Anda di halaman 1dari 21

BAB II

PEMBAHASAN
II.1 Anamnesis
Dari hasil anamnesis pasien seorang wanita berumur 53 tahun didapatkan
bahwa telinga kanan pasien berdenging(tinitus) disertai ottorhea dari telinga
kanan selama 2 bulan dengan riwayat mengorek ngorek telinga secara rutin 4x
seminggu. Sebelumnya pasien mengalami infeksi saluran pernafasan. Adanya
faktor predisposisi diesrtai dengan kebiasaan mengorek ngorek telinga sehingga
menimbulkan proses reaksi inflamasi pada telinga tengah yang bersifat akut dan
menyebabkan timbulnya gejala penurunan pendengaran dan keluarnya cairan pada
kedua telinga pasien, namun karena pengobatan yang tidak adekuat maupun
virulensi bakteri yang tinggi proses tersebut berlanjut ke arah kronik.
II.2 Pemeriksaan Fisik
Dari hasil pemeriksaan fisik pada telinga kanan tidak ditemukan adanya
discharge/sekret (-), tanda radang (-) dry ear. MT perforasi pars tensa dengan
letak sentral yang besar sehingga menyebabkan reflex cahaya menjadi negatif.
Sedangkan jaringan granulasi, polip, dan kolesteatoma tidak ditemukan
menunjukkan bahwa OMSK pada pasien bersifat benigna/tubotimpanal dengan
permanent perforation syndrome.

II.3 Patofisiologi

OMA
OMSK

Ggn tuba
menetap

Epitelisasi
membran

Terapi tidak
adekuat

Perforasi
membran timpani
menetap

Pertahanan
host buruk

Infeksi telinga
tengah

Mastoiditis
Choleastoma
kongenital

Aticoantral/maligna

Tubotimpanal/beningna

perforasi sentral

Radang persisten
mukosa

Tidak menutup

Granulasi,
fibrosis, polip

Permanen
perforation
syndrome

Infeksi
menetap 2
bulan

Virulensi
tinggi

Persistent
mucosal
disease

Perforasi marginal
atau attic

Drainase buruk

Timpano mastoid
disease

Migrasi epitel
CAE atau
membran
timpani

Choleastoma

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

III.1 DEFINISI
Suatu radang kronis telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan
riwayat keluarnya sekret dari telinga (otorea) lebih dari 2 bulan, baik terus
menerus atau hilang timbul.
III.2 EPIDEMIOLOGI
Insiden OMSK ini bervariasi pada setiap negara. Secara umum, insiden
OMSK dipengaruhi oleh ras dan faktor sosioekonomi. Misalnya, OMSK lebih
sering dijumpai pada orang Eskimo dan Indian Amerika, anak-anak aborigin
Australia dan orang kulit hitam di Afrika Selatan. Walaupun demikian, lebih dari
90% beban dunia akibat OMSK ini dipikul oleh negara-negara di Asia Tenggara,
daerah Pasifik Barat, Afrika, dan beberapa daerah minoritas di Pasifik. Kehidupan
sosial ekonomi yang rendah, lingkungan kumuh dan status kesehatan serta gizi
yang jelek merupakan faktor yang menjadi dasar untuk meningkatnya prevalensi
OMSK pada negara yang sedang berkembang. Secara umum, prevalensi OMSK di
Indonesia adalah 3,8% dan pasien OMSK merupakan 25% dari pasien-pasien
yang berobat di poliklinik THT rumah sakit di Indonesia.
III.3 ETIOLOGI
Penyebab terbesar otitis media supuratif kronis adalah infeksi campuran
bakteri dari meatus auditoris eksternal , kadang berasal dari nasofaring melalui
tuba eustachius saat infeksi saluran nafas atas. Organisme-organisme dari meatus
auditoris eksternal termasuk staphylococcus, pseudomonas aeruginosa, B.proteus,
B.coli dan aspergillus. Organisme dari nasofaring diantaranya streptococcus
viridans (Streptococcus A hemolitikus, streptococcus B hemolitikus dan
pneumococcus).

III.4 PATOGENESIS
Pada keadaan normal, muara tuba Eustachius berada dalam keadaan
tertutup dan akan membuka bila kita menelan. Tuba Eustachius ini berfungsi

untuk menyeimbangkan tekanan udara telinga tengah dengan tekanan udara luar
(tekanan udara atmosfer). Fungsi tuba yang belum sempurna, tuba yang pendek,
penampang relatif besar pada anak dan posisi tuba yang datar menjelaskan
mengapa suatu infeksi saluran nafas atas pada anak akan lebih mudah menjalar ke
telinga tengah sehingga lebih sering menimbulkan OM daripada dewasa.
Pada anak dengan infeksi saluran nafas atas, bakteri menyebar dari
nasofaring melalui tuba Eustachius ke telinga tengah yang menyebabkan
terjadinya infeksi dari telinga tengah. Pada saat ini terjadi respons imun di telinga
tengah. Mediator peradangan pada telinga tengah yang dihasilkan oleh sel-sel
imun infiltrat, seperti netrofil, monosit, dan leukosit serta sel lokal seperti
keratinosit dan sel mastosit akibat proses infeksi tersebut akan menambah
permiabilitas pembuluh darah dan menambah pengeluaran sekret di telinga
tengah. Selain itu, adanya peningkatan beberapa kadar sitokin kemotaktik yang
dihasilkan mukosa telinga tengah karena stimulasi bakteri menyebabkan
terjadinya akumulasi sel-sel peradangan pada telinga tengah.
Mukosa telinga tengah mengalami hiperplasia, mukosa berubah bentuk
dari satu lapisan, epitel skuamosa sederhana, menjadi pseudostratified respiratory
epithelium dengan banyak lapisan sel di antara sel tambahan tersebut. Epitel
respirasi ini mempunyai sel goblet dan sel yang bersilia, mempunyai stroma yang
banyak serta pembuluh darah. Penyembuhan OM ditandai dengan hilangnya selsel tambahan tersebut dan kembali ke bentuk lapisan epitel sederhana.
III.5 KLASIFIKASI OMSK
OMSK dapat dibagi atas 2 tipe yaitu :
1. Tipe tubotimpani = tipe jinak = tipe aman
Penyakit tubotimpani ditandai oleh adanya perforasi sentral atau pars tensa
dan gejala klinik yang bervariasi dari luas dan keparahan penyakit. Beberapa
faktor lain yang mempengaruhi keadaan ini terutama patensi tuba eustachius,
infeksi saluran nafas atas, pertahanan mukosa terhadap infeksi yang gagal
pada pasien dengan daya tahan tubuh yang rendah, disamping itu campuran
bakteri aerob dan anaerob, luas dan derajat perubahan mukosa, serta migrasi
sekunder dari epitel skuamous. Sekret mukoid kronis berhubungan dengan

hiperplasia goblet sel, metaplasia dari mukosa telinga tengah pada tipe
respirasi dan mukosiliar yang jelek.
Secara klinis penyakit tubotimpani terbagi atas:
1. Permanent perforation sindrom
MT perforasi berbagai ukuran dan bentuk, perforasi pars tensa sering
besar/sub total tidak dapat menutup, discharge (-), tanda radang (-)
disebut dry ear. Gejala yang dijumpai berupa tuli konduktif ringan,
vertigo, tinitus,atau suatu rasa penuh dalam telinga.
Faktor predisposisi pada penyakit tubotimpani :
Infeksi saluran nafas yang berulang, alergi hidung, rhinosinusitis
kronis
Pembesaran adenoid pada anak, tonsilitis kronis
Mandi dan berenang dikolam renang, mengkorek telinga dengan alat
yang terkontaminasi
Malnutrisi dan hipogammaglobulinemia
Otitis media supuratif akut yang berulang
Terapi :
- Miringoplasti
2. Persisten mucosa disease
Mukosa tidak dapat pulih seperti semula gangguan mukosa (jaringan
fibrosis, granulasi, polip).
Hampir selalu ada discharge serous mucous, purulen, perforasi sentral.
Terapi :
- Antibiotic sistemik/topical jika discharge aktif suction discharge.
- Pengangkatan polip dan granulasi local treatment
- Eliminasi fokal infeksi : adenoid, tonsil, sinusitis.
- Operasi mastoid kadang diperlukan.
2. Tipe atikoantral = tipe ganas = tipe tidak aman
Penyakit atikoantral lebih sering mengenai pars flaksida dan khasnya dengan
terbentuknya kantong retraksi yang mana bertumpuknya keratin sampai
menghasilkan kolesteatom.
Tipe atikoantral dibagi menjadi 2 jenis :
1. Timpani Mastoid Disease

Ditandai discharge supuratif, sering terjadi granulasi, polip, granuloma,


MT perforasi di atik / marginal.
2. Kolesteatom
Kolesteatom dapat dibagi atas 2 tipe yaitu :
a. Kongenital
Terbentuk pada masa embrionik dgn MT utuh tanpa tanda tanda
infeksi. Lokasi : cavum timpani, daerah petrosus mastoid, dan
cerebellopontin angle. Dapat menyebabkan fasialis parese, tuli saraf
berat unilateral, dan gangguan keseimbangan.
b. Didapat / akuisita
-

Primer
Teori Invaginasi timbul akibat proses invaginasi MT pars flaksida
karena adanya tekanan negatif di telinga tengah akibat gangguan tuba.

Sekunder
a. Teori Migrasi timbul akibat masuknya epitel kulit dari liang
telinga / dari pinggir perforasi MT ke telinga tengah.
b. Teori Metaplasi timbul akibat metaplasi mukosa cavum timpani
karena iritasi infeksi yg berlangsung lama.

Teori Lainnya
Teori Implantasi timbul akibat implantasi epitel kulit secara
iatrogenik ke dalam telinga tengah sewaktu operasi, setelah blust
injury, pemasangan pipa ventilasi, dan setelah miringotomi.

III.6 DIAGNOSIS
III.6.1 Anamnesis
1. Telinga berair (otorrhoe)
Sekret bersifat purulen ( kental, putih) atau mukoid ( seperti air dan encer)
tergantung stadium peradangan. Sekret yang mukus dihasilkan oleh aktivitas
kelenjar sekretorik telinga tengah dan mastoid. Pada OMSK tipe jinak, cairan

yang keluar mukopus yang tidak berbau busuk yang sering kali sebagai reaksi
iritasi mukosa telinga tengah oleh perforasi membran timpani dan infeksi.
Keluarnya secret biasanya hilang timbul. Meningkatnya jumlah sekret dapat
disebabkan infeksi saluran nafas atas atau kontaminasi dari liang telinga luar
setelah mandi atau berenang.
Pada OMSK stadium inaktif tidak dijumpai adannya sekret telinga. Sekret
yang sangat bau, berwarna kuning abu-abu kotor memberi kesan kolesteatoma
dan produk degenerasinya. Dapat terlihat keping-keping kecil, berwarna putih,
mengkilap. Pada OMSK tipe ganas unsur mukoid dan sekret telinga tengah
berkurang atau hilang karena rusaknya lapisan mukosa secara luas. Sekret yang
bercampur darah berhubungan dengan adanya jaringan granulasi dan polip telinga
dan merupakan tanda adanya kolesteatom yang mendasarinya. Suatu sekret yang
encer berair tanpa nyeri mengarah kemungkinan tuberkulosis.
2. Gangguan pendengaran
Ini tergantung dari derajat kerusakan tulang-tulang pendengaran. Biasanya
dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Gangguan
pendengaran mungkin ringan sekalipun proses patologi sangat hebat, karena
daerah yang sakit ataupun kolesteatom, dapat menghambat bunyi dengan efektif
ke fenestra ovalis. Bila tidak dijumpai kolesteatom, tuli konduktif kurang dari 20
db ini ditandai bahwa rantai tulang pendengaran masih baik. Kerusakan dan
fiksasi dari rantai tulang pendengaran menghasilkan penurunan pendengaran lebih
dari 30 db. Beratnya ketulian tergantung dari besar dan letak perforasi membran
timpani serta keutuhan dan mobilitas sistem pengantaran suara ke telinga tengah.
Pada OMSK tipe maligna biasanya didapat tuli konduktif berat karena putusnya
rantai tulang pendengaran, tetapi sering kali juga kolesteatom bertindak sebagai
penghantar

suara

sehingga

ambang

pendengaran

yang

didapat

harus

diinterpretasikan secara hati-hati.


Penurunan fungsi kohlea biasanya terjadi perlahan-lahan dengan
berulangnya infeksi karena penetrasi toksin melalui jendela bulat (foramen
rotundum) atau fistel labirin tanpa terjadinya labirinitis supuratif. Bila terjadinya

labirinitis supuratif akan terjadi tuli saraf berat, hantaran tulang dapat
menggambarkan sisa fungsi koklea.
3. Otalgia ( nyeri telinga)
Nyeri tidak lazim dikeluhkan penderita OMSK, dan bila ada merupakan
suatu tanda yang serius. Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena terbendungnya
drainase pus. Nyeri dapat berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan
pengaliran sekret, terpaparnya durameter atau dinding sinus lateralis, atau
ancaman pembentukan abses otak. Nyeri telinga mungkin ada tetapi mungkin oleh
adanya otitis eksterna sekunder. Nyeri merupakan tanda berkembang komplikasi
OMSK seperti Petrositis, subperiosteal abses atau trombosis sinus lateralis.
4. Vertigo
Vertigo pada penderita OMSK merupakan gejala yang serius lainnya.
Keluhan vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin akibat
erosi dinding labirin oleh kolesteatom. Vertigo yang timbul biasanya akibat
perubahan tekanan udara yang mendadak atau pada panderita yang sensitif
keluhan vertigo dapat terjadi hanya karena perforasi besar membran timpani yang
akan menyebabkan labirin lebih mudah terangsang oleh perbedaan suhu.
Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan meyebabkan keluhan vertigo.
Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi serebelum. Fistula merupakan temuan
yang serius, karena infeksi kemudian dapat berlanjut dari telinga tengah dan
mastoid ke telinga dalam sehingga timbul labirinitis dan dari sana mungkin
berlanj ut menjadi meningitis. Uji fistula perlu dilakukan pada kasus OMSK
dengan riwayat vertigo. Uji ini memerlukan pemberian tekanan positif dan negatif
pada membran timpani, dengan demikian dapat diteruskan melalui rongga telinga
tengah.
III.6.2 Pemeriksaan Klinik
Tanda-tanda klinis OMSK tipe maligna :
1. Adanya Abses atau fistel retroaurikular
2. Jaringan granulasi atau polip diliang telinga yang berasal dari kavum timpani.
3. Pus yang selalu aktif atau berbau busuk ( aroma kolesteatom)

4. Foto rontgen mastoid adanya gambaran kolesteatom.


Untuk melengkapi pemeriksaan, dapat dilakukan pemeriksaan klinik sebagai
berikut :
1. Pemeriksaan Audiometri
Pada pemeriksaan audiometri penderita OMSK biasanya didapati tuli
konduktif. Tapi dapat pula dijumpai adanya tuli sensorineural, beratnya ketulian
tergantung besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan
mobilitas sistim penghantaran suara ditelinga tengah. Paparela, Brady dan Hoel
(1970) melaporkan pada penderita OMSK ditemukan tuli sensorineural yang
dihubungkan dengan difusi produk toksin ke dalam skala timpani melalui
membran fenstra rotundum, sehingga menyebabkan penurunan ambang hantaran
tulang secara temporer/permanen yang pada fase awal terbatas pada lengkung
basal koklea tapi dapat meluas kebagian apek koklea. Gangguan pendengaran
dapat dibagi dalam ketulian ringan, sedang, sedang berat, dan ketulian total,
tergantung dari hasil pemeriksaan.

Gambar 1, Hasil Audiometri


Evaluasi audimetri penting untuk menentukan fungsi konduktif dan fungsi
koklea. Dengan menggunakan audiometri nada murni pada hantaran udara dan
tulang serta penilaian tutur, biasanya kerusakan tulang-tulang pendengaran dapat
diperkirakan, dan bisa ditentukan manfaat operasi rekonstruksi telinga tengah

untuk perbaikan pendengaran. Untuk melakukan evaluasi ini, observasi berikut


bisa membantu :
1. Perforasi biasa umumnya menyebabkan tuli konduktif tidak lebih dari 15-20 dB
2. Kerusakan rangkaian tulang-tulang pendengaran menyebabkan tuli konduktif
30-50 dB apabila disertai perforasi.
3. Diskontinuitas rangkaian tulang pendengaran dibelakang membran yang masih
utuh menyebabkan tuli konduktif 55-65 dB.
4. Kelemahan diskriminasi tutur yang rendah, tidak peduli bagaimanapun keadaan
hantaran tulang, menunjukan kerusakan koklea parah.
Pemeriksaan audiologi pada OMSK harus dimulai oleh penilaian
pendengaran dengan menggunakan garpu tala dan test Barani. Audiometri tutur
dengan masking adalah dianjurkan, terutama pada tuli konduktif bilateral dan tuli
campur.
2. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiografi daerah mastoid pada penyakit telinga kronis nilai
diagnostiknya terbatas dibandingkan dengan manfaat otoskopi dan audiometri.
Pemerikasaan radiologi biasanya mengungkapkan mastoid yang tampak sklerotik,
lebih kecil dengan pneumatisasi lebih sedikit dibandingkan mastoid yang satunya
atau yang normal. Erosi tulang terutama pada daerah atik memberi kesan
kolesteatom.
Proyeksi radiografi yang sekarang biasa digunakan adalah :
1. Proyeksi Schuller
2. Proyeksi Mayer atau Owen
3. Proyeksi Stenver
4. Proyeksi Chause III

III.7 PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan OMSK yang efektif harus didasarkan pada faktor-faktor
penyebab dan pada stadium penyakitnya. Dengan demikian haruslah dievaluasi

10

faktor-faktor yang menyebabkan penyakit menjadi kronis, perubahan-perubahan


anatomi yang menghalangi penyembuhan serta mengganggu fungsi, dan proses
infeksi yang terdapat ditelinga. Bila didiagnosis kolesteatom, maka mutlak harus
dilakukan operasi, tetapi obat -obatan dapat digunakan untuk mengontrol infeksi
sebelum operasi.
Prinsip pengobatan tergantung dari jenis penyakit dan luasnya infeksi,
dimana pengobatan dapat dibagi atas :
1. Konservatif
2. Operasi
OMSK BENIGNA TENANG
Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan, dan dinasehatkan untuk jangan
mengorek telinga, air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi, dilarang berenang
dan segera berobat bila menderita infeksi saluran nafas atas. Bila fasilitas
memungkinkan

sebaiknya

dilakukan

operasi

rekonstruksi

(miringoplasti,

timpanoplasti) untuk mencegah infeksi berulang serta gangguan pendengaran.


OMSK BENIGNA AKTIF
Prinsip pengobatan OMSK benigna aktif adalah :
1. Membersihkan liang telinga dan kavum timpani
2. Pemberian antibiotika :

antibiotika/antimikroba topikal

antibiotika sistemik

1. Pembersihan liang telinga dan kavum timpani (aural toilet)


Tujuan aural toilet adalah membuat lingkungan yang tidak sesuai untuk
perkembangan mikroorganisme, karena sekret telinga merupakan media yang baik
bagi perkembangan mikroorganisme.

11

Gambar 2. Aural Toilet


2. Pemberian antibiotik topikal
Terdapat perbedaan pendapat mengenai manfaat penggunaan antibiotika
topikal untuk OMSK. Pemberian antibiotik secara topikal pada telinga dengan
secret yang banyak tanpa dibersihkan dulu, adalah tidak efektif. Bila sekret
berkurang/tidak progresif lagi diberikan obat tetes yang mengandung antibiotik
dan kortikosteroid. Dianjurkan irigasi dengan garam faal agar lingkungan bersifat
asam dan merupakan media yang buruk untuk tumbuhnya kuman. Selain itu
dikatakan bahwa tempat infeksi pada OMSK sulit dicapai oleh antibiotika topikal.
Djaafar dan Gitowirjono menggunakan antibiotik topikal sesudah irigasi sekret
profus dengan hasil cukup memuaskan, kecuali kasus dengan jaringan patologis
yang menetap pada telinga tengah dan kavum mastoid. Mengingat pemberian obat
topikal dimaksudkan agar masuk sampai telinga tengah, maka tidak dianjurkan
antibiotik yang ototoksik misalnya neomisin dan lamanya tidak lebih dari 1
minggu. Cara pemilihan antibiotik yang paling baik adalah dengan berdasarkan
kultur kuman penyebab dan uji resistensi. Obat-obatan topikal dapat berupa bubuk
atau tetes telinga yang biasanya dipakai setelah telinga dibersihkan dahulu.
Bubuk telinga yang digunakan seperti :
a. Acidum boricum dengan atau tanpa iodine
b. Terramycin.
c. Acidum boricum 2,5 gram dicampur dengan khloromicetin 250 mg
Pengobatan antibiotika topikal dapat digunakan secara luas untuk OMSK
aktif, dikombinasi dengan pembersihan telinga, baik pada anak maupun dewasa.
Neomisin dapat melawan kuman Proteus dan Stafilokokus aureus tetapi tidak aktif
melawan gram negatif anaerob dan mempunyai kerja yang terbatas melawan

12

Pseudomonas karena meningkatnya resistensi. Polimiksin efektif melawan


Pseudomonas aeruginosa dan beberapa gram negatif tetapi tidak efektif melawan
organisme gram positif. Seperti aminoglikosida yang lain, Gentamisin dan
Framisetin sulfat aktif melawan basil gram negative. Tidak ada satu pun
aminoglikosida yang efektif melawan kuman anaerob.
Biasanya tetes telinga mengandung kombinasi neomisin, polimiksin dan
hidrokortison, bila sensitif dengan obat ini dapat digunakan sulfanilaid-steroid
tetes mata. Kloramfenikol tetes telinga tersedia dalam acid carrier dan telinga
akan sakit bila diteteskan. Kloramfenikol aktif melawan basil gram positif dan
gram negative kecuali Pseudomonas aeruginosa, tetapi juga efektif melawan
kuman anaerob, khususnya. Pemakaian jangka panjang lama obat tetes telinga
yang mengandung aminoglikosida akan merusak foramen rotundum, yang akan
menyebabkan ototoksik.
Antibiotika topikal yang sering digunakan pada pengobatan Otitis Media
Supuratif Kronik (OMSK) adalah :

Gambar 3. Terapi Antibiotik Topikal


Catatan:
Terapi topikal lebih baik dibandingkan dengan terapi sistemik. Tujuannya
untuk mendapatkan konsentrasi antibiotik yang lebih tinggi. Pilihan antibiotik
yang memiliki aktifitas terhadap bakteri gram negatif, terutama pseudomonas, dan

13

gram positif terutama Staphylococcus aureus. Pemberian antibiotik seringkali


gagal, hal ini dapat disebabkan adanya debris selain juga akibat resistensi kuman.
Terapi sistemik diberikan pada pasien yang gagal dengan terapi topikal. Jika fokus
infeksi di mastoid, tentunya tidak dapat hanya dengan terapi topikal saja,
pemberian antibiotik sistemik (seringkali IV) dapat membantu mengeliminasi
infeksi. Pada kondisi ini sebaiknya pasien di rawat di RS untuk mendapatkan
aural toilet yang lebih intensif. Terapi dilanjutkan hingga 3-4 minggu setelah otore
hilang.
3. Pemberian antibiotika sistemik
Pemilihan antibiotika sistemik untuk OMSK juga sebaiknya berdasarkan
kultur kuman penyebab. Pemberian antibiotika tidak lebih dari 1 minggu dan
harus disertai pembersihan sekret profus. Bila terjadi kegagalan pengobatan, perlu
diperhatikan faktor penyebab kegagalan yang ada pada penderita tersebut.
Dalam penggunaan antimikroba, perlu diketahui daya bunuh antimikroba
terhadap masing- masing jenis kuman penyebab, kadar hambat minimal terhadap
masing-masing kuman penyebab, daya penetrasi antimikroba di masing-masing
jaringan tubuh dan toksisitas obat terhadap kondisi tubuh. Berdasarkan
konsentrasi obat dan daya bunuh terhadap mikroba, antimikroba dapat dibagi
menjadi 2 golongan. Golongan pertama antimikroba dengan daya bunuh yang
tergantung kadarnya. Makin tinggi kadar obat, makin banyak kuman terbunuh,
misalnya golongan aminoglikosida dan kuinolon. Golongan kedua adalah
antimikroba yang pada konsentrasi tertentu daya bunuhnya paling baik.
Peninggian dosis tidak menambah daya bunuh antimikroba golongan ini, misalnya
golongan beta laktam.

Terapi antibiotik sistemik yang dianjurkan pada Otitis media kronik


adalah:

14

Gambar 4. Terapi Antibiotik Sistemik


Antibiotika golongan kuinolon (siprofloksasin dan ofloksasin) mempunyai
aktifitas anti pseudomonas dan dapat diberikan peroral. Tetapi tidak dianjurkan
diberikan untuk anak dengan umur dibawah 16 tahun. Golongan sefalosforin
generasi III (sefotaksim, seftazidim dan seftriakson) juga aktif terhadap
pseudomonas, tetapi harus diberikan secara parenteral. Terapi ini sangat baik
untuk OMA sedangkan untuk OMSK belum pasti cukup, meskipun dapat
mengatasi OMSK. Metronidazol mempunyai efek bakterisid untuk kuman
anaerob. Metronidazol dapat diberikan pada OMSK aktif, dosis 400 mg per 8 jam
selama 2 minggu atau 200 mg per 8 jam selama 2-4 minggu.
OMSK MALIGNA
Pengobatan yang tepat untuk OMSK maligna adalah operasi. Pengobatan
konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara
sebelum dilakukan pembedahan. Bila terdapat abses subperiosteal, maka insisi
abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi.
Ada beberapa teknik operasi yang dapat dilakukan pada OMSK dengan
mastoiditis kronis, baik tipe benigna atau maligna, antara lain:
1. Mastoidektomi sederhana ( simple mastoidectomy)
2. Mastoidektomi radikal
3. Mastoidektomi radikal dengan modifikasi
4. Miringoplasti
5. Timpanoplasti

15

6. Pendekatan ganda timpanoplasti ( Combined approach tympanoplasty)

Gambar 5. Pembedahan pada tatalaksana OMSK


Tujuan

operasi

adalah

menghentikan

infeksi

secara

permanen,

memperbaiki membran timpani yang perforasi, mencegah terjadinya komplikasi


atau kerusakan pendengaran yang lebih berat, serta memperbaiki pendengaran.
Pedoman umum pengobatan penderita OMSK adalah Algoritma berikut:

III.8 KOMPLIKASI OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK

16

Biasanya komplikasi didapatkan pada pasien OMSK tipe maligna, tetapi


suatu otitis media akut atau suatu eksaserbasi akut oleh kuman yang virulen pada
OMSK tipe benigna pun dapat menyebabkan komplikasi. Komplikasi intra kranial
yang serius lebih sering terlihat pada eksaserbasi akut dari OMSK yang
berhubungan dengan kolesteatom.
III.8.1 Penyebaran Penyakit
Komplikasi OMSK terjadi apabila sawar (barrier) pertahanan telinga
tengah yang normal dilewati, sehingga memungkinkan infeksi menjalar ke
struktur di sekitarnya. Pertahanan pertama ini adalah mukosa kavum timpani yang
juga seperti mukosa saluran nafas, mampu melokalisasi infeksi. Bila sawar ini
runtuh, masih ada sawar kedua, yaitu dinding tulang kavum timpani dan sel
mastoid. Bila sawar ini runtuh, maka struktur lunak disekitarnya akan terkena.
Runtuhnya periostium akan menyebabkan terjadinya abses subperiosteal, suatu
komplikasi yang relatif tidak berbahaya. Apabila infeksi mengarah ke dalam, ke
tulang temporal, maka akan menyebabkan paresis n.fasialis atau labirinitis. Bila
ke arah kranial, akan menyebabkan abses ekstradural, tromboflebitis sinus
lateralis, meningitis dan abses otak. Bila sawar tulang terlampaui, suatu dinding
pertahanan ketiga yaitu jaringan granulasi akan terbentuk. Pada OMSK
penyebaran terjadi melalui erosi tulang. Cara penyebaran lainnya adalah toksin
masuk melalui jalan yang sudah ada, misalnya melalui fenestra rotundum, meatus
akustikus internus, duktus perilimfatik, dan duktus endolimfatik. Dari gejala dan
tanda yang ditemukan, dapat diperkirakan jalan penyebaran suatu infeksi telinga
ke intrakranial.
III.8.1.1 Penyebaran Hematogen
Penyebaran melalui osteotromboflebitis dapat diketahui dengan adanya (1)
komplikasi terjadi pada awal suatu infeksi atau eksaserbasi akut, dapat terjadi
pada hari pertama atau kedua sampai hari ke sepuluh. (2) gejala prodormal tidak
jelas seperti didapatkan pada gejala meningitis lokal. (3) Pada operasi, didapatkan
dinding tulang telinga tengah utuh, dan tulang serta lapisan mukoperiosteal
meradang dan mudah berdarah sehingga disebut juga mastoiditis hemoragika.

17

III.8.1.2 Penyebaran melalui erosi tulang


Penyebaran melalui erosi tulang dapat diketahui bila (1) komplikasi terjadi
beberapa minggu atau lebih setelah awal penyakit. (2) gejala prodormal infeksi
lokal biasanya mendahului gejala infeksi yang lebih luas, misalnya paresis n.fasial
ringan yang hilang timbul mendahului paresis n.fasialis yang total, atau gejala
meningtis lokal mendahului meningitis purulen. (3) pada operasi dapat ditemukan
lapisan tulang yang rusak diantara fokus supurasi dengan struktur sekitarnya.
Struktur jaringan lunak yang terbuka biasanya dilapisi oleh jaringan granulasi
III.8.1.3 Penyebaran melalui jalan yang sudah ada
Penyebaran melalui jalan ini dapat diketahui bila (1) komplikasi terjadi
pada beberapa mingggu setelah awal penyakit, (2) ada serangan labirinitis atau
meningitis berulang, mugkin dapat ditemukan fraktur tengkorak, riwayat operasi
tulang atau riwayat otitis media yang sudah sembuh. Kompliksi intrakranial
mengikuti komplikasi labirinitis supuratif. (3) pada operasi ditemukan jalan
penjalaran melalui sawar tulang yang bukan oleh karena erosi.
III.8.2 Diagnosis Kompliksi yang Mengancam
Bila dalam medikamentosa tidak berhasil mengurangi gejala klinik dengan
tidak berhentinya otorea, dan pada pemeriksaan otoskopik tidak menunjukkan
berkurangnya reaksi inflamasi dan pengumpulan cairan maka harus diwaspadai
kemungkinan terjadinya komplikasi. Pada stadium akut, naiknya suhu tubuh,
nyeri kepala atau adanya tanda toksisitas seperti malaise, perasaan mengantuk
(browsines), somnolen atau gelisah yang menetap dapat merupakan tanda bahaya.
Timbulnya nyeri kepala di daerah parietal atau oksipital dan adanya keluhan mual,
muntah yang proyektil serta kenaikan suhu badan yang menetap selam terapi
diberikan merupakan tanda komplikasi intrakranial.
Pada OMSK, tanda-tanda penyebaran penyakit dapat terjadi setelah sekret
berhenti keluar, hal ini menandakan adanya sekret purulen yang terbendung.
Pemeriksaan

radiologik

dapat

membantu

memperlihatkan

kemungkinan

kerusakan dinding mastoid, tetapi untuk yang lebih akurat diperlukan pemeriksan
CT-Scan. Erosi tulang merupakan tanda nyata komplikasi dan memerlukan

18

tindakan operasi segera. CT scan bermanfaat menegakkan diagnosis sehingga


terapi dapat diberikan lebih cepat dan efektif.
Untuk melihan lesi otak, misalnya abses otak, hidrosefalus dan lain-lain
dapat dilakukan pemeriksaan CT scan otak tanpa dan dengan kontras.
III.8.3 Klasifikasi kompliksi OMSK
Peberapa penulis mengemukakan klasifikasi kompliksai otitis media yang
berlainan, tetapi dasarnya tetap sama.
Adam dkk mengemukakan klasifikasi sebagai berikut :
A. Komplikasi di telinga tengah :
1. Perforasi persisten
2. Erosi tulang pendengaran
3. Paralisis nervus fasial
B. Komplikasi telinga dalam :
1. Fistel labirin
2. Labirinitis supuratif
3. Tuli saraf ( sensorineural)
C. Komplikasi ekstradural :
1. Abses ekstradural
2. Trombosis sinus lateralis
3. Petrositis
D. Komplikasi ke susunan saraf pusat :
1. Meningitis
2. Abses otak
3. Hindrosefalus otitis

Paparella dan Shumrick (1980) membagi dalam :


A. Komplikasi otologik :
1. Mastoiditis koalesen

19

2. Petrositis
3. Paresis fasialis
4. Labirinitis
B. Komplikasi Intrakranial :
1. Abses ekstradural
2. Trombosis sinus lateralis
3. Abses subdural
4. Meningitis
5. Abses otak
6. Hidrosefalus otitis
Shambough (1980) membagi atas komplikasi meningeal dan non meningeal :
A. Komplikasi meningeal :
1. Abses ekstradural dan abses perisinus
2. Meningitis.
3. Tromboflebitis sinus lateral
4. Hidrosefalus otitis
5. Otore likuor serebrospinal
B. Komplikasi non meningeal :
1. Abses otak.
2. Labirinitis.
3. Petrositis.
4. Paresis fasial.

DAFTAR PUSTAKA

20

1. Soepardi, Efiaty Arsyad et.al. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi ke enam. FKUI. Jakarta; 2007: p 7980.
2. Paparella et al. Otolaryngology. Volume II-Otology and Neuro-otology
Third Edition. WB Saunders Company; 1991. p:1363.
3. Nursiah, Siti. Pola Kuman Aerob Penyebab OMSK dan Kepekaan
terhadap beberapa Antibiotika di bagian THT FK USU / RSUP H. Adam
Malik Medan. Medan; 2003.
4. Penatalaksanaan Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK). Cermin Dunia
Kedokteran 163/vol.35 no.4/ JuliAgustus 2008.

21

Anda mungkin juga menyukai