Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH PROSES SUPERVISI

PENDIDIKAN
DAFTAR PUSTAKA
Wijaya, Cece dan Rusyan Tabrani, Kemampuan Dasar Guru dalam Proses
Belajar Mengajar

(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1994)

Mulyasa, E, Manajemen Berbasis Sekolah, (Bandung: Remaja Rosdakarya,


2000)
Purwanto, Ngalim, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung: Remaja
Rosdakarya,

1984)

Burhanudin, Analisis Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan, (Jakarta:


Bumi Aksara,

1994)

Sahertian, Piet. A, Prinsip dan Tehnik Supervisi, (Surabaya: Usaha Nasional,


1981)
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
BalaiPustaka, 2002), 263.
Notoatmodjo, Soekidjo, Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, (Jakarta: PT Rineka Cipta,
2003),16Suhertian,
Muhammad, Rifai, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 1982)

PROSES SUPERVISI PENDIDIKAN

MAKALAH
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Nilai pada Mata Kuliah
Supervisi Pendidikan dengan Dosen Pengampu Zaini, S.Pd.I
Oleh:
MUHAMMAD RAHMADANI
NIM: 2012121591

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
DARUL ULUM KANDANGAN
2014

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah
memberikan taufik serta hidayahNya. Sehingga kami dapat menyusun
makalah ini dengan judul Proses Supervisi Pendidikan pada Mata Kuliah
Supervisi Pendidikan.
Shalawat

dan

salam

semoga

selalu

senantiasa

tercurah

kepada

junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW. Beserta keluarga, sahabat dan
pengikut beliau hinggga akhir zaman. Yang telah membawa kita dari alam
kebodohan menuju alam terang benderang bercahayakan iman, islam, dan
ihsan.
Tak lupa kami ucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada
Dosen Mata Kuliah Supervisi Pendidikan yang telah mendukung kami hingga
terselesaikannya makalah ini.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan belum sempurna
apa yang kami sampaikan, sehingga apabila ada kekurangan dalam
penulisan serta isi atau materi, kami mohon saran dan kritiknya secara
langsung maupun tidak langsung, untuk kesempurnaan makalah ini.

Kandangan, 14
September 2014
Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................ ii
DAFTAR ISI.......................................................................................................
iii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN................................................................................... 2
A. Definisi
Supervisi........................................................................................... 2
B. Definisi Pendidikan.......................................................................................
2
C. Definisi Supervisi Pendidikan........................................................................
3
D. Proses Supervisi
Pendidikan.......................................................................... 4
E. Langkah-Langkah Supervisi Pendidikan.......................................................
5
BAB III PENUTUP............................................................................................ 8
A.
Kesimpulan.................................................................................................... 8
B.
Saran.............................................................................................................. 8
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang berintikan interaksi antara peserta didik dengan
para pendidik serta berbagai sumber pendidikan[1]. Interaksi antara peserta didik dengan
pendidik dan sumber-sumber pendidikan tersebut dapat berlangsung dalam situasi
pendidikan, pengajaran, latihan, serta bimbingan. Untuk mencapai hasil pembelajaran yang
maksimal, maka diperlukan sesosok guru yang professional. Proses pendidikan akan berhasil
dengan baik jika didukung oleh seorang guru yang professional, karena dalam dunia
pendidikan khususnya bagian pengajaran tolak ukur keberhasilannya adalah guru.
Pembelajaran yang efektif mampu menghasilkan output anak didik yang berkualitas.
Pembelajaran yang kondusif dan dinamis juga tidak menafikkan peran guru sebagai
perantara transfer ilmu ke murid. Keberadaan supervise pendidikan memiliki peran penting
dalam mengawasi dan mengamatai kinerja guru dalam membimbing anak didik menjadi
insane yang berkualitas. Dalam kenyataannya tidak sedikit dari para pendidik menemui
beberapa hambatan yang menyebabkan kurang maksimalnya pelaksanaan proses belajar
mengajar. Adanya hambatan bisa berakibat pada kurangnya daya inovasi guru dalam
mengajar dan lemahnya motivasi guru dalam meningkatkan kemampuan murid[2].
Seorang guru tidak akan lepas dari kekurang sempurnaan, sehingga guru juga
memerlukan bimbingan dan arahan dan juga bantuan dari orang yang lebih berpengalaman
dan ahli. Tidak dipungkiri adanya guru yang kurang professional sangat menguatirkan dunia
pendidikan, banyak faktor yang menyebabkan guru kurang professional, hal ini merupakan
indikasi bahwa faktor guru sebagai pengajar sangat berperan penting dalam menghantarkan
anak didik menjadi berhasil di kemudian hari. Keberadaan sekolah sebagai lembaga yang
mengelola pendidikan mempunyai peranan penting dalam perekrutan guru, karena baik dan
buruknya guru menjadi tanggung jawab pihak sekolah yang telah memberikan tanggung
jawab kepada guru harus sering dilakukan oleh pihak sekolah guna menabah mutu dan
kemampuan sang guru. Tidak diragukan lagi keberadaan guru merupakan inti pokok dalam
pengembangan bakat anak didik didunia pendidikan[3].

BAB II
PEMBAHASAN

PROSES SUPERVISI PENDIDIKAN


A. DEFINISI SUPERVISI
Supervisi secara etimologi berasal dari kata super dan visi yang mengandung arti melihat dan
meninjau dari atas atau menilik dan menilai dari atas yang dilakukan oleh pihak atasan
terhadap aktivitas, kreativitas, dan kinerja bawahan[4]. Penggunaan istilah supervise lebih
dikenal sebagai suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membatu para guru dan
pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif[5].
Burhanudin, berpendapat supervise yaitu bantuan dalam mengembangkan situasi
belajar mengajar kearah yang lebih baik, dengan jalan memberikan bimbingan dan
pengarahan pada guru dan petugas lainnya untuk meningkatkan kualitas kerja merekan
dibidang pengajaran dengan segala aspeknya[6]. Pemberian arahan dan bimbingan berarti
terdapat tujuan untuk pemberian pengontrolan kepada guru dalam proses pencapaian sesuatu
agar proses pelaksanaan kerja bisa sesuai dengan harapan yang sudah ditentukan.[7]
Keseluruhan pelaksanaan dalam supervisi dilakukan melalui proses dan dikelola
berdasarkan urutan dan teknik-teknik supervisi itu sendiri. Supervisi adalah melakukan
pembinaan sumber daya manusia pada pelaku pendidikan atau guru di lembaga pendidikan
(sekolah). Pengelolaan tersebut dilakukan untuk mendayagunakan sumber daya manusia agar
memiliki kempribadian yang terintegrasi dan terkoordinasi untuk mencapai tujuan sekolah.
Pengelolaan dilakukan oleh kepala sekolah dengan kewenangannya sebagai supervisor
sekolah melalui keputusan-keputusan yang ditetapkan dengan mengarahkan sumber daya
untuk mencapai tujuan.
B. DEFINISI PENDIDIKAN
Pendidikan diartikan sebagai proses perubahan sikap dan perilaku seseorang atau kelompok
dalam usaha membuat manusia menjadi lebih baik dari sebelumnya melalui upaya pengajaran
dan pelatihan, proses, cara, perbuatan mendidik[8]. Dalam konteks ini pendidikan berupaya
merubah pola pemikiran seseorang dari berbagai tahapan sebagai proses seseorang
memperoleh pengetahuan mengembangkan kemampuan atau keterampilan.
Dalam UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pasal 1 ayat (1), disana
dinyatakan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terncana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,

kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa
dan negara.
Arti pendidikan secara umum adalah suatu upaya yang direncanakan guna
mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat sehingga mereka mampu
melakukan terhadap apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan[9]. Sehingga makna
pendidikan adalah suatu proses transfer ilmu dari guru pada peserta didik guna mencapai halhal tertentu sebagai akibat dari proses pendidikan yang diikuti nantinya bisa bermanfaat
untuk bekal kedepan menjadi manusia yang berguna bagi diri sendiri dan lingkungan.
C. DEFINISI SUPERVISI PENDIDIKAN
Supervisi pendidikan dalam pengertian secara makro adalah suatu ilmu
yang mempelajari bagaimana membina sumber daya manusia yang ada
pada pelaksana pendidikan untuk ditata sesuai dengan tujuan yang telah
ditetapkan sesuai kesepakatan bersama dan dijalankan oleh supervisor.
Penataan dalam hal ini mengandung makna mengawasi, memimpin,
membina, atau mengontrol sumber daya yang meliputi perencanaan,
pengamatan, pengawasan dan pembinaan.
Penataan dalam hal ini mengandung, memimpin, membina atau
mengontrol sumber daya yang meliputi perencanaan, pengamatan,
pengawasan dan pembinaan. Dalam proses penataan sumber daya
manusia tersebut diperlukan adanya sebuah langkah pengontrolan yang
mencakup kunjungan kelas, observasi kelas, wawancara individu, saling
mengunjungi, evaluasi diri dan lain-lain. Supervisi sebagai latihan
bimbingan, tipe supervisi ini berlandaskan suatu pandangan bahwa
pendidikan itu merupakan proses pertumbuhan bimbingan.
Tipe ini baik terutama bagi guru-guru yang baru mulai mengajar
setelah

keluar

dari

sekolah

guru.

Kelemahannya

adalah

mungkin

pengawasan, petunjuk-petunjuk ataupun nasihat-nasihat yang diberikan


dalam rangka training dan bimbingan itu bersifat kolot, sudah tidak sesuai
lagi dengan perkembangan pendidikan dan tuntutan zaman sehingga
dapat terjadi kontradiksi antara pengetahuan yang telah diperoleh guru
dari sekolah guru dengan pendapat supervisor itu sendiri. Sedangkan
konteks sumber daya manusia dimaksud meliputi, sumber daya manusia

(pelaksana pendidikan, pendidik, dan pemakai jasa pendidikan), supervisi


pendidikan mengkoordinasikan berbagai sumber daya pendidikan seperti
guru, supervisor pendidikan untuk mencapai tujuan dan ketentuan proses
pembelajaran guru yang telah ditetapkan sesuai kesepakatan bersama
penentu kebijakan pendidikan di sekolah.
Serangkaian hal yang meliputi supervise pendidikan pada
hakikatnya terfokus pada tujuan pendidikan itu sendiri, yang mana
manusia (sumber daya) mampu melakukan kerja sama, mewujudkan
ketentuan yang telah ditetapkan bersama.
D. PROSES SUPERVISI PENDIDIKAN
Dalam melaksanakan tugasnya di sekolah, kepala sekolah mempunyai
beberapa tanggung jawab yakni berkewajiban melaksanakan administrasi
sekolah yang bertujuan menciptakan situasi belajar mengajar menjadi
lebih baik, dan melaksanakan supervisi pendidikan sesuai dengan
ketentuan yang telah ditetapkan supaya guru-guru termotivasi dalam
menjalankan tugas-tugas pembelajaran dan mampu membimbing peserta
didik menjadi lebih baik.
Dalam pelaksanaan tugasnya sebagai supervisor, kepala sekolah
hendaknya

memperhatikan

beberapa

pendekatan

yang

akan

digunakannya. Pendekatan atau orientasi yang dilakukan oleh supervisor


sangat tergantung pada kondisi guru. Untuk itu supervisi pendidikan
memerlukan berbagai pendekatan dalam mencapai tujuan, diantaranya
adalah pendekatan supervisi artistik, pendekatan supervise saintifik dan
pendekatan supervise klinis. Pertama pendekatan supervisi artistik yakni
proses supervisi merupakan suatu hal yang tidak bisa dijelaskan secara
rasional.
Kreatifitas supervisor memiliki peran yang dominan didalam
memperbaiki
saintifik

kualitas

merupakan

pelayanan
suatu

pendidikan,

proses

supervisi

pendekatan
yang

supervise

dilaksanakan

berdasarkan atas fakta dan data, sedangkan pendekatan supervisi klinis


lebih bersifat dalam rangka mengobati yakni penampilan guru dalam
mengajar. Sebagaimana dipaparkan diatas, proses supervisi pendidikan

pada hakikatnya merujuk pada upaya untuk mencapai tujuan, sesuai


dengan ketentuan yang telah ditetapkan sesuai keputusan bersama,
dengan suasana pendukung, dan pendekatan sistem sesuai dengan
karakteristik guru.

E. LANGKAH-LANGKAH SUPERVISI PENDIDIKAN


Langkah-langkah supervisi pendidikan dibagi dalam 5 langkah, yang mana langkah pertama
melaksanakan pertemuan pendahuluan dengan dibagi menjadi dua bagian:
Pertama, menciptakan suasana kekeluargaan yang intim antara guru dengan
supervisor agar komunikasi selama kegiatan dapat berlangsung secara efektif. Kedua,
membuat kesepakatan antara guru dengan supervisor tentang aspek proses belajar-mengajar
yang akan dikembangkan dan ditingkatkan, kedua perencanaan oleh guru dan supervisor
yakni membuat perencanaan pelaksanaan observasi secara bersamaan. Ketiga, mengenai
pelaksanaan pelatihan mengajar dan obsevasi yang mana guru sedang melakukan proses
pembelajaran sedang supervisor melakukan pengamatan secara cermat, dengan menggunakan
instrument observasi. Keempat, mengadakan analisis data, dalam hal ini supervisor mengajak
guru untuk mendiskusikan apa yang telah dilaksanakan oleh guru melakukan proses
pembelajaran di kelas. Kelima, langkah diskusi memberikan umpan balik yang bertujuan
untuk memberikan umpan balik atas apa yang telah dilakukan oleh supervisor kepada guru
yang sedang berlatih mengajar meningkatkan ketrampilannya dan pelaksanaan langkah
pemberian umpan balik sebaiknya dilakukan secara obyektif dan segera[10].
Kelima langkah supervisi pendidikan ini mempunyai beberapa keterkaitan yang erat
satu sama lain, dan berkesinambungan dalam beberapa proses langkah yang dilakukan oleh
supervisor guna melakukan kontrol terhadap pembelajaran guru di kelas. Pemaknaan atas
kelima langkah supervise pendidikan tersebut hendaknya juga membina inisiatif guru serta
mendorongnya untuk aktif menciptakan suasana dimana tiap orang merasa aman dan dapat
mengembangkan potensi-potensinya.
Dan seorang supervisor mampu menginterpretasikan makna demokrasi sebagai
pemberi kebebasan seluas-luasnya kepada bawahan sehingga akhirnya supervisor sendiri
tidak akan kehilangan otoritasnya sebagai pengamat. Supervisor hendaknya menyerahkan
atau mempercayai bawahannya untuk mengambil keputusan apa saja. Diharapkan supervisor
mampu menghargai pendapat dari para bawahannya (yang disupervisi) serta bisa memberikan

kepada mereka suatu solusi atau arahan untuk mengembangkan daya kreatifitasnya. Mereka
bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Semua keputusan diambil dengan jalan
musyawarah bersama. Pelaksanaan keputusan dilakukan bersama-sama karena keputusan
tersebut dirasakan telah menjadi milik bersama.
Supervisi tidaklah merupakan suatu kegiatan tunggal, akan tetapi merupakan
serangkaian kegiatan yang prosesnya berjalan secara sistematis, berencana, dan teratur untuk
tercapainya tujuan yang diinginkan. Untuk mencapai tujuan tersebut dalam pelaksanaannya
tidak bisa terlepas dari proses inspeksi, walaupun kita tidak bersedia dan mau menerima
inspeksi sebagai supervisi, akan tetapi pada hakekatnya proses supervise berjalan di atas
dasar inspeksi. Hal ini tidak dapat dihindari dalam kenyataannya setiap kali pelaksanaan
supervisi selalu diawali dengan kegiatan inspeksi terlebih dahulu. Dengan kata kalin inspeksi
merupakan salah satu fungsi daripada supervisi. Apabila demikian, sekarang timbul
pertanyaan: apakah setiap kali pelaksanaan supervisi selalu didahului dengan inspeksi
sebelumnya? Jawaban yang dapat diberikan untuk pertanyaan tersebut dapat dilihat dari dua
sisi, yaitu disatu sisi dapat kita jawab ya dan disisi lain dapat kita jawab tidak. Mari kita
analisis kedua alternatif jawaban tersebut di atas.
Proses supervisi berdasarkan inspeksi, pelaksanaan kegiatan supervisi prosesnya
dapat dimulai dengan mengadakan inspeksi terlebih dahulu untuk mengumpulkan berbagai
data, mengolah data dengan ukuran yang telah ditentukan, dan kemudian menyusun suatu
kesimpulan sebagai suatu konduite. Konduite adalah hasil penilaian sepihak yakni
berdasarkan pendapat pemeriksa dengan ukuran yang ada sesuai dengan ketentuan dan
peraturan yang berlaku. Apabila hasil pemeriksaan itu tidak ada tindak lanjutnya bagi
pembinaan atau pengembangan kemampuan professional guru yang diperiksa, dan hanya
dipakai untuk dasar kenaikan pangkat atau gaji berkala, pemindahan dan konsekuensi
lainnya, maka sampai disitulah batas daripada fungsi pemeriksaan.
Tidak ada usaha peningkatan kemampuan bagi guru yang diperiksa berarti inspeksi
semacam itu tidak dilakukan dalam rangka supervisi. Tetapi jika hasil inspeksi yang telah
dilakukan itu dijadikan sebagai bahan masukan bagi pembinaan atau pengembangan
kemampuan professional guru yang diinspeksi, maka proses semacam itu dilakukan dalam
rangka supervisi. Ini berarti setiap pelaksanaan supervisi diperlukan adanya inspeksi
sebelumnya.
Supervisi adalah merupakan suatu usaha pembinaan kemampuan guru agar dapat
berkembang dalam jabatannya, cenderung demokratis. Oleh karena itu, apabila dimulainya
proses supervisi dengan melalui persetujuan dan kerjasama yang akan disupervisi
sebelumnya, tanpa diawali dengan kegiatan terlebih dahulu, maka proses supervisi ini tidak

didasarkan atas inspeksi. Sesuai dengan prinsip supervisi yang lebih banyak memerlukan
partisipasi dan kerjasama dengan para guru, maka supervisor dapat yang akan disupervisi
untuk bersama-sama mempelajari masalah-masalah yang banyak dihadapi oleh guru-guru,
bersama-sama mencari dan menemukan faktor-faktor penyebabnya, dan bersama-sama pula
mencarikan cara yang efektif untuk mengatasinya melalui musyawarah mufakat untuk
menemukan kesamaan.
Pendekatan supervisor semacam ini dapat dilakukan hanya dengan kegiatan sepihak
saja oleh inspektur. Mengadakan observasi, kunjungan kelas, pemeriksaan, menelaah laporan
saja tidaklah cukup untuk menilai seorang guru dengan segala masalahnya, tetapi diperlukan
komunikasi edukatif yang langsung berhubungan dengan para guru. Karena dalam proses
supervisi dengan pertemuan atau percakapan pribadi antara supervisor dengan guru dapat
terjadi interaksi edukatif dan saling pengaruh mempengaruhi, ada sifat keterbukaan dan
kekeluargaan yang mereka miliki dan mewarnai pertemuan itu, sehingga lebih memudahkan
ditemukannya jalan keluar bagi pemecahan setiap masalah yang dialaminya.
Supervisi suatu proses yang siklusnya berkepanjangan tidak kunjung selesai walaupun
suatu saat supervisi sudah tidak diperlukan lagi dalam dunia pendidikan, supervisi tetap ada
dan berlangsung sepanjang masa ada manusia yang mau membina diri, belajar dan
berkembang, kemampuannya. Supervisi tidak hanya diperlukan secara mendadak untuk
sesuatu keperluan khusus, untuk penyusunan sesuatu laporan pendidikan dan sebagainya.
Kepala sekolah dalam melaksanakan fungsinya selaku supervisor harus selalu terbuka
mengajak para guru untuk menemukan, menyadari dan mengakui kelemahan-kelemahannya
atau kekurangan-kekurangannya sendiri tanpa ada usaha memanipulasi. Keadaan yang
dialaminya untuk menjaga harga diri dan martabat sesungguhnya akan menyulitkan diri
sendiri. Pendekatan yang bersifat interpersonal dalam supervisi pendidikan perlu diwujudkan
oleh supervisor dan guru-guru.
Persoalan yang dihadapi adalah karena masing-masing guru mempunyai kesulitan
yang unik dengan kadar masalahnya yang berbeda-beda pula, sehingga pemecahannya
memerlukan pendekatan yang berbeda pula dan dengan cara sendiri-sendiri sesuai dengan
jenis dan sifat masalah yang dialaminya.
Proses supervisi sebelumnya dengan perumusan sesuatu masalah yang diduga timbul
dan dialami oleh guru-guru di suatu sekolah atau kelas, selanjutnya diadakanlah penelitian
untuk memperoleh data/ informasi yang berhubungan dengan masalah tersebut. Hasil
pengumpulan data akan dianalisis untuk menemukan kelemahan atau kekurangan daripada
guru-guru tersebut dan diusahakan cara-cara yang terbaik untuk mengatasinya[11].
BAB III

PENUTUP
A. KESIMPULAN
Supervisi pendidikan mempunyai makna kerjasama antara guru dan kepala sekolah
untuk mencapai ketentuan pendidikan yang sudah di sepakati bersama. Ketetapan pendidikan
yang dibuat berdasarkan dari beberapa ketentuan pendidikan yang merentang dari tujuan
yang sederhana sampai dengan tujuan yang kompleks, tergantung lingkup dan tingkat
pengertian pendidikan yang dimaksud.
Supervisi pendidikan mengandung pengertian proses pengamatan dan pembinaan
supervisor kepada guru guna mencapai tujuan pendidikan yang disepakati. Proses supervisi
pendidikan pada hakikatnya merujuk pada upaya untuk mencapai harapan yang telah
ditetapkan, yang keberadaannya memerlukan peran kepala sekolah yang kooperatif,
demokratif, dan memiliki strategi pendekatan sesuai dengan karakteristik guru, dan strategi
pencapaian.
Langkah supervisi pendidikan lebih difokuskan pada bagaimana seorang kepala sekolah
mampu mengkondisikan guru yang disupervisi menjadi kooperatif dengan supervisor, karena
kurang optimalnya guru dalam mengajar perlu didiskusikan antar guru dan kepala sekolah
supaya masukan dari diskusi dengan guru berguna untuk pembenahan kinerja guru
kedepannya. Dalam ranah pemahaman srategi supervisi kepala sekolah, maka peran kepala
sekolah sebagai supervisor sangat diperhatikan. Tingkat kapabilitas kepala sekolah dalam
memimpin dan mengelola sekolah sangat menentukan keefektifan supervisi sekolah.
B. SARAN
Menyadari bahwa makalah ini banyak sekali kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, pemakalah mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun kepada para
pembanca guna menyempurnakan makalah ini. Atas perhatiannya, pemakalah ucapkan terima
kasih.

[1] Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, hal. 24


[2] Cece Wijaya, A. Tabrani Rusyan, Kemampuan Dasar Guru dalam Proses Belajar Mengajar (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, Cet. III,1994) hal.185
[3] E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), hal 155
[4] Ibid, hal. 155
[5] Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, ( Bandung: Remaja Rosdakarya, 1984), hal 103
[6] Burhanudin, Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan dan Kepemimpinan Pendidikan,(Jakarta: Bumi
Aksara, 1994), hal 285
[7] Piet. A. Sahertian, Prinsip dan Tehnik Supervisi, (Surabaya : Usaha Nasional, 1981) hal. 19

[8] Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: BalaiPustaka, 2002), 263.
[9] Soekidjo Notoatmodjo, Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2003),16
[10]
Piet A. Suhertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka PengembanganSumber
DayaManusia), hlm, 20
[11] Muhammad, Rifai, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1982

Sumber:http://syaifulplbunm.blogspot.com/p/pengertiansupervisitujuanseta
tenaga.html
Pelaku/TenagaDalamSupervisipendidikan
Pengertiantenagasupervisepebdidikan
Apakah yang dimaksud dengan pelaku supervisi dan siapakah yang dapat
dipandang sebagai pelaku supervisi? Supervisi, seperti yang sudah diberikan
batasannyadibagiandepandandiberlakukandisekolah,mengutamakanpeningkatan
prestasi belajar siswa dengan melibatkan orang banyak. Jika dicaricari secermat
cermatnya,setiapunsuryangadaditiapsekolahsebagaisebuahlembagapendidikan,
sedikitbanyakpastidapatdisebutkansiapasajayangdapatdantepatdiketegorikan
sebagaipelakudalampembelajaran.Namundalamuraianiniyangdiambilhanyalah
unsur yang paling dekat atau langsung terlibat dengan prestasi belajar siswa saja,
yaitu: Pengawas,Kepala Sekolah,wakil kepala sekolah bidang kurikulum atau
akademik,walikelas,petugasbimbingandankonseling,sertapetugasperpustakaan.
a.Pengawas
Sepertiyangtelahdisebutkansebelumnyabahwaakhirakhirinikegiatansupervisi
tidak dapat berjalan sebagaiman dirancang. Sebagai alasan utama ada dua,(1)
kesibukan pengawas dan kepala sekolah,(2) latar belakang pengawas dan kepala
sekolahyangseringkalitidaktepatdenganbiadngstudiyangdiajarkanolehguruyang
harus mereka supervisi. Denga keterbatasan ini maka pengawas memerlukan
dukunganatausumbangandatadariberbagaipihak.
Dalamkedudukandanfungsinya,pengawasadalahpenanggungjawabutamaatas
terjadinya pembinaan sekolah sesuai dengan jenis dan jenjang lembaga

pendidikannya. Di dalam deskripsi tugas disebutkan pengawas harus berhubungan


dengandanmeramudatayangdikumpulkanolehpelakusupervisiyanglain..semua
data tersebut disimpulkan, kemudian ditarik kesimpulannya untuk menentukan
alternatiftindakanyangsekiranyatepat,meskipunsesuaidengansupervisiklinisguru
yangbersangkutanharusmencbamemilihsendirialternatifpemecahanmasalahnya.
b.Kepalasekolah
Dibagian awal tulisan ini dijelaskan bahwa sejak konsep lama supervisi,yang
ertanggungjawabataspelaksanaansupervisiadalahpengawasdaknkepalasekolah.Isi
kegiatantugassupervisidimaksudmeliputiantaralainmengadakanpengamatankelas
jika pengawas mempunyai kesulitan dalam mengadakan pengamatan kelas karena
keterbatasanlatarbelakangbidangstudi,demikianjugahalnyakepalasekolah,dapat
dibantu oleh guru atao personil yang lain. Namun demikian karena kepala sekolah
dapatdiibaratkansebagaipemiliksekolah,tentuyangbersangkutansangatfaham
tentangselukbelukkehidupansekolahseharihari.
c.Wakilkepalasekolahbidangkurikulum
Disemuajenisdanjenjangpendidikan,terdapatwakilwakilkepalasekolahyang
berfungsimembantukelancarantugaskelapasekolah.Banyaknyawakilkepalasekolah
tidak sam, tergantung darai beban tugas yang ditangani yang untuk sementara
tergantung dari besarnya sekolah yang ditunjukkan oleh tipetipenya. Meskipun
banyaknya tidak sama, namun pasti ada wakil kepala sekolah yang diserahi tugas
mengurus halhal yang berkaitan dengan pembelajaran. Lazimnya wakil kepala
sekolah(Wakasek)tersebutdikenaldenganWakasekbidangkurikulum.
Tugas wakasek bidang kurikulum ini adalah mengurusi semua urusan yang
berkaitandengankurikulumdanpembelajaran.Padaakhirsetiapcaturwulanguru
pastimengumpulkandaftarnilaiyangdigunakansebagaibahanpengisiraporkepada
wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Daftar nilai tersebut diambil dari lengger
kelas.Sayangsekalibahwanilainilaitersebutpadaumumnyahanyadisimpansebagai
arsip. Memang ada beberapa sekolah yang mengolah nilainilai tersebut dengan
menghitungrataratakelas permata pelajaran,dan adajugayangsudah menindak
lanjutiprosesnyayaknimenghitunglagidanmenggambarkanhasilnyadalamwujud

tampilanvisual,sehinggamenghasilkandiagrambatangyangtidakdikenalolehsiswa
yangmemilikinilaitersebut.
d.Wakilkepalasekolahbidangkesiswaan
Didalamlembagapendidikanformalsepertihalnyasekolah,wakilkepalasekolah
bidangkesiswaan adalah pejabat yang bisadikatakan paling akrab dengan seluruh
kehidupansiswa.Dengankedudukanituyangbersangkutandapatmelakukanupaya
pembinaan secara intensif, baik berdasarkan data yang diperolehnya secara sendiri
maupuntitipandaripihaklain,misalnyakepalasekolahdanguru.Apayangharus
dilakukanolehwakilkepalasekolahbidangkesiswaaninitidakdapatdirealisasikan
sendiri, namun demikian perlu diatur dalam kerjasama dengan personil lain yang
mempunyaikaitankepentingan.
Pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh wakasek bidang kesiswaan yang
berkenaandenganbidangsupervisidapatbervariasi:
1. Padawaktuadaacaramemperingatiharibesarataututup tahun ajaran.Sebelum
pelaksanaan sebaiknya disusun rencana yang matang bersama dengan pihakpihak
yangdiperlukan.
2. Sewaktuwaktumelakukantugastugasrutin.Dalamhaliniwakasekitudapatminta
bantuanketuaosisatauwakilkelasyangdidalamkegiatanseharihariyangmemang
sudahakrabdengansiswa.
3. Padawaktuupacarabenderahariseninpagi,wakasekdapatmintatitipkepada
kepalasekolahyangbisamemberikanpidatosambutan.Carainibaikkarenaisipesan
untuk siswa dapat didengar juga oleh pihak lain sekaligus, yaitu wakama bidang
lain,guru,petugas BK,prtugas perpustakaan, dam guruguru lain. Dengan demikian
akanbanyakdukunganatasketerlaksanaanpesanuntukpembinaantersebut.
e.Walikelas
Walikelasadalahpersonilyangebrtanggungjawabataskemajuansiswadikelas
tertentu.Dengankedudukannyaituwalikelastentunyamemilikidatayanglengkap
tentang keadaan siswa yang terdaftar di kelas yang bersangkutan. Apabila data
tersebutdianalisisdapatdiguanakansendiriolehwalikelasdalamrangkapembinaan
pribadi maupun prestasi belajarnya. Selain itu data yang relevan dapat diberikan

kepada pengawas dan kepala sekolah sebagai behan untuk kepentingan pembinaan
untukfurumaupunsiswa.
f.Petugasbimbingandankonseling
Dalamdeskripsitugas,kgiatanyangseharusnyadilakukanolehpetugasbimbingan
dankonselingdisekolahsebetulnyaadatigahalyaitu:
1.Bimbinganpribadi
2.Bimbinganstudi
3.Bimbingankarir
Yangselamainidilakukanolehkonselorbaruterbataspadabimbinganpribadi,
khususnya mengenai anak bermasalah.Dengan demikian kesan yang adapadadiri
anaktentangpetugasBKdenganjulukan:tukangmanggilanaknakal.Siapayang
mendatangi atau masuk ke ruang BK berarti anak bermasalah. Alangkah
menyedihkanjikasemuasiswaberpandangandemikian.
g.Petugasperpustakaan
Pembelajarandapatberhasilapabiladidukungdengansumberbahanyangcukup
banyak,memadai,danbervariasi.Bukupaketyangadadanberedarsaatiniolehpihak
berwenang memang sudah diusahakan keberadaanya oleh pemerintah, dan relatif
sudahmencukupi.Namunsangatdisayangkanbahwakemampuanpemerintahsaatini
masih sangat terbatas sehingga belum sanggup memberikan kepada semua sekolah
swastamaupunmadrasahsecaramerata,apalagiuntuksemuasiswa.Idealnya,setiap
siswa memiliki buku paket yang dapat disimak bersama ketika guru menjelaskan
konsepkonsepyangadadidalamnya,lalusesudahitudibawapulanguntukditelaah
kembalidandikuasimelaluipemahamandanhapalan.
Di samping buku paket tersebut pemerintah juga menerbitkan bukubuku
suplemen.Jikabukupaketberisikonsepkonsepyangrelatifbakuuntukbidangbidang
ilmu yang sudah mantap, buku suplemen dapat berisi konsepkonsep baru yang
munculnyasusulmenyusuldansangatlahsulitjikasemuanyaharusditambahkanpada
bukupaket.Selainkonsepkonsepbaru,bukusuplemenjugadapatberupainformasi
dan contohcontoh kasus setempat sebagai tambahan wawasan dalam menerapkan

konsep. Oleh karena itu yangideal, buku suplemen tersebut tidak dicetak di pusat
tetapididaerah.
Petugas perpustakaan sebagaiorangyangtelah ditunjuk dan diserahitanggung
jawabpengelolaperpustakaan,dapatmembantupeningkatanprestasisiswamaupun
pemanfaatan bahan koleksi perpustakaan. Ada dua pendekatan untuk
mengembangkanpemberdayaanperpustakaan,yaitu:
1. Mengembangkanbahankoleksiperpustakaan
Sudah dijelaskan bahwa di masyarakat luas dan di lingkungan sekolah sendiri
sebetulnya sudah bertebaran calon bahan koleksi yang dapat diangkat menjadi
bahankoleksiperpustakaan.Petugasperpustakaan(danstafsekolahyanglain)dapat
mengembangkan bahan koleksi melaluoi caracara yang tidak konvensional. Yang
dimaksuddengancarakonvensionaladalahmenambahbahankoleksidenganmembeli
bukubarudaritokobuku.Carasepertiitutentusajabaik,teyapibesarkendalanya
karenadanasebagaisaranapengadaannyasangatsusahdidapatkan.Untukmengatsi
kendalatersebutdisarankancarcarayanginkonvenssional,antaralain:
1.Menghimpunlembarandakwahatauiklan
2.Mengumpulkanmajalahbekas
3.Memanfaatkanklipingsiswa
4.Menghimpunmajalahdinding,dan
5.Mintabantuandarisiawaataulembagalain.
6.Menggalakkanpemanfaatanbahankoleksi
Penguasaankonsepilmuolehsiswayanghanyadilakukanlewatbukupaketdan
sedikit tambahan penjelasan dari guru, kadangkadang sudah mencukupi bagi
penguasaan konsepkonsep tertentu, tetapi masinh sangat belum mencukupi bagi
konsepkonseplainyangperkembanganpenerapandimasyarakatsangatcepatmaju.
Untuk kelompok yangkeduaini sangatdiharapkan dari guru maupun siswadapat
menambahsendirimembacabukubukudanmenelaahsertamengaitkandenganapa
yangsudahtertaradidalambukudanpenjelasanguru.

Sampaisaatinibanyakguruyangmampudanmaumemberikantugastambahan
kepada siswa untuk menambah penguatan penguasaan konsep melalui buku atau
bahan lain yang erupa sumber ilmu pengetahuan dan penerapannya massih sangat
terbatas.Memanguntkdapatmelakukantambahantugasmengajarinitidakmudah.
Guru perlu aktif mengeluarkan fikiran dan tenaga ekstra. Banyak guru yang
sebenarnya mau tetapi tidak mampu menemukan caranya. Sudah diberi tahu baru
menyadaribahwaternyatacaranyamudahdanmurah.Sesudahmencobamerekaakan
makin menyadari dan merasa puas karena ternya siswa akan dengan senang hati
mengerjakantugasyangdiberikanolehgurudanmerasapuasdenganhasilnya,yaitu
penguasaanyangsemakinmeningkat.

http://rafiatunnajahqomariah.blogspot.com/2012/06/supervisipendidikan.html

BAB II
PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan sarana yang sangat strategis dalam melestarikan


sistem nilai yang berkembang dalam kehidupan. Proses pendidikan tidak hanya
memberikan

pengetahuan

dan

pemahaman

peserta

didik,

namun

lebih

diarahkan pada pembentukan sikap, perilaku dan kepribadian peserta didik,


mengingat perkembangan komunikasi, informasi dan kehadiran media cetak
maupun elektronik tidak selalu membawa pengaruh positif bagi peserta didik.
Guna mencapai semua itu maka dalam pelaksanaan tugas pendidik perlu adanya
supervisi, maksud dari supervisi di sini adalah agar pendidik mengetahui dengan
jelas tujuan dari pekerjaannya dalam mendidik. Ini tidak lain membantu pendidik
agar lebih fokus pada tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan dan
menghindarkan dari pelaksanaan pendidikan yang tidak relevan dengan tujuan
pendidikan.

Setiap pelaksanaan

program

pendidikan memerlukan adanya

pengawasan atau supervisi.


Kegiatan

serupa

yang

dahulu

banyak

dilakukan

adalah

Inspeksi,

pemeriksaan, pengawasan atau penilikan. Dalam konteks sekolah sebagai


sebuah

organisasi

pendidikan,

supervisi

administrasi dan manajemen. Kegiaan

merupaka

bagian

dari

proses

supervisi melengkapi fungsi-fungsi

administrasi yang ada di sekolah sebagai fungsi terakhir, yaitu penilaian


terhadap semua kegiatan dalam mencapai tujuan. Dengan supervisi, akan
memberikan inspirasi untuk bersama-sama menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan
dengan jumlah lebih banyak, waktu lebih cepat, cara lebih mudah, dan hasil
yang lebih baik daripada jika dikerjakan sendiri.
Pengawas bertanggung jawab terhadap keefektifan program itu. Oleh
karena itu, supervisi haruslah meneliti ada atau tidaknya kondisi-kondisi yang
akan

memungkinkan

tercapainya

tujuan-tujuan

pendidikan.

Setelah

kita

mengetahui realita yang terjadi seperti yang sudah tersebut di atas, maka
diperlukan sebuah penjelasan secara rinci dan mendetail tentang supervisi
pendidikan agar para pendidik dapat memahami betapa perlu dan pentingnya
supervisi

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN SUPERVISI PENDIDIKAN


Secara umum, istilah supervisi berarti mengamati, mengawasi atau
membimbing dan menstimulir kegiatan-kegiatan orang lain dalam maksud
perbaikan. Dalam bidang pendidikan, supervisi mengandung konsep umum yang
sama namun disesuaikan dengan aktivitas-aktivitas pengajaran.[1]
P. Adam dan Frank G Dickey, supervisi pendidikan adalah yang berencana
untuk memperbaiki pelajaran. Program ini dapat berhasil apabila supervisor
memiliki keterampilan dan cara kerja yang efisien dalam kerja sama dengan guru
dan petugas pendidikan lainnya.
Dalam dictionary of education, good carter memberi pengertian supervisi
adalah usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru dan petugas
lainnya dalam memperbaiki pengajaran termasuk menstimulir, menyelesaikan
pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru dan merevisi tujuan-tujuan
pendidikan,

bahan-bahan

pengajaran,

metode

mengajar

dan

evaluasi

pengajaran. Program supervisi bertumpu pada satu prinsip yang yang mengakui
bahwa setiap itu mempunyai potensi untuk berkembang.
Menurut Alexander dan Saylor supervisi adalah suatu program inservice
education dan usaha memperkembangkan kelompok (group) secara bersama.
Menurut

Boardman

supervisi

adalah

suatu

usaha

menstimulir,

mengkoodinir dam membimbing secara kontinu


Menurut H. Burton dan Leo J. Bruckner supervisi adalah suatu teknik
pelayanan yang tujuan utamanya mempelajari dan memperbaiki secara bersama
faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.[2]

B.

PERBEDAAN INSPEKSI DAN SUPERVISI


Inspeksi berasal dari istilah bahasa belanda inspectie. Didalam bahasa
inggris dikenal inspection. Kedua kata tersebut berarti pengawasan, yang
terbatas kepada pengertian mengawasi apakah bawahan (dalam hal ini adalah
guru) menjalankan apa yang telah diinstruksikan oleh atasannya, dan bukan
berusaha membantu guru itu (Ngalim Purwanto, 1990). Pelakunya disebut
inspektur.

Inspektur

pendidikan

bertugas

untuk

melakukan

pengawasan

terhadap semua kegiatan sekolah, mulai dari keberhasilan sekolah, masalah


ketatausahaan, masalah kemuridan, keuangan, dan sebagainya sampai kepada
proses belajar-mengajar. Pada saat melakukan inspeksi, kegiatan inspektur
ditekankan kepada usaha melihat kelemahan pelaksanaan sekolah untuk
memberikan konduite guru atau kepala sekolah.
Sedangkan supervisi mempunyai arti yang lebih luas, yaitu pengertian
bantuan dari perbaikan.
Berbagai buku mendefinisikan supervisi berbeda satu sama lain. Daresh
(1989), misalnya mendefinisikan supervisi sebagai suatu proses mengawasi
kemampuan

seseorang

untuk

mencapai

tujuan

organisasi.

Wiles

(1955)

mendefinisikan sebagai bantuan dalam perkembangan situasi belajar-mengajar.


Lucio dan McNeil (1978) medefinisikan tugas supervisi, yang meliputi:
(a) Tugas perencanaan, yaitu untuk menetapkan kebijakan dan program.
(b) Tugas administrasi, yaitu pengambilan keputusan serta pengkordinasian melalui
konferensi dan konsultasi yang dilakukan dalam usaha mencari perbaikan
(c)

kualitas pengajaran.
Partisipasi secara langsung dalam pengembangan kurikulum, yaitu dalam
kegiatan merumuskan tujuan, membuat penuntun mengajar bagi guru, dan

memilih isi pengalaman belajar.


(d) Melaksanakan demonstrasi mengajar untuk guru-guru, serta
(e) Melaksanakan penelitian.
Sergiovanni dan Starratt (1979) berpendapat bahwa tugas supervisi
adalah perbaikan situasi pengajaran.
Dari berbagai definisi tersebut, kelihatannya ada kesepakatan umum,
bahwa kegiatan supervisi pengajaran ditujukan untuk perbaikan pengajaran.
Perbaikan itu dilakukan melalui peningkatan kemampuan professional guru
dalam melaksanakan tugasnya.[3]
C. TUJUAN SUPERVISI PENDIDIKAN
Tujuan supervisi pendidikan adalah memperkembangkan situasi belajar
dan mengajar yang lebih baik. Usaha perbaikan belajar dan mengajar ditunjukan
kepada pencapaian tujuan akhir dari pendidikan yaitu pembentukan pribadi anak
secara maksimal.
Secara nasional tujuan konkrit dari supervisi pendidikan adalah:
a.

Membantu guru melihat dengan jelas tujuan-tujuan pendidikan.

b.

Membantu guru dalam membimbing pengalaman belajar murid.

c.

Membantu guru dalam menggunakan alat pelajaran modern, metode-meode


dan sumber-sumber pengalaman belajar.

d.

Membantu guru dalam menilai kemajuan murid-murid dan hasil pekerjaan guru
itu sendiri.

e.

Membantu guru-guru baru disekolah sehingga merika merasa gembira dengan


tugas yang diperolehnya.

f.

Membantu guru-guru agar waktu dan tenaganya tercurahkan sepenuhnya


dalam pembinaan sekolah.

D. PRINSIP-PRINSIP SUPERVISI PENDIDIKAN


Seorang pimpinan pendidikan yang berfungsi sebagai supervisor dalam
1)

melaksanakan tugasnya hendaknya bertumpu pada prinsip-prinsip supervisi:


Supervisi bersifat memberikan bimbingan dan memberikan bantuan kepada
guru dan staf sekolah lain untuk mengatasi masalah dan mengatasi kesulitan

2)

dan bukan mencari-cari kesalahan.


Pemberian bantuan dan bimbingan dilakukan secara langsung, artinya bahwa
pihak yang mendapat bantuan dan bimbingan tersebut tanpa dipaksa atau
dibukakan hatinya dapat merasa sendiri serta sepadan dengan kemampuan

3)

untuk dapat mengatasi sendiri.


Apabila supervisor merencanakan akan memberikan saran atau umpan balik,
sebaiknya disampaikan sesegera mungkin agar tidak lupa. Sebaiknya supervisor
memberikan kesempatan kepada pihak yang disupervisi untuk mengajukan

4)

pertanyaan atau tanggapan.


Kegiatan supervisi sebaiknya dilakukan secara berkala misalnya 3 bulan sekali,

5)

bukan menurut minat dan kesempatan yang dimiliki oleh supervisor.


Suasana yang terjadi selama supervisi berlangsung hendaknya mencerminkan
adanya hubungan yang baik antara supervisor dan yang disupervisi tercipta
suasana kemitraan yang akrab. Hal ini bertujuan agar pihak yang disupervisi
tidak akan segan-segan mengemukakan pendapat tentang kesulitan yang

6)

dihadapi atau kekurangan yang dimiliki.


Untuk menjaga agar apa yang dilakukan dan yang ditemukan tidak hilang atau
terlupakan, sebaiknya supervisor membuat catatan singkat, berisi hal-hal
penting yang diperlukan untuk membuat laporan.[4]
Sebagai seorang supervisor tidak sedikit masalah yang dihadapi dalam
melaksanakan tugasnya. Oleh karena itu dalam usaha memecahkan masalahmasalah ini hendaknya berpegang teguh pada pancasila yang merupakan prinsip
asasi

dan

merupakan

landasan

kewajibannya sebagai supervisor.

utama

dalam

melaksanakan

tugas

dan

Disamping prinsip asasi ini, dapat kita bedakan juga prinsip-prinsip positif
1.
a.
b.
c.
d.
e.
f.

dan prinsip negatif.


Prinsip-prinsip positifasi
Supervisi harus dilaksanakan secara demokratis dan koperatif
Supervisi harus kreatif dan konstruktif
Supervisi harus scientific dan efektif
Supervisi harus dapat memberi perasaan aman kepada guru-guru
Supervisi harus berdasarkan kenyataan
Supervisi harus memberikan kesempatan kepada supervisor dan guru-guru

2.

untuk mengadakan self evaluation.


Prinsip-prinsip negatif, Prinsip-prinsip negatif ini merupakan larangan bagi

a.
b.
c.

kepala sekolah sebagai supervisor, adalah sebagai berikut:


Seorang supervisor tidak boleh bersikap otoriter.
Seorang suupervisor tidak boleh mencari kesalahan pada guru-guru.
Seorang supervisor bukan inspektur yang ditugaskan untuk memeriksa apakah

peraturan-peraturan dan instruksi-instruksi yang telah dilaksanakan atau tidak.


d. Sorang supervisor tidak boleh menganggap dirinya lebih dari guru-guru oleh
karena jabatannya.
e.
Seorang supervisor tidak boleh terlalu banyak memperhatikan hal-hal kecil
f.

E.

dalam cara-cara guru mengajar.


Seorang supervisor tidak boleh lekas kecewa, bila ia mengalami kegagalan.[5]

OBJEK SUPERVISI PENDIDIKAN


Menurut Piet A. Sahertian: Objek supervisi di masa yang akan datang
mencakup:

1)
2)
3)
4)

Pembinaan kurikulum
Perbaikan proses pembelajaran
Pengembangan Staf
Pemeliharaan dan perawatan moral serta semangat kerja guru-guru[6].
Adapun objek dari supervisi pendidikan terbagi menjadi dua bagian, yakni
pembinaan personil dan pembinaan non personil.

1.
a)

Pembinaan Personil.
Kepala Sekolah
Kepala Sekolah sebagai bagian dari suatu sekolah juga menjadi objek dari
supervisi pendidikan tersebut. Dan sebagai pemegang tertinggi dalam suatu
sekolah juga perlu disupervisi, karena melihat dari latar belakang perlunya
supervisi pendidikan, bahwa kepala sekolah itu juga perlu tumbuh dan
berkembang

dalam

mengembangkan

jabatannya,

dirinya,

maka

meningkatkan

kepala
kualitas

sekolah

harus

berusaha

profesionalitasnya

serta

menumbuhkan semangat dalam dirinya dalam melaksanakan tugasnya sebagi


kepala sekolah. Tidak jauh berbeda dengan supervisi kepada guru, kepala
sekolah disupervisi oleh seorang pengawas. Sistem dan pelaksanaannya hampir
sama dengan supervisi guru. Namun ada perbedaan jika guru pada pelaksanaan
pembelajaran kalau kepala sekolah pada bagimana ia mampu melaksanakan
tanggung jawabnya sebagai kepala sekolah yang sesuai dengan yang telah
ditetapkan seperti pengelolaan dan manajement sekolah.[7]

b)

Guru
Guru sebagai agent of change yang merupakan ujuk tombak pelaksanaan
pembelajaran, dalam melaksanakan tugasnya perlu adanya pengawasan oleh
supervisor yakni kepala madrasah yang menyuvervisi guru[8]. Karena guru juga
manusia yang setiap saat mengalami perkembangan dan perlu adanya
pengawasan secara berkala dan sistematis. Selain itu, guru juga perlu
meningkatkan kualitas profesionalitasnya, meningkatkan efektifitasnya sebagai
seorang

pendidik.

Karena

guru

harus

mampu

mengembangkan

dan

miningkatkan proses kegiatan belajar mengajar siswa yang lebih baik lagi. Yakni
dengan cara pembinaan tersebut. Pembinaan yang dilakukan oleh supervisor
kepada guru bisa berupa pembinaan secara individu maupun secara kelompok.
Terkadang guru juga memiliki permasalahan yang sama dan juga berbeda
dengan guru satu dan lainnya. Oleh karena itulah pembinaan guru harus
disesuaikan dengan permasalahan yang sedang dihadapi oleh guru[9]. Diluar itu
guru juga dituntut mampu untuk menata administrasi pembelajaran secara
benar dan baik, guna menunjang kegiatan belajar mengajar[10]. Adapun pointpoint yang menjadi supervisi guru antara lain adalah : Kinerja Guru, KBM Guru,
Karakteristik Guru, Administrasi Guru dll.
c)

Staf sekolah
Staf Sekolah ataupun Tenaga Kependidikan Sekolah adalah sama.
Pembinaan atau supervisi terhadap staf sekolah dilakukan oleh Kepala Sekolah
sama seperti guru, namun dalam staf sekolah yang perlu disupervisi adalah
tentang kinerja staf, penataan administrasi sekolah, kemampuan dalam dalam
bekerja atau skill serta loyatitas terhadap pimpinan atau kepala sekolah

d)

Peserta didik
Peserta didik atau siswa merupakan bagian dari sistem pendidikan sekolah
yang saling terkait satu sama lainnya. Dan siswa yang menjadi objek dari
pelaksanaan kegiatan belajar mengajar tersebut, juga ikut disupervisi. Namun
berbeda dengan supervisi yang dilakukan terhadap kepala sekolah, guru, dan
staf sekolah. Siswa disupervisi dalam tiga aspek yakni, aspek kognitif,
psikomotorik dan afektif oleh guru sebagai supervisornya.

2.

Pembinaan Non personil


Pembinaan Non Personil menitik beratkan pada pembinaan Sarana dan
Prasarana yaitu semua koponen yang secara langsung maupun tidak langsung
menunjang jalannya proses pendidikan untuk mencapai tujuan dalam pendidikan
itu sendiri. Menurut Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor
079/1975, sarana pendidikan terdiri dari 3 kelompok besar yaitu:

Bangunan dan perabotan sekolah


Alat pelajaran yang terdiri dari pembukuan, alat-alat peraga dan laboraturium.
Media pendidikan yang dapat di kelompokan menjadi audiovisual yang
menggunakan alat penampil dan media yang tidak menggunakan alat penampil.
(Aadesanja. Blogspot, Supervisi Pendidikan)

F.

TEKNIK SUPERVISI PENDIDIKAN


Usaha untuk membantu meningkatkan dan engebangkan potensi sumber
daya guru dapat dilaksanakan dengan berbagai teknik supervisi, umumnya
teknik supervisi dapat dibedakan dalam dua macam teknik: teknik yang bersifat
individual, yaitu teknik yang dilaksanakan untuk seorang guru secara individual.
Dan teknik yang bersifat kelompok, yaitu teknik yang dilakukan untuk melanyani
lebih dari satu orang[11].

1.

Teknik yang bersifat individual

a.

Kunjungan kelas (Classroom visitation) Yang dimaksud adalah kunjungan yang


dilakukan untuk melihat guru yang sedang mengajar atau ketika kelas sedang
kosong.

b.

Observasi
supervisor

kelas

dapat

(Classroom
mengobervasi

Observation)
situasi

melalui

perkunjungan

belajar-engajar

yang

kelas,

sebenarnya.

Tujuannya adalah untuk memperoleh data seobyektif mungkin mengenai aspekaspek dalam situasi belajar mengajar, kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh
guru dalam usaha memperbaiki proses belajar mengajar. Ada dua ascam
observasi kelas:
a)
Obsevasi langsung (direct observation), supervitor mencatat absen yangb
dilihat pada saat guru sedang mengajar
b)
Observasi tiadak langsung (indirect observation), orang yang diobservasi
dibatasi oleh ruang kaca dimana murid-murid tidak engetahuinya.
Secara umum yang diamati selama proses pembelajaran adalah:
Usaha-usaha dan aktivitas guru-siswa dalam proses pembelajaran
Cara penggunaan media pengajaran.
Reaksi mental para siswa dalam proses belajar mengajar
Keadaan media pengajaran yang dipakai dari segi materialnya.
c.
Percakapan pribadi, merupakan Dialog yang dilakukan oleh guru dan
supervisornya, yang membahas tentang keluhan keluhan atau kekurangan
yang dikeluarkan oleh guru dalam bidang mengajar, di mana di sini supervisor
dapat memberikan jalan keluarnya. Dalam percakapan ini supervisor berusaha
menyadarkan guru akan kelebihan dan kekurangannya. mendorong agar yang
sudah baik lebih di tingkatkan dan yang masih kurang atau keliru agar
diupayakan untuk memperbaikinya.
d.

Intervisitasi (mengunjungi sekolah lain)

e.
f.

Penyeleksi berbagai sumber materi untuk mengajar


Menilai diri sendiri, Guru dan supervisor melihat kekurangan masing-masing
yang mana ini dapat memberikan nilai tambah pada hubungan guru dan
supervisor tersebut,yang akhirnya akan memberikan nilai positif bagi kegiatan

2.
a.

belajar mengajar yang baik.


Teknik kelompok
Mengadakan pertemuan/rapat (meeting) dalam kegiatan ini sipervitor dapat
memberikan

pengarahan

(directing),

pengkoordinasian

(coordinating)

dan

mengkomunikasian (comunicating) segala informasi kepada guru/staf.


b.

Mengadakan diskusi kelompok ( group discusion )

c.

Mengadakan penataran (in service training)

d.
e.

Seminar.
Workshop (musyawarah kerja) Untuk mengembangkan professional karyawan
(in-service)

f.

Buletin Supervisi, Suatu media yang bersifat cetak dimana disana didapati
peristiwaperistiwa

pendidikan

yang

berkaitan

dengan

cara-cara

mengajar,tingkah laku siswa,dan sebagainnya.

BAB III
PENUTUP
SIMPULAN
Supervisi adalah bantuan dalam pengembangan situasi belajar mengajar
agar memperoleh kondisi yang lebih baik. Meskipun tujuan akhirnya tertuju pada
hasil belajar siswa, namun yang diutamakan dalam supervisi adalah bantuan
kepada guru.
Sebagai seorang supervisor tidak sedikit masalah yang dihadapi dalam
melaksanakan tugasnya. Oleh karena itu dalam usaha memecahkan masalahmasalah ini hendaknya berpegang teguh pada pancasila yang merupakan prinsip
asasi

dan

merupakan

landasan

utama

dalam

melaksanakan

tugas

dan

kewajibannya sebagai supervisor.


Tujuan akhir dari supervisi pendidikan adalah meningkatkan professional
guru dan karyawan sekolah guna menunjang akuntabilitas siswa dalam belajar,
sehingga siswa benar-benar menjadi manusia yang berilmu, berbudi dan kreatif
dalam segala hal sesuai dengan amanah UUD 45.
Teknik supervisi pendidikan, umumnya teknik supervisi dapat dibedakan
dalam dua macam teknik: teknik yang bersifat individual, yaitu teknik yang
dilaksanakan untuk seorang guru secara individual. Dan teknik yang bersifat
kelompok, yaitu teknik yang dilakukan untuk melanyani lebih dari satu orang.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Rohani, 1991, Pedoman Penyelenggaraan Administrasi Pendidikan

Sekolah, Jakarta: Bumi Aksara,


Baharuddin Harahap, 1985, Supervisi Pendidikan, Jakarta : CV. Damai Jaya
Darmanto, 2006, Administrasi Pendidikan, Jakarta: PT. Rineka Cipta
Hendiyat soetopo dan wasty soemanto, 1988, Kepemimpinan dan supervisi
pendidikan, Jakarta: PT. Bina Akara.
Ngalim Purwanto, 2009, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung : PT
Remaja Rosdakarya.
Mukhtar dan Iskandar, 2009, Orientasi Baru Supervisi Pendidikan, Jakarta : Gaung
Persada Press
Piet A. Sahertian, 2000, Konsep Dasar dan teknik Supervisi Pendidikan, Jakarta:
Rineka Cipta.
Soetjipto dan Raflis Kosasi, 2009, Profesi Keguruan, Jakarta: Rineka Cipta.
http://aadesanjaya.blogspot.com/2011/05/supervisi-pendidikan.html

[1] Hendiyat soetopo dan wasty soemanto, Kepemimpinan dan supervisi

pendidikan, (Jakarta: PT. Bina Akara, 1988), hal


[2] Darmanto, Administrasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006),

hal 169.
[3] Soetjipto dan Raflis Kosasi, Profesi Keguruan, (Jakarta: Rineka Cipta,
2009) hal 233.
[4] Ahmad Rohani, Pedoman Penyelenggaraan Administrasi Pendidikan
Sekolah, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hal
[5] Hendiyat soetopo dan wasty soemanto, Op, Cit, hal
[6] Piet A. Sahertian, Konsep Dasar dan teknik Supervisi Pendidikan,
(Jakarta: Rineka Cipta, 2000) hal 27
[7] Baharuddin Harahap, Supervisi Pendidikan, (Jakarta: CV Damai Jaya,

1985) hal 29-31


[8] Mukhtar dan Iskandar, Orientasi Baru Supervisi Pendidikan, (Jakarta :

Gaung Persada Press, 2009) hal 116.


[9] Baharuddin Harahap, Op, Cit, hal 18

[10] Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung : PT


Remaja Rosdakarya 2009) hal 144
[11] Piet A. Sahertian, Op, Cit.

Diposkan oleh Rafiatunnajahqomariah di 20.31

Sasaran supervise klinis adalah perbaikan pengajaran dan bukan perbaikan kepribadian
guru. Untuk ini supervisor diharapkan untuk mengajarkan berbagia keterampilan kepada guru
yang meliputi antara lain: a) keterampilan mengamati dan memahami (mempersepsi) proses
pengajaran secara analitis, b) keterampilan menganalisis proses pengajaran secara rasional
berdasarkan bukti-bukti pengamatan yang jelas dan tepat, c) keterampilan dalam pembaruan
kurikulum, pelaksanaan, serta pencobaannya, dan d) keterampilan dalam mengajar.
Dalam supervise klinis, supervisor dan guru merupakan teman sejawat dalam
memecahkan masalah-masalah pengajaran di kelas. Sasaran supervise klinis, seringkali
dipusatkan pada: (a) kesadaran dan kepercayaan diri dalam melaksanakan tugas mengajar, (b)
keterampilan keterampilan dasar yang diperlukan dalam mengajar (generic skills), yang
meliputi: (a) keterampilan dalam menggunakan variasi dalam mengajar dan menggunakan

stimulasi, (b) keterampilan melibatkan siswa dalam proses belajar, serta (c) keterampilan
dalam mengelola kelas dan disiplin kelas.
Terdapat lima langkah dalam melaksanakan supervise klinis,yaitu;
1. Tahap pembicaraan Pra-Observasi
Dalam tahap ini supervisor dan guru bersama-sama membicarakan rencan
keterampilan yang akan diobservasi atau dicatat. Secara teknis diperlukan lima langkah
dalam pelaksanaan pertemuan pendahuluan, yaitu: (1) menciptakan suasana akrab antara
supervisor dengan guru, (2) melakukan tilik ulang rencana pelajaran serta tujuan pelajaran,
(3) melakukan tilik ulang komponen keterampilan yang akan dilatihkan dan diamati, (4)
memilih atau mengembangkan instrument observasi, dan (5) membicarakan bersama untuk
mendapatkan kesepakatan tentang instrument observasi yang dipilih atau yang
dikembangkan.

2. Tahap observasi
Dalam tahap ini guru melakukan latihan dalam tingkah laku mengajar yang dipilih
dan disepakati dalam pertemuan pendahuluan. Sementara guru berlatih, supervisor
mengamati dan mencatat atau merekamnya. Supervisor dapat juga mengadakan observasi dan
mencatat tingkah laku siswa di kelas serta interaksi antara guru dan siswa.
3. Tahap Analisis dan Penetapan Strategi
Supervisor mengadakan analisis tentang hasil rekaman observasi. Tujuan tahap ini
adalah mengartikan data yang diperoleh dan merencanakan manajemen pertemuan yang akan
diadakan dengan guru. Strategi manajemen itu meliputi isu apa yang akan mendapatkan
perhatian, data mana yang dipakai dalam pembicaraan, dari mana mulainya, dan siapa yang
harus melakukannya.
4. Pembicaraan tentang Hasil
Tujuan pertemuan atau pembicaraan ini adalah untuk memberikan balikan kepada
guru dalam memperbaiki prilaku mengajarnya, memberikan imbalan dam perasaan puas,

mendefinisikan isu dalam mengajar, memberikan bantuan kepada guru dalam memperbaiki
teknik mengajar dan teknik mengembangkan diri-sendiri.
5. Analisis Sesudah Pembicaraan (post-conference)
Supervise merupakan pekerjaan professional. Oleh karena itu pengalaman supervisor
dalam dalam melaksanakan supervise harus dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan
jabatannya sendiri. Dalam analisis sesudah pembicaraan ini, supervisor harus menilik ulang
tentang apa yang telah dilakukan dalam menetapkan kriteria prilaku mengajar yang
ditetapkan dalam pra-observasi dalam melakukan observasi. Di samping itu, perlu
dibicarakan hasil evaluasi diri-sendiri tentang keberhasilan supervisor dalam membantu guru.