Anda di halaman 1dari 21

HUBUNGAN PERAN ORANG TUA TERHADAP TINGKAT

KEMANDIRIAN ANAK RETARDASI MENTAL DI SLB KOTA JAMBI

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut Langgulung Kesehatan mental sebagai salah satu bidang psikologi, yang
merupakan gabungan semua fungsi-fungsi psikologi yang dikerjakan manusia. Dengan bekal
mental atau kecerdasan yang memadai, dinamika hidup menjadi lebih indah dan harmonis sebab
melalui kecerdasan mental manusia dapat merencanakan atau memikirkan hal-hal yang
bermanfaat, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Kesehatan mental yang normal sangat
berkaitan erat dengan proses tumbuh kembang seseorang dengan suasana-suasana dan
pengalaman yang telah dilaluinya dalam masa pertumbuhan tersebut.
Menurut Nursalam Pada dasarnya, manusia dalam kehidupannya mengalami berbagai
tahap tumbuh kembang dan setiap tahap mempunyai ciri tertentu. Tahapan tumbuh kembang
yang paling memerlukan perhatian adalah pada masa anak-anak. Oleh karena itu, upaya untuk
mengoptimalkan perkembangan dan kemandirian anak adalah sangat penting. Pencapaian suatu
kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pada anak berbeda-beda dan anak perlu
dibimbing dengan akrab, penuh kasih sayang, tetapi juga tegas, sehingga anak tidak mengalami
kebingungan.
Menurut Soetjiningsih Penyakit retardasi mental merupakan penyakit gangguan mental
dimana fungsi intelegensi yang rendah, disertai adanya kendala dalam penyesuaian perilaku dan
gejalanya timbul pada masa perkembangan. Dimana, fungsi intelektual dapat diketahui dengan
tes fungsi kecerdasan dan hasilnya dinyatakan sebagai suatu taraf kecerdasan atau IQ
(Intelegence Quotient). Apabila IQ di bawah 70, maka anak dinyatakan mengalami retardasi
mental. Anak ini tidak dapat mengikuti pendidikan sekolah biasa, karena cara berpikirnya yang
terlalu sederhana, daya tangkap dan ingatannya lemah, demikian pula dengan pengertian bahasa
dan berhitungnya juga sangat lemah.

Menurut data dari Dinas Kesehatan Kota Jambi pada tahun 2007 jumlah penderita
retardasi mental semua umur sebanyak 42 orang (53,85%). Dan jumlah penderita retardasi
mental pada tahun 2008 mengalami penurunan menjadi 29 orang (37,18%), kemudian pada
tahun 2009 terjadi penurunan yang sangat drastis pada penderita penyakit retardasi mental yaitu
tercatat sebanyak 7 orang (8,7%).
Keluarga merupakan tempat tumbuh kembang seorang individu, maka keberhasilan
pembangunan sangat ditentukan oleh kualitas dari individu yang terbentuk dari norma yang
dianut dalam keluarga sebagai patokan berperilaku setiap hari. Lingkungan keluarga secara
langsung berpengaruh dalam mendidik seorang anak karena pada saat lahir dan untuk masa
berikutnya yang cukup panjang anak memerlukan bantuan dari keluarga dan orang lain untuk
melangsungkan hidupnya. Keluarga yang mempunyai anak cacat akan memberikan suatu
perlindungan yang berlebihan pada anaknya sehingga anak mendapat kesempatan yang terbatas
untuk mendapatkan pengalaman sesuai dengan tingkat perkembangannya (Grahacendikia, 2009).
Orang tua dan anak yang menderita retardasi mental sangat berperan dalam melatih dan
mendidik dalam proses perkembangannya. Tanggung jawab dan peran orang tua sangat penting
terhadap anak yang mengalami gangguan kesehatan mental khususnya retardasi mental untuk
membantu mengembangkan perilaku adaptif sosial yaitu kemampuan untuk mandiri, maka dari
itu orang tua harus mengetahui cara yang paling efektif digunakan untuk mendidik dan
membentuk kemandirian anak. Dimana potensi intelektualnya bisa tumbuh dengan baik dan
mampu menghadapi kehidupan yang realistik dan objektif (Langgulung)Perkembangan
kemandirian individu sesungguhnya merupakan perkembangan hakikat manusia. Atas dasar
kelemahan yang melekat pada pandangan yang yang berpusat pada masyarakat maka
kemandirian perlu di pahami. Proses ini mengimplikasikan bahwa manusia berhak memberikan
makna terhadap dasar proses mengalami sebagai konsekwensi dari perkembangan berpikir dan
penyesuaian kehendaknya. Kemandirian juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu gen atau
keturunan orang tua, sistem pendidikan sekolah, sistem kehidupan dimasyarakat serta peran
orang tua dimana didalamnya terdapat kebutuhan asuh, asih dan asah. Dengan demikian
kemandirian yang dimiliki adalah kemandirian yang utuh
Berdasarkan masalah di atas peneliti tertarik untuk mengetahui Hubungan Peran Orang
Tua Terhadap Tingkat Kemandirian Anak Retardasi Mental Di SLB KOTA JAMBI

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah apakah ada Hubungan Peran Orang Tua Dengan Tingkat Kemandirian Anak Retardasi
Mental di SLB KOTA JAMBI
C. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui Hubungan Peran Orang Tua Terhadap Tingkat Kemandirian Anak
Retardasi Mental di SLB KOTA JAMBI
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Dinas Kesehatan Kota Jambi
Sebagai masukan dan informasi untuk meningkatkan perencanaan program yang lebih
baik pada Dinas Kesehatan tentang hubungan peran orang tua terhadap tingkat kemandirian
anak retardasi mental dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
2. Bagi SLB KOTA JAMBI
Sebagai masukan dan informasi bagi guru atau pengajar untuk mengetahui hubungan
peran orang tua terhadap tingkat kemandirian anak retardasi mental. Sehingga dapat menyusun
langkah-langkah, perencanaan dan program sistem pendidikan khususnya anak retardasi mental.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan masukan acuan bagi mahasiswa selanjutnya dalam melakukan penelitian
dengan variabel yang berbeda.
4. Bagi Peneliti
Penelitian ini dilakukan sebagai langkah awal bagi peneliti untuk menerapkan ilmu-ilmu
teoritis yang diperoleh dari materi perkuliahan kedalam praktek kerja lapangan serta untuk
pengembangan diri dan menambah wawasan peneliti sehingga dapat meningkatkan ilmu
pengetahuan.
E. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SLB KOTA JAMBI Penelitian ini adalah penelitian metode
analitik koleratif dengan desain Cross sectiona. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
hubungan peran orang tua terhadap tingkat kemandirian anak Retardasi Mental Untuk membatasi
terlalu luasnya pembahasan penelitian ini, maka dibatasi untuk melihat hubungan antara peran
orang tua (Variabel Independent) terhadap tingkat kemandirian anak Retardasi Mental (Variabel
Dependent)d SLB KOTA JAMBI Populasi penelitian ini adalah semua orang tua yang memiliki
anak Retardasi Mental di SLB KOTA JAMBI Dimana cara pengambilan sampel dengan
tehnik Total Sampling.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Retardasi Mental
1. Pengertian
Penderita Retardasi Mental memiliki kemampuan fungsi intelektual di bawah rerata dan
mengalami gangguan keterampilan adaptif pada anak yang berumur kurang dari 18
tahun.keadaan ini dapat disebabkan oleh factor genetic,lingkungan,psikososial,atau gabungan
dari ketiganya.
Menurut definisi dari Diagnostic dan Statistcal Manual of Mental Disorder (DSM IV)
Retardasi mental merupakan kondisi bila fungsi intelektual secara bermaka berada di bawah
rerata yang menyebabkan atau berhubungan dengan gangguan pada perilaku adaftif dan
bermanifestasi selama periode perkembangan,yaitu sebelum umur 18 tahun.(DSM IV dalam
D.pusponegoro : 122 )
Menurut Hidayat Retardasi mental bukan merupakan suatu penyakit akan tetapilebih
pada suatu proses terhambatnya perkembangan mental (hidayat 2004 dalam jurnal maulana dan
sutatminingsih
2. Etiologi
Menurut Mohammad Ali (2006: 91) etiologi terjadinya retardasi mental pada seseorang
menurut kurun waktu terjadinya yaitu di bawah sejak lahir (faktor endogen) dan faktor dari luar
seperti penyakit atau keadaan lain (faktor eksogen).
Sedangkan menurut Galih A (2008: 28) adapun beberapa faktor penyebab dari retardasi
mental itu sendiri adalah:
a.

Keturunan

1) Kromosom abnormalitas
2) Kretinisme
3) Adanya kerusakan kromosom
b. Masa kelahiran
1) Infeksi
2) Kelahiran premature
3) Kelahiran anoxia
c.

Masa setelah lahir dan masa kanak-kanak

1) Penyakit (hydrocepalus)
2) Keracunan (carbonmonoxida)

3. Klasifikasi
Menurut Galih A Veskarisyanti (2008: 29) klasifikasi retardasi mental ada beberapa
macam yaitu:
a.

Retardasi Mental Ringan (Mild Mental Retardation)

1) IQ 52 67
2) Karakteristik:
a) Tidak memperlihatkan kelainan fisik
b) Agak mengalami keterlambatan dalam belajar
c) Mampu mandiri (mandi, makan, berpakaian)
d) Mengalami kesulitan dalam pelajaran sekolah
b. Retardasi Mental Sedang (Moderate Mental Retardation)
1) IQ 36 51
2) Pada masa ini anak dapat diajarkan lewat program training keterampilan social
3) Karakteristik:
a) Termasuk mampu latih untuk melakukan keterampilan
b) Terkadang menampakkan kelainan fisik berupa gejala bawaan
c) Lambat dalam pengembangan pemahaman penggunaan bahasa
d) Ada yang agresif dan sikap bermusuh terhadap yang belum kenal
c.

Retardasi Mental Berat (Severe Mental Retardation)

1) IQ 20 35
2) Anak pada kondisi inimengalami kecacatan yang cukup membutuhkan perawatan khusus
3) Karakteristik:
a) Menunjukkan banyak masalah terkadang ada yang bisa berkomunikasi, tetapi juga ada yang
sama sekali tidak bisa berkomunikasi
b) Mengalami gangguan bicara
c) Tidak mampu mengurus diri sendiri
d. Redardasi Mental Sangat Berat (Profound Mental Retardation)
1) IQ dibawah 20
2) Karakteristik:
a) Menampakkan kelainan fisik yang nyata
b) Mengalami gangguan serius pada fungsi psikomotorik

c) Penyesuaian diri sangat kurang


d) Selalu butuh pengawasan dan bantuan
e) Pemahaman dan penggunaan bahasa yang sangat terbatas
e.

Severity Unspesified MR adalah mereka yang memiliki gangguan MR namun karena


keparahanyang dimiliki, tidak dapat dilakukan tes terhadapnya.
Menurut Soetjiningsih (2000: 192) intelegensi dapat di klasifikasi berdasarkan nilai IQ-nya
sebagai berikut:

Table 2.1
Klasifikasi Retardasi Mental

Klasifikasi
Sangat superior
Superior
Diatas rata-rata
Rata-rata
Dibawah rata-rata
Retardasi mental borderline
Retardasi mental ringan
Retardasi mental sedang
Retardasi mental berat
Retardasi mental sangat berat
Sumber: Swaiman (1989)

4. Tanda dan Gejala


a.

Mengalami keterlambatan perkembangan kognitif

b. Mengalami keterlambatan perkembangan motorik


c.

Keterampilan komunikasi sangat terbatas

d. Keterlambatan dalam kemampuan mengontrol diri


e.

Canggung dalam mengadakan interaksi social

f.

Tingkat intelegensi rendah

g. Perubahan fisik abnormal (mikrosefali, sindrom down)


h. Wajah hypertelorisme

Nilai IQ
130 atau lebih
120 - 129
110 - 129
90 - 110
80 - 89
70 - 79
52 - 69
36 - 51
20 - 35
Dibawah 20

i.

Ekpresi wajah tumpul

5. Penatalaksanaan Perawatan Terhadap Anak Retardasi Mental


Menurut Arif Mansjoer (2001: 226) bagian-bagian paling penting dari pengobatan
retardasi mental adalah sebagai berikut:
a.

Pencegahan primer
Pencegahan primer adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan atau
menurunkan kondisi yang dapat menyebabkan gangguan. Tindakan tersebut termasuk
pendidikan untuk meningkatkatkan pengetahuan dan masyarakat umum. Usaha terus-menerus
dari professional bidang kesehatan untuk menjaga dan memperbaharui kebijakan kesehatan
masyarakat, aturan untuk memberikan pelayanan kesehatan anak yang optimal. Konseling
keluarga dan genetik dapat membantu.

b. Pencegahan sekunder
Tujuan pencegahan sekunder adalah untuk mempersingkat perjalanan penyakit. Dalam
pelaksanaanya meliputi intervensi farmakologis.
c.

Pencegahan tersier
Pencegahan tersier bertujuan untuk menekan kecacatan yang terjadi, dimana
pelaksanaannya dapat dilakukan bersamaan dengan pencegahan sekunder yang terdiri dari
pendidikan untuk anak, terapi prilaku, kognitif, pendidikan keluarga dan psikodinamika.
Pendidikan untuk anak harus merupakan program yang lengkap dan mencakup latihan
keterampilan adaptif dan social.

6. Pemeriksaan Penunjang
Beberapa pemeriksaan penunjang perlu dilakukan pada anak yang menderitaretardasi
mental, yaitu (Shonkoff JP, 1992):
a. Kromosomal kariotipe
1) Terdapat kelainan fisik yang tidak khas
2) Anamnesis ibu terancam zat-zat teratogen
3) Ganitalia abnormal
b. EEG (Electro Ensefalogram)
1) Gejala kejang yang dicurigai
2) Kesulitan mengerti bahasa yang berat
c.

CT (Cranial Computed Tomography) atau MRI (Magnetic Resonance Imaging)

1) Kejang local

2) Tuberous sklerisis
3) Pembesaran kepala yang progresif
4) Dicurigai adanya tumor intrakranial
d. Titer virus untuk infeksi congenital
1) Mikroptalmia
2) Mikrosefali
3) Chorioretinitis
4) Klasifikasi intracranial
5) Neonatal hepatosplenomegali
e.

Serum asam urat (Uric acid serum)

1) Gout
2) Sering mengamuk
3) Choreoatetosis
f.

Laktat dan pirupat darah

1) Asidosis metabolic
2) Kejang mioklonik
3) Ataksia
4) Opthalmoplegia
5) Kejang dini dan hipotonia
6) Kelemahan yang progresif
7) Episode seperti stroke yang berulang
B. Konsep Kemandirian
1. Pengertian
Kata kemandirian berasal dari kata dasar diri yang mendapat imbuhan yang kemudian
membentuk suatu kata sifat. Dalam bahasa sehari-hari anak mandiri sering dikonotasikan dengan
anak yang mampu makan sendiri atau mandi sendiri. Sebaliknya, anak yang tidak mandiri berarti
anak yang segala aktivitasnya semua harus dilayani oleh lingkungannya (Mohammad Ali, 2008:
109).
Menurut Deborah K. Parker (2006: 226) kemandirian (self- relience) merupakan
kemampuan untuk mengola semua miliknya sendiri, dan mampu mengatasi hambatan atau

masalah, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang
lain. Kemandirian berhubungan dengan tugas dan ketrampilan bagaimana mengerjakan sesuatu,
bagaimana mencapai sesuatu atau bagaimana mengola sesuatu.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa anak yang mandiri adalah anak yang diberi kesempatan
untuk menerima dan menjadi dirinya sendiri. Orang tua yang memperlakukan anak-anak
menurut kekhasan mereka masing-masing adalah orang tua yang belajar bersikap positif
menghadapi berbagai perbedaan karakter ataupun penampilan anak.
2. Tingkat Kemandirian
Menurut Mohammad Ali (2008: 117) tingkat kemandirian terdiri dari:

a.

Mandiri
Anak yang mampu memenuhi kebutuhanya, baik kebutuhan naluri maupun kebutuhan fisik oleh
dirinya sendiri secara bertanggung jawab tanpa bergantung pada orang lain

b. Ketergantungan Ringan
1) Kebersihan diri, mandi, ganti pakaian dilakukan sendiri
2) Makan dan minum dilakukan sendiri
3) Kegiatan dengan pengawasan
4) Status psikologi stabil
c.

Ketergantungan Sedang

1) Kebersihan diri dibantu


2) Makan dan minum dibantu
3) Kegiatan di bantu tapi tidak keseluruhan
d. Ketergantungan Berat
Semua kebutuhan anak dibantu
3. Beberapa Hal yang Dapat Membentuk Kemandirian Anak
a.

Rasa Percaya Diri


Rasa percaya diri terbentuk ketika anak diberi kepercayaan untuk melakukan sesuatu hal
yang ia mampu kerjakan sendiri. Hal terbesar yang dapat menghambat rasa percaya diri anak
adalah ketakutan dan kekhawatiran orang tua. Perasaan tersebut dapat membuat orang tua
cenderung untuk selalu menangani pekerjaan yang sebenarnya dapat dilakukan anak sendiri.

b. Kebiasaan

Salah satu peranan orang tua dalam kehidupan sehari-hari adalah membentuk kebiasaan.
Kalau anak sudah terbiasa dimanja dan selalu dilayani, anak akan menjadi ketergantungan
dengan orang lain. Tapi, jika anak sudah dibiasakan untuk mandiri tapi tetap dengan pengawasan
dapat meningkatkan pribadi yang mandiri pada anak tersebut.
c.

Disiplin
Kemandirian berkaitan erat sekali dengan disiplin, sebelum seseorang anak dapat
mendisiplinkan dirinya sendiri. Anak terlebih dahulu harus disiplin oleh orang tuanya. Syarat
utama dalam hal ini adalah pengawasan dan bimbingan yang konsisten dan konsekuen dari orang
tua.

d. Membangun Komunikasi Anak Dengan Tuhan


Orang tua yang mendidik anak dalam kehidupan religius yang kuat sejak masa anak-anak
adalah orang tua yang bijaksana mengantarkan anaknya pada suatu landasan yang teguh. Sebab
pada situasi ketika anak jauh dari orang tua atau ketika anak harus menjawab sendiri perubahanperubahan dalam hidup yang tidak selalu dapat segera diatasinya, ia akan selau menemukan rasa
aman dalam hubungan spiritual yang kokoh.
e.

Latihan
Latihan keterampilan praktis, disiplin dan tanggung jawab dalam berbagai sektor
kehidupan akan menolong anak merasa aman dengan dirinya. Orang tua pada umumnya lebih
banyak memberi waktu dan perhatian awal kepada anak dimasa pertumbuhan. Misalkan, biarkan
anak-anak mengerjakan hal-hal yang menjadi tanggung jawab di rumah.

f.

Melatih Anak Untuk Mengambil Keputusan


Latihan anak untuk mengambil keputusan terhadap hal-hal tertentu dalam kehidupan dan
melatih sikap menghadapi kekecewaan dan penolakan yang biasa saja terjadi akibat keputusan
tersebut.

g. Jangan Memindahkan Kecemasan Dan Rasa bersalah


Sebagai orang tua jangan memindahkan kecemasan dan rasa bersalah dengan menutup
kesempatan anak untuk bersosialisasi. Kadang-kadang dalam ketakutan orang tua menjadi
berlebihan dalam memberi fasilitas perlindungan kepada anak sehingga membuat anak menjadi
resah (Deborak K. Parker. 2006: 157).
4. Faktor- faktor yang mempengaruhi kemandirian

Menurut Mohammad Ali (2008: 118) bahwa ada sejumlah faktor yang sering disebut
sebagai korelat bagi perkembangan kemandirian, yaitu sebagai berikut:
a.

Gen atau Keturunan orang tua


Orang tua yang memiliki sifat kemandirian tinggi seringkali menurunkan anak yang
memiliki kemandirian juga. Namun, masih menjadi perdebatan karena ada yang berpendapat
bahwa sesungguhnya bukan sifat kemandirian orang tuanya yang menurun kepada anaknya,
melainkan sifat orang tuanya muncul berdasarkan cara orang tua mendidik anaknya.

b. Peran Orang Tua


Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan orang lain terhadap seseorang
sesua kedudukannya dalam suatu sistem. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam
maupun dari luar dan bersifat stabil, sementara untuk posisi tersebut merupakan identifikasi dari
status tentang seseorang dalam suatu sistem social dan merupakan perwujudan aktualisasi diri.
Peran juga dapat diartika sebagai bentuk dari prilaku yang diharapkan dari seseorang pada situasi
sosial tertentu (Wahit Iqbal Mubarak, 2006: 259).
Menururt Notoatmodjo (2003: 29), berkaitan dengan kesehatan keluarga maka orang tua
merupakan sasaran utama dala promosi kesehatan, karena merupakan peletak dasar perilaku.
Sebab secara naluriah suka atau tidak mereka harus merawat dan mengasuh anak dari mulai
menggendong, memandikan memenuhi kebutuhan anak termaksud mengembangkan kemampuan
anaknya.
Peran orang tua adalah yang pertama kali tahu bagaimana perubahan dan perkembangan
karakter dan kepribadian orang tua sangat mempengaruhi perkembangan dan kemandirian
terhadap anak. Dan prosesnya haruslah realistis dan sesuai dengan usia mereka, karena para
orang tualah yang nantinya akan menjadikan anak-anak mereka seseorang yang memiliki
kepribadian baik atau buruk (Gracia Zhuo, 2008: 71).
Perhatian dan kedekatan orang tua sangat mempengaruhi keberhasilan anak dalam
mencapai apa yang diinginkan. Anak memerlukan kasih sayang dan perlakuan yang adil dari
orang tuanya. Tapi, kasih sayang yang diberikan secara berlebihan akan mengarah memanjakan,
bahkan dapat menghambat dan mematikan perkembangan kepribadian anak. Akibatnya anak
menjadi manja, kurang mandiri dan ketergantungan pada orang lain (Soetjiningsih, 2000: 9).
Menurut Melinda J. Vitale (2007: 39) peran orang tua sangat dibutuhkan dalam
perkembangan psikologi anak. Orang tua merupakan pemberi motivasi dan membantu dalam
kecemasan dan mencari tahu apa yang mesti dilakukan untuk terus mengembangkan identitas

dan kemandirian anak, sehingga diharapkan orang tua dapat memberikan perhatian dan kasih
sayang sepenuhnya pada anak. Kedekatan anak dan orang tua memiliki makna dan peran yang
sangat dalam setiap aspek kehidupan keluarga.
1. Peran Orang Tua Berdasarkan Kebutuhan Dasar
a.

Peran Orang Tua Dalam Pemenuhan Kebutuhan Fisik (Asuh)

1) Orang tua memberikan kebutuhan anak, seperti makan dan minum


2) Orang tua memberikan kebutuhan anak pakaian yang layak sama dengan anggota keluarga yang
lain
3) Orang tua memberikan kebutuhan anak perawatan kesehatan dasar, seperti membawa anak rutin
control kesehatan
4) Orang tua memberikan kebutuhan anak Kesegaran jasmani, seperti mengajak anak untuk
berolahraga
5) Orang tua memandikan dan menggosok gigi anak
b. Peran Orang Tua Dalam Pemenuhan Kebutuhan Fisik Emosional (Asih)
1) Orang tua memperkenalkan anak sebagai bagian dari keluarga
2) Orang tua memberikan rasa aman bagi anak untuk melakukan aktivitasnya
3) Orang tua memotivasi anak untuk bergaul dengan teman-temannya
4) Orang tua dapat menerima keadaan yang cacat
5) Orang tua jangan memperlakukan anak berbeda dengan anggota keluarga yang lain
c.

Peran Orang Tua Dalam Pemenuhan Kebutuhan Fisik Stimulasi (Asah)

1) Orang tua mengajarkan anak berkomunikasi secara lisan


2) Orang tua mengajarkan anak tentang pengetahuan akademis
3) Orang tua mengajarkan anak cara perpakaian
4) Orang tua mengajarkan anak latihan BAB dan BAK sendiri
5) Orang tua mengajarkan anak cara memegang pensil
6) Orang tua membujuk anak bila anak bersikap berbeda dari anggota keluarga yang lain, misalnya
pendiam atau menarik diri (Nursalam, 2008: 41).
Peran orang tua akan mempengaruhi perkembangan kemandirian anak. Orang tua yang
terlalu banyak melarang tanpa penjelasan yang rasional dapat menghambat perkembangan
kemandirian anak. Sebaliknya orang tua yang menciptakan suasana aman dalam interaksi
keluarga dapat mendorong kelancaran perkembangan dan kemandirian anak.
c.

Sistem Pendidikan di Sekolah

Proses pendidikan disekolah yang tidak mengembangkan demokrasi pendidikan


cenderung menekan dan menghambat perkembangan kemandirian anak. Demikian juga, proses
pendidikan yang menekankan pentingnya pemberian hukuman (punishment) juga dapat
menghambat perkembangan kemandirian anak.
d. Sistem kehidupan di masyarakat
Sistem kehidupan masyarakat yang terlalu menekankan pentingnya struktur sosial,
kurang aman serta kurang menghargai manifestasi potensi anak dalam kegiatan produktif dapat
menghambat kelancaran perkembangan kemandirian anak. Sebaliknya, lingkungan masyarakat
yang aman, menghargai ekpresi potensi anak dalam bentuk berbagai kegiatan dan tidak terlau
hierarkis akan mendorong perkembangan kemandirian anak.
C. Kerangka Teoritis
Sebagai bahan acuan dalam penelitian ini kerangka teori yang digunakan adalah teori
Mohammad Ali (2008), dimana ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemandirian yaitu: gen
atau keturunan, peran orang tua, sistem pendidikan disekolah dan sistem kehidupan di
masyarakat. yang dapat digambarkan sebagai berikut:
Bagan 2.1
Kerangka Teori
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kemandirian

Sumber : Mohammad Ali (2008: 118)

BAB III

KERANGKA KONSEP
A. Kerangka Konsep
Berdasarkan kerangka teori pada BAB II, maka kerangka konsep penelitian ini
disesuaikan dengan teori Mohammad Ali, dimana faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian
anak yaitu: gen atau keturunan orang, peran orang tua, sistem pendidikan disekolah dan sistem
kehidupan di masyarakat.
Namun dalam penelitian ini peneliti tidak memasukkan semua variabel dikarenakan
adanya keterbatasan kemampuan peneliti, tenaga, waktu dan biaya. Dalam penelitian ini dengan
pertimbangan kepentingan dilapangan, peneliti hanya mengambil dua variabel yaitu peran orang
tua dan kemandirian anak.
Maka secara sistematis kerangka konsep dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai
berikut:
Bagan 3.1
Kerangka Konsep

Kemandirian Anak
Retardasi Mental

Variabel Independen

Peran Orang Tua

Variabel Dependen

27

B. Defenisi Operasional
Berdasarkan kerangka konsep, peneliti menetapkan variabel-variabel penelitian tersebut
pada penelitian ini sebagai berikut:
Tabel 3.2
Defenisi Operasional Variabel Penelitian
No

Varia
bel

1.

Peran
orang
tua

2.

Defe
nisi
Oper
asion
al
Perh
atian
dan
kede
katan
oran
g tua
dala
m
asuh,
asih
dan
asah

Kema
ndiria
n
anak

Anak
mam
pu
mem

Sk
ala
uk
ur

Cara
ukur

Alat Hasil
ukur ukur

Or
din
al

Wawa Kue
ncara sion
Dan
er
pengis
ian
kuesio
ner

Or
din
al

Kue
Wawa sion
ncara er
Dan p
engisi
an
kuesio
ner

2 = baik
apabila
ada
perhatia
n
kedekat
an
orang
tua
dalam
asuh,
asih
dan
asah.
Nilai
12
1=
kurang
baik,
apabila
tidak
ada
perhatia
n dan
kedekat
an
orang

enuhi
kebut
uhan
sendi
ri
deng
an
bimb
ingan
oran
g tua

tua
dalam
asuh,
asih
dan
asah.
Nilai
<12
(Wasis,
2008)
1=
Mandiri
dengan
kategori
nilai m
enjawa
b
ya <
1-3
pertany
aan
2
=Keterg
antunga
n
ringan
dengan
kategori
nilai
menjaw
ab ya
= 4-7
pertany
aan
3
=Keterg
antunga
n
sedang
dengan
kategori
menjaw
ab ya
= 8-11
pertany

aan
4
=Keterg
antunga
n berat
dengan
kategori
nilai
menjaw
ab nilai
1 s/d 14
pertany
aan
(Wasis,
2008)

C. Hipotesis
1. Ada hubungan antara peran orang tua terhadap tingkat kemandirian anak retardasi mental usia
10-14 tahun.

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian Analitik korelatif, dengan rancanganCros Sectional,
artinya penelitian yang pengukuran atau pengamatanya dilakukan secara simultan pada waktu
yang bersamaan (Notoatmodjo, 2005: 149).
Dimana metode ini bertujuan untuk mengetahui korelasi atau hubungan antara Variabel
Independen dengan Variabel Dependen terhadap tingkat kemandirian anak retardasi mental usia
10-14 tahun di SDLB Prof. Dr. Sri Soedewi Masjchun Sofwan, SH Jambi (Arikunto, 2006: 270).
B. Lokasi Dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian di SDLB Prof. Dr. Sri Soedewi Masjchun Sofwan, SH Jambi dengan
waktu penelitian dari bulan Maret- Agustus 2010.
C. Populasi Dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua orang tua yang memiliki anak retardasi
mental usia 10-14 tahun di SDLB Prof. Dr. Sri Soedewi Masjchun Sofwan, SH Jambi dengan
jumlah 43 orang.

30

2. Sampel

Untuk besar sampel dalam penelitian ini dan cara pengambilan sampel dilakukan dengan
tehnik Total Sampling, yaitu pengambilan sampel secara keseluruhan pada responden orang tua
yang memiliki anak retardasi mental usia 10-14 tahun yang ada di SDLB Prof. Dr. Sri Soedewi
Masjchun Sofwan, SH Jambi yaitu berjumlah 43 orang untuk dijadikan sampel yang akan
diteliti. Apabila responden kurang dari 100 lebih baik diambil semua (Arikunto, 2006: 134).
D. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara dan pengisian kuesioner
tertutup yaitu pertanyaan yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden tentang
pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui dimana jawabannya sudah disediakan sehingga
responden tinggal memilih. Kuesioner yang digunakan dengan pertanyaan tentang peran orang
tua dan kemandirian anak retardasi mental (Arikunto, 2006: 151).
E. Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini untuk mendapatkan data yang akurat dan menunjang data di peroleh
melalui dua cara yaitu:

1. Data Primer
Data primer di peroleh dari wawancara langsung dengan responden dan pengisian
kuesioner oleh responden, untuk memperoleh informasi yang ingin diketahui sesuai dengan
tujuan penelitian .
2. Data Sekunder
Data sekunder di peroleh dari kumpulan data sebagai data penunjang atau pelengkap
yang diambil dari kantor Dinas Kesehatan Kota Jambi, Data Persemester tahun 2007 - 2010
SDLB Prof. Dr. Sri Soedewi Masjchun Sofwan, SH Jambi dan internet.
F. Pengolahan Data
Data yang dikumpulkan selanjutnya diolah melalui tahapan sebagai berikut:
1. Editing (Pembuatan Data)

Pada tahapan ini dilakukan pemeriksaan apakah data yang sudah dikumpulkan sudah lengkap
atau belum. Semua data di kumpulkan di lakukan pemeriksaan kembali tiap kuesioner diisi
sesuai dengan petunjuk yang ditentukan.
2. Coding (Pengkodean Data)
Memberikan code pada setiap data yang ada.
a.Untuk variabel dari peran orang tua:
1) Baik diberi kode 2
2) Kurang baik diberi kode 1
b. Untuk variabel dari kemandirian anak retardasi mental:
1) Mandiri diberi kode 1
2) Ketergantungan Ringan diberi kode 2
3) Ketergantungan Sedang diberi kode 3
4) Ketergantungan Berat diberi kode 4
3. Scoring (Penetapan Skor)
Menetapkan skor (nilai) pada setiap pertanyaan kuesioner.
4. Entry (Memasukkan Data)
Data yang telah didapat di entry dengan menggunakan komputer dan diproses dengan
menggunakan program SPSS (Statistical Program Social Science).
5. Cleaning (Pembersihan Data)
Merupakan kegiatan pengecekan kembali data-data yang dimasukkan ke dalam komputer dan
dibersihkan untuk mencegah terjadinya kesalahan.

Anda mungkin juga menyukai