Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN KASUS BEDAH UROLOGI

Benign Prostatic Hyperplasia dengan Vesicolithiasis

Pembimbing:
Dr. Isdiyanto, Sp.U

Disusun Oleh :
KARTIKA HERMAWAN
03010149

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


RUMAH SAKIT ANGKATAN LAUT DR. MINTOHARJO
PERIODE 2 JUNI 16 AGUSTUS 2014
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
2014

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KASUS BEDAH UROLOGI

BENIGN PROSTATE HYPERPLASIA DENGAN VESICOLITHIASIS

Diajukan untuk memenuhi syarat kepaniteraan klinik Ilmu Bedah


periode 2 Juni 16 Agustus 2014
di Rumah Sakit Angkatan Laut Dr. Mintoharjo

Disusun oleh:
Kartika Hermawan
030.10.149
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Jakarta, 4 Agustus 2014


Pembimbing

dr. Isdiyanto, Sp.U


DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN.......................................................................................2
DAFTAR ISI..............................................................................................................3
BAB I

PENDAHULUAN.....................................................................................4

BAB II

LAPORAN KASUS
2.1 Identitas Pasien....................................................................................5
2.2 Anamnesis............................................................................................5
2.3 Pemeriksaan Fisik................................................................................7
2.4 Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium......................................................................................9
USG Abdomen....................................................................................10
2.5 Diagnosis.............................................................................................11
2.6 Penatalaksanaan...................................................................................11
2.7 Follow-Up............................................................................................12

BAB III TINJAUAN PUSTAKA


3.1 Hematuria............................................................................................15
3.2 Anatomi Kelenjar Prostat.....................................................................16
3.3 Benign Prostate Hyperplasia...............................................................18
3.4 Batu Buli-Buli......................................................................................30
BAB IV PEMBAHASAN..........................................................................................31
BAB V KESIMPULAN.............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................

BAB I
3

PENDAHULUAN
Seorang pria berusia 75 tahun datang ke UGD RSAL dr. Mintoharjo dengan keluhan
buang air kecil berwarna merah yang disertai sakit saat sedang berkemih. Setelah dilakukan
anamnesis lebih lanjut didapatkan pasien juga mengalami lower urinary tract symptoms serta
mengkonsumsi obat aspilet. Pada pemeriksaan fisik, pasien memiliki hipertensi grade 2
menurut JNC 7, dan ditemukan prostat yang membesar pada pemeriksaan rectal toucher.
Setelah dilakukan pemeriksaan penunjang yaitu USG, terlihat adanya perbesaran ukuran
prostat dan batu pada buli-buli pasien.
Diagnosis pasien berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang adalah BPH, vesicolithiasis, dan hipertensi grade 2.
Karena memenuhi indikasi operasi maka tatalaksana pada pasien ini adalah dengan
melakukan transurethral resection of the prostate (TURP) untuk mengurangi massa prostat
dan open vesicolithotomy untuk mengevakuasi batu pada buli-buli pasien.
Dari hasil follow-up post operasi, hal yang signifikan adalah terjadinya prolonged
hematuria. Namun, komplikasi tersebut akhirnya dapat teratasi dengan baik.

BAB II

LAPORAN KASUS
2.1 IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. M
Umur : 75 tahun
Alamat : Komp. AL Cakrawala II G/4 RT04/07. Jakarta
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status perkawinan : Kawin
Pekerjaan : Purnawirawan TNI-AL
Agama : Islam
Tanggal masuk UGD : 6 Juni 2014 pukul 00.45

2.2 ANAMNESIS
Dilakukan secara autoanamnesis dan alloanamnesis dengan istri pasien pada hari Rabu
tanggal 11 Juni 2014 jam 06.10
Keluhan Utama
Buang air kecil berwarna merah sejak satu minggu sebelum masuk rumah sakit.
Keluhan Tambahan
Sakit saat buang air kecil.
Riwayat Penyakit Sekarang
Seminggu yang lalu, pasien mengeluh buang air kecil berwarna merah. Pasien ke apotek dan
diberi obat Enatin. Setelah minum obat tersebut, keluhan membaik dan urin berwarna
kekuningan. Seminggu kemudian, pasien kembali menemukan urinnya berwarna merah
selama berkemih dan mengeluh nyeri ketika berkemih. Sudah beberapa tahun pasien sering
terbangun 3-4 kali pada malam hari untuk berkemih, pancaran urin lemah, sering sulit

memulai miksi, dan urin keluar sedikit-sedikit. Apabila didiamkan, pasien mengaku melihat
endapan berwarna kecoklatan pada urinnya.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien pernah mengalami serangan jantung pada tahun 2003 dan stroke pada tahun 2012
Riwayat Kebiasaan
Pasien mengaku kurang minum (<1,5 liter sehari) karena sering tersedak setelah mengalami
stroke. Pasien tidak banyak beraktivitas, lebih sering duduk-duduk santai. Pasien tidak
merokok dan minum-minuman beralkohol.
Riwayat Pengobatan
Saat ini pasien mengkonsumsi obat Valsartan, Sohobion, Fluoxetine, Gabapentin, dan Aspilet.

2.3 PEMERIKSAAN FISIK


Dilakukan pada hari Rabu tanggal 11 Juni 2014 jam 06.20.

Keadaan Umum

Kesan sakit : tampak sakit sedang


Kesadaran : compos mentis
Kesan gizi : tampak gizi baik

Tanda vital

Tekanan darah : 160/90 mmHg


Nadi : 76 kali/menit
Suhu : 35.8oC
Respirasi : 16 kali/menit

Status Generalisata
Kepala
Ukuran : Normocephali.
Mata : Konjungtiva palpebra tidak anemis. Sclera tidak ikterik. Reflex pupil langsung
+/+, tidak langsung +/+.
Mulut : Sudut mulut kiri agak tertinggal.
Leher
Kelenjar Getah bening : Tidak teraba pembesaran.
Kelenjar Tiroid : Tidak teraba pembesaran.
Thorax
Inspeksi : Bentuk thorax normal, simetris kanan dan kiri. Tidak tampak adanya pulsasi
abnormal.
Palpasi : Pergerakan napas kiri dan kanan simetris. Vocal fremitus simetris kanan dan
kiri, dada dan punggung. Ictus cordis setinggi ICS 5, di linea midclavicularis kiri.
Perkusi : Kedua lapang paru didapatkan suara sonor.
Auskultasi :
- Paru : Terdengar suara nafas vesikular. Tidak terdengar suara nafas tambahan
seperti ronkhi basah, wheezing, krepitasi.
- Jantung : Irama jantung teratur, dengan frekuensi 84x/menit, BJ I dan II
normal dengan intensitas BJ I lebih kuat di katup mitral dan trikuspid, dan
intensitas BJ II lebih kuat di katup aorta dan pulmonal. Tidak terdengar adanya
bunyi jantung tambahan seperti BJ III, BJ IV. Tidak terdengar adanya murmur.
Abdomen
Inspeksi : Bentuk abdomen buncit, tidak ada sagging of the flanks.
Auskultasi : Bising usus 3 kali/menit
Perkusi : Pada keempat kuadran abdomen didapatkan suara timpani.

Palpasi : Dinding abdomen supel, tidak teraba massa, tidak ada defense musculair, dan
turgor kulit baik. Tidak terdapat nyeri tekan dan nyeri lepas.
Ekstremitas
Inspeksi : Bentuk normal, simetris, dan tidak ada deformitas.
Palpasi : Keempat ekstremitas hangat dalam perabaan. Tidak ada edema. Tonus otot
baik.
Status Lokalis

Ginjal : Ballootement (-)/(-). Nyeri ketuk CVA (-)/(-).


Vesica Urinaria : Regio suprapubik tampak membuncit. Nyeri tekan (+).
Rectal Toucher : Tonus sfingter ani tidak dapat dinilai (pasien di bawah spinal
analgesia). Ampula recti tidak kolaps, mukosa rectum licin, tidak teraba massa. Pada
perabaan, prostat membesar, permukaan reguler, konsistensi kenyal, tidak teraba
nodul. Pada handschoen terdapat tinja, tidak ada darah.

2.4. PEMERIKSAAN PENUNJANG


2.4.1 Laboratorium
Jenis Pemeriksaan
HEMATOLOGI
Darah Rutin
Lekosit
Eritrosit
Hemoglobin
Hematokrit
Trombosit
KIMIA KLINIK
Glukosa Darah
Gula Darah Sewaktu
HEMOSTASIS
Masa Perdarahan/BT
Masa Pembekuan/CT

Hasil
4/8/2014

Satuan

15.300
5,71
15,5
43
306.000

uL
juta/uL
g/dL
%
ribu/uL

182

mg/dL

230
11

menit
menit

2.4.2 USG Abdomen


Hati

Ukuran normal, tepi rata tajam, normoekhoik homogen, batas vena


jelas, V. porta baik, tidak tampak ascites, tidak tampak nodul-nodul.

Kandung empedu Ukuran normal, dinding tidak menebal, tidak tampat batu/sludge.
Limpa

Ukuran normal, normoekhoik homogen, V. lienalis tidak melebar,


tidak tampak ascites.

Pankreas

Ukuran normal, normoekhoik homogen, tidak tampat kalsifikasi.

Ginjal

Ukuran kedua ginjal normal, echo kortex dan medulla berimbang,


tidak tampak batu/pelebaran pelviokalises.

Buli

Besar dan bentuk baik, tampak batu.

Prostat

Ukuran 3,81 x 3,75 x 4,05 cm, struktur homogen. Tampak


mengindentasi buli dengan permukaan yang regular.

Kesan

VESICOLITHIASIS dan BPH

2.5 DIAGNOSIS
Dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, maka dapat ditegakkan
diagnosis pada pasien ini adalah:

Benign prostatic hyperplasia


Vesicolithiasis
Hipertesi Grade 2

2.6 PENATALAKSANAAN
Pre-operasi

Ceftriaxone 2x1 gram IV


Ketorolac 3x1 ampul IM

Operasi
Operasi dilakukan pada hari Rabu tanggal 11 Juni 2014 pukul 07.00.
Laporan Operasi :

Pasien tidur terlentang dengan posisi litotomi di bawah spinal anestesi.


Dilakukan tindakan asepsis dan antisepsis di lapangan operasi.
Vesica urinaria: trabekulasi berat, sakula (+), divertikel (-), batu buli diameter 25mm.

10

Dilakukan TURP secara sistematis.


Pada saat dilakukan litotripsi, terjadi laserasi buli.
Kemudian dilakukan open vesicolithotomy.
Insisi kutis, subkutis lapis demi lapis.
Evakuasi batu dan chip prostat.
Perdarahan dirawat.
Luka operasi ditutup lapis demi lapis.
Dipasang drain di cavum Retzii.
Operasi selesai.

2.7 FOLLOW-UP
Kamis, 12 Juni 2014
S: Sakit bekas luka operasi
O: Urin kemerahan, TD 140/90, S/N 36.2/72
A: 1 hari post-op TURP dan vesikolitotomi
P: - Injeksi Ceftriaxone 2x1 ampul, Ranitidin 2x1 ampul, Kalnex 3x1 ampul, Ketorolac 3x1
ampul
- Infus RL 20 tpm
- Transfusi PRC 2 kolf
- Mobilisasi bertahap
- Spool sampai jernih
Jumat, 13 Juni 2014

11

S: Sakit bekas luka operasi


O: Urin kemerahan, TD 140/90, S/N 36/76
A: 2 hari post-op TURP dan vesikolitotomi
P: - Injeksi Ceftriaxone 2x1 ampul, Ranitidin 2x1 ampul, Kalnex 3x1 ampul, Ketorolac 3x1
ampul
- Infus RL 20 tpm
- Ganti verbandt
Senin, 16 Juni 2014
S: Sakit bekas luka operasi
O: Urin kuning bening, TD 140/90, S/N 36.4/80
A: 5 hari post-op TURP dan vesikolitotomi
P: - Injeksi Ceftriaxone 2x1 ampul, Ranitidin 2x1 ampul, Kalnex 3x1 ampul, Ketorolac 3x1
ampul
- Infus RL 20 tpm
Selasa 17 Juni 2014
S: Sakit bekas luka operasi
O: Urin kuning bening, TD 150/90, S/N 36.1/76
A: 6 hari post-op TURP dan vesikolitotomi
P: - Aff Infus
- Aff Spooling
- Aff Drain
- Ciprofloxacin oral 2x500mg, Asam Mefenamat oral 3x500mg
Rabu, 18 Juni 2014
S: Sakit bekas luka operasi
O: Urin kemerahan, TD 140/90, S/N 37/88
A: 7 hari post-op TURP dan vesikolitotomi
P: - Injeksi Kalnex 3x1ampul, Vitamin K 3x1ampul
- Ciprofloxacin oral 2x500mg, Asam Mefenamat oral 3x500mg

12

- Spool sampai jernih


Kamis, 19 Juni 2014
S: Sakit bekas luka operasi
O: Urin kemerahan, TD 135/90, S/N 36/80
A: 8 hari post-op TURP dan vesikolitotomi
P: Ciprofloxacin oral 2x500mg, Asam Mefenamat oral 3x500mg
Jumat, 20 Juni 2014
S: Sakit bekas luka operasi
O: Urin kuning bening, TD 135/85, S/N 36/84
A: 9 hari post-op TURP dan vesikolitotomi
P: - Ciprofloxacin oral 2x500mg, Asam Mefenamat oral 3x500mg
- Aff Spooling
Sabtu, 21 Juni 2014
S: Sakit bekas luka operasi
O: Urin kuning bening, TD 140/90, S/N 36.3/84
A: 10 hari post-op TURP dan vesikolitotomi
P: - Ciprofloxacin oral 2x500mg, Asam Mefenamat oral 3x500mg
- Aff Catheter
- Lepas jahitan
Senin, 23 Juni 2014
S: Sakit di ujung penis dan di pangkal penis. Pada saat akhir miksi menetes darah.
O: TD 140/90, S/N 36,6/84
A: 12 hari post-op TURP dan vesikolitotomi
P: Ciprofloxacin oral 2x500mg, Asam Mefenamat oral 3x500mg
Selasa, 24 Juni 2014
S: Sakit di ujung penis dan di pangkal penis. Pada saat akhir miksi menetes darah.
O: TD 135/85, S/N 36,2/80

13

A: 13 hari post-op TURP dan vesikolitotomi


P: Pasien dipulangkan

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 HEMATURIA(1,2,3)
Hematuria adalah keberadaan darah di dalam urin; lebih dari 3 sel darah merah per
lapang pandang kuat dianggap bermakna.
Hematuria dapat disebabkan oleh berbagai kelainan yang berasal di dalam maupun di
luar sistem urogenitalia. Kelainan di luar sistem urogenitalia antara lain adalah kelainan
pembekuan darah, SLE, dan kelainan hematologik lain.
Kelainan yang berasal dari sistem urogenitalia antara lain adalah:

Infeksi/inflamasi (pielonefritis, glomerulonefritis, ureteritis, sistitis, dan

uretiritis)
Tumor jinak atau tumor ganas (tumor Wilm, tumor Grawitz, tumor pielum,

tumor ureter, tumor buli-buli, tumor prostat, dan BPH)


Kelainan bawaan (kista ginjal, ren mobilis)
Trauma yang mencederai sistem urogenitalia
Batu saluran kemih

14

Setiap derajat hematuria pada orang dewasa sebaiknya dianggap sebagai gejala
keganasan urologis hingga dibuktikan tidak ada. Penyebab tersering dari hematuria
makroskopis pada pasien yang berusia lebih dari 50 tahun adalah kanker buli-buli.
Dalam evaluasi hematuria, beberapa faktor perlu dikaji, antara lain:

Hematuria makroskopis versus mikroskopis


Kemungkinan mengidentifikasi kelainan patologis yang terjadi meningkat seiring
dengan meningkatnya derajat hematuria.
Waktu terjadinya hematuria
Pada saat berkemih, waktu terjadinya hematuria seringkali menunjukan tempat
asalnya. Hematuria pada saat awal berkemih biasanya berasal dari uretra dan
disebabkan oleh proses inflamasi; hematuria sepanjang berkemih paling sering
terjadi dan menunjukan perdarahan paling mungkin berasal dari buli-buli atau
saluran kemih bagian atas. Hematuria pada saat akhir berkemih biasanya terjadi
pada proses inflamasi pada daerah leher buli-buli atau uretra pars prostatika, hal
ini terjadi karena pada saat akhir miksi leher buli-buli berkontraksi untuk

mengeluarkan sisa urin.


Ada tidaknya rasa sakit
Hematuria biasanya tidak disertai rasa sakit kecuali apabila didasari proses
inflamasi atau obstruksi. Contohnya adalah proses patologis yang terjadi di
saluran kemih bagian atas dengan obstruksi ureter oleh bekuan darah.
Pengeluaran dari bekuan darah ini sering diasosiasikan dengan sakit pinggang

yang bersifat kolik.


Keberadaan dan bentuk dari bekuan darah
Adanya bekuan darah biasanya menunjukan derajat hematuria yang lebih
signifikan, sehingga kemungkinan menentukan proses patologis yang terjadi
semakin meningkat. Apabila bekuan darah berbentuk amorf, biasanya berasal dari
buli-buli atau uretra pars prostatika. Apabila bekuan darah berbentuk vermiformis
dan disertai sakit pinggang, makanya kemungkinan hematuria berasal dari saluran
kemih bagian atas dengan pembentukan wujud vermiformis terjadi di ureter.

Pasien dengan hematuria makroskopis dianjurkan melakukan pemeriksaan cystocopy


sesegera mungkin, agar sumber perdarahan dapat segera diidentifikasi apakah berasal dari
uretra, buli-buli, atau saluran kemih bagian atas.
3.2 ANATOMI KELENJAR PROSTAT

15

Prostat adalah organ genitalia pria yang terletak di sebelah inferior buli-buli, di depan
rektum, dan membungkus uretra posterior. Bentuknya seperti buah kemiri dengan ukuran
4x3x2,5cm dan beratnya kurang lebih 20gram.

Kelenjar ini terdiri atas jaringan fibromuskular dan glandular yang terbagi dalam
beberapa zona, yaitu zona perifer, zona sentral, zona transisional, zona preprostatik sfingter,
dan zona anterior (McNeal, 1970). Secara histopatologik, kelenjar prostat terdiri atas
komponen kelenjar dan stroma. Komponen stroma terdiri atas otot polos, fibroblas, pembuluh
darah, saraf, dan jaringan penyangga yang lain.

16

Prostat mengasilkan suatu cairan yang merupakan salah satu komponen dari cairan
semen atau ejakulat. Cairan ini dialirkan melalui duktus sekretorius dan bermuara di uretra
posterior untuk kemudian dikeluarkan bersama cairan semen yang lain pada saat ejakulasi.
Volume cairan prostat merupakan 25% dari seluruh volume ejakulat.
Prostat mendapatkan inervasi otonomik simpatetik dan parasimpatetik dari pleksus
prostatikus atau pleksus pelvikus yang menerima masukan serabut parasimpatetik dari korda
spinalis S2-4 dan simpatetik dari nervus hipogastrikus (T10-L2). Rangsangan parasimpatetik
meningkatkan sekresi kelenjar dan epitel prostat, sedangkan rangsangan simpatetik
menyebabkan pengeluaran cairan prostat ke dalam uretra posterior, seperti pada saat
ejakulasi. Sistem simpatetik memberikan inervasi pada otot polos prostat, kapsula prostat,
dan leher buli-buli. Di tempat itu banyak terdapat reseptor adrenergik-. Rangsangan
simpatetik menyebabkan dipertahankan tonus otot polos tersebut.
3.3 BENIGN PROSTATE HYPERPLASIA(1,2,3)
Pertumbuhan kelenjar prostat sangat tergantung pada hormon testosteron, yang di
dalam sel kelenjar prostat, hormon ini akan dirubah menjadi metabolit aktif
dihidrotestosteron (DHT) dengan bantuan enzim 5-reduktase. Dihidrotestosteron inilah yang
17

secara langsung memacu m-RNA di dalam sel kelenjar prostat untuk mensistesis protein
growth factor yang memacu pertumbuhan dan proliferasi sel kelenjar prostat.
Pada usia lanjut, beberapa pria mengalami BPH. Keadaan ini dialami oleh 50% pria
yang berusia 60 tahun dan 80% pria yang berusia 80 tahun. Pembesaran kelenjar prostat
mengakibatkan terganggunya aliran urin sehingga menimbulkan gangguan miksi.
ETIOLOGI
Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya BPH.
Beberapa hipotesis yang diduga menjadi penyebab antara lain:

Teori dihidrotestosteron
DHT adalah metabolit androgen yang sangat penting pada pertumbuhan sel kelenjar
prostat. DHT dihasilkan dari reaksi perubahan testosteron di dalam sel prostat oleh
enzim 5-reduktase dengan bantuan koenzim NADPH. DHT yang telah terbentuk
berikatan dengan reseptor androgen (RA) membentuk kompleks DHT-RA pada inti
sel dan selanjutnya terjadi sintesis protein growth factor yang menstimulasi
pertumbuhan sel prostat.
Pada berbagai penelitian dikatakan bahwa kadar DHT pada BPH tidak jauh berbeda
dengan prostat normal, hanya saja pada BPH aktivitas enzim 5-reduktase dan jumlah
reseptor androgen lebih banyak. Hal ini menyebabkan sel prostat pada BPH lebih
sensitif terhadap DHT sehingga replikasi sel ini lebih banyak terjadi dibandingkan
dengan prostat normal.

Ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron

18

Pada usia yang semakin tua, kadar testosteron menurun, sedangkan kadar estrogen
relatif tetap sehingga perbandingan antara estrogen dan testosteron relatif meningkat.
Estrogen di dalam prostat berperan dalam terjadinya proliferasi sel-sel kelenjar prostat
dengan cara meningkatkan sensitivitas sel-sel prostat terhadap rangsangan hormon
androgen, meningkatkan jumlah reseptor androgen, dan menurunkan jumlah
apoptosis. Hasil akhir dari semua keadaan ini adalah, meskipun rangsangan
terbentuknya sel-sel baru akibat rangsangan testosteron menurun, tetapi sel-sel prostat
yang telah ada mempunyai umur yang lebih panjang sehingga massa prostat jadi lebih
besar.

Interaksi stroma-epitel
Setelah sel-sel stroma mendapatkan stimulasi dari DHT dan estradiol, sel-sel stroma
mensintesis suatu growth factor yang selanjutnya mempengaruhi sel-sel stroma itu
sendiri secara intrakrin dan autokrin, serta mempengaruhi sel-sel epitel secara

parakrin.
Berkurangnya kematian sel prostat
Pada jaringan normal, terdapat keseimbangan antara laju proliferasi sel dengan
kematian sel. Pada saat terjadi pertumbuhan prostat sampai pada prostat dewasa,
penambahan jumlah sel prostat baru dengan yang mati dalam keadaan seimbang.
Berkurangnya jumlah sel prostat yang mengalami apoptosis menyebabkan
penambahan massa prostat. Diduga hormon androgen berperan dalam menghambat
proses kematian sel karena setelah dilakukan kastrasi, terjadi peningkatan apoptosis
sel kelenjar prostat. Estrogen diduga mampu memperpanjang usia sel prostat,

sedangkan growth factor TGF- berperan dalam proses apoptosis.


Teori sel stem
Di dalam kelenjar prostat dikenal suatu sel stem, yaitu sel yang mempunyai
kemampuan berproliferasi sangat ekstensif. Kehidupan sel ini sangat tergantung pada
keberadaan hormon androgen. Terjadinya proliferasi sel pada BPH dipostulasikan
19

sebagai ketidaktepatnya aktivitas sel stem sehingga terjadi produksi yang berlebihan
sel stroma maupun epitel.

PATOFISIOLOGI
Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra pars prostatika dan
menghambat aliran urin. Keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan intravesikal. Untuk
dapat mengeluarkan urin, buli-buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan itu
Kontraksi yang terus menerus ini menyebabkan perubahan anatomik buli-buli berupa
hipertrofi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sakula, dan divertikel buli-buli.
Perubahan struktur tersebut dirasakan oleh pasien sebagai lower urinary tract symptoms
(LUTS) yang dahulu dikenal sebagai gejala prostatismus.
Tekanan intravesikal yang tinggi diteriskan ke seluruh bagian buli-buli tidak terkecuali
pada kedua muara ureter. Tekanan ini dapat menimbulkan aliran balik urin dari buli-buli ke
ureter (refluks vesikoureter). Keadaan ini jika berlangsung terus akan mengakibatkan
hidroureter, hidronefrosis, bahkan gagal ginjal.
Obstruksi yang diakibatkan BPH juga disebabkan oleh tonus otot polos pada stroma
prostat, kapsul prostat, dan leher buli-buli. Otot polos itu dipersarafi oleh serabut simpatis
yang berasal dari nervus pudendus.
Pada BPH terjadi peningkatan rasio komponen stroma terhadap epitel, dari 2:1 menjadi
4:1, yang menyebabkan peningkatan tonus otot polos prostat. Dalam hal ini massa prostat
yang menyebabkan obstruksi komponen statik sedangkan tonus otot polos yang merupakan
komponen dinamik sebagai penyebab obstruksi prostat.
Pembesaran prostat seringkali menyebabkan dilatasi vena pada leher buli-buli. Apabila
pasien mengejan saat berkemih, vena tersebut dapat ruptur dan menyebabkan hematuria, baik
mikroskopis atau makroskopis.
GAMBARAN KLINIS

20

Gejala pada saluran kemih bagian bawah


Keluhan pada saluran kemih bagian bawah (LUTS) meliputi gejala voiding, storage dan
pasca miksi. Untuk menilai keparahan dari LUTS, terdapat sistem skoring yang secara
subjektif dapat diisi dan dihitung sendiri oleh pasien. Sistem skoring yang dianjurkan WHO
adalah IPSS (International Prostatic Symptoms Score). IPSS terdiri atas 7 pertanyaan yang
berhubungan dengan LUTS dan 1 pertanyaan tentang kualitas hidup pasien. Setiap
pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan miksi diberi nilai 0-5, sedangkan pertanyaan
tentang kualitas hidup diberi nilai 1-7. Dari skor IPSS dapat dikelompokkan LUTS dalam 3
derajat yaitu (1) ringan: skor 0-7, (2) sedang: skor 8-19, dan (3) berat: skor 20-35.
Timbulnya gejala LUTS merupakan manifestasi kompensasi otot detrusor untuk
mengeluarkan urin Pada suatu saat otot detrusor akan mengalami dekompensasi yang
diwujudkan dalam bentuk retensi urin akut. Timbulnya dekompensasi biasanya didahului
oleh beberapa faktor pencetus, antara lain: (1) volume buli tiba-tiba terisi penuh (cuaca
dingin, menahan kencing terlalu lama, konsumsi obat/minuman yang mengandung diuretik,
minum air dalam jumlah berlebihan), (2) massa prostat tiba-tiba membesar (setelah
melakukan aktivitas seksual, mengalami infeksi prostat akut), dan (3) setelah konsumsi obat
yang dapat menurunkan kontraksi otot detrusor atau yang dapat mempersempit leher buli-buli
(golongan antikolinergik atau alfa adrenergik).
Gejala pada saluran kemih bagian atas
Keluhan akibat penyulit BPH pada saluran kemih bagian atas berupa gejala obstruksi,
antara lain nyeri pinggang, benjolan di pinggang (tanda hidronefrosis), atau demam yang
merupakan tanda infeksi atau urosepsis.
Gejala di luar saluran kemih
Tidak jarang pasien berobat ke dokter karena mengeluh adanya hernia inguinalis atau
hemoroid. Timbulnya kedua penyakit ini karena sering mengejan pada saat miksi sehingga
mengakibatkan peningkatan tekanan intraabdominal.
Pada pemeriksaan fisik mungkin didapatkan buli-buli yang terisi penuh dan teraba
massa kistik di daerah supra simfisis akibat retensi urin. Kadang-kadang didapatkan urin
yang selalu menetes tanpa disadari oleh pasien, yaitu merupakan tanda dari inkontinensia
paradoksa. Pada colok dubur diperhatikan: (1) tonus sfingter ani/refleks bulbokavenosus

21

untuk menyingkirkan adanya buli-buli neurogenik, (2) mukosa rektum, dan (3) keadaan
prostat, antara lain adanya nodul, krepitasi, konsistensi prostat, simetri antar lobus dan batas
prostat. Pada BPH, colok dubur menunjukkan konsistensi kenyal, lobus kanan dan kiri
simetris, tidak didapatkan nodul.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Sedimen urin diperiksa untuk mencari kemungkinan adanya infeksi saluran kemih.
Pemeriksaan kultur urin berguna dalam mencari jenis kuman yang menyebabkan infeksi dan
sekaligus menentukan sensitifitas kuman terhadap beberapa antimikroba yang diujikan.
Faal ginjal diperiksa untuk mencari kemungkinan adanya penyulit yang mengenai
saluran kemih bagian atas. Gula darah dimaksudkan untuk mencari penyakit diabetes mellitus
yang dapat menimbulkan buli-buli neurogenik. Jika dicurigai adanya keganasan perlu
diperiksa tumor marker prostate specific antigen (PSA).
PENCITRAAN
Foto polos perut berguna untuk mencari adanya batu opak di saluran kemih,
batu/kalkulosa prostat, dan kadangkala dapat menunjukan bayangan buli-buli penuh terisi
urin (retensi urin). Pemeriksaan IVU dapat menerangkan kemungkinan adanya kelainan di
ginjal maupun ureter (hidronefrosis, hidroureter), memperkirakan besarnya kelenjar prostat
yang ditunjukan oleh adanya indentasi prostat, dan penyulit yang terjadi pada buli-buli
(trabekulasi, divertikel, sakulasi). Pemeriksaan IVU ini sekarang tidak direkomendasikan
pada BPH.
Pemeriksaan USG dapat dilakukan melalui transabdominal (TAUS) dan transrektal
(TRUS). Dari TAUS diharapkan mendapat informasi mengenai perkiraan volume prostat,
intraprostatic protrusion, kelainan buli-buli (massa, batu, bekuan darah), menghitung residu
urin pasca miksi, atau hidronefrosis. Pada TRUS dicari kemungkinan adanya fokus
keganasan prostat berupa area hipoekoik dan kemudian sebagai penunjuk dalam melakukan
biopsi prostat.
PEMERIKSAAN LAIN

22

Pemeriksaan derajat obstruksi prostat dapat diperkirakan dengan cara mengukur: (1)
residual urin dengan cara melakukan kateterisasi setelah miksi, USG atau bladder scan
setelah miksi; (2) flow rate yang dapat dihitung dengan membagi jumlah urin dengan
lamanya miksi berlangsung (ml/detik), dengan alat uroflometri, dan pemeriksaan
urodinamika yang dapat sekaligus menilai tekanan otot detrusor maupun komponen otot lain
yang berperan dalam proses miksi.

PENATALAKSANAAN
Algoritma evaluasi LUTS pada pasien > 40 tahun menurut guidelines dari European
Association of Urology tahun 20144 :

23

Algoritma penanatalaksanaan LUTS dengan medikamentosa/terapi konservatif menurut


guidelines dari European Association of Urology tahun 20144:

Watchful waiting
Pasien hanya dberi penjelasan mengenai sesuatu hal yang mungkin dapat memperburuk
keluhannya, misalnya jangen mengkonsumsi kopi/alkohol setelah makan malam, kurangi
konsumsi makanan/minuman yang mengiritasi buli-buli (kopi/cokelat), batasi penggunaan

24

obat influenza yang mengandung fenilpropanolamin, kurangi makanan pedas dan asin, dan
jangan menahan kencing terlalu lama. Secara periodik pasien diminta untuk datang kontrol
dengan ditanya keluhannya yang mungkin menjadi lebih baik (sebaiknya menggunakan skor
baku), di samping itu dilakukan pemeriksaan laboratorium, residu urin, atau uroflometri. Jika
keluhan miksi bertambah jelek daripada sebelumnya, mungkin perlu dipikirkan untuk
memilih terapi yang lain.

Medikamentosa
Tujuan terapi medikamentosa adalah berusaha untuk: (1) mengurangi resistensi otot
polos prostat sebagai komponen dinamik penyebab obstruksi infravesika dengan obat-obatan
penghambat adrenergik , dan (2) mengurangi volume prostat sebagai komponen statik
dengan cara menurunkan kadar hormon testosteron/DHT melalui penghambat 5-reduktase.
Selain kedua cara di atas, sekarang masih banyak dipakai obat golongan fitofarmaka yang
mekanisme kerjanya masih belum jelas.
Algoritma penatalaksanaan LUTS yang refrakter terhadap terapi konservatif atau pada kasuskasus dengan indikasi operasi absolut menurut guidelines dari European Association of
Urology tahun 2014. Skema ini diatur berdasarkan kemampuan pasien untuk mendapatkan
anestesia, risiko kardiovaskular, dan besar prostat.4:

25

Operasi
Pembedahan direkomendasikan pada pasien BPH yang: (1) tidak menunjukan
perbaikan setelah terapi medikamentosa, (2) mengalami retensi urin, (3) infeksi saluran
kemih berulang, (4) hematuria, (5) gagal ginjal, (6) dan timbulnya batu saluran kemih atau
penyulit lain akibat obstruksi saluran kemih bagian bawah.

Pembedahan terbuka
Beberapa macam teknik operasi prostatektomi terbuka adalah metode dari Millin,
yaitu melakukan enukleasi kelenjar prostat melalui pendekatan retropubik
infravesika., Freyer melalui pendekatan suprapubik transvesika, atau transperineal.
Prostatektomi terbuka dianjurkan untuk prostat yang sangat besar (>100 gram),
keberadaan divertikel buli-buli yang akan dilakukan divertikulektomi, batu buli-buli
besar yang tidak dapat dilakukan fragmentasi transuretra dengan mudah, memiliki
kondisi ortopedik yang mencegah posisi yang layak untuk TURP, pasien dengan
kondisi uretra tertentu (striktur uretra, riwayat koreksi hipospadia), dan keberadaan

26

hernia inguinalis yang disebabkan BPH. Kontraindikasi dari pembedahan terbuka


adalah small fibrous gland, keberadaan kanker prostat, dan riwayat prostatektomi atau
pembedahan di daerah pelvis yang mungkin menutup akses ke kelenjar prostat.
Penyulit yang dapat terjadi setelah prostatektomi terbuka adalah inkontinensia urin
(3%), impotensia (5-10%), ejakulasi retrograd (60-80%), dan kontraktur leher bulibuli (3-5%). Dibandingkan dengan TURP dan BNI, penyulit yang terjadi berupa
striktura uretra dan ejakulasi retrograd lebih banyak dijumpai pada prostatektomi
terbuka. Perbaikan gejala klinis sebanyak 85-100% dan angka mortalitas sebanyak

2%.
Pembedahan endourologi
- TURP (Transurethral resection of the prostate)
Reseksi kelenjar prostat dilakukan transuretra dengan mempergunakan cairan
irigan agar daerah yang akan direseksi tetap terang dan tidak tertutup oleh
darah. Cairan yang dipergunakan adalah berupa larutan non-ionik agar tidak
terjadi hantaran listrik pada saat operasi. Cairan yang sering dipakai adalah
H2O steril (aquades).
Salah satu kerugian aquades adalah sifatnya yang hipotonik sehingga cairan
ini dapat masuk ke sirkulasi sistemik melalui pembuluh darah vena yang
terbuka pada saat reseksi. Kelebihan H2O dapat menyebabkan terjadinya
hiponatremia relatif atau gejala intoksikasi air atau dikenal dengan nama
sindroma TURP. Sindroma ini ditandai dengan pasien yang mulai gelisah,
somnolen, tekanan darah meningkat, dan bradikardi. Jika tidak segera diatasi,
pasien akan mengalami edema otak yang akhirnya jatuh dalam koma dan
meninggal. Angka mortalitas sindroma TURP adalah sebesar 0,99%.
Untuk mengurangi resiko terjadinya sindroma TURP, operator harus
membatasi diri untuk tidak melakukan reseksi lebih dari 1 jam. Di samping itu
beberapa operator memasang sistostomi suprapubik terlebih dahulu sebelum
reseksi diharapkan dapat mengurangi penyerapan air ke sirkulasi sistemik.
Penggunaan cairan non ionik lain selain H2O yaitu glisin dapat mengurangi
resiko hiponatremia pada TURP, tetapi karena harganya cukup mahal beberapa
klinik urologi di Indonesia lebih memilih pemakaian aquades sebagai cairan
irigasi.
Selain sindroma TURP beberapa penyulit bisa terjadi pada saat operasi
(perdarahan, perforasi kapsul prostat, perforasi sinus venosus prostat), pasca

27

bedah dini (perdarahan, infeksi lokal/sistemik), maupun pasca bedah lanjut


(inkontinensia, disfungsi ereksi, ejakulasi retrograd, striktura uretra).
Pada BPH yang tidak begitu besar, tanpa ada pembesaran lobus medius, dan
pada pasien yang umurnya masih muda hanya diperlukan insisi kelenjar
prostat atau TUIP (transurethral incision of the prostate) atau insisi leher bulibuli atau BNI (bladder neck incision). Sebelum melakukan tindakan ini harus
disingkirkan kemungkinan adanya karsinoma prostat dengan melakukan colok
dubur, melakukan pemeriksaan ultrasonografi transrektal, dan pengukuran
kadar PSA.
- Elektrovaporasi prostat
Cara elektrovaporasi prostat adalah sama dengan TURP hanya saja teknik ini
memakai roller ball yang spesifik dan dengan mesin diatermi yang cukup kuat,
sehingga mampu membuat vaporisasi kelenjar prostat. Teknik ini cukup aman,
tidak banyak menimbulkan perdarahan pada saat operasi, dan masa mondok di
rumah sakit lebih singkat. Namun teknik ini hanya diperuntukan pada prostat
yang tidak terlalu besar (<50 gram) dan membutuhkan waktu operasi yang
lebih lama.
- Laser prostatektomi
Jika dibandingkan dengan pembedahan, pemakaian Laser ternyata lebih
sedikit menimbulkan komplikasi, dapat dikerjakan secara poliklinis,
penyembuhan lebih cepat, dan dengan hasil yang kurang lebih sama.
Sayangnya terapi ini membutuhkan terapi ulang 2% setiap tahun.
Kekurangannya adalah tidak apat diperoleh jaringan untuk pemeriksaan
patologi (kecuali pada Ho:YAG), sering banyak menimbulkan disuria pasca
bedah yang dapat berlangsung sampai 2 bulan, tidak langsung dapat miksi
spontan setelah operasi, dan peak flow rate lebih rendah daripada pasca TURP.
Teknik ini dianjurkan pada pasien yang memakai terapi antikoagulan dalam
jangka waktu lama atau tidak mungkin dilakukan tindakan TURP karena
kesehatannya.
- Tindakan invasif minimal
Tindakan ini ditujukan untuk pasien yang mempunyai resiko tinggi terhadap
pembedahan. Diantaranya adalah thermoterapi, TUNA (transurethral needle
ablation of the prostate), pemasangan stent (prostacath), HIFU (High intensity
focused ultrasound), dan dilatasi dengan balon (transurethral balloon

dilatation).
Kontrol berkala

28

Dari studi Neal et al, setelah melakukan follow up sampai 11 bulan, didapatkan bahwa
prostatektomi memang akan menghilangkan gejala obstruksi (voiding) tetapi tidak
menghilangkan gejala storage, diantaranya adalah urgensi (50% pasien). Studi
urodinamika ternyata didapatkan kelainan berupa disfungsi detrusor, terutama
overaktivitas detrusor pada 64%.
Setiap pasien hiperplasia prostat yang telah mendapatkan pengobatan perlu kontrol
secara teratur untuk mengetahui perkembangan penyakitnya. Jadwal kontrol
tergantung pada tindakan apa yang sudah dijalaninya. Pasien yang hanya
mendapatkan pengawasan (watchful waiting) dianjurkan kontrol setelah 6 bulan,
kemudian setiap tahun untuk mengetahui apakah terjadi perbaikan klinis. Penilaian
dilakukan dengan pemeriksaan skor IPSS, uroflometri, dan residu urin pasca miksi.
Pasien yang mendapatkan terapi penghambat 5-reduktase harus dikontrol pada
minggu ke-12 dan bulan ke-6 untuk menilai respon terhadap terapi. Kemudian setiap
tahun untuk menilai perubahan gejala miksi. Pasien yang menjalani pengobatan
penghambat 5-adrenergik harus dinilai respon terhadap pengobatan setelah 6 minggu
dengan melakukan pemeriksaan IPSS, uroflometri, dan residu urin pasca miksi. Kalau
terjadi perbaikan gejala tanpa menunjukkan penyulit yang berarti, pengobatan dapat
diteruskan. Selanjutnya kontrol dilakukan setelah 6 bulan dan kemudian setiap tahun.
Setelah pembedahan, pasien harus menjalani kontrol paling lambat 6 minggu pasca
operasi untuk mengetahui kemungkinan terjadinya penyulit. Kontrol selanjutnya
setelah 3 bulan untuk mengetahui hasil akhir operasi. Pasien yang mendapatkan terapi
invasif minimal harus menjalani kontrol secara teratur dalam jangka waktu lama,
yaitu setelah 6 minggu, 3 bulan, 6 bulan, dan setiap tahun. Pada pasien yang
mendapatkan terapi invasif minimal, selain dilakukan penilaian terhadap skor miksi,
dilakukan pemeriksaan kultur urin.
3.4 BATU BULI-BULI(1,2,3)
Batu buli-buli atau vesikolitiasis merupakan manifestasi tersering dari batu pada
saluran kemih bagian bawah, dimana pada saat ini mencakup 5% dari penyakit batu pada
saluran kemih. Batu buli-buli sering terjadi pada pasien yang menderita gangguan miksi atau
terdapat benda asing di buli-buli. Gangguan miksi terjadi pada pasien BPH, striktura uretra,
divertikel buli-buli, atau buli-buli neurogenik. Kateter yang terpasang pada buli-buli dalam
waktu yang lama, adanya benda asing lain yang secara tidak sengaja dimasukkan ke dalam
buli-buli seringkali menjadi inti untuk terbentuknya batu buli-buli. Selain itu batu buli-buli
dapat berasal dari batu ginjal atau batu ureter yang turun ke buli-buli.
29

Gejala khas batu buli-buli adalah berupa gejala iritasi antara lain: nyeri kencing/disuria
hinga stranguri (perasaan tidak enak sewaktu kencing), dan kencing tiba-tiba terhenti
kemudian menjadi lancar kembali dengan perubahan posisi tubuh. Nyeri pada saat miksi
seringkali dirasakan (referred pain) pada ujung penis, skrotum, perineum, pinggang, sampai
kaki.
Seringkali komposisi batu buli-buli terdiri atas asam urat atau struvit (jika penyebabnya
adalah infeksi), sehingga tidak jarang pada pemeriksaan foto polos abdomen tidak tampak
sebagai bayangan opak pada kavum pelvis. Dalam hal ini pemeriksaan IVU pada fase
sistogram memberikan gambaran sebagai bayangan negatif. Ultrasonografi dapat mendeteksi
batu radiolusen pada buli-buli.
Batu buli-buli dapat dipecahkan dengan litotripsi ataupun jika terlalu besar memerlukan
pembedahan terbuka (vesikolitotomi). Hal yang tidak kalah pentingnya adalah melakukan
koreksi terhadap penyebab timbulnya stasis urin.

BAB IV
PEMBAHASAN
Dari identitas pasien, didapatkan usia pasien adalah 75 tahun. Jadi pasien merupakan
pasien geriatri yang memiliki kecenderungan untuk menderita penyakit tertentu, dalam kasus
urologi misalnya BPH, batu saluran kemih, infeksi saluran kemih, dan keganasan di saluran
kemih. Selain itu, pasien geriatri seringkali memiliki banyak kondisi komorbid yang mungkin
dapat mempersulit manajemennya (penurunan fungsi ginjal, penyakit jantung koroner, stroke,
hipertensi, anemia, dan lain-lain).
Keluhan utama pasien adalah hematuria yang disertai rasa sakit.. Setelah dilakukan
anamnesis lebih lanjut, pasien ternyata memiliki gejala nocturia, disuria, pancaran urin
lemah, dan intermittency yang merupakan lower urinary tract symptoms. Dari riwayat
penyakit dahulu yang pernah diderita pasien, ternyata pasien pernah mengalami stroke non
hemorrhagik pada tahun 2012. Dampaknya, pasien memiliki kesulitan menelan sehingga
pasien kurang minum (<1,5L/hari), dan pasien rutin mengkonsumsi obat aspilet. Kurang
minum merupakan faktor predisposisi dalam terbentuknya batu dan infeksi di saluran kemih,
dan mengkonsumsi obat aspilet menyebabkan pasien memiliki kecenderungan untuk

30

terjadinya perdarahan, termasuk perdarahan yang terjadi di saluran kemih (hematuria). Pasien
juga memiliki kebiasaan hanya duduk-duduk santai di rumah, kurangnya aktivitas juga
merupakan faktor predisposisi dalam terbentuknya batu di saluran kemih. Dari keluhan utama
pasien, hipotesis yang mungkin adalah BPH, karsinoma prostat, infeksi saluran kemih bagian
bawah, batu saluran kemih, tumor/keganasan buli-buli, perdarahan saluran kemih akibat
konsumsi aspilet.
Dari pemeriksaan fisik, didapatkan tekanan darah pasien adalah 160/90 mmHg.
Menurut JNC 7, pengukuran tersebut menunjukkan hipertensi grade 2. Pada pemeriksaan di
regio suprasymphisis, dari inspeksi terlihat agak membuncit dan dari palpasi terdapat nyeri
tekan. Regio suprapubik yang membuncit yang disertai nyeri tekan disebabkan oleh vesica
urinaria yang terisi penuh, bisa disebabkan oleh adanya obstruksi infravesika (BPH,
karsinoma prostat) atau massa di vesica urinaria (vesicolithiasis, tumor/keganasan buli-buli).
Pada pemeriksaan rectal toucher, temuan yang bermakna adalah prostat teraba
membesar, permukaan reguler, konsistensi kenyal, tidak teraba nodul. Temuan ini sugestif ke
arah diagnosis BPH.
Pemeriksaan laboratorium menunjukkan anemia, yang mungkin terjadi akibat
hematuria atau kurangnya asupan zat besi dalam diet pasien. Dalam urinalisa, didapatkan urin
berwarna merah dengan eritrosit +++ menunjukan derajat hematuria yang cukup signifikan.
Protein didapatkan +++, kondisi proteinuria pada pasien ini kemungkinan disebabkan oleh
penurunan fungsi ginjal akibat hipertensi. Pada pemeriksaan fungsi ginjal juga didapatkan
peningkatan kreatinin (1,4mg/dL), yang mungkin disebabkan karena hipertensi atau bladder
outlet obstruction, sehingga terjadi penurunan GFR yang akan menyebabkan meningkatnya
kreatinin serum.
Pada pemeriksaan USG ginjal, buli, dan prostat didapatkan prostat berukuran 3,81 x
3,75 x 4,05 cm, homogen, mengindentasi buli, permukaan reguler. Ukuran prostat membesar
dengan perkiraan volume 30mL (0,5x3,81x3,75x4,05). Temuan ini sugestif untuk diagnosis
BPH. Di dalam vesica urinaria, tampak massa hyperechoic dengan posterior acoustic
shadow. Temuan ini sugestif untuk batu saluran kemih.
Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, dapat
ditegakkan diagnosis pasien adalah BPH, vesicolithiasis, dan hipertensi grade 2.

31

Tatalaksana BPH pada pasien ini adalah dengan terapi operatif yaitu TURP, karena
pasien ini sudah memenuhi indikasi operasi absolut, yaitu hematuria dan adanya komplikasi
BPH (vesicolithiasis). Tatalaksana tersebut sudah sesuai dengan guidelines dari European
Association of Urology tahun 2014. Untuk penatalaksanaan vesicolithiasis pada pasien ini,
seharusnya dilakukan open vesicolithotomy mengingat ukuran batu yang sudah cukup besar
pada buli-buli pasien, akan tetapi pada perencanaan dipilih untuk dicoba dilakukan litotripsi
terlebih dahulu untuk meminimalisir perdarahan selama operasi sehubungan dengan kadar
hemoglobin pasien yang rendah. Namun karena terjadi laserasi buli-buli pada waktu
dilakukan litotripsi, maka open vesicolithotomy tidak dapat dihindari lagi.
Pada follow-up, hal yang ditemukan bermakna adalah prolonged hematuria dimana urin
baru berwarna kuning bening setelah 9 hari post operasi. Hal ini kemungkinan disebabkan
oleh kebiasaan pasien mengkonsumsi aspilet yang dapat mengganggu fungsi platelet
sehingga terjadi gangguan proses hemostasis. Walaupun pasien telah berhenti mengkonsumsi
aspilet 3 hari sebelum operasi, namun pada penelitian efek antiagregasi trombosit dari aspilet
masih bekerja hingga 144 jam setelah penggunaannya dihentikan.5

BAB V
KESIMPULAN
Benign prostate hyperplasia (BPH) adalah salah satu penyakit yang paling sering
dialami oleh pasien geriatri. Pasien dengan BPH seringkali terlambat mencari pertolongan
medis sehingga pada saat didiagnosis, telah ada komplikasi yang terjadi, salah satunya adalah
batu buli-buli. Seperti yang terjadi pada pasien dalam laporan kasus ini.
Pada makalah ini disajikan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang
yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis BPH. Dari anamnesis gejala BPH yang dialami
pasien adalah lower urinary tract symptoms seperti nokturia, disuria, frekuensi, intermittency,
urgency, terminal dribbling dan hesitancy. Pada pemeriksaan fisik temuan yang sering
ditemukan adalah tanda-tanda retensi urin kronis, seperti buli-buli yang teraba penuh dan
adanya nyeri tekan suprapubik. Pemeriksaan penunjang yang dapat membantu diagnosis dari
BPH adalah USG dimana USG dapat menentukan perkiraan besar prostat, serta mendeteksi
komplikasi yang terjadi seperti batu buli-buli dan hidronefrosis. Selain USG, perlu dilakukan

32

urinalisa yang juga dapat mendeteksi komplikasi dari BPH, salah satunya yaitu ditemukannya
hematuria sebagai bukti iritasi kronis mukosa buli akibat batu.
Penatalaksanaan dari BPH meliputi tatalaksana konservatif dengan watchful waiting
dan medikamentosa, serta tatalaksana operatif dengan TURP, elektrovaporasi prostat, open
prostatectomy, dan lain lain. Dalam memilih penatalaksanaan yang tepat perlu
dipertimbangkan keparahan gejala yang dialami pasien, massa prostat, komplikasi yang
terjadi, serta penyakit komorbid yang menyertai.

DAFTAR PUSTAKA
1. Wein AJ, Kavoussi LR, Novick AC, Partin AW, Peters CA, eds. Campbell-Walsh
Urology. 9th ed. Philadelphia, PA: Saunders; 2007.
2. Tanagho EA, McAninch JW, eds. Smith's General Urology. 17th ed. New York, NY:
McGraw-Hill; 2008.
3. Purnomo BB, Dasar Dasar Urologi. Edisi Ketiga. Jakarta: Sagung Seto; 2012.
4. Gravas S, Bachmann A, Descazeaud A, Drake M, Gratzke C, Madersbacher S;
members of the European Association of Urology (EAU) Guidelines Office.
Guidelines on Management of non-neurogenic male LUTS, incl. benign prostatic
obstruction. In : EAU Guidelines, edition presented at the 29th EAU Annual
Congress, Stockholm 2014.
5. Cahill RA, McGreal GT, Crowe BH, Ryan DA, Manning BJ, Cahill MR, Redmond
HP. Duration of increased bleeding tendency after cessation of aspirin therapy. J Am
Coll Surg. 2005 Apr;200(4):564-73.

33

34

Anda mungkin juga menyukai