Anda di halaman 1dari 18

KONVENSI DAN KONSTITUSI DALAM PRAKTIK

KETATANEGARAAN DI INDONESIA
MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Hukum Dan Teori Konstitusi Pada Program Studi Magister Ilmu Hukum
Universitas Sebelas Maret Surakarta
Dosen Pengampu: Dr. I Gusti Ayu Ketut RH., SH., MM

Oleh:
HENDRA SETYADI KURNIA PUTRA
NIM. S311408007

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM


PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS
MARET SURAKARTA
2014

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Alhamdulillahirobbilalamin, puji dan syukur saya panjatkan kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa yang mana atas limpahan, rahmat dan karunia-Nya
sehingga tugas Makalah yang berjudul: Konvensi dan Konstitusi Dalam Praktik
Ketatanegaraan di Indonesia dapat terselesaikan. Penulis menyadari bahwa
Makalah ini tidak dapat terselesaikan dengan baik tanpa bimbingan, dorongan,
dan bantuan dari beberapa pihak baik dalam bentuk materi maupun non materi.
Dalam penulisan Makalah ini penulis senantiasa dihadapkan berbagai
kesulitan dan hambatan. Oleh karena itu, perkenangkanlah penulis mengucapkan
banyak terima kasih kepada Ibu Dr. I Gusti Ayu Ketut RH., SH., MM selaku
dosen pengampu mata kuliah Hukum Dan Teori Konstitusi, yang telah
membimbing penulis dalam memahami materi pada khususnya.
Harapan penulis semoga Makalah ini membantu menambah pengetahuan
dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga penulis dapat memperbaiki bentuk
maupun isi Makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik. Oleh kerena itu
penulis berharap kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan
yang bersifat membangun untuk kesempurnaan Artikel ini.

Surakarta, 02 November 2014


Penulis,
Hendra Setyadi K P

KONVENSI DAN KONSTITUSI DALAM PRAKTIK


KETATANEGARAAN DI INDONESIA
Oleh : Hendra Setyadi KP
ABSTRAK
Kehidupan ketatanegaraan Republik Indonesia selain dilaksanakan dalam
kaidah-kaidah hukum tertulis (UUD), juga memperhatikan kaidah-kaidah hukum
yang tidak tertulis. Kaidah hukum yang tidak tertulis ini tumbuh dan berkembang
berdampingan bersamaan dengan kaidah-kaidah hukum yang tertulis. Konvensi
diperlukan untuk menjaring kemajuan zaman. Negara Indonesia merupakan
negara demokrasi maka perlu adanya suatu Konvensi dalam perjalanan
ketatanegaraan.
Konvensi ketatanegaraan dapat diartikan sebagai segenap kebiasaan atau
tindakan ketatanegaraan yang bersifat mendasar (dengan materi muatan
konstitusi), yang dilakukan dalam penyelenggaraan negara, baik yang belum
diatur maupun yang mungkin menyimpang dari UUD (konstitusi) dan peraturan
ketatanegaraan lain, dengan maksud untuk melengkapi atatu memperbaiki
ketentuan-ketentuan ketatanegaraan.
Fungsi konvensi ketatanegaraan dalam penyelengaraan negara dapat berupa:
melengkapi/menambah atau mengurangi makna, serta mendinamisasi pelaksanaan
undang-undang dasar; mengisi kekosongan aturan-aturan ketatanegaraan lainnya;
mengefektifkan peran dan fungsi lembaga-lembaga Negara sesuai dengan
kebutuhan perkembangan; dan memperlancar jalannya roda penyelenggaraan
negara.
Kendala utama dalam menerapkan konvensi ketatanegaraan adalah tidak
adanya sanksi yang mewajibkan lembaga-lembaga/pejabat negara untuk
senantiasa metuhi kebiasaan-kebiasaan ketatanegaraan yang berlaku. Pelanggaran
terhadap konvensi ketatanegaraan tidak dapat dipaksakan oleh atau melalui
pengadilan. Oleh karena itu sering disebut lex imperfecta, yaitu hukum yang tidak
mempunyai sanksi.
________________________________________
Kata Kunci : Konvensi, konstitusi, Negara Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada penjelasan umum Undang-Undang Dasar 1945 secara tegas
dinyatakan bahwa Undang-Undang Dasar suatu negara ialah hanya
sebagian dasar hukum Negara itu. Undang-Undang Dasar ialah hukum
dasar yang tertilis, sedangkan di samping undang-undang itu berlaku juga
hukum dasar yang tidak tertulis, ialah aturan-aturan dasar yang timbul dan
terpelihara dalam praktik penyelenggaraan Negara, meskipun tidak
tertulis1
Menurut Savornin Lohman, sebagaimana dikutip oleh Solly Lubis,
konstitusi-konstitusi dalam arti Undang-Undang Dasar sekarang ini
mengandung tiga unsur yang dapat ditemukan di dalamnya, yaitu :2
1. Konstitusi dipandang sebagai perwujudan perjanjian masyarakat (kontrak
sosial), sehingga menurut pengertian ini, konstitusi-konstitusi yang ada
adalah hasil atau konklusi dari kesepakatan masyarakat untuk membina
Negara dan pemerintahan yang akan mengatur mereka.
2. Konstitusi sebagai piagam yang menjamin hak-hak asasi manusia berarti
perlindungan dan jaminan atas hak-hak manusia dan warga Negara yang
sekaligus penentuan batas-batas hak dan kewajiban baik warganya maupun
alat alat pemerintahannya.
3. Sebagai Forma Regiminis, berarti sebagai kerangka bangunan
pemerintahan, dengan kata lain sebagai gambaran struktur pemerintahan
Negara.
Mengenai hal itu, Sri Soemantri mengemukakan bahwa pada umumnya
undang-undang dasar atau konstitusi sekarang ini berisi tiga hal pokok yaitu :3
1. Adanya jaminan terhadap hak-hak asasi manusia dan warga Negara;
2. Ditetapkannya susunan ketatanegaraan suatu negara yang bersifat
fundamental;
1

Dahlan,Jazim,Nimatul, 2013, Teori dan Hukum Konstitusi, Jakarta: PT.Rajagrafindo Persada,


hlm.123
2
K. Rumokoy Nike, Peranan Konvensi Ketatanegaraan dalam Pengembangan Hukum Tata
Negara Indonesia, Vol. XVIII/No.4/MeiAgustus/2010, http://repo.unsrat.ac.id/50/1/Hal_1122.pdf , Diunduh: 10 November 2014
3
Ibid

3. Adanya pembagian dan pembatasan tugas ketatanegaraan yang juga


bersifat fundamental.
Indonesia merupakan Negara yang demokrasi, tentunya aturan-aturan
ketatanegaraan sangat kompleks. Dengan demikian untuk dapat menjalankan
roda pemerintahan secara baik, akan sulit untuk dicapai jika hanya
berdasarkan UUD NRI 1945 yang sangat terbatas sebagai norma dasar
ketatanegaraan. Maka untuk itu diperlukan pedoman lain berupa kebiasaan
ketataengaraan, yang telah dilakukan sebagai pendamping norma hukum
dasar yang tertulis.4
Berkaitan dengan penyelenggaraan Negara, tentang penjelasan umum
Undang-Undang Dasar 1945 yang ditulis di atas maka dapat dipahami bahwa
suatu realitas konstitusional, maka kehadiran Konvensi ini sendiri adalah
sebagai kelengkapan bagi konstitusi atau Undang-Undang Dasar 1945 dalam
rangka memenuhi tuntutan kebutuhan dan perkembangan zaman. hampir
semua Negara-negara modern di dunia di samping mempunyai konstitusi
(UUD yang tertulis) terdapat juga dengan apa yang disebut sebagai Konvensi.
Konvensi selalu ada pada setiap sistem ketatanegaraan, terutama pada negara
demokrasi.5
Sebelum mengkaji konvensi dalam ketatanegaraan Negara Indonesia lebih
jauh, kiranya penulis ingin menguraikan terlebih dahulu apa itu Konvensi.
A.K. Pringgodigdo mengemukakan, bahwa convention adalah kelazimankelaziman yang timbul dalam praktek hidup. Sedangkan Bagir Manan
mengemukakan, bahwa konvensi atau hukum kebiasaan ketatanegaraan
adalah hukum yang tumbuh dalam praktek penyelenggaraan Negara untuk
melengkapi, menyempurnakan, menghidupkan (mendinamisasi) kaidahkaidah hukum perundang-undangan atau hukum adat ketatanegaraan.6
Konvensi ketatanegaraan harus mempunyai ciri-ciri yaitu:7
4

Artina F, 2013, Konvensi Ketatanegaraan Sebagai Salah Satu Sarana Perubahan UUD NRI
1945, http://fitriahartina011.blogspot.com/2013/03/konvensi-ketatanegaraan-sebagai-salah.html
Diunduh: 10 November 2014
5
Dahlan,Jazim,Nimatul, Op.Cit, hlm.124
6
Artina F, Op.Cit
7
Dahlan,Jazim,Nimatul, Op.Cit, hlm.122

1. Konvensi itu berkenaan dalam hal-hal bidang ketatanegaraan.


2. Konvensi tumbuh, diikuti, berlaku dan dihormati dalam praktik
penyelenggaraan Negara.
3. Konvensi sebagai bagian dari konstitusi, apabila terhadap pelanggaran
olehnya tidak dapat diadili oleh badan pengadilan.
Terkait dengan konvensi ketatanegaraan, kandungan makna konstitusi
dianggap mencakup pula pengertian-pengertian yang sama sekali tidak
tercantum

dalam

naskah

undang-undang

dasar.

Adanya

konvensi

ketatanegaraan pada hakikatnya menyebabkan teks UUD mengalami


perubahan, baik melalui penambahan atau pun pengurangan norma konstitusi
tertentu sebagaimana mestinya. Karena itu, k onvensi ketatanegaraan atau
the convention of the constitution dapat dipandang juga sebagai salah satu
metode perubahan konstitusi dalam praktik.8
Adapun contoh-contoh konvensi ketatanegaraan (Convention Of The
Constitution) dalam kehidupan ketatanegaraan yang diterima dan ditaati
walaupun ia bukan hukum (Law) dalam arti sebenarnya yaitu meliputi:9
1. Raja harus mensahkan setiap rencana undang-undang yang telah disetujui
oleh kedua majelis dalam parlemen.
2. Majelis tinggi tidak akan mengajukan sesuatu rencana undang-undang
keuangan (Money bill).
3. Mentri-mentri meletakkan jabatan apabila mereka tidak mendapat
kepercayaan dari majelis rendah.
Dari ketentuan-ketentuan serta uraian tersebut di atas dapat diketahui bahwa
konvensi itu berkembang karena kebutuhan dalam prektik penyelenggaraan
Negara. Konvensi dapat terjadi suatu praktik berulang-ulang yang tumbuh
menjadi kewajiban yang harus ditaati oleh para penyelenggara Negara.
Penyelenggara Negara itu adalah alat-alat perlengkapan Negara atau
lembaga-lembaga Negara.10
8

Jimly Asshiddiqie, makalah Kemungkinan Perubahan Kelima UUD 1945


http://www.jimly.com/makalah/namafile/89/PERUBAHAN_KELIMA_UUD_Menko_Polkam.pdf
Hlm.1, Diunduh: 10 November 2014
9
Dahlan,Jazim,Nimatul, Op.Cit, hlm.122
10
Ibid

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana hubungan konstitusi atau Undang-Undang Dasar 1945 dengan
konvensi ketatanegaraan di Indonesia?
2. Bagaimana Undang-Undang Dasar 1945 mengakomodasi konvensi dalam
praktik ketatanegaraan di Indonesia ?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui bagaimana hubungan konstitusi atau Undang-Undang
Dasar 1945 dengan konvensi ketatanegaraan di Indonesia.
2. Untuk

mengetahui

sejauh

mana

Undang-Undang

Dasar

1945

mengakomodasi konvensi dalam praktik ketatanegaraan di Indonesia.


D. Manfaat Penulisan
1. Manfaat Teoritis
a) Bagi penulis lain diharapkan dapat menjadi bahan acuan untuk
membuat makalah selanjutnya, khusudnya mengenai Konvensi dan
Konstitusi di Indonesia.
b) Bagi para pemegang roda pemerintahan beserta masyarakat untuk
tetap

mempertahankan

konvensi

ketatanegaraan

selama

tidak

bertentangan dengan dasar negara kita, serta UUD NRI 1945.


2. Manfaat Praktis
a) Bagi penulis dapat menjadi tambahan pengetahuan dan wawasan
khususnya mengenai Konvensi dan Konstitusi di Indonesia.
b) Bagi pemerintah dan masyarakat kiranya dapat mengetahui tentang
konvensi ketatanegaraan. Agar terwujud sebuah kestabilan dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Konstitusi

Secara bahasa, konstitusi berasal dari kata Constiture (Prancis),


Constitution (Inggris), Constitutie (Belanda) yang artinya membentuk,
menyusun, menyatakan. Pemakaian istilah konstitusi yang dimaksud adalah
pembentukan suatu negara atau menyusun dan menyatakan aturan suatu
negara.11 Dalam ilmu politik, konstitusi merupakan sesuatu yang bersifat luas
yaitu keseluruhan dari peraturan-peraturan tertulis maupun tidak tertulis yang
mengatur secara mengikat suatu pemerintahan diselenggarakan dalam suatu
masyarakat. Sedangkan dalam arti sempit, konstitusi adalah hukum dasar
tertulis (Undang-undang Dasar).
Beberapa pendapat ahli hukum mengenai persamaan dan perbedaan
konstitusi dan UUD adalah sebagai berikut :
1. L. J. Van Apeldoorn
Menurut L. J. Van Apeldoorn, konstitusi dan UUD itu berbeda,
konstitusi memuat peraturan tertulis dan peraturan tidak tertulis.
Sedangkan UUD adalah bagian tertulis dari konstitusi.
2. Sri Sumantri
Menurut Sri Sumantri, bahwa keduanya sama, sesuai dengan praktik
ketatanegaraan di beberapa negara termasuk Indonesia.
Sovernin Lohman mengemukakan, bahwa konstitusi meliputi tiga unsur,
yaitu:12
1. Konstitusi dipandang sebagai perwujudan perjanjian masyarakat (kontrak
sosial), artinya konstitusi merupakan hasil dari kesepakatan masyarakat
untuk membina negara dan pemerintah.
2. Konstitusi sebagai piagam yang menjamin hak-hak asasi manusia dan
warga negara sekaligus penentu batas-batas hak dan kewajiban warga
negara dan alat-alat pemerintahannya.
3. Konstitusi sebagai kerangka bangunan pemerintahan.
Dari beberapa penjelasan di atas, dapat dirumuskan konstitusi adalah
sebagai berikut:
1. Suatu kumpulan kaidah yang memberikan pembatasan kekuasaan kepada
para penguasa.

11

Sri Janti dkk, 2006, Pendidikan Kewarganegaraan untuk mahasiswa, Yogyakarta: Graha Ilmu,
hlm.83
12
A. Ubaidillah, dkk.,Pendidikan Kewargaan Demokrasi, HAM & Masyarakat Madani, Jakarta:
IAIN Jakarta Press, hlm.82.

2. Suatu dokumen tentang pembagian tugas dan sekaligus petugasnya dari


suatu sistem politik.
3. Suatu diskripsi yang menyangkut masalah hak asasi manusia.
B. Pengertian dan Ciri-Ciri Konvensi Ketatanegaraan
Istilah konvensi berasal dari bahasa Inggris convention. Secara
akademis seringkali istilah convention digabungkan dengan perkataan
constitution atau contitusional seperti convention of the constitution. Dicey
seorang sarjana Inggris yang mula-mula mempergunakan istilah konvensi
sebagai ketentuan ketatanegaraan, menyatakan bahwa Hukum Tata Negara
(Constitutional Law) yang terdiri atas dua bagian, yaitu:13
a. Hukum Konstitusi (The Law of The Constitution) yang terdiri dari :
Undang-undang tentang Hukum Tata Negara (Statuta Law) Common Law,
yang berasal dari keputusan-keputusan Hakim (judge-made maxims) dan
ketentuan-ketentuan dari kebiasaan serta adat temurun (tradisional)
b. Konvensi-konvensi ketatanegaraan (Conventions of the Constitution) yang
berlaku dan dihormati dalam kehidupan ketatanegaraan, walaupun tak
dapat dipaksakan oleh pengadilan apabila terjadi pelanggaran terhadapnya.
Oleh karena itu AV. Dicey mengemukakan : Konvensi adalah ketentuan
yang mengenai bagaimana seharusnya mahkota atau menteri melaksanakan
Discretionary Plowers . Dicretionary Plowers adalah kekuasaan untuk
bertindak atau tidak bertindak yang semata-mata didasarkan kebijaksanaan
atau pertimbangan dari pemegang kekuasaan itu sendiri. Hal diatas yang
mula-mula mengemukakan yaitu Dicey dikalangan sarjana di Inggris
pendapat tersebut dapat diterima.14
Lebih lanjut beliau memperinci konvensi ketatanegaraan merupakan hal
hal sebagai berikut :15

13

Dahlan,Jazim,Nimatul, Op.Cit, hlm.121


Alamsyah. M, Ketatanegaraan https://www.academia.edu/5034342/KETATANEGARAAN
Diunduh: 11 November 2013
15
Ibid
14

a. Konvensi adalah bagian dari kaidah ketatanegaraan (konstitusi) yang


tumbuh, diikuti dan ditaati dalam praktek penyelenggaraan negara.
b. Konvensi sebagai bagian dari konstitusi tidak dapat dipaksakan oleh
(melalui) pengadilan.
c. Konvensi ditaati semata mata didorong oleh tuntutan etika, akhlak atau
politik dalam penyelenggaraan negara.
d. Konvensi adalah ketentuan ketentuan mengenai bagaimana seharusnya
( sebaliknya ) discretionary plowers dilaksanakan.
Berkaitan dengan Konvensi ini, pada penjelasan umum Undang-Undang
Dasar 1945 secara tegas dinyatakan bahwa Undang-Undang Dasar suatu
negara ialah hanya sebagian dasar hukum Negara itu. Undang-Undang
Dasar ialah hukum dasar yang tertilis, sedangkan di samping undang-undang
itu berlaku juga hukum dasar yang tidak tertulis, ialah aturan-aturan dasar
yang timbul dan terpelihara dalam praktik penyelenggaraan Negara,
meskipun tidak tertulis16
Dari uraian diatas jelas diketahui bahwa Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 sangat-sangat bersifat supel dan simpel,
sehingga untuk menjaring kemajuan zaman maka diperlukan adanya konvensi
yang beriringan dengan UUD 1945 keberlakuannya, dan tidak bertentangan
serta ditaati oleh bangsa.

BAB III
PEMBAHASAN
A. Hubungan konstitusi atau Undang-Undang Dasar 1945 dengan konvensi
ketatanegaraan di Indonesia.

16

Penjelasan Umum UUD NRI Tahun 1945

Penjelasan umum UUD NRI 1945 secara tegas menyatakan bahwa ;


Undang-Undang Dasar suatu negara ialah hanya sebagian dari hukum
dasar negara itu. Undang-Undang Dasar adalah hukum dasar yang tertulis,
sedangkan disamping undang-undang itu berlaku juga hukum dasar yang tak
tertulis, ialah aturan-aturan dasar itu yang timbul dan terpelihara dalam
prktik penyelenggaraan negara, meskipun tidak tertulis.
Menggaris bawahi penjelasan umum UUD NRI 1945 tersebut dapat
disimpulkan bahwa kehidupan ketatanegaraan Republik indonesia selain
dilaksanakan berdasarkan kaidah-kaidah hukum tertulis (UUD), juga
memperhatikan kaidah-kaidah hukum yang tak tertulis kaidah-kaidah hukum
yang tidak tertulis itu tumbuh dan berkembang berdampingan secara paralel
dengan kaidah-kaidah hukum yang tertulis.
Di atas telah disinggung UUD NRI 1945 mengakomodasikan adanya
hukum-hukum dasar yang tak tertulis yang timbul dan terpelihara dalam
praktik ketatanegaraan yang dinamakan konvensi. Hal ini tentunya tak lepas
dari pandangan modern para penyusun UUD NRI 1945 yang melihat hukum
konstitusi dalam pengertian yang luas, yang mencakup baik hukum tertulis
maupun hukum yang tidak tertulis.
Disamping itu, keterikatan UUD 1945 pada konvensi dikarenakan sifat
UUD NRI 1945 itu sendiri sebagai singkat dan supel UUD 1945 hanya
memuat 37 pasal. Dalam kaitan inilah penjelasan UUD NRI 1945
mengemukakan : kita harus senantiasa ingat kepada dinamika kehidupan
masyarakat dan negara Indonesia. Masyarakat dan negara Indonesia
tumbuh, zaman berubah, terutama pada zaman revolusi lahir batin sekarang
ini. Oleh karena itu, kita harus hidup dinamis, dan melihat segala gerak
gerik kehidupan masyarakat dan negara Indonesia..
Dari bunyi penjelasan tersebut maka, dalam rangka menampung
dinamika tersebut dan melengkapi hukum tertulis yaitu UUD NRI 1945 yang
singkat, maka kiranya konvensi merupakan salah satu alternatif rasional yang
harus dan dapat diterima secara konstitusional dalam praktik penyelenggaraan
negara Indonesia, maka sesuai dengan amanat UUD NRI 1945 kiranya tidak

berlebihan

apabila

melalui

konvensi-konvensi

diharapkan

dinamika

kehidupan masyarakat Indonesia yang sedang membangun dan berkembang


kearah masyarakat modern dapat tertampung.
Dari pikiran-pikiran yang dipaparkan diatas dapat diketahui bagaimana
peranan konvensi dalam praktik penyelenggaraan negara. Kehadiran konvensi
bukan untuk mengubah UUD NRI 1945. Oleh karena itu, konvensi tidak
boleh bertentangan dengan UUD NRI 1945,

konvensi berperan sebagai

partnership memperkokoh kehidupan ketatanegaraan Indonesia dibawah


sistem UUD NRI 1945, Dalam perjalanan sejarah ketatanegaraan Republik
Indonesia yaitu sejak ditetapkan UUD NRI 1945 pada 18 Agustus 1945,
Tercatat adanya beberapa konvensi dalam praktik penyelenggaraan negara.
Dalam kurun waktu kedua berlakunya kembali UUD 1945, yaitu sejak
Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959, sejarah ketatanegaraan Indonesia juga
mencatat adanya konvensi-konvensi yang timbul dan terpelihara dalam
praktik penyelenggaraan negara. Seperti kita ketahui, pada periode Orde
Lama, setiap tanggal 17 Agustus Presiden Republik Indonesia mempunyai
kebiasaan untuk berpidato dalam suatu rapat umum yang mempunyai
kualifikasi tertentu, seperi rapat raksasa, rapat samodra dan lainny. Dalam
pidato itu dikemukakan hal-hal di bidang ketatanegaraan. Namun dibawah
Orde Baru kebiasaan diatas telah ditinggalkan, sebagai gantinya pada setiap
tanggal 16 Agustus Presiden Republik Indonesia menyampaikan Pidato
kenagaraan dihadapan Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat.
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa di bawah pemerintahan Orde Baru
telah diikrarkan tekad untuk melaksanakan UUD NRI 1945 secara murni dan
konsekuen. Hal ini berarti juga UUD NRI 1945 harus dilestarikan. Upaya
pelestarian ditempuh antara lain dengan cara tidak memperkenankan UUD
NRI 1945 diubah. Untuk keperluan telah ditempuh upaya hukum antara lain :
1. Melalui TAP No. I/ MPR/ 1983, Pasal 104; Majelis berketetapan untuk
mempertahankan UUD 1945, tidak berkehendak dan tidak akan
melakukan perubahan terhadapnya serta akan melaksanakannya secara
murni dan konsekuen.

2. Diperkenalkannya Referendum dalam sistem ketatanegaraan Republik


Indonesia lewat TAP No.IV/MPR/1983
Persoalan yang muncul ialah disatu pihak secara formal UUD NRI 1945
harus dilestarikan dan diperhatankan dengan tidak mengubah kaidah kaidah
yang tertulis dalam UUD 1945 itu sendiri. Di pihak lain diakui, bahwa UUD
NRI 1945 seperti yang terdapat dalam penjelasan : Memang sifat aturan itu
singkat. Oleh karena itu, makin supel ( elastis ) sifat aturan itu makin baik.
Jadi kita harus menjaga supaya sistem Undang-Undang Dasar jangan sampai
ketinggalan zaman.
Menghadapi kedua prinsip ini, jalan yang harus ditempuh adalah mengatur
cara melaksanakan UUD 1945. Salah satu bentuk ketentuan yang mengatur
cara melaksanakan UUD 1945 adalah konvensi. Disinilah arti dinamik dari
gagasan melestarikan UUD 1945, artinya mempertahankan agar UUD 1945
mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Maka pada periode Orde
Baru sejak 1966 terdapat beberapa praktik ketatanegaraan yang dapat
dipandang sebagai konvensi yang sifatnya melengkapi dan tidak bertentangan
dengan UUD 1945.
B. Undang-Undang Dasar 1945 (Konstitusi) mengakomodasi konvensi
dalam praktik ketatanegaraan di Indonesia.
Konvensi ketatanegaraan merupakan salah satu hukum tidak tertulis yang
mengatur tentang cara-cara pemegang kekuasasan menjalankan kekuasaaan,
tetapi tidak tergolom kaidah hukum karena penataan penataan terhadap
konvensi ketatanegaraan tidak dapat dituntut dan ditegaklan atau dipaksakan
melalui pengadilan.
Peranan hukum tidak tertulis dalam hukum tata pemerintahan adalah
bagaimana suatu ketaatan terhadap konvensi ketatanegaraan dapat tercipta
dengan cara kesukarelaan atau karena dorongan etika atau akhlak atas dasar
keyakinan, mentaati konvensi sebagai suatu kewajiban yang timbul dari
tuntutan politik dalam penyelenggaraan pemerintahan atau konvensi sering

disebut

sebagai

etika

ketatanegaraan

atau

akhlak

ketatanegaraan

(constitutional ethics atau constitutional morality).


Dalam praktik ketatanegaraan di indonesia misalnya terdapat beberapa
contoh konvensi ketatanegaraan yang ditaati antara lain adalah yang pertama
yaitu:
1. Pidato presiden setiap tanggal 16 agustus didepan sidang paripurna
DPR
Pidato presiden setiap tanggal 16 Agustus didepan sidang paripurna
DPR. Disatu pihak memberi laporan pelaksanaan tugas pemerintah dalam
tahun anggaran yang lewat,

dan di lain pihak mengandung arah

kebijaksanaan tahun mendatang.


Secara konstitusional tidak ada ketentuan yang mewajibkan presiden
yang menyampaikan pidato resmi tahunan semacam itu di hadapan sidang
Paripurna DPR. Karena presiden tidak tergantung DPR dan tidak
bertanggung jawab pada DPR, melainkan presiden bertanggung jawab
kepada MPR. Kebiasaan ini tumbuh sejak Orde Baru.
2. Pengesahan rancangan undang-undang yang telah disetujui oleh DPR.
Secara konstitusional presiden sebenarnya mempunyai hak untuk
menolak mengesahkan rancangan undang-undang yang telah disetujui
DPR, sebagaimana diisyaratkan oleh pasal 21 ayat 2 UUD 1945 tetapi
dalam

praktik

presiden

belum

pernah

menggunakan

wewenang

konstitusional tersebut, presiden selalu mengesahkan rancangan undangundang yang telah disetujui oleh DPR, meskipun rancangan undangundang itu telah mengalami berbagai pembahasan dan amandemen DPR.
Rancangan Undang-Undang kebanyakan berasal dari pemerintah
(presiden) sebagaimana ketentuan yang terdapat dalam pasal 5 ayat1 UUD
1945. Dalam pembahasan RUU tersebut kedudukan DPR merupakan
partner dari presiden c.q. pemerintah. Maka pengesahan rancangan
Undang-Undang oleh presiden sangat dimungkinkan karena RUU tersebut
akhirnya merupakan kesepakatan antara DPR dengan pemerintah.

3. Pada setiap minggu pertama bulan januari, Presiden Republik Indonesia


selalu menyampaikan penjelasan terhadap rancangan Undang-Undang
tentang Anggaran pendapatan dan Belanja Negara di hadapan DPR.
Perbuatan presiden tersebut termasuk dalam konvensi. Hal ini tidak
diatur dalam UUD 1945, dalam pasal 23 ayat 1 UUD 1945 hanya
disebutkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja ditetapkan tiap-tiap
tahun dengan undang-undang. Apabila Dewan Perwakilan Rakyat tidak
menyetujui anggaran yang diusulkan pemerintah, maka pemerintah
menjalankan anggaran tahun lalu .
Penjelasan oleh presiden mengenai RUU tentang APBN di depan DPR
yang sekaligus juga diketahui rakyat sangat penting, karena keuangan
negara menyangkut salah satu hak dan kewajiban rakyat yang sangat
pokok. Betapa caranya rakyat sebagai bangsa akan hidup dan dari mana
didapatnya belanja buat hidup, harus ditetapkan oleh rakyat itu sendiri
dengan perantaraan Dewan Perwakilan Rakyat, demikian penjelasan UUD
1945.
Demikian beberapa contoh adanya konvensi dalam praktik ketatanegaraan
Indonesia.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Dari ketentuan-ketentuan tersebut diatas dapat diketahui bahwa konvensi
itu berkembang karena kebutuhan dalam praktik penyelenggaraan negara.
Konvensi dapat terjadi melalui suatu praktik berulang-ulang yang tumbuh

menjadi kewajiban yang harus ditaati para penyelenggara negara.


Penyelenggaraan negara itu adalah alat-alat perlengkapan negara atau
lembaga-lembaga negara. Dalam UUD 1945 sudah cukup jelas ketentuanketentuan yang mengatur lembaga-lembaga.
2. UUD NRI 1945 mengakomodasikan adanya hukum-hukum dasar yang tak
tertulis yang timbul dan terpelihara dalam praktik ketatanegaraan yang
dinamakan konvensi. Hal ini tentunya tak lepas dari pandangan modern
para penyusun UUD NRI 1945 yang melihat hukum konstitusi dalam
pengertian yang luas, yang mencakup baik hukum tertulis maupun hukum
yang tidak tertulis.
3. Dalam realita konstitusional, maka kehadiran konvensi merupakan
kelengkapan bagi konstitusi atau UUD NRI 1945 dalam rangka memenuhi
tuntutan kebutuhan dan perkembangan zaman.
4. pembentukan UUD 1945 di dalam menysun UUD 1945secara singkat dan
supel karena didasari pola pikir bahwa :
a. Telah cukup jikalau UUD hanya memuat aturan-aturan pokok , hanya
memuat garis-garis besar sebagai instruksi kepada pemerintah pusat
dan

lain-lain

penyelenggara

negara

untuk

menyelenggarakan

kehidupan negara. Sedangkan aturan-aturan pokok itu pelaksanaannya


diserahkan kepada peraturan perundangan lainnya dalam hal ini
termasuk juga kemungkinan munculnya konvensi dalam praktek
ketatanegaraan.
b. kita harus senantiasa ingat kepada dinamika kehidupan masyarakat dan
negara Indonesia tumbuh, zaman berubah oleh karena itu , kita harus
hidup secara dinamis.
c. kita harus menjaga supaya sistem UUD 1945 jangan samapai
ketinggalan zaman. hal yang paling penting ialah semangat, semangat
pada penyelenggara negara.
B. Saran
Berkaitan dengan praktik adanya konvensi dalam ketatanegaraan ini
menurut saya, kelemahan dalam menerapkan konvensi ketatanegaraan adalah

tidak adanya sangsi yang mewajibkan lembaga-lembaga/pejabat Negara


untuk senantiasa mematuhi kebiasaan-kebiasaan ketatanegaraan yang berlaku
tersebut. Pelanggaran terhadap konvensi ketatanegaraan tidak dapat
dipaksakan oleh atau melalui pengadilan. Sifat demikian menurut saya akan
menjadi suatu hal yang tidak elok jika ternyata terdapat pelanggaran
didalamnya, serta tidak adanya kepastian hukum inilah yang pada akhirnya
akan menimbulkan konflik kebiasaan.
Oleh karena itu harapan saya kepada pembuat kebijakan bukan tidak
mungkin untuk menambahkan penerapan sanksi terhadap konvensi yang
bersifat menyimpang. Supaya terdapat kepastian hukum.

DAFTAR PUSTAKA
1. Dahlan Thaib, Jazim Hamidi, Nimatul Huda, Teori dan Hukum Konstitusi,
Jakarta: PT.Rajagrafindo Persada, 2013
2. Sri Janti dkk, Pendidikan Kewarganegaraan untuk mahasiswa, Yogyakarta:
Graha Ilmu, 2006

3. A. Ubaidillah, dkk.,Pendidikan Kewargaan Demokrasi, HAM & Masyarakat


Madani, Jakarta: IAIN Jakarta Press
4. K. Rumokoy Nike, Peranan Konvensi Ketatanegaraan dalam
Pengembangan Hukum Tata Negara Indonesia, Vol. XVIII/No.4/Mei
Agustus/2010, http://repo.unsrat.ac.id/50/1/Hal_11-22.pdf , Diunduh: 10
November 2014
5.

Artina F, makalah, Konvensi Ketatanegaraan Sebagai Salah Satu


Sarana
Perubahan
UUD
NRI
1945,
2013,
http://fitriahartina011.blogspot.com/2013/03/konvensi-ketatanegaraansebagai-salah.html Diunduh: 10 November 2014

6.

Jimly Asshiddiqie, makalah Kemungkinan Perubahan Kelima


UUD
1945
http://www.jimly.com/makalah/namafile/89/PERUBAHAN_KELIMA_UUD
_Menko_Polkam.pdf, Diunduh: 10 November 2014

7.

Muhammad
Alamsyah,
Makalah,
Ketatanegaraan
https://www.academia.edu/5034342/KETATANEGARAAN Diunduh: 11
November 2013

8.

Undang-Undang Dasar Tahun 1945

9.

Penjelasan Umum Undang-Undang Dasar Tahun 1945

10.

TAP No. I/ MPR/ 1983