Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PRAKTIKUM MANAJEMEN AGROEKOSISTEM INDIKATOR KESEHATAN TANAH PADA HUTAN

LAPORAN PRAKTIKUM MANAJEMEN AGROEKOSISTEM INDIKATOR KESEHATAN TANAH PADA HUTAN Oleh: Nama : Tanzilal Azizis Saikha NIM

Oleh:

Nama

: Tanzilal Azizis Saikha

NIM

: 135040201111213

Kelas

: H

Asisten

: Devi Ratna Rohana

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

2015

Latar Belakang

Hutan adalah suatu areal yang luas dikuasai oleh pohon, tetapi hutan bukan hanya sekedar pohon. Termasuk di dalamnya tumbuhan yang kecil seperti lumut, semak belukar dan bunga-bunga hutan. Di dalam hutan juga terdapat beranekaragam burung, serangga dan berbagai jenis binatang yang menjadikan hutan sebagai habitatnya. Menurut Spurr (1973), hutan dianggap sebagai persekutuan antara tumbuhan dan binatang dalam suatu asosiasi biotis. Asosiasi ini bersama-sama dengan lingkungannya membentuk suatu sistem ekologis dimana organisme dan lingkungan saling berpengaruh di dalam suatu siklus energi yang kompleks.

Hutan yang kami kunjungi adalah hutan yang terletak di jalan menuju paralayang. Faktanya kami menemukan banyak vegetasi dan binatang di dalam hutan tersebut. Kami juga banyak menemukan kascing di atas permukaan tanah. Seresah yang terdapat di atas tanah pada hutan tersebut juga banyak. Tidak ada permasalahan yang terdapat di hutan karena ekosistem hutan sudah cukup seimbang. Namun bisa terdapat permasalahan jika hutan tersebut akan dijadikan lahan pertanian karena dapat merusak ekosistem hutan itu sendiri.

Tujuan

Memahami pengelolaan agroekosistem hutan yang sehat dan berkelanjutan melalui upaya perbaikan sifat biologi tanah.

Manfaat

Memahami indikator tanah yang sehat dan tidak sehat yang menjadi kunci utama dalam pengelolaan manajemen agroekosistem.

Tahapan Prosedur Ringkas

Lahan yang kami kunjungi adalah lahan hutan yang terletak di jalan menuju paralayang. Perjalanan dari Malang menuju hutan ± 1,5 jam. Setelah sampai di hutan, kami langsung melihat binatang dan vegetasi apa saja yang terdapat di hutan. Kami juga mengamati ketebalan seresah

yang ada di hutan. Dan mengamati kascing yang ada di hutan. Kami pun mengambil sampel tanah dan kascing untuk dianalasa lebih lanjut.

Hasil dan Pembahasan

Dapat ditemukan banyak binatang dan vegetasi pada hutan tersebut. Beberapa binatang yang kami temukan di hutan antara lain rayap, ulat, semut, kutu daun, belalang, laba-laba, cacing, dan lain-lain. Sedangkan beberapa vegetasi yang kami temukan antara lain paku-pakuan, lumut, rumput gajah, jamur, pohon karet, dan lain-lain. Indikator biologi pada ekosistem hutan relatif baik karena ekosistem hutan yang masih alami, belum ada campur tangan manusia dalam mengolah hutan. Hanya saja pada hutan yang kami kunjungi terdapat beberapa wadah atau mangkuk yang digunakan untuk menampung tetesan getah karet yang dihasilkan oleh pohon karet yang terdapat di hutan. Dapat dilihat bahwa masyarakat yang tinggal di dekat hutan memanfaatkan hasil hutan (getah karet), namun untuk lahan dan kondisi hutan disana masih alami. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hutan tersebut belum mengalami pengolahan oleh manusia.

Seresah yang kami temukan pada hutan tersebut juga banyak, tanah pada hutan tersebut hampir tertutupi oleh seresah yang ada di hutan. Ketebalan seresah pada hutan tersebut adalah sekitar 2 cm. Maka dapat disimpulkan bahwa kandungan bahan organik pada tanah di hutan relatif tinggi karena terdapat banyak seresah disana. Dengan banyaknya kandungan organik maka tanah tersebut baik untuk pertumbuhan tanaman. Hal tersebut dikarenakan ekosistem hutan yang masih alami dan seimbang. Secara keseluruhan tidak ada permasalahan pada ekosistem hutan karena ekosistem hutan masih alami dan sudah cukup seimbang. Namun permasalahan dapat timbul apabila lahan hutan tersebut digunakan untuk lahan pertanian karena dapat merusak ekosistem hutan itu sendiri dan mengurangi luasan hutan yang memang sudah semakin sedikit. Solusi dari permasalahan tersebut adalah dengan menggunakan sistem Agroforestri. Hal tersebut didukung oleh Conway (1987) yang dikutip oleh Karwan A. Salikin dalam bukunya yang mengatakan bahwa Agroforestri merupakan pola tanam tumpang sari antara tanaman tahunan, khususnya tanaman hutan, dan tanaman semusim, misalnya tanaman pangan atau obat-obatan. Tanaman tahunan mampu menyimpan banyak air dan menghasilkan humus dari seresah daun, serta memberikan naungan

bagi tanaman semusim. Hal tersebut tentunya akan mengurangi kerusakan yang timbul karena penanaman tanaman semusin atau tanaman budidaya karena pada tanaman hutan seperti pohon dapat menghasilkan seresah daun yang dapat tetap menjaga kandungan bahan organik tanah sehingga tanah tetap sehat.

Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa tanah pada lahan hutan yang kami amati sehat karena ekosistemnya yang masih alami. Dan lebih baik ekosistem hutan yang masih alami tersebut tidak dirusak karena sudah semakin berkurangnya luasan hutan yang ada di Indonesia. Jika ingin membuka atau menggunakan hutan untuk pertanian, alangkah lebih baiknya apabila menggunakan sistem Agroforestri karena akan meminimalisir kerusakan yang ditimbulkan.

Lampiran

Lampiran Foto kascing di hutan Foto laba-laba Foto vegetasi di hutan Foto vegetasi di hutan Dokumentasi

Foto kascing di hutan

Lampiran Foto kascing di hutan Foto laba-laba Foto vegetasi di hutan Foto vegetasi di hutan Dokumentasi

Foto laba-laba

Lampiran Foto kascing di hutan Foto laba-laba Foto vegetasi di hutan Foto vegetasi di hutan Dokumentasi

Foto vegetasi di hutan

Lampiran Foto kascing di hutan Foto laba-laba Foto vegetasi di hutan Foto vegetasi di hutan Dokumentasi

Foto vegetasi di hutan

Lampiran Foto kascing di hutan Foto laba-laba Foto vegetasi di hutan Foto vegetasi di hutan Dokumentasi

Dokumentasi kelompok 1

Lampiran Foto kascing di hutan Foto laba-laba Foto vegetasi di hutan Foto vegetasi di hutan Dokumentasi

Foto vegetasi di hutan

Foto vegetasi di hutan Foto vegetasi di hutan

Foto vegetasi di hutan

Foto vegetasi di hutan Foto vegetasi di hutan

Foto vegetasi di hutan