.

6) Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 23; PPh Pasal 23 mengatur pajak


bagi apotek yang berbentuk badan usaha. PPh Pasal 23 adalah
pemotongan pajak oleh pihak lain atas penghasilan berupa deviden,
bunga royalti, sewa, hadiah, penghargaan, dan imbalan jasa
tertentu. Dikenai 15% dari keuntungan yang dibagikan.
7) Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25; Peraturan Pemerintah Nomor 46
tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan dari Usaha
yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki
Peredaran Bruto Tertentu, menyatakan bahwa Besar tarif Pajak
Penghasilan yang bersifat final sebagaimana dimaksud dalam Pasal
2 adalah 1% (satu persen). Pengenaan Pajak Penghasilan
didasarkan pada peredaran bruto dari usaha dalam 1 (satu) tahun

55

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

dari Tahun Pajak terakhir sebelum Tahun Pajak yang bersangkutan.


Peredaran bruto

Wajib Pajak telah melebihi

jumlah Rp

4.800.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) pada suatu


Tahun Pajak, atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib
Pajak padaTahun Pajak yang akan datang dikenai tarif Pajak
Penghasilan

berdasarkan

ketentuan

Undang-undang

Pajak

Penghasilan.
Cara perhitungan pajak dibagi 2 (dua), yaitu:
1) Pembukuan; Pajak dihitung dari keuntungan bersih yang terdapat
dalam neraca rugi-laba.
2) Norma; Pajak yang dibayarkan dihitung berdasarkan omset yang
dikenai pajak, yaitu tergantung dari wilayah daerah yang ditempati,
bentuk usaha dan penetapan dari keputusan pemerintah. Cara
tersebut digunakan untuk omset yang kurang Rp 600 juta dan
apotek bukan berbentuk badan. Penghitungan pajak dengan
menggunakan perhitungan tersebut harus dilakukan pelaporan
paling lama 3 (tiga) bulan sejak awal tahun pajak yang
bersangkutan. Penghitungan pajak berdasarkan norma, dibagi
menjadi 2 , yaitu:
1) Menurut wilayah
a. Sepuluh

Ibukota

Provinsi

(Medan,

Palembang,

Jakarta,

Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Manado, Makassar


dan Pontianak) terkena pajak sebesar 30%.
b. Ibukota provinsi lain terkena pajak sebesar 25%.
c. Kabupaten lain terkena pajak sebesar 20%.
2) Menurut jenis usaha
Dirjen Pajak menyatakan, bahwa apotek termasuk dalam
golongan pedagang eceran barang-barang industri kimia, bahan
bakar minyak dan pelumas, farmasi, dan kosmetika (kode 62430).

56

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

Pajak

keuntungan

bersih

dihitung

berdasarkan

Pajak

Penghasilan (PPh) Pasal 25 berdasarkan Undang-undang Perpajakan


Nomor 17 tahun 2000, menyatakan bahwa:
1. PPh Pribadi/Perseorangan
Perhitungan PPh pribadi ada 2 (dua) cara, yaitu dengan
pembukuan (membuat neraca laba-rugi) dan menggunakan norma
(dapat dilakukan bila omset kurang dari Rp 4,8 milyar/tahun). Tarif
pajak PPh Pribadi/Perseorangan dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Tarif Pajak Pribadi
Lapisan Penghasilan Kena Pajak

Tarif Pajak

Sampai dengan Rp.50 juta

5%

> Rp.50 juta s/d Rp. 250 juta

15%

> Rp.250 juta s/d Rp. 500.juta

25%

> Rp. 500 juta

30%

2. PPh Badan PP No 46 tahun 2013


Tabel 3. Tarif Pajak Badan
Penghasilan Kotor (peredaran Bruto)
Rp.4,8 M/tahun

Tarif Pajak
1% x (predaran
bruto)

3. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)


Pajak yang dibayar dari 1% penjualan dikurangi pajak masukan.
Pajak pertambahan nilai disetorkan paling lambat tanggal 15 bulan
berikut setelah masa pajak berakhir.
4. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)
Pajak atas tanah dan bangunan apotek, besar pajak ditentukan oleh
luas tanah dan bangunan apotek.
5. Pajak Reklame
Pajak reklame dikenakan terhadap

pemasangan papan nama

apotek, pajak dibayarkan satu tahun sekali.

57

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

6. Pengusaha Kena Pajak (PKP)


Merupakan pajak yang dikenakan kepada badan usaha atau orang
pribadi yang melakukan usaha dengan penghasilan (omzet) >600
juta/tahun atau pengusaha kecil dengan kemampuan sendiri dapat
mengajukan permohonan untuk menjadi PKP < 600 juta.

3. Enterpreunership: Studi Kelayakan


Perencanaan pendirian apotek diawali studi kelayakan untuk melihat
kelayakan usaha sehingga terlaksana dengan baik dan berhasil. Studi
kelayakan (feasibility study) adalah suatu perencanaan tentang segala
sesuatu yang menyangkut rencana pendirian apotek baru untuk dapat
melihat kelayakan usaha baik ditinjau dari sisi pengabdian profesi maupun
sisi ekonomi.
Studi kelayakan tidak menjamin keberhasilan pendirian suatu
apotek, sebab hanya berfungsi sebagai pedoman atau landasan pelaksanaan
pekerjaan yang dibuat berdasarkan data-data dari berbagai sumber yang
dianalisis dari berbagai aspek, sedangkan keberhasilan dipengaruhi oleh
kemampuan sumber daya internal dan faktor eksternal. Studi kelayakan
melakukan tinjauan terhadap aspek-aspek, yaitu(24):
a. Aspek Pasar dan Pemasaran
Analisa pasar dilakukan untuk mengetahui keberadaan pasar yang
akan menyerap usaha yang akan dilakukan. Pendirian apotek perlu
memperkirakan jumlah resep yang dapat diserap dari masing-masing
praktek dokter, poli klinik, atau rumah sakit di sekitar lokasi apotek,
harga obat tiap resep dan keadaan penduduk di sekitar apotek meliputi
jumlah penduduk, tingkat sosial ekonomi, budaya untuk berobat, dan
tingkat pendidikan penduduk. Aspek pasar meliputi:
1) Jenis produk yang akan dijual,
2) Cara (dari mana, bagaimana) mendapatkan produk yang akan dijual,
3) Bentuk pasar (persaingan sempurna, monopoli, oligopoli, monopsoni),

58

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

4) Potensi pasar (Q=N.P),dimana : Q = Potensi Pasar, N = jumlah


pembeli dalam produk pasar spesifik dengan asumsi yang telah
ditentukan, dan P = Kuantitas yang dibeli oleh pembeli
5) Target pasar (individu, korporsi, reselller),
6) Target konsumen.
b. Aspek Keuangan
Aspek finansial ditujukan untuk memperkirakan jumlah dana
yang dibutuhkan untuk membangun dan mengoperasikan apotek. Sumber
pembiayaan apotek dapat menggunakan dua sumber, yaitu: pertama,
modal sendiri, dapat satu orang pribadi atau beberapa orang dengan
pembagian saham, kedua, dapat dengan pinjaman dengan melalui bank
atau lembaga non bank. Aspek keungan meliputi:
1) Investasi dan modal kerja,
2) Penilaian analisis keuangan (BEP, ROI, PBP),
3) Cash flow analysis .
c. Aspek Teknis
Aspek teknis yang dimaksud adalah kondisi fisik dan peralatan
yang dibutuhkan untuk menunjang pelayanan kefarmasian di apotek.
Aspek teknis, meliputi:
1) Peta lokasi dan lingkungan (posisi apotek terhadap sarana pelayanan
kesehatan lain),
2) Tata letak bangunan,
3) Interior dan peralatan teknis.
4) Sarana dan prasarana
5) Proses perijinan
6) Piranti lunak (software SIM)
7) Seleksi awal supplier
8) Jumlah komoditas
9) Rencana kerja
10) Manajemen

59

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

d. Aspek Manajemen
Apotek perlu mendapat dukungan tenaga manajemen yang ahli
dan berpengalaman, serta memiliki motivasi dan dedikasi yang tinggi
untuk mengembangkan apotek. Tugas-tugas pokok yang harus disusun
dan dijalankan agar apotek dapat berjalan dengan baik. Tugas-tugas
tersebut kemudian dituangkan dalam jabatan-jabatan tertentu dan disusun
dalam satu organisasi, dengan struktur organisasi yang telah disusun
dapat untuk menentukan kriteria calon pegawai apotek. Aspek
manajemen meliputi:
1) Strategi manajemen (visi, misi, strategi, program kerja, Standart
Operating Procedures),
2) Bentuk badan usaha,
3) Struktur organisasi,
4) Jenis pekerjaan,
5) Kebutuhan tenaga kerja,
6) Program kerja.
e. Aspek Sosial Ekonomi
Rencana pendirian apotek ditinjau dari aspek sosial ekonomi akan
cukup menguntungkan, karena memerlukan tenaga kerja, yang berarti
akan membuka lowongan pekerjaan bagi masyarakat dan mengurangi
pengangguran, serta dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.
f. Analisa Dampak Lingkungan
Apotek dapat
kegiatan,

sehingga

menghasilkan limbah dalam


harus

perlu

memperhatikan

melaksanakan
aspek

dampak

lingkungan. Limbah yang dihasilkan, berupa limbah padat seperti karton,


dan plastik kemasan obat. Pembuangan/pemusnahan limbah-limbah
tersebut harus diperhatikan juga aspek dampak lingkungan, sehingga
tidak mengganggu lingkungan.
Pertimbangan dalam studi kelayakan yang harus diperhatikan adalah
kepadatan penduduk, pelayanan kesehatan (rumah sakit, puskesmas, praktek
dokter swasta, dan apotek yang sudah ada), tingkat kehidupan, tingkat

60

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

kesehatan, dan tingkat pendidikan masyarakat di sekitar apotek. Aspek


terpenting dari studi kelayakan untuk diketahui adalah prospek pemasaran
yang digambarkan melalui Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja
(RAPB) yang mencakup biaya rutin per bulan dan per tahun, proyeksi
pendapatan, pengeluaran rutin, perkiraan laba-rugi, perhitungan PBP (Pay
Back Periode), ROI (Return Of Investment), dan BEP (Break Even Point).
Uraian aspek keuangan yang mempengaruhi studi kelayakan:
a. Break Even Point (BEP)
BEP adalah suatu teknik analisa yang menunjukkan suatu
keadaan usaha tidak mengalami keuntungan ataupun kerugian. Fungsi
dari analisa BEP antara lain digunakan untuk perencanaan laba, sebagai
alat pengendalian, alat pertimbangan dalam menentukan harga jual, dan
alat pertimbangan dalam mengambil keputusan(24).
Rumus BEP:

Keterangan :
BEP = Break Even Point
FC

= Fixed Cost (Biaya tetap)

VC

= Variable Cost (Biaya Variabel)

TR

= Total Revenue (Total Pendapatan)


Waktu balik modal semakin cepat, maka semakin prospektif

pendirian apotek, hal tersebut menandakan semakin besar tingkat


pengembalian modal dan keuntungan bersih rata-rata juga besar.
Analisa BEP berguna untuk perencanaan laba (Profit Planning),
sebagai alat pengendali (Controlling), sebagai alat pertimbangan dalam
menentukan harga jual dan sebagai alat pertimbangan dalam mengambil
keputusan perlu dikethui berapakah BEP-nya(24).
b. Return On Investment (ROI) dan Pay Back Periode (PBP)
ROI (Return on Investment) digunakan untuk mengetahui apakah
modal yang ditanam di apotek lebih menguntungkan daripada investasi di

61

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

bank, sedangkan Pay Back Period digunakan untuk mengetahui berapa


lama modal akan kembali dari usaha apotek yang dilakukan.
Rumus Return On Investment (ROI) :

Rumus Pay Back Periode (PBP) :


(Seto, 1999)

Return On Investment merupakan persentase yang digunakan


sebagai acuan keberhasilan suatu apotek dengan pembanding bunga
bank, keberhasilan investasi suatu apotek digambarkan dengan
persentase ROI yang melebihi persentase bunga bank, jika suku bunga
bank lebih tinggi, maka lebih baik menyimpan uang di bank.
ROI dapat dinaikkan dengan cara:
1) Menaikkan margin
a) Hasil penjualan dinaikkan lebih besar dibandingkan biaya.
b) Biaya diturunkan lebih besar dibandingkan penjualan.
2) Menaikkan perputaran
a) Menaikkan penjualan (laba) dibandingkan aktiva (modal lancar).
b) Menurunkan aktiva lebih besar dibanding hasil penjualan (laba).
c) PBP menggambarkan lama waktu pengembalian modal, dimana
semakin

pendek

waktu

yang

dibutuhkan,

maka

semakin

menggambarkan keberhasilan apotek tersebut.


Faktor yang diperhatikan sebelum mendirikan apotek, ialah(24):
a. Lokasi
Banyak faktor yang digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk
menentukan lokasi suatu usaha. Pasar merupakan salah satu dasar
pertimbangan yang tidak boleh diabaikan, diperhitungkan lebih dahulu:
1) Keberadaan apotek lain,
2) Letak apotek yang akan didirikan, kemudahan pasien untuk parker,

62

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

3) Jumlah penduduk,
4) Jumlah dokter,
5) Keadaan sosial ekonomi rakyat setempat,
6) Fasilitas kesehatan lain seperti rumah sakit, puskesmas, dan poli
klinik.
b. Perundang-undangan farmasi dan ketentuan lain.
c. Pembelian.
d. Penyimpanan barang/pergudangan.
e. Penjualan, yang terpenting ialah kalkulasi harga atas resep dokter.
f. Admistrasi, menyangkut pula laporan-laporan.
g. Evaluasi apotek pada akhir tahun.
Setelah analisis dan perencanaan telah dilakukan maka untuk
mendirikan suatu apotek ada suatu tata cara atau aturan yang harus diikuti.
Ijin apotek pada tempat tertentu diberikan oleh Menteri kepada Apoteker
Pengelola Apotek.
Syarat administratif yang dilampirkan pada permohonan izin apotek
adalah sebagai berikut(25):
a. Salinan/foto copy Surat Izin Kerja Apoteker.
b. Salinan/foto copy Kartu Tanda Penduduk (KTP).
c. Salinan/foto copy denah bangunan.
d. Surat yang mengatakan status bangunan dalam bentuk akte hak
milik/sewa/kontrak.
e. Daftar Asisten Apoteker dengan mencantumkan nama, alamat, tanggal
lulus dan nomor surat izin kerja.
f. Asli dan salinan/foto copy daftar terperinci alat perlengkapan apotek.
g. Surat pernyataan dari Apoteker Pengelola Apotek bahwa tidak bekerja
tetap pada perusahaan farmasi lain dan tidak menjadi Apoteker
Pengelola Apotek Lain.
h. Asli dan salinan/foto copy surat izin atasan (bagi pemohon pegawai
negeri, anggota ABRI, dan pegawai instansi pemerintah lainnya).

63

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

i. Akte perjanjian kerjasama Apoteker Pengelola Apotek dengan Pemilik


Sarana Apotek.
j. Surat pernyataan Pemilik Sarana Apotek tidak terlibat pelanggaran
peraturan perundang-undangan di bidang obat.
k. Perijinan HO (Hinder Ordonantie).
l. SIUP (Surat Ijin Usaha Perdagangan).
m. Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
Menurut KepMenKes No. 1332 tahun 2002 pasal 4 ayat (2) bahwa
wewenang pemberian ijin apotek dilimpahkan oleh Menteri kepada Kepala
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Oleh karena itu, tata cara permohonan
ijin apotek tidak lagi didasarkan pada Permenkes No. 922 tahun 1993,
namun telah disesuaikan menurut pasal 7 KepMenKes no. 1332 tahun 2002
tentang perubahan atas Permenkes No. 922 tahun 1993, yaitu :
a. Permohonan ijin apotek ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota dengan menggunakan contoh formulir model APT-1.
b. Menggunakan formulir APT-2, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
selambat-lambatnya 6 hari kerja setelah menerima permohonan, dapat
meminta bantuan teknis kepada kepala Balai POM untuk melakukan
pemeriksaan setempat terhadap kesiapan apotek untuk melakukan
kegiatan.
c. Selambat-lambatnya 6 hari setelah permintaan bantuan teknis dari Kepala
Dinas Kesehatan Kaupaten/Kota, Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
atau Kepala Balai POM melaporkan hasil pemeriksaan setempat dengan
menggunakan contoh APT-3.
d. Pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat 2 dan 3 tidak
dilaksanakan, apoteker pemohon dapat membuat surat pernyataan siap
melakukan kegiatan kepada Kepala Dinas Kesehatan/Kota setempat
dengan

tembusan

kepada

Kepala

Dinas

Kesehatan

Provinsi

menggunakan contoh formulir APT-4.


e. Jangka waktu 12 hari kerja setelah diterima laporan hasil pemeriksaan
sebagaimana dimaksud ayat 3, atau pernyataan yang dmaksud dalam ayat

64

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

4, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat mengeluarkan


Surat Ijin Apotek dengan menggunakan contoh formulir APT-5.
f.

Pemeriksaan tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai


POM dimaksud ayat 3 masih belum memenuhi syarat, Kepala Dinas
Kabupaten/Kota setempat dalam waktu 12 hari kerja mengeluarkan Surat
Penundaan dengan menggunakan contoh formulir APT-6.

g. Surat Penundaan sebagaimana dimaksud dalam ayat 6, Apoteker diberi


kesempatan untuk melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi
selambat-lambatnya dalam jangka waktu 1 bulan sejak tanggal
penundaan. Tempat pendirian apotek harus jelas. Apoteker harus
mengurus perijinan pendirian apotek dengan langkah-langkah seperti
yang terlihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Skema Perijinan Pendirian Apotek

65

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker


Apotek Insaan Farma

Periode November 2014

KepMenKes RI No.1332/MenKes/SK/X/2002 pasal 9 menyebutkan,


terhadap permohonan ijin apotek yang ternyata tidak memenuhi persyaratan
dimaksud pasal 5 atau 6 atau lokasi apotek tidak sesuai dengan permohonan
maka Kepala DinKes Kabupaten/Kota setempat dalam jangka waktu
selambat-lambatnya 12 hari kerja wajib mengeluarkan surat penolakan
disertai dengan alasan-alasannya dengan menggunakan formulir model Apt7.

66