Anda di halaman 1dari 24

Khutbah Idul Fitri 1435 H

Fitrah Dan Sebongkah Kemenangan


Oleh : Drs. Nasbun

Makna asal kata Idul Fitri adalah dari ungkapan 'id


al-Fithr. Kata-kata adalah seakar dengan kata awdah
Atau awdatun, `adah atau adatun dan isti'adatun.
Semua kata-kata itu mengandung makna asal " kembali "
atau "terulang " yang berarti sesuatu yang selalu akan
terulang dan diharapkan akan selalu terulang yaitu
fitrah.

Drs. Nasbun
Dan hari raya lebaran disebut sebagai karena ia
datang kembali berulang-ulang secara periodik dalam
daur waktu satu tahun. Sedangkan makna kata fitri
terambil dari kata " fitrah " ( Arab ) yang berarti "
kejadian asal yang suci atau " kesucian asal " Fithrah
mempunyai pengertian yang sama dengan khilqah yaitu
" ciptaan " atau " Penciptaan " secara istilah artinya
"penciptaan yang suci "
Disinilah
mengisyaratkan

hakekat
adanya

idul
upaya

fitri
manusia

yang
untuk

kembali kepangkuan Tuhannya atau kembali ke asal


usul yang menciptakan manusia' yaitu Allah SWT dalam
keadaan putih bersih setelah melakukan `pertobatan
serius' selama satu bulan di bulan ramadlan.
"Gerak kembali ke asal" adalah sebuah jargon yang
mengindikasikan akan adanya upaya sadar manusia
untuk melakukan "penyegaran moral" tatkala manusia
hendak melakukan transformasi social kehidupannya.
Karena setiap setiap gerak ke depan, ia selalu
membutuhkan "langkah kembali ke belakang" agar kelak ke
depan bisa memiliki daya jangkau yang lebih jauh dan
panjang. Tanpa "gerak kembali ke belakang", besar

Khutbah Idul Fitri 1435 H


kemungkinan "lompatan ke depan" tidak memiliki daya
tumpu yang kuat, sehingga jangkauan yang tercapaikan
pun akan sangat dekat dan pendek.
Ilustrasi ini menggambarkan b a h w a s e t i a p
gerak maju", betapapun hebatnya, selalu
membutuhkan "langkah mundur" sebagai proses
persiapan,ancang ancang, bahkan penyegaran,
agar dia dapat lebih leluasa mengatur kembali
arus nafas sehingga mampu melesat ke depan
secara lebih ringan.
Aidul Fithri pun mempunyai makna yang
sama, yaitu sebagai "langkah mundur" untuk proses
persiapan dalam menghadapi tantangan hidup yang
mungkin lebih jauh lebih hebat dan berat di
masa-masa yang akan datang. Kalau boleh saya
katakan,

sebenarnya

pulang

kampungpun

mestinya dimaknai dalam konteksnya yang wajar


seperti itu, bukan untuk "pamer" dan " pamor".
Lantas apa makna " hari raya" dalam
konteks

kehidupan

nyata

masa kini ?

kaum muslimin

Drs. Nasbun
Yang kita rayakan nanti, bukan karena kita
dapat makan dan minum di siang hari kembali,
ataupun bercumbu rayu dengan suami istri di
siang hari, namun jauh dari itu semua, yang kita
rayakan adalah hari di mana ummat manusia yang
beriman telah merdeka dan bebas dari penjaj ahan
naf su , yang s el al u menggod a d an m embaw a k e
jal an yang menyalahi aturan Allah SWT.
Oleh karena itu, tidak makan dan tidak
minum atau hubungan suami istri di siang hari
dibulan puasa, hanya salah satu manivestasi dari
kekuatan iman yang mampu meredam kekuatan hawa
nafsu

makan

dan

minum

disiang

hari,

yang

tentunya masih banyak kekuatan -kekuatan nafsu


yang senantiasa

dapat melumpuhkan kekuatan

iman.
Maka

dari

itu,

untuk

mengukur

apakah

kekuatan iman kita lebih tinggi dari kekuatan


hawa nafsu, akan dapat kita lihat sejauh mana
keberhasilan pembangunan mental spiritual kita
melawan hawa nafsu angkara murka. Akan dapat kita
lihat sejauh mana keberhasilan pembangunan mental

Khutbah Idul Fitri 1435 H


spiritual kita di bulan sawal ini seterusnya, sebagai
tuntutan mengisi kemerdekaan dari penjajah hawa nafsu
tadi.
Untuk membangun mental agama kita, syarat yang
mutlak adalah kita harus merdeka terlebih dahulu dari
penjajahan nafsu, sebab kalau nafsu masih dominan
dalam jiwa kita ini, apapun yang kita hangun cepat atau
lambat selalu akan digerogoti yang pada gilirannya tidak
mendapat apa-apa.
Kita lihat berapa banyak orang yang telah
membangun agamanya dengan amal saleh yang besar
dan aneka ragam, namun terkadang tidak disadari sedikit
demi sedikit terkikis oleh hasad dan iri hati, sebagaimana
sabda Rasulullah SAW :

Artinya : Hasad itu memakan kebaikan ( pahala )


seperti api memakan kayu bakar.
Demikian pula banyak orang beramal shaleh
5

Drs. Nasbun
dengan hartanya, namun di tengah jalan nilainya hampa
akibat

dirongrong

oleh

penyakit

Riya.

Sebagaimana.disinyalir dalam Firman Allah :

Artinya Hai orang-orang yang beriman, janganlah


kamu

menghilangkan

menyebut-nyebutnya

(pahala)
dan

sedekahmu

menyakiti

dengan

(perasaan

si

penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya


Karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman
kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan

Khutbah Idul Fitri 1435 H


orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah,
Kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah
dia bersih (Tidak bertanah). mereka tidak menguasai
sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah
tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir
[Qs. Al Baqarah : 264].
Demikian pula betapa ganjilnya seseorang yang
disatu sisi is mengaku dekat dengan Allah, namun di sisi
lain is mengunci pintu hatinya untuk orang lain,
lantaran kekerasan hatinya, sehingga tidak ada
peluang untuk memberi maaf pada orang lain, padahal
Allah menggambarkan betapa terpujinya orang yang
suka pemaaf, seperti Firman Allah SWT.

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya),


7

Drs. Nasbun
baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang
yang

menahan

amarahnya

dan

mema'afkan

(kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang


berbuat kebajikan. (QS. Ali Imran : 134)
Yang pal ing aneh sebaliknya, ada manusia
yang mempunyai hubungan baik sekali dengan
lingkungan, hormat dengan orang tua, anak istri
dipelihara dengan baik, bertetanggapun baik, namun
sangat disayangkan hubungan dengan Allah tidak
dipelihara, shalat tertinggal, puasa lepas, nilai-nilai
agama tidak dipeliharanya dengan baik, bahkan
terkadang hal-hal yang dilarang Allah dilakukan.
Ini semua adalah akibat nafsu angkara murka yang
masih berkecamuk di dalam diri manusia.
Langkah langkah apa yang harus dipenuhi
untuk membangun jiwa keagamaan kita sebenarnya?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, sebaiknya kita
penuhi dahulu syarat membangun mental agama itu
sendiri, yaitu meraih kemerdekaan jiwa terlebih
dahulu dari penjajahan hawa nafsu, sebab selagi
kita masih terjajah hawa nafsu, apapun yang kita
bangun, toh akhirnya akan pupus di tengah jalan,

Khutbah Idul Fitri 1435 H


maka dari itu, kita bangun kemerdekaan jiwa terlebih
dahulu, agar suasana jiwa aman, tentram dan stabil,
sehingga di dalam perjalanan pembangunan jiwa
keagamaan kita tidak ada lagi rintangan yang berarti.
Untuk meraih kemerdekaan jiwa itu kits harus lalui
empat tahapan rukun Islam, yaitu :
1.

Dua Kalimah Syahadat.

Pengakuan iman kepada Allah inilah pintu


utama seseorang muslim untuk melangkah lebih jauh
ke depan. Iman dalam artian yang benar, sehingga tidak
ada keraguan kepada Allah ( agama ) dan tidak ada
kebesaran dunia ini yang mengambil bagian di dalam
jiwa si mukmin. Karena bilamana ada ragu dan
kemasukan nilai kebesaran duniawi dalam jiwa maka
disana iblis akan masuk memperalat nafsu untuk
meruntuhkan iman seseorang. Bila mana dasar
Islam

sudah

melangkah

mulai

dirusak,

selanjutnya

maka

tidak

untuk

menutup

kemungkinan jalan keimanan dan keislaman akan


putus, sebab justru keraguan dan kebesaran
duniawi inilah dua faktor yang dijadikan iblis
menjerumuskan manusia di dunia ini.

Drs. Nasbun
Untuk

itu

hapuslah

keraguan

dengan

keyakinan seutuhnya kepada Allah, dan tukar


kebesaran duniawi dengan tawakal penuh kepada-Nya
Kedua benteng inilah yang Allah Sinyalir dalam
firman-Nya :

Artinya

Sesungguhnya

syaitan

itu

tidak

ada

kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan


bertawakkal kepada Tuhannya. (QS. An Nahl : 99)
Selanjutnya dari keimanan akan diberikan
modal

jiwa

oleh

Allah

berupa: Kedamaian

(sakinah) seperti Firman Allah SWT :

10

Khutbah Idul Fitri 1435 H

4. Dia-lah yang Telah menurunkan ketenangan


ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan
mereka bertambah di samping keimanan mereka
(yang Telah ada) (QS. Al Fath : 4)
2. Shalat:
Shalat merupakan langkah kedua baik dalam
rukun Islam maupun dalam mempersiapkan diri
untuk meraih kemerdekaan jiwa itu sendiri. Shalat
yang dimaksud adalah shalat yang khusuk yang
mempunyai nilai adanya kesadaran hamba merasa
selalu ketemu dengan Allah, atau setidak-tidaknya
merasa

selalu

dipantau

Allah,

sehingga

timbul

kewaspadaan dalam kehidupan. Inilah yang dingini


Rasulullah SAW.
Dalam sabdanya :

11

Drs. Nasbun

Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau


berada,

dan

hendaknya

setelah

melakukan

kejelekan engkau melakukan kebaikan yang dapat


menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain
dengan akhlak yang baik (HR. Ahmad 21354,
Tirmidzi 1987, ia berkata: hadits ini hasan shahih)
Disamping itu pula, shalat tadi diharapkan
membentuk pribadi yang selalu sadar pada Allah
SWT. :

Sesungguhnya Aku Ini adalah Allah, tidak ada Tuhan


(yang hak) selain aku, Maka sembahlah Aku dan
Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.
Dari aspek shalat itu mendapat modal kedua

12

Khutbah Idul Fitri 1435 H


yaitu : Kesadaran akan hadirnya Allah dalam
kehidupan, sehingga membentuk pribadi yang
selalu waspada.
3. Zakat
Shalat dan zakat tidak dapat dipisahkan, karena
kedua

rukun

Islam

ini

selalu

bergandengan

dimanapun is berada. Artinya tidak relepan kalau


seseorang yang melakukan shalat tetapi hartanya
tertahan oleh sifat kekikiran ( pelit). Dengan kata
lain , shalat mebentuk sifat dermawan, apabila
tidak, maka akan merusak nilai shalat itu sendiri,
seperti apa yang Allah kemukakan :

Artinya : Tidakkah kamu lihat ( muhamnmad ) orang


yang mendustakan agama,

yaitu

orang

yang

membiarkan anak yatim dan tidak menghimbau


untuk Memberi makan para fakir miskin. Maka
celakalah orang yang shalat

13

Drs. Nasbun
Dalam ayat ini jelas kecelakaan orang yang
sholat di awali dengan ketidak peduliannya pada
anak yatim dan pakir miskin, dalam at, tentunya
harta mereka tertahan akibat sifat petit sehingga
tidak mengalir pada mereka. Oleh karena itu dari
zakat diharapkan si Mukmin memperoleh penngkat :
Dermawan,

suci

jiwa

dan

hartanya.

Sebagaimana Firman Allah :

Ambillah
dengan

zakat
zakat

dari
itu

sebagian

kamu

harta

mereka,

membersihkan

dan

mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka.


Sesungguhnya

doa

kamu

itu

(menjadi)

ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha


mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. At Taubah
: 103)
4.

P u a s a

14

Khutbah Idul Fitri 1435 H


Untuk masuk ke ibadah puasa yang akan
memperoleh predikat taqwa, seorang mukmin harus
memiliki hasil dari ketiga rentetan rukun Islam di atas
a) Keimanan, menghasilkan : Kedamaian
b) Shalat, menghasilkan : Kesadaran akan allah
c) Zakat, menghasilkan : Kedermawanan, kesucian
jiwa dan harta.
Kedamaian

tidak

membuat

seseorang

terombang-ambing, disini iblis tidak akan dapat


mempengaruhinya,

zikir

menutup

pintu

iblis

untuk menggoda seorang hamba Allah, kesucian


jiwa

dan

harts

membawa

kesuksesan

yang

cemerlang, seperti Firman Allah :

Artinya : Sungguh beruntung orang yang


mensucikan, jiwanya.
Puasa

yang

menghasilkan

ketaqwaan,

inilah orang yang mendapat kehormatan dan


kemuliaan dari Allah, sebagaimana firman-Nya :

15

Drs. Nasbun

Artinya : sesungguhnya orang yang paling


mulia diantara kamu adalah orang yang paling
taqwa diantaramu.
Peringkat kemulian yang datangnya dari
Allah tidak ada yang dapat menandingi, justru
kemuliaan inilah yang hakiki, yang dapat
menghantarkan

seorang

hamba

ke

pintu

gerbang surga, sebagaimana Firman Allah :

Dan

adapun

kebesaran

orang-orang

Tuhannya

dan

keinginan hawa nafsunya,

yang

takut

menahan

kepada

diri

dari

Maka Sesungguhnya

syurgalah tempat tinggal(nya). (An Naziat : 40-41)


Dari hasil puasa inilah kita dapat modal yang
besar untuk meraih kemerdekaan abadi, yaitu
16

Khutbah Idul Fitri 1435 H


Ketaqwaan. Derajat muttaqiin dapat membawa
ummat manusia kembali ke jalan fitrah-Nya.yaitu
keaslian manusia sesuai dengan tujuan pokok
pada

waktu

Allah

menjadikannya.

Dengan

ketaqwaan manusia baru dapat membebaskan


dirinya dari penjajahanhawa

nafsu,

dan

inilah senjata pemungkas untuk menaklukkan


musuh manusia yang bersamayam di dalam
dirinya.Dengan ketaqwaan bukan hanya kita
terhindar dari serangan hawa nafsu, namun Allah
menjanjikan hal di dalamnya, antara lain :
1. Menjadi

kekasih

Allah,

sebagaimana

dalam

firmannya :

Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah


17

Drs. Nasbun
itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka
dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu)
orang-orang yang beriman dan mereka selalu
bertakwa. (QS. Yunus 61-62)
2. Allah akan selalu memberi jalan keluar

dari

berbagai kesulitan, sebagaimana firmanNya:

barangsiapa

bertakwa

kepada

Allah

niscaya dia akan mengadakan baginya jalan


keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang
tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa
yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah
akan

mencukupkan

Sesungguhnya

Allah

(keperluan)nya.

melaksanakan

urusan

yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah


18

Khutbah Idul Fitri 1435 H


Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap
sesuatu.
3. Keberkahan

hidup

yang

turun

dari

langit

maupun yang keluar dari bumi :

Artinya

Kalau

sekiranya

penduduk

negeri itu beriman dan bertaqwa, Maka kami


akan bukakan bagi mereka keberkahan dari
Langit dan bumi.
Ketaqwaan inilah sebenarnya yang menjadi
cirri khas kembalinya manusia kealam fitrahnya.
Fitrah dalam arti sicu dalam asfek kehiodupan
dirinya, suci hatinya suci alam pikirannya, suci
anggota perbuatan lahirnya. Dari ketiga kesucia
itulah dapat kita lihat dalam pergaulan sehari-hari
sebagai implementasinya.
Kesucian Bathin ( Hati ) ;
Kesucian

bathin

diharapkan

hamba

yang

bersangkut selalu pasang niat yang ikhlas dalam

19

Drs. Nasbun
setiap amal perbuatannya, lapang dadanya, pemaaf
pada orang lain, jauh dari sifat dendam, hasad iri hati,
angkuh dan sombong, selalu melihat orang lain lebih
baik dari dirinya, selalu menerima nasehat orang lain.
Menghargai kebaikan orang lain sekecil apapun
adanya, tidak apriori terhadap orang lain, sifat
sifat inilah yang menggambarkan kesucian bathin
dan

justru

inilah

akhlak

yang

dimiliki

Nabi

Muhammad saw.
Suci Alam Pikiran ;
Suci akal membuat manusia tidak terlalu
sempit

dalam

berpikir,

segala sesuatu sebelum

dilakukan terlebih dahulu dicerna dalam akal pikiran


membawa manusia bersikap obyektif tidak subyektif,
mengakui kebenaran orang lain, bukan hanya
dirinya yang paling benar, kesucian pikiran tidak
membawa manusia terjerumus kedalam sifat sifat
tergesa gesa karena hal itu merupakan alat yang
ampuh untuk syaitan dalam menggoda manusia.
Kesucian Anggota Badan ;

20

Khutbah Idul Fitri 1435 H


Anggota badan yang suci meliputi : W a j a h,
yang

mencerminkan

sebagian diri manusia akan

nampak melalui mata, yaitu mata yang memandang


dengan kesejukan, bukan pandangan yang sinis, telinga
yang mau mendengarkan kebaikan, nasehat agama
kejalan yang benar, mulut yang mengeluarkan kata-kata
yang baik, bukan bergunjing, menfitnah orang lain,
kata-kata kosong, membohongi orang, lidah yang
tajam menyakiti orang yang mendengarnya, mulut
yang rakus tidak peduli halal atau haram.
Demikian juga T a n g a n yang suci adalah
tangan yang membawa

amal

yang

mulia

yang

membawa manfaat bagi dirinya dan dapat dinikmati


orang lain, tangan yang murah yang mau membantu
orang lain dalam kekeringan harta maupun jiwa,
tangan yang mampu membantu anak yatim piatu, pakir
miskin, disaat anak lain bergembira bersama ayah dan
ibunya serta sanak keluarganya, di lain pihak ada anakanak yang kesepian, memelas wajah, mengusap dada,
kerena ketiadaan pakaian baru layaknya anak-anak
yang lain, menelan liur, kerena ketiadaan makanan
yang lezat dan bergizi, masih banyak anak anak yang
miskin kasih sayang orang tua, kerena dari kecil
21

Drs. Nasbun
sudah terdesak mencari nafkah, akankah kita masih
sanggup berpoya-poya di atas penderitaan mereka,
dimana hati nurani kira yang konon katanya telah
melaksanakan ibadah puasa? Seandainya disaat
kondisi saudara-saudara kita yang papa itu berada di
tengah-tengah kita, ada tangan yang murah, alangkah
besarnya kehormatan dan kemuliaan yang Allah
berikan kepada mereka, Allah berfirman :
Artinya : Siapa yang memberi dan bertamu dan
membenarkan janji Allah ( Surga ) Maka Allah
mudahkan baginya jalan ke surga.
Kemudian Anggota kaki,

kaki yang suci

adalah langkah yang selalu menuju jalan yang


diridloi Allah, kaki yang selalu melengkah ke rumah
Allah untuk bersujud dan bertafakkur di dalam
rumah Allah, kaki yang dipermudah untuk mencari
dan mengunjungi majlis-majlis agama, kaki yang
berjalan menuju tempat tugas sehari-hari dengan
niat yang suci , berangkat kerja dengan disiplin
waktu, langkah yang pasti berangkat ke pasar demi
mencari karunia Allah dalam mencari nafkah anak
istri dengan penuh kejujuran.

22

Khutbah Idul Fitri 1435 H


Inilah kepribadian yang Allah lukiskan dalam al
Quran dengan Istilah " Rukkaan Sujjada " yaitu
orang yang selalu ruku dan sujud dalam arti patuh
dan bakti kepada Allah SWT.
Melalui ketiga factor kesucian tadi barulah
manusia dikatakan kembali kekesucian dan berhak
menikmati hari raya "idul fitri karena ia telah
kembali kepada F I T R A H N Y A

23

Drs. Nasbun

24