Anda di halaman 1dari 12

STUDI PENGARUH KOMPOSISI PEREKAT LIMBAH KERTAS DALAM

PEMBUATAN BIOBRIKET LIMBAH KULIT SINGKONG

Aneka Firdaus1 dan Aditha Verdian Panae2


1
Dosen tetap Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya
e-mail : nefirda@yahoo.co.id
2
Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya
e-mail : adithaverdian@gmail.com
Abstrak

Indonesia merupakan Negara kelima terbesar penghasil singkong di dunia. Setiap


singkong dapat menghasilkan 10 15 % limbah. Limbah kulit singkong ini dapat
menyebabkan penumpukan yang berakibat pada perusakan lingkungan. Pemanfaatan limbah
kulit singkong sangat diperlukan untuk mengurangi dampak dari limbah tersebut, salah
satunya untuk pembuatan energi alternatif yaitu bioriket. Pada penelitian ini, menggunakan
bahan utama yaitu kulit singkong dicampur dengan limbah kertas sebagai perekat. Suhu
karbonisasi yang digunakan adalah 400 C dengan variasi komposisi perekat sebesar 7%,
7,5%, 8%, 8,5%, 9%, 9,5%, dan 10%. Dari hasil pengujian, briket terbaik adalah pada
komposisi perekat 7 % dengan perolehan nilai kalor sebesar 5888 cal/gr. Serta pada
komposisi 7 %, briket memperoleh nilai kadar air, kadar abu dan kadar zat terbang yang
paling rendah dibanding dengan komposisi perekat lain.
Kata Kunci : energi alternatif, biobriket, kalor pembakaran, singkong, limbah kertas

Abstract
Indonesia is the country's fifth-largest producer of cassava in the world. Each of
cassava can produce 10-15% of waste. This cassava peel waste can cause a buildup that
results in environmental destruction. Utilization of cassava peel waste is necessary to reduce
the impact of waste, one of them for the manufacture of alternative energy that is bioriket. In
this study, using the main ingredient cassava peel mixed with waste paper as an adhesive.
Carbonization temperature used is 400 C with a variation of the adhesive composition of
7%, 7.5%, 8%, 8.5%, 9%, 9.5%, and 10%. From the test results, the best briquette adhesive
composition is at 7% with the acquisition of the calorific value of 5888 cal / g. As well as on
the composition of 7%, the briquettes obtain water content, ash content and volatile matter
content is the lowest compared with other adhesive composition.
Keywords : alternative energy, biobriket, heat of combustion, cassava, waste paper

1. Pendahuluan
Permasalahan
energi
selalu
berkaitan
dengan
keberlangsungan
kehidupan manusia. Pertambahan jumlah

penduduk, peningkatan pola hidup dan


banyaknya industri berkembang yang
mengakibatkan semakin bertambahnya
permintaan akan energi, sedangkan

ketersediaan energi semakin menipis. Hal


ini berdampak pada meningkatnya harga
bahan bakar minyak dunia khususnya
minyak tanah di Indonesia. Mulai tahun
2008 Pemerintah kita melakukan konversi
pemakaian minyak tanah menjadi gas
elpiji untuk keperluan sehari-hari. Namun
pemanfaatan gas elpijji dalam prakteknya
menemui beberapa kesulitan, misalnya
kendala dalam pendistribusian ke daerahdaerah. Di Surabaya, Pejabat Asisten
Manajer Eksternal Relation PT Pertamina
Unit Pemasaran V Eviyanti R mengatakan
bahwa konversi minyak tanah ke elpiji
baru mencapai 50 persen hingga 60 persen.
Kekhawatiran masyarakat memakai tabung
elpiji
merupakan
penyebab
utama
masyarakat enggan memakai elpiji.
Pasokan elpiji seringkali terhambat
padahal diharapkan dapat berperan sebagai
solusi kelangkaan energi.
Kompas (19/11) menyampaikan
bahwa terjadi kelangkaan akses elpiji di
region II yang meliputi wilayah
Jabodetabek,
Kalimantan
Barat,
Kerawang,
Purwakarta,
Cianjur,
Sukabumi, Banten, Bandung, Jawa Barat
bagian Selatan, Cirebon, Majalaya, dan
Kuningan. Di kawasan ini, permintaan
elpiji mencapai 97.500 metrik ton atau
sama dengan persediaan yang ada
sebanyak 97.500 metrik ton. Sementara
itu, stok elpiji di region III yang meliputi
Jawa Tengah bagian utara, Jawa Tengah
Selatan, dan Yogyakarta juga terbatas.
Persediaan elpiji di sekitar Jawa Tengah
dan Yogyakarta sebesar 22.500 metrik ton
namun konsumsi yang ada hanya
mencapai 21.834 metrik ton.
Kelangkaan minyak tanah yang
kemudian disusul
dengan sulitnya
mengakses elpiji sebagai konversi minyak
tanah memicu munculnya kebutuhan akan
sumber energi alternatif, bahkan energi
yang terbarukan. Hal ini tertera dalam
Peraturan Presiden Republik Indonesia
Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan
Energi Nasional, yang menyatakan bahwa
pemerintah mengajak kepada seluruh
pihak maupun kalangan masyarakat

Indonesia
untuk
mensukseskan
pengembangan sumber energi alternatif
pengganti Bahan Bakar Minyak. Sumber
energi terbarukan (renewable) dibutuhkan
untuk penyediaan sumber energi secara
berkesinambungan (sustainable). Hal ini
akan lebih baik lagi apabila berasal dari
limbah, sehingga dapat menurunkan biaya
produksi dan mengurangi efek negatif
penumpukan limbah terhadap lingkungan.
Maka dari itu, diperlukan bahan
bakar alternatif yang murah dan ramah
lingkungan sebagai pengganti minyak
tanah untuk industri kecil dan rumah
tangga. Salah satunya energi alternatif
tersebut adalah penggunaan briket dari
limbah berupa kulit singkong.
Industri
produk
pengolahan
singkong dan pabrik tepung tapioka
merupakan salah satu industri yang banyak
terdapat di Indonesia. Dalam proses
pengolahan singkong, industri tersebut
menghasilkan
limbah
yang
jarang
dimanfaatkan orang, yaitu limbah kulit
singkong.
Menurut
data,
produksi
singkong di Indonesia sangat besar karena
Indonesia termasuk sebagai Negara kelima
terbesar di dunia yang menghasilkan
singkong (Deptan, 2005).
Dari uraian di atas, maka pada
kesempatan ini penulis akan melakukan
penelitian dengan judul Studi Pengaruh
Komposisi Perekat Limbah Kertas Dalam
Pembuatan Biobriket Limbah Kulit
Singkong.
2. Tinjauan Pustaka
2.1 Limbah Kulit Singkong
Ubi kayu merupakan tanaman yang
banyak terdapat di Indonesia. Ubi kayu
dikenal di Indonesia dengan nama lain
ketela pohon atau singkong. Ubi kayu
memiliki nama botani Manihot esculenta
Crantz tapi lebih dikenal dengan nama lain
Manihot utilissima. Tanaman ubi kayu
termasuk ke dalam kingdom Plantae, divisi
Spermatophyta, subdivisi Angiospermae,
kelas
Dicotyledonae,
famili
Euphorbiaceae, genus Manihot dengan

spesies esculenta Crantz dengan berbagai


varietas (Rukmana, 1997).
Menurut United Nation Industrial
Development
Organizatin
(UNIDO),
bahwa Indonesia merupakan negara
penghasil ubi kayu terbesar kedua di Asia
setelah Thailand dan menempati urutan
kelima di dunia setelah Nigeria, Brazil,
Thailand, dan Kongo (Deptan, 2005).
Dengan banyaknya ubi kayu
tersebut, muncul industri industri
pengolahan singkong baik industri kecil
sampai industri besar. Industri pengolahan
singkong ini menghasilkan limbah padat
yang berupa kulit ubi kayu dalam jumlah
yang cukup besar dan dapat memicu
pencemaran lingkungan.

Gambar 1. (a) Singkong (b) Kulit


Singkong

Tabel 1. Komposisi Kimia Kulit Singkong


Parameter
Karbon
Oksigen
Silika
Alumunium
Nitrogen
Potassium
Besi
Kadar Air (2 O)

Komposisi (%)
14,5
66,7
5,7
5,7
5,2
0,85
1,4
33,692

2.2 Briket Bioarang


Briket adalah bahan bakar padat
yang dapat digunakan sebagai sumber
energi alternatif yang mempunyai bentuk
tertentu. Kandungan air pada pembriketan
antara 10 20 % berat. Ukuran briket
bervariasi dari 20 100 gram. Pemilihan
proses pembriketan tentunya harus
mengacu pada segmen pasar agar dicapai

nilai ekonomi, teknis dan lingkungan yang


optimal. Pembriketan bertujuan untuk
memperoleh suatu bahan bakar yang
berkualitas yang dapat digunakan untuk
semua sektor sebagai sumber energi
pengganti.
Briket bioarang adalah briket yang
dibuat dari bahan biomassa atau limbah
biomassa. Biobriket banyak diterapkan di
negara-negara asia bagian selatan seperti
Indonesia,
India,dan
Thailand
(Bhattacharya et al., 1985). Briket
merupakan suatu hasil pemanfaatan
biomassa dengan metode densifikasi atau
pengempaan (Lab. Energi dan Elektrifikasi
Pertanian IPB, 2008). Hasil densifikasi
akan menghasilkan bentuk yang lebih
teratur dan padat. Pada pembuatan briket
proses densifikasi dilakukan dengan cara
memadatkan bahan menjadi datu kesatuan
sehingga
lebih
mudah
dalam
penanganannya. Metoda penanganan pada
bahan dasar yang akan dibuat briket
biasanya dilakukan pada jenis bahan yang
berukuran kecil serta dalam jumlah yang
melimpah. Selain itu, biomassa atau
limbah biomassa yang digunakan sebagai
bahan dasar briket pada umumnya
mempunyai bentuk serbuk atau berbentuk
curah sehingga penanganan maupun
penggunaannya sebagai bahan bakar
kurang efisien.

Gambar
manual

2.

Pembuatan

briket

secara

Pembuatan
biobriket
dapat
menghasilkan produk biobriket dengan
berbagai hasil. Perbedaan ini terlihat dari jenis
bahan baku, kadar air bahan baku (Yaman et
al., 2001), kekuatan tekanan dalam

pemgempaan (Ooi dan Shiddiqui, 1999).


Semakin tinggi kadar air, kekuatan dari
biobriket semakin lemah. Semakin tinggi
tekanan yang diberikan,maka kekuatan dari
briket akan semakin besar dan nilai kalor serta
densitas juga bertambah (Gambar 3 (a).),
namun laju pembakaran berkurang (Gambar 3
(b).).

Gambar 3. (a) Hubungan tekanan dan


densitas (b) Hubungan tekanan dan laju
pembakaran (Ooi dan Shiddiqui, 1999)
2.3 Teknologi Briket
Pada proses pembriketan, terjadi
proses pengolahan yang mengalami

tahapan
karbonisasi
bahan
baku,
penggerusan, pencampuran bahan baku
dengan
perekat,
pencetakan
dan
pengeringan, sehingga diperoleh briket
yang mempunyai bentuk, ukuran fisik, dan
sifat kimia tertentu.
Pada perkembangannya, briket yang
dihasilkan harus sesuai dengan kebutuhan
konsumen. Briket yang dibuat harus bebas
dari zat kimia yang dapat mengganggu dan
membahayakan kesehatan. Disamping itu,
briket harus memiliki daya tahan yang kuat
agar dapat lebih ekonomis penggunaannya
serta tidak berasap dan ukuran yang sesuai
untuk penggunaannya.
Beberapa parameter kualitas briket
yang akan mempengaruhi pemanfaatannya
yaitu:
1) Kandungan Air
Standar acuan: ASTM D 3173 - 11
(Standard
Test
Method for Moisture
in
the
Analysis
Sample of Coal and
Coke)
Moisture yang terkandung dalam briket
dapat dinyatakan dalam dua macam:
a) Free moisture (uap air bebas)

Free moisture dapat hilang dengan


penguapan, misalnya dengan air drying.
Kandungan free moisture sangat penting
dalam perencanaan coal handling dan
preparation equipment.
b) Inherent moisture (uap air terikat)
Kandungan inherent moisture dapat
ditentukan dengan memanaskan briket
antara temperature 104 110 C selama
satu jam.
2) Kandungan Abu
Standar acuan: ASTM D 3174 - 11
(Standard Test Method
of Ash in the Analysis
Sample From Coal and
Coke)
Semua briket mempunyai
kandungan zat anorganik yang dapat
ditentukan jumlahnya sebagai berat yang
tinggal apabila briket dibakar secara
sempurna. Zat yang tinggal ini disebut
abu. Abu briket berasal dari clay, pasir dan
bermacam macam zat mineral lainnya.
Briket dengan kandunga abu yang tinggi
sangat tidak menguntungkan karena aka
membentuk kerak.
3) Kandungan zat terbang (Volatile
matter)
Standar acuan: ISO 562 2010
(Standard
Test
Method Volatille
Matter in Analysis
Sample of Coal
and Coke)
Zat terbang terdiri dari gas-gas yang
mudah terbakar seperti hidrogen, karbon
monoksida (CO), dan metana (CH4), tetapi
kadang-kadang terdapat juga gas-gas yang
tidak terbakar seperti CO2 dan H2O.
Volatile matter adalah bagian dari briket
dimana akan berubah menjadi volatile
matter (produk) bila briket tersebut
dipanaskan tanpa udara pada suhu lebih
kurang 950 oC. Untuk kadar volatile
matter 40 % pada pembakaran akan
memperoleh nyala yang panjang dan akan
memberikan asap yang banyak. Sedangkan
untuk kadar volatile matter rendah antara
15 25% lebih disenangi dalam

pemakaian karena asap yang dihasilkan


sedikit.
4) Nilai kalor
Standar acuan: ASTM D 5865 11a
(Standar
Test
Method for Gross
Calorific Value of
Coal and Coke)
Nilai kalor dinyatakan sebagai
heating value, merupakan suatu parameter
yang penting dari suatu thermal coal.
Gross calorific value diperoleh dengan
membakar suatu sampel briket didalam
bomb calorimeter dengan mengembalikan
sistem ke ambient tempertur. Net calorific
value biasanya antara 93-97 % dari gross
value dan tergantung dari kandungan
inherent moisture serta kandungan
hidrogen dalam briket.
5) Kalor Karbon Padat
Standar Acuan: ASTM D 3172 07a
(Standard Practice
for
Proximate
Analysis of Coal and
Coke)
Karbon karbon padat atau fixed
carbon adalah karbon yang tersisa setelah
bahan baku dibakar atau setelah zat
terbang terlepas. Penentuan jumlah karbon
tertambat pada bahan baku dapat
ditentukan langsung dengan pengurangan
seratus persen terhadap jumlah kandungan
air, zat terbang dan abu.
2.4 Perekat atau Pengikat
Perekat atau pengikat adalah bahan
yang dapat digunakan untuk mengikat
serbuk briket atau arang dari bahan baku
agar dapat menghasilkan briket yang kuat
dan tidak mudah hancur walaupun
dilakukan pada proses penekanan yang
rendah. Perekat yang baik tentunya juga
tidak berbahaya saat digunakan dan
diproduksi.
Menurut Gandi (2010), semakin
tinggi komposisi perekat maka nilai
kalornya semakin rendah dan kadar air
yang dihasilkan semakin tinggi.

Karakteristik bahan baku perekatan


untuk pembuatan briket adalah sebagai
berikut:
Memiliki gaya kohesi yang baik bila
dicampur dengan semikokas atau
batubara.
Mudah terbakar dan tidak berasap.
Mudah didapat dalam jumlah banyak
dan murah harganya.
Tidak mengeluarkan bau, tidak beracun
dan tidak berbahaya.
Bahan bahan yang dapat
digunakan sebagai bahan perekat antara
lain
Pengikat anorganik
Pengikat anorganik dapat menjaga
ketahanan briket selama proses
pembakaran
sehingga
dasar
permeabilitas bahan bakar tidak
terganggu. Pengikat anorganik ini
mempunyai kelemahan yaitu adanya
tambahan abu yang berasal dari bahan
pengikat sehingga dapat menghambat
pembakaran dan menurunkan nilai
kalor. Contoh dari pengikat anorganik
antara lain semen, lempung (tanah liat),
natrium silikat, gypsum.
Pengikat Organik
Pengikat organik menghasilkan abu
yang
relative
sedikit
setelah
pembakaran briket dan umumnya
merupakan bahan perekat yang efektif.
Contoh dari pengikat organik diantara
nya kanji, tar, aspal, amilum, molase
dan parafin.
2.5 Mutu Briket Arang Berdasarkan
Standar Nasional Indonesia
Syarat mutu briket arang untuk
arang kayu (termasuk arang kulit
singkong) menurut Standar Nasional
Indonesia (SNI) no. SNI 01-6235-2000
adalah sebagai berikut:

Tabel 2. Mutu Briket Berdasarkan SNI


Parameter

Kadar Air (%)


Kadar Abu (%)
Kadar Karbon (%)
Nilai Kalor (kal/g)

Standar Mutu
Briket Arang
Kayu (SNI No.
1/6235/2000)
8
8
77
5000

Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan


Kehutanan (1994) dalam Santosa.

2.6 Pembakaran
Pembakaran adalah suatu proses
reaksi kimia antara suatu bahan bakar
dengan suatu oksidan, disertai dengan
produksi panas yang kadang disertai
cahaya dalam bentuk pendar atau api.
Dalam suatu reaksi pembakaran lengkap,
suatu senyawa bereaksi dengan zat
pengoksidasi, dan produknya adalah
senyawa dari tiap elemen dalam bahan
bakar dengan zat pengoksidasi.
Dalam pembakaran, proses yang terjadi
adalah sebagai berikut:
C + 2
2 + Panas
H + 2
2 + Panas
S + 2
2 + Panas
2.7 Karbonisasi
Karbonisasi adalah dekomposisi
kimia bahan organik melalui proses
pemanasan tanpa atau sedikit oksigen atau
reagen lainnya, di mana material mentah
akan mengalami pemecahan struktur kimia
menjadi
fase
gas
yang
hanya
meninggalkan
karbon
sebagai
residu.(Anonim, 2010).
Karbonisasi biomassa atau yang
lebih dikenal dengan pengarangan adalah
suatu proses untuk menaikkan nilai kalor
biomassa dan dihasilkan pembakaran yang
bersih dengan sedikit asap. Hasil
karbonisasi adalah berupa arang yang
tersusun atas karbon dan berwarna hitam.
(Husada, 2008).
Singh dan Misra (2005) dalam
Kardianto (2009), karbonisasi merupakan

suatu proses untuk mengkonversi bahan


orgranik menjadi arang. pada proses
karbonisasi akan melepaskan zat yang
mudah terbakar seperti CO, CH4, H2,
formaldehid, methana, formik dan acetil
acid serta zat yang tidak terbakar seperti
seperti CO2, H2O dan tar cair. Gas-gas
yang dilepaskan pada proses ini
mempunyai nilai kalor yang tinggi dan
dapat
digunakan untuk
memenuhi
kebutuhan kalor pada proses karbonisasi.
kebutuhan kalor pada proses
karbonisasi.
Pada proses karbonisasi kulit singkong,
terjadi pembakaran tidak sempurna yaitu
sebagai berikut:
1

C + 2 + 2 N2
N2 + O2
1
Al + O2 + 2 N2

CO + NO
2NO
Al + NO

Fe + O2 + 2 N2

FeO + NO

Massa udara yang dibutuhkan pada


proses pembakaran untuk 1 gram bahan
bakar kulit singkong dapat ditentukan
sebagai berikut:
Kulit singkong mengandung C = 14, 5%;
O2 = 66,7%; Al = 5,7%; N2 = 5,2%; Fe =
1,4 %; lainnya = 6,5%.
Udara terdiri atas 21 % volume O2, 79%
volume N2 dan lainnya 1%.
Massa atom C = 12 gr , Massa atom N2 =
(2x14) = 28 gr/mol
Massa atom O2 = (2 x 16) = 32 gr, Massa
atom Fe = 55 gr
Massa atom Al = 26 gr

C + 2 +

1
2

N2

CO + NO
1

12 gr C + 32 gr 2 + 3,76 ( 2 x 28) gr
N2
28 gr CO + 30 gr
NO
32
52,64
0,145 gr C + 82,76 gr 2 + 82,76 gr
N2
gr NO

28

82,76

30

gr CO + 82,76

0,145 gr C + 0,386 gr 2 + 0,636 gr


N2
0,338 gr CO + 0,362 gr NO

N2 + O2
2NO
28
gr N2 + 32 gr O2
60 gr
NO
32
0,052 gr N2 + 538,46 gr O2
60

538,46

gr NO

0,052 gr N2 + 0,059 gr O2
0,111 gr NO

O2 + N2
2NO
32 gr O2 + (3,76 x 28) gr N2
60 gr NO
105,28
0,667 gr O2 + 48 gr N2
60

gr NO
0,667 gr O2 + 2,19 gr N2
1,25 gr NO
48

Al + O2 + 2 N2

Al + NO
1

26 gr Al + 32 gr O2 + 3,76 (2 x 28)
gr N2
42 gr Al + 30 gr NO
32
52,64
0,057 gr Al + 456,14 gr O2 + 456,14 gr
N2

42

30

456,14

gr Al + 456,14 gr NO

0,057 gr Al + 0,07 gr O2 + 0,115 gr


N2
0,092 gr Al + 0,065 gr NO

Fe + O2 + 2 N2

N2

3928,6

Total Udara Bersih = Total Udara O2


yang terkandung dalam kulit singkong
= 1,19 gr 0,667 gr
= 0,523 gr
Jadi, pada proses pembakaran kulit
singkong, untuk 1 gram kulit singkong
dibutuhkan 0,523 gram Oksigen (O2).
3. Metodologi Penelitian
Dalam penelitian ini, metode yang
digunakan adalah metode eksperimen yang
data datanya didapat dengan melakukan
percobaan. Tahapan yang dilakukan untuk
membuat briket ini meliputi: Pengeringan,
pemisahan, karbonisasi, pencampuran dan
pencetakan. Penelitian ini dilakukan dan
dianalisa di Laboratorium Penelitian
Batubara Departemen Pertambangan dan
Energi Palembang.
4. Hasil dan Pembahasan
4.1 Hasil Pengujian
Tabel 3. Hasil Analisa Biobriket Kulit
Singkong

FeO + NO
1

55 gr Fe + 32 gr O2 + 3,76 (2 x 28)
gr N2
71 gr FeO + 30 gr NO
32
52,64
0,014 gr Fe + 3928,6 gr O2 + 3928,6 gr
71

0,014 gr Fe + 0,008 gr O2 + 0,013 gr N2


0,018 gr FeO + 0,007 gr NO
Total Udara = 1,19 gr O2 + 3,006 gr N2

Analisis Proximate
Komposisi
Perekat

CV
(Cal/gr)

7%

IM VM
(%) (%)
6,02 34,11

Ash
(%)
9,33

FC
(%)
50,54

7,5 %

6,13 34,21

9,49

50,17

5853

8%

6,18 34,25

9,54

50,03

5837

8,5 %

6,27 34,16

9,82

49,75

5787

9%

6,32 34,60 10,03 49,05

5662

9,5 %

6,40 35,15 10,33 48,12

5595

5888

30

gr FeO + 3928,6 gr NO

0,014 gr Fe + 0,008 gr O2 + 0,013 gr


N2
0,018 gr FeO + 0,007 gr NO
Jadi total udara yang didapat adalah
0,145 gr C + 0,386 gr 2 + 0,636 gr N2
0,338 gr CO + 0,362 gr NO
0,052 gr N2 + 0,059 gr O2
0,111 gr
NO
0,667 gr O2 + 2,19 gr N2
1,25 gr NO
0,057 gr Al + 0,07 gr O2 + 0,115 gr N2
0,092 gr Al + 0,065 gr NO

6,40 37,82 10,40 45,38


5573
10 %
Sumber : Dinas Pertambangan dan Energi
Sumatera Selatan

4.2 Kadar Air (Inherent Moisture)

Inherent Moisture (%)

Inherent Moisture (IM)


6,5
6,4
6,3
6,2
6,1
6
5,9
5,8

Kadar Abu (ash)


Kadar Abu (%)

Hubungan antara komposisi perekat


limbah kertas terhadap besarnya kadar air
lembab
(Inherent
Moisture)
dapat
digambarkan dengan grafik berikut:

10,5
10
9,5
9
8,5

Komposisi Perekat Limbah Kertas

Gambar 5. Hubungan Antara Komposisi


Perekat Limbah Kertas Terhadap Kadar
Abu.

Komposisi Perekat Limbah Kertas

Gambar 4. Hubungan Antara Komposisi


Perekat Limbah Kertas Terhadap Kadar
Air Lembab.
Gambar 4.1. menunjukkan hubungan
antara komposisi perekat limbah kertas
terhadap kadar air lembab. Pada grafik
terlihat bahwa kadar air mengalami
kenaikan untuk setiap kenaikan komposisi
perekat. Hal ini dikarenakan, semakin
tinggi komposisi perekat yang digunakan,
maka memerlukan jumlah air yang lebih
banyak pula untuk menjadikan bubur
kertas. Sehingga semakin banyaknya
campuran air pada perekat, dapat
berpengaruh pada nilai kadar air lembab
briket. Dengan kata lain, semakin tinggi
komposisi perekat limbah kertas yang
digunakan, maka semakin tinggi pula nilai
kadar air lembab suatu briket.
4.3 Kadar Abu (Ash)
Berdasarkan data hasil analisa, maka
hubungan antara komposisi bahan perekat
dengan nilai kadar abu (ash) pada briket
dapat dilihat pada grafik berikut:

Pada gambar 4.2. hubungan antara


komposisi perekat limbah kertas terhadap
kadar abu, data yang diperoleh antara 9,2
% - 10,4 %. Dengan nilai terendah pada
komposisi 7 % sedangkan yang tertinggi
pada komposisi 10 %. Terlihat nilai kadar
abu mengalami peningkatan pada setiap
kenaikan komposisi perekat limbah kertas.
Semakin tinggi komposisi perekat, maka
semakin tinggi pula kadar abu pada briket
tersebut. Hal ini terjadi dikarenakan
semakin tingginya kandungan kertas pada
suatu briket, maka semakin banyak pula
bagian sisa yang tidak terbakar.
4.4 Kadar Zat Terbang (Volatile Matter)
Zat terbang (Volatile Matter)
adalah zat yang dapat menguap sebagai
hasil dekomposisi senyawa senyawa di
dalam arang selain air. Kandungan kadar
zat menguap yang tinggi di dalam briket
akan menimbulkan asap yang lebih banyak
pada saat briket dinyalakan, hal ini
disebabkan oleh adanya reaksi antara
karbon monoksida (CO). (Rustini, 2004).
Berdasarkan data hasil analisa, maka
hubungan antara komposisi bahan perekat
dengan nilai kadar zat terbang (volatile
matter) pada briket dapat dilihat pada
grafik berikut:

40
38
36
34
32

Tabel 4. Nilai Karbon Padat (fixed


carbon)
7% 7,50% 8% 8,50% 9% 9,50% 10%
Komposisi Perekat Limbah Kertas

Gambar 6. Hubungan Antara Komposisi


Perekat Limbah Kertas Terhadap Kadar
Zat Terbang.
Terlihat pada gambar 4.3, kadar zat
terbang yang terendah adalah pada
komposisi perekat 7% dan mengalami
kenaikan pada setiap pertambahan
komposisi perekat limbah kertas sampai
komposisi 10 % yang memiliki kadar zat
terbang paling tinggi.
Hal ini terjadi dikarenakan adanya
pengaruh banyaknya komposisi jumlah
limbah kertas sebagai perekat dengan
bahan utama yang telah mengalami proses
karbonisasi. Pada saat bahan baku
mengalami proses karbonisasi, zat terbang
yang terdapat di dalamnya akan menguap
keluar dari bahan tersebut. (Oktavianus,
2014). Maka, semakin sedikit jumlah
limbah kertas yang terkandung pada briket,
maka semakin rendah kadar zat
terbangnya. Semakin tinggi kandungan
volatile pada briket maka briket tersebut
akan semakin mudah untuk terbakar dan
menyala. (Samsul, 2004 dalam Erikson,
2011).
4.5 Karbon Padat (Fixed Carbon)
Karbon padat (fixed carbon) yaitu
karbon yang terikat di dalam arang selain
air, zat terbang dan abu. Kadar karbon
akan bernilai tinggi apabila kadar abu dan
kadar zat terbang briket tersebut rendah.
Nilai karbon padat pada briket dipengaruhi
oleh nilai kadar abu dan kadar zat terbang.
Menurut
Oktavianus
(2014),
karbon padat (fixed carbon) adalah unsur
(karbon) yang merupakan bahan yang

Komposisi Perekat
7%
7,50%
8%
8,50%
9%
9,50%
10%

% Karbon Padat
50,54
50,17
50,03
49,75
49,05
48,12
45,38

Dimana:
IM
= Kadar Air Lembab
Ash = Kadar Abu
VM = Kadar Zat Terbang
Berdasarkan data hasil analisa, maka
hubungan antara komposisi bahan perekat
dengan nilai kadar karbon padat (fixed
carbon) pada briket dapat dilihat pada
grafik berikut:

Kadar KarbonPadat (FC)


Kadar Karbon Padat (%)

Kadar Zat Terbang (%)

Kadar Zat Terbang (VM)

dapat dibakar oleh oksigen dari udara.


Kadar karbon padat dapat berpengaruh
terhadap waktu pembakaran briket.

55
50
45
40
7% 7,50% 8% 8,50% 9% 9,50% 10%
Komposisi Perekat Limbah Kertas

Gambar 7. Hubungan Antara Komposisi


Perekat Limbah Kertas Terhadap Kadar
Karbon Padat
Terlihat
pada
gambar
4.4,
hubungan antara komposisi perekat limbah
kertas terhadap kadar karbon padat
mengalami penurunan di setiap kenaikan
komposisi perekat. Kadar karbon padat
tertinggi adalah pada komposisi perekat
7% sedangkan kadar karbon padat
terendah adalah pada komposisi 10%. Hal
ini dipengaruhi oleh nilai kadar air, kadar

abu dan kadar zat terbang briket tersebut.


Semakin rendah nilai kadar air, kadar abu
dan kadar zat terbang briket maka semakin
tinggi nilai kadar karbon padat yang
diperoleh. Hal ini sesuai dengan Abidin
(1973) dalam Masturin (2002), keberadaan
kadar karbon terikat di dalam briket arang
dipengaruhi oleh nilai kadar abu dan kadar
zat menguap.
4.1.5 Nilai Kalor (Calorific Value)
Nilai kalor sangat menentukan
kualitas briket. Semakin tinggi nilai kalor
briket, semakin baik pula kualitas briket
yang dihasilkan. Menurut Nurhayati
(1974) dalam Masturin (2002), nilai kalor
dipengaruhi oleh kadar air dan kadar abu
briket. Semakin tinggi kadar air dan kadar
abu briket, maka akan menurunkan nilai
kalor briket yang dihasilkan.
Dari data hasil analisa yang
didapat, hubungan antara komposisi
perekat terhadap nilai kalor dapat
digambarkan dengan grafik berikut:

Nilai Kalor (Cal/gr)

Nilai Kalor (CV)


6000
5900
5800
5700
5600
5500
5400

Komposisi Perekat Limbah Kertas

Gambar 8. Hubungan Antara Komposisi


Perekat Limbah Kertas Terhadap Nilai
Kalor.
Terlihat pada gambar 4.5. nilai kalor
terendah sebesar 5573 cal/gr terdapat pada
komposisi perekat 10 %, sedangkan nilai
tertinggi sebesar 5888 cal/gr pada
komposisi
perekat
7%.
Hal
ini
membuktikan bahwa semakin rendah nilai
kadar air, kadar abu dan kadar zat terbang,
maka semakin tinggi nilai kalor yang

diperoleh. Lain daripada itu, hasil data


yang diperoleh juga membuktikan bahwa
nilai kadar karbon padat berbanding lurus
dengan nilai kalor. Semakin tinggi nilai
kadar karbon padat, maka semakin tinggi
pula nilai kalor yang diperoleh.
Nilai kalor yang diperoleh pada
penelitian ini adalah berkisar 5500 cal/gr
5900 cal/gr, hal ini sudah memenuhi
kriteria briket menurut Standar Nasional
Indonesia (SNI) yaitu harus di atas 5000
cal/gr.
5. Kesimpulan dan Saran
5.1 Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil pengujian yang
dilakukan, semakin tinggi komposisi
perekat yang digunakan, semakin
menurunkan kualitas briket. Dapat
dilihat dari nilai kalor tertinggi sebesar
5888 cal/gr pada komposisi 7% dan
terendah sebesar 5573 cal/gr pada
komposisi 10%.
2. Komposisi perekat limbah yang
optimal dalam pembuatan briket
berbahan utama kulit singkong ini
adalah sebesar 7%. Karena pada
komposisi ini, briket mendapatkan
nilai kalor sebesar 5888 cal/gr dan
memiliki kadar air, kadar abu dan
kadar zat terbang yang rendah.
3. Dari hasil pengujian, didapat briket
dengan komposisi perekat 7% adalah
yang terbaik, dengan nilai kalor
sebesar 5888 cal/gr, kadar air sebesar
6,02%, kadar zat terbang sebesar
34,11%, kadar abu sebesar 9,33% dan
kadar karbon padat sebesar 50,54%.
5.2 Saran
Setelah melakukan penelitian ini,
untuk memperoleh hasil yang lebih baik
perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
mengenai:
1. Penggunaan perekat lain seperti putih
telur dengan cangkangnya, bawang
putih, tanah liat atau bahan perekat
anorganik seperti gypsum, semen, lem
kayu, oli bekas dan lain lain.

2. Penggunaan campuran kulit singkong


dan kertas sebagai bahan utama dan
dicampur dengan perekat lain untuk
menghasilkan briket dengan nilai yang
optimal pada penelitian selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
ASTM.
2014.
ASTM
INTERNATIONAL.
http://www.astm.org. Diakses
pada tanggal 24 November
2014
A,

Riska dan Fina D. 2010.


Pembakaran.
https://nayhndy.wordpress.com
/2011/01/18/pembakaran/.
Diakses pada tenggal 1 Maret
2015

B, Aquino Gandi, 2010. Pengaruh


Variasi Jumlah Campuran
Perekat
Terhadap
Karakteristik Briket Arang
Tongkol Jagung. Universitas
Negri Semarang.
Badan Penelitian dan Pengembangan
Kehutanan, 1994. Pedoman
Teknis Pembuatan Briket
Arang. Departemen Kehutanan
No.3.
BSN.

2014. Badan Standardisasi


Nasional
.
http://sisni.bsn.go.id/index.php
?/Stndr_Int/StndrInt/index/75.
Diakses pada tanggal 30
Oktober 2014

Chin, Ooi Chin and Siddiqui, Kamal


M., 1999, Characteristic of
Some
Biomass
Briquettes
Prepared Under Modest Die
Pressures,
Biomass
and
Bioenergy

Deptan. 2005. Database Pemasaran


Internasional
Ubi
Kayu.
Departemen Pertanian. Jakarta.
Erikson,
Sinurat.
2011.
Studi
Pemanfaatan
Briket
Kulit
Jambu Mente dan Tongkol
Jagung Sebagai Bahan Bakar
Alternatif. Tugas Akhir Fakultas
Teknik, Universitas Hasanudin,
Makassar.
Hayati, R., Wina Faradina, Irawan,
Pengki, dan Andhini. 2008.
Pembuatan dan Analisis Nilai
Kalor Briket Kulit Singkong.
Fateta IPB. Bogor.
Hikmiyati, N., dan N.S, Yanie, 2008,
Pembuatan Bioetanol dari
limbah kulit singkong melalui
proses hidrolisa asam dan
enzimatis, Jurusan Teknik
Kimia,
Fakultas
Teknik
UNDIP, Semarang.
ISO.

2014.
International
Organization
for
Standardization.
http://www.iso.org/iso/catalog
ue_ics. Diakses pada tanggal
24 November 2014

Juwita Sari, Anugrah. Potensi Sampah


TPA Cipayung Sebagai Bahan
Baku Refuse Derived Fuel
(RDF).
Jurusan
Teknik
Lingkungan Fakultas Teknik.
Universitas Indonesia. Depok
Kompas. 19 November, 2008.
Kelangkaan Energi Malanda
Sejumlah Daerah di Indonesia,
Kompas, hlm. 1.
Masturin, A. 2002. Sifat Fisik dan
Kimia Briket Arang dari
Campuran
Arang
Limbah
Gergajian
Kayu
[skripsi].

Bogor. Fakultas Kehutanan.


Institut Pertanian Bogor.
Maryono, Sudding dan Rahmawati.
2013. Pembuatan dan Analisis
Mutu Briket Arang Tempurung
Kelapa Ditinjau dari Kadar
Kanji. Jurnal Chemica Vol. 14,
Nomor 1, 74 83.
Nur

Amaliyah, Wikanti. 2013.


Potensi Pembuatan Briket Dari
Campuran
Limbah
KUlit
Singkong (Mannihot esculenta)
dan Tempurung Kelapa (Cocos
Nucifera L.) Pada Industri
Getuk
Goreng
Sokaraja,
Kabupaten Banyumas Jawa
tengah. Universitas Gadjah
Mada. Yogyakarta.

Oktavianus, Beni. 2014. Studi


Pengaruh Perekat Pelepah
Pisang dan Eceng Gondok Pada
Pembuatan Biobriket Limbah
Kulit Singkong. Jurusan Teknik
Mesin,
Fakultas
Teknik,
Universitas Sriwijaya.
Patabang, Daud. 2012. Karakteristik
Ternal Briket Arang Sekam Padi
Dengan Variasi Bahan Perekat.
Jurnal Mekanikal, Vol. 3 No. 2.
Rismayanti. 2012. Laporan Prakerin
Analisa Batubara (General
Analysis.
http://rismayantianalisabatubar
a.blogspot.com/. Diakses pada
tanggal 24 November 2014
Riyanto, Sugeng. 2009. Uji Kualitas
Fisik
Dan
Uji
Kinetika
Pembakaran Briket Jerami Padi
Dengan Dan Tanpa Pengikat.
Jurusan Teknik Mesin, Fakultas
Teknik, Universitas Sebelas
Maret, Surakarta.

Rukmana, R.H. 1997. Ubi Kayu,


Budidaya dan Pasca Panen.
Kanisius, Yogyakarta.
Rustini, 2004. Pembuatan Briket
Arang Dari Serbuk Gergaji
Kayu
Pinus
Dengan
Penambahan
Tempurung
Kelapa.
Skripsi
Pertanian
Fakultas Pertanian Universitas
Sumatera Utara.
Setiawan, Agung , Andrio, Okvi dan
Coniwanti,
Pamilia.
2012.
Pengaruh
Komposisi
Pembuatan
Biobriket
Dari
Campuran Kulit Kacang dan
Serbuk Gergaji Terhadap Nilai
Pembakaran. Jurnal Teknik
Kimia No. 2, Vol. 18.
Setio Wibowo, Ari. 2009. Kajian
Pengaruh
Komposisi
dan
Perekat Pada Pembuatan Briket
Sekam Padi Terhadap Kalor
Yang
Dihasilkan.
Jurusan
Fisika, Fakultas Matematika
Dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas
Diponegoro,
Semarang.
Sundari Wijayanti, Diah. 2009.
Karakteristik Briket Arang Dari
Serbuk
Gergaji
Dengan
Penambahan Arang Cangkang
Kelapa Sawit. Departemen
Kehutanan, Fakultas Pertanian,
Universitas Sumatra Utara.
Surya, Yusi Stephanie. 2010. Potensi
Limbah
Kulit.
http://www.wwwsagitariushan
sboyblogs.blogspot.com/2010/06/p
otensi-limbah-kulit.html?m=1.
Diakses pada tanggal 16
Oktober 2014