Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Secara geografis, Indonesia terdiri dari beribu pulau yang sebagian besar
wiliyahnya (62%) merupakan perairan laut, selat dan teluk; sedangkan 38 %
lainnya adalah daratan yang didalamnya juga memuat kandungan air tawar dalam
bentuk sungai, danau, rawa, dan waduk. Demikian luasnya wiliyah laut di
Indonesia sehingga mendorong masyarakat yang hidup di sekitar wilayah laut
memanfaatkan sumber kelautan sebagai tumpuan hidupnya. Ketergantungan
masyarakat terhadap sektor kelautan ini memberikan identitas tersendiri sebagai
masyarakat pesisir dengan pola hidup yang dikenal sebagai kebudayaan pesisir
(Geertz, H., 1981: 42).
Saat ini, kebanyakan orang memahami gagasan "budaya" yang dikembangkan di
Eropa pada abad ke-18 dan awal abad ke-19. Gagasan tentang "budaya" ini
merefleksikan adanya ketidakseimbangan antara kekuatan Eropa dan kekuatan
daerah-daerah yang dijajahnya. Mereka menganggap 'kebudayaan' sebagai
"peradaban" sebagai lawan kata dari "alam". Menurut cara pikir ini, kebudayaan
satu dengan kebudayaan lain dapat diperbandingkan; salah satu kebudayaan pasti
lebih tinggi dari kebudayaan lainnya. Pada akhir abad ke-19, para ahli antropologi
telah memakai kata kebudayaan dengan definisi yang lebih luas.
Pada tahun 50-an, sub kebudayaan-kelompok dengan perilaku yang sedikit
berbeda dari kebudayaan induknya-mulai dijadikan subyek penelitian oleh para
ahli sosiologi. Sebuah kebudayaan besar biasanya memiliki sub-kebudayaan, yaitu
sebuah kebudayaan yang memiliki sedikit perbedaan dalam hal perilaku dan

kepercayaan dari kebudayaan induknya. Munculnya sub-kultur disebabkan oleh


beberapa hal, diantaranya karena perbedaan umur, ras, etnisitas, kelas, aesthetik,
agama, pekerjaan, pandangan politik dan gender.
Berbicara masalah budaya, Indonesia mempunyai berbagai macam suku
ras, adat, dan budaya serta alam lainnya. Indonesia juga kaya akan budaya.
Namun seiring dengan perkembangan jaman era globalisasi. Kebudayaan
Indonesia mulai luntur. Hal ini dikarenakan semakin berkembangnya teknologi.
Dengan demikian pola pikir Indonesia menjadi terpengaruh kehidupan barat atau
pola budaya Barat, sehingga mereka melupakan kebudayaannya sendiri.
Desa pesisir merupakan entitas sosial,ekonomi, ekologi dan budaya, yang
menjadi batas antara daratan dan lautan, di mana di dalamnya terdapat suatu
kumpulan manusia yang memiliki pola hidup dan tingkah laku serta karakteristik
tertentu. Masyarakat pesisir ini menjadi tuan rumah di wilayah pesisir sendiri.
Mereka menjadi pelaku utama dalam pembangunan kelautan dan perikanan, serta
pembentuk suatu budaya dalam kehidupan masyarakat pesisir. Banyak
diantaranya faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat pesisir menjadi suatu
komunitas yang terbelakang atau bahkan terisolasi sehingga masih jauh untuk
menjadikan semua masyarakat setempat sejahtera. Dilihat dari faktor internal
masyarakat pesisir kurang terbuka terhadap teknologi dan tidak cocoknya
pengelolaan sumberdaya dengan kultur masyarakat setempat. Sebagai usaha untuk
menindak lanjuti masalah tersebut, pemerintah seharusnya membekali masyarakat
dengan Ilmu pengetahuan Budaya, agar manusia dapat menjadi manusia yang
berbudaya dan agar tidak melupakan budayannya sendiri.

Oleh karena itu, kebudayaan Pesisir dapat diartikan sebagai sistem-sistem


pengetahuan yang isinya adalah perangkat-perangkat model pengetahuan yang
dipunyai dan dijiwai oleh masyarakat pendukungnya. Perangkat model-model
pengetahuan tadi, berisi konsep-konsep, teori-teori, dan metode atau teknik .
Keseluruhannya itu digunakan secara selektif untuk melangsungkan kehidupan,
yaitu memenuhi kebutuhan-kebutuhan: fisik, sosial, dan integratifnya dalam
lapangan: bahasa, agama, seni, ilmu pengetahuan, organisasi sosial (politik),
teknologi, dan ekonomi.
Dengan demikian, makalah ini akan membahas lebih lanjut pada bab
pembahasan mengenai masyarakat pesisir yang ditinjau dari segi kepercayaannya.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dapat diambil adalah:
1. Bagaimana kepercayaan masyarakat nelayan di pesisir?
2. Bagaimana upaya pemberdayaan masyarakat nelayan di pesisir?
1.3 Maksud dan Tujuan
Maksud dari pembuatan makalah ini adalah agar lebih mengetahui mengenai
keadaaan religi atau keyakinan masyarakat di wilayah pesisir, khususnya yang
bermata pencaharian sebagai nelayan. Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini
adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui kepercayaan masyarakat nelayan di pesisir
2. Untuk mengetahui pemberdayaan masyarakat nelayan di pesisir

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Sistem Religi dan Keyakinan


Konsep sistem kepercayaan berakar dari sistem pengetahuan dan

pengelolaan lokal atau tradisional (Mitcheli, 1997). Sistem kepercayaan

didasarkan atas beberapa karakter penggunaan sumber daya (Matowanyika,


1991), ialah:
1.

Sepenuhnya pedesaan

2.

Sepenuhnya didasarkan atas produksi lingkungan fisik setempat

3.

Integrasi nilai ekonomi, sosial, budaya serta institusi dengan hubungan


keluarga sebagai kunci sistem distribusi dan keluarga sebagai dasar
pembagian kerja

4.

Sistem distribusi yang mendorong adanya kerjasama\

5. Sistem pemilikan sumber daya yang beragam, tetapi selalu terdapat sistem
pemilikan bersama
6.

Sepenuhnya tergantung pada pengetahuan dan pengalaman lokal.


Pada esensinya, unsur religi (sistem kepercayaan/keyakinan dengan praktik

seremonial ) dari suatu kebudayaan berfungsi untuk pemenuhan kebutuhan


manusia akan hubungan atau kesatuannya dengan Tuhan Yang Maha Kuasa,
pencipta alam semesta dengan segala isinya. Berikut, agama secara ideal dipahami
sebagai yang berfungsi regulasi berkehidupan bersesama, berhubungan dengan
dan pengelolaan (pemeliharaan) pemanfaatan sumber daya alam sebagai berkah
dari-Nya. Agama dengan demkian, dipahami sebagai pedoman kehidupan
masyarakat manusia untuk selamat dunia dan akhirat.
Pada kebanyakan kelompok dan komunitas nelayan dan pelayar di dunia,
agama lebih difungsikan dalam urusan duniawi yang pragmatis dari pada
pemungsiannya secara ideal atau esensialnya, yakni sebagai mekanisme
pemecahan persoalan-persoalan lingkungan fisik dan sosial ekonomi yang

dihadapinya di laut sehari-hari. Sama halnya kepercayaan pada ilmu magic dan
praktik sihir yang digunakan oleh masyarakat nelayan atau pelayar (secara
individual atau kelompok) untuk memecahkan berbagai masalah seperti itu karena
tidak dapat diatasi dengan akal sehat dan praktik biasa. Contohnya :

Nelayan Urk (Belanda) meyakini sumber daya dan hasil laut sebagai
berkah dari Tuhan yang harus diusahakan dengan kerja keras disertai doa.
Bahkan, mesin raksasa 3000 PK yang menggerakkan kapal berbobot
ratusan ton diyakini sebagai nakhoda yang digerakkan oleh pneggerak
utama, yaitu Tuhan. Keyakinan religius terkait kehidupan ekonomi dan
kecanggihan iptek ini terwujud dalam pelaksanaan ibadah gereja setiap
hari minggu (Heilig dag), mengharamkan pembatasan kelahiran karena
anak adalah berkah dari Tuhan (Zegen Van God) yang kelak menjadi awak
kapal yang terampil dan produktif. Dan, tidak boleh menggunakan
kendaraan bermotor/mesin pada hari minggu sebagai penghargaan pada

Tuhan penggera mekanik yang utama (Lampe,1986).


Nelayan Islandia hingga sekarang masih banyak yang percaya bahkan
mengandalkan kekuatan bisikan mahluk halus dan roh nenek moyang,
petunjuk mimpi dan firasat serta feeling dan intuisi yang dikombinasikan
dengan sistem manajemen formal ekonomi yang modern dan rasional
sebagai model untuk sikses dan selamat (model for success and model for

safety) (Palsson, 2001).


Kebanyakan nelayan Bugis, Bajo, Makassar dan Madura yang beragama
Islam sangat percaya pada kekuasaan Allah dan takdir-Nya. Sedikit
banyaknya hasil yang diperoleh senantiasa dikembalikan pada ketentuan

takdir. Rintangan arus dan ombak besar yang diarungi ; dalamnya laut
yang diselami pencari teripang, berbahaya dan angkernya berbagai tempat
yang justru kaya sumberdayanya. Dan ancaman raksasa laut (gurita, hiu
dan paus) semuanya dihadapi dan dilawan atau dihindari dengan
keyakinan religius dan praktik ritual (doa dan penyembahan sesaji).
Keberanian pelaut dari sulawesi selatan dan Tenggara menjelajahi perairan
Nusantara ini sebagian besar dilandasi keyakinan agama, bukan atas modal
pengetahuan dan keterampilan berlayar serta etos ekonomi yang tinggi
semata.
Kebanyakan nelayan suku bangsa Fanti-Ghana (Afrika Barat) dan

komunitas-komunitas nelayan dan pelayar di negara-negara kepulauan


pasifik, termasuk kepulauan Trobriand, percaya dan melakukan praktik
magic untuk menjaga keselamatan mereka dari gangguan hantu-hantu laut.
Bahkan nelayan melakukan persaingan memperebutkan sumber daya laut
dengan menggunakan kekuatan supranatural / jimat dan praktik sihir.
Sistem kepercayaan dalam memanfaatkan sumber daya laut masyarakat
pesisir selalu mengikuti kebiasaan yang sudah menjadi tradisi adat bahkan ada
yang melakukannya dengan suatu acara dalam bentuk ritual yang menurut sistem
kepercayaan dan pengetahuan masyarakat setempat ritual tersebut dapat
memberikan mereka hasil usaha sebagai nelayan maupun keselamatan selama
melaut.
Di lain pihak mereka juga percaya bahwa pada kondisi tertentu, ketika
penghuni alam ini, maksudnya manusia serakah dan bertindak dalam
memanfaatkan sumberdaya alam laut dan pesisir tidak sesuai dengan sistem nilai,

hukum adat dan tradisi budaya yang dianut, maka alam akan bertindak sebaliknya
yakni memberi sanksi dan hukuman kepada manusia. Menurut sistem
kepercayaan masyarakat setempat bentuk hukuman yang alam berikan kepada
mereka dalam memanfaatkan sumberdaya alam laut dan pesisir yang tidak sesuai
dengan kesepakatan adat dan tradisi masyarakat setempat, dapat berupa bencana
alam, sakit yang tidak dapat diobati secara medis, kecelakaan baik di laut dan di
darat (tenggelam, digigit ikan hiu, paus, ular atau jatuh dari pohon).
Resiko dan hukuman alam ini dapat dialami secara fatal yakni menimbulkan
kematian dan/atau hanya menimbulkan kecelakaan seperti luka, patah, hilang
beberapa organ tubuh dan dapat juga menimbulkan kelumpuhan serta
mempengaruhi gangguan kejiwaan (gila). Mereka sangat menyadari bahwa nilainilai tersebut merupakan warisan leluhur yang perlu ditumbuh-kembangkan
kembali agar menjadi penuntun moral dan pranata untuk mengatur masyarakat
dalam menfaatkan sumberdaya pesisir dan laut secara bertanggung jawab dan
berkelanjutan. Kesadaran masyarakat dalam melestarikan sistem kepercayaan
yang berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut, juga disebabkan
oleh adanya kekewatiran akan pudarnya atau hilangnya nilai-nilai sistem
kepercayaan . Fenomena lainnya adalah dewasa ini di mana-mana terjadi perilaku
pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut cenderung bersifat destruktif dan tidak
ramah lingkungan.
Selain itu masyarakat pesisir umumnya merasa pesimis dan meragukan
implementasi hukum-hukum positif termasuk aparat penegak hukum. Respons
masyarakat terhadap hukum-hukum positif yang ada dan berlaku sangat rendah.

Hal ini disebabkan karena adanya kenyataan bahwa para pelaku penrusakan
lingkungan yang ditangkap, tidak jelas penyesaiannya dan tidak membuat jera
terhadap para pelaku pengrusak lingkungan.
2.2 Pemberdayaan Masyarakat Pesisir
Pembangunan memiliki visi memberdayakan manusia dan masyarakat dalam
arti seluas-luasnya. Sebab sepanjang zaman keswadayaan merupakan sumber daya
kehidupan yang abadi dengan manusia sebagai intinya dan partisipasi merupakan
perwujudan optimalnya. Keberdayaan masyarakat merupakan modal utama
masyarakat untuk mengembangkan dirinya serta mempertahankan diri di tengah
masyarakat lainnya. Masyarakat pesisir yang sebagian besar merupakan
masyarakat nelayan memiliki karakteristik yang berbeda dengan masyarakat
lainnya.
Perbedaan ini dikarenakan keterkaitannya yang erat dengan karakteristik
ekonomi wilayah pesisir, latar belakang budaya dan ketersediaan sarana dan
prasarana penunjang. Pada umumnya, masyarakat pesisir mempunyai nilai budaya
yang berorientasi selaras dengan alam, sehingga teknologi memanfaatkan
sumberdaya alam adalah teknologi adaptif dengan kondisi wilayah pesisir. Di
wilayah DKI Jakarta, kehidupan sosial masyarakat pesisirnya tidak berbeda jauh
dengan kehidupan sosial masyarakat pesisir lainnya yang ada di Indonesia,
misalnya rendahnya pendidikan, produktivitas yang sangat tergantung pada
musim, terbatasnya modal usaha, kurangnya sarana penunjang buruknya
mekanisme pasar dan lamanya transfer teknologi dan komunikasi yang
mengakibatkan pendapatan masyarakat pesisir, khususnya nelayan pengolah

menjadi tidak menentu. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, dalam era
pembangunan yang semakin kompleks dan kompetitif, nelayan pengolah
dihadapkan pada tantangan yang semakin besar dalam keterkaitan usaha nelayan
dengan berbagai aspek lingkungan yang mempengaruhinya serta persaingan
dalam pemanfaatan dan penggunaan sumberdaya yang tersedia.
Permasalahan mendasar dari kemiskinan yang terjadi di masyarakat tentunya
para nelayan yang tidak berdaya adalah kurang terlibatnya para nelayan dalam
pemberdayaan sosial ekonomi. Masyarakat kurang dilibatkan secara total dalam
pelaksanaan program pembangunan yang menyangkut kepentingan diri mereka
sendiri. Sedangkan pemberdayaan masyarakat seakan-akan menjadi new
mainstream upaya bagi pengentasan kemiskinan. Keberhasilan suatu proses
pemberdayaan dapat dilihat dari seberapa erat kerjasama antara masyarakat dan
stakeholder dan stakeholder dengan pihak pemerintah daerah. Menciptakan
lapangan kerja dan mendekatkan masyarakat dengan sumber modal, teknologi dan
pasar merupakan salah satu cara pendekatan dari proses pemberdayaan.
Setelah dikembangkannya program pemberdayaan di masyarakat pesisir,
maka perlu adanya rancangan program-program yang dapat diimplementasikan
sampai generasi mendatang, dapat mengatasi masalah kemiskinan masyarakat
pesisir dan meningkatkan pendapatan para nelayan. Program pengentasan
kemiskinan contohnya penggunaan es dan rantai dingin. Nelayan menggunakan es
untuk hasil tangkapan ikan mereka agar awet sejak ikan ditangkap sampai ikan
tiba di pasar.

Program besar lain yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengentaskan


kemiskinan adalah

pembangunan

sarana

perikanan

khususnya

pelabuhan

perikanan dari yang paling kecil yang dimiliki nelayan sampai yang paling besar
pelabuhan perikanan samudera. Selain program-program diatas, pengembangan
koperasi perikanan, kelompok usaha bersama, dan pengembangan kemitraan
usaha dapat dijadikan rujukan program untuk mengentaskan kemiskinan
(Nikijuluw dalam Bengen, 2001) Selain program pengentasan kemiskinan,
program pengelolaan wilayah pesisir juga sangatlah penting karena komunitas
masyarakat pesisir berdomisili di wilayah pesisir dan menggantungkan hidupnya
dengan sumber daya yang terkandung di wilayah pesisir dan laut. Pada saat yang
sama juga masyarakat harus bisa menjaga lingkungan dan ekosistem pesisir agar
penggunaan sumberdaya pesisir tidak menimbulkan dampak negatif.
Langkah pertama program pengelolaan sumberdaya adalah mengidentifikasi
isu dan masalah di wilayah pesisir, mengadakan program pendidikan penyuluhan
bagi masyarakat, mengadakan kerjasama antara masyarakat dengan suatu lembaga
(Darmawan dalam Bengen,2001)
Program

nyatanya

adalah

pengelolaan

dan

budidaya

perikanan,

pengembangan sistem agribisnis dalam upaya meningkatkan pendapatan para


nelayan. Program lain adalah kebijakan pemerintah dalam pemanfaatan
sumberdaya

alam

untuk

mengembangkan

pariwisata

secara

optimal

namun seimbang antara manfaat lingkungan, manfaat sosial, dan manfaat


ekonomi (Soebagio,2004)

Namun

perlu

diperhatikan,

pembangunan

sarana

pariwisata

yang

menggunakan sumberdaya dan keindahan lingkungan laut harus sesuai dengan


ekowisata. Karena bisa jadi hal tersebut dapat mengakibatkan tingginya biaya
hidup setempat. Sementara itu, keunikan ekosistem di suatu lingkungan adalah
nilai

dasar

dan

modal

utama

yang

dapat

dijadikan

landasan

untuk

mengembangkan pariwisata.
Saat ini banyak program pemberdayaan yang menklaim sebagai program
yang berdasar kepada keinginan dan kebutuhan masyarakat (bottom up), tapi
ironisnya masyarakat tetap saja tidak merasa memiliki akan program-program
tersebut sehingga tidak aneh banyak program yang hanya seumur masa proyek
dan berakhir tanpa dampak berarti bagi kehidupan masyarakat.
Pertanyaan kemudian muncul apakah konsep pemberdayaan yang salah atau
pemberdayaan dijadikan alat untuk mencapai tujuan tertentu dari segolongan
orang?
Memberdayakan masyarakat pesisir berarti menciptakan peluang bagi
masyarakat pesisir untuk menentukan kebutuhannya, merencanakan dan
melaksanakan kegiatannya, yang akhirnya menciptakan kemandirian permanen
dalam kehidupan masyarakat itu sendiri.
Memberdayakan masyarakat pesisir tidaklah seperti memberdayakan
kelompok-kelompok masyarakat lainnya, karena didalam habitat pesisir terdapat
banyak kelompok kehidupan masayarakat diantaranya:
a)

Masyarakat nelayan tangkap, adalah kelompok masyarakat pesisir yang mata

pencaharian utamanya adalah menangkap ikan dilaut. Kelompok ini dibagi lagi

dalam dua kelompok besar, yaitu nelayan tangkap modern dan nelayan tangkap
tradisional. Keduanya kelompok ini dapat dibedakan dari jenis kapal/peralatan
yang
b)

digunakan

dan

jangkauan

wilayah

tangkapannya.

Masyarakat nelayan pengumpul/bakul, adalah kelompok masyarakt pesisir

yang bekerja disekitar tempat pendaratan dan pelelangan ikan. Mereka akan
mengumpulkan ikan-ikan hasil tangkapan baik melalui pelelangan maupun dari
sisa ikan yang tidak terlelang yang selanjutnya dijual ke masyarakat sekitarnya
atau dibawah ke pasar-pasar lokal. Umumnya yang menjadi pengumpul ini
adalah kelompok masyarakat pesisir perempuan.
c)

Masayarakat nelayan buruh, adalah kelompok masyarakat nelayan yang

paling banyak dijumpai dalam kehidupan masyarakat pesisir. Ciri dari mereka
dapat terlihat dari kemiskinan yang selalu membelenggu kehidupan mereka,
mereka tidak memiliki modal atau peralatan yang memadai untuk usaha produktif.
Umumnya mereka bekerja sebagai buruh/anak buah kapal (ABK) pada kapalkapal juragan dengan penghasilan yang minim.
d)

Masyarakat nelayan tambak, masyarakat nelayan pengolah, dan kelompok

masyarakat nelayan buruh.


Setiap kelompok masyarakat tersebut haruslah mendapat penanganan dan
perlakuan khusus sesuai dengan kelompok, usaha, dan aktivitas ekonomi mereka.
Pemberdayaan masyarakat tangkap minsalnya, mereka membutukan sarana
penangkapan dan kepastian wilayah tangkap. Berbeda dengan kelompok
masyarakat tambak, yang mereka butuhkan adalah modal kerja dan modal
investasi, begitu juga untuk kelompok masyarakat pengolah dan buruh.

Kebutuhan

setiap

kelompok

yang

berbeda

tersebut,

menunjukkan

keanekaragaman pola pemberdayaan yang akan diterapkan untuk setiap kelompok


tersebut.
Dengan demikian program pemberdayaan untuk masyarakat pesisir haruslah
dirancang dengan sedemikian rupa dengan tidak menyamaratakan antara satu
kelompk dengan kelompok lainnya apalagi antara satu daerah dengan daerah
pesisir lainnya. Pemberdayaan masyarakat pesisir haruslah bersifat bottom up dan
open menu, namun yang terpenting adalah pemberdayaan itu sendiri yang harus
langsung menyentuh kelompok masyarakat sasaran. Persoalan yang mungkin
harus dijawab adalah: Bagaimana memberdayakannya?
Banyak program pemberdayaan yang sudah dilaksanakan pemerintah, salah
satunya adalah pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir (PEMP). Pada intinya
program ini dilakukan melalui tiga pendekatan, yaitu:
(a) Kelembagaan. Bahwa untuk memperkuat posisi tawar masyarakat, mereka
haruslah terhimpun dalam suatu kelembagaan yang kokoh, sehingga segala
aspirasi dan tuntutan mereka dapat disalurkan secara baik. Kelembagaan ini juga
dapat menjadi penghubung (intermediate) antara pemerintah dan swasta. Selain
itu kelembagaan ini juga dapat menjadi suatu forum untuk menjamin terjadinya
perguliran dana produktif diantara kelompok lainnya.
(b)

Pendampingan. Keberadaan pendamping memang dirasakan sangat

dibutuhkan dalam setiap program pemberdayaan. Masyarakat belum dapat


berjalan sendiri mungkin karena kekurangtauan, tingkat penguasaan ilmu
pengetahuan yang rendah, atau mungkin masih kuatnya tingkat ketergantungan

mereka karena belum pulihnya rasa percaya diri mereka akibat paradigmaparadigma pembangunan masa lalu. Terlepas dari itu semua, peran pendamping
sangatlah vital terutama mendapingi masyarakat menjalankan aktivitas usahanya.
Namun yang terpenting dari pendampingan ini adalah menempatkan orang yang
tepat pada kelompok yang tepat pula.
(c) Dana Usaha Produktif Bergulir. Pada program PEMP juga disediakan dana
untuk mengembangkan usaha-usaha produktif yang menjadi pilihan dari
masyarakat itu sendiri. Setelah kelompok pemanfaat dana tersebut berhasil,
mereka harus menyisihkan keuntungannya untuk digulirkan kepada kelompok
masyarakat lain yang membutuhkannya.

Pengaturan pergulirannya akan

disepakati di dalam forum atau lembaga yang dibentuk oleh masyarakat sendiri
dengan fasilitasi pemerintah setempat dan tenaga pendamping.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1. kebanyakan kelompok dan komunitas nelayan dan pelayar di dunia, agama
lebih difungsikan dalam urusan duniawi yang pragmatis dari pada
pemungsiannya secara ideal atau esensialnya, yakni sebagai mekanisme
pemecahan persoalan-persoalan lingkungan fisik dan sosial ekonomi yang
dihadapinya di laut sehari-hari.
2. Upaya program pemberdayaan yang sudah dilaksanakan pemerintah, salah
satunya adalah Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP).

DAFTAR PUSTAKA
Fadilah Madjid. 2013. Religiusitas dan Pemberdayaan. http://fadilahmadjid.
blogspot.com /2013/03/ religiusitas-dan-pemberdayaan.html. Diakses pada
Selasa, 26 Mei 2015, pukul 20:32 WITA
Kusnadi. 2000. Nelayan: Strategi Adaptasi dan Jaringan Sosial. Cet. 1. Bandung:
Humaniora Utama Press
Syam, Nur. 2005. Islam Pesisir. Jakarta : Pelangi Aksara
Wahyono, A., 2001, Pemberdayaan Masyarakat Nelayan, Media Pressindo,
Yogjakarta. Undang-Undang Negara RI Nomor 32 tentang Perikanan dan
Kelautan, Tahun 2004